• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN PELAYANAN PERANGKAT DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II GAMBARAN PELAYANAN PERANGKAT DAERAH"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

GAMBARAN PELAYANAN PERANGKAT DAERAH

2.1 Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi Perangkat Daerah

Tugas Pokok dan Fungsi

Sesuai Peraturan Gubernur Sulawesi Utara Nomor 58 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Dinas Sosial Daerah Provinsi Tipe A Provinsi Sulawesi Utara, tugas pokok dan fungsi dari Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Utara, adalah :

Tugas pokok (Bab II Pasal 3)

Melaksanakan perumusan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma standar prosedur dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervice, serta evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kebijakan di bidang perlindungan dan jaminan sosial, rehabilitasi sosial, pemberdayaan sosial dan penanganan fakir miskin.

Fungsi (Bab II Pasal 3)

a. Perumusan kebijakan sesuai dengan lingkup tugasnya, b. Pelaksanaan kebijakan sesuai dengan lingkup tugasnya,

c. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan sesuai dengan lingkup tugasnya, d. Pelaksanaan administrasi dinas sesuai dengan lingkup tugasnya,

e. Penyelenggaraan urusan bidang pelayanan sosial lanjut usia “Senja Cerah”

f. Penyelenggaraan urusan bidang pelayanan sosial anak remaja

“Maka’aruyen”

g. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh pimpinan

Struktrur Organisasi

Berdasarkan Perda Propinsi Sulawesi Utara Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pem bentukan dan susunan Perangkat Daerah Provinsi Sulawesi Utara dan Peraturan Gubernur Sulawesi Utara Nomor 58 Tahun 2016 Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi,Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinas Sosial Daerah Provinsi Sulawesi Utara, telah ditetapkan Susunan Organisasi Dinas Sosial Daerah Provinsi Sulawesi Utara.

(2)

Adapun susunan bagan struktur organisasi Dinas Sosial Daerah Provinsi SULUT, adalah :

STRUKTUR ORGANISASI

DINAS SOSIAL DAERAH PROVINSI SULAWESI UTARA

( PERDA PROVINSI SULAWESI UTARA NOMOR : 4 TAHUN 2016)

KEPALA DINAS

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

SEKRETARIAT

SUBBAG HUKUM DAN KEPEGAWAIAN

SUBBAG

U M U M SUBBAG PERENC. DAN KEUANGAN

BIDANG PERLINDUNGAN

DAN JAMINAN SOSIAL BIDANG REHABILITASI

SOSIAL BIDANG PEMBERDAYAAN

SOSIAL BIDANG PENANGANAN

SOSIAL FAKIR MISKIN

UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS ( UPTD )

Gambar 1

Struktur Organisasi Dinas Sosial Daerah Provinsi Sulawesi Utara

Susunan Organisasi Dinas Sosial Daerah Provinsi Sulawesi Utara, terdiri dari : 1. Kepala Dinas (Eselon II a)

2. Sekretaris (Eselon III a)

dengan membawahi 3 (tiga) Sub Bagian (Eselon IV a) terdiri dari:

a. Sub Bagian Hukum dan Kepegawaian b. Sub Bagian Umum

c. Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan

3. Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Eselon III a), dengan membawahi 3 (tiga) seksi (eselon IV a), terdiri dari :

SEKSI SEKSI SEKSI SEKSI

PERLINDUNGAN SOSIAL REHABILITASI SOSIAL ANAK PEMBERDAYAAN SOSIAL PENGUMPULAN DAN KORBAN BENCANA ALAM DAN LANJUT USIA KELEMBAGAAN MASYARAKAT,

KELUARGA DAN PERORANGAN PENGOLAHAN DATA KEMISKINAN

SEKSI SEKSI SEKSI SEKSI

PERLINDUNGAN SOSIAL REHABILITASI SOSIAL PENGELOLAAN SUMBER DANA PENANGANAN FAKIR KORBAN BENCANA SOSIAL PENYANDANG DISABILITAS BANTUAN SOSIAL

