• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Kasus Bells Palsy

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Kasus Bells Palsy"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KASUS

BELL’S PALSY

Avelina Irene Djedoma

Program Internsip Dokter

Indonesia

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

Bell’s palsy (BP) :

•paresis nervus fasialis perifer

•bersifat akut

•penyebabnya tidak diketahui pasti

(idiopatik

)

•Apabila faktor penyebab jelas maka disebut

paralisis fasialis perifer dan bukan bell’s

palsy

Bell’s palsy (BP) :

•paresis nervus fasialis perifer

•bersifat akut

•penyebabnya tidak diketahui pasti

(idiopatik

)

•Apabila faktor penyebab jelas maka disebut

paralisis fasialis perifer dan bukan bell’s

palsy• Insiden BP dilaporkan sekitar 40-70% dari semua kelumpuhan saraf fasialis perifer akut

• Terdapat 10–30 pasien per 100.000

populasi per tahun dan meningkat sesuai pertambahan umur

• Insiden BP dilaporkan sekitar 40-70% dari semua kelumpuhan saraf fasialis perifer akut

• Terdapat 10–30 pasien per 100.000

populasi per tahun dan meningkat sesuai

pertambahan umurQuality Standards Subcommittee of the American Academy of Neurology (AAN) :

steroid merupakan obat yang efektif dan antiviral

(asiklovir) merupakan obat yang mungkin efektif dalam meningkatkan probabilitas pemulihan fungsi nervus fasialis

Quality Standards Subcommittee of the American Academy of Neurology (AAN) :

steroid merupakan obat yang efektif dan antiviral

(asiklovir) merupakan obat yang mungkin efektif dalam meningkatkan probabilitas pemulihan fungsi nervus fasialis

(3)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Bell’s palsy adalah kelumpuhan nervus fasialis perifer (N.VII), terjadi secara akut dan penyebabnya tidak diketahui (idiopatik) atau tidak menyertai

penyakit lain yang dapat mengakibatkan lesi nervus

fasialis

Bell’s palsy adalah kelumpuhan nervus fasialis perifer (N.VII), terjadi secara akut dan penyebabnya tidak diketahui (idiopatik) atau tidak menyertai

penyakit lain yang dapat mengakibatkan lesi nervus

fasialis

• Insiden BP dilaporkan sekitar 40-70% dari semua kelumpuhan saraf fasialis perifer akut

• Prevalensi rata-rata berkisar antara 10–30 pasien per 100.000 populasi per tahun dan meningkat sesuai pertambahan umur

• terbanyak pada usia 21–30 tahun.

• Lebih sering terjadi pada wanita daripada pria

• adanya riwayat terpapar udara dingin seperti naik kendaraan dengan kaca terbuka, tidur di lantai atau bergadang sebelum menderita bell’s palsy

• Insiden BP dilaporkan sekitar 40-70% dari semua kelumpuhan saraf fasialis perifer akut

• Prevalensi rata-rata berkisar antara 10–30 pasien per 100.000 populasi per tahun dan meningkat sesuai pertambahan umur

• terbanyak pada usia 21–30 tahun.

• Lebih sering terjadi pada wanita daripada pria

• adanya riwayat terpapar udara dingin seperti naik kendaraan dengan kaca terbuka, tidur di lantai atau bergadang sebelum menderita bell’s palsy

(4)

4 teori etiologi Bell’s palsy

4 teori etiologi

Bell’s palsy Patofisiologi Bell’s Palsy

(5)

Gambaran Klinis

Gambaran Klinis

• timbul secara mendadak

• penderita menyadari adanya kelumpuhan pada salah satu sisi wajahnya pada waktu bangun pagi,

bercermin atau saat sikat gigi/berkumur • Bell’s palsy hampir

selalu unilateral.

• Pada sisi wajah yang terkena, ekspresi akan menghilang sehingga lipatan nasolabialis akan menghilang • kedipan mata berkurang • timbul secara mendadak • penderita menyadari adanya kelumpuhan pada salah satu sisi wajahnya pada waktu bangun pagi,

bercermin atau saat sikat gigi/berkumur • Bell’s palsy hampir

selalu unilateral.

• Pada sisi wajah yang terkena, ekspresi akan menghilang sehingga lipatan nasolabialis akan menghilang • kedipan mata

(6)

Diagnosis

(7)

Terapi

Terapi

Istirahat terutama pada keadaan akut Istirahat terutama pada keadaan akut Medikamentosa Medikamentosa Kortikosteroid :

•steroid sangat efektif dan harus digunakan untuk meningkatkan

kemungkinan pemulihan kembali fungsi nervus fasialis.

•Dosis : 60 mg/hari selama 5 hari lalu

dilakukan penurunan dosis dalam waktu 5 hari berikutnya yaitu diturunkan 10

mg/hari

Kortikosteroid :

•steroid sangat efektif dan harus digunakan untuk meningkatkan

kemungkinan pemulihan kembali fungsi nervus fasialis.

•Dosis : 60 mg/hari selama 5 hari lalu

dilakukan penurunan dosis dalam waktu 5 hari berikutnya yaitu diturunkan 10

mg/hariAntiviral :

•Dosis Acyclovir diberikan 400 mg 5 kali sehari selama 10 hari atau Valaciclovir 500 mg 2 kali sehari selama 5 hari

•Bell’s palsy awitan awal  antiviral yang dikombinasikan dengan steroid tidak

meningkatkan probabilitas pemulihan kembali nervus fasilalis >7%

Antiviral :

•Dosis Acyclovir diberikan 400 mg 5 kali sehari selama 10 hari atau Valaciclovir 500 mg 2 kali sehari selama 5 hari

•Bell’s palsy awitan awal  antiviral yang dikombinasikan dengan steroid tidak

meningkatkan probabilitas pemulihan kembali nervus fasilalis >7%

Fisioterapi Fisioterapi

Operasi Operasi

(8)

Komplikasi

Komplikasi

Crocodile tear phenomene

Synkinesis

Tic Facialis sampai Hemifacial Spasme

Prognosis

Prognosis

Prognosis Bell’s palsy baik yaitu sekitar 80-90% penderita sembuh dalam waktu 6 minggu sampai tiga bulan tiga bulan tanpa ada kecacatan Prognosis Bell’s palsy baik yaitu

sekitar 80-90% penderita sembuh dalam waktu 6 minggu sampai tiga bulan tiga bulan tanpa ada kecacatan Penderita yang berumur 60 tahun atau lebih, mempunyai peluang 40% sembuh total dan beresiko tinggi meninggalkan gejala sisa

Penderita yang berumur 60 tahun atau lebih, mempunyai peluang 40% sembuh total dan beresiko tinggi meninggalkan gejala sisa

Jika tidak sembuh dalam waktu 4 bulan, maka penderita cenderung meninggalkan gejala sisa

Jika tidak sembuh dalam waktu 4 bulan, maka penderita cenderung meninggalkan gejala sisa

Hanya 23 % kasus Bells palsy yang mengenai kedua sisi wajah

Hanya 23 % kasus Bells palsy yang mengenai kedua sisi wajah

Bell’s palsy kambuh pada 10-15 % penderita Bell’s palsy kambuh pada 10-15 % penderita Sekitar 30 % penderita yang kambuh

ipsilateral menderita tumor N. VII atau tumor kelenjar parotis

Sekitar 30 % penderita yang kambuh ipsilateral menderita tumor N. VII

(9)

LAPORAN

KASUS

Identitas pasien

Nama : Siderah

Umur : 36 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Kusamba

Pekerjaan : Ibu Rumah

Tangga

Agama : Islam

Tanggal Pemeriksaan: 11 November 2014

Identitas pasien

Nama : Siderah

Umur : 36 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Kusamba

Pekerjaan : Ibu Rumah

Tangga

Agama : Islam

Tanggal Pemeriksaan: 11 November 2014

Keluhan utama :

Mulut mencong ke kanan sejak 1 hari yang lalu

Keluhan utama :

Mulut mencong ke kanan sejak 1 hari yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien mengeluhkan mulut mencong ke kanan sejak 1 hari yang lalu. Keluhan dirasakan terutama saat pasien berkumur-kumur di pagi hari dan merasakan air keluar dari mulutnya. Di pagi hari saat bangun pagi , mulut penderita mencong ke kanan, mata kiri tidak menutup

sempurna sehingga terasa perih dan berair, pipi terasa kencang. Sisi wajah sebelah kiri terasa tebal, kaku, dan bergerak sendiri. Makan

baik, bila minum air sering keluar dari sisi mulut sebelah kiri. Tidak

ada keluhan nyeri di sekitar telinga kiri. Riwayat keluar cairan dari

telinga kiri tidak ada, tidak ada gangguan pendengaran. Keluhan

pusing berputar, gangguan pendengaran, rasa makanan

berkurang, demam, batuk, pilek tidak ada. Pasien memiliki riwayat tidur di lantai dan menggunakan kipas angin saat malam hari

sebelumnya.

