SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI
INTERNATIONAL CONFERENCE OF SCIENCE,
TECHNOLOGY AND HUMANITIES
Chair
Ni Nyoman Pujianiki
General Secretary
Agoes Ganesha Rahyuda
Putu Yadnya
TPC Chair
Gusti Ayu Made Suartika
I Nyoman Udayana
Treasury
I Wayan Sariasih
Conference Management System
Nyoman Putra Sastra
Duman Care Khrisne
Program Chair
Ngakan Ketut Acwin Dwijendra
Proceeding
Ni Made Ary Esta Dewi Wirastuti
Komang Oka Saputra
Nyoman Pramaita
Widyadi Setiawan
IGAK Diafari Djuni Hartawan
I Wayan Nico Fajar Gunawan
I Made Budi Arsika
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS UDAYANA
Penerbit
Udayana Press
Universitas Udayana, Jalan PB. Sudirman, Denpasar
ISBN : 978-602-294-385-3Seminar Nasional Sains dan Teknologi (SENASTEK) – The International Conference on Science, Technology and Humanities (ICoSTH)
Bali, Indonesia, 14-15 November 2019
ISBN : 978-602-294-385-3
Strategi Pengawasan Inspektorat dalam meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik di Pemerintah Kabupaten Tabanan
059-1 – 059-4
Ni Putu Anik Prabawati, Ni Wayan Supriliyani
Strategi Puskesmas II Denpasar Barat dalam Persiapan Akreditasi dengan Metode Balanced Scorecard
060-1 – 060-4
Luh Putu Sinthya Ulandari, Ni Made Sri Nopiyani
Studi Etnografi Keluarga Pasien ODGJ: Kelelahan, keputusasaan, dan Strategi Koping dalam Balutan Resiliensi Keluarga Etnis Bali
061-1 – 061-4
Bambang Dharwiyanto Putro, I Nyoman Suarsana
Studi Etnografi Pola Asuh Anak Keluarga Muslim Melayu Dalam Balutan Kearifan Lokal di Kelurahan Loloan Timur Kabupaten Jembrana
062-1 – 062-4
I Ketut Kaler, Bambang Dharwiyanto Putro
Analisis Parameter Indeks Vegetasi Untuk Identifikasi Vegetasi Cengkeh 063-1 – 063-4
I Made Yuliara, Ni Nyoman Ratini
Kajian Limbah Konstruksi Pada Proyek Gedung Menggunakan Metode Pareto
064-1 – 064-4
Ida Ayu Rai Widhiawati, Gede Astawa Diputra, Ida Bagus Rai Adnyana
Studi Sikap Human Resources Department (HRD) Manajer Terhadap Tenaga Kerja Disabilitas Pada Hotel Berbintang Di Kota Denpasar
065-1 – 065-5
I G N Widyatmaja, Ni Ketut Arismayanti
Efek Protektif Ekstrak Kulit Manggis (Garcinia mangostana L.) terhadap Sabut Elastis Kulit: Studi Deskriptif
066-1 – 066-4
I Gusti Ayu Dewi Ratnayanti, Ni Putu Ayu Dewi Wijayanti, Ni Luh Gede Yoni Komalasari
Verifikasi Proteksi Radiasi Sinar-X Pada Unit Radiologi Diagnostik Rs. Kasih Ibu Kedonganan
067-1 – 067-4
I Ketut Putra, IB Made Suryatika, IGA Ayu Ratnawati
Klasterisasi Kabupaten/Kota di Provinsi Bali Berdasarkan Indikator IPM 068-1 – 068-5
I Komang Gde Sukarsa, G K Gandhiadi, Eka N Kencana
Pelatihan Pemanfaatan Limbah Kebun Bunga Di Desa Pengotan Bangli Menjadi Potpourri
069-1 – 069-4
Luh Putu Febryana Larasanty, Ni Luh Putu Vidya Paramita, Ni Made Pitri Susanti, Ni Made Widi Astuti
Perbedaan Efektivitas Pemberian Twelve Balance Exercise Dan Otago Home Exercise Terhadap Peningkatan Keseimbangan Dinamis Pada Lanisa Di Banjar Tainsiat Desa Dangi Puri Denpasar Bali
070-1 – 070-4
Bali, Indonesia, 14-15 November 2019
Seminar Nasional Sains dan Teknologi (SENASTEK) – The International Conference on Science, Technology and Humanities (ICoSTH)
Bali, Indonesia, 14-15 November 2019 Paper No. 060
060-1
Strategi Puskesmas II Denpasar Barat dalam
Persiapan Akreditasi dengan Metode Balanced
Scorecard
1Luh Putu Sinthya Ulandari
Department of Public Health and Preventive Medicine Faculty of Medicine, Udayana University
Denpasar, Indonesia [email protected]
2Ni Made Sri Nopiyani
2Department of Public Health and Preventive Medicine Faculty of Medicine, Udayana University
Denpasar, Indonesia
Abstract—Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan dengan mengutamakan upaya promotif dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat setinggi – tingginya di wilayah kerjanya. Untuk dapat menjalankan tugasnya secara optimal, maka Puskesmas perlu memahami kendali mutu dan kendali biaya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka Kementerian Kesehatan melakukan akreditasi Puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi Puskesmas II Denpasar Barat dalam persiapan akreditasi. Diharapkan hasil akhir dari kajian ini adalah diperolehnya kesimpulan dan rekomendasi yang dapat dijadikan pertimbangan bagi Puskesmas lainnya dalam mempersiapkan diri untuk akreditasi. Penelitian dilakukan pada Mei 2019 dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada 6 informan pihak Puskesmas. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian diperoleh bahwa puskesmas membentuk tiga program kerja dalam tim akreditasi (pokja Upaya Kesehatan Masyakat, kesehatan perorangan dan administrasi manajemen), melakukan dokumen kontrol terhadap dokumen – dokumen penunjang dalam akreditasi, melengkapi sarana dan prasarana dengan menggunakan dana JKN, melakukan study banding ke instansi lain, mengikuti pendampingan dan pelatihan yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Kota Denpasar, melakukan perbaikan mutu layanan (melaksanakan survey IKM, penetapan target dalam program kesehatan masyarakat, serta melakukan kalibrasi pada alat), serta menciptakan inovasi khususnya pada program yang belum mencapai target cakupan. Adapun kendala yang dirasakan saat ini adalah, ketersediaan SDM, waktu dan komunikasi yang belum efektif diantara berbagai pihak yang terlibat dalam poses akrediatasi. Simpulan dari studi ini adalah persiapan akreditasi bukan hanya proses satu hari, namun proses berkelanjutan yang harus dilakukan setiap saat oleh puskesmas agar memperoleh hasil yang maksimal.
Kata Kunci— Balanced scorecard, strategi puskesmas, akreditasi.
I. PENDAHULUAN
Puskesmas sebagai garda terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan, perlu menjamin adanya perbaikan mutu, peningkatan kinerja dan diterapkannya manajemen risiko, sehingga dapat menjalankan tugasanya secara optimal. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan penilaian oleh pihak eksternal melalui mekanisme akreditasi. Puskesmas wajib diakreditasi secara berkala paling sedikit tiga tahun sekali (Kemenkes, 2014). Selain itu, akreditasi juga merupakan salah satu syarat kredensial bagi FKTP yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Menurut laporan Kementerian Kesehatan, per 31 Desember 2017 terdapat 9.825 Puskesmas yang tersebar di seluruh Indonesia dan sebanyak 4223 Puskesmas telah terakreditasi pada Februari 2018 dengan berbagai status akreditasi (Kemenkes, 2018). Pemerintah Kota Denpasar telah melaksanakan akreditasi untuk Puskesmas sejak tahun 2016. Pada tahun 2018, terdapat 1 puskesmas yang menyandang akreditasi paripurna dari 8 puskesmas yang telah terakreditasi. Puskesmas di Denpasar yang lulus dengan tingkat akreditasi Paripurna adalah Puskesmas II Denpasar
060-2
strategi yang diterapkan oleh Puskesmas II Denpasar Barat dalam mempersiapkan akreditasi.
II. METODE
Penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif yang menggambarkan strategi dari Puskesmas II Denpasar Barat dalam mempersiapkan diri untuk akreditasi. Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan mulai dari April – November 2019. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. Teknik penentuan informan pada penelitian ini adalah purposive sampling, dimana penentuan informan dipilih berdasarkan prinsip kesesuaian dan kecukupan. Peneliti memilih 6 responden yang merupakan staff Puskesmas II Denpasar Barat yang terlibat dalam proses persiapan akreditasi. Data kualitatif telah dianalisis dengan menggunakan analisis tematik
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam proses persiapan akreditasi, Puskesmas II Denpasar Barat membentuk 3 kelompok program kerja (pokja), diantaranya: pokja UKM, pokja UKP dan pokja administrasi manajemen. Tahap awal yang dilakukan dalam persiapan akreditasi adalah pihak Puskesmas II Denpasar Barat melakukan studi banding ke salah satu Puskesmas di Surabaya yang telah menyandang status akreditasi paripurna. Proses pembelajaran yang secara langsung, diharapkan dapat memberikan gambaran terkait dengan persyaratan dan penilaian dalam proses akreditasi mengingat Puskesmas II Denpasar Barat belum pernah diakreditasi.
“Sebelumnya itu…. kan kita pertama kali akreditasi dan orang lain belum akreditasi… kita pertama kali.. kita enggak ada yang dicontek, kita kaji banding ke luar kota... ke Surabaya rasanya waktu itu” (IN01)
Salah satu informan menyebutkan bahwa pihak Puskesmas II Denpasar Barat mempersiapkan segala dokumen yang dibutuhkan pada saat 2 bulan sebelum proses akreditasi dimulai. Penambahan sarana dan prasarana pun banyak dilakukan, seperti: pembuatan Gudang B3, Gudang umum, tempat steril dan ruang remaja. Dari sisi peralatan, pihak puskesmas menyatakan masih banyak yang belum sesuai dengan aturan Permenkes, namun ada upaya perbaikan yang terus dilakukan sesuai dengan ketentuan Permenkes. Pihak Puskesmas II Denpasar Barat berusaha memenuhi instruksi yang diberikan pada saat pendampingan yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Senada dengan hasil penelitian Stevani (2019), yang menyatakan bahwa pihak Puskesmas Kertek II juga melakukan upaya pemenuhan alat dan merenovasi bangunan karena fasilitas yang ada baik infrastruktur maupun peralatan yang digunakan menjadi hal yang penting dalam proses persiapan akreditasi. Dari sisi mutu, mengingat kualitas pelayanan meruapakan salah satu unsur yang dinilai, pihak puskesmas senantiasa melakukan perbaikan mutu pelayanan berdasarkan hasil survei indeks kepuasan masyarakat. Target kinerja dan program kesehatan pun telah ditetapkan dan berusaha untuk dicapai dengan mengembangkan beberapa program inovasi lainnya.
Sehubungan dengan dokumen yang dipersyaratkan dalam akreditasi, pihak puskesmas melakukan kontrol dokumen dan kontrol distribusi. Tiap unit pelayanan ditugaskan untuk membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) dari setiap pelayanan yang ada. Staff yang berada pada manajemen dokumen, selalu memastikan bahwa SOP yang dibuat sudah benar dan meruapakan SOP terbaru, jikapun adanya perubahan SOP maka unit yang bersangkutan wajib untuk melaporkannya kepada staff di manajemen dokumen. Standar Operasional Prosedur (SOP) akan dikaji terlebih dahulu oleh tim mutu dan setelah memperoleh persetujuan dari Ketua Manajemen Mutu, maka SOP dilanjutkan untuk memperoleh persetujuan dari Kepala Puskesmas. Selanjutnya, dokumen SOP ini diberikan penomeran sebelum nantinya akan diperbanyak dan didistribusikan ke tiap unit yang membutuhkan dan ke Puskesmas Pembantu (Pustu).
“SOP itu ditinjau dulu oleh tim mutu.. Ketua Manajemen Mutu, kemudian setelah di acc, baru kita ke Kapus.. Kapus sudah acc baru dimasukkan ke saya dan dinomerkan. Setelah penomoran selesai, nah inilah distribusi.. kita distribusi “butuh berapa?”.. kita tanyakan lagi ke unit.. “kemana aja akan didistribusikan SOP ini?”.. ke Pustu kan juga… ke unit – unit lain juga yang terkait” (IN02)
Puskesmas II Denpasar Barat juga menerapkan kontrol distribusi, dimana bagi unit yang telah menerima SOP tersebut wajib untuk tanda tangan sebagai bukti penyerahan SOP ke unit terkait.
060-3
“Kontrol distribusi itu, begitu kita kasih.. dia tanda tangan bahwa mereka sudah menerima SOP yang kita kasih. Itu sebagai tanda kita bahwa kita sudah kasih dia. Nah, itu juga kita simpan didokumen ininya” (IN02)
Sejauh ini kendala yang dirasakan oleh staff manajemen dokumen dalam pengumpulan dokumen yang dipersyaratkan dalam akreditasi adalah waktu, mengingat puskesmas ini memiliki jam pelayanan yang cukup panjang karena terdapat pelayanan rawat inap sedangkan jumlah SDM yang ada sangatlah terbatas dengan tugas tambahan yang begitu banyak. Kondisi ini membuat mereka memiliki dua atau lebih tugas tambahan sehingga menjadi tidak fokus dalam pengerjaan dokumen. Sejauh ini, petugas puskesmas tidak mengalami kendala dalam penyusunan dokumen tersebut, hanya saja keterbatasan waktu pengerjaan. Hal yang senada juga terjadi di Puskesmas Mangkang, dimana terbatasnya jumlah staf yang tersedia, sehingga cara yang dilakukan adalah dengan memaksimalkan SDM yang ada seperti misalnya memberikan tugas tamabahan 2 atau lebih pada tiap staf untuk mempersiapkan akreditasi (Farzana, Suparwati & Arso, 2016). Senada dengan hasil penelitian Susilawati (2017), yang menyatakan bahwa ketersediaan SDM di Puskesmas masih menjadi kendala ditambah lagi beban kerja yang cukup tinggi terutama ketika mereka mempersiapkan segala dokumen untuk akreditasi.
“enggak.. kalau item – itemnya sih nggak sulit, Cuma masalahnya itu aja.. pengaturan waktu saja, karena semua disini kan pemegang program gak Cuma 1, ada yang 2.. ada yang 3.. nah, itu pengaturan waktu disana. Belum lagi dia jam pelayanan, nah.. itu yang membuat agak lama penyusunannya” (IN02)
Komunikasi merupakan hal penting dalam setiap aspek kehidupan, karena tanpa disadari setiap individu akan melakukan komunikasi setiap saat dalam kehidupan sehari – hari untuk menyampaikan sebuah pesan. Sejauh ini, komunikasi internal yang berkaitan dengan pelaksanaan akreditasi yang dilakukan antara staff dengan Kepala Puskesmas II Denpasar Barat berlangsung cukup optimal, sedangkan komunikasi antara Dinas Kesehatan Kota Denpasar dengan Kepala Puskesmas masih dirasa belum optimal dan perlu untuk diperbaiki. Menurut salah satu informan, berdasarkan pengalaman penilaian akreditasi sebelumnya, bahwa cenderung terjadi ketidaksamaan persepsi terkait dengan penyusunan dokumen yang dipersyaratkan antara tim pendamping Dinas Kesehatan dengan tim penilai (surveyor) dan tiap surveyor memiliki sudut pandang yang berbeda, sehingga penilaian sangat bersifat subjektif.
“tiap surveyor punya sudut pandang yang berbeda, anggap di admen, UKM, dan UKP.. dan disini pun berbeda sudut pandangnya” (IN02)
Hal tersebut menunjukkan bahwa masih adanya perbedaan pendapat atau pandangan yang dimiliki oleh surveyor dan tim pendamping, dimana hal ini mungkin disebabkan oleh komunikasi yang belum berlangsung optimal. Komunikasi merupakan hal yang perlu diperbaiki setiap saat, mengingat hal tersebut sangat berpengaruh terhadap informasi dan pemahaman yang akan diterima oleh subjek. Senada dengan hasil penelitian Farzana, Suparwati & Arso (2016) menyatakan bahwa komunikasi di Puskesmas Mangkang terkait dengan akreditasi juga belum berjalan dengan optimal, dimana masih ada informasi yang belum merata, kurangnya pemahaman, dan tidak konsistennya informasi terutama dalam penentuan dan penyusunan dokumen akreditasi.
IV. KESIMPULAN
Secara keseluruhan, pihak Puskesmas II Denpasar Barat telah berupaya sebaik mungkin dalam mempersiapkan diri untuk akreditasi. Namun terdapat beberapa kendala yang mereka hadapi, sepertinya ketersediaan SDM, beban kerja tenaga yang berlebih, terbatasnya waktu yang dimiliki, komunikasi yang belum efektif serta beberapa susunan pembuatan dokumen yang perlu diperbaiki kedepannya, seperti misalnya: pembuatan pedoman tata naskah yang terlebih dahulu disusun sebelum pembuatan SK dilakukan. Puskesmas II Denpasar Barat terus melakukan upaya perbaikan, agar kedepannya lebih siap dalam pelaksanaan re-akreditasi berikutnya.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih yang tulus kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana yang telah mendanai penelitian ini, serta kepada seluruh informan yang terlibat dalam pengumpulan data penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Farzana, N., Suparwati, A., Arso S.P. (2016). Analisis Kesiapan Akreditasi Dasar Puskesmas Mangkang di Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 4 (4): 94 - 103
060-4
[3] Kementerian Kesehatan RI. (2018). Menkes: 50% Puskesmas sudah Terakreditasi. Date: 27 Januari 2019. Retrived from: http://www.depkes.go.id/article/print/18021500002/menkes-hampir-50-puskesmas- sudah-terakreditasi.html
[4] Stevani, Y. (2019). Proses Persiapan Akreditasi Puskesmas Kertek II. Higeia Journal of Public Health Research and Development, 2 (1): 12 - 23
[5] Susilawati. (2017). Gambaran Implementasi Akreditasi Puskesmas di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Utara Tahun 2016. Jurnal Jumantik, 2 (2): 89 – 99