• Tidak ada hasil yang ditemukan

USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018) 143 - 152

143 PEMBAGIAN HARTA BERSAMA KARENA PERCERAIAN BAGI

MASYARAKAT ADAT BATAK TOBA

(Studi Kasus Terhadap Putusan-Putusan di Pengadilan Negeri Pematangsiantar Antara Tahun 2011-2016)

Cristina Natalia Tarigan

Rosnidar Sembiring, Utary Maharany Barus, Idha Aprilyana Sembiring [email protected]

ABSTRACT

Marriage under Article 1 of Law No. 1 of 1974 concerning Marriage of the inner birth bond between a man and a woman as husband and wife in order to form a happy and eternal family or household based on the One Supreme Godhead. One of the causes of marriage breakup is due to divorce. Divorce is the breaking up of a legal marriage before a court Judge. The consequences of the breaking of marriage will cause various problems that is against the child, the status of husband and wife, and to marital property. Article 37 of Law No. 1 of 1974 concerning Marriage when marriage is terminated due to a divorce, joint property is regulated according to their respective laws (religious law, customary law and court rulings). Speaking of marriage, divorce, sharing of common property and death is inseparable from the religious rules and customary rules for indigenous Batak Toba people.

The classification of the distribution of common property in Batak Toba community registered in Pematangsiantar District Court Year 2011-2016 there are two decisions. The formulation of the problem in the thesis research is how the division of joint property due to divorce under the Act No.1 of 1974 on Marriage and based on customary law of Batak Toba.

How is the application of Law No.1 of 1974 about Marriage to Toba Batak custom law related with division of joint property because divorce. What is the legal judgment made by the Judge of the decisions on the distribution of joint property due to a divorce in the Pematangsiantar District Court. The type of research in preparing the thesis is an empirical or sociological juridical research method. The nature of the thesis research is descriptive analytical. The results of the study when using the Law No. 1 of 1974 on Marriage regulate in Article 37 stating that if marriage is terminated due to divorce, property is regulated according to their respective laws (religious law, customary law, court decision). The division of joint property is then valued in amounts to be divided in half to the parties, referring to Article 128 of the Civil Code. The establishment of Law No. 1 of 1974 on Marriage gives effect based on the application of Marriage Law which is based on husband and wife position in marriage with shared shared property. The basis of judges' consideration is based on Articles 35, 36 and 37 of Law No. 1 of 1974 concerning Marriage of joint property shall act in agreement of both parties. Suggested in the distribution of common property for indigenous Toba Batak people in case of prior dispute with non litigation or custom lane. If it can not resolve it customarily then it can pass through litigation lane in State Pengadlilan in order to obtain equal distribution.

Keywords: Marriage, Divorce, Division of Joint Property, Judge's Decision, Customary Law of Batak Toba.

PENDAHULUAN Latar Belakang

Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 28 B ayat (1) UUD 1945 menentukan bahwa setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.1 Setiap manusia tentu memiliki pilihan masing-masing dalam memenuhi kesejahteraan kehidupannya termaksud pilihan untuk membentuk keluarga.

Pasal 1 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memberikan pengertian mengenai perkawinan.Berdasarkan ketentuannya yang dimaksud dengan perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

1Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia,Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dan Undang-Undang Republik Indonesia No 24 Tahun 2013 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana Telah Diubah Dengan Undang-Undang No 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi, (Jakarta: Kepaniteraan dan Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi RI, 2013),hlm.28.

(2)

USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018) 143 - 152

144 Perkawinan juga diatur dalam hukum adat khususnya adat Batak Toba. Adat Batak Toba merupakan salah satu etnis dari sekian banyak rumpun Batak yang terdapat di Sumatera. Pada dasarnya wilayah pemukimam suku Batak Toba meliputi kabupaten Toba Samosir yang terdiri dari Balige, Laguboti, Parsoburan dan sekitarnya. Ketentuan adat dalam perkawinan Batak Toba tersebut berpengaruh terhadap sistem kekerabatan dalam masyarakatnya. Adat merupakan cerminan kehidupan dalam kekerabatan masyarakat Batak Toba. Hal ini yang menjadi dasar bahwa masyarakat Batak Toba sendiri masih sangat mematuhi segala bentuk aturan adat dari leluhurnya yang diterapkan dalam kekerabatannya.

Hak dan kewajiban yang dimiliki masing-masing suami dan istri sangat penting dan sangat mendasar, apabila ingin dikaji lebih dalam mengenai konsekuensi-konsekuensi dari kehidupan perkawinan. Pemahaman manusia tentang konsep perkawinan sangat luas, hal ini di sebabkan oleh makin berkembangnya pola pikir dan pola kehidupan pada masyarakat sekarang.

