• Tidak ada hasil yang ditemukan

Plpg Tematik Ibu Nirwan Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Plpg Tematik Ibu Nirwan Indonesia"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

A. JUDUL

“PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN BERMAIN PERAN (ROLE

PLAYING) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA SUBTEMA JENIS-JENIS PEKERJAAN”

( Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa kelas IV Semester 1 SDN Cikaro 1 Majalaya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung )

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam era globalisasi, pendidikan di tuntut untuk mampu mengikuti perkembangan jaman yang berkembang semakin cepat. Di Indonesia, masalah pendidikan mulai mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Terbukti dengan adanya peraturan perundang-undangan yang disusun guna meningkatkan kemajuan pendidikan.

Adanya UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mengujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktip mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan pengendalaian diri, kepripadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dari undang-undang tersebut jelas terlibat bahwa sasaran dari pendidikan adalah mengenali kualitas baik secara mental mupun spiritual.

(2)

menggunakan metode – metode pembelajaran tersebut yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan oleh guru ketika proses belajar mengajar berlangsung.

Dalam memberikan materi pembelajaran IPS guru harus pandai – pandai

memilah dan memilih metode yang akan digunakan, serta harus disesuaikan

dengan materi yang akan disampaikan. Penyampaian materi dengan menggunakan

metode bermain peran ( role playing ) di harapkan dapat melibatkan siswa dalam memahami materi pelajaran, serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Metode

bermain peran ( role playing ) adalah metode yang dalam pelaksanaannya peserta didik mendapat tugas dari guru untuk memerankan situasi social yang

mengandung suatu problem agar peserta didik dapat memecahkan masalah yang

muncul dari situasi social, dalam segala ( 2007, hlm 213 ). Metode bermain peran

( role playing ) memberikan pendekatan untuk melibatkan siswa dalam belajar, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa.

Beberapa faktor penyebab rendahnya hasil belajar siswa kelas IV SDN CIKARO 1 MAJALAYA dikarenakan pada subtema tersebut guru tidak menggunakan model pembelajaran, metode, strategi, media dan sebgainya guru hanya menggunakan metode ceramah dan penugaskan yang ada pada buku siswa seingga proses pembelajaran sangatlah monoton.

(3)

Role playing (bermain peran) adalah model pembelajaran yang mana di dalamnya siswa akan di tuntut untuk melakukan suatu bentuk kegiatan, layaknya bermain peran dan mereka harus berperan aktif dalam kegiatan tersebut juga memberikan pemikiran siswa seakan-akan mereka berada di luar kelas sehingga tidak guru saja yang bertindak di dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang saya maksud adalah model pembelajaran role playing.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengadakan penelitian tindakan kelas dengan judul “ PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN BERMAIN PERAN (ROLE PLAYING) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA SUBTEMA JENIS-JENIS PEKERJAAN”

C. IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik unttuk mengambil judul ini. Adapun identifikasi masalah sebagai berikut :

a. Guru tidak menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan materi. b. Pembelajaran yang diberikan kurang menarik dan kurang bermakna. c. Siswa kurang tertarik dan kurang termotivasi dalam mengikuti kegiatan

belajar di kelas.

d. Tidak tersedianya media pembelajaran.

e. Kurang melibatkan siswa dalam pembelajaran.

D. RUMUSAN MASALAH a. Rumusan Masalah

1. Secara Umum

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah diatas dapat dirumuskan masalah secara umum adalah sebagai berikut:

(4)

2. Secara Khusus

a. Bagaimana hasil belajar siswa sebelum mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan model bermain peran (Role Playing)?

b. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model bermain peran (Role Playing) pada Subtema Jenis-jenis Pekerjaan?

c. Bagaimana hasil belajar siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan model bermain peran (Role Playing)?

E. Batasan Masalah

Memperhatikan hasil identifikasi masalah, rumusan masalah dan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang telah diutarakan, diperoleh gambaran dimensi permasalahan yang begitu luas. Namun, menyadari adanya keterbatasan waktu dan kemampuan, maka dalam penelitian ini peneliti memandang perlu memberi batasan masalah secara jelas sebagai berikut:

1. Model dalam penelitian ini yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan model Bermain Peran (Role Playing).

