PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL DALAM PEMBELAJARAN TERHADAP PEMAHAMAN PRAKTIK SALAT
SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR NEGERI 3 WELERI KECAMATAN WELERI KABUPATEN KENDAL
TAHUN PELAJARAN 2010/2011
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Fakultas Tarbiyah
Jurusan Pendidikan Agama Islam
Oleh :
SRI KUNAFSIYAH
093111463FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
ii
PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan dibawah ini
Nama : Sri Kunafsiyah
NIM : 093111463
Jurusan/Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian /karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya,
Semarang, 26 Agustus 2011 Yang menyatakan
Sri Kunafsiyah NIM 093111463
iii
iv
NOTA PEMBIMBING Semarang, 12 Agustus 2011
Kepada
Yth.Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo
di Semarang
Assalamu’alaikum wr.wb.
Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan,arahan dan koreksi naskah skripsi dengan :
Judul : Pengaruh Penggunaan Media Audi Visual Dalam
Pembelajaran Terhadap Pemahaman Praktik Salat Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal
Tahun Pelajaran 2010/2011”
Nama : Sri Kunafsiyah
NIP : 093111463
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam sidang munaqosyah. Wassalamu’alaikum wr.wb.
Pembimbing
Drs.H.Soediyono,M.Pd
v
ABSTRAK
Sri Kunafsiyah (093111463) “Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual Dalam Pembelajaran Terhadap Pemahaman Praktik Salat Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2010/2011”, Skripsi, Program S.1 Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang Jurusan Pendidikan Agama Islam Tahun 2011.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual Dalam Pembelajaran Terhadap Pemahaman Praktik Salat Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2010/2011. (2) Penerapan Media Audio Visual Terhadap Pemahaman Praktik Salat Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2010/2011. (3) Peranan Media Audio Visual sebagai upaya meningkatkan Pemahaman Praktik Salat Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2010/2011.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian Eksperimen terhadap siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2010/2011 sebagai objek penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan (1). Kuisioner, untuk memperoleh data keaktifan belajar siswa. (2). Observasi, penulis secara langsung mengamati aktivitas belajar dan keterampilan shalat siswa pada saat pembelajaran dilaksanakan. (3). Interview, untuk mengetahui tanggapan siswa dan kolaborator. (4). Tes, untuk mengetahui peningkatan atau keberhasilan penggunaan media audio visual dalam pembelajaran. (5). Dokumentasi, untuk mengumpulkan data pendukung penelitian bersifat dokumenter.
Pembahasan hasil penelitian menunjukkan Pertama, Media audio visual yang telah digunakan Pembelajaran Terhadap Pemahaman Praktik Salat siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2010/2011 sangat efektif untuk meningkatkan Pemahaman Praktik Salat menyatakan bahwa 76,92% siswa setuju bahwa siswa menjadi bersemangat untuk mempelajari materi praktek salat setelah menggunakan media audio dan visual. Kedua, Media audio visual yang telah digunakan mempunyai peranan untuk meningkatkan pemahaman praktik salat siswa sehingga diikuti dengan peningkatan pengamalan salat siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2010/2011.
vi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
1. Motto
*** Tiada keberhasilan tanpa pengorbanan
Tiada keintektualan tanpa membaca ***
2. Persembahan
Karya ini ku persembahkan kepada:
1. Suami Nurhadi Abdul Hamied tercinta, yang senantiasa memberikan cinta, kasih sayang, do’a restu serta dukungan moral maupun material terhadap keberhasilan studi penulis.
2. Anak-anak dan cucu terkasih Lerry mula Fithrotun Nisa’, Ade Setiawan, Itsna Maulida Noor Zulfa, Nanung Sutan Aribowo, Robi’ Noor Nafis Al Ghommy, Sri Endhes Isthofiyani, Fikri Himma Setiawan dan Manda Asha Setiawan serta Ghaisan Dhihar Al Abqory, yang telah memberi semangat, dukungan dan do’a sehingga terselesaikannya skripsi ini.
3. Kepala SDN 3 Weleri Kecamatan Weleri Bapak Khadlirin,S.Ag yang memberikan peluang penulis untuk maju dalam merunut masa depan.
vii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu,
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Pengaruh penggunaan media audio visual dalam pembelajaran terhadap pemahaman praktik salat siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal tahun pelajaran 2010/2011”.
Salawat serta salam Allah semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. beserta keluarga, para sahabat dan umatnya, Amin.
Dalam penulisan skripsi ini, banyak sekali berbagai cobaan, godaan dan rintangan yang penulis hadapi. Namun berkat dorongan, bimbingan dan bantuan berbagai pihak, sehingga skripsi ini dapat tersusun. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr.Sudjai, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.
2. Drs.H.Soediyono,M.Pd, selaku pembimbing yang telah berkenan memberikan bimbingan dan pengarahan serta telah meluangkan waktu dalam penulisan skripsi ini.
3. Kepala SDN 3 Weleri Kecamatan Weleri Bapak Khadlirin,S.Ag yang yang telah memberikan ijin penelitian dalam rangka penulisan skripsi ini. 4. Seluruh civitas akademika SDN 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten
Kendal, yang telah banyak membantu pelaksanaan penelitian ini.
5. Suami Nurhadi Abdul Hamied tercinta, yang senantiasa memberikan cinta, kasih sayang, do’a restu serta dukungan moral maupun material terhadap keberhasilan studi penulis.
6. Anak-anak dan cucu terkasih Lerry mula Fithrotun Nisa’, Ade Setiawan, Itsna Maulida Noor Zulfa, Nanung Sutan Aribowo, Robi’ Noor Nafis Al Ghommy, Sri Endhes Isthofiyani, Fikri Himma Setiawan dan Manda Asha
viii
Setiawan serta Ghaisan Dhihar Al Abqory, yang telah memberi semangat, dukungan dan do’a sehingga terselesaikannya skripsi ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi bahasa maupun analisanya, sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi sempurnanya skripsi ini.
Akhirnya penulis berharap, semoga skripsi ini bisa memberikan sumbangan pemikiran dalam pendidikan Pendidikan Agama Islam dan memberi kontribusi bagi para pecinta ilmu. Dan juga penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Semarang, 26 Agustus 2011 Penulis
Sri Kunafsiyah NIM 093111463
ix DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ... i PERNYATAAN KEASLIAN……… ii PENGESAHAN... ... iii NOTA PEMBIMBING ... iv ABSTRAK ... v HALAMAN MOTTO ... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... ix
LAMPIRAN ... xvi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan Masalah ... 5
C. Rumusan Masalah ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II MEDIA PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL DAN PEMAHAMAN PRAKTIK SALAT A. Kajian Pustaka ... 8
B. Kerangka Teoritik ... 10
C. Rumusan Hipotesis ... 45
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 46
B. Tempat Dan Waktu Penelitian ... 46
C. Populasi Dan Sampel Penelitian ... 46
D. Variabel dan Indikator Penelitian... 47
E. Pengumpulan Data Penelitian ... 47
F. Analisis Data Penelitian ... 50
BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Data Umum Hasil Penelitian ... 53
x
B. Analisis Data Hasil Penelitian ... 56 C. Keterbatasan Penelitian ... 74 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 75 B. Saran ... 76 C. Kata Penutup ... 77 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN
1
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Salah satu tujuan kemerdekaan Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 ialah mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam upaya mewujudkan tujuan tersebut perlu ditempuh dengan berbagai cara diantaranya dengan melaksanakan pendidikan yang merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia untuk meningkatkan kualitas dalam hidupnya baik secara intelektual maupun secara keterampilan professional.
Selain itu tujuan Pembangunan Nasional dibidang pendidikan ialah sebagai upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasiladan Undang-Undang Dasar 1945 yang memungkinkan warganya mengembangkan diri sebagai manusia Indonesia seutuhnya, sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa :“Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan rohani dan jasmani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta punya rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.”1
Tujuan Pendidikan Nasional sebagaimana tersebut diatas menunjukkan yang utama dan mendasar ialah mencetak manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan. Ini didasarkan karena negara kita menganut ideologi Pancasila sebagai dasar negara, maka konsekuensinya dalam praktik pendidikan harus mengandung aspek-aspek : Pendidikan
1 Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Semarang : Aneka Ilmu, 2003), hlm. 4
2
ketuhanan, intelektual, budi pekerti, kemauan dan keindahan, kebangsan dan sosial.2
Pendidikan Agama Islam merupakan upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bartakwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya Kitab Suci Al-Quran dan Hadits melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman disertai tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan umat beragama.
Tujuan Pendidikan Agama Islam di sekolah ialah untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengalaman serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang yang sempurna.
Berdasarkan kenyataan tersebut, model pembelajaran Pendidikan Agama Islam perlu disempurnakan terutama dengan menggunakan media audio visual. Ini semua untuk meningkatkan mutu pendidikan sehingga diperlukan perubahan pola pikir yang digunakan sebagai landasan pelaksanaan kurikulum dan secara otomatis menuntut guru bukan hanya sekedar sebagai sumber informasi, guru juga harus dapat memberi semangat terhadap siswa agar dalam proses belajar mengajar berjalan dengan baik.
Proses pembelajaran mengalami kejenuhan, dan siswa mengalami bosan, seorang guru harus dapat memberi inovasi metode pembelajaran dan media pembelajaran yang dapat membangkitkan kembali rasa ingin tahu siswa tentang pelajaran yang dipelajarinya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap berbagai kehidupan, oleh karena itu agar pendidikan tidak tertinggal dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka perlu adanya penyesuaian terutama berkaitan dengan faktor
2 H. Abu Ahmadi, Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 1991), hlm. 115
3
pelajaran di sekolah. Salah satu faktor tersebut ialah media pembelajaran yang perlu dipelajari dan dikuasai oleh guru, sehingga mereka dapat menyampaikan materi pelajaran dengan baik. Media memiliki kekuatan positif yang mampu merubah sikap dan tingkah laku siswa kearah perubahan yang kreatif dan dinamis.3
Pada media pembelajaran agama, suri tauladan atau model perbuatan dan tindakan yang baik oleh pendidik akan dapat menumbuh kembangkan sifat dan sikap yang baik pula terhadap anak didik, tetapi bisa pula sebaliknya. Perbandingannya antar guru dan murid ialah ibarat tongkat dan bayangannya. Kapankah bayangan itu akan bisa lurus jika tongkatnya sendiri bengkok ?
Istilah uswatun hasanah dapat diidentifikasikan dengan demontrasi yaitu memberikan contoh dan menunjukkan tentang cara berbuat atau melakukan sesuatu. Media uswatun hasanah ini selalu digunakan oleh nabi dalam mengajarkan agama kepada umatnya, misalnya dalam mempraktekkan salat sebagaimana sabda beliau dari Malik bin Huwairis ra :
َ< َ=>?َ@و ِCْEَ?َF ُHا J>?َ< ِHا ُلْLُ@َر َل NَO
ْLP?
Qّ?َ<ُا QِSْLُTُUْVَأَرNَTَآا
)
ىرNZ[\ا ]اور
(
Rasulullah saw bersabda, “Salatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku melakukan salat”. H.R. Bukhori
Dalam hal ini Rasulullah saw memperlihatkan cara berdiri, rukuk, iktidal, sujud, tahiyat, salam, dan lain-lain. Semua alat yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi tentang pendidikan dan pelajaran agama kepada siswa, antara laian : papan tulis, buku teks, gambar, film, radio, televisi, komputer, karya wisata, dan lain-lain.4
Berdasarkan media tersebut hendaknya dalam pemilihan media pembelajaran praktik salat terutama gerakan dan bacaan salat harus selalu diperhatikan hal-hal yang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah dan
3 M. Basyruddin Usman, Asnawir, Media Pembelajaran, (Jakarta : Ciputat Press, 2002) hlm. 1
4
perbuatan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW,kesiapan siswa dan guru serta ketersediaan dari instansi/sekolah.
Dapat disimpulkan bahwa penggunaan media bukan sekedar upaya untuk membantu guru dalam mengajar, tetapi lebih dari itu sebagai usaha yang ditujukan untuk memudahkan siswa dalam mempelajari praktik salat .
Media berbasis visual ( image atau perumpamaan ) memegang peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran tersebut, karena media audio visual memperlancar pemahaman ( melalui elaborasi stuktur dan organisasi ), memperkuat ingatan, menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata 5.
Penerapan media audio visual pada pembelajaran praktik salat ( gerakan dan bacaan ) siswa Kelas V di SD Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal bertujuan untuk meningkatkan pendidikan dasar , dapat membangkitkan keinginan untuk mempraktikkan salat dengan benar sesuai ajaran nabi Muhammad SAW dan dapat memberikan pengaruh positip terhadap peserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di SD Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal sejak empat tahun terakhir menekankan sistem pembelajaran praktik salat dalam bentuk tayangan dengan mengambil gambar orang sedang melaksanakan salat wajib, sehingga pengadaan dan penggunaan media pembelajaran berupa audio visual amat sangat diperlukan . Berkaitan dengan hal tersebut, SD Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal berbenah diri dengan menyediakan media pembelajaran yang memadai seperti media audio visual. Pengadaan media audio visual tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara efektif oleh guru dan peserta didik sehingga dapat meningkatkan pemahaman pembelajaran praktik salat siswa SD Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal terutama Kelas V, dalam arti peserta didik tidak hanya dituntut untuk menguasai materi, tetapi juga aspek psikomotorik yang
5Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002), hal 91.
5
memerlukan media audio visual sebagai piranti untuk memacu pemahaman pembelajaran praktik salat yakni gerakan dan bacaan salat sehingga siswa mampu mempraktikkan dalam kesehariannya secara maksimal.
Penggunaan pola pembelajaran konvensional di SD Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal, artinya guru masih sering mengandalkan metode ceramah pada setiap proses pembelajaran, jarangnya penggunaan media pembelajaran, dan masih menggunakan pola pembelajaran teacher centered bukan student centered,mengakibatkan hasil belajar yang diperoleh tidak bisa maksimal. Melihat fenomena tersebut perlu adanya strategi baru dalam pembelajaran, dalam hal ini guru sudah mencoba berbagai metode dan alat peraga, namun hasil pembelajaran praktik salat siswa masih kurang maksimal, sehingga perlu menerapkan media audio visual yang mampu mengolah jenis dan variasi pembelajaran sehingga peserta didik termotivasi untuk mempraktikkan dengan benar.
Penggunaan media audio visual merupakan modal dasar untuk meningkatkan pembelajaran praktik salat pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di SD Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2010/2011 yang merupakan salah satu dari 30 Sekolah Dasar di wilayah Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal. Berdasarkan latar belakang masalah di atas peneliti memilih judul “ Pengaruh
penggunaan media audio visual dalam pembelajaran terhadap pemahaman praktik salat siswa Kelas V SD Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2010/2011 “
B. PEMBATASAN MASALAH
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan menghindari kesimpangsiuaran persepsi, maka perlu ada batasan dalam skripsi ini, tentang pemahaman praktik salat pada skripsi penulis batasi pada gerakan dan
6
C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan permasalahan yang menjadi pokok kajian pada penelitian ini :
Apakah penggunaan media audio visual mempunyai pengaruh positip dalam pengertian memberikan hasil yang lebih baik dengan menggunakan sumberdaya yang relatif sama dalam pembelajaran terhadap pemahaman yakni mampu menyebutkan, menjelaskan dan melakukan dan atau menyerasikan antara gerakan dan bacaan salat salat siswa Kelas V SD Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2010/2011 ?
D. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang ingin dicapai pada penelitian kuantitatif korelasional ini sebagai berikut :
1. Secara Teoritis
a. Sebagai bahan masukan bagi pendidik, konselor Islam, keluarga, dan pemerintah untuk dijadikan bahan analisis lebih lanjut dalam rangka memberdayakan peningkatan mutu pembelajaran praktik salat melalui media audio visual.
b.Mampu menambah khasanah keilmuan tentang pembelajaran salat khususnya strategi dan peranan sekolah dalam mengembangkan kualitas pendidikan melalui media belajar audio visual secara optimal.
2. SecaraPraktis
a. Bagi peneliti (guru), untuk mengetahui hambatan-hambatan atau kekurangan-kekurangan pada penerapan media audio visual pada proses pembelajaran praktik salat yang berhubungan dengan siswa, sekolah, orang tua siswa, sehingga dapat ikut berperan dalam usaha meningkatkan ibadah salat peserta didik.
b. Bagi peserta didik, agar menyadari pentingnya penggunaan media audio visual sebagai media yang membantu dalam memahami materi pelajaran serta dapat lebih termotivasi memfokuskan dirinya
7
dalam pembelajaran praktik salat, sehingga ketika mengikuti pembelajaran praktik salat di sekolah berhasil dengan baik.
c. Bagi Kepala Sekolah , merupakan bahan laporan atau sebagai pedoman dalam mengambil kebijakan tentang peningkatan kreativitas belajar peserta melalui penerapan media audio visual di SD Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal.
8
BAB II
MEDIA PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL DAN PEMAHAMAN PRAKTIK SALAT
A. Kajian Pustaka
Peneliti telah berupaya melakukan penelusuran pustaka yang memiliki relevansi dengan pokok permasalahan pada penelitian ini. Hal tersebut dimaksudkan supaya fokus penelitian bukan merupakan pengulangan penelitian-penelitian sebelumnya, melainkan untuk mencari sisi lain yang signifikan untuk diteliti lebih mendalam dan lebih efektif. Selain itu penelusuran pustaka juga bermanfaat untuk membangun kerangka teoritik yang mendasari kerangka pemikiran penelitian skripsi ini. Penelitian yang telah peneliti temukan antara lain :
Skripsi karya Nasirin, NIM : 056010624 (2009) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Kendal yang berjudul Peranan Media Audio Visual Sebagai Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Fiqih Pokok Bahasan Shalat di MI Lebo 02 Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang Tahun Pelajaran 2009/2010. Meneliti peranan media audiovisual sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar fiqih pokok bahasan shalat dengan hasil sebagai berikut:
a. Secara individual mencapai nilai yang ditetapkan dalam KKM minimal 66, dan secara klasikal minimal 75 % dari seluruh peserta didik yang telah mencapai ketuntasan.
b. Prestasi belajar siswa terhadap pembelajaran bidang studi Fikih pokok bahasan shalat secara umum bisa meningkat setelah diterapkannya media pembelajaran audio dan visual di kelas IV MI Lebo 02 Gringsing Batang Tahun Pelajaran 2009/2010.1
1Nasirin, Peranan Media Audiovisual Sebagai Upaya Meningkatkan Pemahaman praktik salat Siswa Dalam Bidang Studi Fikih Pokok Bahasan Salat di Madrasah Ibtidaiyah, (Kendal :
9
Skripsi karya Kumaeroh, NIM : 11407243 (2007) STAIN Purwokerto yang berjudul Peningkatan Hasil Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Melalui Optimalisasi Penerapan Sarana Prasarana Pembelajaran di SMP Negeri Tersono Kabupaten Batang Tahun Pelajaran 2006-2007. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang penekanannya pada implementasi sarana prasarana pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam, di mana aspek-aspek kecakapan hidup dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Penerapan sarana prasarana pembelajaran tersebut juga menggunakan berbagai strategi pembelajaran yang relavan dengan masing-masing pokok bahasan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan penerapan sarana prasarana pembelajaran dapat dilaksanakan sesuai kebijakan sekolah untuk mengoptimalisasi hasil belajar siswa melalui kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kokurikuler.2
Penelitian pertama di atas lebih memfokuskan pada bagaimana optimalisasi peranan media audiovisual sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar fiqih pokok bahasan salat. Adapun pada penelitian kedua, implementasi sarana prasarana pembelajaran pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik kaitannya dengan kecakapan hidup.
Mengacu pada penelitian di atas dibandingkan dengan penelitian yang peneliti lakukan, yang lebih terfokus atau lebih spesifik pada pengaruh penggunaan media audio visual dalam pembelajaran terhadap pemahaman praktik salat siswa Kelas V SD Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2010/2011. Konsep penerapan teknologi pendidikan dalam perspektif Al Quran pada penelitian pertama dan penerapan sarana prasarana pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada penelitian kedua, peneliti jadikan acuan untuk melaksanakan penelitian ini. Sehingga penelitian yang peneliti
2Kumaeroh, Peningkatan Hasil Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Melalui Optimalisasi Penerapan Sarana Prasarana Pembelajaran di SMP Negeri Tersono Batang Tahun Pelajaran 2006/2007 ,( Purwokerto : STAIN, 2007), tidakdipublikasikan.
10
lakukan juga termasuk bagian dari penerapan sarana prasarana pembelajaran dan sesuai dengan konsep tentang penerapan media audio visual dalam pembelajaran terhadap pemahaman praktik salat terutama pada gerakan dan bacaan salat.
B.
Kerangka TeoritikPada pembelajaran salat , tampaknya sedikit sekali guru yang menggunakan media pembelajaran, oleh karena itu sebaiknya guru mempersiapkan berbagai macam media yang digunakan untuk menggairahkan pembelajaran. Peneliti mencoba memberikan alternatif pemecahan masalah tersebut di atas dengan menghadirkan media audio visual berupa VCD player yang menggambarkan tatacara praktik gerakan salat dan bacaan salat secara urut yang pada akhirnya siswa Kelas V SD Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri mampu menyebutkan tatacara salat secara praktik berupa gerakan dan bacaan, menjelaskan dan mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian penulis mengadakan tes hasil pembelajaran sebelum menggunakan media audio visual VCD player kepada seluruh siswa Kelas V SD Negeri 3 Weleri Kecamatan Weleri. Dan juga melaksanakan hal sama setelah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media audio visual VCD player .
Diharapkan dengan media atau model pembelajaran salat yang dihadirkan peneliti, akan menghasilkan pengaruh yang dapat diperhatikan untuk meningkatkan efektifitas sekolah dalam mengadakan kegiatan belajar mengajar.3
1. Media Pembelajaran Audio Visual
1.1. Pengertian Media Pembelajaran Audio Visual
Media merupakan perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Gagne (1970) menyatakan bahwa media ialah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang
11
dapat merangsangnya.4 Sedangkan pembelajaran merupakan proses berlangsungnya belajar mengajar.5
Secara harfiah kata media pembelajaran memiliki arti perantara atau pengantar. Association for Education and Comunication Technology (AECT) menyatakan media pembelajaran yaitu segala bentuk yang dipergunakan pada proses penyaluran informasi. Sedangkan National Education Association (NEA) mendefinisikan sebagai benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar dan dapat mempengaruhi efektifitas program intruksional.6
M. Basyiruddin Usman, dan H. Asnawir dalam bukunya “Media Pembelajaran” mengartikan bahwa media belajar sebagai sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa), sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.7
Briggs (1970) berpendapat bahwa media pembelajaran audio visual ialah segala alat pisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.8
Media pembelajaran atau alat pendidikan menurut Sutari Imam Bernadib, sebagaimana dikutip Jalaluddin dan Usman Said, merupakan suatu tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan di dalam pendidikan.9
4 Rahardjo dan Arief S. Sardiman, dkk, Media Pendidikan, Jakarta : Grafindo, 1993, h. 6. 5 Ibid, h. 7.
6 Arief S. Sardiman dan Rahardjo, Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1993, h. 6.
7 M. Basyirudin Usman dan Asnawir, Media Pembelajaran, Jakarta : Delia Citra Utama, 2002, h. 4.
8 Sardiman S. Arief, dkk, Op Cit, h. 6.
9 Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan Perkembangan Pemikirannya, Jakarta : Raja Grafindo, 1999, h. 57.
12
Sedangkan pengertian media pembelajaran audio visual adalah suatu media yang terdiri dari media visual disinkronkan dengan media audio, yang sangat memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah, antara guru dan anak didik dalam proses belajar mengajar atau dengan perpaduan yang saling mendukung antara gambar dan suara, yang mampu menggugah perasaan dan pemikiran yang menonton”.10
Dari beberapa devinisi media audio visual yang dikemukakan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa media audio visual adalah suatu alat bantu yang digunakan dalam pembelajaran yang dapat dilihat, dapat didengar dan dapat dilihat dan didengar, misalnya papan tulis, buku, penggaris, ruang perpustakaan, laboratorium, ruang UKS, televisi pendidikan, radio, tape recorder, LCD proyektor, VCD player, alat peraga, gambar, kaligrafi, dan sebagainya, sebagai media audio visual atau sarana atau alat penunjang kelancaran mengajar guna mencapai tujuan pendidikan yang telah disusun guru sebelumnya. Sedang maksud dan tujuan penggunaan media audio visual ialah memberikan variasi dan realitas dalam pembelajaran sehingga lebih terwujud dan lebih terarah dalam mencapai tujuan pembelajaran.
1.2. Dasar dan Tujuan Penggunaan Media Audio Visual
a. Dasar Penggunaan Media Audio Visul Dalam Pembelajaran Praktik Salat
Dasar dari penggunaan media audio visual oleh guru dalam pembelajaran khususnya gerakan dan bacaan salat di rumah atau sekolah ialah :
Manusia mempunyai potensi untuk berkembang dengan dimilikinya pendengaran, penglihatan dan hati (pikiran).Sesuatu hal yang kongkrit akan lebih mudah dipelajari dari pada sesuatu
10 Andre Rinanto, Peran Audio Visual dalam Pendidikan, Yogyakarta : Kanisius, 1992, h. 21
13
yang abstrak.Sesuatu yang abstrak perlu dikongkritkan.Untuk itu diperlukan media pembelajaran audio visual dalam pendidikan.11
Firman Allah SWT dalam Al Quran surat An Nahl ayat 78 :
Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (Q.S. An Nahl : 78).12
Berdasarkan konsep Al Quran di atas, manusia ketika dilahirkan tidak mengerti apa-apa (ا
EFG نIJKLM N
) sebagaimana teori tabularasa seperti kertas putih belum ada tulisannya, kemudian akan dibentuk oleh lingkungan yang mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Allah SWT menjadikan telinga (PJQRا
) sehingga manusia dapat mendengarkan berita, pengetahuan, pengertian, meski sifatnya masih abstrak. Allah SWT menjadikan mata untuk melihat (رSTUNا
), dengan melihat terjadi proses di dalam diri anak atau peserta didik yang merupakan realisasi apa yang didengar. Gambaran nyata pengertian pengetahuan timbul dari penglihatan.Optimalisasi indera manusia merupakan akumulasi dari apa yang didengar, diraba, dan dilihat atau hasil kerja hati (
ةYZ[Nا
) yang telah diberikan Allah SWT kepada manusia.
11 Asnawir dan Basyiruddin Usman, Op Cit, h. 13.
14
b. Tujuan Penggunaan Media Audio Visual Dalam Pembelajaran Praktik Salat
Tujuan dipergunakannya media pembelajaran audio visual pada pembelajaran khususnya gerakan dan bacaan salat ialah :
1) Untuk membantu proses pembelajaran.
2) Mempermudah peserta didik dalam menerima materi pelajaran yang diberikan guru
3) Mempercepat penerimaan pesan
4) Memperlama kesan tertanam pada diri siswa (long memory) 5) Mengembangkan perasaan siswa.
1.3. Fungsi Media Audio Visual Pada Pembelajaran Praktik Salat.
Media pembelajaran audio visual berfungsi menunjang pembelajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat menambah hasil belajar yang dicapainya. Peranan media pembelajaran audio visual memang semata-mata untuk membantu guru mata pelajaran tertentu dalam mengajar. Tetapi kemudian, namanya lebih populer sebagai media pengajaran yang berfungsi untuk meningkatkan pengalaman belajar peserta didik ke arah yang lebih kongkrit dan merangsang proses pembelajaran.13
Secara umum media pembelajaran audio visual mempunyai fungsi atau kegunaan sebagai berikut :
a. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka) b. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera
c. Dengan menggunakan media pembelajaran audio visual secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik.
d. Sifat yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan
15
kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap peserta didik maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya harus diatasi sendiri. Apalagi bila latar belakang peserta didik atau siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pembelajaran audio visual.
Nana Sudjana dan Ahmad Rifai, menegaskan bahwa peranan media audio visual pada proses pembelajaran dapat ditempatkan sebagai :
a. Alat untuk memperjelas bahan pengajaran pada saat guru menyampaikan pelajaran. Dalam fenomena ini media pembelajaran audio visual digunakan guru bidang studi Fiqh sebagai variasi penjelasan verbal mengenai bahan pengajaran bidang studi Fiqh.
b. Alat pengangkat/menimbulkan persoalan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan oleh para siswa pada proses belajarnya. Paling tidak guru dapat menempatkan media pembelajaran audio visual sebagai sumber pertanyaan atau stimulasi belajar siswa. c. Sumber belajar siswa artinya media pembelajaran audio visual
berisikan bahan-bahan yang harus dipelajarai para siswa baik individual maupun kolektif, dan akan banyak membantu tugas guru dalam kegiatan mengajarnya.14
Jerome Bruner, dikutip S. Nasution, membagi media pembelajaran audio visual menjadi empat macam fungsi yaitu : a. Alat untuk menyampaikan pengalaman “vicarious”, yaitu
menyajikan bahan-bahan kepada murid yang sedianya tidak dapat diperoleh secara langsung, dalam hal ini media pembelajaran audio visual berarti sebagai subtitusi atau pengganti pengalaman langsung.
14 Nana Sudjana dan Ahmad Rifai, Media Pengajaran, Bandung : Sinar Baru Algesindo, 2002, h. 6-7.
16
b. Alat model yang dapat memberikan pengertian tentang struktur atau prinsip suatu gejala, juga program yang memberikan langkah-langkah untuk memahami suatu prinsip, atau struktur pokok.
c. Alat dramatisasi, yakni yang mendramatisasikan sejarah suatu peristiwa atau tokoh, film tentang alam dan sebagainya untuk memberikan pengertian tentang suatu ide atau gejala.
d. Alat automatisasi seperti ”teaching machine” atau pelajaran berprogram, yang menyajikan suatu masalah dalam urutan yang teratur dan memberi balikan tentang respon murid.15
Kedudukan media pembelajaran audio visual pada pembelajaran praktik salat terutama gerakan dan bacaan salat sebagai salah satu upaya untuk mengoptimalkan proses interaksi guru dan interaksi siswa dengan lingkungan belajarnya.
Berdasarkan konsep di atas fungsi utama dari media pembelajaran audio visual ialah sebagai alat bantu mengajar yang diharapkan dapat memperjelas siswa untuk mempraktikkan salat dalam kesehariaannya sehingga mampu menerapkannya dengan gerakan dan bacaan yang tepat dan benar sesuai yang telah dicontohkan oleh rasulnya. Oleh sebab itu, media pembelajaran audio visual mempunyai makna yang tinggi dalam pembelajaran praktik salat yang diharapkan guru mampu menggunakannya secara maksimal dan optimal .
1.4. Jenis atau Bentuk Media Pembelajaran Audio Visual
Media pembelajaran praktik salat terutama untuk gerakan dan bacaan salat adalah :
a. Media pembelajaran dua dimensi atau media grafis seperti gambar dan foto. Media grafis sering juga disebut media dua
15 S. Nasution, Berbagai Pendekatan pada proses Belajar dan Mengajar, Jakarta : Bumi Aksara, 2003, h. 15.
17
dimensi, yakni media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar.
b. Media pembelajaran tiga dimensi yaitu bentuk model seperti model padat (solid model), model penampang, model susun, model kerja, mock up, diorama, dan lain-lain.
Berikut ini penulis uraikan secara garis besar mengenai jenis dan bentuk media pembelajaran audio visual sebagai berikut :
a. Media Grafis
Webster mendefinisikan graphics sebagai suatu seni atau ilmu menggambar, terutama penggambaran mekanik. Pengertian media graphics atau grapic material mempunyai arti yang lebih luas, bukan hanya sekedar menggambar. Menurut bahasa Yunani, graphikos mengandung pengertian melukiskan atau menggambarkan garis-garis. Sebagai kata sifat graphics diartikan sebagai penjelasan yang hidup, uraian yang kuat atau penyajian yang efektif.16
Media pembelajaran model grafis mempunyai jenis yang bermacam-macam, diantaranya ialah ;
1) Media Bagan (Chart)
Media bagan atau chart ialah suatu media pembelajaran pengajaran yang penyajiannya secara
duagramik dengan menggunakan lambang-lambang visual untuk mendapkan sejumlah informasi yang menunjukkan perkembangan ide, objek, lembaga, orang, keluarga ditinjau dari sudut ruang dan waktu.17
Media Bagan merupakan kombinasi media grafis dan gambar/foto yang dirancang untuk memvisualisasikan secara logis dan teratur mengenai fakta pokok atau gagasan
16 Nana Sudjana dan Ahmad Rifa`i, Op Cit, h. 3
17 Basyiruddin Usman dan Asnawir, Media Pembelajaran, Jakarta : Ciputat Press, 2002), h. 33
18
dari guru yang harus disampaikan kepada siswa agar lebih mudah memahami dan menguasai materi pelajaran.
2) Gambar atau Foto
Foto ialah sarana atau media reproduksi bentuk asli dalam dua dimensi.18 Foto ini merupakan alat atau media visual
yang efektif karena dapat divisualisasikan sesuai yang akan dijelaskan dengan lebih kongkrit dan relistis. Informasi yang disampaikan dapat dimengerti dengan mudah karena hasil yang diperagakan lebih mendekati kenyataan. Foto merupakan salah satu media pembelajaran audio visual yang dapat digunakan untuk membantu proses pembelajaran.
b. Media Pembelajaran Audio Visual
Media audio visual ialah alat-alat yang audible artinya dapat didengar dengan alat-alat yang visible, dalam arti dapat dilihat.19 Media pembelajaran audio visual audio visual pada proses pembelajaran antara lain :
1) Papan Tulis
Papan tulis yaitu alat klasik yang tidak pernah dilupakan orang pada proses belajar mengajar, peranan papan tulis masih tetap digunakan guru, sebab merupakan alat yang praktis dan ekonomis.20 Papan tulis ialah peralatan belajar yang vital dan mutlak diperlukan sekolah seperti halnya meja dan kursi guru. Dengan papan tulis guru dapat menjelaskan dan memperagakan pelajarannya, sehingga mudah dipahami. Hal ini diartikan bahwa papan tulis yang
18 Ibid, h. 49.
19 Amir Hamzah Sulieman, Media Audie, Jakarta : Grasarana Multimedia, 2002, h. 11 20 Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung : Sinar Baru, 1999, h. 102.
19
kosong belum berarti apa-apa/ bukan alat visual, tetapi dengan menggambarkan atau menuliskan sesuatu di dalamnya guru dapat menyampaikan informasi visual kepada siswanya.
2) Laboratorium Bahasa
Laboratorium merupakan media pembelajaran audio visual dalam pengajaran bahasa. Peran laboratorium tidak menggantikan fungsi guru. Oleh karena itu, pengajar tetap dimulai di dalam kelas, kemudian dikembangkan dan dipraktikkan di ruang laboratorim.
Laboratorium bahasa disediakan ruangan tersendiri untuk latihan bahasa. Penggunaan laboratorium atas asumsi kemahiran mendengan dan berbicara dilakukan sebelum memberikan kemahiran membaca dan menulis. Jika dilakukan di dalam kelas, kemahiran membaca dan menulis sangat terbatas latihan-latihannya sehingga untuk itu perlu dilakukan di dalam laboratorium.21
3) Radio
Radio menjadi sarana atau media pembelajaran audio visual bidang studi Fiqh sangat yang berguna bagi semua bentuk pendidikan. Oleh sebab radio pendidikan dapat memperkaya pengalaman pendidikan dan ide-ide kreatif. Demikian berati alat ini memiliki potensi dan kekuatan yang berpengaruh dalam pendidikan.22 Tujuan digunakannya radio sebagai media pembelajaran audio visual ialah agar siswa atau peserta didik mendapat pelajaran tambahan di samping dari guru, yang berhubungan dengan materi pelajaran.
21 Mulyono Sumardi, Pedoman Pengajaran, Jakarta : Depag RI, 1976, h. 190. 22 Oemar Hamalik, Op Cit, h. 125.
20
Radio menjadi media audio visualpendidikan yang berguna bagi semua bentuk pendidikan, oleh sebab memperkaya pengalaman pendidikan dan ide-ide kreatif. Demikian berarti alat ini mempunyai potensi dan kekuatan yang berpengaruh dalam pendidikan.23 Maka tujuan radio ialah agar sisiwa mendapat pelajaran tambahan disamping dari guru, yang berhubungan dengan materi pelajaran.
Prosedur penggunaan radio dalam kelas pada umumnya melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a) Persiapan penerimaan dan kegiatan lanjutan sebagai follow up. Tetapi sebelum kita melakukan khusus dalam langkah persiapan ini, maka ada dua hal yang perlu diperhatikan, yakni: penggunaan waktu pada siaran dan tempat serta kondisi – kondisi penerimaan.24
b) Apabila waktu pembelajaran yang tersedia di sekolah tidak bersesuaian dengan siaran radio, dapat dilakukan dengan mendengarkan radio diluar jam sekolah sesuai dengan petunjuk-petunjuk guru agar siswa dapat mendengarkan pokok–pokok siaran yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah.
4) Tape Recorder
Tape recorder biasanya sangat efektif digunakan dalam pelajaran bahasa atau latihan membaca bacaan arab maupun indonesia. Tape recorder juga cocok digunakan pada pembelajaran Fiqh. Misalnya guru merekam ucapan yang benar kemudian ditirukan siswa untuk dijadikan pedoman bagi siswa yang sedang belajar.
Tape recorder biasanya sangat efektif digunakan dalam pelajaran bahasa atau latihan membaca. Misalnya guru
23 Ibid, Op.Cit., h. 125 24 Ibid., h. 127
21
merekam ucapan yang benar kemudian ditirukan siswa atau untuk dijadikan pedoman bagi siswa yang sedang belajar. Mulyanto Sumardi, telah menguraikan secara gambling tentang penggunaan tape recorder untuk latihan, yaitu: a) Mendengarkan dan mengulang (listen and repeat)
Bahan yang akan direkam selalu diusahakan agar mempunyai kaitan yang erat dengan pelajaran yang diajarkan. Dengan perkataan lain, tape atau rekaman hendaknya dikaitkan dengan teks pelajaran.
b) Latihan-latihan percakapan. c) Latihan menyimak
Pada setiap buku bacaan, biasanya diadakan latihan menyimak dimana guru bidang studi membaca suatu passage (qith’ah) sedang peserta didik bisa menyimak dan mengulang berkali-kali dengan meniru ucapan yang benar.
d) Pemahaman dengan pendengaran (Aural
Comprehension).
Latihan ini sering dipergunakan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman yang dapat ditangkap pelajar. Biasanya pelajaran ini diputar dua kali, lalu diajukan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh pelajar, baik secara tertulis maupun secara lisan.
e) Dikte
Caranya ialah membaca beberapa kali yang dimulai dengan irama membaca yang agak lambat.
f) Karangan lisan (Oral Composition).
Latihan-latihan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan pelajar dalam mengutarakan pikiran dan perasaannya secara lisan. Oleh karena itu latihan-latihan
22
ini mencangkup penguasaan kata-kata dan tata bahasa. Oral Comprehension juga mencakup latihan-latihan: - Tanya jawab (question and answer exercises)
berdasar suatu bahan yang direkam.
- Pengutaraan kembali (reproduction) berdasarkan yang di dengar beberapa kali kemudian pelajar diminta untuk mengutarakan kempali apa yang sudah didengar itu.25
5) Buku Pelajaran atau Perpustakaan
Proses pembelajaran dengan bahan bacaan pada buku pelajaran atau perpustakaan membuat siswa memperoleh pengalaman yakni melalui membaca, belajar melalui simbol-simbol dan pengertian-pengertian dengan menggunakan indera penglihatan.
6) Televisi Pendidikan
Televisi ialah suatu perlengkapan elektonik yang pada dasarnya sama dengan gambar hidup meliputi gambar dan suara.26 Adapun televisi yang dimaksud adalah televisi pendidikan. Langkah menggunakan televisi sebagai media pembelajaran audio visual belajar mengajar di dalam kelas pada dasarnya sama seperti langkah-langkah penggunaan rekaman pada tape recorder yakni persiapan, pelaksanaan, dan kegiatan lanjutan.27
7) Gambar
Melihat gambar lebih cepat mencapai pengertian, karena gambar itu bukan lambing tetapi “tiruan” dari aslinya secara disederhanakan. Bila gambar itu berupa foto, maka peniruannya tidak lagi disederhanakan, namun hampir sempurna walaupun foto merupakan suatu peniruan secara
25 Mulyanto Sumardi, dkk., Op.Cip., h. 201-202. 26 Ibid, h. 134.
23
dua dimensi dari benda sesungguhnya yang mempunyai tiga dimensi. Penggambaran secara dua dimensi sudah cukup memberikan pengenalan (recognition) dari benda yang dimaksud.
Gambar merupakan alat visual yang penting dan mudah didapat. Dengan gambar dapat memberikan penggambaran yang kongkrit dan lebih jelas daripada diungkapkan dengan kata–kata saja. Biasanya lukisan yang dipakai dalam teks book sebagai illustrasi, tidak diperlukan lukisan yang indah, gambar yang indah belum tentu menjamin dapat membantu memahami suatu teks. Itu sebabnya sering dijumpai illustrasi buku–buku pengajaran bahasa berupa gambar– gambar yang terdiri garis–garis belaka. Karena gambar sebagai media audio visualbukanlah hanya untuk hiasan saja melainkan sebagai lalat visual yang sesuai engan materi yang diajarkan. Atau bertujuan agar siswa dapat memahami pelajaran atau suatu teks dengan penggambaran yang kongkrit dan jelas.
S. Nasution, memberikan cara memperhatikan gambar di dalam kelas:
- Usahakan agar setiap anak mendapatkan kesempatan melihat gambar itu dengan cermat.
- Setiap gambar harus mempunyai tujuan tertentu. - Batasi jumlah gambar yang akan diperlihatkan. - Jelaskan maksud setiap gambar.28
8) Flash Cards
Alat ini dapat dibuat dengan karton ukuran 16 x 18 inci. Pada flash cards tersebut terdapat gambar, kata – kata, sebuah ungkapan atau kalimat. Agar supaya murid mudah membaca hendaknya tulisannya cukup besar dan jelas.
24
Untuk dapat di pergunakan secara efektif setiap kalimat harus singkat.
9) Overhead Projector
Overhead projector merupakan alat pengajaran media audio visual dalam proses pendidikan. Overhead Projector ialah merupakan alat visual yang dewasa ini banyak dipergunakan sebagai pengganti papan tulis. Hal ini berkat kemajuan tekhnologi.
Overhead Projector berupa kotak empat persegi dengan terbuat dari kaca diatas kaca itu diletakan selembar plastic yang diberi bingkai dari karton tipis. Namanya lembaran transparan. Besarnya sama dengan ukuran kaca.29 Tujuannya yaitu untuk mengganti fungsi papan tulis dan menyampaikan materi kepada sekelompok besar siswa pada proses pembelajaran.
Seseorang dapat memilih sesuatu apabila ia tahu dipergunakan untuk apa dan mengapa ia memilih sesuatu tersebut. Hal ini dikarenakan agar tidak salah pilih, dapat dipergunakan secara tepat agar apa yang dapat diharapkan dapat terpenuhi.
Begitu juga halnya dengan multimedia, dari beberapa media audio visual yang telah disebut diatas kita tak asal menggunakan melainkan kita harus tahu media audio visual mana yang tepat digunakan dalam kelas. Untuk itu ada beberapa pertimbangan sebelum menggunakan multimedia. Oemar Hamalik mengatakan bahwa dalam menggunakan media audio visual harus sesuai dengan kriteria–kriteria tertentu, yakni:
- Tujuan mengajar - Bahan pelajaran
25
- Metode pengajaran
- Tersedianya alat yang dibutuhkan - Jalan pelajaran
- Penilaian hasil belajar - Pribadi guru
- Minat dan kemampuan siswa
- Situasi pengajaran yang sedang berlangsung.30
Faktor–faktor yang dipakai dalam menentukan alat peraga ialah :
- Berdaya guna (efectiviness) - Kesederhanaan
- Jumlah waktu yang tersedia untuk menyiapkan alat peraga software
- Biaya
- Panjangnya masalah - Sifat masalah
- g) Fasilitas lingkungan atau kelas yang mengharuskan digunakannya alat peraga antara lain ruang, cahaya, dan listrik.
Berdasarkan pertimbangan penggunaan media audio visual di atas diharapkan guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dapat memilih menggunakan media audio visual berupa VCD player dalam pembelajaran gerakan dan bacaan salat yang tayangannya dapat ditangkap dengan indera mata sekaligus indera telinga sehingga jelas dan mudah ditiru oleh siswa.
26
2. Pemahaman Praktik Salat 2.1. Pengertian Praktik Salat
Sebelum membahas pengertian pembelajaran Salat, terlebih dahulu penulis kemukakan pengertian pembelajaran secara umum menurut para ahli.
Pembelajaran menurut Nama Sujana, merupakan perubahan pada diri seseorang, baik perubahan yang ditunjukkan dari pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan-perubahan aspek-aspek lain yang diakibatkan dari belajar seseorang atau individu. 31
Pembelajaran merupakan suatu proses sehingga terjadi tindak belajar pada diri peserta didik istilah lain tema pembelajaran ialah proses belajar yang berarti usaha menjadikan orang lain belajar.32
Pada desain pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis kompetensi, pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Hal ini berarti kegiatan pembelajaran ialah mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mengetahui, memahami, melakukan sesuatu, hidup dalam kebersamaan dan mengaktualisasikan diri.33
Adapun pengertian salat menurut ajaran Islam ialah ibadah, karena masalah ini mencakup segala perbuatan pendekatan seorang hamba dengan Dzat penciptanya. Di samping itu salat mampu membersihkan jiwa hamba dari persoalan keduniaan demi mendorong jiwanya untuk berbuat lebih baik, meningkat kearah kesempurnaan menurut tuntunan ilahi.
31 Nana Sujana, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Bandung: Remaja Rosda Karya, 1996, h. 5
32 Umi Baroroh, Srategi Baru Pembelajaran PAI di SD. (Yogjakarta : Seminar Nasional, 2005), h.2
33 Majid Abdul, Pendidikan Agama Islam Kompetensi : Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006, h. 24
27
Pengertian Salat secara harfiah berarti doa, menurut terminologi syara` Salat merupakan serangkaian ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.34 Pengertian Salat menurut Nasruddin Razak, ialah suatu sistem ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan laku perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, berdasarkan atas syarat-syarat dan rukun-rukun tertentu.35
Pengertian Salat di atas menggambarkan bentuk Salat secara lahir, sedangkan ta`rif atau pengertian Salat yang melukiskan hakikat seperti dijelaskan Hasbi Ash Shidiqie, “Berhadap hati atau jiwa kepada Allah SWT, hadapan yang mendatangkan takut, menimbulkan rasa kebesaran-Nya dengan sepenuh hati, khusyu` dan ihlas di dalam beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai degan takbir dan di akhiri dengan salam”.36
Definisi Salat secara lengkap dikemukakan M. Amin Syukur, Salat ialah ucapan atau perbuatan yang diawali dengan takbirat al-ihram dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat yang telah ditentukan, dan diwajibkan kepada setiap Islam yang mukallaf (baligh dan berakal) serta dalam keadaan suci, sehari semalam lima waktu.37
Pengertian Salat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud ibadah Salat yaitu suatu ibadah yang dilakukan oleh seorang mukallaf, yang terdiri dari beberapa perkataan dan perbuatan, dan diawali dengan bacaan takbir serta diakhiri dengan ucapan salam dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam syariat hukum Islam dan dilakukan dengan penuh harapan mendapat
34 Muhammad Amin Suma, Tafsir Ahkam 1, Jakarta : Logos, 1997, h. 39. 35 Nasruddin Razak, Dinnul Islam, Bandung Al Ma`arif, 1998, h. 178.
36 TengkuMuhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Pedoman Shalat, Jakarta : Bulan Bintang, 1997, h. 64.
37 M. Amin Syukur, Pengantar Studi Islam, Semarang : Lembaga Bimbingan dan Konsultasi Tasawuf (Lembkota), 2006, h. 107.
28
ridha dari Allah SWT, sebagai wujud realisasi penghambaan diri manusia kepadaNya.
Agama Islam menuntut agar pelaksanaan ibadah salat dilaksanakan dengan benar dan khusyu seta berjamaah yng dikandung maksud untuk mempererat tali silaturrahim.
2.2. Dasar dan Tujuan Salat a. Dasar Salat
Salat merupakan ibadah wajib yang paling penting dan paling besar pahalanya dibanding ibadah-ibadah yang lain.38 Ekspresi kebesaran ibadah salat telah banyak diakui dikalangan ulama terdahulu atau ulama-ulama sekarang. Penjelasan pentingnya ibadah salat bagi manusia serta kewajiban menjalankannya, telah disyariatkan agama Islam berdasarkan Firman Allah dalam Al Quran surat Al Isra` ayat 78 :
“Dirikanlah Salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap
malam (dirikan pula Salat shubuh) sesungguhnya Salat shubuh itu disaksikan oleh malaikat”. (Q.S. Al Isra` : 78).39
Kewajiban Salat fardhu lima waktu sehari semalam secara tegas diperintahkan Allah SWT kepada orang mukmin apabila mendengar panggilan Salat (suara adzan). Salah satu ayat Al Quran yang menjadi landasan diwajibkannya menjalankan ibadah Salat terdapat dalam surat An Nisa ayat 103 :
38 Abu A`la Al-Maududi, Dasar-Dasar Islam ,(Bandung : Pustaka, 2001, h. 116. 39 R.H.A. Soenarjo, Op. Cit.,h. 436.
29
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan Salat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah Salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya Salat itu ialah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (Q.S. An Nisa` : 103).40
Berkaitan dengan kewajiban menjalankan Salat fardhu lima waktu sehari semalam bagi setiap orang atau peserta didik yang beragama Islam sebagaimana disebutkan pada ayat di atas, telah bermufakat seluruh ulama Islam, bahwa mendirikan Salat lima waktu di masjid, di musalla, atau di rumah dengan khusyu` merupakan ibadah yang memperoleh pahala besar dan termasuk ibadah paling mulia dalam rangka mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya.41 Konsep tentang keutamaan Salat tersebut ditegaskan Allah SWT dalam Al Quran surat Al Ankabut ayat 45 :
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah Salat. Sesungguhnya Salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (Salat) ialah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al Ankabut : 45)42.
Sedangkan untuk menambah kesempurnaan Salat wajib lima waktu, Rasulullah (Nabi Muhammad saw.) menganjurkan
40 Ibid, h. 138.
41 T.M. Hasbi Asy Shidiqiey, Op. Cit., h. 312. 42 Ibid., h. 625.
30
kepada umat Islam agar mendirikan dan menjalankan Salat sunah rawatib, tahajud, dhuha, hajat, tarawih, witir, gerhana matahari atau gerhana bulan, Salat di Hari Raya Idhul Fitri atau Idhul Adha, dan Salat sunah lainnya. Salat berjamaah menurut ketentuan ajaran agama Islam lebih utama dari pada Salat sendirian. Ketentuan tersebut sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw. Dalam hadits shahih diriwayatkan Abu Harairah r.a. :
لS[ cde fا ghر ةاijiه lUا me
:
fا لInر لS[
oKnو cFKe fا lKq
:
ةrq ms tuvM wLJxRا ةrq
wyرد mjiQeو P{QU |vRا
)
ىرS~{Rا اور
(
٤٣
“Dari Abu Hurairah r.a. berkata : Rasulullah saw. bersabda :
Salat berjamaah itu lebih utama daripada Salat sendirian, perbandingannya ialah dua puluh tujuh derajat“. (H.R. Bukhari). Berdasarkan kandungan ayat di atas Salat yang dilakukan dengan sendirian maupun berjamaah mempunyai dasar hukum dan kedudukan yang tinggi dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya, karena Salat merupakan bentuk manifestasi penghambaan diri terhadap Sang Khalik Allah SWT. Salat yang dikerjakan sesusi dengan tuntunan Islam merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar. Konsep tersebut sesuai dengan tujuan penciptaan manusia di muka bumi yakni untuk beribadah kepada Allah SWT, sehingga dengan landasan tersebut menjadi ketentuan bahwa dasar hukum Salat ialah wajib. Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Thaahaa ayat 14 :
31
“Sesungguhnya Aku ini ialah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah Salat untuk mengingat Aku”. (Q.S. Thaahaa : 14).44
Berdasarkan ayat di atas dapat dimengerti bahwa sesungguhnya Salat merupakan kewajiban bagi orang Islam, akan tetapi perintah tersebut masih bersifat umum belum terperinci.
Adapun cara pelaksanaan Salat secara benar dan terperinci sesuai dengan aslinya harus sesuai dengan pelaksanaan Salat yang telah dikerjakan nabi Muhammad saw. atau sebagaimana dipraktikkan oleh sahabat empat (Khulafaur Rasyidin). Konsep tersebut ditegaskan dalam Hadis nabi yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Malik Ibnu Khuwairits, r.a. :
لS[ cde fا ghر jijI mUا RSs me
:
لInر لS[
lKq ا l IJjار SJآ اIKq oKnو cFKe fا lKq fا
)
ىرS~{Rا اور
(
“Dari Malik Ibnu Khuwairits, r.a. telah berkata : Rasulullah saw. bersabda : Salatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku Salat”. (H.R. Bukhari).45
Implikasi hadits di atas mengandung pengertian bahwa hendaknya Salat dikerjakan sesuai teladan nabi Muhammad saw. Karena nabi Muhammad saw. menekankan pentingnya Salat sebagai kewajiban yang dikerjakan oleh setiap muslim baik laki-laki atau perempuan sesuai dengan syarat dan rukunnya agar dapat diterima dan diridhoi Allah SWT.
Orang Islam yang diwajibkan untuk melakukan Salat baik di masjid, mushala atau di rumah ialah tiap-tiap orang lelaki dan perempuan mukallaf dari suatu penduduk desa atau kota yang masih dapat mendengar suara panggilan adzan ke
44 R.H.A. Soenarjo, dkk, Op. Cit., h. 674.
32
tempatnya, dan orang tersebut tidak sedang berhalangan untuk menghadirinya (Salat di masjid atau di mushala).
Sedangkan orang-orang yang diperbolehkan tidak menghadiri panggilan adzan untuk melaksanakan Salat di masjid atau di mushala ialah :
1) Orang-orang sakit.
2) Orang-orang yang sangat perlu melaksanakan hajatnya (seperti sangat kelaparan yang harus segera makan).
3) Orang-orang yang sangat takut kehilangan hartanya, atau takut terdapat suatu gangguan, atau seseorang yang sangat mengantuk.
4) Orang yang takut terhadap gangguan hujan yang lebat, lumpur, angin keras dan suasana gelap gulita.46
b. Tujuan Salat
Salat yang dikerjakan secara sempurna sesuai dengan syarat, rukun, dan kesunahan dan dilandasi rasa ikhlas dan khusyu` mempunyai tujuan untuk mensucikan jiwa manusia di hadapan Allah SWT, membentuk akhlak mulia bagi umat Islam dalam mencapai kesejahteraan hidup bersama, memperkokoh persatuan dan persaudaraan sesama muslim, dan meningkatkan kedisiplinan dan kebersamaan untuk beribadah kepada Allah SWT dalam keadaan dan situasi apapun. Allah SWT telah berfirman dalam Al Quran surat Thaha ayat 14 :
“Sesungguhnya Aku ini ialah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah Salat untuk mengingat Aku”. (Q.S. Thaha : 14).47
46 Ibid, h. 316.
33
Tujuan Salat sebagai syi`ar Islam dan sebagai ibadah kepada Allah ditegaskan M. Amin Syukur, sebagai berikut : 1) Salat di masjid, di samping menumbuhkan arsitektur masjid
sebagai budaya muslim, umat Islam juga didorong berseni. 2) Salat mendorong umat Islam untuk bermasyarakat, saling
berkomunikasi, persaudaraan, persamaan hak dan kewajiban, ketertiban, kepatuhan kewajiban untuk mengoreksi pemimpin serta kesanggupan mengganti imam yang batal Salatnya.48
Salat pada konteks pendidikan merupakan sarana untuk melatih siswa membiasakan mengamalkan ajaran agamanya. Implikasi pendidikan pada Salat mencakup keimanan, akhlak, dan membentuk kepribadian muslim yang salih jika dilaksanakan sesuai syarat dan rukunnya.. Salat mampu membentuk kepribadaian seseorang berdimensi sosio religiuitas tinggi, mencegah kemungkaran dan menanamkan jiwa kedisiplinan yang positip dalam kehidupan sehari-hari, menanamkan rasa kebebasan, persaudaraan, dan persamaan.49
2.3. Syarat dan Rukun Salat a. Syarat Salat
Secara umum syarat Salat mencakup ketepatan waktu, keaktifan, memenuhi syarat, dan konsentrasi pikiran pada waktu mengerjakan Salat.
1) Ketepatan Waktu Salat
Salat merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang telah ditentukan waktunya. Konsep ini ditegaskan Allah SWT :
48 M. Amin Syukur, Op. Cit., h. 118.
34
”Maka apabila kamu telah menyelesaikan Salat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah Salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya Salat itu ialah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (Q.S. An Nisa` : 103).50
Salat tidak sah apabila didirikan di luar waktunya. Sebagaimana diungkapkan Abu Bakar Al Jazairi :
”Dan ketika Jibril turun memberi tahu tentang waktu-waktu Salat, maka Jibril berkata : Bangun Salatlah Salat dhuhur ketika matahari bergeser, kemudian datanglah ashar, bangun Salatlah, maka Salat ashar ketika keadaan seperti mendung, kemudian datanglah magrib bangun Salatlah, Salat magrib ketika matahari tenggelam, kemudian datanglah isyak bangun Salatlah, Salat isyak ketika hilang awan merah, kemudian datanglah fajar, bangun Salatlah ketika muncul cahaya fajar, kemudian datanglah hari esok waktu dhuhur, bangun Salatlah Salat dhuhur ketika bergeser, kemudian datanglah ashar Salatlah ashar kemudian datanglah waktu magrib, kemudian datang isyak ketika telah pergu pertengahan malam atau sepertiga malam, maka Salatlah isyak kemudian ketika datang awan kekuning-kuningan bangun dan Salatlah fajar”.51
Berdasarkan ketentuan waktu Salat di atas agama Islam menganjurkan umat Islam untuk mengerjakan Salat pada waktunya. Karena mengerjakan Salat pada waktunya sangat
50 R.H.A. Soenarjo, dkk, Op. Cit., h. 103. 51 Abu Bakar Jabir Al Jazairi, Op. Cit., h. 166.
35
baik bagi orang muslim yang memegang teguh perintah Allah SWT.
Adapun ketentuan waktu dan jumlah rakaat Salat fardhu sehari semalam yang diperintahkan untuk dilakukan oleh umat Islam secara sendirian maupun berjamaah baik di masjid atau di rumah menurut Sulaeman Rasyid, dalam bukunya Fiqih Islam sebagai berikut :
a) Salat Dzuhur : Banyaknya empat rakaat, waktunya setelah tergelincir matahari dari pertengahan langit (tegak lurus) sampai apabila bayang-bayang sesuatu telah sama dengan panjangnya, selain dari bayang-bayang ketika matahari menonggak (tepat di atas ubun-ubun).
b) Salat Ashar : Banyaknya empat rakaat, waktunya mulai dari habisnya waktu Salat Dhuhur, bayang-bayang sesuatu lebih dari panjangnya sampai terbenamnya matahari.
c) Salat Maghrib : Banyaknya tiga rakaat, waktunya dari terbenamnya matahari sampai terbenamnya syafaq (teja merah).
d) Salat Isya` : Banyakanya empat rakaat, waktunya mulai dari terbenamnya syafaq sampai terbitnya fajar kedua. e) Salat Subuh : Banyaknya dua rakaat, waktunya mulai
terbitnya fajar kedua sampai terbitnya matahari.52
Sedangkan ketentuan rakaat dan waktu Salat selain Salat fardhu lima waktu (Salat maktubah) yang diperintahkan kepada setiap orang Islam untuk dilaksanakan ialah :
36
a) Salat Jumat : banyaknya dua rakaat, waktunya pada hari Jumat setelah tergelincirnya matahari dari pertengahan langit (sama seperti ketentuan Salat Dhuhur).
b) Salat Idhul Adha : banyaknya dua rakaat, waktunya bertepatan dengan hari raya Idhul Adha setiap tanggal 10 Dzulhijjah.53
c) Salat Idhul Fitri : banyaknya dua rakaat, waktunya bertepatan dengan hari raya Idhul Fitri setiap tanggal 1 Syawal.54
d) Salat Tarawih : banyaknya delapan atau dua puluh rakaat, waktunya setiap malam setelah Salat Isyak bertepatan dengan datangnya bulan suci Ramadhan.55 e) Salat Jenazah : banyaknya satu rakaat dengan empat
takbir, waktunya setiap ada orang muslim yang meninggal dunia dengan ketentuan setelah jenazah tersebut dimandikan dan dikafani.56
f) Salat Witir : banyaknya satu sampai 23 rakaat ganjil, waktunya setelah Salat Isyak sampai waktu subuh. Umumnya Salat witir dikerjakan kaum Muslimin secara pada bulan suci Ramadhan.
g) Salat Tasbih : banyaknya empat rakaat, waktunya tidak ditentukan. Umumnya kaum Muslimin mengerjakan Salat Tasbih secara pada malam pertengahan bulan Rajab.57
53 Ibid, h. 112. 54 Ibid, h. 112.
55 M. Rifa`i, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, Semarang : Toha Putra, 1996, h. 104. 56 Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiediqie, Pedoman Shalat, Semarang : Pustaka Rizki Putra, 1997, h. 460