DAFTAR ISI
Halaman Sampul………...…….…i
Daftar isi……….ii
Kata Pengantar………..……...iii BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 1 C. Tujuan Masalah 2
D. Manfaat Makalah………....2 BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Morfologi 3 2.2 Pengertian Kata 4
2.3 Proses Pembentukan Verba Bahasa Jawa 5 BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 15 B. Saran 15
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul “Morfologi Bahasa Jawa”. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas kelompok mata kuliah Pembelajaran Bahasa Jawa SD.
Kami sebagai penulis menyadari masih adanya kekurangan dalam penulisan makalah ini. Sehingga kami sangat mengharapkan adanya masukan, kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sebagai upaya untuk menyempurnakan makalah ini.
Tak lupa kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaikan makalah ini:
1. Ibu Henny Kusuma W.,M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah ini yang telah memberikan arahan dalam penulisan makalah ini.
2. Rekan-rekan yang telah memberikan dukungan dan motivasi.
3. Kepada semua pihak yang turut membantu dalam penulisan makalah ini yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.
Pada akhirnya hanya kebahagiaan yang dapat kami sampaikan apabila makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi semua pembaca pada umumnya.
Madiun, 31 Oktober 2017
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Morfologi pada dasarnya memiliki arti yaitu suatu sistem pengkajian kata. Dari objek kajiannya, morfologi memiliki kajian yang mencakup kata, bagian-bagian kata dan pembentukan kata (Kridalaksana 1992:6). Dalam hal ini kata adverbia adalah salah satu kategori kata yang cukup rumit untuk diketahui karena sulit dalam menentukan identitas atau kejati-dirian kata tersebut. Dalam bahasa Jawa kata adverbia dapat ditentukan sebagai kata yang memberi keterangan pada adjektiva , verba, nomina predikatif atau nomina yang menempati predikat dalam kalimat.
Menurut fungsinya, kata adverbia biasanya memberi keterangan kepada kata kerja, kata sifat, kata adverbia itu sendiri dan kepada seluruh klausa yang dijajarinya. Sedangkan menurut artinya kata adverbia biasanya berarti keterangan tentang cara suatu perbuatan terjadi, bagaimana kata sifat terjadi, kata adverbia terjadi dan suatu klausa terjadi. Selain itu juga sebagai pemberi keterangan tempat, waktu dan tingkat kejadian sesuatu. Maka dapat disimpulkan bahawa kata adverbia adalah kata yang menerangkan tentang cara, frequensi, waktu, atau tempat suatu kata kerja, kata sifat kata adverbia atau suatu klausa. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dipaparkan beberapa materi guna mempermudah dalam penganalisisan kategori kata adverbia. Seperti halnya kategori yang lain, kata adverbia memiliki tiga satuan analisis yaitu dengan melalui kajian morfologis, kajian sintaksis dan kajian semantik.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari morfologi? 2. Apa pengertian proses morfologi?
4. Bagaimana proses pembentukan verba dalam bahasa Jawa?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari morfologi 2. Untuk mengetahui pengertian proses morfologi
3. Untuk mengetahui pengertian kata dan jenis-jenis kata dalam bahasa Jawa 4. Untuk mengetahui proses pembentukan verba dalam bahasa Jawa
D. Manfaat
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Morfologi
Morfologi ialah cabang kajian linguistik (ilmu bahasa) yang mempelajari tentang bentuk kata, perubahan kata, dan dampak dari perubahan itu terhadap arti dan kelas kata (Mulyana, 2007 : 6). Ramlan (1987 : 21) menjelaskan morfologi sebagai bagian dari ilmu bahasa yang bidangnya menyelidiki seluk-beluk bentuk kata, dan kemungkinan adanya perubahan golongan dari arti kata yang timbul sebagai akibat perubahan bentuk kata. Golongan kata sepeda tidak sama dengan golongan kata bersepeda. Kata sepeda termasuk golongan kata nominal, sedangkan kata bersepeda termasuk golongan kata verbal. Menurut Verhaar (dalam Nurhayati, 2001 : 1) morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Pengertian lain menyatakan bahwa morfologi adalah cabang linguistik yang membicarakan atau mengidentifikasi seluk beluk pembentukan kata (Nurhayati, 2001 : 2). Berdasarkan beberapa pendapat tentang pengertian morfologi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari seluk-beluk pembentukan kata, pengaruh perubahan kata terhadap arti dan kelas kata, serta mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan-satuan gramatikal.