PERORANGAN MISKIN PERDESAAN DAN

PERKOTAAN

SEKSI SEKSI SEKSI SEKSI

JAMINAN SOSIAL REHABILITASI SOSIAL PEMBERDAYAAN POTENSI PENANGANAN FAKIR

KELUARGA TUNA SOSIAL, KP NAPZA DAN KEPAHLAWANAN, MISKIN PESISIR, PULAU-

PERLINDUNGAN KORBAN KEPERINTISAN, PULAU KECIL, PERBATASAN PERDAGANGAN ORANG KESETIAKAWANAN DAN

RESTORASI SOSIAL DAN KOMUNITAS ADAT TERPENCIL (KAT)

(3)

a. Seksi Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam b. Seksi Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial c. Seksi Jaminan Sosial Keluarga

4. Bidang Rehabilitasi Sosial (Eselon IIIa), dengan membawahi 3 (tiga) seksi (Eselon IVa), terdiri dari :

a. Seksi Rehabilitasi Sosial Anak dan Lanjut Usia b. Seksi Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas

c. Seksi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial, KP Napza dan Perlindungan Korban Perdagangan orang

5. Bidang Pemberdayaan Sosial (Eselon IIIa) dengan m embawahi 3 (tiga) seksi (Eselon IVa), terdiri dari :

a. Seksi Pemberdayaan Sosial Kelembagaan Masyarakat, Keluarga dan Perorangan b. Seksi Pengelolaan Sumber Dana Bantuan Sosial

c. Seksi Pemberdayaan Potensi Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial

6. Bidang Penanganan Sosial Fakir Miskin (Eselon III a) dengan membawahi 3 (tiga) seksi (Eselon IV a), terdiri dari :

a. Seksi Pengumpulan dan Pengolahan Data Kemiskinan b. Seksi Penanganan Fakir Miskin Perdesaan dan Perkotaan

c. Seksi Penanganan Fakir Miskin Pesisir, Pulau–Pulau Kecil, Perbatasan dan Komunitas Adat Terpencil (KAT)

Disamping itu ada 2 (dua) Balai Penyantunan yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Sosial Daerah Provinsi Sulawesi Utara, yaitu :

1. Balai Penyantunan Lanjut Usia Terlantar “Senja Cerah“ Manado (Eselon III a) dengan 3 Sub/Seksi (Eselon IV a), terdiri dari :

a. Sub Bagian Tata Usaha

b. Seksi Identifikasi dan Advokasi c. Seksi Penyantunan Sosial

2. Balai Penyantunan Anak dan Remaja terlantar “ Maka’Aruyen “ Tomohon (Eselon IIIa) dengan 3 eselon IV a, yaitu :

a. Sub Bagian Tata Usaha

b. Seksi Identifikasi dan Advokasi c. Seksi Penyantunan Sosial

(4)

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

Adapun susunan bagan struktur organisasi UPTD BPAR, adalah :

STRUKTUR ORGANISASI

UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS (UPTD)

BALAI PENYANTUNAN ANAK DAN REMAJA “ MAKA’ARUYEN”

( PERGUB SULAWESI UTARA NOMOR : 90 TAHUN 2016 )

KEPALA UPTD

SUB BAGIAN TATA USAHA

SEKSI IDENTIFIKASI DAN ADVOKASI

SEKSI PENYANTUNAN

SOSIAL

Gambar 2

Struktur Organisasi UPTD Balai Penyantunan Anak dan Remaja ” Maka’aruyen”

Adapun susunan bagan struktur organisasi UPTD BPLU, adalah :

STRUKTUR ORGANISASI

UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS (UPTD)

BALAI PENYANT UNAN LANJUT USIA TERLANTAR “ SENJA CERAH”

(PERGUB SULAWESI UTARA NOMOR : 90 TAHUN 2016)

