IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN OLEH TIM KOORDINASI PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAERAH (TKPKD) DALAM UPAYA MEWUJUDKAN
PEMBANGUNAN DAERAH
(Studi pada Kecamatan Padang Hulu, Kota Tebing Tinggi)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana S-1 Pada Departemen Ilmu Administrasi Negara
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Disusun Oleh:
DINDA OKTAVIA HARAHAP 130903160
DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2017
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA
HALAMAN PERSETUJUAN Skripsi ini disetujui untuk diperbanyak dan dipertahankan oleh : Nama : Dinda Oktavia Harahap
NIM : 130903160
Departemen : Ilmu Administrasi Negara
Judul : Implementasi Kebijakan Program Penanggulangan Kemiskinan Oleh Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Dalam Upaya Mewujudkan Pembangunan Daerah (Studi pada Kecamatan Padang Hulu, Kota Tebing Tinggi)
Medan, 01 Maret 2017
Dosen Pembimbing Ketua Departemen
Dra. Nurlela Ketaren, MSP
NIP. 195405021982032002 NIP. 195908141986011002 Drs. Rasudyn Ginting, M.Si
Dekan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
NIP. 197409302005011002 Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si
KATA PENGANTAR Bismillahirrahmaanirrahim
Assalaamua’laikum Wr. Wb.
Syukur Alhamdulillah saya ucapkan sebagai rasa terimakasih saya atas segala nikmat, berkah dan kesempatan yang diberikanNya kepada Sang Khalik Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Allah SWT. Tak lupa pula shalawat dan salam saya haturkan kepada Nabi Muhammad SAW. Skripsi ini disusun sebagai bentuk pengembangan kemampuan saya dalam membuat suatu karya ilmiah yang akan menjadi salah satu syarat dalam memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang berjudul “Implementasi Kebijakan Program Penanggulangan Kemiskinan Oleh Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Dalam Upaya Mewujudkan Pembangunan Daerah pada Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi”.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari telah menerima banyak bimbingan, dorongan dan doa dari berbagai pihak. Seiring dengan rasa syukur yang tiada henti kehadirat ALLAH SWT, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Muryanto Amin, S.sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Rasudyn Ginting, M.Si selaku Ketua Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Kepada Ibu Dra. Nurlela Ketaren MSP selaku dosen pembimbing saya yang telah banyak membimbing penulis sejak masa perkuliahan sampai pada penyelesaian skripsi ini yang mana dengan begitu banyaknya kesibukan, beliau masih bersedia meluangkan waktu untuk memberikan masukan berupa nasihat maupun materi yang berguna dalam penulisan skripsi ini.
4. Kepada Dra. Asima Yanti Siahaan, MA. Phd selaku dosen penguji pada seminar proposal yang memberikan kritik dan saran yang membangun bagi penulis.
5. Seluruh dosen di lingkungan Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang telah memberikan bekal berupa ilmu pengetahuan, arahan, dan bimbingan selama penulis menimba ilmu di Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
6. Seluruh jajaran staf di lingkungan Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, khususnya Kak Mega dan Kak Dian atas kelancaran dalam proses administrasi selama penulis menjalani perkuliahan.
7. Bapak Abdul Halim Purba S. STP selaku Camat Padang Hulu dan Bapak Amas Muda, SH selaku Badan Kesbang Pol dan Linmas, Lembaga TKPK Kota T. Tinggi yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan informasi yang penulis butuhkan selama penelitian dan kepada Masyarakat Kec. Padang Hulu yang telah bersedia mengeluarkan pendapatnya terhadap pertanyaan yang diajukan penulis.
8. Secara khusus dan teristimewa kepada keluarga, terutama kedua orangtua yang telah melahirkan dan membesarkan penulis dengan penuh cinta dan kasih sayang sehingga penulis sampai seperti ini, serta selalu memberikan dukungan dan doa yang selalu menjadi pendorong bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Buat papa, yang selalu mengusahakan membantu dinda dalam penelitian tanpa merasa terbebani, buat Mama yang selalu mendoakan dan memberi semangat tanpa henti, buat abang yang membantu dinda dalam mengerjakan skripsi ini. Semoga dinda diberi kesempatan untuk dapat membahagiakan keluarga nantinya.
9. Orang yang paling teristimewa bagi penulis, yaitu Ananda Agung Waskito S.ked, yang selalu menemani, membantu, menyemangati dan mendoakan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
10. Terima kasih kepada Hani Syahida Harahap, Rana Kamila, Amira Fatin, Dinda Fhadillah, Reynaldi Fadhil, dan Akbar Halim yang telah menjadi
sahabat penulis sejak awal perkuliahan. Penulis sangat beruntung memiliki sahabat-sahabat seperti kalian. semoga kita lulus bersama dan sukses nantinya.
11. Sahabat-sahabat penulis yaitu Dayang Azmi Amd, Nanda Ajrina Amd, Prilly Andariska AMd, Refina Nugraheni, dan Uswatun Hasanah terima kasih yang sebesar-besarnya atas kebersamaan yang telah kita jalani selama lebih dari 7 tahun ini. Semoga semua diantara kita menjadi orang yang sukses nantinya.
12. Terimakasih pula kepada Gita Angeline, Ayu Wahyuni, Mella Fitria, Madina, Peselia untuk kekompakannya pada saat PKL dan juga kebersaman selama masa kuliah. Semoga kita semua sukses nantinya.
13. Teman-teman seperjuangan Departemen Administrasi Negara 2013, terima kasih atas kerjasama dan kebersamaan selama ini dalam perkuliahan.
14. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi serta menjalani pendidikan perkuliahan dari awal hingga akhir.
Penulis telah mencurahkan segala kemampuan, tenaga, pikiran begitu juga waktu dalam menyelesaikan skripsi ini. Namun demikian penulis menyadari skripsi ini masih banyak kekurangan, untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan masukan yang membangun dari para pembaca. Besar harapan penulis kiranya skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Akhir kata, saya ucapkan terimakasih.
Billahi Taufiq Walhidayah.
Assalamua’laikum Wr. Wb.
Medan, Februari 2017
Penulis
ABSTRAK
Implementasi Kebijakan Program Penanggulangan Kemiskinan Oleh Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD)
Dalam Upaya Mewujudkan Pembangunan Daerah (Studi Pada Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi) Nama : Dinda Oktavia Harahap
Nim : 130903160
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan : Ilmu Administrasi Negara Pembimbing : Dra. Nurlela Ketaren, MSP
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh beberapa permasalahan yaitu : (1) Bagaimanakah implementasi kebijakan program penanggulangan kemiskinan oleh TKPKD di Kecamatan Padang Hulu Kota T.Tinggi?, (2) Bagaimanakah upaya TKPKD dalam mewujudkan pembangunan daerah di Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi?. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan kebijakan program penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh TKPKD daerah di Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi dan mengetahui upaya TKPKD dalam mewujudkan pembangunan daerah di Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi.
Data dikumpulkan melalui proses wawancara langsung dengan para responden menggunakan panduan wawancara, observasi langsung terhadap masyarakat selaku penerima manfaat dari program penanggulangan kemiskinan oleh TKPKD di Kecamatan Padang Hulu, serta studi dokumentasi atas dokumen- dokumen terkait. Informan dalam penelitian ini terdiri dari Sekretaris TKPKD Kota Tebing Tinggi dan Camat Padang Hulu selaku informan kunci, serta sampel sebanyak 30 orang masyarakat Kecamatan Padang Hulu selaku penerima program penanggulangan kemiskinan.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa : (1) Implementasi kebijakan program penanggulangan kemiskinan oleh TKPKD di Kecamatan Padang Hulu membawa manfaat bagi masyarakat dalam hal perbaikan kualitas kehidupan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, peningkatan pendapatan masyarakat dan akses pelayanan serta penurunan tingkat kemiskinan, (2) Upaya TKPKD dalam mewujudkan pembangunan daerah di Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi adalah dengan melakukan program pemberdayaan masyarakat. Upaya pemberdayaan ini dilakukan untuk mendorong kemandirian dan memotivasi masyarakat agar berusaha dan menentukan pilihan hidupnya sendiri serta tidak hanya bergantung kepada bantuan pemerintah sehingga pembangunan dapat terwujud baik dari segi pembangunan daerahnya maupun dari segi masyarakatnya.
