9 2.1 Sistem Informasi
Marakas dan O’Brien (2014: 25) menyebutkan sistem sebagai satu set komponen yang saling terkait, dengan batasan yang jelas, bekerja sama untuk mencapai tujuan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sistem memiliki tiga fungsi dasar, yaitu:
1. Input
Meliputi mengambil dan mengumpulkan elemen yang memasuki sistem untuk diproses. Contohnya adalah bahan baku, energi, data, dan usaha manusia harus aman dan terorganisir untuk pemrosesan.
2. Processing
Meliputi proses transformasi yang mengubah input menjadi output. Contohnya adalah proses manufaktur proses pernapasan manusia atau perhitungan matematika.
3. Output
Meliputi mengubah elemen yang telah diproduksi oleh proses transformasi ke tujuan akhirnya. Contohnya, barang jadi, jasa manusia, dan informasi manajemen harus dikirimkan kepada pengguna.
Sebagai contoh sebuah sistem manufaktur menerima bahan baku sebagai
input dan memproduksi barang jadi sebagai output. Sebuah sistem informasi
menerima sumber (data) sebagai input dan memprosesnya menjadi produk (informasi) sebagai produk. Sebuah organisasi bisnis adalah suatu sistem dimana sumber daya manusia dan ekonomi diubah oleh berbagai proses bisnis ke dalam barang dan jasa. Marakas dan O’Brien (2014: 32) menjelaskan informasi sebagai data yang telah diubah menjadi konteks yang berarti dan berguna bagi pengguna akhir tertentu.
Sistem informasi adalah kombinasi teratur dari orang, hardware, software, jaringan komunikasi, sumber daya data, dan kebijakan dan prosedur yang menyimpan, mengambil, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi (Marakas & O’Brien, 2014: 6).
Rahadi, Musadieq, dan Susilo (2014: 2) mendefinisikan sistem informasi adalah suatu kesatuan elemen-elemen yang saling berinteraksi secara sistematis dan
teratur untuk menciptakan dan membentuk aliran informasi yang akan mendukung pembuatan keputusan dan melakukan pengendalian. Menurutnya, suatu sistem diganti atau diperbarui dikarenakan hal-hal berikut:
a. Adanya permasalahan yang timbul di sisi lain, yaitu: 1. Ketidakberesan
Ketidakberesan dalam sistem yang lama menyebabkan sistem yang lama tidak dapat beroperasi sesuai dengan yang diharapkan.
2. Pertumbuhan organisasi
Pertumbuhan organisasi yang menyebabkan harus disusunnya sistem yang baru. Pertumbuhan organisasi diantaranya adalah kebutuhan informasi yang semakin luas, volume pengolahan data semakin meningkat, serta perubahan prinsip akuntansi yang baru. Karena adanya perubahan ini, maka menyebabkan sistem yang lama sudah tidak efektif lagi, sehingga sistem yang lama sudah tidak dapat memenuhi lagi semua kebutuhan informasi yang dibutuhkan manajemen.
b. Untuk meraih kesempatan-kesempatan (opportunities)
Teknologi informasi telah berkembang dengan cepatnya. Perangkat keras komputer, perangkat lunak dan teknologi komunikasi telah begitu cepat berkembang. Organisasi telah merasakan bahwa teknologi informasi ini perlu digunakan untuk meningkatkan penyediaan informasi sehingga dapat mendukung dalam proses pengambilan keputusan yang akan dilakukan oleh manajemen. Dalam keadaan pasar bersaing, kecepatan informasi atau efisiensi waktu sangat menentukan berhasil atau tidaknya strategi dan rencana-rencana yang telah disusun untuk meraih kesempatan-kesempatan yang ada. Bila pesaing dapat memanfaatkannya, sedangkan perusahaan tidak dapat memanfaatkan teknologi ini, maka kesempatan-kesempatan akan jatuh ke tangan pesaing. Kesempatan ini dapat berupa peluang pasar, pelayanan yang meningkatkan kepada pelanggan dan sebagainya.
c. Adanya instruksi (directives)
Penyusunan sistem yang baru dapat juga terjadi karena adanya instruksi-instruksi dari atas pimpinan ataupun dari luar organisasi, seperti misalnya peraturan pemerintah.
Secara lebih lanjut Marakas dan O’Brien menjelaskan tentang peran sistem informasi dalam bisnis, diantaranya:
1. Mendukung proses dan operasi bisnis
2. Mendukung pengambilan keputusan oleh pegawai dan manajer 3. Mendukung strategi untuk keunggulan kompetitif
Gambar 2.1 Peran Sistem Informasi dalam Bisnis Sumber: Marakas & O’Brien (2014 : 7)
Ketika aplikasi sistem informasi berfokus pada penyediaan informasi dan dukungan untuk pengambilan keputusan yang efektif oleh para manajer, mereka disebut management support systems. Salah satu tanggung jawab pengambilan keputusan yang didukung oleh sistem informasi adalah sistem informasi manajemen (management information system). Sistem informasi manajemen memberikan informasi dalam bentuk laporan dan menampilkan kepada manajer dan professional bisnis lainnya. Sistem informasi manajemen merupakan bentuk paling umum dari sistem informasi dalam suatu organisasi.
Asemi dan Safari (2011: 165) menyatakan sistem informasi manajemen merupakan satu dari sistem informasi berbasis komputer yang paling umum. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi umum yang dibutuhkan oleh seluruh manajer dalam perusahaan atau di dalam beberapa subunit organisasional dari sebuah perusahaan.
2.2 Manajemen Operasional
Heizer dan Render (2010: 4) menjelaskan manajamen operasional sebagai serangakaian aktivitas yang menghasilkan nilai dalam bentuk barang dan jasa dengan mengubah input menjadi output. Kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa
berlangsung di semua organisasi. Berikut merupakan alasan mempelajari manajemen operasi:
1. Manajemen operasi adalah satu dari tiga fungsi utama dari setiap organisasi dan berhubungan secara utuh dengan semua fungsi bisnis lainnya. Semua organisasi memasarkan (menjual), membiayai (mencatat rugi laba), dan memproduksi (mengoperasikan), maka sangat penting untuk mengetahui bagaimana aktivitas manajemen operasi berjalan. Karena itu pula, kita mempelajari bagaimana orang-orang mengorganisasikan diri mereka bagi perusahaan yang produktif.
2. Kita mempelajari manajemen operasi karena kita ingin mengetahui bagaimana barang dan jasa diproduksi. Fungsi produksi adalah bagian dari masyarakat yang menciptakan produk yang kita gunakan.
3. Kita mempelajari manajemen operasi untuk memahami apa yang dikerjakan oleh manajer operasi. Dengan memahami apa saja yang dilakukan oleh manajer ini, kita dapat membangun keahlian yang dibutuhkan untuk menjadi seorang manajer seperti itu.
4. Kita mempelajari manajemen operasi karena bagian ini merupakan bagian yang paling banyak menghabiskan biaya dalam sebuah organisasi. Sebagian besar pengeluaran perusahaan digunakan untuk fungsi manajemen operasi. Walaupun demikian, manajemen operasi memberikan peluang untuk meningkatkan keuntungan dan pelayanan terhadap masyarakat.
2.3Persediaan
Heizer dan Render (2010: 82) menyatakan persediaan adalah salah satu aset termahal dari banyak perusahaan, mewakili sebanyak 50% dari keseluruhan modal yang diinvestasikan. Sementara itu, Deitiana (2011, 185) menyebutkan, pada satu sisi manajemen menghendaki biaya yang tertanam pada persediaan itu minimum, namun di pihak lain, seringkali konsumen mengeluh karena kehabisan persediaan.
