• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATA KULIAH BAHASA INDONESIA SEBAGAI UPA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MATA KULIAH BAHASA INDONESIA SEBAGAI UPA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Mata Kuliah Bahasa Indonesia Sebagai Upaya Menumbuhkan Generasi Bangsa Yang Berkarakter

Ahsani Taqwiem

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Lambung Mangkurat

[email protected]

Abstrak

Karakter adalah pembentuk warga negara yang baik. Salah satu yang mampu membentuk karakter adalah bahasa. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia harus ambil bagian dalam usaha menumbuhkan karakter warga negara. Pelajaran bahasa Indonesia adalah pelajaran wajib pada jenjang pendidikan yang ada di Indonesia, tidak terkecuali di jenjang perguruan tinggi. Sebagai sebuah mata kuliah, bahasa Indonesia diarahkan menjadi mata kuliah pengembang kepribadian. Tantangan mata kuliah Bahasa Indonesia semakin hari juga semakin berat. Berada di era globalisasi tentu membawa efek positif serta negatif, termasuk untuk bahasa Indonesia sebagai bahasa maupun sebagai sebuah mata kuliah.

Kata kunci: bahasa Indonesia, karakter, globalisasi

Pendahuluan

Warga Negara yang baik tentu adalah warga negara yang memiliki karakter. Karakter sebagai sesuatu yang abstrak dan melekat pada masing-masing individu dapat ditanam serta ditumbuhkan lewat berbagai cara. Salah satu caranya adalah lewat bahasa, dalam konteks bangsa Indonesia tentu saja bahasa Indonesia yang menjadi ujung tombak dalam upaya menumbuhkan karakter masyarakat.

Sejak dikumandangkannya Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang berbunyi. Sejak saat itu pula sumpah pemuda menjadi jiwa dalam mengembangkan kepribadian bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia menegaskan perannya sebagai pondasi kebangsaan, butir ketiga pada Sumpah Pemuda menjadi semacam cikal bakal perjuangan para pemuda untuk mewujudkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Begitu pentingnya bahasa Indonesia terlihat dari selalu adanya mata pelajaran pelajaran bahasa Indonesia dalam setiap jenjang pendidikan di Indonesia. Bahasa Indonesia adalah menu wajib dan utama. Hal ini adalah salah satu pengejawantahan dari peraturan dan semangat menghormati bahasa Indonesia sebagai bahasa nomor satu.

(2)

banyak teks, semisal teks sumpah pemuda, teks pembukaan UUD ’45, serta dengan pada pasal 36 UUD 1945 yang berbunyi, “Bahasa negara adalah bahasa Indonesia”.

Bahasa Indonesia Sebagai Mata Kuliah

Mengacu kepada SK Dirjen Dikti tentang Mata Kuliah Pengembang Kepribadian No. 43/Dikti/Kep/2006 sebenarnya perkuliahan bahasa Indonesia di perguruan tinggi telah bergeser tujuannya, dari sekedar menghendaki mahasiswa memiliki penguasaan piranti-piranti kebahasaan menjadi lebih komplek dan menyeluruh. Mata kuliah bahasa Indonesia diarahkan menjadi dasar dalam mengembangkan kompetensi dan kepribadian.

Tujuan yang semula sederhana menjadi lebih luas dan menyeluruh. Mata kuliah bahasa Indonesia menggung beban yang tidak ringan, membentuk manusia-manusia Indonesia yang kompeten dan berkarakter. Berhasilkan pengajaran bahasa Indonesia selama ini? Kiranya jawaban dari pertayaan ini sangat beragam. Sebab tentu saja seharunya keberhasilan bahasa membentuk karakter dapat diamanati pada hasil belajar atau yang lebih umum bisa kita lihat pada hasil Ujian Nasional yang sejak tahun 2003. Hubungan keduanya akan terlihat langsung sebab jika nilai UN mata pelajaran bahasa Indonesia jauh dari harapan dibanding mata pelajaran lain, tentu saja ini adalah sebuah idikator dan jawaban mengapa banyak siswa kita yang karakternya masih perlu dipertanyakan.

