• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modul Akuntansi Keuangan Lanjutan I [TM1]

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Modul Akuntansi Keuangan Lanjutan I [TM1]"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL PERKULIAHAN

AKUNTANSI KEUANGAN

LANJUTAN II

Penggabungan Usaha

Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

Ekonomi dan

Bisnis Akuntansi

01

Atiqah SE, MS.Ak

Abstract Kompetensi

Penggabungan Usaha

(Business Combination) : penyatuan

dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi. Metode akuntansi untuk penggabungan usaha yaitu pooling of interest dan metode purchase. IFRS 3 mengakui adanya penggunaan metode purchase.

Mahasiswa mampu memahami bentuk hukum dari penggabungan usaha, alasan mengapa harus melakukan penggabungan usaha, dan metode akuntansi untuk penggaungan usaha.

(2)

Penggabungan Usaha

1. Pengertian Penggabungan Badan Usaha

Penggabungan Usaha (Business Combination) : penyatuan dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena satu perusahaan menyatu dengan perusahaan lain atau memperoleh kendali control atas aktiva dan operasi perusahaan lain.

Tujuan utama penggabungan usaha adalah meningkatkan profitabilitas, namun banyak perusahaan dapat menjadi lebih efisien dengan mengintegrasikan operasi secara horizontal atau vertikal atau dengan mendiversifikasikan risiko usaha melalui operasi konglomerasi.

Konsep Akuntansi dari BC direfleksikan dalam PSAK No. 22 tentang “Akuntansi Penggabungan Usaha.” Penggabungan Usaha (Business combination) adalah penyatuan dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena satu perusahaan menyatu dengan (uniting with) perusahaan lain atau memperoleh kendali (control) atas aktiva dan operasi perusahaan lain.

Alasan-alasan Penggabungan Usaha

1. Manfaat biaya (cost advantage), melalui penggabungan usaha perusahaan dapat memperoleh fasilitas dengan cost yang lebih rendah. Pengurangan biaya total untuk aktivtas penelitian dan pengembangan merupakan motivasi utama AT&T mengakuisisi NCR.

2. Risiko lebih rendah (lower risk), membeli lini produk dan pasar yang telah didirikan biasanya risikonya lebih kecil dibandingkan dengan mengembangkan produk baru. 3. Berkurangnya penundaan operasi (fewer operating delays), melalui penggabungan,

fasilitas-fasilitas pabrik yang diperoleh dapat segera beroperasi.

4. Mencegah pengambilalihan (avoidance of takeovers), perusahaan-perusahaan kecil lebih cenderung untuk diambil alih dibandingkan dengan perusahaan besar yang telah melakukan penggabungan usaha.

5. Akuisis harta tidak berwujud (acquisition of intangible assets), akuisisi atas harta tak berwujud yang berupa hak paten, hak atas mineral, database pelanggan atau

(3)

keahlian manajemen merupakan motivasi utama sebuah perusahaan melakukan penggabungan.

6. Alasan-alasan lain. Selain untuk perluasan, perusahaan dapat memilih penggabungan usaha untuk memperoleh keuntungan pajak (misalnya, tax-loss carryforward), atas pendapatan pribadi dan keuntungan pajak real estat, serta untuk alasan-alasan pribadi. Salah satu faktor yang memotivasi penggabungan usaha Wheeling-Pittsburg Steel, anak perusahaan wHX, dengan Handy 7 Harmon pada tahun 1998 adalah kelebihan dana pada program pensiun Handy & Harman, yang akhirnya dapat mengeliminasi kewajiban pensiun Wheeling-Pittsburg Steel yang kurang didanai. Ego dari manajemen perusahaan dan spesialis pengambilalihan juga memainkan peran yang penting pada beberapa penggabungan usaha.

2. Bentuk Penggabungan Usaha

1. Merger : sebuah perusahaan mengambil alih semua operasi dari entitas lain dan entitas yang diambil alih tersebut dibubarkan.

Contoh : A membeli aktiva perusahaan B, sehingga yang berdiri hanya perusahaan A saja. Chemical Bank melakukan merger dengan Chase Manhattan.

2. Konsolidasi : sebuah perusahaan yang baru dibentuk untuk mengambil alih aktiva-aktiva dan operasi dari dua atau lebih entitas usaha yang terpisah, dan entitas-entitas yang terpisah tersebut dibubarkan.

Contoh : A dan B bergabung membentuk usaha baru bernama D

Produsen mobil Daimler-Benz dan Chrysler Corporation telah dikonsolidasi untuk membentuk Daimler-Chrysler.

PT Bank Mandiri merupakan contoh penggabungan usaha konsolidasi. PT Bank Mandiri merupakan penggabungan dari Bank Bumi Daya (BBD), Bank Ekspor-Impor (EXIM), Bank Dagang Negara (BDN), dan Bank Pembangunan Daerah Indonesia (Bapindo) sekitar tahun 1998.

3. Akuisisi Saham : sebuah perusahaan mengakuisisi saham berhak suara dari perusahaan lain dan kedua perusahaan tersebut tetap beroperasi sebagai entitas hukum yang terpisah, tetapi timbul hubungan induk anak (parent-subsidiary). Contoh : Kimberly Clark mengakuisisi Scott Paper, yang menciptakan raksasa produksi kertas konsumen dan produsen yang terkait. Aqua diakuisisi oleh Danone,

(4)

Pizza Hut oleh Coca Cola dan lain-lain. Definisi akuisisi menurut PSAK No.22, adalah sebagai berikut :

Akuisisi (Acquisiton) adalah suatu penggabungan usaha di mana salah satu perusahaan, yaitu pengakuisisi (acquirer) memperoleh kendali atas aktiva neto dan operasi perusahaan yang diakuisisi (acquiree), dengan memberikan aktiva tertentu, mengakui suatu kewajiban, atau mengeluarkan saham.

(5)

PP No. 27 tahun 1998 membahas akuisisi, merger, dan konsolidasi dengan istilah yang berbeda tetapi memiliki maksud yang sama. PP 27 tersebut menggunakan istilah penggabungan usaha untuk menyatakan merger. PP 27 tahun 1998 menyebutkan istilah peleburan untuk konsolidasi dan akuisisi untuk pengambilalihan.

Struktur Organisasi dan Pelaporan Keuangan

Ketika perusahaan meluaskan usahanya atau mengubah struktur organisasinya dengan mengakuisisi perusahaan lain atau melalui divisi internal, struktur baru harus diteliti untuk menentukan prosedur pelaporan akuntansi yang sesuai. Beberapa pendekatan yang dapat diterapkan, tergantung pada kondisi yang ada :

1) Merger. Penggabungan usaha di mana aktiva dan kewajiban dari perusahaan yang diakuisisi digabungkan dengan aktiva dan kewajiban perusahaan pengakuisisi tidak menimbulkan tambahan komponen organisasi. Dengan demikian, pelaporan keuangan berdasarkan struktur organisasi awal.

2) Kepemilikan kendali (controlling ownership). Penggabungan usaha di mana perusahaan yang diakuisisi tetap sebagai entitas legal terpisah dengan mayoritas kepemilikan sahamnya dimiliki oleh perusahaan pengakuisisi menimbulkan hubungan induk – anak perusahaan.

3) Kepemilikan minoritas (minority interest) atau kepemilikan non pengendali (noncontrolling ownership). Pembelian kepemilikan kurang dari 50% di perusahaan lain tidak mengakibatkan timbulnya penggabungan usaha atau situasi pengendalian. 4) Kepemilikan menguntungkan lainnya (other beneficial interest) Suatu perusahaan

dapat memiliki kepemilikan pada entitas lain walaupun tanpa ada kepemilikan langsung pada entitas tersebut. Kepemilikan terseut timbul karena adanya perjanjian yang dibuat oleh entitas tersebut atau melalui perjanjian operasi atau keuangan.

(6)

1. Integrasi Horizontal : penggabungan perusahaan-perusahaan dalam lini usaha atau pasar yang sama. Penggabungan usaha antara Chevron dan Texaco, Exxon dan Mobil, Citigroup dan Citizens serta Charter One.

2. Integrasi Vertikal : penggabungan dua atau lebih perusahaan dengan operasi yang berbeda, secara berturut-turut, tahapan produksi dan atau distribusi. Briggs & Stratton corporation mengumumkan kesepakatan untuk mengakusisi simplicity Manufacturing, Inc. senilai $227,5 juta. Briggs

3. Konglomerasi adalah penggabungan perusahaan-perusahaan dengan produk atau jasa yang tidak saling berhubungan dan bermacam-macam. Pada November 1977, Texas Utilities Company mengakuisisi Lufkin-Conroe Communications Company, sebuah telepon lokal, untuk mendiversifikasi ke bisnis telekomunikasi. Awal tahun 1990-an, perusahaan tembakau Philip Morris Company mengevaluasi produsen makanan Kraft dalam penggabungan yang mencakup lebih dari $11 miliar untuk goodwill saja.

4. Konsep Metode Akuntansi dari Penggabungan Usaha

Konsep akuntansi untuk penggabungan usaha menurut GAAP :

Penggabungan usaha (Business Combinations) terjadi apabila suatu perusahaan digabungkan dengan satu atau lebih perusahaan lain dalam satu entitas akuntansi. Entitas tunggal tersebut tetap melanjutkan aktivitas perusahaan yang sebelumnya terpisah secara independen.

Pada bulan Juni 2001, Financial Accounting Standard Board (FASB) menegaskan kembali konsep tersebut, dengan mengeluarkan FASB Statement No. 141. Definisi yang diberikan FASB agak berbeda dari yang diberikan oleh APB dalam Opinion No. 16 :

Untuk tujuan penerapan statement ini, penggabungan usaha terjadi apabila satu entitas memperoleh aktiva bersih yang membentuk suatu bisnis atau mengakuisisi kepemilikan ekuitas dari satu atau lebih entitas lain dan memperoleh kendali atas entitas tersebut.

(7)

Perusahaan yang sebelumnya terpisah secara bersama-sama membentuk satu entitas apabila sumber daya dan operasi bisnisnya berada dibawah kendali tim manajemen tunggal. Pengendalian semacam itu dalam suatu entitas bisnis terbentuk dalam penggabungan usaha dimana :

1. Satu atau lebih perusahaan menjadi anak perusahaan

2. Satu perusahaan mentransfer aktiva bersihnya ke perusahaan lain, atau

3. Setiap perusahaan mentransfer aktiva bersihnya ke perusahaan baru yang dibentuk. Suatu perusahaan menjadi perusahaan anak (subsidiary) ketika perusahaan lain memperoleh mayoritas (lebih dari 50%) sahak berhak suara yang beredar. Jadi, satu perusahaan tidak perlu memperoleh semua saham perusahaan lain untuk melakukan penggabungan usaha. Dalam penggabungan usaha dimana kurang dari 100% saham yang berhak suara milik perusahaan lain yang digabung diperoleh, perusahaan-perusahaan yang digabung tetap memiliki identitas hukum yang juga terpisah dan catatan akuntansi yang juga terpisah meskipun telah menjadi satu entitas untuk tujuan pelaporan utamanya.

Penggabungan usaha dimana satu perusahaan mentransfer aktiva bersihnya ke perusahaan lain dapat diwujudkan dalam berbagai cara, tetapi dalam setiap kasus perusahaan pengakuisisi harus memperoleh semua aktiva bersih. Dengan cara lain, setiap perusahaan yang bergabung dapat mentransfer aktiva bersihnya ke perusahaan baru yang dibentuk. Karena perusahaan baru tidak mempunyai aktiva bersih sendiri, perusahaan tersebut mengeluarkan sahamnya kepada perusahaan lain yang bergabung atau kepada para pemegang saham atau pemiliknya.

1. Metode Penyatuan Kepemilikan (Pooling of Interest Method) : kepemilikan perusahaan-perusahaan yang bergabung adalah satu kesatuan dan secara relatif tetap tidak berubah pada entitas akuntansi yang baru. Aktiva dan kewajiban dicatat sebesar nilai bukunya. 2. Metode Pembelian (Purchase Method) : penggabungan usaha merupakan suatu

transaksi yang memungkinkan suatu entitas memperoleh aktiva bersih dari perusahaan-perusahaan. Aktiva dan kewajiban dicatat sebesar nilai wajarnya. Biaya perolehan dialokasikan pada aktiva dan kewajiban yang dapat diidentifikasi sesuai dengan nilai wajarnya pada tanggal penggabungan. Setiap kelebihan biaya perolehan atas nilai wajar aktiva bersih yang diperoleh dialokasikan ke goodwill dan diamortisasi maksimum 20 tahun menurut PSAK No. 19. Di Amerika, goodwill tidak diamortisasi, tetapi setiap akhir

(8)

periode goodwill dievaluasi untuk melihat ada tidaknya penurunan nilai (impairment) dan apabila ada melakukan write off atas goodwill sebesar penurunan nilai tersebut). Goodwill diamortisasi dan dibukukan sebagai beban secara sistematis selama masa manfaatnya. Amortisasi ini menunjukkan bahwa goodwill mengalami penurunan kemampuan dalam memberikan kontribusi laba perusahaan di masa mendatang.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengestimasi masa manfaat goodwill meliputi :

a. Ramalan umur bisnis atau industri yang bersangkutan

b. Pengaruh keusangan produk, perubahan dalam permintaan dan faktor ekonomi lainnya

c. Ekspektasi sisa masa kerja para manajer, atau kelompok karyawan yang menjalani tugas penting

d. Antisipasi tindakan para pesaing atau calon pesaing e. Ketentuan hukum peraturan yang berlaku

5. Latar Belakang Singkat Akuntansi untuk Penggabungan Usaha

Secara historis, kebanyakan kontroversi tentang akuntansi untuk penggabungan usaha berkisar pada metode penyatuan kepemilikan (pooling of interest method), yang diterima secara umum pada tahun 1950 ketika Committee on Accounting Procedure menerbitkan Accounting Research Bulletin (ARB) No.40. Meskipun terdapat kesulitan konseptual pada metode penyatuan ini, masalah mendasar yang muncul pada ARB No.40 adalah diperkenalkannya metode alternatif untuk penggabungan usaha (penyatuan vs pembelian). Berbagai kepentingan keuangan terlibat dalam penggabungan usaha dan prosedur akuntansi alternatif mungkin tidak netral terhadap berbagai kepentingan yang berbeda tersebut. Artinya, kepentingan keuangan individu dan rencana akhir penggabungan dipengaruhi oleh metode akuntansi.

Sampai tahun 2007, persyaratan akuntansi untuk penggabungan usaha telah ada dalam AOB Opinion No.16, yang mengakui baik metode akuntansi penyatuan kepemilikan maupun pembelian untuk penggabungan usaha. Pada bulan Agustus 1999, FASB menerbitkan laporan yang mendukung keputusan yang diusulkan untuk mengeliminasi penyatuan kepemilikan. Alasan-alasan utama yang dikemukakan mencakup hal-hal berikut :

 Penyatuan kepemilikan memberikan informasi yang kurang relevan kepada pemakai laporan

 Penyatuan kepemilikan mengabaikan pertukaran nilai ekonomi dalam transaksi dan membuat evaluasi kinerja selanjutnya menjadi tidak mungkin.

(9)

 Membandingkan perusahaan-perusahaan dengan menggunakan metode alternatif sulit dilakukan oleh nvestor.

Metode penyatuan kepemilikan menciptakan masalah-masalah tersebut karena menggunakan nilai buku historis untuk mencatat penggabungan, bukan mengakui nilai wajar aktiva bersih pada tanggal transaksi. Prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum (GAAP) umumnya mensyaratkan pencatatan akuisisi aktiva pada nilai wajarnya.

Lebih lanjut, FASB percaya bahwa pengertian ekonomi dari metode penyatuan kepemilikan jarang ada dalam penggabungan usaha. Secara lebih realistis, semua penggabungan jelas adalah akuisisi, dimana satu perusahaan memperoleh kendali atas yang lainnya.

FASB Statement No.141 mengeliminasi mengeliminasi metode akuntansi penyatuan kepemilikan untuk semua transaksi yang dimulai sejak tanggal 30 Juni 2001. Penggabungan yang dimulai setelah tanggal tersebut harus menggunakan metode pembelian. Standar yang baru ini juga membuat perubahan lain pada akuntansi untuk penggabungan usaha.

Karena standar yang baru melarang penggunaan metode penyatuan kepemilikan hanya pada penggabungan yang dimulai setelah penerbitan standar yang direvisi, penggabungan sebelumnya yang diperhitungkan dengan metode penyatuan kepemilikan akan tetap diberlakukan; yaitu baik metode pembelian maupun penyatuan kepemilikan akan terus digunakan sebagai praktik pelaporan keuangan yang dapat diterima untuk penggabungan usaha yang lalu.

Penghapusan metode penyatuan kepemilikan oleh FASB membuat GAAP AS lebih konsisten dengan standar akuntansi internasional. International Accounting Standard Board (IASB) mengeluarkan International Financial Reporting Standard 3 (IFRS3) ”Business Combination” pada tanggal 31 Maret 2004, yang mengharuskan penggabungan usaha dengan menggunakan metode pembelian. IFRS 3 secara khusus melarang metode penyatuan kepemilikan. Dalam memperkenalkan standar baru, Ketua IASB, Sir David Tweedie, menyatakan:

Akuntansi untuk penggabungan usaha sangat berbeda antara yurisdiksi satu dengan yang lain. IFRS 3 menilai langkah yang signifikan menuju standar kualitas yang tinggi dalam akuntansi untuk penggabungan usaha, dan akhirnya mencapai konvergensi internasional pada area ini.

(10)

Asumsikan akun ekuitas pemegang saham PT Dian dan PT Lingga sebelum penyatuan kepemilikan adalah sebagai berikut :

PT Dian PT Lingga Total

Common Stock @ Rp20.000 200.000 100.000 300.000

Additional Paid in Capital 20.000 40.000 60.000

Total Paid in Capital 220.000 140.000 360.000

Retained Earnings 100.000 60.000 160.000

Net Assets and Equity 320.000 200.000 520.000

Metode 1 : Aktiva dan kewajiban suatu perusahaan dialihkan ke perusahaan lain dan perusahaan yang melakukan pengalihan tersebut dibubarkan (merger)

Kasus 1 : PT Dian menerbitkan 5.000 lembar saham untuk memperoleh aktiva bersih PT Lingga  Common stock 5.000 lmbr x Rp 20.000 = Rp 100.000

Net Assets 200.000

Common Stock 100.000

Add PIC 40.000

Retained Earnings 60.000

(11)

Kasus 2 : PT Dian menerbitkan 4.000 lembar saham untuk memperoleh aktiva bersih PT Lingga Net Assets 200.000 Common Stock 80.000 Add PIC 60.000 Retained Earnings 60.000

Kasus 3 : PT Dian menerbitkan 7.000 lembar saham untuk memperoleh aktiva bersih PT Lingga

Net Assets 200.000

Common Stock 140.000

Add PIC -

Retained Earnings 60.000

Kasus 4 : PT Dian menerbitkan 9.000 lembar saham untuk memperoleh aktiva bersih PT Lingga Net Assets 200.00 0 Add PIC 20.00 0 Common Stock 180.00 0 Retained Earnings 40.00 0

Metode 2 : aktiva dan kewajiban dari dua atau lebih perusahaan dialihkan ke perusahaan baru dan kedua perusahaan yang melakukan pengalihan tersebut dibubarkan (konsolidasi).

(12)

Kasus 1 : PT Smart menerbitkan 15.000 lembar saham untuk memperoleh aktiva bersih PT Dian dan PT Lingga

Net Assets 520.000

Common Stock 300.000

Add PIC 60.000

Retained Earnings 160.000

Kasus 2 : PT Smart menerbitkan 14.000 lembar saham untuk memperoleh aktiva bersih PT Dian dan PT Lingga

Net Assets 520.000

Common Stock 280.000

Add PIC 80.000

Retained Earnings 160.000

Kasus 3 : PT Smart menerbitkan 17.000 lembar saham untuk memperoleh aktiva bersih PT Dian dan PT Lingga

Net Assets 520.000

Common Stock 340.000

Add PIC 20.000

Retained Earnings 160.000

Kasus 4 : PT Smart menerbitkan 19.000 lembar saham untuk memperoleh aktiva bersih PT Dian dan PT Lingga

(13)

Common Stock 380.000 Add PIC

Retained Earnings 140.000

Saham dari Satu Perusahaan yang Bergabung Dimiliki oleh Perusahaan yang Bergabung Lainnya

Akuntansi atas saham satu perusahaan yang bergabung dimiliki oleh perusahaan yang bergabung lainnya tergantung apakah saham tersebut adalah saham entitas yang tetap beroperasi.

Ilustrasi : Asumsi PT Misri mempunyai 400 lembar saham biasa PT Ika pada saat pelaksanaan merger antara PT Misri dan PT Ika. PT Misri membawa akun investasinya pada PT Ika sebesar biaya perolehannya Rp 6 juta. Ikhtisar data untuk PT Misri dan PT Ika adalah sebagai berikut :

PT Misri PT Ika Investment on Ika 6.000 - Other Assets 394.000 600.000 Total 400.000 600.000 Common stock @ Rp 20.000 200.000 400.000 Add PIC 100.000 60.000 Retained Earnings 100.000 140.000 Total 400.000 600.000

Jika PT Misri adalah entitas yang tetap beroperasi dan menerbitkan 19.800 lembar saham kepada PT Ika (Rasio pertukaran 1:1) , merger penyatuan kepemilikan dicatat pada buku PT Misri

Net Assets 600.000

(14)

Add PIC 58.000

Retained earnings 140.000

Investment on PT Ika 6.000

Jika PT Ika adalah entitas yang tetap beroperasi dan menerbitkan 20.000 lembar saham miliknya untuk ditukar dengan Rp 20.000 lembar saham PT Ika (Rasio pertukaran 1:1) , merger penyatuan kepemilikan dicatat pada buku PT Ika

Net Assets 394.000

Stocks diperoleh kembali 6.000

Common stocks,@Rp 20.000 200.000

Add PIC 100.000

Retained earnings 100.000

Pelaporan Operasi Gabungan dalam Suatu Penyatuan Kepemilikan

Penyatuan kepemilikan PT Dina dan PT Dani tanggal 1 Juli 2007. Neraca saldo untuk kedua perusahaan pada tanggal 30 Juni 2007 adalah sebagai berikut :

PT Dina PT Dani Total

Other Assets 375.000 145.000 520.000 Expenses 75.000 30.000 105.000 Total Debit 450.000 175.000 625.000 Common stocks 250.000 100.000 350.000 Retained earnings 100.000 25.000 125.000 Revenue 100.000 50.000 150.000 Total Credit 450.000 175.000 625.000

Kasus 1: Merger PT Dina, entitas yang tetap beroperasi, menerbitkan 11.000 lembar saham biasa dengan nilai nominal Rp 10.000 untuk memperoleh aktiva bersih PT Dani.

Other Assets 145.000

(15)

Common stocks 110.000 Retained earnings 15.000 Revenue 50.000 Neraca Saldo Other Assets 520.000 Expenses 105.000 Common stocks 360.000 Retained earnings 115.000 Revenue 150.000 625.000 625.000

Kasus 2: Konsolidasi PT Sejahtera dibentuk untuk mengkonsolidasikan operasi dari PT Dina dan PT Dani. Pada tanggal 1 Juli 2007 PT Sejahtera menerbitkan 36.000 lembar saham biasa dengan nilai nominal Rp 10.000 untuk memperoleh aktiva bersih PT Dina dan PT Dani ; 25.000 lembar saham untuk PT Dina dan 11.000 lembar saham untuk PT Dani. Ayat jurnal pada buku PT Sejahtera untuk mencatat penyatuan kepemilikan adalah :

Other Assets 520.000 Expenses 105.000 Common stocks 115.000 Retained earnings 150.000 Revenue 625.000

Daftar Pustaka

Beams, Floyd A. 2012. Advanced Accounting. 11th edition, Pearson Education, Prentice Hall

(16)

Jakarta

(17)

Referensi

Dokumen terkait

Dalam usaha memperoleh barang atau jasa, manusia melakukan pengorbanan tertentu untuk memperoleh hasil optimal. Salah satu bentuk tindakan pengorbanan adalah biaya

mengelolah aktiva, kewajiban kepada kreditur, dan kekayaan bersih dari koperasi, (2) Laporan Perhitungan Sisa Hasil Usaha yang menggambarkan kegiatan koperasi dan hasil operasi

Untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan dalam aktiva neto suatu perusahaan yang timbul dari kegiatan usaha dalam rangka memperoleh laba.. Untuk

Bentuk penggabungan usaha yang sering dilakukan dalam dua dekade terakhir ini adalah merger dan akuisisi di mana strategi ini dipandang sebagai salah satu cara untuk mencapai

Likuidasi adalah berhentinya kegiatan operasi perusahaan (pembubaran usaha) secara keseluruhan dengan menjual sebagian atau seluruh aktiva perusahaan, membayar

Contoh kasus perhitungan untuk anggota yang mengalami defisit modal yang tidak mampu membayar: Dalam likuidasi apabila salah satu anggota sekutu mengalami defisit modal setelah tahap

Akuisisi Suatu penggabungan usaha didefinisikan sebagai suatu akuisisi apabila salah satu perusahaan yang bergabung memperoleh lebih dari 50% hak suara pada perusahaan lain atau