Mengupayakan Anak Mencintai Lingkungan Hidup dan Sains Melalui
Eksperimen
Heribertus Dany Cahyo Widodo
Universitas Sanata Dharma
Mrican, Tromol Pos 29, Yogyakarta 55002
Abstrak
oleh pendapat yang diungkapkan oleh Piaget bahwa anak mampu mengkonstruksi pemikiran mereka, tidak hanya itu Davis (1998) menuliskan bahwa hubungan antara anak dengan alam sekitarnya merupakan landasan yang penting dan kuat untuk membangun hubungan yang baik antara manusia dengan alam. Anak-anak adalah pembelajar yang aktif, kreatif, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta mencintai dunia dan lingkungannya. Anak dengan aktif dapat mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri dan akan belajar secara bermakna saat mereka belajar dengan melakukan (learning by doing) dan bermain di lingkungan Oleh karena itu, anak dapat memahami pengetahuan lebih banyak dan lebih cepat sebagai pondasi pemikiran awal bagi kehidupannya. Pendidikan merupakan salah satu upaya penting untuk menyelamatkan lingkungan dengan menanamkan nilai kepedulian lingkungan kepada peserta didik, khususnya anak-anak. Salah satu lembaga yang membentuk pemahaman awal siswa adalah Sekolah Dasar. Pembelajaran berbasis lingkungan dapat diterapkan dengan berbagai cara sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Bagi anak usia sekolah dasar, pembelajaran ini dapat dilakukan dengan mengajak mereka untuk menanam tanaman atau memelihara hewan di kebun konservasi sekolah, melakukan suatu perjalanan ke lingkungan alam (hutan lindung, daerah konservasi, dan sebagainya), melakukan aksi untuk peduli terhadap lingkungan, dan sebagainya. Cara-cara tersebut dapat dirangkum menjadi satu rangkaian pembelajaran berbasis lingkungan yang disebut conservation scout. Metode conservation scout diharapkan mampu menciptakan generasi yang kreatif dalm mewujudkan kepedulian mereka terhadap lingkungannya dan dapat memanfaatkan lingkungan dengan baik. Sebagaimana dalam taksonomi Bloom, mereka tidak lagi menjadi generasi yang
“remembering”, tetapi paling tidak sudah di tahap “understanding” bahkan “creating”. Tindakan nyata mereka sebagai generasi emas Indonesia yang cinta terhadap lingkungan akan meminimalisir beberapa permasalahan yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Dengan demikian, pembelajaran berbasis lingkungan bagi anak-anak SD melalui conservation scout
(mini konservasi) menjadi sangat penting untuk direalisasikan.
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma dalam mata kulian Pembelajaran Inovatif IPA 1 melaksanakan program conservation scout yang melibatkan 38 sekolah dan diikuti lebih dari 70 siswa sekolah dasar dengan tujuan untuk membentuk pribadi anak yang mencintai lingkungan seperti dirinya sendiri dengan metode eksperimen. Kecintaan yang akan membentuk sebuah kalimat didalam dirinya, yaitu
“mencintai lingkunganku”. II. METODE
Kegiatan berlangsung di Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma sebanyak tiga kali pertemuan. Setiap pertemuan diselipkan permainan-permainan menarik untuk membangun motivasi siswa, keudian siswa dibagi dalam 2 kelompok besar, siswa yang berasal dari satu sekolah yang sama dimasukkan kedalam kelompok yang berbeda untuk membangun keakraban dan menambah kawan baru serta membantu kelancaran proses berlangsungnya kegiatan. Pertemuan pertama, siswa diajak untuk belajar bersama menggunakan berbagai macam eksperimen yang dibuat oleh kakak-kakak mahasiswa dan diajarkan secara langsung kepada siswa sekolah dasar yang hadir. Pertemuan kedua, siswa diajak untuk berpraktek bersama-sama belajar cara mengawetkan mahluk hidup yang sudah mati (hewan dan tumbuhan) namun masih memiliki struktur tubuh yang baik. Tidak hanya itu, siswa juga diajak untuk membuat poster bertemakan pelestarian lingkungan dan mempresentasikan poster tersebut dihadapan teman-teman dan Bapak-Ibu guru. Pada pertemuan ketiga, siswa mendapatkan penjelasan konservasi reptile dan melakukan aksi nyata konservasi tanaman obat. Kegiatan berkelanjutan yang diharapkan dilakukan siswa yang telah mengikuti conservation scout adalah melakukan Peer tutoring di sekolahnya masing-masing.
