8
A.
Agency Theory
Dalam rangka memahami
corporate governance
maka digunakanlah dasar
perspektif hubungan keagenan. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa
hubungan keagenan adalah sebuah kontrak antara manajer dengan investor.
Terjadinya konflik kepentingan antara pemilik dan agen karena kemungkinan agen
bertindak tidak sesuai dengan kepentingan prinsipal, sehingga memicu biaya
keagenan. Sebagai agen, manajer bertanggung jawab secara moral untuk
mengoptimalkan keuntungan para pemilik dengan memperoleh kompensasi sesuai
dengan kontrak. Dengan demikian terdapat dua kepentingan yang berbeda didalam
perusahaan dimana masing-masing pihak berusaha untuk mencapai atau
mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendaki.
Menurut Shita (2011) dalam Verawati (2012), kontrak antara manajer dan
pemilik menciptakan kewajiban dan hak bagi masing-masing pihak. Manajer
berkewajiban untuk menjalankan perusahaan serta melaporkannya kepada pemilik
secara berkala, lengkap, dan terbuka atas apa saja yang telah dilakukan dan bersedia
menerima pengawasan dan pengarahan dari pemilik. Manajer berhak untuk menerima
penghargaan yang telah dijanjikan pemilik atas kinerja dan prestasinya. Sedangkan
pemilik berkewajiban untuk memperhatikan dan memberi penghargaan, bonus atau
imbalan kepada manajer, serta berhak untuk melakukan pengawasan dan
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
pengendalian, meminta laporan pertanggung jawaban, mengganti manajemen dengan
orang yang lebih mampu bila manajemen dinilai tidak dapat melaksanakan tugas, dan
menerima
return
yang layak dari modalnya sehingga kesejahteraannya meningkat.
Teori agensi mengasumsikan bahwa semua individu bertindak atas kepentingan
mereka sendiri. Pemegang saham sebagai
principal
diasumsikan hanya tertarik
kepada hasil keuangan yang bertambah atau investasi mereka di perusahaan.
Sedangkan para agen diasumsikan termotivasi untuk memaksimalkan kompensasi
yang diterima dalam hubungan tersebut (Elqorni, 2009). Hal ini menimbulkan adanya
konflik kepentingan antara agen dan
principal
.
Hubungan antara prinsipal dan agen dapat mengarah pada kondisi ketidak
seimbangan informasi karena agen mempunyai posisi yang memiliki informasi yang
lebih banyak tentang perusahaan dibandingkan prinsipal. Informasi yang disampaikan
terkadang tidak sesuai dengan kondisi perusahaan yang sebenarnya. Kondisi ini
dikenal sebagai informasi yang tidak simetris atau asimetri informasi. Asimetri antara
agen dengan prinsipal memberikan kesempatan kepada manajer untuk bertindak
oportunis atau memperoleh keuntungan pribadi. Dengan asumsi bahwa
individu-individu agen bertindak untuk memaksimalkan kepentingan diri sendiri, maka dengan
asimetri informasi yang dimilikinya akan mendorong agen untuk melakukan
manajemen laba sehingga kinerjanya akan nampak lebih baik (Verawati, 2012).
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
B.
Signalling Theory
Teori signal menjelaskan alasan perusahaan untuk memberikan informasi
laporan keuangan pada pihak eksternal terkait dengan adanya informasi antara pihak
manajemen perusahaan dengan pihak luar dimana pihak manajemen perusahaan
memiliki lebih banyak informasi serta mengetahui prospek perusahaan di masa yang
akan datang. Informasi tersebut bisa berupa laporan keuangan, informasi kebijakan
perusahaan maupun informasi lain yang dilakukan secara sukarela oleh manajemen
perusahaan. Teori signal mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah
perusahaan memberikan signal-signal kepada pengguna laporan keuangan. Signal ini
berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk
merealisasikan keinginan pemilik. Signal dapat berupa promosi atau informasi
lainnya yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik dari pada perusahaan
lainnya (Yasa, 2010).
Informasi merupakan unsur penting bagi investor dan pelaku bisnis karena
informasi pada hakekatnya menyajikan keterangan, catatan atau gambaran baik untuk
keadaan masa lalu, saat ini maupun keadaan masa yang akan datang bagi
kelangsungan hidup suatu perusahaan dan bagaimana pasaran efeknya. Informasi
yang lengkap, akurat dan tepat waktu sangat diperlukan oleh investor di pasar modal
sebagai alat analisis untuk mengambil keputusan investasi. Apabila pengumuman
tersebut mengandung nilai positif, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu
pengumuman tersebut diterima oleh pasar.
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
Reaksi pasar ditunjukkan dengan adanya perubahan harga saham pada waktu
informasi diumumkan dan semua pelaku pasar sudah menerima informasi tersebut,
dimana pelaku pasar lebih terdahulu menganalisis informasi tersebut sebagai sinyal
baik atau sinyal buruk. Jika pengumuman informasi tersebut sebagai sinyal baik bagi
investor, maka terjadi perubahan dalam harga saham, dimana harga saham menjadi
naik.
Pengumuman informasi akuntansi memberikan sinyal bahwa perusahaan
mempunyai prospek yang baik di masa mendatang sehingga investor tertarik untuk
melakukan perdagangan saham dengan demikian pasar akan bereaksi yang tercermin
melalui perubahan dalam harga saham. Dengan demikian hubungan antara publikasi
informasi baik laporan keuangan, kondisi keuangan terhadap fluktuasi harga saham
dapat dilihat dalam efisien pasar. Efisiensi pasar merupakan konsep dasar yang bisa
membantu kita memahami bagaimana sebenarnya mekanisme harga yang terjadi di
pasar modal.
Teori sinyal menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk
memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal. Dorongan perusahaan
untuk memberikan informasi adalah karena terdapat asimetri informasi antara
perusahaan dan pihak luar karena perusahaan mengetahui lebih banyak mengenai
perusahaan dan prospek yang akan datang dari pada pihak luar (investor, kreditor).
Teori sinyal juga mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah
perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal ini berupa
informasi mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik atau pun pihak yang
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
berkepentingan lainnya. Sinyal yang diberikan dapat dilakukan melalui
pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan, laporan apa saja yang
sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik atau
bahkan dapat berupa promosi serta informasi lain yang menyatakan bahwa
perusahaan tersebut lebih baik dari pada perusahaan lainnya.
C.
PSAK 50 dan 55
Komite Standar Akuntansi Keuangan (KSAK) pada 15 Juli 1998 mengesahkan
PSAK No.50 tahun 1998 tentang Akuntansi Investasi Efek Tertentu. PSAK ini
berlaku sejak tanggal 1 Januari 1999. Kemudian dilanjutkan dengan PSAK 55 tentang
Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas Lindung Nilai dikeluarkan pada tanggal
21 September 1998 dan dinyatakan berlaku sejak 1 Januari 2000.
Karena dianggap kedua PSAK tersebut belum sesuai dengan standar
Internasional, maka Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK), yang dulunya
disebut Komite Standar Akuntansi Keuangan (KSAK) mengesahkan revisi atas
PSAK No. 50 (1998) tersebut yaitu PSAK No.50 (revisi 2006) tentang Instrumen
Keuangan : Penyajian dan pengungkapan dan PSAK No.55 (revisi 2006) tentang
pengakuan dan pengukuran instrumen keuangan pada tanggal 16 Desember 2006.
Kedua PSAK ini pada rencananya diberlakukan pada 1 Januari 2009. Namun, karena
bank-bank di Indonesia menyatakan belum siap menggunakan PSAK No. 50 (revisi
2006) ini, maka pemberlakuannya diundur hingga 1 Januari 2010.
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
Belum sempurna penerapan yang dilakukan perbankan dan lembaga keuangan
terhadap PSAK tersebut, Dewan Standar Akuntansi Keuangan mengeluarkan lagi ED
PSAK 50 (revisi 2010): Instrumen Keuangan: Penyajian dalam rapatnya pada tanggal
22 Mei 2010. ED PSAK 50 (revisi 2010): Instrumen Keuangan: Penyajian
rencananya akan merevisi PSAK 50 (revisi 2006): Instrumen Keuangan:Penyajian
dan Pengungkapan. Sedangkan, untuk pengungkapan Instrumen Keuangan,
dikeluarkankanlah ED PSAK 60 (revisi 2010). ED atau
Exposure Draft
merupakan
draft PSAK yang akan dimintakan tanggapan kepada masyarakat. Alasan DSAK dan
IAI mengeluarkan ED ini, tidak lain karena ingin segera ‘mengejar target’, karena
pada 2012 nanti Indonesia sudah harus mengadopsi seluruh standar IFRS.
Penerapan PSAK revisi ini berdampak signifkan terhadap perusahaan terutama
terkait dengan penentuan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Kredit (CKPN) atau
loan loss provision
. Berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Bank Indonesia (No.7
/2/PBI/2005
dan
perubahannya
No.8/2/PBI/2006,
No.9/6/PBI/2007,
dan
No.11/2/PBI/2009). Didalam peraturan ini ditetapkan kriteria penentuan kualitas
kredit (lancar, kurang lancar, diragukan, dan macet) beserta persentase pencadangan
yang dibutuhkan untuk masing-masing klasifikasi kualitas kredit. Sedangkan
berdasarkan pada PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) lebih memberikan penekanan pada
bukti objektif yang menjadi dasar dari penurunan nilai tersebut dan juga penekanan
bahwa evaluasi akan adanya penurunan tersebut dilakukan pada setiap tanggal neraca.
Dimana perhitungan CKPN estimasi dilakukan secara individual dan kolektif dan
membutuhkan data-data
probability of default
dan kerugian historis minimal 3 tahun
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
kebelakang dan untuk kolektif dibutuhkan data-data kerugian historis yang pernah
dialami aset-aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa
dengan karakteristik risiko kredit kelompok aset keuangan tersebut.
Selain berdampak pada penentuan CKPN
(loan loss provison)
, PSAK 50 dan
55 (revisi 2006) juga berdampak terhadap perlakuan investasi efek tertentu terkait
dengan masalah reklasifikasi antar instrumen keuangan yang lebih ketat dibandingkan
PSAK 50 (1998). PSAK 50 (1998) memperbolehkan perusahaan untuk melakuan
reklasifikasi instrumen keuangannya, dengan mengakui keuntungan atau kerugian.
Sedangkan berdasarkan PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) perlakuan reklasifikasi antar
instrumen keuangan lebih ketat. Di India seperti juga di Indonesia, Firoz et al. (2011)
berdasarkan studi mengenai dampak penerapan IAS 39 mengenai instrumen
keuangan dan IFRS 9 mengenai klasifikasi dan pengukuran instrumen keuangan pada
perbankan di India menemukan bahwa penerapan kedua standar ini akan sangat
mempengaruhi industri perbankan terutama dalam klasifikasi financial aset yang
lebih ketat dan valuasi pencadangan penurunan nilai untuk pinjaman yang diberikan
dan porfolio piutang
.
Selain itu untuk penurunan nilai pinjaman, IFRS mengajukan
model yang berdasarkan kerugian yang diekspektasi (
expected loss
) dan bukan
kerugian yang terjadi (
incurred loss)
.
Di India seperti juga di Indonesia, Firoz et al. (2011) berdasarkan studi
mengenai dampak penerapan IAS 39 mengenai instrumen keuangan dan IFRS 9
mengenai klasifikasi dan pengukuran instrumen keuangan pada perbankan di India
menemukan bahwa penerapan kedua standar ini akan sangat mempengaruhi industri
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
perbankan terutama dalam klasifikasi financial aset yang lebih ketat dan valuasi
pencadangan penurunan nilai untuk pinjaman yang diberikan dan porfolio piutang
.
Selain itu untuk penurunan nilai pinjaman, IFRS mengajukan model yang
berdasarkan kerugian yang diekspektasi (
expected loss
) dan bukan kerugian yang
terjadi (
incurred loss)
.
PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) merupakan standar pembukuan yang mencakup
pencatatan produk dan hasil transaksi keuangan baik bagi lembaga keuangan
termasuk bank maupun lembaga non keuangan. Akuntansi baru itu, mengacu pada
standar akuntansi internasional (
International Accounting Standard
nomor 32 dan 39)
sebagai pengukuran instrumen keuangan yang diakui secara global. Tujuannya untuk
menyajikan hasil transaksi dan kinerja keuangan suatu perusahaan ke publik, agar
mendapatkan kepercayaan pasar dan investor. Penerapan PSAK itu memiliki tujuan
strategis diantaranya digunakan untuk mengundang investor baik di pasar modal
maupun pasar keuangan, serta sebagai
prudential regulation
yaitu mendorong proses
harmonisasi penyusunan dan analisis laporan keuangan guna mendorong terciptanya
disiplin pasar (
market discipline
).
D.
Struktur Kepemilikan
1.
Kepemilikan Manajerial
Adanya pemisahan kepemilikan oleh
principal
dengan pengendalian oleh
agent
dalam suatu perusahaan akan cenderung menimbulkan konflik keagenan di antara
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTASTRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA Disusun Oleh :
Nitria Rumahorbo (43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
mereka. Salah satu cara untuk mengurangi konflik keagenan adalah dengan
meningkatkan kepemilikan manajerial dalam perusahaan.
Kepemilikan manajerial merupakan kepemilikan saham oleh manajemen
perusahaan yang diukur dengan persentase jumlah saham yang dimiliki oleh
manajemen (Sujoko dan Soebiantoro, 2007). Semakin besar kepemilikan manajemen
dalam perusahaan maka manajemen akan cenderung untuk berusaha meningkatkan
kinerjanya untuk kepentingan pemegang saham dan untuk kepentingan dirinya sendiri
(Siallagan dan Machfoedz, 2006).
Meningkatkan kepemilikan manajerial dapat digunakan sebagai cara untuk
mengatasi masalah keagenan. Manajer akan termotivasi untuk meningkatkan
kinerjanya yang juga merupakan keinginan dari para pemegang saham, Ross et. al
(2004) dalam Putri (2006) menyatakan bahwa semakin besar proporsi kepemilikan
saham pada perusahaan maka manajemen cenderung berusaha lebih giat untuk
kepentingan pemegang saham yang tidak lain adalah dirinya sendiri. Kepemilikan
saham manajerial akan membantu penyatuan kepentingan antara manajer dan
pemegang saham, sehingga manajer ikut merasakan secara langsung manfaat dari
keputusan yang diambil dan ikut pula menanggung kerugian sebagai konsekuensi dari
pengambilan keputusan yang salah.
2.
Kepemilikan Institusional
Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham oleh pemerintah,
institusi keuangan, institusi berbadan hukum, institusi luar negeri, dana perwalian
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
serta institusi lainnya pada akhir tahun (Shien, et.al. 2006) dalam Winanda (2009).
Menurut Wening (2007), kepemilikan institusional merupakan salah satu faktor yang
dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. Adanya kepemilikan oleh investor
institusional akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap
kinerja manajemen, karena kepemilikan saham mewakili suatu sumber kekuasaan
yang dapat digunakan untuk mendukung atau sebaliknya terhadap kinerja
manajemen.
Kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk mengendalikan pihak
manajemen melalui proses monitoring secara efektif (Ujiyantho dan Pramuka, 2007).
Menurut Barnae dan Rubin (2005), bahwa investor institusional dengan kepemilikan
saham yang besar, memiliki insentif untuk memantau pengambilan keputusan
perusahaan. Semakin besar persentase kepemilikan maka akan semakin besar
kekuatan suara dan dorongan untuk mengawasi manajemen.
Keberadaan investor institusional dapat menunjukkan mekanisme
corporate
governance
yang kuat yang dapat digunakan untuk memonitor manajemen
perusahaan. Pengaruh investor institusional terhadap manajemen perusahaan dapat
menjadi sangat penting serta dapat digunakan untuk menyelaraskan kepentingan
manajemen dengan para pemegang saham (Solomon dan Solomon, 2004 dalam
Sutojo, 2005). Hal tersebut disebabkan jika tingkat kepemilikan manajerial tinggi,
dapat berdampak buruk terhadap perusahaan karena dapat menimbulkan masalah
pertahanan, yang berarti jika kepemilikan manajerial tinggi, mereka memiliki posisi
yang kuat untuk melakukan kontrol terhadap perusahaan dan pihak pemegang saham
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
eksternal akan mengalami kesulitan untuk mengendalikan tindakan manajer. Hal ini
disebabkan tingginya hak
voting
yang dimiliki manajer. Adanya pengawasan yang
optimal terhadap kinerja manajer maka akan lebih berhati-hati dalam mengambil
keputusan.
3.
Kepemilikan Asing
Kepemilikan saham asing adalah jumlah saham yang dimiliki oleh pihak asing
(luar negeri) baik oleh individu maupun lembaga terhadap saham perusahaan di
Indonesia. Selama ini kepemilikan asing merupakan pihak yang dianggap
concern
terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Seperti diketahui,
negara-negara di Eropa sangat memperhatikan isu sosial misalnya hak asasi manusia,
pendidikan, tenaga kerja, dan lingkungan seperti efek rumah kaca, pembalakan liar,
serta pencemaran air. Hal ini menjadikan perusahaan multinasional mulai mengubah
perilaku mereka dalam beroperasi demi menjaga legitimasi dan reputasi perusahaan
(Fauzi, 2006).
Penelitian Tanimoto dan Suzuki (2005) dalam Machmud dan Chaerul (2006)
membuktikan bahwa kepemilikan asing pada perusahaan publik di Jepang menjadi
faktor pendorong terhadap adopsi GRI dalam pengungkapan tanggung jawab sosial.
Perusahaan multinasional atau dengan kepemilikan asing utamanya melihat
keuntungan legitimasi berasal dari para stakeholdernya yang biasanya berdasarkan
atas home market (pasar tempat beroperasi) sehingga dapat memberikan eksistensi
yang tinggi dalam jangka panjang. Pengungkapan tanggung jawab sosial merupakan
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
salah satu media yang dipilih untuk memperlihatkan kepedulian perusahaan terhadap
masyarakat di sekitarnya. Dengan kata lain, apabila perusahaan memiliki kontrak
dengan
foreign stakeholders
baik dalam
ownership
dan
trade
, maka perusahaan akan
lebih didukung dalam melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial (Barkemeyer,
2007).
Perusahaan dengan kepemilikan saham asing biasanya lebih sering menghadapi
masalah asimetri informasi dikarenakan alasan hambatan geografis dan bahasa. Oleh
karena itu, perusahaan dengan kepemilikan saham asing yang besar akan terdorong
untuk melaporkan atau mengungkapkan informasinya secara sukarela dan lebih luas
(Huafang dan Jianguo, 2007). Menurut Puspitasari (2009), perusahaan yang memiliki
kepemilikan saham asing cenderung memberikan pengungkapan yang lebih luas
dibandingkan yang tidak. Hal ini disebabkan beberapa alasan. Pertama, perusahaan
asing terutama dari Eropa dan Amerika lebih mengenal konsep praktik dan
pengungkapan CSR. Kedua, perusahaan asing mendapatkan pelatihan yang lebih baik
dalam bidang akuntansi dari perusahaan induk di luar negeri. Ketiga, perusahaan
tersebut mungkin mempunyai sistem informasi yang lebih efisien untuk memenuhi
kebutuhan internal dan kebutuhan perusahaan induk. Keempat, kemungkinan
permintaan yang lebih besar pada perusahaan berbasis asing dari pelanggan,
pemasok, dan masyarakat umum.
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
E.
Manajemen Laba
1.
Definisi Manajemen Laba
Laba merupakan salah satu indikator utama untuk mengukur kinerja dan
pertanggungjawaban manajemen. Informasi laba juga dapat dijadikan panduan dalam
melakukan investasi yang membantu investor ataupun pihak lain dalam menilai
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dimasa yang akan datang. Selain
itu, laba pada umumnya dipandang sebagai dasar untuk perpajakan, pembayaran
dividen dan pengambilan keputusan. Adanya kecenderungan untuk memperhatikan
laba ini disadari oleh manajemen, khususnya manajer yang kinerjanya diukur
berdasarkan informasi laba tersebut, sehingga mendorong munculnya manajemen
laba (Verawati,2012)
.
Menurut Paul M. Healy dan James M. Wahley dalam Utomo dan Bachrudin,
2005, manajemen laba terjadi ketika para manajer menggunakan
judgement
dalam
pelaporan keuangan dan penyusunan transaksi untuk mengubah laporan keuangan
yang menyesatkan terhadap pemegang saham atas dasar kinerja ekonomi organisasi
atau untuk mempengaruhi hasil sesuai dengan kontrak yang tergantung pada
angka-angka akuntansi yang dilaporkan.
Manajemen laba menjadi menarik untuk diteliti karena dapat memberikan
gambaran akan perilaku manajer dalam melaporkan kegiatan usahanya pada suatu
periode tertentu, yaitu adanya kemungkinan munculnya motivasi tertentu yang
mendorong mereka untuk mengatur data keuangan yang dilaporkan. Manajemen laba
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
tidak harus dikaitkan dengan upaya untuk memanipulasi data atau informasi
akuntansi, tetapi lebih condong dikaitkan dengan pemilihan metode akuntansi
(
accounting methods
) untuk mengatur keuntungan yang bisa dilakukan karena
memang diperkenankan menurut
accounting regulations
(Gumanti, 2000).
2.
Pola-Pola Manajemen Laba
Pola manajemen laba menurut Scoot (2000) dalam Jaryanto (2008) dapat
dilakukan dengan cara :
a.
Taking a bath
Taking a bath
adalah pola manajemen laba yang dilakukan dengan cara
menjadikan laba perusahaan pada periode berjalan menjadi sangat ekstrim
rendah (bahkan rugi) atau sangat ekstrim tinggi dibandingkan dengan laba pada
periode sebelumnya atau sesudahnya.
Taking a bath
terjadi selama periode
adanya tekanan organisasi atau pada saat terjadinya reorganisasi, seperti
pergantian CEO baru.
b.
Income minimization
Income minimization
adalah pola manajemen laba yang dilakukan dengan
cara menjadikan laba pada laporan keuangan periode berjalan lebih rendah
daripada laba sesungguhnya.
Income minimization
dilakukan pada saat
profitabilitas perusahaan sangat tinggi dengan maksud agar tidak mendapat
perhatian secara politis. Kebijakan yang diambil dapat berupa penghapusan atas
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
barang modal aktiva tak berwujud, pembebanan pengeluaran iklan, pengeluaran
R&D, dan lainnya.
c.
Income maximization
Maksimisasi laba (
income maximization
) adalah pola manajemen laba
yang dilakukan dengan cara menjadikan laba pada laporan keuangan periode
berjalan lebih tinggi daripada laba sesungguhnya.
Income maximization
dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh bonus yang lebih besar,
meningkatkan keuntungan dan untuk menghindari pelanggaran atas kontrak
hutang jangka panjang.
Income maximization
dilakukan dengan cara
mempercepat pencatatan pendapatan, menunda biaya dan memindahkan biaya
untuk periode lain.
d.
Income Smoothing
Income smoothing
atau perataan laba merupakan salah satu bentuk
manajemen laba yang dilakukan dengan cara membuat laba akuntansi relatif
konsisten (rata atau
smooth
) dari periode ke periode. Dalam hal ini pihak
manajemen dengan sengaja menurunkan atau meningkatkan laba untuk
mengurangi gejolak dalam pelaporan laba
, sehingga perusahaan terlihat stabil
atau tidak berisiko tinggi.
3.
Conditional Revenue Model
Conditional revenue model
diperkenalkan oleh Stubben (2010) atas dasar
ketidakpuasan terhadap model akrual yang umum digunakan saat ini. Pertama,
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
keterbatasan model akrual adalah bahwa estimasi
cross-sectional
secara tidak
langsung mengasumsikan bahwa perusahaan dalam industri yang sama menghasilkan
proses akrual yang sama. Kedua, model akrual juga tidak menyediakan informasi
untuk komponen mengelola laba perusahaan dimana model akrual tidak membedakan
peningkatan diskresionari pada laba melalui pendapatan atau komponen beban
(Stubben, 2010).
Conditional revenue model
ini, menitikberatkan pada pendapatan yang
memiliki hubungan secara langsung dengan piutang. Dechow and Schrand (2004)
dalam Stubben (2010), menemukan bahwa lebih dari 70 persen kasus SEC
Accounting and Auditing Enforcement Release
melibatkan salah saji pendapatan.
Model
conditional revenue
dari Stubben (2010) ini menggunakan piutang akrual
daripada akrual agregat sebagai fungsi dari perubahan pendapatan. Sebagai
komponen akrual utama, piutang memiliki hubungan empiris yang kuat dan
hubungan konseptual langsung pada pendapatan. Dalam penelitiannya terdahulu,
Stubben (2006) menemukan bukti bahwa hubungan antara perubahan piutang dan
perubahan pendapatan yang lebih besar daripada hubungan antara
current accrual
dan perubahan piutang.
Hal ini juga berhubungan dengan kebijakan manajemen yang dapat menentukan
atau mengambil keputusan dalam pemberian kredit. Ketika pendapatan mengalami
kenaikan maka dapat disertai dengan kenaikan piutang.
Conditional revenue model
didasarkan pada
discretionary revenue
yang merupakan perbedaan antara perubahan
aktual pada piutang dan perubahan prediksi pada piutang berdasarkan pada model.
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTASTRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA Disusun Oleh :
Nitria Rumahorbo (43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
Piutang yang tidak normal, tinggi atau rendah, mengindikasikan adanya manajemen
pendapatan (Stubben, 2010).
Discretionary revenue
mengambil sejumlah bentuk. Beberapa melibatkan
manipulasi aktivitas riil seperti diskon penjualan, kelonggaran persyaratan kredit,
channel stuffing
, dan
bill and hold sales
dan yang lainnya tidak, misalnya pengakuan
pendapatan menggunakan agresif atau aplikasi yang salah dari GAAP, pendapatan
fiktif, dan penangguhan pendapatan (Stubben, 2010).
Channel stuffing
merupakan
cara manajemen untuk menghindari pelaporan kerugian dengan melakukan
kelonggaran terhadap kebijakan kredit perusahaan (Tung .et.al., 2008). Tindakan ini
memiliki banyak risiko seperti pengembalian barang dagang oleh para distributor atau
konsumen karena barang tidak laku. Sedangkan
bill and hold sales
terjadi ketika hak
kepemilikan sudah berpindah dan pembayaran telah diterima namun penjual masih
memiliki produk atau produk masih di tangan penjual.
F.
Penelitian Terdahulu
Siallagan dan Machfoedz (2006) meneliti hubungan mekanisme
corporate
governance,
kualitas laba dan nilai perusahaan. Dalam penelitian ini, mekanisme
corporate governance
diproksi oleh kepemilikan manajerial, keberadaan komite audit
dan proporsi dewan komisaris independen. Dengan menggunakan 74 sampel dan 197
observasi,
hasil
menunjukkan
bahwa
mekanisme
corporate
governance
mempengaruhi nilai perusahaan (Tobin’s Q).
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
Tarjo (2008) meneliti pengaruh konsentrasi kepemilikan institusional dan
leverage
terhadap manajemen laba, nilai pemegang saham serta
cost of equity capital
.
Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi kepemilikan institusional berpengaruh
negative terhadap manajemen laba. Sedangkan
leverage
berpengaruh positif terhadap
manajemen laba.
Palestin (2009) meneliti pengaruh struktur kepemilikan, praktik
corporate
governance
dan kompensasi bonus terhadap manajemen laba. Sampel yang
digunakan adalah 141 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama kurun
waktu tahun 2004-2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur kepemilikan
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Stubben (2010) melakukan penelitian mengenai kemampuan model akrual dan
model pendapatan untuk mendeteksi manajemen laba yang disimulasikan dan
manajemen laba aktual. Stubben mengambil sampel data manajemen laba manipulasi
dari seluruh perusahaan (kecuali sektor keuangan dan asuransi). Kemudian dilakukan
manipulasi terhadap pendapatan dan bebannya. Model akrual dan model
revenue
pun
diuji dalam mendeteksi manipulasi tersebut. Hasil menunjukkan bahwa model
revenue
lebih kuat dalam mendeteksi manipulasi pendapatan dan beban tersebut.
Sedangkan untuk manajemen laba aktual, Stubben mengambil sampel perusahaan
yang telibat kasus hukum dengan SEC kemudian melakukan pendeteksian dengan
menggunakan model akrual dan model
revenue
. Hasil juga menunjukkan bahwa
model
revenue
lebih tidak bias dalam mendeteksi manajemen laba.
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
Siagian (2011) meneliti pengaruh
corporate governance,
ukuran perusahaan
dan struktur kepemilikan terhadap manajemen laba perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa struktur kepemilikan tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.
Verawati (2012) meneliti pengaruh diversifikasi operasi, diversifikasi geografis,
leverage
dan struktur kepemilikan terhadap manajemen laba pada Perusahaan
Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009-2010. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa diversifikasi perusahaan meningkatkan
manajemen laba dan struktur kepemilikan berpengaruh signifikan terhadap
manajemen laba.
Viska (2012) meneliti dampak penerapan PSAK 50/55 (revisi 2006) terhadap
manajemen laba diperbankan: Peranan Mekanisme
Corporate Governance
, Struktur
Kepemilikan, dan Kualitas Audit dengan objek penelitian 36 bank terdiri dari 19 bank
yang
go public
dan 17 bank tidak
go public
. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
mekanisme corporate governance internal bank tidak signifikan mengurangi praktik
manajemen laba setelah penerapan PSAK 50/55 revisi (2006).
Beberapa hasil pengujian dari para penelitian terdahulu dapat dilihat dari tabel
2.1 sebagai berikut :
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTA STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA
Disusun Oleh : Nitria Rumahorbo
(43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No
Nama Peneliti &
Tahun Penelitian
Variabel Penelitian
Hasil Penelitian
1
Siallagan dan
Machfoedz (2006)
Kepemilikan Manajerial,
Komite Audit, Komisaris
Independen,
leverage,
firmsize
, kualitas laba
dan nilai perusahaan.
Mekanisme
corporate
governance
mempengaruhi nilai
perusahaan (Tobin’s Q).
2
Tarjo (2008)
Variabel dependen:
Manajemen laba
Variabel Independen:
Struktur Kepemilikan,
Corporate Governance
dan Kompensasi Bonus.
Kepemilikan konsentrasi
institusional berpengaruh
negative terhadap
manajemen laba.
Leverage
berpengaruh
positif terhadap
manajemen laba.
3
Palestin (2009)
Variabel dependen:
Manajemen laba
Variabel Independen:
Struktur Kepemilikan,
Corporate Governance
dan Kompensasi Bonus.
Struktur kepemilikan
berpengaruh signifikan
terhadap manajemen
laba.
4
Stephen R. Stubben
(2010)
Variable independen:
perubahan pendapatan
Variable dependen:
discretionary revenue
dan discretionary
accrual
Model
revenue
lebih
kuat dan tidak bias
dalam mendeteksi
pendapatan dan beban
yang dimanipulasi
dibandingkan dengan
model accrual.
5
Siagian (2011)
Variabel dependen:
Manajemen laba
Variabel Independen:
Struktur Kepemilikan,
Corporate Governance
dan Ukuran Perusahaan
.
Struktur kepemilikan
tidak berpengaruh
signifikan terhadap
manajemen laba
6
Verawati (2012)
Variabel dependen:
Manajemen laba
Variabel Independen:
Diversifikasi Operasi,
Diversifikasi Geografis,
diversifikasi perusahaan
meningkatkan
manajemen laba dan
struktur kepemilikan
berpengaruh signifikan
PENGARUH PENERAPAN LEBIH AWAL PSAK 50 DAN 55 SERTASTRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA Disusun Oleh :
Nitria Rumahorbo (43209010086)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 (revisi 2006) serta Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba. Penerapan lebih awal psak 50 dan 55 (revisi 2006) diukur menggunakan variabel dummy apabila perusahaan menerapkan lebih awal diberikan nilai 1 jika tidak 0. Struktur kepemilikan dalam penelitian ini menggunakan kepemilikan manajerial, institusional dan asing. Manajemen laba diukur dengan Discretionary Revenue.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka dan dokumentasi. Data diambil dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan Laporan Keuangan perusahaan non keuangan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Penelitian ini menggunakan data perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2010 sebanyak 60 Sampel perusahaan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba adalah penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 dan kepemilikan institusional. Penerapan lebih awal PSAK 50 dan 55 berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Sedangkan variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.
Kata kunci : Penerapan Lebih Awal PSAK 50 dan 55, Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba.