• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 1 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

PUTUSAN

Nomor 595/B/PK/PJK/2016

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG

Memeriksa permohonan peninjauan kembali perkara pajak telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:

DIREKTUR JENDERAL PAJAK, tempat kedudukan Jalan Jenderal Gatot Subroto No. 40-42, Jakarta 12190, dalam hal ini memberikan kuasa kepada:

1. Catur Rini Widosari, Direktur Keberatan dan Banding, Direktorat Jenderal Pajak;

2. Budi Christiadi, Kasubdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;

3. Farchan Ilyas, Kepala Seksi Peninjauan Kembali, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi Direktorat Keberatan dan Banding;

4. Fahmi Ahmad, Penelaah Keberatan, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan banding; Kesemuanya berkantor di Jalan Jenderal Gatot Subroto No. 40- 42, Jakarta, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor SKU-1104/PJ./2014 tanggal 15 April 2014;

Pemohon Peninjauan Kembali dahulu Terbanding melawan:

PT. RELIANCE SECURITIES Tbk., beralamat di Reliance Building, Jl. Pluit Putra Kencana No. 15A, Jakarta 14450; Termohon Peninjauan Kembali dahulu Pemohon Banding; Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Menimbang, bahwa dari surat-surat yang bersangkutan ternyata Pemohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Terbanding, telah mengajukan permohonan peninjauan kembali terhadap Putusan Pengadilan Pajak Jakarta Nomor PUT-50104/PP/M.XIII/15/2014, Tanggal 23 Januari 2014 yang telah berkekuatan hukum tetap, dalam perkaranya melawan Termohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Pemohon Banding, dengan posita perkara sebagai berikut:

Bahwa Pemohon Banding mengajukan permohonan banding atas diterbitkannya Keputusan Terbanding Nomor KEP-1309/WPJ.07/2012 tanggal

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 2 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

16 Juli 2012 yang Pemohon Banding terima pada tanggal 17 Juli 2012 (tanggal stempel Pos pengiriman dan Pemohon Banding baru terima tanggal 19 Juli 2012), yamg memutuskan menolak keberatan Pemohon Banding atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak (SKPKB) Pajak Penghasilan Tahun 2009 Nomor 00007/206/09/054/11 tanggal 21 April 2011. Adapun perhitungan pajak yang terhutang menurut Keputusan Direktur Jenderal Pajak tersebut di atas adalah sebagai berikut:

Uraian Semula (Rp) Ditambah / (Dikurangi) (Rp) Menjadi (Rp) Dasar Pengenaan Pajak 26.391.931.938 0 26.391.931.938 PPh Terutang 7.389.740.680 0 7.389.740.680 Kredit Pajak 3.027.775.324 0 3.027.775.324 Kompensasi Tahun Pajak/Masa Pajak

sebelumnya 0 0 0 PPh Kurang (Lebih) Bayar 4.361.965.356 0 4.361.965.356 Sanksi Administrasi 1.483.068.221 0 1.483.068.221 Jumlah PPh ymh (lebih) dibayar 5.845.033.577 0 5.845.033.577

Bahwa permohonan banding ini Pemohon Banding ajukan sehubungan dengan adanya:

- Koreksi Biaya Pemasaran/Promosi sebesar Rp1.445.644.464,00 - Koreksi Penyesuaian Fiskal Positif sebesar Rp26.263.581.866,00 - Koreksi Penghasilan Deviden dari Portfolio sebesar Rp687.325,778,00

Bahwa berikut ini adalah uraian Pemohon Banding mengenai pokok permasalahan beserta dengan alasan yang menjadi dasar permohonan banding Pemohon Banding : 1. Koreksi Biaya Pemasaran/Promosi sebesar Rp1.445.641.464,00

Menurut Terbanding

Bahwa berdasarkan Laporan Pemeriksaan Pajak dan Kertas Kerja Pemeriksa diketahui bahwa untuk masa pajak September 2009, Pemeriksa melakukan koreksi atas Biaya Pemasaran/Promosi sebesar Rp1.445.644.464,00 dikarenakan Pemohon Banding tidak dapat memenuhi persyaratan sebagaimana diminta dalam PMK tersebut, sehingga seluruh biaya promosi/pemasaran tidak dapat dikurangi dari penghasilan bruto;

Bahwa Tim .Peneliti telah meminta data/dokumen berupa voucher atas biaya pemasaran dengan surat permintaan buku, catatan, data dan informasi Nomor

S-7290/WPJ.07/BD.05.2011 tanggal 18 Agustus 2011 namun Pemohon Banding hanya memberikan daftar nominatif biaya pemasaran dan promosi tanpa disertai bukti yang yang lengkap untuk mendukung daftar nominatif tersebut. Atas tidak dipinjamkannya voucher atas biaya pemasaran, Tim peneliti membuat Berita Acara Tidak Memenuhi Sebagian/Seluruh Peminjaman dan/atau Permintaan Nomor BA-PJ.07/B D.05/2011;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 3 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016 bahwa atas daftar nominatif yang diberikan oleh Pemohon Banding, peneliti telah meneliti dan berkesimpulan bahwa rincian yang terdapat didalamnya bukan merupakan biaya pemasaran promosi sebagaimana yang tercakup dalam Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 02/PMK.03/2010 tanggal 8 Januari 2010 tentang biaya promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto;

Bahwa Pemohon Banding tidak melampirkan Daftar Nominatif atas Biaya Promosi dan Penjualan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 02/PMK.03/20 10 tanggal 8 Januari 2010;

bahwa berdasarkan Pasal 1 dan Pasal 2 PER-1/PJ/2010 tentang Perubahan atas Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-19/2009 tentang Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan Surat Pemberitahuan Tahunan, dapat disimpulkan bahwa SPT Tahunan Badan Tahun 2009 Pemohon Banding adalah tidak termasuk SPT yang tidak lengkap;

Bahwa berdasarkan Pasal 6 ayat (1) huruf a angka 7 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 disebutkan bahwa biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;

Bahwa berdasarkan Pasal 6 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 02/PMK.03/2010 tanggal 8 Januari 2010 tentang Biaya Promosi yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto disimpulkan bahwa atas biaya promosi/pemasaran yang tidak dilampirkan daftar nominatifnya dalam SPT Tahunan

sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam PMK tersebut, tidak dapat

dikurangkan sebagai Pengurang Penghasilan Brutio;

Bahwa Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor

02/PMK.03/2010 tanggal 8 Januari 2010 tentang Biaya Promosi yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto berlaku sejak tanggal 1 Januari 2009. Pemohon Banding menyampaikan SPT Tahunan 2009 pada tanggal 06 Mei 2010. Dengan demikian masih cukup waktu bagi Pemohon Banding untuk menyampaikan SPT Tahunannya melampirkan dafar nominatif biaya promosi sesuai dengan PMK tersebut;

Bahwa atas daftar biaya nominatif yang diberikan oleh Pemohon Banding pada saat permohonan keberatan. peneliti telah meneliti dan berkesimpulan bahwa rincian yang terdapat di dalamnya bukan merupakan biaya pemasaran/promosi sebagaimana yang tercakup dalam Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 02/PMK .03/2010 tanggal 8 Januari tentang biaya promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto;

Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas, Tim Peneliti tetap mempertahankan koreksi Pemeriksa atas biaya Pemasaran dan Promosi sebesar Rp1.445.644.464,00; Menurut Pemohon Banding

Bahwa Pemohon banding tidak setuju sebagian dengan koreksi Tim Pemeriksa atas biaya pemasaran promosi sebesar Rp1.445.644.464,00;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 4 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016 Bahwa dari nilai koreksi sebesar Rp1.445.644.464,00 Pemohon Banding menyetujui untuk dikoreksi sebesar Rp41.267.228,00 akan tetapi Pemohon Banding tidak setuju dengan koreksi Rp1.404.377.236,00 (Rp1.445.644.464,00 - Rp41.267.228,00) dengan penjelasan sebagai berikut:

Bahwa biaya pemasaran promosi adalah biaya-biaya yang Pemohon Banding keluarkan untuk keperluan, sebagian besar biaya yang berhubungan dengan sosialisasi atas manfaat dari berinvestasi surat utang yang dikeluarkan oleh Pemerintah, terutama sosialisasi tersebut dilakukan untuk daerah-daerah di luar Jakarta. Kegiatan-kegiatan tersebut Pemohon Banding lakukan di dalam kapasitas perusahaan Pemohon Banding sebagai agen penjual Obligasi Retail Pemerintah (ORI) yang ditunjuk oleh Pemerintah pula;

Bahwa selain daripada itu, pengeluaran pemasaran promosi adalah dalam bentuk publikasi laporan keuangan perusahaan Pemohon Banding yang bersifat rutin enam bulanan dan tahunan, yang mana menurut peraturan yang berlaku, harus dipublikasikan di surat kabar;

Bahwa dengan demikian, biaya pemasaran/promosi tersebut merupakan biaya yang berhubungan dengan mandapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan perusahaan Pemohon Banding, yang menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 6, biaya tersebut merupakan pengurang dalam menghitung penghasilan kena pajak;

Bahwa mengenai koreksi Tim Pemeriksa yang menyatakan bahwa koreksi dilakukan karena tidak dengan ketentuan di dalam Pasal 6 ayat 1 sampai 5 dari Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 02/PMK.03/2010 tanggal 8 Januari 2010, Pemohon Banding ingin menanggapi bahwa daftar nominatif biaya promosi telah Pemohon Banding sampaikan pada saat Pemohon Banding menyampaikan surat tanggapan atas SPHP;

Bahwa Pemohon Banding sampaikan pula bahwa pada saat memasukkan e-SPT tahun pajak 2009 (bahkan sampai saat ini), di dalam program aplikasi e-e-SPT tersebut, tidak tersedia fasilitas untuk menyajikan format daftar nominatif biaya promosi, sehingga Pemohon Banding tidak dapat melampirkan dattar nominatif tersebut di dalam e-SPT tersebut;

Bahwa sehingga menurut pendapat Pemohon Banding, seluruh persyaratan yang diatur di dalam PMK tersebut di atas telah Pemohon Banding penuhi, dan oleh karena itu, koreksi atas biaya pemasaran promosi sebesar Rp1.404.377.236,00 seharusnya dibatalkan;

2. Koreksi Penyesuaian Fiskal Positif sebesar Rp26.263.581.866,00 (seharusnya Rp17.067.570.412,00)

Menurut Terbanding

Bahwa dalam surat keberatannya, Pemohon Banding menyatakan bahwa persentase biaya proporsional yang tidak dapat dikurangkan dalam menghitung

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 5 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016 penghasilan kena pajak (non-deductible expense) adalah nilai transaksi portfolio saham perusahaan (yang menghasilkan pendapatan yang dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final) dibandingkan dengan total nilai transaksi keseluruhan (transaksi portfolio saham perusahaan ditambah transaksi portfolio nasabah);

Bahwa berdasarkan PSAK Nomor 46 (Reformat 2007) paragraf 52 dinyatakan: Atas penghasilan yang telah dikenakan Pajak Penghasilan Final, beban pajak diakui proporsional dengan jumlah pendapatan menurut akutansi yang diakui pada periode berjalan;

Bahwa atas dasar tersebut, Tim Peneliti berpendapat bahwa biaya yang dapat dikeluarkan dihitung secara proporsional antara biaya yang merupakan joint cost dikalikan dengan proporsi penghasilan di laba rugi dan bukan keseluruhan nilai transaksi transaksi portfolio saham perusahaan ditambah transaksi portfolio nasabah);

Bahwa Tim Peneliti melakukan perhitungan ulang atas perhitungan Proposional Pembebanan Biaya bersama (Joint Cost) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 138 Tahun 2000. Hasil dari perhitungannya adalah sebagai berikut:

Total Biaya yang diproposional (setelah koreksi fiskal) adalah

Harga Pokok Penjualan Rp 31.336.133.668,00

- Penyesuaian Fiskal cfm Pemohon Banding

Penyusutan Aset Tetap Rp (198.104.697,00)

Imbalan Kerja Rp (88.087.839,00)

Rp 31.049.941.132,00

Biaya Usaha Lainnya Rp 18.445.305.426,00

- Penyesuaian Fiskal cfm Pemohon Banding

Penghapusan Piutang Tidak

Tertagih

Rp (17.664.528.617,00)

Tax Expenses Rp (148.040.188,00)

Other Tax Expenses Rp (66.040.547,00)

Rp 566.696.074,00 Rp 31.616.637.206,00* * bahwa Jumlah Joint Cost sebesar Rp31.616.637.206,00 sama dengan total joint

cost menurut Pemohon Banding seperti tertulis dalam surat permohonan keberatan Pemohon Banding;

Perhitungan Proporsional Final dan Bukan Objek Pajak

1 Keuntungan a/Perdgn efek yang telahdirealisasikan Rp45.562.040.536,00 49,53%

2 BROKERAGES FEE-OBLIGASI Rp 1.127.010.000,00 1,23%

3 TIME DEPOSIT Rp 1.257.379.442,00 1.37%

4 TIME DEPOSIT FOREX Rp 9.225,00 0,00%

5 CURRENT ACCOUNT (IDR) Rp 1.279.501.364,00 1.39%

6 CURRENT ACCOUNT (SOREX) Rp 182.812.470,00 0,20%

7 GUARANTEE DEPOSIT KPEI Rp 159,361.959,00 0,17%

8 BOND INTEREST Rp 92.614.936,00 0.10%

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 6 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

Rp49.660.729.933,00 53,98%

Maka, Biaya yang dapat dikurangkan adalah:

Rp49.660.729.933,00 x 53.98% = Rp17.067.570.412,00

Bahwa dengan demikian Peneliti tetap mempertahankan koreksi Pemeriksa atas Penyesuaian Fiskal Positif sebesar Rp17.067.570.4 12,00; Menurut Pemohon Banding

Bahwa Pemohon Banding ingin memberikan penjelasan mengenai kegiatan usaha dari perusahaan Pemohon Banding;

bahwa perusahaan Pemohon Banding bergerak di bidang usaha jasa sekuritas, yang mana penghasilan perusahaan Pemohon Banding berasal dari tagihan Pemohon Banding kepada nasabah Pemohon Banding atas jasa yang Pemohon Banding berikan berupa jasa perantara efek, dan jasa penjamin emisi (underwriting);

Bahwa selain itu, perusahaan Pemohon Banding juga bertindak sebagai pedagang efek, yang melakukan pembelian dan penjualan efek untuk kepentingan perusahaan Pemohon Banding sendiri. (Selanjutnya, Pemohon Banding memakai istilah "transaksi portfolio saham perusahaan");

Bahwa sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku, penghasilan yang didapat dari nasabah Pemohon Banding berupa penghasilan dari jasa perantara efek dan jasa underwriting, dikenakan pajak yang bersifat tidak final. Akan tetapi, atas penghasilan dari transaksi portfolio saham perusahaan, dikenakan pajak penghasilan yang bersifat final, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1997 Pasal 1;

Bahwa Peraturan Pemerintah (PP 138 Tahun 2000 Pasal 4, diantaranya menyebutkan bahwa biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final tidak boleh dikurangkan dalam menghitung besarnya penghasilan kena pajak;

Bahwa interpretasi selanjutnya dari Peraturan Pemerintah tersebut bahwa untuk biaya-biaya yang tidak dapat ditentukan seluruhnya untuk mendapatkan penghasilan yang bersifat final atau non-final, harus diperlakukan proporsional;

Bahwa metode yang umum dipakai oleh industri perusahaan sekuritas untuk menentukan persentase proporsional dari biaya perusahaan adalah dengan melihat nilai transaksi jual beli saham;

Bahwa persentase biaya proporsional yang tidak dapat dikurangkan dalam menghitung penghasilan kena pajak (non-deductible expense) adalah

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 7 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

nilai transaksi portfolio saham perusahaan (yang menghasilkan pendapatan yang dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final) dibandingkan dengan total nilai transaksi keseluruhan (transaksi portfolio saham perusahaan ditambah transaksi portfolio nasabah);

Bahwa dengan menggunakan metode tersebut di atas, perhitungan persentase proporsional menjadi sebagai berikut:

Transaksi portfolio saham perusahaan Rp 150.535.456.800,00 Total transaksi keseluruhan Rp 28.231.079.751.720,00 Perhitungan persentasenya adalah sebagal berikut:

Transaksi portfolio saham perusahaan x 100% Total transaksi keseluruhan

= Rp 150.535.456.800,00 x 100% Rp 28.231.079.751.720,00

= 0.5332%

Bahwa dengan demikian, perhitungan biaya proporsional non-deductible adalah 0.5332% x Rp31.616.637.206,00 = Rp168.579.909,00 dan bukan Rp17.067.570.412 seperti perhitungan Tim Pemeriksa;

3. Koreksi Penghasilan Deviden dari Portfolio sebesar Rp687.325.778,00 Menurut Terbanding

Bahwa berdasarkan Laporan Pemeriksa Pajak, Kertas Kerja Pemeriksa dan risalah pembahasan diketahui bahwa koreksi Penghasilan Deviden dari Portfolio sebesar Rp687.1325778,00 merupakan bagian dari koreksi dari Penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan final dan bukan objek pajak dengan rincian sebagai berikut:

Bahwa dalam risalah pembahasan diketahui :

Bahwa Pemohon Banding menyetujui seluruh koreksi dari deviden dari portfolio sejumlah Rp687.325.778,00 namun meminta pajak atas deviden dapat diperhitungkan sebagai pengurang dari Pajak Penghasilan Badan;

Bahwa atas Pendapatan Komisi dari Transaksi Perantara Pedagang Efek sejumlah Rp1.127.010,000,00 Pemohon Banding tidak setuju untuk dikoreksi;

Bahwa atas kedua hal tersebut di atas, Pemeriksa membatalkan koreksi atas Pendapatan Komisi dari Transaksi Perantara Pedagang Efek sejumlah Rp1.127.010,000,00, namun tetap mempertahankan koreksi dari deviden dari portfolio sejumlah Rp687.325.778,00;

Bahwa dalam surat keberatannya, Pemohon Banding menyatakan koreksi dari deviden portfolio adalah sebesar Rp808.618.562,00 bukan sebesar Rp687.325.778,00 tanpa memberikan rincian dari jumlah tersebut. Dan bukti

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 8 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

potongan atas deviden yang diberikan kepada peneliti keberatanpun jumlahnya berbeda dengan yang jumlah dinyatakan oleh Pemohon Banding dan juga tidak valid karena cap dan tanda tangan tidak jelas;

Bahwa berdasarkan pada poin di atas maka Peneliti tetap mendasarkan koreksi yang disetujui oleh Pemohon Banding adalah risalah pembahasan dengan pemeriksa sejumlah Rp687.325.778,00;

Menurut Pemohon Banding

Bahwa Pemohon Banding keberatan atas koreksi deviden dari portfolio sebesar Rp687.325.778,00;

Bahwa deviden dari portfolio sebenarnya bernilai Rp808.618.562,00 dan bukan Rp687.325.778,00;

Bahwa oleh karena pendapatan deviden dari portfolio merupakan penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat non-final, pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 atas penghasilan tersebut seharusnya dapat ditambahkan sebagai kredit pajak Pajak Penghasilan Badan yaitu sebesar Rp121.292.784,00 Kredit pajak tersebut terdiri dari dua buah Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 dari Emiten yang membagikan deviden;

Bahwa dengan demikian, Tim Pemeriksa seharusnya melakukan koreksi positif atas penghasilan deviden dari portfolio sebesar Rp808.618.562 (bukan Rp687.325.778,00 dan melakukan penambahan atas jumlah kredit pajak badan sebesar Rp121.292.784,00;

Kesimpulan

Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka koreksi Terbanding seharusnya adalah sebagai berikut:

Uraian (Rp)

Dasar Pengenaan Pajak 8.209.856.983

PPh Terutang 2.298.759.680

Kredit Pajak 3.149.068.108

Kompensasi tahun Pajak/Masa Pajak sebelumnya

PPh Kurang (Lebih) Bayar (850.308.428)

Sanksi Administrasi 0

Jumlah PPh ymh (lebih) dibayar (850.308.428)

Menimbang, bahwa amar Putusan Pengadilan Pajak Jakarta Nomor PUT-50104/PP/M.XIII/15/2014, Tanggal 23 Januari 2014 yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut adalah sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 9 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

Menyatakan mengabulkan sebagian permohonan banding Pemohon Banding terhadap Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-1309/WPJ.07/2012 tanggal 16 Juli 2012, tentang keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan Tahun Pajak 2009 Nomor 00007/206/09/054/11 tanggal 21 April 2011, atas nama: PT Reliance Securities, Tbk., NPWP 01.349.347.3-054.000, alamat Reliance Building, Jl. Pluit Putra Kencana No. 15A, Jakarta 14450, dengan menghitung kembali Pajak Terutang dan Jumlah yang Masih Harus dibayar menjadi sebagai berikut:

1. Penghasilan Netto Rp 8.088.564.199,00

2. Penghasilan Kena Pajak Rp 8.088.564.000,00

3. Pajak Penghasilan yang terutang Rp 2.264.797.920,00

4. Kredit Pajak :

a. Dipotong/dipungut : PPh Pasal 23 Rp 50.616.110,00

b. Dibayar sendiri : PPh Pasal 25 Rp 2.977.159.214,00

Rp 3.027.775.324,00

5. Pajak yang tidak/kurang dibayar Rp (762.427.404,00)

6. Sanksi Administrasi :

Bunga Pasal 13 ayat (2) KUP Rp 0,00

7. Jumlah PPh yang masih harus dibayar Rp (762.427.404,00)

Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yaitu Putusan Pengadilan Pajak Jakarta Nomor PUT-50104/PP/M.XIII/15/2014, Tanggal 23 Januari 2014, diberitahukan kepada Pemohon Peninjauan Kembali pada Tanggal 10 Februari 2014, kemudian terhadapnya oleh Pemohon Peninjauan Kembali dengan perantaraan kuasanya berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor SKU-1104/PJ./2014 tanggal 15 April 2014, diajukan permohonan peninjauan kembali secara tertulis di Kepaniteraan Pengadilan Pajak Jakarta pada Tanggal 06 Mei 2014, dengan disertai alasan-alasannya yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada Tanggal 06 Mei 2014;

Menimbang, bahwa tentang permohonan peninjauan kembali tersebut telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama pada Tanggal 21 November 2014, kemudian terhadapnya oleh pihak lawannya diajukan Jawaban yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada Tanggal 24 Desember 2014;

Menimbang, bahwa permohonan peninjauan kembali a quo beserta alasan-alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 10 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, juncto Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, maka permohonan peninjauan kembali tersebut secara formal dapat diterima;

ALASAN PENINJAUAN KEMBALI

Menimbang, bahwa Pemohon Peninjauan Kembali telah mengajukan alasan Peninjauan Kembali yang pada pokoknya sebagai berikut:

I. Tentang Alasan Pengajuan Peninjauan Kembali

Bahwa putusan Pengadilan Pajak Nomor: Put.50104/PP/M.XIII/15/2014 tanggal 23 Januari 2014 telah dibuat dengan tidak memperhatikan ketentuan yuridis formal atau mengabaikan fakta yang menjadi dasar pertimbangan dalam koreksi yang dilakukan Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding), sehingga menghasilkan putusan yang tidak adil dan tidak sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku di Indonesia. Oleh karenanya Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.50104/PP/M.XIII/15/2014 tanggal 23 Januari 2014 diajukan Peninjauan Kembali berdasarkan ketentuan Pasal 91 huruf e Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak :

“Permohonan Peninjauan Kembali dapat diajukan berdasarkan alasan sebagai berikut:

e. Apabila terdapat suatu putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;”

II. Tentang Formal Jangka Waktu Pengajuan Memori Peninjauan Kembali;

1. Bahwa Salinan Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.50104/PP/M.XIII/15/2014 tanggal 23 Januari 2014, atas nama PT. Reliance Securities, Tbk (Termohon Peninjauan Kembali/semula Pemohon Banding), telah diberitahukan secara patut dan dikirimkan oleh Pengadilan Pajak kepada Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) melalui surat Sekretariat Pengadilan Pajak Nomor : P.111/PAN.Wk/2014 tanggal 07 Februari 2014 dan diterima secara langsung pada tanggal 12 Februari 2014 dengan bukti penerimaan Tempat Pelayanan Surat Terpadu nomor 201402120483;

2. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 91 huruf e dan Pasal 92 ayat (3)

juncto Pasal 1 angka 11 UU Pengadilan Pajak, maka pengajuan

Memori Peninjauan Kembali atas Putusan Pengadilan Pajak Nomor:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 11 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

Put.50104/PP/M.XIII/15/2014 tanggal 23 Januari 2014 ini ini masih dalam tenggang waktu yang diijinkan oleh Undang-undang Pengadilan Pajak atau setidak-tidaknya antara tenggang waktu pengiriman/pemberitahuan Putusan Pengadilan Pajak tersebut dengan Permohonan Peninjauan Kembali ini belum lewat waktu sebagaimana telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu, sudah sepatutnyalah Memori Peninjauan Kembali ini diterima oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia;

III. Tentang Pokok Sengketa Pengajuan Peninjauan Kembali

Bahwa yang menjadi pokok sengketa dalam permohonan Peninjauan Kembali ini adalah koreksi Penghasilan Neto Tahun Pajak 2009 yang terdiri dari :

1. Koreksi Biaya Pemasaran/Promosi sebesar Rp1.404.377.236,00 2. Koreksi Penyesuaian Fiskal Positif sebesar Rp16.898.990.503,00 yang tidak dipertahankan oleh Majelis Hakim Pengadilan Pajak.

IV. Tentang Pembahasan Pokok Sengketa Peninjauan Kembali

Bahwa setelah Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) membaca, memeriksa dan meneliti Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.50104/PP/M.XIII/15/2014 tanggal 23 Januari 2014, maka dengan ini menyatakan sangat keberatan atas putusan Pengadilan Pajak tersebut, karena pertimbangan hukum yang keliru dan telah mengabaikan fakta-fakta hukum (rechtsfeit) dan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku dalam pemeriksaan Banding di Pengadilan Pajak atau setidak-tidaknya telah membuat suatu kekhilafan baik berupa error facti maupun error juris dalam membuat pertimbangan-pertimbangan hukumnya, sehingga pertimbangan hukum dan penerapan dasar hukum yang telah digunakan menjadi tidak tepat serta menghasilkan putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan

(contra legem), khususnya peraturan perundang- undangan perpajakan

yang berlaku;

1. Bahwa pendapat Majelis Hakim Pengadilan Pajak atas sengketa peninjauan kembali ini sebagaimana tertuang dalam putusan a quo, antara lain berbunyi sebagai berikut:

1. 1. Atas Koreksi Biaya Pemasaran/Promosi sebesar Rp1.404.377.236,00 ;

Halaman 35 -36 :

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 12 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

Pemohon Banding merupakan Wajib Pajak yang berada di Kantor Pelayanan Pajak di bawah Kantor Wilayah Jakarta Khusus wajib menyampaikan SPT dalam bentuk elektronik (e-STP);

Dalam aplikasi program e-SPT, tidak tersedia fasilitas untuk mengisi atau melampirkan daftar nominatif sebagaimana dimaksud pada Pasal 6 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan a quo. Sehingga saat memasukkan e-SPT tahun pajak 2009 (bahkan sampai saat ini), di dalam program aplikasi e-SPT tersebut karena tidak tersedia fasilitas untuk menyajikan format daftar nominatif biaya promosi, sehingga Pemohon Banding tidak dapat melampirkan daftar nominatif tersebut di dalam e-SPT tersebut;

Pemohon Banding telah melaporkan SPT Tahunan PPh Badan tahun 2009 kepada Terbanding pada tanggal 30 April 2010 dan Pemohon Banding tidak pernah menerima surat yang menyatakan adanya kekurangan dokumen dalam penyampaian SPT dari pihak Terbanding;

Pemohon Banding juga telah memberikan daftar nominatif atas pengeluaran Biaya Promosi pada saat pemeriksaan berlangsung sebagai bagian dari dokumen yang diminta pada saat pemeriksaan, sebagaimana Pemohon Banding sampaikan pada surat tanggapan atas SPHP;

Pemohon Banding menyetujui untuk dikoreksi sebesar Rp41.267.228,00 akan tetapi Pemohon Banding tidak setuju dengan koreksi Rp1.404.377.236,00 (Rp1.445.644.464,00 – Rp41.267.228,00);

bahwa berdasarkan data dan fakta sebagaimana tersebut di atas maka Majelis berpendapat bahwa Koreksi Biaya Pemasaran/Promosi yang tidak dapat dipertahankan adalah sebesar Rp1.404.377.236,00;

1. 2. Atas Koreksi Penyesuaian Fiskal Positif sebesar Rp16.898.990.503,00;

Halaman 42 -43 :

bahwa Majelis berpendapat berdasarkan ketentuan Pasal 4 Peraturan Pernerintah Nomor 138 Tahun 2000, biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 13 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

pengenaan pajaknya bersifat final, tidak boleh dikurangkan dalam menghitung besarnya penghasilan kena pajak. Sesuai dengan ketentuan Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1997 penghasilan dari transaksi portfolio saham perusahaan, dikenakan pajak penghasilan yang bersifat final, sehingga biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasiln rsebut tidak boleh dikurangkan dalam menghitung besarnya penghasilan kena pajak;

bahwa menurut Majelis berdasarkan ketentuan-ketentuan sebagaimana dikemukakan di atas, maka proporsi pembebanan Biaya Bersama (Joint Cost) terhadap transaksi yang dilakukan oleh Pemohon Banding adalah perbandingan transaksi portfolio saham perusahaan dengan total transaksi keseluruhan;

bahwa dengan demikian Majelis berpendapat Penyesuaian Fiskal Positif adalah sebesar Rp168.579.909,00 sebagaimana penghitungan Pemohon Banding dan atas koreksi sebesar Rp16.898.990.503,00 tidak dipertahankan.

2. Bahwa ketentuan perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar pengajuan Peninjauan Kembali dalam perkara a quo adalah sebagai berikut:

2. 1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, antara lain mengatur :

Pasal 69 ayat (1) Alat bukti dapat berupa: a. surat atau tulisan; b. keterangan ahli; c. keterangan para saksi;

d. pengakuan para pihak; dan/atau e. pengetahuan Hakim

Pasal 76

Hakim menentukan apa yang harus dibuktikan, beban pembuktian beserta penilaian pembuktian dan untuk sahnya pembuktian diperlukan paling sedikit 2 (dua) alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1);

Pasal 78

Putusan Pengadilan Pajak diambil berdasarkan hasil penilaian pembuktian, dan berdasarkan peraturan perundang-undangan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 14 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

perpajakan yang bersangkutan, serta berdasarkan keyakinan Hakim;

2.2. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum

dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009, antara lain mengatur :

Pasal 3 ayat (1)

Setiap Wajib Pajak wajib mengisi Surat Pemberitahuan dengan benar, lengkap, dan jelas, dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan menandatangani serta menyampaikannya ke kantor Direktorat Jenderal Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak;

Penjelasan Pasal 3 ayat (1)

Fungsi Surat Pemberitahuan bagi Wajib Pajak Pajak Pengbasilan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang:

a. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan/atau melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam 1 (satu) Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak; b. penghasilan yang merupakan objek pajak dan/atau bukan

objek pajak;

c. harta dan kewajiban; dan/atau;

d. pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotongan atau pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain dalam 1 (satu) Masa Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan; Bagi Pengusaha Kena Pajak, fungsi Surat Pemberitahuan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah Pajak Pertambahan dan Pajak Pejualan Atas Barang Mewah yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang:

a. pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran; dan b. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan

sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak dan/atau melakii pihak

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 15 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

lain dalam satu Masa Pajak, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Bagi pemotong atau pemungut pajak, fungsi Surat Pemberitahuan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkannya;

Yang dimaksud dengan mengisi Surat Pemberitahuan adalah mengisi formulir Surat Pemberitahuan, dalam bentuk kertas dan/atau dalam bentuk elektronik, dengan benar, lengkap, dan jelas sesuai dengan petunjuk pengisian yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan;

Sementara itu, yang dimaksud dengan benar, lengkap, dan jelas dalam mengisi Surat Pemberitahuan adalah:

a. benar adalah benar dalam perhitungan, termasuk dalam penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dalam penulisan, dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya;

b. lengkap adalah memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan dan

c. jelas adalah melaporkan asal-usul atau sumber dari objek pajak dan unsur-unsur lain, yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan;

Surat Pemberitahuan yang telah diisi dengan benar, lengkap, dan jelas tersebut wajib disampaikan ke kantor Direktorat Jenderal Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. Kewajiban penyampaian Surat Pemberitahuan oleh pemotong atau pemungut pajak dilakukan untuk setiap Masa Pajak;

Pasal 4

(1) Wajib Pajak wajib mengisi dan menyampaikan Surat Pemberitahuan dengan benar, lengkap, jelas, dan menandatanganinya;

(2) Dalam hal Wajib Pajak adalah badan, Surat Pemberitahuan harus ditandatangani oleh pengurus atau direksi;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 16 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

(3) Dalam hal Surat Pemberitahuan diisi dan ditandatangani oleh orang lain bukan Wajib Pajak, harus dilampiri surat kuasa khusus;

(4) Pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan oleh Wajib Pajak yang wajib melakukan pembukuan harus dilengkapi dengan laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi serta keterangan-keterangan lain yang diperlukan untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak;

(5) Tata cara penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan;

2.3. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-1/PJ/2009 tentang Perubahan atas Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-19/2009 tentang Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan Surat Pemberitahuan Tahunan, mengatur :

Pasal 1

Dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, yang dimaksud dengan:

1. SPT Lengkap adalah SPT yang semua elemen SPT Induk dah lampirannya telah diisi dengan lengkap, SPT Induk telah ditandatangani oleh Wajib Pajak atau kuasanya, dan telah dilengkapi dengan lampiran khusus, serta keterangan dan/atau dokumen yang di syaratkan.

4. e-SPT Lengkap adalah SPT sebagaimana dimaksud pada angka 2 yang semua elemen SPT Induk dan lampirannya telah diisi dengan lengkap dan dapat diproses dalam Sistem Informasi Perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak, dan telah dilengkapi dengan lampiran khusus, serta keterangan dan/atau dokumen lain yang tidak dapat disampaikan secara elektronik;

Pasal 2

SPT Tahunan/e-SPT Tahunan dinyatakan tidak lengkap apabila:

1. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau nama Wajib Pajak tidak dicantumkan dalam SPT Induk dengan lengkap dan jelas;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 17 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

2. SPT Induk tidak ditandatangani oleh Wajib Pajak atau Kuasanya;

3. SPT Induk ditandatangani oleh kuasa Pemohon Banding tetapi tidak dilampiri dengan Surat Kuasa Khusus atau SPT Tahunan PPh Orang Pribadi ditandatangani oieh ahli waris tetapi tidak dilampiri dengan Surat Keterangan Kematian dari Instansi yang berwenang;

4. Terdapat elemen SPT Induk yang diisi tidak lengkap;

5. SPT Kurang Bayar tetapi tidak dilampiri dengan bukti pelunasan berupa SSP yang sesuai;

6. SPT tidak atau kurang disertai dengan lampiran pada Formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran III.1.a. atau III.2.a, atau III.3.a. atau lll.4.a pada Peraturan Direktur Jenderal Pajak;

7. SPT/e-SPT tidak atau kurang disertai dengan Lampiran Keterangan dan/atau Dokumen yang Disyaratkan sebagaimana ditetapkan pada Lampiran III.1.a s.d. III.4.a atau III.1.b s.d. III.4.b atau III. 1 .c s.d. III.4.c pada Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini;

8. Lampiran "Daftar Harta dan Kewajiban Pada Akhir Tahun dan Daftar Susunan Anggota Keluarga" dalam SPT Tahunan PPh Orang Pribadi dilampirkan tetapi diisi tidak lengkap; 9. Lampiran "Daftar Pemegang Saham/Pemilik Modal dan

Daftar Susunan Pengurus dan Komisaris" dalam SPT Tahunan PPh Badan dilampirkan tetapi diisi tidak lengkap; 10. Terdapat Lampiran Khusus sebagaimana ditetapkan pada

Lampiran-Lampiran III.1.a s.d. Ill.4.a atau III. 1.b s.d. III.4 b atau III.1.c s.d. III.4.c pada Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini yang diisi tidak lengkap;

11. e-SPT yang data digitalnya disampaikan dengan menggunakan media elektronik, tetapi hanya menyampaikan SPT Induk hasil cetakan tanpa disertai media elektronik; 12. e-SPT yang data digitalnya disampaikan dengan

menggunakan media elektronik, tetapi SPT Induk berdasarkan data digitalnya tidak sesuai dengan SPT Induk hasil cetakan yang disampaikan oleh Wajib Pajak;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 18 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

13. Loading atas e-SPT yang data digitalnya disampaikan dengan menggunakan media elektronik tidak dapat di-load pada aplikasi Sistem Informasi Perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak;

14. e-SPT yang data digitalnya disampaikan dengan menggunakan media etektronik tetapi elemen-elemen data digitalnya tidak diisi atau diisi tetapi tidak lengkap;

15. e-SPT yang data digitalnya disampaikan melalui e-filing tetapi elemen-elemen data digitalnya tidak diisi atau diisi tetapi tidak lengkap;

Pasal 6

(1) Kantor Pelayanan Pajak melakukan penelitian paling lama dalam jangka waktu 2 (dua) bulan setelah SPT Tahunan/e-SPT Tahunan diterima sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 ayat (1) kecuali untuk SPT Lebin Bayar paling lama 14 (empat belas) hari kerja;

(2) Apabila berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud ayat (1), SPT Tahunan/ e-SPT Tahunan sebagaimana dimaksud pada Pasal 2, Kantor Pelayanan Pajak mengirimkan Surat Permintaan Kelengkapan SPT Tahunan kepada Wajib Pajak;

(3) Atas permintaan kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Wajib Pajak wajib menyampaikan kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal Surat Permintaan Kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan ke Kantor Pelayanan Pajak dimana Wajib Pajak terdaftar; (4) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada

ayat (3), Wajib Pajak tidak menyampaikan kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan, maka SPT Tahunan/ e-SPT Tahunan sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 ayat (1) dianggap tidak disampaikan dan kepada Wajib Pajak dikirimkan surat pemberitahuan yang menyatakan bahwa SPT Tahunan/e-SPT Tahunan dianggap tidak disampaikan; (5) Terhadap SRT-ivang telah dilakukan penelitian dan

dinyatakan lengkap, dilakukan perekaman;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 19 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

(6) Jangka waktu perekaman SPT ditetapkan paling lambat 1 (satu) bulan sejak SPT Lebih Bayar (LB) diterima lengkap atau 3 (tiga) bulan sejak SPT Kurang Bayar (KB)/Nihil (N) diterima lengkap;

2.4. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-2/PJ/2011 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan Surat Pemberitahuan Tahunan, mengatur :

Romawi II

3. SPT Lengkap adalah SPT yang semua elemen SPT Induk dan lampirannya telah diisi dengan lengkap, SPT Induk telah ditandatangani oleh Wajib Pajak atau kuasanya, dan telah dilengkapi dengan lampiran khusus, serta keterangan dan/atau dokumen yang disyaratkan.

4. e-SPT Lengkap adalah SPT sebagaimana dimaksud pada angka 2 yang semua elemen SPT Induk dan lampirannya telah diisi dengan lengkap dan dapat diproses dalam Sistem Informasi Perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak, dan telah dilengkapi dengan lampiran khusus, serta keterangan dan/atau dokumen lain yang tidak dapat disampaikan secara elektronik;

2.5. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak

Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 antara lain diatur sebagai berikut:

Pasal 6 ayat 1

Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk:

1. biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha, antara lain:

2. biaya pembelian bahan;

3. biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasidan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang

4. bunga, sen/a, dan royalti; 5. biaya perjalanan;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 20 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

6. biaya pengolahan limbah; 7. premi asuransi;

8. biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;

9. biaya administrasi; dan

10. pajak kecuali Pajak Penghasilan;

2.6. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor

02/PMK.03/2010 tanggal 8 Januari 2010 antara lain diatur sebagai berikut:

Pasal 2

Besarnya biaya promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto merupakan akumulasi dari jumlah:

a. biaya periklanan di media elektronik, media cetak, dan/atau media lainnya

b. biaya pameran produk;

c. biaya pengenalan produk baru; dan/atau

d. biaya sponsorship yang berkaitan dengan promosi produk Pasal 3

Tidak termasuk biaya promosi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 adalah:

e. pemberian imbalan berupa uang dan/atau fasilitas, dengan nama dan dalam bentuk apapun, kepada pihak lain yang tidak berkaitan langsung dengan penyelenggaraan kegiatan promosi;

f. biaya promosi untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang bukan merupakan obyek pajak dan yang telah dikenai pajak bersifat final;

Pasal 6

(1) Wajib Pajak wajib membuat daftar nominatif atas pengefuaran Biaya Promosi sebagaimana dimaksud dalam Pasai 2 yang dikeiuarkan kepada pihak lain.

(2) Daftar nominatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit harus memuat data penerima berupa nama, NPWP, alamat, tanggal, bentuk dan jenis biaya, besarnya biaya, nomor bukti pemotongan dan besarnya Pajak Penghasilan yang dipotong.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(21)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 21 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

(3) Daftar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuat sesuai format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Menteri Keuangan ini, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri Keuangan ini.

(4) Daftar nominatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan sebagai lampiran saat WP menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan.

(5) Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) tidak dipenuhi, Biaya Promosi tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.

2.7. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-9/PJ/2010 tentang Penyampaian Peraturan Menteri Keuangan Nomor 2/PMK.03/2010 tentang Biaya Promosi Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto diatur sebagai berikut:

Dalam Peraturan Menteri tersebut diatur antara lain:

a. Biaya Promosi adalah bagian dari biaya penjualan yang dikeluarkan oleh Wajib Pajak dalam rangka memperkenalkan dan/atau menganjurkan pemakaian suatu produk baik langsung maupun tidak langsung untuk mempertahankan dan/atau meningkatkan penjualan.

b. Besarnya Biaya Promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto merupakan akumulasi dari jumlah:

c. Tidak termasuk Biaya Promosi adalah:

d. Dalam hal promosi dilakukan dalam bentuk pemberian sampel produk, besarnya biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah sebesar harga pokok sampel produk yang diberikan, sepanjang belum dibebankan dalam perhitungan harga pokok penjualan.

e. Biaya Promosi yang dikeluarkan kepada pihak lain dan merupakan obyek pemotongan Pajak Penghasilan wajib dilakukan pemotongan pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

f. Wajib Pajak wajib membuat daftar nominatif yang paling sedikit harus memuat data penerima berupa nama, NPWP, alamat, tanggal, bentuk dan jenis biaya, besarnya biaya, nomor bukti pemotongan dan besar Pajak Penghasilan yang dipotong dengan format atas pengeluaran Biaya Promosi

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(22)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 22 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 yang dikeluarkan kepada pihak lain sebagaimana ditetapkan dalam tampiran. g. Daftar nominatif dilaporkan sebagai lampiran saat Wajib

Pajak menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Badan.

h. Dalam hal ketentuan huruf f dan g diatas tidak dipenuhi,

Biaya Promosi tidak dapat dikurangkan dari penghasilan

bruto;

2.8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 138 Tahun 2000 tanggal 21 Desember 2000 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan Dalam Tahun Berjalan;

Pasal 4

Pengeluaran dan biaya yang tidak boleh dikurangkan daiam menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak Wajib Pajak daiam negeri dan bentuk usaha tetap termasuk:

a. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang bukan merupakan Objek Pajak;

b. Biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final;

c. Biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang dikenakan pajak berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Neto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dan Norma Penghitungan Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 Undang-Undang Pajak Penghasilan;

d. Pajak Penghasilan yang ditanggung oleh pemberi penghasilan, kecuali pajak atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasat 26 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan tetapi tidak termasuk dividen sepanjang Pajak Penghasilan tersebut ditambahkan dalam penghitungan dasar untuk pemotongan pajak; dan

e. Kerugian dari harta atau utang yang tidak dimiliki dan tidak dipergunakan dalam usaha atau kegiatan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan Objek Pajak.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(23)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 23 dari 36 halaman. Putusan Nomor 595/B/PK/PJK/2016

2.9. PSAK Nomor 46 tentang Akuntansi Pajak Penghasilan

(Reformat 2007); Paragraf 52

Atas penghasilan yang telah dikenakan Pajak Penghasilan Final, beban pajak diakui proporsional dengan jumlah pendapatan menurut akuntansi yang diakui pada periode berjalan;

3. Bahwa berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku dan berdasarkan hasil pemeriksaan sengketa banding di Pengadilan Pajak sebagaimana yang telah dituangkan dalam Putusan Pengadilan Pajak Nomor: Put.50104/PP/M.XIII/15/2014 tanggal 23 Januari 2014 serta berdasarkan penelitian atas dokumen-dokumen milik Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) dan fakta-fakta yang nyata-nyata terungkap pada persidangan, maka Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) menyatakan sangat keberatan dengan pendapat Majelis Hakim Pengadilan Pajak sebagaimana diuraikan pada Butir V.1. di atas dengan alasan sebagai berikut:

3. 1. Atas Koreksi Biaya Pemasaran/Promosi sebesar Rp1.404.377.236,00 ;

Bahwa dasar hukum koreksi atas Biaya Pemasaran/Promosi adalah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 02/PMK.03/2010 tanggal 8 Januari 2010 tentang Biaya Promosi Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto yang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2009, oleh karena tidak adanya Daftar Nominatif sehingga pemeriksa berkesimpulan biaya tersebut tidak dapat dibebankan untuk menghitung penghasilan neto fiskal;

Bahwa Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) tidak setuju dengan koreksi Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) dan mengajukan keberatan, atas keberatan tersebut Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) mengeluarkan keputusan untuk menolak keberatan Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding);

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Bahwa, Sertifikat Desain Industri yang diterbitkan Turut Tergugat untuk Tergugat tersebut jelas-jelas telah diumumkan atau digunakan Penggugat maupun pihak lain di

Halaman 14 dari 95 halaman Putusan Nomor 13/G/2019/PTUN.DPS saat rekonsiliasi yang akan diselenggarakan tanggal 19 s/d 21 Desember 2018 di BKN Pusat Jakarta; --- Dalam hal

---Bahwa Ia terdakwa IWAN SOBIRIN alias WAWAN bersama-sama dengan HELMI (penuntutan terpisah), ALI HAMKA (penuntutan terpisah), HUMAEDI als HAMZAH (penuntutan

Bahwa putusan Judex Facti yang tidak disertai dengan pertimbangan hukum adalah putusan yang bertentangan dengan Pasal 23 ayat (1) Undang Undang Nomor 14 Tahun 1970

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah

Berawal pada Hari Selasa tanggal 17 April 2018 sekira pukul 21.00 Wib Terdakwa berada di rumah Terdakwa yang beralamat di Perum Villa Dago Permai Blok A No.06 Rt.21 RW.06

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah