• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh: SYAHRI RAMDHAN ALFARIZI NIM:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Oleh: SYAHRI RAMDHAN ALFARIZI NIM:"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

i

HAK KONSTITUSIONAL ATAS KESEHATAN MASYARAKAT DKI JAKARTA PADA SAAT PANDEMI COVID-19 DALAM PERDA

PEMERINTAH DKI JAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2020 (STUDI KASUS DAERAH CIGANJUR, JAGAKARSA,

JAKARTA SELATAN)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Syariah Dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)

Oleh:

SYAHRI RAMDHAN ALFARIZI NIM: 11180453000035

PROGRAM STUDI HUKUM TATA NEGARA (SIYASAH) FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 2022 M / 1443 H

(2)

i

HAK KONSTITUSIONAL ATAS KESEHATAN MASYARAKAT DKI JAKARTA PADA SAAT PANDEMI COVID-19 DALAM PERDA

PEMERINTAH DKI JAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2020 (STUDI KASUS DAERAH CIGANJUR, JAGAKARSA,

JAKARTA SELATAN)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Syariah Dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)

Oleh :

SYAHRI RAMDHAN ALFARIZI NIM: 11180453000035

Pembimbing :

Fathuddin, S.H.I, S.H, M.Hum, M.H NIP. 19850610 201903 1 007

PROGRAM STUDI HUKUM TATA NEGARA (SIYASAH) FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 2022 M / 1443 H

(3)

ii

(4)

iii

LEMBAR PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini hasil karya asli Saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H) pada Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang digunakan pada penulisan ini telah Saya cantumkan dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya Saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka Saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 14 Desember 2021 M

(5)

iv ABSTRAK

Syahri Ramdhan Alfarizi. NIM 11180453000035. Hak Konstitusional Atas Kesehatan Masyarakat DKI Jakarta Pada Saat Pandemi Covid-19 Dalam Perda Pemerintah DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2020 (studi kasus daerah Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan). Program Studi Hukum Tata Negara (Siyasah), Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 1443/H/2021 M.

Studi ini bertujuan untuk mengetahui hak konstitusional atas kesehatan masyarakat DKI Jakarta pada saat pandemi Covid-19 dalam perda pemerintah DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2020 (studi kasus daerah Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan).

Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif-emripis yang didalamnya menggabungkan unsur hukum normatif dengan pendekatan undang- undang kemudian didukung dengan penambahan atau penggabungan antara penedekatan hukum normatif dengan berbagai unsur empiris. Penelitian ini mengggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan sosiological approach. Sumber data yang digunakan adalah data primer berupa hasil observasi atau wawancara di lapangan dan data sekunder berupa peraturan perundang-undangan, buku, jurnal, dan internet. Kemudian, data tersebut diolah dan dianalisis sehingga menghasilkan suatu penelitian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hasil penelitian ini menunjukan, pertama, bahwa proses pemenuhan hak kontitusional atas kesehatan masyarakat yang ada di dalam perda pemerintah DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2020 selama pandemi Covid-19 sejauh ini belum berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang telah ditetapkan didalamnya, banyak didapatkan juga masyarakat atau warga yang hak konstitusional atas kesehatan masing-masing dari mereka belum terpenuhi khususnya warga atau masyarakat kelurahan Ciganjur. Kedua, kurangnya sosialisai dan juga minimnya kesadaran diri dari sebagian warga Ciganjur khususnya yang menyebabkan pemenuhan hak konsitusional atas kesehatan dalam perda pemerintah DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2020 ini menjadi terhambat bahkan tidak berjalan dengan baik.

Kata Kunci : Hak Atas Kesehatan, Perda Pemerintah DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2020, Covid-19, Masyarakat Kelurahan Ciganjur.

Pembimbing : Fathuddin, S.H.I, S.H, M.Hum, M.H Daftar Pustaka : 2008-2020

(6)

v

KATA PENGANTAR

Segala puji serta syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT, yang berkat anugerah serta nikmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi besar Muhammad SAW yang telah memimpin umat Islam menuju jalan yang penuh dengan keberkahan dan diridhai oleh Allah SWT. Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bantuan, arahan, dan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga sudah sepantasnya dalam kesempatan ini penulis menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya dan terima kasih banyak terutama kepada:

1. Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc, M.Ag., Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, beserta Jajarannya, yang selalu menjadi inspirator bagi penulis agar terus menjadi lebih baik lagi serta bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

2. Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie, M.A., Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Para Wakil Dekan.

3. Sri Hidayati, M.Ag., Ketua Program Studi Hukum Tata Negara dan juga kepada Dr. Hj. Masyrofah, S.Ag., Si., Sekertaris Program Studi Hukum Tata Negara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Fathuddin, S.H.I, S.H, MA.Hum, M.H selaku Dosen Pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran serta kesebaran dalam membimbing, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian skripsi ini dengan tepat waktu.

5. Dr. KH. Mujar Ibnu Syarif, S.H., M.Ag sebagai Dosen Pembimbing Akademik yang tidak pernah bosan dalam menjawab pertanyaan- pertanyaan yang saya ajukan terkait akademik.

6. Seluruh dosen dan civitas akademika Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Jakarta yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu. Rasa terima kasih dan hormat atas segala ilmu, pengalaman, bimbingan, dan arahan yang di berikan kepada penulis selama menempuh pendidikan Strata Satu (S1).

(7)

vi

7. Pimpinan dan seluruh pengurus Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang banyak memberi kontribusi berupa literasi dan pustaka sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

8. Orang tua tercinta, Alm Ayahanda H. Sarip dan Ibunda Halimah yang telah mendidik dan mendoakan penulis yang insyaAllah selalu terkandung ridho dari mereka yang diberikan untuk penulis yang diiringi dukungan, movitasi, saran, bantuan moral dan material mereka, serta kasih sayang yang tiada henti.

9. Kakak-kakak kandung (Achmad Sofyan, Ipwan Pauzi, dan Taufik Rahman) serta Kakak-kakak ipar dan keponakan atas doa, dukungan, motivasi, saran, bantuan moral dan material, serta kasih sayang yang tiada henti.

10. Seluruh staf kelurahan Ciganjur, khususnya Ibu Hj. Yuyun Ayunah S.Km selaku lurah kelurahan Ciganjur, Bapak Riza Fahrizal A.Md selaku ketua karang taruna kelurahan Ciganjur yang telah bersedia diwawancarai guna melengkapi penulisan skripsi ini.

11. Kepala RT (Rukun Tetangga) dan RW (Rukun Warga), serta sebagian warga kelurahan Ciganjur khususnya yang bersedia diwawancarai guna melengkapi penulisan skripsi ini.

12. Sinta Nuriyah yang tidak pernah bosan dan selalu memberikan semangat, dukungan, motivasi, serta doa yang tiada henti.

13. Teman-teman Hukum Tata Negara Angkatan 2018, selaku teman seperjuangan dalam menuntaskan akademik selama perkuliahan di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta atas doa dan dukungan selama proses penyusunan Skripsi.

14. Para Senior Prodi Hukum Tata Negara, Abang Bintang Garda Nusantara, Abang Dimas Rizki Fadhillah, Abang Dandy Esviyansyah Fathoni, dan Abang Wildan Fauzi yang telah memberikan bimbingan dan arahan.

15. Keluarga besar Futsal Syariah dan Hukum UIN Jakarta atas waktu, pengalaman serta dukungan yang diberikan kepada penulis.

(8)

vii

16. Keluarga besar Futsal UIN Jakarta atas semangat dan dukungan yang diberikan kepada penulis.

17. Teman-teman dan keluarga besar “KARAMBOLAN” di rumah yang selalu memberikan kebahagiaan kepada penulis.

18. Keluarga dan teman-teman “Taichan Sarkipul” yang selalu memberikan semangat kepada penulis.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua dan diberi kebaikan yang setimpal. Semoga skripsi ini bisa bermanfaat, dapat membuka jendela khazanah pengetahuan yang baru, dan memperluas informasi, khususnya bagi penulis dan pembaca.

(9)

viii DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi, Pembatasan, dan Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5

D. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu... 6

E. Landasan Teori dan Kerangka Konseptual ... 12

F. Metodelogi Penelitian ... 13

G. Sistematika Penulisan... 15

BAB II TEORI KONSTITUSI DAN HAK KESEHATAN ... 17

A. Pengertian Hak Konstitusi Kesehatan Masyarakat Indonesia ... 17

B. Hak Konstitusi Masyarakat Indonesia Atas Kesehatan ... 23

C. Perlindungan Hak Konstitusi Atas Kesehatan ... 24

BAB III PERLINDUNGAN HAK KONSTITUSIONAL ATAS KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PERDA DKI JAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2020... 28

A. Hak Konstitusional Atas Kesehatan Masyarakat ... 28

B. Problematika Pemenuhan Hak Kesehatan Masyarakat ... 34

BAB IV PROBLEM PEMENUHAN HAK ATAS KESEHATAN DI KELURAHAN CIGANJUR (JAKARTA SELATAN) ... 40

A. Hak Atas Kesehatan Dalam Prespektif Fiqh Siyasah (Hifdzun Nafs) ... 40

B. Potret Kinerja Aparat Pemerintah Kelurahan Ciganjur (Jakarta Selatan). ... 45

(10)

ix

C. Kesadaran Hukum Masyarakat Kelurahan Ciganjur

(Jakarta Selatan) ... 49

BAB V PENUTUP ... 51

A. Kesimpulan ... 51

B. Saran ... 52

DAFTAR PUSTAKA ... 54

LAMPIRAN ... 60

(11)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa saat berlangsungnya pandemi Covid-19 seperti ini yang semakin parah dan juga berdampak buruk dalam berbagai segi atau keadaan, sepertihalnya keadaan kesehatan masyarakat Indonesia khususnya di Jakarta. Peristiwa wabah Covid-19 ini sudah lama ada dan terdapat di negara China, hanya saja China baru menyadari bahwa mereka tengah menghadapi wabah penyakit baru ini pada akhir Desember 2019. Sementara itu, para ilmuwan telah mencoba memetakan pola penularan awal Covid-19 sejak epidemi dilaporkan di Kota Wuhan pada pertengahan Januari 2020. Saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization menyatakan bahwa wabah virus corona telah menjadi pandemi global. Memahami bagaimana penyakit ini menyebar dan menentukan bagaimana kasus yang tidak terdeteksi dan terdokumentasi berkontribusi terhadap penularannya. Menurut data pemerintah China, penduduk Hubei berusia 55 tahun tersebut yang menjadi orang pertama dengan Covid-19 pada 17 November 2019. Sejak tanggal tersebut dan seterusnya, satu hingga lima kasus baru dilaporkan setiap harinya yang kemudian setiap harinya semakin banyak korban yang menderita Covid-19 tersebut.

Di Indonesia sendiri, sudah diumumkan tentang kasus terkonfirmasi positif Covid-19 pertama di Indonesia oleh Presiden Joko Widodo itu pada 2 Maret 2020.

Saat itu, terdapat dua warga asal Kota Depok dinyatakan terpapar virus corona.

Setelah pengumuman temuan kasus Covid-19 di Indonesia tersebut, jumlah pasien positif Covid-19 terus bertambah. Wilayah DKI Jakarta pun disebut menjadi episenter penyebar virus corona karena jumlah pasien positif meningkat secara signifikan.

Sepertihalnya kita ketahui bahwa akibat dari wabah Covid-19 ini yaitu memudarnya atau menurunnya nilai-nilai dan norma-norma dalam tatanan struktur

(12)

2

masyarakat karena adanya perubahan di dalam kehidupan. Fenomena Covid-19 ini tentunya memberikan dampak yang sangat kompleks bagi setiap kehidupan individu ataupun hubungan antar individu, terlebih pada pandangan terhadap sesama manusia yang menunjukkan gejala Covid-19 atas rasa takut terhadap penularan virus yang diklaim sangat cepat, disisi lain kemerosotan ekonomi terhadap orang-orang yang tidak bisa melakukan aktifitas produksi, distribusi, dan konsumsi sangat berdampak besar tehadap tatanan struktur masyarakat dan menimbulkan perubahan sosial dalam masyarakat.1

Di masa pandemi ini, kita bukan hanya berhadapan dengan Covid-19, tetapi kita juga berhadapan dengan masih banyaknya masyarakat yang megalamai kurangnya perhatian atas kesehatan pada diri masing-masing dari mereka. Inilah yang menjadi salah satu pertimbangan pemerintah pusat lebih memperhatikan kepada masyarakat, karena dampak yang ditimbulkan dalam pandemi ini sangat banyak salah satunya dapat mengakibatkan rusaknya kesehatan di tengah kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Jakarta. Pemerintah dan masyarakat harus bersiap terhadap apa yang terjadi bila kasus penyebaran virus ini semakin berlarut. Dampak dari penyebaran virus corona terjadi di berbagai bidang, dan yang paling dirasakan berat terhadap kesehatan secara global di Indonesia, dimana mengalami pelambatan pertumbuhan. Tetapi peraturan yang diberikan oleh pemerintah tidak selalu berjalan dengan mulus, dan menimbulkan beberapa masalah di dalam masyarakat.

Pandemi Covid-19 ini terbentuk dari perubahan yang tidak direncanakan, dimana perubahan yang tidak direncanakan itu merupakan perubahan yang terjadi di luar jangkauan pengawasan atau kemampuan manusia. Perubahan ini dapat menimbulkan akibat-akibat dalam kehidupan sosial yang tidak diharapkan.

Pemerintah telah melakukan upaya serta kebijakan untuk bertindak secara cepat dalam kasus penanggulangan wabah Covid-19 ini. Tetapi masih ada saja masyarakat yang kurang mengantisipasi hal itu, dari social distance dan physical

1 Muhammad Fajar dkk, Bunga Rampai Pandemi “Menyingkap dampak-dampak sosial kemasyarakatan covid-19” (Sulawesi Selatan, IAIN Pare-pare Nusantara Press, 2020), h. 3.

(13)

3

distance. Banyak kegiatan manusia yang dihentikan. Diantaranya dilarang keluar rumah, yang dimana hal tersebut sangat membatasi aktivitas-aktivitas masyarakat tersebut. Mengingat karena wabah Covid-19 ini mengancam bagi semua aspek kehidupan sosial.

Pemerintah daerah memutuskan kebijakan yang diambil dalam penanganan Covid-19 ini dengan kondisi layanan dasar kesehatan normal. Dalam situasi pandemi Covid-19 seperti ini, regulasi yang tepat diberlakukan bukan Undang- Undang tentang Pemerintahan Daerah, melainkan Undang-Undang tentang Kekarantinaan Kesehatan. Dalam kondisi kedaruratan kesehatan masyarakat yang terjadi, pemerintah daerah menekankan dengan adanya desentralisasi dalam bidang kesehatan yang menyebabkan standar layanan kesehatan dasar bervariasi mengacu pada komitmen dan kemampuan fiskal pemerintah daerah. Dikuatkannya peran pemerintah daerah menjadi faktor utama dalam penanggulangan Covid-19.

Layanan kesehatan di daerah dipastikan oleh pemerintah pusat agar sesuai standar penanganan Covid-19. Dengan adanya status kedaruratan kesehatan masyarakat saat ini, diharapkan hadirnya pembagian peran pemerintah pusat dan daerah dengan tujuan yang jelas yaitu untuk menjamin keselamatan terkait kesehatan warga negara.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, peneliti memilih dan melakukan penelitian hukum tentang implementasi dari Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2020 serta pemenuhan hak konstitusi terdahap hak atas kesehatan masyarakat Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Maka dari itu, penulis merumuskan judul

“Hak Konstitusional Atas Kesehatan Masyarakat DKI Jakarta Pada Saat Pandemi Covid-19 Dalam Perda Pemerintah DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2020 (studi kasus daerah Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan)”.

B. Identifikasi, pembatasan, dan perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah

Dari uraian yang ada pada latar belakang masalah diatas, maka dapat disebutkan identifikasi masalah dibawah ini yang akan dijelaskan lebih lanjut yaitu:

(14)

4

a. Berlangsungnya peristiwa pandemi Covid-19 membawa dampak atau akibat buruk terhadap keadaan kesehatan masyarakat Jakarta.

b. Keadaan pandemi yang berlangsung sampai dengan saat ini membuat masyarakat sangat terbatas dalam melakukan aktivitas yang dilakukan seperti biasanya, seperti halnya pemerintah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

c. Menurunnya kualitas serta keadaan kesehatan yang dialami masyarakat Indonesia khususnya di Jakarta membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan serta menerbitkan aturan-aturan yang bertujuan untuk melindungi serta memenuhi hak konstitusi atas kesehatan masyarakat dan juga membantu khususnya masyarakat menengah kebawah.

d. Dengan keadaan yang seperti ini, sikap kepedulian masyarakat terhadap masyarakat lainnya sangatlah diperlukan untuk memperhatikan keadaan kesehatan masing-masing dari diri mereka.

e. Bertambahnya kasus korban positif Covid-19 yang terus menerus meningkat.

f. Peraturan dan kebijakan pemerintah yang sering diabaikan oleh masyarakat yang satu dengan yang lainnya, sehingga peraturan dan kebijakan tersebut tidak terlaksana dengan baik.

g. Semakin banyaknya korban yang berjatuhan, maka banyak juga individu dari masyarakat yang hak konstitusi atas hak kesehatannya itu tidak terpenuhi dengan baik dan bahkan terbengkalai.

2. Batasan Masalah

Untuk membatasi permasalahan yang tidak terlalu luas, penulis hanya membatasi penelitian ini dengan mengetahui mengenai ruang lingkup tentang hak konstitusi atas kesehatan masyakarat Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan yang diatur dalam Perda pemerintah DKI Jakarta, yaitu Perda Pemerintah DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Penanggulangan Corona Virus Disease 2019

(15)

5

terhadap keadaaan serta hak atas kesehatan masyarakat Jakarta yang semakin hari semakin buruk bahkan tidak sedikit yang memakan korban jiwa.

3. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, dan dengan tujuan agar terfokus pada pokok permasalahan, maka penulis membagi kedalam point penting rumusan masalah, diantaranya adalah tentang bagaimana sikap dan kebijakan pemerintah DKI Jakarta terhadap keadaaan mengenai kesehatan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat DKI Jakarta.

Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah:

a. Apakah Perda Pemerintah DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Penanggulangan Corona Virus Disease tersebut sudah memenuhi hak konstitusional atas kesehatan masyarakat Ciganjur?

b. Bagaimana sikap masyarakat Jakarta khususnya pada saat pemerintah menerbitkan Perda Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Penanggulangan pademi Virus Covid-19 dengan tujuan melindungi masyarakat serta upaya dan kebijakan dalam memenuhi hak kesehatan yang diberikan oleh Pemerintah DKI Jakarta pada saat pandemi Covid-19 ini?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan penelitian

Dalam penulisan penelitian skripsi ini penulis memiliki tujuan yang diantaranya:

a. Mengetahui Perda Pemerintah DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Penanggulangan Corona Virus Disease pemerintah Jakarta terhadap pemenuhan hak konstitusional atas kesehatan bagi setiap masyakarat Ciganjur, Jakarta Selatan.

b. Mengetahui bagaimana sikap masyarakat Jakarta khususnya daerah Ciganjur pada saat pemerintah menerbitkan Perda Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Penanggulangan pandemi virus Covid-19 dan juga memberikan

(16)

6

bantuan ataupun upaya dalam memenuhi hak kesehatan yang diberikan oleh Pemerintah DKI Jakarta pada saat pandemi Covid-19 ini.

2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis

Disamping memiliki tujuan dalam penelitian ini, penulis berharap dapat memberikan manfaat yang diantaranya, secara teoritis diharapkan memberikan sumbangan pemikiran dalam membantu keadaan dan pemenuhan hak konstitusional atas kesehatan pada masyakarat Jakarta pada saat pandemi Covid-19 ini. Dan juga penelitian ini diharapkan dapat menjadi aspek pendukung serta ide dalam pengembangan keilmuan Hukum Tata Negara khususnya serta dapat menjadi bahan pendukung penelitian bagi kalangan peneliti, dosen, mahasiswa, bahkan anggota DPR/DPRD, dan juga aparat penegak hukum di lapangan agar lebih termotivasi lagi dalam menegakkan aturan untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 ini.

b. Manfaat Praktis

Diharapkan dalam penelitian ini penulis berharap memberikan manfaat, secara praktis, yaitu menyumbang pemikiran terhadap pemecahan masalah yang berkaitan dengan masalah pemenuhan hak atas kesehatan masyarakat Jakarta, yang dimana hasil penelitian ini diharapkan menjadi pertimbangan bagi program pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 Provinsi DKI Jakarta khususnya daerah Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan mengenai hak konstitusi atas hak kesehatan masyarakat di daerah tersebut.

D. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu

Kajian tentang hak konstitusional tepatnya yaitu hak atas kesehatan bagi setiap warga negara bukanlah hal yang asing, banyak penelitian sebelumnya yang membahas akan hal tersebut. Yang dimana penelitian-penelitian tersebut menegaskan bahwasanya kesehatan merupakan suatu hal yang sangat amat penting

(17)

7

bagi setiap warga negara. Penelitian tersebut dipublikasikan dengan berupa buku, jurnal, maupun skripsi.

Umat manusia di dunia merasa seakan diguncang dengan adanya pandemi virus corona (Covid-19) ini yang membuat kepanikan dimana-mana. Ratusan ribu manusia terinfeksi dan ribuan lainnya meninggal dunia. Untuk di Indonesia sendiri pemerintah telah merespon dengan mengeluarkan himbauan-himbauan kepada masyarakat dalam mengatasi wabah ini agar berjalan efektif dan efisien. Tetapi pada kenyataannya masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak menaati dan menjalankan himbauan tersebut.2

Dalam hal penegakan hukum, dapat tinjau dari awal munculnya virus tersebut di Indonesia. Pemerintah RI berdasarkan Pasal 154 UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, wajib mengumumkan wilayah yang menjadi sumber penularan penyakit ke masyarakat. Ini berarti pemerintah wajib mengungkapkan jenis dan persebaran penyakit yang berpotensi menular atau menyebar dalam waktu yang singkat serta menyebutkan daerah yang menjadi sumber penularan. Namun, faktanya pemerintah lamban dalam menyebarkan informasi terkait kasus pertama Covid-19 yakni pengumuman secara resmi baru disampaikan setelah sepekan sejak dinyatakannya dua pasien positif virus Covid-19 ini dan tidak adanya pemberitahuan domisili dua pasien tersebut. Hal ini membuktikan bahwa pemerintah terlihat ragu dalam menghadapi pandemi global ketika sebelumnya terlalu jumawa dalam mengantisipasi datangnya virus tersebut ke Indonesia.3

Fherial Sri Isriawaty dalam artikelnya yang berjudul Tanggung Jawab Negara Dalam Pemenuhan Hak Atas Kesehatan Masyarakat Berdasarkan Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, menjelaskan hak atas kesehatan adalah

2 Dana Riksa Buana, Analisis Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Menghadapi Pandemi Virus Corona (Covid-19) dan Kiat Menjaga Kesejahteraan Jiwa (jurnal sosial dan budaya syar-i volume 7 nomor 3, 2020)

3 Ega Ramadayanti, COVID-19 dalam Perspektif One Health Approach dan Law Enforcement (Fakultas Hukum UNPAD, 26 Maret 2020)

(18)

8

merupakan suatu unsur yang harus dipenuhi sebagaimana dalam amanat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Yaitu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan, dimana hak memperoleh pelayanan kesehatan ini merupakan salah satu hak asasi manusia.4 Akan tetapi, jika dilihat dari perhatian dan hak yang diberikan oleh pemerintah itu belum bisa dikatakan berjalan dengan baik, sebab masih banyak masyarakat yang belum bisa mendapatkan dan memperoleh hak tersebut.

Kesehatan merupakan kepentingan bangsa yang dimana merupakan suatu bagian dari tujuan pembangunan nasional. Pemerintah sepenuhnya memiliki peran penting sebagai penyelenggara upaya kesehatan pada setiap warga negara, dimana setiap warga negara memiliki jaminan kesehatan nasional yang merupakan bagian dari penegakkan hak asasi manusia yang dilindungi berdasarkan konstitusi.

Kemudian yang perlu digarisbawahi disini bahwa pemerintah harus memberikan kemudahan dan keleluasaan bagi masyarakat untuk menikmati jaminan kesehatan yang ada seperti yang sudah adanya yaitu perihal badan penyelenggara jaminan sosial.5 Serta tidak perlu adanya batasan-batasan bahkan syarat-syarat yang sifatnya mempesulit masyarakat untuk mendapatkan jaminan atau layanan kesehatan tersebut.

Seluruh masyarakat dunia sepakat bahwa hak atas kesehatan merupakan hak dasar (Fundamental Right) yang dimiliki oleh setiap manusia. Hak atas kesehatan yang sebelumnya dipandang hanya sekedar urusan pribadi terkait dengan nasib atau karunia Tuhan, kini telah mengalami pergeseran paradigma yang sangat besar menjadi suatu hak hukum (legal rights) yang tentunya dijamin oleh negara. Di tengah pandemi Covid-19 yang telah menyebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia, Pemerintah harus sigap mengeluarkan berbagai kebijakan strategis agar

4 Fheriyal Sri Isriawaty, Tanggung Jawab Negara Dalam Pemenuhan Hak Atas Kesehatan Masyarakat Berdasarkan Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (jurnal hukum legal pinion : edisi 2 volume 3, 2015), h. 1.

5 Ulul Adzemi Romansyah, Pemenuhan Hak Konstitusional Warga Negara Indonesia (Justitia jurnal hukum : volume 1 nomor 1, april 2017), h. 99.

(19)

9

dapat menjalankan kewajibannya untuk senantiasa menjamin terpenuhinya hak atas kesehatan bagi seluruh masyarakat. Pada akhirnya Pemerintah menetapkan status darurat kesehatan masyarakat dan memilih pembatasan sosial berskala besar sebagai opsi untuk merespons kedaruratan kesehatan masyarakat, disamping pemerintah juga tetap memperhatikan sektor ekonomi dan fiskal sesuai kondisi dan kemampuan negara.6

Pada saat Indonesia memasuki masa kritis pandemi Covid-19 seperti ini, Tenaga kesehatan adalah profesi yang ada di barisan depan dan bertarung langsung melawan Covid-19. Dalam kondisi ini, kadang-kadang petugas kesehatan harus mengorbankan hidup mereka untuk melindungi masyarakat dari penyebaran pandemi Covid-19, perlindungan hukum tentang keselamatan tenaga, kerja tenaga, kesehatan akibat pandemi Covid-19 ini belum dilaksanakan sebagaimana mestinya dalam amanat undang-undang dalam pelaksanaannya. Hak-hak tenaga kesehatan selama pandemi Covid-19 masih terabaikan dan belum terpenuhi. Oleh karena itu, peran dan tanggung jawab pemerintah global diperlukan untuk memenuhi hak-hak pekerja kesehatan sebagai garis depan dalam menangani penyebaran Covid-19 di Indonesia.7

Wiwik Afifah dalam artikelnya yang berjudul Perlindungan Hukum Hak Kesehatan Warga Negara Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial,8 menjelaskan bahwasanya masyarakat yang bisa mendapatkan hak atas jaminan kesehatan dan perlindungan hukum hak kesehatan warga negara identik dengan hak kepersertaan yakni

6 Siti Nurhalimah, Covid-19 dan Hak Masyarakat atas Kesehatan (Jurnal sosial dan budaya syar-I, volume 7 nomor 6, 2020) h, 4.

7 Theresia Louize Pesulima, Yosia Hetharie. Perlindungan Hukum Terhadap Keselamatan Kerja Bagi Tenaga Kesehatan Akibat Pandemi Covid-19 (Jurnal Terakreditasi Nasional, SK. No.

28/E/KPT/2019: volume 26 nomor 2, April-Juni 2020) h, 280.

8 Wiwik Afifa, Perlindungan Hukum Hak Kesehatan Warga Negara Berdasarkan Undang- undang Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (mimbar keadilan, jurnal ilmu hukum : juli-november 2015) h,150.

(20)

10

perlindungan diberikan apabila menjadi peserta BPJS kesehatan yang merupakan peserta mandiri dan penerima bantuan iuran (PBI) yang dibayar oleh pemerintah pada peserta miskin. Apabila warga negara tidak jadi peserta, maka hak kesehatan tidak dapat dipenuhi oleh BPJS. Dapat disimpulkan bahwa pemerintah masih memilah-milah akan masyarakat yang mampu dan tidak mampu, yang seharusnya hak tersebut harus disamaratakan semuanya.

Rif’atul Hidayat dalam artikelnya yang berjudul Hak Atas Derajat Pelayanan Kesehatan Yang Optimal, menjelaskan bahwasanya upaya pembangunan kesehatan yang menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan, yaitu upaya yang terdiri dari berbagai aspek yang mencakup upaya promotif (peningkatan), preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan) dan rehabilitatif (pemulihan). Sepertihalya kita ketahui bahwa upaya penyelenggaraan kesehatan itu dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosial budaya, termasuk ekonomi, lingkungan fisik dan biologis yang bersifat dinamis dan kompleks. Kita sadari bahwasanya akan hal tersebut sangat luas cangkupannya, maka dari itu pemerintah melalui sistem kesehatan nasional, berupaya menyelenggarakan kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dan dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat luas, guna mencapai derajat kesehatan yang optimal.9

Pengakuan dan penegasan hak atas kesehatan itu merupakan sebuah bagian dari hak asasi manusia yang tentu semakin menegaskan tanggung jawab negara dalam pemenuhannya. Dalam hal ini, negara memiliki tanggung jawab untuk menyediakan fasilitas kesehatan dan fasilitas pelayanan umum bagi semua warga negara. Namun, disisi lain setiap warga negara juga harus terjamin dalam memperoleh akses pelayanan kesehatan yang disediakan oleh negara tanpa adanya pembedaan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun. Negara dalam hal ini tidak boleh mengabaikan pelayanan kesehatan bagi setiap warga negara atas dasar suku, agama, ras, antar-golongan, status sosial, status ekonomi, dan lain-lain. Pada

9 Rif’atul Hidayat, Hak Atas Derajat Pelayanan Kesehatan Yang Optimal (jurnal hukum dan pemikiran: volume 16 nomor 2, desember 2016), h. 128.

(21)

11

intinya pemerintah harus lebih mengoptimalkan tentang apa yang harus dipenuhi mengenai kebutuhan bagi setiap individu masyarakat Indonesia terlebih dalam bidang kesehatan ini, guna terciptanya kehidupan yang baik dan harmonis bagi setiap warga negara.10

Kemudian, kita ketahui bersama bahwasanya dampak atau akibat yang ditimbulkan oleh wabah atau pandemi ini adalah keterbatasan melakukan sesuatu kebiasaan yang menjadi rutinitas dalam berbagai bidang selain pada aspek kesehatan, ekonomi, sosial dan lainnya. Yang mengakibatkan situasi dan kondisinya tidak berjalan seperti biasanya. Seperti contohnya dalam hal beribadah, dalam menyikapi persebaran Covid-19 yang telah memasuki Republik Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa No 14 Tahun 2020 tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi terjadi wabah Covid-19. Hal ini dilakukan sebagai langkah proaktif dan antisipatif lembaga MUI yang berperan sebagai pemberi fatwa di Indonesia. Dinyatakan bahwa langkah yang dilakukan MUI dianggap tepat karena lembaga ini dipandang memiliki peran penting di masyarakat. Karena tujuan dari langkah yang diambil Majelis Ulama Indonesia adalah tepat, yaitu merupakan upaya menjaga kesehatan dan menghindari dari paparan penyakit.11

Perbedaan dari beberapa penelitian diatas dengan penelitian saya ini adalah kepada upaya maksimal pada pemenuhan hak atas kesehatan bagi setiap masyarakat DKI Jakarta pada saat pandemi ini berlangsung. Serta respon dan tanggapan masyarakat tentang apa yang pemerintah berikan kepada mereka, sehingga pemerintah lebih peduli dan paham tentang apa dan bagaimana seharusnya yang dilakukan dalam memaksimalkan hak konstitusional tepatnya hak atas kesehatan

10 Hernandi Affandi, Implementasi Hak Atas Kesehatan Menurut Undang-undang Dasar 1945: Antara Pengaturan Dan realisai Tanggung Jawab Negara (jurnal hukum positum, volume 4 nomor 1, juli 2019), h. 38.

11 Ahmad Mukri Aji, Diana Mutia Habibaty, Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19 Sebagai Langkah Antisipatif dan Proaktif Persebaran Virus Corona Di Indonesia, (jurnal sosial dan budaya syar-I, volume 7 nomor 8, 2020), h. 3.

(22)

12

pada setiap warga negara dengan harapan hak tersebut berjalan dengan baik, maksimal, serta terpenuhi di setiap diri individu warga negara khususnya masyarakat Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

E. Landasan Teori dan Kerangka Konseptual

Peranan negara dalam pemenuhan kebutuhan dasar rakyat sangat diperlukan terutama di dalam bentuk pelayanan kesehatan secara menyeluruh. Bahwa hak konstitusional atas hak kesehatan tersebut merupakan sebagai salah satu hak asasi manusia, yaitu seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk tuhan yang maha esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara dan pemerintah.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, mengisyaratkan bahwa setiap individu, keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya, dan negara bertanggung jawab mengatur agar terpenuhi hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat miskin dan tidak mampu.

Upaya mewujudkan hak tersebut pemerintah harus menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang merata, adil dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.

Disitulah peran dan kewajiban pemerintah harus melakukan upaya-upaya untuk menjamin akses yang merata bagi semua penduduk dalam memperoleh pelayanan kesehatan12

Maka dari itu, negara sangat amat bertanggung jawab tentang jaminan hak konstitusional tersebut. Dimana dalam pemenuhan hak dasar warga negara atas kesehatan, pemerintah terikat tanggung jawab untuk menjamin akses yang memadai bagi setiap warga negara atas pelayanan kesehatan yang layak dan optimal. Sebagai upaya untuk menghormati, melindungi dan memenuhi kewajiban

12 Fheriyal Sri Isriawaty, Tanggung Jawab Negara Dalam Pemenuhan Hak Atas Kesehatan Masyarakat Berdasarkan Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (jurnal hukum legal pinion : edisi 2 volume 3, 2015), h. 2.

(23)

13

negara dengan mengimplementasikan norma-norma HAM pada hak konstitusi atas kesehatan.

F. Metodelogi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan di dalam penulisan skripsi ini adalah metode penelitin normatif-empiris. Pada dasarnya jenis atau metode penelitian ini adalah suatu suatu metode penelitian yang didalamnya menggabungkan unsur hukum normatif dengan pendekatan Undang-Undang yang kemudian didukung dengan penambahan atau penggabungan antara penedekatan hukum normatif dengan berbagai unsur empiris. Dalam metode penelitian Normatif-Empiris ini juga mengimplementasi ketentuan hukum normatif (Undang-Undang) dalam aksinya disetiap peristiwa hukum tertentu yang terjadi di dalam suatu realita kehidupan masyarakat.13

2. Pendekatan Masalah

Pendekatan masalah yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan pendekatan perundang-undangan (statute approach), yaitu pendekatan yang dilakukan dengan menelaah sebuah peraturan perundang-undangan dan regulasi dengan penelitian yang akan diteliti.14 Dan penelitian ini juga menggunakan pendekatan (sosiological approach), yaitu merupakan sebuah pendekatan yang pembahasannya atas objek yang dilandaskan kepada elemen masyarakat.

3. Sumber Data a. Data Primer

Data Primer merupakan data yang diperoleh dari hasil observasi atau wawancara di lapangan secara langsung tertuju pada objek penelitian. Observasi yang dilakukan di wilayah Kelurahan Ciganjur, Jakarta Selatan, akan digunakan sebagai data utama bagi penulis dalam melakukan penelitian ini. Selain itu juga penulis melakukan

13 Amarudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), h. 163.

14 Peter Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana Pers, 2010), h. 93.

(24)

14

wawancara terhadap aparat pemerintah setempat, seperti lurah Kelurahan Ciganjur, ketua karang taruna Kelurahan Ciganjur, ketua rukun warga (RW 01), ketua rukun tetangga (RT 009), serta kepada beberapa masyarakat yang tinggal di wilayah Kelurahan Ciganjur tersebut.

b. Data Sekunder

Data Sekunder adalah jenis data yang digunakan untuk menjawab permasalahan yang ada dalam penelitian ini melalui studi kepustakaan.

1) Bahan Hukum Primer

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan;

c. Nomor 39 Tahun 1999 Pasal 9 Tentang Hak Asasi Manusia;

d. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 Pasal 4 Tentang Kesehatan, Terkait Jaminan atas hak memperoleh derajat kesehatan yang optimal;

e. Peraturan Pemerintah Daerah Pemerintah DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2020, Tentang Penanggulangan Corona Virus Desiase 2019;

2) Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder berasal dari buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal hukum, dan sebagainya. Adapun bahan hukum sekunder yang akan digunakan dalam penelitian skripsi adalah buku-buku teks, kamus hukum, jurnal hukum, artikel hukum yang relevan dengan tema pada penelitian skripsi ini.

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang akan dilakukan pada penelitian skripsi ini adalah studi pustaka. Studi pustaka adalah sebuah metode pengumpulan data dengan cara melakukan sebuah penelusuran dan menelaah bahan pustaka (buku, jurnal, hasil penelitian, dll). Selain itu, penulis juga menggunakan teknik observasi dan wawancara sebagai instrumen lain dalam pengumpulan data. Teknik observasi atau wawancara dilakukan dengan pihak terkait seperti gugus tugas tingkat kelurahan, masyarakat, dll. Observasi atau wawancara ini dilakukan di wilayah khususnya kelurahan Ciganjur. Dan peneliti melakukan teknik observasi untuk

(25)

15

melihat langsung kondisi penegakan hukum di lapangan dalam hal perlindungan hak atas kesehatan masyarakat.

5. Metode Analisis Data

Dalam penelitian skripsi ini, metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif. Analisis deskriptif kualitatif merupakan sebuah metode yang dapat menggambarkan hasil dari data-data yang telah dikumpulkan melalui metode wawancara, observasi, dan studi pustaka. Tujuan dari analisis deskriptif-kualitatif untuk mengambarkan dan mendeskripsikan sebuah data secara umum serta menyeluruh terkait dengan keadaan yang sesungguhnya terjadi. Dalam hal ini penulis akan mengumpulkan data-data yang terdapat dalam fakta di lapangan, kemudian akan diolah dan dikomparasikan dari data-data sumber primer baik itu buku, jurnal, dan artikel lainnya.

6. Teknik Penulisan

Adapun teknik penulisan skripsi ini, berpatokan atau mengikuti panduan pada buku “Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2017.

G. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan di dalam penulisan skripsi ini, penulis menyusun sistematika penulisan yang dibagi ke dalam beberapa bab. Kemudian, dimana dari beberapa bab tersebut penulis merincikan lagi menjadi sub-bab guna memudahkan pembaca dalam memahaminya.

Berdasarkan materi yang dimuat dalam metedologi penelitian hukum, penyusunan skripsi ini dimuat dalam penulisan yang sistematis, dimana skripsi ini terbagi dalam beberapa bab. Yaitu sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan. Pada bab ini terdapat beberapa bagian penting yang termuat di dalamnya seperti, latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, tinjauan (review) kajian terdahulu, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

(26)

16

Bab II Kajian Teoritis dan Konsep. Di dalam bab ini, dijelaskan beberapa teori yang berkenaan dengan masalah terkait seperti, konsep hak konstitusi atas hak kesehatan masyarakat, dan juga peranan pemerintah tentang pemenuhan hak kesehatan masyarakat.

Bab III Perlindungan Hak Konstitusional Atas Kesehatan Masyarakat dalam Perda No 2 Tahun 2020. Bab ini memuat hal-hal yang terkait di dalam pemenuhan hak konstitusional atas hak kesehatan yang dikaji dalam Perda tersebut serta membahas problematika dalam pemenuhan hak kesehatan masyarakat dalam Perda Pemerintah DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2020.

Bab IV Pemenuhan Hak Atas Kesehatan Di Daerah Ciganjur (Jakarta Selatan).

Di dalam bab ini penulis menyajikan terkait hak atas kesehatan dalam prespektif fiqh siyasah (hifdzun nafs), potret kinerja aparat pemerintah kelurahan Ciganjur dalam pemenuhan hak kesehatan masyarakat dan kesadaran masyarakat Ciganjur terhadap hukum dalam hal pemenuhan hak kesehatan yang diberikan oleh Pemerintah.

Bab V Penutup. Di dalam bab ini penulis atau peneliti akan membahas mengenai simpulan dan saran terhadap penelitian ini.

(27)

17 BAB II

TEORI KONSTITUSI DAN HAK KESEHATAN A. Pengertian Hak Konstitusi Kesehatan Masyarakat Indonesia

Konstitusi merupakan hukum dasar yang dijadikan sebuah pegangan dalam penyelenggaraan suatu negara. Konstitusi dapat berupa hukum dasar tertulis yang lazim disebut Undang-Undang Dasar, dan dapat pula tidak tertulis. Tidak semua negara memiliki kostitusi tertulis atau Undang-Undang Dasar, seperti halnya kerajaan Inggris yang biasa disebut sebagai negara konstitusional tetapi tidak memiliki satu naskah Undang-Undang Dasar sebagai konstitusi tertulis. Oleh sebab itu, disamping karena adanya negara yang dikenal sebagai negara konstitusional tetapi tidak memiliki konstitusi tertulis, nilai-nilai dan norma-norma yang hidup dalam praktek penyelenggaraan negara juga diakui sebagai hukum dasar, dan tercakup pula dalam pengertian konstitusi dalam arti yang luas. Karena itu, Undang- Undang Dasar sebagai konstitusi tertulis beserta nilai-nilai dan norma hukum dasar tidak tertulis yang hidup sebagai konvensi ketatanegaraan dalam praktek penyelenggaraan negara sehari-hari, termasuk ke dalam pengertian konstitusi atau hukum dasar (droit constitusionnel) suatu negara.15

Dalam penjelasan lain, istilah konstitusi berasal dari bahasa Prancis; yaitu constituer yang berarti membentuk. Pemakaian istilah konstitusi yang dimaksud adalah pembentukkan suatu negara. Sedangkan istilah Undang-Undang Dasar merupakan terjemah istilah dari bahasa Belada, gronwet. Perkataan wet diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti Undang-Undang Dasar, dan grond berarti tanah atau dasar. Di negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris dipakai istilah constitution, yang bahasa Indonesianya konstitusi. Pengertian konstitusi dalam praktik dapat diartikan lebih luas daripada pengertian Undang- Undang Dasar. Dalam ilmu politik, constitution merupakan suatu yang lebih luas, yaitu keseluruhan peraturan-peraturan yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur secara mengikat cara-cara bagaimana sesuatu pemerintahan

15 Jimly Asshiddiqie. Konstitusi dan Konstitusionalisme. (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), h. 29.

(28)

18

diselenggarakan dalam suatu masyarakat.16 Dalam penyusunan suatu konstitusi tertulis, nilai-nilai dan norma dasar yang hidup dalam masyarakat dan dalam praktik penyelenggaraan negara turut mempengaruhi perumusan suatu norma ke dalam naskah Undang-Undang Dasar.

Begitu pentingnya kehadiran konstitusi di sebuah negara, maka adalah sulit dibayangkan bagaimana sebuah negara jika mengalami krisis terhadap konstitusi.

Selain itu, secara umum sebagaimana dalam terminologi ilmu politik, konstitusi mengandung dua pengertian. Pertama dalam pengertian luas, yakni mencakup sistem pemerintahan dari suatu negara dan merupakan himpunan peraturan yang mendasari serta mengatur pemerintahan dalam menyelenggarakan tugas-tugasnya.

Sebagai sistem pemerintahan, didalamnya terdapat campuran tata peraturan, baik yang bersifat hukum (legal) maupun bukan hukum (non-legal). Kedua, dalam pengertian sempit yaitu sekumpulan peraturan yang legal dalam lapangan ketatanegaraan suatu negara yang dimuat dalam “suatu dokumen” atau “beberapa dokumen” yang terkait satu sama lain. Berdasarkan uraian ini, maka lahirlah penamaan adanya konstitusi yang tertulis (written constitution) dan konstitusi tidak tertulis (unwritten constitution).17

Hadirnya konstitusi bagi sebuah negara adalah suatu hal yang sangat penting, maka muncul istilah pemerintahan konstitusional (constitutional government), yakni pemerintahan yang berdasarkan konstitusi. Gagasan ini kemudian melahirkan sebuah era baru konstitusionalisme (constitusionalism). Intinya, menekankan adanya supermasi konstitusi dalam penyelenggaraan pemerintahan sebuah negara.

Dalam konteks negara kesatuan, Wheare mengatakan, setidaknya ada tiga hal pokok yang harus menjadi muatan konstitusi. Pertama tentang struktur umum negara, seperti peraturan kekuasaan, legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Kedua, hubungan dalam garis besar antara kekuasaan-kekuasaan tersebut satu dengan yang

16Muhammad Junaidi, Hukum Konstitusi “Pandangan dan Gagasan Modernisasi Negara Hukum”, (Depok: PT RajaGrafindo Persada, 2018), h. 33.

17 Majda El-Muhtaj, Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi Indonesia, (Jakarta, 2018), h. 33.

(29)

19

lainnya. Dan ketiga, hubungan antara kekuasaan-kekuasaan tadi dengan rakyat atau warga negara. Muatan konstitusi juga tidak terlepas dari prinsip-prinsip konstitusionalisme itu sendiri, maka setidaknya konstitusi harus berisi muatan: (1) pembatasan kekuasaan negara, (2) jaminan hak-hak asasi manusia, dan (3) peraturan mengenai pelaksanaan kekuasaan negara.18

Konstitusi merupakan naskah legitimasi paham kedaulatan rakyat. Naskah dimaksud merupakan kontak sosial yang mengikat setiap warga dalam membangun paham kedaulatan rakyat.19 Konstitusi atau yang biasa kita sebut dengan Undang- Undang Dasar ini yang difahami adalah sebagai norma sistem politik dan hukum pada suatu negara yang terdokumen secara tertulis, dimana yang didalamnya ada aturan, kelembagaan dan pembagian kewenangannya, serta terdapat hak dan kewajiban yang dimana hak konstitusional tersebut merupakan hak warga negara yang dijamin oleh Undang-Undang.

Mengenai aturan-aturan yang berada di dalam konstitusi atau Undang- Undang tersebut, guna terciptanya hukum yang berjalan sesuai dengan prosedur dan agar hak kostitusional dari warga negara terpenuhi, maka dibutuhkan suatu efektivitas hukum. Dapat diketahui bahwa suatu kaidah hukum berhasil atau gagal mencapai tujuannya, perlu diketahui apakah pengaruhnya berhasil mengatur setiap sikap atau perilaku tertentu sehingga sesuai dengan tujuannya atau tidak. Salah satu upaya yang biasanya dilakukan agar supaya masyarakat mematuhi kaidah hukum adalah dengan mencantumkan sanksi-sanksinya. Sanksi tersebut bisa berupa sanksi negatif atau sanksi positif, maksudnya adalah menimbulkan rangsangan agar manusia tidak melakukan tindakan tercela atau melakukan tindakan yang terpuji.

Diperlukan kondisi-kondisi tertentu yang harus dipenuhi agar hukum mempunyai pengaruh terhadap sikap tindak atau perilaku manusia. Lawrence M. Friedman mengemukakan bahwa efektif dan berhasil tidaknya penegakan hukum tergantung

18 Ibid, h. 38-39.

19 M Laica Marzuki, Jurnal Konstitusi Vol. 7 No. 4, Agustus 2010.

(30)

20

tiga unsur sistem hukum, yakni struktur hukum (struktur of law), substansi hukum (substance of the law) dan budaya hukum (legal culture). Struktur hukum menyangkut aparat penegak hukum, substansi hukum yang meliputi perangkat perundang-undangan dan budaya hukum merupakan hukum yang hidup (living law) di dalam suatu kehidupan masyarakat.20

Mengenai efektifitas hukum, kita ketahui bahwa hal tersebut tidak terlepas dari validitas hukum. Validitas hukum berarti bahwa norma-norma hukum itu mengikat, kemudian setiap orang harus berbuat sesuai dengan yang diharuskan oleh norma-norma hukum, dimana warga atau masyarakat harus mematuhi dan menerapkan norma-norma hukum yang telah ditetapkan. Efektifitas hukum berarti bahwa masyarakat itu harus benar-benar berbuat sesuai dengan norma hukum yang berlaku sebagaimana mereka harus terapkan dan mereka patuhi. Seperti misalnya dalam perlindungan atas hak kesehatan untuk masing-masing diri dari mereka.

Secara konstitusional, pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia di Indonesia dituangkan dalam Undang-Undang Dasar 1945, baik pada bagian pembukaan maupun pada pasal-pasalnya. Yang didalamnya terdapat hak warga negara yaitu terkait hak atas kesehatan masyarakat Indonesia. Pengaturan hak asasi manusia diatur dalam pasal 27 Undang-Undang Dasar 1945, yaitu (1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya, (2) Tiap- tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Bahwa telah diuraikan dan diringkas hak-hak konstitusional warga negara yang dijamin dalam BAB XA: Hak Asasi Manusia, yang salah satunya adalah pasal 28H ayat 1 (hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkuan hidup yang baik dan sehat, serta hak memperoleh pelayanan kesehatan.21

20 Lawrence M Friedman, 2009, Sistem Hukum: Perspektif Ilmu Sosial (The Legal System A Social Science Perspective), Nusamedia, Bandung, h.32.

21 Marwan Mas, (Depok : PT Raja Grafindo Persada, 2018), h. 131-132.

(31)

21

Kesehatan pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan sebagaimana diamanatkan oleh pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. Kesehatan sebagai hak asasi manusia (HAM) harus diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagai upaya kesehatan kepada seluruh masyarakat melalui penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau oleh negara atau pemerintah. Kesehatan masyarakat adalah pilar pembangunan suatu bangsa.

Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Oleh karena itu, setiap kegiatan dan upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dilaksanakan berdasarkan prinsip nondiskriminatif, partisipatif, perlindungan, dan berkelanjutan yang sangat penting artinya bagi pembentukan sumber daya manusia Indonesia, peningkatan ketahanan dan daya saing bangsa, serta pembangunan nasional. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, mengisyaratkan bahwa setiap individu, keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya, dan negara bertanggung jawab mengatur agar terpenuhi hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk masyarakat miskin dan tidak mampu. Upaya mewujudkan hak tersebut pemerintah harus menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang merata, adil dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Untuk itu pemerintah perlu melakukan upaya-upaya untuk menjamin akses yang merata bagi semua penduduk dalam memperoleh pelayanan kesehatan.22

Maka dari itu, mengenai hak konstitusional kesehatan masyarakat Indonesia dapat ditarik kesimpulan bahwasanya hak konstitusional atas kesehatan merupakan kondisi sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkin setiap orang produktif secara ekonomis (pada pasal 1 point (1) UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan). Karena itu kesehatan merupakan dasar dari diakuinya derajat kemanusiaan. Tanpa kesehatan, seseorang menjadi tidak sederajat secara

22 Fheriyal Sri Isriawaty, Tanggung Jawab Negara Dalam Pemenuhan Hak Atas Kesehatan Masyarakat Berdasarkan Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (jurnal hukum legal pinion : edisi 2 volume 3, 2015), h. 2-3.

(32)

22

kondisional, dan tanpa kesehatan seseorang tidak akan mampu memperoleh hak- haknya yang lain. Seseorang yang tidak sehat dengan sendirinya akan berkurang haknya atas hidup, tidak bisa memperoleh dan menjalani pekerjaan yang layak, tidak bisa menikmati haknya untuk berserikat dan berkumpul serta mengeluarkan pendapat, dan tidak bisa memperoleh pendidikan demi masa depannya. Singkatnya, seseorang tidak bisa menikmati sepenuhnya kehidupan sebagai manusia.

Pentingnya kesehatan sebagai hak asasi manusia dan sebagai kondisi yang diperlukan untuk terpenuhinya hak-hak lain yang telah diakui secara internasioal.

Hak atas kesehatan meliputi hak untuk mendapatkan kehidupan dan pekerjaan yang baik, hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, dan perhatian khusus terhadap kesehatan ibu dan anak. Kemudian pada pasal 25 Universal Declaration of Human Rights (UDHR) menyatakan: Setiap orang berhak atas taraf kehidupan yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri dan keluarganya, termasuk hak atas pangan, sandang, papan, dan pelayanan kesehatan, pelayanan sosial yang diperlukan, serta hak atas keamanan bahkan pada saat keadaan-keadaan lain yang mengakibatkan merosotnya taraf kehidupan yang terjadi diluar kekuasaannya.23

Pada lingkup nasional, Pasal 28 H ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Pasal 9 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia menyatakan bahwa: Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya. Setiap orang berhak hidup tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera, lahir dan batin. Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Jaminan atas hak memperoleh derajat kesehatan yang optimal juga terdapat dalam pasal 4 UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan.

23 Indra Perwira, Jurnal Memahami Kesehatan Sebagai Hak Asasi Manusia, (Kolaksi Pusat Dokumentasi ELSAM), h. 2.

(33)

23

B. Hak Konstitusi Masyarakat Indonesia Atas Kesehatan

Mengenai kesehatan masyarakat Indonesia yang diatur oleh konstitusi, yaitu pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perubahan keempat, Pasal 34 ayat (3) mengamanatkan bahwa “Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak”. Frasa kata “yang layak” diartikan bahwa negara tidak hanya bertanggung jawab menyediakan fasilitas kesehatan yang sekedarnya, tetapi juga melingkupi fasilitas kesehatan dengan standar tertentu yang dianggap layak. Sebagai suatu istilah hukum, pelayanan kesehatan dapat ditemukan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Dalam Pasal 22 ayat (1) ditegaskan bahwa: “Jaminan kesehatan bersifat pelayanan perseorang berupa pelayanan kesehatan yang mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, termasuk obat dan bahan medis habis pakai yang diperlukan”. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 merupakan pelaksanaan dari Pasal 28H dan Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sehingga pelayanan kesehatan yang dimaksud dalam undang-undang tersebut sesuai dengan makna yang dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Artinya, pelayanan kesehatan tersebut tidak sesempit yang dibayangkan dalam praktek, melainkan mencakup pelayanan kesehatan dengan berbagai fasilitas yang luas dan tidak hanya berkaitan dengan pelayanan individu atau perorangan saja. Undang-Undang Nomor 40 tentang sistem jaminan sosial nasional bertujuan untuk menjamin adanya aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan. Di dalamnya terdapat ketentuan mengenai jaminan kesehatan yang diselenggarakan berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas. Akan tetapi, jaminan kesehatan dimaksud memiliki keterbatasan yaitu hanya melindungi para peserta, dimana para peserta tersebut adalah setiap orang yang telah membayar iuran. Karena itu untuk terciptanya keadilan, maka orang-orang yang tergolong miskin dan tidak mampu membayar iuran, maka iurannya wajib dibayar oleh

(34)

24

pemerintah, sehingga mereka dapat menjadi peserta. Sebab tanpa iuran maka tidak akan ada akses, dan tanpa akses tidak ada hak atas kesehatan.24

C. Perlindungan Hak Konstitusi Atas Kesehatan

Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada Pasal 28H, menetapkan bahwa kesehatan adalah hak dasar setiap individu dan semua warga negara. Maka dari itu dalam perspektif pemenuhan hak dasar warga negara atas kesehatan, pemerintah terikat langsung serta bertanggung jawab untuk menjamin akses yang memadai bagi setiap warga negara atas pelayanan kesehatan yang layak dan optimal. Sebagai upaya untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi disini merupakan sebuah kewajiban negara yang mengimplementasikan norma-norma yang ada dalam hak asasi manusia pada hak atas kesehatan. Yang kemudian harus memenuhi berbagai prinsip. Diantaranya, ketersediaan pelayanan kesehatan, aksesibilitas, penerimaan dan kualitas. Sementara itu, dalam bentuk kewajiban negara untuk memenuhi hak atas kesehatan diinternalisasikan dalam bentuk kebijakan pemerintah dengan prinsip menghormati hak atas kesehatan, melindungi hak atas kesehatan dan memenuhi hak atas kesehatan. Kemudian di dalam Hak untuk pencapaian standar kesehatan yang tinggi, disebutkan bahwa jaminan akses atas layanan kesehatan yang memadai diantaranya adalah meliputi aksesibilitas finansial, yaitu bahwa layanan kesehatan harus terjangkau bagi seluruh warga negara. Oleh karena itu, pemerintah terikat tanggung jawab untuk memastikan ketersediaan sumber daya finansial bagi penyelenggaraan layanan kesehatan yang memadai sedemikian rupa terjangkau bagi setiap kalangan masyarakat. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), menjelaskan bahwa tanggung jawab negara dalam memenuhi akses warga terhadap kesehatan adalah mengeluarkan kebijakan atau program asuransi kesehatan yang adil dan dapat dijangkau oleh semua warga negara.

Pemerintah juga berkewajiban merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan

24 Fheriyal Sri Isriawaty, Tanggung Jawab Negara Dalam Pemenuhan Hak Atas Kesehatan Masyarakat Berdasarkan Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (jurnal hukum legal opinion : edisi 2 volume 3, 2015), h. 2-3.

(35)

25

sistem jaminan asuransi bagi warga negara yang adil, termasuk di dalamnya asuransi kesehatan bagi warga negara.25

Penjelasan lengkap mengenai pembagian kewenangan dan tanggung jawab negara untuk setiap tingkatan pemerintahan diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Tanggung jawab yang harus dijalankan ini harus berpatokan pada subtansi menghargai, melindungi dan memenuhi hak-hak dasar warga atas kesehatan yang layak. Dalam PP Nomor 38 Tahun 2007 diamanatkan bahwa bidang kesehatan merupakan urusan pemerintahan yang dibagi bersama antar tingkatan dan atau susunan pemerintahan, yang disebut juga dengan urusan pemerintahan yang bersifat konkuren, yang diselenggarakan bersama oleh Pemerintah, Pemerintahan daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Dalam lampiran 2 PP Nomor 38 Tahun 2007 dijelaskan lebih lanjut, untuk jaminan kesehatan, Pemda (Provinsi, Kota atau Kabupaten) mempunyai kewenangan menyelenggarakan jaminan kesehatan bersifat lokal dan melaksanakan jaminan kesehatan nasional. Tugas Pemerintah ataupun Pemda bukan pada penyelenggaraan seperti yang sekarang terjadi pada Jamkesmas atau Jamkesda. Penyelenggaran akan dikelola oleh suatu badan di luar pemerintahan. Tugas pemerintah hanya pada pembayaran iuran dan pengawasan, itulah yang nantinya akan menjadi wujud akhir sebuah sistem jaminan kesehatan nasional.26

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, mengatur tanggungjawab negara baik Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota yang harus dijalankan, yaitu meliputi:

a. Merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat.

25 Ibid, h. 5-6.

26 Ibid, h. 7.

(36)

26

b. Ketersediaan lingkungan, tatanan, fasilitas kesehatan baik fisik maupun sosial bagi masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi tingginya.

c. Ketersediaan sumber daya di bidang kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi- tingginya.

d. Ketersediaan akses terhadap informasi, edukasi, dan fasilitas pelayanan kesehatan.

e. Memberdayakan dan mendorong peran aktif masyarakat dalam segala bentuk upaya kesehatan.

f. Ketersediaan segala bentuk upaya kesehatan yang bermutu, aman, efisien, dan terjangkau.

g. Pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui sistem jaminan sosial nasional bagi upaya kesehatan perorangan.

Sudah menjadi konsensus dalam konstitusi Indonesia bahwa hak atas kesehatan merupakan hak mendasar bagi manusia. Falsafah dasar dari jaminan hak atas kesehatan sebagai hak asasi manusia merupakan raison d’etre kemartabatan manusia (human dignity). Kesehatan adalah hak fundamental setiap manusia, karena itu setiap individu, keluarga maupun masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya, dan pemerintah bertanggung jawab mengatur dan melindungi agar masyarakat terpenuhi hak hidup sehatnya termasuk masyarakat miskin yang tidak mampu. Untuk menjamin agar hak kesehatan dapat dipenuhi, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 34 ayat (3) menjelaskankan bahwa: “Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan...”. Pasal 28H ayat (3) mengamanatkan bahwa: “Setiap orang berhak atas atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat”. Ketentuan pasal 28H ayat (3) tersebut, terkait dengan Pasal 34 ayat (2) yang berbunyi: “Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan”. Penjelasan tersebut menjelaskan bahwa

(37)

27

konstitusi telah mengamanatkan bahwa penyediaan fasilitas kesehatan merupakan tanggung jawab negara, dan negara juga bertanggung untuk menjamin masyarakat agar dapat menjangkau fasilitas pelayanan kesehatan tersebut.27

27 Fheriyal Sri Isriawaty, Op.Cit, h. 4.

(38)

28 BAB III

PERLINDUNGAN HAK KONSTITUSIONAL ATAS KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PERDA DKI JAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2020

A. Hak Konstitusional Atas Kesehatan Masyarakat

Pasal Penjelasan

Perda Nomor 2 Tahun 2020 Bab II mengenai "Tanggung Jawab dan Wewenang" bagian kesatu tentang

"Tanggung Jawab" pada pasal 5.

Pemerintah provinsi DKI Jakarta dalam upaya penanggulangan Covid-19 bertanggung jawab menyediakan dukungan tenaga kesehatan dan tenaga penunjang, menyediakan sarana dan prasarana, obat-obatan, alat kesehatan, dan lain sebagainya.

Perda Nomor 2 Tahun 2020 Bab II mengenai "Tanggung Jawab dan Wewenang" bagian kedua tentang

"Wewenang" pada pasal 6.

Pemerintah provinsi DKI Jakarta dalam upaya penanggulangan Covid-19 bertanggung jawab melakukan pengaturan terhadap seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di provinsi DKI Jakarta dalam hal pelayanan dan sumber daya guna percepatan penanggulangan Covid-19.

Perda Nomor 2 Tahun 2020 Bab III mengenai "Hak dan Kewajiban"

bagian kesatu tentang "Hak" pada pasal 7.

Bahwa pemerintah provinsi DKI Jakarta wajib memberikan bagi setiap orang atau masyarakat dalam penyelenggaraan penanggulangan Covid-19 itu berhak memperoleh perlakuan yang sama dalam upaya perlindungan dan keselamatan masyarakat dan bentuk lainnya di masa pandemi Covid-19.

Sumber: Perda Pemerintah DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2020, Pasal-pasal yang Menjamin Perlindungan Hak Atas Kesehatan.28

28 Peraturan Pemerintah DKI Jakarta No 2 Tahun 2020 Tentang Penanggulangan Corona Virus Desiase.

Referensi

Dokumen terkait

Guru sebagai tenaga yang telah dipandang memiliki keahlian tertentu dalam bidang pendidikan, diserahi tugas dan wewenang untuk mengelola kegiatan belajar mengajar untuk

Dalam hal ini para ulama terbagi dua.Jumhur berpendapat yang pertama, sedang sekelompok lainnya berpendapat yang kedua.Sebelum menunjukkan argumen masing-masing kelompok, satu

Perbincangan dimulakan dengan paparan demografi sampel kajian, diikuti dapatan deskriptif ciri program media yang boleh mempengaruhi tingkahlaku pelajar, punca pelajar

Perbedaan skripsi ini dengan skripsi yang penulis bahas adalah skripsi di atas hanya menjelaskan tentang kecocokan teori al-Qur‘an dengan teori biologi, tapi

Apabila kinerja keuangan perusahaan PT Aneka Tambang Tbk dilihat pada tingkat rasio aktivitas atau turnover asset tidak dalam kondisi baik sehingga menunjukkan bahwa

Adanya organ pencernaan fermentatif bagi ruminansia memiliki beberapa keuntungan (Sutardi, 1980), yaitu: 1) dapat mencerna bahan makanan dengan serat kasar yang tinggi, sehingga

Pada alat tenun ini benang lusi dalam posisi vertikal dan selalu tegang karena ada pemberat atau beban, sedangkan benang pakan disisipkan dengan suatu alat yang disebut

Surat Jaminan Penawaran (Bid Bond) sebesar sebesar Rp 5.100.000,- (Lima juta seratus ribu rupiah) diterbitkan dari Bank Umum atau Perusahaan Asuransi yang mempunyai