• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Obat Tradisional

Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (Depkes RI, 1994).

Obat herbal Indonesia lebih dikenal dengan nama jamu dan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) RI juga digolongkan dalam jamu. Berdasarkan cara pembuatan serta jenis klaim penggunaan dan tingkat pembuktian khasiat, obat bahan alam Indonesia dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu :

1. Jamu, yang merupakan obat tradisional warisan nenek moyang.

2. Obat herbal terstandar, yang dikembangkan berdasarkan bukti-bukti ilmiah dan uji pra klinis serta standarisasi bahan baku.

3. Fitofarmaka, yang dikembangkan berdasarkan uji klinis, standarisasi bahan baku dan sudah bisa diresepkan dokter (Harmanto, 2008)

2.2 Kapsul

Kapsul adalah sediaan obat tradisional yang terbungkus cangkang keras atau lunak; bahan bakunya terbuat dari sediaan galenik dengan atau tanpa bahan tambahan. Waktu hancur bagi kapsul adalah tidak lebih dari 15 menit.

(2)

2.2.1 Persyaratan Kapsul

i. lsi kapsul harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

Keseragaman bobot (untuk kapsul yang berisi obat tradisional kering) Tidak lebih dari 2 kapsul yang masing-masing bobot isinya menyimpang dari bobot isi rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan dalam kolom A dan tidak satu kapsul pun yang bobot isinya menyimpang dari bobot isi rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan dalam kolom B, yang tertera pada daftar berikut.

Bobot rata-rata isi kapsul

Penyimpangan terhadap bobot isi rata-rata

A B

120 mg atau kurang ± 10% ± 20%

≥ 120 mg ± 7,5% ± 15%

Timbang satu kapsul, keluarkan isi kapsul timbang bagian cangkangnya hitung bobot isi kapsul. Ulangi penetapan terhadap 19 kapsul dan hitung bobot rata-rata isi 20 kapsul.

Untuk kapsul yang berisi obat tradisional cair : tidak lebih dari satu kapsul yang masing-masing bobot isinya menyimpang dari bobot isi rata-rata lebih besar dari 7,5 % dan tidak satu kapsul pun yang bobot isinya menyimpang dari bobot isi rata-rata lebih besar dari 15 %. Timbang satu kapsul, keluarkan isi kapsul, cuci cangkangnya dengan eter P. Buang cairan, biarkan hingga tidak berbau eter dan ditimbang hitung bobot isi kapsul. Ulangi penetapan terhadap 9 kapsul dan hitung bobot isi rata-rata 10 kapsul.

ii. Kadar air isi kapsul : Tidak lebih dari 10 %.

(3)

iii. Angka lempeng total : Tldak lebih dari 104. iv. Angka kapang dan khamir : Tidak lebih dari 103. v. Mikroba Patogen : Negatif.

vi. Aflatoksin : Tidak lebih dari 30 bpj.

vii. Bahan tambahan :

Pengawet : Tidak lebih dari 0,1%.

Pengawet yang diperbolehkan :

1. Metil p - hidroksi benzoat (Nipagin);

2. Propil p - hidroksi benzoat (Nipasol);

3. Asam sorbat atau garamnya;

4. Garam natrium benzoat dalam suasana asam;

5. Pengawet lain yang disetujui.

viii. Wadah dan penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik; disimpan pada suhu kamar ditempat kering dan terlindung dari sinar matahari (Depkes RI, 1994).

2.2.2 Jenis-jenis Kapsul

Secara umum, kapsul dibedakan menjadi dua yaitu kapsul gelatin keras dan kapsul gelatin lunak.

2.2.2.1 Kapsul Gelatin Keras

Cangkang kapsul kosong dibuat dari campuran gelatin, gula dan air, jernih tidak berwarna dan pada dasarnya tidak mempunyai rasa. Gelatin bersifat stabil di udara bila dalam keadaan kering, akan tetapi mudah mengalami peruraian oleh mikroba bila menjadi lembap atau bila disimpan dalam larutan berair. Oleh karena itu kapsul gelatin yang lunak dimana mengandung lebih banyak uap air daripada

(4)

kapsul keras, pada pembuatannya ditambahkan bahan pengawet untuk mencegah timbulnya jamur dalam cangkang kapsul. Biasanya kapsul keras gelatin mengandung uap air antara 9 – 12 %. Bilamana disimpan dalam lingkungan dengan kelembapan tinggi, penambahan uap air akan diabsorbsi oleh kapsul dan kapsul keras ini akan rusak dari bentuk kekerasannya. Sebaliknya dalam lingkungan udara yang sangat kering, sebagian dari uap air yang terdapat dalam kapsul gelatin mungkin akan hilang, dan kapsul ini menjadi rapuh serta mungkin akan remuk bila dipegang.

2.2.2.2 Kapsul Gelatin Lunak

Kapsul gelatin lunak dibuat dari gelatin dimana gliserin atau alkohol polivalen dan sorbitol ditambahkan supaya gelatin bersifat elastis seperti plastik.

Kapsul-kapsul ini mungkin bentuknya membujur seperti elips atau seperti bola dapat digunakan untuk diisi cairan, suspensi, bahan berbentuk pasta atau serbuk kering. Kapsul lunak bentuknya bagus dan lebih mudah ditelan oleh pasien.

2.2.3 Pengawasan dan Pengemasan Kapsul

Kapsul-kapsul hasil produksi skala kecil ataupun skala besar tidak hanya diuji tentang kadar dan keseragamannya saja, tetapi juga harus dilakukan pemeriksaan secara visual maupun elektronik, supaya tidak terdapat suatu kekurangan pada penampilannya.

Kapsul biasanya dikemas dalam wadah dari plastik, beberapa berisi kantung bahan pengering untuk mencegah terjadinya absorpsi kelebihan uap air oleh kapsul. Kapsul lunak mempunyai kecendrungan yang lebih besar dibandingkan dengan kapsul keras untuk melunak dan melekat satu sama lainnya.

(5)

Kapsul-kapsul ini harus disimpan pada tempat yang dingin dan kering. Pada kenyataannya semua kapsul tahan lama disimpan dalam wadah yang tertutup dengan segel di tempat dingin dengan kelembapan rendah (Ansel, 1989).

2.3 Penyakit Asam Urat 2.3.1 Fisiologi Asam Urat

Asam urat adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar asam urat di dalam darah, yang ditandai dengan gangguan linu-linu terutama di daerah persendian tulang dan tidak jarang timbul rasa amat nyeri bagi penderitanya. Rasa sakit tersebut diakibatkan adanya radang pada persendian.

Radang sendi tersebut ternyata disebabkan oleh penumpukan kristal di aderah persendian akibat tingginya kadar asam urat di dalam darah (Krisnatuti, 2004).

Apabila kadar asam urat dalam darah naik, berakibat terganggunya metabolisme tubuh. Penyakit asam urat adalah penyakit sendi yang berhubungan dengan metabolisme tubuh. Penyakit ini menyerang sendi tulang sehingga kelihatan membengkak, bewarna merah, panas, terasa nyeri pada kulit, sakit kepala dan penderitanya tidak punya nafsu makan (Nooryani, 2007).

2.3.2 Penyebab Asam Urat

Normalnya, asam urat sebagai hasil samping dari pemecahan sel terdapat dalam darah karena tubuh secara berkesinambungan memecah dan membentuk sel yang baru. Kadar asam urat meningkat atau abnormal ketika ginjal tidak sanggup mengeluarkannya melalui air kemih.

Peningkatan asam urat dalam darah disebut dengan hiperurisemia.

