• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proposal Teknis dan Tanggapan terhadap T

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Proposal Teknis dan Tanggapan terhadap T"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkah, rahmat, dan nikmat sehat walaafiat-Nya, kami dapat menyelesaikan laporan pertama untuk mata kuliah Skripsi Proyek, yaitu Proposal Teknis dan Tanggapan Terhadap TOR dari Proyek Pembangunan Jembatan Jalan Kereta Api Pertamina Buatan Pekanbaru Riau. Proposal ini merupakan tanggapan dari konsultan terhadap Kerangka Acuan Kerja atau TOR yang diberikan oleh Pemberi Tugas atau owner. Kami juga berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu Kami dalam proses penyusunan Proposal Teknis dan Tanggapan Terhadap TOR. Kami sadar kami memiliki keterbatasan dalam pemahaman mengenai penyusunan Proposal Teknis dan Tanggapan Terhadap TOR. Oleh karena itu masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan dari laporan ini. Kami mengharapkan tanggapan dan koreksi untuk proses perbaikan agar kami dapat menyusun Proposal Teknis dan Tanggapan Terhadap TOR lebih baik lagi dalam waktu yang akan datang.

Depok, 1 Maret 2013

(2)

DAFTAR ISI

1.3 LINGKUP PEKERJAANDAN PERENCANAAN...2

1.3.1 Pekerjaan Persiapan...2

BAB 2 TANGGAPAN DAN SARAN TERHADAP TOR...6

2.1 TANGGAPANTERHADAP KAK...6

2.1.1 Latar Belakang...6

2.1.2 Tujuan dan Sasaran...6

2.1.3 Keluaran, Hasil, dan Sistem Pelaporan...6

2.1.4 Lingkup Pekerjaan dan Perencanaan...7

2.2 SARANTERHADAP KAK...7

(3)

3.7 PROSES PERENCANAANDAN PERANCANGAN...15

3.8 METODE KONSTRUKSI...16

3.8.1 Metode Konstruksi Pemancangan Tiang Pancang...16

3.8.2 Metode Konstruksi Jembatan...17

3.9 SISTEM STRUKTUR...21

3.9.1 Pemilihan Jenis Pondasi...21

3.9.2 Pemilihan Jenis Jembatan...24

BAB 4 PROGRAM KERJA...25

4.1 TAHAP PENDAHULUAN...25

4.2 TAHAP PENGUMPULAN DATA...25

4.3 TAHAP PRA-RANCANGAN...26

4.4 TAHAP RENCANA DETAIL (DED)...26

4.5 TAHAP AKHIR...27

BAB 5 JADWAL PELAKSANAAN DAN PERENCANAAN...28

BAB 6 KOMPOSISI TIM DAN PENUGASAN PERSONIL...29

6.1 STRUKTUR ORGANISASI...29

6.2 KUALIFIKASI TENAGA AHLIDAN PENDUKUNG...29

6.2.1 Kualifkasi Tenaga Ahli...29

6.2.2 Kualifkasi Tenaga Pendukung...30

6.3 URAIAN PEKERJAAN...31

6.3.1 Uraian Pekerjaan Tenaga Ahli...31

6.3.2 Uraian Pekerjaan Tenaga Pendukung...33

BAB 7 JADWAL PENUGASAN PERSONIL...35

7.1 JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI...35

7.2 JADWAL PENUGASAN TENAGA PENDUKUNG...35

BAB 8 RANCANGAN ANGGARAN BIAYA...37

8.1 BIAYA LANGSUNG PERSONIL...37

8.2 BIAYA LANGSUNG NON PERSONIL...38

(4)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Alur Pengerjaan Proses Perencanaan dan Perancangan...16

Gambar 3.2 Ilustrasi Metode Full Temporary Support...18

Gambar 3.3 Ilustrasi Metode Semi Temporary Support...19

Gambar 3.4 Ilustrasi Metode Full Cantilever...20

Gambar 3.5 Ilustrasi Metode Semi Cantilever...20

Gambar 4.1 Klasifikasi jenis pondasi...21

(5)

DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 Bar Chart Jadwal Perencanaan Proyek...28

Tabel 7.1 Jumlah Klasifikasi Tenaga Ahli...35

Tabel 7.2 Jadwal Penugasan Tenaga Ahli...35

Tabel 7.3 Jumlah Klasifikasi Tenaga Pendukung...35

Tabel 7.4 Jadwal Penugasan Tenaga Pendukung...36

Tabel 8.1 Rincian Biaya Langsung Personil...37

Tabel 8.2 Rincian Biaya Langsung Non Personil...38

(6)

BAB 1

PEMAHAMAN TERHADAP TOR

BAB 2Latar Belakang

Transportasi darat merupakan salah satu pilihan sistem transportasi yang efektif untuk menghubungkan suatu kawasan dengan kawasan lain. Untuk daerah terpencil yang jauh dari Ibu Kota, transportasi darat berupa kereta api menjadi pilihan utama dalam melakukan perjalanan karena aksesnya yang mudah dan durasi perjalanan yang cepat dibanding dengan moda transportasi darat lainnya. Pengembangan sistem kereta api di beberapa lokasi dirasa perlu untuk memperluas jaringan transportasi kereta api untuk memudahkan masyarakat yang berdomisili di lokasi-lokasi tersebut.

Selain itu, pengembangan jalur kereta api sangat dibutuhkan untuk percepatan laju kegiatan ekonomi di daerah tersebut karena memudahkan akses suatu daerah ke daerah lain. Laju pertumbuhan ekonomi yang meningkat tentunya akan meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal. Untuk itu, perlu diadakan perluasan jalur kereta api di daerah-daerah, seperti di Pekan Baru, Riau.

Untuk mendukung pekerjaan Proyek Pembangunan Jembatan Jalan

Kereta Api Pertamina Pekanbaru Riau, diperlukan Detailed Engineering Design

(DED) yang melingkupi teknis awal lokasi proyek, gambar layout proyek, serta

desain dari konstruksi dan fasilitas lainnya secara detail dan lengkap sebagai acuan kerja untuk kontraktor dalam proses konstruksi.

2.1 Tujuan dan Sasaran 2.1.1 Tujuan

Adapun tujuan dari dibuatnya perancangan Proyek Pembangunan Jembatan Jalan Kereta Api Pertamina Pekanbaru Riau adalah untuk:

 Memberikan kesimpulan teknis terhadap alternatif sistem jembatan,

ramp, dan pondasi sehingga didapatkan desain rinci yang meliputi: analisa desain dan kalkulasi, gambar desain, bill of material, dan spesifikasi perkerjaan.

 Mendukung pelaksanaan konstruksi pembangunan serta untuk

(7)

2.1.2 Sasaran

Adapun sasaran dari dibuatnya perancangan Proyek Pembangunan Jembatan Jalan Kereta Api Pertamina Pekanbaru Riau adalah untuk:

 Tersusunnya desain rinci dan spesifikasi teknis yang diperlukan untuk

memenuhi kebutuhan dokumen teknis dalam pelaksanaan tender dan pelaksanaan konstruksi.