III.HASIL DAN PEMBAHASAN
Davis (2010) menuliskan bahwa pembelajaran berbasis lingkungan pada intinya terdiri
Conservation
Scout
CS 1 (Eksperimen)
CS 2 (Pengawetan)
CS 3 (Konservasi reptile dan aksi konservasi tanaman)
dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan dan caracara untuk melestarikannya.
Pembelajaran berbasis lingkungan yang berfungsi untuk menanamkan nilai peduli terhadap lingkungan sebaiknya ditanamkan sejak dini kepada peserta didik. Chawla dan Cushing (2007) menuliskan bahwa dari setengah hingga lebih dari 80% siswa sekolah menengah yang diwawancarai mengenai kegiatan aktif lingkungan, mengidentifikasikan bahwa pengalaman masa kecil dengan alam merupakan pengalaman yang signifikan dan tidak terlupakan. Pengalaman bersama lingkungan tersebut dilakukan dengan bermain bebas, hiking, berkemah, dan memancing. Pengalaman umum lainnya didapatkan melalui Pramuka danbermain dalam lingkungan kelompok. Dari data yang diperoleh Chawla dan Cushing tersebut, menunjukkan adanya peran penting scout dan pengaruhnya terhadap pengetahuan dan pengalaman siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Sebagai salah satu upaya dalam menanamkan nilai peduli lingkungan pada siswa, metode sekaligus kegiatan conservation scout (mini konservasi) dilaksanakan oleh mahasiswa PGSD Universitas Sanata Dharma yang mengikuti perkuliahan pendidikan inovasi IPA 1. Kegiatan Conservation Scout (CS) ini diadakan melalui kerjasama antara PGSD USD dengan beberapa Sekolah Dasar yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya, yang juga sebagai sekolah mitra dalam kegiatan Program Pengakraban Lingkungan (Probaling 1). Dengan demikian, peserta dari kegiatan ini adalah perwakilan siswa dari masing-masing Sekolah Dasar. Masing-masing sekolah mewakilkan dua siswanya untuk mengikuti kegiatan
Conservation Scout (CS) yang diadakan selama tiga kali pertemuan di Pusat Studi Lingkungan (PSL) Universitas Sanata Dharma yang beralamat di Soropadan, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Tiga kali pertemuan tersebut dilaksanakan pada 2, 16, dan 23 Oktober 2014, sedangkan satu pertemuan terakhir dilaksanakan oleh peserta dan guru pembimbing di sekolah masing-masing. Sekolah berperan serta dalam kegiatan ini berjumlah 34 sekolah yang melibatkan lebih dari 70 siswa. Selain itu, guru pendamping dari sekolah yang berjumlah 32 orang. Melalui kegiatan Conservation Scout (CS) diharapkan dapat mencetak banyak peserta/siswa sebagai duta lingkungan yang memiliki sikap peduli lingkungan dan mau mengajak sesama untuk juga peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Persiapan acara ini dilakukan oleh seluruh mahasiswa PGSD Universitas Sanata Darma dalam mata kuliah inovasi IPA. Pada tanggal 4, 11, 18, dan 25 september 2014 seluruh mahasiswa mempersiapkan acara conservation scout tersebut. Diawali dari pembentukan panitia, merancang eksperimen, mengkonsultasikan eksperimen dengan dosen pembimbing, dan mendemonstrasikan eksperimen.