Berdasarkan penyebabnya, hiperurisemia dibagi menjadi dua kelompok, yaitu

(6)

primer dan sekunder. Hiperurisemia primer biasanya tidak diketahui penyebabnya, tetapi sebagian besar disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. Sedangkan hiperurisemia sekunder disebabkan adanya komplikasi dengan penyakit lain seperti anemia hemolitik, kelainan ginjal, kegemukan dan sebagainya (Utami, 2003).

Kurang lebih 20-30% penderita asam urat atau gout terjadi akibat kelainan sintesa purin dalam jumlah besar yang menyebabkan kelebihan asam urat dalam darah. Asam urat merupakan hasil akhir dari metabolisme purin, baik purin yang berasal dari bahan pangan maupun dari hasil pemecahan purin asam nukleat tubuh. Dalam serum, urat terutama berada dalam bentuk natrium urat, sedangkan dalam saluran urin, urat dalam bentuk asam urat. Kadar asam urat normal untuk wanita berkisar 2,4 – 5,7 mg/dl dan untuk pria berkisar 3,4 – 7 mg/dl. Jika kadar asam urat dalam serum melebihi standar diatas maka disebut hiperurisemia.

Dan kurang lebih 75% penderita gout terjadi akibat kelebihan produksi asam urat, tetapi pengeluarannya tidak sempurna (Krisnatuti, 2004).

Salah satu penyebab meningkatnya asam urat dalam darah adalah semakin tinggi asupan makanan yang mengandung purin. Akibatnya pembentuka purin dalam tubuh akan meningkat. Asupan purin yang berlebihan berasal dari sumber sebagai berikut : Makanan kaleng, seperti kornet dan sarden, makanan laut seperti udang, kerang dan kepiting, jeroan seperti hati, ginjal, limfa, babat, usus, paru dan otak, kacang-kacangan beserta olahannya, melinjo dan emping melinjo, minuman beralkohol, keju, susu, telur, buah-buahan seperti avokad, nenas dan air kelapa

(7)

dan sayuran seperti daun bayam, daun singkong, kangkung, kembang kol dsb (Utami, 2003).

2.3.3. Tanda-tanda Asam Urat

Tanda-tanda khas dari penyakit gout adalah terjadinya serangan mendadak pada sendi, terutama sendi ibu jari kaki. Sendi menjadi cepat bengkak, panas dan kemerah-merahan. Pembengkakan yang khas terjadi di pinggiran sendi yang diserati nyeri, kemudian diikuti dengan meningkatnya suhu badan.

Dalam dunia kedokteran, asam urat memiliki tanda-tanda sebagai berikut : 1. Dijumpai adanya hiperurisemia.

2. Terdapat kristal urat yang khas dalam cairan sendi.

3. Terdapat tofi yang dibuktikan dengan pemeriksaan kimiawi.

4. Telah terjadi lebih dari satu kali serangan arthritis akut.

5. Adanya serangan pada satu sendi, terutama sendi ibu jari.

6. Sendi terlihat kemerahan.

7. Pembengkakan asimetris pada satu sendi.

8. Tidak ditemukan bakteri pada saat serangan atau inflamasi 2.3.4 Pengobatan Asam Urat

Pengobatan hiperurisemia dibagi menjadi dua golongan. Golongan pertama yaitu inhibitor xantin oksidase yaitu alopurinol yang berfungsi untuk menghambat konversi hipoxantin menjadi xantin dan kemudian xantin enjadi asam urat. Golongan kedua yaitu golongan urikosurik yang berfungsi untuk menurunkan asam urat dalam serum, seperti probenezid, sulfinpirazon, azapropozan, dan benzbromaron (Krisnatuti,2004).

(8)

2.4 Fenilbutazon

Fenilbutazon merupakan derivat dari pirazolon. Fenilbutazon digunakan untuk mengobati reumatoid artritis dan sejenisnya, kemudian secara berurutan didapat turunan fenilbutazon ialah oksifenbutazon, sulfinpirazon dan ketofenilbutazon. Fenilbutazon dan oksifenbutazon juga mempunyai efek antipiretik dan analgesik. Efek antiinflamasi sama dengan salisilat. Efek urikosuriknya lemah dengan menghambat reabsorbsi asam urat melalui tubuli.

Dalam dosis kecil fenilbutazon justru mengurangi sekresi asam urat oleh tubuli (Munaf, 1994).

Fenilbutazon mula-mula disintesis bukan dengan maksud untuk digunakan sebagai obat, melainkan untuk digunakan sebagai pelarut bagi amidopirin yang sukar larut dalam air. Fenilbutazon merupakan asam dengan kekuatan sedang yang mampu membentuk garam misalnya dengan amin. Dalam pengobatan, disamping bentuk asam bebas juga digunakan terutama dalam bentuk garam natrium dan garam kalsium (Ebel, 1979).

2.4.1 Struktur Fenilbutazon

Nama Kimia : 4-Butil-1,2-difenil-3,5-pirazolodinadion Rumus Empiris : C19H20N2O2

(9)

Berat Molekul : 308,38

Pemerian : Serbuk hablur, putih atau agak putih; tidak berbau.

Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air; mudah larut dalam aseton dan dalam eter; larut dalam etanol

(Ditjen POM, 1995).

2.4.2 Farmakokinetik

Bila diberikan per oral absorbsinya cepat dan sempurna. Konsentrasi tertinggi dicapai dalam waktu 2 jam. Dengan dosis terapi 98% fenilbutazon dalam plasma terikat pada protein plasma, bila konsentrasi lebih tinggi pengikatan dengan plasma protein mungkin hanya 90%. Masa paruh fenilbutazon adalah lama yaitu 50-100 jam. Biotransformasi terjadi di hati oleh sistem mikrosom hati.

Ekskresi melalui ginjal dengan lambat.

2.4.3 Efek Samping

Efek samping dari fenilbutazon yaitu (1) Reaksi alergi berupa : reaksi kulit, anemia aplastik, agranulositosis, leukopenia, trombositopeni dll. (2) Iritasi lambung, dapat menimbulkan pendarahan lambung. Namun, efek samping yang terlalu kuat dapat diperkecil dengan pembentukan garam dengan basa (Munaf, 1994).

2.4.4 Dosis

Artritis gout akut : dosisi awal 500-800 mg sehari dalam 2-3 dosis selama 1-3 hari; selanjutnya jika perlu 200-400 mg sehari; lama pengobatan tidak boleh lebih dari 7 hari. Sediaan fenilbutazon 200 mg, 3 x 1 tablet, terapi tidak boleh lebih dari 7 hari (ISFI, 2009).

(10)

2.5 Identifikasi Fenilbutazon dalam sediaan Obat Tradisonal bentuk Kapsul secara Kromatografi Lapis Tipis dan Spektrofotometri UV- Visible

2.5.1 Kromatografi Lapis Tipis

Salah satu cara untuk mengidentifikasi bahan kimia obat yang terdapat dalam sediaan obat tradisonal adalah dengan menggunakan kromatografi lapis tipis dan dilanjutkan dengan spektrofotometri uv-visible untuk melihat spektrumnya. Di antara berbagai jenis teknik kromatografi, kromatografi lapis tipis (disingkat KLT) adalah yang paling cocok untuk analisis obat di laboratorium farmasi. Metode ini hanya memerlukan investasi yang kecil untuk perlengkapan, menggunakan waktu yang singkat untuk menyelesaikan analisis (15-60 menit), dan memerlukan jumlah cuplikan yang sangat sedikit (kira-kira 0,1 g). Selain itu, hasil palsu yang disebabkan oleh komponen sekunder tidak mungkin terjadi, kebutuhan ruangan minimum, dan penanganannya sederhana (Stahl, 1985).

Keuntungan lain dari kromatografi lapis tipis ini adalah, dalam pelaksanaannya lebih mudah dan lebih murah dibandingkan dengan kromatografi kolom. Demikian juga peralatan yang digunakan. Dalam kromatografi lapis tipis, peralatan hyang digunakan lebih sederhana. Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna, fluoresensi, atau dengan radiasi menggunakan sinar ultra violet.

2.5.1.1 Komponen KLT a. Fase Diam

Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penjerap berukuran

(11)

partikel fase diam dan semakin sempit kisaran ukuran fase diam, maka semakin baik kinerja KLT dalam hal efisiensinya dan resolusinya (Rohman, 2009).

Kebanyakan penjerap yang digunakan adalah silika gel. Silika gel yang digunakan kebanyakan diberi pengikat (binder) yang dimaksud untuk memberikan kekuatan pada lapisan, dan menambha adhesi pada gelas penyokong. Pengikat yang digunakan kebanyakan kalium sulfat. Tetapi biasanya dalam perdagangan silika gel telah diberi pengikat. Jadi tidak perlu mencampur sendir, dan diberi nama dengan kode silika gel G (Sastrohamidjojo, 1985).

b. Fase Gerak

Fase gerak ialah medium angkut dan terdiri atas satu atau beberapa pelarut.

Ia bergerak di dalam fase diam, yaitu suatu lapisan berpori, karena ada gaya kapiler. Yang digunakan hanyalah pelarut bertingkat mutu analitik dan, bila diperlukan, sistem pelarut multikomponen ini harus berupa suatu campuran sesederhana mungkin yang terdiri atas maksimum 3 komponen. Angka banding campuran dinyatakan dalam bagian volume sedemikian rupa sehingga volume total 100, misalnya, benzena-kloroorm-asam asetat 96% (50:40:10).

c. Bejana Pemisah dan Penjenuhan

Bejana harus dapat menampung pelat 200x200 mm dan harus tertutup rapat. Untuk kromatografi dalam bejana yang jenuh, secarik kertas saring bersih yang lebarnya 18 – 20 cm dan panjangnya 45 cm ditaruh pada dinding sebelah- dalam bejana berbentuk U dan dibasahi dengan pelarut pengembang. Tingkat kejenuhan bejana dengan uap pelarut pengembang mempunyai pengaruh yang nyata pada pemisahan dan letak bercak pada kromatogram (Stahl, 1989).

(12)

d. Aplikasi (Penotolan) Sampel

Pemisahan pada kromatografi lapis tipis yang optimal akan diperoleh hanya jika menotolkan sampel dengan ukuran bercak sekecil dan sesempit mungkin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penotolan sampel secara otomatis lebih dipilih daripada penotolan secara manual terutama jika sampel yang akan ditotolkan lebih dari 15 µl. Penotolan sampel yang tidak tepat akan menyebabkan bercak yang menyebar dan puncak ganda.

e. Deteksi Bercak

Bercak pemisahan pada KLT umumnya merupakan bercak yang tidak bewarna. Untuk penentuannya dapat dilakukan secara kimia dengan mereaksikan bercak dengan suatu pereaksi melalui cara penyemprotan sehingga bercak menjadi jelas. Kadang-kadang lempeng dipanaskan terlebih dahulu untuk mempercepat reaksi pembentukan warna dan intensitas warna bercak. Cara fisika yang dapat digunakan untuk menampakkan bercak adalah dengan fluoresensi sinar ultraviolet. Lapisan tipis sering mengandung indikator fluoresensi yang ditambahkan untuk membantu penampakan bercak tanwarna pada lapisan yang telah dikembangkan. Indikator fluoresensi ialah senyawa yang memancarkan sinar tampak jika disinari dengan sinar berpanjang gelombang lain, biasanya sinar ultraviolet. Indikator fluoresensi yang paling berguna ialah sulfida anorganik yang memancarkan cahaya jika disinari pada 254 nm. Indikator fluoresensi terdapat dalam penjerap niaga dan lapisan siap pakai sekitar 1% dan tampaknya tidak berperan dalam proses kromatografi (Rohman, 2009; Gritter, 1991).

(13)

2.5.2 Spektrofotometri UV-Visible

Spektrum ultraviolet dan cahaya tampak suatu zat pada umumnya tidak mempunyai derajat spesifikasi yang tinggi. Walaupun demikian, spektrum tersebut sesuai untuk pemeriksaan kuantitatif dan untuk berbagai zat spektrum tersebut bermanfaat sebagai tambahan untuk identifikasi (Ditjen POM, 1995).

Spektra UV-Vis dapat digunakan untuk informasi kualitatif dan sekaligus dapat digunakan untuk analisis kuantitatif. Dasar dari spektrofotometri ultraviolet- visible adalah penyerapan molekuler elektronik dalam larutan. Sinar ultraviolet mempunyai panjang gelombang antara 200 – 400 nm, sementara sinar tampak mempunyai panjang gelombang 400 – 750 nm. Jadi, spektrofotometer yang sesuai untuk pengukuran di daerah spektrum ultraviolet dan sinar tampak terdiri atas suatu sistem optik dengan kemampuan menghasilkan sinar monokromatis dalam jangkauan panjang gelombang 200 – 800 nm.

2.5.2.1 Instrumentasi Spektrofotometer UV-Vis

Komponen-komponen dari spektrofotometer UV-Vis meliputi sumber- sumber sinar, monokromator, dan sistem optik.

i. Sumber-sumber lampu; lampu deuterium digunakan untuk daerah UV pada panjang gelombang dari 190 – 350 nm, sementara lampu halogen kuarsa atau lampu tungsten digunakan untuk daerah visibel (pada panjang gelombang anatar 350 – 900 nm)

ii. Monokromator; digunakan untuk mendispersikan sinar ke dalam komponen-komponen panjang gelombangnya yang selanjutnya akan dipilih oleh celah (slit). Monokromator berputar sedemikian rupa sehingga

(14)

kisaran panjang gelombang dilewatkan pada sampel sebagai scan instrumen melewati spektrum.

iii. Optik-optik; dapat didesain untuk memecah sumber sinar sehingga sumber sinar melewati 2 kompartemen, suatu larutan blanko dapat digunakan dalam suatu kompartemen untuk mengkoreksi pembacaan atau spektrum sampel. Yang paling sering digunakan sebagai blanko dalam spektrofotometri adalah semua pelarut yang digunakan untuk melarutkan sampel atau pereaksi (Rohman, 2009).

Referensi

Dokumen terkait

Turbin yang bergerak karena uap dipergunakan baling baling kapal dan sisa amoniak yang dari turbin menggunakan air dingin dari kedalaman laut yang suhunya C,

dengan nama Lajnah Muraqabah Yanbua cabang Mojokerto sebagai muraqib8. (Koordinator lajnah) Thoriqoh baca tulis dan menghafal Al-Quran

Di kantor inilah Hawking memperoleh pemikiran-pemikiran besarnya (yang pada bagian pemikiran-pemikiran besarnya (yang pada bagian pintunya tertulis HARAP TENANG, BOS

Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2OO5 tentang Dana Perirnbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Untuk menghitung kadar dalam cuplikan digunakan metode komparatif, untuk itu diperlukan cuplikan standar yang mengandung unsur yang akan ditentukan, yang jumlah dan komposisi

0 Sistem Absensi BK guru piket wali murid login data absen data absen info siswa data siswa info absen konfirmasi login login konfirmasi login info absen data siswa data absen

Permainan judi came atau judi (bandar) istilah yang diberikan remaja usia sekolah di Jorong II Nagari Tarung-Tarung Kecamatan Rao Kabupaten Pasaman, pada umumnya

Catatan-catatan akuntansi yang digunakan pada Koperasi Karyawan Sabilal Muhtadin Banjarmasin masih dilakukan secara manual dalam pencatatan dan menggunakan Microsoft