S O S I O A K A D E M I K A
Vol. 13, No. 01, Maret 2020 Kinerja Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu PendidikanZarkoni, Muhamad Toyib, dan Suhairi
Budaya Hidup Anak Jalanan dan Dampaknya pada Pendidikan (Survei Anak Jalanan di Provinsi Jambi)
Norainun dan Zarkoni
Membangun Kelayakan Stratejik Pendidikan Tinggi melalui Penjaminan Mutu
Syarifuddin. K
Efektivitas Proses Pembelajaran serta Pengaruh Positif Terhadap Siswa Sekolah Dasar Negeri 298/VI Bukit Beringin III pada Masa Pandemi Covid-19
Suharno
Penerapan Pembelajaran Daring Class serta Pengaruh Terhadap Evaluasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Negeri 264/VI Bukit Bungkul II pada Masa Pandemi Covid-19
Sutiyana
Penyelesaian Permohonan Isbat Nikah dalam Maqhasid Syariah di Pengadilan Agama Bangko
Afrizal
Eksistens Pos Bantuan Hukum di Pengadilan Agama Bangko
Ainul Mardhiah
Pengembangan Media Film Dokumenter sebagai Pendukung Pembelajaran Akuntansi Pokok Bahasan Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang bagi Siswa SMK Kelas x Akuntansi
Hartini
PemanfaatanE-LearningMoodlePadaMataPelajaranMatematikadiSMKNegeri1KotaJambi
AR. Nefrida
Pengembangan Pembelajaran Teknik Dasar Service Bawah Bolavoli untuk Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Kota Jambi
Sujono
ImplementasiEmployabilitySkillspadaSMKProgramKeahlianTeknikKomputerJaringan
Sepriadi Erman
Persepsi Siswa Kelas XI Bisnis Daring dan Pemasaran dan XII Multimedia Terhadap Seleksi Minat dan Bakat Siswa pada Kelas X di SMK Negeri 1 Kota Jambi
Atika Syam
Diterbitkan oleh:
STAI SYEKH MAULANA QORI BANGKO-JAMBI
S O S I O A K A D E M I K A
Penanggung Jawab
Ketua Yayasan Pendidikan Islam Syekh Maulana Qori Bangko M. Thoiyibi, S.Sos., M.H. (Ketua STAI Syekh Maulana Qori Bangko)
Dr. H. M. Joni, Lc., M.A (Wakil Ketua I STAI SMQ Bangko) Dr. H. Firdaus, M.A. (Wakil Ketua II STAI SMQ Bangko) Drs. Hamdan, M.Pd.I (Wakil Ketua III STAI SMQ Bangko)
Pimpinan Redaksi
Masruri, S.Pd.I., M.Pd.I Abdul Kholik, M.Fil.
Penyunting Pelaksana
Ibrahim, S.Pd., M.Pd.I. Salahuddin, S.E., M.M. Habibah, S.Pd.I., M.Pd.I.
Pelaksana Tata Usaha
Muhammad Nuzli, S.Pd.I., M.Pd. Ahmadi, S.Pd.I., M.M.
Alamat Redaksi
STAI SYEKH MAULANA QORI BANGKO
Jln. Prof. Muhammad Yamin SH, Pasar Atas Bangko-Jambi Telp. 0746- 3260012
secara eksplisit tercermin dalam Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor: 488 Tahun 2002 tentang status STAI Syekh Maulana Qori adalah untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan agama Islam serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional. Untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan ini lebih lanjut di atur dalam Permendiknas nomor: 22 Tahun 2011 tentang Terbitan Berkala.
Dengan demikian, STAI Syekh Maulana Qori tidak hanya dituntut agar mengembangkan ilmu pengetahuan terutama ilmu-ilmu keislaman dan kemasyarakatan melalui kegiatan pembelajaran, penelitian, dan menyebarluaskannya. Berdasarkan amanat tersebut, pimpinan STAI Syekh Maulana Qori telah mengambil kebijakan yang mengarah kepada peningkatan mutu intelektual akademik dosen STAI Syekh Maulana Qori melalui penerbitan jurnal berkala ilmiah, dan untuk pengelolaannya diberikan pada Pusat Penelitian.
Sosio Akademika: Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan adalah salah satu jurnal ilmiah berkala, yang bertujuan pertama, untuk meningkatkan kemampuan akademik para dosen, karyawan, guru, ilmuan maupun cendekiawan dalam menulis karya ilmiah yang lebih baik sesuai dengan kaidah sistematika jurnal terakreditasi. Kedua, dapat menjadi wadah pembelajaran menulis bagi dosen-dosen pemula dan karyawan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam aspek keterampilan menulis ilmiah. Ketiga, menambah khazanah jurnal yang ada di lingkungan STAI Syekh Maulana Qori untuk pengembangan citra diri sebagai lembaga perguruan tinggi Islam yang ada di Provinsi Jambi.
Sosio Akademika: Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan ini diperuntukkan bagi “mahasiswa baru dan lama”, dosen, karyawan dan peminat informasi-informasi terapan maupun filosofis tentang pendidikan, sosial, bahasa serta budaya yang mengakar pada ilmu keislaman. Oleh karena itu fokus tulisannya lebih banyak menyentuh pada “Pendidikan Islam dalam arti luas dan persoalan sosial kemasyarakatan serta terdapat pula beberapa tulisan yang membahas tentang syari’ah sebagai salah satu keilmuan dalam Islam”.
Pada kesempatan ini tim redaksi mengucapkan alhamdulillahirobbil ‘alamin yang mana jurnal Sosio Akademika STAI SMQ Bangko telah berjalan pada tahun ke-13, seiring dengan ini diterbitkan pula jurnal Vol. 13, No. 01, Maret 2020. Yang merupakan semangat ke arah pengembangan yang lebih baik.
Saran dan masukan dari semua pihak sangat kami harapkan demi terwujudnya tujuan dan cita-cita mulia kita bersama. Semoga kita dapat berkarya lebih baik lagi di masa mendatang. Demi kemajuan civitas akademika STAI Syekh Maulana Qori.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Daftar isi... v
Kinerja Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
Zarkoni, Muhamad Toyib, dan Suhairi... 1-10
Budaya Hidup Anak Jalanan dan Dampaknya pada Pendidikan (Survei Anak Jalanan di Provinsi Jambi)
Norainun dan Zarkoni... 11-26
Membangun Kelayakan Stratejik Pendidikan Tinggi melalui Penjaminan Mutu
Syarifuddin. K... 27-52
Efektivitas Proses Pembelajaran serta Pengaruh Positif Terhadap Siswa Sekolah Dasar Negeri 298/VI Bukit Beringin III pada Masa Pandemi Covid-19
Suharno... 53-72
Penerapan Pembelajaran Daring Class serta Pengaruh Terhadap Evaluasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Negeri 264/VI Bukit Bungkul II pada Masa Pandemi Covid-19
Sutiyana... 73-84
Penyelesaian Permohonan Isbat Nikah dalam Maqhasid Syariah di Pengadilan Agama Bangko
Afrizal... 85-104
Eksistens Pos Bantuan Hukum di Pengadilan Agama Bangko
Ainul Mardhiah... 105-116
Pengembangan Media Film Dokumenter sebagai Pendukung
Pembelajaran Akuntansi Pokok Bahasan Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang bagi Siswa SMK Kelas x Akuntansi
Hartini... 117-126
Pemanfaatan E-Learning Moodle Pada Mata Pelajaran Matematika di SMK Negeri 1 Kota Jambi
AR. Nefrida... 127-136
Pengembangan Pembelajaran Teknik Dasar Service Bawah Bolavoli untuk Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Kota Jambi
Sujono... 137-146
Implementasi Employability Skills pada SMK Program Keahlian Teknik Komputer Jaringan
Sepriadi Erman... 147-158
Persepsi Siswa Kelas XI Bisnis Daring dan Pemasaran dan XII
Multimedia Terhadap Seleksi Minat dan Bakat Siswa pada Kelas X di SMK Negeri 1 Kota Jambi
Afrizal
Dosen Hukum Keluarga Islam STAI Syekh Maulana Qori (SMQ) Bangko
ABSTRAK
Berangkat dari Isbat nikah dengan Pengadilan Agama Bangko mempunyai andil dan kontribusi yang sangat besar dan penting dalam upaya memberikan rasa keadilan dan kepastian serta perlindungan hukum bagi masyarakat. Penelitian mengungkapkan bahwa dari beberapa faktor penyebab pengajuan permohonan Isbat nikah ke Pengadilan Agama Bangko adalah menikah secara terpaksa atau menikah tanpa persetujuan keluarga. Masyarakat yang tidak mengerti betapa pentingnya pencatatan pernikahan menganggap bahwa nikah tidak perlu dicatat cukup sesuai Agama Islam saja. Maka menurut penulis Isbat nikah memberikan kemaslahatan, karena bila secara hukum Negara, belum tercatat legalitas status perkawinan akan mengalami kesulitan pada kasus dan sengketa seperti waris, hak asuh anak, perceraian, nafkah dan permasalahan perkawinan lainnya.
Kata Kunci : Isbat Nikah, maqhasid syari’ah.
PENDAHULUAN
Perkawinan sangat penting untuk dilakukan yaitu untuk memperoleh keturunan dalam kehidupan manusia baik perorangan maupun kelompok, dengan jalan perkawinan yang sah Pergaulan hidup berumah tangga dibina dalam suasana damai, tenteram, dan penuh rasa kasih sayang antara suami-isteri. Anak keturunan dari hasil perkawinan yang sah menghiasi kehidupan keluarga dan sekaligus merupakan kelangsungan hidup manusia secara bersih dan terhormat.
Suatuperkawinan baru dapat dikatakan sebagai perbuatan hukum apabila dilakukan menurut ketentuan hukum yang berlaku secara positif. Ketentuan hukum yang mengatur mengenai tata cara perkawinan yang dibenarkan oleh hukum adalah seperti yang diatur dalam Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan PP No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang No.1 tentang Perkawinan, sehingga perkawinan ini akan mempunyai akibat hukum yaitu akibat yang mempunyai hak mendapatkan pengakuan dan perlindungan hukum. Pasal 2 ayat (1) Undang– Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menentukan bahwa suatu perkawinan baru dapat dikatakan sebagai perkawinan yang sah menurut hukum apabila perkawinan itu dilakukan menurut masing-masing agama dan kepercayaannya dan ayat (2) menentukan tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Akta nikah menjadi bukti otentik dari suatu pelaksanaan perkawinan sehingga dapat menjadi “jaminan hukum” bila terjadi salah seorang suami atau isteri melakukan suatu tindakan yang menyimpang. Selain itu, akta nikah juga
berfungsi untuk membuktikan keabsahan anak dari perkawinan itu, sehingga tanpa akta dimaksud, upaya hukum ke pengadilan tidak dapat dilakukan.66
Maka jelaslah bahwa pencatatan nikah untuk mendapatkan akta nikah tersebut adalah sangat penting. Sebagaimana disinyalir dalam Pasal 7 Ayat (1) Kompilasi Hukum Islam: “Perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan akta nikah yang di buat oleh Pegawai Pencatat Nikah”. Konsekuensi dijadikannya akta Nikah sebagai satu-satunya alat bukti perkawinan bagi mereka yang tidak mencatatkan perkawinannya, maka segala macam akibat hukum yang terkait dengan peristiwa perkawinan tidak dapat diselesaikan melalui jalur hukum, seperti pengajuan perceraian ke Pengadilan, pembagian harta bersama, pembagian warisan, status anak dan lain-lain.
Di satu sisi peraturan perundang-undangan di Indonesia mewajibkan pencatatan perkawinan dan menjadikannya sebagai satu- satunya alat bukti bagian perkawinan yang berarti secara logis tidak ada jalan keluar bagi yang melanggar ketentuan ini untuk menyelesaikan persoalannya secara hukum di belakang hari. Namun, di sisi lain perundang-undangan membuka pintu bagi mereka yang tidak dapat membuktikan adanya perkawinan mereka dengan alat bukti akta nikah untuk menyelesaikan persoalan mereka melalui Instansi Pemerintah yang resmi yaitu Pengadilan Agama dengan dibukanya jalan bagi penetapan nikah mereka (Isbat nikah).
Ketentuan pencatatan nikah telah lama digalakkan setidaknya dari tahun 1946 lewat Undang-undang Nomor 22 Tahun 1946 tentang Pencatatan Nikah, talak dan rujuk. Kemudian bergulir hingga tahun 1954 lewat Undang-undang Nomor 32 Tahun 1954 Tentang Penetapan berlakunya Undang-undang Republik Indonesia tanggal 21 November 1946 Nomor22 Tahun 1946 tentang Pencatatan Nikah, Talak Dan Rujuk di seluruh daerah luar Jawa dan Madura. Terakhir pencatatan nikah semakin dikukuhkan eksistensinya lewat Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang kemudian diteruskan di dalam Kompilasi Hukum Islam.67
Perkawinan yang tidak dicatatkan akan merugikan kepentingan dan mengancam pemenuhan, perlindungan dan penegakan hak anak. Sebagai peristiwa hukum, perkawinan tentu berkorelasi langsung dengan anak-anak yang dilahirkan, baik menyangkut hukum keluarga maupun hak-hak anak yang dijamin sebagai hak asasi manusia (child’ srightsare human rights). Terobosan hukum paling anyar yang dilakukan Mahkamah Agung RI terkait Isbat nikah adalah dengan mengeluarkan SEMA Nomor 03 Tahun 2014 tentang Tata Cara Pelayanan dan Pemeriksaan Perkara Voluntair Isbat Nikah dalam Pelayanan Terpadu. Terobosan dimaksud antara lain: membolehkan sidang Isbat nikah terpadu
66Erfani Aljan Abdullah. Pembaharuan Hukum Perdata Islam praktik dan gagasan, Yogyakarta:
UII Press, 2017, hal. 29
dilakukan oleh hakim tunggal, pemanggilan para pihak dilakukan secara kolektif dan penetapan hakim langsung berkekuatan hukum tetap setelah diucapkan. Dan bila dihubungkan dengan Perma Nomor 01 Tahun 2014 yang menggantikan SEMA Nomor 10 tahun 2010 ditambah bonus dapat di sidang di luar gedung pengadilan, boleh jadi di depan rumahnya dan bagi penerima raskin atau yang tidak mampu dapat layanan gratis pula.68
Polemik tentang derajat sumber hukum Isbat nikah seharusnya diakhiri karena Kompilasi Hukum Islam, PERMA, KMA dan bahkan SEMA telah diberlakukan oleh para hakim dalam memeriksa dan memutus perkara di pengadilan secara merata dan masif. Problem Interpretasi. Yang paling krusial problematik Isbat nikah ada pada interpretasi rumusan tekstualnya, baik pada KHI maupun KMA. Pada diskusi ini dua rumusan kita jadikan sampel. Pertama, rumusan pasal 7 ayat 3 Kompilasi Hukum Islam yang berbunyi, “Isbat nikah dapat diajukan ke pengadilan agama terbatas mengenai hal-hal yang berkenaan dengan: adanya perkawinan dalam rangka penyelesaian perceraian, hilangnya akta nikah; adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat perkawinan, adanya perkawinan yang terjadi sebelum berlakunya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai halangan perkawinan menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1974.69
Jika dipahami demikian maka Isbat nikah hanya diizinkan untuk: perceraian, akta nikah hilang dan perkawinan yang dilaksanakan sebelum berlakunya Undang-undang perkawinan, di luar itu tidak diperbolehkan.
Namun ada pula yang melihat secara alternatif, masing-masing rumusan berdiri sendiri. Bila dibaca secara alternatif akan menghasilkan pemahaman yang lentur dan dinamis, bahwa Isbat nikah tidak terbatas pada alasan tersebut di atas, tapi boleh alasan lain sepanjang pernikahan yang dilakukan memenuhi syarat dan rukun menurut Fiqh dan tidak ada halangan syar’i. Mereka berpendapat bahwa KHI pasal 7 ayat 3 huruf e, tidak membatasi waktu terjadinya perkawinan, namun mengemukakan norma sebagai ukuran ada tidaknya halangan perkawinan. Dengan demikian, maka tidak salah jika dikatakan bahwa pasal 7 ayat 3 huruf e KHI adalah pasal“tong sampah”, di mana semua alasan bisa masuk.
