BAB II TINJAUAN PUSTAKA

318  Download (3)

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pepaya (Carica papaya L.)

Pepaya merupakan tanaman yang berasal dari Meksiko bagian selatan dan bagian utara dari Amerika Selatan. Tanaman ini menyebar ke Benua Afrika dan Asia serta India. Tanaman ini menyebar dari India ke berbagai negara tropis, termasuk Indonesia pada abad ke-17 (Setiaji, 2009).

Klasifikasi tanaman pepaya adalah sebagai berikut (Yuniarti, 2008): Regnum : Plantae Divisi : Spermatophyta Class : Dicotyledoneae Ordo : Cistales Famili : Caricaceae Genus : Carica Spesies: Carica Papaya L.

Gambar 1. Buah pepaya dan tanaman pepaya (Carica Papaya L.)

Tanaman pepaya merupakan herba menahun dan tingginya mencapai 8m. Batang tak berkayu, bulat, berongga, bergetah dan terdapat bekas pangkal daun. Tanaman pepaya dapat hidup pada ketinggian tempat 1-1.000m dari permukaan laut dan pada suhu udara 22-26oC. Pada umumnya semua bagian dari tanaman baik akar, batang, daun, biji dan buah dapat dimanfaatkan. Pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman yang cukup banyak dibudidayakan di Indonesia. Di Indonesia, tanaman pepaya dapat

(2)

tumbuh dari dataran rendah sampai daerah pegunungan 1000 m dpl. Negara penghasil pepaya antara lain Kosta Rika, Republik Dominika, Puerto Rikam dan lain-lain. Brazil, India, dan Indonesia merupakan penghasil pepaya yang cukup besar (Warisno, 2003).

Pohon pepaya sudah terkenal sebagai tanaman berkhasiat atau herbal yang dapat menyembuhkan beberapa macam penyakit. Setiap bagian pohon pepaya dimanfaatkan, mulai akar, batang, daun, buah bahkan biji buahnya. Biji pepaya juga merupakan sumber saponin yang cukup baik dan mempunyai sifat antimikroba (Nito, 2009). Menurut Singh dan Ali (2011) menggunakan biji pepaya yang berasal dari Dehli, telah dibuktikan bahwa ekstrak etanol biji pepaya berkhasiat mengobat penyakit liver, diabetes melitus, hipertensi, hiperkolesterolemia, gangguan ginjal, dan diare.

1. Kandungan Aktif Biji Pepaya

Kandungan senyawa aktif dari tanaman ini diantaranya mengandung alkaloid, steroid, tanin dan minyak atsiri. Dalam biji pepaya mengandung senyawa-senyawa steroid. Kandungan biji dalam buah pepaya kira-kira 14,3% dari keseluruhan buah pepaya (Satriasa dan Pangkahila, 2010). Kandungannya berupa asam lemak tak jenuh yang tinggi, yaitu asam oleat dan palmitat. Selain mengandung asam-asam lemak, biji pepaya diketahui mengandung senyawa kimia lain seperti golongan fenol, alkaloid, terpenoid dan saponin. Zat-zat aktif yang tekandung dalam biji pepaya tersebut bisa berefek sitotoksik, anti androgen atau berefek estrogenik (Lohiya et al., 2002 dalam Satriyasa, 2007).

Hasil uji fitokimia terhadap ekstrak kental methanol biji pepaya diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder golongan triterpenoid, flavonoid, alkaloid, dan saponin. Secara kualitatif, berdasarkan terbentuknya endapan atau intensitas warna yang dihasilkan dengan pereaksi uji fitokimia, diketahui bahwa kandungan senyawa metabolit sekunder golongan triterpenoid merupakan komponen utama biji pepaya. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap isolat triterpenoid menunjukkan bahwa isolat dapat

(3)

menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia dan Staphilococcus aureus pada konsentrasi 1000 ppm. Terjadinya penghambatan terhadap pertumbuhan koloni bakteri diduga disebabkan karena kerusakan yang terjadi pada komponen struktural membran sel bakteri. Senyawa golongan terpenoid dapat berikatan dengan protein dan lipid yang terdapat pada membran sel dan bahkan dapat menimbulkan lisis pada sel (Sukadana, 2008).

a) Tanin

Tanin merupakan senyawa aktif metabolit sekunder yang diketahui mempunyai beberapa khasiat yaitu sebagai astringen, antidiare, antibakteri dan antioksidan. Tann merupakan komponen zat organik yang sangat kompleks, terdiri dari senyawa fenolik yang sukar dipisahkan dan sukar mengkristal, mengendapkan proteoin dari larutannya dan bersenyawa dengan protein tersebut (Desmiyati dkk., 2008). Tanin merupakan senyawa umum yang terdapat dalam tumbuhan berpembuluh, memiliki gugus fenol, memiliki rasa sepat dan mampu menyamak kulit karena kemampuannya menyambung silang protein. Jika bereaksi dengan protein membentuk kopolimer mantap yang tak larut dalam air. Tanin secara kimia dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu tanin terkondensasi dan tanin terhidrolisis. Tanin terkondensasi atau flavolan secara biosintesis dapat dianggap terbentuk dengan cara kondensasi katekin tunggal yang membentuk senyawa dimer dan kemudian oligomer yang lebih tinggi. Tanin terhidrolisis mengandung ikatan ester yang dapat terhidrolisis jika dididihkan dalam asam klorida encer (Harbone, 1987 dan Sirat, 2007). b) Fenol

Fenol merupakan senyawa dengan gugus –OH yang terikat langsung dengan cincn aromatik. Senyawa fenol banyak terdapat di alam dan merupakann intermediet bagi industri untuk berbagai macam produk seperti adhesif dan antiseptik. Fenol dapat dipakai sebagai disinfektan dan diperoleh dari tarbatubara (Siswoyo, 2009). Fenol adalah senyawa yang mempunyai sebuah cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus

(4)

hidroksil. Senyawa fenol pada bahan makanan dapat dikelompokkan menjadi fenol sederhana dan asam folat (Widiyanti, 2006 dalam Oktaviana, 2010). Standar yang digunakan pada analisis kandungan fenolik adalah asam galat (Xu dan Chang, 2007 dalam Rahayu dkk, 2015).

B. Pengertian Ekstrak dan Ekstraksi

Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani dengan menggunakan pelarut yang sesuai kemudian semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sehingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Depkes RI, 2000). Ekstraksi merupakan suatu cara untuk mengambil atau menarik komponen kimia yang terkandung dalam sampel menggunakan pelarut yang sesuai. Ekstraksi yang benar dapat tergantung dari jenis senyawa, tekstur dan kandungan air bahan tumbuhan yang akan diekstraksi. Dalam mengekstraksi suatu tumbuhan sebaiknya menggunakan jaringan tumbuhan yang masih segar, naman kadang-kadang tumbuhan yang akan dianalisis tidak tersedia ditempat sehingga untuk itu jaringan tumbuhan yang akan diekstraksi dapat dikeringkan terlebih dahulu (Kristianti, 2008).

1. Metode Ekstraksi

Menurut Ditjen POM (2000), ada beberapa metode ekstraksi diantaranya:

a) Cara dingin

i. Maserasi, adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Maserasi kinetik berarti dilakukan pengadukan secara kontinu (terus menerus). Menurut Darwis (2000) maserasi merupakan proses perendaman sampel menggunakan pelarut

(5)

ii. organik pada suhu ruangan. Proses ini sangat menguntungkan dalam isolasi senyawa bahan alam karena melalui perendaman sampel tumbuhan akan terjadi pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik dan ekstraksi senyawa akan sempurna karena dapat diatur lama perendaman yang dilakukan. Pemilihan pengekstrak untuk proses maserasi akan memberikan efektifitas yang tinggi melalui cara memerhatikan kelarutan senyawa bahan alam pelarut tersebut.

iii. Perkolasi, adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan.

b) Cara panas

i. Refluks, adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu terntentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

ii. Soxhlet, adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

iii. Digesti, adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-50oC.

iv. Infus, adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air (bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur terukur 96-98oC selama waktu tertentu (15-20 menit).

v. Dekok, adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai titik didih air.

(6)

C. Diare

1. Pengertian Diare

Diare adalah buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dengan frekuensi lebih sering dari biasanya (tiga kali sehari atau lebih) dalam satu hari (Depkes RI, 2011).

Menurut WHO (2005) diare dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a) Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari.

b) Disentri, yaitu diare yang disertai dengan darah dalam tinjanya. c) Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.

d) Diare dengan masalah lain, yaitu diare akut dengan diare persisten yang disertai deman, gangguan gizi, dan penyakit lainnya.

2. Penyebab Diare

Menurut Depkes R.I (2007) penyebab diare dapat dibagi menjadi empat, sebagai berikut:

a) Infeksi yang disebabkan oleh bakteri misalnya Vibrio cholerae, Shigella

Salmonella, E. Coli, Bacillus cereus, Aeromonas, Clostridium perfringens, dan Campylobacter Jejuni. Kemudian disebabkan oleh

Virus seperti Rotavirus, Adenovirus. Serta dapat disebabkan oleh Parasit yaitu Protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lambia, Balantidium

coli, Cryptosporodium), cacing perut, dan jamur.

b) Keracunan bahan-bahan kimia dan keracunan oleh racun yang dikandung dan diproduksi (ikan, buah-buahan, makanan atau minuman). c) Kekurangan gizi, dan kekurangan energi protein.

d) Imuno defisiensi.

3. Gejala Diare

Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi empat kali atau lebih dalam sehari, yaitu kadang disertai: muntah, badan lesu atau lemah, panas, tidak nafsu makan, darah dan lendir dalam kotoran,

(7)

rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan nafsu makan dan kelesuhan. Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejala-gejala lain seperti flu misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi (Amiruddin, 2007).

D. Hewan Percobaan

Hewan coba merupakan hewan yang dikembangbiakkan untuk digunakan sebagai hewan uji coba. Tikus sering digunakan pada berbagai macam penelitian medis selama bertahun-tahun. Hal ini dikarenakan tikus memiliki karakteristik genetik yang unik, mudah berkembang biak, murah serta mudah untuk mendapatkannya. Tikus merupakan hewan yang melakukan aktivitasnya pada malam hari (nocturnal) (Adiyati, 2011). Tikus putih (Rattus norvegicus) atau bisa dikenal dengan nama lain Norway Rat berasal dari wilayah Cina dan menyebar ke Eropa bagian barat (Sirosis, 2005). Pada wilayah Asia Tenggara, tikus ini berkembang biak di Filipina, Indonesia, Laos, Malaysia, dan Singapura (Adiyati, 2011).

Menurut Sirosis (2015), tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley termasuk ke dalam hewan mamalia yang memiliki ekor panjang. Ciri-ciri galur ini yaitu bertubuh panjang dengan kepala lebih sempit. Telinga tikus ini tebal dan pendek dengan rambut halus. Mata tikus berwarna merah. Ciri yang paling terlihat adalah ekornya yang panjang (lebih panjang dibandingkan tubuh). Badan tikus jantan pada umur dua belas minggu mencapai 240 g sedangkan betinanya mencapai 200 g. Tikus memiliki lama hidup berkisar antara 4-5 tahun dengan berat badan umum tikus jantan berkisar 267-500 g dan betina 225-325 g.

Berikut ini adalah klasifikasi tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley menurut Adiyati (2011).

(8)

Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mamalia Ordo : Rodentia Subordo : Scuirognathi Famili : Muridae Sub-Famili : Murinae Genus : Rattus

Spesies : Rattus Norvegicus Galur/Strain : Sprague dawley

Figur

Gambar 1. Buah pepaya dan tanaman pepaya (Carica Papaya L.)

Gambar 1.

Buah pepaya dan tanaman pepaya (Carica Papaya L.) p.1

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di