• Tidak ada hasil yang ditemukan

EDISI 2 / Tahun 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EDISI 2 / Tahun 2016"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

UTAMA:

l Menjaga Ketersediaan Infrastruktur Di Tengah Keterbatasan Anggaran ... 4

Oleh: Farid Arif Wibowo

l Strategi Investasi Jangka Panjang Pemerintah Dalam Pembiayaan

Infrastruktur...10

Oleh: Novijan Janis

l Pemanfaatan Dana Repatriasi Tax Amnesty Oleh BUMN di Sektor

Infrastruktur...15

Oleh: Oscar Aries Dwina Aji Sayoga

MITIGASI RISIKO:

l Rumahku Tabunganku (Analisis Risiko Fiskal Tabungan Perumahan) ... 20

Oleh: Ivan Yuliantodan Sunandar

l Mengelola Risiko Project Financing Sukuk ... 26

Oleh: Eri Hariyanto

wAwAncARA:

l Wawancara Redaksi Buletin Info Risiko Fiskal (IRF) ...32 Askolani, SE., MA

(Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan)

Oleh: Riko Amir, Tony Prianto, Hani Widyastuti, Roki Gangsar Winoto

edUKASI fISKAl:

l Peran PT PII Sebagai Badan Usaha Penjaminan Infrastruktur (BUPI)

dalam Mendukung Infrastruktur Strategis Nasional ... 38

Oleh: Sinthya Roesly

l Pengelolaan Risiko Dukungan Pemerintah dalam Penyediaan

Infrastruktur... 40

Oleh: Rahmat Mulyono

l Memanfaatkan Repatriasi Hasil Pengampunan Pajak untuk

Pembangunan Infrastruktur PPP ... 46

Oleh: Eko Nur Surachman

OpInI:

l Pembiayaan Infrastruktur Melalui Pasar Keuangan:

Potensi Obligasi dan Efek Beragun Aset ... 49

Oleh: Dr. Ferry Irawandan Adelia Surya Pratiwi, MSc

l Setelah Tax Amnesty, Apa Yang Harus Dilakukan? ...57

Oleh: Hadi Setiawandan Sofia Arie Damayanty

l Pemanfaatan Dana Corporate Social Responsibility (CSR)

Penerbitan Surat Berharga Negara Kementerian Keuangan dalam

Pembiayaan Infrastruktur ...61

Oleh: Akhmad Mahrus

l Holding BUMN di Tengah Kebuntuan APBN dan Kebutuhan Infrastruktur... 66

Oleh: Mohamad Nasir

SeKIlAS InfO RISIKO ... 70

InfO UTAnG peMeRInTAh ...72

expOSURe ...74 Penanggung jawab: Freddy R. Saragih Brahmantio Isdijoso Riko Amir RedaktuR:

Heri Setiawan, Fajar Hasri Ramadhana, Tony Prianto

Penyunting/editoR:

Syahrir Ika, Farid Arif Wibowo, Ivan Yulianto, Novijan Janis, Riza Azmi, Hendro Ratnanto Joni, Eko Nur Surachman, Hadi Setiawan, Muhamad Nasir

desain gRafis dan Layout:

Tim Grafis PNM

sekRetaRiat:

Hani Widyastuti, Hapsari Widowati, Rahmat Mulyono, Moh. Kharis Syukron

PeneRbit:

Direktorat Pengelolaan Risiko Keuangan Negara – Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko

PeRcetakan:

PT Prima Najah Mandiri

aLamat:

Gedung Frans Seda lantai 1, Jl. Dr. Wahidin No. 1 Jakarta Pusat 10710. Telp. 021-3505052 ext. 2112 Fax. 021-3846786

Email: [email protected] Redaksi menerima kontribusi tulisan dan artikel yang sesuai dengan misi penerbitan. Tulisan dan artikel ditulis dalam huruf arial 11, spasi 1,5, maksimal 10 halaman A4. Redaksi berhak mengubah isi tulisan tanpa mengubah maksud dan substansi.

Daftar Isi

2

Pandangan, gagasan, atau ide yang termuat dalam buku ini bukanlah representasi dari pikiran atau kebijakan yang keluar dari Dit. PRKN, DJPPR, Kementerian Keuangan, melainkan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

IRF versi digital dapat diakses pada website DJPPR:

(3)

Editorial

A

nggaran negara (APBN) yang terbatas menjadi salah satu bottleneck percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Gap pembiayaan infrastruktur masih sangat tinggi, sekitar 1,3% PDB dengan asumsi kebutuhan anggaran pembangunan infrastruktur pada kurun waktu 2015-2019 sebe-sar Rp4.976 triliun (Bappenas, 2016). Gap financing ini menye-babkan realisasi proyek-proyek infrastruktur strategis masih di bawah target yang diharapkan. Para teknokrat percaya bahwa masalah ini merupakan kendala utama bagi bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju.

Pemerintah menyediakan berbagai fasilitas agar swasta tertarik memberi pendanaan, salah satunya skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU/PPP). Namun, selama sepuluh tahun terakhir, hanya 9 proyek yang mencapai penan-datanganan perjanjian KPBU, 3 proyek di antaranya telah men-capai financial close (Sri Mulyani Indrawati, 2016). Persoalannya mulai dari kesiapan pembangunan proyek infrastruktur, yaitu bagaimana membangun proyek yang betul-betul siap, baik se-cara teknis maupun finansial. Bila proyek sudah siap dilelang, langkah berikutnya bagaimana meyakinkan pihak swasta agar mereka bersedia membantu pembiayaan, apakah rate of return sesuai ekspektasi mereka atau tidak. Beberapa fasilitas yang telah disediakan pemerintah dalam mendukung skema KPBU yaitu project development facility (PDF), viability gap fund (VGF), dan infrastructure guarantee yang dikelola BUMN (PT PII). Pe-merintah juga menawarkan availability payment untuk me-nambah daya tarik pihak swasta. Pemerintah berharap skema KPBU/PPP menjadi win-win bagi pemerintah maupun swasta dan masyarakat.

Dari sisi penerimaan, pemerintah serius mengoptimalkan penerimaan pajak, karena potensinya masih cukup besar,

diindikasi oleh tax ratio (rasio antara penerimaan pajak dan GDP) yang masih di level 11%-12%. Secara teori, tax ratio yang rendah menggambarkan banyak Wajib Pajak (WP) yang tidak membayar pajak dan basis pajak masih sempit. Menagih pajak ke WP dengan cara-cara biasa (konvensional), nampaknya cukup sulit karena berbagai alasan atau kendala. Itu sebabnya pada tahun 2016, pemerintah memilih cara yang tidak konvensional, yaitu memberikan pengampunan pajak (tax amnesty) kepada para WP, terutama WP “kelas kakap” yang memarkir dananya di luar negeri. Upaya ini berhasil manarik dana repatriasi sekitar Rp130 triliun pada periode pertama dan dana yang masuk ke kas negara (tebusan tax amnesty) hampir mencapai Rp100 triliun. Jumlah ini masih jauh dari cukup untuk menutup financing gap

pembangunan infrastruktur atau sekitar Rp1.000 triliun per tahun.

Dari sisi pembiayaan, strategi pembiayaan melalui utang untuk membiayai infrastruktur, misalnya dengan menerbit-kan SBN (Surat Berharga Negara) juga merupamenerbit-kan sebuah pi-lihan yang baik. Namun, untuk kondisi tertentu, strategi ini bisa jadi “bukan merupakan pilihan yang terbaik”. Ada risiko yang berpotensi menghadang keberlangsungan fiskal (fiscal

sustainability) sehingga menuntut pengelolaan utang (debt

management) yang baik. Indonesia pernah mengalami masa-lah ini pada krisis moneter tahun 1998 yang berakibat jatuhnya rezim Soeharto. Ini pelajaran berharga bagi pemerintah seka-rang bahwa pengelolaan utang harus benar-benar prudent.

Bila potensi pajak masih sulit digarap dan pemerintah juga dituntut harus berhati-hati menambah utang, maka pemerintah harus berani melakukan penghematan belanja. Dimulai dari merancang anggaran secara lebih rasional dan belanja dengan skala prioritas. Selain itu, pemerintah juga melakukan reformasi fiskal. Kebijakan perpajakan misalnya, apakah masih stay pada rezim PPh atau segera moving ke rezim PPN yang mengandal-kan economic value added. Ada banyak negara yang pro-PPh, tetapi tidak sedikit negara yang pro-PPN. Karena itu, perlu di-lakukan kajian ilmiah, untuk memberikan keyakinan kepada pemerintah, pilihan mana yang terbaik bagi Indonesia.

Kita akui bahwa kita sudah melakukan banyak perubah-an, setidaknya dalam tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing. Tetapi harus disadari bahwa yang diperlukan pe-merintah saat ini, bukan hanya sekadar berubah, tetapi juga maju. Speed harus lebih besar lagi agar infrastruktur kita lebih kom petitif. Indonesia harus mencapai peringkat (daya saing dan IPM) secara lebih fantastis. Target Indonesia bukan hanya menga lahkan Thailand atau Malaysia, tetapi juga mengalahkan banyak negara di dunia. Impian ini hanya bisa kita raih kalau kon disi infrastruktur kita sudah di level yang sama atau lebih ting gi dari kebanyakan negara lain.

Pemerintah harus bisa menurunkan visi dan misi bangsa Indonesia ke dalam kebijakan-kebijakan yang jelas dan terukur serta dikawal implementasinya agar bisa berjalan efektif. Kebi-jakan fiskal misalnya, bukan saja persoalan desainnya, tetapi juga implementasinya yang harus “super baik”. Bila semua di-kerjakan secara serius, maka setidaknya 20 tahun dari sekarang, menjadi negara maju adalah kenyataan, bukan lagi impian ka-rena semua infrastruktur modern sudah terbangun, semoga....! Demikian editorial, selamat membaca. n Syahrir Ika.

“Infrastruktur”,

syarat untuk

(4)

U

T

A

M

A

Menjaga Ketersediaan

Infrastruktur Di Tengah

Keterbatasan Anggaran

Oleh: Farid Arif Wibowo

Kepala Subdirektorat Hubungan Investor, DJPPR. Email: [email protected]

K

risis ekonomi yang meng-han tam Indonesia di akhir tahun 1990-an, meskipun telah menyengsarakan per-eko nomian dan kehidupan ma sya ra-kat pada umumnya, tetapi ter bukti mem berikan juga banyak pe lajaran bagi bangsa Indonesia. Salah satu pe-lajaran berharga yang didapat adalah bahwa usaha untuk me nang gulangi krisis dengan cara meng henti kan atau menunda penyediaan infra struktur justru akan memberikan pukulan yang lebih telak kepada per eko no-mian, terutama terkait dam pak da lam jangka waktu yang lebih panjang.

Sebagaimana tercatat, krisis ekonomi di akhir tahun 1990-an

ter-sebut telah membawa Indonesia da-lam keterperosokan ekonomi yang cukup dalam. Pertumbuhan ekonomi yang dicapai di tahun 1996 sebesar 8% turun drastis ke level -13.6 % pada tahun 1998. Demikian juga inflasi sebesar 6.5% di tahun 1996 melonjak 10 kali lipat menjadi 65% di tahun 1998. Nilai tukar rupiah terhadap dolar yang masih berada pada kisaran Rp 4.850/dolar pada tahun 1997 melemah secara drastis ke angka Rp 17.000/dolar pada awal Januari 1998. Dampak dari krisis tersebut antara lain bangkrutnya ratusan perusahaan swasta, pe mu-tus an hubungan kerja secara besar-besaran termasuk terpukulnya sektor konstruksi, sektor perbankan dan

sek tor lainnya. Sebagai salah satu usaha yang dilakukan Pemerintah untuk menanggulangi dampak krisis tersebut adalah menunda pe laksanaan beberapa proyek infra struktur baik yang dilaksanakan me lalui APBN maupun yang di ker ja samakan dengan swasta. Misalnya sebagaimana yang dilakukan oleh Pemerintah pada waktu itu dengan menerbitkan Keputusan Presiden nomor 39 tahun 1997 tentang Pe nangguhan/Peng-kajian Kembali Proyek Pemerintah, BUMN, dan Swasta yang Berkaitan dengan Pe merintah/BUMN. Keputusan Presiden tersebut menyatakan bahwa untuk me nanggulangi dampak krisis, pe me rintah menangguhkan 6 proyek

(5)

U

T

A

M

A

pemerintah dan 75 proyek BUMN dan swasta (yang dikerjasamakan dengan Pemerintah atau BUMN) termasuk puluhan proyek jalan tol, listrik, kere-ta api dan pelabuhan.

Keputusan pemerintah untuk me nangguhkan pelaksanaan proyek-proyek infrastruktur tersebut sebagai upaya untuk menanggulangi dampak krisis ekonomi mungkin bisa dipahami pada waktu itu. Tetapi sebagai akibat langsung dari penundaan penyediaan infrastruktur tersebut, investasi infra-struktur Indonesia turun drastis hingga hanya mencapai 2% dari PDB pada tahun 2001 setelah sebelumnya sempat menyentuh angka 9% dari PDB pada pertengahan tahun 1990an. Yang ke-mudian menjadi per masalahan adalah penundaan ter sebut terus berlanjut hingga beberapa tahun kemudian ketika sebetulnya per ekonomian Indonesia sudah mulai membaik. Ting-kat investasi infra struktur yang sangat rendah ter sebut terus berlanjut hingga sekitar tahun 2014 ketika Indonesia mulai me nunjukkan recovery parsial hingga mencapai 4% dari PDB.

Terlepas dari kondisi keuangan negara waktu itu yang tidak me mung-kin kan adanya ruang yang cukup luas untuk meningkatkan penyediaan infra struktur, masa kekurangan dan keterlambatan penyediaan infra -struktur yang sedemikian pan jang telah membuat Indonesia jauh ter ting-gal dari negara-negara tetang ga nya dalam hal ketersediaan infrastruktur.

Di tahun 2016 ini, kembali APBN dihadapkan pada masa ketika perekonomian global dan domestik ti dak terlalu menggembirakan. Ke-ti dak pasKe-tian ekonomi negara maju, moderasi ekonomi Tiongkok, pe le-mah an harga komoditas dan faktor-faktor geopolitik lainnya telah mem berikan dampak melemahnya pen dapatan Pemerintah, baik dari sektor pajak maupun non pajak.

Shortfall pendapatan negara di

pro-yeksikan sebesar 203 Triliun sehingga mengakibatkan pemerintah perlu melakukan penghematan be lanja Kementerian dan Lembaga (K/L) se besar Rp 65 triliun dan belanja transfer ke daerah dan dana desa sebe sar Rp 73 triliun. Tentu saja te-kanan tersebut jauh dari kondisi krisis dan tidak seburuk sebagaimana dialami oleh Indonesia di tahun 1998 dan 2008. Akan tetapi kondisi ter-sebut sedikit banyak membatasi ruang gerak belanja pemerintah ter -masuk untuk mempercepat penye-dia an infrastruktur. Dalam hal ini, per nyataan Pemerintah untuk me-masti kan bahwa tidak akan ada pemotongan untuk belanja pro-duktif termasuk infrastruktur sangat melegakan dan patut diapresiasi. Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah telah belajar dari beberapa krisis sebelumnya untuk tetap menjaga per-tumbuhan penyediaan infra struktur. Pemerintah tidak mau meng ulang kesalahan menunda pem bangunan infrastruktur sehingga justru me rugi-kan perekonomian da lam jangka panjang. Akan tetapi walaupun Pe-merintah telah me mastikan bahwa belanja infra struktur tidak dikurangi,

perlu disadari bahwa dengan ke ter-batasan anggaran ini dibutuhkan strategi-strategi baru untuk menjaga tingkat penyediaan infrastruktur atau bahkan jika perlu mempercepatnya.

“Bad tIMes Make good

econoMIc PolIcIes”

Masa krisis sering diidentikkan dengan tekanan di mana Pemerintah dituntut untuk berpikir keras me nyelamatkan perekonomian sehing ga memunculkan kebijakan-kebijakan yang bagus, di mana hal itu justru tidak muncul pada saat perekonomian dalam keadaan membaik. Dalam konteks diskursus eko nomi pem bangunan Indonesia, hal ini yang sering disebut sebagai “Hukum Sadli” bahwa kondisi yang buruk akan menciptakan kebijakan eko nomi yang baik (“bad times make good economic policies”). Terkait dengan pem bangunan infastruktur, “teori” ini pernah terbuktikan, salah satunya dengan dikeluarkannya re-gulasi per tama yang mengatur ske ma Kerja sama Pemerintah dan Swasta (Public-Private Partnerships) atau yang sekarang lebih dikenal de ngan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) pada tahun 1998. Peraturan tersebut adalah Ke-pu tusan Presiden nomor 7 tahun 1998 tentang Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Swasta dalam Pem-bangunan dan atau Pengelolaan Infra struktur. Keppres ini merupakan per aturan antar sektor yang mele-tak kan pondasi prinsip-prinsip pelak-sa naan proyek KPBU di Indonesia un tuk pertama kalinya. Pemerintah me ngeluarkan peraturan ini ketika masih berada dalam suasana krisis eko nomi di tengah tekanan publik untuk menyelamatkan perekonomian di satu sisi, tetapi juga di sisi lain harus meng hadapi tekanan eksternal karena keter gantungan pemerintah kepada lem baga internasional pada waktu itu. Motivasi Pemerintah untuk menyusun

Per nyataan

Pemerintah untuk

me masti kan

bahwa tidak akan

ada pemotongan

untuk belanja

produktif termasuk

infrastruktur sangat

melegakan dan

patut diapresiasi.

(6)

U

T

A

M

A

Keppres 7 tahun 1998 ini mungkin bisa diinterpretasikan berbeda oleh be berapa pihak, tetapi penerbitan per -aturan pertama mengenai KPBU/PPP tersebut perlu diappresiasi sebagai se-buah langkah awal menuju penge lolaan PPP di Indonesia secara lebih baik.

Saat ini, ketika Pemerintah ber ada dalam kondisi perekonomian yang ku rang menggembirakan, “teori” ter-sebut diuji lagi untuk mem buk ti kan apa kah Pemerintah bisa me lewati periode ini dengan baik de ngan me-munculkan strategi-stra tegi baru yang justru mendorong per cepatan pe nye-diaan infrastruktur. Tulis an ini akan membahas beberapa lang kah yang diambil oleh Pemerintah untuk men-jaga ketersediaan layanan infra struk-tur di tengah kondisi ekono mi seka-rang, dengan mengambil fo kus pada kebijakan-kebijakan yang ber ada dalam domain Kementerian Ke uangan.

Menata fokus keBIjakan

dI tengah BeBeraPa oPsI

suMBer PeMBIayaan

Strategi pertama yang dilakukan Pemerintah adalah menata fokus pem biayaan infrastruktur terutama ter kait dengan sumber-sumber yang digunakan untuk membangun la-yan an infrastruktur tersebut. Seba-gai mana diketahui bahwa pem-bia ya an infrastruktur publik bisa dila ku kan melalui beberapa skema. Skema pertama adalah dengan me-lalui APBN atau biasa disebut sebagai skema kon vensional. Dengan skema ini, infrastuktur diadakan sepenuhnya me lalui dana APBN yang dimiliki oleh Pemerintah, dengan risiko pro yek se pe nuhnya ditanggung oleh Pe me-rintah. Pengadaan seperti ini dilakukan melalui mekanisme APBN dengan meng ikuti prosedur pengadaan ba-rang dan jasa oleh Pemerintah yang sudah diatur.

Skema kedua adalah penyediaan infrastruktur dengan memakai

pen-danaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam hal ini BUMN sebagai agen pembangunan bisa diberikan mandat atau tugas khusus yang se-suai dengan tupoksinya untuk meng-adakan proyek infrastruktur tertentu. Dengan skema BUMN ini Pemerintah tidak perlu mengeluarkan dana dalam bentuk belanja karena pembiayaan akan memakai dana perusahaan BUMN yang bersangkutan. Dukungan dana dari Pemerintah bisa disalurkan ke BUMN dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN), atau pemberian fasilitas tambahan misalnya dalam bentuk pinjaman atau penjaminan.

Skema ketiga adalah penyediaan infrastruktur dengan cara melibatkan keikutsertaan pihak swasta (badan usaha). Dalam skema ini, Pemerintah lebih mengandalkan pembagian alokasi risiko proyek yang tepat dengan pihak swasta untuk memastikan value for money yang paling optimal, yang dituangkan dalam kontrak kerjasama antara Pemerintah dengan badan usaha. Secara umum, Pemerintah ti-dak lagi harus mengeluarkan dana dari anggaran pemerintah di muka

untuk penyediaan layanan tersebut, tetapi Pemerintah bisa memberikan dukungan finansial termasuk yang berbentuk penjaminan. Implikasi fiskal dan finansial dari skema kerjasama ini terhadap APBN bisa berbeda-beda tergantung dari modalitas proyek dan skema transaksi yang digunakan dalam kerjasama.

Melihat identifikasi kebutuhan pembiayaan infrastruktur Indonesia dalam beberapa tahun mendatang yang sangat besar, sulit untuk meng-andalkan pembiayaan penyediaan la yanan infrastruktur dari anggaran peme rintah (APBN dan APBD) se pe-nuh nya. Sebagaimana yang telah diidentifikasi oleh Bappenas, ke-bu tuh an pembiayaan penyediaan layanan infrastruktur dari tahun 2015 hingga tahun 2019 adalah sebesar Rp4796,2 triliun. Dari jumlah tersebut diperkirakan hanya sekitar 41 % atau Rp 1978.4 triliun yang bisa dicukupi oleh Pemerintah baik di pusat maupun di daerah. Sisanya, sebesar 59 % atau Rp 2.817,8 triliun harus dicarikan dari sumber selain pemerintah. Sumber lain tersebut diidentifikasi sekitar 22 % dari total kebutuhan pembiayaan akan didapatkan dari pembiayaan BUMN sementara 37% sisanya diharapkan dapat didanai oleh sektor swasta.

Strategi penataan fokus ke-bi jakan pembiayaan penyediaan infra struktur dimaksudkan untuk me nen tu kan karakteristik proyek yang tepat untuk didanai dengan pilihan-pilihan sumber pembiayaan yang berbeda-beda sebagaimana dije las kan sebelumnya. Penajaman fokus tersebut dapat dilakukan de-ngan mempertimbangkan beberapa hal pokok. Yang pertama, pemilihan proyek terkait dengan sumber-sumber pendanaannya seharusnya ber dasarkan pada kriteria value for money yang tepat, yaitu bagaimana dengan dikeluarkannya satu rupiah dari anggaran pemerintah bisa

mem-Pemerintah

tidak lagi harus

mengeluarkan

dana dari anggaran

pemerintah di

muka untuk

penyediaan

layanan tersebut,

tetapi Pemerintah

bisa memberikan

dukungan

finansial termasuk

yang berbentuk

penjaminan.

(7)

U

T

A

M

A

berikan dampak peningkatan ke se-jahteraan masyarakat (atau dalam hal ini ketersediaan layanan infrastruktur) yang paling besar. Pertimbangan yang kedua terkait dengan feasibilitas atau kelayakan proyek-proyek infrastruktur baik dilihat dari perspektif ekonomi maupun finansial. Dalam hal ini, se­ cara umum biasanya dibangun kri-teria bahwa pembiayaan melalui APBN dilakukan untuk proyek-proyek infra struktur dasar yang layak secara eko nomis tetapi tidak layak secara finansial. Sementara itu untuk proyek yang layak secara baik secara ekonomis maupun secara finansial, skema yang lebih tepat adalah dilakukan melalui pendanaan dari swasta. Kriteria ter-sebut adalah kriteria yang masih ber laku secara umum karena dalam hal ini pemerintah bisa membuat pro yek yang tidak layak secara fi-nansial menjadi layak dengan me-la ku kan restrukturisasi transaksi atau memberikan fasilitas-fasilitas finansial tertentu. Hal yang ketiga yang perlu dipertimbangkan adalah terkait dengan alasan-alasan yang lebih bersifat praktis, di mana dalam konteks penyediaan infrastruktur di Indonesia, beberapa sektor atau tipe infrastruktur tertentu telah lama ditangani oleh BUMN-BUMN yang mapan dan berpengalaman. Da-lam hal ini, perhitungan mengenai

economics of scale dari penyediaan la yanan dan pertimbangan legal dan praktikal bisa dikedepankan untuk mem berikan penugasan penyediaan layanan infrastruktur kepada BUMN-BUMN yang memang telah lama berkecimpung dalam penyediaan layanan tersebut. Hal keempat yang perlu dipertimbangkan adalah terkait dengan isu penyediaan kesempatan berusaha kepada sektor swasta, di mana pemerintah dalam memberikan penugasan ke BUMN seharusnya tidak mematikan kesempatan berusaha atau berbisnis bagi sektor swasta.

Lebih lanjut lagi, penajaman fokus terkait pembagian sumber-sumber pembiayaan infrastruktur ini bisa dilakukan dengan memberikan kerangka kebijakan yang lebih kuat dan komprehensif tentang bagaimana strategi pembiayaan tersebut dite rap-kan untuk memberirap-kan arahan yang lebih jelas dan lebih transparan dalam menentukan suatu proyek untuk dapat dibiayai dengan skema tertentu. Selama ini penentuan skema tersebut lebih bersifat ad-hoc dan kasuistik se-hingga kurang memberikan ke pas-tian baik dari sisi penyiapan proyek maupun dari sisi persepsi pasar pem-biayaan infrastruktur.

MengoPtIMalkan

InstruMen dukungan

fInansIal PeMerIntah

Strategi yang kedua adalah menata dukungan dan fasilitas yang diberikan kepada pihak non-pemerintah untuk turut serta berpartisipasi dalam pe-nyediaan infrastruktur. Selama ini Pemerintah telah memiliki ber ba gai instrumen baik dalam bentuk kelem-bagaan maupun skema pem biayaan yang dibentuk untuk mendorong ke terlibatan swasta maupun BUMN dalam pembiayaan infrastruktur. Instrumen pendorong yang diberikan dalam bentuk kelembagaan seperti PT. Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT. PII) yang memberikan layanan penjaminan pemerintah kepada pro-yek KPBU, atau PT. Sarana Multi In fra-struktur Indonesia (PT. SMI) dan PT. Indonesia Infrastruktur Finance (PT. IIF) yang memberikan layanan pem-biayaan infrastruktur dengan berbagai bentuk dan skema, serta yang terakhir adalah Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) yang akan membantu me laksana kan pengadaan tanah untuk proyek infrastruktur. PPP Unit yang dibentuk di Kementerian Keuangan yang dilaksanakan oleh Direktorat Pengelolaan Dukungan Pemerintah

dan Pembiayaan Infrastruktur (PDPPI) diharapkan berperan penting untuk mengkoordinir pelaksanaan fasilitasi dukungan pemerintah yang dimiliki oleh Kementerian Keuangan sendiri atau yang dimiliki oleh lembaga-lembaga tersebut di atas. Selain fa-silitas yang dibentuk secara kelem-ba gaan, Kementerian Keuangan juga menyediakan dukungan dalam bentuk fasilitas keuangan yang bisa mendorong terlaksananya penyediaan infrastruktur dengan skema KPBU seperti penjaminan pemerintah,

Viability Gap Fund (VGF), Project Development Facility (PDF) dan skema

Availability Payment (AP). Kegunaan fasilitas-fasilitas ini terbukti telah mendorong proyek-proyek KPBU yang telah lama dipersiapkan akhirnya bisa mencapai tahap penandantanganan kontrak dan juga financial close.

Untuk proyek-proyek infrastruktur yang melibatkan BUMN, Kementerian Keuangan juga menyediakan fasilitas-fasilitas keuangan termasuk pem-be rian pinjaman dan penjaminan pemerintah. Pinjaman diberikan oleh Pemerintah kepada BUMN ter tentu terutama yang mendapatkan pe-nugasan Pemerintah seperti PT. PLN, se mentara penjaminan pemerintah di berikan untuk BUMN dalam meng akses pembiayaan dari pasar keuangan. Penjaminan Pemerintah diberikan dalam bentuk penjaminan kredit, seperti yang diberikan kepada PT. PLN dalam program Fast Track

tahap I (FTP 1) dan kepada PT. Hutama Karya dalam program pembangunan Tol Trans Sumatra. Penjaminan pe-me rintah kepada BUMN dapat juga diberikan dalam bentuk lain misal-nya dalam bentuk Surat Jaminan Ke-layakan Usaha (SJKU) seperti yang di sediakan untuk program Fast Track

tahap 2 (FTP 2) yang dilaksanakan PT. PLN. Terakhir, penjaminan pemerintah juga diberikan kepada BUMN untuk menjamin pinjaman langsung BUMN

(8)

U

T

A

M

A

ke lembaga-lembaga keuangan internasional untuk pelaksanaan pro-gram infrastruktur.

Bukti bahwa beberapa proyek KPBU dan proyek infrastruktur BUMN telah bisa dijalankan setelah men-dapatkan fasilitas-fasilitas tersebut di atas menunjukkan bahwa problem dan permasalahan pelaksanaan pe-nye diaan infrastruktur baik yang me lalui KPBU maupun BUMN sedikit banyak telah bisa diidentifikasi dan diselesaikan. Namun pada pelak-sanaannya, masih terdapat beberapa isu yang menunjukkan bahwa

arrangement fasilitasi keuangan di atas masih memerlukan perbaikan dan pe nyempurnaan. Untuk itulah hingga saat ini pihak Kementerian Keuangan c.q. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko secara terus menerus menyempurnakan skema du-kungan dan jaminan agar dapat me-menuhi kebutuhan yang diperlukan oleh proyek-proyek KPBU dan BUMN.

Di saat APBN berada dalam te-kanan seperti sekarang ini, Pemerintah perlu berhitung lebih cermat dan teliti dalam menggunakan fasilitas-fasilitas tersebut untuk mendukung proyek infra struktur agar setiap rupiah yang dikeluarkan sebagai bentuk du-kungan, memberikan leverage yang lebih tinggi terhadap dana yang dikeluarkan oleh BUMN maupun Ba-dan Usaha Swasta. Hal tersebut bisa di lakukan Pemerintah dengan ber-bagai cara.

Yang pertama, diperlukan ada-nya orkestrasi, kebersamaan, dan koordinasi yang kuat di antara fasilitas-fasilitas tersebut dalam sebuah

arrangement pembiayaan proyek. Fakta bahwa fasilitas penjaminan pe-me rin tah dilakukan oleh PT. PII dan Ke menterian Keuangan sementara pem biayaan dan penyiapan proyek berada di PT. SMI menunjukkan bah-wa koordinasi menjadi tantangan ter sendiri dalam mengoptimalkan

dukungan-dukungan ini. Keberadaan PPP unit diharapkan dapat menjadi dirijen dan playmaker yang gesit dan kredibel sehingga dapat meng-optimalkan penggunaan instrumen-instrumen fasilitasi tersebut secara tepat dan efektif. Kerangka koordinasi tersebut perlu diletakkan dalam sebuah kerangka kebijakan yang kuat.

Kedua, perlunya membangun ske ma yang lebih inovatif dan variatif dengan memanfaatkan instrumen-instrumen fiskal yang lain yang di-miliki oleh Kementerian Keuangan. Mes kipun saat ini Pemerintah sudah memiliki banyak fasilitas yang bisa diberikan kepada BUMN dan skema KPBU sebagaimana dijelaskan di atas, hal tersebut seharusnya tidak menutup adanya terobosan-terobosan baru untuk mengkombinasikan fasilitas tersebut dengan instrumen lain misal nya dengan skema penerusan pinjaman kepada pemerintah daerah sebagai PJPK atau skema project financing melalui penerbitan sukuk. Saat ini hal-hal tersebut sepertinya masih belum bisa dilaksanakan ka-rena aturan dan kebijakan yang mem batasi, tetapi dengan adanya terobosan-terobosan yang inovatif, inisiatif-inisiatif tersebut tidak tertutup kemungkinannya.

MeMPercePat PenyedIaan

Infrastruktur

tanPa Mengganggu

kesInaMBungan fIskal

Strategi yang ketiga yang bisa dila-kukan Pemerintah dalam hal pe-nye diaan infrastruktur di saat APBN meng alami tekanan seperti sekarang ada lah terkait dengan pengelolaan risiko fiskal terutama sehubungan de ngan penjaminan yang diberikan oleh Pemerintah untuk mendukung ke ter libatan swasta atau badan usaha dalam penyediaan infrastruktur. Da-lam masa keterbatasan anggaran se perti saat ini, pemberian jaminan pe me rin tah dapat dilakukan sebagai instru men pembiayaan alternatif yang ber sifat “indirect” karena de-ngan tanpa me ngeluarkan budget, Pe me rintah atau publik dapat me-nik mati layanan infrastruktur yang di biayai dari dana swasta. Akan tetapi, pem berian dan penerbitan pen ja min-an pe me rin tah tersebut harus tetap mem per hatikan dampaknya di ma sa de pan karena di dalam produk ja min-an ymin-ang dikeluarkmin-an oleh pe me rin tah ter kandung implikasi ke wajib an kontin-jensi di mana terbuka ke mung kinan peme rintah harus mem bayar klaim kepada swasta pada waktu yang akan datang. Hal inilah mengapa pen jamin -an pe merin tah di-anggap sebagai salah satu sumber risiko fikal yang perlu di­ kelola oleh Pemerintah untuk men ja ga ke si nam bungan fiskal jangka panjang.

Memperhatikan risiko fiskal dalam program pembangunan infrastruktur sangat diperlukan karena, pertama, dalam masa keterbatasan anggaran, pemerintah di mana pun cenderung “ter pancing” untuk “jor-joran” da-lam penerbitan jaminan untuk me-na rik dame-na swasta demi menutupi ke bu tuh an pembiayaan yang tidak dapat di penuhi dari anggaran pe me-rintah. Penerbitan jaminan sering-kali dilihat sebagai solusi jangka pen dek untuk mendatangkan dan

diperlukan

adanya orkestrasi,

kebersamaan, dan

koordinasi yang

kuat di antara

fasilitas-fasilitas

tersebut dalam

sebuah arrangement

pembiayaan

proyek.

(9)

U

T

A

M

A

me narik partisipasi swasta agar bisa me nutupi kekurangan pendanaan. Kedua, kesinambungan fiskal me-rupakan isu jangka panjang yang biasa nya dikesampingkan untuk me menuhi kebutuhan-kebutuhan jangka pendek. Padahal, meskipun dam pak dari pemberian jaminan baru muncul di masa yang akan da-tang tetapi dampaknya bisa meng-an cam keberlmeng-angsungmeng-an fiskal seca­ ra signifikan. Karena alasan dan ke bu tuhan politik untuk menyediakan layanan infrastruktur secara cepat, isu-isu terkait dengan kesinambungan fiskal seringkali dikesampingkan ka­ rena dampaknya tidak akan terlihat dalam jangka pendek. Ketiga, dampak yang muncul dari pemberian jaminan bersifat kontinjen dan perwujudannya bisa tidak terlihat pada anggaran atau neraca saat ini, secara akuntansi. Hal ini yang seringkali membuat PPP/ KPBU dianggap sebagai “backdoor financing” yang digunakan untuk “me nyembunyikan utang” pemerintah guna menghindari batasan­batasan defisit yang sudah ditentukan.

Dalam kasus Indonesia, usaha yang dilakukan oleh Pemerintah dalam mengelola jaminan pemerintah dan kewajiban kontinjensi yang muncul dari penyediaan jaminan pemerintah untuk penyediaan proyek infrastruktur telah dimulai paling tidak sejak tahun 2005 ketika Kementerian Keuangan mem bentuk Komite Pengelolaan Risiko atas Penyediaan Infrastruktur (KPRPI) melalui KMK nomor 518 tahun 2005. Komite ini kemudian lebih di-perkuat kelembagaannya dengan dibentuknya Pusat Pe ngelolaan Risiko Fiskal (PPRF) di bawah Badan Kebijakan Fiskal di tahun 2006. Pusat ini yang kemudian berperan aktif, dengan di-bantu oleh unit-unit terkait, dalam membangun kerangka kebijakan penge lolaan risiko fiskal terutama yang muncul dari penyediaan

du-kung an pemerintah kepada proyek infra struktur, baik dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan hingga pelaporannya. Dari sisi perencanaan, Komite dan Pusat tersebut telah merumuskan beberapa peraturan ter kait penyediaan penjaminan mulai dari PMK nomor 38 tahun 2006 terkait Pengelolaan Risiko atas Pe nyediaan Infrastruktur. Dengan semakin meningkatnya kompleksitas pemberian jaminan seiring dengan semakin aktifnya Pemerintah men-dorong swasta dan BUMN terlibat dalam penyediaan infrastruktur, pada tahun 2014 PPRF dipindahkan menjadi bagian dari Direktorat Jenderal Pe-nge lolaan Pembiayaan dan Risiko dan dipecah menjadi dua direktorat yaitu Direktorat Pengelolaan Risiko Ke-uangan Negara (PRKN) dan Direktorat Pengelolaan Dukungan Pemerintah dan Pembiayaan Infrastruktur.

Dari sisi pelaporan, pemerintah juga berusaha untuk terus meningkat-kan akuntabilitas dan transparansi pemberian penjaminan pemerintah dengan menerbitkan Pernyataan Risiko Fiskal (Statement of Fiskal Risks) yang menyajikan risiko-risiko fiskal termasuk risiko yang terkait dengan penyediaan penjaminan pemerintah terkait proyek infrastruktur. Bentuk pelaporan tersebut telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pernyataan risiko fiskal tersebut saat ini menjadi bagian yang tidak ter-pisahkan dari nota keuangan yang disampaikan oleh Pemerintah setiap tahun. Eksposur pemerintah terhadap ke wajiban kontinjen yang berasal dari penjaminan infrastruktur juga dilapor-kan dan diupdate secara periodik setiap bulan dan ditampilkan kepada publik melalui website DJPPR.

PenutuP

Belajar dari pengalaman menghadapi tekanan ekonomi pada krisis-krisis sebelumnya, Pemerintah Indonesia

berusaha untuk tetap menjaga ke-tersediaan infrastruktur di tengah-tengah keterbatasan anggaran yang kali ini disebabkan oleh adanya te-kanan di sisi penerimaan APBN. Pe-nyediaan infrastruktur tidak lagi “di kor bankan” karena Pemerintah menya dari bahwa penundaan pe-nyediaan infrastruktur akan membuat per ekonomian semakin tertinggal dari negara-negara lain. Untuk men jaga ketersediaan penyediaan infrastruktur tersebut, Pemerintah me nerapkan beberapa strategi di an-taranya dengan mempertajam fokus pem biayaan berdasarkan sumber-sum ber pembiayaan yang berbeda dari APBN, BUMN dan swasta. Selain itu Pemerintah juga mengoptimalkan penggunaan instrumen-instrumen fasilitas pendukung keterlibatan BUMN dan swasta dalam skema KPBU untuk memastikan bahwa setiap rupiah dukungan yang diberikan, baik secara langsung maupun tidak langsung, bisa me-leverage dana yang akan dikeluarkan oleh BUMN dan swasta dalam menyediakan infra-struktur yang lebih cepat, handal dan efisien.

Pemerintah juga belajar bah-wa semangat untuk secara pro-gre sif mempercepat penyediaan infra struktur tidak berarti mengor-ban kan kesinambungan fiskal da lam jangka panjang. Untuk itu Pe me-rintah telah menyiapkan kerang ka pe nge lolaan risiko fiskal dan risiko keuang an negara yang lebih kuat ter utama terkait dengan ke waji ban kontinjensi yang timbul dari pem-be rian penjaminan pemerintah. Di te ngah keterbatasan anggaran, se-ma ngat Pemerintah untuk menjaga pe nye diaan layanan infrastruktur di ha rap kan justru memunculkan inovasi-inovasi kebijakan yang lebih baik dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat dan stabil di masa yang akan datang. n

(10)

U

T

A

M

A

Strategi Investasi Jangka

Panjang Pemerintah Dalam

Pembiayaan Infrastruktur

Oleh: Novijan Janis

Kepala Seksi Analisis Struktur Aset dan Kewajiban Pemerintah-Dit. PRKN-DJPPR. Email: [email protected]

Pendahuluan

Dengan mengacu kepada teori ekonomi yang dikeluarkan oleh John Maynard Keynes dalam bukunya yang berjudul The General Theory of Employment, Interest, and Money

(1935), yang menyatakan bahwa Pemerintah harus campur tangan dalam perekonomian nasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka Pemerintah di semua negara menyediakan anggar-an khusus untuk membanggar-angun infra-struktur publik yang dapat diakses oleh masyarakat umum. Namun demikian dengan berjalannya waktu dan munculnya faktor-faktor lain seperti masalah kualitas bangunan infrastruktur publik, keterbatasan dana / anggaran negara maka skema pem biayaan untuk pembangunan dan penyediaan infrastruktur publik meng alami perkembangan dan modifikasi. Hal ini juga terjadi di Republik Indonesia.

Pada awalnya pembiayaan untuk penyediaan infrastruktur publik seperti jalan, terminal bis, bandara, pelabuhan, gedung sekolah, rumah sakit dan lain sebagainya dilakukan oleh Pemerintah secara penuh. Dengan adanya perkembangan baik dari dalam dan luar negeri maka skema pembiayaan untuk pe nyediaan infrastruktur publik meng alami modifikasi. Diantaranya

penyediaan infrastruktur melalui BUMN secara bertahap seperti pem bangunan (ekspansi) Bandara Soekarno Hatta pada bulan Mei 1980 yang dilakukan secara konsorsium oleh Sainraptet Brice, SAE, Colas dan PT Waskita Karya. Pada saat Republik Indonesia mengalami krisis keuangan pada tahun 1998 dimana Pemerintah, BUMN/BUMD dan Swasta mengalami kesulitan keuangan maka mulai diwacanakan skema pembiayaan infrastruktur publik yang didominasi oleh swasta khususnya investor dari luar negeri. Skema dimaksud selanjutnya dikenal dengan skema KPS. Dalam

per-kembangan terakhir, mengingat praktek dari pelaksanaan skema KPS di negara-negara maju dimana skema KPS umumnya menyumbang pe nyediaan infrastruktur sebesar 10% sd 20% dari kebutuhan infrastruktur nasional maka Pemerintah mencoba menerapkan skema Penugasan pada BUMN untuk membangun infra-struktur publik secara utuh.

Secara sekilas akan nampak bahwa Pemerintah mengurangi peran nya dalam pembiayaan pem-bangunan infrastruktur publik. Namun bila dielaborasi lebih lanjut, maka akan tampak bahwa Pemerintah tetap memiliki peran yang dominan dari masing-masing jenis pembiayaan infrastruktur dimaksud.

InvestasI jangka Panjang

PeMerIntah

Berdasarkan Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, Pemerintah (Pusat) mempunyai kewajiban berupa melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dalam rangka mewujudkan kewajiban-kewajiban dimaksud maka Pemerintah melakukan aktivitas ekonomi. Dengan demikian, sesuai

Pada awalnya

pembiayaan

untuk penyediaan

infrastruktur

publik seperti

jalan, terminal

bis, bandara,

pelabuhan, gedung

sekolah, rumah sakit

dan lain sebagainya

dilakukan oleh

Pemerintah secara

(11)

U

T

A

M

A

dengan ketentuan peraturan dan perundangan yang berlaku pada Sistem Akuntansi Pemerintahan maka Pemerintah Pusat termasuk dalam kategori sebagai entitas akuntansi dan entitas pelaporan yang mem-punyai kewajiban diantaranya berupa menyusun laporan keuangan dari pelaksanaan aktivitas ekonomi dimaksud. Dalam hal ini, laporan keuangan yang disusun disebut dengan Laporan Keuangan Pemerin-tah Pusat (LKPP). dimana salah satu unsurnya adalah laporan posisi ke-uangan (neraca).

Salah satu akun dalam neraca dari LKPP tersebut adalah investasi jangka panjang. Definisi lebih lanjut dari investasi jangka panjang Pemerintah disebut kan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) nomor 06. Secara umum, PSAP dimaksud men jelaskan bahwa investasi jangka panjang Pemerintah merupakan suatu investasi dalam bentuk aset non lancar untuk memperoleh pendapatan dalam jangka panjang. Dalam peng-ungkapan di Nota Keuangan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (NK APBN), investasi jangka

panjang dikelompokkan menurut sifat penanaman investasinya, yaitu permanen dan nonpermanen. Yang di maksud dengan Investasi Permanen adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan yaitu untuk dimiliki terus menerus tanpa ada niat untuk memperjualbelikan atau menarik kembali. Sedangkan Investasi Non-per manen adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan yaitu ada niat untuk memperjual-belikan atau menarik kembali.Salah satu bentuk dari investasi permanen adalah Penyertaan Modal Negara (PMN) pada perusahaan negara/ daerah (BUMN/BUMD) dengan tujuan untuk mendapatkan dividen dan/ atau pengaruh yang signifikan dalam jangka panjang.

Dalam Laporan Keuangan Pe-merintah Pusat khususnya pada Neraca Pemerintah Pusat di sisi Aset, Investasi Jangka Panjang Pemerintah merupakan akun yang paling dominan nilainya dibandingkan de-ngan akun lainnya di sisi Aset.Selanjut-nya PMN pada BUMN merupakan

akun yang paling besar nilainya pada akun Investasi Jangka Panjang. Hal ini menunjukkan bahwa Peme-rintah mempunyai kepentingan tertentu atas BUMN khususnya dalam hal memenuhi kewajiban utama Pemerintah sebagaimana disebutkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.

Peran BuMn dalaM

PerekonoMIan nasIonal

Dalam Undang-Undang nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) disebutkan bahwa BUMN memiliki peranan penting dalam penyelenggaraan per -ekonomian nasional guna me wujud-kan kesejahteraan masyarakat. Peran dimaksud diwujudkan dalam bentuk kontribusi BUMN berupa dividen dan pajak yang disetorkan kepada keuangan negara atau bisa juga dalam bentuk belanja modal atau investasi (Capital Expenditure/Capex) dan belanja operasional (Operational Expenditure/Opex).Namun peran BUMN secara luas telah disebutkan dalam Pasal 2 dari UU nomor 19/2003 bahwa maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah :

1. memberikan sumbangan bagi per kembangan perekonomian nasional pada umumnya dan pe-ne rimaan pe-negara pada khusus nya; 2. mengejar keuntungan;

3. menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan ba-rang dan/atau jasa yang ber-mutu tinggi dan memadai bagi pe menuh an hajat hidup orang banyak;

4. menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dil aksana kan oleh sektor swasta dan koperasi;

5. turut aktif memberikan bim-bingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat.

Tabel 1. Neraca Pemerintah Pusat

Per 31/12/2015, 31/12/2014, dan 31/12/2013

(Dalam triliun rupiah)

URAIAN 2015 2014 2013

ASet

Aset Lancar 326.76 263.41 252.88

Investasi Jangka Panjang 2,223.80 1,309.92 1,183.17

Investasi Non Permanen 29.72 30.91 26.17

Investasi Permanen BLU 0.01 0.20 0.18

Investasi Permanen Lainnya 393.13 338.62 312.73 Investasi Permanen PMN 1,800.94 940.19 844.09 Aset Tetap 1,852.05 1,714.59 1,709.86 Aset Lainnya 760.72 623.01 421.68 Jumlah Aset 5,163.32 3,910.92 3,567.59 Kewajiban 3,493.53 2,898.38 2,652.10 Ekuitas 1,669.79 1,012.54 915.49

JUmlAh KewAJIbAN dAN eKUItAS 5,163.32 3,910.92 3,567.59

(12)

U

T

A

M

A

Dengan demikian, secara legal formal Pemerintah dapat meng-optimalkan peran BUMN pada pengembangan ekonomi nasional termasuk dalam pembiayaan infra-struktur publik dengan mem perhati-kan aspek korporasi dari BUMN. Hal ini sudah diatur dalam Pasal 66 dari UU tentang BUMN dimaksud. Pada dasarnya pasal dimaksud mengatur penugasan Pemerintah kepada BUMN yang dapat menimbulkan kerugian secara finansial bagi BUMN. Oleh karena itu diperlukan kajian finansial atas penugasan Pemerintah dimana bila hasil kajian finansial menyatakan bahwa proyek penugasan tidak fisibel, maka pemerintah harus memberikan kompensasi atas semua biaya yang telah dikeluarkan oleh BUMN yang menerima penugasan dan termasuk juga margin yang diharapkan.

strategI PeMBIayaan

Infrastruktur nasIonal

Pada dasarnya penyediaan infra-struktur publik yang dapat diakses oleh masyarakat secara luas merupa-kan kewajiban Pemerintah. Sehingga apapun skema / mekanisme pem-biayaan yang digunakan dalam penyediaan infrastruktur publik, Pemerintah seharusnya tetap meme-gang peranan yang paling dominan. Sejak krisis keuangan melanda ASEAN dan termasuk juga Republik Indonesia pada tahun 1997-1998, penyediaan infrastruktur publik meng alami perlambatan sehingga mem berikan dampak negatif pada pertumbuhan ekonomi. Salah satu masalah utama terhambatnya penye-dia an infrastruktur publik di maksud adalah karena keterbatasan pen-danaan Pemerintah (APBN). Hal ter-sebut mendorong Pemerintah untuk menyusun beberapa strategi pem-biayaan infrastruktur yang dapat melibatkan secara lebih intensif dari para pemangku kepentingan

seperti swasta, BUMN – BUMD, dan Pemerintah Daerah.

Setelah tujuh puluh satu (71) tahun berjalannya Pemerintahan Republik Indonesia dan mengalami berbagai macam kondisi perekonomian, skema pembiayaan infrastruktur publik mengalami perkembangan. Secara umum skema dimaksud dapat dibedakan menjadi empat (4) kelom-pok yaitu (1) pembiayaan secara utuh oleh Pemerintah, (2) melibatkan BUMN/BUMD dalam penyediaan infra-struktur namun pembiayaan tetap ditanggung oleh Pemerintah secara utuh, (3) melibatkan swasta dalam hal pembangunan dan pencarian sumber dana (dikenal dengan sebutan Kerjasama Pemerintah dan Swasta), dan (4) memberikan penugasan

kepada BUMN/BUMD untuk mem-bangun dan mencari sumber pem-biayaan.

Elaborasi lebih lanjut atas strategi pembiayaan infrastruktur publik di-maksud adalah sebagai berikut :

1. melakukan pembangunan infra­ struktur dengan meng guna kan APbN

Sudah menjadi kewajiban Pemerintah untuk menyediakan infra struktur dasar bagi masyarakat. Hal ini dilakukan di seluruh negara ter masuk Republik Indonesia. Dalam hal ini, perencanaan, pencarian sumber pendanaan, konstruksi dan pemantauan hasil konstruksi dilakukan secara dominan oleh Pemerintah. Sumber pembiayaan untuk penyediaan infrastruktur

ber-Tabel 2. BUMN Infrastruktur Dan Kepemilikan Negara

(Dalam jutaan rupiah)

No badan Usaha milik Negara

Kepemilikan Negara dalam % dalam

Nominal

1 PT Yodya Karya (Persero) 100 64.614,1 2 PT Adhi Karya (Persero) Tbk 51 2.628.451,9 3 PT Amarta Karya (Persero) 100 204.064,9 4 PT Brantas Abipraya (Persero) 100 664.245,4 5 PT Waskita Karya (Persero) Tbk 66 6.307.765,8 6 PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 65 2.846.044,6 7 PT Hutama Karya (Persero) 100 5.254.028,3 8 PT Pembangunan Perumahan

(Persero) Tbk 51 2.234.757,2 9 Perum Perumnas 100 2.224.187,2 10 PT Istaka Karya (Persero) 100 135.467,7

11 PT Perusahaan Listrik Negara

(Persero) 100 793.210.143,0 12 PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) 100 3.638.576,6 13 PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) 100 10.818.770,7 14 PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) 100 6.558.880,4 15 PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) 100 5.263.576,5 16 PT Angkasa Pura I (Persero) 100 11.027.271,3 17 PT Angkasa Pura II (Persero) 100 16.235.767,9 18 PT Kereta Api Indonesia (Persero) 100 8.990.209,8 19 PT Pertamina (Persero) 100 265.997.300,6 Sumber: Kementerian BUMN

(13)

U

T

A

M

A

asal dari penerimaan negara dari dalam negeri, bantuan dari luar negeri dan pinjaman luar negeri. Pelaksanaan penyediaan infrastruktur publik de-ngan pembiayaan penuh dari APBN dilakukan oleh Kementerian / Lembaga terkait. Mengingat dana yang di-guna kan adalah dana masyarakat maka pelaksanaan pem bangunan infra struktur mem butuh kan izin dari Lembaga Legislatif (Dewan Perwakilan Rakyat). Secara umum, prosesnya mencakup penyusunan perencanaan proyek antara Unit Perencanaan (dhi. Bappenas) dan Kementerian/ Lem baga terkait, kemudian bila Unit Pengelola Keuangan Negara (dhi. Kementerian Keuangan) menyata kan bahwa keuangan negara men cu kupi maka rencana proyek akan di ajukan ke DPR untuk mendapatkan per-setujuan, terakhir dengan ber bekal izin dimaksud dilakukan realisasi pem-bangunan infrastruktur. Secara berkala proyek dimaksud akan dilaku kan audit oleh lembaga yang ber wenang ( dhi. Inspektorat Jenderal dari Kementerian terkait, Badan Peng awasan Keuangan dan Pem bangunan / BPKP dan Badan Pemeriksa Keuangan / BPK).

2. melalui bUmN/bUmd

Selain dari cara pertama, Pemerintah juga membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk penyediaan infrastruktur dan penyediaan jasa bagi masyarakat.

Ada beberapa BUMN/BUMD yang dibentuk pada masa Pemerintahan Republik Indonesia dan ada juga yang merupakan hasil nasionalisasi dari perusahaan yang dibentuk pada masa pen jajahan Belanda. Diantaranya ter-dapat BUMN yang bergerak di sektor infrastruktur termasuk konstruksi.

Berdasarkan catatan di Ke-menterian BUMN, sampai dengan akhir Desember 2015, BUMN yang masuk dalam kategori BUMN infra-struktur berjumlah sembilan belas (19). BUMN dimaksud dan data atas ke pemilikan Pemerintah adalah se-bagaimana tersebut dalam tabel 2. BUMN infrastruktur dimaksud men-cakup beberapa sektor yaitu sektor konsultasi teknik konstruksi, sektor konstruksi baik darat maupun air, kelistrikan, transportasi dan energi.

Dalam hal ini, BUMN hanya menerima permintaan untuk mem-bangun infrastruktur dari Pemerintah dengan biaya yang akan ditang-gung secara penuh oleh APBN. Skema penyediaan infrastruktur de ngan cara ini pun dapat berupa pe ngelolaan sebuah infrastruktur seperti pengelolaan jasa transportasi, pen didikan, kesehatan dan lain sebagainya.

Selain itu terdapat BUMN yang didedikasikan untuk memberikan dukungan atas penyediaan infra-struktur dari sisi pembiayaan. BUMN dimaksud adalah sebagaimana tersebut dalam tabel 3.

3. mengoptimalkan keterlibatan swasta dalam skema KPbU

Kebijakan Pemerintah untuk me-maksimalkan sektor masyarakat (swasta) dalam pembiayaan pem-bangunan sudah dinyatakan dalam Nota Keuangan dan APBN Tahun 1990/1991 khususnya pada bagian yang membahas tentang Rancangan APBN 1990/1991. Dengan perkembangan waktu, kebijakan dimaksud semakin disempurnakan sehingga pada Tahun 2005, Pemerintah memperkenalkan Kebijakan tentang penggunaan skema Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) dalam pembangunan infrastruktur.

Pada tahun 2011, Deputi Bi-dang Sarana dan Prasarana dari Bappenas menyatakan dalam salah satu tulisannya yang berjudul Pem-biayaan Infrastruktur Melalui Dana Pemerintah Dan Swasta, bahwa de-ngan adanya gap antara kebutuhan infra struktur dan ketersediaan APBN maka pengembangan proyek KPS men jadi alternatif solusi. Dalam hal ini Pemerintah telah membentuk be berapa unit yang diharapkan dapat mendorong pengembangan proyek-proyek KPS diantaranya adalah Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrsatruktur (KKPPI) yang dibentuk dengan Peraturan Presiden nomor 42 tahun 2005, Public Private Partnership Central Unit (P3CU) di bawah Bappenas, Direktorat Penge-lolaan Dukungan Pemerintah dan Pem biayaan Infrastruktur di bawah Ke menterian Keuangan dan terakhir adalah Komite Percepatan Penyediaan Infra struktur Prioritas (KPPIP) dibawah Ke menterian Bidang Perekonomian.

4. Penugasan bUmN untuk me­ nyedia kan infrastruktur

Pada umumnya, skema penyediaan infrastruktur publik dengan cara menugaskan BUMN dilakukan dalam rangka percepatan pembangunan

Tabel 3. BUMN Pendukung Pembiayaan Untuk Infrastruktur

(Dalam jutaan rupiah)

No Badan Usaha Milik Negara

Kepemilikan Negara

Dalam % Dalam

Nominal

1 PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) 100 25.432.675 2 PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia

(Persero) 100 7.287.113

3 PT. Sarana Multigriya Finansial (Persero) 100 5.212.329 Sumber: Kementerian Keuangan

(14)

U

T

A

M

A

atau dalam rangka memastikan jalannya proses penyediaan suatu infra struktur atau dalam rangka tujuan lainnya. Hal yang ingin dicapai biasanya akan disebutkan dalam regulasi yang mengatur tentang penugasan dimaksud. Beberapa contoh penugasan tersebut adalah pe nugasan pada :

• PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Untuk Melakukan Per-cepatan Pembangunan Pem-bangkit Tenaga Listrik Yang Menggunakan Batubara (Pera-turan Presiden Nomor 71 Tahun 2006),

• PT Waskita Karya untuk Per­ cepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan/Light Rail Transit Di Provinsi Sumatera Selatan (Per-aturan Presiden nomor 116 Tahun 2015).

Selain itu, penugasan dimaksud dapat ditujukan pada sebuah kon-sorsium BUMN seperti penugasan untuk Percepatan Penyelenggaraan Prasarana Dan Sarana Kereta Cepat Antara Jakarta Dan Bandung sebagai-mana tersebut dalam Peraturan

Presiden nomor 107 Tahun 2015. Pada Perpres terkait disebutkan konsorsium yang ditugaskan terdiri dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk; PT Kereta Api Indonesia (Persero); PT Jasa Marga (Persero) Tbk; dan PT Perkebunan Nusantara VIII.

Pada saat ini Pemerintah telah menyusun daftar proyek infrastruktur dan diterbitkan dalam Peraturan Presiden nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN). Dalam hal ini, KPPIP telah mengklasifikasikan skema pembiayaan dari PSN dimaksud

Tabel 4. Daftar Proyek Infrastruktur Dengan Penugasan Pada BUMN

(Dalam miliar rupiah)

No badan Usaha milik Negara Nama Proyek total Nilai Proyek

1 PT Adhi Karya Tbk Kereta api ringan (LRT) Jabodetabek 20,600.0 2 PT Waskita Karya Tbk Kereta api ringan (LRT) Sumatera Selatan (Metro Palembang) 12,500.0 3 PT Wijaya Karya Tbk Kereta Cepat Jakarta dan Bandung 77,000.0 4 PT Hutama Karya Jalan Tol Trans Sumatera 81,140.0 5 PT Perusahaan Listrik Negara Program Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan

2015-2019 (Proyek 35.000 MW) 1,035,918.0 6 PT Pelabuhan Indonesia II Pelabuhan Sorong, Kalibaru dan Kijing 19,448.0 7 PT Pelabuhan Indonesia III Pengembangan Pelabuhan Kupang 589.0 8 PT Pelabuhan Indonesia IV Makassar New Port 1,280.0 9 PT Angkasa Pura I Bandara di Yogyakarta dan Semarang 11,000.0 10 PT Angkasa Pura II Pengembangan Bandar Udara Soekarno Hatta, Jakarta

(Ter-masuk Terminal 3) 4,700.0 11 PT Kereta Api Indonesia Jabodetabek Circular Line 9,000.0

totAl 1,747,850.2

Sumber: KPPIP, diolah

dimana proyek infrastruktur yang akan dibiayai melalui skema pe-nugasan kepada BUMN adalah sebagai berikut:

Dari daftar tersebut, hanya dua proyek yang akan mendapatkan Dukungan dan /atau Jaminan Pe-merintah, yaitu proyek Jalan Tol Trans Sumatera dan Program Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan (PIK).

kesIMPulan

Pemerintah Pusat telah meletakkan investasi yang sangat besar pada BUMN sehingga sisi aset pada neraca Pemerintah Pusat didominasi oleh Investasi pada BUMN. Dengan de-mikian adalah sangat wajar apabila Pemerintah memaksimalkan peran BUMN dalam menggerakkan perekonomian nasional termasuk diantaranya dalam hal pembiayaan untuk penyediaan infrastruktur. Salah satu bentuk dari memaksimalkan peran BUMN adalah dengan mem-beri kan penugasan dalam penyedia-an infrastruktur. Dalam hal ini Pe merintah Pusat memberikan Du-kung an dan Jaminan Pemerintah. n

dari daftar

tersebut, hanya

dua proyek

yang akan

mendapatkan

dukungan dan /

atau jaminan

Pemerintah.

(15)

U

T

A

M

A

Pemanfaatan Dana Repatriasi

Tax Amnesty Oleh BUMN

di Sektor Infrastruktur

Oleh: Oscar Aries Dwina Aji Sayoga

Kepala Seksi Penugasan Non- PSO dan Investasi pada BUMN, DJPPR. Email: [email protected]

Pendahuluan

Program Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) telah dilaksanakan oleh Pemerintah sejak 1 Juli 2016 dan akan berakhir pada 31 Maret 2017. Dana repatriasi yang masuk mencapai se-kitar Rp137 triliun pada periode I (Di-rektorat Jenderal Pajak, 2016). Pro-gram Pengampunan Pajak menjadi peluang untuk meningkatkan kapa-sitas pembiayaan di sektor infrastruk-tur, khususnya untuk proyek-proyek yang dilaksanakan oleh BUMN, ter-masuk BUMN-BUMN yang mempero-leh penugasan untuk pembangunan infrastruktur.

Dari sisi kebutuhan pendanaan, berdasarkan data RPJMN 2015-2019, indikatif kebutuhan pembiayaan in-frastruktur adalah sekitar Rp4.796,2 triliun dimana konektivitas, ketena-galistrikan, komunikasi, air minum dan perumahan menjadi sektor-sektor yang diprioritaskan untuk dibangun. Kebutuhan investasi tersebut akan dipenuhi melalui pendanaan APBN, APBD, BUMN maupun Swasta. BUMN

sebagai salah satu pilar pembangun-an diharapkpembangun-an dapat memenuhi ke-butuhan pembiayaan infrastruktur tersebut sebesar 22% atau sekitar Rp1.066,2 triliun. Oleh karena itu, BUMN dengan memanfaatkan mo-mentum Tax Amnesty dapat mem-persiapkan instrumen untuk tapping

dana repatriasi Tax Amnesty.

regulasI terkaIt

rePatrIasI ta

Kementerian Keuangan telah me-netapkan Peraturan Menteri Keu-angan (PMK) Nomor 150 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas PMK Nomor 119 tahun 2016 tentang Tata Cara Pengalihan Harta Wajib Pajak ke Dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Penempatan Pada Instrumen Investasi di Pasar Ke-uangan Dalam Rangka Pengampun-an Pajak dPengampun-an PMK Nomor 151 tahun 2016 tentang Perubahan atas PMK Nomor 122 tahun 2016 tentang Tata Cara Pengalihan Harta Wajib Pajak ke Dalam Wilayah Negara Kesatuan

Republik Indonesia dan Penempatan Pada Investasi di Luar Pasar Keuangan Dalam Rangka Pengampunan Pajak.

gateWay rePatrIasI ta

Dalam rangka pelaksanaan program TA, Menteri Keuangan juga telah menetapkan pintu masuk (gateway) repatriasi harta wajib pajak. Terdapat 55 perusahaan yang telah ditunjuk sebagai gateway, yang terdiri dari 18 Bank, 18 Manajer Investasi dan 19 Per-antara Pedagang Efek. Selanjutnya,

gateway tersebut akan memfasilitasi wajib pajak yang telah melakukan re-patriasi harta ke wilayah NKRI untuk penempatan investasinya di dalam negeri, baik di instrumen investasi pasar keuangan maupun di luar pa-sar keuangan sebagaimana diatur tata caranya dalam PMK sebagaimana dimaksud di atas.

Sementara itu, BUMN selaku pi-hak yang akan menerbitkan instru-men-instrumen investasi (misalnya Surat Utang) untuk memperoleh pendanaan dan bermaksud menyerap dana yang bersumber dari investor pemilik dana repatriasi, maka dapat dilakukan dengan menunjuk under-writer atau arranger dari perusahaan sekuritas yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan sebagai gateway dalam rangka repatriasi TA. Selain itu, mela-lui underwriter atau arranger tersebut menawarkan instrumen-instrumen

Sektor Infrastruktur APbN & APbd bUmN Swasta total IdR

Konektivitas 1.003 379,2 445 1.827,2 Ketenagalistrikan 124,3 596,5 786,5 1.507,3 Komunikasi,

Air Minum, dan Perumahan

851,3 90,5 519,9 1.461,7

total 1.987,6 1.066,2 1.751,4 4.796,2

(16)

U

T

A

M

A

tersebut kepada daftar target inves-tornya termasuk perbankan, Manajer Investasi (MI), maupun Perantara Pe-dagang Efek (PPE) yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan selaku gateway.

Selanjutnya, MI maupun PPE yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan sebagai gateway akan memfasilitasi pemilik dana repatriasi TA yang ter-tarik untuk menempatkan dananya pada instrumen investasi yang diter-bitkan oleh BUMN tersebut. Untuk MI, dokumen perjanjian investasi akan dituangkan melalui Kontrak Investasi Kolektif (KIK) atau Kontrak Pengelolaan Dana (KPD). Sedangkan untuk PPE, akan dituangkan dalam Perjanjian Pembukaan Rekening Efek Nasabah.

Skema Pengelolaan Dana Repat-riasi yang dilakukan oleh gateway

Manajer Investasi (MI) melalui KPD dan KIK lihat gambar 1

InstruMen InvestasI

Instrumen-instrumen investasi yang dapat ditawarkan oleh BUMN di sek-tor infrastruktur untuk

memanfaat-kan dana repatriasi TA adalah sebagai berikut:

1) Surat Utang, yang terdiri dari ob-ligasi melalui Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) maupun Me-dium Term Note (MTN) yang dila-kukan melalui mekanisme private placement/penawaran terbatas; 2) Saham;

3) Efek Beragun Aset (EBA); dan 4) Reksadana termasuk Reksa Dana

Penyertaan Terbatas (RDPT).

1. Surat Utang bUmN

Salah satu instrumen yang dapat di-siapkan oleh BUMN untuk menam-pung dana repatriasi adalah melalui penerbitan Surat Utang baik berupa

Medium Term Note (MTN) maupun Obligasi Berkelanjutan. Namun, di-perlukan kehati-hatian dalam proses penerbitan instrumen tersebut, yaitu dengan memperhatikan kapasitas le-verage dan debt service ratio dari ma-sing-masing BUMN penerbit. Berda-sarkan hasil kajian KPPIP tahun 2016 terhadap 14 BUMN di sektor infra-struktur (Adhi Karya, Hutama Karya,

Pembangunan Perumahan, Waskita Karya, Wijaya Karya, Jasa Marga, Ang-kasa Pura I dan 2, Pelindo 1, 2 dan 3, PT KAI, Pertamina dan PT PLN), dengan menggunakan data laporan keuang-an BUMN tahun 2015, potensi atau ka-pasitas BUMN dalam menyerap dana repatriasi melalui penerbitan Surat Utang baru (New Issuance Capacity) adalah sebesar Rp288 triliun. Nilai tersebut dihitung berdasarkan sisa le-verage (debt to equity ratio maksimal 4 dan debt to EBITDA ratio maksimal 6. Apabila terdapat financial covenant maka menggunakan batasan financi-al covenant yang berlaku bagi BUMN yang bersangkutan. Namun, kapasitas BUMN tersebut dapat turun jika Debt Service Coverage Ratio (DSCR) BUMN tersebut melebihi batas aman yang dipersyaratkan serta belum memper-hitungkan dampak revaluasi aset di tahun 2016.

Selain BUMN-BUMN tersebut, BUMN yang berada di bawah Kemen-terian Keuangan, yaitu PT Sarana Multi Infrastruktur, PT Penjaminan Infrastruk-tur Indonesia, PT Sarana Multigriya

Fi-Sumber: Kementerian BUMN

(17)

U

T

A

M

A

nansial, maupun Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia juga dapat meman-faatkan dana repatriasi melalui pener-bitan Surat Utang maupun Reksadana Penyertaan Terbatas (RDPT). PT SMI berniat untuk melakukan penawaran umum obligasi berkelanjutan dengan nilai sebanyak-banyaknya Rp30 triliun dimana untuk tahap awal, PT SMI akan menerbitkan sebanyak Rp5 triliun pada bulan November 2016.

2. efek beragun Aset (ebA)

EBA merupakan efek yang diterbit-kan oleh Kontrak Investasi Kolektif (KIK) EBA yang portofolionya terdiri dari aset keuangan berupa tagihan yang timbul dari surat berharga ko-mersial, tagihan kartu kredit, tagihan yang timbul di kemudian hari ( futu-re futu-receivables), pemberian kredit ter-masuk kredit pemilikan rumah atau apartemen, Efek bersifat utang yang dijamin oleh Pemerintah, Sarana Pe-ningkatan Kredit (Credit

Enhance-ment)/Arus Kas (Cash Flow), serta aset keuangan setara dan aset keuangan lain yang berkaitan dengan aset ke-uangan tersebut.

Dasar hukum penerbitan EBA ada-lah Peraturan Kepala Bapepam Nomor IX.K.1 tentang Pedoman Kontrak Inves-tasi Kolektif Efek Beragun Aset.

Sejauh ini proses sekuritisasi te-lah dilakukan di sektor perumahan, dimana yang bertindak selaku origi-nator adalah Bank BTN yang melaku-kan sekuritisasi atas tagihan KPR nya. Pada bulan Agustus 2016, Bank Man-diri juga melakukan sekuritisasi aset senilai Rp500 miliar melalui skema EBA Surat Partisipasi dimana PT SMF bertindak sebagai penerbit.

Sementara untuk BUMN di sektor infrastruktur yang memiliki potensi

future cash flows yang besar yang da-pat dijadikan sebagai underlying asset

dalam proses sekuritisasi diantaranya adalah PT PLN, PT Jasa Marga, Pelindo dan Angkasa Pura.

Skema Sekuritisasi Aset yang te-lah berjalan selama ini lihat gambar 2. Namun demikian, masih perlu dikaji lebih lanjut mengenai aspek kerangka hukum sekuritisasi dengan

originator adalah BUMN di sektor infrastruktur. Perlu juga dikaji me-ngenai future cash flows BUMN yang memenuhi persyaratan baik dari as-pek legal maupun akuntansi untuk dapat dijadikan sebagai underlying asset dari instrumen EBA. Selain itu, untuk menarik minat investor pemilik dana repatriasi, maka perlu juga di-persiapkan credit enhancement dalam bentuk Penjaminan Pemerintah un-tuk meningkatkan kualitas dari futu-re cash flow yang akan disekuritisasi. Saat ini, belum terdapat regulasi yang mengatur terkait Penjaminan Peme-rintah untuk EBA.

3. Saham

Untuk instrumen saham, dapat dila-kukan melalui mekanisme penawaran

Gambar 2: Skema Sekuritisasi Aset

(18)

U

T

A

M

A

2. Reksa Dana Pendapatan Tetap

(fixed income fund)

Merupakan jenis reksa dana dimana investasi dilakukan mi-nimum 80% pada Efek bersifat utang.

3. Reksa Dana Saham (equity fund) Merupakan jenis reksa dana dimana investasi dilakukan mi-nimum 80% pada Efek bersifat ekuitas.

4. Reksa Dana Campuran (balance fund)

Investasi pada Efek bersifat utang dan Efek bersifat ekuitas. Sedangkan RDPT adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari pemodal profesional yang selanjutnya diinvestasikan oleh Mana-jer Investasi pada Portofolio Efek yang berbasis Kegiatan Sektor Riil. RDPT dapat berbasis saham (penyertaan modal) maupun efek bersifat utang. Contoh skema RDPT di Indonesia se-bagai berikut:

reksa dana maupun reksa dana pe-nyertaan terbatas (RDPT). Reksa Dana adalah wadah yang dipergu-nakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjut-nya diinvestasikan dalam Portofolio Efek oleh Manajer Investasi. Reksa Dana yang ada saat ini diterbitkan dalam bentuk Kontrak Investasi Ko-lektif (KIK). KIK adalah kontrak an-tara Manajer Investasi (MI) dan Bank Kustodian (BK) yang mengikat pe-megang Unit Penyertaan dimana MI diberi wewenang untuk mengelola portofolio investasi kolektif dan BK diberi wewenang untuk melaksana-kan penitipan kolektif. Berdasarmelaksana-kan komposisi aset terdapat beberapa macam reksa dana yaitu:

1. Reksa Dana Pasar Uang (money market fund)

Merupakan jenis reksa dana di-mana investasi dilakukan 100% pada efek bersifat utang dengan jatuh tempo < 1 tahun.

saham perdana maupun penawaran saham terbatas (right issue). Pena-waran saham perdana merupakan penyertaan modal yang dimasukkan oleh subjek hukum (individu, perusa-haan dll) ke dalam suatu BUMN yang berbentuk Perseroan Terbatas. Se-dangkan right issue merupakan hak yang melekat pada saham yang me-mungkinkan para pemegang saham yang ada untuk membeli efek baru, termasuk saham, efek yang dapat dikonversikan menjadi saham dan waran (hak opsi membeli), sebelum ditawarkan pada pihak lain. Perusaha-an/BUMN yang melakukan right issue

merupakan perusahaan/BUMN yang sudah tercatat di bursa saham.

4. Reksadana termasuk Reksa dana Penyertaan terbatas (RdPt)

Selain melalui instrumen Surat Utang, pilihan instrumen investasi yang da-pat ditawarkan oleh BUMN kepada pemilik dana repatriasi TA adalah

Sumber: PT Sarana Multi Infrastruktur *Ekuitas bukan dari Perusahaan Terbuka ** Surat utang yang tidak melalui

(19)

U

T

A

M

A

Proyek­proyek Infrastruktur yang ditugaskan kepada bUmN dan Po­ tensial untuk memanfaatkan dana repatriasi tax Amnesty

Proyek-proyek prioritas Peme-rintah yang dilaksanakan oleh BUMN yang sangat potensial untuk me-manfaat kan dana repatriasi baik de-ngan menerbitkan berbagai instru-men investasi (misalnya Surat Utang maupun RDPT) sebagai sumber pen -dana an nya. Proyek-proyek ter sebut juga merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) se ba gai mana tertuang di dalam lampiran Per aturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 adalah sebagai berikut:

1. Proyek Pembangunan Jalan tol trans Sumatera (ttS)

Proyek TTS membutuhkan inves-tasi sekitar Rp81,2 triliun dimana por-si kebutuhan ekuitas sebesar Rp52,64 triliun dari total kebutuhan investasi. Untuk tahap I, terdapat 8 (delapan) ruas jalan tol yang akan dibangun, yaitu:

Untuk memenuhi kebutuhan ekuitas PT Hutama Karya sebesar Rp38,6 triliun dalam periode 2017-2019 bagi pembangunan TTS, PT HK berencana akan menerbitkan obligasi dan MTN, termasuk obligasi JORR S senilai Rp6,5 triliun.

2. lRt Jabodetabek

BUMN yang memperoleh penu-gasan adalah PT Adhi Karya (Persero) berdasarkan Perpres 98 tahun 2015

tentang Percepatan Penyelenggara-an Kereta Api RingPenyelenggara-an Terintergasi di Wilayah Jabodetabek dengan rute Ja-lur Bekasi Timur – Cawang – Cibubur – Dukuh Atas. Kebutuhan pendanaan diperlukan untuk kredit modal ker-ja yang diperkirakan sebesar Rp23,8 triliun.

3. lRt Sumatera Selatan

BUMN yang memperoleh penu-gasan adalah PT. Waskita Karya (Per-sero) berdasarkan Perpres 116 tahun 2015 tentang Percepatan Penyeleng-gara Kereta Api Ringan Terintergasi di Provinsi Sumatera Selatan. Penugas-annya adalah untuk pembangunan prasarana kereta api ringan terinte-grasi secara bertahap di Provinsi Su-matera Selatan. Kebutuhan

penda-naan diperlukan untuk kredit modal kerja yang diperkirakan sebesar Rp7 triliun.

4. Program listrik 35.000 mw

Dasar hukum penugasan kepada PT PLN adalah Perpres 4 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan. Ke-butuhan pendanaan diperlukan un-tuk porsi ekuitas dan pinjaman PT PLN (Persero) sebesar Rp325 triliun.

PenutuP

Program Pengampunan Pajak me-rupakan peluang bagi pemerintah untuk meningkatkan kapasitas pem-biayaan di sektor infrastruktur, khu-susnya untuk proyek-proyek yang dilaksanakan oleh BUMN, khususnya yang memperoleh penugasan untuk pembangunan infrastruktur. BUMN infrastruktur dapat memanfaatkan dana repatriasi tax amnesty dengan cara menerbitkan berbagai instrumen investasi seperti surat utang, saham, EBA, dan reksadana. Proyek-proyek infrastruktur prioritas Pemerintah yang memerlukan suntikan pendana-an pendana-antara lain Proyek Pembpendana-angunpendana-an Jalan Tol Trans Sumatera (TTS), LRT Jabodetabek, LRT Sumatera Selatan, dan Program Listrik 35.000 MW. n

No Nama Ruas Panjang

(Km) (milyar Rp)Investasi 1. Medan-Binjai 17 1.604 2. Palembang-Inderalaya 22 3.301 3. Bakauheni –T. Besar 140 16.795 4. Pekanbaru-Dumai 130 16.210 5. T. Besar-P. Panggang 100 11.907 6. P. Panggang-Kayu Agung 85 10.085 7. Palembang-Tj. Api-api 90 14.289 8. Kisaran-Tebing Tinggi 60 6.991 Sumber: PT Hutama Karya

referensI

1. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 150 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas PMK Nomor 119 tahun 2016 tentang Tata Cara Pengalihan Harta Wajib Pajak ke Dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Penempatan Pada Instrumen Investasi di Pasar Keuangan Dalam Rangka Pengampunan Pajak.

2. PMK Nomor 151 tahun 2016 tentang Perubahan atas PMK Nomor 122 tahun 2016 tentang Tata Cara Pengalihan Harta Wajib Pajak ke Dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Penempatan Pada Investasi di Luar Pasar Keuangan Dalam Rangka Pengampunan Pajak 3. Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas. “Kapasitas

Fi-nansial BUMN”. Jakarta. Oktober 2016.

4. Peraturan Kepala Bapepam Nomor IX.K.1 tentang Pedoman Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset.

Gambar

Tabel 1.  Neraca Pemerintah Pusat
Tabel 2. BUMN Infrastruktur Dan Kepemilikan Negara (Dalam jutaan rupiah)
Tabel 4. Daftar Proyek Infrastruktur Dengan Penugasan Pada BUMN (Dalam miliar rupiah)
Gambar 1: Skema Pengelolaan Dana Repatriasi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari analisis data dapat dilihat bahwa: Pertama, pajak daerah Cimahi berpotensi terus digali dalam rangka meningkatkan pendapatan daerah, adanya pendapatan pajak

Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah Pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ditambahn dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak karena PPh dalam

Pembayaran PPh Pasal 25 yaitu pembayaran Pajak Penghasilan secara angsuran. Hal ini dimaksudkan untuk meringankan beban Wajib Pajak dalam melunasi pajak yang terutang

(1) Pajak Penghasilan yang terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (4) Undang-undang. Pajak Penghasilan harus dibayar lunas paling lambat tanggal dua puluh lima bulan

Pajak Penghasilan Badan Terutang dihitung menggunakan tarif yang telah ditentukan berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan dan

(1) Pelunasan Pajak Penghasilan yang terutang atas penghasilan dari perjanjian pengikatan jual beli atas tanah dan/atau bangunan beserta perubahannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal

Melalui website resmi yang dibuat khusus oleh pemerintah dalam hal ini Kementrian Keuangan tentang Amnesti Pajak, Pengampunan Pajak adalah program pengampunan

Melalui website resmi yang dibuat khusus oleh pemerintah dalam hal ini Kementrian Keuangan tentang Amnesti Pajak, Pengampunan Pajak adalah program pengampunan