87
Fakultas Ekonomi Universitas Widya Dharma Klaten
PENGARUH PERILAKU PRODUKTIF KARYAWAN, KEDISIPLINAN KERJA DAN KINERJA KARYAWAN TERHADAP PENERAPAN TOTAL QUALITY
MANAGEMENT PADA “PT ALIS JAYA CIPTATAMA”
CEPER KLATEN
M Jefry Ardianta, Wahjoe Sri Irwanto
Fakultas Ekonomi Universitas Widya Dharma Klaten
ABSTRACT
Abstrak : Populasi dalam sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 40 sampel. Dengan metode purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa kuisioner yang sumbernya dari sejumlah sampel yaitu
40 karyawan.
Analisis yang dilakukan adalah dengan analisis regresi linear berganda untuk mengetahui hubungan antara ketiga variable tersebut. Dan kemudian dilakukan perhitungan signifikan dengan uji t, uji R dan uji F. Hasil analisi menunjukan bahwa terdapat pengaruh antara perilaku produktif karyawan ,kedisiplinan kerja dan kinerja karyawan terhadap penerapan TQM pada PT Alis Jayan Ciptatama Ceper Klaten,terbukti kebenarannya.
Kata kunci : perilaku produktif karyawan, kedisiplinan kerja, kinerja karyawan, penerapan TQM
PENDAHULUAN
Untuk mencapai kualitas produk yang sempurna, dibutuhkan program peningkatan kualitas terus menerus agar dapat bersaing, sehingga diperlukan peningkatan produktivitas, untuk pemanfaatan tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang juga harus ditingkatkan. Dikutip dari Pratama Rus
Ramdhani dalam
http://wapedia/artikel/html.
Mutu atau kualitas suatu barang pada umumnya diukur dengan tingkat kepuasan konsumen atau pelanggan.
Seberapa besar kepuasan yang diperoleh pelanggan tergantung dari tingkat
kecocokan penggunaan masing-masing pelanggan. Seorang pengusaha membeli produk yang digunakan sebagai bahan aku akan mengatakan barang tersebut dirasa cocok penggunaannya dan mempunyai kemampuan memproses bahan baku menjadi barang jadi dengan biaya rendah dan sisa yang minimal.
Seorang membeli barang jadi dengan harapan barang-barang tersebut bebas dari cacat bawaan dari pabrik sehingga merasa tidak rugi dalam mengeluarkan uang untuk membeli barang tersebut.
Dengan demikian, pengertian kualitas mencakup semua kegiatan yang
87 berkaitan dengan tercapainya kepuasan pemakai barang tersebut.
Mutu atau kualitas yang diharapkan oleh perusahaan akan terwujud dengan baik dan mudah yaitu dengan campur tangan semua elemen yang ada dalam perusahaan tersebut.
Baik elemen bagian produksi, manajemen, sumber daya manusia, dan lainnya. Dan pengaruh paling besar ada pada sumber daya manusia atau karyawannya. Hal tersebut salah satunya dibuktikan dengan perilaku produktif, kedisiplinan kerja dan kinerja karyawan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya untuk perusahaan tersebut.
Kualitas menjadi “jalan hidup”
(way of life) pada PT Alis Jaya Ciptatama. Usaha peningkatan kualitas yang lebih baik dan continuous process improvement dengan quality control, disiplin kerja yang cukup tinggi sehingga produk cacat, scrap, dan rework dapat diminimalkan, maka PT Alis Jaya Ciptatama di Ceper, Klaten, Jawa Tengah mulai memperbaiki kualitas produknya dengan menerapkan prinsip TQM untuk dapat meningkatkan produktivitas karyawandan meningkatkan kinerja karyawan sehingga menguntungkan bagi perusahaan.
Baik elemen bagian produksi, manajemen, sumber daya manusia, dan lainnya. Dan pengaruh paling besar ada pada sumber daya manusia atau karyawannya. Hal tersebut salah satunya dibuktikan dengan perilaku produktif, kedisiplinan kerja dan kinerja karyawan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya untuk perusahaan tersebut.
Kualitas menjadi “jalan hidup”
(way of life) pada PT Alis Jaya Ciptatama. Usaha peningkatan kualitas yang lebih baik dan continuous process improvement dengan quality control,
disiplin kerja yang cukup tinggi sehingga produk cacat, scrap, dan rework dapat diminimalkan, maka PT Alis Jaya Ciptatama di Ceper, Klaten, Jawa Tengah mulai memperbaiki kualitas produknya dengan menerapkan prinsip TQM untuk dapat meningkatkan produktivitas karyawan dan meningkatkan kinerja karyawan sehingga menguntungkan bagi perusahaan
TINJAUAN PUSTAKA
A. Perilaku Produktif Karyawan 1. Definisi perilaku produktif
Perilaku produktif ialah seseorang yang memberikan
kontribusi kepada
lingkungannya, dia imajinatif, dan inovatif, bertanggung jawab dan responsif dalam berhubungan dengan orang lain.
Dimana jika telah tercipta perilaku produktif yang baik antar karyawan, hal tersebut akan berdampak pada terciptanya kerjasama
(teamwork) antar karyawan, dimana teamwork ini merupakan salah satu prinsip penerapan TQM. Pengelolaan sumber daya manusia yang efektif yaitu dengan mengarahkan karyawan ke arah yang produktif (Edwin B Flippo, Moh Masud, 1994).
2. Faktor-faktor yang
mempengaruhiperilaku produktif karyawan, diantaranya
a. Semangat kerja b. Disiplin kerja c. Stres
3. Ciri-ciri individu yang produktif, diantaranya :
88 a. Cerdas dan dapat belajar
dengan cepat
b. Kompeten secara profesional/teknis selalu memperdalam pengetahuan dalam bidangnya.
c. Kreatif, inovatif, memperlihatkan kecerdikan dan keanekaragaman
d. Memahami pekerjaan
e. Menggunakan logika, mengorganisasikan
pekerjaan dengan efisien, tidak mudah macet dalam pekerjaan
f. Selalu mencari perbaikan, tetapi tahu kapan harus berhenti
g. Dianggap bernilai oleh atasannya
h. Memiliki catatan
prestasi yang berhasil
i. Selalu meningkatkan diri.
B. Kedisiplinan Kerja
Menurut Alex S.
Nitisemito kedisiplinan lebih dapat diartikan suatu sikap atau perilaku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh perusahaan atau instansi yang bersangkutan baik secara tertulis maupun tidak tertulis.
Kedisiplinan karyawan adalah sifat seorang karyawan yang secara sadar, mematuhi aturan dan peraturan organisasi tertentu. Kedisiplinan adalah bentuk latihan bagi karyawan dalam melaksanakan aturan-aturan perusahaan. Kedisiplinan adalah sangatlah penting karena dengan disiplin, tugas atau tanggung jawab dari karyawan dapat
terselesaikan tepat pada waktunya.
Pada pelaksanaannya terkadang tindakan indisipliner kerap terjadi, disinilah karyawan diberikan sangsi sesuai dengan prosedur, dan diharapkan dengan sangsi yang diberikan agar karyawan dapat belajar dari kesalahan, dan tidak akan mengulangi lagi.
Semakin disiplin karyawan dalam bekerja maka penerapan aturan- aturan akan lebih mudah dilaksanakan. Adanya disiplin dari karyawan akan memudahkan perusahaan dalam menerapkan TQM.
Berdasarkan pada pengertian tersebut di atas, maka tolak ukur pengertian kedisiplinan kerja pada karyawan adalah sebagai berikut ini.
1. Kepatuhan terhadap jam-jam kerja.
2. Kepatuhan terhadap instruksi dari atasan, serta pada peraturan dan tata tertib yang berlaku.
3. Berpakaian yang baik pada tempat kerja dan menggunakan tanda pengenal instansi.
4. Menggunakan dan memelihara bahan-bahan dan alat-alat perlengkapan kantor dengan penuh hati-hati.
5. Bekerja dengan mengikuti cara- cara bekerja yang telah ditentukan.
C. Kinerja Karyawan
Kinerja karyawan adalah keterkaitan unsur motivasi, kemampuan individu, serta faktor organisasi, yang menghasilkan perilaku dalam suatu perusahaan atau organisasi.
89 1. Faktor – faktor yang
mempengaruhi
kinerja karyawan, diantaranya :
a. Keahlian b. Kemampuan c. Kebutuhan
2. Ciri – ciri kinerja karyawan yang optimal, diantaranya : a. Pelaksanaan tugas pokok
(berdasarkan identifikasi dan elemen kritis pekerjaan) b. Menjelaskan produk kepada
calon pembeli c. Menjual produk
d. Melakukan pengepakan dan pengiriman
e. Menanggapi komplain dan keluhan
f. Mematuhi perintah g. Melaporkan masalah h. Merawat perlengkapan i. Membuat catatan pekerjaan j. Mengikuti peraturan
k. Hadir secara teratur l. Memberi saran
D. Total Quality Management
TQM merupakan satu sistem yang saat ini mulai diterapkan oleh perusahaan- perusahaan karena dianggap mampu mendukung kinerja manajerialnya. TQM juga dikenal dengan Manajemen Mutu Terpadu. Menurut Ishikawa dalam Nasution (2005: 22) “TQM diartikan sebagai perpaduan semua fungsi manajemen, semua bagian dari suatu perusahaan dan semua orang ke dalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, team work, produktivitas, dan kepuasan pelanggan”.
Sukses tidaknya
implementasi TQM sangat ditentukan oleh kompetensi SDM
perusahaan untuk
merealisasikannya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa TQM adalah suatu alat yang digunakan oleh manajemen suatu perusahaan yang melibatkan seluruh personel dalam perusahaan dalam melakukan perbaikan secara terus-menerus atas produk, pelayanan, lingkungan yang berhubungan dengan produk perusahaan, dan manajemen perusahaan melalui metode ilmiah yang inovatif.
METODE PENELITIAN A. Sumber Data
1. Data Primer
Data primer diperoleh secara khusus dengan cara menjawab pertanyaan penelitian, dan juga dapat diperoleh dari lapangan yang menggunakan data secara ordinal. Data primer dalam penelitian ini menggunakan kuisioner.
2. Data Sekunder
Data sekunder biasanya telah dikumpulkan oleh lembaga pengumpul data dan dipublikasikan kepada
masyarakat pengguna data. Data penelitian ini diperoleh dari skripsi, jurnal, buku-buku referensi serta arsip yang berhubungan dengan penelitian yaitu di PT Alis Jaya Ciptatama.
90 B. Populasi, Sampel dan Teknik
Pengambilan Sampel
Populasi adalah kumpulan dari objek yang akan diteliti, dalam penelitian ini adalah karyawan tetap pada PT Alis Jaya Ciptatama Ceper Klaten.
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut, yaitu sebanyak 40 dari 266 karyawan. Peneliti mengambil sampel dari sebagian populasi.
Adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah secara acak atau dengan metode random sampling.
C. Variabel Penelitian dan Pengukurannya
1. Variabel Penelitiannya
Variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Dalam penelitian ini ada tiga variabel yaitu sebagai berikut ini.
2. Teknis Analisis Data a. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengetahui apakah setiap item pertanyaan (angket) yang diajukan kepada responden adalah valid (sahih). Valid atau tidaknya alat ukur tersebut diuji dengan melakukan korelasi bivariate antara masing- masing skor indikator dengan total skor
konstruk dengan
menggunakan program SPSS Versi 19. Apabila hasilnya menunjukkan hasil yang signifikan maka dapat disimpulkan bahwa masing-
masing indikator
pertanyaan atau uji validitas dalam penelitian adalah valid.
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas bertujuan untuk menunjukkan sifat suatu alat ukur dalam pengertian apakah alat ukur yang digunakan cukup akurat, stabil, atau konsisten dalam mengukur apa yang ingin diukur.
Pengukuran reliabilitas menggunakan nilai Cronbach Alpha, suatu kuisioner dikatakan reliabel jika memiliki nilai Cronbach Alpha > 0.6 (Hair, et. Al,. 1998).
3. Skala Pengukuran Variabel Pengukuran variabel yang akan diteliti yaitu skala
interval. Skala interval adalah ukuran yang tidak semata- mata menunjukkan urutan (rangking) obyek penelitian berdasarkan suatu atribut, tetapi juga memberikan informasi tentang jarak perbedaan (interval) antara tingkatan obyek yang satu dengan tingkatan obyek yang lain (Sugiyono, 2005:96).
Untuk mengukur tanggapan atau sikap responden tersebut, \maka peneliti
menggunakan skala likert.
Dalam skala likert (Cooper dan Emory, 1997:151) dikutip oleh Yuni Nugraha
(2009) dalam
http://yuninugraha.blogdetik.c om/2009/10/18/metedelogi- penelitian/umumnya berisi lima bagian skala terhadap
91 pernyataan-pernyataan
(statements) yang diajukan oleh peneliti dalam kuisioner.
4. Teknik Pengolahan Data Analisis kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif. Analisis statistik deskriptif adalah yang berbentuk uraian dari hasil penelitian yang didukung oleh teori dan data yang telah ditabulasi kemudian diikhtisarkan. Analisis ini digunakan untuk memperkuat analisis kuantitatif dengan menginteprestasikan hasil- hasil yang diperoleh dari analisis kuantitatif (Sugiyono, 2005).
Metode analisis kuantitatif yaitu metode analisis yang menggunakan bantuan statistik dalam memecahkan masalah.
Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Model ini dipilih untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel- variabel perilaku produktif karyawan (X1), kedisiplinan kerja (X2) dan kinerja karyawan (X3) terhadap total quality management (Y) sebagai variabel terikat. Adapun formula dari model regresi linier berganda adalah sebagai berikut ini.
Y = a+b1X1+b2X2+b3X3+e Keterangan :
Y = Total Quality Management
a = Konstanta (Intercept)
b1,2,3 = Koefisien regresi X1= Perilaku produktif
karyawan X2= Kedisiplinan kerja X3 = Kinerja
Karyawan
e = Suku kesalahan, berdistribusi normal dengan rata-rata 0. Untuk tujuanperhitunga n diasumsikan 0.
(Algifari, 2000 : 62)
5. Pengujian Hipotesis a. Uji Bersama-sama (Uji
F)
Uji F dilakukan untuk melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara keseluruhan (Sugiyono, 2005). Untuk pengujian F ini, dilakukan hipotesa sebagai berikut ini.
1. H0:b1=b2=b3=0, artinya variabel bebas (X1, X2 dan X3) secara bersama- sama tidak berpengaruh terhadap variabel terikat (Y).
2. Ha:b1≠b2≠b3≠0, artinya variabel bebas (X1, X2 dan X3) secara bersama- sama
berpengaruh terhadap variabel
92 terikat (Y).
Pengujian uji F dilakukan dengan membandingkan
Fhitung (Fh) dengan Ftabel (Ft) pada derajat signifikan 5 % (α=0,05). Apabila hasil perhitungan
menunjukkan hal – hal sebagai berikut.
1. Jika p>0.05, maka H0 diterima dan Ha ditolak, artinya variabel-variabel bebas terdiri dari perilaku produktif karyawan,
kedisiplinan kerja dan kinerja karyawan tidak berpengaruh secara bersama-sama terhadap total quality
management.
2. Jika p<0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima, artinya variabel-variabel bebas terdiri dari perilaku produktif karyawan,
kedisiplinan kerja dan kinerja karyawan
berpengaruh secara bersama-sama terhadap total quality
management.
Nilai F hitung dapat diperoleh dengan rumus:
Dimana :
Fh = Nilai F hitung
R2 = Koefisien determinasi
k = Jumlah variabel independen
n = Jumlah anggota sampel
(Sugiyono, 2005) b. Pengujian Secara
Parsial (Uji t) 1. Merumuskan hipotesis statistik (H0 dan H1)
H0 : βi = 0
Menyatakan bahwa variabel independen secara parsial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
H1 : βi ≠ 0
Menyatakan bahwa
variabel independen secara parsial memiliki
pengaruh yang
signifikan terhadap variabel dependen.
2. Menghitung thitung dengan persamaan sebagai berikut :
Dimana :
B = koefisien variabel
93 Sb = standar error koefisien variabel 3. Menghitung
tingkat probabilitas pada thitung
Jika tingkat probabilitas < 5
% maka H0 ditolak, artinya ada pengaruh yang signifikan secara parsial dari variabel
bebas (X1, X2 dan X3)\
terhadap variabel terikat (Y). Jika tingkat probabilitas >5
% maka H0 diterima, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan secara parsial dari variabel bebas (X1, X2 dan X3) terhadap variabel terikat (Y).
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan bantuan paket program SPSS versi 19.0.
c. Uji R2
Selanjutnya untuk melihat kemampuan variabel bebas dalam menerangkan variabel terikat dapat diketahui dari besarnya koefisien determinasi ganda (R2).
Formulasinya sebagai berikut ini.
Dimana :
R2 = Besarnya koefisien determinasi
b1, b2, b3 = Koefisien masing-masing variabel
X1Y = Skor deviasi perilaku produktif terhadap penerapan TQM
X2Y = Skor deviasi kedisiplinan kerja terhadap penerapan TQM
X3Y = Skor deviasi kinerja karyawan terhadap penerapan TQM
(Algifari, 2000)
Jika R2 diperoleh dari perhitungan semakin besar atau mendekati satu, maka dapat dikatakan bahwa sumbangan dari variabel bebas semakin kuat menerangkan variansi variabel terikat. Sebaliknya jika semakin kecil atau mendekati nol, maka dapat dikatakan sumbangan dari variabel bebas semakin
kecil untuk
menerangkan variansi variabel terikat. Secara umum dapat dikatakan bahwa besarnya koefisien determinasi berganda (R2) berada diantara 0 dan 1 atau 0<R2<1.
d. Koefisien Beta
Selanjutnya cari koefisien beta (β) dari
94 masing-masing variabel bebas. Hal tersebut
berguna untuk
mengetahui seberapa besar kontribusi variabel bebas secara mandiri terhadap variabel terikat.
Semakin besar
koefisien beta (β) suatu variabel bebas, menunjukkan semakin dominan variabel bebas tersebut terhadap variabel terikat.
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Data dan
Pembahasannya
Dan dalam bab IV ini akan disajikan pula analisis data yang telah diperoleh selama pelaksanaan penelitian. Penelitian ini menggunakan 40 responden dari 266 karyawan tetap yang ada pada perusahaan tersebut. Dengan jumlah kuisioner 40 dibagikan secara acak kepada karyawan PT Alis Jaya Ciptatama Ceper Klaten.
Dari penyebaran kuisioner tersebut sebanyak 40 kuisioner kembali dan kuisioner yang dapat diolah adalah sebanyak 40.
1. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengetahui apakah setiap item pertanyaan (angket) yang diajukan kepada responden adalah valid (sahih).
Valid atau tidaknya alat ukur tersebut diuji dengan melakukan korelasi bivariate antara masing- masing skor indikator dengan total skor konstruk dengan menggunakan program SPSS V19. Dan hasil yang diperoleh adalah sebagaimana yang tertera dalam tabel berikut ini.
Hasil Uji Validitas
Dari tabel 4.1 atau tampilan output SPSS terlihat bahwa korelasi antara masing-masing indikator (X1, X2, X3 dan Y) menunjukkan hasil signifikan. Jadi disimpulkan bahwa masing-masing indikator pertanyaan atau uji validitas dalam penelitian ini adalah valid.
2. Uji Reliabilitas
95 Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui tingkat keandalan angket dalam mengukur variabel.
Perhitungan uji reliabilitas menggunakan nilai Cronbach Alpha, yaitu jika kuisioner memiliki nilai Cronbach Alpha >
0.6 maka kuisioner dikatakan reliabel.
Dimana hasil uji reliabilitas pada tiap angket memperoleh hasil sebagai berikut ini.
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
N of Items
,960 4
Berdasarkan tabel 4.2 mengenai Reability Statistic diatas, nilai Cronbach’s Alpha dari keempat variabel adalah 0,960 yang berarti bahwa semua konstruk pertanyaan yang merupakan dimensi dari X1, X2, X3 dan Y adalah reliabel karena > 0,6.
Dan berdasarkan tabel 4.3 mengenai Item-Total Statistic dapat dilihat pula bahwa dimensi tiap-tiap
item pernyataan mengenai X1, X2, X3 dan Y adalah reliabel karena X1 = 0,895 X2
= 0,896 X3 = 0,893 dan Y = 0,938 adalah
> 0,6 sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang dikumpulkan melalui angket ini sangat reliabel dan dapat dipercaya untuk mengumpulkan data penelitian.
3. Deskripsi Data
Deskripsi data dalam penelitian ini menggunakan skala pengukuran variabel. Data dalam penelitian ini menggunakan angket atau kuisioner. Kuisioner yang disebar sebanyak 40 angket dan angket yang kembali sebanyak 40.
Hasil penskoran terhadap angket tersebut didapatkan data- data tentang skor perilaku produktif, kedisiplinan kerja, kinerja karyawan dan penerapan TQM yang ditabulasikan ke dalam tabel yang dapat dilihat pada lampiran 1.
Dari tabulasi tersebut diperoleh data induk sebagai berikut ini.
96 D
a t a I n d u k P e n e l i t i an
Dari data tersebut dapat dilakukan analisis deskriptif untuk mengetahui karakteristik responden ditinjau dari perilaku produktif, kedisiplinan kerja, kinerja karyawan dan penerapan TQM. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil analisis deskriptif sebagai berikut ini
Deskripsi datanya adalah sebagai berikut ini.
a. Data Hasil Angket Perilaku Produktif (X1)
Melalui tabel 4.5 tersebut diatas hasil skoring
angket tentang perilaku produktif pada karyawan PT Alis Jaya
Ciptatama Ceper Klaten
diperoleh skor tertinggi 74 dan skor terendah adalah 21 dengan rata-rata skor 61,125 dan standar deviasi (SD) sebesar 10,08982.
Nilai rata-rata sebesar 61,125 jika dibagi jumlah pertanyaan sebanyak 15 item maka diperoleh nilai 4,075 berada pada range 3,40 – 4,39 dan termasuk kategori tinggi. Artinya perilaku produktif karyawan PT Alis Jaya Ciptatama Ceper Klaten termasuk tinggi.
b. Data Hasil Angket Kedisiplinan Kerja (X2)
Melalui tabel 4.5 tersebut diatas hasil skoring angket tentang kedisiplinan kerja pada karyawan PT Alis Jaya Ciptatama Ceper Klaten diperoleh skor tertinggi 75 dan skor terendah adalah 18 dengan rata-rata skor 59,025 dan standar deviasi (SD) sebesar 11,00230. Nilai rata-rata sebesar 59,025 jika dibagi jumlah pertanyaan sebanyak 15 item maka diperoleh nilai 3,935 berada pada range 3,40 – 4,39 dan termasuk kategori tinggi. Artinya
No.
Resp.
Perilaku Produktif
Kedisiplinan Kerja
Kinerja Karyawan
Penerapan TQM
1 69 71 59 57
2 65 66 66 65
3 56 55 52 44
4 54 37 51 41
5 71 66 62 73
6 58 60 60 59
7 67 75 69 61
8 57 60 58 59
9 21 18 18 15
10 59 58 60 60
11 53 58 56 55
12 52 56 56 53
13 70 68 67 67
14 74 68 72 75
15 56 60 60 60
16 56 51 55 52
17 73 72 60 66
18 56 60 64 57
19 58 57 51 50
20 42 39 46 42
21 64 55 60 59
22 72 67 71 68
23 70 67 67 68
24 71 69 65 70
25 57 58 57 57
26 55 56 58 57
27 59 46 60 58
28 64 63 68 62
29 46 47 56 45
30 60 65 60 63
31 71 62 61 65
32 74 71 67 72
33 61 60 60 61
34 58 58 61 63
35 71 74 71 69
36 67 51 66 52
37 66 49 50 52
38 64 63 55 58
39 64 66 62 59
40 64 59 55 58
97 kedisiplinan kerja karyawan PT Alis Jaya Ciptatama Ceper Klaten termasuk tinggi.
c. Data Hasil Angket Kinerja Karyawan (X3)
Melalui tabel 4.5 tersebut diatas hasil skoring angket tentang kinerja karyawan pada karyawan PT Alis Jaya Ciptatama Ceper Klaten diperoleh skor tertinggi 72 dan skor terendah adalah 18 dengan rata-rata skor 59,300 dan standar deviasi (SD) sebesar 9,07010. Nilai rata- rata sebesar 59,300 jika dibagi jumlah pertanyaan sebanyak 15 item maka diperoleh nilai 3,953 berada pada range 3,40 – 4,39 dan termasuk kategori tinggi. Artinya kinerja karyawan PT Alis Jaya Ciptatama Ceper Klaten termasuk tinggi.
d. Data Hasil Angket Penerapan TQM (Y)
Melalui tabel 4.5 tersebut diatas hasil skoring angket tentang penerapan TQM pada karyawan PT Alis Jaya Ciptatama Ceper Klaten diperoleh skor tertinggi 75 dan skor terendah adalah 15 dengan rata-rata skor 58,175 dan standar deviasi (SD) sebesar 10,71995. Nilai rata-rata sebesar 58,175 jika dibagi jumlah pertanyaan sebanyak 15 item maka diperoleh nilai
3,878 berada pada range 3,40 – 4,39 dan termasuk kategori tinggi. Artinya efektivitas penerapan TQM menurut karyawan PT Alis Jaya Ciptatama Ceper Klaten sudah termasuk tinggi.
4. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis ini
digunakan untuk
mengetahui pengaruh antara variabel independen yaitu perilaku produktif (X1), kedisiplinan kerja (X2), dan kinerja karyawan (X3) terhadap variabel dependen yaitu penerapan TQM (Y). Berdasarkan hasil analisis regresi ganda dengan program SPSS versi 19,0 diperoleh hasil sebagai
berikut ini.
Berdasarkan hasil analisis regresi di atas dapat disusun persamaan sebagai berikut ini.
Y =
a+b1X1+b2X2+b3X3+e Y= -5,922 + 0,319.X1 + 0,311.X2 + 0,443.X3
Atau
Penerapan TQM = - 5,922 + 0,319 (perilaku
98 produktif karyawan) + 0,311 (kedisiplinan kerja) + 0,443 (kinerja karyawan)
Interprestasi dari persamaan regresi linier berganda tersebut adalah sebagai berikut ini.
a = -5,922. Artinya jika tidak ada peningkatan perilaku produktif,
kedisiplinan kerja, dan kinerja karyawan, maka penerapan TQM akan berkurang sebesar 5,922 satuan.
b1 = 0,319. Artinya jika perilaku produktif karyawan meningkat 1 poin, maka penerapan TQM akan meningkat sebesar 0,319 satuan, dengan asumsi kedisiplinan kerja dan kinerja karyawan dianggap tetap.
b2 = 0,311. Artinya jika kedisiplinan kerja karyawan meningkat 1 poin, maka penerap
an TQM akan
meningkat sebesar 0,311 satuan, dengan asumsi perilaku produktif dan kinerja karyawan dianggap tetap.
B3 = 0,443. Artinya jika kinerja karyawan meningkat 1 poin, maka penerapan
TQM akan meningkat sebesar 0,443 satuan, dengan asumsi perilaku produktif dan kedisiplinan kerja karyawan dianggap tetap.
5. Uji F (Pengaruh secara Simultan)
Uji F untuk mengetahui apakah variabel perilaku produktif, kedisiplinan kerja, dan kinerja karyawan secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang berarti (signifikan) terhadap penerapan TQM. Melalui
Uji F dengan
menggunakan SPSS versi 19.0 diperoleh hasil sebagai berikut ini.
Interprestasi dari tabel tersebut adalah sebagai berikut ini.
a. Hipotesis
Ho : β1 = β 2 = β 3 = 0, (tidak ada
pengaruh perilaku produktif, kedisiplinan kerja,
dan kinerja karyawan, secara bersama- sama mempunyai pengaruh terhadap penerapan
99 TQM) Ha :1 2
3 0 (ada pengaruh perilaku produktif, kedisiplinan kerja,
dan kinerja
karyawan, secara bersama-sama
mempunyai pengaruh terhadap penerapan TQM).
b. Nilai F hitung
Hasil perhitungan dengan SPSS memperoleh nilai Fhitung sebesar 89,274 (Tabel 4.7).
c. Kesimpulan uji Dari analisis uji F diperoleh hasil Fhitung
> Ftabel = 89,274 >
2,92 maka Ho ditolak, berarti secara bersama-sama
perilaku produktif, kkedisiplinan kerja, dan kinerja karyawan mempunyai pengaruh terhadap penerapan TQM dan hipotesis pertama (H1) dinyatakan diterima.
6. Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel independent secara individual mempunyai pengaruh yang berarti (signifikan) terhadap variabel dependent. Adapun perhitungan untuk menguji keberartian koefisien regresi
linier parsial adalah sebagai berikut ini.
a.) Uji t Variabel Perilaku Produktif
Langkah-langkah
pengujian sebagai berikut ini.
1. Komposisi hipotesis Langkah-langkah pengujian sebagai berikut:
Ho : β1 = 0, artinya tidak ada pengaruh perilaku produktif terhadap penerapan TQM.
Ho : β1 ≠ 0, artinya ada pengaruh perilaku produktif terhadap penerapan TQM.
2. Menentukan Level of significance = 0,05
3. Nilai t tabel = t α/2; (n-k)
= t 0,025; (40-3) = 2,021 4. Nilai t hitung
Hasil perhitungan dengan SPSS memperoleh nilai thitung sebesar 2,509 (Tabel 4.6)
5. Kesimpulan
Karena thitung > ttabel yaitu 2,509 > 2,021, maka Ho ditolak berarti ada pengaruh yang signifikan perilaku produktif terhadap penerapan TQM.
b.) Uji t Variabel Kedisiplinan kerja
Langkah-langkah pengujian sebagai berikut ini.
100 1. Komposisi hipotesis
Ho : β1 = 0, artinya tidak ada pengaruh kedisiplinan kerja terhadap penerapan TQM.
Ho : β1 ≠ 0, artinya ada pengaruh kedisiplinan kerja terhadap penerapan TQM.
2. Menentukan Level of significance = 0,05 3. Nilai t tabel = t α/2; (n-k)
= t 0,025; (40-3)
= 2,021 4. Nilai t hitung
Hasil perhitungan dengan SPSS memperoleh nilai thitung sebesar 2,673 (Tabel 4.6)
5. Kesimpulan
Karena thitung > ttabel yaitu 2,673 > 2,021, maka Ho ditolak berarti ada pengaruh yang signifikan kedisiplinan kerja terhadap penerapan TQM.
c.) Uji t Variabel Kinerja Karyawan
Langkah-langkah pengujian sebagai berikut ini.
1. Komposisi
hipotesis Langkah- langkah pengujian sebagai berikut:
Ho : β1 = 0, artinya tidak ada pengaruh kinerja karyawan terhadap
penerapan TQM.
Ho : β1 ≠ 0, artinya ada pengaruh kinerja karyawan terhadap penerapan TQM.
2. Menentukan Level of significance = 0,05 3. Nilai t tabel
= t α/2; (n-k)
= t 0,025; (40-3)
= 2,021 4. Nilai t hitung
Hasil perhitungan dengan SPSS memperoleh nilai thitung sebesar 3,227 (Tabel 4.6)
5. Kesimpulan
Karena thitung > ttabel
yaitu 3,227 > 2,021, maka Ho ditolak
berarti ada pengaruh yang signifikan kinerja karyawan terhadap
penerapan TQM.
Berdasarkan ketiga hasil uji t dapat diketahui bahwa nilai thitung variabel perilaku produktif (2,509), kedisiplinan kerja (2,673), dan kinerja karyawan (3,227), seluruhnya lebih besar dari ttabel (2,021), sehingga hipotesis kedua (H2) dinyatakan diterima.
Artinya secara parsial perilaku produktif, kedisiplinan kerja, dan kinerja karyawan
berpengaruh signifikan terhadap penerapan TQM.
101 7. Analisis Koefisien
Determinasi (R2)
Analisis ini digunakan untuk menguku besarnya pengaruh variabel independen terhadap
variabel dependen. Dan hasil dari analisis tersebut adalah sebagaimana yang tertera dalam tabel berikut ini.
Hasil perhitungan dengan SPSS memperoleh nilai R2 = 0,882.
Artinya sekitar 88,2% variasi dari variabel penerapan TQM dapat dipengaruhi oleh variabel perilaku produktif, kedisiplinan kerja, dan kinerja karyawan. Sedangkan sisanya 11,8% dijelaskan oleh variabel lain di luar model, seperti motivasi, kepemimpinan, lingkungan kerja, dan lain- lain.
8. Analisis Koefisien Beta (Variabel Dominan)
Analisis ini digunakan untuk mengetahui variabel yang memberikan pengaruh dominan terhadap penerapan TQM di antara variabel independen yaitu perilaku produktif (X1), kedisiplinan kerja (X2), dan kinerja karyawan (X3).
Berdasarkan hasil analisis regresi ganda dengan program SPSS versi 19,0 diperoleh hasil koefisien beta sebagaimana yang tertera dalam tabel 4.6 tersebut diatas.
Dari ketiga variabel ternyata kinerja karyawan merupakan variabel yang memberikan pengaruh yang lebih dominan terhadap penerapan
TQM dibandingkan perilaku produktif atau kedisiplinan kerja.
Hal ini terbukti dari nilai koefisien beta untuk variabel kinerja karyawan (0,374) lebih besar dari koefisien beta variabel perilaku produktif (0,300) atau kedisiplinan kerja (0,319) pada tingkat kepercayaan 95%, maka hipotesis ketiga (H3) dinyatakan diterima.
Artinya penerapan TQM akan mudah tercapai jika karyawan memiliki kinerja yang tinggi.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan hasil penelitian adalah sebagai berikut ini.
1. Perilaku produktif, kedisiplinan kerja, dan kinerja karyawan secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penerapan TQM. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan sebagai berikut ini.
a. Hasil analisis regresi linier berganda diperoleh persamaan berikut ini.
Y = -5,922 + 0,319.X1 + 0,311.X2 + 0,443.X3
Artinya:
a = -5,922. Artinya jika tidak ada kegiatan peningkatan perilaku produktif, kedisiplinan kerja, dan kinerja karyawan, maka penerapan TQM akan terjadi penurunan sebesar 5,922 satuan.
b1 = 0,319. Artinya jika kegiatan perilaku produktif karyawan meningkat 1 poin, maka penerapan TQM akan meningkat sebesar 0,319
102 satuan, dengan asumsi kedisiplinan kerja dan kinerja karyawan dianggap tetap.
b2 = 0,311. Artinya jika kegiatan kedisiplinan kerja karyawan meningkat 1 poin, maka penerapan TQM akan meningkat sebesar 0,311 satuan, dengan asumsi perilaku produktif dan kinerja karyawan dianggap tetap.
b3 = 0,443. Artinya jika kegiatan kinerja karyawan meningkat 1 poin, maka penerapan TQM akan meningkat sebesar 0,443 satuan, dengan asumsi perilaku produktif
dan
kedisiplinan kerja karyawan dianggap tetap.
Dari hasil uji F memperoleh hasil Fhitung > Ftabel = 89,274
> 2,92 pada taraf signifikansi 5% maka Ho ditolak.
Artinya perilaku produktif, kedisiplinan kerja, dan kinerja karyawan secara bersama-sama mempunyai
berpengaruh signifikan terhadap penerapan TQM dan hipotesis pertama (H1) dinyatakan diterima.
2. Hasil uji t memperoleh nilai thitung untuk variabel perilaku produktif (2,509), kedisiplinan kerja (2,673), dan kinerja karyawan (3,227), seluruhnya lebih besar dari ttabel (2,021), sehingga hipotesis kedua (H2) dinyatakan diterima. Artinya secara parsial perilaku produktif, kedisiplinan kerja, dan kinerja karyawan berpengaruh signifikan terhadap penerapan TQM.
3. Hasil uji koefisien beta
memperoleh nilai koefisien untuk variabel kinerja karyawan (0,374) lebih besar dari koefisien beta variabel perilaku produktif (0,300) atau kedisiplinan kerja (0,319) pada tingkat kepercayaan 95%.
Artinya kinerja karyawan berpengaruh dominan terhadap penerapan TQM dibanding variabel perilaku produktif ataupun kedisiplinan kerja, sehingga hipotesis ketiga (H3) dinyatakan diterima.
DAFTAR PUSTAKA
Alex S. Nitisemito. Kedisiplinan kerja.
Sumber dari internet, www.kediplinankerja.com.
Algifari, 2000: 62, Teknik Pengolahan Data. Sumber dari internet, www.teknik pengolahan data.com.
Antoni, SE. ME. Peningkatan mutu, http://sinauonline.50webs.com/A rti kel/lainnya.html.
Cooper dan Emory, 1997:151.
Dikutip oleh Yuni Nugraha
(2009) dalam
http://yuninugraha.blogdetik.co m/2 009/10/18/metedelogi
penelitian. skala likert.
Edwin B Flippo, Moh Masud 1994 manajemen personalia. Penerbit erlangga. Jakarta
Eko Afrianto, 2010. Pengaruh Penerapan Total Quality Management terhadap perilaku produktif karyawan dan kinerja karyawan, Rangkuman Jurnal Akuntansi Manajemen.
103 Fandy Tjiptono, 2001. total quality
management, Edisi revisi.
Penerbit andi. Yogyakarta.
Ghozali, Imam, (2001), Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Goetsch dan Davis dalam Nasution (2005 : 22 ). Karakteristik TQM.
Sumber dari internet, www.Karakteristik TQM.com.
Hadi, sutrisno 2004. Statistik. Andi.
Yogyakarta.
Hardjosoedarmo, S. 2004. Bacaan terpilih tentang total quality
management. ANDI.
Yogyakarta.
Hair, et. Al,. 1998. Uji Validitas, Reabilitas. Sumber dari internet,
www.Uji Validitas
Reabilitas.com.