Fenomena ini memang bukan hal yang asing kita dengar. Isu mengenai rendahnya nilai mata pelajaran bahasa Indonesia adalah isu lama yang terus berulang. Bahkan pada tahun 2013 nilai UN jurusan bahasa yang notabene adalah jurusan dengan konsentrasi bahasa, termasuk bahasa Indonesia, hampir 25% tidak lulus dalam UN mata pelajaran bahasa Indonesia. Hal ini menjadi ironi dan begitu mengherankan. Belum lagi jika nilai bahasa Indonesia dibandingkan dengan nilai mata pelajaran yang lain seperti IPA dan IPS. Hal ini memunculkan pertanyaan ada apa dengan mata pelajaran bahasa Indonesia. Sebegitu susahkah mempelajari bahasa yang kita kenal bahkan sejal taman kanak-kanak, atau memang masalahnya bukan pada materi bahasa, tetapi ada pada subjek pembelajarnya.

Berkaca dari fakta di atas, serta tentu saja berlandaskan dari peraturan pemerintah, maka pertanyaan mengapa bahasa Indonesia perlu disajikan lagi sebagai mata kuliah pada jenjang perguruan tinggi dapat dipahami. Secara umum mata kuliah bahasa Indonesia diletakkan pada semester awal perkuliahan, meskipun dibeberapa jenjang disajikan pada semester atas dengan bobot 2 sampai 3 sks. Materi-materi pokok perkuliahan secara garis besar biasanya berisi tentang sejarah singkat bahasa Indonesia, ejaan, ragam bahasa, diksi, karya ilmiah dan notasinya, serta piranti-piranti bahasa seperti kata, kalimat dan paragraf.

(3)

mereka pelajari sewaktu bersekolah. Hal seperti ini akan menghambat perkuliahan bahasa Indonesia menjadi maksimal dalam mencapai tujuan perkuliahan.

Hubungan Mata Kuliah Bahasa Indonesia dan Nilai Karater Bangsa

Karakter mencuat menjadi topik yang selalu diperbincangkan, hal ini semakin kuat sejak Kemendikbud pada tahun 2011 merumuskan 18 jenis nilai karakter bangsa yaitu religius, jujur, toleransif, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Menurut KBBI (2008), karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, ahlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, atau bermakna bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempramen, watak. Pengertian lain menyebutkan bahwa karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan (Philips, 2008: 235).

Hampir semua karakter yang diuraikan Kemendikbud pada hakikatnya bisa diintegrasikan baik langsung maupun tidak langsung dalam proses pembelajaran. Namun, ada beberapa karakter yang langsung terlihat dan terbangun pada saat pembelajaran bahasa khususnya bahasa Indonesia.

Karakter disiplin adalah karakter yang sangat berkaitan dan mampu tumbuh pada saat mahasiswa belajar bahasa Indonesia. Disiplin berasal dari bahasa latin Discere yang berarti belajar. Disiplin adalah kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu sistem yang mengharuskan orang tunduk pada keputusan, perintah, atau peraturan yang diberlakukan bagi dirinya sendiri (Lemhannas, 1995:11).

Bahasa Indonesia diatur oleh ejaan. Ejaan adalah ”Sistem atau aturan perlambangan bunyi bahasa dengan huruf (u.p. Huruf Latin), aturan menuliskan kata-kata atau cara-cara mempergunakan tanda baca (Kridalaksana, 1985: 38). Ejaan berisi aturan yang bersifat baku dan mengikat. Mahasiswa yang belajar bahasa Indonesia mau tidak mau harus taat dan tunduk pada ejaan yang berlaku.

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan yang sejak lama dikenal, namun hal ini berubah setelah pada tahun 2015 berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang menyebutkan bahwa Ejaan Yang Disempurnakan diganti menjadi Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Jika dihitung EBI adalah sistem ejaan keempat yang pernah digunakan bangsa Indonesia.

(4)

harus taat dan disiplin dalam menulis sesuai dengan aturan yang berlaku. Dengan taat pada aturan penulisan mahasiswa akan terlatih dan mampu menjadi pribadi yang taat dan disiplin pada aturan-aturan yang ruang lingkupnya lebih luas seperti aturan hukum dan aturan sosial kemasyarakatan.

Ada empat unsur-unsur disiplin yaitu aturan, hukuman, penghargaan dan konsistensi (Hurlock, 1970:74). Aturan kebahasaan khususnya untuk bahasa resmi sebuah Negara tentu saja bukan aturan yang boleh diremehkan. Harus ada hukuman bagi mereka yang tidak mau patuh dan menganggap aturan bahasa sebagai sesuatu yang serius. Cerita mengenai bangsa Jepang yang begitu menomor satukan bahasa mereka tentu adalah cerita yang sudah sering kita dengar. Setiap buku luar dan tidak berbahasa Jepang kalau ingin beredar di dalam Negara mereka harus diubah dulu ke dalam bahasa mereka, semua buku, tidak terkecuali. Hal ini adalah salah satu contoh sederhana mengapa Jepang bisa tumbuh menjadi Negara adidaya yang sejajar dengan Negara-negara besar lain. Mereka mengerti bahwa bahasa adalah pondasi untuk menjadi bangsa yang besar.