KEPALA UPTD

SUB BAGIAN TATA USAHA

SEKSI IDENTIFIKASI DAN ADVOKASI

SEKSI PENYANTUNAN

SOSIAL

Gambar 3

Struktur Organisasi UPTD Balai Lanjut Usia Terlantar ”Senja Cerah

(5)

2.2 Sumber Daya Perangkat Daerah

Personil yang tersedia pada Dinas Sosial Daerah Propinsi Sulawesi Utara dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas pembangunan Kesejahteraan Sosial adalah :

Jumlah Pegawai 117 orang dengan rincian sebagai berikut : Kualifikasi Pendidikan S2 : 6 orang

S1/D4 : 64 orang D3/D1 : 15 orang SMU : 32 orang SMP : - orang SD : - orang Kualifikasi Pangkat/Golongan

Pembina Utama Muda IV c : 1 orang Pembina Tk I IV b : 5 orang

Pembina IV a : 2 orang

Penata Tk I III d : 33 orang

Penata III c : 22 orang

Penata Muda Tk I III b : 33 orang Penata Muda III a : 5 orang Pengatur Tk I II d : 6 orang

Pengatur II c : 4 orang

Pengatur muda Tk I II b : 5 orang Pengatur muda II a : 1 orang Jabatan Struktural Fungsional

Struktural Eselon I : - orang Eselon II : 1 orang Eselon III : 7 orang Eselon IV : 21 orang Fungsional (PenyuluhSosial) : 1 orang

Kualifikasi Pegawai Menurut Diklat Penjenjangan

Diklat PIM-I : - orang Diklat PIM-II : 1 orang Diklat PIM-III : 6 orang Diklat PIM-IV : 23 orang

(6)

2.3. Kinerja Pelayanan Perangkat Daerah

Dinas Sosial Daerah menangani Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan memberdayakan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). PMKS yang ditangani meliputi 26 (dua puluh enam) jenis menurut Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 08 Tahun 2012, yaitu :

1. Anak Balita Terlantar, adalah seorang anak yang berusia 5 (lima) tahun kebawah yang ditelantarkan orang tuanya dan/atau berada didalam keluarga tidak mampu oleh orang tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi serta anak dieksploitasi untuk tujuan tertentu. Anak Balita Terlantar memiliki kriteria tertentu dan salah satunya berasal dari keluarga sangat miskin/miskin

2. Anak Telantar, adalah seorang anak berusia 6 (enam) tahun sampai dengan 18 (delapan belas) tahun meliputi anak yang mengalami perlakuan salah dan ditelantarkan oleh orang tua/keluarga atau anak kehilangan hak asuh dari orang tua/keluarga. Anak Terlantar memiliki kriteria tertentu dan salah satunya berasal dari keluarga sangat miskin/miskin

3. Anak yang Berhadapan dengan Hukum, adalah orang yang telah berumur 12 (dua belas) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun, meliputi anak yang disangka, didakwa, atau dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana dan anak yang menjadi korban tindak pidana atau yang melihat dan/atau mendengar sendiri terjadinya suatu tindak pidana.

4. Anak Jalanan, adalah anak yang rentan bekerja di jalanan, anak yang bekerja di jalanan, dan/atau anak yang bekerja dan hidup di jalanan yang menghasilkan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari.

5. Anak dengan Kedisabilitasan (ADK), adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun yang mempunyai kelainan fisik atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan bagi dirinya untuk melakukan fungsi-fungsi jasmani, rohani maupun sosialnya secara layak, yang terdiri dari anak dengan disabilitas fisik, anak dengan disabilitas mental dan anak dengan disabilitas fisik dan mental.

(7)

6. Anak yang Menjadi Korban Tindak Kekerasan atau Diperlakukan Salah, adalah anak yang terancam secara fisik dan nonfisik karena tindak kekerasan, diperlakukan salah atau tidak semestinya dalam lingkungan keluarga atau lingkungan sosial terdekatnya, sehingga tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya dengan wajar baik secara jasmani, rohani maupun sosial.

7. Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus adalah anak yang berusia 6 (enam) tahun sampai dengan 18 (delapan belas) tahun dalam situasi darurat, dari kelompok minoritas dan terisolasi, dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, diperdagangkan, menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), korban penculikan, penjualan, perdagangan, korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, yang menyandang disabilitas, dan korban perlakuan salah dan penelantaran.

8. Lanjut Usia Terlantar adalah seseorang yang berusia 60 (enam puluh) tahun atau lebih, karena faktor-faktor tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya.

9. Penyandang Disabilitas adalah mereka yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau dalam jangka waktu lama dimana ketika berhadapan dengan berbagai hambatan hal ini dapat mengalami partisipasi penuh dan efektif mereka dalam masyarakat berdasarkan kesetaraan dengan yang lainnya.

10. Tuna Susila adalah seseorang yang melakukan hubungan seksual dengan sesama atau lawan jenis secara berulang-ulang dan bergantian diluar perkawinan yang sah dengan tujuan mendapatkan imbalan uang, materi atau jasa.

11. Gelandangan adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan yang tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai pencaharian dan tempat tinggal yang tetap serta mengembara di tempat umum.

12. Pengemis adalah orang-orang yang mendapat penghasilan meminta-minta ditempat umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan orang lain.

13. Pemulung adalah orang-orang yang melakukan pekerjaan dengan cara memungut dan mengumpulkan barang-barang bekas yang berada di berbagai tempat

(8)

pemukiman penduduk, pertokoan dan/atau pasar-pasar yang bermaksud untuk didaur ulang atau dijual kembali, sehingga memiliki nilai ekonomis.

14. Kelompok Minoritas adalah kelompok yang mengalami gangguan keberfungsian sosialnya akibat diskriminasi dan marginalisasi yang diterimanya sehingga karena keterbatasannya menyebabkan dirinya rentan mengalami masalah sosial, seperti gay, waria dan lesbian.

15. Bekas W arga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (BWBLP) adalah seseorang yang telah selesai menjalani masa pidananya sesuai dengan keputusan pengadilan dan mengalami hambatan untuk menyesuaikan diri kembali dalam kehidupan masyarakat, sehingga mendapat kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan atau melaksanakan kehidupannya secara normal.

16. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) adalah seseorang yang telah dinyatakan terinfeksi HIV/AIDS dan membutuhkan pelayanan sosial, perawatan kesehatan, dukungan dan pengobatan untuk mencapai kualitas hidup yang optimal.

17. Korban Penyalahgunaan Napza adalah seseorang yang menggunakan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya diluar pengobatan atau tanpa sepengetahuan dokter yang berwenang.

18. Korban Traffiking adalah seseorang yang mengalami penderitaan psikis, mental, fisik, seksual, ekonomi dan/atau sosial yang diakibatkan tindak pidana perdagangan orang.

19. Korban Tindak Kekerasan adalah orang baik individu, keluarga, kelompok maupun kesatuan masyarakat tertentu yang mengalami tindak kekerasan, baik sebagai akibat perlakuan salah, eksploitasi, diskriminasi, bentuk-bentuk kekerasan lainnya ataupun dengan membiarkan orang berada dalam situasi berbahaya sehingga menyebabkan fungsi sosialnya terganggu.

20. Pekerja Migran Bermasalah Sosial (PMBS) adalah pekerja migrant internal dan lintas Negara yang mengalami masalah sosial, baik dalam bentuk tindak kekerasan, penelantaran, mengalami musibah (faktor alam dan sosial) maupun mengalami disharmoni sosial karena ketidakmampuan menyesuaikan diri di Negara tempat bekerja sehingga mengakibatkan fungsi sosialnya terganggu.

(9)

21. Korban Bencana Alam adalah orang atau sekelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor terganggu fungsi sosialnya

22. Korban Bencana Sosial adalah orang atau sekelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat dan teror.

23. Perempuan Rawan Sosial Ekonomi adalah seseorang perempuan dewasa menikah, belum menikah atau janda dan tidak mempunyai penghasilan cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

24. Fakir Miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan/atau mempunyai sumber mata pencarian tetapi tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan dirinya dan/atau keluarganya.

25. Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis adalah keluarga yang hubungan antar anggota keluarganya terutama antara suami-istri, orang tua dengan anak kurang serasi, sehingga tugas-tugas dan fungsi keluarga tidak dapat berjalan dengan wajar.

26. Komunitas Adat Terpencil adalah kelompok sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial, ekonomi, maupun politik.

Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) yang diberdayakan meliputi:

1. Pekerja Sosial Profesional adalah seseorang yang bekerja, baik dilembaga pemerintah maupun swasta yang memiliki kompetensi dan profesi pekerjaan sosial, dan kepedulian dalam pekerjaan sosial yang diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan/atau pengalaman praktek pekerjaan sosial untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan penanganan masalah sosial.

2. Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) adalah warga masyarakat yang atas dasar rasa kesadaran dan tanggung jawab sosial serta didorong oleh rasa kebersamaan, kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial secara sukarela mengabdi di bidang kesejahteraan sosial.

3. Taruna Siaga Bencana (Tagana) adalah seorang relawan yang berasal dari masyarakat yang memiliki kepedulian dan aktif dalam penanggulangan bencana.

4. Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) adalah organisasi sosial atau perkumpulan sosial yang melaksanakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang dibentuk oleh

(10)

masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum.

5. Karang Taruna (KT) adalah Organisasi Sosial kemasyarakatan sebagai wadah dan sarana pengembangan setiap anggota masyarakat yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa/kelurahah terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial.

6. Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) adalah merupakan salah satu wahana penanganan masalah sosial psikologis keluarga yang mengedepankan pendekatan pekerjaan sosial dalam proses pelayanan dan dukungan dari disiplin ilmu yang terkait.

Bidang Rehabilitasi Sosial

Bidang Rehabilitasi Sosial mempunyai tugas melaksanakan urusan di bidang pelayanan sosial anak, lanjut usia dan panti sosial, pelayanan dan rehabilitasi sosial penyandang cacat, LBK dan pelayanan, rehabilitasi sosial tuna sosial dan korban penyalahgunaan napza serta tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bidang Rehabilitasi Sosial mempunyai fungsi antara lain :

a. Penyusunan kebijakan di bidang rehabilitasi sosial;

b. Penyelenggaraan rehabilitasi sosial anak dan lanjut usia;

c. Penyelenggaraan rehabilitasi sosial disabilitas;

d. Penyelenggaraan rehabilitasi sosial tuna sosial korban penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA) dan korban perdagangan orang;

e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan;

Seksi Rehabilitasi Sosial Anak dan Lanjut Usia, mempunyai tugas :

a. Menyusun rencana kegiatan seksi rehabilitasi sosial anak dan lansia sebagai pedoman pelaksanaan tugas;

b. Menyiapkan bahan penyusunan perumusan kebijakan dibidang rehabilitasi sosial anak dan lansia;

c. Menyiapkan bahan pelaksanaan kebijakan dibidang rehabilitasi sosial anak dan lansia;

d. Menyiapkan bahan koordinasi bidang rehabilitasi sosial anak dan lanjut usia dengan unit/instansi terkait;

e. Menyiapkan bahan penyusunan bahan norma standar prosedur dan criteria seksi rehabilitasi sosial anak dan lanjut usia;

f. Merancang penyediaan gedung beserta sarana dan prasarana pelaksanaan rehabilitasi sosial dalam panti bagi anak dan lanjut usia;

