• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dakwah dan radikalisme: studi pada Kiai di Desa Kandang Semangkon Paciran Lamongan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Dakwah dan radikalisme: studi pada Kiai di Desa Kandang Semangkon Paciran Lamongan"

Copied!
129
0
0

Teks penuh

(1)

DAKWAH DAN RADIKALISME

(Studi pada Kiai di Desa Kandang Semangkon Paciran Lamongan)

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Magister dalam Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Oleh Muslihun NIM. F0. 2.7. 161.64

PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Muslihun. 2018. Dakwah dan Radikalisme (Studi pada Kiai di Desa

Kandang Semangkon Paciran Lamongan). Tesis, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Kata Kunci: Dakwah, Radikalisme, Kiai

Penelitian ini berawal dari fenomena-fenomena radikalisme yang terjadi di Desa Kandang Semangkon Paciran Lamongan. Penelitian ini tidak hendak merespon isu tersebut. Namun, penelitian ini membahas tentang dakwah kiai dalam membendung atau mengantisipasi radikalisme di Desa Kandang Semangkon Paciran Lamongan. Para tokoh agama (kiai) harus mempunyai metode dakwah dalam mengantisipasi masuknya radikalisme yang nanti akan mempengaruhi masyarakat serta untuk membentengi diri agar tidak terjadi

kesalapahaman dalam mengartikan makna jihad, Islam kaffah dan lain sebagainya

dituangkan dalam kegiatan-kegiatan keagamaan tertentu. Misalnya jamiyyah tahlil, istighosah setiap malam jumat serta kegiatan-kegiatan hari besar Islam (maulid nabi, nuzulul qur’an dan 1 muharam).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kiai dalam membendung radikalisme di Desa Kandang Semangkon Paciran Lamongan dan metode dakwah kiai dalam membendung radikalisme di Desa Kandang Semangkon Paciran Lamongan.

Dalam penelitian ini, Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis

penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk analisis data menggunakan alur deskriptif yang penerapannya dilakukan dalam tiga alur kegiatan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa peran kiai dalam membendung radikalisme di Desa Kandang Semangkon Paciran Lamongan antara lain: mendorong tumbuh dan berkembangnya pemahaman serta implementasi

nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jama’ah, membuat sosialisasi internal tentang bahaya

radikalisme melalui forum jama’ah tahlil dan istighosah, memberikan wawasan

keislaman tentang konsep Islam Rahmatalil’alamin, memberikan teladan berupa

perilaku yang mencerminkan pelaksanaan Islam moderat, menyelenggarakan pembinaan dan pembentukan kader. Sedangkan metode dakwah kiai dalam membendung radikalisme di Desa Kandang Semangkon Paciran Lamongan antara lain: metode dakwah bil hal dengan akulturasi budaya melalui kegiatan-kegiatan keagamaan, metode dakwah bil hal melalui “Gerakan Maghrib Mengaji”, metode dakwah ceramah melalui khutbah jum’at, dan metode dakwah mujadalah dengan cara kaderisasi ideologi aswaja terhadap masyarakat.

(7)

DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING TESIS ... iii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iv

SURAT PERNYATAAN PUBLIKASI ... v

ABSTRAK ... vi

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Batasan Masalah ... 7 C. Rumusan Masalah ... 7 D. Tujuan Penelitian ... 7 E. Kegunaan Penelitian ... 8 F. Kerangka Teoritik ... 8 G. Penelitian Terdahulu ... 17 H. Metode Penelitian ... 22 I. Sistematika Pembahasan ... 30

BAB II KERANGKA TEORITIK A. Dakwah ... 32

1. Pengertian Dakwah ... 32

2. Unsur-unsur Dakwah ... 34

(8)

B. Radikalisme ... 44

1. Pengertian Radikalisme ... 44

2. Faktor penyebab dan sumber kemunculan radikalisme ... 45

3. Konsep Radikalisme ... 49

4. Ciri-ciri Radikalisme ... 50

5. Wujud Radikalisme ... 52

6. Cara menanggulangi Radikalimse ... 53

C. Kiai ... 55

1. Pengertian Kiai ... 55

2. Ciri-Ciri Kiai ... 56

3. Peran Kiai ... 59

4. Hubungan Kiai dengan masayrakat ... 60

BAB III PAPARAN DATA PENELITIAN A. Deskripsi umum objek peneltian ... 62

1. Latar Belakang Sejarah Desa Kandang Semangkon ... 62

2. Susunan Organisasi Pemerintah Kandang Semankon ... 64

3. Tata Kerja Pemerintah Desa ... 64

4. Program dalam bidang kesejahteraan masyarakat ... 63

5. Letak Geografis Desa Kandang Semangkon ... 65

B. Deskripsi Hasil Penelitian ... 66

1. Peran Kiai dalam membendung Radikalisme ... 73

2. Metode Dakwah Kiai dalam membendung Radikalisme ... 77

(9)

A. Peran Kiai dalam Membendung Radikalisme ... 93

B. Metode Dakwah dalam membendung Radikalisme ... 95

C. Temuan Penelitian ... 98 D. Implementasi Teoritik... 100 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 112 B. Saran ... 113 DAFTAR PUSTAKA

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Islam merupakan suatu agama dakwah yang menegaskan pada

umatnya untuk menyebarkan syariat Islam pada umat manusia yang menuju

pada kesejahteraan umat, ajaran Islam yang mencakup segenap aspek

kehidupan dijadikan sebagai pedoman hidup serta dilakukan dalam kehidupan

sehari-hari.1

Sekarang ini aktifivitas dalam dakwah tidak hanya cukup disyiarkan oleh para ulama, akan tetapi sampai sekarang melaksanakan amar ma’ruf nahi

mungkar merupakan salah satu kewajiban setiap muslim. Dalam memahami

esensi dari makna dakwah sering juga dipahami sebagai upaya memberikan

pemecahan masalah dan penyelesaiannya. Dan masalah tersebut mencakup

segala aspek yang meliputi ekonomi, sosial, budaya, sains, hukum, dan

teknologi. Untuk itu dakwah harus dikemas dengan menggunakan metode

dan media sesuai dengan kebutuhan yang ada di masyarakat.2

Masyarakat merupakan suatu kumpulan orang yang hidup dalam satu

tempat dan saling berintraksi satu sama lain. Fungsi pemersatu dalam sebuah

masyarakat secara administratif dipegang oleh para aparat desa mulai dari

ketua RT, Kepala Dusun atau Dukuh, maupun Kepala Desa. Selain pemimpin

1Abdul Rosyad Saleh, Manajemen Dakwah Islam(Jakarta: Bulan Bintang, 1977),1.

2Fathur Rahman, “Runtuhnya Media Massa Islam Alternatif” Jurnal Harmoni, Volume

(11)

2

administratif tersebut juga terdapat pemersatu masyarakat secara simbolik

(moral, agama, kultural) yang dilaksanakan para kiai.3

Bagi umat Islam, kiai tidak saja dinilai sebagai pemimpin informal

yang mempunyai otoritas sentral, tetapi juga sebagai personifikasi penerus

Nabi Muhammad. Sebagai pemimpin informal, kiai merupakan orang yang

diyakini penduduk desa mempunyai otoritas yang sangat besar dan

karismatik. Kiai dipandang masyarakat mempunyai kelebihan-kelebihan yang

luar biasa yang membuat kepemimpinanya diakui secara umum.4

Pada realitas seorang kiai merupakan mereka yang mempunyai dan

memimpin pesantren dengan santri yang banyak asumsi ini tidak tepat sebab

dalam kehidupan masyarakat desa, ternyata ada orang-orang tertentu yang

diposisikan sebagai kiai meskipun mereka tidak mempunyai pesantren.5

Kiai tanpa pesantren tersebut dalam masyarakat biasa disebut Kiai

kampung atau kiai langgar. Istilah ini merujuk pada sosok kiai yang hidup di

kampung atau desa yang menjadi pengasuh mushalla atau dalam masyarakat

jawa lebih dikenal dengan istilah langgar atau surau.6

Keberadaan kiai desa adalah untuk merawat semangat kebersamaan

agar kohesi dan dinamika masyarakat pedesaan tetap berada dalam bingkai

nilai-nilai agama dan moral masyarakat. Kiai desa juga berfungsi sebagai

katalisator dan dinamisator masyarakat yang berfungsi sebagai pemersatu

3M. Khanif Dahkiri. Kiai Kampung dan Demokrasi Lokal (Yogyakarta: KLIK. R, 2007).,

16-17.