Pemerintah kita kiranya masih dalam tahap berusaha mencapai level yang sama, atau berada pada tahap serius seperti Negara lain memperlakukan bahasanya. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya kesalahan ejaan yang dilakukan pihak pemerintahan seperti yang terlihat pada surat-surat resmi dan dokumen lainnya. Tidak bisa dielakkan hal ini terjadi karena faktor kurangnya pengetahuan akan ejaan serta faktor tidak adanya hukuman jika tidak menerapakan ejaan sesuai dengan aturan. Pendapat ini memperkuat alasan mengapa mata kuliah bahasa Indonesia masih perlu diajarkan pada jenjang perguruan tinggi. Harapannya tentu saja agar para mahasiswa ketika sudah lulus dan bekerja di instansi pemerintahan dapat menerapkan pengetahuan yang sudah mereka dapat saat kuliah.

Banyaknya tindakan tidak terpuji khususnya yang dilakukan oleh kalangan mahasiswa sebagai warga negara merupakan indikator bahwa mereka kurang disiplin terhadap peraturan yang berlaku. Bagaimana mungkin mereka mau taat kalau pada aturan sederhana seperti atuan penulisan saja mereka tidak bisa tunduk. Hal sederhana ini menyiratkan bahwa kuliah bahasa Indonesia adalah mata kuliah yang dapat menunjang pembentukan karakter bangsa melalui generasi muda.

(5)

Karakter selanjutnya yang dapat langsung terlihat pada saat pengajaran bahasa Indonesia adalah komunikatif. Komunikati menurut KBBI adalah kata adjektiva atau kada sifat yang artinya menjelaskan nomina atau pronomina. Sedangkan artinya secara sederhana adalah mudah dipahami atau dimengerti.

Berbahasa dengan baik dan benar tidak hanya menekankan kebenaran dalam hal tata bahasa, melainkan juga memperhatikan aspek komunikatif. Bahasa yang komunikatif tidak selalu harus merupakan bahasa standar. Sebaliknya, penggunaan bahasa standar tidak selalu berarti bahwa bahasa itu baik dan benar. Sebaiknya, kita menggunakan ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan disamping itu mengikuti kaidah bahasa yang benar (Alwi dkk., 1998: 21).

Di dalam mata kuliah bahasa Indonesia mahasiswa diminta menggunakan bahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan dengan baik dan benar. Namun, hal ini belakangan menjadi kendala serius sebab begitu hebatnya arus bahasa gaul atau dalam bahasa Inggris disebut bahasa slank. Di sinilah mahasiswa diajak untuk tetap berkarakter komunikatif namun juga tidak kebablasan yang akhirnya terbawa arus meninggalkan aturan bahasa yang baik dan benar. Pemahaman bahwa bahasa Indonesia lebih komunikatif dalam suasana resmi dan formal harus dipahami mahasiswa. Tentu hal ini juga akan berdampat pada tulisan-tulisan ilmiah yang nantinya akan mahasiswa hasilkan, jika mereka tidak mampu menulis dengan ragam baku tentu kadar keilmiahan serta nilai komunikatif tulisan mereka akan dipertanyakan.

Komunikasi dalam dunia kerja juga menuntut penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dunia kerja memiliki jangkauan yang umum dan universal, berbagai suku bahkan bangsa bersaing serta kemudian bekerja sama dalam instansi atau perusahaan tempat mereka bekerja. Tidak mungkin tetap mempertahankan komunikasi dengan menggunakan bahasa daerah pada situasi seperti ini. Bahasa Indonesia adalah solusi agar tetap mampu berkomunikasi dengan baik. Melepaskan kedaerahan dalam berbahasa tentu bukan perkara mudah, selain itu mahasiswa juga harus benar-benar memahami kriteria penggunaan bahasa yang baik dan benar, karena itulah mata kuliah bahasa Indonesia hadir dan tetap penting diajarkan kepada para mahasiswa.