Fenomena tentang Isbat nikah juga terjadi di Kabupaten Merangin. Merangin merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jambi di mana masih banyak pasangan suami isteri yang pernikahannya belum dicatatkan atau sah secara hukum Negara. Hal ini terlihat dari banyaknya permohonan Isbat nikah ke Pengadilan Agama Bangko. Hingga saat ini kebiasaan melaksanakan perkawinan
68Sulpadli, Problematik Hukum Sekitar Isbat Nikah,
http://www.pa-polewali.net/index.php/info-peradilan/artikel/289-problematik-hukum-sekitar-Isbat-nikah, Diakses pada tanggal 25 Juni 2019
tidak di hadapan pegawai pencatat nikah atau tanpa pengawasan pejabat yang berwenang, masih saja dapat dijumpai di Kabupaten Merangin.70
Isbat nikah dengan Pengadilan Agama Bangko mempunyai andil dan kontribusi yang sangat besar dan penting dalam upaya memberikan rasa keadilan dan kepastian serta perlindungan hukum bagi masyarakat. Mereka yang selama ini tidak memiliki kartu keluarga karena tidak mempunyai Buku Nikah, setelah adanya penetapan Isbat nikah oleh pengadilan agama mereka akan mudah mengurus kartu keluarga dan akta kelahiran anak-anaknya sehingga tidak kesulitan untuk masuk sekolah. Bahkan calon jama’ah haji yang tidak mempunyai buku nikah sangat terbantu dengan Isbat nikah oleh Pengadilan Agama Bangko untuk mengurus paspor.
Salah satu permohonan Isbat nikah seperti dalam penyelesaian permohonan Isbat nikah, hakim telah mengabulkan permohonan pemohon untuk mengisbatkan pernikahan ayah dan ibu pemohon. Isbat nikah tersebut bertujuan untuk mengurus pembuatan akta kelahiran yang memerlukan bukti pernikahan ayah dan ibu pemohon, sedangkan pemohon tidak mempunyai bukti tersebut dikarenakan pernikahan terjadi sebelum Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan belum dicatatkan ke Petugas Pencatat Nikah. Namun karena pertimbangan hukum, alat bukti yang diajukan, dan keterangan saksi-saksi akhirnya hakim mengabulkan permohonan pemohon untuk mengIsbatkan pernikahan ayah dan ibu pemohon.71
Menurut Buku Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Agama yang diterbitkan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia yaitu “Permohonan Isbat nikah yang dilakukan oleh anak, wali nikah, dan pihak lain yang berkepentingan harus bersifat konsensus, dengan mendudukkan suami dan isteri dan/atau ahli waris lain sebagai Termohon ”.Akan tetapi, dalam penyelesaian beberapa perkara Isbat nikah di Pengadilan Agama Bangko, salah satunya penyelesaian perkara sebagai contoh di atas, dikategorikan sebagai perkara voluntair yang produknya berupa penetapan. Hal tersebut tentu tidak sesuai dengan peraturan yang di buat oleh Mahkamah Agung. Oleh karena itu, perlu dikaji tentang alasan permohonan Isbat nikah di Pengadilan Agama Bangko dan pelaksanaan Isbat nikah di Pengadilan Agama Bangko.
Untuk mengkaji lebih mendalam tentang Isbat nikah yang akan penulis tuangkan dalam sebuah Artikel yang berjudul Penyelesaian Permohonan Isbat Nikah Dalam Maqhasid Syariah Di Pengadilan Agama Bangko
70Observasi di Pengadilan Agama Bangko Tanggal 5 Agustus 2019 71Observasi di Pengadilan Agama Bangko Tanggal 22 Agustus 2019
PEMBAHASAN
1. Pengertian Pemohon dan Isbat Nikah serta Maqashid Syariah a. Pemohon
Permohonan ialah suatu surat permohonan yang di dalamnya berisi tuntutan hak perdata oleh satu pihak yang berkepentingan terhadap suatu hal yang tidak mengandung sengketa, sehingga badan peradilan yang mengadili dapat dianggap suatu proses peradilan yang bukan sebenarnya.72
Dalam permohonan ada istilah pemohon dan termohon. Produk hukumnya disebut dengan Isbat (penetapan), karena dalam perkara permohonan sama sekali tidak ada lawan (tidak berperkara dengan orang lain). Peradilan perdata yang menyelesaikan perkara permohonan disebut jurisdicto voluntaria (peradilan yang tidak sebenarnya). Disebut demikian karena pengadilan ketika itu sebenarnya hanya menjalankan fungsi executive power bukan yudicative power.
Proses pemeriksaan perkara voluntair berbeda dengan perkara contentiosa yaitu:
1) Proses pemeriksaan bersifat sepihak (ex-parte), sederhana yakni hanya mendengarkan keterangan pemohon atau kuasanya sehubungan dengan permohonannya, memeriksa bukti surat atau saksi yang diajukan pemohon, dan tidak ada tahapan replik duplik dan kesimpulan.
2) Dalam pemeriksaan tidak ada bantahan dari pihak lain
3) Tidak diterapkan seluruhnya asas persidangan, misalnya asas mendengarkan semua pihak73.
Format permohonan tidak jauh berbeda dengan format gugatan yaitu mengandung identitas, petita dan posita. perbedaan inti antara surat gugatan dengan permohonan yaitu pada surat permohonan tidak dijumpai kalimat “berlawanan dengan”, kalimat “duduk perkaranya”, dan kalimat “permintaan membayar biaya perkara kepada pihak lawan”74.
Format permohonan tidak jauh berbeda dengan format gugatan yaitu mengandung:
1) Identitas para pihak, seperti nama lengkap, gelar, alias, julukan, bin/binti, umur agama, pekerjaan, tempat tinggal, dan statusnya sebagai pemohon/termohon 2) posita yaitu fakta-fakta atau hubungan hukum yang terjadi antara kedua belah
pihak.
3) Petita/petitum yaitu isi tuntutan. b. Isbat Nikah
72Mardani. Hukum acara perdata perdilan agama dan mahkamah syar’iyah, Jakarta: Sinar Grafika,
2010, hal. 80
73Mardani. Hukum acara perdata perdilan agama dan mahkamah syar’iyah, hal.81 74Mardani. Hukum acara perdata perdilan agama dan mahkamah syar’iyah,hal. 82
Isbat (penetapan) adalah keputusan pengadilan atas perkara permohonan, misalnya penetapan dalam perkara dispensasi nikah, izin nikah, wali adhal, perwalian, Isbat nikah dan sebagianya. Penetapan merupakan jurisdicto voluntaria (bukan peradilan yang sesungguhnya). Karena pada penetapan hanya ada pemohon tidak ada lawan hukum.75
Putusan volunter hanya mempunyai kekuatan hukum sepihak, pihak lain tidak dapat dipaksakan untuk mengikuti kebenaran hal-hal yang dideklarasikan dalam putusan volunter, karena itu pula maka putusan volunteer tidak mempunyai kekuatan hukum sebagai pembuktian.
Isbat nikah berasal dari bahasa arab yang terdiri dari Isbat dan nikah, memiliki arti yaitu “penetapan pernikahan”. Isbat nikah dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan Isbat nikah yang diartikan dengan pengukuhan dan penetapan perkawinan melalui pencatatan dalam upaya mendapatkan Pengesahan suatu perkawinan menurut hukum yang berlaku.76
c. Pengertian Nikah
Pernikahan secara bahasa berasal dari kata nikah yang berarti berkumpul atau bergabung. Dalam kata lain pernikahan kerap disebut juga dengan perkawinan. Perkawinan menurut bahasa bermula dari kata kawin, ialah berkumpul dan bercampur. Menurut istilah hukum Islam adalah suatu akad yang menghalalkan persetubuhan antara lelaki dan perempuan yang diucapkan oleh kata-kata yang menunjukkan nikah, menurut syari’at yang ditentukan oleh Islam.77
Perkawinan dalam Undang-undang Perkawinan No.1 Tahun 1974 pasal 1 dinyatakan bahwa ”perkawinan ialah ikatan lahir-batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.” Oleh karenanya, masalah perkawinan merupakan perbuatan suci yang mempunyai hubungan erat sekali dengan agama/kerohanian, sehingga perkawinan bukan saja mempunyai unsur lahir/jasmani, tetapi juga unsur batin/rohani mempunyai peranan yang penting. Pengertian perkawinan sebagaimana dinyatakan dalam Undang-undang Perkawinan No.1 Tahun 1974 perlu dipahami benar-benar oleh masyarakat karena ia merupakan landasan pokok dari aturan hukum Perkawinan.78
Menurut hukum agama, perkawinan adalah perbuatan yang suci yaitu suatu perikatan antara dua pihak dalam memenuhi perintah dan ajaran Tuhan Yang Maha Esa, agar kehidupan berkeluarga dan berumah tangga serta
75Ahmad Sanusi, Pelaksanaan Isbat Nikah di Pengadilan Agama Pandeglang, Jurnal Ahkam vol.XVI,
No. 1, 2016, hal. 114
76Andah Purbasari. Hukum Islam sebagai Hukum Positif Di Indonesia: Suatu Kajian Di Bidang
Hukum Keluarga, Malang: Setara Press, 2017, hal. 76
77Hasbullah Bakry. Kumpulan LengkapUndang-Undang dan Peraturan Perkawinan. hal. 2 78Hasbullah Bakry. Kumpulan LengkapUndang-Undang dan Peraturan Perkawinan. hal.