4Ali Maschan Moesa. Nasionalisme Kiai: Konstruksi Sosial Berbasis Agama

(Yogyakarta: Lkis. 2007)., 2.

5Sayfa Aulia Achidsti. Eksistensi Kiai dalam Masyarakat. Jurnal Kebudayaan Islam. Vol.

12, No. 2, Juli-Desember 2014. 150.

(12)

3

masyarakat dengan meningkal kecenderungan yang bersifat dominatif dan

hegemonik.7

Menyatunya kehidupan kiai desa dan masyarakat tidak hanya

membuat mereka menjadi lebih dekat dengan masyarakat, namun para kiai

desa lebih bisa terlibat dalam berbagai kegiatan sosial seperti gotong royong.

Tidak ada jarak antara kiai desa dengan masyarakat disekitarnya. Kecuali

sikap hormat yang diberikan masyarakat karena pengabdian dan pelayanan

kiai.8

Radikalisme merupakan proses penyebaran dan penyerapan

pemikiran-pemikiran radikalisme. Sampai saat ini, sebenarnya upaya

radikalisme agama masih berlangsung di masyarakat, baik untuk mencari

kader maupun untuk mencari dukungan dalam penyebaran radikalisme.

Proses radikalisasi ditandai dengan adanya penyebaran pemikiran radikal di

masyarakat serta perekrutan anggota atau kelompok teroris.9 Radikalisme di

Indonesia sudah mulai perkembang di pedesaan-pedesaan, walaupun sudah

mendapat penolakan-penolakan paham ini tetap berkembang pesat,

kelompok-kelompok radikalisme ini muncul karena sosial politik.10

Sebenarnya radikalisme bukan sesuatu hal yang baru berkembang di

Indonesia. Hal itu bermula saat terjadinya Bom Bali 1 dan 2. Kemudian

setelah itu muncullah jaringan-jaringan teroris mulai dari yang kecil hingga

7Ibid.14. 8Ibid.60.

9Zuzy Arianti dkk. Persepsi dan Resistensi Aktifitas Muslim Kampus terhadap Paham

dan Gerakan Islam Radikal: Kasus Perguruan Tinggi di Propinsi Lampung. Jurnal PENAMAS Volume 28, Nomor 2, Juli-September @015. 312.

10Nur Khamid, Bahaya Radikalisme terhadap NKRI. Jurnal of Islamic Studies and

(13)

4

yang bersekala besar. Dan rata-rata mereka disinyalir punya relasi dengan

ISIS11. Radikalisme merupakan masalah yang penting karena paham ini

sudah berkembang di pedalaman-pedalaman, isu tentang radikalisme dan

teroris ini menjadikan agama Islam diklaim sebagai agama yang mengajarkan

kekarasan.Walaupun anggapan itu mudah dimentahkan tetapi pada

kenyataanya Islam garis keras masih saja melakukan kekerasan.12 Kelompok

radikal biasanya mendapat doktrin-doktrin untuk berjihad yang mereka

anggap pekerjaan paling mulia. Mereka akan menyerang siapa saja yang

berbeda pandangan. Bahkan kelompok radikal ini menghalalkan segala cara.

Termasuk menghalalkan darahnya. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran

Islam yang penuh dengan kasih sayang, bukan kekerasan.13

Penelitian ini hendak meneliti di desa Kandang Semangkon Paciran

Lamongan karena konflik serupa juga sering muncul di daerah tersebut. Pada

tahun 2013, terjadi konflik sosial karena kesalapahaman antara pemuda desa

dengan Fron Pembela Islam (FPI) Lamongan yang berada di kecamatan

paciran yang mengakibatkan beberapa orang terluka dan sangat meresahkan

masyarakat. Perselisihan ini berujung panjang serta mengakibatkan pertikaian

semakin besar karena konflik tersebut sering kali diproblematisir dengan

simbol-simbol keagamaan.14

11

https://seword.com/sosbud/di-kota-ini-para-teroris-bermunculan. Diakses pada 9 Januari 2018. Pukul 10.00 WIB.

12Abu Rokmad, Pandangan Kiai tentang Deradikalisasi Paham Islam Radikal di Kota

Semarang. Jurnal “Analisa” . Volume 21. 01 Juni 2014., 28.

13Opcit.

14Lujeng Luthfiyah,dkk.“Deradikalisasi Pemahaman Al-Qur’an: Pendampingan

Masyarakat Rawan Terpengaruh Gerakan Islam Garis Keras”. Jurnal Mutawatir.

(14)

5

Selain itu, pada Maret 2015 di desa Kandang Semangkon Paciran

Lamongan terindikasi sebagai tempat peresmian kelompok radikal. Hal itu

terlihat dari 16 orang WNI yang tertangkap diperbatasan Syuriah-Turki yang

disinyalir akan bergabung dengan ISIS. Dan 10 orang tersebut berasal dari

desa Kandang Semangkon Paciran Lamongan.15

Belum lagi keberadaan jaringan kelompok Islam aliran keras di desa

Blimbing Paciran Lamongan (desa yang bersebelahan langsung dengan Desa

Kandang Semangkon) mempunyai pengaruh sangat kuat terhadap daerah

sekitar, termasuk desa Kandang Semangkon. yakni pada 7 April 2017 tim

Detasemen Khusus 88 Antiteror Markas Besar Polri menangkap tiga terduga

teroris yang menyimpan kartu identitas Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Serta menyimpan sejumlah barang antara lain bros warna hitam dan ikat

kepala warna hitam dengan tulisan ISIS. Selain itu, ada tujuh senjata tajam,

diantara golok, parang, dan celurit. Ada juga cairan kimia yang belum

diketahui jenisnya sebanyak 100 milimeter. Tiga terduga teroris yang

ditangkap yakni Zainal Anshari dan Adi Bramadinata (warga kelurahan

Blimbing)serta Zainal Hasan (di Dusun Jetak, Desa Paciran Kecamatan

Paciran Lamongan)16

Berbijak pada kasus radikalisme yang terjadi di Kandang Semangkon

Paciran Lamongan. Penelitian ini tidak hendak merespon isu tersebut.

Namun, penelitian ini membahas tentang dakwah kiai dalam membendung

15Ibid,.86.

16https://nasional.tempo.co Geledah Rumah Terduga Teroris Paciran, Kapolres: Ada ID

(15)

6

atau mengantisipasi radikalisme di Desa Kandang Semangkon Paciran

Lamongan. Para tokoh agama (kiai) harus mempunyai metode dakwah dalam

mengantisipasi masuknya radikalisme yang nanti akan mempengaruhi

masyarakat serta untuk membentengi diri agar tidak terjadi kesalapahaman

dalam mengartikan makna jihad, Islam kaffah dan lain sebagainya dituangkan

dalam kegiatan-kegiatan keagamaan tertentu. Misalnya jamiyyah tahlil,

istighosah setiap malam jumat serta kegiatan-kegiatan hari besar Islam

(maulid nabi, nuzulul qur’an dan 1 muharam). Hal ini menarik untuk diteliti

selain untuk mendiskripsikan juga sebagai acuan atau patokan bagi

masyarakat lain yang mengantisipasi masuknya radikalisme. Maka peneliti

ingin menelaah bagaimana dakwah kiai dalam membendung radikalisme. Penelitian ini dengan judul “ Dakwah dan Radikalisme(Studi pada Kiai di

(16)

7

B.Batasan Masalah

Dari latar belakang masalah diatas diperoleh gambaran permasalahan

yang begitu luas. Namun menyadari adanya keterbatasan waktu dan

kemampuan maka peneliti memandang perlu memberi batasan masalah

secara jelas dan terfokus.

Selanjutnya masalah yang menjadi objek penelitian dibatasi pada

Dakwah dan Radikalisme (Studi pada Kiai di Desa Kandang Semangkon

Paciran Lamongan).

C.Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah yang telah peneliti pilih maka dapat

dirumuskan permasalahan penelitian ini sebagai berikut:

1. Apa peran kiai dalam membendung radikalisme di Desa Kandang

Semangkon Paciran Lamongan?

2. Bagaimana metode dakwah kiai dalam membendung radikalisme di

Desa Kandang Semangkon Paciran Lamongan?

D.Tujuan Penelitian

1. Untuk memberikan uraian secara detail peran kiai dalam membendung

radikalisme di Desa Kandang Semangkon Paciran Lamongan.

2. Untuk memahami metode-metode dakwah secara mendalam dalam upaya

membendung radikalisme di Desa Kandang Semangkon Paciran

(17)

8

E.Kegunaan Penelitian

Dari hasil penelitian ini, diharapkan memiliki dua manfaat, yaitu

manfaat teoritis dan praktis. Manfaat secara teoritis yaitu, Penelitian yang

dilakukan di Desa Kandang Semangkon Paciran Lamongan, ini diharapkan

dapat menjadi tambahan karya ilmiah, juga bantuan keilmuan dalam rangka

memberi wawasan dan masukan kepada masyarakat desa dalam menangani

radikalisme. Sedangkan manfaat secara praktis, yaitu:

1. Penelitian ini digunakan sebagai salah satu usaha pengembangan potensi

yang telah dimiliki penulis tentang metode berfikir ilmiah dalam rangka

pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian ini diharapkan menjadi

acuan dalam upaya menggunakan dakwah dalam kegiatan-kegiatan

masyarakat.

2. Hasil penelitian ini bisa menjadi bahan ikhtisar pengetahuan dan

khazanah perpustakaan sehingga dapat bermanfaat bagi peneliti-peneliti

berikutnya.

F. Kerangka Teoritik

1. Pengertian Dakwah

Dakwah secara bahasa berasal dari bahasa Arab An-nida artinya

memanggil, Ad-du’a ila sya’i, artinya menyeruh dan mendorong sesuatu.

(18)

9

ataupun yang batil.17 Melihat pengertian diatas dakwah merupakan

dorongan untuk mengajak dari kebatilan menuju kebaikan.

Dalam buku lain dakwah dilihat dalam segi kosakatanya berbentuk

kata benda (isim), dalam pengertiannya karena termasuk diambil (musytaq)

dari fi’il muta’adi, mengadung nilai dinamik, yakni ajakan, seruan,

panggilan permohonan. Makna-makna tersebut mengadung sebuah unsur

suatu usaha yang dinamis. Apalagi kalau merujuk pada sumber Al-qur’an

sebagai masdar ad-dakwah, hampir semua yang ada kaitanya dengan

dakwah diekspresikan dengan kata kerja. (fi’il madhi, mudhari, dan amar).18

Syekh Ali bin shalih al-Mursyid mengartikan dakwah sebagai sistem yang

berfungsi menjelaskan tentang kebenaran, kebajikan, dan petunjuk

(Agama), sekaligus menguak berbagai kebatilan beserta media dan

metodenya melalui sejumlah teknik, metode, dan media yang lain19.

Dakwah bertujuan untuk menggambarkan suatu kebenaran, kebajikan serta

petunjuk agama dalam mengurangi suatu kebatilan, melalui sejumlah

metode dakwah yang diterapkan dalam masyarakat dengan cara

memanfaatkan media sekaligus metode-metode dakwahnya.

Sedangkan menurut Muhammad Abu al-Fath al-Bayanuni dalam

bukunya “al-madkhol ‘ila ‘ilmi al-da’wah” dakwah adalah menyampaikan

dan mengajarkan agama Islam kepada seluruh manusia serta mempraktikan

17Jum’ah Amin Abdul Aziz, Fiqih Dakwah, (Surakarta: Era Adicitra Intermedia, 2010).,

24.

18Asep Muhyidin dan Agus Ahmad Safei, Metode Pengembangan Dkwah, (Bandung:

pustaka setia, 2002), 27.

(19)

10

dalam kehidupan nyata.20 Dakwah juga bermakna mengajak orang lain agar

melaksanakan perintah Allah SWT dan menjahui segala larangan-Nya, baik

berupa ucapan maupun perbuatan. Hal itu berarti memerintah orang lain

untuk melakukan segala kebaikan, melarang orang lain dari segala

keburukan.21

Secara garis besar pengertian dakwah mengajak kepada suatau

kebaikan dan menjahui semua larangan berdasarkan syaria’at yang telah ditentukan dalam agama Islam. Sedangkan metode yang dilakukan para da’i

mempunyai beragam cara hal ini bertujuan agar apa yang telah disampaikan bisa mengena terhadap mandu’ dan bisa diterapkan dalam kehidupan

bermasyarakat.

2. Pengertian Radikalisme

Radikalisme berasal dari kata latin radix yang artinya “akar”22 lebih

jauh dipaparkan bahwa radikalisme menurut Kamus Ilmiah Populer berasal

dari kata radikal yang artinya besar-besaran dan menyeluruh, keras, kokoh,

maju, dan tajam (dalam berfikir).23 Berdasarkan bahasa latin radikalisme

berasal dari kata radik yang mempunyai arti akar adapun menurut Kamus

Ilmiah Populer radikal mempunyai arti besar-besaran, menyeluruh, keras,

kokoh, maju serta tajam dalam berpikir

20

Abu al-Fath Al-Bayanuni, Al-Madkhal ‘Ila Ilmu Al-Dakwah (Birut: Muassisah Risalah, 2001), 17.

21Fawwas bin Hulayyil Rabah As-Suhaimi, Begini Seharusnya Berdakwah, Cet.II

(Jakarta: Darul Haq, 2011), 19.

22Harlen Devis Munandar, Strategi Kementrian Agama Rejang Lebong dalam

Pencegahan Penyebaran Radikalisme di Rejang Lebong. Jurnal Manthiq Vol. 1, No. 1, Mei 2016.67.

(20)

11

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

radikalisme adalah paham aliran yang menginginkan pembaharuan sosial

dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.24 Radikalisme merupakan

suatua aliran atau paham yang ingin menginginkan suatu perubahan dalam

aspek apapun dengan sudut pandang kekerasan demi mencapai apa yang

diharapakan tanpa peduli dampak yang terjadi dalam perubahana tersebut.

Namun bila dilihat dari sudut pandang keagamaan radikalisme adalah

suatu paham keagamaan yang mengacu pada pondasi agama yang sangat

mendasar dengan fanatisme keagamaan yang sangat tinggi. Sehingga

penganut paham radikal menggunakan kekerasan pada orang yang berbeda

paham agar menerima paham yang dipercayainya secara paksa.25 Dari

konteks di atas dapat dipahami bahwa radikalisme adalah perilaku

keagamaan yang menghendaki perubahan secara drastis dengan mengambil

karakter yang keras yang bertujuan untuk merealisasikan target-target

tertentu.

Selama radikalisme dalam bentuk pemikiran ideologis tidak menjadi

masalah. Akan tetapi saat radikalisme ideologis berubah menjadi gerakan.

Maka akan menimbulkan masalah, terutama ketika semangat untuk kembali

pada dasar agama terhalang kekuatan politik. Sehingga mengakibatkan

radikalisme diiringi dengan kekerasan atau terorisme.26 Apabila radikalisme

24Abdul Munip, Menangkal Radikalisme Agama di Sekolah. Jurnal Pendidikan Islam

Volume 1, Nomor 2, Desember 2012/1434. 161.

25Nur Khamid, Bahaya Radikalisme terhadap NKRI. Jurnal of Islamic Studies an

Humanities. 134.

26Toto Suharto dan Ja’far Assagaf, Membendung Arus Paham Keagamaan Radikal di

(21)

12

hanya sebagai suatu bentuk pemikiran ideologis mungkin tidak akan mejadi

masalah, tetapi ketika radikalisme menjadi suatu gerakan maka akan menjdi

suatu persoalan.

Selain Islam Liberal, Islam Radikal atau Islam garis keras

mempengaruhi perubahan politik dan telah berkembang menjadi salah satu

kelompok gerakan Islam baru yang mempunyai arti penting di Indonesia.27

Paham islam liberal ini merupakan yang mengedepankan ke kersan dalam

mempengaruhi suatu perubahan politiknya, paham ini telah perkembang

menjadi gerakan Islam baru indonesia.

Di samping berbagai gerakan radikalisme Islam di Indonesia yang

dipengaruhi oleh gerakan radikalisme yang ada di Timur Tengah, muncul

juga berbagai gerakan radikalisme Islam yang bersifat lokal. Meskipun

gerakan ini memiliki kesamaan karakter dengan gerakan radikal di Timur

Tengah, akan tetapi gerakan radikalisme Islam lokal ini tidak memiliki

jejaring ideologi dan gerakan tingkat internasional.28 Gerakan radikalisme

yang bersifat lokal seperti, Fron Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir

Indonesia (HTI), Laskar Mujahidin, Ikhwanul Muslimin Indonesia, Laskar

Jihad, dan DI/TII .29 Faktor benyebab dan penyebaran paham radikalisme

adalah karena adanya pemahaman yang keliru atau sempit tentang ajaran

agama yang dianutnya, ketidak adilan sosial, kemiskinan, dan dendam

27Sun Choirul Ummah, Akar Radikalisme Islam di Indonesia. Jurnal Humanika,

No.12/Sept.2012.,6.

28Rakhmawati, Pola Pengasuhan Santri di Pondok Pesantren dalam Mengantisipasi

Radikalisme Agama (Studi Perbandingan Pondok Pesantren Ummul Mukminin dan Pesantren Pondok Madinah) Disertasi Progam Pascasarjana UIN Alaudin Makassar. 113

29Nur Syam, Radikalisme dan Masa Depan Hubungan Agama-Agama: Rekontruksi Tafsir

(22)

13

politik dengan menjadikan ajaran agama sebagai motivasi untuk

membenarkan tindakannya.30

Gerakan radikalisme di indonesia tidak lepas dari pengaruh politik

yang terjadi di timur tengah, gerakan radikalisme Islam di Indonesia

mempunyai sifat atau lokal tersendiri. Meskipun mempunyai karekter yang

sama dengan gerakan radikal di timur tengah, tetapi gerakan radikalisme

Islam lokal ini tidak memiliki jaringan internasioal, kelompok-kelompok

yang dianggap radikal oleh masyarakat atau pemerintah yang berada di

indonesia, FPI, HTI, Laskar mujahidin, Ikhwanul Muslimin Indonesia,

Laskar Jihad, dan DI/TII. Semua ini terjadi karena pemahaman agama yang

sangat sempit.

Sedangkan menurut Azyumardi Azra radikalisme banyak bersumber

dari pemahaman keagamaan yang literal, bacaan yang salah terhadap sejarah

Islam yang dikombinasikan dengan idealisasi yang berlebihan serta

deprivasi politik, sosial dan ekonomi yang masih bertahan dalam

masyarakat.31 Kemunculan gerakan Islam radikal di Indonesia juga

disebabkan oleh dua faktor; Pertama, faktor internal dari dalam umat Islam

sendiri yang terjadi penyimpangan norma-norma agama. Kedua, faktor

eksternal diluar umat Islam baik yang dilakukan penguasa maupun

hegemoni barat, seperti kasus gerakan Salaman Hafidz dan Imron yang

dikenal sebagai komando jihad yang telah membangkitkan radikalisme di

30Thahir Yuli Kusmanto, dkk. Dialektika Radikalisme dan Anti Radikalisme di Pesantren.

Jurnal Walisongo, Volume 23, Nomor 1, Mei 2015. 34.

(23)

14

Indonesia.32 Faktor penyebab paling dominan munculnya paham

radikalisme berasal dari faktor-faktor non-teologis seperti faktor sosial,

ekonomi, politik dan psikologis. Kemudian pada tahap selanjutnya

berkelindan dengan faktor teologis sebagai pemercepat berkobarnya api

konflik.33

Pemahaman ajaran agama yang salah hanya pada tekstual

mengakibatkan munculnya paham radikalisme dan masalah politik yang

berlebihan, ekonomi juga salah satu pemicunya. Faktor munculnya paham

radikalisme yang menonjol di Indonesia. Pertama faktor internal yang

disebabkan oleh orang Islam itu sendiri di karenakan memahami

norma-norma agama yang salah, kedua faktor eksternal yang dilakukan selain

orang islam hal ini di karenakan sebagian tidak suka dengan orang Islam

terutama pada orang barat.

Radikalisme merupakan suatu aliran keagamaan yang menginginkan

suatu perubahan dengan cara kekerasan dalam mencapai tujuan.

3. Pengertian Kiai

Kiai merupakan seseorang yang menjadi panutan bagi masyarakat

setempat. Karena kiai memiliki pemahaman yang tinggi tentang agama

Islam dan mengajarkanya kepada masyarakat yang luas, maka dari itu

kemudian kiai disebut simbolik. Kiai juga meruapakan salah satu tokoh

32Ahmad Asrori, Radikalisme di Indonesia antara Historisitas dan Antropisitas. Jurnal

Studi Agama dan Pemikiran Islam. Volume 9, Nomor 2, Desember 2015. 259.

33Sutikno, dkk. Deradekalisme Islam (Konstruksi Paradigma Berbasis Kearifan Lokal).

(24)

15

masyarakat yang memiliki kedalaman ilmu pengetahuan.34 Kiai adalah

seseorang yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang mempunayi

pemahaman agama yang luas sekaligus sebagai tokoh masyarakat yang bisa

jadi panutan bagi masyarakat setempat.

Kiai merupakan sebutan kepada seseorang yang dimuliakan. Pada

umumnya kata kiai digunakan untuk menyebut guru pesantren, yaitu orang

tua (sesepuh) yang dihormati atau guru agama yang alim, dihormati serta

berkharisma.35

Sebagaimana disebut Dhofier, lembaga-lembaga pengajian yang

berkembang di masyarakat memiliki model yang berbeda-beda dan

bertingkat-tingkat berdasarkan tujuan dan peserta didiknya.36

Lembaga-lembaga pengajian yang ada memiliki corak atau model-model yang

berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Ada jenis lembaga pengajian yang berbasis pada komplek pondok

yang disebut pesantren, dan lembaga pengajian yang hanya berbasis masjid

atau langgar di desa. Pesantren menampung anak santri dari berbagai daerah

yang tinggal menetap (mukim) bersama kiai di pondok. Sementara lembaga

pengajian yang berbasis di masjid atau di langgar hanya diikuti masyarakat.

Mereka tidak bermukim dengan kiai, tetapi langsung pulang ke rumah

masing-masing selepas belajar mengaji. Pengasuh lembaga pengajian yang

hanya berbasis di masjid atau langgar disebut kiai desa karena hanya

34Anas Azhar, Kiai Money Politic dan Pragmatisme Politik dalam Pespektif Siyasah

Syar’iyyah, Jurnal Agama dan Hak Asasi Manusia, Vol. 5, 2, Mei 2016.230-231.

35Zaini Muchtarom, Islam di Jawa dalam Perspektif Santri dan Abangan (Jakarta:

Salemba Diniyah, 2002),. 13.

(25)

16

mengajar Agama kepada santri se-desa.37 Lembaga pengajian ada yang

berbentuk komplek yang biasa disebut dengaan pondok pesantren, biasanya

para santri ini dari berbagai macam daerah yang menetap atau bermukinm

bersama kiai untuk mendapat ilmu-ilmu keagamaan, ada juga lembaga

pengajian yang berada di masjid atau langgar biasanya pengajian ini hanya

diikuti oleh masyarakat setempat dan ketika selesai pengajian langsung

pulang kerumhnya masing-masing. Pengasuh lembaga pengajian yang

berada di masjid atau langgar sering disebut dengan kiai desa. Karena yang

diajarkan hanya berada di satu desa tersebut.

Bagi penduduk desa, kiai tidak hanya menjadi guru, kepada siapa

mereka atau anak-anak mereka belajar agama, tetapi juga merupakan

seorang tokoh atau pemimpin masyarakat. Kiai-kiai desa yang mengelolah

masjid atau langgar merupakan sosok yang mempunyai peran penting dalam

masyarakat yang dijadikan sebagai tempat bertanya berbagai masalah.

Yang terlibat secara aktif dalam masyarakat. Mereka hidup ditengah-tengah

masyarakat. Tidak seperti kiai besar dan yang mempunyai pesantren ini

menjadi komunitas sendiri yang memiliki jarak dengan masyarakat dan

kiai-kiai besar selama ini diliputi rasa hormat berlebihan dan rasa sungkan yang

tidak bisa membuka pintu lebar untuk dialog. Kritik dari masyarakat tidak

37Ibid,. 54.

(26)

17

dapat disampaikan secara langsung dan terbuka suasana psikologis

tersebut.38

Kiai desa tidak hanya sebagai guru Agama yang mengajarakan kepada

ilmu-ilmu agama terhadap masyarakat desa setempat, akan tetapi kiai desa

merupakan tokoh masyarakat yang mampu memberikan solusi ketika

masyarakat mempunyai masalah, Kiai desa merupakan kiai yang langsung

berintraksi terhadap masyarakat. Berbeda dengan kiai besar yang memiliki

komunitas (pondok pesantren) sendiri sehingga kedekatan dengan

masyarakat tidak sebegitu intensif. Hal ini terkadang menjadikan

masyarakat sungkan terhadap kiai-kiai besar dan menghormatinya terkadang

terlalu berlebihan sehingga kedekatanya dengan masyarakat tidak begitu

intensif.

G.Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu dimaksudkan untuk mengkaji hasil penelitian

yang relevan dengan penelitian ini. Di mana penelitian ini belum ada yang membahas “Dakwah dan Radikalisme ( Studi pada Kiai di Desa Kandang

Semangkon)”. Namun ada beberapa penelitian terdahulu yang membahas

tentang radikalisme.

Pertama, Jurnal penelitian Mahmuddin, Dakwah Kontemporer dan Radikalisme Agama di Bulukumba. Penelitian ini bertujuan untuk

38Lukmanul Hakim, “Protes Kiai Kampung Studi atas Perlawanan Kiai terhadap

Pembangunan Jalan Tol di Babakan Ciwarigin Cirebon”. Tesis Studi Islam UIN SUKA.

(27)

18

mengetahui penerapan dakwah kontemporer di Bulukumba sebagai upaya

untuk menangkal radikalisme agama. Hal ini disorot dari sudut karakteristik da’i kontemporer, materi dakwah kontemporer dan media dakwah

kontemporer serta peran dakwah dalam menangkal radikalisme agama di

kabupaten Bulukumba. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa peran dakwah dalam menangkal radikalisme Agama adalah pada umumnya da’i sangat

berperan dan berupaya untuk menjelaskan Agama secara proporsional.39

Persamannya penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang

radikalisme keagamaan serta sama-sama menggunaka metode kualitatif.

Sedangkan perbedaanya terletak pada tujuan dari penelitian. Pada penelitian

ini bertujuan untuk mengetahui Dakwah Kiai dalam membendung

radikalisme. Sedangkan penelitian sebelunya bertujuan untuk mengetahui

penerapan dakwah kontemporer dalam upaya menangani radikalisme.

Kedua, Erizal Syahputra, Peran Rohis dalam Membendung Paham Radikal di SMAN 1 Kecamatan Simpang Kanan Aceh Singkil, Tesis Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Pendidikan Agama Islam. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa Rohis SMAN 1 Simpang Kanan memiliki peran dalam

membendung paham radikalisme yang menyeluruh dan matang terkait

pengamalan ajaran Agama baik bersifat sosial maupun lainnya. Penelitian ini

39Mahmuddin, “Dakwah Kontemporer dan Radikalisme Agama di Bulukumba” Jurnal

(28)

19

merupakan penelitian lapangan (field research) yang bersifat deskriptif

kualitatif.40

Persamaanya penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang

radikalisme keagamaan serta sama-sama menggunaka metode kualitatif.

Sedangkan perbedaanya terletak pada fokus masalah dan teknik analisis data.

Fokus masalah pada penelitian ini adalah tentang Dakwah Kiai dalam

membendung radikalisme. Sedangkan fokus masalah pada penelitian

sebelumnya adalah peran Rohis dalam membendung paham radikalisme.

Ketiga,Jurnal penelitian Noermala Sary, Mencegah Penyebaran Paham Radikalisme pada Sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian

ini adalah deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field

research). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa strategi yang

dilakukan oleh guru rumpun PAI dalam mencegah penyebaran paham

radikalisme di MAN 1 terbagi menjadi 2 macan yaitu strategi dalam proses

pembelajaran di dalam kelas yaitu dengan menggunakan metode

pembelajaran aktif dan metode pembelajaran Qur’ani, dan diluar proses

pembelajaran di dalam kelas yaitu dengan mengadakan berbagai kegiatan

keagamaan, membentuk tim ibadah di sekolah serta bekerjasama dengan

pihak kepolisian.41

Persamannya penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang

radikalisme keagamaan serta sama-sama menggunaka metode kualitatif.

40Erizal Syahputra. 2016. Peran Rohis dalam Membendung Faham Radikal di SMAN 1

Kecamatan Simpang Kanan Aceh Singkil, Tesis Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Pendidikan Agama Islam.

41Noermala Sary “Mencegah Penyebaran Paham Radikalisme pada Sekolah” Jurnal

(29)

20

Sedangkan perbedaanya terletak fokus masalah serta analisis data. Fokus

masalah pada penelitian ini adalah dakwah Kiai dalam membendung

radikalisme. Sedangkan penelitian sebelumnya fokus pada strategi yang

digunakan guru rumpun PAI dalam mencegah paham radikalisme.

Keempat, Jurnal penelitian Sudarno Aziz Tiyanto dan Oksiana

Jatiningsih, Persepsi Santri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep

tentang Radikalisme Islam di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap bagaimana persepsi santri pondok pesantren Al-Amien

Prenduan Sumenep tentang radikalisme islam di Indonesia. Penelitian ini

menggunakan kualitatif dengan jenis penelitian eksploratif. Teknik

pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam. Hasil penelitian

yang diperoleh adalah hampir semua subjek sepakat berpandangan negatif

terhadap radikalisme Islam, akan tetapi ada santri yang membagi pengertian

radikalisme menjadi dua pengertian ada yang bermakna positif dan ada yang

negatif.42

Persamannya penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang

radikalisme keagamaan serta sama-sama menggunaka kualitatif deskriptif.

Sedangkan perbedaanya terletak fokus masalah serta analisis data. Fokus

masalah pada penelitian ini adalah dakwah Kiai dalam membendung

radikalisme. Sedangkan penelitian sebelumnya fokus pada persepsi santri

pondok pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep tentang paham radikalisme.

42Sudarno Aziz Tiyanto dan Oksiana Jatiningsih, “Persepsi Santri Pondok Pesantren

Al-Amien Preduan Sumenep Tentang Radikalisme Islam Agama”. Jurnal Kajian Moral dan Kewarganegaraan, Volume 05 Nomor 3 jilid 1 tahun 2017.

(30)

21

Penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptifs edangkan penelitian

sebelumnya menggunakan jenis penelitian eksploratif dengan teknik

pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam.

Kelima, Rahmawati, Pola Pengasuhan Santri di Pondok Pesantren dalam Mengantisipasi Radikalisme Agama (Studi Perbandingan Pondok

Pesantren Ummul Mukminin dan Pesantren Pondok Madinah) Disertasi

PascasarjanaUIN Alaudin Makassar. Penelitian ini menggunakan penelitian

lapangan yang bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan

pedagogis, sosiologis, psikologis, dan teologis normatif. Hasil dari penelitian

ini bahwa pola pengasuhan yang diterapkan pada Pondok Pesantren Ummul

Mukminin dan Pondok Pesantren Madinah. Hal ini dilakukan sebagai langkah

yang efektif untuk mengatisipasi paham radikalisme Agama, yang

akhir-akhir ini berkembang semakin pesat ini merupakan kepedulian Pondok

pesantren dalam mengatisipasi radikalisme. Suatu hal yang terpenting sebagai

suatu masukan agar semua pesantren memasukkan materi tentang paham

radiklisme sejak dini. Supaya santri tahu bahaya tentang radikalisme agama.43

Persamannya penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang

radikalisme keagamaan serta sama-sama menggunaka kualitatif deskriptif.

Sedangkan perbedaannya terletak fokus masalah serta analisis data. Fokus

masalah pada penelitian ini adalah dakwah kiai dalam membendung

43Rahmawati. 2012. Pola Pengasuhan Santri di Pondok Pesantren dalam Mengantisipasi

Radikalisme Agama (Studi Perbandingan Pondok Pesantren Ummul Mukminin dan Pesantren Pondok Madinah) . Disertasi PascasarjanaUIN Alaudin Makassar.

(31)

22

radikalisme. Sedangkan penelitian sebelunya fokus tentangpola pengasuhan

santri di pondok pesantren dalam mengantisipasi paham radikalisme.

H. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini, Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif.

Hal ini didasarkan pada permasalahan dan tujuan yang hendak dicapai

yaitu hanya berusaha untuk menggambarkan atau mendiskripsikan secara

komprehensif mengenai data yang diperoleh di lapangan tentang Dakwah

dan Radikalisme (Studi pada Kiai di Desa Kandang Semangkon Paciran

Lamongan). Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Bodgan &

Taylor bahwa pendekatan kualitatif adalah suatu prosedur penelitian yang

menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau tulisan dari

orang-orang dan prilaku, peristiwa, atau tempat tertentu secara rinci dan

mendalam.44

Sedangkan menurut Azwar penelitian deskriptif dalam melakukan

analisis hanya sampai pada taraf diskripsi, yaitu menganalisis dan

menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk

dipahami dan disimpulkan.45

Dilihat dari jenis penelitian, maka penelitian ini menggunakan jenis

penelitian studi kasus. Bodgan (1982) mengemukakan bahwah studi kasus

44L.J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2001)

45 M. Iqbal Hasan. Pokok-pokok Materi Metode Penelitian dan Aplikasinya Cet 1

(32)

23

adalah suatu strategi penelitian yang mengkaji secara rinci atas suatu latar

atau satu orang subyek atau tempat penyimpanan dokumen atau suatu

peristiwa tertentu.46

Menurut Depdikbud penelitian kasus adalah penelitian yang

bertujuan untuk mempelajari secara intensif mengenai unit sosial tertentu,

yang meliputi individu, kelompok, lembaga dan masyarakat. Adapun

ciri-ciri dari penelitian kasus adalah pertama, menggambarkan subyek

penelitian di dalam keseluruhan tingkah laku itu sendiri dan hal-hal yang

melingkunginya, lain-lain yang berkaitan dengan tingkah laku tersebut.