 Terkoordinasinya pembangunan Jembatan Jalan Kereta Api Pertamina

Pekanbaru Riau.

2.2 Lingkup Pekerjaan dan Perencanaan

Lingkup pekerjaan Detailed Engineering Design terdiri dari survey dan

desain. Adapun pekerjaan-pekerjaan tersebut antara lain: 2.2.1 Pekerjaan Persiapan

 Persiapaan kantor di lapangan

 Pengumpulan dan review data, informasi, dokumen, dan peraturan terkait

 Penyusunan rencana kerja

 Penyusunan Laporan Pendahuluan

2.2.2 Koordinasi DED

 Menyiapkan segala kebutuhan data dan informasi yang terkait proses

perencanaan

 Mengkoordinasikan hubungan pekerjaan antara pihak konsultan dengan

pihak pengguna jasa

 Pengaturan jadwal pelaksanaan yang telah disepakati

 Mengkoordinasikan segala yang tertulis di dalam DED dan waktu yang

telah ditetapkan untuk percepatan pembangunan

 Membuat laporan tahapan kemajuan pekerjaan

2.2.3 Koordinasi Manajemen Konstruksi

 Persiapan ruang rapat, ruang audio visual, dan ruang dokumentasi

 Penyediaan operator dan petugas

 Fasilitasi kegiatan rapat/diskusi dan pembahasan secara berkala serta

dalam menerima pihak-pihak yang berkaitan dengan pembangunan proyek

 Melakukan pemeriksaan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan

(8)

2.2.4 Lingkup Kegiatan Teknis DED

2.2.4.1 Engineering Survey

 Survey quarry material, yaitu tanah untuk reklamasi, tanah dan batu

untuk timbunan, pasir dan batu split untuk material beton. Survey yang dilakukan antara lain lokasi quarry, mutu material, perijinan untuk pengambilan material.

 Pengeboran tanah untuk penyelidikan tanah. Pengeboran dilakukan di

darat dan di sungai, masing-masing minimal tiga titik dengan kedalaman

bor 35 meter dan setengahnya dilakukan dengan mata bor diamond bit

 Survey kondisi eksisting dan lingkungan sekitar jembatan

2.2.4.2 Detail Design

 Pembuatan gambar-gambar desain, yaitu gambar layout dan gambar

detail desain konstruksi

 Pembuatan laporan detail desain, yang melingkupi detail desain untuk

struktur atas, struktur bawah, dinding penahan tanah, serta perbaikan

tanah, cut and fill, sistem drainase, dan sistem ramp jembatan

 Pembuatan spesifikasi teknis (RKS)

 Melakukan dan melaporkan hasil perhitungan volume pekerjaan (Bill o

Quantity)

 Membuat rencana anggaran biaya (RAB)

 Menentukan spesifikasi desain

2.3 Keluaran, Hasil, dan Sistem Pelaporan 2.3.1 Indikator Keluaran

Indikator keluaran dari kegiatan perencanaan Proyek Pembangunan Jembatan Jalan Kereta Api Pertamina Pekanbaru Riau adalah dokumen Detailed Engineering Design (DED) dari Proyek Pembangunan Jembatan Jalan Kereta Api Pertamina Pekanbaru Riau.

2.3.2 Data Penunjang

(9)

berkaitan dengan produk rencana. Standar-standar yang digunakan dalam proses perencanaan ini adalah update terakhir.

Daftar peraturan yang digunakan tidak terbatas kepada:

 SNI

 ASTM

 AISC

 ACI

 AWS

 ASCE

 British Standard

 Technical Standards for Bridges

2.3.3 Keluaran yang Diharapkan

Berdasarkan survey akan data teknis dan proses pengolahan data-data tersebut, konsultan diharapkan dapat memberikan keputusan teknis dalam proses perencanaan, hal-hal yang harus dibuat oleh konsultan dalam kegiatan ini adalah:

 Laporan Detail Design

 Gambar Detail Design

 Spesifikasi Teknis (RKS)

 Perhitungan Volume Pekerjaan (BOQ)

 Rencana Anggaran Biaya (RAB)

2.3.4 Kegiatan Pelaporan

Untuk menghasilkan dokumen Detailed Engineering Design (DED) pada Proyek Pembangunan Jembatan Jalan Kereta Api Pertamina Pekanbaru Riau seperti yang dijelaskan sebelumnya, konsultan perencana harus melakukan lima kali laporan kepada owner masing-masing dikerjakan dalam kurun waktu kurang lebih selama dua bulan. Laporan tersebut adalah:

 Laporan teknis dan tanggapan terhadap TOR

 Laporan Pendahuluan

 Laporan Antara

 Laporan Draft Akhir

(10)

BAB 3

TANGGAPAN DAN SARAN TERHADAP TOR

BAB 4Tanggapan terhadap KAK

4.1.1 Latar Belakang

Transportasi darat merupakan salah satu pilihan sistem transportasi yang efektif untuk menghubungkan suatu kawasan dengan kawasan lain. Untuk daerah terpencil yang jauh dari Ibu Kota, transportasi darat berupa kereta api menjadi pilihan utama dalam melakukan perjalanan karena aksesnya yang mudah dan durasi perjalanan yang cepat dibanding dengan moda transportasi darat lainnya. Pengembangan sistem kereta api di beberapa lokasi dirasa perlu untuk memperluas jaringan transportasi kereta api untuk memudahkan masyarakat yang berdomisili di lokasi-lokasi tersebut.

Selain itu, pengembangan jalur kereta api sangat dibutuhkan untuk percepatan laju kegiatan ekonomi di daerah tersebut karena memudahkan akses suatu daerah ke daerah lain. Laju pertumbuhan ekonomi yang meningkat tentunya akan meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal. Untuk itu, perlu diadakan perluasan jalur kereta api di daerah-daerah, seperti di Pekan Baru, Riau.

Berdasarkan fakta yang melatarbelakangi proyek pembangunan Jembatan Rel Kereta Api Pertamina Pekanbaru ini, maka kami sebagai konsultan perencana menyetujui latar belakang proyek pembangunan ini. Setelah menelaah KAK yang sudah diberikan kepada konsultan, ada beberapa hal yang harus diperjelas oleh konsultan dengan dokumen ini agar tidak terjadi kerancuan dalam perencanaan.

4.1.2 Tujuan dan Sasaran

Secara garis besar, kami sebagai konsultan perencana dalam proyek ini telah setuju dengan tujuan dan sasaran yang dijelaskan oleh Pemberi Tugas yang terdapat dalam Kerangka Acuan Kerja atau TOR.

4.1.3 Keluaran, Hasil, dan Sistem Pelaporan

Menurut kami, sistem pelaporan yang dilakukan secara berprogress dari

(11)

masih belum mendapatkan penjelasan yang jelas mengenai pengertian, konten, serta perbedaan dari kelima laporan tersebut.

4.1.4 Lingkup Pekerjaan dan Perencanaan

Penjabaran mengenai lingkup pekerjaan sudah cukup menjelaskan tahap-tahap pekerjaan yang harus dilakukan dalam menyusun Detailed Engineering Desain (DED). Sesuai dengan penjelasan lingkup pekerjaan yang telah tertera pada Kerangka Acuan Kerja tersebut, maka konsultan perencana dalam melaksanakan kegiatan dan supervisi pada Proyek Pembangunan Jembatan Jalan Kereta Api Pertamina Buatan Pekanbaru Riau ini akan berpedoman pada ketentuan-ketentuan yang berlaku sekaligus memenuhi kriteria dan nilai-nilai yang ingin dicapai sesuai permintaan dari owner. Dalam KAK dinyatakan pemilik dari jembatan ini adalah PT. Pertamina (Persero). Namum owner tidak menjelaskan dengan rinci fungsi dari jembatan kereta ini, apakah untuk mengangkut kereta penumpang atau untuk kereta bermuatan produk migas.

Untuk pekerjaan perencanaan yang sudah dijelaskan dalam TOR sudah mencukupi dan kami pahami. Semua kegiatan survey yang dijelaskan dalam TOR kami perinci sehingga survey yang harus dilakukan untuk perencanaan DED adalah survey pendahuluan, survey topografi, survey transportasi, dan survey geoteknik. Perincian rencana survey akan dibahas pada bab III Metodologi.

Lingkup perencanaan yang dilakukan oleh konsultan, yaitu perencanaan geometri dan alinemen jalan kereta api, penentuan lebar dan bentang jembatan, pemilihan jenis jembatan, perencanaan abutment, perencanaan pilar atau pier, perencanaan pondasi, dan perencanaan drainase.

4.2 Saran terhadap KAK

Kerangka Acuan Kerja yang diberikan owner sudah baik dalam menjelaskan gambaran umum mengenai Proyek Pembangunan Jembatan Jalan Kereta Api Pertamina Pekanbaru Riau, mulai dari latar belakang, maksud dan tujuan, masukan dan keluaran, lingkup pekerjaan, dan kebutuhan tenaga ahli. Namun ada beberapa hal yang perlu dilengkapi dalam KAK, sehingga penjabaran proyek menjadi lebih jelas dan terarah.

(12)

jurang atau sungai yang memotong jalur kereta memaksa perencana jalur kereta api untuk menyediakan struktur jembatan agar jalur kereta api dapat tersambungkan. Sedangkan tujuan dan maksud dari proyek ini sudah terdeskripsi dari KAK yang diberikan oleh owner.

Dalam KAK, tidak terlampir dengan jelas dimana Proyek Pembangunan Jembatan Jalan Kereta Api Pertamina Pekanbaru Riau ini dibangun. Di dalam judul KAK dikatakan bahwa lokasi proyek adalah di Pekan Baru, Riau. Namun, dalam peta kontur, daerah yang digambarkan adalah Prupuk dan Patuguruan, dimana dua lokasi itu terletak dalam wilayah Jawa Tengah. Peruntukan jalan kereta api juga tidak terdapat dalam KAK. Hal ini penting untuk diketahui karena peruntukan kereta api, apakah itu untuk penumpang atau barang atau keduanya akan mempengaruhi pembebanan pada jembatan. Jenis barang yang diangkut juga turut mempengaruhi pembebanan, dimana benda jenis cair akan memiliki beban yang lebih besar. Selain itu, perlu juga diketahui apakah jalur kereta api ini digunakan secara private atau public karena hal ini mempengaruhi frekuensi kereta api yang lewat di atas jembatan.

Tidak semua data penunjang yang telah disebutkan dalam KAK dibutuhkan dalam proses perencanaan jembatan. Karena struktur jembatan yang digunakan merupakan jembatan rangka baja, maka SNI tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung tidak digunakan. Begitu pula SNI perencanaan gedung tidak digunakan karena struktur pada proyek ini merupakan struktur jembatan.

Dalam KAK tidak disebutkan data-data teknis yang diperlukan oleh konsultan untuk melakukan proses perencanaan. Menurut kami, data-data yang diperlukan tersebut adalah data sondir tanah (NSPT), data gempa dan angin yang terjadi di wilayah Pekan Baru, Riau, serta peta kontur. Data sondir tanah diperlukan dalam proses perencanaan pondasi dalam untuk mensupport pilar jembatan, data gempa dan angin digunakan sebagai pembebanan pada jembatan sehingga didapatkan jembatan dengan struktur yang tahan terhadap dua beban tersebut. Beban angin merupakan beban yang perlu diperhatikan mengingat lokasi jembatan di daerah dengan kecepatan angin yang besar. Sedangkan peta kontur diperlukan untuk perhitungan volume cut and fill.

(13)

disebabkan oleh ketiga hal ini tidak memiliki hubungan yang berarti terhadap kekuatan dari struktur jembatan.

Kebutuhan tenaga kerja yang dipakai selama proses perencanaan yang disebutkan dalam KAK terlalu banyak dan hanya akan menyebabkan pemborosan biaya perencanaan. Tenaga ahli yang diperlukan hanya sebatas team leader, ahli struktur, ahli geoteknik, ahli transportasi, ahli lingkungan, dan ahli hukum. Ahli transportasi hanya dipekerjakan paruh waktu karena hanya untuk berkonsultasi dalam perencanaan rel. Begitupula juga untuk ahli lingkungan yang diperlukan hanya sebatas konsultasi mengenai metode kerja apa yang harus dihindari untuk melakukan program ramah lingkungan dan ahli hukum yang diperlukan pada awal masa perencanaan saja untuk proses pemahaman kontrak dengan owner.

(14)

BAB 5

METODOLOGI

5.1 Umum

Secara umum, lingkup pekerjaan perencanaan Proyek Pembangunan Jembatan Jalan Kereta Api Pertamina Pekanbaru Riau adalah menentukan dimensi, letak, dan jumlah pondasi dalam, jenis pondasi, jenis jembatan, dimensi dan bentuk dari jembatan rangka baja, letak drainase, alinemen vertikal dan horizontal dari trase jalur kereta api, metode konstruksi, serta anggaran biaya. Oleh karena itu beberapa disiplin ilmu terkait dan terintergrasi dalam proyek ini, yaitu struktur jembatan, geoteknik, transportasi, dan manajemen konstruksi.

Dalam rangka melaksanakan lingkup kerja yang telah disebutkan di atas, metodologi yang dilakukan oleh konsultan adalah survey. Secara garis besar, survey yang dilakukan terdiri dari empat macam, yaitu survey pendahuluan, survey topografi, survey geologi dan geoteknik, serta survey transportasi atau lalu lintas.

5.2 Data Penunjang 5.2.1 Data Primer

Data primer adalah data yang didapatkan secara langsung oleh konsultan perencana tanpa adanya perantara. Dalam proses perencanaan proyek ini, tidak terdapat data primer karena data-data tersebut langsung diberikan oleh owner.

5.2.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung oleh konsultan perencana. Dalam proses perencanaan proyek ini, data-data sekunder tersebut adalah:

 Beban lalu lintas penumpang kereta api, sesuai Peraturan Kereta Api

 Data N-SPT tanah berdasarkan survey yang sebelumnya dilakukan oleh

owner

 Data gempa di wilayah Pekan Baru, Riau, sesuai dengan SNI Gempa

2010

 Data angin di wilayah Pekan Baru, Riau

 Kecepatan rencana kereta, direncanakan oleh owner

 Data hujan di wilayah Pekan Baru, Riau

(15)

 Peta kontur

5.3 Material dan Alat

Adapun material dan alat yang diperlukan selama proses perencanaan proyek adalah:

5.3.1 Peralatan Survey

 Kamera

 Theodolit

 Alat sipat datar

 Patok

 Statif

 GPS Portable

 Rambu

 Alat sondir

 Alat mesin bor

 Alat transportasi darat (mobil)

5.3.2 Peralatan Administrasi

 Komputer

 Printer

 Mesin foto copy

 Mesin fax

 Telepon

 Genset

5.3.3 Perangkat Lunak

 Microsoft office (Microsoft Word, Microsoft Excel, Microsoft Power

Point)

 Microsoft Project

 AutoCad

 SAP 2000

5.4 Metode Pengumpulan Data

Seperti yang telah disebutkan di atas, metode pengumpulan data yang dilakukan adalah survey, yang dibedakan menjadi survey pendahuluan, survey topografi, survey geologi dan geoteknik, dan survey transportasi dan lalu lintas.

(16)

Survey pendahuluan adalah kegiatan pengumpulan data sekunder untuk dipergunakan dalam pelaksanaan detail survey dan pengumpulan data lainnya untuk melengkapi data survey dalam rangka kebutuhan perencanaan. Adapun lingkup pekerjaan survey pendahuluan, yaitu:

 Berkoordinasi dengan instansi terkait di daerah dilakukannya proyek

 Mengumpulkan peta topografi

 Mengumpulkan data harga satuan untuk bahan dan upah

 Mengumpulkan data curah hujan dari stasiun hujan terdekat

 Mengumpulkan data lokasi sumber material yang bertempat didaerah

tersebut

 Mengumpulkan data yang berkaitan dengan pembuatan drainase

 Menentukan titik-titik sebagai titik referensi penentuan kontur

 Menentukan lokasi untuk keperluan tes, misalnya untuk tes sondir

 Mempelajari site jembatan yang akan dibangun

 Mendokumentasikan keadaan lapangan

 Menyusun laporan survey pendahuluan

5.4.2 Survey Topografi

Survey topografi merupakan mengumpulkan data koordinat dan ketinggian permukaan tanah sepanjang lokasi rencana proyek jembatan dalam rangka pembuatan peta topografi site. Adapun lingkup pekerjaan survey topografi terdiri dari pemasangan patok, pengukuran titik kontrol vertikal dan horizontal, pengukuran situasi, serta penggambaran peta kontur hasil dari pengukuran.

5.4.3 Survey Geoteknik dan Geologi

Survey geoteknik dan geologi dilakukan untuk melakukan pemetaan mengenai penyebaran kondisi tanag/batuan dasar, baik ketebalan tanah tersebut maupun stabilitas tanah. Selain itu survey ini juga untuk menentukan jenis dan karakteristik tanah untuk keperluan sebagai bahan jalan dan struktur. Adapun lingkup pekerjaan survey ini, yaitu:

 Survey lokasi quarry material

 Penyelidikan lapangan untuk memeriksa sifat tanah

 Pemboran mesin

 Pengujian batu gamping untuk material timbunan

(17)

Setelah mengambil sample-sample tanah dan batuan dari lapangan, selanjutnya dilakukan pengetesan laboratorium, dimana dilakukan pengecekan sample tanah terhadap kadar air, batas susut, batas plastis, batas cair, analisa saringan, berat jenis, berat isi, direct shear, swelling, pemadatan, dan permeabilitas.

5.4.4 Survey Transportasi

Survey transportasi dilakukan untuk mengetahui kondisi lalu lintas dan kecepatan rencana dari lalu lintas yang melalui jembatan. Dalam hal ini survey dilakukan hanya sebatas pengumpulan data mengenai beban lalu lintas kereta api penumpang yang telah ditentukan dalam peraturan serta mengetahui frekuensi kereta api yang melewati jembatan.

5.5 Metode Analisis

Setelah proses pengumpulan data dengan serangkaian survey yang dilakukan oleh konsultan perencana, dimulai dari survey pendahuluan, survey topografi, survey geoteknik, dan survey lalu lintas, seluruh data tersebut dianalisa dan diolah dalam proses perencanaan proyek. Data-data tersebut diolah dengan bantuan software dan berdasarkan peraturan yang berlaku.

Untuk perancangan jembatan, perhitungan dikerjakan berdasarkan SNI

Perancangan Struktur Jembatan Bajadengan bantuan software SAP 2000. Struktur

jembatan ini juga didesain tahan terhadap pembebanan gempa dimana beban gempa yang dimasukan berdasarkan SNI Gempa 2010. Sedangkan beban-beban yang dipikul oleh jembatan ditentukan berdasarkan peraturan kereta api dan peraturan pembebanan kereta api AREMA.

5.6 Standar dan Kriteria Desain 5.6.1 Standar Desain

Adapun peraturan dan standar yang dipakai dalam perencanaan Proyek Pembangunan Jembatan Jalan Kereta Api Rangka Baja adalah:

 RSNI T-02-2005 Pembebanan untuk Jembatan

 RSNI T-03-2005 Perencanaan Struktur Baja untuk Jembatan

 SNI 03-2833-200x Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk

(18)

 Peraturan Dinas No. 10 Peraturan Perencanaan Konstruksi Jalan Rel

 AREMA Manual for Railway Engineering

 SNI DT-91-0006-2007 Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan

Tanah

 SNI DT-91-0007-2007 Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan

Tanah Pondasi

 SNI DT-91-0008-2007 Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan

Beton

5.6.2 Kriteria Desain

Kriteria desain yang akan dibahas ini mengenai tiga jenis perencanaan, yaitu perencanaan geometri dan alinemen jalan, penentuan bentang dan lebar jembatan, dan pemilihan bentuk struktur. Adapun kriteria desain tersebut adalah:

5.6.2.1 Perencanaan Geometri dan Alinemen Jalan

 Kendala alinemen horizontal dan vertikal

 Kendala geoteknik

 Profil topografi

 Kendala di bawah lintasan atau sungai/laut

 Kebutuhan tinggi bebas vertikal

5.6.2.2 Penentuan Bentang dan Lebar Jembatan

 Profil topografi

 Teknologi konstruksi (kemudahan dalam pelaksanaan)

 Faktor ekonomis

 Kebutuhan lalu lintas berdasarkan survey lalu lintas

 Prediksi lalu lintas masa depan

 Kemungkinan dan kemudahan pelebaran jembatan pada masa yang akan

datang

5.6.2.3 Pemilihan Bentuk Struktur Jembatan

 Kendala geometri

 Kendala material dan kesediaannya

 Kecepatan pelaksanaan

 Pemeliharaan jembatan

 Biaya konstruksi

(19)

Proses perencanaan dan perancangan jembatan ini dibagi menjadi lima tahapan besar, yaitu tahap pendahuluan, tahap pengumpulan data, tahap pra-rancangan, tahap rencana detail, dan tahap akhir. Rangkaian aktivitas ini didahului oleh pemberian TOR oleh pihak owner. TOR ini akan ditanggapi oleh konsultan dalam proposal teknis. Jika konsultan berhasil memenangkan tender, maka pekerjaan yang selanjutnya dilakukan dimulai dari tahap pendahuluan yang disebutkan di atas.

Gambar 3.1 Alur Pengerjaan Proses Perencanaan dan Perancangan

5.8 Metode Konstruksi

Metode konstruksi yang dibahas pada sub bab ini adalah metode konstruksi pemasangan jembatan dan metode pemasangan tiang pancang.

5.8.1 Metode Konstruksi Pemancangan Tiang Pancang

Berbagai Metode kerja dapat dilakukan untuk melakukan pemancangan Tiang pancang ini. pemancangan dilakukan dengan menggunakan Pile Drive Hammer dan dapat juga dengan menggunakan alat Dynamic Penetration Hammer. Adapun metode pelaksanaan pemancangan tiang pancang adalah sebagai berikut :

(20)

 Surveyor melakukan pengukuran dilapangan untuk menentukan

titik-titik pemancangan sesuai dengan gambar, Kemudian menggunakan alat Theodolit untuk mengecek ketegakan pemancangan. Pengecekan ketegakan dapat juga dilakukan secara manual dengan menggunakan Lot bandul besi yang di gantung dari atas sisi tiang pancang.

 Tiang Pancang diangkat tegak lurus, kemudian posisi ujung drive Hamer

dinaikkan dan topi paal dimasukkan pada kepala tiang pancang.

 Ketegakan Posisi tiang pancang di kontrol dengan menggunakan 2 (dua)

buah Theodolit yang dipasang dari dua arah dan melakukan kontrol setiap 2 meter pemancangan. Pemancangan dilakukan sampai pada kedalaman yang ditentukan.

 Tiang Pancang yang tersisa diatas elevasi rencana dikelupas ujung

betonnya, sehingga tersisa tulangan yang berfungsi sebagai stik besi untuk dihubungkan dengan Pile Cap pada bangunan gedung atau abudmen untuk Jembatan.

Kesalahan yang terjadi pada saat pemancangan dikarenakan ketidak akuratan mutu beton tiang pancang, ketidaktegakan tiang pancang dan juga pada saat pengangkatan tidak pada titik angkatnya sehingga tiang bisa patah.

5.8.2 Metode Konstruksi Jembatan

Metode konstruksi jembatan rangka baja dapat digolongkan menjadi dua golongan metode umum, yaitu metode pendukung sementara (temporary support) dan metode cantiliver. Kedua metode tersebut dapat diperinci lagi menjadi 4

metode, yaitu metode full temporary support, metode semi temporary support,

metode full cantilever, dan metode semi cantilever.

5.8.2.1 Metode Full Temporary Support

Metode full temporary support digunakan untuk kondisi bentang utama

(21)

Gambar 3.2 Ilustrasi Metode Full Temporary Support

5.8.2.2 Metode Semi Temporary Support

(22)

Gambar 3.3 Ilustrasi Metode Semi Temporary Support

5.8.2.3 Metode Full Cantilever

(23)

Gambar 3.4 Ilustrasi Metode Full Cantilever

5.8.2.4 Metode Semi Cantilever

Metode semi cantilever menggabungkan keunggulan dari metode full cantilever dan metode temporary support. Metode semi cantilever ini dapat digunakan untuk jembatan dengan bentangan panjang tanpa harus mengganggu lalu lintas perairan di sungai di bawah jembatan karena metode ini meminimalisir penggunaan perancah.

Gambar 3.5 Ilustrasi Metode Semi Cantilever

(24)

5.9.1 Pemilihan Jenis Pondasi

Pondasi jembatan didesain agar bisa menahan gaya yang bekerja di atas. Terdapat beberapa alternatif jenis pondasi yang dapat digunakan. Secara garis besar, pondasi terdiri dari dua, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. Pondasi dangkal dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu pondasi tapak dan pondasi lajur. Sedangkan pondasi dalam dibagi lagi menjadi tiga jenis, yaitu pondasi tiang pancang, pondasi tiang bor, dan pondasi sumuran.

Gambar 3.6 Klasifikasi jenis pondasi

Penentuan jenis dan kedalaman pondasi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Secara umum, faktor yang paling mempengaruhi adalah kondisi lapangan tanah dan kebutuhan daya dukung tanah untuk struktur bawah serta batasan penurunan pondasi. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan jenis dan kedalaman pondasi antara lain:

 Pembebanan dari struktur jembatan

 Daya dukung pondasi yang dibutuhkan

 Daya dukung dan sifat kompresibilitas tanah dan batuan

 Penurunan yang diijinkan dari struktur atas

 Tersedianya alat berat dan material pondasi

 Stabilitas tanah yang mendukung pondasi

 Kedalaman permukaan air tanah

 Perilaku aliran air tanah

 Perilaku aliran air sungai serta potensi gerusan dan sedimentasi

 Potensi penggalian atau pengerukan di masa yang akan datang

(25)

Pondasi dangkal biasanya digunakan untuk pondasi pada bangunan rumah. Karena kapasitas beban yang dapat dipikul oleh pondasi dangkal tidak terlalu besar, maka pondasi dangkal ini tidak dapat digunakan untuk pondasi pada jembatan. Sehingga, alternatif pemilihan jembatan berkurang menjadi tiga, yaitu pondasi tiang pancang, pondasi tiang bor, dan pondasi sumuran.

Tiang pancang adalah jenis pondasi dalam yang bahannya telah dicetak terlebih dahulu sebelum dipancangkan. Sedangkan tiang bor adalah jenis pondasi dalam yang merupakan pengecoran beton ke dalam lubang pondasi yang telah dibuat dan diberikan penulangan. Kelebihan tiang pancang dibandingkan dengan tiang bor adalah:

 Lebih mudah dikerjakan

 Mudah dalam melakukan quality control karena materialnya yang

precast, sehingga dapat dilakukan pengetesan sebelum dipancang

 Prosedur pengerjaannya tidak dipengaruhi oleh keberadaan air tanah

 Memberikan daya dukung tanah yang lebih besar karena proses

pemancangannya yang ditumbuk sehingga keadaan tanahnya akan lebih padat

 Daya dukung pondasinya dapat dihitung berdasarkan rumus pondasi

tiang

Namun, adapun kekurangan dari metode tiang pancang dibandingkan dengan tiang bor adalah:

 Kedalaman tiang terbatas, sesuai dengan panjang tiang yang diproduksi

oleh pabrik

 Menimbulkan kegaduhan dan getaran yang dapat mengganggu

kenyamana sekitar

 Pemancangan akan sulit jika dimensi pondasi terlalu besar

 Menimbulkan kesulitan jika panjang pondasi tidak sesuai dengan

kedalaman yang diinginkan. Jika terlalu panjang, sulit dalam pemotongan dan jika terlalu pendek, sulit dalam penyambungan

Sebaliknya, kelebihan dari pondasi jenis tiang bor antara lain:

 Kedalam tiang bor dapat disesuaikan dengan rencana, tidak terpaku pada

ukuran tiang pancang yang diproduksi dipabrik

 Tidak menimbulkan getaran dan kegaduhan

(26)

Sedangkan kekurangan dari pondasi bor dibandingkan dengan pondasi tiang adalah:

 Sulit untuk melakukan quality control karena keberadaan produk pondasi

setelah proses pengecoran tertanam dalam tanah, sehingga tidak dapat dilakukan pengetesan

 Sangat terpengaruh oleh keberadaan air tanah yang akan menyulitkan

proses pengecoran

 Ukuran pondasi menjadi mengecil karena lubang galian dapat terisi

kembali oleh tanah akibat dari terdorongnya disekitar lubang galian bor Dari penjabaran karakteristik serta kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh tiang pancang dan tiang bor, jenis pondasi dalam yang cocok digunakan untuk proyek jembatan ini adalah pondasi tiang pancang. Hal ini diakibatkan metode konstruksinya lebih mudah karena proses pemancangan tiang tidak dipengaruhi oleh keberadaan air tanah, seperti halnya pada pondasi tiang bor. Mengingat bahwa lokasi tanah yang dipancang pondasi merupakan daerah di sebelah sungai, maka tanah tersebut tercelup oleh muka air, sehingga pondasi bor pile sulit untuk dilakukan. Karena lokasi proyek yang jauh dari aktivitas masyarakat publik, pemilihan tiang pancang juga tidak merugikan akibat kebisingan dan getaran yang ditimbulkannya. Sebaliknya, tiang pancang memiliki

beberapa keuntungan karena dapat dilakukan pengetesan, mudah dalam quality

control, dan memiliki daya dukung tanah yang lebih besar karena tanah di sekitarnya akan mengalami proses pemadatan akibat keberadaan tiang pancang yang ditumbuk.

(27)

karena itu, dengan analisa teori pendukung ini, perencana mengambil keputusan sementara jenis pondasi yang digunakan adalah pondasi dalam tiang pancang.

5.9.2 Pemilihan Jenis Jembatan

Terdapat beberapa alternatif jenis jembatan yang dapat digunakan untuk Proyek Pembangunan Jembatan Jalan Kereta Api Pertamina Pekanbaru Riau. Adapun jenis-jenis tersebut antara lain tipe slab, girder, truss, arch, cable stayed,

dan suspension. Masing-masing memiliki karakteristik tersendiri, sehingga

diperlukan analisa dalam memilih tipe jembatan yang cocok digunakan untuk proyek ini.

Untuk jembatan dengan bentang pendek seperti jembatan yang didesain pada proyek, cocok digunakan slab, rangka batang, atau girder. Namun, tipe jembatan slab dengan bentang sebesar 25 meter akan membutuhkan tebal pelat

yang sangat tebal sehingga tidak feasible untuk dilakukan.

(28)

BAB 6

PROGRAM KERJA

Proses perencanaan Proyek Pembangunan Jembatan Jalan Kereta Api Pertamina Pekanbaru Riau dilakukan selama 4 (empat) bulan kalender. Untuk dapat bekerja dengan koordinasi yang baik, konsultan perencana membuat program kerja yang terdiri dari daftar pekerjaan yang yang tersusun sesuai dengan waktu pengerjaannya. Program kerja perencanaan ini terdiri dari lima tahap, yaitu tahap pendahuluan, tahap pengumpulan data, tahap pra-rancangan, tahap rancangan detail, dan tahap akhir.

6.1 Tahap Pendahuluan

Tahap pendahuluan dimulai dari keluarnya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dari owner. Dalam tahapan ini, dimulai pekerjaan-pekerjaan awal serta survey pendahuluan. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahapan ini adalah:

 Administrasi Proyek

 Studi Literatur

 Mobilisasi Personil

 Penyusunan Rencana Kerja

 Persiapan Fasilitas di Lapangan

 Survey Pendahuluan

 Laporan Survey Pendahuluan

6.2 Tahap Pengumpulan Data

Tahap pengumpulan data secara garis besar adalah dilakukannya survey-survey lapangan, seperti survey-survey geoteknik dan survey-survey topografi. Selain itu dalam tahapan ini dilakukan penentuan alternative desain. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahapan ini adalah:

 Survey Geoteknik

 Survey Topografi

 Survey Lalu Lintas

 Laporan Hasil Survey Geoteknik, Topografi, dan Lalu Lintas

 Kompilasi Data Hasil Survey

 Pemilihan Alternatif Desain

(29)

dan metode konstruksi secara garis besar, seperti jenis pondasi tiang yang digunakan.

6.3 Tahap Pra-Rancangan

Dalam tahapan ini telah dimulai proses perancangan awal. Adapun hal-hal yang direncanakan dalam tahapan ini adalah:

 Rencana Geometrik Jalan

 Finalisasi Bentang Jembatan

 Finalisasi Material Struktur Atas

 Prakiraan Dimensi Struktur Atas Jembatan

 Perhitungan Pondasi Jembatan

 Estimasi Biaya

 Penyusunan Spesifikasi Umum

6.4 Tahap Rencana Detail (DED)

Dalam tahapan ini dilakukan proses perencanaan secara lebih detail lagi. Hasil dari tahapan ini akan disusun dalam laporan akhir untuk tahapan berikutnya. Adapun perencanaan detail yang dilakukan dalam tahapan ini adalah:

 Analisa Struktur Gravitasi dan Dinamis

 Perencanaan Dimensi dan Pembesian Struktur Atas dan Bawah

 Perencanaan Detail Metode Konstruksi

 Perencanaan Detail Fasilitas/Bangunan Pelengkap

 Penyusunan Spesifikasi Khusus

 Rincian Volume dan RAB

 Pembuatan Gambar Kerja dan Detail Khusus

Detailed Engineering Design (DED) yang dihasilkan dalam tahapan ini akan digunakan sebagai pedoman bagi pelaksana konstruksi dalam melakukan proses konstruksi.

6.5 Tahap Akhir

(30)

BAB 7

JADWAL PELAKSANAAN DAN PERENCANAAN

Adapun rencana pelaksanaan dan perencanaan dijabarkan dalam

barchart yang tertera di bawah ini.

Tabel 5.1 Bar Chart Jadwal Perencanaan Proyek

(31)

BAB 8

KOMPOSISI TIM DAN PENUGASAN PERSONIL

Dalam proses perencanaan Proyek Pembangunan Jembatan Jalan Kereta Api Pertamina Pekanbaru Riau diperlukan tenaga ahli dan tenaga pendukung yang

berkaitan dengan disiplin ilmu tertentu sampai terbentuknya Detailed Engineering

Design (DED) proyek tersebut. Adapun tenaga ahli dan tenaga pendukung yang dibutuhkan, jumlah, dan uraian pekerjaannya akan dijelaskan pada bab ini.

8.1 Struktur Organisasi

Gambar 6.7 Struktur Organisasi Personil

8.2 Kualifikasi Tenaga Ahli dan Pendukung 8.2.1 Kualifikasi Tenaga Ahli

 Team Leader

Team leader adalah 1 (satu) orang Sarjana Teknik Sipil dan Magister Manajemen Konstruksi dengan pendidikan minimal S2 yang berpengalaman selama 12 tahun dalam bidang manajemen konstruksi dan memiliki SKA Madya Perencana Teknik Sipil.

 Ahli Struktur

Ahli struktur adalah 2 (dua) orang Sarjana Teknik Sipil dengan pendidikan minimal S1 yang berpengalaman selama 10 tahun dalam bidang konstruksi atau struktur dan memiliki SKA Madya Perencanan Teknik Sipil.

(32)

Ahli geoteknik adalah 1 (satu) orang Sarjana Teknik Sipil dengan pendidikan minimal S1 yang berpengalaman selama 10 tahun dalam bidang geoteknik dan memiliki SKA Survey dan Pemetaan Teristris.

 Ahli Transportasi

Ahli transportasi adalah 1 (satu) orang Sarjana Teknik Sipil dengan pendidikan minimal S1 yang berpengalaman selama 10 tahun dalam bidang transportasi dan memiliki SKA Madya Perencana Teknik Sipil.

 Ahli Quantity/Cost Engineer

Ahli hukum adalah 1 (satu) orang Sarjana Teknik Sipil dengan pendidikan minimal S1 yang berpengalaman selama 5 tahun dalam bidang hukum.

8.2.2 Kualifikasi Tenaga Pendukung

 Surveyor

Surveyor adalah 2 (dua) orang dengan kualifikasi pendidikan sekurang-kurangnya D3 di bidang ilmu teknik sipil yang memiliki pengalaman kerja selama 5 tahun di bidang pekerjaan surveyor.

 Drafter

Drafter adalah 2 (dua) orang dengan kualifikasi pendidikan sekurang-kurangnya D3 di bidang teknik sipil yang memiliki pengalaman kerja selama 5 tahun di bidang pekerjaan drafter.

 Sekretaris

Sekretaris adalah 1 (satu) orang dengan kualifikasi pendidikan sekurang-kurangnya D3 di bidang ilmu informatika yang memiliki pengalaman kerja selama 5 tahun di bidang pekerjaan sekretaris.

(33)

Bendahara adalah 1 (satu) orang dengan kualifikasi pendidikan sekurang-kurangnya D3 yang memiliki pengalaman kerja selama 5 tahun di bidang pekerjaan Keuangan.

 Bertanggung jawab atas proses pengendalian tim

 Merekrut anggota tim untuk perencanaan proyek

 Menyusun struktur organisasi konsultan

 Menyiapkan program kerja konsultan

 Melakukan komunikasi secara aktif dengan Pemberi Tugas

 Berkoordinasi dengan ahli struktur, ahli geoteknik, ahli transportasi, ahli

cost engineer, ahli lingkungan, dan ahli hukum

 Menjaga kemajuan pekerjaan perencanaan sesuai dengan schedule

rencana

 Melakukan penjelasan teknis dan melakukan pengawasan secara berkala

 Berkoordinasi dengan direksi perusahaan konsultan

8.3.1.2 Uraian Pekerjaan Ahli Struktur

 Membantu team leader di bidang struktur/konstruksi

 Membantu team leader dalam proses perencanaan struktur

 Menghadiri rapat-rapat koordinasi pelaksanaan

 Memberikan solusi terkait perubahan yang terjadi pada proses

perencanaan konstruksi

 Menyusun spesifikasi bahan sesuai dengan hasil perencanaan bagian

struktur

 Melakukan pengendalian mutu pekerjaan dalam bidang struktur

 Bertanggung jawab atas perhitungan struktur

8.3.1.3 Uraian Pekerjaan Ahli Geoteknik

 Membantu team leader di bidang geoteknik

 Melakukan penyelidikan tanah dan material untuk kebutuhan proses

perencanaan

 Menghadiri rapat-rapat koordinasi pelaksanaan

 Memberikan solusi terkait perubahan yang terjadi pada proses

(34)

 Menyusun spesifikasi bahan sesuai dengan hasil perencanaan bagian

pondasi

 Melakukan pengendalian mutu pekerjaan dalam bidang geoteknik

 Bertanggung jawab terhadap survey dan laboratorium penyelidikan tanah

 Menyusun hasil tes laboratorium hasil penyelidikan tanah

 Bertanggung jawab terhadap dalam pelaporan penyelidikan tanah

8.3.1.4 Uraian Pekerjaan Ahli Transportasi

 Membantu team leader di bidang transportasi

 Membantu team leader dalam proses perencanaan alinement vertikal dan

horizontal rel kereta api

8.3.1.5 Uraian Pekerjaan Ahli Quantity/Cost Engineer

 Membantu team leader di bidang quantity

 Menghadiri rapat-rapat koordinasi pelaksanaan

 Melakukan evaluasi produk konstruksi dan bahan-bahan

 Mencari daftar harga satuan barang dan upah tenaga kerja

 Menyusun perhitungan volume pekerjaan (Bill of Quantity)

 Menyusun Rancangan Anggaran Biaya (RAB) perencanaan proyek

secara keseluruhan

8.3.1.6 Uraian Pekerjaan Ahli Lingkungan

 Membantu team leader di bidang lingkungan

 Memberikan solusi terkait perubahan yang terjadi pada proses

perencanaan konstruksi

 Menghadiri rapat-rapat koordinasi pelaksanaan

 Memberikan konsultasi terkait perencanaan jembatan ramah lingkungan

 Mengikuti rapat penjelasan pekerjaan

8.3.1.7 Uraian Pekerjaan Ahli Hukum

 Memahami dokumen kontrak konsultan perencana dengan owner

 Menghadiri rapat-rapat koordinasi yang berkaitan dengan bidang hukum

(35)

8.3.2 Uraian Pekerjaan Tenaga Pendukung

8.3.2.1 Uraian Pekerjaan Surveyor

 Melakukan survey topografi

 Mengumpulkan data-data penunjang untuk proses perencanaan proyek

 Menganalisa data yang diperoleh dari hasil survey

8.3.2.2 Uraian Pekerjaan Drafter

 Membuat gambar-gambar detail rencana

 Mendokumentasikan gambar-gambar kerja tersebut

8.3.2.3 Uraian Pekerjaan Sekretaris

 Mendokumentasikan surat masuk

 Menyusun surat keluar yang diperlukan dalam administrasi proyek

 Membantu team leader dalam penyusunan laporan akhir

8.3.2.4 Uraian Pekerjaan Bendahara

 Bertanggungjawab atas keluarnya uang untuk suatu kegiatan

 Memegang seluruh dana yang dialokasikan untuk proses perencanaan

proyek

(36)

BAB 9

JADWAL PENUGASAN PERSONIL

BAB 10Jadwal Penugasan Tenaga Ahli

Tabel 7.2 Jumlah Klasifikasi Tenaga Ahli

No Personil Jumlah Jabatan Kegiatan

Orang/Bula n

1 Team Leader 1 Team Leader Penuh waktu 1

2 Ahli Struktur 2 Anggota Penuh waktu 2

3 Ahli Geoteknik 1 Anggota Paruh waktu 0,5

4 Ahli Transportasi 1 Anggota Paruh waktu 0,5

5 Ahli Cost Engineer 1 Anggota Paruh waktu 0,5

6 Ahli Lingkungan 1 Anggota Penuh waktu 1

7 Ahli Hukum 1 Anggota Paruh waktu 0,25

Tabel 7.3 Jadwal Penugasan Tenaga Ahli

No Personil Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Tabel 7.4 Jumlah Klasifikasi Tenaga Pendukung

No Personil Jumlah Jabatan Kegiatan

Orang/Bula n

1 Surveyor 2 Anggota Paruh waktu 1

2 Drafter 2 Anggota Paruh waktu 2

3 Sekretaris 1 Anggota Penuh waktu 1

4 Bendahara 1 Anggota Penuh waktu 1

Tabel 7.5 Jadwal Penugasan Tenaga Pendukung

No Personil Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4

(37)

1 Surveyor

2 Drafter

3 Sekretaris

(38)

BAB 11

RANCANGAN ANGGARAN BIAYA

11.1Biaya Langsung Personil

Biaya langsung personil adalah harga upah untuk tenaga ahli dan tenaga pendukung yang bekerja dalam proses perencanaan. Besarnya harga upah ini merupakan hasil kali man/month dengan billing rate. Billing rate merupakan harga satuan upah untuk kualifikasi tertentu dengan pengalaman kerja dan pendidikan terakhir tertentu. Besaran nilai ini mengacu pada Pedoman Standar Minimal INKINDO (Ikatan Nasional Konsultan Indonesia) 2011. Total biaya langsung personil adalah sebesar Rp 568.487.500. Rincian biaya tersebut dijabarkan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 8.6 Rincian Biaya Langsung Personil

(39)

N

1 Surveyor 2 orang D3-5 Thn

Biaya langsung non personil adalah biaya yang dikeluarkan untuk proses perencanaan diluar biaya upah para personil. Yang termasuk di dalam biaya langsung non personil adalah biaya survey atau pengumpulan data, biaya pengujian tanah, biaya fasilitas dan peralatan kantor, biaya rapat dan presentasi, serta biaya produksi atau penggandaan pelaporan. Total biaya langsung non personil adalah Rp 138.305.000. Adapun rincian biaya langsung non personil dijabarkan dalam tabel di bawah.

Tabel 8.7 Rincian Biaya Langsung Non Personil

NO

. KETERANGAN VOLUME & HARGA SATUAN JUMLAH BIAYA

SATUAN Rp. Rp. (Bor dalam, sondir, hand boring, dll)

2 Pengujian sample di laboratorium 1 Ls 15.000.000,00

(40)

(Engineering lab dll)

(41)

perencanaan untuk proyek ini adalah sebesar Rp 777.471.750. Adapun rincian biaya nya dijabarkan dalam tabel di bawah.

Tabel 8.8 Total Biaya Pekerjaan

No. URAIAN JUMLAH

I BIAYA LANGSUNG PERSONIL (REMUNERASI)

A Professional (Tenaga Ahli) 424.087.500,00

B Supporting Staff 144.400.000,00

JUMLAH I 568.487.500,00

II BIAYA LANGSUNG NON PERSONIL

A Survey dan Pengumpulan data 10.000.000,00

B Soil Test (Pengujian Tanah) 40.000.000,00

C Fasilitas dan Peralatan Kantor 31.680.000,00

D Biaya Rapat & Presentasi 5.000.000,00

E Produksi/Penggandaan Pelaporan 51.625.000,00

JUMLAH II 138.305.000,00

TOTAL I & II 706.792.500,00

PPN 10% 70.679.250,00

Gambar

Gambar 3.1 Alur Pengerjaan Proses Perencanaan dan Perancangan
Gambar 3.2 Ilustrasi Metode Full Temporary Support
Gambar 3.3 Ilustrasi Metode Semi Temporary Support
Gambar 3.4 Ilustrasi Metode Full Cantilever
+7

Referensi

Dokumen terkait

Telah melaksanakan pekerjaan : Jasa Konsultan Supervisi Lanjutan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Tegal – Jateng Tahap II. Kontrak

Bahwa telah selesainya masa sanggah pada paket pekerjaan pengadaan konsultan perencana renovasi/rehabilitasi gedung kantor Pengadilan Agama Lubuk Pakam, CV. 3 Komplek

Latar belakang yang diuraikan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) sudah Latar belakang yang diuraikan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) sudah dapat menjawab, kenapa akhirnya

Penjelasan terhadap Waktu pelaksanaan dan Struktur Organisasi sudah jelas disebutkan di dalam TOR yang diharapkan konsultan dapat melaksanakan pekerjaan SID perbaikan berat

Perencana (Konsultan Perencana) proyek Pembangunan Rumah Sakit Santo Yusuf Bandung adalah pihak konsultan yang ditunjuk oleh pemilik untuk melaksanakan pekerjaan

Persyaratan Umum Layanan Jasa Konsultan Konsultan pengawasan harus mempersiapkan Tim Supervisi yang akan melaksanakan supervisi/pengawasan pekerjaan konstruksi, pemantauan atau kemajuan

D.3 Sasaran Pengawasan Dalam Kerangka Acuan Kerja disebutkan sasaran utama proses pengadaan barang / jasa ini adalah untuk memperoleh Konsultan Pengawas yang memiliki kompentensi dan

Konsultan Perencana bertanggung jawab secara profesional atas jasa perencanaan yang dilakukan sesuai ketentuan dan kode tata laku profesi yang berlaku; Hasil Karya Perencanaan yang