7-berkerabat tetangga berjalan dengan baik sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Hukum Islam menyatakan, ”perkawinan adalah akad (perikatan) antara wali wanita calon istri dengan pria calon suaminya. Akad nikah itu harus diucapkan oleh wali si wanita dengan jelas berupa ijab (serah) dan diterima (kabul) oleh si calon suami yang dilaksanakan di hadapan dua orang saksi yang memenuhi syarat.”79
Menurut Kompilasi Hukum Islam, seperti yang terdapat pada pasal 2 dinyatakan bahwa:“perkawinan dalam hukum Islam adalah pernikahan yaitu akad yang sangat kuat atau mitsaqon gholidhan untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.” Dilihat dari aspek hukum, perkawinan adalah merupakan suatu perjanjian. Sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam Surat An Nisa’ ayat 21:
q Ů j źj Ůk濨 䇅 Ů濨
䇅
ࠀȀ
ကĀﺑ ကń ࠀ
ǶÉǰࠀȀကĀﺑ
Ȅကǰࠀǔကʇ
ࠀȄ
ကÈကǔ
ကǔǻÂ
ࠀ
က ကǦ
ࠀʇကȈ
ကǔ
Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. dan mereka (isteri-isteri mu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.(QS.An- Nisa’:2180Dalam Islam perkawinan dijadikan sebagai basis suatu masyarakat yang baik dan teratur, sebab perkawinan tidak hanya dipertalikan oleh ikatan lahir saja, tetapi diikat juga dengan ikatan batin dan jiwa. Jadi tidak hanya sebagai persetujuan biasa melainkan merupakan persetujuan yang suci, di mana kedua belah pihak dihubungkan menjadi pasangan suami-istri atau saling meminta menjadi pasangan hidupnya dengan mempergunakan nama Allah SWT. Firman Allah SWT dalam Surat An Nisa’ ayat 1:
Aq ʇńÈက晦 ࠀ
ǶÉࠀʇကʇကȈ ကÀ ကȈက
Àń
က ကƢࠀ晦ကࠀကǔ
ńńﺑ ကÀ ကdzက က ńǻ က ¦ Āကǔ ...
...dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.(QS. An Nisa’[4]:1)81Dapat disimpulkan bahwa perkawinan adalah suatu hubungan perikatan yang sangat erat dengan agama serta menyangkut hubungan kewarisan, kekeluargaan dan ketetanggaan yang bertujuan untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Asas-asas atau prinsip-prinsip perkawinan menurut hukum Islam adalah: 1) Persetujuan bebas (sukarela). Perkawinan harus berdasar pada persetujuan
bebas antara calon mempelai, yaitu seorang pria dan seorang wanita yang akan melangsungkan perkawinan. Persetujuan bebas artinya suka sama suka,
79Hasbullah Bakry. Kumpulan LengkapUndang-Undang Perkawinan. hal. 10
80 Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta:Pustaka Agung Harapan 2016,
hal. 120
tidak ada paksaan dari pihak lain walaupun dari pihak orang tua sendiri. Persetujuan itu timbul karena sudah saling mengenal identitas diri masing-masing;
2) Partisipasi Keluarga. Partisipasi keluarga sangat diperlukan dalam pelaksanaan akad perkawinan. Keluarga masing-masing pihak calon mempelai diharapkan memberi restu atas perkawinan yang dilaksanakan itu. Hal ini sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang penuh etika sopan santun dan religius;
3) Perceraian dipersulit. Perceraian yang dilakukan sewenang-wenang tanpa kendali akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan, tidak hanya kehidupan suami istri tetapi juga kehidupan anak-anak yang dilahirkan dan harta kekayaan yang telah diperoleh dengan susah payah. Suami istri yang telah melaksanakan perkawinan dengan sah atas kesadaran diri masing-masing harus bertanggung jawab dalam membina keluarga agar keluarga tetap dibina dengan penuh rasa kasih sayang;
4) Perkawinan pada dasarnya monogami. Dalam satu jangka waktu perkawinan hanya boleh dilangsungkan antara seorang pria dan seorang wanita;
5) Hak dan kewajiban suami-istri adalah seimbang dalam rumah tangga, di mana tanggung jawab pimpinan keluarga ada pada suami.82
d. Rukun Dan Syarat Perkawinan
Rukun dan syarat menentukan suatu perbuatan hukum, terutama yang menyangkut dengan sah atau tidaknya perbuatan tersebut dari segi hukum. Kedua kata tersebut mengandung arti yang sama dalam hal bahwa keduanya merupakan sesuatu yang harus diadakan.
Menurut Jumhur Ulama rukun perkawinan ada lima dan masing-masing rukun mempunyai syarat-syarat tertentu. Adapun uraiannya sebagai berikut: 1) Calon mempelai laki-laki, syarat-syaratnya:
a. Beragama Islam. b. Laki-laki.
c. Jelas orangnya.
d. Dapat memberikan persetujuan. e. Tidak terdapat halangan perkawinan.
2) Calon mempelai perempuan, syarat-syaratnya: a. Beragama Islam.
b. Perempuan. c. Jelas orangnya.
d. Dapat dimintai persetujuan.
e. Tidak terdapat halangan perkawinan. 3) Wali nikah, syarat-syaratnya:
a. Laki-laki.
b. Dewasa.
c. Mempunyai hak perwalian.
d. Tidak terdapat halangan perwaliannya. 4) Saksi nikah, syarat-syaratnya:
a. Minimal dua orang laki-laki. b. Hadir dalam ijab qabul. c. Dapat mengerti maksud akad. d. Beragama Islam.
e. Dewasa.
5) Ijab Qabul, syarat-syaratnya:
a. Adanya pernyataan mengawinkan dari wali.
b. Adanya pernyataan penerimaan dari calon mempelai.
c. Memakai kata-kata nikah, tazwij atau terjemahan dari kedua kata tersebut. d. Antara ijab dan qabul bersambungan.
e. Antara ijab dan qabul jelas maksudnya.
f. Orang yang terkait dengan ijab qabul tidak sedang ihram haji dan umrah. g. Majelis ijab dan qabul harus dihadiri minimum empat orang yaitu calon
mempelai atau wakilnya, wali dari mempelai wanita dan dua orang saksi.83
Dalam Kompilasi Hukum Islam BAB IV, syarat dan rukun perkawinan pasal 14 yang berbunyi,”untuk melaksanakan perkawinan harus ada:
1) Calon suami. 2) Calon istri. 3) Wali nikah.
4) Dua orang saksi, dan 5) Ijab dan qabul.”84
Sedangkan Undang-undang perkawinan sama sekali tidak berbicara tentang rukun perkawinan. Undang-undang Perkawinan hanya membicarakan syarat-syarat perkawinan. Undang-undang perkawinan menentukan bahwa untuk sahnya suatu perkawinan di samping harus mengikuti ketentuan-ketentuan agama dan kemudian dicatat oleh Pegawai Pencatat Perkawinan. Pada garis besarnya syarat-syarat perkawinan itu dapat diperinci sebagai berikut:
1) Harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai, hal ini untuk menghindarkan terjadinya paksaan bagi calon mempelai dalam memilih bakal istri/suami. (Pasal 6 ayat 1 Undang-undang Perkawinan).
2) Calon mempelai laki-laki sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun, sedangkan calon mempelai perempuan sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun. (Pasal 7 ayat 1 Undang-undang Perkawinan).