Kata kunci : Implementasi kebijakan, Program Penanggulangan Kemiskinan, TKPK Daerah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
ABSTRAK ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GRAFIK ... ix
DAFTAR BAGAN ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Perumusan Masalah……….. ... 9
1.3 Tujuan Penelitian ... 9
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
1.5 Kerangka Teori... 10
1.5.1 Kebijakan Publik ... 10
1.5.2 Implementasi Kebijakan... 12
1.5.2.1 Tahapan Implementasi Kebijakan ... 13
1.5.2.2 Faktor-faktor Implementasi Kebijakan ... 14
1.5.2.3 Model Implementasi Kebijakan ... 15
1.5.3 Kemiskinan ... 17
1.5.4 Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan... 21
1.5.5 Kebijakan Program Penanggulangan Kemiskinan oleh TKPKD... 23
1.5.5.1 Dasar Hukum ... 23
1.5.5.2 Tugas dan Tanggungjawab ... 24
1.5.5.3 Prinsip utama ... 25
1.5.5.4 Basis sasaran ... 29
1.5.6 Konsep Pemberdayaan ... 30
1.5.6.1 Strategi Pemberdayaan ... 32
1.5.7 Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan ... 34
1.5.8 Pembangunan Daerah... 35
1.5.9 Penelitian Terdahulu ... 38
1.6 Definisi Konsep ... 41
BAB II METODE PENELITIAN 2.1 Bentuk Penelitian ... 43
2.2 Lokasi Penelitian ... 43
2.3 Informan Penelitian ... 43
2.4 Teknik Pengumpulan Data ... 44
2.5 Teknik Analisis Data ... 45
BAB III DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN 3.1 Deskripsi Objek Penelitian ... 47
3.1.1 Gambaran Umum Kecamatan Padang Hulu ... 47
3.1.2 Luas Daerah Kecamatan Padang Hulu ... 47
3.1.3 Jumlah Penduduk Kecamatan Padang Hulu ... 48
3.1.4 Letak dan Keadaan Wilayah Kecamatan Padang Hulu ... 48
3.15 Komposisi Penduduk Kecamatan Padang Hulu ... 51
3.1.6 Sumber Daya Alam Kecamatan Padang Hulu ... 58
3.1.7 Ekonomi Kecamatan Padang Hulu ... 58
3.2 TKPK Daerah Tebing Tinggi ... 59
3.2.1 Visi dan Misi ... 59
3.2.2 Dasar Hukum ... 60
3.2.3 Target Capaian ... 61
3.2.4 Keanggotaan ... 61
3.2.5 Struktur Organisasi ... 63
3.2.6 Program Penanggulangan Kemiskinan yang Telah Dilakukan di Kota Tebing Tinggi Melalui TKPKD ... 64
I. Klaster satu (Program bantuan sosial terpadu berbasis keluarga) ... 64
II.Klaster dua (Program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat) ... 70
III.Klaster tiga(Program penanggulangan kemiskinan pemberdayaan) 71 IV.Klaster empat (Program pemberdayaan lainnya yang sesuai dengan kondisi daerah) ... 73
3.2.7 Kemitraan Dalam Program Penanggulangan Kemiskinan TKPKD ... 78
3.2.8 Rekapitulasi Anggaran Program Penanggulangan Kemiskinan Tahun 2013-2016 ... 87
3.2.9 IPM Kota Tebing Tinggi tahun 2014-2016 ... 94
BAB IV PENYAJIAN DATA 4.1 Identitas Informan ... 97
4.1.1 Klasifikasi Informan Berdasarkan Penerimaan Program Bantuan ... 98
4.2 Implementasi Kebijakan Program Penanggulangan Kemiskinan oleh TKPKD di Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi ... 108
4.3 Upaya TKPKD dalam Mewujudkan Pembangunan Daerah di Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi ... 125
4.4 Rekapitulasi Hasil Wawancara ... 129
4.4.1 Implementasi Kebijakan Program Penanggulangan Kemiskinan oleh TKPKD di Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi ... 129
4.4.2 Upaya TKPKD dalam Mewujudkan Pembangunan Daerah di Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi ... 133
BAB V ANALISA DATA 5.1 Implementasi Kebijakan Program Penanggulangan Kemiskinan oleh TKPKD di Kec. Padang Hulu Kota T.tinggi ... 135
5.2 Upaya TKPKD dalam Mewujudkan Pembangunan Daerah di Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi ... 140
BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan ... 142
6.2 Saran ... 144
DAFTAR PUSTAKA ... xi LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Data Penduduk Miskin Kota T.Tinggi 2010-2016 ... 5
Tabel 1.2 Data Penduduk Miskin Kec. Padang Hulu 2010-2016 ... 6
Tabel 1.3 Penelitian Terdahulu ... 38
Tabel 3.1 Luas Daerah Kec. Padang Hulu ... 47
Tabel 3.2 Jumlah Penduduk Kec. Padang Hulu ... 48
Tabel 3.3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Suku Pada Setiap Kelurahan di Kec. Padang Hulu ... 50
Tabel 3.4 Jumlah Penduduk Keseluruhan Berdasarkan Suku di Kec. Padang Hulu... 51
Tabel 3.5 Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama Pada Setiap Kelurahan di Kec. Padang Hulu ... 52
Tabel 3.6 Jumlah Penduduk Keseluruhan Berdasarkan Agama di Kec. Padang Hulu ... 53
Tabel 3.7 Komposisi Penduduk Bedasarkan Mata Pencaharian Pada Setiap Kelurahan di Kec. Padang Hulu ... 54
Tabel 3.8 Jumlah Penduduk Keseluruhan Berdasarkan Mata Pencaharian di Kec. Padang Hulu ... 55
Tabel 3.9 Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pada Setiap Kelurahan di Kec. Padang Hulu ... 56
Tabel 3.10 Jumlah Penduduk Keseluruhan Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kec. Padang Hulu ... 57
Tabel 3.11 Program Bantuan Sosial Terpadu Berbasis Keluarga (Bantuan Pendidikan) tahun 2014-2016 ... 65
Tabel 3.12 Program Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan UKM (Jumlah Dana KUR Tahun 2014-2016) ... 71
Tabel 3.13 Program Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan UKM (Jumlah Pelaku Usaha KUR Tahun 2014-2016) ... 72
Tabel 3.14 Anggaran Program Dinas Pemberdayaan Perempuan Anak dan KB Tahun 2014-2016 ... 87
Tabel 3.15 Anggaran Bagian Adm Kesra Sekretariat Daerah tahun 2014-2015 ... 87
Tabel 3.16 Anggaran Dinas Pertanian dan Peternakan Tahun 2014-2016 ... 88
Tabel 3.17 Anggaran Dinas Pendidikan... 89
Tabel 3.18 Anggaran Dinas BPMPK ... 90
Tabel 3.19 Anggaran Dinas Kouperindag ... 91
Tabel 3.20 Anggaran Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil ... 92
Tabel 3.21 Anggaran Dinas Sosial dan Tenaga Kerja ... 92
Tabel 3.22 Anggaran Dinas Bagian Perekonomian ... 93
Tabel 3.23 Anggaran Dinas Kesehatan ... 94 Tabel 3.24 Perkembangan dan Komponen IPM Kecamatan Kota Tebing Tinggi
Tahun 2013-2016 ... 96
Tabel 4.1 Identitas Informan Kunci ... 98
Tabel 4.2 Bantuan Modal Usaha ... 98
Tabel 4.3 Bantuan Tempat Tinggal ... 99
Tabel 4.4 Bantuan Peternakan dan Pertanian ... 100
Tabel 4.5 Bantuan Pemberdayaan Berupa Pogram Pelatihan ... 101
Tabel 4.6 Bantuan Pendidikan ... 102
Tabel 4.7 Bantuan Kesehatan ... 102
Tabel 4.8 Bantuan Raskin ... 103
Tabel 4.9 Identitas Informan Berdasarkan Jumlah Penerima Bantuan ... 103
Tabel 4.10 Identitas Informan Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir ... 104
Tabel 4.11 Identitas Informan Berdasarkan Jenis Kelamin ... 105
Tabel 4.12 Identitas Informan Berdasarkan Usia ... 105
Tabel 4.13 Identitas Informan Berdasarkan Pekerjaan ... 106
Tabel 4.14 Identitas Informan Berdasarkan Penghasilan Per Bulan ... 107
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1.1 Grafik Tingkat Kemiskinan Kota Tebing Tinggi
Tahun 2010-2016 ... 5 Grafik 1.2 Grafik Tingkat Kemiskinan Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing
Tinggi Tahun 2010-2016 ... 6 Grafik 3.1 Indeks Pembangunan Manusia Kota Tebing Tinggi
Tahun 2013-2016 ... 96
DAFTAR BAGAN
Bagan 3.1 Struktur Organisasi TKPK Daerah ... 63
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu sasaran pembangunan nasional adalah menurunkan tingkat kemiskinan. Kemiskinan merupakan masalah yang selalu dihadapi seluruh negara di dunia. Mengatasi masalah kemiskinan tidak dapat dilakukan secara terpisah dari masalah pengangguran, pendidikan, kesehatan dan masalah-masalah lain yang berkaitan erat dengan masalah kemiskinan. Kemiskinan bukanlah merupakan fenomena ekonomi semata, menurut Kusuma dalam Jurnal Analis Sosial (2002: 169), kemiskinan juga terkait dengan politik, sosial, budaya yang ada pada masyarakat. Dimensi politik muncul saat tidak dimilikinya wadah organisasi yang mampu memperjuangkan aspirasi dan kebutuhan kaum miskin.
Hal ini mengakibatkan mereka tersingkir dari proses pengambilan keputusan yang menyangkut diri mereka sendiri. Lebih jauh lagi mereka tidak mempunyai akses untuk usaha yang mereka lakukan termasuk informasi yang dibutuhkan untuk peningkatan taraf hidup secara layak. Dimensi sosial muncul dalam bentuk tidak terintegrasikannya masyarakat dalam institusi sosial yang ada. Demikian pula halnya budaya, tidak terinternalisasikannya budaya memerangi kemiskinan yang akhirnya merusak kualitas dan etos kerja yang mereka jalani. Sementara itu, dari dimensi ekonomi kemiskinan terlihat dalam bentuk rendahnya penghasilan, sehingga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup sampai batas yang layak. Dan pada akhirnya berujung pada dimensi asset yang ditandai dengan rendahnya kepemilikan masyarakat miskin.
Menurut M. Nasir dkk (2008) upaya pengentasan kemiskinan harus dilakukan secara komprehensif, mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat, dan dilaksanakan secara terpadu. Penanggulangan kemiskinan adalah kebijakan dan program pemerintah pusat serta pemerintah daerah yang dilakukan secara sistematis, terencana dan bersinergi dengan dunia usaha dan masyarakat untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dalam rangka meningkatkan derajat kesejahteraan rakyat. Program-program penanggulangan kemiskinan telah direalisasikan, namun banyak menemui jalan buntu. Hal ini ditunjukkan dengan angka pengangguran yang belum bisa ditekan dan bahkan makin meningkat di beberapa daerah, angka anak putus sekolah semakin meningkat, kesehatan yang semakin memburuk, infrastruktur yang kurang dan pada akhirnya akan mempengaruhi pendapatan masyarakat dan perekonomian sebuah daerah dan negara. Salah satu tantangan pengentasan kemiskinan adalah bagaimana mengikutsertakan masyarakat secara aktif dalam proses pembangunan. Sebab pembangunan tanpa partisipasi masyarakat hanya akan menimbulkan ketergantungan dan masyarakat hanya menjadi objek dalam proses pembangunan.
Selama ini banyak program pembangunan dari pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi kasus kemiskinan. Program tersebut seperti Inpres Desa Tertinggal (IDT), pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT), Raskin, P2KP PNPM, dan lain-lain. Menurut Naibaho (2007), penanggulangan kemiskinan yang selama ini terjadi memperlihatkan beberapa kekeliruan paradigmatik. Pertama, masih berorientasi pada aspek ekonomi daripada aspek dimensional.
Penanggulangan kemiskinan dengan fokus perhatian pada aspek ekonomi terbukti mengalami kegagalan, karena pengentasan kemiskinan yang direduksi dalam soal-
soal ekonomi tidak akan mewakili persoalan kemiskinan yang sebenarnya. Dalam konteks budaya, orang miskin diindikasikan dengan terlembaganya nilai-nilai seperti apatis, apolitis, fatalistik (putus asa), ketidakberdayaan, dan sebagainya.
Sementara dalam konteks dimensi struktural atau politik, orang yang mengalami kemiskinan ekonomi pada hakekatnya karena mengalami kemiskinan strukutral dan politis. Kedua, lebih bernuansa karikatif (kemurahan hati) ketimbang produktivitas. Penanggulangan kemiskinan yang hanya didasarkan atas karikatif, tidak akan memuncul dorongan dari masyarakat miskin sendiri untuk berupaya bagaimana mengatasi kemiskinannya. Mereka akan selalu menggantungkan diri pada bantuan yang diberikan pihak lain. Padahal program penanggulangan kemiskinan seharusnya diarahkan agar mereka menjadi produktif. Ketiga, memposisikan masyarakat miskin sebagai objek daripada subjek. Seharusnya mereka dijadikan sebagai subjek yaitu sebagai pelaku perubahan yang aktif terlibat dalam aktivitas program penanggulangan kemiskinan. Keempat, pemerintah sebagai penguasa daripada fasilitator. Pemerintah semestinya bertindak sebagai fasilitator, yang tugasnya mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki masyarakat.
Keseriusan pemerintah untuk mensejahterakan rakyat setidaknya terlihat dalam perubahan asas penyelenggaraan pemerintahan yaitu asas desentralisasi yang dioperasionalkan dalam kebijakan otonomi daerah yang mulai digulirkan pada tahun 1999. Suatu kesadaran baru muncul untuk lebih menegakkan kedaulatan rakyat, demokratisasi pemerintahan dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Desentralisasi berarti kebijakan penuh ada pada daerah masing- masing, diharapkan pemerintah daerah akan lebih dekat kepada masyarakat lokal,
memahami kebutuhan rakyat kecil, serta terwujudnya pelayanan publik yang lebih ramah dan tanggap terhadap rakyat kecil. Desentralisasi sangat relevan dengan agenda kesejahteraan dan penanggulangan kemiskinan. Pemerintah daerah sebagai representasi negara dapat menggandeng swasta untuk memacu pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus memfasilitasi mereka dalam menggerakkan ekonomi rakyat dalam rangka menciptakan pemerataan. Pembangunan nasional diharapkan mampu menetes ke daerah-daerah dengan sendirinya, merata sampai pada daerah yang terpencil sekalipun (tricle down effect). Dengan demikian, keberadaan Pemerintah daerah yang akuntabel dan responsif yang didukung oleh partisipasi penuh rakyat akan memungkinkan terjadinya proses pengurangan kemiskinan dan terwujudnya pembangunan daerah.
Kota Tebing Tinggi merupakan Kota yang juga melaksanakan kebijakan percepatan penanggulangan kemiskinan, hal tersebut dilakukan karena penanggulangan kemiskinan sesuai dengan agenda dari Pemerintah Kota Tebing Tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menurunkan tingkat kemiskinan. Kota Tebing Tinggi terdiri dari 5 kecamatan yakni Kecamatan Tebing Tinggi Kota, Padang Hulu, Padang Hilir, Rambutan dan Bajenis. Adapun perkembangan tingkat kemiskinan periode 2010-2016 di Kota Tebing Tinggi sebagai berikut:
Tabel 1.1
Data Penduduk Miskin Kota Tebing Tinggi Tahun 2010-2016 Tahun Populasi
(Jiwa)
Jumlah Penduduk Miskin (Jiwa)
Persentase (%)
2010 145.180 18.900 13,02%
2011 146.606 18.300 12,48%
2012 147.200 18.256 12,40%
2013 147.761 18.220 12,33%
2014 154.804 18.178 11,74%
2015 155.900 18.159 11,64%
2016 156.200 18.000 11,52%
Sumber : BPS Kota Tebing Tinggi
Grafik 1.1
Grafik Tingkat Kemiskinan Kota Tebing Tinggi Tahun 2010-2016
Sumber : BPS Kota Tebing Tinggi
Dari data di atas dapat dilihat bahwa tingkat kemiskinan di Kota Tebing Tinggi pada tahun 2010-2016 mengalami penurunan setiap tahunnya walaupun jumlah penduduknya terus bertambah. Tingkat kemiskinan paling rendah terdapat pada tahun 2016 yaitu sebesar 18.000 jiwa (11,52%) dari total populasi 156.200 jiwa. Hal ini membuktikan keseriusan pemerintah daerah untuk menurunkan tingkat kemiskinan di Kota Tebing Tinggi. Penelitian kali ini akan lebih difokuskan pada salah satu Kecamatan di Kota Tebing Tinggi yaitu Kecamatan
145180 146606 147200 147761 154804 155900 156200 18900 18300 18256 18220 18178 18159 18000 13,02%
12,48% 12,40% 12,33%
11,74% 11,64% 11,52%
10,50%
11,00%
11,50%
12,00%
12,50%
13,00%
13,50%
0 50000 100000 150000 200000
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Jlh Penduduk Jlh Penduduk Miskin Persentase
Padang Hulu untuk melihat usaha pemerintah daerah dalam melakukan upaya memperbaiki taraf kehidupan masyarakat dan menanggulangi kemiskinan di Kecamatan Padang Hulu dan menilai apakah upaya itu mampu diwujudkan dengan baik, adil dan merata demi terwujudnya pembangunan di Kecamatan ini.
