Cross Culture Communication 1
PERPADUAN GAYA
ARSITEKTUR PADA GEREJA
KATOLIK DI BALI
Putu Lirishati Soethama 0890161027
SCHOOL OF POSTGRADUATE STUDIES
TRANSLATION PROGRAM
UNIVERSITY OF UDAYANA
2015
Cross Culture Communication 2
1. Latar Belakang
Bangunan megah, pintu yang besar dan memberi kesan monumental adalah kesan awal yang timbul dalam pikiran kita ketika memasuki sebuah gereja. Seperti yang sudah kita ketahui gereja merupakan tempat suci bagi agama Kristen untuk melakukan peribadatan. Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan mempunyai tiga wujud diantaranya wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Ini dibuktikan dengan adanya akulturasi budaya.
Akulturasi budaya masuk ke Bali dengan mudah melalui pendekatan – pendekatan secara damai. Akulturasi merupakan perpaduan dua buah kebudayaan berbeda yang tidak saling menghilangkan ciri khas satu sama lain.
Gereja Katholik Paroki St. Yoseph Denpasar misalnya. Letaknya yang berada di pusat kota Denpasar dan dekat bangunan suci Pura Jagatnatha menuntut bangunan ini untuk menyesuaikan dengan karakteristik yang ada. Dimana karakteristik bangunan yang ada di sekitar Gereja menggunakan gaya tradisional dengan menonjolkan ornamen – ornamen ukiran.
Atas hal-hal seperti inilah gereja-gereja katholik lainnya seperti, Gereja Roh Kudus Babakan, Greja Hati Kudus Palasari, Gereja St Emma & St Theodore, Greja St theresia Tangeb, dan Greja Tritunggal Mahakudus Tuka secara fisik mengambil kebudayaan tradisional Bali. Tidak seperti gereja – gereja pada umumnya yang menggunakan gaya
Cross Culture Communication 3
gothik dengan ciri khas klasik, monumental dan sangat megah. Disinilah akulturasi dua kebudayaan terjadi. Di satu sisi gereja dibangun dengan tetap memberi kesan monumental, memiliki fungsi sebagai tempat peribadatan umat Kristiani dan di sisi lain gereja dibuat sebagai suatu cerminan kebudayaan suatu daerah.
Gaya tradisional yang digunakan pada gereja-gereja Katholik tersebut yang terdapat di Denpasar, Canggu hingga Jembrana memberi kesan bahwa gereja ini dibangun bukan untuk mempertinggi perbedaan tetapi justru untuk menekan perbedaan dan memberikan ciri pada daerah dimana gereja dibangun.
Rumusan masalah yang diangkat dalam tulisan ini adalah:
Bagaimanakah akulturasi budaya dari segi pandang arsitektur yang terjadi pada gereja Katolik di Bali?
2. Teori Akulturasi Budaya
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan mempunyai tiga wujud diantaranya wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Ini dibuktikan dengan adanya akulturasi budaya
Konsep Tri Angga adalah sebuah konsep yang sering dipakai pada bangunan tradisional Bali. Dalam arsitektur tradisional Bali dikenal ada “Tri Angganya”, yaitu :
1. “Nistama Angga” (kaki) 2. “Madya Angga” (badan)
Cross Culture Communication 4
3. “Utama Angga” (kepala)
Nistama Angga atau bagian kaki dalam sebuah bangunan adalah bagian batur. Madya Angga atau bagian badan dalam sebuah bangunan adalah bagian dinding dan saka. Utama Angga atau bagian kepala dalam sebuah bangunan adalah bagian atap.
Akulturasi budaya adalah suatu proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu (asli) dihadapkan dengan unsure-unsur kebudayaan asing, sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima, dikelola kebudayaan asli tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan asli tersebut.
Rumawan (1985) menyebutkan bahwa Arsitektur Kristen lama merupakan perakitan arsitektur Romawi. Banyak bangunan didirikan berdasarkan sifat-sifat nilai kesombongan walaupun fungsinya tidak benar, demikian pula halnya dengan fasilitas. Terdapat altar, NAVE atau bagian khusus diperuntukkan bagi choir. Terdapat pula kesan agung dan suci yang berupa ornamen-ornamen pemuka agama.
Arsitektur Gothik adalah arsitektur yang tumbuh dari arsitektur Romanika yang menyimpang dari aturan-aturan Yunani dan Romawi. Arsitektur ini hanya memiliki kelebihan dari segi skala, yakni di luar skala manusia. Serta Gothik menampilkan seni hias bangunan yang berlebih-lebihan. Pada zaman Gothik masyarakat membentuk kelas berdasarkan kepentingan agama. Mereka inilah yang melahirkan karya arsitektur
Cross Culture Communication 5
Gothik. Contoh bangunan-bangunannya: Kathedral Notre Dame, Gereja St Elizabeth di Inggris, puri-puri, kastil, dan balai kota.
Data yang dikumpulkan terbagi dalam dua macam: data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh secara langsung, diantaranya bentuk bangunan , kondisi bangunan, serta bagaimana interior bangunan. Metode yang digunakan adalah dengan cara metode observasi / pengamatan langsung pada bangunan.
Sedangkan data sekunder merupakan data yang tidak langsung diperoleh di lapangan atau merupakan data kedua, diantaranya data literatur mengenai metodologi riset. Metode yang digunakan adalah pendekatan studi kepustakaan, yaitu merujuk pada sejumlah literatur yang memiliki kesesuaian dengan pembahasan.
3. Perpaduan Gaya Arsitektur Pada Gereja Katolik di Bali
Gereja Khatolik Paroki St. Yoseph Denpasar, Gereja Roh Kudus Babakan, Gereja Hati Kudus Palasari, Gereja St Emma & St Theodore, Gereja St theresia Tangeb, dan Gereja Tritunggal Mahakudus Tuka merupakan gereja tua yang ada di Bali, tetapi memiliki kekhasan dalamtampilan arsitekturalnya. Gereja Katholik Paroki St. Yoseph Denpasr
berlokasi di Jalan Kepundung no.1 Denpasar. Berjarak sekitar 3 km dari pusat kota Denpasar.
Hampir keseluruhan dari gereja-gereja tersebut dirancang oleh seorang berkebangsaan Belanda, dan mulai dibangun pada tahun 1966.
Cross Culture Communication 6
Arsitektur gereja-gereja ini merupakan arsitektur atas dasar pendekatan
hermeneutic. Hermenetic merupakan hasil perkawinan, penyatuan, dari
arsitektur barat yang bernuansa Romanika Itali Utara, Gothik Belanda/Belgia, dan arsitektur tradisional Bali sebagai arsitektur lokal. Unggulan dari ciri barat (Gothik) dan timur (tradisi) dijadikan satu sehingga menampilkan sosok arsitektur yang unik.
Selain pendekatan hermeneutic, pengaruh arsitektur tradisional Bali pada dua gereja ini juga disebabkan adanya peraturan daerah No. 2, 3, dan 4 tahun 1974 tentang tampilan sebuah bangunan yang menampilkan citra Bali-nya.
Penggunaan Konsep Tri Angga
Konsep Tri Angga adalah sebuah konsep yang sering dipakai pada bangunan tradisional Bali. Konsep ini mengibaratkan sebuah bangunan seperti manusia yang terdiri dari bagian atas (kepala), badan dan bagian kaki.
Bentuk keseluruhan dari gereja-gereja Katolik tersebut di atas telah memperlihatkan pembagian konsep tersebut dengan sangat jelas. Bagian atas ditunjukkan dengan bentuk meru yang terdapat salib diatasnya.
Dinding dan pilar yang
terdapat pada bagian depan merupakan badan dari gereja tersebut. Bagian kaki dari gereja ini ditunjukkan dengan
Cross Culture Communication 7
adanya penggunaan anak tangga
Gereja St Yoseph, Denpasar sebelum memasuki gereja.
Arsitektur Tradisional Bali pada Atap Gereja
Atap Gereja Hati Kudus Palasari merupakan perpaduan antara Arsitektur Gothik dengan Arsitektur Tradisonal Bali. Perpaduan ini dapat dilihat dari bentuk atap bagian depan yang meruncing dengan bentuk segitiga, yang merupakan ciri khas atap Gothik. Ciri lainnya adalah atap yang tinggi diluar skala manusia.
Bentuk dasar dari atap Gereja Santo Yoseph terlihat masih menggunakan gaya Gothik, tetapi
Gereja Hati Kudus, Palasari secara detail atap Gereja St
Yoseph memiliki kekhasan sendiri. Ini dapat dilihat dari penggunaan bentuk meru yang bertumpang pada bagian atas atap yang diberi tanda salib. Alang-alang merupakan bahan yang secara khusus dipergunakan pada tiap- tiap atap yang tertinggi dari menara (bentuk meru) yang bertumpang.
Pemakaian ornamen pada gereja ini mempunyai bentuk, penempatan dan makna yang serupa dengan ornamen yang dipakai pada arsitektur Bali. Ornamen – ornamen yang ada pada gereja ini telah mengalami perubahan sesuai dengan fungsinya. Pada gambar terlihat adanya 6 (enam) buah patung malaikat yang menggunakan baju kebaya.
Cross Culture Communication 8
Terdapat juga ornamen – ornamen arsitektur tradisional Bali lainnya seperti ornamen karang gajah, namun hanya berupa kekupakan (konseptual saja). Pada bagian samping atap terdapat ornamen yang memiliki penyelesaian lebih detail (visual). Ornamen ini dibuat sepeti ornamen yang terdapat pada wayang khas tradisional bali.
Arsitektur Tradisional Bali pada Dinding Gereja
Sebagai suatu unsur perencanaan, sebuah dinding luar dapat diartikan sebagai "wajah" sebuah bangunan atau fasade pokok.
Gereja ini memiliki keunikan yang khas dibandingkan dengan beberapa gereja lain yang ada di Bali. Dinding bagian luar dihiasi dengan ornamen – ornamen tradisional bali. Ornamen ini berupa relief – relief yang dapat menceritakan Gereja Tritunggal Mahakudus, Tuka
sebuah kisah. Ini sama dengan ornamen yang umumnya digunakan pada tradisional bali.Bahan yang digunakan merupakan bahan paras warna abu-abu.
Ornamen yang memiliki makna dan bentuk yang berbeda adalah ornamen yang berada di atas pintu masuk menuju ke dalam gereja, dimana pada pintu masuk bangunan arsitektur Bali biasanya terdapat karang boma atau karang sae, dengan makna untuk mengusir segala pengaruh jahat agar tidak masuk ke dalam. Sedangkan pada Gereja Tritunggal Mahakudus Tuka ini, ornamen yang berada di atas pintu masuk merupakan ornamen yang mengisahkan sesuatu. Dalam ornamen Bali,
Cross Culture Communication 9
ornamen ini tidak memiliki makna yang setara dengan ornamen Bali, tetapi pada gereja ini ornamen ini tampil layaknya sebuah ornamen Bali.
Pintu masuk pada gereja ini juga dihiasi dengan ornamen Bali. Dimana pintu ini diberi ukiran yang dapat menceritakan sesuatu. Pintu ini dibingkai dengan ornamen Bali seperti patra samblung yang terbuat dari bahan paras. Dinding bagian dalam menggunakan bahan batu batu yang
kemudian dicat putih. Gereja St Yoseph, Denpasar
Pada ruang altar Gereja Santo Yoseph, menggunakan batu bata ekspose. Pada ruang altar dinding dibuat melengkung. Setiap bagian lengkung diberi bingkai ornamen Bali dari bahan paras warna abu-abu. Ornamen ini berupa patra-patra, dan payung khas Bali. Tidak hanya pada ruang altar saja yang diberi ornamen Bali. Tiang-tiang yang terdapat di dalam bangunan utama pun diberi ornamen Bali.
Sama seperti pada atap, bagian dinding gereja ini merupakan perpaduan Gothik dan Arsitektur Tradisional Bali. Hampir seluruh kaca jendela yang digunakan pada gereja bukan kaca transparan, melainkan kaca yang berwarna-warni.
Arsitektur Tradisional Bali pada Bagian Kaki Gereja
Penerapan arsitektur tradisional bali pada bagian hanya sebatas penggunaan tangga sebelum memasuki gereja. Dimana setiap anak tangga dilapisi keramik yang tahan terhadap cuaca.
Cross Culture Communication 10 Ornamen Tambahan pada Gereja
Selain ornamen Bali yang terdapat pada bangunan gereja, terdapat juga ornamen Bali lainnya yang berfungsi sebagai pendukung tetapi menjadi satu kesatuan dengan bangunan gereja. Diantaranya bale kulkul pada
sebelah Gereja St Theresia, Tangeb utara gereja, candi bentar dan
kori pada bagian depan gereja. Bagian atas dari pada bale kulkul ini menggunakan genteng tanah liat yang sama persis dengan bale kulkul
banjar-banjar di Bali. Untuk bagian bawahnya menggunakan kayu. Pada
bagian bawah dari pada bale ini merupakan suatu ruangan. Ornamen yang ada merupakan ornamen Bali tetapi tidak mendetail hanya berupa kekupakan atau konseptualnya saja.
Untuk candi bentar dan kori juga demikian. Ornamen yang ada baru dalam bentuk globalnya saja. Pada candi bentar ornamen patung (bedogol) diganti dengan patung malaikat yang memberi penghormatan. Patung ini diukir sedemikian sehingga mencerminkan ornamen Bali dari ukiran bentuk pakaian yang digunakan menyerupai pakaian Bali.
Kori pada gereja sedikit berbeda dengan kori yang ada pada umumnya. Kori pada gereja tidak terdapat pintu masuk melainkan patung Yesus. Kesemua ornamen yang digunakan merupakan ornamen Bali yang masih dalam bentuk global. Salah satu hal yang menarik dari kori ini adalah adanya tulisan Bali pada bagian bawah kori.
Cross Culture Communication 11 Gereja St Emma & St Theodore
4. Simpulan
Berdasarkan rumusan masalah, data-data yang telah didapat serta dianalisis, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa akulturasi budaya dari segi pandang arsitektur yang terjadi pada gereja Katolik di Bali bisa kita lihat pada sisi:
Penggunaan konsep tri angga, Konsep ini mengibaratkan sebuah bangunan seperti manusia yang terdiri dari bagian atas (kepala), badan dan bagian kaki. Bentuk keseluruhan dari gereja-gereja Katolik tersebut di atas telah memperlihatkan pembagian konsep tersebut dengan sangat jelas.
Arsitektur tradisional Bali pada atap gereja bagian depan yang meruncing dengan bentuk segitiga yang merupakan ciri khas gothik, berpadu dengan penggunaan bentuk meru yang bertumpang pada bagian atas atap dan diberi tanda salib. Alang-alang merupakan bahan yang secara khusus dipergunakan pada tiap- tiap atap yang tertinggi dari menara (bentuk meru) yang bertumpang.
Arsitektur tradisional Bali pada dinding gereja dapat kita lihat pada dinding bagian luar dihiasi dengan ornamen – ornamen tradisional bali.Bahan yang digunakan merupakan bahan paras warna abu-abu.
Penerapan arsitektur tradisional bali pada bagian kaki gereja hanya sebatas penggunaan tangga sebelum memasuki gereja. Dimana setiap anak tangga dilapisi keramik yang tahan terhadap cuaca.
Cross Culture Communication 12
Ornamen tambahan pada gereja berfungsi sebagai pendukung tetapi menjadi satu kesatuan dengan bangunan gereja. Diantaranya bale kulkul pada sebelah utara gereja, candi bentar dan kori pada bagian depan gereja. Bagian atas dari pada bale kulkul ini menggunakan genteng tanah liat yang sama persis dengan bale kulkul banjar-banjar di Bali.
Sesuai dengan definisinya, akulturasi ini terjadi tanpa menghilangkan kebudayaan asli aripada gereja itu sendiri, yang telah terbentuk dari zaman Romanika. Dengan manis dan serasinya arsitektur gereja-gereja Katolik di Bali berbaur dengan arsitektur tradisional Bali. Hal ini tidak mengurangi makna dan fungsi dari bangunan-bangunan tersebut, melainkan menambah daya tarik dan juga nilai arsitektur mereka. Akulturasi ini tampak memiliki ikatan dengan peribahasa Indonesia ”Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.
DAFTAR PUSTAKA
Gelebet, Ir. I Nyoman. 1981/1982. Arsitektur Tradisional Daerah Bali. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi
dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Kagari, Haryu. 1985. Balinese Traditional Architecture. Inuyama: Little World
Museum of Man
Salain, Putu Rumawan. 1984. Sejarah dan Perkembangan Arsitektur Tradisional Barat. Denpasar: Fakultas Teknik Universitas
Cross Culture Communication 13
Wikipedia. 2007. Ekletisme Available from URL :