2. Penelitian ini dibatasi pada hasil belajar siswa pada Subtema Jenis-jenis Pekerjaan.

3. Sasaran penelitian ini terhadap siswa kelas IV di SDN Cikaro 1 Majalaya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung.

F. TUJUAN PENELITIAN

a. Tujuan umum dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN CIKARO 1 MAJALAYA Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung dengan menggunakan model pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) dalam Subtema Jenis-jenis Pekerjaan.

b. Tujuan Khusus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

(5)

2. Untuk mengetahui cara pelaksanaan pembelajaran melalui model Bermain Peran (Role Playing) pada Subtema Jenis-jenis Pekerjaan.

3. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan penggunaan model Bermain Peran (Role Playing) pada Subtema Jenis-jenis Pekerjaan siswa kelas IV SDN CIKARO 1 MAJALAYA Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung.

G. Manfaat Penelitian

Hasil dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini akan memberikan

manfaat yang berarti bagi perseorangan / institusi dibawah ini :

1. Manfaat teoritis :

meningkatnya motivasi dan hasil belajar siswa Subtema

melalui penggunaan model pembelajaran Bermain Peran (Role Playing).

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas

kegiatan belajar mengajar di sekolah sehingga nantinya dapat

meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Guru :

1. Meningkatnya keterampilan guru dalam menyusun RPP

dengan model pembelajaran Bermain Peran ( Role Playing )

pada Subtema Jenis-jenis Pekerjaan untuk siswa kelas IV

SDN CIKARO 1 MAJALAYA.

2. Mengembangkan kemampuan guru dalam menerapkan model

(6)

Jenis-jenis Pekerjaan untuk siswa kelas IV SDN CIKARO 1

MAJALAYA .

3. Dapat menambah pengetahuan guru dalam penggunaan model pembelajaran yang tepat dan efektif dalam pembelajaran di kelas IV SDN CIKARO 1 MAJALAYA.

b. Bagi Siswa :

1. Meningkatnya aktifitas belajar pada pembelajaran Subtema

Jenis-jenis Pekerjaan untuk siswa kelas IV SDN CIKARO 1

MAJALAYA.

2. Meningkatnya hasil belajar siswa pada pembelajaran

Subtema Jenis-jenis Pekerjaan untuk siswa kelas IV SDN

CIKARO 1 MAJALAYA.

c. Bagi Sekolah :

1. Memberikan kesempatan dalam peningkatan kualitas

pembelajaran.

2. Dapat dijadikan metode atau acuan pembelajaran

selanjutnya dalam pembelajaran di kelas IV SD.

3. Membantu mengembangkan model pembelajaran yang

bervariasi.

d. Bagi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar :

(7)

2. Memberikan relevensi, bagi pihak peneliti yang berminat

melakukan penelitian tindakan kelas dengan

mengembangkan model pembelajaran Role Playing.

H. Definisi Operasional

Agar lebih memahami istilah dalam penelitian ini, berikut dikemukakan

beberapa definisi istilah digunakan dalam judul penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1. Belajar

Belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik kalau si subyek belajar itu mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik. Belajar sebagai kegiatan individu sebenarnya merupakan rangsangan-rangsangan individu yang dikirim kepadanya oleh lingkungan. Dengan demikian terjadinya kegiatan belajar yang dilakukan oleh seorang idnividu dapat dijelaskan dengan rumus antara individu dan lingkungan.

2. Pembelajaran

Pengertian pembelajaran yang dikemukakan oleh Miarso, 1993 (Dalam Evelyn Siregar dan Hartini Nara.2010, hlm.12) menyatakan bahwa “Pembelajaran adalah usaha pendidikan yang dilaksanakan secara sengaja, dengan tujuan yang telah di tetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan, serta pelaksanaan terkendali” mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak didik sehingga terjadi proses belajar.

(8)

3. Hasil Belajar

Mulyasa ( 2008 ) hasil belajar merupakan prestasi siswa secara

keseluruhan yang menjadi indicator kompetensi dan derajat perubahan perilaku

yang bersangkutan. Kompetensi yang harus dikuasai siswa perlu dinyatakan

sedemikian rupa agar dapat dinilai sebagai wujud hasil belajar siswa yang

mengacu pada pengalaman langsung.