Adapun perkembangan tingkat kemiskinan di Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi periode 2010-2016 dapat dilihat dalam tabel berikut ini :
Tabel 1.2
Data Penduduk Miskin di Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi Tahun 2010-2016
Tahun Populasi (Jiwa)
Jumlah Penduduk Miskin(Jiwa)
Persentase (%)
2010 26.714 3.780 14,14%
2011 26.969 3.660 13,57%
2012 27.202 3.600 13,23%
2013 27.490 3.600 13,09%
2014 29.021 3.460 11,92%
2015 29.674 3.440 11,59%
2016 30.594 3.430 11,21%
Sumber : BPS Kota Tebing Tinggi
Grafik 1.2
Grafik Tingkat Kemiskinan Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi Tahun 2010-2016
Sumber : BPS Kota Tebing Tinggi
26714 26969 27202 27490 29021 29674 30594 3780 3660 3600 3600 3460 3440 3460 14,14% 13,57% 13,23% 13,09% 11,92% 11,59% 11,21%
0,00%
5,00%
10,00%
15,00%
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Jlh Penduduk Jlh Penduduk Miskin Persentase
Dari data di atas dapat dilihat bahwa tingkat kemiskinan di Kecamatan Padang Hulu juga mengalami penurunan dari tahun ke tahun meskipun jumlah penduduk bertambah. Dapat dilihat bahwa tahun 2016 menjadi tahun dengan tingkat kemiskinan terendah yaitu 3.430 jiwa (11,21%) dari total populasi 30.594 jiwa. Pemerintah Kota Tebing Tinggi melakukan berbagai cara untuk melakukan penurunan tingkat kemiskinan di seluruh wilayahnya termasuk pada tingkat Kecamatan dan Kelurahan.
Untuk mengoptimalkan berbagai strategi penanggulangan kemiskinan dalam rangka pembangunan setiap daerah di Indonesia, pemerintah pusat membentuk TNP2K yang merupakan program lanjutan dari program-program sebelumnya yang diharapkan menjadi program jangka panjang penanggulangan kemiskinan. Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dibentuk pada awal tahun 2010 melalui Perpres Nomor 15 untuk merespon situasi melambatnya penurunan tingkat kemiskinan dan meningkatnya kesenjangan.
Perpres tersebut diikuti dengan terbitnya Peraturan Menteri No. 42 tahun 2010 tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Mandat utama yang diberikan kepada TNP2K adalah untuk peningkatan efektitas program penanggulangan kemiskinan, mencakup (i) perbaikan penetapan sasaran program-program penanggulangan kemiskinan, (ii) perbaikan desain dan mekanisme distribusi program, (iii) peningkatan koordinasi antar lembaga untuk peningkatan efektivitas program, dan (iv) pengawasan dan pengendalian pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan.
Berdasarkan pada Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2005 tentang pembentukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan tujuan program ini
adalah untuk mempercepat proses pengurangan jumlah penduduk miskin di seluruh wilayah Indonesia melalui sinkronisasi dan koordinasi penyusunan dan pelaksanaan kebijakan penanggulangan kemiskinan sehingga ditindaklanjuti dengan pembentukannya ditingkat daerah yaitu Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) yang berfungsi sebagai wadah koordinasi lintas sektoral dan lintas pemangku kepentingan untuk penanggulangan kemiskinan di tingkat daerah masing-masing sekaligus mengendalikan pelaksanaan kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan yang sesuai dengan Keputusan Tim Nasional. Pembentukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) ini telah diresmikan di Kota Tebing Tinggi pada tahun 2013. Program yang diterapkan oleh TKPKD diharapkan mampu menanggulangi masalah kemiskinan dan diharapkan masyarakat tidak menjadi objek melainkan subjek dari perubahan demi terwujudnya prinsip pembangunan berpusat pada rakyat khususnya di Kecamatan Padang Hulu
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Kebijakan Program Penanggulangan Kemiskinan Oleh Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Dalam Upaya Mewujudkan Pembangunan Daerah (Studi pada Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi)”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka permasalahan yang akan diangkat pada penelitian ini yaitu
1. Bagaimana implementasi kebijakan program penanggulangan kemiskinan oleh Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) di Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi?
2. Bagaimana upaya Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) dalam mewujudkan pembangunan daerah di Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang ada, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pelaksanaan kebijakan program penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) dan melihat perubahan kondisi kehidupan masyarakat di Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi.
2. Untuk mengetahui upaya Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) dalam mewujudkan pembangunan daerah dan perubahan yang lebih baik di Kecamatan Padang Hulu Kota Tebing Tinggi.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Secara akademis, diharapkan penulisan ini dapat menjadi referensi dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan bagi peneliti yang berkeinginan menganalisa permasalahan serta fokus penelitian yang sama.
2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi praktisi pelayan publik dalam menentukan kebijakan dan memberikan informasi yang berguna terkait dengan penanggulangan kemiskinan.
1.5 Kerangka Teori
Suatu kerangka teoritis sangat diperlukan sebagai pedoman dalam menganalisa atau memecahkan suatu permasalahan. Suyanto (2005 : 34) mengatakan untuk memudahkan penelitian diperlukan pedoman berfikir yaitu kerangka teori sebagai landasan berfikir untuk menggambarkan dari sudut mana peneliti menyoroti masalah yang dipilih.
1.5.1 Kebijakan Publik
Kebijakan adalah suatu ucapan atau tulisan yang memberikan petunjuk umum tentang penetapan ruang lingkup yang memberi batas dan arah umum kepada seseorang untuk bergerak. Secara etimologis, kebijakan adalah terjemahan dari kata policy. Kebijakan dapat juga berarti sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak.
Kebijakan dapat berbentuk keputusan yang dipikirkan secara matang dan hati-hati oleh pengambil keputusan puncak dan bukan kegiatan-kegiatan
berulang yang rutin dan terprogram atau terkait dengan aturan-aturan keputusan (William N. Dunn 2000:22-25). Menurut Budiardjo (1988) kebijakan adalah sekumpulan keputusan yang diambil oleh seorang pelaku atau kelompok politik dalam usaha memilih tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut.
Secara umum, istilah “kebijakan” atau “policy” dipergunakan untuk menunjuk perilaku seorang aktor (misalnya seorang pejabat, suatu kelompok maupun suatu lembaga pemerintah) atau sejumlah aktor dalam suatu bidang kegiatan tertentu. (Budi Winarno 2002 ; 14). Menurut Charles O. Jones, (1991, 269) kebijakan adalah keputusan-keputusan pemerintah untuk memecahkan masalah yang diutarakan atau dapat juga kebijakan diartikan sebagai suatu keputusan untuk mengakhiri atau menjawab pertanyaan yang diajukan kepada kita. Penekanan aktivitas birokrasi pemerintah pada proses kebijakan publik lebih pada tahapan implementasi dengan menginterprestasikan kebijaksananan menjadi program, proyek dan aktivitas. (Tangkilisan, 2003. Hal 2-3) Menurut Charles O Jones, bahwa kebijakan publik terdiri dari komponen-komponen yaitu : (1) Goal atau tujuan yang diinginkan, (2) Plans atau proposal yaitu pengertian yang spesipik untuk mencapai tujuan, (3) Programs yaitu upaya yang berwenang untuk mencapai tujuan, (4) Decision atau keputusan yaitu tindakan untuk menentukan tujuan, membuat rencana, melaksanakan dan mengevaluasi program, (5) Efek yaitu akibat dari program baik yang sengaja atua tidak sengaja. Meskipun terdapat berbagai defenisi kebijakan publik yang telah dikemukakan diatas, namun dapat ditarik suatu
kesimpulan bahwa kebijakan publik adalah suatu serangkaian tindakan yang ditetapkan dan dilaksanakan oleh pemerintah yang mempunyai tujuan dan berorientasi pada tujuan dan kepentingan masyarakat.
1.5.2 Implementasi Kebijakan
Implementasi kebijakan merupakan rangkaian kegiatan setelah suatu kebijakan dirumuskan. Implementasi kebijakan merupakan tahapan yang sangat penting dalam proses kebijakan. Artinya implementasi kebijakan menentukan keberhasilan suatu proses kebijakan dimana tujuan serta dampak kebijakan dapat dihasilkan dari penerapannya.Manfaat implementasi kebijakan adalah sebagai suatu kegiatan yang mencakup usaha-usaha untuk mengubah atau menjalankan keputusan menjadi tindakan operasional dalam kurun waktu tertentu maupun dalam rangka melanjutkan usaha-usaha untuk mencapai perubahan-perubahan besar dan kecil yang ditetapkan oleh keputusan kebijakan.