Kedua, dilakukan dengan mencermati kasus secara mendalam dan

berhati-hati. Ketiga, dilakukan karena cenderung didorong untuk keperluan

pemecahan masalah.47

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka penelitian ini

menggunakan penelitian kualitatif jenis studi kasus dengan teori “kontruksi sosial” yang dicetuskan oleh Peter Berger dan Thomas

Luckmann.

2. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek merupakan seseorang yang menjadi sasaran dalam

penelitian, dalam hal yang berkaitan dengan kiai di Desa Kandang

Semangkon Paciran Lamongan. Sedangkan objek merupakan sesuatu

46 Bodgan, R.C. & Bicklen, S.K. Qualitative Research For Education: An Introduction to

Theory and Methods (Boston: Allyn and Bacin. 1982)

(33)

24

yangmenjadi pokok persoalan, dalam tesis ini adalah tentang dakwah dan

radikalisme.

3. Jenis dan Sumber Data

Data dalam penelitian adalah bahan keterangan tentang sesuatu

objek penelitian yang diperoleh di lokasi penelitian. Definisi data

sebenarnya mirip dengan definisi informasi, hanya saja informasi lebih

ditonjolkan segi pelayanan, sedangkan data lebih menonjolkan aspek

materi.48

Data merupakan suatu sumber yang di dapat dari masyarakat yang

dianggap mampu memberikan informasi yang berkaitan dengan dakwah

kiai di desa Kandang Semangkon dalam membendung radikalisme.

Menurut Lofland sumber data utama dalam penelitian kualitatif

ialah kata-kata serta tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti

dokumen dan lain-lain. Berkaitan dengan hal itu pada bagian ini jenis

datanya dibagi ke dalam kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis, dan

foto.49

Penelitian kualitatif meruapakan penelitian datanya diperoleh dan

berkaitan dengan perkataan seseorang yang menjadi sumber informasi

yang berkaitan dengan judul penelitian.

48Burhan Burgin. Metodologi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi, Ekonomi, Dan

Kebijakan Publik Serta Ilmu-Ilmu Social Lainnya, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), 119.

49Lexy J.Moleong. Metode Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya, 2009),

(34)

25

Jika dilihat dari jenisnya, data kualitatif terdiri dari data primer dan

skunder.50

a. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber

data pertama di lokasi penelitian atau objek penelitian hal ini terkait

dengan kegiatan kiai yang mempunyai pesantren maupun yang tidak

mempunyai pesantren yang biasanya disebut kiai langgar seperti pengajian, kegiatan jama’ah tahlil, istighosah. Semua data tersebut

diperoleh penulis dari wawancara kepada pihak-pihak yang terkait.

b. Data skunder adalah data yang diperoleh dari sumber tetapi secara

tidak langsung. Data skunder diperoleh dari dokumentasi-dokumentasi

tentang kegiatan-kegiatan dakwah kiai dan masyarakat kawasan

pantura Lamongan dalam membendung paham radikalisme dan

dokumen-dokumen penting lainya seperti foto, rekaman wawancara.

Yang membantu dan memperkuat data yang dibutuhkan dalam

penulisan karya ilmiyah ini.

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara,

observasi dan dokumentasi.

a. Wawancara (interview)

Menurut Moelong wawancara adalah percakapan dengan

maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua pihak yaitu

pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan

50Jonatan Sarwono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif (Yogyakarta: Graha

(35)

26

terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas

pertanyaan tersebut.51

Wawancara ini dilakukan untuk mendapatkan data dari sumber

informasi yang dianggap mampu memberikan data yang berkaitan

dengan judul penelitian ini.

Teknik ini menuntut Peneliti untuk mampu bertanya

sebanyak-banyaknya dengan perolehan jenis data tertentu sehingga diperoleh

data atau informasi yang rinci.52

Dalam penelitian kualitatif, wawancara menjadi metode

pengumpulan data yang utama. Sebagian besar data diperoleh melalui

wawancara. Untuk itu penguasaan teknik wawancara sangat mutlak

diperlukan. Satu hal yang perlu diperhatikan oleh Peneliti ketika

melakukan wawancara, yaitu tidak sampai subyek merasa

diinterogasi, maka subyek akan merasa tidak nyaman dan terancam

karena dalam sinterogasi terkandung tekanan dalam satu pihak.53

Wawancara ini dilakukan untuk mendapatkan data yang

berkaitan dengan dakwah kiai dalam membendung radikalisme.

b. Pengamatan (observasi)

Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri

yang spesifik yakni tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek

alam yang lain. Teknik pengumpulan data dengan observasi

51Opcit, 186.

52Hamidi, Penelitian Kualitatif: Pendekatan Praktis, Penulisan Proposal dan Laporan

Penelitian (Malang: Universitas Muhamadiyah Malang, 2008), 45.

53Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif (Jakarta: Salemba Humanika,

(36)

27

digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses

kerja, gejala-gejala alam dan bila responden tidak terlalu besar.54

Observasi adalah suatu kegiatan mencari data yang dapat digunkan

untuk memberikan suatu kesimpulan atau diagnosis.55

Peneliti mengadakan pengamatan langsung dengan cara

melibatkan diri dalam proses kegiatan-kegiata dakwah kiai dalam

membendung radikalisme di Desa Kandang Semangkon, disamping

itu peneliti juga mencatat fenomena-fenomena yang ada kaitanya

dengan permasalahan peneliti. Penggunaan teknik ini dimaksud agar

peneliti memperoleh data yang lebih lengkap dan lebih menyeluruh

berkaitan dengan fokus penelitian melalui pengamtan yang saksama

dan terlibat langsung atau berpartisipasi aktif dalam kegiatan.

c. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan

oleh peneliti kualitatif untuk mendapatkan gambaran dari sudut

pandang subjek melalui suatu media tertulis. Metode dokumen ini

sebagai metode pengumpulan data. Oleh karena itu sejumlah fakta dan

data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi.56

Dokumentasi juga sangat perlu dilakukan dalam mendapatkan suatu

sumber data yang diperlukan hal ini sesuai dengan fakta yang ada di

54Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, 186. 55Opcit, 131.

(37)

28

masyarakat setempat yang terdokumentasi atau tertulis, sesuai dengan

dakwah kiai dalam membendung radikalisme.

5. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara

sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan

dan dokumentasi dengan cara menjabarkan ke dalam unit-unit, menyusun

sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang

akan dipelajari, serta membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami

oleh diri sendiri dan orang lain.57 Menurut Miles, Huberman teknik

analisis data dimulai dari reduksi data, penyajian data, hingga menarik

kesimpulan.58

a. Reduksi Data

Reduksi data merupakan proses menajamkan, menggolongkan

yakni memilih hal-hal yang pokok serta memfokuskan kepada hal-hal

yang penting, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data

dengan cara sedemikian rupa sehingga mempermuda peneliti dalam

menarik kesimpulan-kesimpulan finalnya.59

Proses reduksi data dimulai ketika data telah terkumpul dari

berbagai sumber, yakni wawancara, observasi yang telah dilakukan

peneliti dalam lapangan serta dokumentasi yang terkait dalam dakwah

57Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif dan R&D (Bandung:Alfabeta, 2009), 244.

58

Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodelogi Penelitian Sosial-Agama, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), 192.

59Matthew B.miles dan Michael Huberman, Qulitative Data Analysis Indeks, terj. Tjetjep

(38)

29

kiai dalam membendung radikalisme di Desa Kandang Semangkon.

Selanjutnya data yang diperoleh dipelajari dan ditelaah.

b. Penyajian Data

Setelah reduksi data proses selanjutnya adalah penyajian data

merupakan salah satu kegiatan dalam pembuatan laporan hasil

penelitian yang telah dilakukan agar dapat dipahami dan dianalisis

sesuai tujuan yang diinginkan.60

c. Menarik Kesimpulan

Merupakan suatu usaha peneliti untuk lebih memperhatikan

butir-butir yang kunci serta mengkaji sbuah suatu informasi yang

kunci tersebut secara lebih cermat dan teliti. Tujuan kegiatan ini untuk

menemukan inti atau sebuah esensi dari berbagai informasi yang

berhasil diperoleh, yang mengarah pada titik-titik kesimpulan yang

terkait dengan permasalahan penelitian tersebut, sehingga dapat

membantu peneliti dalam penarikan kesimpulan.61

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

melakukan teknik analisis deskriptif, yaitu kegiatan peneliti untuk

memahami cara orang-orang berinteraksi dan bekerjasama melalui

fenomena kehidupan sehari-hari. Dan dengan menggunakan teori

kontruksi sosial yang dicetuskan oleh Peter Berger dan Thomas

Luckmann. Teori ini menjelaskan tentang bagaimana suatu

60Ibid., 17.

(39)

30

pengetahuan manusia dibentuk melalui interaksi sosial.62 Menurut

teori ini identitas suatu objek merupakan hasil bagaimana kita

membicarakan objek yang bersangkutan, bahasa yang digunakan

untuk menuangkan konsep kita, dengan cara bagaimana kelompok

sosial memberikan perhatiannya kepada pengalaman-pengalaman

bersama mereka.63

I. Sistematika Pembahasan

Untuk mempermuda dalam memahami pembahasan penelitian ini

secara sistematis, maka perlu menguraikan secara singkat tentang sistematika

pembahasan yang akan dipaparkan dalam penelitian ini. Adapun sistematika

pembahasan sebagai berikut:

Bab I merupakan pendahuluan yang berisi gambaran umum yang membuat

pola dasar dari kerangka pembahasan tesis yang di dalamnya terdiri dari: latar

belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,

kegunaan penelitian, kerangka teoritik,penelitian terdahulu, metode penelitian,

dan sistematika pembahasan.

Bab II merupakan kerangka teoritik tentang dakwah yang terdiri dari: konsep

dakwah pengertian dakwah, prinsip dakwah, metode dakwah. Kerangka

teoritik tentang radikalisme yang terdiri dari: pengertian radikalisme, faktor

penyebab radikalisme, ciri-ciri radikalisme, konsep radikalisme, wujud

radikalisme, cara menanggulangi radikalisme. sedangkan kerangka teoritik

62Stephen W. Littlejohn, et al., Theories Of Human Communication, terj. Moh. Yusuf Hamdan. (Jakarta: Salemba Humanika, 2014),. 67.

(40)

31

tentang kiai meliputi pembahasan: pengertian kiai, karakteristik kiai, dan peran

kiai.

Bab III merupakan pembahasan mengenai Desa Kandang Semangkon

Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan yang berisi gambaran umum

Kecamatan Paciran, letak geografis Desa Kandang Semangkon, dan sejarah

asal mula Desa Kandang Semangkon.

Bab IV berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan. Bab ini memuat

analisis terhadap data yang berkaitan dengan persoalan pokok yang dikaji

yaitu: peran kiai dalam membendung radikalisme di Desa Kandang

Semangkon Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan dan metode dakwah kiai

dalam membendung radikalisme di Desa Kandang Semangkon Kecamatan

Paciran Kabupaten Lamongan.

(41)

BAB II

KERANGKA TEORITIK

A. Dakwah

1. Pengertian Dakwah

Secara etimologis, dakwah dapat diartikan sebagai seruan, ajakan, dan

panggilan.64 dapat pula diartikan mengajak, menyeru, memanggil dengan

lisan ataupun dengan tingkah laku atau perbuatan nyata.65

Dakwah dalam pengertian tersebut dapat dijumpai dalam ayat-ayat Al-Qur’an antara lain:

Surat al-Baqarah: 186

يِل اوُبْ يشجَتْسَيْلَ ف ِناَعَد اَذإ ِعاَّدلا َةَوْعَد ُبْيِجُأ ٌبْيِرَق يِ نِإَف يِ نَع يِداَبِع َكَلَأَس اَذِإَو

َنوُدُشْرَ ي ْمُهَّلَعَل يِب اوُنِمْؤُ يْلَو

“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran”66

Surat Yunus: 25

َي هللاَو

ْد ُع

ْوا ِا

راد ىل

َّسلا

َل

ِم

ٍمْيِقَتْسُم ٍطاَرِص ىَلِإ ُءاَشَي ْنَم يِدْهَ يَو

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)”67

64 Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemah/

Penafsiran al-quran. 1972),. 127.

65 Masdar Farid Masu’udi, Dakwah Membela Kepentingan Siapa (Jakarta: P3M

Pesantren, 1987)., 2.

66 Departemen Agama, Al-qur’an dan TerjemahnyaI (jakarta:Fajar Mulia, 2007)., 35. 67 Ibid., 284.

(42)

33

Sedangkan pengertian dakwah secara terminologi dapat dilihat dari

pendapat para ahli antara lain:

a. A. Hasmy dalam bukunya Dustur Dakwah menurut al-Qur’an, dakwah

merupakan mengajak orang lain untuk meyakini dan mengamalkan

akidah dan syariat Islam yang terlebih dahulu telah diyakini dan

diamalkan oleh pendakwah itu sendiri.68

b. Farid Ma’ruf Noor, dakwah merupakan suatu perjuangan hidup untuk

menegakkan dan menjunjung tinggi undang-undang ilahi dalam

seluruh aspek kehidupan manusia dan masyarakat sehingga ajaran

Islam menjadi shibghah yang mendasari, menjiwai, dan mewarnai

seluruh sikap dan tingkah laku dalam hidup dan kehidupannya.69

c. Syekh Ali Mahfud, dakwah adalah memotivasi manusia agar

melakukan kebaikan menurut petunjuk, menyuruh mereka berbuat

kebaikan dan melarang mereka berbuat kemungkaran, agar mereka

berpendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.70

d. Toha Yahya Umar, dakwah adalah mengajak manusia dengan cara

bijaksana ke jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan, untuk

keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.71

Sedangkan menurut peneliti dakwah merupakan suatu usaha yang

dilakukan dengan sengaja dan sadar dengan mengajak orang lain ke jalan

yang benar, yakni berbuat baik dan mencegah perbuatan munkar.

68 A. Hasmy, Dustur Dakwah Menurut Al-Qur’an (Jakarta: Bulan Bintang, 1997),. 18. 69 Farid Ma’ruf Noor, Dinamika dan Akhlak Dakwah (Surabaya: Bina Ilmu, 1981),. 29. 70 M Kholili, Pokok-pokok Pikiran Tentang Psikologi (Yogya, UD. Rama, 1992),. 66. 71 Toha Yahya Oemar, Ilmu Dakwah (Jakarta: Wijaya, 1976),. 1.

(43)

34

Dari beberapa pengertian dakwah diatas dapat dipahami bahwa pada

prinsip dakwah merupakan upaya mengajak manusia agar mau menerima

kebaikan dan petunjuk. Atau dengan kata lain agar mereka mau meneria

Islam sehingga mereka mendapat kebaikan, kebahagiaan di dunia dan

akhirat.

2. Unsur-unsur Dakwah

Unsur-unsur dakwah adalah komponen yang terdapat dalam setian

kegiatan dakwah.72 adapun unsur-unsur dakwah tersebut adalah da’i (subjek

dakwah), mad’u (objek dakwah), maddah (materi dakwah), thariqah

(metode dakwah), dan atsar (efek dakwah).

a. Subjek dakwah/Da’i

Dalam hal ini subjek dakwah adalah yng melaksanakan

tugas-tugas dakwah, orang itu disebut da’i atau muballigh.73 Da’i secara

etimologi berasal dari bahasa Arab, artinya orang yang melakukan dakwah. Sedangkan secara terminologis da’i yaitu setiap muslim yang

berakal mukallaf (aqil baligh) dengan kewajiban dakwah.74 Da’i juga

dapat diartikan orang yang melaksanakan dakwah baik melalui lisan,

tulisan maupun perbuatan yang dilakukan baik secara individu, kelompok

ataupun melalui organisasi atau lembaga.75 Jadi da’i dapat diartikan

72Moh. Munir dan Wahyu Ilahi. Manajemen Dakwah. Cet ke-2 (Jakarta: Kencana,2009).,

21.

73Masdar Helmy. Dakwah dalam Alam Pembangunan( Semarang: Toha Putra, 1975)., 47. 74Wahidin Saputra. Pengantar Ilmu Dakwah (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2012).,

261.

(44)

35

sebagai orang yang menyampaikan pesan kepada orang lain, yakni

pelaku dakwah.

Dalam melaksanakan dakwah seorang da’i akan menjumpai

berbagai persoalan, baik mengenai pengertian, tujuan dakwah, cara

menghadapi mad’u, macam-macam jenis kegiatan yang harus

diwujudkan dalam aktivitas dakwah, nilai-nilai agama dan moral yang

harus kita cerminkan dalam masyarakat, sikap kita dalam menghadapi

perubahan sosial kaitannya dengan relevansi dakwah. Orientasi dakwah

menuju masyarakat industri dan problem-problem lainnya. Dari berbagai

macam problem itu boleh jadi kita berbeda pendapat filsafat yang kita

anut atau kita miliki.76

b. Objek dakwah/Mad’u

Secara etimologi mad’u berasal dari bahasa Arab yang artinya

objek atau sasaran.77 Sedangkan secara terminologi mad’u adalah setiap

orang atau sekelompok orang yang dituju atau menjadi sasaran suatu

kegiatan dakwah.78 Jadi mad’u dapat diartikan sebagai objek atau sasaran

yang menerima pesan dakwah dari seorang da’i atau biasanya lebih

dikenal dengan jama’ah.

Objek dakwah (mad’u) terdiri dari berbagai macam golongan

manusia. Penggolongan mad’u tersebut antara lain sebagai berikut:

76 Hasan Langgulung. Asas-Asas Pendidikan Islam ( Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1988).,

10.

77Ibid., 279.

78 A. Karim Zaidan. Asas al-Dakwah, diterj. M. Aswadie Syukur dengan judul Dsar-dasar

(45)

36

1) Dari segi sosiologis, masyarakat terasing, pedesaan, perkotaan, kota

kecil, serta masyarakat marjinal dan kota besar

2) Dari struktur kelembagaan, ada golongan priyai, abangan, remaja

dan santri, terutama pada masyarakat Jawa

3) Dari segi tingkatan usia, ada golongan anak-anak, remaja, dan

golongan orang tua

4) Dari segi profesi, ada golongan petani, pedagang, seniman, buruh,

pegawai negeri.

5) Dari segi tingkatansosial ekonomis, ada golongan kaya, menengah

dan miskin.

6) Dari segi jenis kelamin, ada golongan pria dan wanita

7) Dari segi khusus, ada masyarakat tunasusila, tunawisma, tunakarya,

narapidana, dan sebagainya.79

Mengingat keberadaan objek dakwah heterogen, baik pada tingkat

pendidikan, ekonomi, usia, dan lain sebagainya. Maka beragaman

tersebut hendaknya dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan

model penyelenggaraan dakwah, sehingga benar-benar dapat secara

efektif dan berhasil dalam menyentuh persoalan-persoalan kehidupan

umat manusia sebagai objek dakwah.

c. Materi dakwah

Materi adalah pesan yang disampaikan oleh seorang da’i. Materi

dakwah tidak lain adalah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan

(46)

37

Hadist sebagai sumber utama yang meliputi aqidah, akhlak dan syari’ah

dengan berbagai ilmu yang diperoleh darinya.80 Biasanya ajaran-ajaran

Islam yang dijadikan materi dakwah juga bisa bersumber dari ijtihad para

ulama.

Secara umum materi dakwah dapat diklasifikasikan menjadi 4

masalah pokok, antara lain:

1) Masalah aqidah

Masalah pokok yang menjadi materi dakwah adalah

aqidah islamiyah. Masalah aqidah dan keimanan menjadi materi

utama dalam dakwah. Karena aspek iman dan aqidah merupakan

komponen utama yang akan membentuk moralitas atau akhlak

ummat.

Ciri-ciri yang membedakan aqidah dengan kepercayaan

agama lain, yaitu:

a) Keterbukaan melalui persaksian

b) Cakrawala panangan yang luas dengan memperkenalkan

bahwa Allah adalah Tuhan seluruh Alam

c) Ketahanan antara iman dan Islam atau antara iman dan amal

perbuatan.

d) Orang yang memiliki iman yang benar akan cenderung untuk

berbuat baik dan akan menjahui perbuatan jahat, karena

perbuatan jahat akan berkonsekuensi pada hal-hal yang

(47)

38

buruk. Iman inilah yang berkaitan dengan dakwah Islam

dimana amar ma’ruf nahi munkar dikembangkan yang

kemudian menjadi tujuan utama dari suatu proses dakwah.81

2) Masalah Syariah

Secara bahasa syari’ah artinya peraturan atau

undang-undang. Sedangkan secara istilah syari’ah adalah hukum-hukum

yang ditetapkan Allah SWT untuk mengatur manusia baik dalam

hubungannya dengan Allah, dengan sesama manusia, dengan

alam semesta dan dengan makhluk ciptaan lainnya.82

Materi dakwah yang bersifat syari’ah ini sangat luas dan

mengikat seluruh umat Islam. Disamping mengandung dan

mencakup kemaslahatan sosial dan moral, materi dakwah ini

dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang benar dan

kejadian secara cermat terhadap hujjah atau dalil-dalil dalam

melihat persoalan pembaharuan, sehingga umat tidak terperosok

kedalam kejelekan. Karena yang diinginkan dalam dakwah adalah

kebaikan.83

Syari’ah dibagi menjadi dua subjek, antara lain:

a) Yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT

disebut dengan ibadah, ibadah merupakan perbuatan inti yang

81 H.M. Yunan Yusuf. Manajemen Dakwah (Jakarta: Kencana, 2006), 26. 82 Abdul Mujieb. Kamus Istilah Fiqih (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), 23. 83Ibid., 26.

(48)

39

termuat dalam rukun Islam yakni, syahadat, sholat, zakat,

puasa, dan haji bagi yang mampu.

b) Yang mengatur manusia dengan manusia atau alam lainnya

disebut muamalah. Muamalah merupakan aplikasi dari

ibadah dalam hidup bermasyarakat.84

Prinsip dasar utama syariah adalah menebar nilai

keadilan diantara manusia. Membuat hubungan yang baik antara

kepentingan individual dan sosial. Mendidik hati agar mau

menerima sebuah undang-undang untuk menjadi hukum yang

ditaati.85

3) Masalah Muamalah

Islam merupakan agama yang menekankan urusan

muamalah lebih besar porsinya daripada urusan ibadah yang

mencakup hubungan dengan Allah dalam rangka mengabdi

kepada Allah SWT.

Statemen ini dapat dipahami dengan alasan:

a) Dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist mencakup proporsi terbesar

sumber hukum yang berkaitan dengan urusan muamalah.

b) Ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran

lebih besar daripada ibadah yang bersifat perorangan

84 Munir. Manajemen Dakwah (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006)., 26. 85 Saerozi. Ilmu Dakwah (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013)., 39.

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Sejarah pengenalan dan perkembangan Islam ‘awal’ pada masyarakat desa Sendangduwur – Paciran – Lamongan ini tidak bisa terlepas

Pasangan Suami Istri di Desa Kemantren Paciran Lamongan. Fokus permasalahan dalam penelitian skripsi ini adalah 1) Bagaimana Proses Pelatihan Keluarga Ideal kepada

Tidak ada pengaruh aliran keberagamaan orang tua terhadap pilihan pendamping hidup perempuan di Desa sumurgayam Kecamatan Paciran Kabupaten

Ekspresi Sosial Orang Kaya Baru Masyarakat Pesisir Desa Kemantren Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan.. Achmad Aunur Rachim; 080910302020: 135 halaman; Program

Akad Antara Nelayan Dan Pemilik Kapal Motor Di Desa Kranji Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Perspektif Madzhab Maliki.Skripsi.Jurusan Hukum Bisnis Syariah, Fakultas

Desain penelitian yang digunakan adalah Analitik crossectional Populasi dalam penelitian ini adalah wanita usia 45-55 tahun di Desa Waru Lor Kecamatan Paciran Lamongan,

Skripsi berjudul “Ekspresi Sosial Orang Kaya Baru Masyarakat Pesisir Desa Kemantren Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan”, telah diuji dan disahkan oleh Fakultas Ilmu Sosial

menggunakan alat tangkap cantrang, oleh karena itu perlu penelitian mengenai pendapatan di Desa Kandansemangkon Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan, setelah adanya