4. Bermain Peran ( Role Playing )

Pengertian bermain peran adalah salah satu bentuk pembelajaran, dimana peserta didik ikut terlibat aktif memainkan peran-peran tertentu. Bermain pada anak merupakan salah satu sarana untuk belajar. Melalui kegiatan bermain yang menyenangkan, anak berusaha untuk menyelidiki dan mendapatkan pengalaman yang kaya, baik pengalaman dengan dirinya sendiri, orang lain maupun dengan lingkungan di sekitarnya.

Role playing atau bermain peran adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield, 1986). Dalam role playing murid dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas. Selain itu, role playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain (Basri Syamsu, 2000).

I. KAJIAN TEORI 1. Definisi Model

(9)

Pembelajaran Ada beberapa ciri-ciri model pembelajaran secara khusus diantaranya adalah :

a. Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya.

b. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar.

c. Tingkah laku mengajar yang diperlukanagar model tersebut dapat dilaksanakandengan berhasil.

d. Lingkungan belajar yang duperlukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Teori Model Pembelajaran menurut para ahli :

1. Model pembelajaran menurut Kardi dan Nur ada lima model pemblajaran yang dapat digunakan dalam mengelola pembelajaran, yaitu: pembelajaran langsung; pembelajaran kooperatif; pembelajaran berdasarkan masalah; diskusi; dan learning strategi.

2. Menurut Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega (1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.

3. Menurut Toeti Soekamto dan Winataputra (1995:78) mendefinisikan ‘model pembelajaran’ sebagai kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar bagi para siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.

(10)

sebagai acuan pada kegiatan perancangan kegiatan yang sistematik dalam mengkomunikasikan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.

2. Definisi Model Bermain Peran

Model pembelajaran bermain peran menurut R. Ibrahim dan Nana Syaodih

(1996, hlm.107) bahwa : metode bermain peran ( Role Playing ) merupakan

metode yang sering digunakan nilai – nilai dan memecahkan masalah – masalah

yang di hadapi dalam hubungan social dengan orang – orang dilingkungan

keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalam melaksanakannya siswa – siswi di

beri berbagai peran tertentu dalam melaksanakan peran tersebut, serta

mendiskusikan kelas.

Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan.

(11)

menguasai apa yang mereka pelajari (Boediono, 2001). Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa adanya aktivitas, maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi.

3. Karakteristik Model Bermain Peran

Hapidin (dalam Kartini, 2007) menyatakan bahwa dalam model ini anak

diberi kesempatan untuk mengembangkan imajinasinya dalam memerankan

seorang tokoh atau benda-benda tertentu dengan mendapat ulasan dari guru agar

mereka menghayati sifat-sifat dari tokoh atau benda tersebut. Dalam bermain

peran, anak diberi kebebasan untuk menggunakan benda-benda sekitarnya dan

mengkhayalkannya jika benda tersebut diperlukan dalam memerankan tokoh yang

dibawakan. Contoh kegiatan ini misalnya anak memerankan bagaimana Bapak

Tani mencangkul sawahnya, bagaimana kupu-kupu yang menghisap madu bunga,

bagaimana gerakan pohon yang ditiup angin, dan sebagainya. Baroro (2011)

dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa dalam role playing peserta didik dituntut dapat menjadi pribadi yang imajinatif, mempunyai prakarsa, mempunyai

minat luas, mandiri dalam berfikir, ingin tahu, penuh energi dan percaya diri.

Nursid Sumaatmadja (dalam Kartini, 2007) juga menyatakan bahwa metode

bermain peran sangat difokuskan pada kenyataankenyataan yang terjadi di

lingkungan masyarakat. Metode ini berhubungan dengan penghayatan suatu

peranan sosial yang dimainkan anak di masyarakat. Basri Syamsu (dalam Santoso,

2011) menyatakan bahwa dalamrole playing murid dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas,

(12)

dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan

dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain. Murid

diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan

praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab dalam bahasa Inggris) bersama

teman-temannya pada situasi tertentu. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang

berpusat pada diri murid (Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal

Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Santoso, 2011).

4. Faktor pendorong dan penghambat metode bermain peran ( Role Playing )

a. Faktor pendorong metode bermain peran ( Role Playing )

1) Siswa melatih dirinya untuk melatih, memahami, dan mengingat isi bahan yang

akan didramakan. Sebagai pemain harus memahami, menghayati isi cerita secara

keseluruhan, terutama untuk materi yang harus diperankannya. Dengan demikian,

daya ingatan siswa harus tajam dan tahan lama.

2) Siswa akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif. Pada waktu main drama

para pemain dituntut untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan waktu

yang tersedia.

3) Bakat yang terdapat pada siswa dapat dipupuk sehingga dimungkinkan akan

muncul atau tumbuh bibit seni drama dari sekolah. Jika seni drama

4) Mereka dibina dengan baik kemungkinan besar mereka akan menjadi pemain

(13)

5) Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan

sebaik-baiknya.

6) Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggungjawab

dengan sesamanya.

7) Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah

dipahami orang lain.

b. Faktor penghambat metode bermain peran ( Role Playing )

1) Waktu

Waktu yang dibutuhkan dalam pembelajarn apresiasi drama dengan

strategi ini lebih lama dibandingkan dengan pembelajaran lainnya. Apalagi bagi

siswa yang masih awam tentang bermain peran/ drama. Mereka membutuhkan

waktu untuk menghafalkan dialog-dialog teks drama yang akan diperankan;

2) Materi/ bahan

Materi yang dibutuhkan dalam pembelajaran ini masih sangat terbatas. Di

perpustakaan sekolah buku-buku, majalah, yang ada hubungannya dengan

pembelajaran apresiasi drama masih sedikit. Hal ini sangat menghambat

(14)

3) Guru,

Kurangnya pengetahuan guru tentang drama, sehingga pembelajaran drama

menjadi tidak menarik. Bahkan cenderung terkesan diabaikan, hanya sekedar

teori. Sedangkan pelaksanaan/ praktek bermain drama masih sangat kurang;

4) Siswa,

Siswa kurang memahami tentang bermain drama. Kurangnya keberanian

dalam memerankan seorang tokoh. Mereka masih cenderung menghafalkan saja,

sehingga penjiwaannya kurang.

c. Langkah – langkah pembelajaran model Bermain Peran

Djumingin (2011: 174) menyatakan bahwa sintak dari model pembelajaran

ini adalah: guru menyiapkan skenario pembelajaran; menunjuk beberapa siswa

untuk memelajari skenario tersebut; pembentukan kelompok siswa; penyampaian

kompetensi; menunjuk siswa untuk melakonkan skenario yang telah dipelajari;

kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon; presentasi hasil

kelompok; bimbingan penyimpulan; dan refleksi. Secara lebih lengkap, berikut

langkah-langkah sistematisnya:

1. Guru menyuruh menyiapkan skenario yang akan ditampilkan.

2. Guru menunjuk beberapa siswa untuk memelajari skenario yang sudah

dipersiapkan dalam beberapa hari sebelum kegiatan belajar-mengajar;

3. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya lima orang;

(15)

5. Guru memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan

skenario yang sudah dipersiapkan;

6. Setiap siswa berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang

sedang diperagakan;

7. Setelah selesai ditampilkan, setiap siswa diberikan lembar kerja untuk

membahas penampilan kelompok masing-masing;

8. Setiap kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya;

9. Guru memberikan kesimpulan secara umum;

10. Evaluasi;

11. Penutup.

4. Definisi Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004 : 22). Sedangkan menurut Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana membagi tiga macam hasil belajar mengajar : (1). Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan dan pengarahan, (3). Sikap dan cita-cita (Sudjana, 2004 : 22).

(16)

tes dapat dapat digunakan untuk mengukur atau menilai hasil belajar di bidang afektif dan psikomotorik (Sudjana, 2005).

Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku setelah melalui proses belajar mengajar mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil belajar dapat diketahui dengan melakukan penilaian-penilaian tertentu yang menunjukkan sejauh mana kriteria-kriteria penilaian telah tercapai. Penilaian ini dilakukan dengan memberikan tes.

5. Karakteristik

Karakteristik hasil belajar siswa yaitu adanya perubahan tingkah laku dalam

diri individu. Artinya seseorang yang telah mengalami proses belajar itu akan

berubah tingkah laku nya. Tetapi tidak semua perubahan tingkah laku adalah hasil

belajar. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa:

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu :

a) Faktor dari dalam diri siswa, meliputi kemampuan yang dimilikinya,

motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar,

ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis.

b) Faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan, terutama

kualitas pengajaran.

1. Tema Pembelajaran Tematik Pada Kurikulum 2013

(17)

seluruh mata pelajaran. Kompetensi dari berbagai mata pelajaran diintegrasikan ke dalam berbagai tema.

Pada kurikulum 2013 untuk SD/MI masing-masing kelas akan disediakan banyak tema. Umumnya tiap tingkatan kelas mempunyai delapan tema berbeda. Tema yang sudah dipilih itu harus selesai diajarkan dalam jangka waktu satu tahun. Guru diberi kewenangan untuk memilih teknis pengajaran maupun durasi pembelajaran satu tema.

Metode tematik ini mengintegrasikan sikap, keterampilan dan pengetahuan dalam proses pembelajaran. Selain itu, sebuah tema juga mengintegrasikan konsep dasar yang saling berkaitan. Siswa tidak belajar konsep dasar secara parsial, sehingga memberikan makna yang utuh kepada siswa seperti tercermin pada berbagai tema.

J. HASIL PENELITIAN TERDAHULU

JUDUL : PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ROLE

PLAYING TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA SISWA KELAS V SD NEGERI 1 PARDASUKA KATIBUNG LAMPUNG SELATAN TAHUN AJARAN 2015/2016

PENULIS : SELVY WULAN KHOIRUNNISA

(18)

data diperoleh simpulan bahwa ada pengaruh penggunaan model role playing terhadap keterampilan berbicara siswa kelas V SD Negeri 1 Pardasuka. Hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata keterampilan berbicara siswa yang mengikuti pembelajaran bahasa Indonesia fokus berbicara menggunakan model role playing pada kelas eksperimen (VA) yaitu 78,69 lebih tinggi dari nilai rata-rata keterampilan berbicara siswa yang mengikuti metode pembelajaran ceramah pada kelas kontrol (VB) yang hanya mendapat nilai 63,92.

K. KERANGKA PEMIKIRAN

Penelitian ini di lakukan berdasarkan kondisi awal dengan menerapkan

pembelajaran konvensional. Dari hasil observasi kondisi awal peserta didik seperti

dijelaskan dalam latar belakang diketahui peserta didik pasif, antusiasme belajar

rendah dan guru mendominasi kegiatan. Selain itu pencapaian KKM belum

maksimal. Hal ini terlihat dari pengamatan yang dilakukan nampak peserta didik

pasif, antusiaasme belajar rendah dan guru mendominasi kegiatan. Oleh karena

(19)

Kerangka berpikir pada penelitian tindakan kelas

L. ASUMSI DAN HIPOTESIS PENELITIAN

1. Asumsi

Dalam pembelajaran kebanyakan masih berorientasi pada guru dengan mengandalkan bahan ajar dari buku saja tanpa adanya penggunaan media yang

Pemantapan penelitian Ide Awal Kondisi awal

1. Proses pembelajaran tidak

2. Pelaksaan pembelajaran model Role playing

- Membentuk anggotanya 5 orang sebagai penjual dan sebagai pembeli

- Siswa mempelajari sekenario

- Masing – masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya yaitu kelompok guru, dokter, dan polisi

(20)

lain sebagai penunjang keberhasilan pembelajaran di kelas. Selain itu, dalam penyampaian materi hanya menggunakan metode ceramah, diamana siswa hanya duduk mencatat dan mendengarkan apa yang di sampaikan oleh guru tanpa adanya keterlibatan langsung dengan siswa. Sehingga siswa menjadi pasif dan kurang memahami apa yang di sampaikan guru.

Metode pembelajaran sangat berguna bagi pendidik untuk menentukan apa yang harus dilakukan dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) dalam pembelajaran merupakan salah satu langkah yang dilakukan untuk memperbaiki pola pembelajaran yang monoton dan tidak bermakna sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan keaktifan peserta didik saat belajar di kelas.

2. Hipotesis

Berdasarkan asumsi diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis dalam penelitian ini adalah “ Jika Model Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing) dapat diterapkan pada Subtema maka hasil belajar siswa akan meningkat”.

M. METODE DAN DESAIN PENELITIAN 1. Metode Penelitian

(21)

Secara umum tujuan dari penelitian tindakan kelas adalah untuk memecahkan permasalahan yang timbul di kelas, yang fokus utamanya adalah tindakan-tindakan yang akan dilakukan sebagai alternatif pemecahan masalah, kemudian diuji cobakan dan di evaluasi untuk mengetahui apakah tindakan tersebut mampu memecahkan masalah yang ada ataukah tidak ada peningkatan sama sekali. Pendapat Borg (Arikunto, dkk., 2007:107) bahwa penelitian tindakan kelas tujuan utamanya ialah pengembangan keterampilan proses pembelajaran yang dihadapi oleh guru kelasnya, bukan bertujuan untuk pencapaian pengetahuan umum dalam bidang pendidikan. Memahami metode dalam penelitian tindakan kelas dan melaksanakannya dengan baik diharapkan dapat meningkatkan kualitas guru sebagai agent of change dalam dunia pendidikan, sehingga dengan kualitas guru yang memadai akan meminimalis permasalahan yang ada di sekolah secara umum dan kelas secara khusus.

2. Desain Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini mengadaptasi model penelitian menurut Kemmis dan Taggart yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Lebih lanjut dijelaskan:

Desain Kemmis ini menggunakan model yang dikenal sistem spiral refleksi diri yang dimulai dari rencana, tindakan, pengamatan, refleksi, dan perencanaan kembali merupakan dasar untuk suatu ancang-ancang pemecahan permasalahan (Hermawan,et al. 2007:127).

(22)

N. SUBJEK DAN OBJEK PENELITIAN a. Subjek Penelitian

Subjek yang diambil oleh peneliti adalah siswa di Kelas III Sekolah Dasar

Negri Cikaro 1 Majalaya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung, dengan

jumlah 35 orang yang terdiri dari 17 siswa laki – laki dan 18 siswa perempuan.

b. Objek Penelitian

Lokasi tempat penulis mengadakan penelitian adalah di Kelas IV SDN

CIKARO 1 MAJALAYA Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung pada

semester II tahun pelajaran 2017 / 2018.

O. TEKNIK PENGUMPULAN DATA DAN INSTRUMEN PENELITIAN

1. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah metode atau prosedur sistematis yang digunakan peneliti untuk memperoleh data atau informasi yang diperlukan dalam penelitian. Data yang dikumpulkan dalam penelitian digunakan untuk menjawab pertanyaan masalah penelitian yang telah di rumuskan. Data-data tersebut diperoleh melalui observasi, hasil tes belajar siswa, lembar kerja peserta didik.

a. Observasi

Observasi terhadap peserta didik dilakukan untuk mengetahui aktivitas

peserta didik selama proses pembelajaran dengan menggunakan metode bermain

peran. Aspek – aspek yang diamati yaitu kerjasama dalam kelompok, keaktifan,

(23)

b. Wawancara

Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak dengan

maksud tertentu ( Moleong 2004 : 135 ). Tujuan wawancara peneliti dengan

peserta didik adalah untuk mengetahui pendapat peserta didik tentang

pembelajaran yang telah dilakukan dan untuk mengetahui kesulitan – kesulitan

yang dihadapi peserta didik pada saat pembelajaran berlangsung.

c. Lembar Kerja Peserta Didik (LKS)

LKS dibuat untuk mengaktifkan peserta didik dalam memproduksi dan

mengkontruksi pengetahuannya. LKS diberikan pada saat kegiatan kelompok

dengan tujuan dapat dikerjakan bersama – sama oleh setiap anggota kelompok.

Dengan bekerja sama maka peserta didik dapat secara otimal mempergunakan

pengetahuan, sikap dan psikomornya dalam menghadapi suatu masalah.

2. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian disusun sebagai alat pengumpulan data penelitian. Dengan demikian, peneliti dapat memperoleh kebenaran yang akurat dalam pengumpulan data sesuai dengan permasalahan dalam penelitian. Instrumen penelitian ini terdiri dari: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), tes tertulis, lembar pengamatan, lembar waancara, lembar observasi, dan lembar kerja sswa.

a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Sebelum pelaksanaan, peneliti membuat skenario pembelajaran atau rencana pelaksanaan pembelajaran. Tujuannya untuk indikator pencapaian hasil belajar siswa.

b. Tes Tertulis

(24)

sama. Sedangkan kelemahannya yaitu jika tidak menggunakan bahasa yang luas dan tegas, hal itu akan mengandung pengertian ganda.

c. Lembar Pengamatan

Yaitu pengamatan yang dilakukan secara langsung pada saat proses belajar mengajar di kelas. Pengamatan dilakukan dengan cara melihat, mengamati dan mengawasi perilaku siswa.

d. Lembar Wawancara

Yaitu wawancara komunikasi langsun antara yang mewawancarai dan yang di wawancarai atau narasumber. Tujuan wawancara yaitu untuk memperoleh informasi guna menjelaskan suatu situasi dan kondisi tertentu serta untuk melengkapi suatu penyelidikan ilmiah dan memperoleh data.

e. Lembar Observasi

Lembar observasi digunakan untuk mengukur kualitas dan kesesuaian pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan rencana yang telah di susun.

f. Lembar Kerja Siswa (LKS)

Digunakan untuk pelaksanaa pembelajaran secara berkelompok sebagai panduan dalam praktek siswa terhadap penggunaan model pembelajaran Bermain Peran (Role Playing).

P. TEKNIK ANALISIS DATA Analisis Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa, teman ( sesama pengajar ),

Kepala sekolah, dan Komite sekolah. Sedangkan dalam pengumpulan data

digunakan teknik operasional langsung ( peneliti senidiri sekaligus pengajar ), tes

(25)

Q. PROSEDUR PENELITIAN

Dalam model penelitian tindakan kelas, langkah pertama yang harus

dilakukan adalah melakukan perencanaan tindakan, misalnya membuat sekenario

pembelajaran, lembar observasi dan lain – lain . kemudian langkah selanjutnya

adalah pelaksanaan tindakan. Langkah – langkah yang dilakukan dalam penelitian

ini terbagi menjadi 4 tahap yaitu :

1. Tahap Perencanaan Tindakan

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan tindakan adalah sebagai

berikut :

a. Pendekatan kepada kepala sekolah agar memberikan ijin dan

kesempatan untuk melaksanakan kegiatan penelitian.

b. Peneliti melihat proses pembelajaran di kelas IV sebelum

melaksanakan penelitian.

c. Peneliti berdiskusi dengan guru kelas IV SDN Cikaro 1 Majalaya,

untuk menggunakan metode Bermain Peran ( Role Playing ) dalam proses pembelajaran berdasarkan hasil penelitian yang telah

dilakukan.

d. Setelah mencapai kesepakatan peneliti menyusun rencana

pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode

pembelajaran Bermain Peran ( Role Playing )

e. Peneliti menyiapkan instrumen pengumpulan data untuk digunakan

(26)

kerja siswa ), lembar observasi, dan lembar wawancara ( guru dan

peserta didik ).

f. Menetapkan cara pelaksanaan refleksi.

2. Tahap Pelaksanaan Tindakan

Kegiatan pada tahap ini adalah pelaksanaan kegiatan pembelajaran seperti

yang dilakukan guru sehari – hari. Tahap pelaksanaan tindakan ini yaitu

pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode Bermain Peran

dalam pembelajaran Subtema Jenis-jenis Pekerjaan kelas IV SDN CIKARO 1

MAJALAYA yang pelaksanaan tindakannya terdiri atas 2 siklus.

Siklus I

a. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan

metode ( Role Playing ) Bermain Peran.

b. Melaksanakan Prosedur pembelajaran dengan menerapkan metode

( Role Playing ) Bermain Peran.

c. Melakukan observasi keefektifan penerapan metode ( Role Playing ) Bermain Peran yang dilakukan peneliti, guru yang menjadi observer dalam meningkatkan kemampuan peserta didik

dalam pembelajaran.

d. Memberikan penghargaan kepada peserta didik pada saat proses

pembelajaran maupun setelah pembelajaran.

e. Menganalisis data hasil belajar yang diperoleh dari hasil observasi

mengenai proses dan hasil pembelajaran untuk merencanakan

(27)

f. Melakukan kegiatan refleksi siklus I untuk memperbaiki dan

merancang pembelajaran menggunakan metode ( Role Playing ) Bermain Peran untuk pelaksanaan pada siklus II.

Siklus II

a. Mencari faktor yang menjadi penghambat dalam proses

pembelajaran berdasarkan hasil evaluasi refleksi pada siklus I

b. Memperbaiki proses pembelajaran agar kecurigaan dan

penghambat yang ada pada siklus I tidak terjadi.

c. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan

( Role Playing ) Bermain Peran dengan menambahkan gambar – gambar yang sesuai dengan materi pembelajaran.

d. Melaksanakan prosedur pembelajaran sesuai dengan rencana

pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat dengan menggunakan

( Role Playing ) Bermain Peran.

e. Melakukan observasi keefektifan penerapan metode ( Role Playing ) Bermain Peran yang dilakukan peneliti, guru yang menjadi observer dalam meningkatkan kemampuan peserta didik

dalam pembelajaran.

f. Memberikan penghargaan kepada peserta didik pada saat proses

pembelajaran maupun setelah pembelajaran.

g. Menganalisis data hasil belajar yang di peroleh dari hasil observasi

mengenai proses dan hasil pembelajaran untuk merencanakan

(28)

h. Jika pada siklus II sudah berhasil maka tidak perlu melaksanakan

tindakan selanjutnya.

3. Observasi

Kegiatan Observasi dilakukan secara bersamaan dengan pelaksanaan tindakan,

hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kinerja guru dan keterlibatan

peserta didik dalam pembelajaran serta mengumpulkan atau merekan data dan

membuat catatan lapangan mengenai hal – hal yang terjadi selama proses

pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan oleh observer yakni guru kelas

IV.

4. Refleksi

Adapun langkah – langkah dari kegiatan refleksi ini adalah sebagai berikut :

a. Analisis, sintesis dan interprestasi terhadap semua informasi yang

diperoleh dari pelaksanaan tindakan

b. Melakukan evaluasi terhadap keberhasilan dan pencapaian tujuan

tindakan.

c. Memperbaiki proses pembelajaran yang telah dilakukan dan pelayanan

pembelajaran secara berkelanjutan.

Dengan kegiatan refleksi seperti ini, para pelaku ( peneliti, praktisi ) yang terlibat

dalam kegiatan penelitian tindakan mempunyai banyak kesempatan untuk

(29)

R. JADWAL PENELITIAN

N o

Kegiatan

2017

Februari Maret April Mei Juni Juli

1 2 3 1 2 3 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3

1

Penyusunan Proposal

2 Ujian

Proposal

3

Menyusun Instrumen Penelitian

4

Melakukan Penelitian

5

Penyusunan Skripsi

6

Melaksanaka n Ujian

Sidang Skripsi

(30)

Iskandar,Dadang dan Narsim. 2015. Penelitian Tindakan Kelas. Ihya Media. Kusbolah, K. 1999. Penelitian Tindakan Kelas. Depdigbud. Malang.

Segala, S.( 2007 ). Konsep dan Makna Pembelajaran. Alfabeta. Bandung.

Suradisastra,D,dkk. ( 1991/1992 ). Pendidikan IPS III. Depdigbud. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kerja

Kependidikan Jakarta.

Gambar

Gambar Model PTK Menurut Kemmis dan Mc.Taggart

Referensi

Dokumen terkait

Secara umum dari hasil pengujian dapat diketahui bahwa sistem identifikasi citra cabai menunjukkan tingkat akurasi yang paling tinggi adalah 93 % pada ukuran citra

[r]

Adapun permasalahan yang di tetapkan dalam penulisan skripsi mengenai Pembatalan Hak Sewa Bangunan Oleh Ahli Waris Terhadap Ruko Yang Dibangun Di Atas Tanah Milik Orang Lain (Studi

[r]

PENERAPAN PENDEKATAN OPEN ENDED UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA MATERI BANGUN RUANG.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Hubungan Intensitas Getaran Dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) Pada Tenaga Kerja Unit Produksi Paving Block CV.. Sumber Galian

Tabel 4.3 Data Hasil Observasi Kinerja Guru Tahap Pelaksanaan Pada Siklus I

“ Permainan Dadu Narasi”, diharapkan 8 8% siswa mencapai semua KKM. Kriteria aspek penilaian dalam menulis cerita narasi berdasarkan gambar seri yakni skor dua untuk