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien mengeluhkan mulut mencong ke kanan sejak 1 hari yang lalu. Keluhan dirasakan terutama saat pasien berkumur-kumur di pagi hari dan merasakan air keluar dari mulutnya. Di pagi hari saat bangun pagi , mulut penderita mencong ke kanan, mata kiri tidak menutup

sempurna sehingga terasa perih dan berair, pipi terasa kencang. Sisi wajah sebelah kiri terasa tebal, kaku, dan bergerak sendiri. Makan

baik, bila minum air sering keluar dari sisi mulut sebelah kiri. Tidak

ada keluhan nyeri di sekitar telinga kiri. Riwayat keluar cairan dari

telinga kiri tidak ada, tidak ada gangguan pendengaran. Keluhan

pusing berputar, gangguan pendengaran, rasa makanan

berkurang, demam, batuk, pilek tidak ada. Pasien memiliki riwayat tidur di lantai dan menggunakan kipas angin saat malam hari

(10)

Riwayat Penyakit Dahulu :

•Riwayat keluhan yang sama sebelumnya tidak ada.

•Riwayat diabetes, hipertensi, dan trauma tidak ada.

Riwayat Penyakit Dahulu :

•Riwayat keluhan yang sama sebelumnya tidak ada.

•Riwayat diabetes, hipertensi, dan trauma tidak ada.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Hanya penderita yang sakit seperti ini.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Hanya penderita yang sakit seperti ini.

Riwayat Sosial :

Pasien adalah seorang ibu rumah tangga. Kebiasaan pasien setiap hari adalah pergi ke pasar jam 5 pagi dan jarang menggunakan helm. Pasien sering tidur di lantai dan

menggunakan kipas angin karena cuaca sangat panas. Pasien adalah pengguna jaminankesehatan JKBM.

Riwayat Sosial :

Pasien adalah seorang ibu rumah tangga. Kebiasaan pasien setiap hari adalah pergi ke pasar jam 5 pagi dan jarang menggunakan helm. Pasien sering tidur di lantai dan

menggunakan kipas angin karena cuaca sangat panas. Pasien adalah pengguna jaminankesehatan JKBM.

(11)

Status Present

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Compos mentis GCS : E4V5M6

Tanda vital : TD 130/90 mmHg; N 64x/m; R 20x/m; S 36.3°C

Status Present

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Compos mentis GCS : E4V5M6

Tanda vital : TD 130/90 mmHg; N 64x/m; R 20x/m; S 36.3°C

Status General

Kepala : Normocephali Mata : anemia -/-,

ikt-/-THT : dalam batas normal; wajah tidak

ditemukan vesikel pada daerah sekitar telinga dan tidak terdapat pembengkakan atau massa pada kelenjer parotis

Thorax : Cor : S1S2 normal, murmur (-)

Pulmo : vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing

-/-Abdomen : distensi (-),bising usus normal, hepar dan lien tidak teraba

Ekstremitas : dalam batas normal.

Status General

Kepala : Normocephali Mata : anemia -/-,

ikt-/-THT : dalam batas normal; wajah tidak

ditemukan vesikel pada daerah sekitar telinga dan tidak terdapat pembengkakan atau massa pada kelenjer parotis

Thorax : Cor : S1S2 normal, murmur (-)

Pulmo : vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing

-/-Abdomen : distensi (-),bising usus normal, hepar dan lien tidak teraba

Ekstremitas : dalam batas normal.

(12)

Kepala Bentuk : mesosefal Simetri : (+) Nyeri tekan : (-) Pulsasi : (-) Leher Sikap : tegak Pergerakan : bebas ke segala arah Kaku kuduk : (-) Saraf otak

Status Neurologi

Status Neurologi

(13)
(14)
(15)

Extremitas

A. Superior

Inspeksi

Atrofi otot

: ( - )

Pseudohypertrofi

: ( - )

Palpasi

Nyeri

: ( - )

kontraktur

: ( - )

konsistensi

: lembek

Perkusi

normal

: normal

reaksi myotonik

: ( - )

(16)

Motorik

Kekuatan otot

( N.B : 5 = normal (100%) , 4 = dpt melawan

tahanan minimal (75 %), 3= dpt melawan

gravitasi (50%), 2= dpt menggerakan sendi (25%),

1 = msh ada kontraksi otot (10%), 0 = tidak ada

gerak sama sekali (0%).

Lengan

kanan

kiri

M. Deltoid (abduksi lengan atas)

:

5

5

M. biceps (flexi lengan bawah)

:

5

5

-

M. Triceps (ekstensi lengan bawah) :

5

5

-

Flexi sendi pergelangan tangan :

5

5

-

Ekstensi pergelangan tangan

:

5

5

-

Membuka jari – jari tangan :

5

5

(17)

• Tonus otot

- tonus otot lengan

(N) (N)

- hypotoni

(-) (-)

- Spastik

(-) (-)

- rigid

(-) (-)

- rebound Phenomen

tidak dilakukan

• Refleks fisiologis

- B P R

(+) (+)

- T P R

(+) (+)

• Refleks Patologis

- Hoffman

(-) (-)

- tromner

(-) (-)

(18)

SENSIBILITAS

Eksteroseptik : tidak dilakukan

Propioseptik : tidak dilakukan

Enteroseptik : tidak dilakukan

Rasa kombinasi: tidak dilakukan

B. Inferior

inspeksi

: normal

palpasi

: normal

perkusi

: normal

(19)

Motorik

Kekuatan otot

( N.B : 5 = normal (100%) , 4 = dpt melawan

tahanan minimal (75 %), 3= dpt melawan

gravitasi (50%), 2= dpt menggerakan sendi

(25%), 1 = msh ada kontraksi otot (10%), 0 =

tidak ada gerak sama sekali (0%).

Tungkai

kanan

kiri

-

Flexi artic coxae (tungkai atas)

: 5

5

-

Extensi artic coxae (tungkai atas) : 5

5

-

Flexi sendi lutut (tungkai bawah) : 5

5

-

Extensi sendi lutut (tungkai bawah) : 5

5

-

Flexi plantar kaki

: 5

5

-

Ekxtensi dorsal kaki

: 5

5

(20)

Tonus otot tungkai KANAN KIRI - hypotoni (-) (-) - Spastik (-) (-) - rigid (-) (-) - rebound Phenomenon (-) (-) Refleks fisiologis - KPR (+) (+) - BPR (+) (+) Refleks patologisBabinsky (-) (-) Chaddok (-) (-)Openheim (-) (-) • Gordon (-) (-)  Gonda (-) (-)  Schaeffer (-) (-)Rossolimo (-) (-) Mendel-Bechterew (-) (-) Stransky (-) (-)

(21)

SENSIBILITAS

Eksteroseptik

: tdk dilakukan

Propioseptik

: tdk dilakukan

Enteroseptik

: tdk dilakukan

(22)

Koordinasi

Jari tangan-jari tangan

: (+)

Jari tangan-hidung

: (+)

Ibu jari kaki-tangan

:

tdk dilakukan

Tumit-lutut

:

tdk dilakukan

Pronasi-supinasi

:

tdk dilakukan

Tapping dgn jari-jari tangan:

tdk dilakukan

Tapping dgn jari-jari kaki

:

tdk dilakukan

Gait station

: tdk dilakukan

Fungsi luhur

: dbn

Refleks-refleks primitif

:

-Susunan saraf otonom

: dbn

(23)

Diagnosa klinis : Bell’s Palsy Sinistra

Diagnosa topis : Sekitar foramen stilomastoideus

Diagnosa etiologi : Idiopatik

Fungsional : Penurunan kemampuan fungsional dalam melakukan aktivitas sehari-hari (makan/mengunyah, minum/berkumur, tersenyum)

Diagnosa klinis : Bell’s Palsy Sinistra

Diagnosa topis : Sekitar foramen stilomastoideus

Diagnosa etiologi : Idiopatik

Fungsional : Penurunan kemampuan fungsional dalam melakukan aktivitas sehari-hari (makan/mengunyah, minum/berkumur, tersenyum)

Diagnosis

• Methylprednisolone 3x4 mg • Mecobalamin 3x 1 tab • Fisioterapi • Methylprednisolone 3x4 mg • Mecobalamin 3x 1 tab • Fisioterapi

Terapi

Ad vitam : dubius ad bonam Ad fungsional : dubius ad bonam

Ad vitam : dubius ad bonam Ad fungsional : dubius ad bonam

(24)

PEMBAHAS

AN

Telah dilaporkan suatu kasus Bell’s palsy pada pasien perempuan berusia 36 tahun

Telah dilaporkan suatu kasus Bell’s palsy pada pasien perempuan berusia 36 tahun

Data epidemiologi:

•prevalensi Bell’s palsy rata-rata berkisar antara 10–30 pasien per 100.000 populasi per tahun dan

meningkat sesuai pertambahan umur. •Data yang dikumpulkan dari 4 buah Rumah sakit di Indonesia didapatkan frekuensi Bell’s palsy sebesar 19,55 % dari seluruh kasus neuropati

•Terbanyak pada usia 21–30 tahun. •Lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.

Data epidemiologi:

•prevalensi Bell’s palsy rata-rata berkisar antara 10–30 pasien per 100.000 populasi per tahun dan

meningkat sesuai pertambahan umur. •Data yang dikumpulkan dari 4 buah Rumah sakit di Indonesia didapatkan frekuensi Bell’s palsy sebesar 19,55 % dari seluruh kasus neuropati

•Terbanyak pada usia 21–30 tahun. •Lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.

(25)

Pada pasien ini didapatkan riwayat tidur di lantai dan menggunakan kipas angin saat malam hari sebelumnya Pada pasien ini didapatkan riwayat tidur di lantai dan menggunakan kipas angin saat malam hari sebelumnya

• Tidak didapati perbedaan insiden antara iklim panas maupun dingin • Pada beberapa penderita

didapatkan adanya riwayat

terpapar udara dingin seperti naik kendaraan dengan kaca terbuka, tidur di lantai atau bergadang sebelum menderita bell’s palsy. • Tidak didapati perbedaan insiden

antara iklim panas maupun dingin • Pada beberapa penderita

didapatkan adanya riwayat

terpapar udara dingin seperti naik kendaraan dengan kaca terbuka, tidur di lantai atau bergadang sebelum menderita bell’s palsy. Anamnesis :

didapatkan bahwa terdapat kelumpuhan pada nervus fasialis tipe perifer :

•mulut pasien mencong ke kanan

•mata kiri tidak menutup sempurna

•pipi terasa kencang •Sisi wajah sebelah kiri terasa tebal, kaku, dan bergerak sendiri

Pemeriksaan Fisik:

kelemahan pada otot wajah sisi kiri dan menunjukkan lesi pada N.VII perifer

Anamnesis :

didapatkan bahwa terdapat kelumpuhan pada nervus fasialis tipe perifer :

•mulut pasien mencong ke kanan

•mata kiri tidak menutup sempurna

•pipi terasa kencang •Sisi wajah sebelah kiri terasa tebal, kaku, dan bergerak sendiri

Pemeriksaan Fisik:

kelemahan pada otot wajah sisi kiri dan menunjukkan lesi pada N.VII perifer

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis serta beberapa

pemeriksaan fisik, dalam hal ini yaitu pemeriksaan neurologis.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis serta beberapa

pemeriksaan fisik, dalam hal ini yaitu pemeriksaan neurologis.

Pada Bell’s palsy ditemukan adanya lesi nervus fasialis (N.VII) perifer yang dapat dinilai saat pasien dalam

keadaan diam dan saat gerak

(kontraksi otot-otot yang dipersarafi N.VII)

Pada Bell’s palsy ditemukan adanya lesi nervus fasialis (N.VII) perifer yang dapat dinilai saat pasien dalam

keadaan diam dan saat gerak

(kontraksi otot-otot yang dipersarafi N.VII)

Lesi di luar foramen stylomastoideus Lesi di luar foramen stylomastoideus

(26)

Pemeriksaan laboratorium, CT scan, MRI dan

elektrodiagnostik tidak dilakukan pada pasien ini Pemeriksaan laboratorium, CT scan, MRI dan

elektrodiagnostik tidak dilakukan pada pasien ini

Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk mendiagnosis kasus Bell’s palsy, kecuali bila

dicurigai adanya penyebab yang lain. Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk mendiagnosis kasus Bell’s palsy, kecuali bila

dicurigai adanya penyebab yang lain.

Pada pasien ini

kortikosteroid kita berikan pada hari kedua onset

penyakit dengan dosis

3x 4 mg

methylprednisolone

yang direncanakan

diturunkan dosisnya pada hari kelima

Pada pasien ini

kortikosteroid kita berikan pada hari kedua onset

penyakit dengan dosis

3x 4 mg

methylprednisolone

yang direncanakan

diturunkan dosisnya pada hari kelima

Pada pasien Bell’s palsy dengan onset yang baru, steroid sangat efektif dan harus digunakan untuk meningkatkan kemungkinan pemulihan kembali

fungsi nervus fasialis.

Pada pasien Bell’s palsy dengan onset yang baru, steroid sangat efektif dan harus digunakan untuk meningkatkan kemungkinan pemulihan kembali

fungsi nervus fasialis.

dosis prednisolon yang digunakan adalah 60 mg/hari selama 5 hari lalu dilakukan penurunan dosis dalam waktu 5 hari berikutnya yaitu

diturunkan 10 mg/hari.

dosis prednisolon yang digunakan adalah 60 mg/hari selama 5 hari lalu dilakukan penurunan dosis dalam waktu 5 hari berikutnya yaitu

diturunkan 10 mg/hari. Pemberian

methylprednisolone yang minimal pada kasus ini adalah karena

pertimbangan efek samping seperti mual

muntah yang sering terjadi dengan dosis prednisolone 60 mg/hari

Pemberian

methylprednisolone yang minimal pada kasus ini adalah karena

pertimbangan efek samping seperti mual

muntah yang sering terjadi dengan dosis prednisolone 60 mg/hari

(27)

Pada pasien ini tidak diberikan antivirus Pada pasien ini tidak diberikan antivirus

Pada penelitian yang dilakukan oleh ANA tahun 2012 didapatkan bahwa pada pasien dengan Bell’s palsy

awitan awal, antiviral yang

dikombinasikan dengan steroid tidak meningkatkan probabilitas pemulihan kembali nervus fasilalis >7%

Pada penelitian yang dilakukan oleh ANA tahun 2012 didapatkan bahwa pada pasien dengan Bell’s palsy

awitan awal, antiviral yang

dikombinasikan dengan steroid tidak meningkatkan probabilitas pemulihan kembali nervus fasilalis >7%

pasien dapat diberikan antiviral tetapi diinformasikan mengenai keuntungan antiviral yang belum dapat dibuktikan pasien dapat diberikan antiviral tetapi diinformasikan mengenai keuntungan antiviral yang belum dapat dibuktikan

pasien dirujuk ke bagian rehabilitasi

medik untuk dilakukan fisioterapi.

pasien dirujuk ke bagian rehabilitasi

medik untuk dilakukan fisioterapi.

Fisioterapi sering dikerjakan bersama-sama pemberian kortikosteroid, dapat dianjurkan pada stadium akut.

Tujuan fisioterapi untuk

mempertahankan tonus otot yang lumpuh.

Fisioterapi sering dikerjakan bersama-sama pemberian kortikosteroid, dapat dianjurkan pada stadium akut.

Tujuan fisioterapi untuk

mempertahankan tonus otot yang lumpuh.

(28)
(29)

Referensi

Dokumen terkait

Bell ’s Palsy merupakan suatu gangguan yang terjadi pada saraf VII. (saraf fasialis) yang mengakibatkan kelemahan atau kelumpuhan

BeIl’s palsy adalah kelumpuhan atau paralisis wajah unilateral karena gangguan nervus fasialis perifer yang bersifat akut dengan penyebab yang tidak teridentifikasi

Lesi unilateral pada sistem saraf pusat di atas inti nervus fasialis melibatkan badan sel atau serat saraf yang berhubungan dengan inti fasial akan menyebabkan paralisis

Bell’s palsy merupakan kelainan saraf fasialis yang paling banyak dijumpai. Gejala klinis bell’s palsy yaitu adanya lesi saraf fasialis akut tipe lower motor neuron yang

Pasien dengan Bell palsy mungkin tidak dapat menutup mata pada sisi yang terkena, yang dapat menyebabkan iritasi dan ulserasi kornea.. Mata harus dilumasi

Bell’s palsy merupakan kelemahan wajah dengan ti pe lower motor neuron yang disebabkan oleh keterlibatan saraf fasialis idiopatik di luar.. sistem saraf pusat,

Bell’s palsy atau prosoplegia adalah kelumpuhan fasialis akibat paralisis nervus fasial perifer yang terjadi secara akut dan penyebabnya tidak diketahui (idiopatik) di luar sistem

Laporan kasus tentang Bell Palsy sebagai tugas Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Neurologi RSUD Raden Mattaher