• Tidak ada hasil yang ditemukan

Musi Banyuasin Sumatera Sealatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Musi Banyuasin Sumatera Sealatan"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

Rencana Pengelolaan Hutan Desa Desa Kepayang

Periode 2017 - 2027

Pemegang Hak Pengelola Hutan Desa

Nomor : SK.573/Menhut-II/2013

Tanggal : 23 Agustus 2013

Nama LPHD : LPHD Desa Kepayang

Lokasi

Desa : Kepayang

Kecamatan : Bayung Lincir Kabupaten : Musi Banyuasin Provinsi : Sumatera Selatan

Das : Lalan

Luas : 4.930 Ha

Musi Banyuasin Sumatera Sealatan

2 0 1 7

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Rencana Pengelolaan Hutan Desa Desa Kepayang

Periode 2017 - 2027

Pemegang Hak Pengelola Hutan Desa

Nomor : SK.573/Menhut-II/2013

Tanggal : 23 Agustus 2013

Nama LPHD : LPHD Desa Kepayang

Lokasi

Desa : Kepayang

Kecamatan : Bayung Lincir Kabupaten : Musi Banyuasin Provinsi : Sumatera Selatan

Das : Lalan

Luas : 4.930 Ha

Musi Banyuasin, ..., ... 2017

Di Sahkan Oleh Disusun Oleh :

Lembaga Pengelola Hutan Desa Kepayang

(...) (...) Ketua

(3)

Kata Pengantar

(4)

Daftar Isi

Halaman

Lembar Pengesahan... i

Kata Pengantar...ii

Daftar Isi...iii

Daftar Tabel... v

Daftar Grafik...vi

Daftar Grafik...viii

BAB I KONDISI UMUM...1

1.1. Letak Lokasi Hutan Desa...1

1.2. Jenis Tanah dan Topografi...1

1.3. Kondisi Tutupan Lahan... 3

1.4. Kondisi Sosial Ekonomi...5

1.4.1. Sejarah Desa Kepayang...5

1.4.2. Kependudukan sarana dan Prasarana...6

1.4.3. Sarana dan Prasarana...7

1.4.4. Kondisi Ekonomi ... 7

1.4.5. Potensi Kawasan... 9

1.4.5.1 Penataan Areal Kerja Hutan Desa...9

1.4.5.2. Potensi Areal Kerja Hutan Desa... 13

BAB II RENCANA KEGIATAN...14

2.1. Konservasi, Perlindungan dan Pengamanan Hutan... 14

2.1.1. Konservasi...14

2.1.2. Perlindungan dan Pengamanan... 19

2.2. Pemanfaatan dan Pemungutan Hasil Hutan Kayu dan Hasil Hutan Bukan Kayu ...20

2.2.1. Pengembangan Usaha Hasil Hutan Kayu...20

2.2.2. Pengembangan Usaha Hasil Hutan Bukan Kayu... 22

2.3. Pemanfaatan Kawasn... 28

(5)

2.4. Pengembangan Usaha Jasa Lingkungan... 32

2.4.1. Penyerapan dan Penyimpanan Karbon...32

2.4.2. Usaha Ekowisata...32

2.5. Pengembangan Kelembagaan... 33

2.5.1. Strategi Kelembagaan... 33

2.5.2. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan...34

2.5.3. Study Banding...35

2.5.4. Magang... 36

2.5.5. Struktur Lembaga Pengelola Hutan Desa...36

BAB. III PETA RENCANA KERJA ...37

3.1. Peta areal Kerja Hutan Desa ... 37

3.2. Peta adminstrasi Desa ... 38

3.3. Peta Fungsi Kawasan... 39

BAB. IV PENUTUP ...40

(6)

Daftar Tabel

Tabel 1. Jenis Tanah Desa Kepayang... 1

Tabel 2. Data Topografi Hutan Desa... 2

Tabel 3. Kondisi Tutupan Lahan di Hutan Pada Hutan Desa Kepayang...4

Tabel 4. Data Penduduk Per-Dusun di Desa Kepayang... 6

Tabel 5. Data Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Kepayang...6

Tabel 6. Sarana dan Prasarana...7

Tabel 7. Penataan Areal Zona, Blok Luas Areal dan tutupan Lahan... 9

Tabel 8.Tally sheet Potensi Kayu...13

Tabel 9. Rekapitulasi Hasil Invetarisasi Potensi Kayu...15

Tabel 10. Tally Sheet Potensi Non Kayu... 15

Tabel 11. Rekapitulasi Hasil Invenstigasi Potensi Non Kayu... 16

Tabel 12. Jenis Tanaman Konservasi...18

Tabel 13. Perlindungan dan Pengamanan Hutan ...19

Tabel 14. Rencana Tanam Hasil Hutan Kayu di Zona Pemanfaatan... 21

Tabel 15. Rencana Tanam Hasil Hutan Bukan Kayu di Zona Pemanfaatan..23

Tabel 16. Proses Pengelolaan hasil Hutan Bukan Kayu...24

Tabel 17. Pemanfaatan Kawasan Hutan... 29

Tabel 18. Jenis Usaha Penyerapan dan/atau Penyimpanan Karbonenis Usaha Penyerapan dan/atau Penyimpanan Karbon...32

Tabel 19. Jenis Usaha Eko Wisata jalur Hutan ...33

Tabel 20 Rencana Peningkatan Kapasitas Kelembagaan ...34

Tabel 21. Rencana Study Banding LPHD... 35

Tabel 22. Rencana Magang Pengurus LPHD...36

(7)

Daftar Gambar

Gambar 1. Peta Tanah Desa Kepayang... 2

Gambar 2. Peta Topografi Hutan Desa Kepayang Kec. Bayung Lencir...3

Gambar 3.Peta Tutupan Lahan Hutan Desa Kepayang...4

Gambar 4.Pembagian Zona diwilayah Hutan Desa...10

Gambar 5. Jenis Tutupan Lahan di Zona Lindung Hutan Desa Kepayang...11

gambar 6. Zona Lindung Berdasarkan Tutupan Lahan di Hutan Desa Kepayang... 12

Gambar 7. Peta Areal Kerja Hutan Desa Kepayang...37

Gambar 8. Peta adminstrasi Hutan Desa di Desa Kepayang... 38

Gambar 9. Peta Pembagian zona fungsi kawasan areal Hutan Desa...39

(8)

Daftar Grafik

Grafik 1. Komposisi Penduduk Desa Kepayang berdasarkan Dusun...6 grafik 2. Tingkat Pendapatan Kepala Keluarga Desa Kepayang /Tahun... 8 Error! Bookmark not defined.

(9)

BAB. I

KONDISI UMUM HUTAN DESA 1.1 Letak Lokasi Hutan Desa

Areal kerja Hutan Desa Kepayang sesuai dengan SK Nomor:

SK.54/Menhut-II/2013 tanggal 23 Agustus 2013 memiliki luas luas 5.170 hektar. Secara administratif Hutan Desa Kepayang berada di Desa Kepayang, Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Propinsi Sumatera Selatan. Dengan batas-batasnya:

- Sebelah Utara : berbatasan dengan Hutan Tanaman Industri PT.

Rimba Hutani Mas

- Sebelah Selatan : berbatasan dengan Hutan Produksi Lalan dan PT.

Wahana Lestari Makmur Sukses

- Sebelah Barat : berbatasan dengan PT. Wahana Lestari Makmur Sukses dan PT. Global Alam Lestari

- Sebelah Timur : berbatasan dengan PT. Tripupa Jaya

Jarak Desa Kepayang ke Ibukota Kecamatan Bayung Lencir ± 98 km, jarak ke Ibukota Kabupaten (Sekayu) adalah ± 205 km dan jarak ke ibukota Provinsi (Palembang) adalah ± 230 km. Sedangkan untuk mencapai Areal Kerja Hutan Desa Kepayang hanya melalui jalur Sungai Lalan, Sungai Kepayang, dan Sungai Nuaran yang membutuhkan waktu ± 2 jam perjalanan dengan menggunakan perahu ketek dari pusat Desa Kepayang.

1.2. Jenis Tanah dan Kondisi Topografi

peta dan data jenis tanah Hutan Desa Kepayang, analisa dan survay jenis tanah tahun 2010 bahwa di areal Hutan Desa Kepayang secara umum terdapat tiga jenis tanah.

Tabel 1. Jenis Tanah Hutan Desa Kepayang No Jenis Tanah Luas (Ha)

1 Histosols 3.833,93

2 Inceptisols 1.182,56

3 Ultisols 153,51

Total 5.170,00

Sumber : Analisa data Jenis Tanah (WBH, 2010)

(10)

Gambar 1. Peta Tanah Desa Kepayang Kec. Bayung Lencir

Topografi Hutan Desa Kepayang secara umum relative datar dan memiliki ketinggian sekitar 0 - 40,5 meter dari permukaan laut (dpl). Pembagian kategori topografi dibagi menjadi empat kategori dengan ketinggian 1,5 Mdpl sampai dengan 40,5 Mdpl. Dengan pembagian tersebut dapat di lihat pada tabel dan peta di bawah ini.

Tabel 2. Data Topografi Hutan Desa No Ketinggian Tempat

(Mdpl) Luas (Ha)

1 1,5 - 10,5 2.045,74

2 10,5 - 20,5 2.741,03

3 20,5 - 30,5 358,46

4 30,5 - 40,5 24,77

Total 5.170,00

Sumber : Analisa data SRTM 90M Lembar 58/13 (WBH, 2014)

(11)

Gambar 2. Peta Topografi Hutan Desa Kepayang Kec. Bayung Lencir

1.3. Kondisi Tutupan Lahan

Berdasarkan hasil Interpretasi Citra Satelit Landsat 8 Path/Row 124/61 Tanggal 17 Januari 2015 (WBH, Maret 2015) dan Studi Karbon Hutan Desa Kepayang (LPHD Kepayang & WBH, April 2012), maka areal kerja Hutan Desa Kepayang seluas 5.170 hektar dapat dibagi menjadi 7 kategori tutupan lahan, yaitu ;

1. Belukar

2. Hutan Bekas Tebangan 3. Hutan Kerapatan Rendah 4. Karet Campuran

5. Padang Pakis 6. Semak

7. Kanal

(12)

Tabel 3. Kondisi Tutupan Lahan di Hutan pada Hutan Desa Kepayang NO TUTUPAN HUTAN LUAS

(Hektar) PERSENT ASE (%)

1 Belukar 1.140,00 22,05

2 Hutan Bekas Tebangan 530,00 10,25 3 Hutan Kerapatan

Rendah 2.005,00 38,78

4 Kanal Besar 4,00 0,08

5 Karet Campuran 670,00 12,96

6 Padang Pakis 136,00 2,63

7 Semak 685,00 13,25

5.170,00 100,00

Sumber : Interpretasi Citra Satelit Landsat 8 Path/Row 124/61 Tanggal 17 Januari 2015 (WBH, Maret 2015).

Gambar 3. Peta Tutupan Lahan Hutan Desa Kepayang

(13)

1.4. Kondisi Sosial Ekonomi 1.4.1. Sejarah Desa Kepayang

Desa kepayang, sebelum masuknya izin Hak Pengusaha Hutan (HPH) pada tahun 1979, merupakan kawasan hutan yang masih perawan dengan ketinggian pohon sampai dengan 50 meter dan diameter mencapai 40-an centimeter, terutama untuk jensi pohon Meranti, Ramin, Merawan, Jelutung dan Tenam, dengan kerapatan mencapai seribuan batang per kilometer persegi.

Maraknya masyarakat yang berdatangan ke daerah tersebut semenjak dimulainnya aktifitas pengambilan kayu pada masa HPH tahun 1979-an.

Desa Kepayang menjadi tempat persinggahan bagi pengelolah HPH yang berakses di sungai Kepayang.

Pemukiman di Kepayang ini terus berkembang dengan banyaknya mantan pegawai HPH yang menetap dan para pendatang baru yang sengaja untuk mencari penghidupan dari kayu pada kawasan HP di sekitar desa. Setelah masa HPH habis pada tahun 1999, para pendatang baru itu menetap di Kepayang. Pendatang tersebut berasal dari beberapa daerah di Sumatera Selatan, seperti dari kabupaten Ogan Komering Ilir, Palembang, Sekayu, Banyuasin, dan Muara Enim, serta sebagian kecil dari daerah lain seperti Jambi, Medan, dan Bugis.

Setalah HPH berakhir sampai dengan tahun 1999, perkembangan Desa Kepayang telah mulai diramaikan dengan pemukiman. Masyarakat pun telah terbiasa mendapat penghasilan dari kayu, dan tumbuhnya pabrik pengelolaan kayu di sekitar, maka penebangan liarpun terjadi di kawasan eks HPH tersebut.

Sejarah Desa Kepayang tidak dapat lepas dari sejarah Desa Muara Merang. Karena Desa Kepayang pada awalnya merupakan dusun II desa Muara Merang yang menjadi desa pada bulan November 2006.

Seperti Desa Muara Merang, sejarah

Desa Kepayang secara admnistrasi merupakan bagian dari kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Propinsi Sumatera Selatan.

Desa yang berada dipingiran bantaran Sungai Lalan memiliki luas wilayah 54,210 hektar dengan batas wilayah sebelah utara dengan Kabupaten Banyuasin, sebelah batar dan selatan dengan Desa Muara Merang, dan sebelah Timur dengan Desa Karang Agung.

Jarak desa Kepayang ke Ibukota Kecamatan Bayung Lencir ± 98 km, jarak ke Ibukota Kabupaten (Sekayu) adalah ± 205 km dan jarak ke ibukota Provinsi (Palembang) adalah ± 230 km.

(14)

1.4.2. Kependudukan dan Sarana Prasarana

Desa Kepayang merupakan desa yang memiliki pertumbuhan penduduk terbilang pesat. Dari saat pemekaran pada Tahun 2006 sampai dengan tahun 2013 pendataan ini dilakukan telah berpenduduk 2957 jiwa dengan rincian penduduk laki-laki sebanyak 1457 Jiwa dan penduduk perempuan 1500 Jiwa, dengan jumlah kepala keluarga kurang lebih 796 KK.Desa Kepayang ketika dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Musi Banyuasin memiliki jumlah mata pilih tetap sebanyak 1.544 orang, dengan rincian 789 merupakan mata pilih laki-laki dan sebanyak 755 mata pilih perempuan. Penduduk desa Kepayang bermukim di tiga pemukiman dusun, yang ketiganya terpusat di bantaran sungai Lalan. Namun ada beberapa pemukiman penduduk yang tersebar di hulu sungai Kepayang dan lokasi-lokasi perkebunan pada bantaran Sungai Lalan yang cukup jauh jaraknya dengan pusat pemukiman dusun I, II, dan III.

Table 4. Data Penduduk Per-Dusun Desa Kepayang

NO NAMA DUSUN JUMLAH KK JUMLAH JIWA

1 DUSUN I 311 1246

2 DUSUN II 283 1028

3 DUSUN III 202 693

TOTAL 796 2.957

Sumber : Dokumen Arsip Desa Kepayang, 11 Maret 2017,

Grafik 1. Komposisi Penduduk Desa Kepayang berdasarkan Dusun

Tabel 5. Data Kependudukan Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Kepayang

NO JENIS KELAMIN JIWA PERSEN

1 LAKI-LAKI 1.350 47,4(%)

2 PEREMPUAN 1.500 55,6

TOTAL 2.850 100

Sumber : Dokumen Arsip Desa Kepayang, 11 Maret 2017

(15)

1.4.3. Sarana Prasarana

Desa Kepayang memiliki sarana prasarana umum seperti ; pasar, sarana pendidikan, kesehatan, peribadahan, dan sarana prasarana umum lainnya. Sarana pendidikan yang ada di Desa Kepayang meliputi: 1 unit bangunan Sekolah Dasar (SD) dan Taman Pendidikan Alqur’an (TPA).

Sedangkan sarana prasarana kesehatan hanya ada satu Poliklinik Desa di dusun II, dua praktek Bidan Desa dan satu praktek Mantri.

Pusat kegiatan ekonomi desa Kepayang seperti industri rumah tangga, pertukangan, pedagang bahan pokok, dan pasar kalangan berada dan terfokus di daerah permukiman dusun I dan II. Sarana prasarana ekonomi lainnya adalah koperasi dan kelompok usaha tani.

Tabel 6.Sarana Prasarana di Desa Kepayang

NO Sarana Jumlah

(unit)

1 Masjid / Musholah 6

2 SD / Sederajat 1

3 TPA 1

4 Poliklinik Desa 1

5 Praktek Bidan Desa 1

6 Posyandu 1

7 Pasar / Kalangan 1

8 Pelabuhan Desa 3

9 Industri Rumah Tangga -

10 MCK Umum 1

11 Toko Bahan Pokok 49

12 Pertukangan (lemari/ketek) 3

13 Bengkel 1

14 Koperasi 2

15 Peternakan -

16 Paud (Pendidikan Anak Usia Dini) 1

Sumber data : Bayung Lencir Dalam Angka 2009/2010 dan Hasil Wawancara 1.4.4. Kondisi Ekonomi

Masyarakat Desa Kepayang pada umunya memiliki mata sebagai buruh harian perkebunan sawit yang berada di sekitar desa dan di bidang pertanian (karet, sawit, jeruk, palawija). Mata pencarian lainnya masyarakat desa Kepayang di sektor perikanan sebagai nelayan tradisional, serta ada juga yang menggantungkan hidup dari hutan sebagai penebang kayu, buruh sawmill, membuat arang dan kerajinan kayu. Serta mata pencarian lainnya seperti pedagang, peternak, pegawai dan sebagainya.

(16)

Komposisi terbesar jenis pekerjaan masyarakat desa Kepayang adalah Buruh Perkebunan yang mencapai kisaran 50,3 persen. Penebang kayu dan pekerja sawmill yang mencapai 25,7 persen, dan pedagang, petani kebun serta membuat arang.

Dengan tingkat pendidikan yang rendah, masyarakat sebagai buruh perkebunan tentu menempati posisi rendah. Mereka kebanyakan bekerja sebagai buruh harian. Hal tersebut menggambarkan pendapatan masyarakat desa yang minim.

Untuk menutupi kebutuhan ekonomi, masyarakat desa Kepayang pada umumnya memiliki pekerjaan lebih dari satu bidang, baik yang dilakukan oleh kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya.

Secara umum tingkat pendapatan masyarakat desa Kepayang diperkirakan berpenghasilan di bawah 6 juta/tahun sebesar 16 persen, berpenghasilan antara 6 - 12 juta/tahun sekitar 46 persen dan 38 persen berpenghasilan lebih dari 12 juta/tahun.

Grafik 2. Tingkat Pendapatan Kepala Keluarga Desa Kepayang /Tahun

(17)

1.4.5. Potensi Kawasan

1.4.5.1. Penataan Areal Kerja Hutan Desa

Berdasarkan kondisi biofisik Areal Kerja Hutan Desa di atas, bahwa secara umum luas Hutan Desa Kepayang 4.930 ha, dimana areal ini dibagi menjadi dua zona yaitu; zona Budidaya seluas ± 3.400 hektar dan zona Perlindungan seluas ± 1.700 hektar. Lembaga pengelolaan Hutan Desa telah menata Areal Kerja Hutan Desa ini, dimana zona budidaya seluas 3.400 Ha. Adapun pembagian zonasi ini mengacu pada peraturan terkait, seperti Peraturan Pemerintah (PP) No.71 tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.

Tabel 7. Penataan areal zona, blok luas areal dan tutupan lahan Nama Zona Luas Blok

(Ha) Luas Areal

(Ha) Tutupan Lahan

ZonaPemanfaatan 3.399,60 957,29 Hutan Kerapatan Rendah 302,80 Hutan Bekas Tebangan

919,35 Belukar

87,34 Padang Pakis

504,61 Semak

628,19 Karet Campuran

Zona Lindung 1.700,40 1.060 Hutan Kerapatan Rendah

230 Hutan Bekas Tebangan

220 Belukar

40 Padang Pakis

175 Semak

42 Karet Campuran

3,4 Kanal Besar

(18)

Gambar 4. Pembagian Zona diwilayah Hutan Desa

(19)

Gambar 5. Jenis Tutupan Lahan di Zona Lindung Hutan Desa Kepayang

(20)

Gambar 6. Zona Lindung Berdasarkan Tutupan Lahan di Hutan Desa Kepayang

(21)

1.4.5.2. Potensi Areal Kerja Hutan Desa

Berdasarkan hasil survei potensi kayu dan non-kayu yang telah dilakukan oleh Lembaga pengelola Hutan Desa yang didampingi oleh Hutan Kita Institute (HaKI) dengan mengambil sampel plot pada masing-masing petak dari satu blok (blok yang disampel dianggap mewakili blok yang lain), pada tabel berikut ini akan dijelaskan secara umum hasil inventarisasi tersebut.

Tabel 8.Tally sheet Potensi Kayu

Zona Blok Peta

k Jenis Vegetasi

(dominan) Volume/ha Keterangan Pemanfaatan

( 3.400 ha) Karet Campuran - Petak tanaman

karet milik

penduduk lokal dan penduduk di luar Desa Kapeyang.

Umur tanaman karet saat ini rata- rata 6-8 tahun Semak dan

potensi kayu tegakan sudah sangat jarang seperti: medang dan mahang, jenis-jenis seperti meranti sudah jarang ditemukan

Potensi kayutegakan 20- 30 dengan volume 26 m3/ha

Petak semak disebabkan oleh penebangan liar dan bekas

kebakaran hutan

Belukar dan potensi

keragaman kayu tegakan sangat jarang

didominasi oleh Mahang dan sebagian yang ditemukan seperti Petaling, Medang

Potensi tegakan >

30, ± 5m3/ha

Belukar disebabkan oleh penebangan, pembukaan lahan dan kebakaran hutan. Hal ini juga diakibatkan

perkebunan karet yang ditinggal oleh pemiliknya

sehingga

membentuk belukar Hutan Kerapatan

Rendah

(Medang, Punak, Rengas, Meranti, petaling, pisang- pisang)

Potensi kayutegakan >

30 up, ± 30 m3/ha

Perwujudan Hutan kerapatan rendah ini diakibatkan oleh penebangan liar dan bekas terbakar Hutan Bekas

Tebangan, Potensi

tegakan Tutupan ini terjadi karena adanya

(22)

Zona Blok Peta

k Jenis Vegetasi

(dominan) Volume/ha Keterangan keragaman kayu

masih terlihat dengan jenis Medang, Gerunggang, arang-arang, pisang-pisang dan Meranti

kayu > 30 up, ± 20 m3/ha

penebangan liar yang tinggi sehingga terjadi penurunan kualitas.

Padang Pakis - Padang pakis

merupakan areal bekas terbakar yang intensitas kebakaranya cukup tinggi

Perlindungan

( 1.700 Ha) Hutan Kerapatan

Rendah (Medang, Jelutung, Perepat, Gerunggang, Meranti, Mahang)

Potensi kayutegakan >

30 up, ± 30 m3/ha

Hutan Bekas Tebangan

(Rengas, Arang- arang, Petaling, Mahang)

Potensi kayu . 30 up, ± 20 m3/ha

Semak Potensi

kayutegakan 20- 30 dengan volume ±20 m3/ha

Semak diakibatkan karena ada

penebangan liar dan intensitas kebakaran yang cukup tinggi Belukar

(mahang) Potensi

kayutegakan

>30 Up dengan volume ±10 m3/ha

Belukar disebabkan adanya

penebangan dan pembukaan lahan yang cukup tinggi dan lahan

ditinggalkan

Padang Pakis - Terbentuknya

padang pakis karena eks lahan HPH dan

menyebakan terjadi kebakaran yang menahun

(23)

Tabel 9.Rekapitulasi Hasil Invetarisasi Potensi Kayu

Zona Blok Kategori

Petak Total Luas Volume (Ha)30-up

Total Volume (m3)

Pemanfaatan Belukar 915 Potensi

kayutegakan >

30 up 5 m3/ha

4.575 m3

Hutan Bekas Tebangan

305 Potensi

kayutegakan >

30 up 20 m3/ha

6.100

Hutan Kerapatan Rendah

950 Potensi

kayutegakan >

30 30 m3/ha

28.500

Semak - - -

Padang

Pakis - - -

Perlindungan Lindung Hutan Bekas

Tebangan 230 Ha 20 4.600

Hutan Kerapatan

Rendah 1.060 Ha 30 31.800

Semak 175 Ha -

Belukar 220 Ha 10 2.200

Kanal

Besar 3 ha -

Padang

Pakis 40 ha -

Tabel 10. Tally Sheet Potensi Non Kayu

Zona Blok Kategori

Petak Jenis

tutupan Volume Keteranga

Pemanfaatan Karet n

Campuran Getah karet

± 500 kg/ha/bulan

Jumlah lahan yang sudah siap panen ± 15% lahan Kebun karet dalam hutan desa

(24)

Semak - -

Belukar - -

Hutan Bekas Tebangan

- -

Hutan Kerapatan Rendah

- -

Padang

Pakis - -

Perlindungan Hutan

Kerapatan Rendah

Rotan 10 batang Ha Hutan

bekas tebangan

-

Semak -

Belukar - Padang

Pakis -

Tabel 11.Rekapitulasi Hasil Inventarisasi Potensi Non – Kayu

Zona Blok Kategori

Petak Total Luas

(ha) Volume/Ha Total Volume Pemanfaatan A, B, C Karet (m3)

Campuran 1.530 ha Getah Karet ± 500 kg/ha/bulan

15 % dari luas total rencana lahan karet 234 ha saat inimenghasilk an 117 ton Perlindungan Lindung Hutan

Kerapatan Rendah

1.290 ha Rotan 10

batang/ha 12.900 batang Hutan

bekas tebangan

- - -

(25)

BAB II.

RENCANA KEGIATAN

2.1. KONSERVASI,PERLINDUNGAN DAN PENGAMANAN HUTAN 2.1.1. KONSERVASI

Pengembangan usaha hasil hutan kayu akan direncanakan oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa adalah khusus pada zona konservasi dengan pemanfaatan luasnya ± 1.700 hektar. Dengan jenis tutupan hutan kerapatan rendah, belukar, hutan bekas terbakar, padang pakir dan semak. Sebelum terjadi kebakaran hutan pada tahun 2015 vegetasi yang dominan di areal konvervasi gambut dalam antara 3-6 meter adalah Medang, Jeutung, prepat, gerunggang, meranti dan mahang.

Untuk mengembalikan kondisi konservasi di areal gambut dalam wilayah hutan desa kepayang Kecamatan Bayung Lincir Musi Banyuasin, maka perencanaan penanaman tanaman pokok yang akan dikembangkan di areal konservasi di areal hutan desa jenis tanaman adalah tanaman Kayu Jabon dan Jelutung. Tanaman pokok kayu Jabon yang ditanam dengan ukuran 4 x 3 meter akan memiliki jumlah

± 800 batang dengan luasan 1.450 hektar akan membutuhkan ± 1.160.000 batang. Pada tahap awal 5 (lima) tahun pertama direncanakan untuk penanaman 250.000 batang jabon, Jelutung 250.000 batang sehingga tahap pertama untuk tanaman unggulan 500.000 batang. Dan selanjutnya pada tahap kedua tahun Ke 5-10 bibit jabon dan jelutung masing masing 650.000 batang.

Selain rencana penanaman tanaman unggulan daerah juga akan diprioritaskan tanaman khas kayu kehutanan seperti : Kayu Pulai, Meranti, Petaling. Untuk areal yang terdapat tanaman sawit secara perlahan akan ditanam tanamanan kayu dipinggiran lahan setelah daur tanaman sawit selesai lokasi lahan tersebut akan kembali fungsi hutan untuk 250 hektar.

Rencana pemanenan hasil hutan kayu pada tanaman pokok untuk Jabon diperkirakan dilakukan umur 5-6 (lima sampai enam) tahun. Sedangkan untuk tanaman khas hutan ( Pulai, Gerunggang dan punak serta meranti) dilakukan pemanenan disaat umur pohon 6-10 tahun.

(26)

Tabel 12. Jenis Tanaman untuk Konservasi

Luas Areal zona Konservasi : 1.700 Ha Tanaman unggulan Jabon dan Jelutung : 1.450 Ha

Tanaman Kayu Khas Hutan : 250 Ha

Tanaman Obat-obatan : 10 Ha

Areal NO Kegiatan 0 s/d 1 Tahun 1 s/d 5 Tahun 5 s/d 10 Tahun Keterangan

1 Jenis Tanaman Kayu

A. Tanaman Jelutung ± 5000 Batang Pohon

Jelutung di tanam ± 200.000 Batang Pohon Jelutung di tanam

± 325.000 batang pohon Jelutung di tanam

530.000 batang Luas areal yang di tanam 1.450 hektar

B. Jabon ± 5000 Batang Pohon

Jabon di tanam ± 200.000 Batang Pohon Jabon di tanam

± 325.000 batang pohon Jabon di tanam

530.000 batang Luas areal yang di tanam 1.450 hektar

C. Pulai ± 5000 Batang Pohon

Pulai di tanam ± 50.000 Batang

Pohon Pulai di tanam ± 50.000 batang pohon Pulai di tanam

150.000 batang Luas areal yang di tanam 250 hektar

D. Gerunggung ± 5000 Batang Pohon

Gerunngung di tanam ± 50.000 Batang Pohon Gerunggung di tanam

± 50.000 batang pohon Gerunggung di tanam

150.000 batang Luas areal yang di tanam 250 hektar

E. Punai ± 5000 Batang Pohon

Punai di tanam ± 50.000 Batang

Pohon Punai di tanam ± 50.000 batang pohon Punaiu di tanam

150.000 batang Luas areal yang di tanam 250 hektar

F. Meranti ± 5000 Batang Pohon

Meranti di tanam ± 50.000 Batang Pohon meranti di tanam

± 50.000 batang pohon Meranti di tanam

`150.000 batang Luas areal yang di tanam 250 hektar

2 Tanaman Obat-obatan atau apotik hidup

A. Jahe 500 batang di tanam 1000 Batang di

Tanam 1500 Batang di

Tanam Luas areal yang akan di tanam 10 hektar

B. Kunyit 500 batang di tanam 1000 Batang di

Tanam 1500 Batang di

Tanam Luas areal yang akan di tanam 10 hektar

C. Lengkuas 500 batang di tanam 1000 Batang di

Tanam 1500 Batang di

Tanam Luas areal yang akan di tanam 10 hektar

D. Kencur 500 batang di tanam 1000 Batang di

Tanam 1500 Batang di

Tanam Luas areal yang akan di tanam 10 hektar

ZonaKonservasi

(27)

2.1.2. PERLINDUNGAN DAN PEGAMANAN HUTAN

Rencana perlindungan dan pengamanan hutan dari bahaya kebakaran hutan akan tetap mengacu pada SK Menhut No. 523/Kpts-II/1993 tentang pedoman perlindungan hutan di areal pengusahaan hutan. Beberapa kegiatan perlindungan hutan dari bahaya kebakaran dan berbagai gangguan terhadap hutan, akan dilakukan sebagai berikut:

o Pembentukan regu pengamanan hutan o Peningkatan sumber daya manusia o Melakukan patroli dan penjagaan

o Pembangunan menara pengawasan kebakaran

o Pembuatan dan pemasangan rambu-rambu pencegahan kebakaran o Pendekatan sosial dan meningkatkan kesadaran konservasi

Disamping rencana persiapan personil dan organisasinya juga perlengkapan sarana dan prasarana pendukung akan menjadi perhatian penting didalam menjalankan pendekatan-pemdekatan diatas. Sehingga berbagai potensi gangguan terhadap areal Hutan Desa (kebakaran hutan, perburuan satwa liar, penebangan liar, dan konversi lahan) akan dapat ditanggulangi secara maksimal.

Tabel 13. Perlindungan dan Pengamanan Hutan NO Kegiatan 0 s/d 1 Tahun 1 s/d 5

Tahun 5 s/d 10

Tahun Keterangan 1. Patroli Kebakaran

Hutan Patroli

kebakaran hutan di lakukan 12 kali dalam satu tahun

Patroli kebakaran hutan di lakukan 60 kali dalam satu tahun

Patroli kebakaran hutan di lakukan 60 kali dalam satu tahun

Patroli kebakaran hutan di

lakukan di areal Hutan Desa 2. Patroli illegal

logging Patroli

kebakaran hutan di lakukan 12 kali dalam satu tahun

Patroli kebakaran hutan di lakukan 60 kali dalam satu tahun

Patroli kebakaran hutan di lakukan 60 kali dalam satu tahun

Patroli kebakaran hutan di

lakukan di areal Hutan Desa oleh satgas kebakaran

(28)

2.2. PEMANFAATAN DAN PEMUNGUTAN HASIL HUTAN KAYU DAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU

2.2.1 PENGEMBANGAN USAHA HASIL HUTAN KAYU

Pengembangan usaha hasil hutan kayu dan akan direncanakan oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa adalah khusus pada zona pemanfaatan yang luasnya ± 3.400 hektar. Bentuk pengembangan usaha hasil hutan kayu yang direncanakan ini adalah sesuai dengan pengaturan ruangnya dibagi menjadi:

- Areal untuk tanaman pokok seluas 3.200 hektar - Areal tanaman unggulan dareah seluas 150 hektar - Areal untuk sarana dan prasarana seluas 150 hektar

Rencana penanaman tanaman pokok yang akan dikembangkan maupun yang sudah ada adalah jenis tanaman Karet dan Tanaman Kayu Jabon dan Jelutung, yang masing-masing luasannya adalah 1.530 hektar dan 1.450 hektar dan Jelutung 95 hektar.

Tanaman pokok kayu Jabon dan jeelutung yang ditanam dengan ukuran 4 x 3 meter akan memiliki jumlah ± 800 batang perhektar dengan luasan 150 hektar akan membutuhkan ± 120.000 batang. Pada tahap awal 5 (lima) tahun pertama direncanakan untuk penanaman 600.000 batang jabon dan jelutung.

Dan selanjutnya pada tahun kedua 5 (lima) tahun berikutnya akan ditanam 600.000 batang Jabon dan jelutung pada areal zona Pemanfaatan.

Dari luas 3.400 hektar areal zona pemanfaatan yang di rencana tanaman unggulan kayu dan tanaman karet mencapai 1.200 hektar, tersisa 1.200 hektar yang akan rencanakan penanaman jenis kayu khas kehutanan seperti : Kayu Pulai, Meranti, Petaling dan tanaman kayu yang menghasilkan sepertidurian, cempedak, manggis, rambutan, mangga, nangka, jengkol, petai, jelutung, jabon, pinang dan kueni. Untuk areal yang terdapat tanaman sawit secara perlahan akan ditanam tanamanan kayu dipinggiran lahan setelah daur tanaman sawit selesai lokasi lahan tersebut akan kembali fungsi hutan.

Rencana pemanenan hasil hutan kayu pada tanaman pokok untuk Jabon diperkirakan dilakukan umur 5-6 (lima sampai enam) tahun. Sedangkan untuk tanaman khas hutan ( Pulai, Gerunggang dan punak serta meranti) dilakukan pemanenan disaat umur pohon 6-10 tahun. Sedangkan tanaman pokok karet direncanakan akan memperpanjang masa daur panennya menjadi 20 tahun.

(29)

Tabel kelompok 14. Rencana Tanam Hasil Hutan Kayu di Zona Pemanfaatan Luas Areal zona Pemanfaatan : 3.400 Ha

Tanaman unggulan Jabon dan Jelutung : 300 Ha

Tanaman Kayu Khas Hutan : 1.200 Ha

Areal NO Kegiatan 0 s/d 1 Tahun 1 s/d 5 Tahun 5 s/d 10 Tahun Keterangan

1 Jenis Tanaman Kayu

A. Tanaman Jelutung ± 5000 Batang Pohon

Jelutung di tanam ± 15.000 Batang Pohon Jelutung di tanam

± 100.000 batang pohon Jelutung di tanam

120.000 batang Luas areal yang di tanam 300

hektar zona

pemanfaatan

B. Jabon ± 5000 Batang Pohon

Jabon di tanam ± 15.000 Batang Pohon Jabon di tanam

± 100.000 batang pohon Jabon di tanam

120.000 batang Luas areal yang di tanam 300

hektar zona

pemanfaatan

C. Pulai ± 40.000 Batang Pohon

Pulai di tanam ± 100.000 Batang

Pohon Pulai di tanam ± 150.000 batang pohon Pulai di tanam

240.000 batang Luas areal yang di tanam 1.200 hektar zona pemanfaatan

D. Gerunggung ± 40.000 Batang Pohon

Pulai di tanam ± 100.000 Batang

Pohon Pulai di tanam ± 150.000 batang pohon Pulai di tanam

240.000 batang Luas areal yang di tanam 1.200 hektar zona pemanfaatan

E. Punai ± 40.000 Batang Pohon

Punai di tanam ± 100.000 Batang

Pohon Punai di tanam ± 150.000 batang pohon Punai di tanam

240.000 batang Luas areal yang di tanam 1.200 hektar zona pemanfaatan

F. Meranti ± 40.000 Batang Pohon

meranti di tanam ± 100.000 Batang Pohon meranti di tanam

± 150.000 batang pohon meranti di tanam

240.000 batang Luas areal yang di tanam 1.200 hektar zona pemanfaatan

(30)

2.2.2 Pengembangan Usaha Hasil Hutan Bukan Kayu

Pengembangan usaha hasil hutan bukan kayu yang akan dikembangkan oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Kepayang adalah jenis Rotan, dan Getah Karet serta tanaman buah-buahan di areal zona pemanfaatan.

Potensi rotan yang sudah ada dan tersebar di baik zona perlindungan maupun di zona budidaya yang rata – rata per hektarnya 6-8 batang, pada lima tahun pertama akan tetap dipelihara terutama yang berada di zona Budidaya dan ditambah dengan tanaman yang baru yang rata-ratanya ± 1.500 batang pada setiap tahun. Pola penanamannya yang dilakukan dengan anakan alam yang lokasinya di zona lindung yang dilokasi yang sesuai rotan bisa tumbuh dengan subur. Pemanenan akan dimulai pada usia rotan 5 tahun dengan jumlah sesuai dengan tingkat kematangan dari rotan tersebut.

Pada kawasan di zona pemanfaatan salah satu Hasil usaha bukan Kayu bagi Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) yang potensial adalah getah karet. Khusus tanaman pokok karet akan melakukan pemeliharaan tanaman karet yang sudah ada dengan luasan 630 hektar dan menambah luasan ± 900 hektar dengan jarak tanam 4 x 3 meter, sehingga tanaman dalam satu hektar bisa tertanam ± 500 batang karet.

Pada periode lima tahun pertama, disamping memilihara tanaman yang telah ada juga akan merencanakan tanaman karet 200.000 batang untuk tanaman baru dan pada 5 tahun berikutnya akan ditanam 250.000 batang.

Selain tanaman karet dan rotan pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu pun direncanakan penanaman jenis tanaman buah dan obat -obatan di areal zona pemanfaatan dengan luas areal mencapai 1.200 hektar. Hasil Pemantauan dilapangan pada tahun 2015 sedikitnya 234 Ha kebun karet. Setidak pada tahun ini ada ± 94.000 batang karet yang telah menghasilkan karena pada saat ini umur karet

> 6 Tahun. Sehingga potensi getah karet dalam periode tahap awal 5 (lima) tahun pertama sudah dilakukan pemanenan. Diperkirakan jumlah pemanenan getah karet dalam periode 5(lima) tahun pertama sekitar 1.000 ton, sedangkan periode lima tahun selanjutnya akan terus meningkat sampai daur pertama (± 20 tahun) tanaman kayu karet dilakukan penebangan.

(31)

Tabel 15. Rencana Tanam Hasil Hutan bukan kayu di Zona Pemanfaatan Luas Areal zona Pemanfaatan : 3.400 Ha

Tanaman unggulan : 900 Ha

Tanaman unggulan buah : 1.200 Ha

NO Kegiatan 0 s/d 1 Tahun 1 s/d 5 Tahun 5 s/d 10 Tahun Keterangan

1 Tanaman Perkebunan

A. Karet ± 500 Batang Pohon

karet di tanam ± 150.000 Batang Pohon

kareat di tanam ± 250.000 batang pohon

Karet di tanam Luas areal yang di tanam 900 hektar

B. Mangga 1000 batang pohon

Mangga di tanam 2500 batang pohon Mangga

di tanam 3000 batang pohon

Mangga di tanam Luas areal yang di tanam 1.200 hektar

C. Durian 1000 batang pohon

Durian di tanam 2500 batang pohon Durian

di tanam 3000 batang pohon

Durian di tanam Luas areal yang di tanam 1.200 hektar

D. Rambutan 1000 batang pohon

Rambutan di tanam 2500 batang pohon

Rambutan di tanam 3000 batang pohon

Rambutan di tanam Luas areal yang di tanam 1.200 hektar

E. Cempedak 1000 batang pohon

Cempedak di tanam 2500 batang pohon

Cempedak di tanam 3000 batang pohon

Cempedak di tanam Luas areal yang di tanam 1.200 hektar

F. Nangka 1000 batang pohon

Nangka di tanam 2500 batang pohon Nangka

di tanam 3000 batang pohon

Nangka di tanam Luas areal yang di tanam 1.200 hektar

G. Kecapi 1000 batang pohon

Kecapi di tanam 2500 batang pohon Kecapi

di tanam 3000 batang pohon

Kecapi di tanam Luas areal yang di tanam 1.200 hektar

H. Manggis 1000 batang pohon

Manggis di tanam 2500 batang pohon

Manggis di tanam 3000 batang pohon

Manggis di tanam Luas areal yang di tanam 1.200 hektar

I. Jengkol 1000 batang pohon

Jengkol di tanam 2500 batang pohon Jengkol

di tanam 3000 batang pohon

Jengkol di tanam Luas areal yang di tanam 1.200 hektar

J. Petai 1000 batang pohon

Petai di tanam 2500 batang pohon Petai di

tanam 3000 batang pohon

Petai di tanam Luas areal yang di tanam 1.200 hektar

K. Jambu Biji 1000 batang pohon

Jambu Biji di tanam 2500 batang pohon Jambu

Biji di tanam 3000 batang pohon

Jambu Biji di tanam Luas areal yang di tanam 1.200 hektar

2 Tanaman Obat-obatan atau apotik hidup

B. Jahe 500 batang di tanam 1000 Batang di Tanam 1500 Batang di Tanam Luas areal yang akan di tanam 10 hektar

(32)

tanam 10 hektar

C. Lengkuas 500 batang di tanam 1000 Batang di Tanam 1500 Batang di Tanam Luas areal yang akan di tanam 10 hektar

D. Kencur 500 batang di tanam 1000 Batang di Tanam 1500 Batang di Tanam Luas areal yang akan di tanam 10 hektar

Tabel 16. Proses Pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu ( HHBK) Luas Areal zona Pemanfaatan : 3.400 Ha

Tanaman unggulan : 900 Ha

Tanaman unggulan buah : 1.200 Ha

NO Kegiatan 0 s/d 1 Tahun 1 s/d 5 Tahun 5 s/d 10 Tahun Keterangan

1 Pembibitan Persiapan Kebutuhan

pembibitan 1. Lokasi

pembibitan 0,5 hektar

2. Peralatan pembibitan (Mesin pompa air, terpal plastik, polybag, waring, ember

penyiraman, dll) 3. Bibit tanaman

(durian, cempedak, manggis, rambutan, mangga,

nangka, jengkol,

(33)

petai, jelutung, jabon, pinang, kueni dan rotan)

2 Penanaman Penanaman tanaman

palawija

1. Persiapan lahan 2. Jagung 10

karung 5kg seluas 2,5 hektar 3. Cabe 10

bungkus 4. Semangka

bungkus 5. Jahe merah 6. dll

Persiapan lahan tanaman konservasi seluas 25 hektar

1. Penebasan 2. Masang pacang

tanam (pengajiran) 3. Pembuatan

lobang tanaman 4. Penaman bibit 5. Pembongkoran

danpenimbunan di bawah tanaman 6. Penaman

palawija tetap di tanam

3 Pemeliharaan dan

perawatan tanaman Pemeliharaan dan

perawatan tanaman di lakukan dengan cara:

1. Penebasan (penebasan di lakukan 3 kali dalam 1 tahun) 2. Penyemprotan

(penyemprotan di lakukan 3 kali dalam 1 tahun)

(34)

3. Pemupukan di lakukan 3 kali dalam 1 tahun) 4. Penyiangan

(penyiangan di lakukan 1 kali dalam 1 tahun) 4 Pengelolahan dan

pemasaran Panen tanaman

palawija di kelolah oleh lumbung desa

Panen tanaman Hasil Hutan Kayu

1. Jabon 1000 batang 2. Rotan 1000

rumpun Panen Tanaman Hasil Hutan Bukan Kayu1. Madu Hutan

2. Bengkuang bahan tikar 3. Buah Durian 4. Buah

Cempedak 5. Buah Manggis 6. Buah

Rambutan 7. Buah Mangga 8. Buah Nangka 9. Buah Jengkol 10.Buah Petai 11.Buah Pinang 12.Buah Kueni

(35)

Pemasaran HHK dan HHBK di kelolah oleh Koperasi dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES)

(36)

2.3. Pemanfaatan Kawasan Hutan

Berdasarkan kondisi biofisik kawasan hutan dalam Areal Kerja Hutan Desa di desa Kepayang Kewcamatan Bayung Lincir Musi Banyuasin, bahwa secara umum luas Hutan Desa Kepayang 4.930 ha, dimana areal ini dibagi menjadi dua zona yaitu;

zona Budidaya seluas ± 3.400 hektar dan zona Perlindungan seluas ± 1.700 hektar. Adapun pembagian zonasi ini mengacu pada peraturan terkait, seperti Peraturan Pemerintah (PP) No.71 tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Pemanfaatan kawasan yang ada di hutan desa rencana dengan pola pertanian terpadu, agroforestry dan tanaman kayu khas hutan.Bentuk pengembangan dan pemanfaatan kawasan hutan di areal hutan desa yang direncanakan ini adalah sesuai dengan pengaturan ruangnya dibagi menjadi:

- Areal untuk tanaman pokok seluas 3.200 hektar - Areal tanaman unggulan dareah seluas 150 hektar - Areal untuk sarana dan prasarana seluas 150 hektar

Dari rencana penanaman terdiri dari jenis tanaman Tanamaman obat dan tanaman apotik hidup, Tanaman Hias, Tanaman Jamur, Agroforesty, budidaya pakan ternak, lemah madu, Silvo Fasture (rumput kacang-kacangan), dan Silvo Fishery (ternak ikan).

(37)

Tabel 17. Pemanfaatan Kawasan Hutan Luas Kawasan zona Konservasi : 1.700 Ha

NO Kegiatan 0 s/d 1 Tahun 1 s/d 5 Tahun 5 s/d 10 Tahun Keterangan

1 Tanamaman obat dan tanaman apotik hidup a. Tanaman Jahe Tanaman Jahe di tanam

sebanyak 200 batang di zona pemanfaatan

Jahe di tanam

sebanyak 500 batang di zona pemanfaatan

Jahe di tanam sebanyak 1000 batang di zona pemanfaatan

Tanaman di Tanam di zona

Pemanfaatan 1000 batang dari luas 3.400 ha

b. Tanaman

Pasak Bumi Tanaman Pasak Bumi di tanam sebanyak 1000 batang di zona

pemanfaatan

Tanaman Pasak Bumi di tanam sebanyak 2.500 batang di zona pemanfaatan

Tanaman Pasak Bumi di tanam sebanyak 2.500 batang di zona

pemanfaatan

Tanaman di Tanam di zona

Pemanfaatan 6.000 batang dari luas 3.400 ha

c. Tanaman jeruk

nipis Tanaman jeruk nipis di tanam sebanyak 5000 batang di zona

pemanfaatan

Tanaman jeruk nipis di tanam sebanyak 10.000 batang di zona pemanfaatan

Tanaman jeruk nipis di tanam sebanyak 15.000 batang di zona

pemanfaatan

Tanaman di Tanam di zona

Pemanfaatan 30.000 batang dari luas 3.400 ha d. Tanaman

mengkudu Tanaman mengkudu di tanam sebanyak 2000 batang di zona

pemanfaatan

Tanaman mengkudu di tanam sebanyak 3000 batang di zona pemanfaatan

Tanaman mengkudu di tanam sebanyak 5000 batang di zona

pemanfaatan

Tanaman di Tanaman di zona Pemanfaatan 10.000 batang dari luas 3.400 ha 2 Tanaman Hias

a. Angrek Tanaman anggrek di tanam sebanyak 500 batang di zona pemanfaatan

Tanaman anggrek di tanam sebanyak 500 batang di zona pemanfaatan

Tanaman anggrek di tanam sebanyak 1000 batang di zona

pemanfaatan

Tanaman di Tanam di zona Konservasi 2.000 batang dari luas 1.700 ha

(38)

b. Pakis Gajah Tanaman pakis gajah di tanam sebanyak 500 batang di zona pemanfaatan

Tanaman anggrek di tanam sebanyak 500 batang di zona pemanfaatan

Tanaman anggrek di tanam sebanyak 1000 batang di zona

pemanfaatan

Tanaman di Tanam di zona Konservasi 2.000 batang dari luas 1.700 ha 3 Tanaman Jamur Tanaman jamur di tanam

seluas 10X10 Meter di lahan zona pemanfaatan

Tanaman jamur di tanam seluas 25X25 Meter di lahan zona pemanfaatan

Tanaman jamur di tanam seluas 50X50 Meter di lahan zona pemanfaatan

Tanaman di Tanam di zona Konservasi 2.000 batang dari luas 1.700 ha

4 Lebah madu Lebah madu di panen

sebanyak 50 liter di zona konservasi

Lebah madu di panen sebanyak 250 liter di zona konservasi 5 Budidaya pakan ternak

a. Kumpai Tanaman Kumpai di tanam sepanjang Sungai Nuaran

Tanaman Kumpai di tanam sepanjang Sungai Nuaran

Tanaman Kumpai di tanam sepanjang Sungai Nuaran

b. Rumput kacang- kacangan

Rumput kacang- kacangan di tanam ¼ hektar di zona

pemanfaatan

Rumput kacang- kacangan di tanam ½ hektar di zona

pemanfaatan

Rumput kacang- kacangan di tanam 1 hektar di zona

pemanfaatan 6 Agroforestry

a. Tanaman karet dan kopi

Tumpangsari tanaman karet dan kopi seluas 1 hektar di zona

pemanfaatan

Tumpangsari tanaman karet dan kopi seluas 5 hektar di zona pemanfaatan

Tumpangsari tanaman karet dan kopi seluas 10 hektar di zona

pemanfaatan b. Tanaman

karet dan kakau

Tumpangsari tanaman karet dan kakau seluas 1 hektar di zona

pemanfaatan

Tumpangsari tanaman karet dan kakau

seluas 5 hektar di zona pemanfaatan

Tumpangsari tanaman karet dan kakau seluas 10 hektar di zona pemanfaatan 7 Silvo Fasture

(rumput kacang- Rumput kacang-kacangan

di tanam seluas 1 hektar Rumput kacang-

kacangan di tanam Rumput kacang- kacangan di tanam

(39)

kacangan) di zona pemanfaatan seluas 2 hektar di

zona pemanfaatan seluas 5 hektar di zona pemanfaatan

8 Silvo Fishery

(ternak ikan) Sepanjang Sungai Nuaran Sepanjang Sungai

Nuaran Sepanjang Sungai

Nuaran

(40)

2.4. Pengembangan Usaha Jasa Lingkungan 2.4.1. Penyerapan dan Penyimpanan Karbon

Usaha yang dikembangkan oleh pihak LPHD (Lembaga Pengelola Hutan Desa) untuk jasa lingkungan berupa penyerapan karbon, usaha ini direncanakan pada areal seluruh zona lindung Hutan Desa dengan luas 1.700 Ha. Usaha kegiatan ini mempunyai manfaat dalam mempertahankan potensi kayu yang ada dan kondisinya masih baik, dan juga akan dapat menjaga kerusakan lahan gambut yang ada di semua lokasi zona perlindungan ini. Untuk mempertahankan dan meningkatkan penyerapan karbon, maka akan dilakukan kegiatan; perlindungan hutan dari aktivitas penebangan liar, kebakaran dan konversi lahan, pengayaan tanaman pada lahan-lahan kritis (bekas terbakar dan bekas tebangan), penutupan kanal untuk mengembalikan fungsi hidrologi. Disamping itu, akan dilakukan perhitungan potensi karbon secara detail (baseline), kampanye dan membangun jaringan pasar karbon (carbon trading), dan penjualan karbon.

Tabel 18. Jenis Usaha Penyerapan dan/atau Penyimpanan Karbon Zona : Lindung

Luas : 1.700 hektar

Blok Kegiatan 0 s/d 1

Tahun 1 s/d 5

Tahun 5 s/d 10

Tahun Keterangan Li

nd un g

Perlindungan hutan dari kebakaran, penebangan, dan pembukaan lahan Pengayaan tanaman pada lahan semak belukar/kritis

Penutupan/penebata n kanal liar untuk rehabilitasi hidrologi Studi Baseline potensi karbon

Kampanye dan

membangun jaringan pasar karbon

Penjualan Karbon (Carbon Trading)

2.4.2. Usaha Eko Wisata

Usaha yang dikembangkan oleh pihak LPHD (Lembaga Pengelola Hutan Desa) untuk jasa lingkungan selain penyerapan karbon, yang dapat di kembangkan adalah Ekowisata. usaha ini direncanakan pada areal seluruh zona lindung Hutan Desa dengan luas 1.700 Ha. Usaha kegiatan ini mempunyai manfaat untuk memperkenalkan hutan gambut yang tersisa di sumatera selatan dengan mengembangkan tanaman endimik hutan gambut di Hutan Desa di Desa

(41)

Kepayang. Selain itu ekowisata ini juga sebagi bentuk perlindungan hutan gambut dari aktivitas penebangan liar, kebakaran dan konversi lahan, pengayaan tanaman pada lahan-lahan kritis (bekas terbakar dan bekas tebangan), penutupan kanal untuk mengembalikan fungsi hidrologi.

Tabel 19 Jenis Usaha Eko Wisata jalur Hutan Zona : Lindung

Luas : 1.700 hektar

NO Kegiatan 0 s/d 1 Tahun 1 s/d 5 Tahun 5 s/d 10

Tahun Keterangan Eko Wisata 1.Survey

Tempat objek Eko Wisata 2.Penetapan

lokasi

pembersihan

Penanaman

tanaman hias dan di pasarkan

1.Bunga Anggrek 2.Bunga Mawar

Pembanguna n fasilitas 3.Pondok untuk

berteduh 4.Dermaga 5.Kantin Pagar 6.Jembatan

Perawatan 1.Penyiraman

tanaman bunga 2.Pembersiha

n gulma tanaman bunga

Perawatan tanaman dan penjagaan

2.5. Pengembangan Kelembagaan 2.5.1. Strategi Kelembagaan

Dalam pengelolaan Hutan Desa peran dalam kelembagaan pengelola hutan desa sangat menentukan berlangsungnya rencana pengelolaan hutan desa. Lembaga Desa secara partisipatif melakukan penilaian terhadap kapasitas Lembaga Desa, seperti organisasi dan strukturnya, aturan main dalam kelompok termasuk potensi aturan-aturan tradisional, berfungsinya aturan main dan aturan-aturan tradisional serta kemampuan individu dalam organisasi. Lembaga Desa juga menetapkan target-target pengembangan kelembagaannya selama jangka waktu ijin baik dalam jangka pendek maupun jangka panjangnya.

Lembaga Pengelola Hutan Desa Desa menentukan upaya-upaya apa yang akan dilakukan, seperti pengembangan struktur organisasi lembaga desa sesuai dengan rencana kerja hutan desa, menetapkan aturan internal Lembaga Desa, membuat rencana pendampingan minimal selama 3 tahun, pembentukan Badan Usaha Milik Desa atau koperasi, serta menjalin kerjasama atau bermitra dengan pihak-pihak lain dan upaya lainnya.

Strategi kelola kelembagaan merupakan strategi pemberdayaan masyarakat yang dirumuskan dengan memfokuskan tipologi social masyarakat di dalam kawasan dan sekitar hutan dan tipologi otoritas pengelola hutan desa. Dalam pengelolaan Hutan desa peran dalam kelembagaan pengelola hutan desa sangat menentukan berlangsungnya rencana pengelolaan hutan desa.

(42)

Strategi Kelola Kelembagan Hutan Desa meliputi:

1. Pemahaman pokok ketentuan dan aturan kelembagaan pengelolaan Hutan 2. Pengembangan Kelembagaan kemasyarakat seperti; pengembanganDesa

struktur organisasi lembaga desa sesuai dengan rencana kerja hutan desa 3. Pengembangan sumber daya manusia dan optimasi peran para pihak.

Prinsip-prinsip Kelola Kelembagaan hutan desa dan Penguatan organisasi

1. Memperkuat nilai-nilai lokal yang selaras dengan nilai-nilai ekonomi modern 2. Memperkuat aturan lokal dengan mensinergiskan dengan hukum positif

yang dapat digunakan untuk menghasilkan tata-kelola sumberdaya hutan dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

3. Memperkuat pengorganisasian usaha masyarakat di dalam hutan desa dan sekitar hutan desa selaras dengan dinamika birokrasi rasional dan pengelolaan sumberdaya Hutan

2.5.2. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan

Fasilitasi Pendidikan dan pelatihan dalam rangka kelola peningkatan Sumberdaya manusia dilakukan dengan proses pendampingan. Hal-hal yang didorong dalam proses fasilitasi dan pendampingan dalam rangka peningkatan SDM adalah:

Tabel 20. Rencana Peningkatan Kapasitas Kelembagaan

NO Kegiatan 0 s/d 1 Tahun 1 s/d 5 Tahun 5 s/d 10 Tahun Keterangan 1 Pelatihan

a. Organisasi Pelatihan fungsi

dan tugas LPHD Manajemen

keuangan Manajemen

hukum Manajemen

b. Pembibitan 25 orang LPHD pelatihan pembibitan

15 orang pelatihan pembibitan

15 orang pelatihan pembibitan

10 orang pelatihan pembibitan c. Kelompok

perempuan 25 orang pelatihan kelompok perempuan

10 orang pelatihan kelompok perempuan

10 orang pelatihan kelompok perempuan

10 orang pelatihan kelompok perempuan d. KMPA 8 orang pelatihan

KMPA 7 orang pelatihan

KMPA 4 orang pelatihan

KMPA 4 orang

pelatihan e. Koperasi/ KMPA

BUMDES 4 orang pelatihan koperasi/BUMDE S

4 orang pelatihan koperasi/BUMDE S

4 orang pelatihan

koperasi/BUMDES 4 orang pelatihan koperasi/BUM f. IPTEK 4 orang pelatihan DES

IPTEK 4 orang pelatihan

IPTEK 4 orang pelatihan

IPTEK 4 orang

pelatihan IPTEK

(43)

2.5.3. Studi Banding

Dalam peningkatan pengetahuan masyarakat pengelola Hutan Desa di Desa Kepayang Bayung Lincir Musi Banyuasin, maka perlu adanya pembelajaran pengelolaan Hutan Desa yang telah berhasil dalam tata kelola hutan Desa.

Pemaham atau pengetahuan ini dapat melalui study banding keluar desa dengan sesuai dengan rencana

Tabel 21. Rencana Study Banding LPHD

NO Kegiatan 0 s/d 1 Tahun 1 s/d 5 Tahun 5 s/d 10 Tahun Keterangan 1. Demplot

Agroforestry 8 orang LPHD study banding ke

tempat lokasi agroforestry yang

sudah sukses

10 orang LPHD study banding ke

tempat lokasi agroforestry yang

sudah sukses

10 orang LPHD study banding ke

tempat lokasi agroforestry yang

sudah sukses

10 orang LPHD study banding ke tempat lokasi agroforestry yang sudah sukses Pengurus

Koperasi/BU MDES

3 orang pengurus koperasi/BUMDE S study banding ke tempat lokasi agroforestry yang

sudah sukses

5 orang pengurus koperasi/BUMDE S study banding ke tempat lokasi agroforestry yang sudah sukses

6 orang pengurus koperasi/BUMDES

study banding ke tempat lokasi agroforestry yang

sudah sukses

6 orang pengurus koperasi/BUM DES study banding ke tempat lokasi agroforestry yang sudah sukses Manegemen

LPHD 10 orang study banding ke LPHD

yang sudah sukses di Provinsi

Jawa Barat

10 orang magang ke LHD yang sudah sukses di Provinsi Jawa Barat

8 orang magang ke LHD yang sudah sukses di

Provinsi Jawa Barat

8 orang

magang ke LHD yang sudah sukses di Provinsi Jawa Barat

2.5.4. Magang

Peningkatan Kapasitas pengurus LPHD Desa Kepayang dalam pengelolaan tata kelola hutan untuk pengembangan potensi hasil hutan kayu maupun hasil hutan bukan kayu diperlukan pemahaman dan pengetahuan sesuai struktur tanah gambut maupun struktur tanah mineral yang ada di areal Hutan Desa.

Pemahaman dan pengetahui ini dapat melalui belajar atau magang di perusahaan pengelola Hasil Hutan Kayu dan Hasil Hutan Bukan Kayu di Sumatera Selatan maupun di luar provinsi Sumatera Selatan.

(44)

Tabel 22. Rencana Magang LPHD

NO Kegiatan 0 s/d 1 Tahun 1 s/d 5 Tahun 5 s/d 10 Tahun Keterangan 1 Belajar

Agroferestry 15 orang belajar agroforestry di PT. RHM

10 orang belajar agroforestry di PT. RHM

5 orang belajar agroforestry di PT. RHM

5 orang belajar agroforestry di PT.

RHM di fasilitasi oleh Perusahaan atau Desa

2 Ilmu

pertanian 5 orang belajar ilmu peranian di IPB Bogor

5 orang belajar ilmu peranian di IPB Bogor

5 orang belajar ilmu peranian di IPB Bogor

5 orang belajar ilmu peranian di IPB Bogor di fasilitasi oleh Desa 3 Komoditas

hasil LHD 3 orang magang di pabrik atau di perusahaan

5 orang magang di pabrik atau di perusahaan

6 orang magang di pabrik atau di perusahaan

6 orang magang di pabrik atau di perusahaan di Fasilitasi oleh LPHD 4 Pengelolahan

LHD 4 orang magang

di tempat LHD yang sudah sukses

4 orang magang di tempat LHD yang sudah sukses

6 orang magang di tempat LHD yang sudah sukses

6 orang magang di tempat LHD yang sudah sukses di fasilitasi oleh LPHD 5 KLHK 6 orang magang

di KLHK 6 orang magang

di KLHK 6 orang magang

di KLHK orang magang di KLHK di Fasilitasi oleh LPHD

2.5.5. Struktur Lembaga Pengelola Hutan Desa

Kelembagaan Lembaga Pengelola Hutan Desa Kepayang berdasarkan Peraturan Desa Kepayang Nomor 01 Tahun 2008 yang susunan kelembagaan direvisi SK no 02 tahun 2014, dan terjadi perombakan kembali direvisi SK no. 03 Tahun 2015 adalah:

Ketua : Hatta. M

Sekretaris : Dedi Zulkarnain

Bendahara : Ridwan

Kepala Seksi Pemanfaatan Kawasan & Jasa

Lingkungan : Isbandi

Kepala Seksi Perencanaan Program : Muksil

Kepala Seksi Rehabilitasi dan Pemeliharaan : Robert Nainggolan Kepala Seksi Pengamanan Kawasan : Browi

Kepala Seksi Pengorganisasian Masyarakat : Husni Zahir Fahmi

(45)

BAB.III

PETA RENCANA KERJA

3.1. Peta areal Kerja Hutan Desa

Peta Areal kerja Hutan Desa Kepayang sesuai dengan SK Nomor:

SK.54/Menhut-II/2013 tanggal 23 Agustus 2013 memiliki luas luas 5.170 hektar.sedangkan Hak Pengelolaan Hutan Desa berdasarkan SK Gubernur luas 4.930 hektar, areal kerja Hutan Desa Secara administratif Hutan Desa Kepayang berada di Desa Kepayang, Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Propinsi Sumatera Selatan

Gambar 7. Peta Areal Kerja Hutan Desa Kepayang

(46)

3.2. Peta adminstrasi Desa

Peta Areal kerja Hutan Desa Kepayang sesuai dengan SK Nomor:

SK.54/Menhut-II/2013 tanggal 23 Agustus 2013 memiliki luas luas 5.170 hektar.sedangkan Hak Pengelolaan Hutan Desa berdasarkan SK Gubernur luas 4.930 hektar, areal kerja Hutan Desa Secara administratif Hutan Desa Kepayang berada di Desa Kepayang, Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Propinsi Sumatera Selatan. Dengan batas-batasnya:

 Sebelah Utara : berbatasan dengan Hutan Tanaman Industri PT.

Rimba Hutani Mas

 Sebelah Selatan : berbatasan dengan Hutan Produksi Lalan dan PT.

Wahana Lestari Makmur Sukses

 Sebelah Barat : berbatasan dengan PT. Wahana Lestari Makmur Sukses dan PT. Global Alam Lestari

 Sebelah Timur : berbatasan dengan PT. Tripupa Jaya

Gambar 8. Peta adminstrasi Hutan Desa di Desa Kepayang

(47)

3.3. Peta Fungsi Kawasan

Berdasarkan kondisi biofisik kawasan hutan dalam Areal Kerja Hutan Desa di desa Kepayang Kewcamatan Bayung Lincir Musi Banyuasin, bahwa secara umum luas Hutan Desa Kepayang 4.930 ha, dimana areal ini dibagi menjadi dua zona yaitu;

zona Budidaya seluas ± 3.400 hektar dan zona Perlindungan seluas ± 1.700 hektar. Adapun pembagian zonasi ini mengacu pada peraturan terkait, seperti Peraturan Pemerintah (PP) No.71 tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Pemanfaatan kawasan yang ada di hutan desa rencana dengan pola pertanian terpadu, agroforestry dan tanaman kayu khas hutan.Bentuk pengembangan dan pemanfaatan kawasan hutan di areal hutan desa yang direncanakan ini adalah sesuai dengan pengaturan ruangnya dibagi menjadi:

- Areal untuk tanaman pokok seluas 3.200 hektar - Areal tanaman unggulan dareah seluas 150 hektar - Areal untuk sarana dan prasarana seluas 150 hektar

Gambar 9. Peta Pembagian zona fungsi kawasan areal Hutan Desa

(48)

BAB. IV PENUTUP

Demikianlah Draft Rencana Pengelolaan Hutan Desa (RPHD) Desa Kepayang sebagai bahan pendoman dalam pengelolaan Hutan Desa dengan luas 4.930 hektar, tahapan kegiatan yang di uraikan dalam Rencana Pengelolaan Hutan Desa ini disusun berdasarkan penggalian potensi areal Hutan Desa di Desa Kepayang sesuai dengan kondisi inventarisasi tegakan, kesesuaian lahan mineral maupun gambut.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Desa ini masih dirasakan kurang sempurna dan masih membutuhkan masukan dari berbagai pihak demi terlaksananya program hutan desa selama 10 (sepuluh) tahun.

Perubahan-perubahan dalam perencanaan program dipahami akan menjadi bagian penting dalam memandang kondisi perkembangan kawasan hutan desa yang tetap termaktub dalam program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia yang bervisi membangun kawasan hutan lestari bersama masyarakat.

Referensi

Dokumen terkait

Meskipun pada karet Colletotrichum terutama menyerang daun, jamur yang sama juga dapat menyerang semua bagian hijau dari tanaman karet, termasuk buah, dan juga

buah-buahan dan kayu-kayuan.Dari pengelolaan hutan tembawang masyarakat memperoleh beragam produk yang dapat di hasilkan yaitu buah-buahan seperti langsat, rambutan,

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis Hasil Hutan Non Kayu (HHNK) kelompok buah-buahan, menghitung nilai ekonomi dan besarnya kontribusi HHNK

Tanaman karet masih dapat menghasilkan lateks atau getah karet hingga mencapai umur 25 tahun, tetapi petani di Desa Maur Baru dan Rantau Kadam berpendapat rata-rata karet

Berdasarkankomposisi guild daerah ini didominasi oleh pemakan serangga-buah-buahan (I/F), sedangkan jenis pemakan serangga pada serasah (LGI) dan pemakan buah-buahan dilantai hutan

Dari  hasil  analisis  survey  vegetasi  dan  kerusakan  hutan  rawa  gambut  areal  MRPP,  telah  direkomendasikan  beberapa  jenis  tanaman  asli  hutan  rawa 

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kabupaten Musi Banyuasin

Kepala Bidang PBB dan BPHTB meneliti daftar usulan penghapusan piutang dan konsep Surat Keputusan Penghapusan Piutang serta mengajukan kepada Kepala Badan Pengelola Pajak dan