(6)

Karakter berikutnya adalah semangat kebangsaan serta cinta tanah air. Kedua karakter ini kiranya saling berkaitan dan berhubungan. Ketika seseorang memiliki semangat berbangsa dan bernegara tentu saja dia adalah individu yang cinta tanah air. Karakter semangat kebangsaan adalah karakter yang akan terpupuk pada saat mahasiswa mengikuti mata kuliah bahasa Indonesia. Materi-materi seputaran sejarah dan perkembangan bahasa Indonesia akan membuka wawasan mahasiswa mengenai bahasa Indonesia. Bahwa bahasa Indonesia hadir karena semangat kebangsaan yang sangat kuat pada saat para pemuda ingin memerdekakan bangsa Indonesia dari tangan penjajah. Pemikiran untuk memiliki bahasa yang dijunjung tinggi diantara banyaknya bahasa daerah tentu tidak mungkin lahir tanpa semangat kebangsaan yang kental. Dengan mengetahui sejarah diharapkan mahasiswa mampu memahami dan meneladani semangat kebangsaan para pendahulu mereka.

Bahasa Indonesia dijadikan mata kuliah pengembangan kepribadian (MPK) di setiap perguruan tinggi dengan tujuan agar para mahasiswa menjadi ilmuwan dan professional yang memiliki sikap bahasa yang positif terhadap bahasa Indonesia. Sikap bahasa yang positif terhadap bahasa Indonesia diwujudkan dengan (1) kesetiaan bahasa, yang mendorong mahasiswa memelihara bahasa nasional dan, apabila perlu, mencegah adanya pengaruh bahasa asing, (2) kebanggaan bahasa, yang mendorong mahasiswa mengutamakan bahasanya dan menggunakannya sebagai lambang identitas bangsanya, dan (3) kesasadaran akan adanya norma bahasa, yang mendorong mahasiswa menggunakan bahasanya sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku (Arifin dan Tasai, 2008: 2).

Melalui deksripsi tujuan umum mata kuliah bahasa Indonesia di atas dapat kita cermati bahwa karakter cinta tanah air adalah karakter yang melekat pada tujuan perkuliahan. Sikap positif terhadap bahasa Indonesia hanya bisa dimiliki oleh mereka yang memiliki karakter cinta terhadap tanah airnya. Kenyataan dimasyarakat memang memperlihatkan pudarnya kecintaan terhadap bahasa Indonesia, bukan karena bahasa Indonesia jelek atau kurang bagus, hanya saja arus gaya berbahasa yang diperlihatkan media masa atau media elektronik seringkali memberikan contoh yang kurang baik. Para pejabat dan tokoh publik seringkali mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing dengan alasan kelihatan lebih bergengsi dan cendekia. Hal ini sebenarnya kurang tepat, bahasa Indonesia melalui kongres bahasa dan balai bahasa sebenarnya sudah berusaha mengantisipasi konsep-konsep baru dari luar yang belum ada padanannya di dalam bahasa Indonesia. Namun, kurangnya informasi kepada masyarakat serta kurang gencarnya pemerintah menyebarluaskan kosakata baru membuat usaha ini kurang maksimal.

Sikap positif sangat krusial dalam upaya menjaga kelestarian bahasa Indonesia. Mahasiswa sebagai generas penerus seharusnya mampu memahami, sebab jika sikap positif ini luntur maka kecintaan dan kebanggaan akan bahasa persatuan juga akan pudar. Bahasa bukan sebuah hasil budaya yang kekal, bahasa bisa saja punah kalau para pemakai bahasa tidak berusaha menjaga dan melestarikan bahasa itu sendiri.

(7)

adalah tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia termasuk para mahasiswa. Tanggung jawab lain yang ditanamkan adalah tanggung jawab menggunakan bahaasa Indonesia dalam setiap tugas yang mahasiswa kerjakan. Makalah dan presentasi ilmiah yang menjadi tugas wajib mahasiswa dalam perkuliahan harus menggunakan media bahasa Indonesia. Para mahasiswa bertanggung jawab terhadap bahasa yang mereka gunakan, karena jika tidak bahasa Indonesia akan memiliki masa depan yang kurang cerah. Hal ini akan mengancam keberadaan bangsa Indonesia sebab bahasa Indonesia memiliki kedudukan penting di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedudukan bahasa Indonesia dibagi dua, pertama sebagai bahasa nasional dan kedua sebagai bahasa negara. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional didasarkan pada sumpah pemuda 1928. Sedangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara berdasarkan UUD 1945 pasal 36.