Menurut Chase dan Jacobs (2011: 594) persediaan adalah stock barang atau sumber daya yang digunakan di dalam sebuah organisasi. Muttaqin, Musadieq, dan Riyadi (2014: 2) menjelaskan persediaan sebagai suatu istilah umum yang menunjukkan segala sesuatu atau sumber daya organsisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. Persediaan atau inventory merupakan simpanan material yang berupa barang mentah, dalam proses, dan barang jadi.
Sementara Rahadi, Musadieq, & Susilo (2014: 3) mendefinisikan persediaan sebagai simpanan bahan, baik bahan baku, bahan pembantu, bahan setengah jadi, bahan jadi, maupun bahan lain-lain, yang dimaksud untuk kebutuhan yang akan datang. Penyimpanan ini dilakukan karena perusahaan bisa saja sewaktu-waktu membutuhkan bahan-bahan tersebut, sehingga perusahaan tidak akan kerepotan dalam mendapatkannya.
2.3.1 Tujuan Persediaan
Berdasarkan penjelasan Chase dan Jacobs (2011: 595), seluruh perusahaan (termasuk operasi JIT) menyimpan pasokan persediaan utuk alasan-alasan sebagai berikut:
1. Untuk menjaga independensi operasi
Pasokan bahan baku pada pusat kerja memungkinkan fleksibilitas pusat dalam operasi. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan operasi yang identik akan bervariasi dari satu unit ke unit berikutnya. Oleh karena itu, dengan adanya persediaan akan memangkas waktu kerja sehingga dapat mengkompensasi waktu kerja yang lama.
2. Untuk memenuhi variasi pada permintaan produk
Jika permintaan produk dapat diketahui secara tepat, sangat memungkinkan (meskipun tidak harus ekonomis) untuk memproduksi produk untuk memenuhi permintaan dengan tepat. Biasanya, permintaan tidak sepenuhnya diketahui secara pasti, dan persediaan pengaman harus dijaga untuk mengantisipasi variasi.
3. Untuk memungkinkan fleksibilitas dalam jadwal produksi
Stock persediaan meringankan tekanan pada sistem produksi untuk mengeluarkan
barang jadi. Ini menyebabkan waktu tunggu (lead time) yang lebih lama, yang memungkinkan perencanaan produksi untuk alur yang lebih halus dan operasi rendah biaya melalui produksi lot-size yang lebih besar. Biaya penyetelan (setup
cost) yang tinggi, sebagai contoh, mendukung produksi jumah unit yang lebih
besar setelah penyetelan dibuat.
4. Untuk menyediakan perlindungan bagi variasi dalam waktu pengiriman bahan baku
Saat bahan baku dipesan dari vendor, penundaan dapat terjadi karena berbagai alasan: variasi normal dalam waktu pengiriman, kekurangan bahan baku di pabrik
pada satu perusahaan ekspedisi, pesanan yang hilang atau kiriman bahan baku yang salah atau rusak.
5. Untuk mengambil keuntungan ekonomi dari ukuran pesanan pembelian
Ada biaya untuk melakukan pemesanan: tenaga kerja, panggilan telepon, pengetikan, ongkos kirim, dan lain sebagainya. Maka dari itu, semakin besar pemesanan yang dilakukan, semakin kecil pemesanan yang harus ditulis. Selain itu, biaya pengiriman (shipping costs) mendukung pemesanan ynng lebih besar – lebih besar pengiriman, maka biaya per unit semakin rendah.
2.3.2 Fungsi Persediaan
Menurut Heizer dan Render (2010: 82), keempat fungsi persediaan adalah sebagai berikut:
1. “Decouple” atau memisahkan beberapa tahapan dari proses produksi
2. Melakukan “decouple” perusahaan dari fluktuasi permintaan dan menyediakan persediaan barang-barang yang akan memberikan pilihan bagi pelanggan
3. Mengambil keuntungan dari diskon kuantitas karena pembelian dalam jumlah besar dapat mengurangi biaya pengiriman barang
4. Melindungi dari inflasi dan kenaikan harga
Sementara itu Deitiana (2011: 186) menjelaskan, fungsi dari persediaan yaitu melayani beberapa kepentingan dalam perusahaan agar operasi perusahaan dapat berjalan dengan fleksibel, antara lain:
1. Untuk memberikan stok agar dapat memenuhi permintaan yang diantisipasi akan terjadi.
2. Untuk menyeimbangkan produksi dan distribusi.
3. Untuk memperoleh keuntungan dari potongan kuantitas, karena membeli dalam jumlah banyak biasanya ada diskon.
4. Untuk hedging terhadap inflasi dan perubahan harga.
5. Untuk menghindari kekurangan stok yang dapat terjadi karena cuaca, kekurangan pasokan, mutu, ketidaktepatan pengiriman.
6. Untuk menjaga kelangsungan operasi dengan cara persediaan dalam proses (work
2.3.3 Jenis – jenis Persediaan
Heizer dan Render (2010: 83) di dalam bukunya menyebutkan, untuk mengakomodasi fungsi-fungsi persediaan, perusahaan harus memelihara empat jenis persediaan, yaitu:
1. Persediaan bahan baku yang telah dibeli, tetapi belum diproses (raw material
inventory)
Persediaan ini dapat digunakan untuk melakukan decouple (pemisahan) pemasok dari proses produksi. Bagaimanapun juga, pendekatan yang lebih dipilih adalah menghilangkan variabilitas pemasok akan kualitas, kuantitas, atau waktu pengantaran sehingga tidak diperlukan pemisahan.
2. Persediaan barang setengah jadi (work in process – WIP inventory)
Work in process inventory – persediaan barang setengah jadi adalah
komponen-komponen atau bahan baku yang telah melewati beberapa proses perubahan, tetapi belum selesai. WIP ada karena waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan sebuah produk (disebut waktu siklus). Mengurangi waktu siklus akan mengurangi persediaan. Tugas ini tidaklah sulit. Selama sebagian besar waktu sebuah produk “sedang dibuat”, barang tersebut sebenarnya hanya diam.
3. Pemeliharaan, Perbaikan, Operasi (Maintenance, Repair, Operating – MRO) MRO adalah persedian-persediaan yang disediakan untuk persediaan
pemeliharaan, perbaikan, operasi yang dibutuhkan untuk menjaga agar mesin-mesin dan proses – proses tetap produktif. MRO ada karena kebutuhan serta waktu untuk pemeliharaan dan perbaikan dari beberapa perlengkapan tidak diketahui. Walaupun permintaan akan MRO merupakan fungsi dari jadwal pemeliharaan, permintaan-permintaan MRO lainnya yang tidak terjadwal harus dapat diantisipasi.
4. Persediaan barang jadi
Persediaan barang jadi merupakan produk yang telah selesai dan tinggal menuju pengiriman. Barang jadi dapat dimasukkan ke dalam persediaan karena permintaan pelanggan ddi masa mendatang tidak diketahui.
2.3.4 Biaya – biaya Persediaan
Menurut Deitiana (2011: 189), masalah utama yang ingin diatasi oleh pengendalian persediaan adalah meminimumkan biaya operasi total perusahaan. Dalam hal ini ada dua keputusan yang harus diambil, yaitu berapa jumlah yang harus
dipesan setiap kali pemesanan, dan kapan pemesanan itu harus dilakukan. Dalam menentukan jumlah yang dipesan pada setiap kali pemesanan, pada dasarnya harus dipertemukan dua titik ekstrim yaitu memesan dalam jumlah yang sebesar-besarnya untuk meminimumkan ordering cost dan memesan dalam jumlah yang sekecil-kecilnya untuk meminimumkan carrying cost .