Setiap manusia tentu mengharapkan agar perkawinannya terjalin dengan baik hingga kematian yang memisahkan. Akan tetapi konsep dari perkawinan tersebut, tidak menjadi hal yang utama dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Berdasarkan Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan salah satu penyebab putusnya perkawinan diakibatkan karena perceraian. Perceraian adalah putusnya suatu perkawinan yang sah di depan Hakim pengadilan berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan undang-undang. Perlu dipahami jiwa dari peraturan mengenai perceraian itu serta sebab dan akibat yang mungkin timbul setelah suami-istri perkawinannya putus.2Akibat dari putusnya perkawinan akan menimbulkan berbagai persoalan yaitu terhadap anak, status suami-istri, dan terhadap harta perkawinan.

Masyarakat Batak Toba dalam kehidupan perkawinannya tidak selamanya berjalan dengan kerukunan. Saat ini meskipun masyarakat adat dalam penyelesaian permasalahan perkawinan menyelesaikan dengan aturan adat, tidak dipungkiri penyelesaian masalah perkawinan mulai tahap perceraian sampai pembagian harta bersama telah banyak ditempuh melalui litigasi yaitu jalur pengadilan.

Para pihak memilih jalur litigasi sebagai penyelesaian dengan harapan dapat mendapatkan hak-haknya serta keadilan dalam putusan. Berdasarkan data yang diperoleh Perkara perdata khususnya perceraian masyarakat Batak Toba pada Pengadilan Negeri Pematangsiantar Tahun 2011-2016 dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini:

Tabel 1

Klasifikasi Perkara Perdata Perceraian Tahun 2011-2016 Pengadilan Negeri Pematangsiantar

No. Klasifikasi

Perkara Perdata Perkara Tahun

2011

Perkara Tahun

2012

Perkara Tahun

2013

Perkara Tahun

2014

Perkara Tahun

2015

Perkara Tahun

2016

1. Perceraian 19 51 40 39 30 58

2. Perceraian Masyarakat Batak Toba

11 22 15 13 11 29

3. Harta Perkawinan - - 1 - 1 1

4. Persekutuan Adat - - - -

5. Warisan - - - 3 4 -

Sumber Data : Berdasarkan data Pengadilan Negeri Pematangsiantar Tahun 2011-2016

Salah satu akibat yang muncul dari perceraian menjadi permasalahan adalah mengenai pembagian harta bersama selama perkawinan. Berdasarkan ketentuan Pasal 37 Undang-Undang No1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dijelaskan bahwa bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing. Hukum lain yang dimaksud merupakan hukum agama, hukum adat dan putusan pengadilan. Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan memberikan peluang bagi hukum adat untuk mengatur masalah pembagian harta bersama bagi pihak yang bercerai. Pengadilan juga memiliki kewenangan untuk membantu penyelesaian pembagian harta bersama bagi masyarakat Batak Toba, apabila pembagian harta bersama tidak dapat terselesaikan dengan baik menurut hukum adat.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Tahun 2011-2016 dari Pengadilan Negeri Pematangsiantar klasifikasi kasus perkara perdata khususnya perceraian dengan permasalahan pembagian harta bersama yang telah diputus terhadap masyarakat Batak Toba dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini:

2Martimam Prodjohamidjojo, Hukum Perkawinan Indonesia, (Jakarta: Indonesia Legal Center Publishing, 2001), Hlm.41.

(3)

USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018) 143 - 152

145 Tabel 2

Perkara pembagian harta bersama setelah perceraian pada masyarakat Batak Toba yang diputus Pengadilan Negeri Pematangsiantar

Klasifikasi Perkara

Perdata Perkara Tahun

2011

Perkara Tahun

2012

Perkara Tahun

2013

Perkara Tahun

2014

Perkara Tahun

2015

Perkara Tahun

2016 Harta

Perkawinan Masyarakat Batak Toba

- - 1 - 1 -

Jumlah - - 1 - 1 -

Sumber Data: Berdasarkan data Pengadilan Negeri Pematangsiantar Tahun 2011-2016

Dalam praktik masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui upaya hukum melalui jalur litigasi dalam penyelesaian pembagian harta bersama setelah bercerai. Terbukti minimnya perkara pembagian harta bersama setelah perceraian di Pengadilan Negeri Pematangsiantar. Berdasarkan hal ini maka dilakukan penelitian mengenai pembagian harta bersama karena perceraian bagi masyarakat adat Batak Toba (Studi Terhadap Putusan-putusan di Pengadilan Negeri Pematangsiantar).

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas maka, permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana pembagian harta bersama karena perceraian berdasarkan Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan berdasarkan hukum adat Batak Toba?

2. Bagaimana penerapan Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terhadap hukum adat Batak Toba terkait dengan pembagian harta bersama karena perceraian?

3. Bagaimana pertimbangan hukum yang dilakukan oleh Hakim terhadap putusan-putusan pembagian harta bersama karena perceraian di Pengadilan Negeri Pematangsiantar?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian tesis ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui dan menganalisis pembagian harta bersama karena perceraian menurut Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan hukum adat Batak Toba di Pematangsiantar.

2. Untuk mengetahui penerapan Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terhadap hukum adat Batak Toba dalam menyelesaikan persoalan pembagian harta bersama karena perceraian.

3. Untuk mengetahui pertimbangan hukum yang dilakukan oleh Hakim terhadap putusan- putusan perceraian di Pengadilan Negeri Pematangsiantar dalam pembagian harta bersama karena perceraian.

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian dalam usulan ini adalah : 1. Teoretis

Bagi perkembangan ilmu hukum pada umumnya dan perkembangan bidang hukum tertentu khususnya Hukum Perdata dan Hukum adat mengenai pembagian harta bersama karena perceraian berdasarkan Undang-undang No 1 Tahun 1974 dan hubungannya terhadap hukum adat Batak Toba di Pematangsiantar.

2. Praktis

a. Bagi Pemerintah

Hasil penelitian ini bermanfaat memberikan masukan dalam rangka menilai isi peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini dan memberikan saran terhadap isi peraturan perundang-undangan tersebut selanjutnya dapat dijadikan masukan apabila akan dilakukan rivisi peraturan perundang-undangan.

b. Bagi Masyarakat Batak Toba

(4)

USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018) 143 - 152

146 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman bagi masyarakat adat untuk mengetahui bagaimana pembagian harta bersama akibat perceraian menurut hukum perkawinan dan hukum adatnya.

c. Bagi Pengadilan Negeri

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan bagi pihak Pengadilan Negeri Pematangsiantar mengenai sistem pembagian harta bersama karena perceraian dalam masyarakat adat Batak Toba

KERANGKA TEORI

Untuk membahas permasalahan dalam penulisan tesis ini, penulis menggunakan landasan teori yakni teori Law as a tool of social engineering oleh Roscoe Pound. Teori Law as a tool of social engineering menurut Roscoe Pound yaitu:

Hukum sebagai alat rekayasa sosial. Hukum harus dilihat sebagai suatu lembaga kemasyarakatan yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial. Hukum merupakan sebuah proses (law in action) yang dibedakannya dengan hukum yang tertulis (law in books). Teori Law as a tool of social engineering memberikan pengertian bahwa hukum sebagai pranata sosial atau hukum sebagai alat untuk membangun masyarakat.3

Hukum sebagai rekayasa sosial yaitu adanya fungsi hukum sebagai alat rekayasa sosial bahwa di suatu masyarakat tidak ada yang statis. Masyarakat manapun senantiasa mengalami perubahan, hanya saja ada masyarakat yang perubahannya pesat dan ada pula yang masyarakat perubahannya lamban. Di dalam menyesuaikan diri dengan perubahan sosial itulah fungsi hukum sebagai a tool of social engineering sebagai rekayasa sosial sebagai alat untuk merubah masyarakat ke suatu tujuan yang diinginkan bersama.4

PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

Pembagian Harta Bersama Karena Perceraian Berdasarkan Undang- Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Berdasarkan Hukum Adat Batak Toba

1. Pembagian Harta Bersama Karena Perceraian Berdasarkan Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Undang-Udang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menggolongkan jenis-jenis harta perkawinan. Berdasarkan ketentuan harta benda dalam perkawinan diatur dalam Pasal 35, Pasal 36, Pasal 37 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dinyatakan bahwa:

Pasal 35 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan:

(1) Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama;

(2) Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing- masing sebagai hadiah atau warisan adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Hakim Pengadilan Negeri Pematangsiantar, adapun pembagian harta bersama karena perceraian pada Pengadilan Negeri Pematangsiantar sebagai berikut:5

1. Mengenai harta benda dalam perkawinan Hakim akan mengacu berdasarkan penerapan dalam pengaturan Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengenai ketentuan mengenai harta benda dalam perkawinan dan hak-hak masing-masing para pihak terhadap harta benda dalam perkawinan. Hal yang pertama yang perlu diperhatikan adalah dilihat apakah harta tersebut merupakan tergolong harta bersama. Pada pembagian harta bersama karena perceraian, harta yang dibagikan merupakan harta yang diperoleh bersama selama masa perkawinan berlangsung. Hal ini sebagaimana dalam ketentuan Pasal 35 ayat (1) Undang- Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Mengenai harta bawaan masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan dibawah penguasaan masing-masing para pihak. Harta bawaan, hadiah dan warisan merupakan bukan penggolongan harta bersama dalam perkawinan. Hal ini sebagaimana ditentuan dalam Pasal 35 ayat (2) Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

3Muhammad Erwin, Filsafat Hukum, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011), Hlm.273.

4Soejono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2000), Hlm.79.

5Berdasarkan Hasil Wawancara Terhadap S.Sitorus Sebagai Hakim Pengadilan Negeri Pematangsiantar, Pada Tanggal 02 Agustus 2017.

(5)

USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018) 143 - 152

147 2. Setelah adanya penggolongan harta bersama selama perkawinan berlangsung. Dihadapan hakim pengadilan dinyatakan kedua belah pihak bahwa harta yang disengketakan merupakan penggolongan harta bersama dan dibagikan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.

3. Hakim Pengadilan Negeri selanjutnya akan menilai jumlah harta bersama yang dipermasalahkan oleh kedua belah pihak. Apabila hakim tidak dapat menilai jumlah harta bersama tersebut, Hakim akan melelang harta bersama tersebut untuk mengetahui nilai harta.

Berdasarkan putusan hakim dalam pembagian harta bersama karena perceraian hakim akan memberikan pertimbangan berdasarkan permasalahan dalam perkara tersebut. Pertimbangan tersebut dilakukan Hakim demi memberikan keadilan bagi kedua belah pihak.

4. Setelah mengetahui nilai harta bersama tersebut, maka Hakim dapat melakukan pembagian.

Hakim akan melakukan pembagian harta bersama dengan membagi seperdua bagian bagi masing-masing pihak. Mengenai pengaturan terhadap pembagian harta perkawinan mengacu terhadap ketentuan pasal 128 KUH-Perdata yang menyatakan bahwa setelah bubarnya harta bersama, kekayaan bersama mereka dibagi dua antara suami dan istri atau antara para ahli waris mereka, tanpa mempersoalkan dan pihak mana asal barang-barang itu.

2. Pembagian Harta Bersama Karena Perceraian Berdasarkan Hukum Adat Batak Toba

Pada masyarakat Batak Toba dikenal adanya pemberian harta kekayaan orang tua kepada anaknya, baik anak laki-laki maupun perempuan. Harta kekayaan yang diberikan orang tua dapat berasal dari harta bawaan yang dibawa orang tua laki-laki atau perempuan sebelum melangsungkan perkawinan maupun harta yang diperoleh selama menikah. Harta kekayaan tersebut dapat berupa sawah, ladang (hauma), kebun (porlak), rumah (bagas), emas, uang (hepeng), dan binatang peliharaan (pinahan).6 Dilihat dari sumbernya, maka harta kekayaan ini bersumber dari:7

a. Harta kekayaan yang dibawa oleh masing-masing pihak

1. Harta yang diperoleh pihak laki-laki dari orang tuanya sendiri sebagai modal panjaean;

2. Harta kekayaan yang dibawa oleh si wanita yang merupakan pemberian dari ayahnya yang disebut pauseang.

b. Harta yang diperoleh bersama selama perkawinan

1. Harta yang didapatkan atas jerih payah suami istri berdua;

2. Harta yang diperoleh dari keluarga masing-masing, selama perkawinan berjalan.

Pada ketentuan adat Batak Toba pada zaman dahulu mengenai pembagian harta bersama karena perceraian banyak telah mengalami perubahan sedikit demi sedikit pada saat sekarang ini.

Hal ini diakibatkan karena faktor agama, faktor ekonomi dan faktor agama. Adapun bentuk-bentuk pembagian harta bersama karena perceraian menurut adat Batak Toba pada zaman dahulu adalah:8 1. Pembagian harta bersama karena perceraian menurut ketentuan adat Batak Toba terdahulu

pembagiannya tidak seimbang. Pihak laki-laki atau suami memperoleh bagian lebih besar jika dibandingkan dengan pihak perempuan atau istri.

2. Terjadinya perceraian dan pembagian harta bersama menimbulkan permasalahan mengenai hak asuh anak. Hak asuh anak jatuh pada laki-laki, hal ini didasari oleh:

a. Marga anak diturunkan dari Ayah;

b. Warisan keluarga dijatuhkan pada anak laki-laki.

Berdasarkan skema diatas pada ketentuannya tata cara pembagian harus melibatkan berbagai pihak, dapat dilihat pada skema 1 berikut ini

6Djaren Saragih, Perkawinan Adat Batak, (Bandung:Tarsito, 1980), Hlm.82.

7Ibid, Hlm.84.

8Berdasarkan Hasil Wawancara Terhadap J.Sitohang Sebagai Tua-Tua Ni Huta dan Raja Parhata di Pematangsiantar, Pada Tanggal 13 November 2017.

(6)

USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018) 143 - 152

148 Skema 1

Proses Pembagian Harta Karena Perceraian Bagi Masyarakat Adat Batak Toba di Pematangsiantar

Sumber Data: Berdasarkan hasil wawancara terhadap J.Sitohang sebagai Tua-Tua Ni Huta dan Raja Parhata di Pematangsiantar

Penerapan Undang-Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Terhadap Hukum Adat Batak Toba Terkait Pembagian Harta Bersama Karena Perceraian

Dasar hukum tentang harta bersama dapat ditelusuri melalui Undang-Undang dan peraturan berikut ini :

1. Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan harta gono-gini atau harta bersama adalah harta yang diperoleh selama masa perkawinan. Artinya harta kekayaan yang diperoleh sebelum terjadinya perkawinan tidak disebut harta gono-gini.

2. Pasal 37 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing. Hukumnya masing-masing merupakan hukum agama, hukum adat dan ketentuan lainnya.Berdasarkan ketentuan Pasal 37 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dijelaskan bahwa antara hukum adat dengan Undang-Undang tentang Perkawinan memiliki hubungan dalam hal pembagian harta bersama karena perceraian.

3. Pasal 119 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebutkan bahwa sejak saat dilangsungkan perkawinan, maka menurut hukum terjadi harta bersama menyeluruh antara suami-istri, sejauh tentang hal itu tidak diadakan ketentuan-ketentuan lain dalam perjanjian perkawinan.

Harta bersama itu, selama perkawinan berjalan tidak boleh ditiadakan atau diubah dengan suatu persetujuan antara suami-istri.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Hakim Pengadilan Negeri Pematangsiantar, adapun penerapan pelaksanaan Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terhadap adat Batak Toba terkait dengan pembagian hata bersama karena perceraian adalah sebagai berikut:9

9Berdasarkan Hasil Wawancara Terhadap H.Sembiring, sebagai Panitera Muda Perdata Pengadilan Negeri Pematangsiantar, Pada Tanggal 30 November 2017.

1. Marsirang

2. Mambagi arta natapungka

Marpungu ijabu para pihak

Tua-tua ni huta sebagai protokol

membawa acara Musyawarah

Mambagi arta natapungka

Marpungu asa tahatahi taringot

tu arta natapungka

Mambagi arta natapungka

Dungnga sah marsirang dohot

mambagi arta natapungka Ditandatangani kedua belah pihak

dan saksi sebagai bukti tertulis Tua-tua ni huta malehon

poda

(7)

USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018) 143 - 152

149 1. Terbentuknya Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memberikan pengaruh bagi masyarakat adat khususnya adat Batak Toba. Pengaruh tersebut berkaitan dengan penerapan Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terhadap harta benda dalam perkawinan berdasarkan posisi suami dan istri terhadap harta bersama dalam perkawinan.

Lahirnya Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagai peraturan yang khusus yang mengatur mengenai perkawinan, perceraian dan harta benda dalam perkawinan.

Ketentuan tersebut terdapat dalam Pasal 35 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tentang pengertian harta bersama dalam perkawinan, Pasal 36 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengenai kedudukan masing-masing pihak terhadap harta bersama dalam perkawinan dan Pasal 37 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengenai hukum yang mengatur apabila terjadi perceraian terkait dengan harta bersama.

2. Sebagaimana berdasarkan Pasal 37 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan bahwa bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing (hukum agama, hukum adat dan keputusan pengadilan). Undang- Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memberikan pengaturan hukum adat dalam mengatur pembagian harta bersama karena perceraian. Dimana apabila terjadi sengketa terlebih dahulu dilaksanakan menurut ketentuan hukum adat Batak Toba.

3. Apabila pada saat pelaksanaan proses pembagian harta bersama karena perceraian menurut hukum adat tidak mendapatkan titik temu antara para pihak. Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memberikan penerapan penyelesaian terhadap pembagian harta bersama menurut keputusan pengadilan.

4. Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan penerapan dari undang- undang perkawinan bahwa terhadap harta benda dalam perkawinan memberikan posisi suami dan istri sama. Mengenai pengaturan terhadap pembagian harta perkawinan mengacu terhadap ketentuan pasal 128 KUH-Perdata yang menyatakan bahwa setelah bubarnya harta bersama, kekayaan bersama mereka dibagi dua antara suami dan istri atau antara para ahli waris mereka, tanpa mempersoalkan dan pihak mana asal barang-barang itu.

Pertimbangan Hukum Oleh Hakim Pada Putusan Pembagian Harta Bersama Karena Perceraian Bagi Masyarakat Batak Toba Di Pengadilan Negeri Pematangsiantar

1. Persentase Data Perceraian Mayarakat Adat Batak Toba Di Pengadilan Negeri Pematangsiantar Tahun 2011-2016

Tabel 3

Klasifikasi Perkara Perdata Perceraian Tahun 2011-2016 Pengadilan Negeri Pematangsiantar

No. Klasifikasi Perkara

Perdata Perkara Tahun

2011

Perkara Tahun

2012

Perkara Tahun

2013

Perkara Tahun

2014

Perkara Tahun

2015

Perkara Tahun

2016

1. Perceraian 19 51 40 39 30 58

2. Perceraian Masyarakat Batak Toba

11 22 15 13 11 29

3. Harta Perkawinan - - 1 - 1 1

4. Persekutuan Adat - - - -

5. Warisan - - - 3 4 -

Sumber Data : Berdasarkan data Pengadilan Negeri Pematangsiantar Tahun 2011-2016 2. Persentase Data Pembagian Harta Bersama Karena Perceraian Mayarakat Adat

Batak Toba Di Pengadilan Negeri Pematangsiantar Tahun 2011-2016

Berdasarkan data dari Pengadilan Negeri Pematangsiantar masyarakat adat Batak Toba yang mengajukan gugatan pembagian harta bersama karena perceraian dapat dilihat pada tabel 4 berikut :

(8)

USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018) 143 - 152

150 Tabel 4

Klasifikasi pembagian harta bersama setelah perceraian pada masyarakat Batak Toba yang didaftarkan pada Pengadilan Negeri Pematangsiantar

antara Tahun 2011-2016

No. Nomor Perkara Pihak

Penggugat Pihak

Tergugat Klasifikasi Perkara

1. NO.02/PDT.G/2013.PN.PMS P.S S.S pembagian harta

besama karena perceraian

2. NO.51/PDT.G2015.PN.PMS H.H R.P pembagian harta

besama karena perceraian

Sumber Data : Berdasarkan data pembagian harta bersama di Pengadilan Negeri Pematangsiantar

3. Pertimbangan Hukum Oleh Hakim Pada Putusan Pembagian Harta Bersama Karena Perceraian Bagi Masyarakat Batak Toba Di Pengadilan Negeri Pematangsiantar

Berdasarkan data dari Pengadilan Negeri Pematangsiantar klasifikasi pembagian harta bersama karena perceraian hanya terdapat 2 (dua) gugatan yaitu di tahun 2013 dan tahun 2015 yang didaftarkan di Pengadilan Negeri Pematangsiantar. Sebagian besar masyarakat adat Batak Toba memilih jalur penyelesaian dengan adat.

1. Putusan No.02/PDT.G/2013.PN.PMS

Berdasarkan gugatan NO.02/PDT.G/2013.PN.PMS, atas pertimbangan Hakim maka memutuskan bahwa tanah yang menjadi harta bersama pembagiannya dibagi dua antara Penggugat dan Tergugat. Putusan tersebut berdasarkan ketentuan Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan mengenai harta bersama suami-istri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak. Mengenai pengaturan terhadap pembagian harta perkawinan mengacu terhadap ketentuan pasal 128 KUH-Perdata yang menyatakan bahwa setelah bubarnya harta bersama, kekayaan bersama mereka dibagi dua antara suami dan istri atau antara para ahli waris mereka, tanpa mempersoalkan dan pihak mana asal barang-barang itu.10

Berdasarkan pertimbangan putusan Hakim terhadap pembagian harta bersama karena perseraian tersebut. Hakim memutus didasarkan pada asas hukum dalam suatu norma hukum.

Setiap tatanan hukum pasti memiliki asas hukum yang menjadi norma dasar dan menjadi petunjuk arah dalam pembentukan suatu aturan hukum. Untuk itu setiap Hakim harus mengetahui setiap asas hukum yang terkandung dalam putusan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan para pihak yang telah melaksanakan pembagian harta bersama karena perceraian, para pihak menerima putusan Hakim di depan Pengadilan Negeri Pematangsiantar. Berdasarkan pengakuan dari Tergugat sebagai istri kedua dari Penggugat sejak dikeluarkannya putusan ini tidak merasa adil karena adanya perbedaan bagi istri kedua. Maka setelah dikeluarkannya putusan tersebut para pihak melaksanakan perdamaian lagi secara adat Batak Toba dengan kekerabatannya agar pihak tergugat sebagai (istri kedua) diberikan hak yang sama serta perlindungan meskipun tidak memiliki anak dalam perkawinan dengan istri kedua tersebut.11

2. Putusan No.51/PDT.G/2015.PN.PMS

Berikut ini merupakan yang menjadi dasar pertimbangan Hakim dalam Putusan No.51/PDT.G/2015.PN.PMS adalah berdasarkan Pasal 35 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bahwa harta bersama terlebih dahulu digolongkan menjadi 2 (bagian) antara harta yang bergerak dan harta yang tidak bergerak. Tanah dan mobil yang disengketan dalam gugatan merupakan seluruhnya harta bawaan. Berdasarkan ketentuan Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan maka atas dasar tersebut Hakim menetapkan harta bersama yang telah dijual oleh Tergugat sebelum putusan ini diucapkan, nilainya diperhitungkan sebagai bagian

10Berdasarkan Putusan Pembagian Harta Bersama Karena Perceraian Pengadilan Negeri Pematangsiantar Tahun 2013.

11Berdasarkan Hasil Wawancara Pada Para Pihak (Pihak Tergugat) Pada Tanggal 12 Agustus 2017.

(9)

USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018) 143 - 152

151 yang telah diterima Tergugat dari pembagian harta bersama tersebut. Sebagaimana dalam ketentuan pada Pasal tersebut bahwa suami-istri atas harta bersama dapat bertindak persetujuan kedua belah pihak.

Ketentuan Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan diatur mengenai hak dan melakukan perbuatan hukum atas harta bersama bagi suami-istri. Atas dasar tersebut Hakim menghukum Tergugat untuk menyerahkan seperdua bagian harta bersama kepada Penggugat, dengan memperhitungkan nilai harta bersama yang dikuasai langsung oleh Penggugat yaitu Satu unit kios/pajak di pajak dwikora parluasan dengan No. 26 kelas 1 (siku) dengan ukuran 9 m² yang penguasaannya berada pada Penggugat harga diperkirakan Rp.40.000.000 (empat puluh juta rupiah). Hal ini sebagaimana dalam ketentuan pasal 36 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bahwa suami-istri mempunyai hak sepenuhnya melakukan perbuatan hukum mengenai harta bersama. Menetapkan hutang yang timbul semasa perkawinan sebesar Rp.255.000.0000 (dua ratus lima puluh lima juta rupiah) adalah tanggung jawab Penggugat dan Tergugat.

Berdasarkan gugatan tersebut, atas pertimbangan Hakim maka memutuskan Penggugat dan Tergugat masing-masing meperoleh seperdua bagian dari harta bersama atau dari nilai penjualan dari harta bersama tersebut. Dengan memperhitungkan nilai harta bersama yang dikuasai langsung oleh Penggugat dan yang telah diterima Tergugat. Hal ini sebagaimana mengenai pengaturan terhadap pembagian harta perkawinan mengacu terhadap ketentuan pasal 128 KUH-Perdata yang menyatakan bahwa setelah bubarnya harta bersama, kekayaan bersama mereka dibagi dua antara suami dan istri atau antara para ahli waris mereka, tanpa mempersoalkan dan pihak mana asal barang-barang itu.12

Berdasarkan pertimbangan putusan Hakim terhadap pembagian harta bersama diatas. Hakim memutus didasarkan pada asas hukum dalam suatu norma hukum. Setiap tatanan hukum pasti memiliki asas hukum yang menjadi norma dasar dan menjadi petunjuk arah dalam pembentukan suatu aturan hukum. Untuk itu setiap Hakim harus mengetahui setiap asas hukum yang terkandung dalam putusan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan para pihak yang telah melaksanakan pembagian harta bersama karena perceraian, para pihak menerima putusan Hakim di depan Pengadilan Negeri Pematangsiantar. Bagi para pihak putusan Hakim mengenai pembayaran utang-piutang dibagi secara adil bagi kedua belah pihak dan memberikan perlindungan bagi para pihak.13

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan uraian bab sebelumnya mengenai Pembagian harta bersama karena perceraian bagi masyarakat adat Batak Toba dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Pembagian harta bersama karena perceraian berdasarkan Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak secara khusus diatur mengenai pembagian harta bersama terhadap masing-masing para pihak. Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengatur mengenai pelaksanaan sebagaimana dalam Pasal 37 yang menyatakan bahwa bila perkawinan putus karena perceraian maka harta benda diatur menurut hukumnya masing-masing (hukum agama, hukum adat, keputusan pengadilan). Harta yang disengketakan merupakan penggolongan harta bersama selama perkawinan. Pembagian harta bersama kemudian dinilai jumlahnya untuk dibagi seperdua bagian terhadap para pihak, hal ini mengacu terhadap ketentuan pasal 128 KUH- Perdata yang menyatakan bahwa setelah bubarnya harta bersama, kekayaan bersama mereka dibagi dua antara suami dan istri atau antara para ahli waris mereka, tanpa mempersoalkan dan pihak mana asal barang-barang itu. Berdasarkan Hukum adat Batak Toba, pembagian harta bersama dilakukan dengan melihat asal usul harta bersama. Dalam hal ini dilihat pihak mana yang paling banyak memberikan keuangan selama kehidupan rumah tangga berlangsung maka akan memperoleh bagian lebih banyak. Apabila sama-sama bekerja dalam rumah tangga maka dibagi seperdua bagian terhadap para pihak. Rumah yang digunakan tempat berteduh selama perkawinan biasanya menjadi hak istri yang dikenal dengan rumah istri (pardijabu).

2. Terbentuknya Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memberikan pengaruh berdasarkan penerapan Undang-Undang Perkawinan bahwa berdasarkan posisi suami dan istri dalam perkawinan terhadap harta bersama pembagiannya sama.

3. Dasar pertimbangan hukum oleh Hakim pada putusan pembagian harta bersama berdasarkan asas hukum dalam sebuah norma hukum. Putusan tersebut juga dilakukan telah sesuai dengan

12Berdasarkan Putusan Pembagian Harta Bersama Karena Perceraian Pengadilan Negeri Pematangsiantar Tahun 2015.

13Berdasarkan Hasil Wawancara Pada Para Pihak (Pihak Penggugat) Pada Tanggal 18 Agustus 2017.

(10)

USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018) 143 - 152

152 landaskan pada Pasal 35, 36 dan 37 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bahwa harta bersama harus bertindak persetujuan kedua belah pihak apabila ada penjualan/penguasaan masing-masing pihak dan mengenai harta bawaan masing-masing pihak mempunyai sepenuhnya hak melakukan perbuatan hukum mengenai harta bersama. Mengenai pengaturan terhadap pembagian harta perkawinan mengacu terhadap ketentuan pasal 128 KUH-Perdata yang menyatakan bahwa setelah bubarnya harta bersama, kekayaan bersama mereka dibagi dua antara suami dan istri atau antara para ahli waris mereka, tanpa mempersoalkan dan pihak mana asal barang-barang itu.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, saran-saran yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut :

1. Dalam pembagian harta bersama karena perceraian bagi masyarakat adat Batak Toba diharapkan agar menjaga kerukunan di dalam keluarga dengan lebih mengutamakan perdamaian pada pembagian harta bersama karena perceraian dengan aturan-aturan hukum adat Batak Toba.

2. Apabila terjadi sengketa dalam pembagian harta bersama karena perceraian terlebih dahulu dilaksanakan menurut jalur non litigasi atau aturan hukum adat Batak Toba. Apabila tidak dapat menyelesaikan secara adat Batak Toba selanjutnya dapat melalui jalur litigasi di Pengadilan Negeri dengan aturan Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan agar memperoleh pembagian sama rata tanpa ada pertimbangan usur lain.

3. Apabila telah ditetapkan dalam putusan oleh Hakim terhadap permasalahan pembagian harta bersama karena perceraian, maka diharapkan bagi para pihak untuk melaksanakan putusan tersebut sejak ditetapkan oleh Pengadilan Negeri Pematangsiantar.

DAFTAR PUSTAKA Buku

Elmiyah, Nurul & Sjarif Ahlan Surini. Hukum Kewarisan Perdata Barat. Lencana Renada Media Group.Cetakan ke-4.Jakarta. 2014.

Erwin, Muhammad. Filsafat Hukum “Refleksi Kritis Terhadap Hukum dan Hukum Indonesia (dalam dimensi ide dan aplikasi). PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. 2015.

Gultom, Raja Marpondang.Dalian Na Tolu: Nilai Budaya Suku Batak. CV.Armanda. Medan. 1992.

Prodjohamidjojo, Martimam. Hukum Perkawinan Indonesia. Indonesia Legal Center Publishing.

Jakarta. 2001.

Saragih, Djaren. Perkawinan Adat Batak. Tarsito. Bandung. 1980.

Setiady, Tolip. Intisari Hukum Adat Indonesia Dalam Kajian kepustakaan. Alfabeta. Bandung.

2008.

Soejono Soekanto. Pokok-Pokok Sosiologi Hukum. PT.Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2000.

Sunggono, Bambang. Metodologi Penelitian Hukum. PT.Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2003.

Ketentuan Perundang-undangan

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945.

Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Peraturan Pemerintah RI No.9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Undang-Undang No.48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

Putusan-Putusan Pengadilan Negeri Pematangsiantar Putusan Pembagian Harta bersama No.02/Pdt.G2013/PN.PMS.

Putusan Pembagian Harta Bersama No.52/Pdt.G/2015/PN.PMS.

Jurnal

Ria Hotmalina Damanik. Perceraian Menurut Kitab Injil dan Paulus. Jurnal Theologia. tentang Perceraian Kristen Vol.IV-B.

Internet

http://www.pn-pematangsiantarkota.go.id/.Diakses Pada Tanggal 03 Agustus 2017. Jam 13.00WIB.

http://www.wacana.Kekerabatan Orang Batak, Genelogis dan Sosiologis. Diakses Pada Tanggal 10 Oktober 2017. Jam 11:50 WIB.

Referensi

Dokumen terkait

(2010) toteaa, että kuluttajien erilaiset aikomukset käyttää itsepalvelukassoja voidaan katsoa johtuvan kuluttajien erilaisista luonteenpiirteistä, joihin vaikuttavat

Kehidupan manusia dalam masyarakat tidak terlepas akan adanya interaksi sosial antar sesamanya. Pada dasarnya manusia sesuai dengan fitrhnya merupakan makhluk sosial

Keselamatan dan kesehatan kerja perlu diperhatikan dalam lingkungan kerja, karena kesehatan merupakan keadaan atau situasi sehat seseorang baik

A number of 1 kg ground roasted Luwak Robusta coffee (Indonesian palm civet coffee) samples were collected directly from coffee farmers at Liwa, Lampung, Indonesia (Hasti

Laporan skripsi dengan judul “ SISTEM INFORMASI PENGELOLAAN DATA SKRIPSI PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI UNIVERSITAS MURIA KUDUS ” telah dilaksanakan dengan tujuan

Proses teknologi pengolahan limbah cair dengan menggunakan sistem. lumpur aktive sudah memenuhi standar operasional dengan

Mulia (pembelian tgl. Dijual barang dagangan secara kredit pd CV. Biaya sewa kantor bulan Desember 1998 Rp. Diterima kembali brg dagangan yang dijual tgl 17 Des. Diterima pembayaran

Penggunaan eksplan buku satu tunas dengan maupun tanpa daun memberikan hasil yang hampir sama, meskipun demikian buku dengan daun memberikan jumlah tunas yang terbentuk dan