TANTANGAN HUKUM MENGHADAPI INOVASI TIK

Teks penuh

(1)

TANTANGAN HUKUM MENGHADAPI INOVASI TIK

Bambang Pratama

Subject Content Cordinator ICT Law – Business Law Department BINUS University

Disampaikan pada Stadium General FISIP Universitas Serang Raya (UNSERA) 27 Desember 2017

A. Latar Belakang

Penemuan teknologi telekomunikasi yang paling revolusioner pertama kali adalah temuan telepon oleh Antonio Meucci pada tahun 1871, dengan mendaftarkan paten telepon “talking telegraph”.1 Kemudian temuan teknologi lainnya adalah penemuan Internet pada tahun 1960 di Inggris oleh RAND Corporation dan kemudian pada tahun 1963 oleh ARPA Net di Amerika Serikat. Kedua temuan jaringan komputer merupakan cikal bakal terciptanya jaringan Internet saat ini. Kemudian temuan teknologi yang revolusioner lainnya adalah pada tahun 2008 oleh Satoshi Nakamoto (nama samaran) dengan temuanvBlockchain2 melalui makalah yang berjudul “Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System” di Internet. Blockchain Bitcoin kemudian pada tahun 2009 mulai diunggah dan pada tahun 2010 Bitcoin resmi beroperasi hingga saat ini, hingga saat ini Bitcoin dikenal sebagai mata uang virtual atau cryptocurrency pertama di dunia.

Apabila interval penemuan teknologi diperhatikan secara seksama, ada rentang waktu yang bisa dilihat antara penemuan telepon menuju penemuan Internet, yaitu 89 tahun, dan dari penemuan Internet ke penemuan Blockchain adalah 48 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa kecepatan penemuan teknologi yang bersifat revolusioner bergerak semakin cepat. Meski demikian, perkembangan hukum tidak bergerak cepat seperti kecepatan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga hukum selalu tertinggal mengejar faktanya (het recht hink achter de feiten aan).

Melalui jaringan Internet, seluruh dunia terhubung satu sama lain, seolah-olah sekat teritorial suatu negara menjadi hilang. Dibalik berbagai kelebihan dan sisi positif Internet, ada bahaya laten yang terus mengintai masyarakat dunia melalui infiltrasi budaya dan berbagai masalah sosial lainnya yang berjalan di atas jaringan Internet secara free-flow. Kondisi demikian, mendesak berbagai negara pada level-playing-field yang sama untuk menghadapi permasalahan Internet, seperti masalah data privacy, Internet security dan hacking, malware, pornography dan

child pornography, terorism, hoax, kebebasan berpendapat (freedom of expression), kekayaan intelektual (intellectual property) dan sebagainya. Artinya, isu-isu Internet di atas menuntut

1

The Guardian, Bell did not invent telephone, US rules, https://www.theguardian.com/world/2002/jun/17/humanities.internationaleducationnews, diakses Desember 2017.

2

(2)

perhatian dan menuntut solusi dari berbagai negara tanpa memandang suatu negara itu maju, berkembang atau terbelakang. Oleh sebab itu, selama suatu negara terhubung pada jaringan Internet, maka isu-isu hukum di Internet perlu mendapat perhatian serius.

Ada banyak permasalahan hukum Internet yang telah dipreskripsikan dan dibahas oleh negara-negara maju. Artinya, solusi yang ditawarkan bisa diikuti oleh penstudi hukum dan pengemban hukum di Indonesia dengan melihat kelebihan dan kekurangannya. Di sisi lain, masalah pembaruan hukum di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai hingga saat ini. Konsekwensinya, untuk menjawab isu hukum siber di Indonesia seringkali menggunakan konsep hukum abad ke-18 peninggalan Belanda, sebagaimana tercantum pada

Burgelijke Wetboek (KUHPerdata) dan Wetboek van Straaftrecht (KUHPidana). Dengan keterbatasan instrumen hukum yang tersedia, maka cara berpikir kreatif dalam menerapkan suatu konsep hukum atas isu Internet menjadi tuntutan yang tidak bisa dihindari. Oleh sebab itu, tantangan hukum lainnya adalah berpikir kreatif dalam menyelesaikan berbagai masalah hukum di Internet atau di ruang siber (cyber space).

B. Hukum Siber dan Teknologi Informasi

Secara terminologi perlu sedikit disampaikan bahwa hukum Internet secara umum dikenal dengan sebutan hukum siber (cyber law). Terminologi siber adalah penamaan atas suatu tempat yang terbentuk dari jaringan Internet, sehingga ruang siber (cyber space) mensyaratkan jaringan Internet, dan hukum yang mengatur di ruang siber adalah hukum siber. Penjelasan di atas juga sesuai dengan konsep hukum yang terikat pada ruang dan waktu (ius constitutum), sehingga sebutan umum atas hukum Internet adalah hukum siber, yaitu hukum yang mengatur interaksi manusia atau warganet/pengguna Internet (netizen) dalam berinteraksi di ruang siber.

Secara yuridis, hukum siber Indonesia dikenal dengan sebutan Informasi dan Traksaksi Elektronik, yang mana bidang hukum tersebut dibangun oleh tiga bidang hukum pembentuknya, yaitu hukum telekomunikasi, hukum media dan hukum informatika.3 Hal ini berarti konsekwensi yuridisnya, ada prinsip hukum dari bidang hukum pembentuknya yang harus diwarisi pada hukum siber sebagai bidang hukum derivasinya. Tanpa adanya asas hukum yang diwarisi ke dalam hukum siber dari bidang hukum pembentuknya, maka akan kesulitan dalam membangun hukum siber yang ideal, karena secara konsep seperti menebak-nebak prinsip hukum. Selain itu, prinsip tentang teknologi juga menjadi penting untuk diperhatikan, karena salah satu objek hukum dari hukum siber adalah teknologi.

Sifat dari ruang siber yang menembus batas ruang dan waktu seringkali menyulitkan para pengemban hukum untuk mendudukan suatu perbuatan hukum di ruang siber. Di samping itu, seringkali ditemui penjelasan hukum tentang suatu kejahatan siber (cyber crime) terdistraksi oleh fitur dan dampak dari perbuatan hukum tersebut, sehingga penjelasan tentang suatu konsep hukum dari perbuatan hukumnya menjadi hilang. Sebagai contoh misalnya ketika ada peristiwa hukum tentang perbuatan menerobos sistem elektronik tanpa hak atau meretas (hacking). Pada kasus

hacking, seringkali penjelasannya hanya seputar fitur dari kasusnya, misalnya nilai kerugiannya. Seharusnya penjelasan hukum di dalamnya harus mampu menjelaskan tentang unsur-unsur apa saja yang dilanggar, apa benda atau barang yang diambil, locus, tempus, mens rea, dan actus reus

3

(3)

dari perbuatan dan orang yang melakukannya. Dengan penjelasan yang jelas dan berpijak pada konsep hukum maka preskripsi akan suatu peristiwa hukum terlihat jelas.

a. Inovasi Teknologi Informasi dan Komunikasi

Pada forum Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), Dominique Foray dan Bengt-Ăke Lundvall memperkenalkan konsep knowledge-based Economy

dengan teori triple-helix 4dengan kolaborasi antara akademisi, pebisnis, dan pemerintah. Menurut mereka, ekonomi akan berkembang dengan baik jika memanfaatkan ilmu pengetahuan dengan cara mengembangkan know-what, know-why, know-how, dan know-who.5 Triple Helix adalah sistem inovasi yang digunakan di Eropa, sedangkan di Amerika Serikat dikembang konsep quad-helix, yaitu dengan menambahkan kolaborasi dari unsur masyarakat madani (civil society).6 Dengan menambakan unsur baru pada kolaborasi maka sistem inovasi di Amerika Serikat berjalan dengan sangat cepat.

Konsep sistem inovasi nasional (SIN) atau knowledge-based economy menjadi penting untuk diketahui karena sisi hulu dari perkembangan TIK bisa dilihat secara utuh. Latar belakang inovasi didasarkan pada kreativitas yang ditujukan untuk mengambil ceruk pasar atau mendapat manfaat ekonomi. Hal ini menjadi penting untuk diketahui karena seringkali dilupakan bahwa canggihnya teknologi informasi dan komunikasi Internet adalah sesuatu yang benar-benar gratis dibagikan kepada masyarakat. Padahal dibalik itu ada keuntungan ekonomi yang diambil oleh pelaku usaha dengan menjual data pribadi penggunanya, yang kesemuanya dibungkus dengan membuat ‘new business model.” Oleh sebab itu konsep gratis atau ‘free’ sesungguhnya adalah memberikan secara gratis sebagian dari keseluruhan produk yang di jual.7 Dengan demikian maka kreativitas bisnis model yang dikembangkan oleh para pelaku usaha (entrepreneurs) sebenarnya tidak memberikan layanan seratus persen gratis, tetapi bisnis model kreatif.

b. Beberapa Masalah Hukum Akibat Teknologi Informasi dan Komunikasi

Dalam kaitannya masalah hukum, masalah hukum siber yang seringkali mendapat sorotan adalah masalah hukum pidana dengan varian bentuk kejahatan siber yang banyak. Oleh sebab itu, untuk memudahkan menentukan jenis kejahatan, Australian Cybercrime Online Reporting Network (ACORN) mengelompokkan jenis kejahatan siber menjadi 8 kelompok besar, yaitu: (1) Attacks on computer system, (2) cyber-bullying, (3) prohibited offensive and illegal content, (4) online child sexual abuse material, (5) identity theft, (6) online trading issues, (7) email spam and

4

Triple Helix adalah teori sistem inovasi yang mensyaratkan kolaborasi antara akademisi, pengusaha dan pemerintah. Di Indonesia sistem inovasi nasional (SIN) belum diatur secara jelas, tetapi muncul pada Undang-Undang No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang merumuskan sistem inovasi adalah serangkaian upaya yang dibangun dengan mengembangkan penelitian dan penerapan ilmu pengetahuan secara praktis untuk menghasilkan suatu bentuk atau produk yang bermanfaat secara ekonomi.

Loet Leydesdorff, The Knowledge-Based Economy and The Triple Helix Model, University of Amsterdam, 2009, hlm: 2.

5

OECD, Knowledge-Based Economy, Organization for Economic Co-Operation and Development, General Distribution, Paris, 1996, hlm: 12.

6

Ernest J. Wilson III, How to Make a Region Innovative, to Foster Economic Growth, Innovation Clusters Need to Draw on The Power of an Interrelated “Quad” of Sectors: Public, Private, Civil, and Academic, Issue 66 Spring 2012, Booz & Co. New York, 2012, hlm: 2-3.

7

(4)

phishing, (8) online scams or fraud.8 Dengan mengelompokkan menjadi 8 jenis, maka suatu bentuk kejahatan akan mudah dikolompokkan variannya.

Di samping masalah hukum publik, masalah hukum yang muncul dari fenomena siber juga berdimensi hukum privat. Adapun beberapa masalah hukum privat antara lain: (1) identitas digital dan tanda tangan digital, (2) hak kemilikan virtual (virtual property) dan derivasi benda digital, (3) kontrak elektronik, click-wrap agreement, dan kontrak pintar (smart contract), (4) dokumen elektronik dan informasi elektronik yang otentik. Dalam perspektif hak asasi menusia, beberapa masalah hukum siber yang terjadi antara lain: (1) perlindungan data pribadi, (2) hak anonimitas di Internet, (3) kebebasan menyatakan pendapat (free speech), dan (4) hak untuk dilupakan ( right-to-be-forgotten). Sedangkan Dalam perspektif hukum administrasi negara aspek hukum siber yang tejadi adalah kompleksitas tata kelola Internet (Internet good governance).

Berdasarkan penjelasan di atas, terlihat secara jelas bahwa masalah hukum yang terjadi di ruang siber sama kompleksnya dengan masalah hukum yang terjadi di dunia nyata. Hal ini menjadi beralasan karena konsep ruang siber adalah dunia baru, yaitu dunia siber, yang menjadi dunia baru bagi manusia. Dengan banyaknya manusia yang berinteraksi di ruang siber maka berbanding lurus dengan banyaknya benturan kepentingan dan masalah hukum yang terjadi. Pada kondisi demikian, maka isu hukum muncul di tengah benturan kepentingan yang terjadi pada interaksi manusia dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.

c. Preskripsi ‘Code is Law’ dalam Mengatur TIK

Salah satu pakar hukum siber ternama, Lawrence Lessig berpendapat, ada 4 unsur yang harus diperhatikan dalam mengatur dunia siber, yaitu: norma, hukum, arsitektur, dan market.9 Menurut Lessig, keempat aspek di atas juga mempengaruhi dinamika hukum siber. Dengan demikian, aspek norma, aspek arsitektur, dan aspek market adalah dominan faktor yang mempengaruhi ruang siber. Market mempengaruhi hukum karena sering kali para pelaku usaha membuat suatu model law sendiri untuk mengisi kekosongan hukum. Salah satu contohnya adalah dengan munculnya kontrak elektronik click-wrap agreement, yaitu kontrak elektronik yang biasanya digunakan dalam perjanjian lisensi. Dalam aspek arsitektur, Lessig memberikan contoh kewajiban penggunaan seat belt mobil yang mewajibkan perusahaan mobil untuk membuat suatu sistem agar pengendara mobil tidak bisa mengendarai mobil yang dinaikinya sebelum pengendara itu memakai seat belt. Lessig juga menambahkan bahwa masing-masing aturan hukum yang dibuat perlu dianalisis efisiensinya melalui 4 komponen yang ditawarkannya. Dengan demikian maka efektivitas sebuah aturan dapat dicapai.

Konsep dasar dari ketentuan normatif untuk mengatur aspek teknologi informasi dan komunikasi adalah simplifikasi ketentuan teks hukum yang cenderung panjang. Dengan cepatnya inovasi teknologi dan munculnya berbagai isu hukum yang baru, tantangan akan simplifikasi ketentuan normatif dan cepatnya preskripsi hukum yang ditawarkan menjadi hal yang perlu diperhatikan dan dijawab oleh hukum. Selain itu, neighboring law dari bidang hukum atas fenomena siber juga penting untuk dicermati. Dalam hal ini aspek kunci yang perlu diperhatikan adalah dengan melihat hubungan manusia dengan (alat) teknologi dan hubungan antara manusia dengan manusia melalui (alat) teknologi. Shousana Zuboff berpendapat: ada dua hal penting yang

8

https://www.acorn.gov.au/learn-about-cybercrime, diakses Desember 2017.

9

(5)

perlu diperhatikan, yaitu fungsi: (1) automate, teknologi digunakan untuk mengurangi beban pekerjaan manusia, dan (2) informate, teknologi digunakan untuk membuat informasi.10 Proposisi yang dikemukakan Zuboff bisa dijadikan pijakan untuk melihat fungsi otomatisasi oleh TIK yang tidak hanya memudahkan manusia tetapi bisa saja fungsi otomatisasi ini benar-benar menggantikan manusia. Hal ini bisa dibuktikan dengan munculnya isu hukum baru, yaitu robot sebagai subjek hukum. Negara Arab Saudi, pada bulan Oktober 2017 telah memberikan kewarganegaraan kepada Sophia (robot humanoid).11 Dengan disahkannya robot menjadi warga negara, maka Arab Saudi adalah negara pertama di dunia yang mengakui robot sebagai warga negara.

C. Penutup

Teknologi informasi dan komunikasi telah merubah peradaban manusia dunia tidak hanya dengan otomatisasi dan informasi, tetapi juga membentuk dunia baru, yaitu dunia siber. Akibatnya, bermunculan masalah-masalah hukum baru yang selama ini di luar dugaan dengan kecepatan yang tinggi. Kondisi demikian menuntut pemikiran dan solusi hukum yang cepat, tidak hanya melihat aspek yuridis semata, tetapi juga melihat aspek-aspek lain yang mempengaruhinya (influence factor). Hal ini juga menjadi beralasan karena penggunaan Teknologi informasi dan Komunikasi tidak hanya dijadikan sebagai alat untuk bekerja saja, tetapi diperluas untuk dijadikan sebagai alat politik, alat ekonomi, dan alat perekayasa sosial dan budaya. Dengan demikian maka perspektif yang luas dalam memandang hukum siber menjadi tuntutan yang tidak bisa dihindari. Selain itu, isu tentang TIK juga kerap kali menabrak gap kemajuan suatu negara. Artinya, selama suatu negara menggunakan TIK dan terhubung dengan jaringan Internet, maka isu hukum yang dihadapinya akan sama tanpa melihat kemajuan suatu negara. Kondisi demikian pada akhirnya menuntut jawaban yang lebih luas lagi, yaitu bagaimana membuat suatu aturan hukum yang tidak hanya dapat mengatur dunia siber saja, tetapi aturan hukum yang sinergi dengan negara-negara lain dan aturan hukum yang mampu memberikan kemanfaatan bagi publik.

10

Lihat: Shousana Zuboff, Automate/Informate: The Two Faces of Intelligent Technology, Organizational Dynamics Journal. American Psychology Association, Washington DC. U.S. 1985. hlm: 8.

11

Chris Weller, A Robot that once said it would ‘destroy humans’ just became the first robot citizen,

(6)

BAHAN BACAAN

Anderson, Free: The Future of a Radical Price, Random House Business Books, 2009.

Chris Weller, A Robot that once said it would ‘destroy humans’ just became the first robot citizen, http://www.businessinsider.sg/sophia-robot-citizenship-in-saudi-arabia-the-first-of-its-kind-2017-10/?r=US&IR=T,diakses November 2017.

Ernest J. Wilson III, How to Make a Region Innovative, to Foster Economic Growth, Innovation Clusters Need to Draw on The Power of an Interrelated “Quad” of Sectors: Public, Private, Civil, and Academic, Issue 66 Spring 2012, Booz & Co. New York, 2012.

https://www.acorn.gov.au/learn-about-cybercrime, diakses Desember 2017.

Lawrence Lessig, Code Version 2.0, Perseus Books Group, Basic Books, Cambridge Center, 2006

Loet Leydesdorff, The Knowledge-Based Economy and The Triple Helix Model, University of Amsterdam, 2009.

OECD, Knowledge-Based Economy, Organization for Economic Co-Operation and Development, General Distribution, Paris, 1996.

Shousana Zuboff, Automate/Informate: The Two Faces of Intelligent Technology, Organizational Dynamics Journal. American Psychology Association, Washington DC. U.S. 1985.

The Guardian, Bell did not invent telephone, US rules,

https://www.theguardian.com/world/2002/jun/17/humanities.internationaleducationnews, diakses Desember 2017.

Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Undang-Undang No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Vinay Gupta, A Brief History of Blockchain, Harvard Business Review, 28 February 2017,

https://hbr.org/2017/02/a-brief-history-of-blockchain, diakses Desember 2017.

Dr. Bambang Pratama, S.H., M.H.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...