Karakter gemar membaca juga menjadi karakter yang mampu ditumbuhkan mata kuliah bahasa Indonesia. Mahasiswa dalam perjalanan pembelajaran tentu harus membaca materi dan literature mengenai bahasa Indonesia. Semakin banyak buku yang mereka baca maka secara tidak langsung memupuk kebiasaan membaca mereka. Dengan harapan buku yang mereka baca adalah buku berbahasa Indonesia. Selain dapat menambah wawasan dan memperkaya diksi, dengan membaca buku-buku berhasa Indonesia secara tidak langsung turut menjaga dan melesatarikan kelngsungan hidup bahasa Indonesia.

Dari beberapa karakter di atas yang mampu tumbuh dan berkembang saat mahasiswa mengikuti mata kuliah bahasa Indonesia tentu dapat menjelaskan mengapa hingga saat ini mata kuliah bahasa Indonesia memiliki jatah dan tempat tidak tergantikan dalam ranah keilmuah pada jenjang perguruan tinggi. Karakter-karakter lain yang tidak diuraikan di atas bukan berarti Karakter-karakter yang terpisah dan tidak mampu ikut dipupuk saat perkuliahan bahasa Indonesia. Karakter lain seperti religius, jujur, toleransif, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, cinta damai, peduli lingkungan, peduli sosial dan bertanggung jawab adalah karakter yang bisa disisipkan pada saat pemberian dan penilaian tugas. Peran pengajar atau dosen dalam hal ini sangat sentral, bagaiman dosen mampu melihat seorang mahasiswa bersikap jujur atau tidak pada saat kuliah berlangsung serta saat melakukan koreksi terhadap tugas yang dikumpulkan. Dosen harus mengingatkan kepada mahasiswa bahwa plagiat adalah perbuatan yang sangat tercela serta memiliki sanksi tegas jika dilakukan oleh mahasiswa.

Bahasa Indonesia dan Tantangan Masa Depan

Globalisasi membawa dampak positif namun juga turut membawa efek negatif kepada bangsa Indonesia. Globalisasi adalah kata serapan dari bahasa Inggris globalization. Kata globalization sendiri berasal dari kata global yang berarti universal yang kemudian mendapat imbuhan -lization yang dimaknai sebagai proses. Jadi globalisasi bisa diartikan sebagai proses penyebaran unsur-unsur baru baik berupa informasi, pemikiran, gaya hidup maupun teknologi secara mendunia.

(8)

bangsa-bangsa yang sedang berkembang lain. Ditambah lagi pada tahun 2015 kemarin era pasar bebas ASEAN (MEA) telah mulai dibuka. Hal ini semakin membuat batas-batas Negara dan waktu mulai pudar berkat kemajuan teknologi informasi.

Arus globalisasi membawa ancaman tersendiri bagi bahasa Indonesia di negaranya sendiri. Informasi dan teknologi menjadi jembatan penghubung yang mampu menepiskan jarak dan waktu untuk membawa budaya asing atau budaya luar masuk ke Indonesia. Jika hal ini tidak dipandang serius dan difilter makan akan ada kebudayaan yang dikalahkan karena terus menerus dihegemoni oleh kebudayaan lain. Efek-efek seperti culture shock, culture lag, sekulerisme dan liberalism akan mengancam nilai-nilai budaya lokal serta nasional yang selama ini coba dipertahankan, belum lagi efek dibidang kebahasaan yang sangat cepat menjalar tanpa adanya penyaringan.

Televisi, internet, serta bahan bacaan yang begitu bebasnya masuk menggunakan bahasa asing membuat pelan-pelan pemikiran bahwa bahasa asing lebih penting dibanding bahasa Indonesia mau tidak mau akan muncul. Ancaman serius ini harus bisa ditanggulangi bersama dengan komando yang tepat dari pemerintah.

Upaya melindungi bahasa Indonesia dengan menjadikannya pelajaran wajib sudah baik, namun jika tidak didukung dengan kebijakan-kebijakan lain maka tentu saja hasilnya tidak akan maksimal. Pemerintah tentu harus bekerja sama dengan merangkul semua aspek masyarakat yang terkait untuk merumuskan langkah-langkah untuk menanggulangi aspek negatif globalisasi disamping terus berusaha menyerap dan memanfaatkan aspek positif yang dibawanya.

Sebenarnya jika dicermati bahasa Indonesia dengan sendirinya membuktikan bahwa dia adalah salah satu bahasa penting yang ada di dunia. Dari sekitar 6.912 bahasa yang dituturkan di dunia (Lewis, 2009), bahasa Indonesia harus bersaing dalam upaya bertahan dari terbentuknya dunia yang tanpa batas di era globalisasi.

Penting tidaknya sebuah bahasa dilihat dari 3 aspek. Pertama aspek jumlah penutur bahasa itu sendiri. Dengan penutur sekitar 255 juta lebih secara jumlah bahasa Indonesia adalah bahasa dengan peringkat ke 7 dari daftar negar-negara dengan jumlah penutur terbanyak. Semakin banyak penutur sebuah bahasa maka semakin penting bahasa tersebut, begitu juga sebaliknya. Jumlah penutur yang besar itu juga yang membuat bahasa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi bahasa dalam skala internasional.

(9)

bukti bahwa penyebaran bahasa Indonesia termasuk sangat luas menembus batas-batas teritorial negara.

Aspek ketiga adalah aspek dipakainya bahasa tersebut sebagai sarana ilmu, budaya dan sastra. Bahasa Indonesia mampu memenuhi tuntutan sebagai sarana pengantar ilmu pengetahuan, kosakata pun terus berusaha ditambah agar dapat menyerah konsep-konsep baru yang berkembang dalam masyarakat dan ilmu pengetahuan. Belum lagi produk budaya dan sastra yang dikembangkan dalam bahasa Indonesia sejak bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa Negara dan bahasa nasional.

Ketiga aspek diatas ternyata dapat memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang penting, karena itulah usaha menjaga dan melesatarikan bahasa Indonesia harus terus dilakukan. Jangan sampai kekayaan budaya seperti bahasa lebih dihargai oleh orang asing daripada oleh masyarakat Indonesia sendiri.

Simpulan

Warga negara yang baik atau good citizen adalah pondasi untuk membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan setara dengan bangsa-bangsa besar lain di dunia. Dalam upaya membentuk warga negara yang baik salah satu caranya adalah dengan menumbuhkan manusia-manusia Indonesia yang memiliki karakter, dan bahasa memiliki peran dalam menumbuhkan karakter tersebut.

Pelajaran bahasa Indonesia menjadi menu wajib dalam setiap jenjang pendidikan di Indonesia, tidak terkecuali pada jenjang perguruan tinggi. Mata kuliah bahasa Indonesia dapat menjadi salah satu cara menumbuhkan karakter kepada para penerus bangsa, terutama di kalangan mahasiswa yang notabene generasi muda.

Pada hakikatnya 18 karakter yang dirumuskan oleh Kemendikbud pada tahun 2011 bisa diintegrasikan ke dalam mata kuliah bahasa Indonesia. Namun, ada beberapa karakter yang kuat dan mampu ditonjolan pada saat perkuliahan berlangsung. Karakter tersebut adalah disiplin, komunikatif, semangat kebangsaan dan cinta tanah air.

(10)

Daftar Rujukan

Alwi, Hasan dkk. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Arifin, E. Zainal dan S. Amran Tasai. 2009. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo.

Depdikbud. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Hurlock, Elizabeth B. 1970. Child Growth and Development. Montana: Kessinger Publishing .

Kridalaksana, Harimurti. 1985. Tata bahasa deskriptif bahasa Indonesia: Sintaksis. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Lembaga Ketahanan Nasional Indonesia. 1995. Disiplin Nasional. Jakarta: Balai Pustaka.

Lewis, M. Paul (ed.), 2009. Ethnologue: Languages of the World, Sixteenth edition. Dallas, Texas: SIL International.

Philips, Simon. 2008. Refleksi Karakter Bangsa. Jakarta: Bumi Aksara.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuji pada hipotesis pertama menunjukan bahwa relationship marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan

Pada terminal Mayang Terurai jalur kedatangan dan keberangkatan kendaraan angkutan dibuat menyatu dimana pintu masuk (entrance) terminal menjadi satu dengan pintu

Pengawasan (controlling) merupakan bagian akhir dari fungsi pengelolaan/manajemen. Fungsi manajemen yang dikendalikan adalah perencanaan, pengorganisasian, penggerakan

Berdasarkan hasil uji simultan (uji F) dari ketiga tahun tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa secara simultan dan konsisten variable independent (ROA,

Upaya peningkatan minat belajar dan prestasi belajar siswa melalui metode mendongeng dilaksanakan dengan langkah-langkah yakni (1) Pemilihan cerita yang sesuai dengan

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran kepala ruangan dalam pelaksanaan fungsi manajemen keperawatan; persepsi perawat pelaksana di ruang rawat inap di Rumah Sakit Umum

• ADH released, increasing water retention by kidneys. • Minimizes water loss,

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya, karena dengan limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat