• Tidak ada hasil yang ditemukan

buku KUDUS DAN ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "buku KUDUS DAN ISLAM"

Copied!
221
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Dra. Sri Indrahti, M.Hum
  • Pengajar:
    • Dra. Sri Indrahti, M.Hum
  • Sekolah: CV. Madina
  • Mata Pelajaran: Kearifan Lokal dan Industri Wisata Ziarah
  • Topik: Kudus Dan Islam: Nilai-Nilai Budaya Lokal Dan Industri Wisata Ziarah
  • Tipe: buku
  • Tahun: 2012
  • Kota: Semarang

I. Kudus Sebagai Kota Wisata Ziarah

Kudus memiliki potensi yang kaya dalam sejarah dan budaya, terutama sebagai tujuan wisata ziarah. Buku ini mengupas bagaimana Kudus dapat mengemas warisan budaya lokal menjadi daya tarik wisata. Pengelolaan yang tepat terhadap budaya lokal dan situs-situs sejarah dapat mendorong keberlanjutan pariwisata di daerah ini. Dengan menggabungkan nilai-nilai budaya dan industri pariwisata, Kudus berpotensi menjadi model pengembangan wisata ziarah yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memberdayakan masyarakat lokal.

II. Spirit Ketokohan Sunan dan Kuliner Lokal

Bagian ini membahas biografi para sunan yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Kudus, serta kuliner lokal yang berkaitan dengan tradisi ziarah. Profil Sunan Muria dan Sunan Kudus diceritakan dalam konteks bagaimana mereka mempengaruhi masyarakat dan budaya setempat. Kuliner lokal, seperti Bubur Asyura dan Nasi Jangkrik, menjadi bagian integral dari upacara tradisi yang meningkatkan pengalaman wisata ziarah. Ini menunjukkan relevansi kearifan lokal dalam industri pariwisata.

2.1. Biografi Para Sunan dan Tokoh Masyarakat di Kudus

Profil Sunan Muria dan Sunan Kudus menunjukkan bagaimana keduanya berkontribusi dalam penyebaran Islam di daerah pedesaan dan perkotaan. Sunan Muria dikenal dengan pendekatan tasawufnya, sedangkan Sunan Kudus lebih ortodoks. Keduanya memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat lokal dan tradisi yang berkembang di Kudus.

2.2. Makna Simbolik Spirit Ketokohan

Spirit ketokohan Sunan-sunan ini tidak hanya berimplikasi pada aspek spiritual, tetapi juga sosial dan budaya. Mereka menjadi simbol kekuatan moral yang dapat memotivasi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari, serta menjaga tradisi yang ada.

2.3. Budaya Kuliner Lokal

Kuliner yang berkaitan dengan tradisi ziarah di Kudus mencerminkan kearifan lokal. Makanan seperti Nasi Daging Kerbau-Kambing dan Kue Apem memiliki makna simbolis dalam upacara dan ritual yang dilakukan oleh masyarakat, menunjukkan hubungan erat antara makanan dan budaya.

III. Peta Wisata Ziarah

Bagian ini menyajikan peta wisata ziarah yang terintegrasi dengan informasi mengenai tempat-tempat ziarah, penginapan, dan fasilitas lainnya. Penataan peta wisata bertujuan untuk memudahkan pengunjung dalam merencanakan perjalanan mereka. Ini juga mencakup pengembangan infrastruktur yang mendukung kelancaran industri pariwisata di Kudus.

3.1. Penataan Peta Wisata Ziarah

Penataan peta wisata ziarah mencakup lokasi-lokasi penting seperti makam Sunan Muria dan Sunan Kudus. Informasi tentang pengelola wisata, tempat penginapan, dan restoran juga disertakan untuk memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pengunjung.

3.2. Makam Sunan Kudus, Kyai Telingsing dan Mbah Kyai Dudo

Makam-makam ini memiliki nilai sejarah dan spiritual yang tinggi. Pengunjung dapat merasakan kedamaian dan keagungan sejarah saat berziarah ke tempat-tempat ini, yang juga dilengkapi dengan informasi mengenai pengelolaan dan fasilitas yang ada.

3.3. Pertapaan Eyang Sakri Rahtawu

Pertapaan ini merupakan salah satu tempat yang juga menjadi tujuan wisata ziarah. Menyediakan pengalaman spiritual yang mendalam bagi pengunjung yang mencari ketenangan dan refleksi.

IV. Penutup

Buku ini menyimpulkan bahwa pengembangan wisata ziarah di Kudus tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan pelestarian budaya lokal dan kearifan masyarakat. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai budaya dalam pengembangan pariwisata, Kudus dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengelola potensi wisata yang ada.

V. Daftar Pustaka

Bagian ini mencantumkan referensi yang digunakan dalam penulisan buku, memberikan sumber yang dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut mengenai Kudus dan pengembangan wisata ziarah.

Referensi Dokumen

  • Laporan Hasil Proyek Penelitian Bahan - Bahan Sejarah Islam di Jawa Tengah Bagian Utara ( Buku Anonim )
  • Strategi Pengembangan Sektor Pariwisata Perspektif Manajemen Strategi Sektor Publik ( Busi Santoso dan Hessel Nogi S )
  • Ensiklopedi Islam , Jilid 3, Cetakan II ( Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam )
  • Hasil Pendataan Nilai-nilai Tradisonal Kabupaten Kudus Tahun 2004 ( Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kudus )
  • Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kabupaten Kudus ( Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kudus )

Gambar

Gambar 1. Silsilah Kangjeng Hadipati Hario Tejo di
Gambar 2. Silsilah Trah Keturunan Sunan Muria yang menjadi juru kunci
Gambar 3 dan 4. Tempat tinggal bulus di sungai dan di kolam kecil.
Gambar 4.      Bagan: Geneologis Eyang Sakri
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian dari data tersebut di asumsikan hari Minggu mewakili hari libur (sabtu) dan hari Senin mewakili hari kerja (Selasa-Jumat). Ø Prosedur pelaksanaan dalam pengukuran volume

Data dari Teknopreneur menunjukkan bahwa penggunaan Instagram meningkat 10 kali lipat dan diunduh hampir 250.000 kali per hari di Google Play dengan waktu rata

Kondisi permodalan mitra gofood relatif meningkat secara akumulasi tetapi untuk modal harian khususnya akhir pekan (jumat, sabtu, minggu, dan libur nasional) terkendala

Seluruh angka dari 1 sampai 9 digunakan satu kali pada operasi bilangan di atas.. Pada beberapa bulan ada 4 hari Sabtu dan pada bulan lainnya dapat dijumpai lebih dari 4 hari

Pemberian sirup kepada anak dilakukan setiap hari selama 6 bulan (24 minggu) atau 7 hari dalam seminggu Setiap minggu diberikan 5 hari di sekolah (Senin sampai Jumat) oleh

Misalnya hari minggu harus dimulai dari kaki kalau senin dari kepala selasa punggung, rabu dilutut, kamis dipinggang, jumat dan sabtu di dahi.Persiapannya berupa

Jawab: Argumen ini telah digunakan berulang kali oleh para pemelihara hari Minggu melawan para pemelihara Sabat hari sabtu. Sekarang tambahan terang yang lebih

Jawab: Argumen ini telah digunakan berulang kali oleh para pemelihara hari Minggu melawan para pemelihara Sabat hari sabtu. Sekarang tambahan terang yang lebih banyak pada hari