Heizer dan Render (2010: 91) menyatakan, biaya-biaya yang perlu diperhitungkan disaat mengevaluasi masalah persediaan, diantaranya:
1. Biaya pemesanan (ordering cost)
Merupakan total biaya pemesanan dan pengadaan barang sehingga siap untuk dipergunakan atau diproses lebih lanjut. Mencakup biaya-biaya dari persediaan, formulir, proses pemesanan, pembelian, dukungan administrasi dan sebagainya. Ketika pesanan sedang diproduksi, biaya pesanan juga ada, tetapi mereka adalah bagian dari biaya penyetelan.
2. Biaya penyetelan (setup cost)
Merupakan biaya untuk mempersiapkan sebuah mesin atau proses untuk membuat sebuah pesanan. Ini menyertakan waktu dan tenaga kerja untuk membersihkan serta mengganti peralatan atau alat penahan. Manajer operasi dapat menurunkan biaya pemesanan dengan mengurangi biaya penyetelan serta menggunakan prosedur yang efisien, seperti pemesanan dan pembayaran elektronik.
3. Biaya penyimpanan (holding cost)
Merupakan biaya yang terkait dengan menyimpan atau “membawa” persediaan selama waktu tertentu. Oleh karena itu, biaya penyimpanan juga mencakup biaya barang using dan biaya yang terkait dengan penyimpanan, seperti asuransi, pegawai tambahan, dan pembayaran bunga. Banyak perusahaan yang tidak berhasil menyertakan semua biaya penyimpanan persediaan. Akibatnya, biaya penyimpanan persediaan sering ditetapkan kurang dari sebenarnya.
2.3.5 Manajemen dan Pengendalian Persediaan
Menurut Pramana, F. G. (2011: 25) pengendalian persediaan merupakan tindakan yang sangat penting dalam menghitung berapa jumlah optimal tingkat persediaan yang diharuskan, serta kapan saatnya mulai mengadakan pemesanan kembali. Pengendalian persediaan merupakan faktor yang cukup kuat dalam menentukan keberhasilan untuk mencapai tujuan yang telah terencana, pengendalian
juga merupakan salah satu fungsi manajemen. Oleh karena itu pengendalian perlu dilaksanakan pada setiap tingkat manajemen. Apabila perusahaan menanamkan terlalu banyak dana dalam persediaan, maka akan menyebabkan biaya penyimpanan yang berlebihan, demikian pula apabila perusahaan tidak mempunyai persediaan yang mencukupi, dapat mengakibatkan biaya-biaya dari terjadinya kekurangan bahan.
Menurut Adeyemi (2010: 136) manajemen persediaan penting di dalam efektivitas dan efisiensi perusahaan. Selain itu juga penting di dalam mengendalikan
material dan barang yang harus ada (disimpan) untuk digunakan pada waktu
produksi atau aktivitas pertukaran dalam kasus pelayanan.
Manajemen persediaan mengacu pada semua kegiatan yang terlibat dalam mengembangkan dan mengelola tingkat persediaan bahan baku, bahan setengah jadi (work in-progress) dan barang jadi sehingga persediaan yang cukup tersedia dan biaya persediaan tersebut rendah.
Tujuan utama dari manajemen persediaan termasuk menyeimbangkan masalah perekonomian dimana tidak diinginkannya menyimpan banyak persediaan. Sehingga membutuhkan banyak uang untuk menanggung timbulnya biaya seperti penyimpanan, pembusukan, pencurian dan keusangan serta keinginan untuk membuat barang tersedia kapanpun dan dimanapun jika dibutuhkan (dengan kualitas dan jumlah yang bagus) demi menghindari biaya yang tidak diinginkan.
Danil dan Siswanto (2014: 148) mendefinisikan pengendalian persediaan sebagai suatu usaha memonitor dan menentukan tingkat komposisi bahan yang optimal dalam menunjang kelancaran dan efektifitas serta efisiensi dalam kegiatan toko. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengendalian persediaan adalah usaha memonitor dan menentukan komposisi tingkat persediaan yang optimal dan menentukan kapan saatnya pemesanan harus dilakukan untuk menunjang kelancaran dan efektifitas serta efisiensi dalam kegiatan operasional bisnis (Mogere, Oloko, & Okibo, 2013: 12).
Persediaan dapat diartikan sebagai sumber daya yang belum digunakan. Persediaan mempunyai nilai ekonomis di masa mendatang pada saat aktif. Fungsi manajemen persediaan:
1. Perencanaan persediaan: menentukan kebutuhan material untuk memenuhi rencana produksi yang telah disusun.
2. Pengendalian persediaan: menentukan tingkat persediaan yang sesuai, dimana pemesanan harus dilakukan kembali, persediaan pengaman, pendataan tingkat dan kondisi persediaan.
Perencanaan dan pengendalian persediaan yang efektif akan memberikan pemenuhan kebutuhan secara tepat baik waktu, jumlah maupun spesifikasi dengan total biaya persediaan yang optimal (Yuliana & Octavia, 2001: 74).
Menurut Suswardji et al (2012: 1073) pengendalian persediaan adalah kegiatan untuk memelihara dan mengendalikan, juga suatu teknik pemesanan dan pemantauan barang-barang dalam kuantitas, jumlah dan waktu sesuai dengan yang direncanakan. Sistem pengendalian persediaan memainkan peranan penting dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam menangani persediaan pada perusahaan.
Pramana, F.G. (2011: 26) menyatakan tujuan pengendalian persediaan adalah sebagai berikut:
a. Untuk dapat memenuhi kebutuhan atau permintaan konsumen dengan cepat (memutuskan konsumen).
b. Untuk menjaga kontinuitas produksi atau menjaga agar perusahaan tida mengalami kehabisan persediaan yang mengakibatkan terhentinya proses produksi.
c. Untuk mempertahankan dan bila mungkin meningkatkan penjualan dan laba perusahaan.
d. Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari karena dapat mengakibatkan ongkos pesan menjadi besar.
e. Menjaga supaya penyimpanan dalam emplacement tidak besar-besaran, karena akan mengakibatkan biaya menjadi besar.
2.3.5.1 Model Persediaan 2.3.5.1.1 EOQ
Menurut Heizer dan Render (2010: 92) model kuantitas pesanan ekonomis (economic order quantity – EOQ) adalah salah satu teknik kontrol persediaan yang tertua dan paling terkenal. Teknik ini relatif mudah digunakan, tetapi berdasarkan pada beberapa asumsi:
b. Waktu tunggu – yakni waktu antara pemesanan dan penerimaan pesanan – diketahui dan kosntan
c. Penerimaan persediaan bersifat instan dan selesai seluruhnya. Dengan kata lain, persediaan dari sebuah pesanan datang dalam satu kelompok pada satu waktu
d. Tidak tersedia diskon kuantitas
e. Biaya variabel hanya untuk menyiapkan atau melakukan pemesanan (biaya penyetelan) dan biaya penyimpanan persediaan dalam wkatu tertentu (biaya penyimpanan atau membawa)
f. Kehabisan persediaan (kekurangan persediaan) dapat sepenuhnya dihindari jika pemesanan dilakukan pada waktu yang tepat
Menurut Heizer dan Render (2010: 95) secara matematis rumus EOQ adalah:
Q* =
N =
Dimana:
Q* = jumlah optimum unit per pesanan (EOQ)
D = permintaan tahunan dalam unit untuk barang persediaan S = biaya penyetelan atau pemesanan setiap pesanan
H = biaya penyimpanan atau penyimpanan per unit per tahun N = jumlah pemesanan
2.3.5.1.1.1 ROP dan Safety Stock
Sudwardji et al (2012: 1074) menjelaskan ROP (Reorder Point) sebagai titik/tingakt persediaan, dimana pemesanan kembali harus dilakukan, model persediaan sederhana mengasumsikan bahwa penerimaan suatu pesanan bersifat seketika, artinya model persediaan mengasumsikan bahwa setiap perusahaan akan menunggu sampai tingkat persediaannya mencapai nol, sebelum perusahaan memesan kembali dengan seketika kiriman yang dipesan akan diterima. Sementara lebih lanjut dijelaskan bahwa safety stock adalah persediaan yang dilakukan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan/barang,
misalnya karena penggunaan bahan yang lebih besar dari perkiraan semula atau keterlambatan dalam penerimaan bahan yang dipesan.
Menurut Heizer dan Render (2010: 99) model-model persediaan sederhana mengasumsikan sebuah pesanan akan diterima saat itu juga. Dengan kata lain, mereka mengasumsikan sebuah perusahaan akan menempatkan sebuah pesanan ketika tingkat persediaannya untuk barang tertentu tersebut mencapai nol dan perusahaan akan menerima barang yang dipesan secara langsung. Bagaimanapun juga, waktu antara penempatan dan penerimaan sebuah pesanan, disebut waktu tunggu (lead time) atau waktu pengantaran, bisa jadi hanya beberapa jam atau bisa juga mencapai beberapa bulan. Jadi, keputusan kapan harus memesan biasanya dinyatakan dengan menggunakan sebuah titik pemesanan ulang (reorder point – ROP). Titik pemesanan ulang adalah tingkat (titik) persediaan dimana tindakan harus diambil untuk mengisi kembali persediaan barang.
Untuk permintaan produk yang tidak pasti (tidak konstan) dapat meningkatkan kehabisan persediaan. Salah satu metode untuk mengurangi kehabisan persediaan adalah menyimpan unit-unit tambahan dalam persediaan. Seperti yang telah kita catat, persediaan seperti ini biasanya disebut persediaan pengaman (Heizer dan Render: 2010, 109).
Dalam menentukan persediaan pengaman (safety stock), dipengaruhi oleh tingkat pelayanan (service level). Menurut Heizer dan Render (2010: 109) tingkat pelayanan (service level) adalah komplemen dari probabilitas kehabis persediaan. Sebagai contoh, jika probabilitas kehabisan persediaan adalah 0,05, maka tingkat pelayanannya adalah 0,95.
Dengan demikian, ROP dapat dihitung dengan rumus:
ROP = d x L + safety stock
Dan safety stock dapat dihitung dengan rumus:
Safety stock = Z x σ x
Dimana:
d = permintaan
L = waktu tunggu
Safety stock = persediaan pengaman
Z = service level σ = standar deviasi
2.3.5.1.2 EOI (Economic Order Interval)
Economic order interval (EOI) atau yang juga disebut sistem persediaan
periodik adalah sistem persediaan yang berdasar pada periode pemesanan, bukan berdasar jumlah sisa persediaan seperti pada sistem persediaan kontinu. Adapun jumlah pemesanannya bergantung pada pemakaian (permintaan) selama periode waktu tertentu.
Menurut Sarjono H., dan Aryanto R. (2014: 5), model persediaan EOI memiliki interval waktu yang konstan dalam melakukan pemesanan kembali (reorder), tetapi kuantitas produk yang dipesan dapat berubah-ubah (dinamis) hingga mencapai optimal. EOI menggunakan tingkat persediaan maksimum (maximum
inventory level) selama waktu lead time dan interval pesanan. Setelah suatu periode
tetap (T) telah terlewati, jumlah persediaan dihitung. Sebuah pesanan dilakukan untuk memulihkan persediaan, dan jumlah pemesanannya tergantung berapa jumlah yang berkurang (maximum inventory level). Jadi, jumlah pesanan didapat dari selisih
maximum inventory level dan sisa persediaan pada waktu-waktu melakukan
perhitungan. Terdapat dua parameter yang digunakan yaitu periode tetap pemeriksaan (T) dan maximum inventory level (E).
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka secara matematis rumus EOI adalah:
T’ =
Safety stock = Z σ
E = safety stock + D (T’ + L) I = safety stock + ( D T’)
Q* = maximum inventory level (E) – average
TC = PD + + (safety stock + ) Cc Dimana: T’ = periode Co = biaya pemesanan Cc = biaya penyimpanan Z = service level σ = standar deviasi L = lead time
E = maximum inventory level I = averge inventory level P = harga
D = permintaan
2.3.5.1.3 Min-Max
Menurut Sarjono H., dan Aryanto R. (2014: 6), cara kerja sistem ini yaitu apabila persediaan telah melewati batas minimum dan mendekati batas safety stock maka reorder harus dilakukan. Jadi batas minimum (minimum stock) merupakan batas tingkat reorder. Batas maksimum (maximum stock) merupakan batas ketersediaan perusahaan untuk menginvestasikan uangnya dalam bentuk persediaan bahan baku. Jadi dalam hal ini yang terpenting adalah batas minimum dan maksimum untuk dapat menentukan order quantity. Secara matematis, rumusnya adalah sebagai berikut:
Safety stock =
Min Stock = (DL) + safety stock
Max stock = (2)(DL) + safety stock
Order (min-max) = max stock – min stock
N =
TC = PD + Co + CcD
D = permintaan n = jumlah hari kerja
L = lead time
Q* = jumlah optimum unit per pesanan (order) N = jumlah pemesanan dalam satu tahun
P = harga
Co = biaya pemesanan
Cc = biaya penyimpanan
2.4 Peramalan (Forecasting)
Heizer dan Render (2010: 162) mendefinisikan peramalan sebagai seni dan ilmu untuk memprediksi kejadian di masa depan. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan pengambilan data historis dan memproyeksikannya ke masa mendatang dengan suatu bentuk model matematis. Perusahaan selalu dituntut untuk memperkirakan atau meramalkan besarnya permintaan pelanggan akan produknya. Peramalan permintaan merupakan usaha untuk mengetahui jumlah produk atau sekelomok produk di masa yang akan datang dalam kendala atau kondisi tertentu serta untuk mengurangi resiko atau ketidakpastian yang dihadapi (Deitiana: 2011, 31).
Peramalan untuk permintaan produk adalah dasar untuk keputusan perencanaan yang paling penting. Menurut Russell dan Taylor (2011: 497), peramalan permintaan produk menentukan seberapa banyak persediaan yang dibutuhkan, seberapa banyak produk yang harus dibuat dan seberapa banyak material yang harus dibeli dari supplier untuk mencapai kebutuhan pelanggan yang sudah diramalkan. Tanpa peramalan yang tepat, persediaan dalam jumlah dan biaya yang besar harus dipersiapkan untuk mengantisipasi ketidakpastian permintaan oleh pelanggan.
Peramalan penjualan merupakan bagian penting dari manajemen rantai pasokan baik pada pengecer akhir dan distributor, manufaktur dan pemasok. Peramalan penjualan yang tepat waktu dan akurat sangat penting dalam menjembatani kesenjangan antara pasokan dan permintaan sehingga mengurangi biaya penyimpanan ketika menjaga kemungkinan kehabisan persediaan (Sanwanlani & Vijayalakshmi, 2013: 39)
Russell dan Taylor (2011: 497) secara lebih lanjut menjelaskan bahwa meskipun peramalan yang akurat tidak pernah mungkin bisa dilakukan, tetapi peramalan dapat mengurangi ketidakpastian mengenai masa yang akan datang.
2.4.1 Jenis – jenis Peramalan
Heizer dan Render (2010: 164) menyatakan, organisasi pada umumnya menggunakan tiga tipe peramalan yang utama dalam perencanaan operasi di masa depan:
1. Peramalan ekonomi (economic forecast) : menjelaskan siklus bisnis dengan memprediksikan tingkat inflasi, ketersediaan uang, dana yang dibutuhkan untuk membangun perumakan dan indikator perencanaan lainnya.
2. Peramalan teknologi (technological forecast) : memperhatikan tingkat kemajuan teknologi yang dapat meluncurkan produk baru yang menarik, yang membutuhkan pabrik dan peralatan baru.
3. Peramalan permintaan (demand forecast): proyeksi permintaan untuk produk atau layanan suatu perusahaan. Peramalan ini disebut juga peramalan penjualan, yang mengendalikan produksi, kapasitasm serta sistem penjadwalan dan menjadi input bagi perencanaan keuangan, pemasaran dan sumber daya manusia.
2.4.2 Peramalan Permintaan
Menurut Heizer dan Render (2010: 164) peramalan merupakan satu-satunya prediksi atas permintaan hingga permintaan yang sebenarnya diketahui. Peramalan permintaan mengendalikan keputusan di banyak bidang. Berikut adalah dampak peramalan produk pada tiga aktivitas: 1) sumber daya manusia, 2) kapasitas, dan 3) manajemen rantai pasokan.
1. Sumber Daya Manusia
Mempekerjakan, melatih, dan memberhentikan pekerja, semuanya bergantung pada permintaan. Jika departemen sumber daya manusia harus mempekerjakan pekerja tambahan tanpa adanya persiapan, akibatnya kualitas pelatihan menurun dan kualitas pekerja juga menurun.
2. Kapasitas
Saat kapasitas tidak memcukupi, kekurangan yang diakibatkannya bisa berarti tidak terjaminnya pengiriman, kehilangan konsumen, dan kehilangan pangsa pasar.
3. Manajemen Rantai Pasokan
Hubungan yang baik dengan pemasok, dan harga barang dan komponen yang bersaing, bergantung pada peramalan yang akurat.
2.4.3 Proses Peramalan (Forecasting)
Menurut Russel & Taylor (2011 : 502) peramalan tidak hanya sekedar mengidentifikasi dan menggunakan metode untuk menghitung perkiraan secara numerik permintaan di masa yang akan datang. Peramalan adalah proses yang berkelanjutan yang membutuhkan pemantauan konstan dan penyesuaian yang diilustrasikan oleh langkah-langkah berikut:
Gambar 2.2 Tahapan Peramalan (Forecasting) Sumber: Russel & Taylor (2011 : 502)
2.4.4 Metode Peramalan
Menurut Ghiani, Laporte, dan Musmanno (2013: 46) metode peramalan dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori utama yaitu:
1. Metode peramalan kualitatif 2. Metode peramalan kuantitatif
Menurut Heizer dan Render (2010: 163) metode peramalan kuantitatif biasanya diklasifikasikan dengan horizon waktu yaitu:
1. Peramalan jangka pendek (Short-range forecast)
Jangka waktu peramalan ini hingga 1 tahun, tetapi umumnya kurang dari 3 bulan. Digunakan untuk merencanakan pembelian (purchasing), penjadwalan kerja (job
scheduling), jumlah tenaga kerja (workforce levels), penugasan kerja (job assignments), dan tingkat produksi (production levels).
2. Peramalan jangka menengah (Medium-range forecast)
Jangka waktu peramalan ini antara 3 bulan hingga 3 tahun. Peramalan ini berguna untuk merencanakan penjualan (sales), perencanaan produksi dan anggaran (production planning and budgeting), anggaran kas, dan menganalisis macam-macam rencana operasi.
3. Peramalan jangka panjang
Umumnya untuk perencanaan masa 3 tahun atau lebih. Peramalan jangka panjang ini biasa digunakan untuk merencanakan produk baru, pembelanjaan modal, lokasi atau pengembangan fasilitas, serta penelitian dan pengembangan.
Secara lebih lanjut Heizer dan Render (2010: 163) menjelaskan bahwa metode peramalan kuantitatif terbagi dalam dua kategori yaitu model deret waktu dan model kausal. Model deret waktu membuat prediksi dengan asumsi bahwa masa depan merupakan fungsi dari masa lalu. Deret waktu didasarkan pada urutan dari titik-titik data yang berjarak sama dalam waktu (mingguan, bulanan, kuartalan, dan lain-lain). Dengan kata lain, mereka melihat apa yang terjadi selama kurun waktu tertentu dan menggunakan data masa lalu tersebut untuk melakukan peramalan. Meramalkan data deret waktu berarti nilai masa depan diperkirakan hanya dari nilai masa lalu dan variabel lain diabaikan walaupun variable-variabel tersebut mungkin sangat bermanfaat. Yang termasuk dalam model peramalan deret waktu diantaranya:
1. Naïve
Pendekatan naïve merupakan teknik peramalan yang mengasumsikan permintaan periode berikutnya sama dengan permintaan pada periode terakhir. Untuk beberapa jenis produk, pendekatan ini merupakan model peramalan objektif yang paling efektif dan efisien dari segi biaya.
Peramalan rata-rata bergerak menggunakan sejumlah data aktual masa lalu untuk menghasilkan peramalan periode berikutnya. Rata-rata bergerak berguna jika kita dapat mengasumsikan bahwa permintaan pasar akan stabil sepanjang masa yang kita ramalkan.
Secara matematis, rata-rata bergerak sederhana (merupakan prediksi permintaan periode mendatang) dinyatakan sebagai berikut:
Ft =
Keterangan:
n = jumlah periode dalam rata-rata bergerak
3. Rata-rata bergerak tertimbang (Weighted-Moving Average)
Saat terdapat tren atau pola yang terdeteksi, bobot dapat digunakan untuk menempatkan penekanan yang lebih pada nilai terkini. Praktik ini membuat teknik peramalan lebih tanggap terhadap perubahan karena periode yang lebih dekat mendapatkan bobot yang lebih berat. Pemilihan bobot merupakan hal yang tidak pasti karena tidak ada rumus untu menetapkan mereka. Oleh karena itu, pemutusan bobot yang digunakan membutuhkan pengalaman. Rata-rata bergerak dengan pembobotan dapat digambarkan secara matematis sebagai berikut:
Ft =
4. Penghalusan Eksponensial (Exponential Smoothing)
Penghalusan Eksponensial merupakan metode peramalan rata-rata bergerak dengan pembobotan yang canggih, tetapi masih mudah digunakan. Metode ini menggunakan pencatatan data masa lalu yang sangat sedikit. Penghalusan Eksponensial ini merupakan suatu teknik peramalan rata-rata bergerak dengan pembobotan di mana titik-titik data dibobotkan oleh fungsi eksponensial. Rumus penghalusan eksponensial dasar dapat ditunjukkan sebagai berikut:
Peramalan baru = Peramalan periode terakhir + α (permintaan sebenarnya periode terakhir – peramalan periode terakhir).
Dimana α adalah sebuah bobot atau konstanta penghalusan yang dipilih oleh peramal yang mempunyau nilai antara 0 dan 1. Persamaan diatas juga dapat ditulis sebagai berikut:
Ft = Ft-1 + α (At-1 – Ft-1)
Keterangan:
Ft = peramalan baru
Ft-1 = peramalan sebelumnya
α = konstanta penghalusan (pembobotan)(0≤ α≤1) At-1 = permintaan aktual periode lalu
Prediksi terakhir untuk permintaan sama dengan prediksi lama, disesuaikan dengan sebagian diferensiasi permintaan aktual periode lalu dengan prediksi lama. Pendekatan penghalusan eksponensial mudah digunakan dan telah berhasil diterapkan pada hampir setiap jenis bisnis. Walaupun demikian, nilai yang tepat untuk konstanta penghalusan, α, dapat membuat diferensiasi antara peramalan yang akurat dan yang tidak akurat. Nilai α yang tinggi dipilih saat rata-rata cenderung berubah. Nilai α yang rendah digunakan saat rata-rata cukup stabil. Tujuan pemilihan suatu nilai untuk konstanta penghalusan adalah mendapatkan peramalan yang paling akurat.
5. Penghalusan Eksponensial dengan tren (Eksponential Smoothing with Trend) Penghalusan eksponensial yang sederhana gagal memberikan respon terhadap tren yang terjadi. Untuk memperbaiki peramalan, maka digunakan model penghalusan eksponensial yang lebih rumit dan dapat menyesuaikan diri pada tren yang ada. Idenya adalah dengan menghitung rata-rata data penghalusan eksponensial, kemudian menyesuaikan untuk keterlambatan (lag) positif atau negative pada tren. Dengan penghalusan eksponensial dengan penyesuaian tren, estimasi rata-rata dan tren dihaluskan. Prosedur ini membutuhkan dua konstanta penghalusan, α untuk rata-rata dan β untuk tren. Kemudian, kita menghitung rata-rata dan tren untuk setiap periode.
Tt = β(Ft - Ft-1) + (1 - β)Tt-1
Keterangan:
Ft = peramalan dengan eksponensial yang dihaluskan dari data berseri pada
periode t
Tt = tren dengan eksponensial yang dihaluskan pada periode t
At = permintaan aktual pada periode t
α = konstanta penghalusan untuk rata-rata (0 ≤ α ≤1) β = konstanta penghalusan untuk tren (0 ≤ β ≤ 1)
Jadi, ada tiga langkah menghitung permalan dengan yang disesuaikan dengan tren, yaitu:
1. Menghitung Ft, peramalan eksponensial yang dihaluskan untuk periode t,
menggunakan persamaan Ft.
2. Menghitung tren yang dihaluskan, Tt, menggunakan persamaan Tt.
3. Menghitung peramalan dengan tren, FITt, dengan rumus FITt = Ft +Tt.
6. Regresi Linear (Linear Regression)
Pada model peramalan kausal, biasanya diperhitungkan beberapa variabel yang berhubungan dengan besaran yang diprediksi. Saat variabel terkait ini ditentukan, dibuat model statistik yang digunakan untuk peramalan. Russell dan Taylor (2011: 527) menyatakan regresi linear adalah teknik matematika yang menghubungkan satu variabel, yang disebut sebagai variabel bebas (independent), terhadap yang lain, variabel terikat (dependent), dalam bentuk sebuah persaman untuk garis lurus. Dalam hal peramalan, regresi digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antar variabel dengan permintaan. Persamaan linear adalah sebagai berikut:
+
Keterangan:
ŷ = nilai terhitung dari variabel yang akan dihitung (variabel terikat) a = perpotongan sumbu Y
b = koefisien regresi / slop
X = nilai variabel bebas yang diketahui Y = nilai variabel terikat yang diketahui n = jumlah data
b = kemiringan garis regresi (tingkat perubahan pada y untuk perubahan yang terjadi di x)
Menurut Chase dan Jacobs (2011: 525), regresi linear digunakan baik di deret waktu (time-series) dan kausal. Saat variabel terikat (digambarkan dengan sumbu vertikal pada grafik) berubah sebagai hasil dari waktu (digambarkan dengan sumbu horizontal), maka termasuk dalam analisis deret waktu. Apabila satu variabel berubah karena perubahan pada variabel lain, maka merupakan hubungan kausal.
2.4.5 Mengukur Kesalahan Peramalan
Heizer dan Render (2010: 177) menyatakan akurasi keseluruhan dari setiap model peramalan – rata-rata bergerak, penghalusan eksponensial, atau lainnya – dapat dijelaskan dengan membandingkan nilai yang diramal dengan nlai aktual atau nilai yang sedang diamati. Jika Ft melambangkan peramalan pada periode t, dan At
melambangkan permintaan aktual pada periode t, maka kesalahan peramalannya (deviasi) adalah sebagai berikut:
Kesalahan peramalan = Permintaan aktual – Nilai peramalan = At - Ft
Ada beberapa perhitungan yang biasa digunakan untuk menghitung kesalahan peramalan total. Perhitungan ini dapat digunakan untuk membandingkan model peramalan yang berbeda, mengawasi peramalan, dan untuk memastikan peramalan berjalan dengan baik. Pengukuran kesalahan peramalan adalah diantaranya adalah:
1. Mean Absolute Deviation – MAD (Deviasi Mutlak Rerata)
Nilai ini dihitung dengan mengambil jumlah nilai absolut dari setiap kesalahan peramalan dibagi dengan jumlah periode data (n).
MAD =
2. Mean Squared Error – MSE (Kesalahan Kuadrat Rerata)
MSE merupakan rata-rata selisih kuadrat antara nilai yang diramalkan dan nilai yang diamati.
MSE =
2.5 Object-Oriented Analysis and Design
Pendekatan berorientasi obyek ini melihat sebuah sistem informasi sebagai satu sebuah kumpulan dari obyek-obyek yang berinteraksi yang bekerja sama untuk menyelesaikan tugas-tugas. Mengingat bahwa pendekatan berioreintasi obyek melihat sistem informasi sebagai kumpulan obyek yang berinteraksi, analisis berorientasi obyek mendefinisikan obyek yang melakukan pekerjaan dan menentukan interaksi pengguna (disebut use cases) yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas.
Object-Oriented Analysis adalah proses mengidentifikasi dan menentukan Use cases dan sekelompok objects dalam sistem yang baru yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan tugas – tugas tertentu. Desain berorientasi obyek mendefinisikan semua jenis onyek tambahan yang diperlukan untuk berkomunikasi dengan orang-orang dan perangkat di dalam sistem, menunjukkan bagaimana obyek berinteraksi untuk menyelesaikan tugas, dan memperjelas definisi dari masing-masing jenis obyek sehingga dapat diimplementasikan dengan bahasa atau lingkungan tertentu. (Satzinger, Jackson, & Burd, 2012: 241).
2.5.1 Unified Process
Satzinger, Jackson dan Burd (2012: 446) menjelaskan Unified Process (UP) sebagai metodologi pengembangan sistem berorientasi objek yang awalnya ditawarkan oleh Rational Software yang sekarang menjadi bagian dari IBM.
Dikembangkan oleh Grady Booch, James Rumbaugh, dan Ivar Jacobson – dimana mereka adalah tiga perintis yang juga berada di balik keberhasilan Unified Modeling
Language (UML). UP adalah upaya mereka untuk mendefinisikan metodologi
lengkap untuk model sistem dan menjelaskan fitur yang unikdengan UML dan UP dapat mendeskripsikannya lebih dulu. Di UP jangka waktu proses pembangunan sejalan atau identik dengan metodologi pengembangan.
Terdapat empat fase untuk pengembangan UP yaitu:
1. Inception: adalah fase awal untuk membuat perkiraan visi dari sistem, membuat
business case, menentukan cakupan, dan membuat estimasi biaya dan jadwal proyek.
2. Elaboration: menentukan visi, mengidentifikasi dan menjelaskan semua
keperluan, mematangkan cakupan, desain, dan implementasi arsitektur inti, dan fungsi, menyediakan solusi untuk resiko, dan menghasilkan estimasi untuk biaya dan jadwal yang realistis.
3. Construction: secara iteratif mengimplementasikan resiko yang rendah, yang
dapat diprediksi, dan elemen yang mudah, serta bersiap untuk pelaksanaan. 4. Transition: menyelesaikan beta test dan pengimplementasian, sehinga user dapat
mulai bekerja dengan sistem dan mendapatkan keuntungan yang diharapkan.
Dalam UP terdapat istilah discipline untuk kumpulan aktifitas yang fungsinya saling berhubungan dan berkontribusi untuk satu aspek dari pengembangan proyek UP. Ada enam discipline utama dalam UP, yaitu business
modeling, requirements, design, yang akan dibahas dalam tugas akhir ini, serta implementation, testing, dan deployment.
1. Business Modeling
Tujuan utama dari Business Modeling adalah untuk memahami dan mengkomunikasikan lingkungan dimana sistem akan digunakan. Analis harus memahami permasalahan yang sedang terjadi dan peningkatan potensial yang mungkin untuk dilakukan dengan sistem baru. Selain itu analis dan tim harus mengkomunikasikan pemahaman ini kepada pengguna sistem, manajer, dan
programmer yang mengerjakan proyek. Tiga kegiatan utama dari business modeling adalah:
a. Understand the business environement: yaitu untuk mengetahui lingkungan
Selain itu juga mengidentifikasi pihak-pihak yang akan terkena dampak dari proyek sistem baru.
b. Create the system vision: untuk menentukan tujuan dari sistem, kemampuan
yang dimiliki, dan keuntungan yang akan diberikan dari adanya sistem baru c. Create business models: membuat satu model baik itu berupa chart, diagram,
skema, workflow, dan sebagainya yang menunjukan bagaiman proses bisnis baru yang terjadi apabila sistem baru diterapkan.
2. Requirements
Tujuan utamanya yaitu untuk memahami dan mendokumentasikan apa yang dibutuhkan oleh organisasi dan proses requirements untuk sistem baru. Kata kunci dari tahap ini adalah discover dan understanding yang berarti mencari dan memahami apa yang dibutuhkan oleh user. Kegiatannya adalah:
a. Gather detailed information: mencari informasi sebanyak mungkin dari user
mengenai permasalahan yang dihadapi, dan bagaimana sistem baru dapat mengatasinya. Mencari informasi dapat dilakukan dengan cara wawancara, bertanya, membaca dokumen ataupun prosedur yang ada.
b. Define functional requirements: menentukan aktifitas apa saja yang akan
dilakukan oleh sistem. Digambarkan dengan diagram yang berisi informasi kegiatan apa saja yang akan dilakukan oleh user.
c. Define nonfunctional requirements: menentukan kebutuhan non-fungsional
secara detail. Termasuk kebutuhan terkait teknologi, ekspektasi performa, kegunaan, daya tahan, dan keamanan.
d. Prioritize requirements: menentukan level prioritas sistem dan terhadap
kebutuhan user yang akan menggunakan.
e. Develop user interface dialogs: menentukan jenis tampilan user interface
(UI) yang cocok digunakan oleh user. Bisa dilakukan dengan cara wawancara
user dan menggambar sketsa.
f. Evaluate requirements with users: anggota tim proyek melakukan review
dengan user untuk mendapat pencapaian yang akurat.
3. Design
Tujuan dari design adalah untuk mendesain sistem sebagai solusi atas kebutuhan yang didapat sebelumnya. High-level design yaitu membangun struktur arsitektur komponen software, database, UI, dan pedoman penggunaan.
Low-level design yaitu menentukan class, methods, dan struktur yang dibutuhkan
untuk membangun software. Aktifitas utama pada design yaitu:
a. Design the support service architecture and deployment environement:
mendesain kebutuhan komputer yang digunakan, jenis koneksi, dan operating
system yang akan menjadi tempat bagi sistem baru.
b. Design the software architecture: membuat detail dari program menjadi
subsistem atau komponen-komponen. Detail desain dibuat dari tiap use case pada arsitektur sistem.
c. Design use case realizations: desain software yang mengimplementasikan
tiap use case. Didokumentasikan lagi dengan class diagram dan interaksinya. d. Design the database: mendesain class diagram untuk database sistem. Dan
database sistem baru harus terintegrasi dengan database sistem yang sudah
digunakan sebelumnya.
e. Design the system and user interfaces: mendesain tampilan untuk tiap dialog
sistem. Dan mendesain laporan dalam bentuk online dan cetak.
f. Design the system security and controls: mendesain kontrol dan keamanan
sistem untuk melindungi integritas data dan aplikasi program.
2.5.2 Unified Modeling Language (UML)
UML adalah kumpulan standar model konstruksi dan notasi yang didefinisikan oleh Object Mangement Group (OMG), sebuah organisasi untuk pengembangan sistem. Dengan menggunakan UML, analyst dan end user dapat menggambarkan dan memahami berbagai diagram spesifik yang digunakan dalam proyek pengembangan sistem (Satzinger, Jackson & Burd, 2012: 46).
UML secara umum diterima sebagai notasi pemodelan standar de facto untuk analisis dan desain dari sistem perangkat lunak berbasis obyek. Bahasa ini menyediakan framework yang cocok untuk akuisisi scenario menggunakan diagram
use case dan sequence (Jakimi & Koutbi, 2009: 35).
2.5.2.1 Activity Diagram
Menurut Satzinger, Jackson dan Burd (2012: 57), activity diagram menggambarkan kegiatan user (atau sistem), orang yang melakukan setiap kegiatannya, dan alur tahapan dari setiap kegiatan. Langkah awal dalam membuat
Adapun hal lain yang perlu diperhatikan dalam membuat activity diagram adalah penggunaan decision symbol untuk menggambarkan suatu keadaan – satu alur atau alur lainnya tetapi bukan keduanya. Penggunaan synchronization bar untuk alur yang paralel – keadaan dimana kedua alur dilakukan.
Danil dan Siswanto (2014: 149) menjelaskan activity diagram
menggambarkan berbagai alir aktivitas dalam sistem yang sedang dirancang, bagaimana masing-masing alir berawal, decision yang mungkin terjadi, dan bagaimana mereka berakhir. Gambar 2.3 menunjukkan simbol-simbol dasar yang digunakan di dalam activity diagram.
Gambar 2.3 Simbol-simbol Activity Diagram Sumber: Satzinger, Jackson & Burd (2012: 58)
Gambar 2. 4 Contoh Activity Diagram Sumber: Satzinger, Jackson & Burd (2012: 59) 2.5.2.2 Use Case Diagram
Menurut Satzinger, Jackson dan Burd (2012: 79) usecase diagram adalah model UML yang digunakan secara grafis untuk menunjukkan usecase dan hubungannya dengan user. Yang termasuk di dalam usecase diagram adalah orang yang menggunakan sistem, yang disebut sebagai actor. Actor biasanya berada di luar
automation boundary dari sistem tetapi bagian dari manual sistem. Automation boundary menggambarkan batas antara bagian terkomputerisasi dan orang-orang
yang mengoperasikan aplikasi, digambarkan sebagai persegi panjang yang berisi use
case.
Danil dan Siswanto (2014: 148) menjelaskan usecase diagram sebagai pemodelan untuk menggambarkan kelakuan (behavior) sistem yang akan dibuat. Diagram usecase mendeskripsikan sebuah interaksi antara satu atau lebih aktor dengan sistem yang akan dibuat. Dengan pengertian cepat, diagram usecase digunakan untuk mengetahui fungsi apa saja yang ada di dalam sebuah sistem dan siapa saja yang berhak menggunakan fungsi-fungsi tersebut. Gambar 2.5 menggambarkan notasi untuk use case diagram.
Gambar 2. 5 Notasi Use Case Diagram Sumber: Satzinger, Jackson & Burd (2012: 81)
Gambar 2. 6 Contoh Use Case Diagram Sumber: Satzinger, Jackson & Burd (2012: 84)
2.5.2.3 Use Case Description
Use case diagram dapat mengidentifikasi proses-proses yang dapat dilakukan
oleh actor yang dapat dilakukan oleh sistem. Menurut Satzinger (2012: 121),
usecase description adalah model tekstual yang mendaftarkan dan menjelaskan
yang benar-benar memenuhi kebutuhan pengguna, kita harus memahami langkah-langkah rinci dari tiap use case.
Bergantung pada kebutuhan analis, use case description cenderung untuk dituliskan dalam dua level detil yang berbeda yaitu:
1. Brief Use Case Description
Brief description dapat digunakan untuk use cases yang sangat sederhana,
khususnya saat ruang lingkup sistem yang dikembangkan cenderung kecil, aplikasinya mudah dipahami
. Gambar 2. 7 Contoh Brief Use Case Description
Sumber: Satzinger, Jackson & Burd (2012: 122)
2. Fully Developed Use Case Description
Fully developed use case description merupakan metode formal yang paling
banyak digunakan untuk menjelaskan use case. Ketika membuat fully
developed usecase description, kita akan lebih mudah mengerti mengenai
Gambar 2. 8 Contoh Fully Developed Use Case Description Sumber: Satzinger, Jackson & Burd (2012: 123)
2.5.2.4 Class Diagram
2.5.2.4.1 Domain Model Class Diagram
Danil dan Siswanto (2014: 149) menjelaskan class diagram sebagai suatu diagram yang memperlihatkan atau menampilkan struktur dari sebuah sistem, sistem tersebut akan menampilkan kelas dan atribut suatu sistem. Class diagram menggambarkan struktur dan deskripsi class beserta hubunhan satu sama lain. Sementara Lambow dan Lavleen (2012: 12) menyatakan class diagram adalah jenis diagram struktur statis yang digunakan untuk mewakili struktue dari sebuah sistem. Struktur statis ini dapat diwakili dengan menampilkan classes dari sistem, atributnya,
methods dan operations, hubungan antar class. UML Class Diagram ini dapat
diubah/dipetakan langsung dengan bahasa orientasi-obyek, itu sebabnya class
diagram secara luas digunakan dalam pemodelan sistem berorientasi obyek.
Menurut Satzinger, Jackson & Burd (2012: 101), Domain Model Class
Diagram adalah sebuah UML Class Diagram yang menggambarkan benda-benda
yang penting dalam pelaksanaan tugas para pengguna, seperti class-class problem
Class Diagram adalah diagram yang digunakan untuk menggambarkan class-class yang terlibat, hubungan antar class-class-class-class tersebut serta atribut-atributnya.
Gambar 2.7 menunjukkan notasi dari domain model class diagram.
Gambar 2. 9 Notasi Class Diagram Sumber: Satzinger, Jackson & Burd (2012: 101)
Gambar 2.10 Contoh Domain Model Class Diagram Sumber: Satzinger, Jackson & Burd (2012: 102)
2.5.2.4.2 Updated Class Diagram
Satzinger, Jackson & Burd (2012: 351) menjelaskan setelah sequence
diagram dibuat, informasi methods dapat ditambahkan ke dalam classes. Tahap
pertama dalam melakukan update class diagram adalah menambahkan method berdasarkan informasi dari sequence diagram. Setiap pesan yang muncul pada
sequence diagram membutuhkan sebuah method pada obyek tujuan. Proses
menambahkan method ke dalam class berasal dari tiap sequence diagram dan mencari pesan yang dikirim ke class tersebut. Setiap pesan menggambarkan sebuat
Gambar 2.11 Contoh Updated Class Diagram Sumber: Satzinger, Jackson & Burd (2012: 352)
2.5.2.5 Multi-Layer Design Sequence Diagram
UML Sequence Diagram adalah jenis diagram interaksi yang menunjukkan dalam urutan dan bagaimana proses-proses beroperasi satu sama lain. Sequence
diagram menunjukkan berbagai obyek dan class yang terlibat dalam scenario sistem
dan urutan pesan yang ditukarkan antara obyek yang dibutuhkan untuk melaksanakan fungsi scenario (Lambow & Lavleen, 2012: 12).
Menurut Satzinger , Jackson & Burd (2012: 345) pengembangan first-cut
sequence diagram hanya berfokus pada class-class yang ada di problem domain layer. Setiap sistem akan membutuhkan view layer classes untuk menggambarkan
layar input dan output untuk aplikasi. Multi-Layer Design Sequence Diagram terdiri dari data access Layer dan view layer untuk memastikan bahwa user interface yang dikembangkan konsisten dengan desain aplikasi. Semua pesan masuk yang ada pada
System Sequence Diagram harus ditangani oleh user interface (Satzinger, Jackson &
Burd 2012: 349). Berikut merupakan contoh dari multi layer design sequence
Gambar 2.12 Contoh Multi Layer Design Sequence Diagram Sumber: Satzinger, Jackson & Burd (2012: 346)
2.5.2.6 User Interface
Menurut Satzinger, Jackson & Burd (2012: 189), user interface adalah inputs dan outputs yang secara langsung melibatkan pengguna sistem. User interface bisa untuk pengguna internal dan pengguna eksternal. Desain dari user interface bervariasi bergantung pada faktor-faktor seperti tujuan interface, karakteristik pengguna, dan karakteristik dari perangkat interface tertentu.
Gambar 2.13 Contoh User Interface Sumber: Satzinger, Jackson & Burd (2012: 203)
2.6 Kerangka Pemikiran
Berikut merupakan kerangka pemikiran untuk penelitian ini:
PT. DreamWear
Wawancara dan Observasi proses bisnis
berjalan
Identifikasi masalah
Membuat Kesimpulan
Usulan Pemecahan Masalah
Analisis Sistem yang Diusulkan dengan OOAD dan Unified Process Requirements Use Case Diagram Use Case Description Design Domain Model Class Diagram Multi Layer Design Class Diagram User Interface Updated Class Diagram Business Modeling
Identifikasi MAD & MSE Paling Kecil
Peramalan dengan membandingkan metode: Naïve
Moving Average Weighted Moving Average
Exponential Smoothing Exponential Smoothing with Trend
Linear Regression
Identifikasi Proyeksi Model Persediaan yang efisien dari segi biaya dengan membandingkan model:
EOQ EOI Min-Max
Gambar 2.14 Kerangka Pemikiran Sumber: Penulis