M E T O D O L O G I
Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2004 sampai September 2006 di Kabupaten Gresik Jawa Timur yang berada pada posisi antara 6o 49’ - 7o 05’ Lintang Selatan dan 112o 29’ - 112o 40’ Bujur Timur. Lokasi penelitian ini adalah wilayah pesisir kawasan pertambakan di Kecamatan Ujung Pangkah, Sidayu dan Bungah Kabupaten Gresik. Kawasan pertambakan tersebut berada mulai dari garis pantai hingga 4 km ke arah darat (berdasarkan salah satu kriteria kesesuaian budidaya tambak) (Gambar 6). Di daerah penelitian sebagian besar didominasi oleh tambak dan kemudian diikuti oleh tanah tegalan, sawah, hutan dan permukiman. Selain itu, daerah penelitian ini termasuk di daerah hilir Sungai Bengawan Solo. Keberadaan sungai tersebut merupakan potensi sebagai sumber air tawar utama bagi budidaya tambak yang akan berfungsi menjaga salinitas air tambak yang sesuai dengan kebutuhan budidaya tersebut dan sekaligus rawan terhadap pencemaran limbah dari luar maupun dalam wilayah studi. Oleh karena itu, kondisi sungai tersebut merupakan salah satu bagian yang sangat penting untuk dikaji pada penelitian ini.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dibatasi pada kajian yang terkait dengan isu dan permasalahan utama yang ada di daerah penelitian, yaitu : produktivitas tambak rendah dan produksinya menurun. Fokus kajian permasalahan tersebut berkaitan dengan kesesuaian lahan, daya dukung lingkungan, optimalisasi dan pengelolaan kawasan pertambakan.
Metode Pengumpulan Data Data Primer.
Data primer yang dikumpulkan meliputi (1) data biogeofisik dan (2) data sosial ekonomi budaya, terutama usaha budidaya tambak.
Propinsi Jawa Timur Lokasi Studi Keterangan : Wilayah Laut Kabupaten Lamongan Kabupaten Gresik Pemukiman / Pekarangan
Sawah, 1 x / tahun rotasi dg palawija Sawah, 2 x / tahun rotasi dg palawija Tambak
Tambak, rotasi padi sawah Tegalan
Sungai
U
3 0 3 Kilometer
Sumber : Hasil Kompilasi dari
- Peta RBI Skala 1:25.000, Bakosurtanal 1999 - Citra Satelit Landsat ETM 2002
- Peta Vegetasi dan Pertanian Skala 1:50.000 Puslitanak Bogor 1995
- Hasil Survei 2004-2005
Gambar 5
Peta Lokasi Studi dan
Pengambilan Sampel
$ Z $ Z $ Z $ Z $ Z $ Z $ Z $ Z $ Z $ Z $ Z $ Z $ Z $ Z $ Z $ Z $ Z $ Z$Z B1 T3 B2 T4 L1 T1 T2 L2 B3 L3 T5 L4 T7 T6 B4 B5 T8 T9 B1 T3 B2 T4 L1 T1 T2 L2 B3 L3 T5 L4 T7 T6 B4 B5 T8 T9 7 °00' 7° 0 0' 6°50' 6° 5 0 ' 112°30' 112°30' 112°40' 112°40' 500170 500170 500180 500180 92 2 0 92 2 0 92 30 92 3 0 92 40 92 40Kecamatan Ujung Pangkah
Kecamatan Sidayu
Kecamatan Bungah
Lokasi Pengambilan Sampel $
Z
Penggunaan Lahan Batas Administrasi
Gambar 6 Peta Lokasi Studi dan
Pengambilan Contoh
Keterangan lokasi pengambilan kualitas air dan Tanah : L : Laut, T : Tambak B : Bengawan/Sungai LB : Logam berat, Tn : Tanah Lokasi pengamatan sampel
hidro-oseanografi: pasang surut, kecepatan arus, dan lereng pantai. LB1 B5, LB2,, & Tn7 Tn1 Tn2 Tn3 Tn4 Tn6 T10, Tn5 T11 Banyu Urip Sidayu Bungah Kecamatan Manyar Kecamatan Panceng
(1). Data biogeofisik. Data biogeofisik meliputi : (1) hidro-oseanografi (a. pasang surut, b. arus pasut, dan c. lereng pantai), (2) sifat tanah, (3) kualitas air dan (4) keberadaan ekosistem mangrove. Pengamatan parameter hidro-oseanografi dilakukan di satu titik pengamatan, yaitu di perairan pesisir Kecamatan Ujung Pangkah (Gambar 6). Hidro-oseanografi diamati dengan menggunakan papan berskala, meteran, tali rafia, stopwatch, current meter, senter dan trimpot.
Sifat tanah dan lumpur dilakukan pada beberapa lokasi (lihat peta lokasi pengambilan contoh tanah pada Lampiran 3) masing-masing sebanyak 7 dan 6 titik lokasi. Penentuan lokasi pengamatan tersebut didasarkan pada data sekunder SPT (Satuan Peta Tanah) yang diterbitkan Puslitanak (1995). Parameter tanah dan lumpur yang diamati adalah pH, N, C, P, K, Na, Ca, dan Mg. Analisis tanah dan lumpur dilakukan di Laboratorium Tanah Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPN) Surabaya.
Kualitas air diamati di beberapa lokasi pengamatan (Gambar 6) dan dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan. Pengambilan sampel kualitas air tersebut didasarkan pada peta SPT karena hasil pengamatan kualitas air tersebut dipakai untuk evaluasi kesesuaian lahan pesisir yang juga didasarkan pada peta SPT.
Parameter kualitas air yang diamati meliputi : suhu, kecerahan, pH, salinitas, DO, BOD, padatan terlarut, amonia, nitrit dan nitrat. Beberapa parameter kualitas air tersebut diamati langsung di lapangan dan sebagian lainnya dianalisis di laboratorium. Secara lengkap parameter kualitas air dan peralatan yang digunakan disajikan pada Tabel 5. Analisis air dilakukan di Laboratorium Kimia Universitas Hang Tuah Surabaya.
Tabel 5 Beberapa parameter dan peralatan yang digunakan
No Parameter Alat Keterangan
1. Suhu(oC) Termometer Pengukuran langsung
2. Kecerahan (m) Secchi disk Pengukuran langsung
3. pH pH meter Pengukuran langsung
4. Salinitas (ppt) Refraktrometer Pengukuran langsung
5. Oksigen terlarut (ppm) DO meter / titrasi Pengukuran langsung
6. BOD (ppm) Botol sampel, BOD meter Laboratorium
7. Padatan terlarut (mg/l) Botol sampel dan Ice box Laboratorium
8. Amonia (ppm) Spektrofotometer Laboratorium
9. Nitrit (ppm) Spektrofotometer Laboratorium
Parameter logam berat dan bahan pencemar lain, seperti deterjen dan Organochlorin juga diamati pada dua lokasi, yaitu : di perbatasan perairan Kecamatan Bungah dan Kecamatan Manyar, dan perbatasan Sungai Bengawan Solo Kecamatan Bungah dan Kecamatan Manyar (di perbatasan perbedaan pemanfaatan lahan pesisir yang diduga sebagai sumber pencemar dari Industri). Parameter logam berat tersebut adalah Cu, Cd, Pb, Zn, Cr, Hg, dan Fe. Parameter logam berat dan bahan pencemar deterjen dan Organochlorin tersebut selanjutnya dianalisis di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Surabaya.
Pengamatan mangrove dilakukan melalui interpretasi citra satelit dengan software ER-Mapper dan pengamatan langsung di lapangan tentang keberadaan ekosistem tersebut. Selain itu, interpretasi dan pengamatan lapangan untuk daerah aberasi dan akresi juga dilakukan. Dari interpretasi tersebut, masing-masing obyek dapat ditentukan luasnya dengan menggunakan analisis citra satelit dan SIG (Sistem Informasi Geografik), yang dijelaskan pada sub-bab berikutnya.
(2). Keadaan sosial ekonomi budaya. Pengumpulan data keadaan sosial
ekonomi budaya masyarakat dilakukan melalui wawancara. Wawancara dilakukan dengan orang yang mewakili kondisi responden (petani tambak dan masyarakat) secara keseluruhan. Wawancara dimaksudkan untuk mendapatkan data tentang seluk beluk usaha budidaya tambak di daerah studi, antara lain : produksi tambak, sistem budidaya, biaya-biaya dan manfaat / keuntungan yang diperoleh oleh petani tambak. Selain itu, juga dilakukan penyebaran kuesioner yang dimaksudkan untuk mengetahui persepsi dan preferensi (keinginan) petani tambak dan masyarakat setempat terhadap pengelolaan wilayah pesisir kawasan pertambakan.
Pemilihan responden dilakukan dengan cara purposive sampling atau pemilihan secara sengaja dengan pertimbangan responden adalah aktor atau stakeholder, terutama petani tambak dan tokoh masyarakat yang mempengaruhi pengambilan kebijakan pemanfaatan ruang pesisir di kawasan pertambakan Kabupaten Gresik. Di daerah studi, kelompok masyarakat dan pengusahanya cenderung seragam, yaitu petani tambak dan nelayan. Untuk penelitian ini, pemilihan responden hanya pada petani tambak dan masyarakat (nelayan) yang terkait dengan pemanfaatan lahan pesisir untuk pertambakan. Petani tambak di daerah studi dibagi dua kelompok, yaitu petani tambak tradisional dan petani
tambak semi-intensif. Untuk responden yang mewakili kelompok petani tambak maupun masyarakat diambil dari tiga kecamatan (Ujung Pangkah, Sidayu dan Bungah).
Data Sekunder.
Data sekunder dikumpulkan melalui penelusuran berbagai laporan, pustaka, dan hasil survei yang ada dari berbagai instansi / lembaga terkait. Data sekunder ini pada dasarnya dikelompokkan menjadi dua bentuk, yaitu : data keruangan dalam bentuk peta dan data atribut / tabular dalam bentuk teks atau tabel.
Data peta yang dikumpulkan antara lain : peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) sekala 1 : 50.000, peta Topografi tahun 2000 bersekala 1:25.000 dari Bakosurtanal-Bogor, dan peta SPT (Satuan Peta Tanah) bersekala 1:50.000 untuk Kabupaten Gresik dari Puslitanak-Bogor.
Metode Analisis Data
Metode analisis data yang dipakai pada penelitian ini dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu : (1) analisis daya dukung, (2) pengembangan model optimalisasi pemanfaatan ruang pesisir untuk pertambakan, dan (3) analisis keberlanjutan usaha budidaya tambak.
Metode Analisis Daya Dukung
Dalam penilaian daya dukung kawasan pertambakan digunakan tiga metode analisis, yaitu: (1) analisis regresi polinomial, (2) analisis daya dukung yang mengacu pada kuantitas air di perairan; dan (3) analisis daya dukung lingkungan dengan sistem pembobotan.
(1). Metode analisis regresi polinomial. Metode analisis regresi polinomial pada penelitian ini dimaksudkan untuk memprediksi luas lahan pertambakan yang dapat didukung. Metode analisis regresi tersebut (Sudjana, 2005) adalah sebagai berikut :
Y = a + b X + c X2
Dengan ketentuan :
X : variabel peubah luas lahan tambak (Ha) Y : variabel produktivitas tambak (Ton / Ha)
Koefisien a, b, dan c ditentukan berdasarkan data yang diperoleh dan dihitung dengan persamaan berikut ini.
Penerapan metode regresi polinomial pada penelitian ini menggunakan Software Microsoft Excel.
Dalam metode analisis regresi ini yang penting adalah koefisien korelasi dan koefisien determinasi. Koefisien korelasi R ditentukan dengan rumus berikut ini.
Dengan ketentuan :
X : variabel peubah luas lahan tambak (ha)
Y : variabel tergantung, yaitu produktivitas tambak (ton / ha)
Koefisien determinasi (R2) merupakan koefisien yang menyatakan keragaan nilai-nilai Y yang dapat dijelaskan oleh hubungan linearnya dengan X.
(2). Analisis daya dukung lingkungan yang mengacu pada kuantitas air di perairan. Metode penentuan daya dukung lingkungan ini adalah sebagai berikut: 1. Pengamatan parameter-parameter y, h, x dan θ yang digunakan untuk
menentukan volume air perairan yang dinyatakan dengan rumus (Widigdo dan Pariwono, 2003) berikut ini.
V perairan = 0,5 h y ( 2 x – ( h / tan θ )) Dengan ketentuan :
y = panjang garis pantai kawasan h = kisaran pasang
x = jarak dari garis pantai pada air pasang ke arah laut sampai mencapai titik dimana kedalaman air pada saat surut adalah satu meter dan tidak lagi terpengaruh oleh gerakan turbulen air dasar.
θ = sudut kemiringan pantai
⎥ ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎢ ⎣ ⎡ ⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎜ ⎝ ⎛ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ − ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ − ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎝ ⎛ − =
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
= = = = = = = n i n i n i i i n i i i n i n i i n i i i i Y Y n X X n Y X Y X R 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 . . . ………. (12) ……….……. (13)∑
= +∑
+∑
2 . i i i na b X c X Y∑
=∑
+∑
2 +∑
3 i i i i iY a X b X c X X∑
2 =∑
2 +∑
3+∑
4 i i i i iY a X b X c X X ………... (9) …... (10) ..…. (11)2. Pengamatan parameter-parameter yang terkait dengan kondisi tambak, seperti: tinggi rata-rata air tambak, luas tambak saat ini.
3. Menentukan luas tambak maksimum yang masih dapat didukung oleh kawasan pesisir di daerah studi dengan memperhatikan pernyataan bahwa perairan penerima limbah harus memiliki volume 60 – 100 kali lipat dari volume limbah yang dibuang ke perairan.
(3) Analisis daya dukung lingkungan dengan sistem pembobotan. Analisis
daya dukung lingkungan ini mengacu pada modifikasi pemikiran Purnomo (1992), yaitu daya dukung lingkungan itu merupakan nilai kualitas lingkungan yang ditimbulkan oleh interaksi dari semua unsur atau komponen (fisika, kimia dan biologi) dalam suatu kesatuan ekosistem. Dari pemikiran tersebut diduga adanya keterkaitan / hubungan antara daya dukung lingkungan dengan kesesuaian lahan pesisirnya. Karena daya dukung lingkungan bersifat kuantitatif sedangkan kesesuaian lahan bersifat kualitatif, metode analisis daya dukung lingkungan ini sebenarnya merupakan proses kuantifikasi dari kelas kesesuaian lahan dengan cara pemberian bobot pada kelas kesesuaian lahan.
Lahan pertambakan di daerah studi terdiri dari beberapa satuan peta tanah (SPT), yaitu SPT1, SPT13, SPT34, dan SPT112 (Puslitanak,1995). Penentuan batas satuan-satuan peta tanah (lahan) sebagian didasarkan pada sifat-sifat lahan yang mudah dipetakan seperti relief atau lereng, bentuk lahan (landform), jenis tanah dan bahan induk tanah.
Luas lahan pesisir yang dapat didukung untuk usaha budidaya tambak tertentu dinyatakan sebagai berikut :
Dengan ketentuan :
As : Luas lahan pada nomor SPT tertentu
s : Indeks nomor SPT tertentu
S : Jumlah nomor SPT yang diperhitungkan k : konstanta daya dukung lingkungan,
B : bobot nilai kelas kesesuaian lahan pesisir i : indeks kualitas lahan pesisir
j : indeks karakteristik lahan pesisir
∑
= = S s s A k A 1 . ……….. (14)∑
∑
= = = M i N j ij B N M k 1 1 ) / 1 ( ) / 1 ( ……….. (15)M : jumlah komponen kualitas lahan pesisir N : jumlah parameter karakteristik lahan pesisir
Nilai pembobotan kualitas/ karakteristik kesesuaian lahan berada antara 0, 1, 2, dan 3. Lahan yang mempunyai kelas kesesuaian lahan terbaik (optimal) diberikan bobot tertinggi, misal = 3 dan sebaliknya lahan yang mempunyai kelas kesesuaian lahan terendah diberikan bobot terendah, yaitu 1 dan lahan yang tidak sesuai tidak diberikan bobot (Nol) karena lahan tersebut tidak produktif untuk usaha yang ditentukan.
Dari ketiga metode pendekatan tersebut, hasil penilaian daya dukung di daerah studi diharapkan lebih mendekati ke keadaan yang sebenarnya. Hasil penilaian pendekatan pertama (regresi polynomial) merepresentasikan status daya dukung lingkungan saat ini yang mana teknologi yang diterapkan adalah budidaya tambak secara tradisional. Hasil penilaian pendekatan kedua berdasarkan ketersediaan air di perairan memberikan gambaran kebutuhan air apabila kawasan tambak dikembangkan ke arah budidaya intensif. Hal ini akan membantu menilai kelayakan pengembangan tambak di daerah studi secara semi-intensif dan intensif. Pada akhirnya, hasil penilaian dengan pendekatan ketiga tersebut dipakai untuk menilai daya dukung lingkungan secara komprehensif. Metode dengan pendekatan terakhir tersebut merupakan penilaian daya dukung lingkungan secara alami / aktual, tanpa input teknologi. Dengan ketiga pendekatan tersebut, penilaian daya dukung lingkungan dapat ditentukan lebih akurat sehingga hasilnya dapat digunakan sebagai faktor pembatas dalam optimalisasi pemanfaatan lahan pesisir untuk pertambakan.
Metode Pengembangan Model Optimalisasi Pemanfaatan Wilayah Pesisir Metode yang digunakan dalam optimalisasi pemanfaatan ruang pesisir adalah linear goal programming (LGP). Penetapan target ditentukan berdasarkan kebutuhan-kebutuhan pengelolaan wilayah pesisir di daerah penelitian. Sedangkan perumusan model akan memperhitungkan kemampuan / ketersediaan ruang (lahan) di wilayah pesisir yang bersangkutan.
Target optimalisasi dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan informasi rencana strategi pengembangan wilayah pesisir dan rencana tata ruang wilayah Kabupaten Gresik. Target tersebut adalah sebagai berikut :
- Luas mangrove minimal yang harus dipertahankan / direboisasi tidak kurang dari standar program dinas kehutanan (atau kebutuhan mangrove untuk budidaya tambak)
- Perluasan tambak tidak melebihi daya dukungnya
- Jumlah tenaga kerja yang diserap lebih besar atau sama dengan jumlah penduduk angkatan kerja di daerah telitian (usia 10 –55 tahun)
- Pendapatan asli daerah (PAD) meningkat lebih besar atau sama dengan jumlah yang diprogramkan.
Selain target tersebut, ada tiga hal utama dalam perumusan model, yaitu : peubah keputusan, kendala riil dan kendala tujuan.
1. Peubah keputusan - XM : luas mangrove
- X11 : luas lahan yang sesuai untuk tambak tradisional (ekstensif) udang
- X12 : luas lahan yang sesuai untuk tambak semi intensif udang - X13 : luas lahan yang sesuai untuk tambak intensif udang
- X21 : luas lahan yang sesuai untuk tambak tradisional (ekstensif) bandeng
- X31 : luas lahan yang sesuai untuk tambak polikultur bandeng, udang dan rumput laut.
2. Kendala riil
- Luas wilayah penelitian, yaitu :
XM + X11 + X12 …….+ X33 = LWP 3. Kendala tujuan / sasaran
Kendala Lahan Ekologi Mangrove (LEM)
m i : perubahan luas mangrove per tahun pada penggunaan sumberdaya lahan X j ( ha th-1)
LEM : target luas lahan ekologi mangrove yang dicanangkan dalam program pembangunan wilayah pesisir
m1 . XM - d1+ = LEM
Kendala lahan peruntukan tambak yang masih dapat didukung (LTD) b i : perubahan luas budidaya tambak tradisional per tahun pada penggunaan sumberdaya lahan X j (juta Rp ha-1 th-1)
dapat didukung oleh kawasan pesisir di daerah penelitian, di-peroleh dari hasil perhitungan daya dukung kawasan tambak. b2 . X11 + b3 . X12 + b4 . X13 + ... + d2– = LTD
Kendala pendapatan asli daerah (PAD)
p i : pendapatan asli daerah per tahun pada penggunaan sumber- daya lahan X j (juta Rp ha-1 th-1)
PAD : target PAD dari sektor pariwisata dan perikanan tambak sesuai program pembangunan wilayah pesisir yang direncanakan p2 . X11+ p3 .X12 + p4 .X13 + p5 .X21 + .... + d4- - d4+ = PAD
Kendala tenaga kerja
t i : tenaga kerja yang diperlukan pada penggunaan sumberdaya lahan X j (orang ha-1 th-1)
TK : target tenaga kerja di daerah penelitian, yaitu jumlah penduduk angkatan kerja (usia 10 – 15 tahun)
t2 .X11 + t3 . X12 + t4 .X13 + ....+ t5 .X33 + d5
- d5 +
= TK Karena banyaknya tujuan yang ingin dicapai, diperlukan penetapan prioritas tujuan. Menurut Budiharsono (2001), tujuan yang paling penting atau paling dahulu yang hendak dicapai ditetapkan sebagai prioritas ke-1, kemudian prioritas ditetapkan berdasarkan kepentingan tujuan tersebut. Pada penelitian ini, yang paling diutamakan adalah nilai daya dukung lingkungan kawasan karena hal tersebut merupakan isu utama. Kemudian prioritas selanjutnya adalah luas pengembangan tambak secara semi-intensif maupun intensif yang tidak melampaui daya dukung, serta penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
Metode Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Tambak
Analisis kelayakan usaha budidaya tambak yang dipakai dalam penelitian ini adalah penilaian biaya-manfaat dari kegiatan budidaya udang dan bandeng yang sedang atau akan dilaksanakan. Dengan metode ini, kelayakan usaha budidaya tambak tersebut dapat diketahui.
Metode penilaian biaya-manfaat tersebut dihitung dengan menggunakan prosedur berikut ini.
(
)
∑
=+
=
T t t it ir
B
B
01
(
)
∑
=+
=
T t t it ir
C
C
01
………... (16) ………... (17)Dengan ketentuan :
i : 1 untuk pemanfaatan tambak bandeng 2 untuk pemanfaatan tambak udang Bi : nilai keuntungan total saat ini
Bit : total keuntungan pilihan i pada tahun t, t = 0,1,2, …. T Ci : nilai biaya total saat ini
Cit : total biaya pilihan i pada tahun t, t = 0,1,2, …. T r : laju diskon (discount rate).
Dalam evaluasi pilihan pengelolaan, prosedur didasarkan pada nilai tertinggi NPV, yaitu selisih antara nilai manfaat saat ini dengan nilai biaya saat ini. Apabila hasil analisis mendapatkan nilai NPV > 0, maka usaha budidaya tambak tersebut layak untuk dilaksanakan. Apabila nilai NPV = 0, maka usaha budidaya tambak tersebut tidak untung dan tidak rugi. Apabila nilai NPV < 0, maka usaha budidaya tambak tidak layak untuk diusahakan. Rumusan NPV tersebut adalah sebagai berikut :
NPVi = Bi – Ci
Lebih lanjut, usaha budidaya tambak tersebut dianalisis dengan BCR, yaitu perbandingan nilai manfaat (keuntungan) usaha saat ini dengan nilai biaya investasi yang telah dikeluarkan saat ini. Secara matematis dinyatakan dengan rumus berikut ini.
BCRi = Bi / Ci
Apabila nilai BCR > 1, maka usaha budidaya tambak tersebut layak untuk dilaksanakan. Apabila BCR < 1, maka usaha budidaya tambak tersebut tidak layak dilakukan. Apabila BCR = 1, maka usaha budidaya tambak tersebut tidak memberikan keuntungan dan perlu ditinjau kembali.
Untuk analisis sosial dan budaya, akan dipakai analisis kecenderungan (trend) kondisi sosial dan budaya daerah penelitian dengan menggunakan regresi linier. Selain itu, untuk mengetahui sejauh mana kondisi sosial budaya masyarakat dalam mendukung kegiatan pertambakan di wilayah pesisir akan digunakan teknik wawancara.
………... (18)