• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan pada tiga wilayah pengelolaan hutan Perum Perhutani Unit I Provinsi Jawa Tengah yaitu KPH Pekalongan Timur, KPH Kedu Selatan dan KPH Gundih. Lingkup penelitian difokuskan terhadap masyarakat sekitar hutan yang telah bekerjasama dengan Perhutani dalam program pengelolaan hutan bersama masyarakat dengan penekanan pada pemanfaatan sumberdaya hutan produksi.

Kondisi Geografis dan Hutan di Provinsi Jawa Tengah

Provinsi Jawa Tengah secara geografis terletak antara 108º 30’ - 111º 30’ Bujur Timur (termasuk Pulau Karimunjawa) dan antara 5º 40’ - 8º 30’ Lintang Selatan. Jarak terjauh dari Barat ke Timur adalah 263 Km dan dari Utara ke Selatan 226 Km (tidak termasuk Pulau Karimunjawa). Provinsi Jawa Tengah mempunyai ibu kota di Semarang, dan secara administratif terbagi menjadi 29 Kabupaten, 6 Kota, 565 Kecamatan, 7.804 desa dan 764 kelurahan. Luas wilayah Provinsi Jawa Tengah yaitu 3.254.412 ha atau sekitar 25,04 persen luas pulau Jawa dan sekitar 1,70 persen dari luas Indonesia. Berdasarkan data Stasiun Klimatologi Klas 1 Semarang, suhu udara rata-rata di Jawa Tengah berkisar antara 18oC - 28oC, dengan tempat-tempat dekat pantai mempunyai suhu udara rata-rata relatif lebih tinggi. Sementara itu, suhu rata-rata tanah berumput (kedalaman 5 cm), berkisar antara 17oC - 35oC. Rata-rata suhu air berkisar antara 21oC sampai 28oC. Sedangkan untuk kelembaban udara rata-rata bervariasi, dari 73 persen sampai 94 persen. Curah hujan terbanyak terdapat di Stasiun Meteorologi Pertanian khusus batas Salatiga sebanyak 3.990 mm, dengan hari hujan 195 hari (Pemda Jawa Tengah, 2009). Wilayah Provinsi Jawa Tengah berdasarkan data tahun 2006 mempunyai kawasan hutan seluas 19,62 persen dari luas daratan dan luas bukan kawasan hutan sebesar 80,38 persen (Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah, 2007).

(2)

Perum Perhutani Unit I mempunyai wilayah hutan di Provinsi Jawa Tengah sebesar 647.504,19 ha dan wilayah hutan yang berada di Provinsi Jawa Timur sebesar 8.936,10 ha. Wilayah hutan Perum Perhutani Unit I di Provinsi Jawa Tengah meliputi hutan produksi sebesar 541.444,49 ha (83,62 persen), hutan lindung sebesar 94.397,77 (14,58 persen) dan hutan suaka alam dan hutan wisata sebesar 11.661,93 ha (1,80 persen). Komposisi luas hutan produksi pada Perum Perhutani Unit I pada sebaran kelas perusahaan berdasarkan kondisi tahun 2006 adalah sebagai berikut : Jati 297.915,53 ha (83 persen), Pinus 37.276,78 (10 persen), Damar 3.752,95 (1 persen), Mahoni 8.881,80 (2 persen), dan Payau 16.079,85 (4 persen). Berdasarkan aspek perencanaan hutan, Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah terbagi ke dalam 20 wilayah Kesatuan Pemang-kuan Hutan (KPH), yaitu : KPH Pekalongan Barat, KPH Balapulang, KPH Pemalang, KPH Pekalongan Timur, KPH Kendal, KPH Semarang, KPH Telawa, KPH Gundih, KPH Purwodadi, KPH Randublatung, KPH Pati, KPH Mantingan, KPH Blora, KPH Cepu, KPH Surakarta, KPH Kedu Utara, KPH Kedu Selatan, KPH Banyumas Timur dan KPH Banyumas Barat (Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah, 2007).

Dalam rangka implementasi program PHBM maka proses-proses yang dilakukan untuk pelaksanaan PHBM di tingkat KPH meliputi sosialisasi program baik internal maupun eksternal, dialog multipihak, pembentukan LMDH, pembentukan forum komunikasi PHBM di tingkat kabupaten, kecamatan dan desa, kemudian melakukan perjanjian kerjasama antara LMDH dengan KPH dan akhirnya menyusun rencana strategis tingkat organisasi LMDH.

Luas dan Pembagian Wilayah Hutan pada Lokasi Penelitian

Gambaran kondisi hutan berserta cakupan wilayah administratif dan wilayah pengelolaan hutan pada tiga lokasi penelitian ditampilkan pada Tabel 24. Dari tiga lokasi penelitian yaitu KPH Pekalongan Timur, KPH Kedu Selatan dan KPH Gundih luas hutan produksi dan hutan produksi terbatas mencakup 91 persen, sedangkan sisanya berupa hutan lindung. KPH Pekalongan Timur mempunyai luas hutan paling besar dan hampir dua kali luas hutan KPH Gundih. Berdasarkan wilayah pengelolaan hutan, KPH Gundih yang mempunyai luas hutan paling sempit dibagi ke dalam wilayah pengelolaan hutan paling banyak yaitu 10 BKPH.

(3)

Wilayah hutan KPH Kedu Selatan tersebar pada lima wilayah Kabupaten dan terbagi menjadi tujuh wilayah pengelolaan hutan berupa BKPH.

Tabel 24. Luas pembagian wilayah hutan yang dikelola Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah pada lokasi penelitian pada Tahun 2007

Lokasi Penelitian

(KPH)

Luas Hutan Berdasarkan Kelas Perusahaan (Ha) Luas Wilayah Hutan KPH (Ha) Jumlah Wilayah Administratif (Kabupaten) Jumlah Wilayah Pengelolaan Hutan (BKPH) Hutan Produksi Hutan Produksi Terbatas Hutan Lindung Pekalongan Timur 3.619,30 42.338,80 6.833,30 52.791,40 3 7 Kedu Selatan 7.543,45 32.446,10 4.732,33 44.721,88 5 7 Gundih 28.602,00 1.447,50 - 30.049,50 1 10 Jumlah 39.764,75 76.232,40 11.565,63 127.562,78

Sumber : Diolah dari Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah (2007)

Perkembangan Program PHBM pada Lokasi Penelitian

Perkembangan program PHBM pada lokasi penelitian ditunjukkan dengan jumlah desa pinggir hutan, jumlah desa yang sudah mengikuti program PHBM, peserta PHBM, luas petak pangkuan hutan yang dikerjasamakan, dan realisasi pembagian sharing terhadap LMDH (Tabel 25). Dari tiga lokasi penelitian, jumlah desa pinggir hutan pada KPH Kedu Selatan paling banyak yaitu 262 desa, atau tujuh kali jumlah desa pinggir hutan di KPH Gundih dan dua kali dari desa hutan di KPH Pekalongan Timur. Seluruh desa hutan di KPH Gundih telah melakukan kerjasama mengelola hutan dengan Perhutani, ditandai dengan pembentukan LMDH di tiap desa hutan. Sedangkan baru 73 persen desa hutan di KPH Kedu Selatan dan 93 persen desa hutan di KPH Pekalongan Timur yang telah melakukan kerjasama pengelolaan hutan dengan Perhutani. Bila ditinjau dari luas petak pangkuan (luas hutan yang dikerjasamakan), tiga lokasi penelitian tidak begitu mencolok perbedaannya. Namun berdasarkan jumlah peserta program PHBM, terdapat perbedaan yang besar di mana jumlah KK peserta PHBM di KPH Kedu Selatan tercatat 12 kali lebih banyak dari jumlah KK peserta PHBM di KPH Pekalongan Timur dan KPH Gundih. Apabila dilihat dari jumlah pembagian hasil (sharing) yang dibagikan kepada LMDH pada tahun 2007, KPH Gundih menerima

(4)

paling sedikit yaitu seperlima dari sharing KPH Kedu Selatan dan sepertiga dari sharing KPH Pekalongan Timur. Lebih besarnya sharing di KPH Kedu Selatan dan Pekalongan Timur kemungkinan karena terdapat hasil hutan berupa kayu dan non kayu (getah pinus) yang dibagi dengan LMDH, sedangkan di KPH Gundih hanya berupa kayu.

Tabel 25. Perkembangan Program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) pada lokasi penelitian sampai Desember 2007

Lokasi Penelitian (KPH) Jumlah Desa Pinggir Hutan Jumlah Desa PHBM Jumlah LMDH Jumlah Peserta PHBM (KK) Luas Petak Pangkuan (Ha) Realisasi Pembagian Sharing Tahun 2007 (Rp) Pekalongan Timur 123 114 114 66.140 34.830,53 414.793.395 Kedu Selatan 262 192 192 762.722 31.925,30 851.273.366 Gundih 37 37 37 60.545 28.847,91 168.841.542

Sumber : Diolah dari Laporan Perkembangan PHBM Perum Perhutani Unit I Jawa , 2008

Program PHBM dari Perhutani didukung oleh beberapa Pemda Kabupaten yang ditunjukkan dengan pengalokasian dana APBD sebagai penunjang program PHBM. Dari tiga lokasi penelitian, ternyata tidak semua Pemda memberikan dukungan dana untuk program PHBM. Sejak tahun 2004 sampai tahun 2007, Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Pekalongan selalu mengalokasikan dananya pada wilayahnya masing-masing. Pada tahun 2007 tersedia anggaran untuk kegiatan PHBM dari Kabupaten Pemalang sebesar Rp 50.000.000,- dan dari Kabupaten Pekalongan sebesar Rp 38.460.000,-. Perkembangan usaha produktif yang telah dilakukan oleh kelompok-kelompok LMDH di Kabupaten Pekalongan diantaranya adalah pemanfaatan lahan di bawah tegakan (porang, durian, kopi, tanaman obat dan jengkol) oleh 18 kelompok, bidang peternakan (ternak sapi dan kambing) oleh empat kelompok, perikanan (ikan nila merah) oleh dua kelompok, bidang pertanian (pupuk bokashi) oleh dua kelompok, dan kerjasama tanaman sengon dan hutan rakyat oleh tujuh kelompok (KPH Pekalongan Timur, 2008).

Sementara itu dukungan dana dari pihak Pemda di lingkungan KPH Kedu Selatan terhadap program PHBM sempat muncul pada tahun 2004 (2 Kabupaten), pada tahun 2006 (1 Kabupaten). Pada tahun 2007 ada satu Kabupaten yang

(5)

mengalokasikan anggaran untuk kegiatan PHBM di wilayahnya dengan dana sebesar Rp. 60.000.000,-. Perkembangan usaha produktif yang telah dilakukan oleh kelompok-kelompok LMDH meliputi bidang peternakan (kambing Ettawa) sebanyak empat kelompok, bidang industri (gula semut, anyaman bambu, krupuk singkong, batik tulis) sebanyak sembilan kelompok, perkebunan (carica, salak pondoh, cengkeh, kapulogo, kopi) sebanyak lima kelompok, dan bidang pertanian (persemaian) sebanyak enam kelompok (Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah, 2008).

Khusus KPH Gundih sendiri sampai tahun 2007 belum ada dukungan dana dari pihak Pemda yang terkait dengan pelaksanaan program PHBM. Perkem-bangan usaha-usaha produktif yang telah dilakukan oleh kelompok-kelompok LMDH di lingkungan KPH Gundih yaitu dalam bidang peternakan (kambing, sapi) ada empat kelompok, bidang pertanian (tanaman jahe, jarak pagar, porang) meliputi 18 kelompok, bidang industri (pembuatan emping garut, pembuatan tikar) meliputi dua kelompok, bidang pengelolaan wisata (Sendang Coyo, makam) meliputi dua kelompok, dan bidang perdagangan (bokashi/EM4, pupuk kandang) meliputi dua kelompok (Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah, 2008).

Kondisi Potensi Sumberdaya Individu Petani

Sumberdaya individu petani yang diukur dalam penelitian ini meliputi luas lahan garapan, pengalaman bertani, umur, pendapatan keluarga petani, jumlah tanggungan keluarga, pendidikan formal, pelatihan kehutanaan, motivasi berke-lompok dan keinovatifan dalam berusahatani (Tabel 26).

1. Lahan garapan petani, tanaman pokok dan tanaman pertanian. Lahan garapan bagi petani sekitar hutan masih merupakan tumpuan dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Lahan yang dikelola oleh keluarga petani terdiri dari tiga macam, yaitu pertama lahan hutan yang dikelola petani untuk tanaman pangan dan biasa disebut “andil” tumpangsari. Istilah andil juga digunakan untuk lahan hutan produksi yang ditanami Pinus dan bisa disadap untuk diambil getahnya oleh petani penyadap (dinamakan “andil sadapan” Pinus). Andil tumpangsari merupakan lahan tanaman pokok / tanaman kehutanan sampai

(6)

umur tiga tahun, dan di sela-sela tanaman kehutanan bisa dimanfaatkan untuk budidaya tanaman pangan. Andil sadapan yaitu lahan tegakan Pinus yang sudah bisa dimanfaatkan getahnya dengan cara disadap oleh petani secara rutin.

Tabel 26. Kondisi potensi sumberdaya individu petani sampel (X1) pada KPH Pekalongan Timur (A) , KPH Kedu Selatan (B) dan KPH Gundih (C)

Kode Nama Indikator

Skor rataan * Rataan terbobot ¹ (n=408) KPH A (n=136) KPH B (n=136) KPH C (n=136)

X 1.1 Luas lahan garapan total (ha) 1,53 1,25 0,92 1,25 a. Lahan andil tumpangsari /

sadapan

0,80 0,50 0,53 0,52 b. Lahan di bawah tegakan 0,21 0,36 0,10 0,33

c. Lahan sendiri / sewa 0,52 0,40 0,28 0,40 X 1.2 Pengalaman berusaha tani (th) 18 a 21 a 23 b 21

a. Pengalaman berusahatani

pada lahan hutan (th) 9 a 9 a 13 b 9

X 1.3 Umur (th) 38 a 43 b 44 b 43

X 1.4 Pendapatan keluarga (Rp/bulan) 1.095.071 1.052.555 1.137.868 1.061.077 a. Pendapatan dari hutan

(Rp/bulan)

807.166 c 245.103 a 709.215 b 313.515 b. Rasio pendapatan dari hutan

terhadap pendapatan keluarga (%)

74 c 23 a 62 b 29

X 1.5 Jumlah tanggungan keluarga (orang) 4 - 5 3 -4 3 - 4 3 - 4 X 1.6 Pendidikan formal (%): SD SLTP >SLTA 84 15 1 73 17 10 81 13 7 79 15 6

X 1.7 Pendidikan non formal (%) ² -jarang -sedang -sering 96 4 0 75 16 9 95 4 1 88 8 3

X 1.8 Motivasi berkelompok ³ 70 a 76 b 72 a 75 (sedang) X 1.9 Keinovatifan ³ 51 a 69 b 47 a 66 (rendah)

Keterangan :

* Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (T-test) ¹ Bobot sampel : KPH A : KPH B :: KPH C = 1 : 13 : 1

² Keterangan = 1-3 kali (jarang); 4-6 kali (sedang); 7-10 kali (sering) ³ Kategori : Rendah = 0 – 66,9; Sedang = 67,0 – 82,9; Tinggi = 83,0 - 100

Kadang-kadang di bawah tegakan Pinus bisa dimanfaatkan dengan tanaman di bawah naungan, misalnya kopi, rumput pakan ternak, dan lain-lain. Lahan

(7)

petani jenis kedua yaitu “lahan di bawah tegakan”, yang di atasnya sudah ada tanaman hutan yang tidak produktif atau sangat jarang. Lahan ini juga bisa dimanfaatkan petani untuk budidaya berbagai jenis tanaman pangan. Lahan petani jenis ketiga yaitu lahan di luar kawasan hutan, yang bisa berupa lahan sendiri atau lahan sewa.

Rata-rata luas lahan yang dikelola satu keluarga petani adalah 1,25 ha di mana dua per tiganya berupa lahan hutan dan hanya sepertiganya lahan sendiri/sewa. Fakta lebih besarnya porsi lahan hutan yang dikelola oleh petani dibandingkan lahan miliknya, menunjukkan pentingnya peran lahan hutan dalam menyum-bang pemenuhan kebutuhan petani. Dari tiga lokasi penelitian, terlihat bahwa lahan yang dikelola petani di KPH Gundih paling sempit, yaitu setengah lebih sedikit dari lahan yang dikelola petani KPH Pekalongan Timur (Tabel 26). Tanaman pokok (tanaman kehutanan) yang tumbuh pada lahan andil para petani di daerah penelitian yaitu KPH Pekalongan Timur adalah tanaman pinus, KPH Kedu Selatan dari yang paling dominan yaitu pinus, akasia mangium, jati dan mahoni, sedangkan untuk KPH Gundih kebanyakan jati dan sebagian kecil mahoni. Tanaman pokok pada lokasi penelitian meliputi hampir sebagian tanaman pinus, lebih dari sepertiga tanaman jati dan sisanya akasia mangium dan mahoni (Tabel 27).

Tabel 27. Sebaran tanaman pokok pada lahan andil yang dikelola petani sampel

Jenis Tanaman Pokok Lokasi Penelitian (KPH) Total (orang) Persen (%) Pekalongan Timur Kedu Selatan Gundi h Pinus 136 64 0 200 49 Jati 0 26 119 145 36 Mahoni 0 6 17 23 6 Akasia mangium 0 40 0 40 10 Total 136 136 136 408 100

Jenis-jenis tanaman pertanian yang dibudidayakan oleh petani hutan pada lahan andil cukup beragam dan terlihat adanya asosiasi antara jenis tanaman dengan lokasi penelitian (Tabel 28). Kondisi lapangan KPH Pekalongan Timur berupa pegunungan dengan tanaman pokok pinus, petani membudidayakan kopi dan

(8)

teh, rumput gajah dan ketela karet untuk pakan ternak, serta pisang dan pepaya di tepi andil dan sungai. Sebagian besar responden di KPH Pekalongan Timur adalah petani sadap (penyadap), dengan andil berupa petak tanaman Pinus yang dimanfaatkan getahnya. Tanaman lain yang tumbuh di tepi-tepi sungai atau jurang dan dimanfaatkan petani misalnya jengkol, pucung, aren, dan lain-lain. Lokasi Purworejo dengan tanaman pokok pinus di pegunungan, dan BKPH Gombong Selatan dengan tanaman pokok akasia dan jati. Para petani di KPH Purworejo menanam ketela/ubi, jagung, dan kapulogo. Petani LMDH Rimba Lestari pada wilayah KPH Purworejo juga menanam nilam untuk disuling minyaknya, serta rumput gajah untuk pakan ternak. Di wilayah BKPH Gombong Selatan, para petani menanam jagung, ketela/ubi, padi dan kacang tanah. Kondisi di KPH Gundih agak berbeda, di mana tanaman pokok yang dominan adalah jati. Petani sebagian besar menanam jagung pada lahan tumpang sari, dan sebagian kecil menanam ketela/ubi. Petani juga menanam pisang yang tumbuh baik pada tepi-tepi sungai kecil.

Tabel 28. Hasil tabulasi jenis-jenis tanaman yang dibudidayakan petani hutan pada lahan andil

Jenis-jenis tanaman yang dibudidayakan pada lahan andil

KPH (orang) Total (orang) Persen (%) Pekalongan Timur Kedu Selatan Gundih jagung 0 38 135 173 42 ketela&ubi 2 66 16 84 21 padi 0 34 1 35 9 pisang&pepaya 52 19 69 140 34 kapulogo/lengkuas 1 38 0 39 10 jahe,cabe,kacang tanah,kemukus(lada hitam) 0 25 0 25 6 kopi,teh,nilam 89 19 0 108 26

rumput gajah,ketela karet 72 11 9 92 23

jengkol, pucung, petai, salam, durian, cengkeh, aren, melinjo,

sedayu 39 4 0 43 11

Total 136 136 136 408 100

2. Pengalaman berusaha tani. Pengalaman berusaha tani responden dibagi menjadi pengalaman berusaha tani pada lahan hutan dan pengalaman bertani pada lahan sendiri atau di luar lahan hutan. Hasil survei lapangan Tabel 26 menunjukkan bahwa rata-rata responden telah mempunyai pengalaman bertani

(9)

selama 21 tahun dan setengah dari waktu tersebut merupakan pengalaman berusaha tani pada lahan hutan. Dengan kata lain, responden mempunyai pengalaman bertani pada lahan miliknya dahulu baru kemudian berusaha tani pada lahan hutan. Pengalaman bertani responden di KPH Gundih relatif lebih lama dan berbeda nyata dengan pengalaman bertani responden pada dua lokasi lainnya.

3. Umur. Umur responden pada tiga lokasi penelitian masih termasuk usia produktif, yaitu rata-rata 43 tahun di mana petani di KPH Pekalongan Timur relatif lebih muda dan berbeda nyata dibandingkan dua lokasi lainnya (Tabel 26). Apabila dilihat dari sebaran umur maksimal, ternyata petani hutan pada tiga lokasi penelitian ada yang berusia di atas 70 tahun, yaitu petani hutan KPH Kedu Selatan 79 tahun, KPH Pekalongan Timur 74 tahun dan KPH Gundih 70 tahun. Sedangkan umur minimal responden ternyata masih ada yang sangat muda yaitu 17 tahun (petani KPH Pekalongan Timur), umur 20 tahun (petani KPH Kedu Selatan) dan 22 tahun (petani KPH Gundih).

4. Pendapatan keluarga. Pendapatan keluarga mencerminkan pemenuhan terhadap kebutuhan fisik berupa sandang, pangan dan tempat tinggal keluarga petani. Pendapatan keluarga petani dibedakan menjadi dua macam, yaitu total pendapatan rata-rata keluarga petani per bulan, dan pendapatan rata-rata per bulan yang diperoleh keluarga petani dari mengelola lahan hutan. Tabel 26 menunjukkan bahwa pendapatan keluarga petani sampel relatif sama, dengan rata-rata sebesar Rp 1.061.077,-/bulan. Sepertiga pendapatan keluarga petani berasal dari mengelola lahan hutan. Pendapatan mengelola hutan yang utama berasal dari tanaman pangan pada lahan andil tumpangsari, bagi para penyadap berasal dari pembagian hasil sadapan getah pinus, dan tanaman lain yang tumbuh pada lahan hutan seperti kopi, pisang, kayu bakar, rumput pakan ternak dan lain-lain. Bagi petani KPH Pekalongan Timur, proporsi pendapatan keluarga dari hutan mencakup hampir tiga perempat dari pendapatan total keluarga tani. Hal ini berarti bahwa sebagian besar pendapatan keluarga petani responden di KPH Pekalongan Timur berasal dari mengelola sumberdaya hutan, terutama berasal dari sadapan getah pinus. Bagi petani di KPH Gundih, pendapatan dari hutan mencakup lebih dari setengah pendapatan total keluarga

(10)

petani per bulan. Pendapatan sebesar itu kebanyakan berasal dari panen jagung di lahan andil tumpangsari, dan panen pisang dari tepi-tepi sungai pada lahan andil mereka. Sebaliknya pendapatan dari hutan bagi petani KPH Kedu Selatan termasuk paling sedikit, seperempat dari pendapatan total keluarga petani. Petani KPH Kedu Selatan yang berasal dari BKPH Gombong Selatan, mempunyai lahan andil tumpang sari yang sempit (hanya sekitar 0.3 ha), tandus dan berupa pegunungan berbatu kapur. Proporsi besarnya pendapatan petani dari hutan pada tiga lokasi penelitian berbeda secara nyata. Kontribusi pendapatan keluarga petani dari mengelola sumberdaya hutan dalam penelitian ini terlihat relatif lebih tinggi dibandingkan hasil kajian Kartasubrata et al. (1995) pada program Perhutanan Sosial yang dilakukan Perhutani di Jawa. Program tersebut dimaksudkan untuk membantu petani miskin dengan penyediaan lahan untuk diolah, memberikan kontribusi pendapatan sebesar kurang dari 20 persen dari pendapatan total keluarga petani. Bagi petani yang mendapat lahan andil kurang dari 0,25 ha memperoleh pendapatan jauh berkurang dari 20 persen tersebut. Lebih tingginya porsi pen-dapatan petani pada saat ini terutama diakibatkan lebih luasnya kesempatan bagi petani dalam memanfkan sumberdaya hutan, misalnya adanya kesempatan mengolah lahan di bawah tegakan selain lahan untuk tumpangsari (rata-rata per keluarga petani 0,33 ha). Selain itu adanya bermacam-macam tanaman pangan yang bisa dimanfaatkan petani dari lahan andil dan lahan di bawah tegakan.

5. Jumlah tanggungan keluarga. Jumlah tanggungan keluarga merupakan jumlah jiwa yang menjadi anggota keluarga petani, yang mencerminkan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi oleh kepala keluarga. Secara keseluruhan rata-rata jumlah tanggungan keluarga petani yaitu tiga sampai empat orang, sehingga dalam satu keluarga petani berjumlah empat sampai lima orang. Jumlah tanggungan keluarga petani paling banyak di KPH Pekalongan Timur yaitu empat sampai lima orang, sehingga satu keluarga petani berjumlah lima sampai enam orang. Jumlah tanggungan keluarga petani di KPH Pekalongan Timur berbeda nyata dengan dua lokasi lainnya (Tabel 26).

6. Pendidikan formal. Pendidikan yang ditempuh melalui sekolah mencerminkan wawasan dan pengetahuan yang dimiliki petani. Pendidikan formal yang

(11)

ditempuh petani sampel pada tiga lokasi penelitian secara umum relatif sama di mana lebih dari tiga perempatnya berpendidikan sampai tingkat SD. Petani sampel KPH Kedu Selatan menempuh pendidikan formal relatif lebih tinggi dibandingkan dua lokasi lainnya, di mana hampir seperlimanya berpendidikan sampai SLTP dan seper-sepuluhnya berpendidikan SLTA ke atas. Petani KPH Pekalongan Timur memiliki pendidikan formal yang paling rendah dibandingkan dua lokasi lainnya (Tabel 26).

7. Pendidikan non formal. Pendidikan non formal atau pelatihan dalam bidang kehutanan yang pernah diikuti oleh petani sampel berhubungan dengan kemampuan mereka dalam mengelola sumberdaya hutan. Sebagian besar atau 88 persen petani sampel belum / tidak pernah mengikuti pelatihan dalam bidang kehutanan. Petani sampel KPH Kedu Selatan relatif lebih banyak mengikuti pelatihan dalam bidang kehutanan. Sedangkan petani di dua lokasi lainnya hampir semuanya jarang mengikuti pelatihan (Tabel 26). Temuan informasi lapangan menunjukkan bahwa kelompok tani belum mendapatkan program secara khusus untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan bidang kehutanan. Beberapa pelatihan yang pernah diikuti petani, biasanya terdapat pada kelompok tani / LMDH yang lebih maju. Para petani kadang-kadang mendapatkan pelatihan persemaian atau usaha kehutanan lainnya. Petani yang terlibat dalam kegiatan tumpangsari biasanya mendapatkan pengarahan tentang pelaksanaan kegiatan kehutanan dari Mandor Perhutani sebagai petugas lapangan.

8. Motivasi berkelompok. Motivasi berkelompok adalah seberapa kuat alasan yang mendorong petani hutan untuk bergabung dalam kelompok untuk pemenuhan kebutuhan fisikal, sosial, dan ekonomi keluarganya. Tabel 26 menunjukkan bahwa motivasi petani bergabung dalam kelompok tabi hutan untuk mengelola sumberdaya hutan dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarganya termasuk kategori sedang dengan skor 75. Motivasi berkelompok petani sampel di KPH Kedu Selatan paling tinggi dan berbeda nyata dengan motivasi berkelompok pada dua lokasi lainnya. Hasil temuan di lapangan menunjukkan motivasi untuk memenuhi kebutuhan fisik terutama mendapatkan lahan yang bisa diolah untuk tanaman pangan merupakan alasan paling

(12)

dominan. Temuan ini menguatkan hasil penelitian TPKHR (2006), bahwa sebagian besar akses yang diperjuangkan petani untuk program PHBM sebagian besar untuk mendapatkan lahan garapan, dan hanya sedikit masyarakat yang menginginkan manfaat ekonomi dalam arti luas. Padahal program PHBM tidak hanya terbatas kerjasama atau akses terhadap lahan garapan, tetapi manfaat ekonomi secara luas dari pengelolaan hutan.

9. Keinovatifan. Keinovatifan merupakan upaya-upaya yang dilakukan petani untuk mencari dan mengembangkan hal-hal baru dalam pengelolaan usaha taninya. Keinovatifan petani diukur melalui persepsi subyektif petani mengenai apa yang telah dilakukannya untuk mencari dan mencoba hal-hal yang baru dalam berusahatani. Tabel 26 menunjukkan bahwa secara umum keinovatifan petani dalam berusahatani termasuk rendah dengan skor rataan 66. Namun demikian keinovatifan petani KPH Kedu Selatan termasuk sedang, dan berbeda secara nyata dengan keinovatifan petani pada dua lokasi penelitian lainnya. Berikut ini ilustrasi keinovatifan petani di wilayah KPH Kedu Selatan. Para petani anggota LMDH Rimba Lestari di desa Burat, kecamatan Kepil, Wonosobo yang masuk BKPH Purworejo, mereka mengem-bangkan tanaman nilam yang daunnya bisa disuling dan menghasilkan minyak nilam dengan harga tinggi. Kelompok tani wanitanya mengelola usaha pengadaan bibit tanaman berkayu seperti sengon, kemiri, dan lain-lain. Sementara itu kelompok tani wanita anggota LMDH Sedyo Rahayu di desa Sedayu, kecamatan Loano, BKPH Purworejo mengembangkan tanaman kapulogo yang tumbuh di bawah tegakan Pinus. Kapulogo merupakan salah satu jenis empon-empon yang laku dijual untuk bahan obat-obatan tradisional. Kelompok tani LMDH Simbar Aji di desa Sendang, Kecamatan Buayan, Gombong bagian selatan mengembang-kan cara bertani pada daerah pegunungan yang berbatu-batu, dengan cara membuat terasering dan memasang kaleng-kaleng yang berisi air dan bagian bawahnya diberi lubang kecil untuk tiap tanaman seperti petai, mangga, nangka dan lain-lain. Para petani mengatakan tanaman itu ‘diinfus’ sehingga bisa bertahan pada musim kemarau.

(13)

Ketepatan proses pemberdayaan termasuk kategori rendah dengan skor rataan 26. Fakta dari lapangan menunjukkan bahwa ketepatan proses pemberdayaan menurut persepsi petani di KPH Kedu Selatan relatif lebih tinggi dan berbeda nyata dengan kondisi pada KPH Pekalongan Timur dan KPH Gundih (Tabel 29). Ketepatan proses pemberdayaan meliputi : (a) sejauhmana keterlibatan masyarakat dalam penetapan tujuan dan perencanaan program (inisiatif program); (b) bagaimana materi, penyampaian informasi, dan saluran komunikasi untuk penyadaran program; (c) proses pembentukan lembaga masyarakat; (d) proses penentuan hak dan kewajiban pihak yang bekerjasama (Perhutani dan LMDH); (e) proses penentuan pemanfaatan ruang kelola lahan dan sumberdaya hutan; dan (f) proses penentuan bagi hasil (sharing) antara Perhutani dengan LMDH.

Tabel 29. Kondisi ketepatan proses pemberdayaan (X2) pada KPH Pekalongan Timur (A), KPH Kedu Selatan (B) dan KPH Gundih (C)

Kode Nama Indikator

Skor rataan Rataan terbobot ¹ (n=408) KPH A (n=136) KPH B (n=136) KPH C (n=136)

X 2.1 Inisiatif program 21 26 21 25 (rendah)

X 2.2 Penyadaran / sosialisasi 26 25 29 25 (rendah) X 2.3 Pembentukan lembaga

masyarakat 25 28 21 27 (rendah)

X 2.4 Penentuan hak dan kewajiban

para pihak 17 25 18 24 (rendah)

X 2.5 Pemanfaatan ruang kelola 37 36 29 36 (rendah) X 2.6 Penentuan bagi hasil 19 23 15 22 (rendah) Skor Rataan per KPH ² 24 a 27 b 22 a 26 (rendah)

Keterangan :

¹ Kategori = Rendah (0 – 66,9); Sedang (67,0 – 82,9); Tinggi (83,0 – 100) Bobot sampel : KPH A : KPH B :: KPH C = 1 : 13 : 1

² Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (Uji perbedaan nilai rataan t-test)

Berdasarkan hasil analisis data dan pengamatan berinteraksi dengan kelompok di lapangan, kondisi rendahnya ketepatan proses pemberdayaan tersebut bisa dijelaskan sebagai berikut :

1) Inisisiatif untuk memperkenalkan program PHBM kepada kelompok tani kebanyakan dimulai oleh petugas Perhutani. Demikian pula tujuan program

(14)

telah ditentukan oleh Perhutani. Kebanyakan kelompok tani tinggal menerima saja program yang ditawarkan tersebut. Jarang dijumpai inisiatif masyarakat untuk turut mengelola hutan negara. Salah satu kelompok yang terlihat mempunyai inisiatif untuk turut mengelola sumberdaya hutan di sekitar desanya yaitu LMDH Rimba Lestari di desa Burat, kecamatan Kepil, Wonosobo. Ketua LMDH saat itu terlihat cukup aktif, sehingga mencari upaya-upaya agar masyarakat bisa memanfaatkan sumberdaya hutan di sekitarnya secara legal dan ’halal’ atau tidak dituduh mencuri dari hutan negara. Sehingga dia mencari informasi tentang kemungkinan masyarakat bisa mendapat peluang itu. Gayung bersambut karena pak Mantri Perhutani setempat akhirnya memperkenalkan program PHBM kepada masyarakat desa Kepil, sehingga akhirnya terbentuk LMDH Rimba Lestari.

2) Proses penyadaran tentang makna program dalam bentuk sosialisasi kebanyakan berupa ceramah oleh petugas Perhutani di hadapan kelompok tani, dengan materi yang dominan seputar aspek teknis pengelolaan hutan. Sosialisasi program sering dilakukan di kantor desa setempat oleh petugas dari Perhutani. Sosialisasi yang dilakukan oleh para tokoh petani melalui kelompok tani termasuk jarang dilakukan. Sumber-sumber informasi tentang program yang disampaikan selalu berasal dari petugas / kantor Perhutani setempat dan jarang yang berasal dari kelompok tani.

3) Pembentukan lembaga masyarakat berupa LMDH kebanyakan dibentuk oleh petugas Perhutani untuk keperluan program PHBM. Jarang ditemui adanya LMDH yang dibentuk dari kelompok sosial ekonomi yang telah berada di desa. Sedangkan kelompok-kelompok tani hutan dahulunya dibentuk karena ada program tumpangsari maupun program perhutanan sosial. Pengurus LMDH pada awal pembentukannya kebanyakan ditunjuk oleh pejabat di desa dan petugas lapangan Perhutani. Beberapa LMDH telah melakukan regenerasi kepengurusan melalui proses musyawarah anggota. Dengan kondisi demikian, kebanyakan petani merasa bahwa LMDH mempunyai kedudukan yang lebih rendah dari Perhutani.

(15)

4) Penentuan hak dan kewajiban LMDH dan Perhutani dalam perjanjian kerjasama mengelola sumberdaya hutan di dalam wilayah desa, telah dirancang oleh Perhutani. LMDH tinggal menerima saja hak dan kewajiban yang sudah disusun tersebut. Dalam kondisi seperti ini maka pihak yang dominan menentukan hak dan kewajiban dalam perjanjian kerjasama tersebut adalah Perhutani.

5) Pemanfaatan ruang kelola sumberdaya hutan yang berupa penentuan petak tanaman yang akan menjadi andil, jenis tanaman pokok yang akan ditanam pada andil, jarak tanaman pokok, dan pola penanaman tanaman pokok, serta ketentuan pemanfaatan ruang di bawah tegakan semuanya ditentukan oleh pihak Perhutani. Ada sedikit ruang bagi petani untuk menentukan budidaya tanaman pangan yang akan diusahakan dengan jenis-jenis tanaman tertentu yang diperkenankan pihak Perhutani.

6) Proporsi penentuan bagi hasil (sharing) hasil hutan kayu untuk LMDH sudah ditentukan oleh pihak Perhutani, sehingga LMDH tinggal menerima bagi hasil tersebut. Misalnya untuk porsi bagi hasil kayu pada akhir daur yang diterima LMDH sebesar 25 persen (apabila kerjasama dimulai dari penanaman tanaman pokok) dan Perhutani sebesar 75 persen. Selanjutnya pemanfaatan hasil sharing yang diterima LMDH kebanyakan ditentukan oleh para pengurus LMDH, dan kurang melibatkan para petani sebagai anggota kelompok tani hutan.

Kondisi Peran SDM Pemberdaya

Peran sumberdaya manusia pemberdaya secara keseluruhan termasuk dalam kategori rendah dengan skor rataan 62, dan terdapat perbedaan kondisi secara nyata di antara tiga lokasi penelitian. Peran sumberdaya manusia pemberdaya pada KPH Kedu Selatan relatif lebih tinggi disusul KPH Gundih dan paling rendah kondisi di KPH Pekalongan Timur (Tabel 30). Sumberdaya manusia (SDM) pemberdayaan dalam penelitian ini adalah petugas Mandor Perhutani yang dalam kegiatan sehari-harinya mendampingi dan berinteraksi langsung dengan petani hutan dalam kegiatan pengelolaan sumbedaya hutan bersama masyarakat. Menurut persepsi

(16)

petani, Mandor adalah petugas Perhutani yang paling dekat dengan petani dalam mendampingi berbagai kegiatan pengelolaan sumberdaya hutan.

Tabel 30. Kondisi peran sumberdaya manusia pemberdaya (X3) pada KPH Pekalongan Timur (A), KPH Kedu Selatan (B) dan KPH Gundih (C)

Kode Nama Indikator

Skor rataan Rataan terbobot ¹ (n=408) KPH A (n=136) KPH B (n=136) KPH C (n=136) X 3.1 Mengembangkan partisipasi petani 36 78 52 73 (sedang)

X 3.2 Pemecahan masalah dan

pembelajaran petani 36 68 47 64 (rendah)

X 3.3 Mengorganisasikan petani 54 78 70 76 (sedang) X 3.4 Membangun jaringan 27 48 16 44 (rendah)

X 3.5 Mencari peluang pasar 17 43 16 39 (rendah) X 3.6 Membangun komunikasi 43 68 56 66 (rendah) X 3.7 Kesetaraan status sosial dengan

petani

48 71 61 69 (sedang)

Skor Rataan per KPH ² 37 a 65 c 47 b 62 (rendah)

Keterangan :

¹ Kategori = Rendah (0 – 66,9); Sedang (67,0 – 82,9); Tinggi (83,0 – 100) Bobot sampel : KPH A : KPH B :: KPH C = 1 : 13 : 1

² Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (Uji perbedaan nilai rataan t-test)

Peran Mandor sebagai pendamping kelompok meliputi sejauhmana kemampuan Mandor dalam : (a) mengembangkan partisipasi petani; (b) memecah-kan permasalahan petani dan mendorong pembelajaran petani; (c) mengorgani-sasikan petani; (d) membangun jaringan yang terkait dengan program PHBM dan mendorong kelompok untuk menjalin hubungan dengan berbagai pihak terkait itu; (e) mencari peluang pasar hasil usahatani kelompok; (f) membangun komunikasi dengan petani dan kelompok tani; dan (g) menjaga kesetaraan status sosialnya dengan petani.

Beberapa peran Mandor berada pada kondisi yang relatif lebih baik atau termasuk kategori sedang yaitu mengembangkan partisipasi petani, mengorgani-sasikan petani dan kesetaraan status sosialnya dengan petani (Tabel 30). Peran Mandor dalam mengembangkan partisipasi petani termasuk sedang terutama pada KPH Kedu Selatan. Hal ini berarti bahwa Mandor sering mendorong petani mengikuti sosialisasi program, sering membantu kelompok dalam berbagai

(17)

kegiatan, sering bermusyawarah tentang kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki petani. Mandor juga mampu membuat petani bersemangat ikut kegiatan program. Kemampuan Mandor dalam mengorganisasikan petani juga berada dalam kategori sedang, terutama pada KPH Kedu Selatan dan KPH Gundih. Kemampuan mengorganisasikan petani pada kategori sedang berarti bahwa Mandor mampu bergaul dengan baik dengan para petani dan tokoh kelompok tani. Mandor juga sering membantu pengembangan berbagai kegiatan kelompok tani. Kesetaraan status sosial mandor dengan petani berada pada kategori sedang, terutama pada KPH Kedu Selatan. Kondisi demikian berarti dalam pandangan petani, kedudukan Mandor sejajar dengan petani sebagai anggota kelompok. Dengan kata lain jarak status sosial Mandor dengan petani dirasakan tidak terlalu jauh atau di atas. Sehingga Mandor bisa diterima dengan baik bila berada di antara petani. Selanjutnya sumberdaya manusia pemberdaya atau Mandor ini disebut juga sebagai tenaga pendamping kelompok tani hutan.

Dari seluruh indikator yang diukur, secara umum peran Mandor sebagai pendamping kelompok tani hutan termasuk kategori rendah. Rendahnya kondisi peran Mandor sebagai tenaga pendamping kelompok tani hutan tersebut, berdasarkan hasil analisis data dan keterlibatan peneliti berinteraksi dengan kelompok di lapangan dijelaskan sebagai berikut :

1) Kemampuan pendamping dalam mengembangkan partisipasi petani terutama di KPH Pekalongan Timur dan KPH Gundih umumnya masih termasuk rendah. Dalam sosialisasi program, pendamping sudah mengajak petani melalui kelompok untuk berperan serta. Namun pendamping jarang berdiskusi dengan petani tentang kebutuhan yang dirasakan petani dan kemampuan yang dimiliki petani untuk mengoptimalkan manfaat sumberdaya hutan. Sehingga pendamping belum mampu membuat petani bersemangat melakukan kegiatan pengembangan program. Sebagai ilustrasi kemampuan pendamping yang lebih baik dari KPH Kedu Selatan, terutama pendamping pada LMDH Sedyo Rahayu di desa Sedayu, kecamatan Loano, Purworejo mampu membangkitkan partisipasi wanita tani sehingga terbentuk kelompok tani wanita dengan aktivitas antara lain budidaya dan pemanfaatan tanaman empon-empon di

(18)

bawah tegakan Pinus yaitu ’kapulogo’ yang bisa menambah penghasilan keluarga.

2) Pendamping dari KPH Pekalongan Timur dan KPH Gundih juga termasuk rendah kemampuannya dalam mengenali kebutuhan dan masalah petani dan mendorong pembelajaran petani. Pendamping masih sebatas memberi informasi umum tentang manfaat hutan dari sisi perlindungan alam. Namun pendamping kurang menyadarkan petani tentang potensi pengembangan tanaman bernilai tinggi di bawah tegakan hutan yang bisa menambah penghasilan petani. Pendamping dari KPH Kedu Selatan misalnya dari KRPH Gebang yang mendampingi LMDH Rimba Lestari memberikan informasi tentang tanaman nilam yang bisa disuling menghasilkan minyak nilam. Sehingga petani menyadari adanya peluang usahatani untuk menambah penghasilannya.

3) Kemampuan pendamping dalam mengembangkan kelompok tani secara umum termasuk kategori sedang. Pendamping mampu bergaul dengan baik di antara para petani maupun para tokoh kelompok tani di desa hutan. Pendamping juga turut membantu mengembangkan berbagai kegiatan kelompok atau LMDH. Pengamatan lapangan menunjukkan kedekatan hubungan emosional antara petani dengan Mandor. Sebagian Mandor di KPH Gundih dibuatkan rumah sederhana untuk bertempat tinggal di tepi-tepi hutan dekat dengan perkampungan masyarakat desa hutan.

4) Kemampuan pendamping dalam membangun jaringan masih rendah. Pendamping jarang membina hubungan dengan berbagai pihak secara intensif. Pendamping jarang memberitahu kelompok tentang informasi berbagai pihak yang terkait dengan program PHBM, misalnya adanya forum komunikasi PHBM di kelurahan / kecamatan dan balai informasi tentang penyuluhan. Pendamping hampir tidak pernah mendorong kelompok untuk aktif menjalin hubungan kerja dengan pihak luar yang bisa membantu mengembangkan program. Kemampuan pendamping di KPH Kedu Selatan relatif lebih baik, misalnya Mandor PHBM di BKPH Gombong Selatan turut mengembangkan jaringan kerja dengan perusahaan swasta yang akan menampung produksi buah jarak pagar dari kelompok di LMDH Simbar Aji, Kec. Buayan, Kebumen.

(19)

Sehingga petani anggota kelompok banyak menanam jarak pagar pada lahan andilnya.

5) Kemampuan pendamping dalam mencari peluang pasar dari hasil-hasil budi-daya kelompok secara umum termasuk rendah. Pendamping hampir tidak pernah menyampaikan informasi kemungkinan pemasaran hasil usahatani kelompok. Hampir tidak pernah ada upaya pendamping mempertemukan kelompok dengan calon pembeli hasil usahatani petani anggota kelompok. Para petani langsung berhubungan dengan pembeli hasil usahataninya, misalnya kopi dari bawah tegakan Pinus di LMDH Wono Bulu Bekti, Kecamatan Lebakbarang, Pekalongan; jagung dan pisang dari andil tumpang sari di KPH Gundih. Salah satu jenis tanaman di bawah tegakan juga ditemukan tokoh kelompok tani LMDH Wana Lestari, BKPH Juoro yaitu tumbuhan ’porang’. Sang tokoh kelompok sendiri yang menjalin hubungan dengan salah satu LMDH di Nganjuk untuk menampung hasil budidaya ’porang’ yang baru mau uji coba penanaman musim hujan tahun 2008. Tanaman ’porang’ mempunyai nilai jual sampai diekspor.

6) Dalam menjalankan perannya membangun komunikasi, kemampuan pendam-ping secara umum masih rendah. Pendampendam-ping jarang yang menyediakan informasi secara memadai tentang berbagai aspek program PHBM yang diperlukan kelompok tani. Namun para pendamping kadang-kadang mampu menjelaskan berbagai informasi program kepada petani dan kelompok tani.

Kondisi Keefektifan Kepemimpinan Kelompok

Keefektifan kepemimpinan kelompok termasuk dalam kategori rendah dengan skor rataan 62. Rendahnya keefektifan kepemimpinan kelompok ini disebabkan oleh kurang optimalnya peran kepemimpinan kelompok tani hutan, kurang optimalnya perilaku kepemimpinan dan lemahnya gaya kepemimpinan dalam kelompok. Terdapat perbedaan yang nyata kondisi keefektifan kepemim-pinan kelompok pada tiga lokasi penelitian, di mana KPH Kedu Selatan termasuk relatif paling tinggi, disusul KPH Gundih dan paling rendah KPH Pekalongan Timur (Tabel 31).

(20)

Tabel 31. Kondisi keefektifan kepemimpinan kelompok (X4) pada KPH

Pekalongan Timur (A), KPH Kedu Selatan (B) dan KPH Gundih (C)

Kode Nama Indikator

Skor rataan Rataan terbobot¹ (n=408) KPH A (n=136) KPH B (n=136) KPH C (n=136)

X 4.1 Peran pemimpin kelompok 37 62 36 59 (rendah) X 4.2 Perilaku kepemimpinan 55 66 62 65 (rendah) X 4.3 Gaya kepemimpinan 54 65 59 64 (rendah) Skor Rataan per KPH ² 49 a 64 c 52 b 62 (rendah)

Keterangan :

¹ Kategori = Rendah (0 – 66,9); Sedang (67,0 – 82,9); Tinggi (83,0 – 100) Bobot sampel : KPH A : KPH B :: KPH C = 1 : 13 : 1

² Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (Uji perbedaan nilai rataan t-test)

Menurut persepsi petani, kepemimpinan kelompok yang paling berpengaruh terhadap kehidupan mereka adalah pemimpin kelompok pada tingkat Kelompok Tani Hutan (KTH). Ada pemimpin kelompok pada tingkat LMDH di desa, namun kebanyakan petani kurang merasakan kepemimpinan pada tingkat LMDH. Oleh karena itu dalam penelitian ini keefektifan kepemimpinan kelompok merupakan kondisi kepemimpinan pada tingkat KTH. Mendasarkan pada Sukanto (1982), kelompok tani hutan sendiri merupakan suatu bentuk kelompok informal (informal

group), karena tidak mempunyai struktur dan peraturan-peraturan yang tegas dan

pasti. Kelompok tani hutan juga terbentuk karena pertemuan-pertemuan untuk memenuhi kepentingan bersama, utamanya melakukan budidaya tanaman pangan pada lahan hutan. Kepemimpinan pada kelompok tani hutan dengan demikian juga merupakan pimpinan informal, karena dalam mengendalikan para anggota mendasarkan kepada kekuatan pribadinya. Mengacu pada Etzioni (1985) kepemimpinan kelompok tani hutan dalam melakukan pengendalian kepada para anggotanya lebih mengandalkan kekuatan simbol sosial yang berupa penerimaan pemimpin kelompok oleh para anggotanya. Pemimpin kelompok tani sangat jarang menggunakan sarana pengendalian fisik (coercive power) untuk memaksa anggotanya. Pemimpin kelompok juga jarang menggunakan kekuatan material

(21)

(utilitarian power) untuk mengendalikan para anggotanya, karena umumnya kelompok tani hutan belum berkembang material atau aset yang dikembangkannya.

Dari hasil analisis data dan pengalaman berinteraksi dengan kelompok tani di lapangan, rendahnya keefektifan kelompok tani bisa dijelaskan sebagai berikut: 1) Peran pemimpin kelompok mempunyai skor yang paling rendah dari tiga

indikator yang digunakan. Pemimpin kelompok kadang-kadang menjelaskan tujuan kelompok secara umum kepada para anggotanya. Pemimpin kelompok hampir tidak pernah mengupayakan tersedianya sarana berupa alat-alat kerja untuk kegiatan kelompok. Pemimpin kelompok juga kurang memberikan semangat kepada para petani untuk memajukan usahataninya. Kondisi peran pemimpin kelompok yang lebih baik yaitu masih sering mendengarkan berbagai keluhan yang terkait kegiatan anggotanya.

2) Dalam hal perilaku kepemimpinan kelompok, pemimpin kelompok selalu mengenal dengan baik setiap anggotanya karena tempat tinggalnya berdekatan / bertetangga. Pemimpin kelompok umumnya sering menjaga kelompok tetap kompak dan membuat suasana yang menyenangkan dalam kelompok. Namun, pemimpin kelompok kadang-kadang belum bisa membagi tugas kepada anggotanya secara merata. Pemimpin kelompok juga belum bisa mengarahkan berbagai kegiatan kelompok secara terpadu.

3) Pemimpin kelompok belum secara efektif memerankan gaya kepemimpinan kelompok yang sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang dihadapi anggotanya. Pemimpin kelompok sering mendengarkan keluhan para anggotanya, dan bergaul baik dengan mereka. Namun pemimpin kelompok belum mampu membuat keputusan kelompok secara efektif dengan mendengarkan pendapat para anggo-tanya. Pemimpim kelompok kadang-kadang mampu membagi tugas kepada anggota sesuai kemampuannya, tetapi belum melakukan cek terhadap kemajuan hasil pelaksanaan tugas anggotanya. Pemimpin kelompok kadang-kadang memberikan arahan kepada anggota untuk mematuhi aturan kelompok, tetapi anggota yang melanggar jarang diberikan teguran.

(22)

Kondisi Dukungan Lingkungan

Dukungan lingkungan terhadap kehidupan petani secara keseluruhan termasuk dalam kategori rendah dengan skor rataan 62, dan terdapat perbedaan yang nyata tentang kondisi dukungan lingkungan pada tiga lokasi penelitian. Kondisi dukungan lingkungan di KPH Kedu Selatan relatif paling tinggi, disusul kondisi di KPH Pekalongan Timur dan paling rendah di KPH Gundih (Tabel 32).

Kondisi dukungan lingkungan diukur melalui persepsi petani responden ter-hadap kondisi lahan andilnya, potensi sumberdaya hutan yang dapat dimanfaatkan, dan penilaian petani responden terhadap lingkungannya. Kondisi dukungan lingkungan meliputi : (a) akses terhadap lahan andil; (b) potensi sumberdaya hutan yang bisa dimanfaatkan; (c) ketersediaan sarana produksi pertanian terutama bibit dan pupuk; (d) kemudahan petani dalam pemasaran hasil budidaya tanaman; (e) potensi modal sosial terutama aturan, norma dan kepercayaan; (f) potensi pengembangan usaha tani; (g) tersedianya alternatif usaha; (h) ketergantungan pada sumberdaya hutan; dan (i) intervensi lingkungan sosial.

Indikator dukungan lingkungan terhadap kehidupan petani yang kualitasnya termasuk dalam kategori sedang yaitu potensi modal sosial dengan skor 79 dan intervensi lingkungan sosial dengan skor 71. Potensi modal sosial pada tiga lokasi penelitian berada dalam kategori sedang. Hal ini berarti para petani masih sering mentaati berbagai aturan yang ditetapkan kelompok. Mereka juga masih sering membantu bergotong royong bila ada tetangganya yang memerlukan. Kepercayaan para petani terhadap sesama anggota kelompok, para pengurus kelompok, dan aparat desa juga masih terpelihara. Misalnya kepemimpinan ketua LMDH Rimba Lestari dan LMDH Sedyo Rahayu terlihat sangat aktif untuk kemajuan organisasi LMDH dan kemajuan anggotanya. Namun pada beberapa tempat, masih dijumpai kepercayaan petani terhadap Mandor dan Mantri Perhutani berada pada kategori yang rendah. Misalnya kepercayaan sebagian petani di LMDH Sumber Rejeki di Kayu Puring, KPH Pekalongan Timur terhadap Mandor termasuk rendah. Hasil penelusuran dengan wawancara terhadap petani diketahui bahwa tenaga mandor tersebut kurang mampu melakukan pendekatan yang bisa diterima para petani, dan tidak bergaul dengan baik terhadap para petani.

(23)

Tabel 32. Kondisi dukungan lingkungan (X5) petani sekitar hutan pada KPH Pekalongan Timur (A), KPH Kedu Selatan (B) dan KPH Gundih (C)

Kode Nama Indikator

Skor rataan Rataan terbobot ¹ (n=408) KPH A (n=136) KPH B (n=136) KPH C (n=136)

X 5.1 Akses lahan 55 65 62 64 (rendah)

X 5.2 Potensi sumberdaya hutan 60 50 46 50 (rendah)

X 5.3 Ketersediaan saprodi 55 63 52 62 (rendah) X 5.4 Kemudahan memasarkan hasil 54 59 57 59 (rendah)

X 5.5 Potensi modal sosial 69 81 70 79 (sedang) X 5.6 Potensi pengembangan usaha 56 68 40 65 (rendah) X 5.7 Tersedianya alternatif usaha 38 55 33 52 (rendah) X 5.8 Ketergantungan pada hutan 60 52 57 53 (rendah) X 5.9 Intervensi lingkungan sosial 48 74 52 71 (sedang) Skor Rataan per KPH ² 55 b 63 c 52 a 62 (rendah)

Keterangan :

¹ Kategori = Rendah (0 – 66,9); Sedang (67,0 – 82,9); Tinggi (83,0 – 100) Bobot sampel : KPH A : KPH B :: KPH C = 1 : 13 : 1

² Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (Uji perbedaan nilai rataan t-test)

Intervensi lingkungan sosial terhadap petani, terutama pada KPH Kedu Selatan, juga termasuk dalam kategori sedang. Para petani masih sering saling mengingatkan terhadap sesamanya untuk aktif dalam melakukan berbagai kegiatan kelompok tani. Para petani juga saling memberikan informasi tentang kondisi usahataninya terhadap sesama anggota kelompok. Sehingga para petani banyak belajar dari teman sesama petani dalam kelompoknya untuk kemajuan usahataninya.

Rendahnya dukungan lingkungan terhadap pemenuhan kebutuhan hidup keluarga petani, berdasarkan hasil analisis data dan pengalaman mengamati lingkungan kelompok tani pada lokasi penelitian, bisa dijelaskan sebagai berikut : 1) Akses lahan meliputi kesuburan andil bila ditanamai tanaman pangan, luasan

andil dibandingkan kebutuhan dan kemudahan untuk mendapatkannya. Andil tumpangsari untuk ditanami jagung di KPH Gundih termasuk subur. Kesuburan

(24)

andil yang tinggi juga dirasakan petani di BKPH Purworejo yang termasuk daerah pegunungan. Namun kesuburan andil di KPH Gombong Selatan termasuk rendah (tandus), karena pegunungan berbatu-batu. Luasan andil terutama untuk tumpangsari yang diperoleh petani dirasakan rendah dibanding-kan pemenuhan kebutuhan keluarga petani.

2) Sumberdaya hutan di sekitar tempat tinggal petani mempunyai potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan keluarga petani. Misalnya kayu bakar, daun-daun, rumput pakan ternak, empon-empon tumbuhan bawah tegakan, serangga (ulat, kepompong, belalang), mata air, dan lain-lain. Potensi sumberdaya hutan yang dapat dimanfaatkan masih terbatas sesuai karakteristik wilayah. Misalnya petani di KPH Pekalongan Timur dan KPH Kedu Selatan memanfaatkan rumput pakan ternak dan kayu bakar. Potensi sumberdaya hutan yang mereka manfaatkan sangat membantu, namun dirasakan masih kurang mencukupi kebutuhan keluarga petani. Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa petani umumnya belum menyadari potensi yang besar dari pengem-bangan usahatani di bawah tegakan hutan, misalnya budidaya tanaman porang di KPH Gundih.

3) Kelompok belum mampu menyediakan bibit tanaman pangan dan mengadakan pupuk untuk petani. Sehingga petani mencari dari pedagang pertanian dengan tidak melalui kelompok. Misalnya bibit jagung yang unggul diperoleh petani dari pedagang setempat.

4) Dalam hal pemasaran hasil-hasil usahatani, petani menjual sebagian hasil panennya dan sisanya untuk dikonsumsi sendiri. Para petani di KPH Gundih menjual hasil panen jagung kepada pedagang. Demikian pula hasil panen pisang. Namun demikian belum tersedia informasi harga-harga di pasaran tentang berbagai hasil usahatani kelompok, sehingga pedagang yang menentu-kan harga hasil usahatani misalnya jagung di KPH Gundih.

5) Petani masih belum melihat bahwa potensi pengembangan usaha yang bisa dilakukan pada lahan andil dan lahan di bawah tegakan sebenarnya banyak yang menguntungkan. Petani belum mempunyai inisiatif mengembangkan jenis-jenis tanaman yang menguntungkan pada lahan andilnya. Petani juga

(25)

belum berupaya mengolah hasil tanaman pangan agar memunyai nilai jual yang lebih besar. Kondisi potensi pengembangan usaha di KPH Kedu Selatan termasuk kategori sedang dan lebih baik dibandingkan dua lokasi lainnya. Sebagai contoh, kelompok tani yang tergabung dalam LMDH Rimba Lestari, desa Kepil sudah mengembangkan jenis tanaman nilam. Kelompok tani wanita LMDH Sedyo Rahayu, mengembangkan jenis kapulogo di bawah tegakan Pinus. Kelompok LMDH Simbar Aji di kecamatan Buayan menanam tanaman buah seperti mangga, petai, jarak pagar, kapulogo pada lahan andil yang berbatu-batu. LMDH Simbar Aji juga mengelola obyek wisata gua di pegunungan kapur yang didatangi wisatawan domestik. Potensi pengembangan usaha di KPH Gundih termasuk paling rendah dengan skor 40. Petani umumnya belum menyadari potensi usahatani di bawah tegakan yang bisa dikembangkan. Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa ada peluang mengembangkan tanaman porang di bawah tegakan, misalnya di LMDH Wana Lestari, BKPH Juoro. Banyak dijumpai tanaman ’porang’ tumbuh alami di bawah tegakan sono. Pengembangan tanaman porang untuk ditanaman pada tegakan lain masih sangat potensial.

6) Ketersediaan alternatif usaha untuk menambah penghasilan keluarga petani mempunyai skor 33 dan termasuk skor paling rendah. Hal ini mempunyai makna bahwa petani mempunyai pilihan alternatif yang terbatas untuk menambah penghasilan keluarga sesuai kondisi setempat. Petani di KPH Kedu Selatan mempunyai ketersediaan alternatif usaha yang relatif lebih baik dibandingkan dua lokasi lainnya. Misalnya para petani di BKPH Gombong Selatan yang tergabung dalam LMDH Renggo Wonojoyo di Kecamatan Ayah membuat gula kelapa dengan cara ’menderes’ tangkai bunga kelapa. Para petani di LMDH Renggo Wonojoyo kecamatan Buayan, termasuk ibi-ibu rumah tangga, banyak yang mencari tambahan penghasilan dengan memecah batu-batu gunung dengan martil untuk dijual sebagai bahan bangunan. Banyak pula yang membuat kolam-kolam di sekitar rumah untuk memelihara ikan.

7) Intervensi lingkungan sosial bagi petani secara umum termasuk rendah, namun kondisi petani KPH Kedu Selatan termasuk kategori sedang sehingga relatif lebih baik dari dua lokasi penelitannya lainnya. Dalam melakukan kegiatan

(26)

kelompok, sesama anggota saling mengingatkan teman-temannya untuk aktif melakukan kegiatan. Namun petani belum mendapatkan informasi kemajuan usahatani petani lain. Petani juga belum banyak belajar dari keberhasilan usahatani petani lainnya. Sebagai ilustrasi, dari pengamatan di lapangan ternyata potensi tanaman bawah tegakan jati di hutan pangkuan LMDH Wana Lestari cukup besar karena ditumbuhi empon-empon (kunci, kunyit, temu lawak, dan lain-lain) serta tanaman sejenis ’porang’, ’iles-iles’, dan ’walur’. Empon-empon banyak dipungut orang dari luar untuk dijual ke pasar di Solo untuk bahan jamu tradisional. Tanaman ’porang’ dapat dijual kepada LMDH di Nganjuk. Namun demikian informasi potensi tanaman bawah tegakan tersebut belum dimanfaatkan petani anggota LMDH setempat secara optimal.

Kondisi Dinamika Kelompok Tani Hutan

Dinamika kelompok tani hutan secara umum termasuk kategori rendah dengan skor rataan 65. Kondisi dinamika kelompok tani hutan berbeda secara nyata antar tiga lokasi penelitian. Dinamika kelompok tani hutan di KPH Kedu Selatan termasuk kategori sedang, sedangkan dinamika kelompok tani hutan di KPH Gundih termasuk rendah namun lebih baik dibandingkan kondisi di KPH Pekalongan Timur. Rendahnya dinamika kelompok terutama ditunjang indikator-indikator yang mempunyai nilai rendah yaitu tegangan kelompok, maksud tersembunyi dan perkembangan usaha kelompok. Kualitas suasana kelompok, keefektifan kelompok dan kekompakan kelompok termasuk kategori sedang dan relatif lebih baik dari indikator-indikator lainnya (Tabel 33). Sesuai temuan di lapangan bahwa kelompok tani hutan kebanyakan terdiri dari para anggota yang rumahnya saling berdekatan, dengan suasana kekeluargaan yang masih terasa.

Dinamika kelompok diukur secara subyektif melalui persepsi petani responden terhadap kondisi kelompok tani hutan tempat mereka bergabung. Kelompok tani hutan (KTH) ini kebanyakan terbentuk berdasarkan kedekatan tempat tinggal, dan biasanya dalam satu dusun atau pedukuhan. Beberapa kelompok tani hutan bergabung di dalam naungan organisasi yang lebih tinggi atau LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) pada tingkat desa. Para petani responden dalam kegiatan sehari-hari lebih banyak berinteraksi di dalam kelompok

(27)

tani hutan. Istilah KTH pada LMDH Wana Indah di BKPH Monggot, KPH Gundih dinamakan kelompok kerja (Pokja).

Tabel 33. Kondisi dinamika kelompok (Y1) dari kelompok tani hutan pada KPH Pekalongan Timur (A), KPH Kedu Selatan (B) dan KPH Gundih (C)

Kode Nama Indikator

Skor rataan Rataan terbobot ¹ (n=408) KPH A (n=136) KPH B (n=136) KPH C (n=136)

Y 1.1 Tujuan kelompok 53 69 56 67 (sedang)

Y 1.2 Struktur kelompok 49 61 56 60 (rendah)

Y 1.3 Fungsi / tugas kelompok 55 67 61 66 (rendah) Y 1.4 Pembinaan kelompok 51 69 54 67 (sedang) Y 1.5 Kekompakan kelompok 53 71 68 70 (sedang) Y 1.6 Suasana kelompok 62 78 76 77 (sedang) Y 1.7 Tegangan kelompok 43 57 44 55 (rendah) Y 1.8 Keefektifan kelompok 56 76 55 73 (sedang) Y 1.9 Maksud tersembunyi 47 59 42 57 (rendah) Y1.10 Perkembangan usaha kelompok 42 62 42 59 (rendah) Skor Rataan per KPH ² 51 a 67 c 55 b 65 (rendah)

Keterangan :

¹ Kategori = Rendah (0 – 66,9); Sedang (67,0 – 82,9); Tinggi (83,0 – 100) Bobot sampel : KPH A : KPH B :: KPH C = 1 : 13 : 1

² Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (Uji perbedaan nilai rataan t-test)

Kondisi rendahnya dinamika kelompok tani hutan sesuai dengan hasil analisis data dan pengamatan langsung di lapangan, dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Tujuan kelompok tani belum dirumuskan secara jelas dan tertulis serta belum sepenuhnya dipahami oleh para anggotanya. Tujuan kelompok tani kadang-kadang sesuai dengan keperluan petani terutama sebagai tambahan pendapatan keluarganya. Kondisi kelompok tani di KPH Kedu Selatan relatif lebih baik dengan tujuan kelompok tani termasuk kategori sedang. Sebagai contoh, adanya kelompok tani wanita yang mempunyai aktivitas tertentu di LMDH Rimba Lestari dan LMDH Sedyo Rahayu menunjukkan kejelasan tujuan, dipahami oleh para anggotanya dan kesesuaian tujuan kelompok dengan tujuan anggota untuk meraih peluang kegiatan yang memberikan tambahan penghasilan keluarga.

(28)

2) Struktur kelompok menyangkut pengaturan dalam pengambilan keputusan kelompok, tata cara pelaksanaan tugas, dan penyediaan informasi kelompok. Pengambilan keputusan kelompok masih kurang melibatkan para anggotanya. Para anggota kelompok juga belum sepenuhnya memahami tugas dan tanggungjawabnya dalam kelompok. Berbagai informasi tentang program belum sepenuhnya disediakan oleh kelompok tani.

3) Fungsi tugas menyangkut hal-hal yang harus dilakukan para anggota kelompok agar tujuan tercapai. Kebanyakan petani belum menyadari sepenuhnya bahwa kelompok memberikan manfaat bagi mereka. Para anggota juga belum sepenuhnya memahami bagaimana melakukan kegiatan kelompok dan hubungan antara kegiatan kelompok satu dengan lainnya. Kondisi fungsi tugas kelompok pada KPH Kedu Selatan termasuk dalam kategori sedang sehingga relatif lebih baik dibandingkan kondisi pada dua lokasi lainnya.

4) Pembinaan kelompok menyangkut upaya yang dilakukan agar kelompok tetap aktif dan berkembang. Pembinaan kelompok secara umum termasuk masih rendah. Petani kadang-kadang hadir dalam pertemuan kelompok tani dan mengikuti kegiatan-kegiatan kelompok. Mereka masih kurang rasa tanggung-jawabnya untuk melakukan tugas kelompok. Petani juga tidak pernah memper-oleh fasilitas dari kelompok berupa peralatan kerja (misalnya cangkul, sabit, dan alat kerja lainnya) untuk melakukan tugas kelompok. Kebanyakan kelompok belum menetapkan aturan kelompok secara terperinci serta dipahami oleh para anggotanya. Kondisi pembinaan kelompok yang relatif lebih baik yaitu di KPH Kedu Selatan.

5) Kekompakan kelompok merupakan kesatuan dan komitmen dari para anggota kelompok. Kondisi kekompakan kelompok umumnya relatif lebih baik terutama di KPH Kedu Selatan dan KPH Gundih termasuk kategori yang sedang. Para petani kebanyakan mempunyai rasa bangga menjadi anggota kelompok tani, karena mereka mengelola andil tumpangsari ataupun mengelola petak sadapan getah pinus. Rasa kebersamaan dirasakan oleh para anggota kelompok dalam melakukan berbagai kegiatan. Para anggota juga saling membantu dalam melakukan kegiatan kelompok maupun dalam kehidupan

(29)

sehari-hari. Namun demikian, kondisi kekompakan kelompok di KPH Pekalongan Timur termasuk dalam kategori yang rendah.

6) Tegangan kelompok termasuk kategori rendah, karena petani anggota kelompok yang bekerja dengan baik jarang mendapatkan penghargaan dari kelompoknya. Selain itu anggota yang melanggar aturan jarang diberikan sanksi atau teguran dari kelompoknya. Para petani belum merasa tertantang untuk bekerja lebih keras lagi dalam kelompoknya.

7) Keefektifan kelompok menyangkut tercapainya tujuan kelompok tani. Keefektifan kelompok di KPH Pekalongan Timur dan KPH Gundih termasuk rendah, karena para petani merasa pencapaian tujuan kelompok belum sesuai dengan yang mereka diharapkan. Para petani juga belum merasa puas atas pencapaian tujuan-tujuan kelompok. Keefektifan kelompok di KPH Kedu Selatan terlihat lebih baik dan termasuk kategori sedang. Tujuan kelompok dari segi ekonomi antara lain pendapatan dari mengelola lahan hutan. Dari segi sosial, pada saat penelitian sedang dibangun kantor LMDH Rimba Lestari di desa Kepil dan kantor LMDH Sedyo Rahayu di desa Sedayu.

8) Perkembangan usaha kelompok umumnya termasuk rendah. Pengurus kelompok umumnya kurang menunjukkan upaya yang nyata dalam pengem-bangan usaha kelompok. Belum terlihat upaya nyata memajukan usaha kelom-pok dan mengumpulkan aset-aset yang memadai. Berdasarkan temuan lapang-an, hasil sharing (bagi hasil) yang diterima oleh LMDH penggunaannya belum diarahkan untuk usaha-usaha yang produktif. Pada beberapa LMDH penggu-naan hasil sharing kebanyakan untuk pembenahan fisik dan administrasi kelompok (membangun kantor LMDH, pertemuan-pertemuan, dan lain-lain), sehingga belum menyentuh secara langsung kebutuhan para petani.

Keadaan Tingkat Keberdayaan Petani Hutan

Tingkat keberdayaan petani hutan dalam melakukan pengelolaan sumber-daya hutan untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya termasuk kategori rendah dengan skor rataan 65. Kondisi tingkat keberdayaan petani hutan pada tiga lokasi penelitian menunjukkan perbedaan secara nyata, di mana tingkat keberdayaan petani hutan di KPH Kedu Selatan relatif paling tinggi, disusul oleh kondisi pada

(30)

KPH Gundih dan kondisi paling rendah pada KPH Pekalongan Timur. Tingkat keberdayaan petani hutan meliputi kemampuan interpersonal, kemampuan interaksional, kapasitas mengambil tindakan, kemampuan kolektif dan kemampuan bertahan terhadap permasalahan yang dihadapi (Tabel 34).

Berdasarkan indikator penyusun tingkat keberdayaan, kapasitas mengambil tindakan dan kemampuan kolektif termasuk kategori sedang dan relatif lebih tinggi dibandingkan indikator lainnya. Kapasitas mengambil tindakan termasuk sedang mempunyai makna bahwa petani hutan mempunyai kemauan yang memadai untuk melakukan kegiatan pemberdayaan melalui program pengelolaan hutan bersama masyarakat yang diluncurkan oleh Perhutani. Kemampuan kolektif termasuk sedang karena petani merasa bahwa kelompok tani mempunyai kemampuan merumuskan kebutuhan petani, memecahkan permasalahan petani, dan kelompok mampu memperjuangkan kebutuhan anggotanya. Namun demikian, kemampuan interaksional petani hutan termasuk dalam kategori rendah dengan skor paling rendah yaitu 45 (Tabel 34).

Tabel 34. Tingkat keberdayaan (Y2) petani sekitar hutan pada KPH Pekalongan Timur (A), KPH Kedu Selatan (B) dan KPH Gundih (C)

Kode Nama Indikator

Skor rataan Rataan terbobot ¹ (n=408) KPH A (n=136) (n=136) KPH B (n=136) KPH C

Y 2.1 Kemampuan interpersonal 54 67 62 66 (rendah) Y 2.2 Kemampuan interaksional 40 45 47 45 (rendah) Y 2.3 Kapasitas mengambil tindakan 70 76 71 75 (sedang) Y 2.4 Kemampuan kolektif 67 75 62 74 (sedang) Y 2.5 Kemampuan bertahan 59 66 53 65 (rendah) Skor Rataan per KPH ² 58 a 66 c 59 b 65 (rendah)

Keterangan :

¹ Kategori = Rendah (0 – 66,9); Sedang (67,0 – 82,9); Tinggi (83,0 – 100) Bobot sampel : KPH A : KPH B :: KPH C = 1 : 13 : 1

² Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (Uji perbedaan nilai rataan t-test)

(31)

Rendahnya tingkat keberdayaan petani hutan berdasarkan hasil analisis data dan pengamatan langsung terhadap petani hutan di lapangan dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Kemampuan interpersonal yang masih rendah ditandai dengan rendahnya pemahaman terhadap program PHBM dan kurang aktifnya petani mengemukakan pendapat dalam pertemuan sosialisasi program. Kemampuan petani dalam melakukan kegiatan pembagian wilayah pangkuan hutan, membuat batas peta pangkuan, dan inventarisasi potensi hutan dan potensi desa juga masih belum memadai. Hal ini karena belum adanya pengalaman petani dalam melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa kelompok tani kurang dilibatkan untuk kegiatan-kegiatan tersebut sehingga mereka kurang mendapatkan pengalaman yang bisa menempa kemampuannya untuk melakukan kegiatan.

2) Kemampuan interaksional menyangkut sikap kritis petani hutan terhadap pelaksanaan program yang mempengaruhi kepentingan mereka. Petani hutan kebanyakan belum mampu berpandangan kritis sejauhmana program mampu memperhatikan kebutuhan petani, secara terbuka membahas hak dan kewajiban petani, berorientasi kepada kesejahteraan petani dan membangun kebersamaan dengan petani. Kebanyakan petani hutan juga belum mampu secara kritis me-mahami sejauhmana pembagian andil dilakukan secara adil dan terbuka, dan sejauhmana ada keterbukaan dalam penentuan proporsi dan pemanfaatan bagi hasil untuk kelompok. Kebanyakan petani bersikap pasrah dan menerima saja bahwa memang demikianlah aturan pelaksanaan program yang telah ditetapkan pihak luar.

3) Kemampuan bertahan meliputi sejauhmana petani mampu mengenali hambatan dari dalam kelompok dan tantangan dari luar kelompok yang bisa mengganggu tujuan bersama, termasuk kategori rendah. Demikian pula kemampuan mereka dalam memecahkan permasalahan yang muncul kebanyakan belum bersifat antisipatif atau masih terfokus pada permasalahan jangka pendek.

(32)

Kondisi Tingkat Partisipasi Petani dalam Program PHBM

Tingkat partisipasi petani sekitar hutan dalam pengelolaan hutan bersama Perhutani secara keseluruhan termasuk rendah dengan skor 45. Hal ini mempunyai makna bahwa kebanyakan petani jarang turut melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan program mulai tahapan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pemanfaatan hasil-hasilnya. Kondisi tingkat partisipasi pada tiga lokasi penelitian berbeda secara nyata, dengan kondisi partisipasi di KPH Kedu Selatan relatif paling baik, menyusul partisipasi pada KPH Pekalongan Timur dan paling rendah pada KPH Gundih (Tabel 35).

Partisipasi petani diukur melalui persepsi subyektif petani responden tentang apa yang telah dia lakukan dalam berbagai tahapan kegiatan program PHBM tersebut. Partisipasi dalam hal ini merupakan suatu perilaku (overt

behavior) yang secara nyata telah dilakukan oleh para petani. Keterlibatan petani

dalam tahapan evaluasi paling rendah, atau dengan kata lain mereka sangat jarang melakukan kegiatan evaluasi program. Keterlibatan petani pada pengelolaan sumberdaya hutan paling tinggi pada tahapan pemanfaatan dan pelaksanaan, dan relatif lebih rendah pada tahapan pelaksanaan dan evaluasi. Mengacu pada tujuh tingkat / tipologi partisipasi Pretty dan Vodouhё (1997), tingkat partisipasi petani dalam pengelolaan hutan pada tahapan perencanaan dan evaluasi masih berupa partisipasi pasif (passive participation), sampai partisipasi informatif (participation

in information giving). Pada tahapan perencanaan, petani diberitahukan tentang

rencana program PHBM yang sudah ditentukan oleh Perhutani, dan kurang terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Pada tahapan evaluasi, petani juga tidak turut menentukan tata cara dan pelaksanaan evaluasinya sehingga segala keputusan berada pada petugas Perhutani. Sedangkan tingkat partisipasi pada tahapan pelaksanaan dan pemanfaatan hasil berada pada tahapan partisipasi insentif (participation for material incentive). Pada tahapan ini petani berpartisipasi dengan memberikan tenaga kerja dan memperoleh imbalan berupa hasil panen tanaman pangan, hasil sadapan getah pinus, upah kerja, atau insentif lainnya. Namun, petani belum dilibatkan dalam proses pembelajaran dari proses yang sedang berjalan itu.

(33)

Tabel 35. Kondisi tingkat partisipasi (Y3) pada KPH Pekalongan Timur (A), KPH Kedu Selatan (B) dan KPH Gundih (C)

Kode Nama Indikator

Skor rataan Rataan terbobot ¹ (n=408) KPH A (n=136) KPH B (n=136) KPH C (n=136) Y 3.1 Perencanaan 34 47 27 45 (rendah) Y 3.2 Pelaksanaan 39 51 43 50 (rendah) Y 3.3 Evaluasi 21 26 22 25 (rendah) Y 3.4 Pemanfaatan 60 59 53 59 (rendah)

Skor Rataan per KPH ² 39 b 46 c 36 a 45 (rendah)

Keterangan :

¹ Kategori = Rendah (0 – 66,9); Sedang (67,0 – 82,9); Tinggi (83,0 – 100) Bobot sampel : KPH A : KPH B :: KPH C = 1 : 13 : 1

² Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (Uji perbedaan nilai rataan t-test)

Rendahnya tingkat partisipasi petani hutan dalam serangkaian kegiatan program PHBM berdasarkan analisis data dan pengamatan di lapangan bisa dijelaskan sebagai berikut :

1) Kegiatan perencanaan antara lain sosialisasi program, pertemuan pembentukan organisasi LMDH dan pertemuan forum komunikasi program PHBM di tingkat desa jarang diikuti oleh para petani. Kebanyakan pertemuan tersebut dihadiri tokoh dan wakil petani. Sedangkan wakil dan tokoh petani yang hadir belum secara intensif menyampaikan kepada petani. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tokoh petani beralasan perlunya biaya (misalnya untuk konsumsi) apabila mengumpulkan petani. Perencanaan kegiatan LMDH umumnya tidak melibatkan petani, karena kebanyakan rencana kerja disusun oleh pengurusnya. Demikian pula petani belum memahami isi perjanjian kerjasama antara LMDH dengan pihak Perhutani (Kepala KPH). Perjanjian kerjasama umumnya hanya diketahui oleh pengurus LMDH.

2) Pada tahapan pelaksanaan program, petani umumnya tidak dilibatkan dalam kegiatan pengelolaan kehutanan pada tahap awal misalnya pembagian wilayah pangkuan, pembuatan batas pangkuan, dan inventarisasi potensi hutan dan potensi desa. Kegiatan tersebut dilakukan oleh petugas lapangan Perhutani dan

(34)

kadang-kadang dibantu beberapa petani. Kegiatan yang dilaksanakan para petani sebatas melakukan penanaman tanaman pokok pada andilnya, dan melakukan budidaya tanaman pangan sesuai ketentuan yang berlaku. Petani belum banyak mengambil peran aktif dalam pengambilan keputusan tentang penentuan tata cara suatu kegiatan teknis kehutanan.

3) Kondisi partisipasi petani yang paling rendah berada pada tahapan evaluasi kegiatan program. Penentuan tata cara penilaian program dan pelaksanaannya dilakukan oleh pihak Perhutani. Petani secara terbatas mampu melihat beberapa kelemahan program yang mereka lakukan, namun belum memberikan masukan secara nyata kepada Perhutani bagaimana melakukan upaya perbaikannya. 4) Kondisi partisipasi petani pada aspek pemanfaatan hasil relatif lebih baik

walaupun masih dalam kategori rendah. Petani merasakan manfaat hasil budidaya tanaman pangan pada andil tumpangsari seperti jagung, pisang, hijauan makanan ternak dan lain-lain. Namun demikian hasil sharing (bagi hasil) yang diperoleh LMDH, kebanyakan petani belum merasakan manfaatnya secara nyata.

Menurut Midgley (1986) partisipasi masyarakat dalam pembangunan bisa dibagi dalam dua kategori yaitu partisipasi yang sebenarnya (authentic

participation) dan partisipasi semu (pseudo participation). Partisipasi yang

sebenarnya menghendaki keterlibatan masyarakat secara sukarela dan demokratis dalam hal : (a) berkontribusi dalam usaha-usaha pembangunan; (b) mendapatkan bagian manfaat secara adil dari pembangunan; dan (c) pengambilan keputusan dalam merumuskan tujuan, merumuskan kebijakan dan perencanaan, dan penerapan program-program pembangunan sosial dan ekonomi. Dalam partisipasi semu, keterlibatan masyarakat terbatas pada penerapan program atau menyetujui keputusan yang telah diambil oleh pihak luar.

Mengacu pada tipologi partisipasi Midgley tersebut, kondisi partisipasi petani hutan dalam mengelola sumberdaya hutan masih termasuk pada kategori partisipasi yang semu (pseudo participation). Kondisi yang diinginkan adalah petani hutan mampu melakukan partisipasi yang sebenarnya (authentic

Gambar

Tabel  24.  Luas pembagian wilayah hutan yang dikelola Perum Perhutani Unit I  Jawa Tengah pada lokasi penelitian pada Tahun 2007
Tabel 26. Kondisi potensi sumberdaya individu petani sampel (X1) pada KPH    Pekalongan Timur (A) , KPH Kedu Selatan (B) dan KPH Gundih (C)
Tabel 27.  Sebaran tanaman pokok pada lahan andil yang dikelola petani sampel
Gambar 10 menunjukkan tiga peubah yang berpengaruh secara langsung  terhadap dinamika kelompok
+2

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil uji t dijelaskan nilai signifikan dari tabel Coefficients disimpulkan bahwa variabel Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (X) berpengaruh terhadap

Semua pihak yang terlibat dalam sistem hubungan industrial, baik itu pekerja/buruh, pengusaha maupun pemerintah, berkewajiban bekerjasama satu dengan yang lainnya

Seven aspects of bias are excessive optimism, representativeness, overconfidence, herding effect, availability, confirmation, and framing in making life insurance purchasing

Selain daripada cita-cita untuk mewujudkan “port” untuk kami sendiri, kami sedar pendekatan ini akan memberikan nilai tambah kepada ekonomi setempat kerana ianya berupaya untuk

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dideskripsikan di atas dapat diungkapkan bahwa, kegiatan ekstrakurikuler kepramukaan di SMK Negeri 1 Bukateja dapat

[r]

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Besarnya biaya , penerimaan, dan pendapatan, usahatani cabe merah varietas hot beauty di Desa Cibeureum Kecamatan

Komunikasi tidak hanya berbicara mengenai individu yang satu dengan individu yang lain dalam membagi perasaan, bertukar pemikiran untuk mempertahankan hubungan yang telah dibentuk