76
KOMUNIKASI TRANSENDENTAL
DALAM PELAKSANAAN UPACARA TUMPEK PENGATAG DI DESA BANYUATIS KABUPATEN BULELENG
Ketut Yuniati1 I Gede Sumerta2
Prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja [email protected] [email protected]
Abstrak
Upacara Tumpek Pegatag merupakan wujud hubungan antara manusia dengan tumbuh-tumbuhan yang memiliki esensi yakni ungkapan rasa syukur kepada Sang Hyang Sankara sebagai manesfestasi Tuhan dalam menciptakan segala jenis tumbuhan (sarwatumuwuh) untuk kehidupan dan kemakmuran manusia. Bentuk Upacara Tumpek Pegatag ini merupakan bentuk upacara khas yang bersifat sakral sebagai wujud ekspresi jiwa mereka dalam menjalin hubungan komunikasi vertikal dengan dunia gaib dan lingkungan sekitarnya. Dalam konteks ini dapat dikatakan bahwa dalam rangkaian Upacara Tumpek Pegatag terdapat praktek komunikasi didalamnya, salah satunya adalah komunikasi transedental. Penelitian ini mencoba untuk melakukan tinjauan terhadap komunikasi transendental yang dikaitkan dengan proses pelaksanaan Upacara Tumpek Pengatak di Desa Banyuatais Kabupaten Buleleng.
Kata Kunci: Komunikasi transendental, Upacara Tumpek Pengatag
Abstract
The Tumpek Pegatag ceremony is a form of relationship between humans and plants which has an essence, namely an expression of gratitude to Sang Hyang Sankara as a manifestation of God in creating all kinds of plants (sarwatumuwuh) for human life and prosperity. This form of Tumpek Pegatag Ceremony is a special form of ceremony that is sacred as a form of expression of their souls in establishing vertical communication relationships with the supernatural world and the surrounding environment. In this context it can be said that in the series of Tumpek Pegatag Ceremonies there are communication practices in it, one of which is transcendental communication. This study attempts to review transcendental
communication associated with the implementation process of the Tumpek Pengatak Ceremony in Banyuatais Village, Buleleng Regency.
76 I.PENDAHULUAN
Indonesia merupakan Negara yang mempunyai keragaman dan kekayaan budaya lokal yang unik dan khas. Keragaman budaya tersebut tersebar hampir merata di seluruh Indonesia, tidak terkecuali di Pulau Bali. Pulau Bali sebagai salah satu daerah tujuan wisata terbesar di Indonesia memiliki potensi keragaman budaya setempat yang unik dan khas. Salah satu budaya yang juga merupakan kearifan lokal tersebut adalah Upacara Tumpek
Pengatag
Upacara Tumpek Pengatag
merupakan wujud hubungan antara manusia dengan alam yang memiliki esensi yakni ungkapan rasa syukur kepada Sang Hyang Sankara sebagai manesfestasi Tuhan dalam menciptakan segala jenis tumbuhan (sarwatumuwuh) untuk kehidupan dan kemakmuran manusia Udayana (2009:29). Bentuk Upacara Tumpek Pengatag ini merupakan bentuk upacara khas yang bersifat sakral sebagai wujud ekspresi jiwa
mereka dalam menjalin hubungan
komunikasi vertikal dengan dunia gaib dan
lingkungan sekitarnya Sudarsana
(2003:13). Dalam konteks ini dapat dikatakan bahwa dalam rangkaian Upacara
Tumpek Pengatag terdapat praktek
komunikasi didalamnya, salah satunya adalah komunikasi transedental.
Komunikasi transendental adalah Komunikasi yang melibatkan manusia dengan Tuhannya Mulyana (1999:94).
Komunikasi dalam perspektif
transendental, berkaitan dengan ritual.
Ritual merupakan cara untuk
menyampaikan sesuatu Carey (1992:18), dalam hal ini ritual dalam upacara Tumpek
Pengatag merupakan media komunikasi
yang menghubungkan manusia dengan tumbuhan dan manusia dengan Tuhan. Pada dasarnya dalam rangkaian Upacara
Tumpek Pengatag merupakan manifestasi
komunikasi transendental kepada Sang Pencipta, yang di dalamnya sarat dengan pesan, makna, dan nilai-nilai kearifan lokal.
Penelitian ini mencoba untuk melakukan tinjauan terhadap komunikasi transendental yang dikaitkan dengan proses pelaksanaan Upacara Tumpek Pengatag. Dasar pemikirannya adalah dalam proses komunikasi transendental tersebut melibatkan bhava dan rasa. Bhava secara harfiah bearti emosi atau perasaan, sedangkan rasa didefinisikan sebagai suatu
pengalaman estetik yang dapat
dibangkitkan melalui kreativitas imajinatif .
Bhava merupakan konsep utama
dalam melahirkan rasa, bhava inilah yang menjadi alasan kenapa rasa bisa terjadi.
Sedangkan Bhava berperan dalam
membangun keinginan-keinginan sehingga muncul beragam perasaan kepada orang lain. Bhava sangat berperan sehingga proses komunikasi terjadi. Bhava menjadi motivator dalam membangun komunikasi
sesuai dengan model komunikasi
Sadharanikaran.
Sadharanikaran merupakan model
komunikasi Hindu yang dibangun oleh Bhattacharya. Model komunikasi ini dalam perspektif modern dikembangkan oleh Nirmala Mani Adhikary dari Nepal Adikary (2009:96). Model komunikasi
Hindu Sadharanikaran memiliki
karakteristik yang spesifik, karena selain sifatnya dapat melakukan penyampaian pesan secara horizontal dengan sesama manusia juga bersifat vertikal yang berkaitan dengan komunikasi dengan kekuatan supranatural. Model komunikasi yang berakar pada ajaran agama Hindu dan tradisi India kuno tersebut memosisikan
bhava dan rasa sebagai entitas yang sangat
sentral dalam proses komunikasi. Dikaitkan dengan komunikasi transendental bhava dan rasa mewujudkan kondisi penyatuan puncak yang dicapai pada diri individu. Dalam proses pembuatan sarana serta pelaksanaan upacara Tumpek Pengatag yang dilakukan dengan konsentrasi yang penuh dapat membangun suasana estetik, bersamaan dengan itu pihak yang terlibat mampu meningkatkan kualitas dirinya.
77
Dalam kaitannya dengan
komunikasi transendental, bahwa
komunikasi model Barat yang banyak
mempengaruhi pola komunikasi di
nusantara selama ini sifatnya linier,
sedangkan komunikasi model
sadharanikaran tidak mengindikasikan
adanya linieritas. Komunikasi yang dibangun oleh model sadharanikaran berupaya membangun oneness, yakni penyatuan dari mereka yang melakukan komunikasi, baik komunikasi manusia dengan Tuhan, antar sesama manusia, maupun komunikasi manusia dengan alam.Hal inilah yang menyebabkan penulis tertarik untuk meneliti “Komunikasi Transendental dalam pelaksanaan Upacara
Tumpek Pengatag di Desa Banyuatis
Kabupaten Buleleng.
II. PEMBAHASAN
Makna Komunikasi Transendental Dalam Upacara Tumpek Pengatag
. Ratna (2008:127) mengungkapkan
bahwa makna merupakan suatu
representasi, proses menghadirkan kembali, yang diperoleh penafsir melalui kegiatan menafsirkan. Sedangkan menurut Poerwadarminta (1984:624) makna adalah arti atau maksud. Makna juga dapat diartikan sebagai suatu harapan yang diinginkan oleh masyarakat. Makna yang di maksud dalam penelitian ini adalah makna pesan yang disampaikan pada saat pelaksanaan upacara Tumpek Pengatag.
Dalam proses komunikasi pesan, informasi, gagasan atau ide disampaikan melalui lambang-lambang baik secara verbal maupun non verbal. Lambang-lambang yang di maksud baik secara verbal maupun non-verbal, mencakup bahasa lisan, bahasa tulisan, gerakan tubuh, gambar, warna, bunyi dan sebagainya. Hal senada juga diungkapkan oleh Djoemasih, (1991:16) komunikasi adalah proses penyampaian dan penerimaan lambang-lambang yang mengandung makna diantara individu-individu. Demikian pula dalam proses komunikasi transcendental dalam
upacara Tupek Pengatag berupa
penyampaian informasi atau pesan dengan mengunakan lambang-lambang baik secara verbar maupun non verbal.
Makna dalam komunikasi
mempunyai pengertian yang sama, merujuk pada Karimah dan Wahyudin (2010:26) istilah komunikasi berasal dari kata
communis yang bearti sama. Sama dalam
kontek ini adalah sama dalam arti dan maknanya. Jadi dalam penelitian ini makna yang dimaksud adalah kesamaan makna yang dibangun oleh komunikator sebagai pihak penyampai pesan dengan komunikan sebagai penerima pesan. Dalam konteks ini dasar masyarakat yang melaksanakan upacara Tumpek Pengatag ini adalah sebagai berikut :
Dalam Bhagawat Gita X.39
Dinyatakan Bahwa :
ach cha pi sarvabhutanam bijam tad aham arjuna na tad asti vina syan
maya bhutam characharam.
Artinya
aku adalah benih dari segala mahluk, tidak ada sesuatupun bisa ada, bergerak atau tidak bergerak, tanpa aku.
Tuhan (Hyang Widhi), yang bersifat Maha Ada, juga berada disetiap mahluk hidup, didalam maupun diluar dunia (imanen dan transenden). Tuhan (Hyang Widhi) meresap disegala tempat dan ada dimana-mana (Wyapi Wyapaka), serta tidak berubah dan kekal abadi (Nirwikara). Di dalam Bhuana Kosa juga disebutkan bahwa:
"Bhatara Ciwa sira wyapaka sira suksma tan keneng angen-angen
kadiang ganing akasa tan kagrahita dening manah muang indriya".
Artinya:
Tuhan (Ciwa), Dia ada di mana-mana, Dia gaib, sukar dibayangkan, bagaikan angkasa (ether), dia tak
78
dapat ditangkap oleh akal maupun panca indriya.
Walaupun amat gaib, tetapi Tuhan hadir dimana-mana. Beliau bersifat
wyapi-wyapaka, meresapi segalanya. Tiada suatu
tempatpun yang Beliau tiada tempati. Beliau ada disini dan berada disana Tuhan memenuhi jagat raya ini.
Dari seloka seloka tersebut diatas sudah jelas bahwa Tuhan merupakan dari sumber dari yang ada, tuhan ada disetipa ciptaanya. Jadi jelas upacara yang dilaksanakan pada Tumpek Pengatag adalah dipersembahkan untuk Tuhan yang bermanisfestasi sebagai Dewa Sangkara (Dewa tumbuh-tumbuhan) upacara ini bukan penyembahan terhadap pohon, seperti kerap yang disuarakan oleh orang-orang yang belum memahaminnya. Namun upacara ini dipersembahkan kepada Tuhan
sebagai Sang Ngardining Dumadi
(menciptakan segala yang ada) termasuk
Tuhan yang menciptakan
tumbuh-tumbuhan.
Pada dasarnya Pelakasanaan
upacara Tumpek Pengatag merupakan bentuk implementasi dari konsep Tri Hita Karana yakni komunikasi dalam keluarga semesta. Karna menurut Teologi Sosial (2012:223) diuraikan bahwa semua unsur alam semesta ini berasal dari satu kandungan Tuhan yang disebut dengan
Hiranyagarbha sehingga seluruh alam
semesta ini adalah bersaudara sehingga dapat dikatakan bahwa alam semesta beserta seluruh isinya merupakan satu keluarga semesta.
Sebagai satu keluarga semesta maka semua yang ada di alam semesta ini harus saling menyapa atau bertegur sapa atau berkomunikasi Donder dkk (2012:222). Perayaannya yang di dalamnya terdapat aktivitas menyapa pohon-pohon hal itu
bermaksud agar tumbuh-tumbuhan
menaruh rasa simpati terhadap sapaan manusia dan berbuah lebat atau berbunga yang lebat sehingga dapat digunakan sebagai sarana upacara pada saat upacara
galungan. Hal sedana juga di paparkan dalam kosmologi Hindu disebutkan bahwa tumbuhan dapat berbicara dan berperasaan Donder (2017:259). Hewan tumbuhan dan setiap benda dapat mengais tertawa dan berbahagia sebagaimana layaknya manudia Manvenkurve dalam Jedra (1990:102).
Secara kasar dapat kita malakukan pengamatan ketika seekor kambing mengembek dapat dimengerti bahwa ia memiliki tujuan tersendiri dari komunikasi yang dilakukan melalui suara megembek. Demikian juga bisikan dan hembusan anggin memiliki artinya sendiri. Sesunguhnya bahwa alam semesta beserta isisnya baik sebagai mahluk bergerak dan tidak bergerak semua meiliki Bahasa hal ini memebuktikan bahwa alam mini hidup dan berperasaan sebagaimana layaknya mahluk hidup seperti manusia Donder (2017:260).
Demikian juga dalam pelaksanaan Upacara Tumpek pengatag dari hasil wawacara dan obsevasi ditemukan terhadap masyarakat yang melaksanakan upacara ini bahwa dalam komunikasi transendendal yang dilakukan pada upacara ini memiliki makan sebagai ungkapan rasa syukur dan kepuasan rasa.
Makna Ungkapan Rasa Syukur
Upacara adalah rangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat pada suatu aturan tertentu yang bersumber dari adat dan agama (Sofwan 2000:130). Menurut (Beatty 1985:412) upacara adalah sistem aktifitas rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dan berhubungan dengan berbagai macam peristiwa tetap yang terjadi dalam masyarakat. Upacara juga dapat diartikan suatu kegiatan pesta tradisional yang diatur menurut tata adat atau hukum yang berlaku di masyarakat dalam rangka memperingati peristiwa penting atau lain-lain dengan ketentuan adat yang berlaku pada masyarakat yang bersangkutan.
Upacara adalah bentuk rangkaian kegiatan dalam hidup bermasyarakat yang tindakannya terikat pada aturan agama maupun adat istiadat dalam bentuk acara
79
makan bersama yang makanannya telah disucikan (diberi do’a) sebagai perwujudan rasa syukur atau rasa terima kasih kepada Tuhan serta didorong oleh hasrat untuk memperoleh ketentraman hati atau mencari keselamatan dengan tata cara yang telah ditradisikan oleh masyarakat (Mardika, 2020)
Upacara keagamaan merupakan sarana komunikasi yang memuat pesan-pesan agama. Seperti yang dijelaskan oleh Suparlan (1981, 88) bahwa pesan dalam upacara itu sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh upacara tersebut dan sesuai pula dengan keinginan yang ada pada warga masyarakat yang bersangkutan. Pesan-pesan yang dinyatakan lewat simbol-simbol pada satu upacara itu, tentulah berbeda dengan pesan yang dinyatakan oleh simbol-simbol pada upacara lainnya. Dengan simbol-simbol itu, maka apa saja yang diinginkan diharapkan menjadi kenyataan, sebagaimana dijelasan oleh Suparlan (1981:88)
Dalam upacara, simbol berperan sebagai penghubung antara sesama manusia dan antara manusia dengan benda, dan juga sebagai alat penghubung antara dunia yang nyata dengan dunia yang gaib. Hal-hal atau unsur-unsur yang gaib yang berasal dari dunia yang gaib menjadi nampak nyata dalam arena upacara berkat peranan berbagai simbol (baik yang suci maupun yang biasa). Demikian juga pesan-pesan yang disampaikan dalam upacara
Tumpek Pengatag yang dinyatakan lewat
simbol-simbol (Mardika, 2020)
Menurut Ida Bagus Sudarsana dalam bukunya ajaran Agama Hindu (Acara Agama) yang diterbitkan oleh Dharma Acarya Denpasar tahun 2003 Tumpek Pengatag adalah upacara untuk bersyukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam manesfestasinya sebagai Sang Hyang Sangkara, Dewa tumbuh-tumbuhan atas dianugrahkannya segala jenis tumbuhan
