BAB II. GAMBARAN PELAYANAN PERANGKAT DAERAH (PD)
2.1. Tugas, Fungsi, dan Struktur Organisasi PDBerdasarkan Peraturan Gubernur Kepulauan Riau Nomor 60 Tahun 2016 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan Provinsi Kepulauan Riau.
2.1.1. Tugas dan Fungsi
Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan mempunyai tugas melaksanakan sebagian kewenangan desentralisasi, tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan di bidang pekerjaan umum, penataan ruang dan pertanahan sesuai dengan lingkup tugasnya.
Dalam melaksanakan tugas tersebut Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan mempunyai fungsi sebagai berikut:
a. pengelolaan kegiatan kesekretariatan meliputi perencanaan dan evaluasi program, umum dan keuangan;
b. penyusunan program di bidang pekerjaan umum, penataan ruang dan pertanahan;
c. perumusan kebijakan teknis, fasilitasi, koordinasi serta pembinaan teknis di bidang bina marga;
d. perumusan kebijakan teknis, fasilitasi, koordinasi serta pembinaan teknis di bidang sumber daya air;
e. perumusan kebijakan teknis, fasilitasi, koordinasi serta pembinaan teknis di bidang jasa kontruksi;
f. perumusan kebijakan teknis, fasilitasi, koordinasi serta pembinaan teknis di bidang penataan ruang dan pertanahan;
Rencana Strategis Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau Periode Tahun 2016 - 2021 2 - 2 g. penyelenggaraan pengawasan dan pengendalian di bidang pekerjaan umum, penataan
ruang dan pertanahan;
h. pembinaan terhadap Unit Pelaksana Teknis Dinas dalam lingkup tugasnya; dan i. melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh Gubernur.
Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan terdiri atas: a. Sekretariat;
b. Bidang Bina Marga; c. Bidang Sumber Daya Air; d. Bidang Jasa Kontruksi;
e. Bidang Penataan Ruang dan Pertanahan; f. Unit Pelaksana Teknis Dinas; dan
g. Kelompok Jabatan Fungsional. Bidang Sekretariat
Sekretariat mempunyai tugas pokok melaksanakan koordinasi, pembinaan pelaksanaan tugas dan dukungan administrasi dinas.
Dalam melaksanakan tugas tersebut bidang Sekretariat menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:
a. pengelolaan urusan administrasi dan inventarisasi aset;
b. pengkoordinasian dan monitoring pengelolaan aset dan kearsipan;
c. membangun, mengembangkan, dan melaksanakan system pengelolaan aset dan kearsipan;
d. pengelolaan urusan administrasi kepegawaian, pengembangan SDM, organisasi dan tata laksana Dinas;
e. pengelolaan urusan ketatausahaan, perlengkapan dan urusan rumah tangga Dinas;
f. pengelolaan urusan surat menyurat, kearsipan serta urusan umum lainnya, hukum dan kehumasan;
g. pengkoordinasian pelaksanaan Sistem Informasi dan mengelolah pengaduan masyarakat; h. pengkoordinasian dan fasilitasi Laporan Hasil Pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa baik dari
internal maupun eksternal; dan
i. pelaksanaan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh kepala dinas. Sekretariat terdiri atas:
a. Subbagian Perencanaan dan Keuangan; dan b. Subbagian Umum dan Kepegawaian.
1) Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan
Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan mempunyai tugas pokok melaksanakan koordinasi dan menyusun rencana program dan kegiatan dinas, penyusunan program dan anggaran, pelaksanaan evaluasi dan pelaporan, mengkoordinir penyusunan sistem informasi infrastruktur serta melakukan penyiapan bahan pengendalian, perbendaharaan, pengelolaan administrasi dan pertanggungjawaban keuangan.
Uraian tugas tersebut meliputi:
a. melaksanakan penyusunan rencana program dan kegiatan dinas pekerjaan umum berdasarkan usulan Bidang sesuai dengan tahapan mekanisme perencanaan;
b. melaksanakan penyelarasan dan kompilasi program kegiatan dinas;
d. menyusun bahan laporan pelaksanaan program kegiatan dinas; e. menyusun rencana anggaran dinas;
f. menyelenggarakan tata usaha keuangan dinas;
g. melaksanakan pembukuan, verifikasi, dan pembinaan bendaharawan; h. melaksanakan penyelesaian administrasi gaji pegawai;
i. melaksanakan monitoring dan evaluasi pengelolaan keuangan dinas; j. menyusun laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan dinas;
k. melaksanakan koordinasi dengan bidang-bidang yang terkait sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya; dan
l. melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh sekretaris. 2) Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
Sub Bagian Umum dan Kepegawaian mempunyai tugas pokok mengumpul dan mengolah bahan administrasi umum, administrasi kepegawaian, pengembangan sumber daya manusia, organisasi serta menyiapkan bahan laporan tindak lanjut hasil pengawasan fungsional dan pengawasan melekat.
Uraian tugas tersebut meliputi:
a. menyiapkan dan menyusun program kegiatan bidang umum dan kepegawaian;
b. melaksanakan pengelolaan urusan surat menyurat, kearsipan serta urusan umum lainnya, hukum dan kehumasan;
c. melaksanakan pengadaan, penyaluran, penyimpanan serta pemeliharaan peralatan dan perlengkapan;
d. melaksanakan pengelolaan administrasi kepegawaian dan pengembangan pegawai; e. melaksanakan pembinaan organisasi dan ketatalaksanaan dinas;
f. menyusun bahan laporan dan evaluasi pelaksanaan tugas di bidang umum dan kepegawaian;
g. mengkoordinasikan dan memfasilitasi Laporan Hasil Pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa baik dari internal maupun eksternal;
h. menyiapkan bahan laporan tindak lanjut hasil pengawasan fungsional dan pengawasan melekat;
i. melaksanakan koordinasi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya; dan j. melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh sekretaris. Bidang Bina Marga
Bidang Bina Marga mempunyai tugas pokok penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan, fasilitasi, pembangunan serta pemeliharaan di bidang kebinamargaan; pemetaan jalan provinsi serta pengelolaan jembatan.
Untuk melaksanakan tugas tersebut Bidang Bina Marga mempunyai fungsi: a. pelaksanaan penyusunan program kegiatan bidang bina marga;
b. penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis penyelenggaraan jalan provinsi; fasilitasi, koordinasi serta pembinaan teknis pembangunan jalan dan jembatan;
c. penyiapan bahan perumusan penyusunan pedoman operasional penyelenggaraan jalan provinsi;
d. penyiapan bahan perumusan penetapan fungsi jalan dalam sistem jaringan jalan sekunder dan jalan kolektor yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten, antar ibukota kabupaten, jalan lokal, dan jalan lingkungan dalam sistem jaringan jalan primer; e. penetapan status jalan provinsi;
Rencana Strategis Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau Periode Tahun 2016 - 2021 2 - 4 g. pelaksanaan pembinaan, pengawasan dan pengendalian teknis di bidang jalan provinsi;
h. penyediaan dukungan/bantuan untuk kerjasama antar kabupaten/kota dalam pengembangan jaringan jalan lintas kabupaten/kota;
i. melakukan pengawasan, pengendalian, bimbingan dan pengembangan tugas bidang bina marga;
j. menyediakan dan melengkapi data base jalan dan jembatan untuk mendukung perencanaan dan pengembangan program dan kegiatan; dan
k. melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh kepala dinas. Bidang Bina Marga terdiri dari:
a. Seksi Perencanaan Teknik dan Evaluasi Bina Marga; b. Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan; dan c. Seksi Preservasi Jalan dan Jembatan.
1) Seksi Perencanaan Teknik dan Evaluasi Bina Marga
Seksi Seksi Perencanaan Teknik dan Evaluasi Bina Marga mempunyai tugas pokok melaksanakan koordinasi dan menyusun rencana program dan kegiatan Bidang Bina Marga, pelaksanaan evaluasi dan pelaporan, pengumpulan dan pengelolaan data kegiatan di Bidang Bina Marga. Uraian tugas tersebut meliputi:
a. melaksanakan penyiapan dan penyusunan perencanaan teknik kegiatan di Bidang Bina Marga;
b. menyiapkan dan menyusun rencana kerja kegiatan Bidang Bina Marga; c. melaksanakan penyiapan bahan pengelolaan data di Bidang Bina Marga; d. melaksanakan pengumpulan data kegiatan di Bidang Bina Marga;
e. melaksanakan evaluasi pelaksanaan kegiatan di Bidang Bina Marga;
f. menyiapkan bahan pelaksanaan evaluasi dan penyusunan laporan di Bidang Bina Marga; dan
g. melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh kepala bidang. 2) Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan
Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan mempunyai tugas pokok melaksanakan koordinasi, fasilitasi dan pembinaan serta pelaksanaan pembangunan jalan dan jembatan.
Uraian tugas tersebut meliputi:
a. menyiapkan bahan dan melaksanakan koordinasi, fasilitasi dan pembinaan kegiatan pembangunan dan peningkatan jalan dan jembatan;
b. menyiapkan bahan dan melaksanakan pengendalian pembangunan dan peningkatan jalan dan jembatan;
c. melaksanakan kegiatan pembangunan dan peningkatan jalan dan jembatan; d. melaksanakan fasilitasi dan koordinasi sesuai dengan lingkup tugasnya;
e. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan dan peningkatan jalan dan jembatan; dan
f. melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh kepala bidang. 3) Seksi Preservasi Jalan dan Jembatan
Seksi Preservasi Jalan dan Jembatan mempunyai tugas pokok melaksanakan koordinasi, fasilitasi dan pembinaan serta pemeliharaan jalan dan jembatan.
a. menyiapkan bahan dan melaksanakan koordinasi, fasilitasi, dan pembinaan kegiatan preservasi jalan dan jembatan;
b. menyiapkan bahan dan melaksanakan pengendalian preservasi jalan dan jembatan; c. melaksanakan pembinaan teknik rekonstruksi dan teknik pemeliharaan jalan dan jembatan; d. melaksanakan fasilitasi dan koordinasi sesuai dengan lingkup tugasnya;
e. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan preservasi jalan dan jembatan;
f. merencanakan penanganan pemeliharaan jalan baik berupa pemeliharaan rutin maupun berkala pada sepanjang ruas jalan provinsi; dan
g. melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh kepala bidang. Bidang Sumber Daya Air
Bidang Sumber Daya Air mempunyai tugas pokok menyiapkan bahan dan perumusan kebijakan teknis, pembinaan, pembangunan, pengawasan dan pengendalian pengelolaan sumber daya air.
Dalam melaksanakan tugas tersebut Bidang Sumber Daya Air mempunyai fungsi sebagai berikut: a. menyiapkan dan menyusun program kegiatan bidang sumber daya air;
b. penyiapan bahan perumusan penetapan kebijakan pengelolaan sumber daya air provinsi; c. penetapan rencana, pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas
kabupaten/kota;
d. penetapan dan pengelolaan kawasan lindung sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota;
e. penetapan dan pemberian izin atas penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota; pelaksanaan pembangunan, pengelolaan konservasi, pendayagunaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota;
f. penetapan dan pemberian rekomendasi teknis atas penyediaan, pengambilan, peruntukan, penggunaan dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas kabupaten/kota;
g. penyelenggaraan sistem informasi sumber daya air;
h. penertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota;
i. pelaksanaan operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah yang luasnya 1.000 ha sampai dengan 3.000 ha atau pada daerah irigasi lintas kabupaten/kota;
j. pemberian bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada kabupaten/kota; k. fasilitasi penyelesaian sengketa pengelolaan sumber daya air antar kabupaten/kota;
l. pengawasan dan pengendalian pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota;
m. pembangunan dan konservasi sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota; n. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas di bidang sumber daya air; dan o. melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh kepala dinas.
Bidang Sumber Daya Air terdiri atas:
a. Seksi Perencanaan Teknik dan Evaluasi Sumber Daya Air; b. Seksi Pelaksanaan Pengelolaan Sumber Daya Air; dan c. Seksi Operasi dan Pemeliharaan.
Rencana Strategis Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau Periode Tahun 2016 - 2021 2 - 6 1) Seksi Perencanaan Teknik dan Evaluasi Sumber Daya Air
Seksi Perencanaan Teknik dan Evaluasi Sumber Daya Air mempunyai tugas pokok melaksanakan koordinasi dan menyusun rencana kegiatan Bidang Sumber Daya Air, pelaksanaan evaluasi dan pelaporan serta pengumpulan dan pengelolaan data kegiatan di Bidang Sumber Daya Air. Uraian tugas tersebut meliputi:
a. melaksanakan penyiapan bahan penyusunan perencanaan teknik di Bidang Sumber Daya Air;
b. menyiapkan dan menyusun rencana kerja kegiatan Bidang Sumber Daya Air; c. melaksanakan penyiapan bahan pengelolaan data di Bidang Sumber Daya Air; d. melaksanakan pengumpulan data kegiatan di Bidang Sumber Daya Air;
e. melaksanakan evaluasi pelaksanaan kegiatan di Bidang Sumber Daya Air;
f. menyiapkan bahan pelaksanaan evaluasi dan penyusunan laporan di Bidang Sumber Daya Air; dan
g. melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh kepala bidang. 2) Seksi Pelaksanaan Pengelolaan Sumber Daya Air
Seksi Pelaksanaan Pengelolaan Sumber Daya Air mempunyai tugas pokok melaksanakan koordinasi, fasilitasi dan pembinaan serta pelaksanaan pengelolaan sumber daya air.
Uraian tugas tersebut meliputi:
a. melaksanakan kegiatan pengelolaan sumber daya air; b. melaksanakan pengendalian pengelolaan sumber daya air;
c. melaksanakan fasilitasi dan koordinasi sesuai dengan lingkup tugasnya;
d. melaksanakan pengawasan, pengendalian dan bimbingan terhadap pelaksanaan pengelolaan sumber daya air; dan
e. melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh kepala bidang. 3) Seksi Operasi dan Pemeliharaan
Seksi Operasi dan Pemeliharaan tugas pokok melaksanakan koordinasi, fasilitasi dan pembinaan serta pelaksanaan pemeliharaan sarana dan prasarana sumber daya air.
Uraian tugas tersebut meliputi:
a. melaksanakan kegiatan pengendalian pemeliharaan dan rehabilitasi prasarana sumber daya air;
b. melaksanakan fasilitasi dan koordinasi sesuai dengan lingkup tugasnya;
c. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan operasi dan pemeliharaan prasarana sumber daya air; dan
d. melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh kepala bidang. Bidang Jasa Konstruksi
Bidang Jasa Kontruksi mempunyai tugas pokok menyiapkan bahan, perumusan kebijakan teknis, fasilitasi, koordinasi, pemantauan dan pembinaan serta pelaksanaan dibidang Jasa Kontruksi. Dalam melaksanakan tugas tersebut Bidang Jasa Kontruksi menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:
a. penyusunan program dan kegiatan Bidang Jasa Kontruksi; b. pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia;
c. pelaksanaan pemberdayaan dan pengembangan usaha jasa kontruksi; d. penyelenggaraan pengembangan teknologi di bidang jasa kontruksi; e. pelaksanaan pengawasan terhadap penyelenggaraan pekerjaan kontruksi;
f. penyelenggaraan pembinaan jasa kontruksi baik untuk kepentingan pemerintah dan dunia usaha;
g. pelaksanaan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas di bidang jasa kontruksi; dan h. pelaksanaan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh kepala dinas.
Bidang Jasa Konstruksi terdiri dari:
a. Seksi Pengaturan dan Pengawasan Jasa Konstruksi; b. Seksi Pemberdayaan Jasa Kontruksi; dan
c. Seksi Pengujian Konstruksi.
1) Seksi Pengaturan dan Pengawasan Jasa Konstruksi
Seksi Pengaturan dan Pengawasan Jasa Konstruksi mempunyai tugas melaksanakan koordinasi dan penyusunan rencana kegiatan pengaturan dan pengawasan jasa konstruksi, pelaksanaan evaluasi dan pelaporan serta pengumpulan dan pengelolaan data kegiatan pada seksi pengaturan dan pengawasan jasa konstruksi.
Uraian tugas tersebut meliputi:
a. melaksanakan penyiapan bahan penyusunan perencanaan pada seksi pengaturan dan pengawasan jasa konstruksi;
b. menyiapkan dan menyusun rencana kerja kegiatan pengaturan dan pengawasan jasa konstruksi;
c. melaksanakan arah kebijakan pembinaan jasa konstruksi; d. mewujudkan tertib penyelenggaraan pekerjaan jasa konstruksi;
e. mewujudkan peningkatan peran masyarakat di bidang Jasa Konstruksi; f. melaksanakan penataan sistem Jasa Konstruksi;
g. menjamin tata kelola penyelenggaraan jasa konstruksi yang baik; h. melaksanakan pengawasan terhadap usaha jasa konstruksi; i. melaksanakan pengawasan terhadap tenaga kerja konstruksi;
j. melaksanakan pengawasan terhadap penyelenggaraan pekerjaan konstruksi;
k. melaksanakan pengawasan terhadap penyelenggaraan akreditasi dan sertifikasi jasa konstruksi;
l. melaksanakan pengumpulan dan pengelolaan data kegiatan pada seksi pengaturan dan pengawasan jasa konstruksi;
m. melaksanakan evaluasi pelaksanaan kegiatan pada seksi pengaturan jasa konstruksi;
n. menyiapkan bahan pelaksanaan evaluasi dan penyusunan laporan pada seksi pengaturan dan pengawasan jasa konstruksi; dan
o. melaksanakan tugas lain yang diberikan kepala bidang. 2) Seksi Pemberdayaan Jasa Kontruksi
Seksi Pemberdayaan Jasa Kontruksi mempunyai tugas pokok melaksanakan koordinasi dan penyusunan rencana kegiatan pemberdayaan jasa kontruksi, pelaksanaan evaluasi dan pelaporan serta pengumpulan dan pengelolaan data kegiatan dibidang pemberdayaan jasa kontruksi.
Uraian tugas tersebut meliputi:
a. melaksanakan penyiapan bahan penyusunan perencanaan dibidang pemberdayaan jasa kontruksi;
Rencana Strategis Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau Periode Tahun 2016 - 2021 2 - 8 c. melaksanakan perencanaan sumber daya manusia;
d. merencanakan dan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bidang pekerjaan umum untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia;
e. memperluas dan meningkatkan akses terhadap sumber pendanaan;
f. mendorong usaha perasuransian untuk mengembangkan jenis pertanggungan atas resiko yang timbul dan tanggungjawab hukum kepada pihak lain dalam pelaksanaan pekerjaan kontruksi;
g. mendorong penyedia jasa agar mampu bersaing dipasar nasional maupun internasional; h. mengembangkan sistem informasi jasa kontruksi;
i. melaksanakan pengumpulan dan pengelolaan data kegiatan dibidang pengaturan jasa kontruksi;
j. melaksanakan evaluasi pelaksanaan kegiatan dibidang pengaturan jasa kontruksi;
k. menyiapkan bahan pelaksanaan evaluasi dan penyusunan laporan dibidang pemberdayaan jasa kontruksi; dan
l. melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh kepala bidang. 3) Seksi Pengujian Konstruksi
Seksi Pengujian Konstruksi mempunyai tugas melaksanakan koordinasi dan penyusunan rencana kegiatan pengujian konstruksi, pelaksanaan evaluasi dan pelaporan serta pengumpulan dan pengelolaan data kegiatan pada seksi pengujian jasa konstruksi.
Uraian tugas tersebut meliputi:
a. melaksanakan penyiapan bahan penyusunan perencanaan pada seksi pengujian konstruksi; b. menyiapkan dan menyusun rencana kerja kegiatan pengujian konstruksi;
c. bertanggungjawab secara langsung atas terselenggaranya kegiatan laboratorium untuk menjamin mutu dan hasil penyelidikan, pemetaan dan pengujian yang memenuhi standar; d. menjamin konsistensi pelaksanaan kegiatan pengujian konstruksi sesuai dengan persyaratan
pada metode pengujian yang telah ditetapkan;
e. memastikan bahwa pelaksanaan teknis dan ketersediaan sumber daya yang diperlukan telah sesuai dengna persyaratan standar;
f. memeriksa kondisi peralatan laboratorium dan lapangan secara rutin satu bulan sekali dalam rangka pemeliharaan peralatan uji laboratorium dan lapangan;
g. melaksanakan pelatihan personil laboratorium yang relevan;
h. melaksanakan kegiatan uji banding antar laboratorium/uji profesiensi;
i. melaksanakan pengumpulan dan pengelolaan data kegiatan pada seksi pengujian konstruksi;
j. melaksanakan evaluasi dan penyusunan laporan pada seksi pengujian konstruksi;
k. menyiapkan bahan pelaksanaan evaluasi dan penyusunan laporan pada seksi pengujian konstruksi; dan
l. melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh kepala bidang. Bidang Penataan Ruang dan Pertanahan
Bidang Penataan Ruang dan Pertanahan mempunyai tugas pokok penyelenggaraan penataan ruang, koordinasi, fasilitasi, pengawasan, pengendalian, pemanfaatan penyelenggaraan penataan ruang wilayah serta pertanahan di Provinsi Kepulauan Riau.
Untuk melaksanakan tugas tersebut Bidang Penataan Ruang dan Pertanahan menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:
a. pelaksanaan penyiapan dan penyusunan program kegiatan Bidang Penataan Ruang dan Pertanahan;
b. pelaksanaan penyusunan peraturan daerah bidang penataan ruang kawasan strategis Provinsi;
c. pelaksanaan pengembangan sistem informasi dan data base tentang peraturan, pedoman, informasi di bidang penataan ruang;
d. pelaksanaan sosialisasi peraturan, pedoman, dan norma standar prosedur dan kriteria (NSPK) kepada masyarakat Provinsi Kepulauan Riau;
e. pelaksanaan pembinaan pelaksanaan penataang ruang di kabupaten/kota; f. pelaksanaan pengembangan aparatur dan masyarakat di bidang penataan ruang; g. pelaksanaan penelitian dan pengembangan ilmu di bidang penataan ruang;
h. pelaksanaan pemberian rekomendasi izin pemanfaatan ruang serta pemberian rekomendasi sanksi atas pelanggaran pemanfaatan ruang di wilayah kawasan strategis provinsi;
i. penyelenggaraan koordinasi dalam rangka penyelenggaraan penataan ruang terhadap pengendalian dan pengawasan pemanfaatan ruang;
j. pelaksanaan pemantauan dan evaluasi dalam pengendalian dan penertiban penyelenggaraan penataan ruang;
k. pelaksanaan fasilitasi penyelesaian perselisihan dalam pelaksanaan penataan ruang antar Kabupaten/Kota;
l. pelaksanaan fasilitasi dan operasional Penyidik Pegawai Negeri Sipil bidang penataan ruang Provinsi Kepulauan Riau;
m. pelaksanaan fasilitasi peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang; n. pelaksanaan penyusunan perencanaan pemanfaatan dan penguasaan pertanahan;
o. pelaksanaan fasilitasi pemberian izin lokasi lintas Daerah Kabupaten/Kota dalam 1 (satu) daerah Provinsi Kepulauan Riau;
p. pelaksanaan fasilitasi penetapanan lokasi pengadaan tanah untuk kepentingan umum; q. pelaksanaan fasilitasi penyelesaian sengketa tanah garapan lintas daerah kabupaten/kota
dalam 1 (satu) daerah Provinsi Kepulauan Riau;
r. pelaksanaan fasilitasi Penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Riau;
s. pelaksanaan fasiliasi penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee lintas daerah kabupaten/kota dalam 1 (satu) daerah Provinsi Kepulauan Riau;
t. pelaksanaan fasilitasi Penyelesaian masalah tanah kosong pada kawasan strategis pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau;
u. pelaksanaan Inventarisasi dan pemanfaatan tanah kosong pada kawasan strategis pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau;
v. pelaksanaan fasilitasi Penyelesaian masalah tanah kosong lintas daerah daerah kabupaten/kota dalam 1 (satu) daerah Provinsi Kepulauan Riau;
w. pelaksanaan Inventarisasi dan pemanfaatan tanah kosong lintas daerah kabupaten/kota dalam 1 (satu) daerah Provinsi Kepulauan Riau;
x. pelaksanaan perencanaan penggunaan tanah yang hamparannya pada kawasan strategis pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau;
Rencana Strategis Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau Periode Tahun 2016 - 2021 2 - 10 y. pelaksanaan perencanaan penggunaan tanah yang hamparannya lintas daerah
kabuapten/kota dalam 1 (satu) daerah Provinsi Kepulauan Riau; dan z. pelaksanaan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh kepala dinas. Bidang Penataan Ruang dan Pertanahan terdiri dari:
a. Seksi Perencanaan Tata Ruang;
b. Seksi Pengendalian Pemanfaatan Ruang; dan c. Seksi Pertanahan.
1) Seksi Perencanaan Tata Ruang
Seksi Perencanaan Tata Ruang mempunyai tugas pokok penyusunan bahan perumusan kebijakan umum, penyelenggaraan, fasilitasi dan pembinaan bidang Penataan Ruang.
Uraian tugas tersebut meliputi:
a. menyiapkan bahan penetapan peraturan daerah bidang penataan ruang kawasan strategis Provinsi;
b. menyiapkan bahan penyusunan dan penetapan rencana rinci tata ruang kawasan strategis Provinsi;
c. menyiapkan bahan penyusunan Peraturan Daerah tentang insentif dan disinsentif pemanfaatan ruang kawasan strategis Provinsi Kepulauan Riau;
d. menyiapkan bahan pengembangan sistem informasi dan komunikasi, penyebar luasan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat tentang penataan ruang tingkat Provinsi; e. menyusun rumusan pembangunan dan pengembangan data Base sistem informasi tata
ruang wilayah, satu peta satu kebijakan (one map policy) di provinsi kepulauan riau;
f. menyiapkan bahan pemberian bimbingan supervisi dan konsultasi pelaksanaan penataan ruang;
g. menyiapkan program pendidikan dan pelatihan bidang penataan ruang; h. menyiapkan program penelitian dan pengembangan bidang penataan ruang;
i. sosialisasi peraturan perundang-undangan dan pedoman bidang penataan ruang; dan j. melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh kepala bidang.
2) Seksi Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Seksi Pengendalian Pemanfaatan Ruang mempunyai tugas pokok penyusunan bahan perumusan kebijakan umum, pengawasan, pengendalian dan pemanfaatan ruang.
Uraian tugas tersebut meliputi:
a. menyiapkan bahan sosialisasi NSPK, SPM, bimbingan, supervisi, pembinaan, pendidikan dan pelatihan, penelitiandan pengembangan penataan ruang tingkat Provinsi dan kawasan strategis Provinsi;
b. menyiapkan bahan pemberian rekomendasi izin pemanfaatan ruang serta pemberian rekomendasi sanksi atas pelanggaran pemanfaatan ruang di wilayah kawasan strategis provinsi;
c. menyiapkan bahan dalam rangka koordinasi penyelenggaraan penataan ruang terhadap pengendalian dan pengawasan pemanfaatan ruang;
d. menyiapkan bahan pelaksanaan fasilitasi penyelesaian perselisihan dalam pelaksanaan penataan ruang antar Kabupaten / Kota;
e. menyiapkan bahan pengawasan dan pengendalian bidang perencanaan tata ruang; f. menyiapkan bahan dalam rangka pelaksanaan monitoring dan evaluasi terhadap
penyelenggaran penataan ruang;
g. menyiapkan bahan koordinasi dalam rangka penyelenggaraan penataan ruag terhadap pengendalian dan pengawasan pemanfaatan ruang;
h. memfasilitasi dan operasionalisasi Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bidang Penataan ruang Provinsi Kepulauan Riau;
i. menfasilitasi peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfatan ruang;
j. menyiapkan bahan pemberian rekomendasi insentif dan disinsentif dalam penataan ruang; dan
k. melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh kepala bidang. 3) Seksi Pertanahan
Seksi Pertanahan mempunyai tugas pokok penyusunan bahan perumusan kebijakan, dalam rangka penguasaan tanah agar sesuai dengan peruntukannya.
Uraian tugas tersebut meliputi:
a. menyiapkan bahan penyusunan perencanaan pemanfaatan dan penguasaan pertanahan; b. menyiapkan bahan fasilitasi pemberian izin lokasi lintas Daerah Kabupaten/Kota dalam 1
(satu) daerah Provinsi Kepulauan Riau;
c. menyiapkan bahan fasilitasi penetapanan lokasi pengadaan tanah untuk kepentingan umum;
d. menyiapkan bahan fasilitasi penyelesaian sengketa tanah garapan lintas daerah kabupaten/kota dalam 1 (satu) daerah Provinsi Kepulauan Riau;
e. menyiapkan bahan fasilitasi Penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Riau;
f. menyiapkan bahan fasiliasi penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee lintas daerah kabupaten/kota dalam 1 (satu) daerah Provinsi Kepulauan Riau;
g. menyiapkan bahan fasilitasi Penyelesaian masalah tanah kosong pada kawasan strategis pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau;
h. menyiapkan bahan fasilitasi Inventarisasi dan pemanfaatan tanah kosong pada kawasan strategis pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau;
i. menyiapkan bahan fasilitasi Penyelesaian masalah tanah kosong lintas daerah daerah kabupaten/kota dalam 1 (satu) daerah Provinsi Kepulauan Riau;
j. menyiapkan bahan Inventarisasi dan pemanfaatan tanah kosong lintas daerah kabupaten/kota dalam 1 (satu) daerah Provinsi Kepulauan Riau;
k. menyiapkan bahan Perencanaan penggunaan tanah yang hamparannya pada kawasan strategis pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau;
l. menyiapkan bahan Perencanaan penggunaan tanah yang hamparannya lintas daerah kabuapten/kota dalam 1 (satu) daerah Provinsi Kepulauan Riau; dan
Rencana Strategis Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau Periode Tahun 2016 - 2021
2 - 12 2.1.2. STRUKTUR ORGANISASI
2.2. Sumber Daya Perangkat Daerah 2.2.1. Sumber Daya Manusia
Jumlah seluruh pegawai Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan Provinsi Kepulauan Riau sampai dengan akhir tahun 2016 sebanyak 132 orang terdiri dari 61 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 69 orang Pegawai Non PNS, dengan rincian sebagai berikut : a. Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 2.1. Sumber Daya Manusia Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Berdasarkan tingkat pendidikan formal masih didominasi oleh tingkat pendidikan Sarjana (S1) berjumalh 50 orang atau sebesar 42,37 persen dan tingkat pendidikan paska sarjana (S2) berjumlah 11 orang atau sebesar 9,32 persen maka total SDM Dinas PUPP berjumlah 61 orang atau sebesar 51,69%, maka SDM Dinas PUPP cukup baik sebesar 50 % lebih. Untuk itu masih perlu ditingkatkan kemampuan dan pendidikan pegawai Dinas PUPP dan saat ini 2 orang lagi melanjutkan pendidikan S-2 sebanyak 2 orang.
b. Berdasarkan Pangkat dan Golongan
Jumlah jabatan struktural sesuai dengan Pergub SOTK bahwa Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan sebanyak 20 Jabatan, sedangkan jabatan non struktural terdiri dari jabatan fungsional khusus dan jabatan fungsional umum (staf). Jabatan fungsional sebanyak 3 orang dan jabatan fungsional umum sebanyak 109 orang. Adapun rincian jumlah jabatan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
Tabel 2.2. Sumber Daya Manusia Berdasarkan Pangkat dan Golongan
NO PANGKAT &
GOLONGAN JUMLAH
01 Pembina Utama
Muda (IV.c) 1 orang 02 Pembina Tk. 1 (IV.b) 2 orang 03 Pembina (IV.a) 6 orang 04 Penata Tk. 1 (III.d) 11 orang 05 Penata (III.c) 8 orang 06 Penata Muda Tk. 1
(III.b) 13 orang 07 Penata Muda (III.a) 15 orang 08 Pengatur (II.c) 4 orang 09 dibawah Pengatur (II.a) 1 orang 10 Pegawai Non PNS 69 Orang
J u m l a h 130 orang
No Tingkat Pendidikan Jumlah
01 Paska Sarjana (S2) 11 orang 02 Sarjana (S1) 48 orang 03 Diploma III 8 orang 04 S M A 49 orang J u m l a h 130 orang S2 9.32% S1 42.37% Diploma 3 6.78% SMA 41.53% TINGKAT PENDIDIKAN
Rencana Strategis Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau Periode Tahun 2016 - 2021 2 - 14 Pegawai dengan pangkat dan golongan Penata Muda Tk.1 (III.b) adalah yang terbanyak
dengan jumlah 29 pegawai. Dan Pejabat yang telah memenuhi persyaratan kepangkatan 95,65 persen.
c. Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 2.3. Sumber Daya Manusia Berdasarkan Jenis Kelamin
NO PANGKAT & GOLONGAN LAKI-LAKI PEREMPUAN TOTAL
01 Pembina Utama Muda (IV.c) 1 orang - 1 orang 02 Pembina Tk. 1 (IV.b) 1 Orang 1 Orang 2 orang 03 Pembina (IV.a) 5 Orang 1 Orang 6 orang 04 Penata Tk. 1 (III.d) 8 Orang 3 Orang 11 orang 05 Penata (III.c) 4 Orang 4 Orang 8 orang 06 Penata Muda Tk. 1 (III.b) 10 Orang 5 Orang 13 orang 07 Penata Muda (III.a) 10 Orang 5 Orang 15 orang 08 Pengatur (II.c) 2 Orang 2 Orang 4 orang 09 dibawah Pengatur (II.a) 1 Orang - 1 orang 10 Pegawai Non PNS 52 Orang 17 Orang 69 Orang
J u m l a h 94 Orang 38 Orang 130 orang
Persentase jumlah pegawai dengan jenis kelamin perempuan sebesar 25 persen (Lihat grafik diatas). Jumlah Persentase perempuan yang terbesar pada golongan III.a dengan jumlah 4 orang.
2.2.2. Aset Yang DiKelola
Aset yang dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum , Penataan Ruang dan Pertanahan Provinsi Kepulauan Riau per 3 Januari 2017 berdasarkan Buku Induk Inventaris, dalam pelayanan masyarakat, berupa kantor, kendaraan dinas, kendaraan operasional, dan perlengkapan kantor dengan nilai total aset adalah sebesar Rp 9.752.315.563,00 ( Sembilan Milyar Tujuh Ratus Lima Puluh Dua Juta Tiga Ratus Lima Belas Ribu Lima Ratus Enam Puluh Tiga Rupiah ). Sisanya adalah aset tanah dan infrastruktur yang merupakan infrastruktur publik.
Sedangkan jumlah nilai aset yang telah dihapuskan pada tahun 2010 sebesar 715.120.500,00 (Tujuh Ratus Lima Belas Juta Seratus Dua Puluh Ribu Lima Ratus Rupiah) dan pada tahun 2012 sebesar 1.464.359.140,00 (Satu Milyar Empat Ratus Enam Puluh Empat Juta Tiga Ratus Lima Puluh Sembilan Seratus Empat Puluh Rupiah). Adapun rincian jumlah aset yang dikelolah oleh Dinas Pekerjaan Umum, khususnya aset peralatan dan mesin adalah sebagai berikut :
0% 20% 40% 60% 80% 100%
IV.c IV.b IV.a III.d III.c III.b III.a II.c II.a P T T Grafik Perbandingan Persentase Jenis Kelamin
Tabel 2.4. Jumlah Aset yang Dikelola oleh Dinas PUPP Provinsi Kepri
NO ASET YANG DIKELOLA JUMLAH
01 Mobil Mini Bus (Innova) 1 Unit
02 Sepeda Motor 6 Unit
02 Televisi Samsung 43” 3 Unit
03 AC Panasonic 1 PK 4 Unit
04 UPS 15 Unit
05 Laptop / Notebook 35 Unit
06 Printer 66 Unit
07 Komputer PC 6 Unit
08 Conference System 1 Unit
J u m l a h 137 unit
2.3. Kinerja Pelayanan PD
Berdasarkan Laporan Penilaian SPM Dinas Pekerjaan Umum , Penataan Ruang dan Pertanahan Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010 - 2015 memiliki kinerja pelayanan dasar PD adalah sebagai berikut :
2.3.1. Kondisi umum
Luas Dan Batas Wilayah Administrasi
Secara administratif, Provinsi Kepulauan Riau memiliki dua kota yaitu Kota Tanjungpinang sebagai ibukota provinsi dan Kota Batam, serta memiliki lima kabupaten, yaitu : Kabupaten Karimun, Kabupaten Bintan, Kabupaten Natuna, Kabupaten Lingga dan Kabupaten Kepulauan Anambas. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2005 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan terakhir dengan perubahan Permendagri Nomor 56 Tahun 2015, luas daratan Provinsi Kepulauan Riau seluas 8.201,72 km², dengan rincian sebagai berikut: Tabel 2.5. Luas Daratan Provinsi Kepulauan Riau Menurut Permendagri Nomor 56 Tahun 2015
No Kabupaten/Kota Luas Daratan (km2)
01 Kabupaten Bintan 1.318,21
02 Kabupaten Karimun 912,75
03 Kabupaten Natuna 2.009,04
04 Kabupaten Lingga 2.266,77
05 Kabupaten Kepulauan Anambas 590,14
06 Kota Batam 960,25
07 Kota Tanjungpinang 144,56
T O T A L 8.201,72
Sumber: Permendagri Nomor 56 Tahun 2015
Terkait dengan luas wilayah laut Provinsi Kepulauan Riau berdasarkan hitungan teknis dari Balai Kajian Geomatika Bakosurtanal Tahun 2007 (dengan mengabaikan batas wilayah kewenangan pengelolaan sejauh 12 mil laut), luas laut Provinsi Kepulauan Riau sebesar 417.012,97 km². Sampai saat ini belum ada penetapan luas wilayah laut melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri. Berikut ini disajikan rincian luas laut menurut kabupaten/kota Provinsi Kepulauan Riau berdasarkan perhitungan Balai Kajian Geomatika Bakosurtanal tahun 2007.
Tabel 2.6. Luas Wilayah Laut Provinsi Kepulauan Riau Berdasarkan Hitungan Teknis Dari Balai Kajian Geomatika Bakosurtanal Tahun 2007
No Kabupaten/Kota Luas Daratan
(km2)
01 Kabupaten Bintan 102.964,08
02 Kabupaten Karimun 4.698,09
Rencana Strategis Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau Periode Tahun 2016 - 2021 2 - 16
No Kabupaten/Kota Luas Daratan
(km2)
04 Kabupaten Lingga 3.675,25
05 Kabupaten Kepulauan Anambas 149,13
06 Kota Batam 43.339,00
07 Kota Tanjungpinang 46.074,00
T O T A L 417.012,97
Sumber: Balai Kajian Geomatika Bakosurtanal tahun 2007
Letak dan Kondisi Geografis
Adapun hasil Verifikasi Tim Nasional dimaksud terdapat 1.795 pulau yang sudah bernama, kecuali satu pulau yaitu Pulau Berhala dimana saat itu masih dalam sengketa dengan Provinsi Jambi. Dengan terbitnya Permendagri Nomor 54 Tahun 2014 tentang Wilayah Administrasi Pulau Berhala, maka pulau Provinsi Kepulauan Riau bertambah 1 (satu) buah menjadi 1.796 pulau, dengan perincian terlihat pada Tabel berikut ini :
Tabel 2.7. Jumlah Pulau di Provinsi Kepulauan Riau
No Kabupaten/Kota Jumlah Pulau Berpenghuni
01 Kabupaten Bintan 241 48
02 Kabupaten Karimun 251 73
03 Kabupaten Natuna 392 62
04 Kabupaten Lingga 532 76
05 Kabupaten Kepulauan Anambas - -
06 Kota Batam 371 133
07 Kota Tanjungpinang 9 2
T O T A L 1796 394
Catatan: Data Pulau di Kabupaten Anambas masih bergabung dengan Natuna
Sumber: Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika Badan Informasi Geospasial (BIG), 2016
Perkembangan terakhir pulau di Provinsi Kepulauan Riau, berdasarkan Surat Menteri Dalam Negeri Nomor : 125.1/4275/BAK, tanggal 12 Oktober 2015 perihal penyampaian data pulau, ada penambahan pulau di Provinsi Kepulauan Riau sebanyak 122 pulau. Namun demikian belum ada rincian penambahan pulau tersebut Kondisi Klimatologi.
Kondisi Demografis
Berdasarkan database kependudukan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, jumlah penduduk Provinsi Kepulauan Riau tahun 2015 sebanyak 1.827.234 jiwa, dengan perincian seperti terlihat pada Tabel berikut ini :
Tabel 2.8. Jumlah Penduduk Provinsi Kepulauan Riau
No Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk
(jiwa)
01 Kabupaten Bintan 141.415
02 Kabupaten Karimun 237.720
03 Kabupaten Natuna 73.360
04 Kabupaten Lingga 91.205
05 Kabupaten Kepulauan Anambas 42.153
06 Kota Batam 1.037.187
07 Kota Tanjungpinang 204.194
T O T A L 1.827.234 Sumber: Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Kepulauan Riau, 2015
Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk Provinsi Kepulauan Riau tahun 2015 sebanyak 1.973.043 jiwa, terdiri dari 51,24% penduduk laki–laki dan 48,76% perempuan. Penyebaran penduduk di Provinsi Kepulauan Riau masih terkonsentrasi di Kota Batam yakni sebesar 56,23%, sedangkan wilayah dengan persentase penduduk paling sedikit yaitu Kabupaten Kepulauan Anambas
sebesar 2,27%. Secara rinci jumlah dan laju pertumbuhan penduduk pada masing-masing kabupaten/kota dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2.9. Jumlah Penduduk Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2011 - 2015
No Kab/Kota 2011 2012 2013 2014 2015 1 Karimun 216.146 218.475 220.882 223.117 225.298 2 Bintan 145.057 147.212 149.120 151.123 153.020 3 Natuna 70.423 71.454 72.527 73.470 74.520 4 Lingga 87.026 87.482 87.867 88.274 88.591 5 Kepulauan Anambas 38.210 38.833 39.374 39.892 40.414 6 Kota Batam 1.000.661 1.047.534 1.094.623 1.141.816 1.188.985 7 Kota Tanjungpinang 191.287 194.099 196.980 199.723 202.215 Provinsi Kepulauan Riau 1.748.810 1.805.089 1.861.373 1.917.415 1.973.043 Sumber: BPS Provinsi kepulauan Riau Tahun 2015
Pertumbuhan penduduk Provinsi Kepulauan Riau tergolong cukup tinggi, dengan rata-rata dari 2011 sampai dengan tahun 2015 sebesar 3,11%, terutama dikontribusikan dari pertumbuhan penduduk Kota Batam yang mencapai rata-rata sebesar 4,49%. Pertumbuhan penduduk yang besar di Kota Batam lebih disebabkan oleh migrasi masuk penduduk karena perkembangan Kota Batam yang sangat pesat sehingga menarik perhatian bagi penduduk dari daerah lain. Pertumbuhan penduduk terkecil berada di Kabupaten Lingga dengan rata-rata sebesar 0,47%. Secara rinci pertumbuhan penduduk per kabupaten/kota tercantum pada tabel di bawah ini. Tabel 2.10. Pertumbuhan Penduduk Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2011 - 2015
No Kab/Kota 2011 2012 2013 2014 2015 Rata-rata 1 Karimun 1,25 1,08 1,10 1,01 0,98 1,08 2 Bintan 1,42 1,49 1,30 1,34 1,26 1,36 3 Natuna 1,45 1,46 1,50 1,30 1,43 1,43 4 Lingga 0,59 0,52 0,44 0,46 0,36 0,47 5 Kepulauan Anambas 1,54 1,63 1,39 1,32 1,31 1,44 6 Kota Batam 4,84 4,68 4,50 4,31 4,13 4,49 7 Kota Tanjungpinang 1,58 1,47 1,48 1,39 1,25 1,43
Provinsi Kepulauan Riau 3,31 3,22 3,12 3,01 2,90 3,11
Sumber: BPS Provinsi kepulauan Riau Tahun 2015
Tingkat kepadatan penduduk di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2015 sebesar 186 jiwa/km2.
Kepadatan penduduk tertinggi berada di Kota Tanjungpinang sebesar 844 jiwa/km2 selanjutnya
Kota Batam sebesar 757 jiwa/km2 dan terendah di Kabupaten Natuna dengan tingkat
kepadatan penduduk sebesar 26 jiwa/Km2. Terlihat peningkatan kepadatan penduduk Kota
Batam dan Tanjungpinang sangat cepat dalam kurun waktu tahun 2011-2015. Secara rinci kepadatan penduduk per kabupaten/kota dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.11. Kepadatan Penduduk Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2011 - 2015 (jiwa/ km2)
No Kab/Kota 2011 2012 2013 2014 2015 1 Karimun 142 143 145 146 147 2 Bintan 83 85 86 87 88 3 Natuna 25 25 26 26 26 4 Lingga 41 41 41 42 42 5 Kepulauan Anambas 60 61 62 63 68 6 Batam 637 667 697 727 757 7 Tanjungpinang 799 810 822 834 844
Provinsi Kepulauan Riau 164 170 175 180 186
Rencana Strategis Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau Periode Tahun 2016 - 2021 2 - 18 Kondisi Klimatologi
Kondisi iklim di Provinsi Kepulauan Riau sangat dipengaruhi oleh kondisi angin sehingga secara umum wilayah ini beriklim laut tropis basah. Terdapat musim kemarau dan musim hujan yang diselingi oleh musim pancaroba. Suhu rata tertinggi di Karimun sebesar 28,08 0C dan rata-rata terendah di Tanjungpinang 27,37 0C. Rata-rata-rata Kelembaban Udara tertinggi di Natuna dan Hang Nadim (Batam) sebesar 85,92%, sedangkan rata-rata terendah di Dabo (Lingga) sebesar 82,08%. Curah hujan tertinggi di Tanjungpinang sebanyak 188,27 mm3 sedangkan curah hujan terendah di Dabo (Lingga) 105,10 mm3. Tekanan Udara tertinggi di Tanjungpinang sebesar 1.016,98 mb, sedangkan tekanan udara terendah di Karimun sebesar 1.010,62 mb. Kecepatan Angin tertinggi di Karimun sebesar 8,92 knot, terendah di Hang Nadim (Batam) dan Ranai (Natuna) sebesar 3,58 knot. Penyinaran matahari tertinggi di Karimun sebesar 59,92%, terendah di Hang Nadim (Batam) dan Ranai (Natuna) sebesar 51,92%.
Secara rinci data kondisi cuaca yang tercatat di 6 stasiun BMKG di Provinsi Kepulauan Riau ditampilkan pada Tabel dibawah ini :
Tabel 2.12. Data Kondisi Cuaca Provinsi Kepulauan Riau
No Uraian Karimun Ranai
(Natuna) (Lingga) Dabo (Anambas) Tarempa Hang Nadim (Batam) Tanjung pinang 1 Suhu (OC) Maksimun 32,80 34,90 34,10 30,30 95,00 33,60 Minimum 24,60 21,60 21,40 24,40 42,00 21,60 Rata-rata 28,08 28,08 27,92 NA 27,83 27,37 2 Kelembaban Udara (Persen) Maksimun 97,00 100,00 100,00 92,00 100,00 100,00 Minimum 69,00 54,00 47,00 69,00 54,00 43,00 Rata-rata 81,00 85,92 82,08 NA 85,92 83,75 3 Tekanan Udara (mb) 1.010,62 1.011,33 1.011,38 1.010,68 1.011,33 1.016,98 4 Kecepatan Angin (knot) 8,92 3,58 4,58 4,50 3,58 6,25 5 Curah Hujan (mm3) 121,83 151,14 105,10 130,67 151,14 188,27 6 Penyinaran matahari (persen) 59,92 51,92 59,08 56,75 51,92 53,50
Sumber : Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BPS, Kepulauan Riau Dalam Angka 2016)
Kawasan Peruntukan Hutan Produksi
Kawasan peruntukan hutan produksi adalah kawasan hutan yang memiliki fungsi pokok memproduksi hasil hutan. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 867/Menhut-II/2014 tentang Kawasan Hutan di Provinsi Kepulauan Riau yaitu: Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas 164.662 hektar, Kawasan Hutan Produksi Tetap (HP) sebanyak 49.439 hektar, Kawasan Hutan yang dapat dikonversi (HPK) seluas 252.940. Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan Menjadi Bukan Kawasan Hutan seluas lebih kurang 231.441 hektar. Selain itu Kawasan hutan yang berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis (DPCLS) seluas 23.872 hektar. Non DPCLS seluas 207.569 hektar. Selanjutnya perubahan fungsi kawasan hutan seluas 60.299 hektar dan penunjukan bukan kawasan hutan menjadi kawasan hutan seluas 536 hektar.
Kawasan Peruntukan Pariwisata
Kawasan peruntukan pariwisata merupakan kawasan yang diperuntukkan bagi kegiatan pariwisata. Rencana kawasan pariwisata di Provinsi Kepulauan Riau seluas 37.929,83 Ha yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Adapun arahan Kepariwisataan Provinsi Kepulauan Riau
diimplementasikan ke dalam 7 (tujuh) Koridor Pariwisata Daerah yang berdasarkan keunggulan kooperatif terdiri dari :
1) Koridor Pariwisata Daerah (KPD) Batam sebagai kawasan Wisata Kota, Wisata Bahari dan Wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition), Wisata Minat Khusus, Wisata Terpadu, Eksklusif, Wisata Agro dan Wisata Alam;
2) Koridor Pariwisata Daerah (KPD) Bintan sebagai kawasan Wisata Terpadu, Eksklusif, Kawasan Wisata Terbuka Umum dan Wisata Minat Khusus;
3) Koridor Pariwisata Daerah (KPD) Karimun sebagai kawasan Wisata Alam, Wisata Minat Khusus dan Wisata Agro;
4) Koridor Pariwisata Daerah (KPD) Tanjungpinang sebagai kawasan Wisata Sejarah, Wisata Budaya dan Wisata Kreatif;
5) Koridor Pariwisata Daerah (KPD) Natuna sebagai kawasan Wisata Bahari, Ekowisata dan Minat Khusus;
6) Koridor Pariwisata Daerah (KPD) Kepulauan Anambas sebagai kawasan Wisata Bahari dan Ekowisata;
7) Koridor Pariwisata Daerah (KPD) Lingga sebagai kawasan Wisata Sejarah, Wisata Budaya, Wisata Alam dan Wisata Bahari.
Kawasan Rawan Bencana
Kawasan rawan tanah longsor / gerakan tanah adalah kawasan yang memiliki kriteria berbentuk lereng yang rawan terhadap perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah atau material campuran. Kawasan tanah longsor ditetapkan dengan ketentuan kawasan yang penurunan muka tanahnya sedang sampai tinggi. Kawasan ini tersebar di seluruh kabupaten dan kota dengan tingkat bahaya sedang. Kawasan ini terdapat di area dan kawasan bekas tambang dan kawasan terkena pemotongan lereng di Pulau Karimun dan Pulau Kundur di Kabupaten Karimun, Pulau Singkep di Kabupaten Lingga, Kabupaten Bintan, Kota Batam, Kota Tanjungpinang, Kabupaten Natuna dan Kabupaten Kepulauan Anambas. Secara total luas bahaya tanah longsor sebesar 149.798 hektar. Berikut ini disajikan potensi luas bahaya tanah longsor di Provinsi Kepulauan Riau sebagai berikut :
Tabel 2.13. Potensi Luas Bahaya Tanah Longsor di Provinsi Kepulauan Riau
No Kabupaten/Kota Bahaya
Luas (Ha) Kelas
01 Kabupaten Bintan 3.061 Sedang
02 Kabupaten Karimun 13.397 Tinggi
03 Kabupaten Natuna 26.919 Tinggi
04 Kabupaten Lingga 49.963 Tinggi
05 Kabupaten Kepulauan Anambas 48.922 Tinggi
06 Kota Batam 7.468 Tinggi
07 Kota Tanjungpinang 68 Sedang
T O T A L 149.798 TINGGI
Sumber : Hasil Analisa BNPB Tahun 2015
2.3.2. Bidang Sumber Daya Air
Daerah Aliran Sungai mencakup sebanyak tujuh kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau, dengan jumlah terbanyak di Kabupaten Lingga. Mata air sebagai sumber air permukaan terdapat di lima kabupaten/kota yaitu Kabupaten Natuna, Kepulauan Anambas, Bintan, Tanjungpinang dan Lingga. DAM/Waduk tersebar di seluruh kabupaten/kota. Beberapa DAM/Waduk/Embung yang direncanakan dibangun pada yaitu RPJMD Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2016-2021 II – 8 Sei Raya, Sei Galang Utara, Galang Timur, Sei Ta’tas dan Sei Curus di Kota Batam, dan DAM/Waduk/Embung Dompak di Kota Tanjungpinang. Sementara itu Kolong
Rencana Strategis Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau Periode Tahun 2016 - 2021 2 - 20 terdapat di tiga kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Karimun, Kabupaten Bintan dan Kabupaten
Lingga.
Secara rinci data mengenai potensi sumberdaya air di Kabupaten/kota dapat dilihat pada Tabel di bawah ini :
Tabel 2.14. Potensi Sumber Daya Kabupaten/ Kota di Provinsi Kepulaun Riau
No Kab/Kota Daerah Aliran Sungai Mata Air DAM/Waduk/Embung Kolong
1 Batam Terong, Gading, Ladi, Pesung, Bukit Jodoh, Tiban Lama, Tiban Lama, Balo, Nongsa, Gata, Medang, Galang Baru, Galang, Kangka, Sembulang, Abang Besar
- Duriangkang, Muka
Kuning, Sei Ladi, Nongsa, Sei Harapan, Rempang, Sekanak I, Sekanak 2, Sei Tembesi, Rempang Utara, Sei Gong, Sei Raya, Sei Galang Utara, Galang Timur, Sei Ta’tas dan Sei Curus.
-
2 Natuna Midai, Kampung Hilir, Pajang, Serasan, Lagong, Batang, Tiga Sedanau, Selor, Segeram, Kelarik, Cinak, Cinak Besar, Kelarik Hulu, Hulu, Bunguran Timur, Binjai.
Nuraja, dan Gunung Datuk
Balau Sedanau, Ranai Darat, Selat Lampa, Kelarik, Tapau, Sebayar. - 3 Kepulaua n Anambas
Air Abu, Nyamuk, Telaga, Siantan, Batu Belah, Air Asuk, Wampu, Ladan, Mubur, Matak, Anambas, Panai
Tarempa, Temurun, Gunung Bini, dan Gunung
Kesayana
Batu Tambun, Gunung Lintang, Batu Tabir, dan Gunung Samak
-
4 Bintan Logo, Ekang, Bintan, Cikolek, Sumpai, Angus, Sopor, Mapor, Katubi, Pengibu, Tambelan, Benuwa, Tambang Besar.
Gunung
Lengkuas Waduk Uban/Sei Tanjung Jeram, Waduk Sei Jago, Waduk Lagoi, Waduk Gesek, Kolong Enam, Busung, Galang Batang, Kawal, Anculai, Kangboi, danSekuning
Danau Kolong Gunung Kijang,Danau Belakang Mesjid Raya, Ex. Galian Pasir Galang Batang, Ex. Galian Pasir Simpang Busung, Ex. Galian Pasir Pengujan, Bloreng, Katen, Nyirih, Tembeling dan Mantang
5 Karimun Gemuruh, Urung, Ungar, Sawang, Teluk Radang, Bela, Rapit, Papan, Buru, Lebuh, Pauh, Durian, Tjitim, Sebesi, Karimun, Moro, Sugi, Combol, Alai, Sanglar, Durai, Terong
- Waduk Sei Bati,
Pongkar 1, Pongkar 2, Sentani, Paya Manggis, Sei Gunung Jantan (Pulau Karimun Besar), Waduk Tempan, Sawang (Pulau Kundur) dan Waduk Sidodadi, Sidomoro (Pulau Moro)
Ex. Galian Timah Perayon, Ex. Galian Pasir Kobel, Galian Pasir Tempan
6 Tanjungpi
nang Dompak, Jang Hutan Lindung (Pancur)
Waduk Sei Pulai, Sei Timun, Dompak - 7 Lingga Durslin, Selamak, Musal,
Pengok, Sekarim, Buluh, Bidai, Posik, Mamut, Tjempah, Mentuda, Telok, Ketam, Canot, Selapan, Jelutung, Kredong, Awak, Duara, Resun, Tembok, Kerasing, Lieng, Dabo, Sergong, Kumbang, Langkap, Maroktua, Bajau, Ara, Temiang, Sebangka, Penuba, Air Merah Gunung Daik, Gunung Muncung, Batu Ampar, Kampung Menserai, dan Kampung Tanjung Tinggi
Gemuruh Ex. Galian Timah
Singkep
Kawasan Peruntukan Pertanian
Rencana kawasan peruntukan pertanian di Provinsi Kepulauan Riau seluas 227.682,63 Ha. Kawasan pertanian ini terdiri dari kawasan budidaya tanaman pangan, kawasan hortikultura, kawasan perkebunan dan kawasan peternakan. Pengembangan Kawasan Budidaya Tanamana Pangan, Hortikultura dan Peternakan dialokasikan di Kabupaten Lingga sebagai sentra pengembangan sektor pertanian dan Kabupaten Bintan. Pemanfaatan kawasan pertanian ditujukan untuk pemanfaatan potensi dan berdasarkan kesesuaian lahan secara berkelanjutan untuk mendukung ketahanan pangan dan pengembangan berorientasi agribisnis pertanian. Kawasan Rawan Gelombang Pasang dan Abrasi
Kawasan rawan gelombang pasang berada sekitar pantai rawan terhadap gelombang pasang akibat angin kencang dengan kecepatan tinggi atau gravitasi bulan atau matahari. Kriteria kawasan ini adalah kawasan yang rawan terhadap gelombang pasang dengan kecepatan antara 10 sampai 100 kilometer per jam yang timbul akibat kecepatan angin atau gravitasi bulan dan matahari. Kawasan rawan gelombang pasang ditetapkan dengan ketentuan kawasan permukiman yang berada di sekitar pantai atau pesisir. Arahan kebijakan kawasan rawan gelombang pasang adalah melalui pengamanan pantai dan penanaman mangrove untuk meredam dan agar terlindung dari gelombang pasang (rob). Gelombang pasang ini juga mengakibatkan terjadinya abrasi pantai.
Kawasan rawan abrasi meliputi kawasan yang mengalami perubahan bentuk pantai yang diakibatkan oleh gelombang laut, arus laut dan pasang surut laut terutama yang berada di pulau-pulau kecil dan pulau-pulau terluar. Pantai-pantai yang rawan terhadap abrasi antara lain: a. Pulau Karimun: Pantai Tanjung Balai sepanjang ± 4 km, Pantai Pelawan sepanjang ± 3 km, Pantai Pongkar sepanjang ± 6 km, Pantai Tanjung Sebatak sepanjang ± 4 km dan Pantai Sepedas sepanjang ± 4 km.
b. Pulau Kundur: Pantai Timur sepanjang ± 5 km, Pantai Selat Beliah sepanjang ± 7 km, Pantai Urung sepanjang ± 3 km dan Pantai Parit Jepang sepanjang ± 3 km.
b. Pulau Bintan: Pantai Trikora sepanjang ± 10 km, Pantai Tanjung Uban sepanjang ± 5 km, Pantai Sei Kecil - Sakera sepanjang ± 10 km, Pantai Lobam sepanjang ± 4 km, Pantai Senggarang sepanjang ± 4 km, Pantai Penyengat sepanjang ± 8 km, Pantai Barat Tanjungpinang sepanjang ± 8 km, Pantai Pulau Dompa, Pantai Dompak Seberang sampai Tanjung Mocoh serta pulau-pulau kecil di Kecamatan Bintan Pesisir, Mantang dan Tambelan. c. Pulau Singkep: Pantai Kota Dabo sepanjang ± 4 km, Pantai Kote sepanjang ± 3 km, Pantai
Jagoh sepanjang ± 2 km dan Pantai Kebun Nyiur sepanjang ± 4 km
a. Pulau Batam: Pantai Jodoh sepanjang ± 3 Km, Pantai Punggur sepanjang ± 500 m, Pantai Nongsah sepanjang ± 5 Km dan Pantai Melayu sepanjang ± 10 km.
d. Pulau Ranai: Pantai Kota Ranai sepanjang ± 8 km, Pantai Tanjung sepanjang ± 4 km.
Luas kawasan rawan gelombang ekstrim dan abrasi di Provinsi Kepulauan Riau sebesar 125.040 hektar yang tersebar di seluruh kabupaten/kota dengan bahaya kategori Sedang, dengan perincian pada sebagai berikut :
Tabel 2.15. Luas kawasan rawan gelombang ekstrim dan abrasi di Provinsi Kepulauan Riau
No Kabupaten/Kota Bahaya
Luas (Ha) Kelas
01 Kabupaten Bintan 16.016 Sedang
02 Kabupaten Karimun 16.310 Sedang
03 Kabupaten Natuna 16.024 Sedang
Rencana Strategis Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau Periode Tahun 2016 - 2021 2 - 22
No Kabupaten/Kota Bahaya
Luas (Ha) Kelas
05 Kabupaten Kepulauan Anambas 19.817 Sedang
06 Kota Batam 22.745 Sedang
07 Kota Tanjungpinang 1.769 Sedang
T O T A L 149.798 SEDANG
Sumber : Hasil Analisa BNPB Tahun 2015
Kawasan Rawan Banjir dan Banjir Bandang
Kawasan rawan banjir adalah kawasan yang diidentifikasikan sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam banjir. Kawasan banjir terutama terdapat di kawasan tangkapan air yang daerah resapan airnya sudah mengalami kerusakan lingkungan (berubah fungsi lahan) seperti reklamasi dan wilayah dengan drainase yang kurang berfungsi secara baik, sehingga sungai tidak mampu lagi menampung jumlah aliran permukaan dan air meluap dari badan sungai. Kawasan rawan banjir tersebar di 7 kabupaten/kota dengan luasan mencapai 478.906 hektar. Untuk Kota Batam, Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan termasuk kategori tinggi, sedangkan Kabupaten Karimun, Natuna, Lingga dan Kepulauan Anambas termasuk kategori sedang. Kabupaten Anambas dan Natuna termasuk kategori ringan. Potensi luas bahaya banjir terlihat pada Tabel berikut ini :
Tabel 2.16. Potensi Luas Bahaya Banjir di Provinsi Kepulauan Riau
No Kabupaten/Kota Bahaya
Luas (Ha) Kelas
01 Kabupaten Bintan 95.717 Tinggi
02 Kabupaten Karimun 60.696 Sedang
03 Kabupaten Natuna 151.087 Sedang
04 Kabupaten Lingga 103.56 Sedang
05 Kabupaten Kepulauan Anambas 1.162 Sedang
06 Kota Batam 54.975 Tinggi
07 Kota Tanjungpinang 11.709 Tinggi
T O T A L 478.906 TINGGI
Sumber : Hasil Analisa BNPB Tahun 2015
Kondisi Waduk/Embung dan Tampungan Lainnya
Unit air baku yang dimaksud adalah (sesuai dengan Perpres Nomor 87 Tahun 2011) adalah : 1. Waduk Sei Harapan, Waduk Sei Ladi, Waduk Nongsa, Waduk Muka Kuning, Waduk
Duriangkang, Waduk Sei Tembesi Baru, Waduk Sungai Rempang, Waduk Sungai Cia, Waduk Sungai Galang, dan Waduk Sungai Gong di Kota Batam;
2. Waduk Sei Pulai di Kecamatan Tanjungpinang Timur, Waduk Galang Batang di Kecamatan Gunung Kijang, Waduk Sungai Gesek di sebagian Kecamatan Toapaya dan sebagian Kecamatan Teluk Bintan, Waduk Sungai Kawal di sebagian Kecamatan Toapaya dan Sebagian Kecamatan Gunung Kijang, Waduk Lagoi di Kecamatan Teluk Bintan, Waduk Anculai di Kecamatan Teluk Sebong, dan Waduk Kangboi di sebagian Kecamatan Toapaya dan sebagian Kecamatan Teluk Bintan, Waduk Sekuning di Kecamatan Teluk Bintan, Waduk Sungai Jago-Lepan di sebagian Kecamatan Bintan Utara dan sebagian Kecamatan Seri Kuala Lobam, dan Waduk Tanjung Uban di Kecamatan Bintan Utara di Kabupaten Bintan; 3. Waduk Sei Pulai di Kecamatan Tanjungpinang Timur di Kota Tanjungpinang; dan
4. Waduk Sei Bati di Kecamatan Tebing, Waduk Sei Pongkar di Kecamatan Tebing, Waduk Sei Gunung Jantan di Kecamatan Tebing, Waduk Sentani di Kecamatan Tebing di Kabupaten Karimun;
Sedangkan menurut RTRW Provinsi Kepulauan Riau Sumber Air Baku untuk jaringan air bersih adalah sebagai berikut :
a. Sumber air bersih di Kabupaten Bintan adalah hasil dari instalasi pengolahan air (IPA) di Tanjung Uban, Teluk Sekuni, Kijang, Lobam, Kawal, Waduk Sei Pulai, Waduk Jago, Waduk Lagoi, Waduk Sei Lepan, Waduk Sekuning, Waduk Galang Batang, Sungai Gesek, Sungai Busung, Sungai Ekang-Angculai, Sungai Kawal, Sungai Bintan, Sungai Kangboi. Dan pengembangan IPA lainnya berasal dari mata air dan embung/kolong pasca tambang; b. Sumber air bersih di Kota Tanjungpinang adalah hasil dari instalasi pengolahan air (IPA)
waduk Sei Pulai dengan memperkuat intake Waduk Sungai Gesek dan interkoneksi Waduk Galang Batang, Estuari DAM Muara Sungai Dompak dan embung pulau dompak, Kolong Sungai Timun, Kolong Sungai Nyirih, dan Sungai Toucang. Dan pengembangan IPA lainnya berasal dari pengolahan air laut menjadi air minum (Reverse Osmosis), kolong pasca tambang, mata air dan tampungan lainnya sebagai sumber air baku.
c. Sumber air bersih di Kota Batam adalah hasil dari instalasi pengolahan air (IPA) Waduk Sungai Harapan, Muka Kuning, Duriangkang, Nongsa, Sungai Ladi, Tembesi, Sekanak, Pemping, Bulang Lintang, Sungai Rempang, Sungai Cia, Sungai Gong dan Sungai Galang. Dan pengembangan IPA lainnya berasal dari pengolahan air laut menjadi air minum (Reverse Osmosis) dan mata air;
d. Sumber air bersih di Kabupaten Natuna adalah hasil dari instalasi pengolahan air (IPA) di Pulau Bunguran (yang bersumber dari Sungai Ranai, Sungai Air Hijau, Sungai Ulu, Sungai Semala, Air Terjun Air Lengit, Sungai Air Kupang, Sungai Air Kimak, Sungai Tapau, Sungai Bijai, air terjun Gunung Ranai, Air Terjun Bukit Berangin, Bendung Pering); di Pulau Midai (yang bersumber dari mata air Gunung Jambat, Gunung Teledu, Sabang Muduk, sumur Limau Kecil, sumur Air Putih 1, sumur Air Putih 2, sungai Air Bunga, sungai Sebelat Laut, sungai Sabang Muduk, sungai Air Salor, sungai cabang Sungai Abit dan sungai Air Pancur); Bendung Lampa serta sumber air baku yang berasal dari embung penampungan air di pulau-pulau kecil dan mata air.
e. Sumber air bersih di Kabupaten Kepulauan Anambas adalah hasil dari instalasi pengolahan air (IPA) DAS Siantan, DAS Matak, DAS Mubur, DAS Jemaja, DAS Bajau, DAS Air Abu, dan DAS Telaga. Dan pengembangan IPA lainnya berasal dari pengolahan air laut menjadi air minum (Reverse Osmosis), mata air dan air baku buatan.
f. Sumber air bersih di Kabupaten Karimun adalah hasil dari instalasi pengolahan air (IPA) di Pulau Karimun, Pulau Kundur, Pulau Belat, Pulau Buru, Pulau Ungar, Pulau Sugi Bawah, Pulau Combol, Pulau Durai, Kolong pongkar I dan Kolong Pongkar II, Kolong Sentani dan Kolong Depan RSUD serta pengembangan IPA lainnya dengan sumber air baku berasal dari pengolahan air laut menjadi air minum (sistem reverse osmosis), estuari dam, mata air dan kolong pasca tambang.
g. Sumber air bersih di Kabupaten Lingga adalah hasil dari instalasi pengolahan air (IPA) yang bersumber dari mata air gunung Muncung, Gunung Daik, Cenot, Bukit Raja, Limbung, Sungai Kerandin, Kudung, Sungai Pinang, Tebing Gunung Lanjut, Gunung Tunggal, Bukit Selayar, Kolong Berindat, Kolong Pasir Kuning, Kolong Serayak, Kolong Sungai Kerekel, Kolong Marok Tua, Kolong Tanah Sejuk, Kolong Raya serta pengembangan IPA lainnya dengan sumber air baku berasal dari pengolahan air laut (sistem reverse osmosis), mata air dan kolong pasca tambang;
Air baku merupakan air yang akan digunakan untuk input pengolahan air minum yang memenuhi baku mutu air baku. Air baku yang diolah menjadi air minum dapat berasal dari sumber air bawah tanah yaitu dari lapisan yang mengandung air di bawah permukaan tanah dangkal atau dalam, sumber air permukaan yaitu sungai, danau, rawa dan mata air serta air laut. Persentase tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan penduduk menunjukkan peningkatan dari sebesar 36,09% pada tahun 2011 menjadi 60,60% pada tahun 2015. Untuk saat ini kondisi waduk di Provinsi Kepulauan Riau adalah sebagai berikut :
Rencana Strategis Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau Periode Tahun 2016 - 2021 2 - 24 1. Di Kota Batam, secara keseluruhan terdapat 9 buah Waduk besar yang tersebar di Pulau
Batam dan pulau sekitarnya. Adapun rincian jumlah waduk di Kota Batam adalah sebagai berikut :
Tabel 2.17. Kapasitas Tampungan dan Luas Tampungan Waduk di Kota Batam
No Nama Waduk Volume
Kapasitas Tampungan (m3)
Luas Tampungan (Ha)
01 Waduk Nongsa 641.591 212,50
02 Waduk Sei Baloi 137.184 155,32
03 Waduk Sei Harapan 2.704.508 993,20
04 Waduk Sei Ladi 8.070.374 1.040,07
05 Waduk Muka Kuning 7.260.832 944,69
06 Estuari DAM Duriangkang 69.640.258 7.259,10
07 Waduk Rempang NA NA
08 Waduk Sekanak I 126.820 NA
09 Waduk Sekanak II 86.295 NA
T O T A L 88.667.862 10.605
Sumber : Data Olahan Dinas Pekerjaan Umum
Gambar 2.2. Potensi Sumber Daya Air di Pulau Batam
2. Di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan (Pulau Bintan) memiliki waduk yang berjumlah 7 Waduk, waduk Lagoi dikelolah oleh swasta dan diperuntukan terbatas untuk pariwisata hotel di kawasan Lagoi. Adapun rincian waduk di Pulau Bintan adalah sebagai berikut :
Tabel 2.18. Kapasitas Tampungan dan Luas Tampungan Waduk di Kabupaten Bintan
No Nama Waduk Volume
Kapasitas Tampungan (m3)
Luas Tampungan (Ha) 01 Waduk Sei Pulai (Kota Tanjungpinang) 1.750.000.000 725,00
02 Waduk Sei Jago (Kab. Bintan) 1.250.000.000 25,00
03 Waduk Tanjung Uban/Sei Jeram (Kab.
Bintan) 400.000 6,70
04 Waduk Kolong Enam 300.000 7,40
05 Waduk Lagoi 6.000.000 4.000
06 Waduk Sei Gesek NA NA
07 Embung Dompak NA NA
T O T A L Sumber : Data Olahan Dinas Pekerjaan Umum
Di Pulau Bintan ada beberapa rencana pengembangan potensi waduk yang akan dikembangkan oleh pemerintah, namun masih terbatas dalam lahan dan penganggaran. Ada 7 potensi waduk yang akan dikembangkan oleh pemerintah, dan dalam waktu dekat akan dikembangkan pembangunan Waduk Kawal.
Gambar 2.3. Potensi Sumber Daya Air di Pulau Bintan 3. Di Kabupaten Karimun memiliki waduk yang berjumlah 6 Waduk, terdiri dari :
Tabel 2.19. Kapasitas Tampungan dan Luas Tampungan Waduk di Kabupaten Karimun
No Nama Waduk Volume
Kapasitas Tampungan (m3)
Luas Tampungan (Ha)
01 Waduk Sungai Bati 378.937 15,00
02 Waduk Tempan 90.000 3,00
03 Waduk Sidodadi 100.000 2,50
04 Waduk Sentani 1.250.000 25,00
05 Waduk Prayon (Kundur Utara) 300.000 6,00
06 Waduk Sidomoro (Pulau Moro) 120.000 3,00
T O T A L 2.238.937 55,00
Sumber : Data Olahan Dinas Pekerjaan Umum
4. Sumber air baku di Kabupaten Lingga diambil dari berbagai macam sumber antara lain : a. Untuk pelayanan di Kelurahan Dabo, Kelurahan Dabo Lama, Desa Batu Berdaun dan
Desa Tanjung Harapan menggunakan sumber berupa mata air yang terletak di Air Gemuruh Gunung Muncung.
b. Untuk pelayanan di Desa Penuba menggunakan sumber berupa mata air di kampung Menserai dan kampung Tanjung Tinggi.
c. Untuk pelayanan di Kelurahan Daik menggunakan sumber yang berasal dari mata air yang terletak di Gunung Daik.
Dari seluruh sistem yang ada saat ini, jumlah kapasitas terpasang adalah 150 L/detik pada tahun 2012, dengan kapasitas produksi sebesar 90 L/detik. Kondisi saat ini (2012) dapat dilihat tabel dibawah ini :
Rencana Strategis Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau Periode Tahun 2016 - 2021 2 - 26 Tabel 2.20. Kapasitas Terpasang dan Kapasitas Produksi Kabupaten Lingga
Kawasan Pelayanan Kap. Terpasang
(lt/dtk) Kap. Produksi (lt/dtk) Pelayanan Cakupan (persen)
Keterangan Unit Dabo Singkep
a. Bukit Timah
b. Kampung Boyan 25 lt/dtk 20 lt/dtk 25 lt/dtk 20 lt/dtk 55,01%
Sudah mengalami penurunan debit air baku
Unit Penuba
a. Tanah Tinggi 5 lt/dtk 5 lt/dtk 55,13% Sudah mengalami penurunan debit air baku Unit Daik
a. Bukit Cengkeh
b. Bukit Sempot 50 lt/dtk 50 lt/dtk 20 lt/dtk 20 lt/dtk 20,67%
Sudah mengalami penurunan debit air baku Sumber : Data Olahan Dinas Pekerjaan Umum
5. Di Kabupaten Natuna tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari untuk kondisi saat ini bahwa total volume Instalasi Pengolah Air (IPA) sebesar 40 m3/tahun sedangkan jumlah kebutuhan air baku per tahun sebesar 2.233.440 m3/tahun. Jika dilihat berdasarkan jumlah tersedianya akses air minum yang aman melalui Sistem Penyediaan Air Minum dengan jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan terlindungi dengan kebutuhan pokok minimal 60 liter/orang/hari bahwa diketahui Jumlah penduduk yang memiliki akses air minum yang aman sebesar 3.102 jiwa, sedangkan proyeksi jumlah penduduk kabupaten/kota pada akhir tahun pencapaian SPAM sebesar 69.003 jiwa. Maka cakupan pelayanan masih sangat rendah sebesar 4,49 %. Hal ini disebabkan karena pelayanan air bersih di Kabupaten Natuna dengan sisitem perpipaan masih terpusat di kawasan perkotaan.
6. Di Kabupaten Kepulauan Anambas sumber air baku masih diperoleh dari daerah perbukitan dengan sistem pengairan gravitasi. Pelayanan air bersih di Kabupaten Kepulauan Anambas belum memiliki sumber air baku yang memadai dan sistem yang ada menggunakan SPAM IKK dengan kapasitas 10 – 20 liter/detik.
Kondisi Jaringan Irigasi
Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan. Luas irigasi kondisi baik di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2014 sebesar 1.354 Ha, meningkat dari tahun sebelumya sebesar 1.010 Ha. Irigasi sangat bermanfaat bagi pertanian, terutama di pedesaan. Dengan irigasi pertanian dapat berproduksi setiap tahunnya serta dapat juga dipergunakan untuk peternakan, dan keperluan lain yang bermanfaat. Persentase ketersediaan air irigasi untuk pertanian rakyat pada sistem irigasi yang sudah ada menunjukkan peningkatan dari sebesar 25,91% pada tahun 2011 menjadi 30,64% pada tahun 2015.
Irigasi merupakan salah satu komponen penting ketahanan pangan nasional, dimana mengacu pada PP No. 20 Tahun 2006 definitif irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi yang menunjang kegiatan pertanian, yang jenisnyameliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi airbawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. Sedangkan jaringan irigasi adalah kesatuan saluran,bangunan, dan bangunan pelengkap irigasi yang terdiri dari jaringan irigasi teknis, semi teknis, dan non teknis. Suatu jaringan yang mengaliri suatu kesatuan lahan disebut Daerah Irigasi (DI).
Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah mengatakan bahwa pembagian urusan Sumber Daya Air mengenai mengenai kewenangan Pemerintah Daerah Provinsi untuk urusan Pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya 1000 ha - 3000 ha, dan daerah irigasi lintas Daerah kabupaten/kota. Sedangkan untuk kewenangan provinsi untuk pengelolaan dan pengembangan SPAM pada