• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Perkembangan Kredit M ikro, Kecil dan M enengah (M KM ) 1

Direktorat Kredit, BPR dan UM KM - BANK INDONESIA

L

APO RAN

P

ERKEM BAN GAN

K

RED IT

M KM

1

T

RIWULAN

IV

2008

1 Kredit MKM terdiri dari : 1) Kredit mikro, yakni kredit dengan plafon sampai dengan Rp50 juta, 2) Kredit kecil, yakni kredit dengan plafon lebih dari Rp50 juta sampai dengan Rp500 juta, dan 3) Kredit menengah, yakni kredit dengan plafon lebih dari Rp500 juta sampai dengan Rp5 miliar. Kredit MKM tidak termasuk kartu kredit yang pada posisi Desember 2008 mencapai Rp29,7 triliun. Kredit MKM tersebut sudah termasuk penyaluran kredit oleh BPR Konvensional dan pembiayaan oleh Bank Umum Syariah dan BPRS. Data baki debet dan net ekspansi untuk BPR/BPRS baru sampai dengan posisi Nopember 2008.

2 Net ekspansi adalah hasil pengurangan antara baki debet pada suatu periode dan baki debet pada akhir tahun sebelumnya (sudah memperhitungkan pelimpahan dan angsuran).

Sumber data: Bank Indonesia (Direktorat Kredit, BPR dan UMKM), diolah dari LBU dan LBBPR/LBBPRS.

I. NET EKSPANSI KREDIT M KM2

 Hingga Triw ulan IV 2008, net ekspansi

kredit M ikro, Kecil, dan M enengah (M KM ) mencapai Rp136,6 triliun atau 101,3% dari Business Plan Perbankan 2008 sebesar Rp134,8 triliun (setelah revisi). Sebagai perbandingan, pada tahun 2007 RBB adalah sebesar Rp86,0 triliun dan realisasinya mencapai Rp96,2 triliun atau 111,8% . Pangsa net ekspansi kredit M KM sampai dengan Triw ulan IV 2008 yakni 43,9% dari

total net ekspansi kredit perbankan,

menurun dibandingkan pangsa net ekspansi kredit M KM sampai dengan Triw ulan IV 2007 sebesar 45,0% .

 Berdasarkan Jenis Penggunaan, yang

memiliki kontribusi terbesar pada net ekspansi kredit M KM sampai dengan Triw ulan IV 2008 adalah Kredit Konsumsi yaitu Rp81,4 triliun (59,6% ), disusul Kredit M odal Kerja Rp45,2 triliun (33,1% ) dan Kredit Investasi Rp10,0 triliun (7,3% ).

 M enurut sektor ekonomi, pangsa terbesar

adalah sektor Perdagangan yaitu Rp24,2 triliun (17,7% ), kemudian Jasa Dunia Usaha

Rp11,0 triliun (8,0% ), dan Perindustrian Rp8,3 triliun (6,1% ).

 Jika dilihat berdasarkan kelompok bank,

maka pangsa terbesar pada net ekspansi sampai dengan Triw ulan IV 2008 berada pada kelompok Bank Persero sebesar Rp53,6 triliun (39,3% ), disusul Bank Sw asta Nasional Devisa Rp49,7 triliun (36,4% ), dan BPD Rp19,9 triliun (14,6% ).

 Berdasarkan lokasi proyek per propinsi, DKI

Jakarta menjadi propinsi dengan net

ekspansi kredit M KM tertinggi yaitu Rp21,9 mencapai 49,5% , menurun dibanding pangsa pada akhir Triw ulan IV 2007 sebesar 51,2% .

 Pertumbuhan baki debet kredit M KM pada

(2)

Laporan Perkembangan Kredit M ikro, Kecil dan M enengah (M KM ) 2

Direktorat Kredit, BPR dan UM KM - BANK INDONESIA

III. PERKEM BANGAN BAKI DEBET KREDIT M KM M ENURUT PLAFON

 Berdasarkan besarnya plaf on kredit (jenis

kredit M KM ) pada akhir Triw ulan IV 2008,

sebagian besar kredit M KM merupakan

kredit mikro yaitu 35,4% (Rp234,2 triliun), selebihnya merupakan kredit kecil sebesar

33,5% (Rp221,5 triliun) dan kredit

menengah sebesar 31,0% (Rp205,0 triliun).

 Jenis kredit M KM yang mengalami

pertumbuhan terpesat pada Triw ulan IV 2008 (yoy) adalah kredit kecil yakni sebesar 43,1% , diikuti oleh kredit menengah dan kredit mikro masing-masing sebesar 22,9% dan 15,7% .

IV. PERKEM BANGAN BAKI DEBET KREDIT M KM M ENURUT KELOM POK BANK PEM BERI KREDIT

 Berdasarkan kelompok bank pemberi

kredit, pada akhir Triw ulan IV 2008, kelompok bank dengan baki debet kredit M KM terbesar adalah kelompok Bank Sw asta Nasional Devisa yaitu sebesar

Rp267,2 triliun (40,4% ) diikuti oleh

kelompok Bank Persero yang menyalurkan sebesar Rp230,4 triliun (34,9% ), dan

kelompok BPD yang menyalurkan sebesar Rp87,7 triliun (13,3% ).

 Pertumbuhan baki debet kredit M KM pada

Triw ulan IV 2008 (yoy) tertinggi dicapai oleh kelompok Bank Campuran yang tumbuh sebesar 45,8% , diikuti oleh kelompok Bank

Persero dan kelompok BPD masing-masing

sebesar 30,3% dan 29,3% .

V. PERKEM BANGAN BAKI DEBET KREDIT M KM M ENURUT SEKTOR EKONOM I

 M enurut sekt or ekonom i, alokasi kredit

M KM pada akhir Triw ulan IV 2008 terbanyak diberikan kepada sektor Perdagangan yaitu

sebesar 25,2% (Rp166,8 triliun),

Perindustrian 7,0% (Rp46,5 triliun), Jasa Dunia Usaha 6,6% (Rp43,7 triliun) dan Pertanian 3,2% (Rp21,2 triliun).

VI. PERKEM BANGAN BAKI DEBET KREDIT M KM M ENURUT JENIS PENGGUNAAN

 Berdasarkan jenis penggunaan, pada akhir

Triw ulan IV 2008, sebesar Rp343,5 triliun (52,0% ) dari kredit M KM merupakan kredit konsumsi, selebihnya sebesar Rp261,2 triliun (39,5% ) digunakan sebagai kredit modal kerja dan Rp56,1 triliun (8,5% ) sebagai kredit investasi.

 Hingga akhir Triw ulan IV 2008 kredit mikro

dan kredit kecil sebagian besar digunakan untuk kegiatan konsumtif. Pada kredit

mikro penggunaannya untuk konsumsi

sebesar Rp173,7 triliun atau 74,2% dari total kredit mikro, dan pada kredit kecil sebesar Rp135,4 triliun atau 61,1% dari

total kredit kecil. Sedangkan kredit

(3)

Laporan Perkembangan Kredit M ikro, Kecil dan M enengah (M KM ) 3

Direktorat Kredit, BPR dan UM KM - BANK INDONESIA

 Pertumbuhan baki debet kredit M KM pada

Triw ulan IV 2008 (yoy) terbesar berada pada kredit konsumsi sebesar 31,0% diikuti oleh kredit investasi dan kredit modal kerja masing-masing sebesar 21,8% dan 20,9% .

VII. PERKEM BANGAN BAKI DEBET KREDIT M KM M ENURUT PROPINSI

 Berdasarkan lokasi proyek, kredit M KM

pada akhir Triw ulan IV 2008 sebagian besar disalurkan di Pulau Jaw a dan Bali dengan pangsa 65,9% (Rp435,4 triliun), pangsanya

sedikit menurun dibandingkan akhir

Triw ulan IV 2007 yakni 67,6% (Rp354,1 triliun).

 Untuk proyek yang berlokasi di luar Jaw a

dan Bali, alokasi kredit M KM terbesar adalah propinsi Sumatera Utara sebesar 5,2% (Rp34,5 triliun), diikuti oleh Sulaw esi Selatan dan Riau masing-masing sebesar 3,4% dan 2,6% (Rp22,4 triliun dan Rp17,0 triliun).

 Khusus untuk perbankan di Kaw asan Tim ur 2,26% , menunjukkan peningkatan kinerja jika dibandingkan akhir Triw ulan IV 2007 yakni 3,99% . Hal yang sama terjadi pada

NPL-gross untuk kredit M KM di KBI yang

pada akhir Triw ulan IV 2008 sebesar 3,40% ,

meningkat kinerjanya dibanding akhir

Triw ulan IV 2007 sebesar 3,63% .

VIII. PERKEM BANGAN BAKI DEBET KREDIT M KM M ENURUT KOLEKTIBILITAS

 Pada akhir Triw ulan IV 2008 NPL-gross

kredit M KM sebesar 3,22% , menurun dibandingkan akhir Triw ulan IV 2007

sebesar 3,68% . NPL-gross kredit M KM lebih

tinggi dibanding NPL-gross kredit non M KM

pada akhir Triw ulan IV 2008 yaitu 3,08% .

 Pada akhir Triw ulan IV 2008, kredit M KM

dengan NPL-gross terbesar adalah kredit

mikro yaitu sebesar 4,06% , diikuti oleh kredit menengah dan kredit kecil

masing-masing sebesar 3,40% dan 2,17% .

Peringkat tersebut tidak mengalami

perubahan dibandingkan Triw ulan IV 2007,

di mana saat itu NPL-gross kredit mikro

sebesar 3,86% diikuti kredit menengah dan kecil masing-masing sebesar 3,81% dan 3,30% .

 Berdasarkan jenis penggunaan, pada akhir

Triw ulan IV 2008 kredit M KM dengan kinerja

kredit terburuk (NPL-gross terbesar) adalah

kredit investasi yaitu sebesar 4,95% , diikuti oleh kredit modal kerja sebesar 4,59% dan kredit konsumsi sebesar 1,90% .

 M enurut sektor ekonomi, kredit M KM

dengan kinerja terburuk pada akhir Triw ulan IV 2008 adalah pada sektor perindustrian

dengan NPL-gross 7,53% , diikuti oleh sektor

pertanian (5,58% ), dan sektor

pertambangan (5,29% ).

IX. KELONGGARAN TARIK KREDIT M KM

 Kelonggaran tarik kredit M KM Bank Umum

(tidak termasuk BPR dan BPRS) pada Triw ulan IV 2008 sebesar 9,4% . Dari jumlah tersebut rasio kelonggaran tarik terbesar terdapat pada kelompok Bank Umum Sw asta nasional Devisa yakni sebesar 14,3% diikuti oleh kelompok Bank Persero sebesar 7,1% .

 Dibandingkan Triw ulan IV 2007, penurunan

terbesar rasio kelonggaran tarik kredit M KM dialami Bank Campuran dari semula 8,8%

 Dilihat dari nominalnya, kelonggaran tarik

terbesar ada pada kelompok Bank Umum Sw asta Nasional Devisa sebesar Rp38,3 triliun diikuti oleh Bank Persero sebesar Rp16,3 triliun.

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan Pasal 3 ayat 2 PBI ini, apabila Bank hasil M/K tidak dapat memenuhi persyaratan menjadi bank devisa sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 ayat 2 PBI ini

KELONGGARAN TARIK KREDIT MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH (MKM) PERBANKAN 1 UNDISBURSED LOAN OF MICRO, SMALL, AND MEDIUM (MSM) CREDITS 1. POSISI/POSITION : APRIL/APRIL

4. Variabel dasar apakah yang diperbolehkan untuk structured product yang diterbitkan oleh bank umum ?. Bank umum devisa hanya dapat melakukan transaksi Structured

A : Setiap terjadi pelanggaran Posisi Devisa Neto, Bank wajib menyampaikan laporan pelanggaran dimaksud secara harian kepada Bank Indonesia paling lambat pukul

(2) Izin usaha PVA Bank yang dikeluarkan kepada kantor pusat dan kantor cabang bank umum bukan devisa yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional, dan/atau

persyaratan menjadi bank devisa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam kurun waktu 2 (dua) tahun sejak berlakunya izin Merger atau Konsolidasi, maka untuk menjadi

(1) Bagi Bank Devisa yang telah menggunakan Sistem Transaksi Valuta Asing namun pada saat berlakunya Peraturan Bank Indonesia ini aplikasi SISMONTAVAR belum

Bank Ekspor Impor Indonesia (Persero), Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.31/154/KEP/DIR tanggal 20 November 1998 tentang Kredit Likuiditas Kepada Perusahaan Umum