Van Meter dan Van Horn (dalam Leo Agustino, 2006) mendefinisikan implementasi kebijakan sebagai tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu atau pejabat-pejabat atau kelompok- kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan- tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijaksanaan.Sedangkan, Syaukani dkk (2004 : 295) implementasi merupakan suatu rangkaian aktivitas dalam rangka menghantarkan kebijakan kepada masyarakat sehingga kebijakan tersebut dapat membawa hasil sebagaimana diharapkanyang pada dasarnya keputusan itu harus mengabdi pada
kepentingan masyarakat dan dapat membawa perubahan serta kesejahteraan. Islamy (1992:20) mengemukakan pendapatnya bahwa kebijakan pemerintah adalah serangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah yang mempunyai tujuan atau berorientasi pada tujuan tertentu untuk kepentingan seluruh masyarakat.Konsep implementasi kebijakan mengarah pada suatu aktivitas atau suatu kegiatan yang dinamis dan bertanggung jawab dalam melaksanakan program serta menetapkan tujuan dari kebijakan tersebut sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil yang sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri.Syukur dalam Surmayadi (2005:79) mengemukakan adanya tiga unsur penting dalam mengimplementasikan kebijakan, yaitu adanya program atau kebijakan yang sedang dilaksanakan. Selanjutnya kelompok sasaran, yaitu kelompok masyarakat yang menjadi sasaran dan ditetapkan untuk manfaat dari program, perubahan atau perbaikan dan yang terakhir unsur pelaksana baik organisasi atau individu yang bertanggung jawab untuk memperoleh pelaksanaan dan pengawasan proses implementasi.
1.5.2.1 Tahapan Implementasi Kebijakan
Untuk mengefektifkan implementasi kebijakan yang ditetapkan, maka diperlukan adanya tahap-tahap implementasi kebijakan. M. Irfan Islamy (1992, 102-106) membagi tahap implementasi dalam dua bentuk, yaitu:
a. Bersifat self-executing, yang berarti bahwa dengan dirumuskannya dan disahkannya suatu kebijakan maka
kebijakan tersebut akan terimplementasikan dengan sendirinya, misalnya pengakuan suatu negara terhadap kedaulatan negara lain.
b. Bersifat non self-executing, yang berarti bahwa suatu kebijakan publik perlu diwujudkan dan dilaksanakan oleh berbagai pihak supaya tujuan pembuatan kebijakan tercapai. Dalam konteks ini kebijakan pemberdayaan masyarakat miskin termasuk kebijakan yang bersifat non- self-executing, karena perlu diwujudkan dan dilaksanakan oleh berbagai pihak supaya tujuan tercapai.
1.5.2.2 Faktor-Faktor Keberhasilan Implementasi Kebijakan Suatu Program
Menurut Budiani (2007) dalam jurnalnya yang berjudul
“Efektivitas program penanggulangan pengangguran Karang taruna “Eka Taruna Bhakti” desa Sumerta Kelod Kecamatan Denpasar Timur Kota Denpasar“ menyatakan bahwa untuk mengukur keberhasilanimplementasi kebijakan suatu program dapat dilakukan dengan menggunakan variabel-variabel sebagai berikut:
1. Ketepatan sasaran kebijakan program
Yaitu sejauhmana program tersebut tepat dengan sasaran yang sudah ditentukan sebelumnya.
2. Sosialisasi kebijakan program
Yaitu kemampuan penyelenggara program dalam melakukan sosialisasi program sehingga informasi mengenai pelaksanaan program dapat tersampaikan kepada masyarakat pada umumnya dan sasaran program pada khususnya.
3. Tujuan kebijakan program
Yaitu sejauhmana kesesuaian antara hasil pelaksanaan program dengan tujuan program yang telah ditetapkan sebelumnya.
4. Pemantauan kebijakan program
Yaitu pemantauan kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan serta evaluasi sebuah program.
1.5.2.3 Model Implementasi Kebijakan
Smith (1973:202-205) mengidentifikasi empat variabel yang mempengaruhi proses implementasi kebijakan ideal, yaitu:
1. Kebijakan (Program) Ideal (idealized Policy)
Kebijakan ideal diartikan sebagai pola interaksi yang ideal dimana pembuat kebijakan yang berusaha untuk menginduksikan pola tersebut. Ada 4 indikator yang berpengaruh dalam kebijakan ideal, yaitu :
a. Kebijakan resmi
b. Jenis kebijakan, dapat dibagi menjadi tiga, kebijakan yang mungkin kompleks atau sifatnya sederhana.
1. Kebijakan dapat dikategorikan sebagai organisasi atau non-organisasi.
2. Kebijakan juga dapat diklasifikasikan sebagai berikut : distributif, redistributif, peraturan.
3. Peraturan sendiri atau simbol emosi.
c. Program meliputi 3 aspek yaitu :
1. Intensitas dukungan yang berkaitan dengan seberapa jauh komitmen pemerintah untuk pelaksanaan kebijakan.
2. Sumber kebijakan berkaitan dengan sumber kebijakan yang dirumuskan apakah berasal dari kebutuhan dan tuntutan dalam masyarakat.
3. Lingkup dimaksudkan mengenai lingkup dalam pelaksanaan kebijakan.
d. Gambaran kebijakan meliputi gambaran-gambaran dari kelompok sasaran dan para implementator terhadap kebijakan.
2. Kelompok sasaran (Target group)
Kelompok sasaran didefinisikan sebagai orang-orang yang paling dipengaruhi oleh kebijakan atau orang orang yang menjadi sasaran dalam kebijakan. Beberapafaktor yang berkaitan dengan kelompok sasaran, yaitu :
1. Tingkat organisasi atau pelembagaan kelompok sasaran
2. Pimpinan kelompok sasaran
3. Pengalaman kebijakan sebelumnya dari kelompok sasaran
3. Organisasi pelaksana (implementing organization)
Organisasi pelaksana adalah orang-orang yang bertanggungjawab atas pelaksana kebijakan. Organisasi pelaksana dalam hal ini, adalah badan-badan pelaksana atau unit-unit birokrasi pemerintah. Ada 3 variabel yang berpengaruh dalam pelaksanaan kebijakan, yaitu :
1. Struktur dan personil
2. Pimpinan organisasi administrasi 3. Pelaksanaan program dan kapasitas 4. Faktor lingkungan (environmental factors)
Faktor lingkungan merupakan faktor-faktor yang dapat berpengaruh dalam pelaksanaan kebijakan. Faktor lingkungan meliputi kondisi lingkungan sosial, budaya, ekonomi dan politik.
1.5.3 Kemiskinan
Makna kemiskinan menurut Suparlan (2004 : 315) sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang rendah ini secara langsung nampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan, kehidupan moral dan rasa harga diri mereka
yang tergolong sebagai orang miskin. Menurut Ritonga (2003),kemiskinan adalah kondisi kehidupan yang serba kekurangan yang dialami seorang atau rumah tangga sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan minimal atau yang layak bagi kehidupannya. Kebutuhan dasar minimal yang dimaksud adalah yang berkaitan dengan kebutuhan pangan, sandang, perumahan dan kebutuhan sosial yang diperlukan oleh penduduk atau rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak.
Sedangkan menurut Mardimin (1996 : 20), secara kualitatif, definisi kemiskinan adalah suatu kondisi yang didalamnya hidup manusia tidak layak sebagai manusia, sedangkan ecara kuantitatif, kemiskinan adalah suatu keadaan dimana hidup manusia serba kekurangan, atau dengan bahasa yang tidak lazim tidak berharta benda.
Dari definisi para ahli diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup yang layak seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan, pekerjaan dan lainnya.Selama ini kemiskinan diasumsikan bahwa orang miskin tidak mampu menolong dirinya sendiri. Kemiskinan dipandang sebagai gejala rendahnya kesejahteraan.
Indikator-indikator kemiskinan menurut Badan Pusat Statistika, antara lain :
1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandang, pangan dan papan).
2. Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi).
3. Tidak adanya jaminan masa depan (karena tidak adanya investasi untuk pendidikan dan keluarga).
4. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa.
5. Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam.