2.2 Pengertian Proses Morfologi
melalui suatu proses, yaitu proses afiksasi, proses pengulangan, dan proses pemajemukan. Dalam pembentukan kata kerja, proses morfologi yang terjadi adalah afiksasi dan reduplikasi. Proses pemajemukan tidak membentuk kata kerja.
2.2 Pengertian Kata
Nurlina, dkk. (2004: 8), menyebutkan kata (word), yaitu satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem. Menurut Chaer (1994: 162), kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian ; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti. Kata dapat juga disebut morfem bebas. (Ramlan, 1987 : 33) menyatakan bahwa kata merupakan dua macam satuan, ialah satuan fonologik dan satuan gramatik. Sebagai satuan fonologik, kata terdiri dari satu atau beberapa suku, dan suku itu terdiri dari satu atau beberapa fonem. Dari penuturan diatas dapat disimpulkan bahwa kata merupakan satuan terbesar dari morfologi. Menurut (Tarigan, 1985 : 19) kata terbagi menjadi dua macam, yaitu kata dasar dan dasar kata. Kata dasar adalah satuan terkecil yang menjadi asal atau permulaan sesuatu kata kompleks. Dasar kata adalah satuan, baik tunggal maupun kompleks, yang menjadi dasar pembentukan bagi satuan yang lebih besar atau kompleks. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan pengertian kata adalah satuan bebas yang dibatasi oleh spasi pada kedua sisinya yang mempunyai arti.
Menurut Suhono dan Padmosoekotjo (dalam Mulyana, 2007: 49), pada umumnya, jenis kata dalam bahasa Jawa dibagi menjadi 10 macam. Jenis-jenis tersebut adalah sebagai berikut.
a. Tembung aran/benda/nomina/noun (kata yang menjelaskan nama barang, baik kongkrit maupun abstrak). Contoh : meja, roti
b. Tembung kriya/kerja/verba/verb (kata yang menjelaskan atau bernosi perbuatan, pekerjaan). Contoh : turu = tidur, mangan = makan
c. Tembung katrangan/keterangan/adverbia/adverb (menerangkan predikat atau kata lainnya). Contoh : wingi = kemarin, during = belum d. Tembung kaanan/keadaan/adjektiva/adjective (menerangkan keadaan suatu benda/lainnya). Contoh : ayu, ijo = hijau , jero = dalam
f. Tembung wilangan/bilangan/numeralia (menjelaskan bilangan). Contoh : telu= tiga, selawe = duapuluh lima
g. Tembung panggandheng/sambung/konjungsi/conjuction (menyambung kata dengan kata). Contoh : lan = dan , karo = dengan
h. Tembung ancer-ancer/depan/preposisi/preposition (kata yang
mengawali kata lain, bernosi memberikan suatu tanda terhadap asalusul, tempat, kausalitas). Contoh : ing = di, saka = dari
i. Tembung panyilah/sandang/artikel (menerangkan status dan sebutan orang/binatang/lainnya). Contoh : Sang, Si, Hyang
j. Tembung panguwuh/penyeru/interjeksi (bernosi satuan, ungkapan verbal bersifat emotif). Contoh : lho, adhuh, hore, dsb.
2.3 Proses Pembentukan Verba Bahasa Jawa
Kata kerja adalah kata yang menerangkan suatu pekerjaan atau aktivitas. Dalam struktur kalimat, kata kerja menduduki fungsi predikat dan secara umum bersifat aktif dan pasif. Setyanto (2007 : 101) menambahkan bahwa, kata kerja yang telah berubah dari bentuk dasarnya dengan cara diberi ater-ater, seselan, panambang, dan sebagainya. Verba deadjektival merupakan verba yang berasal dari adjektiva setelah melalui proses morfemis menghasilkan kata yang berkategori verba (Kridalaksana, 2001: 57). Disebutkan oleh Endang Nurhayati dan Siti Mulyani (2006: 120) bahwa sipat = sifat menjelaskan sifat benda misalnya anteng dan braok.