Rangkaian kegiatan Conservation Scout (CS) ini dimulai dengan CS 1 yang dilaksanakan pada Kamis, 2 Oktober 2014. Siswa datang didampingi oleh guru serta kaka pendamping untuk melakukan registrasi, selanjutnya peserta diajak berkumpul bersama dan melakukan permainan sederhana yang bertujuan agar peserta antar sekolah dapat saling mengenal dan membangun motivasi mereka. Setelah itu, peserta dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok A dan kelompok B. Dua kelompok besar ini akan dibawa ke dua tempat yang berbeda untuk mengikuti kegiatan eksperimen pada pos-pos eksperimen
yang disediakan oleh panitia. Beberapa pos eksperimen tersebut diantaranya “Mozaik Daun”, “Pengaruh Bau Pada Jangkrik”, “Tempat Pensil Dari Botol Bekas”, “Polusi Air”, dan
yaitu “Aqua Ponik”. Aqua Ponik merupakan upaya pemanfaatan lahan secara maksimal
dengan menanam tanaman obat diatas sebuah akuarium yang bercirikan “saling menguntukan” antar mahluk hidup di dalamnya. Tanaman obat ditanam diatas akuarium dengan desain siklus air yg merata serta penyaringan air oleh tanaman. Melalui berbagai eksperimen tersebut, anak mendapatkan kesempatan untuk mempelajari sekaligus mempraktekkan pengalaman belajar terkait pemanfaatan lingkungan yang baik, dampak perilaku merusak lingkungan, konservasi, maupun upaya peduli lingkungan yang dikemas melalui berbagai eksperimen sederhana dan menyenangkan bagi peserta. Selain melaksanakan eksperimen pada pos-pos yang telah disediakan, peserta juga diajak melakukan minitrip mengelilingi area Pusat Studi Lingkungan (PSL). Minitrip ini dilakukan secara bergantian. Kelompok A melakukan minitrip di lokasi seputar tanaman obat yang dibudidayakan di PSL, sedangkan kelompok B melakukan minitrip di lokasi sekitar penangkaran burung dan lobster di PSL. Setelah itu, mereka akan bergantian untuk tempat untuk mendapat pengalaman belajar yang berbeda. Di setiap lokasi sudah terdapat narasumber sekaligus pemandu minitrip yang akan menjelaskan kepada peserta terkait apa yang sedang mereka temui saat itu. Di akhir kegiatan CS 1 ini, peserta merefleksikan pengalaman belajar yang mereka dapatkan melalui cerita atau sharing di depan teman-temannya. Peserta begitu bersemangat dan senang dalam mengikuti kegiatan CS I tersebut. Mereka menyampaikan beberapa pesan seperti “ Kita harus
menjaga air dan tidak membuang limbah sembarangan agar ikannya tidak mati”; “ Mari menjaga bumi supaya hidup kita tentram”; “Jangan membakar sampah plastik karena menyebabkan polusi udara” ; “Mari memanfaatkan sampah karena sampah masih berguna” ;
dan sebagainya.
IV.KESIMPULAN
Eksperimen mengenai lingkungan dapat digunakan untuk memperkenalkan consrvation
kepada anak-anak SD. Dibuktikan dengan telah berhasil diterapkan oleh mahasiswa perkuliahan Pendidikan Inovasi IPA 1 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Kegiatan dilakukan selama tiga kali pertemuan pada bulan Oktober 2014 di Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan melibatkan 34 Sekolah Dasar mitra yang ada di wilayah Yogyakarta. Hasil pelaksanaan minitrip dan konservasi sederhana tersebut mampu memberikan pemahaman kepada siswa dengan baik mengenai lingkungan serta menjadikan anak-anak sebagai duta konservasi (duta lingkungan) yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan oleh anak-anak melalui peer tutoring (berupa eksperimen) dan kampanye peduli lingkungan (menggunakan poster) yang dilakukan di sekolah masing-masing.
V. DAFTAR PUSTAKA
Chawla, Louise & Cushing, Debra Flanders.(2007). “Education for Strategic Environmental Behavior”. Journal of Environmental Education Research, 13 (4), pp.437-452.
Davis, Julie. (1998) “Young Children, environmental education and the future”. Journal of Education and the Environment, (11).
Muksin. 2009. Outbound For Kids. Yogyakarta : Cosmic Books. Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Dua Abad Mengungkap Kekayaan Flora dan EkosistemIndonesia. Jakarta : LIPI.
Thomson, G. & J. Hoffman. (2002). Measuring the Success of Environmental Education Programs.Canada-Ontario: Canadian Parks and Wilderness Society and Sierra Club.