PENGASUHAN IBU YANG MENGALAMI KEKERASAN
DALAM RUMAH TANGGA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Disusun oleh: Martha Veronica
NIM: 119114089
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
iv
Apa yang kita tahu hanyalah setetes air…
Yang kita tidak tahu adalah lautan~
v
Kupersembahkan untuk
“Dia yang mengajarkanku
kasih
”
Dan
vii
PENGASUHAN IBU YANG MENGALAMI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
Martha Veronica
ABSTRAK
Kasus kekerasan terus-menerus mengalami peningkatan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa istri dan suami sebagai pelakunya. Tampak masih sedikit yang menyadari bahaya akan dampak yang ditimbulkan dari KDRT. Istri yang menjadi korban KDRT memiliki tugas yang lebih yaitu memberikan pengasuhan kepada anak-anak ditengah keadaan yang dihadapi dan beratnya dampak kekerasan yang dirasakan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengasuhan yang diberikan oleh ibu yang mengalami KDRT, faktor yang memengaruhi pengasuhan, dan dampak yang ditimbulkan kepada anak.Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan metode penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan rekam kasus atau dokumen. Wawancara dilakukan pada satu orang informan. Hasil penelitian menggambarkan bahwa KDRT yang dialami memengaruhi pengasuhan yang diberikan kepada anak melalui dampak yang dirasakan informan. Pengasuhan yang dimunculkan ialah pengasuhan negatif yang merujuk pada ketidakefektifan informan dalam memberikan pengasuhan. Hal tersebut juga didukung oleh tanggungjawab pengasuhan yang hanya dipegang oleh informan, pengaruh buruk suami terhadap anak, dan faktor ekonomi. Disisi lain, informan masih mampu berfungsi dengan baik sebagai ibu yang memberikan pengasuhan positif. Hal ini didukung oleh naluri keibuan yang informan miliki, intensitas informan terhadap anak, dan adanya harapan terhadap anak dan keluarga.Dampak kekerasan dan ketidakefektifan dalam pengasuhan terhadap anak-anak berupa perilaku agresi, kemampuan untuk mengontrol diri yang kurang, sulit mengendalikan perilaku, tidak mau patuh, suka melawan, tidak bertanggungjawab, dan berharap mendapatkan apa yang diinginkan.
viii
MOTHER’S PARENTING IN THE CASE OF DOMESTIC VIOLENCE
Martha Veronica
ABSTRACT
The case of violence has been increased continuously including the case of domestic violence happened to the wife and put the husband as the doer. Apparently, there is still slightly people who are aware of the impact of domestic violence. A wife who experienced the domestic violence has an extra role to give the parenting to her children in the middle of the violence circumstances and the impact she got. This research aims to see how the parenting given by a mother who experienced domestic violence is, the factors influence the parenting, and the impact that the children got. This research is a case-study using the qualitative method. The data-collecting method is using interview, observation, and recorder data or document. The interview has been done towards an informant who was 38 years old and experiencing domestic violence since the beginning of married life. The result of this research shows that the domestic violence experienced by a person influenced the parenting given to the children towards the impact that she (the informant) has. The parenting appeared is the negative one which refers to the ineffective ways. It has also been influenced by the responsibility of parenting which only comes to the informant, the negative influence from the husband towards the children, and economic factor. However, the informant is still be able to have her role as a mother goes well and gives the positive parenting. This is also supported by her motherhood instinct, the intensity towards her children, and the existence of hope towards her children and family. The impact of violence and ineffective in parenting the children are the aggression behavior, the low self-control and behavior-self-control, lack of obedience, irresponsibility, and expectation of getting what he wants.
x
KATA PENGANTAR
Penulis merasa terpanggil untuk berkecimpung dalam tugas kemanusiaan,
terkhusus bagi perempuan dan anak. Berawal dari keprihatinan penulis terhadap keadaan perempuan dan anak yang kerap kali menjadi korban kekerasan terutama
dalam keluarga. Ketika belum mampu memberikan yang nyata dan lebih, maka penulis memberikan kepeduliannya lewat karya ilmiah ini dan menjadi bahan pembelajaran dan bekal bagi penulis untuk langkah selanjutnya.
Dengan segala lika-liku yang penulis alami selama menyelesaikan penelitian ini, penulis ingin memanjatkan syukur dan mengucapkan terimakasih kepada:
1. DIA yang memberikan napas kehidupan dan hidup yang layak penuh berkat dan kasih, Tuhan Yesus Kristus.
2. Mama dan Bapak yang selalu berjuang untuk anak-anaknya. Sumber dana dan semangat. Terimakasih banyak, juga teruntuk Rano, Robert, Thalia,
Tuhan sertai selalu.You’re my everything, my strength.
3. Informan yang baik hati, memberikan kepercayaannya kepada penulis untuk berbagi cerita dan pengalamannya.
4. Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang menyambut dengan hangat dan memberikan kesempatan kepada
penulis untuk mendapatkan data klien dan membantu sepanjang penelitian. 5. Ibu Sylvia Carolina yang sudah bersedia membimbing penulis dan
xi
6. Ibunda Debri Pristinella, selaku Dosen Pembimbing Akademik, Ibu Bos semasa menjabat Asisten Lab, dan Nyonya di standar 6 borang akreditasi,
setiap ketemu selalu nanya “gimana skripsinya, nduk? Udah sampai
mana?”
7. Yoannes Chrysostomus Awang Adhy Wibowo, I don’t know what I want
to say. Cause’ so many service that you give to me. I’m blessed to have
you, hon ... Kamu semangat ya, segera menyusul.
8. Ciwik-ciwik gengges! Agnes Wijaya, Albertin Melati Widyaninta, Benedikta Elsa Yuninda Pasaribu, Ketut Yunita Primaturini, Margareta
Theresia Ghea Kuncahyani, Marius Angga Kurnianto, Nidia Gabriella, dan Raysa Bestari Siniwi, bersama kalian mengajarkan banyak hal. LOVE 9. BBG, geng terhits dari SMP, SMA, dan sampai sekarang jauh dimata
dekat disosmed hahaha dekat dihati dong. Dari delapan orang dan sekarang tinggal dua yang belum bergelar, salah satunya aku. Finally, aku
nyusul. Yeay, I’m waiting for our reunion. See you on top, guys.
10.Mas Muji, Mas Doni yang sudah memberikan kesempatan dan banyak
sekali pengalaman dan teman-teman sepekerjaan yang jadi kuli di Lab. Psikologi.
11.Heyho pejuang akreditasi. We’re rock!!! Pembicaraan tentang skripsweet disela-sela tugas kenegaraan yang selalu menggelintik terkadang menusuk kalbu, tapi memotivasi aku buat segera LULUS.
xii
sebutkan satu per satu, biarlah Tuhan yang membalas dengan kasih dan rahmatNya. God Bless US
Penulis sadar tulisan ini perlu mendapatkan saran dan masukan agar menjadi lebih baik dan berguna. Oleh karena itu, penulis sangat terbuka dan
menerima dengan senang hati setiap saran dan kritik yang membangun penelitian ini.
Yogyakarta,
xiii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……….i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING………ii
HALAMAN PENGESAHAN………iii
HALAMAN MOTTO………...iv
HALAMAN PERSEMBAHAN………...v
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………....vi
ABSTRAK……….vii
ABSTRACT………..viii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH………ix
KATA PENGANTAR……….x
DAFTAR ISI……….xiii
DAFTAR GAMBAR………xvi
DAFTAR LAMPIRAN………xvii
BAB I. PENDAHULUAN……….. 1
A. Latar Belakang Masalah……….. 1
B. Rumusan Masalah………. 11
C. Tujuan Penelitian……….. 11
D. Manfaat Penelitian……….11
1. Manfaat Teoritis……….. 11
2. Manfaat Praktis………12
xiv
A. Pengasuhan……….12
1. Pengertian Pengasuhan……….12
2. Gaya Pengasuhan……….16
3. Peran Keluarga, Orangtua, dan Ibu………..24
4. Faktor yang Memengaruhi Pengasuhan………...28
B. Kekerasan Dalam Rumah Tangga………..31
1. Pengertian Kekerasan Dalam Rumah Tangga………..31
2. Jenis Kekerasan Dalam Rumah Tangga………...32
3. Karakteristik Pelaku Kekerasan Dalam Rumah Tangga………..34
4. Karakteristik Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga……….35
5. Faktor yang Mendorong Terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga……….36
6. Dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga……….39
a. Dampak Kekerasan Terhadap Istri Sebagai Korban Secara Langsung………39
b. Dampak Kekerasan Terhadap Anak Sebagai Korban Secara Tidak Langsung………41
C. Pengasuhan Ibu yang Mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga…...44
BAB III METODE PENELITIAN………...48
A. Jenis Penelitian………...48
B. Informan Penelitian………49
C. Prosedur Pengumpulan Data………..50
xv
1. Wawancara………...51
2. Observasi………..53
3. Dokumen………..55
E. Instrumen Penelitian………...55
F. Metode Analisis Data ………56
G. Kredibilitas Data………....58
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN……….61
A. Persiapan Penelitian………...61
B. Pelaksanaan Penelitian………...62
C. Hasil Penelitian…...………...67
1. Deskripsi Informan dan Suami...………...68
2. Pengasuhan Informan ………...………..75
3. Gambaran Anak………...81
4. Faktor Yang Mempengaruhi pengasuhan………84
D. Pembahasan………..……….87
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………..98
A. Kesimpulan ………...98
B. Kelemahan Penelitian………99
C. Saran………..99
DAFTAR PUSTAKA………..101
xvi
DAFTAR GAMBAR
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Inform Consent………105
Lampiran 2. Member Checking………109
Lampiran 3. Tabel Kategori Tema dan Sub-Kategori Tema………111
Lampiran 4. Tabel Kategorisasi………...116
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAHKekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau
penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan, atau
perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (UU No. 23/ 2004, pasal 1). Catatan tahunan Komnas Perempuan mencatat kasus kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2014 sebesar 293.220 kasus
yang ditangani oleh 359 Pengadilan Agama yang tersebar di 30 propinsi di Indonesia. Kekerasan yang terjadi di ranah personal mencatat kasus paling
tinggi, yaitu sejumlah 280.710 kasus yang terjadi terhadap istri.
Berdasarkan data statistik jumlah kasus kekerasan yang terjadi di Indonesia menunjukkan bahwa KDRT menjadi masalah yang sangat serius
untuk ditangani secara hukum oleh negara karena berkaitan dengan Hak Asasi Manusia (HAM) terutama bagi kaum perempuan. Selain itu yang tidak kalah
penting adalah keadaan psikologis yang dialami oleh korban kekerasan yaitu kaum perempuan yang akan berakibat pada banyak hal dalam aspek kehidupan mereka. Hal tersebut diperparah dengan sebagian besar perempuan yang
pada istri yang diperbuat oleh suami. Kenyataan ini yang menyebabkan minimnya respon masyarakat terhadap tindak kekerasan dalam ikatan
pernikahan atau rumah tangga.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di RS Bhayangkara Tk. IV
Pekanbaru, jenis kelamin yang menjadi korban kekerasan adalah perempuan (231 orang, 97,5 %) dengan rentang usia 19-30 tahun (38%) dan 31-40 tahun (39,2%). Ibu rumah tangga merupakan pekerjaan terbanyak yang menjadi
korban KDRT (83,5%). Komnas Perempuan juga mencatat bahwa mayoritas rentang usia perempuan yang menjadi korban kekerasan di ranah personal pada
usia 25-40 tahun atau pada usia menikah. Dari penelitian Buzawa & Buzawa (1996), menunjukkan bahwa pasangan suami-istri yang mengalami kekerasan, 78% penelitian menemukan bahwa mereka berpenghasilan rendah dan
mempunyai status sosial ekonomi yang rendah.
Krauss (dalam Krahe, 2005) mengatakan bahwa fitur yang khas dari
KDRT adalah tindakan tersebut jarang merupakan kejadian tunggal, tetapi cenderung berlangsung berulang-ulang, terus-menerus, dan dalam jangka
waktu yang lama. Berbagai bentuk KDRT yang dilakukan oleh suami memberikan dampak pada fisik dan psikologis istri. Terlebih kekerasan yang kerap kali dilakukan secara berulang-ulang akan memperparah dampak yang
akan dialami oleh istri.
Dampak bagi kesehatan fisik yang dikemukakan oleh Komnas
makan atau bahkan meninggal dunia. Sedangkan dampak psikologis yang dikemukakan oleh UNICEF (2000) antara lain: depresi, menghindar atau
withdrawal, harga diri yang rendah, kecemasan yang berat, ketakutan yang
berlebihan, perasaan bersalah dan malu, menyalahkan diri sendiri, isolasi
sosial, penggunaan obat-obatan terlarang, menghindar dari kontak mata, penolakan terhadap pengobatan, merasa tidak nyaman dekat dengan penolong (caregiver), dan bunuh diri. Menurut Suryakusuma (1995) efek psikologis dari
kekerasan bagi banyak perempuan lebih parah dibanding efek fisiknya. Rasa takut, cemas, letih, gangguan seperti Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD),
gangguan makan dan tidur yang merupakan reaksi panjang dari tindak kekerasan.
Adanya tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)
mengindikasikan bahwa terdapat relasi perkawinan yang tidak harmonis. Adanya hubungan di dalam keluarga yang tidak baik atau disorganisasi di
dalam keluarga. Relasi pasangan dalam pernikahan sedang mengalami masalah. Permasalahan yang sedang dialami tidak dapat dibicarakan atau
dikomunikasikan dengan baik, tetapi berujung pada kekerasan dalam rumah tangga. Akibat yang ditimbulkan dari KDRT tidak hanya dialami oleh perempuan atau istri sebagai korban tetapi juga dialami oleh anak-anak yang
ada dalam rumah tangga tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung (Hartman, 1997; United Nations, 1989). Akibat secara langsung seperti
Pengasuhan adalah proses orangtua mendampingi dan memberikan pendidikan atau pembelajaran kepada anak sejak kelahirannya hingga
mencapai kedewasaan personal. Pengasuhan anak bertujuan untuk meningkatkan atau mengembangkan kemampuan anak dan dilakukan dengan
dilandasi rasa kasih sayang (Sri Lestari, 2012). Pengasuhan merupakan bagian penting dalam sosialisasi, proses untuk anak dapat belajar dalam bertingkah laku sesuai harapan dan standar sosial. Menurut Darling (dalam Prasetyawati,
2000), pengasuhan merupakan aktivitas kompleks yang mencakup berbagai tingkah laku spesifik yang bekerja secara individual dan serentak dalam
memengaruhi tingkah laku anak. Pengasuhan mencakup beragam aktivitas yang bertujuan agar anak dapat berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik melalui pengasuhan fisik, pengasuhan emosi, dan
pengasuhan sosial (Hoghughi, 2004).
Orangtua menghadapi berbagai pilihan tentang seberapa besar mereka
harus merespon kebutuhan anak, seberapa besar kendali yang harus diterapkan, dan bagaimana menerapkannya. Dalam hal ini orangtua diharapkan dapat
memberikan pengasuhan yang efektif untuk membekali anak dengan karakter yang baik yang terbangun dari cara mengasuh yang diberikan oleh orangtua. Oleh karena itu, anak akan terbentuk sesuai dengan pengasuhan yang diberikan
oleh pengasuh. Perilaku pengasuh dalam memberikan pengasuhan akan memengaruhi anak dalam masa tumbuh kembangnya.
authoritarian, authoritative, neglectful, dan indulgent. Masing-masing gaya
pengasuhan akan menghasilkan atau memberikan pengaruh terhadap anak.
Pada gaya pengasuhan authoritarian hasil yang biasanya muncul pada anak adalah cemas terhadap perbandingan sosial, kurang inisiatif, dan kemampuan
komunikasi yang buruk. Pada gaya pengasuhan authoritative hasil yang biasanya muncul ialah kompeten secara sosial, mampu bergantung pada diri sendiri, dan bertanggung jawab secara sosial. Pada gaya pengasuhan neglectful
dan indulgent hasil yang biasanya muncul adalah cemas terhadap perbandingan sosial, kurang inisiatif, dan kemampuan komunikasi yang buruk.
Hubungan di dalam keluarga menjadi tempat untuk anak mendapatkan kehangatan dan kenyamanan dalam pengasuhannya.Relasi diantara pasangan dapat memengaruhi cara orangtua bertindak terhadap anak (Schact, Cummings,
& Davies, 2009). Situasi yang menunjukkan tidak adanya kerjasama antara ayah dan ibu sebagai figur penting yang bersifat dwitunggal dalam pemberian
pengasuhan membuat anak-anak akhirnya akan mengembangkan keterampilan melakukan manipulasi.
Istri sebagai seorang ibu memiliki peran yang lebih banyak dalam pengasuhan anak. Figur ibu biasanya merupakan objek pertama dan utama dari kelekatan bayi, namun pada berbagai budaya, bayi juga dekat dengan ayah,
saudara kandung, dan kakek-nenek (Hrdy, 1999). Di Indonesia, tampaknya ibu masih menjadi figur utama dalam kelekatan bayi. Adakala bayi atau anak dekat
dikarenakan ibu yang bekerja, sehingga anak dititipkan pada nenek, tidak menutup kemungkinan anak akan lebih lekat kepada nenek dibandingkan
dengan ibu. Hal ini dikarenakan anak lebih banyak waktu bersama nenek dalam proses tumbuh kembangnya dibandingkan dengan ibu yang sibuk bekerja.
Peran utama istri sebagai seorang ibu ialah memberikan pengasuhan sejak bayi kepada anak-anak (Santrock, 2012). Ibu ialah figur yang mampu memberikan kasih sayang dan perhatian untuk anak-anak. Segala perilaku dan
kepribadian ibu akan menjadi dasar yang penting bagi anak untuk memulai hidupnya dengan optimis, pesimis, gembira, bergairah, murung, percaya pada
diri sendiri, atau sebaliknya. Seorang anak yang terpenuhi kebutuhannya akan makan, tidur, kebersihan, kehangatan, dan perhatian dari lingkungan seperti kontak, belaian, perbincangan, lambat laun akan mampu mengatasi apa saja
yang dihadapinya dengan penuh rasa percaya diri. Oleh karena itu, pengasuhan dari ibu dari segi fisik dan psikologis sangatlah berpengaruh pada pertumbuhan
dan perkembangan anak. Ibu menjadi kunci utama.
Suami tidak berpikir panjang terhadap dampak yang akan terjadi ketika
melakukan tindakan kekerasan kepada istri. Istri sebagai seorang ibu sangat berpengaruh dan berperan penting untuk mengasuh dan mendidik serta mendampingi anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan ketika suami
sibuk dengan pekerjaan dalam mencari nafkah dan kurang memiliki waktu untuk mengikuti setiap proses yang dijalani oleh anak. Dalam teori psikososial
signifikan untuk membentuk kepribadian anak. Oleh karena itu, jika ibu mendapat tekanan melalui tindak kekerasan maka ibu cenderung tidak dapat
berfungsi dengan baik untuk memberikan pengasuhan yang efektif kepada anak.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Indu, Manju Mahananda, dan Anshu (University Shiats Allahabad, 2015) menggunakan adaptasi skala pengasuhan dari Dr. Rajeev Lochan Bhardwaj (1995) dan adaptasi skala
kematangan emosi dari Dr. Yashvir Singh dengan subjek penelitian 120 orang ibu (60 orang ibu normal dan 60 orang ibu yang menjadi korban kekerasan
dalam rumah tangga) dan 120 orang anak (60 anak dari orangtua normal dan 60 anak orangtua yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara gaya
pengasuhan orangtua normal dengan orangtua korban kekerasan dalam rumah tangga. Orangtua yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga
memiliki derajat yang tinggi pada pengasuhan negatif dibandingkan dengan orangtua normal. Pada penelitian ini juga menunjukkan bahwa ada perbedaan
yang signifikan antara kematangan emosional pada anak dengan orangtua normal dan anak dengan orangtua sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga. Anak dengan orangtua sebagai korban kekerasan menunjukkan derajat
yang lebih rendah pada kematangan emosional dibandingkan pada anak dengan orangtua normal.
keadaan emosional yang mendalam dari dampak-dampak psikologis yang dialaminya. Pengalaman adanya tindak kekerasan dalam rumah tangga yang
dialami ibu juga memupuk emosi negatif dalam dirinya seperti depresi, cemas, takut, sedih, dan marah. Hal tersebut membuat ibu kesulitan untuk
menyediakan kebutuhan emosi akan keamanan dan kenyamanan yang konsisten bagi anak. Mereka cenderung sibuk mengelola emosi negatif seperti marah dan takut serta perasaan sedih dan kecewa bahkan depresi atas apa yang
mereka alami sebagai korban KDRT.
Emosi-emosi negatif seperti kecemasan dan depresi sering kali membatasi
perhatian (Basso, et al, 1996). Emosi negatif dianggap memiliki potensi untuk proses perhatian yang tidak teratur, sehingga sulit untuk mempertahankan fokus perhatian (Rothbart & Bates, 1998; Ruff & Rothbart, 1996). Tak jarang
mereka juga kesulitan untuk mengelola emosi mereka sebagai korban kekerasan secara internal atau pribadi. Terbagi diantara rasa sedih, marah,
kecewa dan takut dengan tuntutan memberikan rasa nyaman dan aman bagi anak (Margaretha, 2012). Jika orangtua, khususnya ibu gagal memberikan
dukungan emosional bagi anaknya, maka mengakibatkan kelekatan antara keduanya menjadi lemah (Levendosky, Huth- Bocks, & Semel, 2002). Selain itu, ibu juga dapat mengalami stres pengasuhan. Akibat yang ditimbulkan saat
ibu mengalami stres pengasuhan adalah menurunnya kualitas dan efektivitas pengasuhan yang diberikan oleh ibu (Sri Lestari, 2012).
memungkinkan adanya pengasuhan yang salah terhadap anak. Dengan kata lain, anak dapat dikatakan tidak terawat atau cenderung terlantar karena
keadaan ibu sebagai pengasuh yang menjadi korban kekerasan. Anak yang tidak terawat dengan benar seringkali menunjukkan keterlambatan bahasa
(Coster, Gersten, Beeghly, & Cicchetti, 1989). Mereka seringkali terpuruk dalam tes kognitif, di sekolah, dan menunjukkan masalah perilaku (Dubowitz, 1999; Eckenrode, Laird, & Doris, 1993; Shonk & Cicchetti, 2001). Anak yang
tidak terawat memiliki keterikatan yang tidak tertata dan tidak terorientasi serta memiliki konsep diri yang negatif dan terdistorsi (Papalia, 2008). Mereka tidak
mengembangkan keterampilan sosial, karena bertindak secara agresif, mereka cenderung ditolak oleh teman sebaya (Bolger & Patterson, 2001; Price, 1996).
Perilaku agresif cenderung tumbuh dari masa kanak-kanak awal. Beberapa
penyebab yang menimbulkan perilaku agresif ialah kombinasi atmosfer rumah yang membuat stres dan tidak menstimulasi, disiplin yang keras, serta
kurangnya kehangatan dari ibu dan dukungan sosial. Dalam sebuah penelitian longitudinal, kelekatan yang tidak aman serta kurangnya kehangatan dan afeksi
ibu dalam masa bayi memprediksi keagresifan pada masa kanak-kanak awal (Coie & Dodge, 1998; MacKinnon-Lewis, Starnes, Volling, dan Johnson, 1997).
Martin (2002) menjelaskan bahwa anak yang dibesarkan oleh ibu yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga mengalami kesulitan dalam
mengidentifikasi, memahami, dan memilih emosi yang tepat untuk diungkapkan dalam suatu relasi yang dekat. Ibu kurang dapat berperan menjadi
panduan dalam memahami dan mengungkapkan emosi yang tepat sesuai dengan konteks. Misalnya, kemarahan ibu sebagai korban KDRT yang tidak
tersalurkan dapat disalurkan pada perilaku kekerasan dalam pengasuhan anak. Selain itu, dalam situasi sebagai korban KDRT dan mengalami keadaan emosional yang mendalam dan dikuasai oleh emosi negatif, ibu kewalahan
mengelola perasaannya sendiri sehingga mengalami kesulitan melakukan pengasuhan dan pengawasan terhadap anak (Edleson, 1999).
Selain KDRT yang memengaruhi pengasuhan yang diberikan kepada anak, terdapat faktor lain seperti karakter anak, karakteristik keluarga, dan karakteristik orangtua. Gaya pengasuhan memengaruhi anak dan anak turut
memengaruhi gaya pengasuhan yang diberikan. Ketiga karakteristik tersebut memiliki andil dalam memengaruhi proses pengasuhan.
Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengasuhan ibu yang mengalami dan menjadi korban kekerasan dalam rumah
tangga (KDRT). Peneliti ingin mengetahui lebih dalam terkait bagaimana ibu yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) memberikan pengasuhan kepada anaknya, faktor yang turut serta memengaruhi pengasuhan
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pemaparan pada latar belakang, permasalahan yang diangkat
dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran pengasuhan yang diberikan oleh ibu yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, faktor yang berperan
dalam pengasuhan, dan dampaknya terhadap anak?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengasuhan yang diberikan ibu yang mengalami kekerasan dalam rumah
tangga, baik itu kekerasan fisik, kekerasan psikologis, kekerasan seksual, dan penelantaran rumah tangga atau terkait ekonomi keluarga. Selain itu juga, untuk melihat faktor yang turut memengaruhi pengasuhan yang diberikan oleh
ibu kepada anaknya dan bagaimana dampak pengasuhan terhadap anak serta kekerasan di dalam keluarga.
D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini memberikan kontribusi kepada ilmu psikologi dengan memberi gambaran pengasuhan ibu yang mengalami kekerasan dalam
rumah tangga, baik kekerasan fisik, psikologis, seksual, dan ekonomi. Penelitian ini juga memberikan gambaran aspek lain atau faktor yang
memberikan gambaran dampak bagi anak yang memiliki ibu yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga atau hidup dalam keluarga yang
memiliki riwayat kekerasan.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kekerasan dalam rumah tangga dan dampaknya bagi istri sebagai ibu dalam memberikan pengasuhan kepada anak. Penelitian ini juga dapat
membantu pemerintah untuk mencanangkan strategi penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa istri yang memiliki tugas
13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGASUHAN
1. Pengertian Pengasuhan
Pengasuhan merupakan tugas dan tanggungjawab kedua orangtua
untuk anak. Orangtua bersifat dwitunggal dan menjadi satu kesatuan dalam memberikan pengasuhan. Pengasuhan adalah proses orangtua
mendampingi dan memberikan pendidikan atau pembelajaran kepada anak sejak kelahirannya hingga mencapai kedewasaan personal. Pengasuhan merupakan sebuah proses yang menunjukkan terjadinya suatu interaksi
antara orangtua-anak yang berkelanjutan dan proses tersebut memberikan suatu perubahan pada kedua belah pihak (Brooks, 1991). Pengasuhan anak
bertujuan untuk meningkatkan atau mengembangkan kemampuan anak dan dilakukan dengan dilandasi rasa kasih sayang (Sri Lestari, 2012).
Pengasuhan mengacu pada semua aspek perkembangan anak itu
sendiri. Memberikan pengasuhan pada anak dikenal sebagai hal penting yang memengaruhi pengalaman, dan mengubah secara emosional, sosial,
dan intelektual. Pengasuhan merupakan bagian yang penting dalam sosialisasi, menjadi proses dimana anak belajar untuk bertingkah laku sesuai harapan dan standar sosial.
Pengasuhan mencakup beragam aktivitas yang bertujuan agar anak dapat berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik
menekankan pada aktivitas dari perkembangan dan pendidikan anak. Jerome Kagan mendefinisikan pengasuhan sebagai serangkaian keputusan
tentang sosialisasi pada anak, mencakup apa yang harus dilakukan oleh orangtua atau pengasuh agar anak mampu bertanggungjawab dan
memberikan kontribusi sebagai anggota masyarakat. Selain itu, pengasuhan juga terkait dengan apa yang harus dilakukan oleh orangtua atau pengasuh ketika anak menangis, marah, berbohong, dan tidak
melakukan kewajibannya dengan baik (Berns, 1997).
Pada dasarnya, ada tiga tujuan orangtua dalam memberikan
pengasuhan pada anak. Pertama, orangtua ingin anaknya mampu bertahan dan sehat secara jasmani. Kedua, orangtua berharap anak-anaknya dapat mengembangkan kemampuan yang dimiliki agar dapat mandiri secara
finansial. Ketiga, berkaitan dengan cita-cita, kepercayaan regilius, dan kepuasan pribadi (Levine dalam Martin & Colbert, 1997).
Pengasuhan merupakan proses yang panjang, maka proses pengasuhan mencakup (1) interaksi antara anak, orangtua, dan masyarakat
lingkungannya, (2) penyesuaian kebutuhan hidup dan temperamen anak dengan orangtuanya, (3) pemenuhan tanggungjawab untuk membesarkan dan memenuhi kebutuhan anak dan orangtua, dan (4) proses mengurangi
resiko dan perlindungan terhadap individu dan lingkungan sosialnya (Berns, 1997).
mental, dan psikososial yang berjalan sedemikian cepat sehingga keberhasilan tahun-tahun pertama sebagian besar menentukan hari depan
anak. Masa kanak-kanak menengah merupakan masa penting dalam pengasuhan orangtua, terutama dalam segi kedisiplinan dan tingkah laku
anak berhubungan dengan sekolah (Brooks, 1991). Pada masa ini, orangtua biasanya melakukan hal-hal seperti memeriksa tugas sekolah, menentukan target belajar yang harus dicapai anak, dan membantu anak
menyesuaikan diri dengan guru dan teman baru. Biasanya peran ayah dan ibu berbeda. Ibu mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan rumah
tangga dan lebih berinteraksi dengan anak, sedangkan ayah lebih melakukan hal-hal yang bersifat permainan fisik dan memberi perhatian yang sama baik pada anak laki-laki maupun perempuan (Brooks, 1991).
Pada masa ini, anak mulai membuat keputusan sendiri dan orangtua menjadi pengawasnya serta membuat keputusan terakhir. Pembagian
kontrol ini menjadi jembatan pada masa pra-remaja ke masa remaja, sehingga anak dapat terbiasa dengan kontrol yang lebih besar. (Brooks,
1991). Bila anak mendapatkan stimulasi, diterima, dan memperoleh kehangatan, maka akan berpengaruh sangat positif bagi perkembangan yang sehat (Rutter, 1972)
Berdasarkan uraian diatas, pengasuhan ialah sebuah proses yang berupa sikap dan tindakan dari orangtua terhadap anak yang dilandasi rasa
anak dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan yang dimiliki, mandiri, dan bertingkah laku sesuai dengan standar dan harapan sosial.
2. Gaya Pengasuhan
Praktik pengasuhan orangtua-anak penting dalam membentuk
kemampuan sosial anak. Menurut penelitian klasik oleh psikolog perkembangan, Diana Baumrind, terdapat empat kategori utama yang menggambarkan gaya pengasuhan yang berbeda.
a. Gaya pengasuhan authoritarian atau otoriter
Merupakan gaya pengasuhan yang membatasi dan menghukum.
Orangtua mendesak anak untuk mengikuti arahan mereka dan menghargai kerja keras serta usaha. Orangtua yang kaku dan penghukum serta menghargai kepatuhan tanpa adanya pertanyaan dari
anak-anak. Orangtua authoritarian menentang ekspresi ketidaksetujuan. Orangtua authoritarian secara jelas membatasi dan
mengendalikan anak dengan sedikit pertukaran verbal. Orangtua authoritarian mendesak anak agar mengikuti pengarahan mereka serta
menghormati pekerjaan dan jerih payah mereka. Orangtua authoritarian menempatkan batasan-batasan yang tegas pada anak serta tidak banyak memberi peluang kepada anak untuk bermusyawarah.
Orangtua sedikit menunjukkan kehangatan dan dukungan. Gaya pengasuhan authoritarian diasosiasikan dengan ketidakmampuan anak
buruk dan membandingkan dirinya dengan orang lain, cenderung lebih kaku dalam lingkungan sosial, tidak ramah, dan relatif menarik diri.
Selain itu, anak dengan pola pengasuhan seperti ini biasanya memiliki kecenderungan moody, murung, ketakutan, sedih, dan tidak spontan
(Martin & Colbert, 1997). Anak juga menggambarkan kecemasan dan rasa tidak aman dalam berhubungan dengan teman sebaya dan menunjukkan kecenderungan bertindak keras saat tertekan, serta
memiliki harga diri yang rendah (Berk, 2012). b. Gaya pengasuhan authoritative
Mendorong anak untuk mandiri namun tetap meletakkan batas-batas dan kendali atas tindakan mereka. Orangtua yang ketat, menentukan batasan yang jelas, serta memberikan alasan dan penjelasan kepada
anak. Pertukaran verbal masih diizinkan dan orangtua menunjukkan kehangatan serta mengasuh anak mereka. Orangtua memberikan
kesempatan kepada anak untuk berkembang ke arah yang positif (Berk, 2012). Gaya pengasuhanauthoritative ditandai dengan tiga
perilaku pengasuhan, yaitu: kehangatan, keseimbangan kekuasaan, dan adanya tuntutan (Baumrind, dkk dalam Martin & Colbert, 1997). Kehangatan terdiri atas kedekatan emosional dan hubungan anak
dengan orangtua. Keseimbangan kekuasaan mengkhususkan pada bagaimana orangtua menerapkan gaya pengasuhan yang demokratis
memberikan penguatan yang positif daripada memberikan hukuman yang keras. Anak-anak dengan orangtua authoritative cenderung lebih
kompeten bersosialisasi, memiliki kecakapan sosial yang tinggi, kooperatif, ceria, enerjik, percaya diri, memiliki keingintahuan yang
besar, berorientasi pada prestasi, menyenangkan, dapat diandalkan, mandiri, dapat mengontrol diri, memiliki harga diri yang tinggi, dan bertanggungjawab secara sosial.
c. Gaya pengasuhan neglectful
Merupakan gaya gaya pengasuhan dimana orangtua tidak terlibat
dalam kehidupan anak. Anak dengan orangtua neglectful memiliki kebutuhan yang kuat atas perhatian orangtua mereka. Mereka mungkin merasa bahwa ada hal lain dalam kehidupan orangtua dibandingkan
dengan diri mereka. Anak-anak dengan orangtua neglectful merasa tidak disayang dan secara emosional terlepas dari orangtuanya,
cenderung kurang mampu bersosialisasi, buruk dalam hal kemandirian atau ketergantungan, memperlihatkan ketidakmatangan, mood yang
cepat berubah, dan terutama menunjukkan kendali diri yang buruk atau kontrol diri yang rendah. Penelitian mengungkapkan bahwa ibu dengan pola pengasuhan seperti ini akan memiliki anak yang deficit
dalam fungsi fisiologisnya, penurunan kemampuan intelektual, kesulitan dalam attachment, serta pemarah (Egeland & Sroufe dalam
d. Gaya pengasuhanindulgent atau permisif
Merupakan gaya pengasuhan dimana orangtua terlibat dengan anak
namun memberikan hanya sedikit batasan atau kendali pada anak. Orangtua yang demikian memberikan anak-anak melakukan apa yang
diinginkan. Orangtua yang memberikan anak perasaan santai dan arahan yang tidak konsisten. Adanya kebebasan yang berlebihan tidak sesuai untuk perkembangan anak, yang dapat mengakibatkan
timbulnya tingkah laku yang lebih agresif dan impulsif (Martin & Colbert, 1997). Orangtua sengaja membesarkan anak mereka dengan
cara demikian, karena mereka percaya bahwa kombinasi keterlibatan yang hangat serta sedikit batasan akan menciptakan anak yang kreatif dan percaya diri. Namun, anak-anak dengan orangtua indulgent
seringkali memiliki kompetensi sosial yang buruk. Mereka sering gagal untuk belajar menghargai orang lain, tidak dapat mengontrol diri,
selalu berharap mendapatkan apa yang mereka inginkan, tidak mau patuh, sulit mengendalikan perilaku, tidak bertanggungjawab, suka
melawan, impulsif, dan sedikit memiliki jiwa kepemimpinan.
Pengasuhan yang diberikan kepada anak, juga dapat dikategorikan pada pengasuhan yang positif dan pengasuhan yang negatif. Beberapa tipe
a. Memerintah
Orangtua mengendalikan situasi dan menyelesaikan masalah dengan
cepat, sehingga banyak memerintah dan anak harus patuh pada orangua dan anak tidak memiliki pilihan.
b. Menyalahkan
Orangtua ingin memberitahu kepada anak tentang kesalahan mereka. Anak merasa tidak pernah benar dan dianggap tidak baik oleh
orangtua. Contohnya, anak memiliki masalah dengan salah seorang temannya sehingga membuat temannya tersebut celaka, orangtua
langsung menyalahkan anak dan memberikan judge pada anak. Ketika ada sesuatu hal buruk terjadi, orangtua menyalahkan anak dan mencap bahwa anak turut terlibat.
c. Meremehkan
Orangtua ingin menunjukkan ketidakmampuan anak, menunjukkan
orangtua lebih tahu atau lebih benar. Anak merasa tidak berharga dan tidak mampu melakukan apapun. Sebagai contohnya, ketika anak tidak
dapat melakukan sesuatu, orangtua sering berkata “begitu saja tidak bisa”.
d. Mencap atau melabel
Orangtua ingin memberitahu kepada anak tentang kekurangan anak supaya anak berubah. Akan tetapi, dengan sikap orangtua yang
e. Membandingkan
Orangtua ingin memotivasi anak dengan memberi contoh orang lain.
Anak merasa orangtua pilih kasih dan dirinya lebih jelek atau lebih buruk dibandingkan dengan orang lain.
f. Mengancam
Orangtua ingin anaknya menjadi anak yang patuh dan penurut dengan cepat. Akan tetapi, dengan sikap yang demikian anak sering merasa
cemas atau takut dengan alasan yang tidak jelas. g. Menasehati atau ceramah
Orangtua ingin anak mengetahui mana yang baik dan buruk. Akan tetapi, anak menilai orangtua, terlalu sok tahu dan cerewet, sehingga anak merasa bosan. Terkadang orangtua, selalu merasa dengan
menceramahi, anak akan langsung berubah seperti apa yang mereka inginkan. Namun pada dasarnya, semakin banyak orangtua berceramah
anak akan mengalami “kelebihan muatan” pada otaknya dan membuat
anak tidak suka terhadap orangtuanya sendiri.
h. Membohongi
Orangtua ingin menyelesaikan masalah dengan cara yang mudah dan praktis. Akan tetapi, anak merasa orangtua tidak dapat dipercaya
karena selalu dibohongi oleh orangtua. i. Menghibur
kenyataan yang ada karena orangtua yang selalu menyembunyikan kenyataan.
j. Mengkritik
Orangtua ingin anak untuk memperbaiki kesalahan dan meningkatkan
kemampuan dirinya. Akibatnya anak merasa terlalu serba kurang atau selalu salah dimata orangtua.
k. Menyindir
Orangtua ingin memotivasi dan mengingatkan supaya tidak mengulang kesalahan yang sama, dengan membalik pertanyaan anak menjadi sakit
hati kepada orangtua karena sindiran yang diberikan. l. Menganalisa
Orangtua menduga penyebab positif atau negatif anak ketika anak
terlibat suatu masalah supaya bisa mencegah agar masalah tidak terulang kembali. Akan tetapi, anak menganggap orangtua sok pintar.
m. Mengabaikan
Sikap orangtua kepada anak seperti tidak mau mendengar apapun yang
diungkapkan oleh anak atau dengan mengisolasi anak dalam ruangan tertutup sebagai hukuman.
n. Menyakiti Fisik
Perlakuan orangtua kepada anak dapat berupa pukulan atau cubitan atau apapun. Meskipun tidak meninggalkan bekas ditempat yang
dihati dan ingatan anak. Bahkan tidak akan hilang seumur hidup tanpa maaf dan keinginan darinya untuk berdamai dengan luka tersebut.
Menurut Hughoghi (2004), prinsip pengasuhan lebih menekankan pada pengasuhan fisik, emosi, dan sosial. Pengasuhan fisik mencakup
semua aktivitas yang bertujuan agar anak dapat bertahan hidup dengan baik yaitu dengan menyediakan kebutuhan dasarnya seperti makan, kehangatan, kebersihan, ketenangan waktu tidur, dan kepuasan ketika
membuang sisa metabolisme dalam tubuhnya.
Pengasuhan emosi mencakup pendampingan ketika anak
mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan seperti merasa terasingkan dari teman-temannya, takut, atau mengalami trauma. Pengasuhan emosi merupakan pengasuhan yang membuat anak untuk
merasa dihargai sebagai seorang individu, membantu anak untuk mengetahui rasa dicintai, serta memperoleh kesempatan untuk menentukan
pilihan dan mengetahui resiko. Pengasuhan emosi bertujuan agar anak mempunyai kemampuan yang stabil dan konsisten dalam berinteraksi
dengan lingkungan, menciptakan rasa aman, serta menciptakan rasa optimistik pada hal-hal baru yang akan ditemui oleh anak.
Pengasuhan sosial bertujuan agar anak tidak merasa terasing dari
lingkungan sosialnya yang akan berpengaruh terhadap perkembangan anak pada masa-masa selanjutnya. Pengasuhan sosial menjadi sangat penting
Pengasuhan sosial yang baik berfokus pada memberikan bantuan kepada anak untuk dapat terintegrasi dengan baik di lingkungan rumah maupun
sekolah dan membantu anak belajar bertanggungjawab secara sosial (Hughoghi, 2004).
Secara keseluruhan pengasuhan ialah cara orangtua mendidik anak, mengajarkan anak ke arah yang baik atau lebih baik, seperti cara bersikap, terkait pendidikan, religiusitas, dan lain-lain. Pengasuhan juga ditunjukkan
dari adanya interaksi yang terjalin serta adanya komunikasi antara orangtua dan anak. Respon orangtua kepada anak juga menjadi bagian
dalam pengasuhan, seperti kepekaan orangtua terhadap keadaan anak, cara orangtua menyikapi kebutuhan anak, kemampuan anak, permasalahan anak, dan lain-lain. Selain itu, adanya tujuan orangtua terhadap anak
menjadi bagian yang menggambarkan pengasuhan yang diberikan oleh orangtua. Tujuan yang orangtua miliki sebagai pengasuh menunjukkan
bahwa adanya impian agar anak memiliki kehidupan yang lebih baik ke depannya.
3. Peran Keluarga, Orangtua, dan Ibu
Keluarga merupakan lingkungan sosial utama anak dalam
tumbuh-kembangnya. Keluarga memberikan dukungan sosial dan lingkungan yang penting pada proses pembelajaran mengenai manusia, situasi, dan
dalam keluarga mendukung dan mencintai atau penuh dengan konflik. Apabila keluarga mengalami stres, terutama orangtua, maka lingkungan
hidup anak memperoleh tekanan dan tekanan tersebut juga dirasakan oleh anak selaku anggota keluarga. Stres yang dirasakan orangtua akan
menambah beban stres dalam memberikan pengasuhan kepada anak. Hal penting dalam perkembangan anak bukanlah kuantitas yang diluangkan orangtua untuk anaknya tetapi kualitas pengasuhan yang lebih penting
(Benzies, Keown, & Magill-Evans, 2009; Chen, 2009a, b; Gross dkk, 2009).
Perilaku orangtua dapat memengaruhi kepribadian anak, bahkan pada awal-awal kehidupan. Adanya kedekatan fisik dan gaya pengasuhan orangtua dapat membantu anak untuk berkembang. Pengasuhan yang
penuh dukungan dan kasih sayang, memberikan aspirasi pendidikan yang sesuai dengan kemampuan anak, penekanan pada peraturan yang
konsisten, komunikasi yang terbuka, serta menghormati keberadaan anak, dapat membantu anak menjadi anak yang ceria, percaya diri, mandiri,
dapat menghargai orang lain, dan berhasil di sekolah.
Pengasuhan yang diberikan orangtua akan memengaruhi motivasi dan keberhasilan anak dalam sekolah. Pengasuhan efektif mengandalkan
kondisi hidup, mental baik orangtua, pernikahan bahagia, dan kondisi ekonomi yang baik (Schoppe-Sullivan dkk. 2007). Relasi diantara
Locke dan Newcombe (2003) menjelaskan bahwa ketidaklayakan perlakuan pada anak dalam pengasuhan terkait dengan disfungsi keluarga.
Berdasarkan sebuah studi pada 226 keluarga dari etnis berbeda yang memiliki anak-anak usia sekolah (Kaczynsky, Lindahl, Malik,
&Laurenceau, 2006), konflik pernikahan secara konsisten berhubungan dengan pengasuhan yang tidak efektif. Anak dapat terekspos perselisihan orangtua serta pengasuhan yang buruk cenderung menunjukkan tingginya
tingkat perilaku internalisasi seperti kecemasan, ketakutan, dan depresi, serta perilaku eksternalisasi seperti agresif, perkelahian, ketidakpatuhan,
dan permusuhan.
Peran utama istri sebagai seorang ibu ialah memberikan pengasuhan sejak bayi kepada anak-anak (Santrock, 2012). Dalam teori
psikososial Erik Erikson, tahap awal perkembangan anak adalah tahap awal anak untuk membangun kepercayaan dengan dunia luar. Pada tahap
ini, sosok ibu paling signifikan untuk membentuk kepribadian anak. Dorongan keibuan yang mengikat ibu dengan anaknya sejak awal
merupakan dorongan instinktif yang berhubungan erat dengan sejumlah kebutuhan organik dan fisiologis. Ibu selalu mengalami kontak batin dengan anak-anaknya yang masih kecil dan membutuhkan
perlindungannya. Seringkali faktor yang mengikat cinta ibu terhadap anaknya dengan suatu realitas yang penting adalah karena ibu menyiapkan
Istri sebagai ibu rumah tangga juga memiliki tugas sebagai pendidik bagi anak-anaknya; mampu menciptakan iklim psikis yang
gembira, bahagia, dan bebas; menciptakan suasana rumah tangga yang semarak; memberikan rasa aman, nyaman, hangat, menyenangkan, serta
penuh kasih sayang. Iklim psikologis yang penuh kasih sayang, kesabaran, ketenangan, dan kehangatan dapat memberikan vitamin psikologis yang merangsang pertumbuhan anak menuju pada kedewasaan. Selain itu, ibu
juga menjadi model tingkah laku untuk anak dan mudah diamati serta ditiru; menjadi pendidik yang memberikan arahan, dorongan, dan
pertimbangan bagi perbuatan anak-anak untuk membentuk perilaku; menjadi konsultan yang memberikan nasihat; dan menjadi sumber informasi yang memberikan pengetahuan, pengertian, dan penerangan
(Papalia Olds Feldman, 2008). Masa depan anak, baik dan buruknya kepribadian anak, akan sangat beruntung dari seberapa peran ibu dalam
proses pendidikan anak.
Pengasuhan dari ibu dari segi fisik dan psikologis sangat
berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Segala perilaku dan kepribadian ibu akan menjadi dasar yang penting bagi anak untuk memulai hidupnya dengan optimis, pesimis, gembira, bergairah, murung,
percaya pada diri sendiri, atau sebaliknya. Seorang anak yang terpenuhi kebutuhannya akan makan, tidur, kebersihan, kehangatan, dan perhatian
mampu mengatasi apa saja yang dihadapinya dengan penuh rasa percaya diri.
Berdasarkan uraian di atas, keluarga adalah lingkungan sosial yang utama untuk proses tumbuh-kembang anak. Apabila iklim di dalam
keluarga tidak baik, akan mendukung suasana stres yang menyebabkan orangtua mengalami tekanan dan tekanan tersebut juga akan dirasakan oleh anggota keluarga yang lain, yaitu anak. Selain itu, ibu memiliki tugas
dan tanggungjawab untuk memberikan pengasuhan kepada anak sejak bayi. Iklim psikologis yang ada pada ibu dan diberikan dari ibu sebagai
figur pengasuh akan memberikan dampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak.
4. Faktor yang Memengaruhi Pengasuhan
Terdapat tiga karakteristik faktor yang memengaruhi gaya pengasuhan,
yaitu:
a. Karakteristik anak
i. Usia
Semakin bertambah usia anak, interaksi antara orangtua dan anak akan berubah.
ii. Temperamen
Walaupun temperamen individual ditentukan saat lahir, faktor
memengaruhi gaya pengasuhan serta bagaimana orangtua merespon tingkah laku anak.
iii. Gender
Orangtua menyediakan lingkungan sosialisasi yang berbeda pada
anak laki-laki dan perempuan. Orangtua mendorong anak perempuan agar lebih bergantung, penuh kasih sayang, dan emosional. Semakin anak laki-laki bertambah usia, semakin
mendapatkan kebebasan yang lebih dibandingkan yang didapatkan anak perempuan.
b. Karakteristik keluarga i. Jumlah saudara
Antara orangtua dan anak dipengaruhi jumlah anak dalam
keluarga. Orangtua dari keluarga yang besar, terutama dengan lingkungan rumah yang sempit dan ekonomi yang terbatas,
cenderung lebih otoriter dan lebih sering menggunakan hukuman fisik dan kurang menjelaskan peraturan mereka dibandingkan
keluarga kecil. ii. Konfigurasi
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terhadap anak
pertama dan anak bungsu berbeda, meski dalam usia yang sama. iii. Kemampuan coping dan stres
Tipe stressor, kepribadian, dan hubungan dalam keluarga serta dukungan sosial memengaruhi kemampuan orangtua mengatasi
tekanan tersebut. iv. Lingkungan sosial
Hal ini mencakup hubungan orangua, anak, dan orang lain secara satu sama lain, seperti yang dikatakan oleh Brofenbrenner dalam Teori Ekologi. Lingkungan sosial mencakup mikrosistem, yaitu
anak dengan ibu, tetangga, dan teman sekolah yang berhubungan secara langsung.
v. Status ekonomi dan sosial
Hal ini mencakup pendidikan orangtua, pendapatan, dan pekerjaan orangtua. Hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan memiliki
hubungan dengan pengasuhan seperti bagaimana orangtua membagi konsentrasi dan mengatasi stres.
vi. Dukungan sosial
Hal ini mencakup masyarakat mengenai tindakan orangtua
terhadap anak. Dukungan sosial yang diberikan termasuk dukungan emosional, dukungan instrumental, seperti bantuan dan saran, serta model pengasuhan.
c. Karakteristik orangtua i. Kepribadian
terhadap kebutuhan anak, harapan terhadap anak, serta kemampuan mengatasi tuntutan sebagai orangtua.
ii. Sejarah perkembangan orangtua
Hal ini termasuk masa kanak-kanak orangtua yang memengaruhi
gaya pengasuhan yang mereka terapkan. Saat menjadi orangtua, mereka cenderung menerapkan pengasuhan yang mereka dapatkan kepada anak.
Dari uraian diatas, terdapat tiga karakteristik yang memengaruhi pengasuhan atau gaya pengasuhan yang diberikan orangtua, yaitu
karakteristik anak, keluarga, dan orangtua.
B. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA 1. Pengertian Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Kekerasan dalam rumah tangga adalah suatu pola pemaksaan
kehendak atas seseorang terhadap pasangannya dengan menggunakan serangan dan ancaman termasuk penyiksaan secara fisik, mental atau
emosional dan juga penguasaan secara ekonomis. Kekerasan terjadi karena ketidakseimbangan antara suami dan istri baik secara fisik, dan ekonomi kepada yang lemah, antara yang dominan kepada yang kurang dominan dan
antara yang berkuasa dan yang tidak berdaya (LPKP2, 2003).
Menurut Undang-undang No. 23 tahun 2004 pasal 1, kekerasan dalam
fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan, atau perampasan
kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
Menurut Laporan Bank Dunia (1994), bentuk kekerasan terhadap
perempuan yang terbanyak adalah penyiksaan terhadap istri atau tepatnya penyiksaan terhadap perempuan dalam relasi hubungan intim (Intimate Partner Violence)yang mengarah pada sistematika kekuasaan dan kontrol,
yaitu penyiksa berupaya untuk menerapkannya terhadap istri melalui penyiksaan secara fisik, emosi, sosial, seksual, dan ekonomi.
Berdasarkan uraian diatas, kekerasan dalam rumah tangga adalah perbuatan yang dilakukan terhadap perempuan melalui penyiksaan fisik, psikologis, seksual, dan ekonomi yang memberikan dampak terhadap
perempuan sebagai korban.
2. Jenis Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Menurut Komnas Perempuan (2002) dan Undang-Undang No. 23
Tahun 2004, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dapat berupa: a. Kekerasan fisik
Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh
sakit atau luka berat. Perilaku kekerasan seperti memukul, menampar, menjambak, menginjak, mendorong, melempar barang, sampai dengan
akan nampak seperti bilur-bilur, muka lebam, gigi patah, atau bekas luka lainnya.
b. Kekerasan psikologis atau emosional
Kekerasan psikologis atau emosional merupakan kekerasan emosional
berupa ucapan-ucapan yang menyakitkan, kotor, membentak, menghina, menyudutkan ataupun mengancam. Kekerasan psikologis atau emosional ialah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya
diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan / atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Pelaku sering memutarbalikkan
fakta, istri selalu dilihat sebagai pihak yang bersalah, sementara suami selalu berada dipihak yang benar.
c. Kekerasan seksual
Kekerasan seksual ialah perbuatan pengisolasian atau menjauhkan istri dari kebutuhan batinnya, memaksa melakukan hubungan seksual,
memaksa selera seksual sendiri, dan tidak memerhatikan kepuasan pihak istri. Tindak kekerasan yang dilakukan, seperti pemerkosaan atau
pemaksaan hubungan seks, pemukulan dan kekerasan yang dilakukan sebelum melakukan hubungan seks, pornografi, penghinaan seksualitas melalui bahasa verbal, dan lain-lain.
d. Kekerasan ekonomi
Kekerasan yang dilakukan, seperti tidak memberikan nafkah untuk
kekurangan, memperkerjakan istri atau menguasai uang atau barang milik istri dan sebagainya.
Berdasarkan uraian diatas, jenis kekerasan dalam rumah tangga ialah kekerasan secara fisik, psikologis atau emosional, seksual, dan ekonomi atau
penelantaran rumah tangga.
3. Karakteristik Pelaku Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Dalam Dewi (2007), menyebutkan beberapa karakteristik pelaku tindak kekerasan dalam rumah tangga (Marwick, 1998; Old Sally, 2004,
Strack, 1996)yaitu, laki-laki atau suami sebagai pelaku berdampak dari adanya pengaruh dalam keluarga, seperti perilaku kasar dalam keluarga, kurangnya pengajaran agama, kemungkinan dengan status ekonomi yang
rendah, peran-peran jenis kelamin yang bersifat tradisional dan agresif untuk laki-laki, dan terjadi disfungsi dalam sistem keluarga.
Pembawaan personal juga mendorong pelaku untuk melakukan kekerasan dalam rumah tangga, seperti perasaan tidak adekuat, inferior,
sering menyalahkan orang lain karena tindakannya sendiri, memiliki kecemburuan yang berlebihan, ingin memiliki, cepat marah, tidak menerima diri, agresif, memiliki emosi yang belum matang, tidak dapat mengontrol
diri sendiri, dan tidak menaruh hormat pada perempuan. Pengaruh gaya hidup juga menjadi pendukung laki-laki menjadi pelaku kekerasan, seperti
pekerjaan, membatasi kebebasan perempuan, kurang aktif bergerak, dan membatasi diri untuk berhubungan dengan orang lain.
Berdasarkan uraian diatas, karakteristik pelaku kekerasan dalam rumah tangga dapat dilihat dari faktor pengaruh keluarga, pembawaan
personal, dan pengaruh gaya hidup.
4. Karakteristik Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Dalam Dewi (2007) menyebutkan bahwa perempuan atau istri sebagai korban berdampak dari pengaruh dalam keluarga seperti mendapatkan
perilaku kasar dalam keluarga, kurangnya pengajaran agama, kemungkinan dengan status sosial ekonomi yang rendah, peran jenis kelamin yang masih bersifat tradisional seperti menerima dan pasif, dan terjadi disfungsi dalam
sistem keluarga.
Pembawaan personal seperti self esteem yang rendah, pernah
mengalami kekecewaan, merasa bertanggungjawab untuk disakiti, mudah merasa frustasi, merasa bersalah dan tidak berguna, senang menyendiri dan
mengisolasi diri, sering merasa tidak percaya dengan orang lain, penakut, menolak perilaku kasar, marah dan takut menjadi penguat untuk perempuan atau istri menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Pengaruh gaya
hidup juga menjadi salah satu pendukung yang menjadikan perempuan sebagai korban dari kekerasan, seperti penyalahgunaan konsumsi alkohol,
dan terisolasi sumber-sumber pendukung seperti keluarga, teman, dan kelompok.
Berdasarkan uraian diatas, karakteristik korban kekerasan dalam rumah tangga dapat dilihat dari faktor pengaruh keluarga, pembawaan
personal, dan pengaruh gaya hidup.
5. Faktor-faktor yang Mendorong Terjadinya Tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Dalam Keumalahayati (2007), Strauss A. Murray mengidentifikasi hal
dominasi pria dalam konteks struktur masyarakat dan keluarga yang memungkinkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, yaitu:
a. Pembelaan atas kekuasaan laki-laki
Laki-laki dianggap sebagai sumber daya yang superior dibandingkan dengan perempuan, sehingga mampu mengatur dan mengendalikan
perempuan. Menguasai atau memukul istri merupakan manifestasi dari sifat superior laki-laki terhadap perempuan (Sciortino & Smyth, 1997;
Suara APIK, 1997). Peran gender maskulin yang dimiliki laki-laki menuntut dirinya memenuhi kebutuhan untuk mempertahankan kekuatan dan status sebagai laki-laki.
b. Diskriminasi dan pembatasan dibidang ekonomi
Diskriminasi dan pembatasan kesempatan bagi perempuan untuk bekerja,
cenderung mengalami tindak kekerasan. Ketergantungan secara ekonomi istri terhadap suami berkaitan erat dengan kekerasan suami yang berat
(Berkowitz, 1994). Selain itu, terkait ketergantungan istri terhadap suami, hasil penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa semakin besar
ketergantungan psikologis istri terhadap suami maka semakin besar kecenderungan istri diperlakukan kasar oleh suami (ditampar, didorong dengan kasar, dan lain-lain).
c. Beban pengasuhan anak
Ketika istri tidak memiliki pekerjaan, maka tugas pengasuhan ditanggung
oleh istri. Oleh karena itu, ketika terjadi sesuatu hal terhadap anak, maka suami akan cenderung menyalahkan istri.
d. Perempuan sebagai anak-anak
Konsep perempuan sebagai hak milik laki-laki menurut hukum, mengakibatkan keleluasaan laki-laki untuk mengatur dan mengendalikan
segala hak dan kewajiban perempuan. Laki-laki merasa memiliki hak untuk melakukan kekerasan layaknya sebagai seorang bapak melakukan
kekerasan terhadap anaknya agar menjadi tertib. e. Orientasi peradilan pidana pada laki-laki
Posisi perempuan sebagai istri di dalam rumah tangga yang mengalami
kekerasan oleh suaminya, diterima sebagai pelanggaran hukum, sehingga penyelesaian kasusnya sering ditunda dan ditutup. Alasan yang lazim
suami melakukan kekerasan sepanjang bertindak dalam konteks harmoni keluarga.
Faktor lain yang mendorong terjadinya kekerasan dalam rumah tangga adalah stres lingkungan, seperti kemiskinan dan pengangguran.
Situasi yang stres seperti adanya konflik dalam pernikahan juga berkontribusi sebagai faktor pendorong. Selain itu, isolasi sosial dan adanya pengalaman menggunakan hukuman fisik yang diberikan oleh orangtua.
Kontrol impuls yang buruk yang dimiliki suami dan harga diri yang rendah juga menjadi bagian dalam faktor yang mendorong terjadinya kekerasan
dalam rumah tangga.
Menurut Zastrow & Browker (dalam Wahab, 2006), terdapat tiga teori yang dapat menjelaskan terjadinya kekerasan yaitu teori biologis, teori
frustasi-agresi, dan teori kontrol. Pertama, teori biologis menunjukkan bahwa manusia mempunyai insting agresif yang dibawa sejak lahir. Selain
itu, perlakuan kasar merujuk pada perilaku agresi yang menjadi bagian perilaku yang dipelajari dan dipelajari di rumah. Kedua, teori frustasi-agresi
menunjukkan bahwa kekerasan sebagai salah satu cara untuk mengurangi ketegangan yang dihasilkan situasi frustasi. Orang frustasi cenderung terlibat dalam tindakan agresif. Biasanya orang frustasi juga cenderung menyerang
sumber frustasi atau memindahkan frustasinya kepada orang lain. Ketiga, teori kontrol menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki hubungan erat
cenderung dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki hubungan dekat yang berarti dengan orang lain.
Berdasarkan uraian diatas, faktor yang mendorong terjadinya tindak kekerasan dalam rumah tangga adalah pembelaan atas kekuasaan laki-laki,
diskriminasi dan pembatasan di bidang ekonomi, beban pengasuhan, anggapan perempuan seperti anak-anak, orientasi peradilan pidana pada laki-laki, kemiskinan dan pengangguran.
6. Dampak Kekekerasan Dalam Rumah Tangga
a. Dampak Kekerasan Terhadap Istri Sebagai Korban Secara Langsung
Kekerasan yang didapatkan istri menimbulkan dampak secara fisik
dan psikologis. Dampak fisik yang dirasakan, seperti luka-luka atau cedera ringan maupun berat, lebam, cacat tubuh permanen, penyakit
seksual, gangguan siklus haid, gangguan nafsu makan atau bahkan meninggal dunia (Komnas Perempuan, 2002). Selain itu, patah tulang,
luka bakar, dan kerusakan otak sebagai akibat langsung dari kekerasan yang diterima (Chrisler & Ferguson, 2006; Stark, 2009). Beberapa bulan setelahnya, dampak yang dialami seperti sakit kepala, nyeri perut, nyeri
panggul, dan gangguan kronis lainnya (O, Barnett et al., 2005; Logan et al., 2006).
berat, ketakutan yang berlebihan, perasaan bersalah dan malu, menyalahkan diri sendiri, isolasi sosial, penggunaan obat-obatan
terlarang, menghindari kontak mata, penolakan terhadap pengobatan, merasa tidak nyaman dekat dengan penolong atau caregiver, dan bunuh
diri (UNICEF, 2000). Rasa takut, cemas, letih, gangguan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), gangguan makan dan tidur merupakan reaksi
panjang dari tindak kekerasan (Suryakusuma, 1995).
Dampak psikologis yang dirasakan oleh istri sebagai korban kekerasan juga memengaruhi perilaku dan motivasi, seperti pasif,
menyerah, dan menunda hal yang akan dilakukan. Dampak psikologis yang dirasakan juga mengakibatkan kemampuan kognitif, seperti penurunan kemampuan dalam menyelesaikan masalah, frustasi, dan
harga diri yang rendah. Sedangkan efek lain yang dirasakan yaitu adanya penurunan emosional termasuk depressed mood yang diikuti hasil akhir
yang negatif (Cemalcilar, Canbeyli, dan Sunar, 2003).
Berdasarkan uraian diatas, dampak yang dirasakan oleh istri
sebagai korban kekerasan secara langsung ialah dampak secara fisik dan psikologis. Dampak fisik yang dirasakan berupa rasa sakit pada fisik. Sedangkan dampak psikologis yang dirasakan memberikan pengaruh
b. Dampak Kekerasan Terhadap Anak Sebagai Korban Secara Tidak Langsung
Marianne James pada tahun 1994 (dalam Wahab, 2006), mengungkapkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga memiliki
dampak yang sangat berarti terhadap perilaku anak, kemampuan kognitif anak, kemampuan pemecahan masalah, dan fungsi untuk mengatasi masalah emosi. Dampak dari kekerasan dalam rumah tangga terjadi
sejak anak usia bayi hingga anak usia sekolah.
Jaffe dkk, 1990 (dalam Wahab, 2006) mengungkapkan bahwa anak
bayi yang menyaksikan kekerasan yang terjadi pada kedua orangtuanya sering dicirikan dengan anak yang memiliki kesehatan yang buruk, kebiasaan tidur yang buruk, dan teriakan yang berlebihan. Kondisi
tersebut berlanjut pada ketidaknormalan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang sering kali tampak dalam permasalahan emosi
anak, bahkan sangat berkaitan dengan persoalan kelancaran komunikasi anak.
Dalam Wahab (2006), dampak kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak balita digambarkan dengan masalah perilaku, seringnya sakit, memiliki rasa malu yang serius, memiliki harga diri yang rendah,
dan memiliki masalah selama pengasuhan terutama permasalahan sosial, seperti memukul, menggigit, dan suka mendebat. Selain itu, stres yang
kurang atau mundurnya kemampuan berbahasa, toilet training, gangguan tidur, dan persoalan kelekatan ketika anak mudah takut dan stres
ditinggal pengasuhnya (dalam Margaretha, 2007; 2010).
Dampak kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak usia
pra-sekolah ditunjukkan dengan emosi negatif anak yang diwujudkan dengan perilaku marah yang diikuti dengan rasa sedih dan adanya keinginan anak untuk menghalangi dan ikut campur. Sebagian anak tidak
menunjukkan emosinya akan tetapi setelahnya menjadi marah. Selain itu, juga terdapat anak yang terlihat biasa saja bahkan terlihat bahagia,
namun sebagian besar dari mereka menunjukkan sikap agresif secara fisik dan verbal terhadap teman sebaya.
Dalam Margaretha (2007; 2010) mengungkapkan bahwa anak yang
berada di masa kanak-kanak awal (sejak lahir hingga usia 6-7 tahun) yang menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi dapat
memunculkan lebih banyak permasalahan perilaku, permasalahan relasi sosial, gejala post-traumatic stress disorder (PTSD), dan kesulitan
mengembangkan empati jika dibandingkan dengan anak seusianya yang tidak menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga (Huth-Bocks, Levendosky, & Semel, 2001).
Anak-anak yang menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga menunjukkan tingkat distress yang lebih tinggi. Delange (1986) melalui
pra-sekolah. Jaffe dkk (1990) mengungkapkan bahwa pada usia sekolah dasar, orangtua menjadi role model yang sangat berarti. Anak cenderung
belajar bahwa kekerasan adalah suatu cara yang paling tepat untuk menyelesaikan konflik dalam hubungan antar sesama manusia.
Hughes, 1986 (dalam Wahab, 2006) melihat bahwa anak-anak usia sekolah dasar sering kali memiliki kesulitan terhadap pekerjaan sekolah, memiliki prestasi akademik yang buruk, tidak ingin pergi ke sekolah,
dan kesulitan dalam konsentrasi. Wolfe et.al, 1986; Jaffe et.al, 1986; Christopoulus et.al, 1987 (dalam Wahab, 2006) melalui studinya
menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga cenderung memiliki permasalahan perilaku lebih banyak dan memiliki kompetensi sosial yang rendah.
Dalam Margaretha (2007; 2010), pada usia sekolah, dampak kekerasan dalam rumah tangga yang paling sering terlihat adalah kurang
berkembangnya kemampuan sosial dan agresif, memiliki kesulitan dalam menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah,
munculnya perasaan sedih dan depresi (Grossman, 2005 dalam Vernon, 2009). Anak dengan keterbatasan kemampuan sosial dapat menjadi lebih reaktif dan agresif atau menarik diri secara sosial, akibatnya anak-anak
tersebut sering dilaporkan menjadi pelaku ataupun korban bullying (Bauer dkk, 2006 dalam Margaretha 2007; 2010). Selain itu, dampak