Contoh verba deadjektival: (1) ngalusake → memperhalus (2) nuntumake → mengikat
Berikut adalah pola pembentukan verba deadjektival bahasa Jawa yang melalui proses morfologis.
1. Afiksasi
Proses afiksasi terdiri dari prefiks, infiks, sufiks, konfiks dan afiks gabung. Masing-masing proses perubahannya adalah:
a. Prefiks (awalan)
Prefiks adalah afiks yang ditambahkan di awal kata. Prefiks pembentuk verba terdiri dari {N-}, {di-/-dipun}, {tak-/dak-}, {kok-/mbok-}, {ka-}, {ke-}, {a-}, {ma-/me-}, {mer}, {kuma-}, dan {kapi-} Contoh prefiks pola pembentukan verba deadjektival bahasa Jawa (Wedhawati, 2006 : 106-144):
1. di + adjektiva
Verba bentuk di- memiliki varian verba bentuk dipun-. Contoh:
{di-} + abang = diabang “dibuat menjadi merah” 2. tak + adjektiva
Verba bentuk tak- memiliki varian verba bentuk dak-. Contoh:
{dak-} + isis = dakisis “menyatakan perbuatan yang dilakukan oleh orang pertama tunggal”
3. N + adjektiva Contoh:
(a) {ny-} + cedhak = nyedhak “berbuat menjadi dekat” (b) {ng-} + adoh = ngadoh “berbuat menjadi jauh” (c) {ng-} + edan = ngedan “berbuat menjadi gila” b. Infiks (sisipan)
–um- + adjektiva Contoh:
a. {-um-} + bagus = gumagus berlagak sebagaimana dinyatakan oleh bentuk dasar
b. {-um-} + sugih = sumugih berlagak sebagaimana dinyatakan oleh bentuk dasar
-in- + adjektiva Contoh :
a. {-in-}+ cukur = cinukur “dicukur” b.{-in} + sawang = sinawang “melihat” c. Sufiks (-akhiran)
Sufiks adalah afiks yang ditambahkan di akhir kata. Sufiks pembentuk verba terdiri dari {-i}, {ake}, {-a}, {-en}, (-na}, dan {-ana} Contoh sufiks pola pembentukan verba deadjektival bahasa Jawa (Wedhawati, 2006 : 106-144):
(1) adjektiva + a Contoh:
a). apik + {-a} = apika “meskipun bagus” b). elek + {-a} = eleka “meskipun jelek” (2) adjektiva + na
Contoh:
(a) amba + {-na} = ambakna, “perintah kepada mitra tutur untuk bertindak memperluas (bagi orang lain)”
(b) banter + {-na} =banterna, “meskipun melakukan memperkeras” Misalnya :Banterna suwarane tetep wae ora bakal krungu.
(c) panas + {-na} = panasna “seandainya melakukan memanaskan” Misalnya : Mau kumbahane panasna rak ya wes garing.
(3) adjektiva + ana Contoh:
Resik + {-ana} = resikana “jadikanlah subjek (bersih) sebagai sasaran tindakan‟
(4) adjektiva + (a)ke
Contoh:
Amba + {ake} = ambakake “melakukan perbuatan memperluas” misalnya: Dalane ambakke!
(5) Adjektiva + i
Verba bentuk -i memiliki varian verba bentuk –ni karena pengaruh fonem akhir bentuk dasar.
Contoh : Resik + {-i} = resiki “melakukan tindakan menjadi bersih” misalnya: Resiki mejane!
d. Konfiks
Konfiks adalah bergabungnya dua afiks di awal dan di akhir yang dilekatinya secara bersamaan. Konfiks pembentuk verba terdiri atas {N-/-i}, {N-/-ake}, {N-/-a}, {mi-/-i}, {tak-/-i}, {tak-/-ake}, {tak-/-e}, {tak-/-ne}, {tak-/-ane}, i}, {kok-/-ake}, {di-/-i}, {di-/-{kok-/-ake}, {di-/-ana}, {ka-/an}, {ke-/-a}, {ka-/-ana}, {ka-/-na}, {ka-/-ake}, {kami-/-en}, {-in-/-an}, {-in-/-ake}, {-in-/-ana} dan {-in-/-na}. Contoh konfiks pola pembentukan verba deadjektival bahasa Jawa (Wedhawati, 2006 : 106-144):
(1) ka + adjektiva + na Contoh:
{ka-} + tebih + {-na} = katebihna “semoga dijauhkan” misalnya: Anak kula katebihna saking bebaya.
(2) ka + adjektiva + ana Contoh:
(a) {ka-} + welas + {-ana} = kawelasana “meskipun dikasihi” misalnya:
Wong kuwi kawelasana ya ora bakal ngerti.
(b) {ka-} + welas + {-ana} = kawelasana “seandainya dikasihi” misalnya: Gelem kawelasana, wong kuwi rak ora kesrakat. (3) –in- + adjektiva + an
Verba bentuk –in-/-an memiliki varian verba bentuk -in-/-nan. Contoh:
(4) ka + adjektiva + (a)ke Contoh:
{ka-} + jembar + {-ake} = kajembarake “suatu tindakan yang menyebabkan suatu menjadi luas”
e. Afiks Gabung
Afiks gabung adalah proses penggabungan prefiks dan sufiks dalam bentuk dasar. Menurut Mulyana (2007: 41) yang termasuk sejumlah afiks gabung dalam bahasa Jawa antara lain adalah {tak-/-e}, {tak-/-ne}, {tak-/-ake}, {tak-/-ane}, {tak-/-i}, {tak-/-na}, {tak-/-ana}, {tak-/-a}, {dak/-ne}, {dak-/e}, {kami-/-en}, i}, {kok-/-ake}, {kok-/-ana}, {di-/-i}, {di-/-a}, {di-/ana}, {di-/-ake}.
Afiks gabung juga dapat dibentuk oleh penggabungan anuswara {N-} dan sufiks {-i}, {-a}, {-ana}, {-ake}, {-ana}, dan {-e}. Sasangka (2001: 81) menyatakan bahwa afiks gabung dalam bahasa Jawa jumlahnya sangat banyak, yaitu {N-/-i}, {N-/-a}, {N-/-ake}, {N-/-ana}, {di-/-i}, {di-/-a}, {di-/-ake}, {di-/-ana}, {-in-/-i}, {-in-/-ake}, {-in-/-ana} dan {sa-/-e}.
Contoh afiks gabung pola pembentukan verba deadjektival bahasa Jawa (Wedhawati, 2006 : 106-144):
(1) di + adjektiva + i
Verba bentuk di-/-i memiliki varian verba bentuk dipun-/-i. Contoh:
{di-} + reged + {-i} = diregedi “dijadikan menjadi kotor” (2) di + adjektiva + (a)ke
Verba bentuk di-/-(a)ke memiliki varian verba bentuk dipun-/-(a)ken. Contoh:
(a) {di-} + panas + {ake} = dipanasake “menjadi mempunyai sifat panas” (b) {di-} + ilang + {ake} = diilangake “menjadi mempunyai sifat hilang” (3) tak + adjektiva + i
Verba bentuk tak-/-i memiliki varian verba bentuk dak-/-. Contoh:
(b) {tak-} + amba + {-i} = takambani “dibuat menjadi luas” (c) {dak-} + owah + {-i} = dakowahi “dibuat menjadi berubah” (4) tak + adjektiva+ (a)ke
Verba bentuk tak-/-(a)ke memiliki varian verba bentuk dak-/-(a)ke. Contoh:
(a) {dak-} + cedhak + {-ake} = dakcedhakake “dibuat menjadi dekat” (b) {dak-} + dawa + {-ake} = dakdawakake “dibuat menjadi panjang”
(5) tak + adjektiva + ne
Verba bentuk tak-/-ne memiliki varian verba bentuk dak-/-ne. Contoh:
(a) {tak-} + amba + {-ne} = takambakne “saya lakukan perbuatan agar (subjek) menjadi luas”
(b) {dak-} + cedhak + {-ne} = dakcedhakne “saya lakukan perbuatan agar (subjek) menjadi dekat”
(6) tak + adjekktiva + ane
Verba bentuk tak-/-ane memiliki varian verba bentuk dak-/-ane Contoh:
{tak-} + resik + {-ane} = takresikane “tindakan yang akan dilakukan oleh orang pertama tunggal (menjadi bersih) untuk kepentingan seseorang atau sesuatu” (7) kok + adjektiva + i
Contoh:
(a) {kok} + resik + {-i} = kokresiki “(subjek) dijadikan bersih” (b) {kok} + apik + {-i} = kokapiki “(subjek) dijadikan bagus” (c) {kok} + reged + {-i} = kokregedi “(subjek) dijadikan kotor”
(8) kok + adjektiva + (a)ke Contoh:
{kok-} + dhuwur + {-ake} = kokdhuwurake “dibuat menjadi tinggi” (9) di + adjektiva + ana
Contoh:
(b) {di-} + resik + {-ana} = diresikana “seandainya bersih” misalnya: Mau kamar iki diresikana rak bisa dienggo leren.
