BOARD GOVERNANCE DAN KINERJA PERUSAHAAN
(STUDI TERHADAP PERBANKAN GO PUBLIC DI BEJ)
LISA PUSPITA
NIKI LUKVIARMAN
Universitas Andalas
Abstract
Corporate Governance mechanism perceived to have strong impact to the firm’s
performance. This research aims to identify the effect of board governance on firm’s
performance. The analysis units are 16 banks registered on the Jakarta Stock
Exchange for the time period 2001-2005. Board governance as dependent variable
and bank’s performance as independent variable. Board governance is proxied by
board size, female representation and concentrated ownership. Bank’s performance
is proxied by ROA and BOPO. The result of this study are : (1) board size is
positively related to the bank’s performance (2) female representation on the
supervisory board is negatively related to the bank’s performance, different with ;
(3) female representation on the management board is positively related to the
bank’s performance, and (4) ownership concentrated is positively related to the
bank’s performance is proxied by ROA, but negatively related to the bank’s
performance is proxied by BOPO.
Keywords : corporate governance in banking sector, board governance, bank’s
performance
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perubahan lingkungan yang sangat cepat dan turbulen terutama dalam lingkungan dunia usaha semakin menuntut pentingnya penerapan good corporate
governance dalam suatu perusahaan. Sejak berlangsungnya krisis ekonomi di
Bank dunia dan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) telah memberikan kontribusi penting dalam pengembangan prinsip-prinsip corporate
governance di berbagai negara termasuk Indonesia (Darmawati, 2006).
Adanya pemisahan antara fungsi kepemilikan (ownership) dan fungsi pengendalian (control) dalam hubungan keagenan sering menimbulkan masalah-masalah keagenan atau agency problem (Darmawati, 2006). Masalah-masalah-masalah keagenan tersebut timbul karena adanya konflik atau perbedaan kepentingan antara
principal (pemilik perusahaan atau pihak yang memberikan mandat) dan agent
(manajer perusahaan atau pihak yang menerima mandat). Konsep corporate
governance timbul karena adanya keterbatasan dari teori keagenan dalam mengatasi
masalah keagenan dan dapat dipandang sebagai kelanjutan dari teori keagenan (Ariyoto, 2000).
Di Indonesia isu corporate governance sangat dominan di industri perbankan (Yuswohady, 2005). Di hampir semua bank, misalnya kini mulai ada Direktur Kepatuhan agar bank tidak kebobolan oleh kasus banking fraud. Good corporate
governance pada industri perbankan menjadi lebih penting untuk saat ini dan
masa-masa yang akan datang, mengingat resiko dan tantangan yang dihadapi oleh industri perbankan semakin meningkat (Penjelasan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum). Dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) semua bank diwajibkan melaksanakan kegiatan usahanya dengan berpedoman pada prinsip-prinsip good corporate
governance dengan tujuan meningkatkan kinerja bank dan melindungi kepentingan
stakeholders. Perusahaan perbankan merupakan highly regulated firms yang dalam menjalankan kegiatan usahanya mengunakan other’s people money, sehingga good
corporate governance di sektor perbankan menjadi lebih penting untuk diterapkan.
Corporate governance merupakan tata kelola perusahaan yang menjelaskan
hubungan antara berbagai partisipan dalam perusahaan yang menentukan arah dan kinerja perusahaan (Monks dan Minow, 2003). Sebagai sebuah sistem, corporate
governance terdiri dari berbagai sub-sistem yang saling terintegrasi dalam upaya
Lukviarman , 2005) faktor eksternal terdiri dari semua pihak yang memiliki kepentingan dengan perusahaan (stakeholders), lingkungan usaha, seta peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di tempat operasional perusahaan, termasuk didalamnya standar-standar akuntansi. Sementara faktor internal terdiri dari struktur
governance yang menggambarkan berbagi elemen di dalam perusahaan
(Lukviarman, 2004). Diantara elemen internal yang memiliki peranan yang sangat penting dalam struktur governance perusahaan adalah dewan perusahaan.
Dalam membangun sebuah model good corporate governance, perusahaan harus memiliki dewan komisaris dan dewan direksi yang kredibel (Syakhroza, 2004). Pertanyaannya adalah bagaimana format board governance yang efektif sesuai dengan kondisi sosial dan budaya yang ada untuk menghasilkan kinerja perusahaan yang baik. Dewan komisaris dan dewan direksi harus memiliki komposisi yang sedemikian rupa, sehingga memungkinkan pengambilan keputusan yang efektif, tepat, dan cepat (KNKG, 2002). Jumlah dewan tidak boleh terlalu sedikit karena akan menganggu kinerja dewan komisaris itu sendiri, tetapi juga tidak boleh terlalu banyak karena akan berdampak pada efisiensi (Syakhroza, 2004). Disamping itu, tata kelola organisasi akan semakin baik jika komposisi board bersifat heterogen sehingga akan saling melengkapi kompetensi dan kredibilitas satu dengan yang lainnya. Selain dipengaruhi oleh board, kinerja perusahaan juga dipengaruhi oleh faktor terkonsentrasi atau tidak terkonsentrasinya kepemilikan saham ( ownership
concentrated). Dengan demikian, board governance merupakan salah satu faktor
input kunci guna menghantarkan optimalisasi pengelolaan sumber daya mencapai tujuan organisasi.
