1. Apa saja tantangan dalam hidup berkeluarga dewasa ini?
Hidup berkeluarga dewasa ini di jaman yang telah maju ini memiliki begitu banyak tantangan,mulai dari tantangan yang mengancam sebuah keluarga bahkan hingga tantangan yang mengancam eksistensi dari kehidupan berkeluarga.
a. Perkawinan Sesama Jenis.
Hubungan sesama jenis di jaman ini seperti menjadi trend ataupun wabah yang sangat cepat menyebar. Bahkan di beberapa negara di Benua Barat telah mengesahkan tentang hal ini. Namun apakah hal ini dibenarkan oleh agama dan Alkitab? Tentu saja tidak dalam agama dan Alkitab jelas tidak ada ayat yang menunjukan bahwa adanya hubungan sesama jenis yang disahkan. (kej.1:28a) “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka:”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu..”.” (kej 9:1);(Kej 9:7);(Kej 35:11). Dalam ayat-ayat tersebut jelas Tuhan menghendaki manusia untuk berkembang biak. Namun bagaimana caranya pasangan sesama jenis berkembang biak. Apakah mungkin sel sperma membuahi sel sperma? Dan membuat salah 1 pasangan laki-laki hamil? Dan mungkinkah Sel telur yang tidak dibuahi dapat saling membuahi dan keduanya menjadi janin? Hal tersebut tidak mungkin terjadi. Hanya sel sperma yang dapat membuahi sel telur yang berarti hubungan yang dikehendaki Allah adalah hubungan berbeda jenis kelamin.
b. Aborsi
Aborsi adalah tindakan atau perbuatan dengan disengaja yang bertujuan untuk menggugurkan atau membunuh janin yang berada dalam rahim. perkembangan jaman yang sangat pesat di dunia menimbulkan banyak dampak. Salah satu dampak negatifnya ialah seks bebas yang berkembang hampir di seluruh belahan dunia. Dari seks bebas ini, seringkali terjadi peristiwa hamil diluar nikah. Agar hubungan tidak diketahui ketika telah hamil, banyak orang mengambil jalan melakukan aborsi. Tidak jarang pun dari yang telah berkeluarga melakukan hal ini, karena janin yang dikandung tidak diinginkan keberadaannya, tidak memiliki tujuan untuk menambah anak. Apakah hal ini dilegalkan? Dari segi hukum maupun agama jelas tidak melegalkan hal ini, karena jelas aborsi merupakan suatu bentuk pembunuhan. Karena pada dasarnya ketika dikandung janin tersebut telah memiliki nyawa. Anak merupakan anugerah dan pemberian dari Tuhan yang seharusnya dijaga dan dirawat, ketika kita melakukan aborsi sama halnya ketika membuang atau tidak menerima anugerah dari Tuhan tersebut. Dalam pernikahan, Pernikahan merupakan suatu sakramen. Yang berarti ketika kita menikah kita menjadi saluran penerus karya pencipataan Allah melalui anak-anak yang dilahirkan. Ketika melakukan aborsi berarti kita melanggar dan tidak menjadi saluran karya pencipataan Allah.
Kontrasepsi adalah pencegahan terhadap pembuahan sel telur oleh sel sperma. Kontrasepsi dapat dilakukan secara alami namun dapat juga dengan alat dan bahan kimia. Yang alami adalah dengan menggunakan penanggalan masa subur wanita. Dan yang menggunakan alat ialah dengan menggunakan kondom, spiral, pil kb, suntik kb, dan sterilisasi. Penggunaan kontrasepsi ini hal yang legal di negara-negara, bahkan di negara kita menyarankan untuk penggunaan KB. Namun apakah pandangan gereja terhadap hal ini. Penggunaan alat-alat kontrasepsi sama saja merendahkan martabat manusia sebagai cerminan Allah sendiri. Karena kita memandang pasangan sebagai daging yang tidak memiliki jiwa yang semata-mata hanya menjadi tempat untuk menyalurkan nafsu seksual. Sehingga hal ini tidak dibenarkan. Namun kontrasepsi alamiah mendapat pandangan khusus dari gereja bahkan disarankan gereja. Kontrasepsi secara alamiah melatih dalam mengatur dan menahan hawa nafsu pasangan. Dan membuat saling mengerti dan saling memahami antara kedua pasangan.
d. Kedewasaan
Kedewasaan, hal ini biasanya dikaitkan dengan umur dari seseorang dan juga dengan ukuran badan dan fisik seseorang. Namun sesungguhnya bukan itu lah inti dari kedewasaan, banyak orang telah dewasa secara fisik namun apakah sudah secara mental dan pemikiran? Orang yang siap menikah adalah orang yang dewasa secara mental dan pikiran yang utama baru lah aturan lainnya mengikuti yaitu umur dan fisik, karena memang orang yang memiliki kedewasaan diikuti dengan umur yang bertambah juga. Kedewasaan ini dapat dilihat dari apakah laki-laki siap memimpin keluarga dan apakah wanita siap menerima pimpinan dan mendampingi kepala keluarga. Karena dalam berkeluarga, bukan hanya sekedar membentuk, kita pun harus dapat mempertahankannya juga. Kedewasaan sangat penting untuk membangun keluarga, karena sebuah pasangan harus dapat saling memahami dan mengerti satu sama lainnya.
e. Rapuhnya nilai kesetiaan dari perkawinan katolik. Di abad yang serba praktis ini dengan arus hidup yang hedonisme, konsumeris, materialis ada sebagian kelurga kristiani yang mengalami persoalan di dalam
Arus hedonis, konsumerisme, dan materialis membawah dampak yang luar biasa bagi penanaman dan penghayatan nilai-nilai religiusitas di dalam keluarga. Ada banyak kasus yang di jumpai di lapangan bahwa munculnya perkembangan teknologi informatika membawah pengaruh negatif bagi penanaman dan penghayatan nilai- nilai religiusitas dalam keluarga. Irama hidup keluarga hanya disibukan dengan kegiatan yang jauh dari dari hal-hal rohani. Misalnya menonton TV dan VCD, bermain HP, Sibuk dengan playstation. Sehingga aktivitas rohani berupa doa pribadi, doa bersama, dan shering masalah iman dalam keluarga sering terabaikan.
g. Kemajuan Teknologi
Majunya teknologi di dunia yang sangat pesat ini, membawa dampak buruk pula dalam hidup berkeluarga. Karena orang-orang dengan mudahnya terpengaruh dan seperti terhipnotis oleh perkembangan teknologi. Ketika masing-masing anggota keluarga telah sibuk sendiri dengan teknologi yang tersedia seperti laptop, gadget, TV, dll perpecahan akan timbul dalam keluarga tersebut. Karena mereka akan mulai mementingkan kepentingan sendiri, dan merasa tidak membutuhkan satu sama lain. Komunikasi diantara keluarga pun akan berkurang bahkan hingga tidak berkomunikasi karena hanya fokus pada teknologi dan kesenangan pribadi. Kemajuan teknologi seharusnya digunakan dengan baik dan dijadikan pemersatu dalam keluarga.
h. Beban ekonomi biaya tinggi yang harus di hadapi oleh keluarga- keluarga modern
dewasa ini.
Globalisasi yang kuat ditandai dengan sistim persaingan kekuatan- kekuatan ekonomi antar Negara dengan sistim pasar bebasnya yang membawah dampak dalam kehidupan social, ekonomi keluarga dewasa ini. Hal ini harus membuat keluarga hidup dengan biaya ekonomi tinggi. Ekonimi biaya tinggi ini terjadi di segala sector: baik kebutuhan pokok, pelayanan jasa transportasi, pendidikan maupun berbagai pelayanan public. Ekonomi dengan biaya tinggi sering menimbulkan tekanan baik psikis maupun fisik yang bisa menjadi sumber kekerasan dalam rumah tangga.
i. Perzinahan/Perselingkuhan
Tentu saja, perzinahan adalah pelanggaran berat melawan kesucian dan kesetiaan perkawinan yang mendatangkan penderitaan besar untuk semua anggota keluarga, termasuk pihak yang tidak setia.
Gereja Katolik cukup tegas dalam menilai dosa perzinahan itu, namun Gereja tak pernah mengizinkan perceraian. Jalan satu-satunya yang wajar untuk pasutri itu ialah bertobat, saling mengampuni dan memabarui cinta yang ikhlas demi kebahagiaan seluruh keluarga.
j. Kemandulan
Kalau salah satu pasangan ternyata mandul, sering kali timbul krisis dalam perkawinan. Biasanya, satu pihak mempersalahkan pihak lain walaupun kemandulan bukanlah kesalahan pribadi. Apa yang penting dalam situasi itu ialah janganlah berhenti saling mencintai, tetapi pakailajh akal budi dan cobalah memeriksakan diri dulu ke dokter. Bisa terjadi bahwa kemandulan tidak bersifat tetap, tetapi dapat diatasi secara fisiologis dan psikologis.
Akan tetapi, kalau ternyata salah seorang dari pasangan suami istri ini mandul tetap, mereka harus menerima kenyataan pahit ini. Mereka tidak boleh percaya kepada pendapat kolot bahwa perkawinannya tidak direstui oleh nenek moyang, dan dengan demikian boleh merencanakan perceraian sebagai jalan keluar. Perkawinan Kristen tetap mempunyai arti yang dalam, meski tanpa kemungkinan untuk mendapat anak sendiri.
k. Kebosanan dan Kejenuhan
Pada masa pacaran, pertunangan, dan pemulaan perkawinan orang biasanya berada pada tahap cinta emosional dan romantic. Cinta tanpa banyak pertimbangan rasional. Pada masa-masa itu, hidup ini terasa sangat indah dan menyenangkan. Si dia di mata kita sungguh tanpa cacat cela. Cinta kita kepadanya merupakan cinta ultroistis, cinta yang rela berkorban sampai melupakan diri demi kebahagiaan.
Akan tetapi, sesudah beberapa waktu, kita mulkai merasa bahwa si dia bukanlah seseorang yang tanpa cacat cela. Dari hari ke hari semakin banyak cacat dan kekurangan yang kita lihat. Mungkinh cacat yang kecil, tetapi kalau terus ditimbun dari waktu ke waktu, kita akan merasa kecewa, bosan, dan jenuh. Kita bisa jatuh kepada cinta diri.
Dan, kalau kita mulai mementingkan diri sendiri, timbullah rupa-rupa bencana. Di mana ada cinta diri, di sana tidak ada tempat lagi bagi sikap bertengang rasa, sikap saling mengerti dan memaafkan. Yang ada hanyalah nafsu kesenangan sendiri, nafsu menang sendiri, nafsu tahu sendiri, dan sebagainya.
l. Perbedaan Pendapat dan Pandangan
Perbedaan pendapat dan pandangan sebenarnya soal biasa, aal saja orang mau saling menghormati pendapat dan keyakinan teman hidup. Dalam hal-hal yang agak prinsipii (misalnya menyangkut pendidikan anak dalam keluarga), dapat dicari jalan keluar bersama-sama, dengan kepala dingin. Persoalan akan muncul kalau salah seorang dari suami istri itu mulai memaksakan kehendaknya serta mengambil keputusan dan tindakan secara sepihak. Pihak lain tentu merasa disepelekan dan dianggap sepi. Dengan demikian percekcokkan tidak dapat dielakkan. Setiap saat pertengkaran dan bentrokan selalu bisa terjadi. Perbedaan pandangan ini sering terjadi dalam bidang pendidikan anak, pengaturan kesejahteraan keluarga, KB, dan sebagainya.
2. Bagaimana upaya-upaya menghadapi tantangan kehidupan
berkeluarga?
Seperti yang kita ketahui bahwa sebuah pernikahan bukan hanya hubungan antara manusia dan manusia melainkan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Tuhan telah merencanakan yang terbaik untuk mempersatukan dua insan. Tuhan lah yang mempersatukan dan membentuk suatu keluarga. Sehingga jelaslah bila kita harus senantiasa membawa hubungan kita ke dalam bimbingan tangan Tuhan karena Tuhan lah yang mempersatukannya. Ketika kita selalu membawa hubungan kita didalam doa, Tuhan senantiasa pula akan menuntun hubungan tersebut sehingga terhindar dari perpecahan.
b. Menaruh kepercayaan satu sama lain.
Kepercayaan adalah satu dasar dalam membangun hubungan. Jika kita tidak percaya dengan pasangan, tidaklah mungkin kita akan membangun dan mempertahankan hubungan dengan dirinya. Kita harus meyakini dan percaya pada pasangan kita. Tidak menaruh kecurigaan yang berlebih terhadap suami ataupun istri, sehingga suami dan istri pun nyaman dalam berhubungan dan dengan sendirinya akan terbuka satu sama lain. Percaya bukan berarti menjadi tidak peduli dan tidak menanyakan keadaan, saling mengingatkan tetap harus dilakukan, namun tetap tidak boleh saling curiga.
c. Benar-benar menyadari posisi dan peran sebagai laki-laki ataupun perempuan. Pada jaman ini banyak sekali di temui, pasangan sesama jenis, hal tersebut karna ia tidak menyadari posisinya yang sebenernya. Seorang laki-laki dapat dikatakan laki-laki jika secara fisik dan pemikiran nya seperti laki-laki dan perempuan dikatakan perempuan secara fisik maupun mental. Ketika seorang laki-laki dan perempuan benar-benar menyadari dan menghayati perannya sebagai laki-laki dan sebagai perempuan, pastilah mereka akan membangun hubungan dengan benar yaitu hubungan yang heterogen antara laki-laki dan perempuan.
d. Lebih banyak menyiapkan family time
Dalam berkeluarga sangat penting untuk menghabiskan waktu bersama-sama. Baik bila bisa setiap hari namun seminggu sekali pun sudah cukup. Agar kedekatan antar keluarga semakin erat dengan banyak menghabiskan waktu bersama. Entah hanya menonton TV, bermain, jalan-jalan, berolahraga, berdoa, hingga liburan bersama-sama ke destinasi liburan yang ditentukan bersama pula.
e. Saling terbuka
Jika dalam keluarga seluruh anggotanya saling terbuka, kecurigaan pun tidak akan muncul. Saling membuka rahasia dan bercerita ketika memiliki masalah adalah salah satunya. Keluarga seharusnya menjadi tempat dimana kita bisa saling percaya. Jadi tidak ada salahnya bercerita seluruhnya tentang diri kita. Ketika keluarga memiliki privasi masing-masing, akan timbul kecurigaan. Hal inilah yang dapat menyebabkan perpecahan.
Komunikasi merupakan hal yang vital. Bagaimana berhubungan tanpa memiliki komunikasi. Bagaimana sebuah keluarga dapat dikatakan keluarga jika tidak pernah saling berbicara. Akan jadi apa keluarga yang tinggal satu rumah namun tidak saling berbicara. Maka dari itu perlu membangun komunikasi, jika komunikasi lancar dalam keluarga, keterbukaan akan dengan sendirinya dipelajari. Dan hubungan pun akan semakin erat jika kita saling bercerita tentang diri dan pengalaman yang di dapat.
g. Melakukan kegiatan rohani bersama.
Bedoa merupakan hal yang sangat penting, dan membaca Alkitab merupakan sebuah kebutuhan. Sebuah keluarga harus mengajarkan kepada anak-anak bahwa penting untuk melakukan hal tersebut. Dengan membuat hal tersebut menjadi kebiasaan akan mengajarkannya dengan baik. Ketika keluarga memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan dan memiliki iman yang kuat. Pastilah keluarga tersebut akan penuh berkat dan Tuhan sendirilah yang akan membimbing keluarga tersebut.
h. Senantiasa memperbarui kasih sayang
Hal ini ditujukan agar tidak terjadi kebosanan. Jika setiap hari kita selalu memperbarui kasih sayang kita terhadap pasangan, kasih sayang tersebut akan terus bertumbuh. Kita bisa melakukannya dengan mengingat masa-masa indah yang dilalui bersama dan melupakan masa kelam dan hanya menjadikannya pelajaran. Sehingga hal indah tersebut dapat terulang terus menerus, dan menjadikan keluarga semakin erat dan penuh kasih sayang.
3. Apa yang dimaksud dengan Keluarga Berencana?
Keluarga berencana ialah pembentukan suatu keluarga yang sejahtera dengan membatasi jumlah anak dalam satu keluarga.
jumlah keluarga dengan pembatasan yang bisa dilakukan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran seperti kondom, spiral, IUD, dan sebagainya.
Namun menurut pandangan gereja, keluarga berencana yang diperbolehkan dan malah dianjurkan ialah KB alami yaitu dengan menggunakan penanggalan masa subur istri. Dalam pandangan gereja penggunaan alat kontrasepsi merupakan hal yang menurunkan martabat dan kesucian dari pernikahan itu sendiri. Karena penggunaan alat kontrasepsi membuat pasangan hanya memandang istri sebagai tubuh tak berjiwa yang menjadi tempat pemuasan hawa nafsu seksual saja.
\
4. Apa ajaran gereja tentang KB alamiah?
kesabaran, kesederhanaan, kelemah-lembutan, kebijakasanaan, dll yang semuanya baik untuk kekudusan suami-istri. Dan istri pun dapat merasa lebih dikasihi.
Referensi:
- Buku agama kelas 12
- https://msfmusafir.wordpress.com/2009/02/27/tantangan-dan-keperihatinan-yang-aktual-dalam-hidup-keluarga/
- http://evanferlano.blogspot.com/2011/10/tantangan-dan-kesulitan-dalam.html