83Indah Purbasari. Hukum Islam Sebagai Hukum Positif Di Indonesia, hal. 90
3) Mendapat izin dari kedua orang tuanya, bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun. Bila orang tuanya berhalangan, ijin dapat diberikan oleh pihak lain. (Pasal 6 ayat 2 s/d 5 Undang-undang Perkawinan).
4) Antara kedua calon suami-istri tidak ada larangan untuk kawin.
5) Masing-masing calon mempelai tidak terikat tali perkawinan, kecuali bagi calon suami dan mendapatkan izin dari pengadilan (Pasal 9 Undang-undang Perkawinan).
6) Antara kedua calon suami-istri tidak pernah terjadi dua kali perceraian, kecuali jika hukum agamanya menentukan lain. (Pasal 10 Undang-undang Perkawinan).
7) Telah lepas dari masa iddahnya atau jangka waktu tunggu karena putusnya perkawinan. (Pasal 11 Undang-undang Perkawinan).85
2. Maqashid Syariah
Secara umum maqashid syariah (tujuan hukum Islam) adalah kebahagiaan hidup manusia di dunia ini dan di akhirat kelak, dengan jalan mengambil segala yang bermanfaat dan mencegah atau menolak yang mudharat yaitu yang tidak berguna bagi hidup dan kehidupan. Dengan kata lain tujuan syariah adalah kemaslahatan hidup manusia, baik rohani maupun jasmani, individual dan sosial.
Tujuan hukum Islam jika dilihat dari pembuat hukum Islam adalah:
a. Untuk memenuhi keperluan hidup manusia yang bersifat primer(daruriyat), sekunder (hajjiyat), dan tersier (tahsiniyat).
b. Untuk ditaati dan dilaksanakan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari, c. Supaya dapat ditaati dan dilaksanakan dengan baik dan benar, manusia wajib
meningkatkan kemampuannya untuk memahami hukum Islam dengan mempelajari Ushul Fiqh.86
Kalau dari segi pelaku hukum Islam dalam hal ini manusia sendiri yaitu untuk mencapai kehidupan yang berbahagia dan sejahtera dengan kata lain, tujuan hakiki hukum Islam secara umum adalah tercapainya keridhaan Allah dalam kehidupan manusia di dunia dan di akhirat kelak. kebutuhan hidup manusia yang bersifat primer merupakan tujuan utama yang harus dipelihara oleh hukum Islam. Kepentingan-kepentingan yang harus dipelihara itu yang disebut dengan maqashid syariah yakni:
a. Pemeliharaan agama merupakan tujuan hukum Islam, karena agama merupakan pedoman hidup manusia.
b. Pemeliharaan jiwa merupakan tujuan kedua hukum Islam, karena hukum Islam wajib memelihara hak manusia untuk hidup dan mempertahankan kehidupannya.
85Indri Hadisiswati, Hukum Perdata. Tulungagung: Diklat Tidak Diterbitkan, 2002, hal. 6-7 86Indah Purbasari. Hukum Islam sebagai Hukum Positif di Indonesia, hal. 16
c. Pemeliharaan akal sangat dipentingkan oleh hukum Islam, karena mempergunakan akalnya manusia dapat berpikir tentang Allah, alam semesta dan dirinya sendiri.
d. Pemeliharaan keturunan, artinya kemurnian darah dapat dijaga dan kelanjutan umat manusia dapat diteruskan, hal ini merupakan tujuan keempat hukum Islam.
e. Pemeliharaan harta, maknanya harta adalah pemberian tuhan kepada manusia agar manusia dapat mempertahankan hidup dan melangsungkan kehidupannya.
3. Pengadilan Agama
Peradilan adalah kekuasaan negara dalam menerima, memeriksa, mengadili, memutus, dan menyelesaikan perkara untuk menegakkan hukum dan keadilan.87 Adapun yang dimaksud dengan kekuasaan kehakiman yang memiliki
kebebasan dari campur tangan pihak negara lainnya, dan bebas dari paksaan, direktifa atau rekomendasi yang datang dari pihak ekstra yudisial, kecuali dalam hal-hal yang diizinkan oleh Undang-undang.
Dalam literatur Fiqh Islam, untuk berjalannya peradilan dengan baik dan normal, diperlukan adanya enam unsur yakni:88
a. Hakim atau Qadhi adalah orang yang diangkat oleh kepala negara untuk menjadi hakim dalam menyelesaikan gugat menggugat, oleh karena penguasa sendiri tidak dapat menyelesaikan tugas peradilan,
b. Hukum yaitu putusan hakim yang ditetapkan untuk menyelesaikan suatu perkara. Hukum ini adakalanya dengan jalan ilzam, yaitu seperti hakim berkata saya menghukum engkau dengan membayar sejumlah uang,
c. Mahkum Bihi,
d. Mahkum ‘Alaihi yakni orang yang dijatuhi hukuman atasnya. Mahkum alaihi dalam hak-hak syara’ adalah yang diminta untuk memenuhi suatu tuntutan yang dihadapkan kepadanya. Baik tergugat atau pun bukan, seorang atau pun banyak,
e. Mahkum Lahu yaitu orang yang menggugat suatu hak. Baik hak itu yang murni baginya atau terdapat dua hak tetapi haknya lebih kuat,
f. Perkataan atau perbuatan yang menunjuk kepada hukum.
Peradilan Agama adalah salah satu di antara peradilan khusus di Indonesia. Peradilan Agama adalah Peradilan Islam di Indonesia, sebab dari jenis-jenis perkara yang boleh diadilinya, seluruhnya adalah jenis perkara menurut agama Islam. Dirangkaikannya kata-kata peradilan Islam di Indonesia adalah karena jenis perkara yang boleh diadilinya, tidaklah mencakup segala macam perkara menurut Peradilan Islam secara universal.
87CikHasan Bisri. Peradilan Agama di Indonesia. Jakarta: Rajawali Press, 2003, hal. 6 88Basiq Djalil.Peradilan Agama Di Indonesia. Jakarta: Kencana, 2006. Hal. 5
Berkenaan dengan pengertian tersebut, maka pengadilan merupakan penyelenggara peradilan. Atau dengan perkataan lain, pengadilan adalah badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman untuk menegakkan hukum dan keadilan. Dengan demikian, peradilan agama dapat dirumuskan sebagai kekuasaan negara dalam menerima, memeriksa, mengadili, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara tertentu antara orang-orang yang beragama Islam untuk menegakkan hukum dan keadilan.
Adapun yang dimaksud dengan perkara-perkara tertentu adalah perkara di bidang :
a. Perkawinan
b. kewarisan, wasiat, dan hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam c. Wakaf dan shadaqah.
Pengadilan agama adalah pengadilan tingkat pertama dalam lingkungan peradilan agama. Kekuasaan atau kewenangan peradilan kaitannya adalah dengan hukum acara, menyangkut dua hal, yaitu: “Kekuasaan Relatif dan Kekuasaan Absolut”.
Kekuasaan Relatif diartikan sebagai kekuasaan peradilan yang satu jenisnya dan satu tingkatan, dalam perbedaannya dengan kekuasaan pengadilan yang sama jenis dan sama tingkatan. Misalnya, antara Pengadilan Negeri Bogor dengan Pengadilan Negeri Subang, Pengadilan Agama Muara Enim dan Pengadilan Agama Baturaja.
Pengadilan Negeri Bogor dan Subang sama-sama lingkungan Peradilan Umum dan sama-sama Pengadilan Tingkat Pertama. Sedangkan Pengadilan Agama Muara Enim dan Pengadilan Agama Baturaja satu jenis yaitu sama-sama lingkungan Peradilan Agama dan satu tingkatan, sama- sama tingkat pertama. Pasal 4 ayat UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama berbunyi:
“Peradilan Agama berkedudukan di kota madya atau di ibu kota kabupaten dan daerah hukumnya meliputi wilayah kota madya atau kabupaten”. Pada penjelasan Pasal 4 Ayat 1 berbunyi: “Pada dasarnya tempat kedudukan Pengadilan Agama ada di kota atau kabupaten, yang daerah hukumnya meliputi wilayah kota madya atau kabupaten, tetapi tidak tertutup kemungkinan adanya pengecualian.89
Peradilan agama adalah salah satu di antara peradilan khusus di Indonesia. Dua peradilan khusus lainnya adalah peradilan militer dan peradilan tata usaha negara. dikatakan peradilan khusus karena peradilan agama mengadili perkara-perkara tertentu atau mengenai golongan rakyat tertentu. Dalam hal ini pengadilan agama hanya berwenang di bidang perdata tertentu saja, tidak termasuk bidang pidana dan pula hanya untuk orang-orang Islam di Indonesia, dalam perkara-perkara perdata Islam tertentu tidak mencakup seluruh perdata Islam.
Daerah hukum pengadilan agama adalah daerah kota atau kabupaten. Sedangkan daerah hukum pengadilan tinggi agama adalah daerah provinsi. Namun demikian dalam kenyataannya ditemukan lebih dari satu pengadilan agama dalam satu daerah kabupaten.
Di Pengadilan terdapat dua jenis tata cara pengelolaan administrasi, yaitu bidang administrasi perkara dan bidang administrasi umum. Namun dalam rangka koordinasi pertanggung jawaban, kedua bidang itu dibebankan kepada seorang pejabat, yaitu panitera merangkap sebagai sekretaris pengadilan. Dalam menjalankan tugasnya, panitera dibantu oleh wakil panitera dan Wakil Sekretaris, beberapa panitera muda, beberapa panitera muda dan beberapa juru sita; kepala sub bagian/urusan umum, Kepala Sub Bagian/Urusan Kepegawaian, dan Kepala Sub Bagian/Urusan Keuangan.90
a. Faktor Penyebab Pengajuan Permohonan Isbat Nikah Di Pengadilan Agama Bangko
Isbat nikah merupakan perkara volunter, maka dari itu pihak yang mengajukan adalah pemohon karena memang dalam perkara ini tidak ada sengketa. Sebagian besar pemohon dalam Isbat nikah ini adalah suami atau istri yang bersangkutan. Padahal selain suami istri, pihak lain yang bisa mengajukan Isbat nikah adalah anak-anak dari pasangan suami istri atau pihak lain yang berkepentingan dengan pernikahan tersebut. Menurut Bapak Wakil Ketua Pengadilan Agama Bangko bahwa:
Faktor penyebab para pemohon untuk mengajukan Isbat nikah di antaranya adalah pemohon melaksanakan nikah siri yang sah menurut agama namun tidak diakui oleh negara, jarak tempuh dari KUA cukup jauh atau boleh dikatakan pemohon tinggal di tempat terpencil, dan terkadang pemohon tidak paham dengan Pencatatan Pernikahan di KUA.91
b. Ada beberapa faktor penyebab pengajuan permohonan Isbat nikah ke Pengadilan Agama Bangko adalah sebagai berikut:
1) Menikah secara terpaksa atau menikah tanpa persetujuan keluarga.
Pernikahan dilakukan oleh dua insan yang berbeda dan juga kedua keluarganya. Terkadang dua insan yang sedang dilanda cinta buta akan menempuh jalan apa pun untuk menikah. Sehingga tidak mendapatkan restu dari pihak keluarga. Sebagaimana yang dikatakan salah satu pemohon Isbat nikah bahwa: Kami telah menikah dan dinikahkan oleh ayah istri saya, namun karena pihak keluarga tidak setuju jadi kami menikah tidak lagi mengurus persyaratan yang ada di KUA, yang terpenting bagi kami telah menikah dan sah menurut agama. Dan kami tidak terpikir jika tidak punya buku nikah maka tidak
90Cik Hasan Bisri. Peradilan Agama di Indonesia. hal. 208-210
91Drs. Malem Puteh, Wakil Ketua Pengadilan Agama Bangko, Wawancara, Tanggal 8 September
dapat membuat akta kelahiran anak. Untuk itu kami mengurus Isbat nikah di Pengadilan Agama Bangko. Nikah Sirri adalah sah menurut agama namun tidak mendapat pengakuan dari agama. Apa yang dilakukan oleh Bapak Fathir adalah sah menurut agam namun dia sulit untuk menjalani kehidupan karena terbentur dengan aturan yang ada. Ketika sudah memiliki anak maka untuk membuat akta kelahiran anak saja tidak bisa.
2) Masyarakat belum paham Pencatatan Pernikahan di KUA
Pencatatan pernikahan merupakan salah satu bentuk intervensi pemerintah atau negara untuk melindungi dan menjamin terpenuhinya hak- hak sosial setiap warga negara khususnya pasangan suami istri serta anak- anak yang lahir dari perkawinan itu. Masyarakat yang tidak mengerti betapa pentingnya pencatatan pernikahan menganggap bahwa nikah tidak perlu dicatat cukup sesuai agama Islam saja sebagaimana yang dikatakan oleh pemohon sebagai berikut: Kami tidak tahu kalau menikah di KUA itu penting, menurut kami menikah sesuai dengan ajaran Islam saja sudah cukup. Apalagi untuk mengurusnya juga cukup rumit dan banyak pula persyaratannya. Makanya kami tidak menggurunya cukup menikah sesuai dengan ajaran Islam saja. maklumlah kami orang desa jauh dari pengetahuan tentang itu.92
Masih ada masyarakat yang sama sekali tidak tahu betapa pentingnya memiliki buku nikah. Dengan tidak tercatatnya pernikahan mereka, akan banyak permasalahan yang datang kepada mereka seperti anak yang dilahirkan oleh orang tua yang tidak tercatat pernikahannya mengakibatkan tidak dapat membuat akta kelahiran anak, atau ketika suami meninggalkan istri tanpa kabar berita selama bertahun-tahun, maka istrinya tidak dapat mengajukan haknya ke pengadilan agama. Hal ini karena pernikahannya tidak memiliki bukti otentik berupa akta nikah, sehingga status pernikahannya tersebut secara hukum tidak legal dan majelis hakim tidak akan dapat berbuat apa-apa terhadap kasus pernikahan semacam itu.
3) Kondisi jarak yang jauh atau sulit di tempuh untuk menuju ke KUA
Pernikahan adalah dambaan setiap manusia, jika jarak antara tempat tinggal dengan KUA cukup jauh ditambah lagi dengan kondisi jalan yang sangat buruk, membuat seseorang yang ingin menikah malas untuk mengurus di KUA. Terkadang mereka menyerahkan urusannya kepada orang yang dapat dipercaya kemudian diberikan imbalan. Namun orang yang diberi amanah tersebut terkadang tidak menjalankan amanahnya sampai selesai akhir ketika mau menikah urusan belum selesai, yang akhirnya menikah tanpa ada izin dari KUA. Salah satu pemohon Isbat nikah mengatakan bahwa:
92Fathir, Pemohon Isbat Nikah di Pengadilan Agama Bangko, Wawancara, Tanggal 12 Agustus
Ketika akan menikah kami menyerahkan segala urusan kepada orang yang kami anggap mampu untuk mengurus administrasi kami untuk menikah, kami ingin mengurusnya tapi cukup jauh rumah kami dengan kantor KUA. Selain jauh dari rumah jalannya juga rusak sulit untuk ditempuh. Apalagi kata orang dusun kalau mau menikah jangan banyak keluar rumah. Kalau urusan diserahkan kepada orang lain terkadang selesai terkadang juga tidak. Termasuk urusan kami tidak juga selesai akhirnya kami hanya menikah di bawah tangan. Tanpa ada buku nikah dari KUA.
Jika jarak dan kondisi jalan yang sulit di tempuh dari rumah pemohon dengan KUA sebenarnya bisa saja ditempuh jika memang ada keinginan dari kedua mempelai. Hanya saja mereka terlalu percaya kepada seseorang sehingga mereka melupakan urusan itu hanya mereka yang bisa melakukannya.
c. Prosedur Penyelesaian Permohonan Isbat Nikah di Pengadilan Agama Bangko Prosedur permohonan Isbat nikah sama halnya dengan prosedur yang ditempuh dalam mengajukan perkara perdata yang lainnya .Adapun prosedur yang harus ditempuh oleh pemohon Isbat nikah ada beberapa tahapan sebagai berikut:
1) Datang dan mendaftar ke Kantor Pengadilan Agama Bangko
Untuk mengajukan Isbat nikah, pemohon harus datang ke kantor Pengadilan Agama Bangko tempat di mana pemohon berdomisili. Sebagaimana yang dikatakan oleh petugas Posbakum bahwa:
Pemohon mendatangi kantor Pengadilan Agama Bangko berdasarkan wilayah domisili pemohon. Kemudian pemohon menanyakan apa saja persyaratan ke meja informasi dan setelah itu membayar panjar perkara sesuai dengan ketetapan Pengadilan Agama Bangko di Bank BRI. Setelah membayar panjar, pemohon langsung menuju ruang Posbakum (pos bantuan hukum) untuk dibuatkan permohonan Isbat nikah dengan membawa persyaratan yang ada. Jika pemohon bisa membuat surat permohonan sendiri maka dibolehkan jika tidak minta bantuan ke Posbakum. Surat permohonan Isbat nikah dibuat sebanyak 7 rangkap dan satu untuk pemohon. Kemudian diberi nomor permohonan di didaftarkan ke bagian kepaniteraan. Pemohon membawa bukti pembayaran biaya panjar perkara dan surat permohonan untuk di bawa pulang sambil menunggu waktu pemanggilan sidang oleh juru sita di rumah.93
Untuk langkah pertama pemohon datang ke pengadilan dan langsung menuju ke meja informasi untuk meminta petunjuk, dan setelah melengkapi persyaratan barulah pemohon meminta bantuan ke Posbakum untuk membuat permohonan jika pemohon tidak bisa membuat sendiri. Kemudian baru mendaftar ke bagian kepaniteraan. Selain itu pemohon juga harus membawa surat-surat yang diperlukan sebagai bukti, misalnya surat keterangan dari KUA
bahwa pernikahannya belum di catat, Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).
2) Menunggu Panggilan Sidang dari Pengadilan Agama Bangko
Setelah mendaftar di permohonan Isbat nikah di Pengadilan Agama Bangko maka langkah selanjutnya yang akan dilalui oleh pemohon adalah sebagaimana yang dikatakan oleh panitera muda yakni:
Pengadilan Agama Bangko akan mengirim surat panggilan yang berisi tentang tanggal dan tempat sidang kepada saudara secara langsung ke pemohon dan termohon sesuai dengan alamat yang tertera dalam surat permohonan di hari kerja.94
Pemanggilan pemohon dan termohon akan dilakukan oleh juru sita di hari kerja. Juru sita akan mengantarkan panggilan untuk sidang sesuai dengan alamat yang tertera di surat permohonan, jika pemohon dan termohon tidak ada maka surat panggilan akan di sampaikan kepada lurah atau kepala desa di mana domisili pemohon dan termohon.
3) Menghadiri Persidangan
Jika telah ditentukan hari dan tanggal serta tempat sidang maka pemohon dan termohon harus datang untuk menjalani persidangan sebagaimana yang dikatakan oleh Ibu Wakil Panitera sebagai berikut:
Pemohon dan termohon harus datang ke Pengadilan Agama Bangko sesuai dengan tanggal dan waktu yang tertera dalam surat panggilan. Upayakan untuk datang tepat waktu dan tidak terlambat. Untuk sidang pertama, bawa serta dokumen seperti Surat panggilan persidangan, foto kopi formulir pendaftaran yang telah diisi. Dalam sidang pertama ini hakim akan menanyakan identitas para pihak misalnya KTP atau kartu identitas lainnya yang asli.95
Pada sidang pertama pemohon dan termohon harus datang dan hakim akan menanyakan tentang identitas para pihak, dan juga melakukan pemeriksaan kembali isi permohonan pemohon. Bagi pemohon atau termohon yang tidak datang pada sidang pertama maka sidang selanjutnya akan di panggil kembali. Adapun agenda persidangannya adalah mediasi, pembacaan permohonan, jawaban, replik, duplik, pembuktian, simpulan dan putusan. Dalam persidangan tidak menutup kemungkinan, pemohon diminta untuk menghadirkan saksi untuk pembuktian.
4) Putusan/Penetapan Pengadilan Agama Bangko
Jika permohonan pemohon dikabulkan, Pengadilan Agama Bangko akan mengeluarkan putusan/penetapan Isbat nikah. Salinan putusan/penetapan Isbat nikah akan siap diambil dalam jangka waktu setelah 14 hari sidang terakhir. Salinan putusan/penetapan Isbat nikah dapat diambil sendiri ke kantor Pengadilan
94 Zari Wardana, Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Bangko, Wawancara Tanggal,7
Oktober 2019
Agama Bangko atau mewakilkan kepada orang lain dengan Surat Kuasa. Setelah mendapatkan salinan putusan/penetapan tersebut, Pemohon bisa meminta KUA setempat untuk mencatatkan pernikahan Pemohon dengan menunjukkan bukti salinan putusan/penetapan Pengadilan Agama Bangko tersebut.96
Menerima penetapan dari Pengadilan Agama Bangko jika pengadilan mengabulkan permohonan pemohon, maka Pengadilan Agama Bangko akan mengeluarkan penetapan Isbat nikah. Jika permohonan tidak diterima, maka pernikahan pemohon dianggap tidak sah.
Sedangkan Prosedur permohonan Isbat nikah di Pengadilan Agama Bangko sesuai dengan Buku Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Agama yang diterbitkan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia tahun 2008.
Dalam buku Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Agama 2008 yang diterbitkan oleh Mahkamah Agung RI disebutkan “Pengadilan Agama hanya dapat mengabulkan permohonan Isbat nikah, sepanjang perkawinan yang telah dilangsungkan memenuhi syarat dan rukun nikah secara syariat Islam dan perkawinan tersebut tidak melanggar larangan perkawinan yang diatur dalam Pasal 8 s/d Pasal 10 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 39 s/d Pasal 44 Kompilasi Hukum Islam”.
d. Penyelesaian Permohonan Isbat Nikah Dalam Pandangan Maqhasid Syariah Pernikahan yang tidak tercatat ,tidak berakibat hukum dan tidak memiliki pengakuan hukum. Pencatatan perkawinan bertujuan untuk mewujudkan ketertiban perkawinan dalam masyarakat. Hal ini merupakan suatu upaya yang diatur melalui perundang-undangan, untuk melindungi martabat dan kesucian perkawinan dan lebih khusus lagi bagi perempuan dalam kehidupan rumah tangga. Pencatatan tiap- tiap perkawinan adalah sama halnya dengan pencatatan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang, misalnya kelahiran, kematian yang dinyatakan dalam surat-surat keterangan, suatu akta yang juga dimuat dalam daftar pencatatan.
Isbat nikah merupakan salah satu dari alternatif menyelaraskan antara hukum agama yang diyakini masyarakat dan keberlakuan hukum formal, walaupun hal ini bukan merupakan rumusan hukum yang ideal, dengan demikian perlu ada upaya yang lebih kongkret untuk mewujudkan norma Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) yang menegaskan bahwa Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dan tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan dalam Pasal 39 ayat (1), Pasal 65 Undang-undang Nomor7Tahun1989 beserta revisinya, dan Pasal 115
96 Zari Wardana, Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Bangko, Wawancara Tanggal 7
Kompilasi Hukum Islam, yang menyatakan perceraian hanya dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan.97
Teori maqasyid syariah dijelaskan pada lima pokok kemaslahatan dengan peringkatnya masing-masing. Hal tersebut bertitik tolak dari kelima pokok kemaslahatan yaitu agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Penetapan Isbat nikah cenderung pada kemaslahatan memelihara keturunan dan memelihara harta dalam peringkat daruriyat. Kebutuhan daruriyati adalah tingkat kebutuhan yang harus ada atau disebut dengan kebutuhan primer. Bila tingkat kebutuhan ini tidak terpenuhi, akan terancam keselamatan umat manusia baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Maka menurut penulis Isbat nikah memberikan kemaslahatan, karena bila secara hukum negara, belum tercatat legalitas status perkawinan akan mengalami kesulitan pada kasus dan sengketa seperti waris, hak asuh anak, perceraian, nafkah dan permasalahan perkawinan lainnya.
Tujuan hukum harus diketahui dalam rangka mengembangkan pemikiran hukum dalam Islam secara umum dan menjawab persoalan-persoalan hukum yang tidak diatur secara eksplisit oleh Alquran dan hadis. Oleh sebab itu, berkaitan dengan penetapan perkara Isbat nikah yakni hukum yang menyangkut bidang muamalah dapat memberikan kemaslahatan bagi umat muslim. Memberikan kepastian hukum secara hukum Negara bagi status sosial seorang muslim baik sebagai suami atau pun istri, serta memberikan kejelasan status anak dalam keluarga yang sah dan tercatat secara administrasi kependudukan sebagai warga Negara Indonesia.
Tujuan pencatatan pernikahan pada lembaga pencatatan sipil adalah seseorang memiliki alat bukti (bayyinah) untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar telah menikah dengan orang lain. Sebab salah satu bukti yang di anggap sah sebagai bukti syar’iy (bayyinah syar’iyyah) adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh negara. Ketika pernikahan dicatatkan pada lembaga pencatatan sipil, tentunya seseorang telah memiliki sebuah dokumen resmi yang bisa dijadikan sebagai alat bukti (bayyinah)di hadapan majelis peradilan, ketika ada sengketa yang berkaitan dengan pernikahan, maupun sengketa yang lahir akibat pernikahan, seperti waris, hak asuh anak, perceraian, nafkah, dan lain sebagainya.
Untuk manusia secara keseluruhan, hukum itu telah ditetapkan oleh Allah SWT dengan tujuan untuk mewujudkan kemaslahatan seluruh umat manusia secara pasti. Kemaslahatan manusia sekaligus untuk menghindari mafsadat, baik di dunia maupun akhirat. Untuk menyampaikan aturan-aturannya itu, Allah mengangkat Rasul sebagai pesuruh dan utusan-Nya kepada manusia. Rasul itulah yang bertugas menyampaikan dan memberitahu hukum atau aturan-aturan tersebut kepada manusia.
SIMPULAN
Dari Paparan di atas dapat kami dipahami Ada beberapa faktor penyebab pengajuan permohonan Isbat nikah ke Pengadilan Agama Bangko adalah Menikah secara terpaksa atau menikah tanpa persetujuan keluarga yang akhirnya mereka melakukan nikah siri. Nikah Sirri adalah sah menurut agama namun tidak mendapat pengakuan dari Negara. Jika tidak dapat pengakuan dari negara maka sulit untuk menjalani kehidupan karena terbentur dengan aturan yang ada. Masyarakat yang tidak mengerti betapa pentingnya pencatatan pernikahan menganggap bahwa nikah tidak perlu dicatat cukup sesuai agama Islam saja. Prosedur permohonan Isbat nikah sama halnya dengan prosedur yang ditempuh dalam mengajukan perkara perdata yang lainnya. Adapun prosedur yang harus ditempuh oleh pemohon Isbat nikah ada beberapa tahapan adalah: Datang dan mendaftar ke Kantor Pengadilan Agama Bangko. Menunggu Panggilan Sidang dari Pengadilan Agama Bangko. Menghadiri persidangan dan Putusan/Penetapan Pengadilan Agama Bangko. Penetapan Isbat nikah cenderung pada kemaslahatan memelihara keturunan dan memelihara harta dalam peringkat daruriyat. Kebutuhan daruriyat ialah tingkat kebutuhan yang harus adat atau disebut dengan kebutuhan primer. Maka menurut penulis Isbat nikah memberikan kemaslahatan, karena bila secara hukum negara, belum tercatat legalitas status perkawinan akan mengalami kesulitan pada kasus dan sengketa seperti waris, hak asuh anak, perceraian, nafkah dan permasalahan perkawinan lainnya.
DAFTAR RUJUKAN
Abdul kadir Muhammad. 2014, Hukum Perdata Indonesia, Bandung: Citra Adtya Bakti
Ahmad Sanusi, Pelaksanaan Isbat Nikah di Pengadilan Agama Pandeglang, Jurnal Ahkam vol.XVI, No. 1, 2016
Abdul Manan. 2010, Etika Hakim Dalam Penyelenggaraan Peradilan: Suatu Kajian Dalam Sistem Peradilan Islam. Jakarta: Kencana.
Basiq Djalil. 2006, Peradilan Agama Di Indonesia. Jakarta: Kencana
Kementerian Agama R. 2006. Al-Qur’an dan Terjemahan, Bandung: CV Dipenegoro Moch Isnaeni. 2016, Hukum Perkawinan Indonesia, Bandung: PT Refika Aditama Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum
Islam. Surabaya: Sinarsindo Utama, Cet. I, 2015
Indah Purbasari. 2017, Hukum Islam sebagai Hukum Positif di Indonesia: Suatu Kajian di Bidang Hukum Keluarga, Malang: Setara Press
Moch Isnaeni. 2016, Hukum Perkawinan Indonesia, Bandung: PT Refika Aditama Sugiyono. 2016. Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta
V. Wiratna Sujarweni. 2014. Metodologi Penelitian: lengkap, praktis, dan mudah dipahami, Yogyakarta: Pustaka Baru Press
dipublikasikan di media dan terbitan manapun,
2. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia baku (atau bahasa asing) dengan ragam tulisan ilmiah atau ilmiah populer, tetapi bukan ragam komunikasi lisan,
3. Panjang tulisan antara 15-25 halaman kwarto atau A4 dengan satu spasi, 4. Artikel dikirimkan melalui akun penulis yang dapat didaftarkan di
http://ejurnal.staismqbangko.ac.id/pendaftaran.mu
Hak penulis yang diterbitkan Jurnal Sosio Akademika Sekolah Tinggi Agama Islam Syekh Maulana Qori Bangko adalah:
1. Mendapat rekomendasi untuk penerbitan surat keterangan yang dikeluarkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Syekh Maulana Qori Bangko,
2. Penulis artikel mendapatkan hard copy sebanyak 2 (dua) eksemplar. Petunjuk Teknis
1. Judul:
a. Informatif mencerminkan isi artikel
b. Maksimum 12 kata (Bahasa Indonesia) atau 10 kata (Bahasa Inggris) c. Memuat variabel atau konsep yang dicakup dalam artikel
d. Tidak ada singkatan
e. Tidak menggunakan kata-kata klise
2. Penulis, yaitu: nama penulis diketik tanpa mencantumkan gelar kesarjanaan dan gelar lainnya, dan ditambah dengan pekerjaan dengan jelas
3. Abstrak:
a. Abstrak ringkas dan padat (dalam 1 alinea) tentang ide-ide yang paling penting
b. Abstrak memuat:
1) Masalah dan/atau tujuan penelitian 2) Prosedur penelitian
3) Ringkasan hasil penelitian 4) Simpulan
c. Abstrak ditulis dalam Bahasa Inggris untuk bisa diakses sehingga memperoleh peluang untuk disitasi
d. Menurut Undang-undang tentang Bahasa, abstrak juga harus ditulis dalam bahasa Indonesia
e. Abstrak memuat 50-250 kata 4. Kata Kunci:
a. Kata kunci memuat kata-kata konseptual, b. Jumlah kata kunci sekitar maksimal 5 kata, c. Dapat berbentuk kata maupun prase. 5. Pendahuluan
a. Biasanya tidak diberi judul b. Memuat:
4) Wawasan rencana pemecahan masalah dan potensi kontribusinya bagi perkembangan bidang ilmu,
5) Rumusan tujuan penelitian.
6. Metode (khusus tulisan ilmiah hasil penelitian) a. Desain/prosedur penelitian
b. Populasi & sampel/sumber data
c. Alat/Instrumen & bahan yang digunakan d. Bagaimana data dikumpulkan
e. Bagaimana data dianalisis
7. Hasil (khusus tulisan ilmiah hasil penelitian) 8. Pembahasan
a. Pemaknaan/penafsiran hasil analisis data
b. Membandingkan dengan hasil-hasil temuan penelitian sebelumnya untuk menunjukkan adanya temuan baru yang memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu
c. Pengintegrasian hasil-hasil penelitian ke dalam kumpulan pengetahuan yang telah mapan
d. Penyusunan teori baru atau modifikasi teori yang ada 9. Simpulan dengan pendekatan:
a. Menjawab masalah penelitian yang diajukan pada bagian pendahuluan b. Merupakan inti sari hasil pembahasan yang dianggap paling penting/yang
mengandung sesuatu yang baru 10. Biodata Singkat tentang penulis
Alamat Redaksi
STAI SYEKH MAULANA QORI BANGKO
Jln. Prof. Muhammad Yamin SH, Pasar Atas Bangko-Jambi Telp. 0746-3260012/ 0812-7380-416/082185911720 e-mail: [email protected]
Sosio Akademika: Jurnal Pendidikan Islam, Sosial dan Keagamaan, merupakan jurnal ilmiah populer membahas masalah Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
yang aktual, terbit berdasarkan Surat Keputusan Ketua STAI Syekh Maulana Qori (SMQ) Bangko sebagai wahana komunikasi dan informasi antar Peneliti,