(10) N + adjektiva + ana Contoh:
(a) {ng-} + resik + {-ana} = ngresikana “meskipun bersih”
misalnya: Ngresikana wadhah pirang-pirang wong nyatane ora kanggo. (b) {m-} + welas + {-ana} = melasana “seandainya mengasihi”
misalnya: Melasana wong cilik-cilik rag malah gedhe ganjarane.
(c) {ng-} + resik + {-ana} = ngresikana “menyatakan perintah membersihkan” misalnya: Kowe ngresikana kandhang wedhus, aku ora ngresiki kandhang sapi.
(11) N + adjektiva + (a)ke
Verba bentuk N-/-(a)ke mempunyai varian N-/-(a)ken di dalam tingkat tutur krama. Contoh:
{ng-} + gampang + {-ake} = nggampangake “menjadikan mudah” (12) N + adjektiva + i
Contoh:
(a) {ng-} + reged + {-i} = ngregedi “menjadikan kotor” (b) {n-} + teles + {-i} = nelesi “menjadikan basah” (c) {m-} +panas + {-i} = manasi “menjadikan panas”
(d) {ng-} + kandel + {-i} = ngandeli “membuat menjadi lebih tebal” (e) {n-} + jero+ {-i} = njeroni “membuat menjadi lebih dalam” 2. Reduplikasi
Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi (Chaer, 1994: 182). Reduplikasi dibedakan menjadi 2, yaitu:
a) Reduplikasi parsial, yaitu proses morfemis yang mengulang bentuk dasar secara sebagian. Dalam bahasa jawa tradisional, reduplikasi ini dibedakan menjadi 2, yaitu: 1) Reduplikasi suku pertama (dwipurwa),yaitu proses morfemis dengan mengulang
bentuk dasar suku pertama.Contoh:
R + tela = tetela ‘jelas’
R + sotya = sesotya ‘permata’ R + tuku = tetuku ‘membeli’ R + resik = reresik ‘bersih-bersih’
2) Reduplikasi suku terakhir (dwiwasana),yaitu proses morfemis dengan mengulang bentuk dasar suku terakhir. Contoh:
R + cekik = cekikik ‘mengikik’ R + celuk = celuluk ‘berkata’ R + jeges = jegeges ‘tertawa terus’
R + dengek = dengengek ‘melihat agak ke atas’
b) Reduplikasi penuh, yaitu proses morfemis yang mengulang bentuk dasar secara penuh. Reduplikasi ini dibagi menjadi 2, yaitu:
1) Reduplikasi penuh tanpa variasi bunyi, contoh: R + bocah = bocah-bocah ‘anak-anak’
R + dalan = dalan-dalan ‘jalan-jalan’ R + mlaku = mlaku-mlaku ‘berjalan-jalan’ R + omah = omah-omah ‘rumah-rumah’ R + wong = wong-wong ‘orang-orang’
2) Reduplikasi penuh dengan variasi bunyi, contoh: R + sapa = sopa-sapa ‘selalu berkata siapa’ R + mati = mota-mati ‘selalu padam/mati’ R + mlaku = mloka-mlaku ‘ selalu berjalan’ R + mangan = mangan-mangen ‘ selalu makan’ R + undang = undang-undeng ‘ selalu memanggil’ 3. Komposisi
1. Komposisi sempurna,yaitu komposisi atau persenyawaan yang unsur-unsurnya berupa kata, contoh:
Wong tuwa ‘orang tua, ayah-ibu, guru’
Semar mendem ‘makanan lemper terbungkus telor’
Nagasari ‘makanan terbuat dari tepung beras di dalamnya berisi pisang’ Gantung siwur ‘nama keturunan ke tujuh ke atas atau ke bawah’
Balung kuwuk ‘ makanan dari singkong’
2. Komposisi tidak sempurna, yaitu komposisi atau persenyawaan yang salah satu atau semua unsurnya hanya merupakan sebagian dari kata, contoh:
Idu + abang = dubang ‘ludah orang makan sirih’ Balung + kulit = lunglit ‘ sangat kurus’
Dhemen + anyar = dhemenyar ‘ suka hanya waktu masih baru’ Bapak + cilik = paklik ‘paman adiknya bapak/ibu’
Bapak + gedhe = pakdhe ‘paman kakaknya bapak/ibu’ 4. Modifikasi
Modifikasi dibedakan menjadi 2, yaitu:
a) Modifikasi kosong/ konversi/ transposisi/ derivasi zero, yaitu proses morfologis dari sebuah morfem menjadi morfem lain tanpa mengubah unsur segmental.
Contoh:
Bapak tuku pacul ‘bapak membeli cangkul’
b) Modifikasi internal atau perubahan fonem adalah proses morfologis dengan mengubah atau menambah salah satu fonem.
Contoh:
Abang => abing ‘sangat merah’ Abot => abut ‘sangat berat’ Ijo => iju ‘sangat hijau’ Akeh => akih ‘sangat banyak’
Pemendekan kata adalah proses morfologis dengan cara menanggalkan atau memendekan bagian-bagian morfem atau menggabungkannya sehingga menjadi bentuk singkatan, tetapi maknanya sama dengan makna bentuk utuhnya. Pemendekan dibagi menjadi 4, yaitu:
1. Singkatan, yaitu sebuah huruf atau sekumpulan huruf sebagai bentuk pendek dari sebuah atau beberapa kata. Contoh:
UGM = Universitas Gajah Mada SD = Sekolah Dasar
RA = Raden Ajeng
SMA = Sekolah Menengah Atas SMP = Sekolah Menengah Pertama
2. Akronim, yaitu kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata, atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar.
Contoh:
Puskesmas = pusat kesehatan masyarakat Posyandu = pusat pelayanan terpadu Sinetron = sinema elektronik
Kades = kepala desa
Pelita = pembangunan lima tahun Petrus = penembakan misterius
3. Kontraksi, yaitu pemendekan suatu kata, suku kata, atau gabungan kata dengan cara menghilangkan huruf yang melambangkan fon di dalam kata tersebut.
Contoh:
Ra ruh = ora weruh
4. Aferesis, yaitu gejala bahasa yang cenderung menanggalkan huruf awal atau suku awal kata. Contoh:
King = saking ‘dari’ Ngge = kangge ‘ untuk’ Nika = menika ‘itu’
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Morfologi ialah cabang kajian linguistik (ilmu bahasa) yang mempelajari tentang bentuk kata, perubahan kata, dan dampak dari perubahan itu terhadap arti dan kelas kata menjelaskan morfologi sebagai bagian dari ilmu bahasa yang bidangnya menyelidiki seluk-beluk bentuk kata, dan kemungkinan adanya perubahan golongan dari arti kata yang timbul sebagai akibat perubahan bentuk kata.
Kata terbagi menjadi dua macam, yaitu kata dasar dan dasar kata. Kata dasar adalah satuan terkecil yang menjadi asal atau permulaan sesuatu kata kompleks. Dasar kata adalah satuan, baik tunggal maupun kompleks, yang menjadi dasar pembentukan bagi satuan yang lebih besar atau kompleks. Proses pembentukan verba bahasa jawa kata kerja adalah kata yang menerangkan suatu pekerjaan atau aktivitas. Dalam struktur kalimat, kata kerja menduduki fungsi predikat dan secara umum bersifat aktif dan pasif. Ada pola pembentukan verba deadjektif bahasa jawa yang melalui proses morfologis ada lima yang pertama afiksasi dibagi menjadi prefix (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran), konflik, afiks gabung. Kedua reduplikasi dibagi menjadi dua yaitu reduplikasi persial dan reduplikasi penuh. Ketiga komposisi dibagi menjadi dua yakni komposisi semprna dan komposisi tidak sempurna. Keempat modifikasi terbagi menjadi komposisi kosong dan komposisi internal. Yang kelima terakhir ada pemendakan ada empat yaitu singkatan, akronim, kontraksi dan aferesis.
Kami berharap semoga pembahasan mengenai Morfologi Bahasa Jawa, sedikit banyaknya dapat dipahami oleh pembaca. Selain itu kami sebagai penulis mohon maaf apabila masih terdapat kesalahan-kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Maka dari itu, kami mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca, untuk kesempurnaan dari makalah.
DAFTAR PUSTAKA
Sudaryanto dkk.1991. Tata Bahasa Baku Bahasa Jawa. Yogyakarta: Duta Wacana Press.
Wedhawati dkk. 2006. Tata Bahasa Jawa Mutakhir. Yogyakarta: Kanisius. Poedjosoedarmo, Soepomo dkk.1979. Morfologi Bahasa Jawa. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
http://eprints.uny.ac.id (Diakses tanggal 26 Oktober 2017 Pukul 14.10 WIB)
Pertanyaan :
1. Berikan contoh dari komposisi sempurna dan tidak sempurna ! (Devi Rina Cahyani. 15141.228)
2. Jelaskan reduplikasi parsial dan reduplikasi penuh serta berikan contoh ! (Riski Putri. 15141.293)
3. Apakah ada kesulitan yang dialami guru dalam pembelajaran morfologi bahasa Jawa? (Ratih. 15141.287 )
Jawaban :
1. a) Komposisi sempurna,yaitu komposisi atau persenyawaan yang unsur-unsurnya berupa kata, contoh:
Wong tuwa ‘orang tua, ayah-ibu, guru’
Semar mendem ‘makanan lemper terbungkus telor’
Nagasari ‘makanan terbuat dari tepung beras di dalamnya berisi pisang’ Gantung siwur ‘nama keturunan ke tujuh ke atas atau ke bawah’
Balung kuwuk ‘ makanan dari singkong’
b) Komposisi tidak sempurna, yaitu komposisi atau persenyawaan yang salah satu atau semua unsurnya hanya merupakan sebagian dari kata, contoh:
Idu + abang = dubang ‘ludah orang makan sirih’ Balung + kulit = lunglit ‘ sangat kurus’
Dhemen + anyar = dhemenyar ‘ suka hanya waktu masih baru’ Bapak + cilik = paklik ‘paman adiknya bapak/ibu’
2. a) Reduplikasi parsial, yaitu proses morfemis yang mengulang bentuk dasar secara sebagian. Dalam bahasa jawa tradisional, reduplikasi ini dibedakan menjadi 2, yaitu: 1) Reduplikasi suku pertama (dwipurwa),yaitu proses morfemis dengan mengulang
bentuk dasar suku pertama.Contoh:
R + lara = lelara ‘penyakit’ R + tela = tetela ‘jelas’
R + sotya = sesotya ‘permata’ R + tuku = tetuku ‘membeli’ R + resik = reresik ‘bersih-bersih’
2) Reduplikasi suku terakhir (dwiwasana), yaitu proses morfemis dengan mengulang bentuk dasar suku terakhir. Contoh:
R + cekik = cekikik ‘mengikik’ R + celuk = celuluk ‘berkata’ R + jeges = jegeges ‘tertawa terus’
R + dengek = dengengek ‘melihat agak ke atas’
b) Reduplikasi penuh, yaitu proses morfemis yang mengulang bentuk dasar secara penuh. Reduplikasi ini dibagi menjadi 2, yaitu:
1) Reduplikasi penuh tanpa variasi bunyi, contoh: R + bocah = bocah-bocah ‘anak-anak’ R + dalan = dalan-dalan ‘jalan-jalan’ R + mlaku = mlaku-mlaku ‘berjalan-jalan’ R + omah = omah-omah ‘rumah-rumah’ R + wong = wong-wong ‘orang-orang’ 2) Reduplikasi penuh dengan variasi bunyi, contoh:
R + undang = undang-undeng ‘ selalu memanggil’
3. Kesulitan yang dialami guru dalam pembelajaran morfologi terjadi apabila guru tidak terlalu menguasai materi morfologi,maka dari itu guru harus menguasai mteri agar tidak terjadi miskonsepsi. Kesulitan biasanya terjadi pada siswa bukan karena siswa belum menguasai materi namun mereka terkadang lupa atau keliru dalam menerapkan kaidah bahasa (morfologi). Kesalahan yang terjadi antara lain sebagai berikut :
1) Salah Menentukan Bentuk Awal
Suatu kata yang penentuan bentuk katanya salah, mengakibatkan kesalahan bentuk penulisnnya.
Contoh : Ana bocah sing kepingin duwe sepatu anyar yaiku Murni
Kata “kepingin” dianggap berasal dari kata dasar pingin, yang tentu saja salah. Penulisan yang benar seharusnya kepengin, yang berasal kata dasar pengin.
2) Fonem Yang Luluh Dalam Proses Afiksasi Tidak Diluluhkan
Sasangka (2008 : 41) menyatakan bahwa dalam proses afiksasi fonem /p/, /w/, /t/, /th/, /k/, /s/, dan /c/ apabila diberi prefik nasal seharusnya luluh. Begitu juga pada fonem /e/ pada prefiks (ka-) juga harus diluluhkan seperti pada kalimat berikut.
Contoh : Tempe gorenge keirengen gara-gara kesuwen.
Fonem /e/ pada kata keirengen dalam kalimat diatas seharusnya di luluhkan, sehingga menjadi kirengen.
3) Fonem Yang Tidak Luluh Dalam Proses Afiksasi Di Luluhkan Contoh : Aku digawaake rambutan marang ani.
Kata digawaake pada kalimat diatas memiliki kata dasar gawa dan mendapat afiks di-/-ake, setelah mengalami afiksasi kata tersebut menjadi di gawakake bukan digawaake.
4) Penulisan depan yang tidak tepat
Penulisan kata depan tidak dirangkai dengan kata yang mengikutinya melainkan dipisah.
Kata ingkana seharusnya dipisah menjadi ing kana. 5) Kesalahan reduplikasi
Ada dua sumber yang menyebabkan kesalahan kata ulang, yaitu kata penulisan dan penentuan bentuk kata yang di ulang.
a) Kata ualng di tulis lengkap dan diantara kedua unsurnya diberi tanda garis hubung (-).
Contoh : Bocah* mangkat mancing.
Kata bocah* seharusnya ditulis bocah-bocah.
b) Setiap kata ulang bentuk dasar yang diulang, bentuk dasar diulang itu ada atau dijumpai dalam pemakaian bahasa.
Contoh : Kabeh padha genti-genti nunggoni simbah Kata genti-genti seharusnya ditulis gonta ganti. 6) Kata majemuk yang ditulis serangkai
Contoh : Wingi ibu tuku naga sari ing pasar kanggo slametan
Kata naga sari seharusnya ditulis nagasari karena telah mengalami proses perpaduan secara sempurna.
7) Kata majemuk yang ditulis terpisah
Contoh : Adhik seneng banget karo dhadhamenthok sing akeh daginge tur empuk
Kata dhadhamenthok seharusnya ditulis terpisah yaitu dhadha menthok. 8) Perulangan kata majemuk (Reduplikasi)
a) Reduplikasi pasial
Contoh : Tukang bakso - tukang bakso padha kumpul ing ngarep omahku Kata majemuk tukang bakso lebih efektif jika ditulis tukang – tukang bakso.
b) Reduplikasi sempurna