6. Kurangnya apresiasi dalam kegiatan sosial masyarakat.
7. Tidak adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
8. Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
9. Ketidakmampuan dan ketidaktergantungan sosial (anak-anak terlantar, wanita korban kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marginal dan terpencil
Acuan dari BPS tentang 14 kriteria keluarga miskin, yaitu:
1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang
2. Jenis lantai bangunan tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan.
3. Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.
4. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain.
5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.
6. Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan.
7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah.
8. Hanya mengkonsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam seminggu.
9. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun.
10. Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari.
11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/poliklinik.
12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 0, 5 ha. Buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp 600.000 per bulan.
13. Pendidikan tertinggi kepala kepala rumah tangga: tidak sekolah/tidak tamat SD/hanya SD.
14. Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan nilai Rp 500.000, seperti: sepeda motor (kredit/non kredit), emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.
1.5.4 Kebijakan Program Penanggulangan Kemiskinan
Kebijakan penanggulangan kemiskinan adalah kebijakan dan program pemerintah pusat serta pemerintah daerah yang dilakukan secara sistematis, terencana dan saling berkoordinasi ataupun bersinergi dengan dunia usaha dan masyarakat untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dalam rangka meningkatkan derajat kesejahteraan rakyat.
Penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan mempertimbangkan empat prinsip utama penanggulangan kemiskinan yang komprehensif, dengan tujuan yaitu (i) perbaikan dan pengembangan sistem perlindungan sosial; (ii) peningkatan akses pelayanan dasar; (iii) pemberdayaan kelompok masyarakat miskin; dan (iv) pembangunan yang inklusif.
Mengacu kepada prinsip utama tersebut, penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan strategi yang bermanfaat untuk (i) mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin; (ii) meningkatkan kemampuan dan pendapatan masyarakat miskin; (iii) mengembangkan dan menjamin keberlanjutan usaha mikro serta kecil; dan (iv) membentuk sinergi kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan.
Strategi tersebut dijalankan dengan berbagai program penanggulangan kemiskinan yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, serta masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin melalui bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan usaha ekonomi mikro dan kecil, serta program lain dalam rangka meningkatkan kegiatan ekonomi. Dalam
menjalankan sebuah kebijakan penanggulangan kemiskinan diperlukan adanya koordinasi, sesuai dengan Perpres no 13 tahun 2009 tentang koordinasi penanggulangan kemiskinan bahwa untuk meningkatkan koordinasi yang meliputi sinkronisasi, harmonisasi dan integritas berbagai program dan kegiatan penanggulangan kemiskinan, perlu dilakukan penguatan kelembagaan yang menangani koordinasi penanggulangan kemiskinan baik di tingkat Pusat maupun Daerah dengan menyempurnakan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2005 tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan.
Menurut Jones (Tangkilisan, 2003:18), untuk mengukur apakah implementasi programefektif atau tidak dapat dilihat dari dimensi, yaitu:
a. Efisiensi dan efektivitas, dalam arti kebijakan dan program telah mencapai dengan biaya dan kelembagaan yang ada. Kriteria ini penting dalam menilai sejauh mana operasidan teknis kelembagaanya efektif dan efisien dalam menyediakan jasa dan barang layanan itu sampai ke tangan pengguna/masyarakatdengan tepat waktu dan dalam mutu yang dapat diterima.
b. Kebijakan juga dapat diukur dari sejauh mana dampak program tersebut kepada pemecahan masalah kemiskinan. Hal ini antara lain dapat dilihat dari berbagai indikator yang relevan seperti jumlah penerimanya, apakah terjadi penurunan kemiskinan dan sebagainya yang dilihat dari evaluasinya, mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan.
1.5.5 Kebijakan Program Penanggulangan Kemiskinan oleh TKPK 1.5.5.1 Dasar Hukum
Selain mengamanatkan pembentukan TNP2K di tingkat pusat, Perpres No. 15 tahun 2010 juga mengamanatkan pembentukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) di tingkat Provinsi dan Kabupaten Kota.
Pemerintah melalui Perpres No. 15 tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan mengamanatkan pembentukan TKPK Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota).
Lembaga ini berfungsi sebagai mitra kerja TNP2K, yang dibentuk di tingkat nasional dengan Perpres yang sama.
Tim ini merupakan tim lintas sektor dan lintas pemangku- pemangku kepentingan di tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota untuk melakukan percepatan penanggulangan kemiskinan di masing-masing tingkat daerah yang bersangkutan. Struktur kelembagaan dan mekanisme kerja TKPK kemudian diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 42 tahun 2010.
1.5.5.2 Tugas dan Tanggung jawab
TKPKD memiliki tugas dan tanggungjawab untuk melakukan koordinasi penanggulangan kemiskinan di daerah (Provinsi, Kabupaten dan Kota) dan mengendalikan pelaksanaan
penanggulangan kemiskinan di daerah (Provinsi, Kabupaten dan Kota). Upaya peningkatan keefektifan program penanggulangan kemiskinan oleh TKPK mencakup (i) perbaikan penetapan sasaran program-program penanggulangan kemiskinan, (ii) perbaikan desain dan mekanisme distribusi program, (iii) peningkatan koordinasi antar lembaga untuk peningkatan efektivitas program, dan (iv) pengawasan dan pengendalian pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan.
Dalam pelaksanaannya, TKPKD dituntut untuk :
1. Mendorong proses perencanaan dan penganggaran sehingga menghasilkan anggaran yang efektif untuk penanggulangan kemiskinan.
2. Melakukan pemantauan program penanggulangan kemiskinan di daerah.
3. Menyampaikan laporan hasil rapat koordinasi TKPKD, paling sedikit 3 kali setahun (Pasal 25 Permendagri No. 42 tahun 2010) dan hasil pelaksanaan penanggulangan kemiskinan di daerah kepada Wakil Presiden selaku Ketua TNP2K (Pasal 27 Permendagri No. 42 tahun 2010).
4. Memantau situasi dan kondisi kemiskinan di daerah secara mandiri dan institusional TKPK Daerah.
5. Melakukan analisis besaran pengeluaran pemerintah daerah sehingga efektif untuk penanggulangan kemiskinan (APBN dan APBD).
6. Melakukan koordinasi pelaksanaan dan pengendalian program penanggulangan kemiskinan yang dilakukan di daerah.
1.5.5.3 Prinsip Utama Penanggulangan Kemiskinan TKPKD Secara nasional maupun di tingkat daerah, penanggulangan kemiskinan harus dilakukan dengan mempertimbangkan 4 prinsip utama penanggulangan kemiskinan yang komprehensif, sebagaimana terdapat dalam buku panduan TKPK daerah (hal 53-56), yaitu :
1. Memperbaiki Program Perlindungan Sosial
Prinsip pertama adalah memperbaiki dan mengembangkan sistem perlindungan sosial bagi penduduk miskin dan rentan miskin. Perlindungan sosial terdiri atas bantuan sosial dan sistem jaminan sosial. Bantuan sosial diberikan kepada mereka yang sangat rentan, seperti mereka yang hidup dalam kemiskinan absolut, cacat, lanjut usia, atau mereka yang hidup di daerah terpencil. Tingginya tingkat kerentanan menyebabkan tingginya kemungkinan penduduk menjadi miskin. Untuk mencegah semakin besarnya kemungkinan itu, perlu dilaksanakan suatu program bantuan sosial untuk melindungi mereka yang tidak miskin agar tidak menjadi miskin dan mereka yang sudah miskin agar tidak menjadi lebih miskin. Di lain pihak, jaminan sosial dimaksudkan untuk membantu individu dan masyarakat dalam menghadapi goncangan (shocks) dalam kehidupan mereka,
seperti jatuh sakit, kematian anggota keluarga, kehilangan pekerjaan, ditimpa bencana dan sebagainya. Sistem jaminan sosial yang efektif akan mengantisipasi kemungkinan individu atau masyarakat yang mengalami goncangan tersebut menjadi jatuh miskin.
2. Meningkatkan Akses Pelayanan Dasar
Prinsip kedua adalah meningkatkan akses kelompok masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar. Akses terhadap pelayanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, air bersih dan sanitasi, serta pangan dan gizi akan membantu mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh kelompok masyarakat miskin. Di sisi lain, peningkatan akses terhadap pelayanan dasar mendorong peningkatan investasi modal manusia (human capital). Salah satu bentuk peningkatan akses pelayanan dasar penduduk miskin yang terpenting adalah peningkatan akses pendidikan. Pendidikan harus diutamakan mengingat dalam jangka panjang bidang ini efektif untuk mendorong penduduk miskin keluar dari kemiskinan. Kesenjangan pelayanan pendidikan antara penduduk miskin dan tidak miskin akan melestarikan kemiskinan melalui pewarisan kemiskinan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Anak-anak dari keluarga miskin yang tidak dapat mencapai tingkat pendidikan yang cukup sangat mungkin untuk tetap miskin sepanjang hidupnya. Selain pendidikan, peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan juga merupakan kunci
peningkatan investasi modal manusia. Status kesehatan yang lebih baik, akan meningkatkan produktivitas penduduk miskin dalam bekerja dan berusaha. Hal ini akan memperbesar peluang mereka memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dan keluar dari kemiskinan. Peningkatan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak merupakan unsur penting dalam memperbaiki derajat kesehatan. Konsumsi air minum yang tidak layak dan buruknya sanitasi perumahan meningkatkan kerentanan individu dan kelompok masyarakat terhadap penyakit.
3. Memberdayakan Kelompok Masyarakat Miskin
Prinsip ketiga adalah upaya memberdayakan penduduk miskin dalam rangka meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan penanggulangan kemiskinan. Dalam upaya penanggulangan kemiskinan sangat penting untuk tidak memperlakukan penduduk miskin semata-mata sebagai obyek pembangunan. Upaya untuk memberdayakan penduduk miskin perlu dilakukan agar penduduk miskin dapat berupaya keluar dari kemiskinan dan tidak jatuh kembali ke dalam kemiskinan. Dengan memperhatikan pemberdayaan masyarakat diharapkan upaya penanggulangan kemiskinan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat miskin di masing-masing daerah.
4. Pembangunan Inklusif
Pembangunan yang inklusif diartikan sebagai pembangunan yang melibatkan sekaligus memberi manfaat kepada seluruh
masyarakat. Fakta di berbagai negara menunjukkan bahwa kemiskinan hanya dapat berkurang dalam suatu perekonomian yang tumbuh secara dinamis. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang stagnan hampir bisa dipastikan berujung pada peningkatan angka kemiskinan. Pertumbuhan harus mampu menciptakan lapangan kerja produktif dalam jumlah besar. Selanjutnya, diharapkan dampak penggandaan (multiplier effect) pada peningkatan pendapatan mayoritas penduduk, peningkatan taraf hidup dan pengurangan angka kemiskinan. Untuk mencapai kondisi tersebut, perlu diciptakan iklim usaha yang kondusif di daerah. Diperlukan kejelasan dan kepastian berbagai kebijakan dan peraturan, termasuk kemudahan ijin berusaha, perpajakan dan perlindungan kepemilikan. Selanjutnya UMKM harus didorong untuk terus menciptakan nilai tambah, termasuk melalui pasar ekspor. Pertumbuhan yang berkualitas juga mengharuskan adanya prioritas lebih pada sektor perdesaan dan pertanian.
Daerah perdesaan dan sektor pertanian merupakan tempat di mana penduduk miskin terkonsentrasi. Dengan demikian, pengembangan perekonomian perdesaan dan sektor pertanian dapat menjadikan pertumbuhan ekonomi berdampak pada penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar dan pengurangan kemiskinan secara signifikan. Pembangunan yang inklusif juga penting dipahami dalam konteks kewilayahan. Setiap daerah di Indonesia dapat berfungsi sebagai pusat pertumbuhan dengan
sumber daya dan komoditi unggulan yang berlainan.
Perekonomian daerah ini pada gilirannya akan membentuk karakteristik perekonomian nasional, dan oleh sebab itu pengembangan ekonomi lokal penting untuk memperkuat ekonomi nasional.
1.5.5.4 Basis Sasaran TKPKD
Berdasarkan basis sasaran (penerima manfaat) dan tujuannya, program-program penanggulangan kemiskinan menurut buku panduan TKPK Daerah dapat dibedakan dalam kelompok- kelompok sebagai berikut:
1. Kelompok program bantuan sosial terpadu berbasis keluarga (Klaster Satu)
Tujuannya: memenuhi hak dasar, mengurangi beban hidup dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat miskin. Contoh:
Program keluarga harapan (PKH), Program Jaminan Kesehatan Masyarakat dan Jamkesda, Program raskin dan beasiswa pendidikan.
2. Kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat (Klaster Dua)
Tujuannya: mengembangkan potensi dan memperkuat kapasitas kelompok masyarakat miskin untuk terlibat dalam pembangunan berdasarkan prinsip- prinsip pemberdayaan
masyarakat. Contoh: Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri
3. Kelompok program penggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan usaha ekonomi mikro dan kecil (Klaster tiga) Tujuannya: memberikan akses dan penguatan ekonomi bagi pelaku usaha berskala mikro dan kecil. Contoh: Program Kredit Usaha Rakyat.
1.5.6 Konsep Pemberdayaan
Sulistiyani (2004:7) menjelaskan bahwa secara etimologis pemberdayaan berasal dari kata dasar “daya” yang berarti “kekuatan atau kemampuan”. Bertolak dari pengertian tersebut, maka pemberdayaan dimaknai sebagai proses untuk memperoleh daya, kekuatan atau kemampuan, dan atau pemberian daya, kekuatan atau kemampuan dari pihak yang memiliki daya kepada pihak yang kurang atau belum berdaya.
Sementara menurut Prijono, S. Onny dan Pranarka, A.M.W (1996 : 55), pemberdayaan adalah proses yang dilakukan kepada masyarakat agar menjadi berdaya, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan pilihan hidupnya dan pemberdayaan harus ditujukan pada kelompok atau lapisan masyarakat yang tertinggal. Pengertian-pengertian mengenai pemberdayaan tersebut menunjukkan bahwa pada prinsipnya pemberdayaan bukan merupakan suatu program atau kegiatan yang berdiri sendiri. Pemberdayaan merujuk pada serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk merubah lebih dari satu aspek pada diri dan kehidupan seseorang atau sekelompok
orang agar mampu melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk membuat kehidupannya lebih baik dan sejahtera.
Menurut Siahaan, Rambe, dan Mahidin (2006: 11), pemberdayaan dapat diartikan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan seseorang atau kelompok, sehingga mampu melaksanakan tugas dan kewenangannya sebagaimana tuntutan kinerja tugas tersebut. Pemberdayaan merupakan proses yang dapat dilakukan melalui berbagai upaya, seperti pemberian wewenang, meningkatkan partisipasi, memberikan kepercayaan sehingga setiap orang atau kelompok dapat memahami apa yang akan dikerjakannya, yang pada akhirnya akan berimplikasi pada peningkatan pencapaian tujuan secara efektif dan efisien (Siahaan, Rambe, dan Mahidi, 2006:13). Selanjutnya menurut Sumodiningrat (1999:134), pemberdayaan berarti meningkatkan kemampuan atau kemandirian. Menurut Shardlow (Adi,2001:54-55), pemberdayaan pada intinya membahas bagaimana kelompok atau individu komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemberdayaan masyarakat adalah:
1. Masyarakat dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
2. Masyarakat dilibatkan dalam proses pembangunan.
3. Proses pelaksanaan pembangunan sudah berdasarkan hukum dan peraturan yang berlaku.
4. Proses pembangunan terlebih dahulu disosialisasikan kepada masyarakat.
5. Respon masyarakat terhadap kegiatan program pembangunan tersebut sudah baik.
6. Telah melibatkan masyarakat dalam musyawarah peran pembangunan.
7. Hasil pelaksanaan pembangunan dapat dinikmati masyarakat.
8. Pemerintah dapat mempertanggungjawabkan hasil pemberdayaan pelaksanaan pembangunan.
9. Terlaksananya demokrasi dalam musyawarah perencanaan pembangunan.
10. Sesuai dengan permintaan atau harapan masyarakat dengan program pemerintah yang terlaksana.
1.5.6.1 Strategi Pemberdayaan
Dalam kaitannya dengan masyarakat miskin, kelima aspek pemberdayaan tersebut dapat dilakukan melalui lima strategi pemberdayaan (5P), yaitu: Pemungkinan, Penguatan, Perlindungan, Penyokongan dan Pemeliharaan (Edi Suharto, 1997:218-219):
1. Pemungkinan; menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat miskin berkembang secara optimal. Pemberdayaan harus mampu membebaskan masyarakat miskin dari sekat-sekat kultural dan struktural yang menghambat.
2. Penguatan; memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat miskin dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Pemberdayaan harus
mampu menumbuh-kembangkan segenap kemampuan dan kepercayaan diri masyarakat miskin yang menunjang kemandirian mereka.
3. Perlindungan; melindungi masyarakat terutama kelompok- kelompok lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat, menghindari terjadinya persaingan yang tidak seimbang antara yang kuat dan lemah, dan mencegah terjadinya eksploitasi kelompok kuat terhadap kelompok lemah.
Pemberdayaan harus diarahkan pada penghapusan segala jenis diskriminasi dan dominasi yang tidak menguntungkan rakyat kecil.
4. Penyokongan; memberikan bimbingan dan dukungan agar masyarakat miskin mampu menjalankan peranan dan tugas- tugas kehidupannya. Pemberdayaan harus mampu menyokong masyarakat miskin agar tidak terjatuh ke dalam keadaan dan posisi yang semakin lemah dan terpinggirkan.
5. Pemeliharaan; memelihara kondisi yang kondusif agar tetap terjadi keseimbangan distribusi kekuasaan antara berbagai kelompok dalam masyarakat. Pemberdayaan harus mampu menjamin keselarasan dan keseimbangan yang memungkinkan setiap orang memperoleh kesempatan berusaha.
1.5.7 Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan
Kata partisipasi sering dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan yang bernuansa pembangunan, pengambilan keputusan, kebijakan, pelayanan pemerintah. Pada dasarnya partisipasi adalah keiikutsertaan seseorang secara sukarela untuk mencapai tujuan tertentu dan ikut bertanggung jawab di dalamnya. Sehingga partisipasi itu memiliki arti yang penting dalam kegiatan pembangunan, dimana pembangunan itu bertujuan untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkan masyarakat. Dengan kata lain, partisipasi pembangunan adalah keterlibatan masyarakat dalam mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik. Bhattacharyya (dalam Ndraha, 1990: 102) mengartikan partisipasi sebagai pengambilan bagian dalam kegiatan bersama, sedangkan Mubyarto (dalam Ndraha,1990: 102) juga menyebutkan bahwa partisipasi sebagai kesediaan untuk membantu berhasilnya setiap program sesuai kemampuan setiap orang tanpa berarti mengorbankan kepentingan diri sendiri.
Sementara Soehardjo (dalam Tangkilisan 2005: 321) mengatakan bahwa dalam pembangunan, partisipasi semua unsur masyarakat dengan kerja sama sukarela merupakan kunci utama bagi keberhasilan pembangunan. Dalam hal ini partisipasi berfungsi menumbuhkan kemampuan masyarakat untuk berkembang secara mandiri (self-reliance) dalam usaha memperbaiki taraf hidup masyarakat. Partisipasi masyarakat juga dapat diartikan sebagai pemberdayaan masyarakat, peran sertanya dalam kegiatan penyusunan perencanaan, dan implementasi program/proyek pembangunan dan merupakan aktualisasi dan kesediaan
dan kemauan masyarakat untuk berkorban dan berkontribusi terdahap implementasi program pembangunan (Adisasmita 2006: 41).Cohen dan Uphoff (1977) menegaskan bahwa partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan terdiri dari 1) participation in decision making, 2) participation in implementation, 3) participation in benefits and 4) participation in evaluation. Dengan kata lain, adanya keterlibatan dalam perencanaan, pelaksanaan, penerimaan dan pemanfaatan hasil dan pengawasan dan penilaian hasil.
1.5.8 Pembangunan Daerah
Pengertian pembangunan secara umum pada hakekatnya adalah suatu proses perubahan untuk menuju keadaan yang lebih baik berdasarkan norma-norma tertentu dalam lingkungan masyarakat.Pembangunan merupakan setiap upaya yang dikerjakan secara terencana untuk melaksanakan perubahan yang memiliki tujuan utama untuk memperbaiki dan menaikkan taraf hidup, kesejahteraan, dan kualitas manusia.
Pembangunan daerah adalah seluruh pembangunan yang dilaksanakan di daerah dan meliputi aspek kehidupan masyarakat, dilaksanakan secara terpadu dengan mengembangkan swadaya gotong royong serta partisipasi masyarakat secara aktif. Menurut Katz (dalam Yuwono, 2001:47) mengatakan pembangunan yang besar dari suatu keadaan tertentu ke keadaan yang dipandang lebih bernilai. Pada umumnya tujuan pembangunan adalah pembinaan bangsa (national
building) atau perkembangan sosial ekonomi. Pembangunan daerah dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Tujuan pembangunan jangka pendek adalah menunjang atau mendukung keberhasilan pembangunan proyek – proyek penunjang daerah. Tujuan pembangunan jangka panjang adalah mengembangkan seluruh daerah ataupun desa di Indonesia menjadi desa swasembada dengan memperhatikan keserasian pembangunan daerah pedesaan dan daerah perkotaan,pengentasan kemiskinan, imbangan kewajiban antara pemerintah dan masyarakat serta keterpaduan yang harmonis antara program sektoral atau regional dengan partisipasi masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat dalam rangka pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia. (Sudirwo, 1981 : 64)
Menurut Goulet (dalam Soetomo : 2006) pembangunan sebaiknya dilihat dari aspek manusianya (improvement of human life) dengan demikian pembangunan seharusnya diperuntukkan bagi semua pihak dan semua lapisan masyarakat, serta paling tidak mengandung hal-hal sebagai berikut:
1. Mampu memperbaiki hal-hal yang berkaitan dengan penopang hidup masyarakat.
2. Mampu memperbaiki kondisi sosial kehidupan yang memungkinkan terpenuhinya kebutuhan harga diri.
3. Adanya kebebasan termasuk didalamnya kebebasan dari penindasan, ketidakadilan, kesengsaran serta kemelaratan
Sedangkan menurut Effendi (2002:2) pembangunan adalah suatu upaya meningkatkan segenap sumber daya yang dilakukan secara berencana dan berkelanjutan dengan prinsip daya guna yang merata dan berkeadilan dalam suatu daerah dengan tujuan:
a. Mengurangi disparsi atau ketimpangan pembangunan antara daerah dan sub daerah serta antara warga masyarakat (pemerataan dan keadilan).
b. Memberdayakan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan c. Menciptakan atau menambah lapangan kerja.
d. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat daerah.
e. Mempertahankan atau menjaga kelestarian sumber daya alam agar bermanfaat bagi generasi sekarang dan generasi berkelanjutan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi P2KP berjalan lancar, Berdasarkan analisis matriks SWOT, strategi yang harus dilaksanakan adalah strategi integrasi horizontal, artinya Pemerintah harus melakukan
pendekatan kepada masyarakat untuk secara bersama-sama menggerakan
perekonomian desa sehingga peran P2KP dapat ditingkatkan 1.5.9 Penelitian Terdahulu
Tabel 1.3
No Nama Judul Metode Masalah Hasil
1. Yozi Aulia Rahman (2007)
Implementasi Program
Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) di Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes Tahun 2007
Penelitian ini diambil dengan metode
proporsional area random sampling, yaitu pengambilan sampel
berdasarkan wilayahmasing- masing bagian yang terambil secaraproporsional terambil
sampelnya secara acak.Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 93 KK dan sudah
dianggap representatif.
Bagaimanakah implementasi P2KP di Kecamatan Tonjong Kabupatem Brebes pada tahun 2007?
2. Motic Devianao Novandric (2015)
Implementasi Kebijakan Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (Strategi Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Melalui Pelaksanaan Desa Model di Kelurahan Mondokan Kecamatan
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan tipe penelitian yang digunakan deskriptif dan memilih snowball sampling yaitu teknik penentuan informan dari informan kunci kemudian memberikan
Bagaimana implementasi strategi percepatan penanggulangan kemiskinan melalui pelaksanaan Desa Model di Kelurahan Mondokan Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban?
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa masih banyaknya
permasalahan yang ada dalam
implementasi penanggulangan kemiskinan yang dilakukan
pemerintah membuat strategi pemerintah untuk mengurangi beban pengeluaran masyarakat dan
Tuban Kabupaten Tuban
arahan untuk menentukan informan
berikutnya yang dianggap mengetahui informasi terkait dengan penelitian yang dilakukan dengan informan berjumlah 7.
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat masih belum terlaksana dengan baik.
3. Asna Aneta (2010)
Implementasi Kebijakan Program
Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) di Kota Gorontalo
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: wawancara dan focus group discussion (FGD).
Bagaimanakah implementasi kebijakan program
penanggulangan kemiskinan (P2KP) di Kota Gorontalo?
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk-bentuk implementasi kebijakan program penanggulangan kemiskinan di Kota Gorontalo telah dilaksanakan sesuai tahapan kebijakan P2KP, responsivitas pemerintah Kota Gorontalo tinggi dalam implementasi kebijakan program penanggulangan kemiskinan, masyarakat menerima dan mendukung program penanggulangan kemiskinan, dan faktor komunikasi, sumber daya, sikap pelaksana, dan struktur birokrasi merupakan faktor- faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi