• Tidak ada hasil yang ditemukan

RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK"

Copied!
228
0
0

Teks penuh

(1)RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. BAB I - Pendahuluan. Laporan Akhir. I -1.

(2) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. BAB I PENDAHULUAN. 1.1 LATAR BELAKANG Sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota Nomor 17 Tahun 2002 tentang Pemindahan Ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota dari Wilayah Kota Payakumbuh ke Sarilamak, yang kemudian dikuatkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Pemindahan Ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota dari Wilayah Kota Payakumbuh ke Sarilamak di Wilayah Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota,. maka dengan sendirinya beban tertimpa ke Sarilamak untuk menjadi Ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota. Pemindahan Ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota ke Sarilamak, Kecamatan Harau akan memicu pertumbuhan kawasan tersebut denga pertumbuhan pesat.. Pertumbuhan dan perkembangan aktivitas yang tidak diimbangi dengan pengalokasian dan penyediaan ruang, tidak didukung oleh penyediaan sarana dan prasarana. yang. mampu. menampung. kecenderungan. pertumbuhan. dan. perkembangannya akan mengakibatkan munculnya permasalahan tataruang dan bangunan, khususnya di sepanjang koridor utama.. Melalui Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Koridor Jalan Kota akan dilakukan penataan di sepanjang koridor jalan kota Sarilamak, mulai dari Perempatan Tanjung Pati sampai ke Air Putih, baik bangunan, lingkungan, dan manajemen transportasi/lalu lintas agar tercipta kawasan yang lebih teratur.. Kegiatan Penataan Bangunan dan Lingkungan Koridor Jalan Kota di Sarilamak bertujuan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang dan menciptakan lingkungan yang tertata, berkelanjutan, dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.. BAB I - Pendahuluan. I -2.

(3) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. Selain hal tersebut RTBL Koridor Jalan Kota di Sarilamak mempunyai manfaat untuk mengarahkan jalannya pembangunan sejak dini, mewujudkan pemanfaatan ruang secara efektif, tepat guna, spesifik setempat dan konkret sesuai dengan rencana tata ruang wilayah, melengkapi peraturan daerah tentang bangunan gedung, mewujudkan kesatuan karakter dan meningkatkan kualitas bangunan tradisional dan lingkungannya, mengendalikan. pertumbuhan. fisik. suatu. lingkungannya. dan. menjamin. implementasi pembangunan agar sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat dalam pengembangan lingkungan. yang berkelanjutan, menjamin. terpeliharanya hasil pembangunan pascapelaksanaan, karena adanya rasa memiliki dari masyarakat terhadap semua hasil pembangunan. lingkungan/kawasan. yang. berkelanjutan,. menjamin. terpeliharanya. hasil. pembangunan pascapelaksanaan, karena adanya rasa memiliki dari masyarakat terhadap semua hasil pembangunan. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan merupakan dokumen perencanaan yang dapat dipedomani berbagai pihak dalam pembangunan fisik pada kawasan perkotaan yang dapat mereduksi berbagai konflik kepentingan dan kegiatan masyarakat dalam pemanfaatan ruang kota. Penyusunan RTBL Koridor Jalan Kota di Sarilamak berpedoman pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 06/PRT/M/2007. tentang. Pedoman. Umum. Rencana. Tata. Bangunan. dan. Lingkungan (RTBL). Sehubungan dengan hal tersebut, diperlukan adanya konsep penataan bangunan dan lingkungan yang dinamis dan operasional. RTBL harus memperhatikan dan mempertimbangkan aspek-aspek sebagai berikut : 1. Berwawasan pembangunan (Development aspects). 2. Kehandalan bangunan dan Lingkungan (Building and Environment Aspects). 3. Berwawasan lingkungan (Environmental aspects). 4. Peranserta Masyarakat (Community Base Development aspects). 5. Menjalankan amanat peraturan (Legal aspect). 6. Lingkungan Binaan yang manusiawi (Humanity aspects). 7. Mendorong pembangunan yang dapat dikelola, terpadu dan berkelanjutan (Managable, Integrated and sustainable aspects). BAB I - Pendahuluan. I -3.

(4) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK 1.2. Laporan Akhir. ISU-ISU STRATEGIS DALAM PENGEMBANGAN KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. 1. Koridor Jalan Kota di Sarilamak merupakan salah satu lingkungan yang saat ini sedang mengalami pertumbuhan cepat. namun disisi lainnya pembangunan. infrastruktur. dikawasan. tersebut. sedang. dilakukan. perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana guna meningkatkan kebutuhan dan kualitas kehidupan bagi masyarakatnya. 2. Sebagai kota yang dilintasi jalur penghubung antar provinsi, kota Sarilamak. memiliki. peran. penting. untuk. mendapatkan. manfaat. pertumbuhan serta efek-efek ganda lainnya. 3. Koridor kota Sarilamak merupakan jalur wilayah timur yang berfungsi sebagai penghubung antar provinsi Riau dan Sumatera Barat. kondisi ini menjadikan koridor Sarilamak sebagai jalur penting bagi kedua provinsi. 4. Pertumbuhan bangunan di Jalur arteri primer yang tidak sesuai dengan peruntukannya merupakan permasalahan serius bagi pertumbuhan kota Sarilamak. ketidasesuaian fungsi bangunan dengan fungsi jaringan jalan akan menimbulkan permasalahan dalam sistem perkotaan. 5. Pemanfaatan. sebahagian. lahan. di. koridor. jalan. kota. Sarilamak. merupakan upaya intervensi pemanfaatan lahan persawahan menjadi fungsi bangunan 6. Koridor jalan kota Sarilamak dalam perkembangannya akan menghadapi permasalahan jenis moda angkutan. pencampuran jenis moda truk dan kendaraan pribadi maupun umum dapat menimbulkan terganggunya keamanan dan kenyamanan bagi pengguna kendaraan 7. Di sebahagian koridor jalan kota Sarilamak mengalami kendala dalam pemanfaatan lahan. Perbedaan topografi antara peil jalan utama dan sempadannya memiliki selisih dimensi yang cukup signifikan. 8. Kota. Sarilamak. dalam. perkembangannya. harus. memiliki. strategi. pertumbuhan pembangunan agar tidak mengalami tekanan pertumbuhan, khususnya di koridor jalan kota. 9. Pembangunan jalan TOL Padang-Bukittinggi, Payakumbuh-Limapuluh Kota-Pekanbaru akan mempengaruhi Koridor jalan kota Sarilamak 10. Rencana. pengalihan. sebahagian. jalan. Negara. dan. perubahan. sebahagian status koridor jalan kota Sarilamak menjadi Kolektor Primer BAB I - Pendahuluan. I -4.

(5) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. akan mempengaruhi intensitas penggunakan jalan di koridor jalan Sarilamak 1.3 MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN A.. Maksud Maksud dari kegiatan ini adalah melakukan penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Koridor Jalan Kota di Sarilamak. B.. Tujuan Tujuan dari Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Koridor Jalan Kota di Sarilamak adalah : a. Memberi masukan rencana dan program pembangunan fisik bagi Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota. dalam penanganan tata. bangunan dan lingkungan kawasan perkotaan b. Memberi masukan teknis dan rekomendasi bagi pemerintah daerah dalam bentuk rincian pengendalian perwujudan bangunan dan lingkungan pada kawasan (rencana) sekaligus sebagai arahan peran serta seluruh pelaku pembangunan (pemerintah, swasta, masyarakat lokasl, investor) dalam mewujudkan lingkungan yang dikehendaki. c. Menyiapkan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan pada kawasan rencana sebagai bagian dari upaya penataan fungsi dan fisik kawasan, bersama masyarakat dan semua stakeholder, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal dengan memperhatikan keserasian dengan alam sekitarnya. d. Menyusun program investasi pembangunan sebagai acuan implementasi dari rencana dan rancangan yang telah disusun, dengan menyertakan masyarakat sekitar sebagai bagian integral dari upaya pembangunan lingkungan / kawasan (rencana).. C.. Sasaran Sasaran dari kegiatan Penyusunan RTBL ini adalah :. BAB I - Pendahuluan. I -5.

(6) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. 1. Tersusunnya RTBL Koridor Jalan Kota di Sarilamak sebagai bagian dari upaya penataan fungsi dan fisik kawasan yang dilakukan pemerintah daerah, masyarakat dan semua stakeholder, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal dengan memperhatikan keserasian dengan alam sekitarnya.. 2. Terwujudnya lingkungan. dan sekitarnya yang serasi, seimbang dan. selaras didalam lingkungannya sendiri maupun lingkungan sekitarnya. 3. Terciptanya rencana penataan bangunan dan lingkungan yang baik dengan mengevaluasi kondisi eksisting yang ada, serta merencanakannya kembali sesuai dengan kemungkinan dinamika perkembangan masa mendatang. 4. Tersusunnya status legal dari RTBL ditandai dengan tersusunnya Rancangan Peraturan Bupati untuk mengoperasionalkan RTBL yang telah disusun. 5. Tersusunnya program investasi pembangunan Kabupaten Lima Puluh Kota yang telah disetujui oleh semua pihak yang terkait sebagai bagian upaya peningkatan kualitas permukiman dengan menyertakan masyarakat sebagai bagian integral dari pelaksanaan pembangunan.. 1.4 RUANG LINGKUP 1.4.1.. Deleneasi Kawasan Perencanaan Lokasi Perencanaan RTBL telah ditetapkan di Koridor Jalan Kota yaitu di sepanjang koridor jalan kota Sarilamak, mulai dari Perempatan Tanjung Pati hingga ke Air Putih. secara visual dapat dilihat pada peta. 1.4.2. Lingkup Materi Lingkup kegiatan yang akan dilaksanakan dalam penyusunan RTBL Kabupaten Lima Puluh Kota adalah sebagai berikut: a.. Pendataan Data yang dikumpulkan adalah segala jenis informasi yang diperlukan untuk melakukan analisis kawasan dan wilayah sekitarnya.. b. Analisis Kawasan Dan Wilayah Perencanaan BAB I - Pendahuluan. I -6.

(7) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. Analisis adalah penguraian atau pengkajian c.. Penyusunan Konsep Program Bangunan Dan Lingkungan Hasil tahapan analisis program bangunan dan lingkungan akan memuat gambaran dasar penataan pada lahan perencanaan yang akan ditindaklanjuti dengan penyusunan konsep dasar perancangan tata bangunan yang merupakan visi pengembangan kawasan.. d. Penyusunan Rencana Umum Dan Panduan Rancangan Rencana umum dan panduan rancangan merupakan ketentuan tata bangunan dan lingkungan pada suatu kawasan yang bersifat lebih detail dan bersifat sebagai panduan atau arahan pengembangan. e.. Penyusunan Rencana Investasi Rencana Investasi disusun berdasarkan dokumen RTBL yang memperhitungkan kebutuhan nyata para pemangku kepentingan dalam proses pengendalian investasi dan pembiayaan dalam penataan lingkungan/kawasan.. f.. Penyusunan Ketentuan Pengendalian Rencana Ketentuan Pengendalian Rencana bertujuan untuk mengendalikan berbagai rencana kerja, program kerja maupun kelembagaan kerja pada masa pemberlakuan aturan dalam RTBL dan pelaksanaan penataan suatu kawasan, dan mengatur pertanggungjawaban semua pihak yang terlibat dalam mewujudkan RTBL pada tahap pelaksanaan penataan bangunan dan lingkungan.. g. Penyusunan Pedoman Pengendalian Pelaksanaan Pedoman. pengendalian. pelaksanaan. dimaksudkan. untuk. mengarahkan perwujudan pelaksanaan penataan bangunan dan lingkungan/kawasan. yang. berdasarkan. dokumen. RTBL,. dan. memandu pengelolaan kawasan agar dapat berkualitas, meningkat, dan berkelanjutan. 1.4.3. Indikator Keluaran 1.. BAB I - Pendahuluan. Indikator Keluaran (Kualitatif). I -7.

(8) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. Tersusunnya Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Koridor jalan kota di Sarilamak dapat digunakan sebagai panduan dalam penyelenggaraan bangunan gedung dan lingkungan di kawasan terpilih tersebut. 2.. Keluaran (Kuantitatif) Keluaran dari kegiatan ini adalah Dokumen Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Koridor Jalan Kota yang terdiri dari: a. Konsep dasar perancangan tata bangunan dan lingkungan; b. Rencana Umum dan Panduan Rancangan; c. Rencana Investasi; d. Ketentuan Pengendalian Rencana; e. Pedoman Pengendalian Pelaksanaan.. BAB I - Pendahuluan. I -8.

(9) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. BAB I - Pendahuluan. Laporan Akhir. I -9.

(10) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. BAB I - Pendahuluan. Laporan Akhir. I -10.

(11) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK 1.4.4. Laporan Akhir. Lingkup Tugas: 1.. Mengumpulan Data a.. Mengumpulkan data primer dan sekunder baik kualitatif maupun kuantitatif sebagai bahan analisis.. b.. Foto udara kawasan rencana skala 1:5000. c.. Menganalisa data sebagai bahan untuk merumuskan masalah sebagai dasar penyusunan RTBL. 2.. Perumusan. potensi,. masalah,. dan. pemecahannya. (bisa. menggunakan metoda pendekatan analisa SWOT) untuk penyusunan RTBL 3.. Materi pokok rencana Tata Bangunan dan Lingkungan sekurangkurangnya terdiri dari : a.. Program Bangunan dan Lingkungan . Harus. mempertimbangkan. faktor. kelayakan. baik. segi. ekonomi, sosial, dan budaya. . Program ditetapkan setelah mempertimbangkan konsep keberagaman kawasan (diversity), seperti keseimbangan pengembangan fungsi perumahan, niaga/usaha, rekreasi, budaya dan upaya-upaya pelestarian.. . Program merupakan penjabaran peruntukan lahan yang telah ditetapkan untuk kurun waktu tertentu, baik yang menyangkut jenis, jumlah, besaran dan luasan bangunan. Termasuk di dalam program adalah penetapan fungsi-fungsi bangunan (peruntukan lahan mikro), kebutuhan ruang terbuka, fasilitas umum, dan fasilitas sosial.. b. Program Investasi . Bersifat jangka menengah.. . Mengindikasikan investasi untuk macam-macam kegiatan yang konsisten dengan dengan program bangunan dan lingkungan, meliputi tolok ukur / kuantitas pekerjaan, besaran rencana biaya, perkiraan waktu pelaksanan dan usulan sumber pendanaannya.. BAB I - Pendahuluan. I -11.

(12) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK . Laporan Akhir. Tidak hanya meliputi investasi pembangunan yang akan dibiayai oleh pemerintah dari berbagai sektor, daerah dan pusat, tetapi terutama dari yang akan dapat dibiayai oleh dunia usaha dan masyarakat.. c. Rencana Umum (design Plan) . Rencana peruntukan lahan mikro.. . Rencana perpetakan.. . Rencana Tapak.. . Rencana sistim pergerakan.. . Rencana prasarana dan sarana lingkungan.. . Rencana wujud bangunan.. d. Rencana Detail (Design-guidelines) . Bersifat panduan rencana teknik tata bangunan yang lebih memperjelas. pencapaian. kualitas. minimal. visual. dan. lingkungan yang responsif . Lebih rinci, menjelaskan arah bentuk, dimensi, gubahan, perletakan dan signage, pedestrian dan lain-lain.. e. Administrasi. pengendalian. program. dan. rencana. (administration guidelines). f.. Arahan Pengendalian Pelaksanaan (development guidelines)  Rumusan arahan substansi teknis kelanjutan dari rencana dan program sebagai masukan teknis bagi peraturan daerah tentang. bangunan. pada. lingkungan. tertentu,. yang. pengembangan lingkungannya telah mengacu kepada RTBL yang disusun.  Arahan bersifat lokal sesuai dengan batasan lingkungan yang dikendalikan, aturan yang bersifat performance-based sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari RTBL.  Merupakan. ketentuan. umum. penata-laksanaan. atau. manajemen pelaksanaan.. BAB I - Pendahuluan. I -12.

(13) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK 4.. Laporan Akhir. Keluaran Sesuai dengan lingkup dalam KAK, keluaran penyusunan RTBL adalah: 1.. Penetapan lokasi dan deliniasi RTBL (disetujui Dinas Pekerjaan Umum, Bidang Tata Ruang). 2.. Program bangunan dan lingkungan.. 3.. Program investasi.. 4.. Rencana Umum.. 5.. Rencana Detail.. 6.. Administrasi dan Pengendalian.. 7.. Arahan Pengendalian Pelaksanaan.. 8.. Draft Pengaturan kepala daerah berupa rancangan Peraturan Bupati. untuk. memberikan. status. hukum. dalam. mengoperasionalkan muatan pengaturan RTBL yang telah disusun. 9.. Keluaran diatas dibuat dalam bentuk (format) laporan naskah akademis, dilengkapi dengan peta digital dengan format CAD dengan skala 1:1000 dalam bentuk laporan tercetak (print out berwarna) disertai rekaman file digital dalam media compact disk (CD).. 1.5 DASAR HUKUM Penyusunan RTBL mengacu pada : Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan didasarkan pada: 1). Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.. 2). Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.. 3). Undang-Undang. Republik. Indonesia. No.. 24. Tahun. 2007. tentang. Penanggulangan Bencana. 4). Undang-undang RI No. 26 Tahun 2007, tentang Penataan Ruang.. 5). Undang-undang RI No. 28 Tahun 2002, tentang Bangunan Gedung.. BAB I - Pendahuluan. I -13.

(14) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK 6). Laporan Akhir. Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup.. 7). Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah.. 8). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.. 9). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.. 10) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung 11) Peraturan Menteri PU Nomor 29/PRT/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung. 12) Peraturan. Menteri. Pekerjaan. Umum. Nomor:. 05/PRT/M/2008. tentang. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan. 13) Peraturan. Menteri. Pekerjaan. Umum. Nomor:. 06/PRT/M/2007. tentang. Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan. 14) Peraturan Menteri PU Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Persyaratan Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan. 15) SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan. 16) Surat Edaran Direktur Jenderal Cipta Karya Nomor 01/SE/DC/2009 perihal Modul Sosialisasi Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan. 17) Peraturan daerah tentang rencana tata ruang wilayah setempat.. BAB I - Pendahuluan. I -14.

(15) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. BAB II - Kebijakan. Laporan Akhir. II -1.

(16) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. BAB II - KEBIJAKAN PENATAAN RUANG. Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang merupakan terjemahan dari visi dan misi Kabupaten dalam pelaksanaan dan operasional untuk mencapai kondisi ideal penataan ruang di wilayah kabupaten yang diharapkan. Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten merupakan arahan perwujudan ruang wilayah kabupaten yang ingin dicapai pada masa yang akan datang. Kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten merupakan arah tindakan yang harus ditetapkan untuk mencapai tujuan penataan ruang wilayah kabupaten. Strategi penataan ruang wilayah kabupaten merupakan penjabaran kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten ke dalam langkah-langkah operasional untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 2.1.. VISI DAN MISI Visi : Terwujudnya masyarakat madani melalui pemerintahan yang amanah dalam membangun Kabupaten Lima Puluh Kota. Misi : 1. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dan Nagari. 2. Menegakkan. Supremasi. Hukum. dalam. kehidupan. masyarakat,. pemerintahan dan pembangunan. 3. Meningkatkan aktualisasi adat dan budaya daerah dalam kehidupan masyarakat 4. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui peningkatan kualitas kesehatan, pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta iman dan taqwa. 5. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.. BAB II - Kebijakan. II -2.

(17) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. 6. Meningkatkan penyediaan fasilitas sarana dan prasarana pemerintahan dan publik. 7. Melaksanakan pembangunan berkesetaraan dan berkelanjutan. 8. Meningkatkan kerjasama pembangunan dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah. 9. Meningkatkan. pendapatan. daerah. melalui. pendekatan. yang. lebih. profesional.. 2.2. KEBIJAKAN DAN STRATEGI STRUKTUR RUANG. Kebijakan dan strategi dari penataan ruang wilayah Kabupaten Lima Puluh kota dapat dijelaskan sebagai berikut:. A. Kebijakan Kebijakan. : PENGEMBANGAN PUSAT-PUSAT PELAYANAN SECARA BERHIRARKI DAN BERSINERGIS ANTARA PUSAT PENGEMBANGAN DI PERKOTAAN SARILAMAK DAN PERKOTAAN KECAMATAN SERTA PENGEMBANGAN SISTEM PERMUKIMAN NAGARI BERBASIS AGRIBISNIS DAN PARIWISATA;. B. Strategi 1. Menetapkan hierarki simpul-simpul pertumbuhan ekonomi wilayah terutama yang berfungsi sebagai pusat agribisnis, dan pariwisata yang berbasis ekowisata; 2. Memantapan fungsi simpul-simpul wilayah; 3. Memantapkan keterkaitan antar simpul-simpul wilayah dan interaksi antara simpul wilayah dengan kawasan nagari sebagai hinterlandnya.. 2.3. KEBIJAKAN DAN STRATEGI POLA RUANG A. Kebijakan Kebijakan. BAB II - Kebijakan. : PENDISTRIBUSIAN PERSEBARAN PENDUDUK SESUAI DENGAN KEBIJAKAN PUSAT-PUSAT PELAYANAN.. II -3.

(18) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. B. Strategi 1. Mendistribusikan persebaran penduduk dengan pengembangan prasarana – sarana pada kawasan pusat pertumbuhan baru; dan 2. Memeratakan persebaran penduduk dengan perbaikan sarana-prasarana dan infrastruktur di kawasan nagari atau kawasan kurang berkembang guna mengurangi urbanisasi.. Kebijakan. : PEMANTAPAN SISTEM AGRIBISNIS MELALUI PENETAPAN KAWASAN AGROPOLITAN UNTUK PENINGKATAN KOMODITI PERTANIAN UNGGULAN DISERTAI PENGELOLAAN HASIL UNTUK MEMBERIKAN NILAI TAMBAH. Strategi: 1. Mengembangkan kawasan sesuai potensinya yang dihubungkan dengan pusat kegiatan untuk mendukung agribisnis melalui penetapan agropolitan, 2. Mengembangkan kawasan agribisnis melalui kawasan agropolitan untuk mendorong pertumbuhan kawasan nagari di wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota meliputi seluruh kecamatan 3. Mengembangkan. kawasan. sentra. perkebunan. gambir. dan. mendorong. terbentuknya industri pengolahan gambir terutama di Kec. Kapur IX, Bukik Barisan, Pangkalan Koto Baru, Lareh Sago Halaban dan Mungka 4. Mengembangkan sumberdaya manusia pada kawasan agribisnis; 5. Menekan pengurangan luasan lahan sawah beririgasi teknis; 6. Menetapkan kawasan pertanian abadi atau lahan sawah lestari; 7. Mengembangkan sawah baru pada kawasan yang dipandang potensial.. Kebijakan. : PENGEMBANGAN KELENGKAPAN PRASARANA WILAYAH DAN PRASARANA LINGKUNGAN DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN SENTRA PRODUKSI PERTANIAN, INDUSTRI PERTANIAN, EKOWISATA DAN PUSAT PERMUKIMAN SECARA TERPADU DAN EFISIEN;. Strategi : 1. Mengembangkan sistem transportasi secara intermoda sampai ke pusat produksi pertanian, industri yang berbasis pertanian dan pelayanan pariwisata;. BAB II - Kebijakan. II -4.

(19) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. 2. Meningkatkan jaringan energi dan pelayanan secara interkoneksi bagian dari Provinsi Sumbar dan Provinsi Riau dan pelayanan sampai pelosok nagari; 3. Mendayagunakan sumber daya air dan pemeliharaan jaringan untuk pemenuhan kebutuhan air baku dan sarana dan prasarana pengairan kawasan pertanian; 4. Meningkatkan jumlah, mutu dan jangkauan pelayanan komunikasi serta kemudahan. mendapatkannya. yang. diprioritaskan. untuk. mendukung. pengembangan industri pertanian dan perkebunan, pariwisata 5. Mengoptimalkan tingkat penanganan dan pemanfaatan persampahan guna menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih.. Kebijakan. : PEMANTAPAN PELESTARIAN DAN PERLINDUNGAN KAWASAN LINDUNG UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS LINGKUNGAN, SUMBERDAYA ALAM/BUATAN DAN EKOSISTEMNYA, MEMINIMALKAN RESIKO DAN MENGURANGI KERENTANAN BENCANA, MENGURANGI DAMPAK PEMANASAN GLOBAL YANG BERPRINSIP PARTISIPASI, MENGHARGAI KEARIFAN BUDAYA MINANG, SERTA MENUNJANG PARIWISATA, PENELITIAN, DAN EDUKASI;. Strategi: 1.. Memantapkan fungsi kawasan Taman Nasional Bukit Barisan dan hutan lindung lainnya melalui peningkatan kelestarian hutan untuk keseimbangan tata air dan lingkungan hidup;. 2.. Meningkatkan kualitas kawasan yang memberi perlindungan di bawahnya berupa kawasan resapan air untuk perlindungan fungsi lingkungan;. 3.. Memantapkan kawasan perlindungan setempat melalui upaya konservasi alam, rehabilitasi ekosistem yang rusak, pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup serta penetapan kawasan lindung spiritual;. 4.. Memantapkan fungsi dan nilai manfaatnya pada kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya;. 5.. Menangani. kawasan. rawan. bencana. alam. melalui. pengendalian. dan. pengawasan kegiatan perusakan lingkungan terutama pada kawasan yang berpotensi menimbulkan bencana alam, serta pengendalian untuk kegiatan manusia secara langsung; 6.. Memantapkan wilayah kawasan lindung geologi yang terdiri dari Harau, cagar alam geologi, kawasan rawan bencana alam geologi, dan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah disertai dengan pemantapan zonasi. BAB II - Kebijakan. II -5.

(20) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. di kawasan dan wilayah sekitarnya serta pemantapan pengelolaan kawasan secara partisipatif; dan 7.. Memantapkan kawasan lindung lainnya sebagai penunjang usaha pelestarian alam.. Kebijakan. : PENGEMBANGAN KAWASAN BUDIDAYA UNTUK MENDUKUNG PEMANTAPAN SISTEM AGRIBISNIS MELALUI DORONGAN TERWUJUDNYA SENTAR INDUSTRI BERBASIS PERTANIAN-PERKEBUNAN DAN EKOWISATA. Strategi : 1. Mengembangkan kawasan hutan produksi guna meningkatkan produktivitas lahan dengan memperhatikan keseimbangan lingkungan; 2. Menetapkan dan mengembangkan kawasan hutan rakyat dalam mendukung penyediaan hutan oleh rakyat; 3. Mengamankan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) dan menjaga suplai pangan nasional; 4. Mengembangkan komoditas-komoditas unggul perkebunan khususnya gambir dan mendorong terwujudnya industri pengolahan gambir guna memberikan nilai tambah ekonomi; 5. Mengembangkan kawasan pertambangan yang berbasis pada teknologi yang ramah lingkungan; 6. Menata dan mengendalikan kawasan dan lokasi industri skala besar-menengahkecil maupun rumah tangga; 7. Meningkatkan pengembangan pariwisata alam berbasis ekowisata dengan tetap memperhatikan. kelestarian. lingkungan,. pelestarian. budaya. minang. dan. melibatkan peran masyarakat adat (nagari); 8. Mengintegrasikan kawasan permukiman perkotaan secara sinergis dengan permukiman nagari;. BAB II - Kebijakan. II -6.

(21) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. 2.4. SISTEM JARINGAN TRANSPORTASI. 1. Sistem Jaringan Transportasi, terdiri atas : a.. Jalan Nasional Non Tol, pada ruas jalan batas utara Kabupaten Lima Puluh Kota (arah ke Pekan Baru) – Kota Payakumbuh – Batas Selatan Kabupaten Lima Puluh Kota (arah ke Bukittinggi);. b.. Jalan Nasional Tol, jaringan yang melewati Kabupaten Lima Puluh Kota diatur lebih lanjut sesuai dengan aturan yang berlaku.. c.. Jaringan jalan lainnya.. 2. Rencana pengembangan jaringan jalan lainnya terdiri dari simpul-simpul jalan yang akan dikembangkan sebagai jalan kolektor primer yang terdiri dari: a.. Simpul Sarilamak – Luak Simpul ini melewati Bukik Limbuku – Tanjung Pati (ruas 47) – Taram – Bukik Limbuku (ruas 45) – Andaleh Taram (ruas 44) – Andaleh Mungo (ruas 120).. b. Simpul Sarilamak – Akabiluru Simpul jalan ini melewati Kota Payakumbuh, lurus sepanjang jalan negara hingga ke Kecamatan Akabiluru c.. Simpul Sarilamak – Suliki Simpul ini berkembang mengikuti jalan negara dan jalan provinsi yang dari Sarilamak Kecamatan Harau melewati Kecamatan Luak, Kecamatan Guguak hingga Kecamatan Suliki.. d. Simpul Sarilamak – Guguak Simpul ini berkembang mengikuti jalan negara dan jalan provinsi yang dari Sarilamak Kecamatan Harau melewati Kecamatan Luak, hingga Kecamatan Guguak.. 2.5. KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI UNTUK KAWASAN SEKITAR SISTEM NASIONAL, SISTEM PROVINSI, DAN SISTEM KABUPATEN Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sekitar jaringan transportasi ditetapkan sebagai berikut :. BAB II - Kebijakan. II -7.

(22) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. a. Di sepanjang kawasan sekitar sistem jaringan jalan nasional, provinsi dan kabupaten tidak diperkenankan adanya kegiatan yang dapat menimbulkan hambatan lalu lintas regional;. b. Di sepanjang kawasan sekitar sistem jaringan jalan nasional, provinsi dan kabupaten tidak diperkenankan bangunan dalam DAMIJA sesuai ketentuan yang berlaku;. c.. Bangunan di sepanjang kawasan sekitar sistem jaringan jalan nasional, provinsi dan kabupaten harus memilki sempadan bangunan yang sesuai dengan ketentuan setengah masing-masing jalan sesuai fungsi dan penetapan sempadannya;. d. Pada kawasan sekitar sistem prasarana jalan Nasional dan Provinsi tidak diperbolehkan. melakukan. kegiatan. isidential. yang. dapat. menggangu. kelancaran arus lalu lintas regional kecuali untuk kepentingan pembangunan jalan ataupun pembangunan prasarana umum lainnya dengan izin sesuai ketentuan yang berlaku; dan. e. Pada kawasan sekitar prasarana jalan lokal primer maupun jalan strategis kabupaten tidak diperbolehkan melakukan kegiatan yang dapat menutup sebagian/seluruh jalan atau menghambat kelancaran lalu lintas, kecuali untuk kegiatan kepentingan umum dengan mendapatkan izin sesuai ketentuan berlaku.. 2.6.. RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LIMA PULUH KOTA Kabupaten Lima Puluh Kota dibagi dalam empat wilayah pengembangan yaitu : . Wilayah Pengembangan I (WP Selatan); meliputi kecamatan-kecamatan Harau, Luak, Situjuah Limo Nagari, Lareh Sago Halaban, dan Payakumbuh.. . Wilayah Pengembangan II (WP Utara); meliputi kecamatan-kecamatan Kapur IX dan Pangkalan Koto Baru.. . Wilayah Pengembangan III (WP Barat); meliputi kecamatan-kecamatan Gunuang Omeh, Bukit Barisan, dan Suliki.. . Wilayah Pengembangan IV (WP Tengah); meliputi kecamatan-kecamatan Guguak, Mungka, dan Akabiluru.. BAB II - Kebijakan. II -8.

(23) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. Dengan memperhatikan ketersediaan prasarana dan kebijakan-kebijakan terkait, struktur hirarki dan wilayah pelayanan kota-kota di Kabupaten Lima Puluh Kota direkomendasikan sebagai berikut :. Kota Hirarki I Kota Hirarki I atau pusat kegiatan lokal (PKL) adalah Kota Sarilamak dengan wilayah pelayanan Kabupaten Lima Puluh Kota.. Kota Hirarki II : . Kota Sarilamak, sebagai pusat pertumbuhan wilayah selatan (WP I).. . Kota Pangkalan dan Koto Baru, sebagai pusat pertumbuhan wilayah utara. (WP II).. . Kota Suliki, sebagai pusat pertumbuhan wilayah barat (WP III).. . Kota Dangung-Dangung, sebagai pusat pertumbuhan tengah (WP IV).. Kota Hirarki III Kota-kota di Kabupaten Lima Puluh Kota dibagi dalam tiga fungsi pokok, yaitu : . Kota pusat pelayanan, yaitu kota yang berfungsi memberikan pelayanan ekonomi dan pelayanan sosial bagi daerah sekitarnya sesuai dengan tingkat pelayanannya. Kota-kota ini merupakan kota hirarki I dan II yaitu Sarilamak, Dangung-Dangung, Suliki dan Pangkalan Kotobaru.. . Kota penghubung, yaitu kota yang berfungsi sebagai pusat transportasi dan infrastruktur lainnya serta menghubungkan daerah sekitarnya serta menghubungkan Kabupaten Lima Puluh Kota dengan kota/propinsi lain.. . Kota pusat permukiman, yaitu kota yang berfungsi sebagai pusat konsentrasi perumahan penduduk. Kota ini merupakan semua kota hirarki I, II dan III, termasuk didalamnya Sarilamak.. BAB II - Kebijakan. II -9.

(24) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. BAB II - Kebijakan. Laporan Akhir. II -10.

(25) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. 2.7. PERATURAN DAERAH KABUPATEN LIMA PULUH KOTA NOMOR 6 TAHUN 2006. TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH. KABUPATEN LIMA PULUH KOTA TAHUN 2006-2025 Sesuai dengan Visi Kabupaten Lima Puluh Kota yaitu terwujudnya masyarakat madani, bertaqwa, sejahtera dengan pemerintahan yang amanah bernuansa adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia. Visi tersebut memiliki pengertian bahwa pembangunan yang akan dilaksanakan berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Masyarakat yang dimaksud adalah setiap orang yang hidup dan tinggal yang kehidupannya berasal dari pemanfaatan potensi dan produktifitas yang dihasilkan dan berkaitan dengan Kabupaten Lima Puluh Kota. Keinginan utama yang ingin diwujudkan di masa datang adalah masyarakat madani, bertaqwa dan sejahtera. Sehubungan dengan itu ditetapkan 8 (delapan) misi yang diemban oleh Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota, selama 20 (Dua Puluh) Tahun kedepan : . Mewujudkan aktualisasi kehidupan sosial dan budaya berbasis agama dan adat dalam kerangka membentuk masyarakat madani yang mandiri dan berahklak.. . Meningkatkan dan memasyarakatkan hukum dengan penengakannya secara konsisten dan adil untuk menciptakan masyarakat yang disiplin dan bertanggung jawab.. . Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui peningkatan derajat kesehatan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan dukungan sistem pendidikan yang bermutu.. . Meningkatkan perekonomian masyarakat menuju pendapatan perkapita yang lebih tinggi melalui perubahan struktur ekonomi dan peningkatan nilai tambah daerah dan daya saing.. . Meningkatkan penyediaan infrastruktur ekonomi dan non ekonomi dalam upaya memberikan pelayanan lebih baik di segala bidang demi kemajuan daerah.. BAB II - Kebijakan. II -11.

(26) Laporan Akhir. RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK . Meningkatkan kualitas lingkungan hidup melalui penataan ruang yang harmonis dengan menjaga keseimbangan ekologi dan ekonomi dalam kerangka mengurangi dan mengatasi kerusakan lingkungan dan ekosistem.. . Mewujudkan pelayanan publik dengan penerapan sistem pemerintahan yang baik dan bersih melalui peningkatan kualitas dan kapasitas aparatur serta kelembagaan pemerintah daerah.. . Meningkatkan pemanfaatan potensi sumberdaya alam secara terarah dan terkendali untuk memacu peningkatan pendapatan masyarakat dan pendapatan asli daerah untuk memperkuat keuangan dan pembangunan daerah.. Arah Kebijakan dan Strategi Bidang SDA Prasarana 11.. SSuubb FFuunnggssii TTaattaa R Ruuaanngg ddaann PPeerrttaannaahhaann Kebijakan Bidang Tata Ruang dalam Sub fungsi ruang dan pertanahan adalah: . Optimalisasai penataan ruang dan kawasan pengembangan SDA dan ekonomi daerah.. . Pelestarian fungsi dan tatanan lingkungan hidup alam, lingkungan hidup sosial dan lingkungan hidup buatan untuk meningkatkan kualitas dan keseimbangan antar kawasan.. . Peningkatan fungsi pusat kegiatan lokal (Rencana IKK) secara serasi, seimbang. antara. perkembangan. lingkungan. dengan. tata. kehidupan. masyarakat. Penataan dan pengembangan kawasan budidaya dan kawasan tertentu yang meliputi penyediaan sistem permukiman, jaringan transportasi serta jaringan prasarana dan sarana lainnya dengan mengutamakan kawasan-kawasan yang dapat berperan mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut dan kawasan sekitarnya.. Strategi Bidang Tata Ruang . Menyusun Rencana Umum Tata Ruang Wilayah terbaru/revisi berdasarkan perkembangan terakhir, kebutuhan, kondisi lahan dan potensi sumberdaya. BAB II - Kebijakan. II -12.

(27) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. manusia sebagai patron dan perencanaan dan pembangunan wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota. . Mengatur peruntukkan lahan sesuai dengan peruntukkannya terutama pada kawasan andalan, kota-kota kecamatan dan Ibu Kota Kabupaten.. . Meningkatkan penataan kawasan permukiman terutama pada kawasankawasan padat penduduk, kawasan ibu kota kabupaten dan kawasan khusus lainnya.. . Menata dan menyusun kriteria pusat kegiatan wilayah (PKW), PKL sesuai intensitas dan kriteria teknis.. . Menata dan mengarahkan pusat pelayanan perkembangan kegiatan yang mempunyai fungsi ekonomi.. 22.. SSuubb FFuunnggssii PPeennggeem mbbaannggaann IInnffrraassttrruukkttuurr Kebijakan Bidang Tata Ruang dalam Sub fungsi pengembangan infrastruktur adalah: . Peningkatan aksesibilitas infrastruktur jalan.. . Pengalokasian sebagian pembangunan infrastruktur jalan pada pusat pemerintahan kabupaten sebagai bagian dari rencana pemindahan ibukota.. . Pembukaan dan peningkatan aksesibilitas antar pusat-pusat kegiatan dan kawasan siap tumbuh sesuai dengan penataan ruang daerah untuk percepatan pembangunan dan pemerataan pertumbuhan ekonomi antar kawasan dalam kabupaten.. . Peningkatan dan pengembangan infrastruktur perkantoran pemerintah daerah terutama di Ibukota Kabupaten Sarilamak.. . Pemantapan konsilidasi/pematangan lahan untuk calon lokasi bangunan perkantoran sebagai bagian dari percepatan pengembangan Kota Sarilamak.. . Pelaksanaan kajian kebutuhan lampu penerangan jalan untuk Kota Sarilamak dan ruas jalan strategis kabupaten.. . Penyediaan penerangan jalan secara bertahap pada ruas jalan utama Kota Sarilamak dalam rangka keamanan, kenyamanan dan estetika berlalu lintas.. BAB II - Kebijakan. II -13.

(28) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. STRATEGI : . Meningkatkan daya dukung dan keandalan jalan-jalan strategis sebagai basis utama transportasi darat kabupaten..  Meningkatkan kelas jalan dengan memprioritaskan jalan yang menuju ke ruas jalan nasional dan jalan propinsi sebagai jalan pengumpul.  Mengarahkan pembangunan gedung perkantoran, bangunan rumah negara pada lokasi yang tepat dan sesuai dengan Master Plan Kota Sarilamak serta memenuhi aspek lingkungan hidup.  Melaksanakan analisis kebutuhan infrastruktur pada kawasan Kota Sarilamak sebagai salah satu kawasan yang strategis.  Merumuskan kebijakan daerah yang meliputi aspek teknis dan adminsitratif secara legal dan formal dalam rangka pembangunan gedung perkantoran, bangunan pelengkap lainnya di lokasi yang sudah defenitif.. 2.8. PERATURAN BUPATI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA NOMOR 59 TAHUN 2005 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN LIMA PULUH KOTA TAHUN 2006 – 2010 Arah kebijakan umum merupakan arah atau tindakan yang akan diambil oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota dalam rangka mewujudkan visi dan misi dan strategi. Arah kebijakan juga merupakan rujukan dalam merumuskan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam rentang waktu lima tahun. Pola pemanfaatan ruang Kabupaten Lima Puluh Kota secara umum terdiri dari kawasan budidaya, kawasan lindung, dan kawasan tertentu yang dikembangkan berdasarkan kondisi dan potensi yang dimiliki masing-masing kawasan. Kawasan budidaya merupakan kawasan dengan fungsi untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan. Kawasan budidaya pertanian meliputi kawasan pertanian lahan basah, pertanian lahan kering, perkebunan dan perikanan tersebar berdasarkan kondisi fisik lahan dan kelerengannya. Kawasan budidaya non pertanian meliputi kawasan pariwisata, industri, permukiman dan pertambangan. Kawasan pariwisata tersebar hampir di seluruh kecamatan yang ada dengan objek wisata yang paling menonjol adalah Lembah Harau.. BAB II - Kebijakan. II -14.

(29) Laporan Akhir. RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Berkaitan dengan infrastruktur pemerintahan, sebagaimana diketahui bahwa sebuah. pemerintahan. mesti. dijalankan. dan. dikoordinasikan. dari. pusat. pemerintahannya. Pusat Pemerintahan itu sendiri harus didukung dengan prasarana dan sarana perkantoran dan faktor pendukung lainnya secara memadai berupa prasarana air bersih, listrik, komunikasi, mobiler dan sebagainya. Strategi Pembangunan Daerah Strategi. pembangunan. daerah. adalah. kebijakan. dasar. dalam. mengimplementasikan kebijakan dan program, sekaligus merupakan payung pada perumusan dan penetapan program pembangunan di dalam mewujudkan visi dan misi. Strategi utama (grand strategy) yang akan ditempuh dan dilakukan dalam rangka menyelesaikan. permasalahan. yang. dihadapi. daerah. dan. dalam. upaya. mewujudkan visi dan misi rencana pembangunan jangka menengah ke depan adalah : . Meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan di daerah yang bersih dan berkualitas.. . Meningkatkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas.. . Meningkatkan dan mengembangkan ekonomi daerah.. . Mengembangkan sarana dan prasarana yang mendorong percepatan pembangunan di daerah.. Arah Kebijaksanaan Umum Arah kebijaksanaan umum merupakan arah atau tindakan yang akan diambil oleh Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota dalam rangka mewujudkan visi dan misi. Adapun kebijakan-kebijakan tersebut : Sub Fungsi Tata Ruang dan Pertanahan . Pemantapan kawasan pembangunan sesuai dengan potensi wilayah. . Pengembangan rencana tata ruang kabupaten secara serasi, selaras dan seimbang.. . Peningkatan pengelolaan pertanahan di daerah.. BAB II - Kebijakan. II -15.

(30) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. Sub Fungsi Pengembangan Infrastruktur . Peningkatan aksesibilitas infrastruktur jalan dan jembatan antar kawasan untuk mendukung perekonomian masyarakat.. . Percepatan pembangunan dan pemindahan dan pusat pemerintahan ke Ibukota Kabupaten Sarilamak.. . Peningkatan sarana dan prasarana serta rehabilitasi fasilitas umum.. . Peningkatan pengelolaan dan penyediaan penerangan jalan dalam rangka meningkatkan keamanan dan kenyamanan berlalu lintas.. BAB II - Kebijakan. II -16.

(31) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. Laporan Akhir. III -1.

(32) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. BAB III . GAMBARAN UMUM KAWAAN PERENCANAAN 3.1. KONDISI FISIK ALAMIAH KABUPATEN LIMA PULUH KOTA A. KEADAAN GEOGRAFIS Kabupaten Lima Puluh Kota terletak antara 0025'28,71''LU dan 0022'14,52'' LS serta antara 100015'44,10" - 100050'47,80'' BT. Luas daratan mencapai 3.354,30 Km2 yang berarti 7,94 persen dari daratan Provinsi Sumatera Barat yang luasnya 42.229,64 Km2. Kabupaten Lima Puluh Kota diapit oleh 4 Kabupaten dan 1 Provinsi yaitu : Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Sijunjung dan Kabupaten Pasaman serta Provinsi Riau. Kabupaten Lima Puluh Kota terdiri dari 13 kecamatan, yang terluas adalah Kecamatan Kapur IX sebesar 723,36 Km2 dan yang terkecil adalah Kecamatan Luak yaitu 61,68 Km2.. Kabupaten Lima Puluh Kota pada dasarnya terdiri dari dua bentang alam darat yang berupa kawasan dataran untuk pengembangan permukiman dan kawasan pegunungan. Berdasarkan kondisi tersebut, maka. karakteristik potensi unggulan. Kabupaten Lima Puluh Kota meliputi pertanian, perkebunan, dan pariwisata.. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -2.

(33) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. B. Batas Wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota berbatasan dengan: Wilayah Utara Berbatasan Dengan Provinsi Riau Wilayah Selatan berbatasan dengan kab tanah datar dan kab. Sijunjung Wilayah Barat berbatasan dengan kab. Agam dan kab. Pasaman Wilayah Timur Berbatasan Dengan Provinsi Riau. C. Iklim Secara umum kondisi iklim di kawasan Perkotaan Sarilamak adalah tropis basah. Curah hujan rata-rata tahunan di Kota Sarilamak cukup tinggi yang mencapai 2.365 mm. Dengan kata lain, Kota Sarilamak berpotensi memiliki cadangan air baku di bawah permukaan tanah yang cukup besar namun juga dapat menimbulkan dampak fisik, terutama jika curah hujan meningkat dan menimbulkan erosi pada kawasan lereng dan bukit.. D. Topografi Topografi daerah Kabupaten Lima Puluh Kota bervariasi antara datar, bergelombang dan berbukit-bukit dengan ketinggian dari permukaan laut antara 110 meter dan 2.261 meter. Didaerah ini terdapat 3 buah gunung berapi yang tidak aktif yaitu Gunung Sago (2.261 m), Gunung Bungsu (1.253 m), Gunung Sanggul (1.495 m) serta 13 buah sungai besar dan kecil yang mengalir. dan. telah. banyak. dimanfaatkan. oleh. masyarakat. untuk. pengairan/irigasi.. E. Kelerengan Kelerengan Kota Sarilamak sangat bervariasi dan dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu: Kelerengan 0 – 3 %, Agak landai 3 – 8%, Landai 8 - 15%, Agak curam 15 – 24 % Curam 25 – 40 %, Sangat Curam 40 – 60%, Sangat Curam Sekali 60 – 100%. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -3.

(34) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. F. Jenis Tanah Jenis tanah di Kota Sarilamak sebagian besar adalah jenis Kambisol terutama pada lahan lereng sangat curam sekali. Luas jenis tanah Kambisol adalah seluas 46,20 Km2 atau sebesar 25,9% dari total luas lahan di Kota Sarilamak. Jenis lahan lain yang banyak ditemukan di Kota ini adalah jenis alluvial (11,3%) dan Oksisol (12,1%). Jenis tanah ini termasuk jenis tanah yang subur dan sangat cocok untuk kawasan pertanian. Namun, jenis tanah ini juga memiliki kendala yakni kegemburan tanahnya menyebabkan mudah terkikis oleh air hujan sehingga dapat menimbulkan persoalan erosi yang dapat membahayakan keselamatan penduduk sekitar daerah lereng gunung. Kendala fisik lingkungan lain di kota ini adalah sebagian besar klasifikasi kemiringan lahan di Kota Sarilamak adalah daerah kelerengan sangat curam sekali yakni mencapai 47,7% dari total lahan yang ada di Kota Sarilamak. Kondisi ini menyebabkan rentannya Kota Sarilamak terhadap bahaya longsor dan erosi. Oleh karena itu, pengembangan kawasan lindung berdasarkan kriteria kelerengan lebih dari 40% (seluas 97,10 Ha) sangat diperlukan untuk terus dilestarikan.. 3.2. KECAMATAN HARAU. Harau adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota,. Kecamatan ini merupakan ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota yang pusatnya terletak di kota Sarilamak Sebagian besar penduduk Harau bermata pencarian sebagai petani padi maupun bertani yang lain. Kecamatan Harau adalah salah satu produsen gambir terbesar di Provinsi Sumatera Barat. Gambir adalah salah satu komoditi ekspor yang berguna untuk berbagai bidang seperti bahan baku untuk membuat obat, bahan pewarna kain, untuk bahan baku lipstik, dan lain-lain. Para petani gambir yang ada di provinsi Sumatera Barat bisa menghasilkan lebih dari 10 ton/minggu/daerah penghasil gambir. Namun pada saat ini pemerintah daerah belum bisa mengupayakan dengan maksimal untuk mendapatkan daerah/negara yang bisa mengimpor gambir secara tetap. Kabupaten Lima Puluh Kota dibagi atas 13 kecamatan yang terdiri dari 79 nagari dan 403 jorong. Dari 13 kecamatan ini, Kecamatan Harau yang mempunyai jumlah nagari terbanyak yaitu 11 nagari dan 43 jorong BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -4.

(35) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. 3.2.1. Fungsi Dan Peranan Kecamatan Harau. Kebijakan kegiatan perkotaan di Kecamatan Harau dipusatkan di Kota Sarilamak yang merupakan pusat kegiatan skala Kabupaten dan berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL). Sedangkan fungsi dari Kota Sarilamak diarahkan sebagai berikut: 1) Dalam kerangka nasional, Kota Sarilamak ditunjuk sebagai salah satu Pusat Kegiatan Lokal (PKL), yang artinya. hanya melayani wilayahnya sendiri. (Kabupaten). 2) Sebagai Pusat Pemerintahan Kabupaten 3) Pusat Pelayanan Jasa & Perdagangan (koleksi dan distribusi wilayah Hinterland-nya) 4) Sebagai pusat pengembangan pendidikan 5) Sebagai pusat pelayanan sosial kabupaten 6) Sebagai salah satu pusat pengembangan kawasan pertanian 7) Sebagai salah satu pusat pengembangan kawasan pariwisata 8) Sebagai salah satu pusat pengembangan kawasan industri 9) Sebagai simpul transportasi yang melayani regional Kabupaten.. Untuk pengembangan kawasan perkotaan Sarilamak ini, prioritas pengembangan kota diarahkan pada peningkatan penyediaan sarana prasarana perkotaan dan peningkatan aksesibilitas dari dan menuju Sarilamak untuk mempercepat pertumbuhan wilayah hinterlandnya sekaligus mempercepat pertumbuhan kota Sarilamak sebagai ibukota kabupaten. Peningkatan akses baru terhadap simpulsimpul yang memiliki potensi ekonomi sekaligus kemudahan aksesibilitas menuju pusat. ibukota. kabupaten,. wilayah-wilayah. terisolir. serta. wilayah-wilayah. perbatasan. Adapun akses yang dimaksud adalah Peningkatan infrastruktur jalan yang menghubungkan antar kecamatan. . Peningkatan dan pembangunan infrastruktur jalan lingkar. luar Kota. Sarilamak. . Pembangunan akses infrastruktur jalan terhadap simpul-simpul yang memiliki. potensi. ekonomi,. kemudahan. aksesibilitas. menuju. pusat. pemerintahan, wilayah-wilayah terisolir serta wilayah perbatasan. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -5.

(36) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. Tabel 4.1: Jumlah Nagari di Kecamatan Harau NO. NAMA NAGARI. NAMA-NAMA JORONG. 1. Taram. 2. Bukik Limbuku. Balai Cubadak, Subarang, Tanjuang Kubang, ParakBaru, Tanjuang Ateh, Sipatai, Gantiang Pintu Koto, Koto Malintang, Koto Panyaringan.. 3. Pilubang. Balai, Janjang Tinggi, Koto Nan Gadang. 4. Batu Balang. 5. Koto Tuo. Balai, Koto Kaciak, Boncah, Koto Harau, III Alua, Padang Ambacang. Tanjuang Pati, Koto Tuo, Padang Rantang, Pulutan. 6. Lubuak Batingkok. Lubuak Batingkok, Koto Tangah, III Balai. 7. Gurun. Gurun, Lubuak Jantan. 8. Sarilamak. 9. Tarantang. Purwajaya, Sarilamak, Katinggian, Aia Putiah, Buluh Kasok. Tarantang, Lubuak Limpato.. 10. Solok Bio-Bio. 11. Harau. Solok Dalam, Padang Laweh, Bio-Bio, SungaiRumbai. Harau, Hulu Aia, Landai, Sei Data. Sumber : Kabupaten Lima Puluh Kota Dlam Angka 2011. 3.3. SOSIAL KEPENDUDUKAN 3.3.1. PENDUDUK DAN KETENAGAKERJAAN Jumlah penduduk Kabupaten Lima Puluh Kota pada tahun 2010 tercatat sebanyak 350.699 jiwa, dengan rincian 173.735 jiwa penduduk laki-laki dan 176.964 jiwa penduduk perempuan dengan rasio jenis kelamin (sex ratio) sebasar 98,18. Kalau dilihat jumlah Nagari yang ada di Kabupaten Lima Puluh Kota yaitu sebanyak 79 nagari, maka dengan jumlah penduduk sebesar 350.699 jiwa tersebut, rata-rata jumlah penduduk per nagari adalah sebesar 4.439 jiwa. Kecamatan yang paling tinggi rata-ratanya adalah Kecamatan Guguak dengan jumlah 6.836 jiwa per nagari. Kemudian kepadatan penduduk Kabupaten Lima Puluh Kota pada tahun 2010 mencapai 105 jiwa per km2 dengan luas kabupaten sebesar 3.354,30 Km2. Kecamatan yang paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya adalah Kecamatan Luak dengan tingkat kepadatan sebesar 415 BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -6.

(37) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. jiwa per km2, dan kecamatan yang paling jarang penduduknya adalah Kecamatan Kapur IX dengan tingkat kepadatan sebesar 38 jiwa per km2. Jumlah rumah tangga yang ada di Kabupaten Lima Puluh Kota pada tahun 2010 tercatat sebesar 88.257. Maka rata-rata anggota rumah tangga pada tahun 2010 tercatat sebasar 4 jiwa per rumah tangga.. Penduduk menurut kelompok umur di Kabupaten Lima Puluh Kota masih di dominasi oleh penduduk yang berumur muda. Kelompok umur yang paling besar jumlahnya adalah kelompok 5 s/d 9 tahun dengan jumlah sebanyak 37.923 jiwa, sedangkan kelompok yang paling kecil jumlahnya adalah kelompok 60 s/d 64 tahun yaitu sebesar 10.599 jiwa.. Penduduk usia 15 tahun ke atas dibagi atas penduduk yang termasuk Angkatan Kerja dan penduduk Bukan Angkatan Kerja dengan referensi waktu seminggu yang lalu. Pada tahun 2010 jumlah Angkatan kerja tercatat sebesar 176.115 jiwa dengan rincian 168.5636 jiwa bekerja dan sebesar 7.552 jiwa pengangguran terbuka. Sementara jumlah Bukan Angkatan Kerja pada tahun 2010 sebesar 63.955 jiwa dengan rincian sebanyak 14.828 jiwa sedang bersekolah, 36.350 jiwa mengurus rumah tangga dan sisanya sebanyak 12.777 jiwa termasuk ke dalam kelompok lainnya. Sosial kependudukan Kecamatan Harau Kecamatan Harau yang memiliki 11 Nagari memiliki jumlah penduduk 47,195 jiwa dengan rata rata penduduk per Nagari 4,290 jiwa. Kecamatan Harau yang memiliki luas areal 416,80 Km2 memimiliki jumlah penduduk 47, 195, dengan demikian kepadatan rata-rata adalah 113 per km2. Kecamatan Harau memiliki jumlah rumah tangga, penduduk dan kepadatan penduduk per rumah tangga menurut kecamatan adalah sebagai berikut: Jumlah rumah rangga 11, 488, jumlah penduduk 47.195 sehingga rata-rata anggota rumah tangga sebanyak 4 rumah tangga. Kecamatan Harau memiliki jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan ratio jenis kelamin adalah sebagai berikut: Jumlah laki-laki 23.609, sedangkan jumlah perempuan sebanyak 23.586 , sehingga ratio jenis kelamin adalah 100,10.. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -7.

(38) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. Kecamatan Harau memiliki Jumlah Penduduk Usia Sekolah (0-12) Menurut Kecamatan Tahun 2010 yaitu: Usia dini (0-4) tahun sebanyak 5.200 jiwa, Usia pra sekolah (4-6) tahun sebanyak 2.046 jiwa dan usia Sekolah Dasar (7-12) tahun sebanyak 5.920 jiwa. Usia sekolah (13-24) tahun SLTP 2.716, SLTA 2.315 dan perguruan tinggi sebanyak 3.908 jiwa. Penyebaran penduduk pada Kota Sarilamak relatif tidak merata, hal ini terlihat dari nagari yang dekat dengan kawasan perdagangan memiliki kepadatan yang lebih tinggi bila dibandingkan nagari yang jauh dari kawasan perdagangan. Secara keseluruhan kepadatan Kota Sarilamak pada tahun 2011 adalah 106 jiwa/km2. Nagari yang memiliki kepadatan tinggi adalah Lubuk Batingkok yakni sebesar 200 jiwa/km2 dan nagari dengan kepadatan rendah adalah Nagari Tarantang yakni sebesar 73 jiwa/km 2 dan Nagari Sarilamak sebesar 85 jiwa/km2. Agar terjadi pemerataan kepadatan penduduk maka pertumbuhan penduduk yang pesat diarahkan di Nagari Sarilamak dengan pertimbangan kesesuaian lahan dan lokasi Nagari Sarilamak untuk pengembangan permukiman.. 3.3.2. Struktur Kependudukan Berdasarkan struktur penduduk berdasarkan umur, penduduk Kota Sarilamak mayoritas adalah kelompok umur produktif yaitu kelompok usia 26 – 60 tahun sebesar 39%. Penduduk usia 26 – 40 tahun sebesar 19% dan penduduk usia 41 – 60 tahun sebesar 20%. Dengan mayoritas penduduk adalah kelompok usia 2640 tahun, maka pertumbuhan penduduk serta perkembangan sektor ekonomi diharapkan cukup tinggi. Struktur penduduk berdasarkan usia produktif yang mayoritas 39%, pendidikan yakni mayoritas lulusan SD sebanyak 32,7%, dengan rincian lulusan SLTP sebanyak 26,5%, SMU sebanyak 23,5%, akademi dan S1sebanyak 2,7% disimpulkan bahwa tingkat pendidikan masyarakat masih rendah, hal ini terlihat dari lulusan akademi dan S1 yang memiliki persentase terendah dari struktur penduduk menurut pendidikan. Padahal, persentase penduduk usia produktif yang masih mampu untuk meneruskan pendidikan tinggi yakni penduduk usia dari 19 - 25 tahun cukup tinggi yaitu 11% dari total populasi. Sementara lulusan sarjana dan diploma masih sangat minim, yaitu 2,7%. Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat maka sebaiknya tingkat lulusan SMU dan Perguruan Tinggi harus ditingkatkan. Walaupun BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -8.

(39) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. memang masih banyak terdapat keterbatasan dan kendala dalam mewujudkan masyarakat yang berpendidikan tinggi, seperti mahalnya biaya sekolah, kurangnya subsidi pemerintah untuk pendidikan masyarakat, dan lain-lain. Struktur penduduk berdasarkan mata pencaharian. Mayoritas penduduk Kota Sarilamak adalah pertanian pangan, yakni sebesar 51%, berikutnya adalah perikanan sebesar 14,23%, perkebunan sebesar 10,04%, jasa perdagangan sebesar 8,09%, peternakan sebesar 7,82%, industri kecil sebesar 4,96%, dan pertambangan galian C sebesar 3,86%. Berdasarkan persentase tersebut, sektor pertanian pangan merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Kota Sarilamak. Perekonomian masyarakat masih bertumpu pada sektor pertanian tradisional, yang membutuhkan banyak tenaga kerja.. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -9.

(40) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. Laporan Akhir. III -10.

(41) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. 3.4. BASIS EKONOMI DAERAH 3.4.1. PERTANIAN 1. Tanaman Pangan. Pada tabel 5.1.1 dapat dilihat luas panen padi pada tahun 2010 yaitu seluas 46.641 Ha. Jika dibandingkan dengan luas panen tahun 2009 yang sebesar 44.723 Ha, maka terjadi kenaikan sebesar 4,29 persen. Hal ini akan mempengaruhi banyaknya produksi padi secara keseluruhan. Produksi padi pada tahun 2010 sebesar 218.549,37 ton dengan rata-rata produksi perhektar sebesar 4,69 ton/ha, maka ini terjadi kenaikan sebesar 4,63 persen jika dibandingkan dengan produksi tahun 2009. Pada tahun 2010 seluruh produksi padi merupakan produksi dari padi sawah, sedangkan untuk padi gogo tidak ada produksinya. Luas panen untuk komoditi palawija tahun 2010 cukup bervariasi jika dibandingkan dengan tahun 2009. Untuk Jagung naik dari 2.139 Ha tahun 2009 menjadi 2.761 Ha tahun 2010, dengan produksi rata-rata tahun 2010 adalah sebesar 5,38 ton/ha. 2. Perkebunan. Perkembangan produksi beberapa jenis komoditi perkebunan rakyat cukup bervariasi. Untuk komoditi Pinang naik dari 482,30 ton tahun 2009 menjadi 515,07 ton tahun 2010. Kemudian karet juga naik dari 9.003,70ton menjadi 11.109,35 ton tahun 2010. sedangkan komoditi-komoditi lain, terjadi kenaikan dan penurunan produksinya. Khusus untuk komoditi andalan Kabupaten Lima Puluh Kota yaitu gambir, produksinya naik dari 14.601,10 ton tahun 2009 menjadi 17.293,38 ton tahun 2010. 3. Peternakan. Populasi ternak di Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2010 secara umum menunjukan perubahan yang cukup bervariasi, namun ada jenis ternak yang mengalami penurunan jumlah populasi jika dibandingkan dengan tahun 2009, yaitu kuda. Populasi kuda tahun 2010 tercatat sebanyak 166 ekor, kambing tercatat sebanyak 25.561 ekor, sapi tercatat sebanyak 65.577 ekor dan Kerbau tercatat sebanyak 22.643 ekor. Ayam buras naik menjadi 1.001.820 ekor jika dibanding dengan tahun 2009 sebanyak 882.498 ekor. Untuk populasi itik, ayam petelur dan ayam pedaging mengalami kenaikan jika dibanding dengan tahun 2009. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -11.

(42) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. 4. Perikanan. Perikanan di Kabupaten Lima Puluh Kota dibedakan menjadi 2 kegiatan yaitu Budi daya dan Penangkapan di Perairan Umum. Budi daya dibagi menjadi 2 yaitu Budi daya kolam dan Budi daya sawah. Produksi ikan Budi daya Kolam tahun 2010 tercatat sebesar 18.520,45 ton, jika dibandingkan dengan tahun 2009 maka terjadi kenaikan sebesar 4,13 persen. Produksi yang paling banyak terdapat di Kecamatan Harau yaitu 2.874,00 ton selama tahun 2010, sementara produksi yang paling kecil terdapat di Kecamatan Bukik Barisan yang hanya sebesar 229,76 ton, dengan rata-rata produksi 16,59 ton/ha. Untuk ikan Budi Daya Sawah produksi tahun 2010 adalah sebesar 2.841,47 ton dengan produksi rata-rata adalah 6,50 ton/ha. Produksi yang paling tinggi terdapat di Kecamatan Akabiluru yaitu 958,67 ton selama tahun 2010. Sementara untuk Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Bukik Barisan, Gunuang Omeh dan Pangkalan Koto Baru tidak ada menghasilkan ikan Budi daya Sawah. Ikan perairan umum banyak terdapat di Kecamatan Kapur IX dengan produksi selama tahun 2010 sebesar 164,56 ton, sedangkan produksi secara keseluruhan untuk Kabupaten Lima Puluh Kota adalah sebesar 259,21 ton tahun 2010. Sementara luas perairan umum untuk perikanan tersebut adalah seluas 3.789,25 ha. Kegiatan utama perekonomian penduduk kawasan Kota Sarilamak adalah bidang pertanian. Hal ini terlihat dari jumlah penduduk yang bekerja di bidang pertanian adalah yang paling banyak dibandingkan sektor lainnya. Jenis pertanian di kawasan Kota Sarilamak yang paling banyak adalah pertanian lahan basah (padi sawah). Persawahan ini dikelola oleh masyarakat setempat dengan sistem irigasi tadah hujan.. 3.4.2. INDUSTRI, PERTAMBANGAN, LISTRIK DAN AIR MINUM 1.. Industri.. Banyaknya unit usaha yang ada di Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2010 tercatat 9.119 unit, yang terdiri dari ; industri pangan; industri sandang dan kulit; indutri kimia dan bahan bangunan; indutri logam dan elektronika dan indutri kerajinan dengan jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 26.412 orang. Jika dibandingkan dengan angka jumlah industri pada tahun 2009 yang tercatat sebanyak 9.091 buah, BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -12.

(43) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. Laporan Akhir. III -13.

(44) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. Nilai investasi yang ditanamkan pada sektor industri ini pada tahun 2010 tercatat sebesar 72,72 milyar rupiah dengan nilai produksi sebesar 406,88 milyar rupiah dan bahan baku penolong yang digunakan senilai 241,79 milyar rupiah. Pada tahun 2010 Investasi lebih banyak pada usaha padat karya, karena dengan kenaikan jumlah perusahan dapat menyerap tenaga kerja yang lebih banyak.. 2.. Air Minum.. Pada tahun 2010 jumlah pelanggan air minum di Kabupaten Lima Puluh Kota mengalami peningkatan dari 5.036 pelanggan di tahun 2009 menjadi 5.330 pelanggan. Pengingkatan yang cukup besar terjadi untuk kategori pelanggan rumahtangga, meningkat dari 4.410 pelanggan di tahun 2009 menjadi 4.665 pelanggan di tahun 2010.. 3.4.3. TRANSPORTASI, KOMUNIKASI DAN PARIWISATA. 1. Transportasi. Jalan merupakan urat nadi perekonomian suatu wilayah, tanpa didukung oleh kondisi jalan yang baik maka usaha-usaha perekonomian yang dijalankan tidak akan mencapai hasil yang optimal. Secara umum jalan dikelompokan menjadi 3, yaitu jalan nasional, jalan provinsi dan jalan kabupaten. Panjang jalan nasional yang ada di Lima Puluh Kota tahun 2010 tercatat sepanjang 80,90 Km, kemudian panjang jalan provinsi tercatat sepanjang 124,55 Km, sementara panjang jalan kabupaten tercatat sepanjang 1.101,95 Km. 2. Komunikasi. Seperti tahun-tahun sebelumnya salah satu kegiatan Pos adalah mengirim dan menerima surat, baik surat biasa, kilat, kilat khusus, tercatat dan lain-lain. Selama tahun 2009 dari bulan Januari sampai dengan Desember , jumlah surat yang dikirim cukup berfluktuasi, seperti banyaknya surat biasa yang dikirim pada bulan Januari sebesar 388 buah kemudian bulan Februari sebanyak 349 buah dan terakhir bulan Desember tercatat sebanyak 216 buah dengan total selama tahun 2009 sebanyak 3.766 buah.. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -14.

(45) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. Jumlah pelanggan telepon tahun 2010 tercatat sebanyak 1.388 pelanggan yang tersebar di 8 Sentral Telepon Otomatis ( STO ). Kecamatan yang belum masuk jaringan telepon adalah Kecamatan Bukik Barisan, Gunuang Omeh dan Kecamatan Kapur IX.. 3. Pariwisata Di Kabupaten Lima Puluh Kota tersedia beberapa objek wisata baik alam maupun budaya seperti Objek Wisata Lembah Harau, Pusako Rumah Gadang, pemandian Batang Tabik dan lain-lain. Jumlah kunjungan selama tahun 2010 rata-rata mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk objek wisata Lembah Harau selama tahun 2010 jumlah kunjungan Wisnu tercatat sebesar 135.559 orang dan Wisman tercatat sebesar 918 orang dengan total kunjungan sebanyak 136.477 orang. Angka tersebut naik sebesar 13,97 persen jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan tahun 2009.. 3.4.4.. KEUANGAN DAERAH Tahun anggaran 2010 Pemerintah Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota merancang anggaran pendapatan dan belanja daerah yang dituangkan dalam APBD Kabupaten Lima Puluh Kota. Anggaran Pendapatan Daerah 2010 sebesar 587,52 milyar rupiah dengan realisasi pada tahun anggaran tersebut sebesar 98,78 persen atau sebesar 580,32 milyar rupiah, dengan realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar 17,43 milyar rupiah. Kemudian untuk Belanja Daerah dengan tahun yang sama dengan pendapatan, terealisasi sebesar 536,75 milyar rupiah atau sebesar 91,96 persen. Kecamatan yang paling besar dananya adalah Kecamatan Harau, yaitu sebesar 1,27 Milyar Rupiah.. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -15.

(46) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. 3.5. KOTA SARILAMAK Penetapan Kota Sarilamak sebagai pusat Ibukota Kabupaten didukung dengan Perda No. 17 Tahun 2002 tentang pemindahan Ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota ke Kota Sarilamak dan Perda No. 18 tentang rencana Kota Sarilamak sebagai Ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota dan Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 2004 Tentang Pemindahan Ibukota Kabupaten dari Wilayah Kota Payakumbuh ke Sarilamak. Batas Administratif Kota Sarilamak berbatasan dengan: Wilayah Utara : Nagari Harau dan Nagari Solok Bio Bio Wilayah Selatan: Nagari Koto Tuo, Tanjung Pati dan Nagari Taram, Wilayah Barat: Kecamatan Payakumbuh, Wilayah Timur: Kabupaten Kampar - Provinsi Riau. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -16.

(47) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. 3.5.1. Potensi dan Masalah Kota Sarilamak. A. Potensi Beberapa potensi dan masalah kota Sarilamak antara lain: . Pemindahan Ibu Kota Kabupaten Lima Puluh Kota ke Perkotaan Sarilamak akan memacu perkembangan bagian tengah Kabupaten Lima Puluh Kota terutama yang berdekatan dengan kawasan perkotaan Payakumbuh;. . Merupakan jalur strategis PKN Padang – PKW Bukittinggi – PKN Pekanbaru yang merupakan urat nadi perekonomian wilayah Pulau Sumatera;. . Rencana pembangunan Ruas Jalan Tol. Pekanbaru – Bangkinang –. Payakumbuh – Bukittinggi yang yang melintasi wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota akan mendorong pusat kegiatan baru khususnya permukiman di sekitar gerbang tol dan perkotaan sekitarnya terutama di perkotaan Sarilamak . Potensi pariwisata (baik wisata alam maupun budaya) khususnya objek wisata Harau yang dikategorikan sebagai kawasan lindung geologi dan kawasan pariwisata alam yang tidak dimiliki oleh daerah lain.. . Merupakan bagian dari wilayah yang rentan terhadap bencana meliputi sesar aktif maupun bencana banjir, angin ribut dan kekeringan. . Adanya potensi masyarakat madani yang dikaitkan dengan latar belakang budaya yang kuat dan terlembagakan melalui lembaga adat nagari;. Beberapa permasalahan kota Sarilamak antara lain: B. Permasalahan . Pembangunan, terutama perumahan dan permukiman dan sarana perdagangan dan jasa lebih cepat dibandingkan dengan sarana dan prasarana pendukung yang kelola olah pemerintah kabupaten.. . Di sepanjang jalan Nasional (arteri perimer) di kota Sarilamak saat ini berkembang kegiatan perdagangan dan jasa, perkantoran dan perumahan. Kondisi ini tidak sesuai dengan fungsi jalan nasional. Oleh. . Menunjukkan kecenderungan tata bangunan dan lingkungan yang tidak teratur khusunya pada lingkungan perumahan dan permukiman. . Merupakan bagian dari wilayah yang rentan terhadap bencana meliputi sesar aktif maupun bencana banjir, angin ribut dan kekeringan. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -17.

(48) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. 3.5.2 Fungsi Dan Peranan Kota Sarilamak Seiring dengan tingkat pembangunan berbagai sektor di Kabupaten Lima Puluh Kota yang pada setiap tahunnya mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dan secara administrasi pusat Ibukota Kabupaten yang selama ini berada pada kawasan administrasi Kota Payakumbuh, maka dari hal tersebut Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota merencanakan pembangunan Ibukota Kabupaten yang akan diarahkan pembangunannya ke Kota Sarilamak Kecamatan Harau. Kota Sarilamak dalam lingkup regional Propinsi Sumatera Barat merupakan Kota yang berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL). Dengan daerah pelayanan Kabupaten Limapuluh Kota. Secara regional Kota Sarilamak dalam skala regional Propinsi Sumatera Barat memiliki peranan yang sangat strategis untuk mengcounter pertumbuhan ekonomi dan penduduk ke Propinsi Riau. Dengan melihat kedudukan, peran dan posisi Kota Sarilamak maka fungsi pengembangan Kota Sarilamak yaitu sebagai berikut: 1. Pusat pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota yang didukung oleh kawasan pemerintahan yang mudah dicapai oleh penduduk Kabupaten. 2. Pusat pelayanan sosial Kabupaten Lima Puluh Kota yang didukung oleh berbagai sarana pendidikan dan kesehatan. 3. Pusat pelayanan ekonomi bagi kebutuhan penduduk Kabupaten Lima Puluh Kota yang didukung oleh berbagai sarana perdagangan dan jasa. 4. Pusat pariwisata di Kabupaten Lima Puluh Kota yang didukung oleh adanya objek-objek wisata dan cagar alam Harau serta fasilitas pelayanan wisata. 5. Gerbang Propinsi Sumatera Barat menuju Propinsi Riau yang perlu dipersiapkan sebagai kota persinggahan dengan membuat berbagai daya tarik kota. Daya tarik kota tersebut seperti pengembangan rest area dan sarana rekreasi ruang terbuka kota serta sarana perdagangan yang menarik dan nyaman. 6. Pusat permukiman penduduk, dengan pengembangan sebagai Ibukota Kabupaten maka Kota Sarilamak perlu didukung oleh perumahan beserta sarana pendukungnya untuk mengantisipasi pertambahan penduduk kota.. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -18.

(49) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. Kota Sarilamak memiliki dua fungsi kota, yaitu fungsi primer dan fungsi sekunder. Fungsi primer merupakan fungsi. yang. berkaitan. dengan. pelayanan skala regional sedangkan fungsi sekunder merupakan fungsi pelayanan skala kota dan kabupaten.. Kota Sarilamak sebagai Ibukota Kabupaten Limapuluh Kota dimasa depan akan berkembang sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota sebagai fungsi primer. Fungsi primer lain yang akan berkembang di Kota Sarilamak yaitu fungsi perdagangan dan jasa. Sebagai kota yang akan menjadi gerbang utara Propinsi Sumatera Barat menuju Propinsi Riau maka Kota Sarilamak berpeluang untuk menjadi kota perdagangan dan jasa. Skala pelayanan perdagangan dan jasa Kota Sarilamak perlu mempertimbangkan pusat perdagangan lain yang berpengaruh terutama pusat perdagangan dan jasa di Kota Payakumbuh. Dengan jarak antara Kota Payakumbuh sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Propinsi Sumatera Barat yang hanya sekitar 8 km dari Kota Sarilamak maka fungsi pelayanan perdagangan barang kebutuhan untuk konsumsi penduduk dan jasa komersial di Kota Sarilamak terbatas pada skala pelayanan skala kota dan sebagai kecamatan di wilayah sekitar yang mencakup Kecamatan Harau dan Kecamatan Mungka. Peluang pengembangan fungsi perdagangan dan jasa Kota Sarilamak dalam skala pelayanan kabupaten yaitu sebagai outlet atau pasar pengumpul hasil bumi dan pasar ternak dari Kabupaten Limapuluh Kota sebelum di ekspor keluar Propinsi Sumatera Barat menuju Propinsi Riau. Komoditi unggulan di Kabupaten Limapuluh Kota seperti hasil pertanian (jagung, pisang, tembakau, gambir, karet dan kopi) dan peternakan merupakan komoditi potensial untuk dikumpulkan di Kota Sarilamak sebelum dipasarkan ke Propinsi Riau.. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -19.

(50) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. Laporan Akhir. III -20.

(51) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. 3.6. BAGIAN WILAYAH KOTA (BWK). Dalam Master Plan Kota Sarilamak sebagai ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2005 dijelaskan pembagian Bagian Wilayah Kota (BWK) yang terdiri dari 7 (tujuh) kawasan fungsional meliputi Bagian Wilayah Kota (BWK) A, B, C, D, E, F dan G. Tiap BWK telah ditentukan arah pengembangannya berdasarkan fungsi peruntukan kawasan. Kota Kawasan Perencanaan berada pada Bagian Wilayah Kota (BWK C dan BWK D) dengan fungsi sebagai berikut : 1. BWK C dengan fungsi sebagai pusat utama kota dan dijadikan sebagai pusat utama Kota Sarilamak dengan fungsi utama sebagai kawasan perdagangan regional dan perkantoran. Wilayahnya meliputi Nagari Sarilamak yang terdiri dari Jorong Sarilamak dan Jorong Purwajaya. 2.. BWK D dengan fungsi sebagai pusat utama Kota Sarilamak yang terdiri dari pusat perumahan, pemerintahan, pusat industri pengolahan dan perkantoran. Wilayahnya meliputi Nagari Sarilamak yang terdiri dari Jorong Ketinggian.. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -21.

(52) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. 3.7. RENCANA-RENCANA PENGEMBANGAN DI KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Sesuai dengan RTRW kabupaten Lima Puluh Kota, bahwa kota Sarilamak sebagai pusat kabupaten akan menjadi proritas dalam pengembangan pembangunan, beberapa rencana-rencana pembangunan infrastruktur strategis yang akan dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Jalan Nasional Non Tol Sebagai upaya untuk mengantisipasi problem lalu lintas di Perkotaan Sarilamak berupa peningkatan volume lalu lintas, banyaknya mixed traffic yang dalam hal ini sebagai akibat dari banyaknya lalu lintas yang bersifat through traffic atau pergerakan lalu lintas outer to outer zone yang sebenarnya tidak perlu melewati Kota Sarilamak itu sendiri. Pada tahap tertentu keberadaan through traffic ini akan sangat membantu untuk menghidupkan aktivitas ekonomi sebuah kota, namun pada tahap berikutnya justru keberadaan through traffic tersebut akan mengganggu lalu lintas di dalam kota, sehingga pada beberapa kota dibuat alternatif solusi yang sering berupa jalan lingkar (ring road) atau secara umum disebut sebagai by pass. Oleh karena itu perlu dibuat jalan lingkar luar.. 2. Jalan TOL Rencana jalan tol yang melintasi Kabupaten Lima Puluh Kota adalah masih merupakan arahan pengembangan jalan tol yang akan dikembangkan meliputi ruas Pekanbaru – Bangkinang – Payakumbuh – Bukittinggi sesuai Lampiran III PP 26/2008 tentang RTRW Nasional. Adapun rencana pengembangan jalan tol di Kabupaten Lima Puluh Kota dari jalan tol menuju luar jalan tol, akan mempengaruhi beberapa nagari / kecamatan sebagai berikut:  Kecamatan Akabiluru  Kecamatan Harau  Kecamatan Payakumbuh  Kec. Pangkalan Koto Baru. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -22.

(53) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. Jalur ini menimbulkan potensi pergerakan arus lebih dominan dibagian tersebut. Berdasarkan lokasi yang terkait dengan tata ruang akan menimbulkan wilayah yang strategis karena faktor kedekatan dengan jalan tol dan merupakan jalur utama pergerakan di Kabupaten Lima Puluh Kota dengan wilayah luar. Rekomendasi yang perlu dilakukan adalah :  Antisipasi adanya perubahan kondisi tranportasi di beberapa ruas jalan terutama pada jalur-jalur entrance dan exit dari ruas jalan tol.  Terjadinya perubahan tata guna lahan misalnya munculnya permukiman baru dan pengembangan kawasan industri sebagai akibat adanya jalur atau akses baru yang mempermudah pergerakan sehingga berpengaruh pola penggunaan lahan pada jalur-jalur disekitar ruas tol.  Pada titik koordinat ruas yag direncanakan harus dilakukan penelitian kepemilikan lahan dan perlu dilaksanakan pendekatan/sosialisasi sehingga tidak terkendala.. 3. Rencana Pengembangan Jaringan Jalan Lainnya Berdasarkan konsep struktur ruang tersebut maka direncanakan akan berkembangnya beberapa simpul jalan di Kabupaten Lima Puluh Kota. Rencana peningkatan dan pembangunan simpul-simpul jalan di Kabupaten Lima Puluh Kota akan sangat mempengaruhi perkembangan wilayah untuk ke depannya. Simpul-simpul jalan yang akan dikembangkan sebagai jalan kolektor primer yakni sebagai berikut : a. Simpul Sarilamak – Luak Simpul ini melewati Bukik Limbuku – Tanjung Pati (ruas 47) – Taram – Bukik Limbuku (ruas 45) – Andaleh Taram ( ruas 44) – Andaleh Mungo (ruas 120). b. Simpul Sarilamak – Akabiluru Simpul jalan ini melewati Kota Payakumbuh, lurus sepanjang jalan negara hingga ke Kecamatan Akabiluru c. Simpul Sarilamak – Suliki Simpul ini berkembang mengikuti jalan negara dan jalan provinsi yang dari Sarilamak Kecamatan Harau melewati Kecamatan Luak, Kecamatan Guguak hingga Kecamatan Suliki. d. Simpul Sarilamak – Guguak BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -23.

(54) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. Laporan Akhir. Simpul ini berkembang mengikuti jalan negara dan jalan provinsi yang dari Sarilamak Kecamatan Harau melewati Kecamatan Luak, hingga Kecamatan Guguak. e. Simpul Sarilamak – Pangkalan Koto baru Simpul ini dihubungkan oleh jalan negara f. Simpul Guguak – Luak Simpul ini dihubungkan oleh jalan Jalan propinsi – Pakan Sabtu – Munggo (ruas 41) g. Jalang lingkar luar Kota Sarilamak Rencana pengembangan jaringan jalan di kabupaten Lima Puluh Kota akan difokuskan pada kawasan-kawasan seperti CBD Kota Sarilamak, kawasan perkebunan Buluh Kasok, Kawasan sentra produksi dan agropolitan Mungka, Kawasan sentra produksi dan agropolitan Padang Mangateh, kawasan sentra produksi dan agropolitan Kapur IX, kawasan sentra pertambangan Pangkalan Koto Baru, kawasan sentra pertambangan Kapur IX, kawasan sentra pertambangan Manggani Gunuang Omeh, kawasan wisata Lembah Harau, kawasan wisata Batang Tabik, kawasan wisata Air Terjun Sarasah Murai, kawasan wisata Bandar Udara Piobang, kawasan terisolir dan Jalan akses menuju Bandara Piobang.. Gambar Peta Rencana Pengembangan Jaringan Jalan dan kawasan sekitarnya. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -24.

(55) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. 3.8.. Laporan Akhir. KARAKTERISTIK VISUAL KOTA SARILAMAK Sistem perkotaan di Sarilamak bersifat radial menyebar, dengan pusat kota di tengah kota dan permukiman yang menyebar di beberapa daerah dekat pusat kota. Pertumbuhan kota Sarilamak saat ini masih berorientasi ke jalan Nasional yang berfungsi arteri primer. fungsi-fungsi bangunan masih beragam/campuran, namun didominasi oleh kegiatan perdagangan dan jasa. fungsi-fungsi campuran yang ada saat ini antara lain: perkantoran pemerintah, pertokoan, bank, perbengkelan, industri kecil, rumah sakit, rumah makan dan pusat oleh oleh, masjid, hunian dan lain-lain. Sebahagian jalan utama kota Sarilamak juga masih dimanfaatkan dengan fungsi persawahan dan perkebunan. secara visual dapat dilihat seperti gambar dibawah ini:. Gambar Foto Kawasan Perkantoran dan Pasar Tradisional di Sarilamak. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. III -25.

(56) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. Laporan Akhir. III -26.

(57) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. BAB III - Gambaran Umum Kawasan Perencanaan. Laporan Akhir. III -27.

(58) RTBL KORIDOR JALAN KOTA SARILAMAK. BAB IV - Proram Bangunan dan Lingkungan. Laporan Akhir. IV -1.

Referensi

Dokumen terkait

PENYUSUNAN RENCANA UMUM & RANCANG BANGUN : Merupakan ketentuan tata bangunan dan lingkungan pada suatu kawasan yang bersifat lebih detail dan bersifat sebagai panduan atau

Muatan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten berdasarkan Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan, meliputi: 1)

Berbagai permasalahan perkotaan tersebut merupakan hal yang terjadi apabila pembangunan sebuah kawasan perkotaan tidak dilakukan dengan perencanaan yang baik dan

Kawasan perencanaan kegiatan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Pulau Punjung di Kabupaten Dharmasraya meliputi kawasan perkotaan di Kecamatan Pulau Punjung sehingga

Muatan perencanaan RTRW Kabupaten Bone 2011-2031, meliputi: rencana tata ruang kawasan lindung dan budidaya; kawasan perkotaan; kawasan perdesaan; kawasan pesisir; rencana

Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Ruang Kawasan Perkotaan Perkotaan juga merupakan rencana juga merupakan rencana yang menetapkan blok-blok peruntukan pada kawasan

Dukungan program/kegiatan dalam penataan bangunan dan lingkungan khususnya di kawasan perkotaan masih sangat dibutuhkan, seperti: rencana tata bangunan dan lingkungan (RTBL)

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kawasan Pasar Sudimampir Kota Banjarmasin belum memenuhi dalam kriteria penerapan elemen fisik pembentuk ruang kawasan perkotaan, land use dan