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
Bagaimana pengaruh board governance, yang diukur dari board size, female
TINJAUAN LITERATUR
Corporate governance merupakan seperangkat peraturan yang menetapkan
hubungan antara pemegang saham, pengurus, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya sehubungan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan (OECD, 1999). Sistem perbankan yang baik dalam suatu negara adalah salah satu indikator bahwa negara tersebut telah memiliki atau terbangun manajemen tata kelola pemerintahan yang baik (good government
governance).
Krisis perbankan di Indonesia yang dimulai akhir tahun 1997 bukan semata-mata diakibatkan oleh krisis ekonomi, tetapi juga diakibatkan oleh belum dilaksanakannya good corporate governance dan etika yang melandasinya. Oleh karena itu, usaha mengembalikan kepercayaan kepada dunia perbankan Indonesia melalui restrukturisasi dan rekapitulasi hanya dapat mempunyai dampak jangka panjang dan mendasar apabila disertai tiga tindakan penting lain yaitu : (i) Ketaatan terhadap prinsip kehati-hatian (ii) Pelaksanaan good corporate governance; dan (iii) Pengawasan yang efektif dari Otoritas Pengawas Bank (KNKCG, 2004).
Pelaksanaan good corporate governance (GCG) sangat diperlukan untuk membangun kepercayaan masyarakat dan dunia internasional sebagai syarat mutlak bagi dunia perbankan untuk berkembang dengan baik dan sehat. Good corporate
governance secara definitif merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan
perusahaan yang menciptakan nilai tambah (value added) untuk semua stakeholder (Monks dan Minow, 2003). Good corporate governance mengandung lima prinsip utama yaitu ; transparancy, accountability, resposibility, independency dan fairness. Di Indonesia, sektor perbankan merupakan the most highly regulated firms, sehingga praktik corporate governance pada sektor ini seharusnya berbeda dengan perusahaan pada sektor non finansial (Lukviarman, 2004).
Good corporate governance tidak akan terlaksana dengan baik tanpa adanya
Pengembangan Hipotesis
Pentingnya dewan (baik dewan direksi maupun dewan komisaris) tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan baru, berapa banyak dewan yang dibutuhkan perusahaan? Apakah dengan semakin banyak dewan berarti perusahaan dapat meminimalisasi permasalahan agensi dan meningkatkan kinerja perusahaan? Jumlah dewan yang besar menguntungkan perusahaan dari sudut pandang resource
dependence (Alexander et al,1993; Goodstein et al, 1994; Mintzberg, 1983 dalam
Wardhani, 2006). Maksud dari pandangan resources dependence adalah bahwa perusahaan akan tergantung dengan dewannya untuk dapat mengelola sumber dayanya secara lebih baik. Pfeffer dan Salancik (1978 dalam Wardhani, 2006) juga menjelaskan bahwa semakin besar kebutuhan akan hubungan eksternal yang semakin efektif, maka kebutuhan akan dewan dalam jumlah yang besar akan semakin tinggi. Sedangkan kerugian dari jumlah dewan yang besar berkaitan dengan dua hal, yaitu: meningkatnya permasalahan dalam hal komunikasi dan koordinasi dengan semakin meningkatnya jumlah dewan dan turunnya kemampuan dewan untuk mengendalikan manajemen, sehingga menimbulkan permasalahan agensi yang muncul dari pemisahan antara manajemen dan kontrol (Jensen, 1993).
Perusahaan yang memiliki ukuran dewan yang besar tidak bisa melakukan koordinasi, komunikasi, dan pengambilan keputusan yang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki dewan yang kecil sehingga nilai perusahaan yang memiliki dewan yang banyak lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki direksi lebih sedikit (Jensen, 1993). Dalton et al (dalam Wardhani, 2006) menyatakan adanya hubungan positif antara ukuran dewan dengan kinerja perusahaan. Sedangkan Beiner et al (2003) menemukan bahwa ukuran dewan direksi tidak memiliki hubungan signifikan dengan nilai perusahaan yang diukur dengan Tobins Q. Bukti yang menyatakan efektivitas ukuran dewan masih berbaur. Mengingat fungsi yang berbeda antara dewan direksi dengan dewan komisaris, maka penelitian ini membagi ukuran dewan ini menjadi ukuran dewan direksi (size of the
management board) dan ukuran dewan komisaris (size of the supervisory board).
H1a : Size of the supervisory board berpengaruh positif terhadap kinerja bank yang diukur dengan ROA dan BOPO.
H1b : Size of the management board berpengaruh positif terhadap kinerja bank yang diukur dengan ROA dan BOPO.
Tata kelola organisasi akan semakin baik jika komposisi board bersifat heterogen sehingga akan saling melengkapi kompetensi dan kredibilitas satu dengan yang lainnya (Syakhroza, 2004). Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara gender diversity dan etnik dalam struktur dewan dengan kinerja perusahaan yang diproksikan dengan Tobins Q. Seperti yang dikutip dalam Adams dan Ferreira (2004); meskipun persoalan gender diversity menjadi lebih penting dalam kebijakan perusahaan, namun masih sedikit penelitian yang menghubungkan diversity dengan corporate governance (berdasarkan survey yang dilakukan Fields dan Keys, 2003).
Dari penjelasan di atas maka dibentuklah hipotesis kedua yaitu :
H2a : Female representation on the supervisory board berpengaruh positif terhadap kinerja bank yang diukur dengan ROA dan BOPO.
H2b : Female representation on the management board berpengaruh positif terhadap kinerja bank yang diukur dengan ROA dan BOPO.
Dengan menyarikan dari berbagai literatur, Drobetz (2004) menyatakan bahwa terdapat dua dampak utama dari besarnya saham yang dimiliki oleh pihak tertentu. Pertama, dengan meningkatnya hak atas aliran kas dari pemegang saham terbesar, maka akan menimbulkan dampak positif. Dengan memiliki pemeringkatan
corporate governance yang baik, maka pasar akan mengapresiasi, sehingga nilai
bahwa perusahaan yang terkonsentrasi kepemilikannya memiliki kinerja perusahaan yang lebih rendah dibandingkan perusahaan yang memiliki kepemilikan yang menyebar.
Menurut Xu dan Wang (1999) menemukan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kepemilikan terkonsentrasi dan produktivitas sebagai salah satu proksi dari kinerja perusahaan. Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Demzetz dan Lehn (1985) yang dikutip dalam Hastuti (2005) menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara konsentrasi kepemilikan dengan tingkat laba akuntansi untuk 511 perusahaan terbesar di US. Berdasarkan uraian di atas, peneliti mengembangkan hipotesis ketiga sebagai berikut :
H3 : Besarnya konsentrasi kepemilikan berpengaruh positif terhadap kinerja bank yang diukur dengan ROA dan BOPO.
METODE PENELITIAN
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta pada tahun 2001 sampai dengan 2005. Sampel penelitian diambil atas dasar purposive sampling, dengan kriteria :
1. Perusahaan yang diteliti telah terdaftar di Bursa Efek Jakarta sejak tahun 2001 dan tidak de-listed selama periode 2001 sampai dengan 2005.
2. Menerbitkan dan mempublikasi laporan keuangan untuk tahun-tahun tersebut.
3. Tidak termasuk perusahaan non keuangan
4. Tidak termasuk perusahaan insurance, credit agencies other than banks dan
securities companies.
Data dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data sebagai berikut : (1) Data ROA dari tahun 2001-2005 (2) Data BOPO (Biaya Operasi dibandingkan Pendapatan Operasi) dari tahun 2001-2005 (3) Data nama-nama supervisory board dan management board (4) Data masing-masing persentase kepemilikan saham shareholders. Data-data tersebut dikumpulkan dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) yang diterbitkan oleh Bursa Efek Jakarta (BEJ), dan laporan keuangan dari perusahaan perbankan yang telah go public.
Pengukuran Variabel
Penelitian ini difokuskan pada board size, female representation on the board
dan ownership concentrated. Kerangka penelitian ini dapat digambarkan dalam
model sebagai berikut:
Supervisory Board
Management Board
Concentrated Ownership
Size
Female Representation
Percentage of Ownership Size
Female Representation
Performance
ROA
BOPO
Variabel independen dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Size of the supervisory board (SSUP), menunjukkan jumlah anggota dewan
Komisaris.
2. Size of the management board (SMNG), menunjukkan jumlah anggota dewan
3. Female representation, merupakan persentase jumlah perempuan dalam
keanggotaan dewan perusahaan, baik dewan Komisaris (supervisory board / FSUP) maupun dewan Direksi (management board / FMNG).
4. Ownership concentrated (STOCK) didefinisikan sebagai besarnya
konsentrasi kepemilikan yang diukur dengan persentase kepemilikan terbesar.
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah:
1. Return on Assets (pendekatan profitabilitas), didefenisikan sebagai rasio dari
net income terhadap total assets. ROA merupakan ukuran yang difokuskan
pada kinerja perusahaan secara keseluruhan dan merefleksikan tingkat pengembalian tahunan yang dihasilkan perusahaan dalam historical value-nya (Lukviarman, 2004).
ROA = Net income Total asset
2. BOPO, (pendekatan efisiensi) didefinisikan sebagai rasio biaya operasi yang dikeluarkan terhadap pendapatan operasi yang diterima.
BOPO = Biaya Operasi x 100 %
Pendapatan Operasi
Metode Analisis Data
Untuk menguji hipotesis penelitian digunakan analisis regresi berganda (doubled
regression model. Analisis diawali dengan melakukan pengujian asumsi klasik
terhadap data penelitian, dilanjutkan dengan pengujian hipotesis.
Persamaan yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah sebagai berikut: Y1 = a + b1x1 + b2x2 + b3 x3 + b4x4 + b5x5 + e ………… (a) Y2 = a + b1x1 + b2x2 + b3 x3 + b4x4 + b5x5 + e ………… (b) Keterangan:
Y1 = Return On Asset (ROA)
Y2 = Biaya Operasi Pendapatan Operasi (BOPO)
x1 = Size Of The Supervisory Board
x3 = Female Representation On The Supervisory Board
x4 = Female Representation On The Management Board
x5 = Ownership concentrated
Hasil pengujian atas asumsi normalitas menunjukkan bahwa data ROA dalam penelitian ini terditribusi secara normal (terlihat dalam Gambar 1). Namun tidak demikian dengan data BOPO yang tidak lulus uji normalitas. Oleh karena itu data ditransformasi dalam bentuk logaritma. Gambar 2 menunjukkan hasil uji normalitas model regresi BOPO yang telah ditransformasi. Gambar tersebut menunjukkan bahwa titik-titik menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti garis diagonal.
Gambar 1 Gambar 2
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
1.80 1.85 1.90 1.95 2.00 2.05 2.10
Observed Value
b Uji Autokorelasi
Tabel 1 Durbin-Watson
Dependen variabel ROA BOPO Nilai DW 2.177 1.976
c. Uji Multikolinearitas
Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa penelitian ini bebas dari masalah multikolinearitas.
d. Uji Heteroskedastisitas
Pada Gambar 3 dan Gambar 4 menunjukkan bahwa pada grafik scatterplot terlihat titik-titik yang menyebar secara acak dan data menyebar di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi yang digunakan dalam penelitian ini.
Hasil Pengujian Hipótesis
Hasil analisis regresi atas pengujian hipótesis dapat dilihat pada Tabel 3 (untuk variabel dependen ROA) dan Tabel 4 (untuk variabel dependen BOPO).
Berdasarkan Tabel 4.6 dapat dibentuk persamaan regresi yaitu : Y1 = 0,32 + 0,044x1 + 0,111 x2 - 0,006 x3 + 0,002 x4 + 0,001 x5 + e
Konstanta sebesar 0,32 menyatakan bahwa tanpa pengaruh dari variabel-variabel independen, besarnya ROA adalah 0,32%.
Tabel 3
0.111 0.063 0.283 1.749 0.085 SMNG
FSUP -0.006 0.007 -0.098
-0.849 0.399
FMNG 0.002 0.008 0.031 0.25 0.804
STOCK 0.001 0.006 0.031 0.243 0.808
Dependent Variable: ROA
a) Pengaruh size of supervisory board terhadap ROA
Koefisien b1 sebesar 0,044 menunjukkan bahwa setiap peningkatan size of
the supervisory board sebesar 1 poin, akan meningkatkan persentase ROA sebesar
bahwa size of supervisory board berpengaruh secara tidak signifikan terhadap kinerja bank yang diukur dengan ROA. Hal ini dapat dilihat dari nilai sig 0,466 (diatas 0,05). Penelitian ini menerima hipotesis H1a, karena size of the supervisory board berpengaruh positif terhadap ROA.
b) Pengaruh size of management board terhadap ROA
Koefisien b2 sebesar 0,111 menyatakan bahwa setiap peningkatan size of
management board sebesar 1 poin, akan menyebabkan kenaikan persentase ROA
sebesar 11,1 % dengan asumsi ceteris paribus. Untuk variabel size of management
board memiliki nilai sig 0,085 (besar dari 0,05), ini berarti size of management board
tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Penelitian menerima hipotesis H1b karena
size of management board berpegaruh positif terhadap ROA.
c) Pengaruh female representation on the supervisory board terhadap ROA
Koefisien b3 sebesar -0,006 menyatakan bahwa setiap peningkatan female
representation on the supervisory board sebesar 1%, akan menurunkan ROA
sebesar 0,6 % dengan asumsi faktor lan tetap. Variabel female representation on the
supervisory board memiliki nilai sig 0,399 yang berarti lebih besar daripada alpha
0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa female representation on the supervisory board berpengaruh tidak signifikan terhadap ROA. Dari uji statistik terlihat bahwa female
representation on the supervisory board berpengaruh negatif terhadap kinerja bank
yang diukur dengan ROA (berarti hipotesis H2a ditolak).
d) Pengaruh female representation on the managemet board terhadap ROA
Koefisien b4 sebesar 0,002 menunjukkan bahwa setiap peningkatan female
representation on the managemet board sebesar 1 % maka ROA akan meningkat
sebesar 0,2 % dengan asumsi variabel independen lain tetap. Nilai sig untuk variabel
female representation on the managemet board adalah sebesar 0,804 (besar dari
e) Pengaruh ownership concentrated terhadap ROA
Koefisien b5 sebesar 0,001 menunjukkan bahwa setiap kenaikan ownership
concentrated sebesar 1 % akan mengakibatkan ROA naik sebesar 1 % dengan
asumsi faktor lain dianggap tetap. Dari Tabel 4.6 diketahui nilai sig ownership
concentrated sebesar 0,808 yang lebih besar dari nilai alpha 0,05. Nilai tersebut
mengindikasikan bahwa ownership concentrated memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap ROA. Penelitian ini menerima hipotesis H3 karena ownership
concentrated berpengaruh positif terhadap ROA
Tabel 4
Berdasarkan Tabel 4 dapat dibentuk persamaan regresi yaitu : Y1 = 2,044 – 0,531x1 + 0,713 x2 – 0,18 x3 + 0,21 x4 – 0,164 x5 + e
a) Pengaruh size of supervisory board terhadap BOPO
Koefisien b1 sebesar -0,531 menunjukkan bahwa setiap peningkatan 0,1 log
size of the supervisory board, akan menurunkan log BOPO sebesar 0,531 (atau setiap
peningkatan size of the supervisory board sebesar 1 poin akan menyebabkan BOPO turun sebesar 3,40 %) dengan asumsi faktor lain dianggap tetap. Berdasarkan uji statistik terlihat bahwa size of supervisory board berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja bank yang diukur dengan BOPO. Hal ini dapat dilihat dari nilai sig 0,004 (kecil dari 0,05). Penelitian ini menolak hipotesis H1a, karena size of the
supervisory board berpengaruh negatif terhadap BOPO.
b) Pengaruh size of management board terhadap BOPO
Koefisien b2 sebesar 0,713 menyatakan bahwa setiap peningkatan 0,1 log
size of management board akan menyebabkan kenaikan log BOPO sebesar 0,713
(atau setiap peningkatan size of the management board sebesar 1 poin mengakibatkan BOPO naik sebesar 5,16 %) dengan asumsi ceteris paribus. Untuk variabel size of management board memiliki nilai sig 0,024 (kecil dari 0,05). Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh size of management board signifikan terhadap ROA. Penelitian menerima hipotesis H1b karena size of management board berpegaruh positif terhadap BOPO.
c) Pengaruh female representation on the supervisory board terhadap BOPO
Koefisien b3 sebesar -0,18 menyatakan bahwa setiap peningkatan 0,1 log female representation on the supervisory board akan menurunkan 0,18 log BOPO (atau setiap peningkatan female representation on the supervisory board sebesar 1 % mengakibatkan BOPO naik sebesar 5,16 %) dengan asumsi faktor lan tetap. Variabel female representation on the supervisory board memiliki nilai sig 0,038 yang berarti lebih kecil daripada alpha 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa female
representation on the supervisory board berpengaruh secara signifikan terhadap
BOPO. Dari uji statistik terlihat bahwa female representation on the supervisory
board berpengaruh negatif terhadap kinerja bank yang diukur dengan BOPO (berarti
d) Pengaruh female representation on the managemet board terhadap BOPO
Koefisien b4 sebesar 0,21 menunjukkan bahwa setiap peningkatan 0,1 log
female representation on the managemet board maka log BOPO akan meningkat
sebesar 0,21 (atau setiap peningkatan female representation on the managemet
board sebesar 1 % menyebabkan BOPO naik sebesar 1,62 %) dengan asumsi
variabel independen lain tetap. Nilai sig untuk variabel female representation on the
managemet board adalah sebesar 0,197 (besar dari 0,05). Hal ini menunjukkan
bahwa variabel ini memiliki pengaruh terhadap ROA namun tidak signifikan. Berdasarkan uji statistik, diperoleh hubungan yang positif antara female
representation on the managemet board dengan ROA, yang berarti hipotesis H2b
diterima.
e) Pengaruh ownership concentrated terhadap BOPO
Koefisien b5 sebesar -0,164 menunjukkan bahwa setiap kenaikan 0,1 log
ownership concentrated akan mengakibatkan log BOPO turun sebesar 0,164 (atau
setiap kenaikan ownership concentrated sebesar 1 % mengakibatkan BOPO turun sebesar 1,46 %) dengan asumsi faktor lain dianggap tetap. Dari Tabel 4.9 diketahui nilai sig ownership concentrated sebesar 0,302 yang lebih besar dari nilai alpha 0,05. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa ownership concentrted memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap BOPO. Penelitian ini menolak hipotesis H3 karena
ownership concentrated berpengaruh negatif terhadap BOPO.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara size of management board dengan kinerja perusahaan, baik dengan indikator ROA maupun BOPO. Sementara untuk hiptesis H1a ditemukan hubungan yang berbeda diantara kedua indikator kinerja. Untuk indikator ROA ditemukan hubungan yang positif antara size of the supervisory board dengan kinerja, namun untuk indikator BOPO, hasil empiris menunjukkan hubungan negatif signifikan antara size of the supervisory board dengan kinerja. Secara umum dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara board size dengan kinerja.
positif dengan kinerja perusahaan, serta penelitian Dalton (1999) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara ukuran dewan dengan kinerja perusahaan. Namun, berbeda dengan hasil penelitian Eisenberg (1998) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara ukuran dewan dengan kinerja perusahaan, dan dengan temuan Jensen (1993), bahwa nilai perusahaan yang memiliki dewan yang banyak lebih rendah dibandingkan perusahaan yg memiliki dewan lebih sedikit. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh perbedaan sistem dewan yang digunakan. Tidak ada model corporate governance yang berhasil di suatu negara akan juga berhasil di negara lain (contingency theory). Perbedaan sistem manajemen dan budaya akan sangat menentukan efektivitas model corporate governance.
Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 9/12/DPNP Tanggal 30 Mei 2007 tentang “Kertas Kerja Self Assessment Good Corporate Governance” dinyatakan bahwa jumlah anggota Direksi paling kurang tiga orang serta jumlah anggota Dewan Komisaris sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang dan tidak melampaui jumlah anggota Direksi. Menurut Jensen (1993) efektivitas fungsi dewan akan menurun saat anggota dewan sudah mencapai jumlah tujuh atau delapan orang. Untuk itu, peneliti mengukur jumlah rata-rata anggota dewan dari semua perusahaan yang dijadikan sampel untuk mengukur efektifitas model corporate governance.
Tabel 5
Jumlah Rata-rata Anggota Dewan
Dewan Jumlah rata-rata
Dewan komisaris ( Supervisory board ) 5,25 Dewan direksi ( Management board ) 6,19
Dari tabel 5 dapat dilihat rata-rata ukuran dewan komisaris untuk seluruh perusahaan sampel adalah 5,25. Sedangkan untuk ukuran direksi memiliki nilai rata-rata yang lebih besar yaitu 6,19. Dari nilai angka tersebut, secara rata-rata-rata-rata board size perusahaan perbankan di Indonesia berada di atas 3 (tiga) orang dan kecil 7/8 orang. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi dewan perusahaan perbankan di Indonesia masih dapat berjalan efektif.
Hasil pengujian untuk hipotesis kedua menunjukkan hasil yang berbeda
on the management board. Untuk hipotesis H2a ditemukan female representation on
the supervisory board berhubungan negatif dengan kinerja bank, baik menggunakan
indikator ROA maupun BOPO. Namun untuk hipotesis H2b ditemukan female
representation on the management board berhubungan positif dengan kinerja bank
baik yang diukur dengan ROA maupun BOPO. Hal ini berbeda dengan hasil
penelitian Nanda (2006) yang melaporkan bahwa female representation baik dalam
struktur dewan komisaris maupun dewan direksi memiliki hubungan yang positif
dengan kinerja. Perbedaan ini mungkin disebabkan karena peneliti mengabaikan
kontrol terhadap pengaruh firm size. Dari data semua perusahaan sampel, terlihat
kecenderungan perusahaan untuk memasukkan female representation dalam struktur
dewannya, terutama dalam struktur dewan direksi (management board). Hal ini
sesuai dengan pendapat Adams dan Ferreira (2004) yang mengungkapkan bahwa
female representation dalam dewan dianggap dapat memberikan konstribusi positif
pada board governance perusahaan, dan pada akhirnya dapat mempengaruhi kinerja
perusahaan.
Hasil empiris untuk hipotesis ketiga menunjukkan hasil yang berbeda antara
kedua indikator kinerja ROA dan BOPO. Untuk indikator ROA ditemukan hubungan
yang positif antara ownership concentrated (konsentrasi kepemilikan) dengan
kinerja. Namun untuk indikator kinerja BOPO, justru ditemukan hubungan yang
negatif (hipotesis ditolak). Semakin meningkat ownership concentrated
mengakibatkan ROA naik tetapi BOPO menjadi turun. Hal ini mengindikasikan, jika
perusahaan semakin terkonsentrasi kepemilikannya menyebabkan peningkatan laba,
namun akan berdampak pada efisiensi bank yang tercermin dari nilai BOPO bank
yang tinggi. Hasil pengujian juga menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang
signifikan dari ownership concentrated terhadap kedua indikator kinerja ROA dan
BOPO. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Hastuti (2005) yang menemukan
bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara struktur kepemilikan dengan
Pentingnya penegakkan GCG adalah merupakan cerminan keseriusan board
dalam memberikan komitmen kepada pencapaian tujuan perusahaan yang telah
dtetapkan. Tantangan terkini yang dihadapi yaitu belum dipahaminya secara luas
prinsip-prinsip dan praktek good corporate governance oleh komunitas bisnis dan
publik pada umumnya (Daniri, 2005).
Syakhroza (2004) mengungkapkan bahwa permasalahan mendasar dalam
penegakkan GCG di Indonesia adalah Komisaris sebagai pengawas dan Direksi
sebagai pelaksana kedua-duanya diangkat oleh pemegang saham mayoritas. Sebagai
akibatnya, kekuatan komisaris untuk melaksanakan fugsi pengawasan secara utuh
menjadi sulit untuk direalisasikan. Hal ini dikarenakan bahwa pada kenyataannya
suatu hal yang sangat luar biasa jika ada seorang anggota komisaris ataupun dewan
komisaris dapat memberhentikan anggota direksi meskipun kesalahan anggota
direksi dalam mengelola sumber daya perusahaan ataupun mencapai tujuan
perusahaan terlihat secara kasat mata. Bahkan yang terjadi adalah anggota komisaris
yang diusulkan untuk diberhentikan oleh anggota atau dewan direksi dengan alasan
bahwa anggota komisaris yang diusulkan telah menganggu harmonisasi pencapaian
tujuan perusahaan.
Secara umum, dapat ditarik kesimpulan bahwa masih dibutuhkan suatu
struktur dewan yang optimal yang memungkinkan perusahaan memiliki board
governance yang efektif untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Hal ini sangat
penting karena dewan perusahaan merupakan salah satu komponen utama dalam
KESIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh board governance terhadap kinerja bank yang diukur dengan ROA (return on asset) dan BOPO (biaya operasi pendapatan operasi). Ukuran yang digunakan untuk menilai board
governance dalam penelitian ini adalah board size, female representation on the
board, dan ownership concentrated. Penelitian ini membagi board size dan female
representation on the board atas dua, yaitu untuk dewan Komisaris (supervisory
board) dan dewan Direksi (management board).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja bank yang diukur dengan ROA berhubungan positif dengan size of the supervisory board, namun berhubungan negatif dengan BOPO. Untuk variabel size of the management board, diperoleh hasil bahwa kinerja bank berhubungan positif dengan size of the management board dengan kedua indikator kinerja bank, yaitu ROA dan BOPO. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa female representation on the supervisory board berhubungan negatif dengan kinerja bank. Sedangkan untuk female representation on the
management board hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel ini berhubungan
positif dengan kinerja bank, baik yang diukur dengan ROA maupun BOPO. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ownership concentrated berhubungan positif dengan ROA, namun berhubungan negatif dengan BOPO.
Penelitian selanjutnya dapat mencoba mengidentifikasi proxy lain sebagai ukuran dari board governance, seperti dengan mengukur pelaksanaan board task, dan efektifitas board practice. Selain itu penelitian yang akan datang perlu menggunakan indikator kinerja bank yang lebih kompleks untuk melihat konsistensi penelitian. Penelitian lebih lanjut juga dapat dilakukan dengan memperluas sampel, yaitu semua perusahaan keuangan (financial companies) yang ada di listing di BEJ. Dalam hal ini, penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mendukung hasil penelitian yang telah dilakukan, sekaligus dapat menambah pemahaman tentang praktek
corporate governance di Indonesia.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, ukuran dari board
governance hanya menggunakan board size, female representation on the board dan
ownership concentrated. Kedua, untuk mengukur kinerja bank, penelitian ini hanya
DAFTAR REFERENSI
Adams, B. Renee, dan Ferreira, Daniel, 2004, Gender Diversity in The Board Room, www.ssrn.com
Anderson, C., Ronald, Mansi, A., Sattar, dan Reeb, M., David, 2004, Board Characteristics, Accounting Report Integrity, and The Cost of Debt, www.sciencedirect.com
Ariyoto, K, 2000, Good Corporate Governance dan Konsep Penegakannya di BUMN dan Lingkungan Usahanya. Majalah Usahawan No.10 tahun XXIX Oktober
Beiner, S., Drobetz, W., et al, 2003, Is Board size an Independent Corporate Governance Mechanism? , www.ssrn.com
Brennan, Niamh, dan McDermott, Michael, 2004, Alternative Perspective on Independence of Directors, www.ssrn.com
Daniri, Mas Ahmad, 2005, Good Corporate Governance : Konsep dan Penerapannya di Indonesia, Ray Indonesia, Jakarta
Darmawati , Deni, 2006, Pengaruh Karakteristik Perusahaan dan Faktor Regulasi terhadap Implementasi Corporate Governance, Simposium Nasional Akuntansi IX.
Drobetz, W., et al, 2004, The Determinants of the German Corporate Governancing, Working Paper
Dulewicz, Victor, dan Herbert, Peter, 2004, Does The Composition And Practice Of Boards Of Directors Bear Any Relationship To The Performance Of Their Companies?, www.ssrn.com
Jensen, Michael C., dan William H Meckling., 1976, Theory of The Firm: Managerial Behavior, Agency Cost and Ownership Structure, www.ssrn.com
, M., 1993, The Modern Industrial Revolution, Exit, and The Failure of Internal Control System, www.ssrn.com
Hastuti, Theresia dan Unika, Soegijapranata, 2005, Hubungan Antara Good Corporate Governance dan Struktur Kepemilikan dengan Kinerja Keuangan, Simposium Nasioanal Akuntansi VIII.
Lukviarman, Niki, 2004, Ownership Structure and Firm Performance: the case of Indonesia, DBA Thesis, Curtin University of Technology
, Niki, 2005, “Perangkap Ketaatan”, Profesi Akuntan. Dan Fenomena Corporate Governance: Suatu Tinjauan Kritis. Jakarta
Monks, Robert A.G, dan Minow, N, Corporate Governance 3rd edition, 2003 Blackwell Publishing
Nanda, Intan N.F., 2006, Board Governance dan Kinerja Perusahaan, Skripsi Strata I Universitas Andalas
Kaihatu, Thomas. S, 2006, Good Corporate Governance dan Penerapannya di Indonesia, Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan Vol 8 No 1 Maret 2006
Kakabadse, Nada Korac dan Andrew K Kakabadse dan Alexander Kouzmin, 2001, Board Governance and Company Performance : Any Correlatio?. MCB University Press
KNKG, 2002, Pedoman Good Corporate Governance Perbankan Indonesia, Jakarta
Kusumawati, Dwi N., dan Bambang Riyanto L.S., 2005, Corporate Governance dan Kinerja: Analisis Pengaruh Compliance Reporting dan Struktur Dewan Terhadap Kinerja, Simposium Nasional Akuntansi VIII.
OECD, 1999, OECD Principles of Corporate Governance, OECD, Paris
, 2004, OECD Principles of Corporate Governance, OECD, Paris
Syakhroza, Akhmad, 2003, Best Practices Corporate Governance dalam Konteks Kondisi Lokal Perbankan Indonesia, Majalah Usahawan No.06 Th XXXII Juni
, Akhmad, 2004, Model Komisaris untuk Efektivitas GCG di Indonesia, Majalah Usahawan No.05 Th XXXIII Mei
Turnbull Shann, 1997, Corporate Governance: Its Scope Concern and Theories, www.ssrn.com
Wardhani, Ratna, 2006, Mekanisme Corporate Governance dalam Perusahaan yang Mengalami Permasalahan Keuangan (Financially Distressed Firms), Simposium Nasional Akuntansi IX.
Xiaonian, Xu dan Yang Wang, 1999, Ownership Structure, Corporate Governance: The Cases of Chinese Stock Company, www.ssrn.com
Yuswohady, 2005, Good Enterprise Governance, Majalah Warta Ekonomi No.08 Tahun XVII April
Young, Steven, 2000, The Increasing Use of Non Executive Directors: Its Impact on UK Board Structure and Governance Arrangements, Journal of Business and Finance, Nov./Dec. 2000, 1311-1348.