untuk kehidupan dan kemakmuran
manusia. hal ini jelas tergambarkan dalam
rangkaian upakara (upacara) yang dipersembahkan yang berupa bubuh (bubur) yang beanekawarna diantaranya putih, hijau, merah dan kuning. Bubur putih adalah sebagai simbolisasi dari tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan umbi, misalnya ketela pohon, keladi dan ubi. Bubur hijau sebagai simbol jenis tumbuh-tumbuhan atau pepohonan yang berbuah melalui penyerbukan (bunga putik)
misalnya manga. Sedangkan bubur
berwarna merah adalah simbol bersyukur atas ciptaanya jenis padang-padangan (padi-padian dan palawija) Udayana (2009:13)
Pada dasarnya upacara Tumpek Pengatag dipersembahkan melambangkan alam semesta dengan segala isinya dan dengan itu umat Hindu meyakini serta mengakui dengan setulus-tulusnya bahwa segala sesuatu yang ada, ada di bawah kekuasaan dan milik Tuhan, disamping untuk menyatakan rasa bakti yang setinggi-tingginya, rasa segala yang ada ingin
dipersembahkan. Sehingga dengan
persembahan ini diharapkan semua alam beserta isinya bisa lestari dan harmonis. Keharmonisan adalah suatu proses suatu pertarungan multi dimensional yang tidak pernah berakhir dalam usaha untuk
mengubah kekerasan (Mardika,
Komunikasi Budaya Dalam Rumah Adat Sebagai Arsitektur Berkelanjutan Di Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, 2020)
Menurut Jero Gede Inyoman
Suadnyana dalam wawancara tanggl 15 Mei 2020)
megatakan bahwa :
Memberikan sebuah penghormatan dalam hal ini yang diberikan adalah sesajen kepada tumbuh-tumbuhan dengan memuja Dewa Sankara karna beliaulah manesfestasi Tuahn dalam bentuk tumbuh-tumbuhan jadi kita wajib ber syukur dan berterimakasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa karna sudah memeberikan anugrah berupa tumbuh-tumbuhan yang
80
telah banyak memberikan manfaat kepada manusia
Hal Senada juga diungkapkan oleh Bpk Nyoman Suke yang mengatakan: Bahwa upacara ini ditujukan untuk bagaimana kita menghormati menghargai tumbuh-tumbuhan yang ada dilingkungan kita untuk kebermafaatan kita terutama untuk proses pelaksanaan hari raya galungan, melalui upacara ini kita diingatkan selalu eling dan bersyukur kehadapan tuhan bahwa kita tidak bias hidup tanpa adanya tumbuh-tumbuhan, oleh karna itu upacara ini adalah ungkapan terimakasih kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala tumbuh-tumbuhan yang diberikan kepada kita. (wawancara 22 April 2020)
Dari pemaparan diatas dapat dikatakan bahwa pelaksanaan Upacara
Tumpek Pengatag mengandung makna
ungkapan rasa syukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa melalui manifestasinya sebagai Jero Sedahan Abian atau Carik atas segala karunianya, berupa hasil bumi yang melimpah ruah. Sehingga dengan hasil bumi ini masyarakat di Desa Banyuatis bisa hidup tentram nyaman tanpa ada masalah. Dalam wawancara dengan Kepala Desa
Made Mangku Jasaratha juga
mengungkapkan bahwa Kehidupan petani di Banyuatis dibilang sangat maju, karena hasil bumi yang di hasilkan bernilai tinggi, misalnya bagi yang memiliki kebun cengkeh karena harga cengkeh saat ini mencapai Rp.90.000,-/Kg. Sehingga boleh di katakan petani cengkeh di Desa Banyuatis sangat maju sekali panen bisa mencapai ratusan juta rupiah. Bagi yang tidak memiliki kebun cengkeh bisa harian metik cengkeh (megajih metik cengkeh) yang perharinya Rp.100.000/hari. Beliau mengkatakan bahwa kita patut bersukur terhadap berkah yang di berikan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Aneh bila penghasilan yang kita dapatkan begitu besar dari hasil
bumi sampai kita tidak mau melaksanakan Upacara Tumpek Pengatag. Karena pada dasarnya apa yang kita dapatkan bersumber dari Tuhan, untuk itu patut kita mempersembahkan kembali kepada-Nya.
Dari paparan diatas dapat
disimpulkan bahwa pelaksanaan upacara
Tumpek Pengatag merupakan bentuk
uangkapan rasa syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhana Yang Esa Atas di anugrahkaNya segala macam jenis tumbuhan untuk kebutuhan hiudp manusia di bumi ini.
III. PENUTUP
Proses komunikasi transendental dalam pelaksanaan Upacara Tumpek Pengatag di Desa Banyuatis kabupaten Buleleng terjadi secara vertika yakni komunikasi antara manusia dengan Tuhan, dimana manusia sebagai komunikator dan Tuhan sebgai
komunikan. Bentuk komunikasi
transendental dalam pelaksanaan Upacara
Tumpek Pengatag di Desa Banyuatis
Kabupaten Buleleng yaitu bentuk
komunikasi verbal yang berupa mantra dan
saa dan bentuk komunikasi nonverbal yang
berupa banten dan kegiatan menorah atau
ngatag dan pepberian bubur (kegiatan
simbolik)
Makna komunikasi transendental dalam pelaksanaan Upacara Tumpek Pengatag di Desa Banyuatis Kabupaten Buleleng adalah makna pengungkapan rasa syukur dan makna kepuasan rasa dalam hal ini adalah dengan melaksanakan upacara ini adanya perasaan senang dan puas yang dirasakan.
DAFTAR PUSTAKA
Adnyana. Nyoam Mide. 2012. Arti dan
Fungsi Banten Sebagai Sarana Persembahyangan. Pustaka Bali : Denpasar
Arikunto, Suharsini. 2010. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktek. Jakarta: Renekacipta
Arni, Muhammad. 2001. Komunikasi Organisasi. Jakarta : Bumi Aksara
81
Astra, I Gede Semadi, dkk. 2001. Kamus
Sansekerta-Indonesia. Denpasar
Pemerintah Propinsi Bali Proyek Peningkatan Sarana dan Prasarana Kehidupan Beragama
Cangara, Hafied. 2003. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT. Grasndo Persada
Carey, James W. 1992. Communication as
Culture: Essays on Media and Society.Newyork : Routledge
Donder. I Ketut. 2007. Kosmologi Hindu;
penciptaan Pemeliharaan dan Peleburan serta Penciptaan Kembali Alama. Paramitaa :
Surabaya
---2008. Teologi sosial:
persoalan Agama dan
Kemanusiaan Persfektif Hindu. Paramita : Surabaya
Efendi, Onong Uchjana. 1998. Ilmu
Komunikasi Teori dan Praktik.
Bandung : Rosdakarya
Gea, Antonius Atoshoki, dkk. 2004.
Character Building III: Relasi dengan Tuhan. Gramedia: Jakarta
Hardin. 2016. Komunikasi Transendental
Dalam Ritual Kapontasu Pada Sistem Perladangan Masyarakat Etnik Muna. Jurnal Penelitian
Komunikasi dan Opini Publik Vol. 20 No.1, Juni 2016: 63-82
Mardika, I. P. (2020). Komunikasi Budaya Dalam Rumah Adat Sebagai Arsitektur
Berkelanjutan Di Desa Julah,
Kecamatan Tejakula, Kabupaten
Buleleng. Communicare, 1(1), 40-50. Mardika, I. P. (2020). KOMUNIKASI
TRANCENDENTAL DALAM
TRADISI MEKELIN DI DESA
PAKRAMAN BANYUSERI
KECAMATAN BANJAR
KABUPATEN
BULELENG. COMMUNICARE, 1(2). Mardika, I. P. (2020). Komunikasi Budaya
Dalam Pewarisan Rumah Adat
Bandung Rangki di Desa Pedawa
Kecamatan Banjar Kabupaten
Buleleng. Danapati: Jurnal Ilmu