(11)

g. Menyiapkan bahan pemberian bimbingan teknis, supervisi dan pemantauan dibidang rehabilitasi sosial anak dan lanjut usia;

h. Membimbing, membagi tugas, memeriksa dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas seksi rehabilitasi sosial anak dan lanjut usia;

i. Melaksanakan penilaian kinerja pegawai pada seksi rehabilitasi sosial anak dan lanjut usia sesuai tugas dan kewenangannya;

j. Memberikan saran dan pertimbangan kepada atasan yang berlaitan dengan tugas seksi rehabiltasi sosial anak dan lanjut usia;

k. Melaporkan hasil kegiatan seksi rehabilitasi sosial anak dan lanjut usia kepada pimpinan;

l. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh pimpinan Seksi Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas mempunyai tugas :

a. Menyusun rencana kegiatan seksi rehabilitasi sosial penyandang disabilitas sebagai pedoman pelaksanaan tugas;

b. Menyiapkan bahan penyusunan perumusan kebijakan dibidang rehabilitasi sosial penyandang disabilitas;

c. Menyiapkan bahan pelaksanaan kebijakan dibidang rehabilitasi sosial penyandang disabilitas;

d. Menyiapkan bahan koordinasi bidang rehabilitasi sosial penyandang disabilitas dengan unit/instansi terkait;

e. Menyiapkan bahan penyusunan bahan norma standar prosedur dan kriteria seksi rehabilitasi sosial anak penyandang disabilitas;

f. Merancang penyediaan gedung beserta sarana dan prasarana pelaksanaan rehabilitasi sosial dalam panti bagi penyandang disabilitas;

g. Menyiapkan bahan pemberian bimbingan teknis, supervisi dan pemantauan dibidang rehabilitasi sosial penyandang disabilitas;

h. Membimbing, membagi tugas, memeriksa dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas seksi rehabilitasi sosial penyandang disabilitas;

i. Melaksanakan penilaian kinerja pegawai pada seksi rehabilitasi sosial penyandang disabilitas sesuai tugas dan kewenangannya;

j. Memberikan saran dan pertimbangan kepada atasan yang berkaitan dengan tugas seksi rehabiltasi sosial penyandang disabilitas;

k. Melaporkan hasil kegiatan seksi rehabilitasi sosial penyandang disabilitas kepada pimpinan;

l. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh pimpinan

Seksi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial, KP Napza dan Perlindungan Korban Perdagangan orang mempunyai tugas :

(12)

a. Menyusun rencana kegiatan seksi rehabilitasi sosial Tuna Sosial, KP Napza dan Korban Perdagangan orang sebagai pedoman pelaksanaan tugas;

b. Menyiapkan bahan penyusunan perumusan kebijakan dibidang rehabilitasi sosial Tuna Sosial, KP Napza dan Korban Perdagangan orang;

c. Menyiapkan bahan pelaksanaan kebijakan dibidang rehabilitasi sosial Tuna Sosial, KP Napza dan Korban Perdagangan orang;

d. Menyiapkan bahan koordinasi bidang rehabilitasi sosial Tuna Sosial, KP Napza dan Korban Perdagangan orang dengan unit/instansi terkait;

e. Menyiapkan bahan penyusunan bahan norma standar prosedur dan kriteria seksi rehabilitasi sosial Tuna Sosial, KP Napza dan Korban Perdagangan orang;

f. Merancang penyediaan gedung beserta sarana dan prasarana pelaksanaan rehabilitasi sosial dalam panti bagi Tuna Sosial, KP Napza dan Korban Perdagangan orang;

g. Menyiapkan bahan pemberian bimbingan teknis, supervisi dan pemantauan dibidang rehabilitasi sosial Tuna Sosial, KP Napza dan Korban Perdagangan orang;

h. Membimbing, membagi tugas, memeriksa dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas seksi rehabilitasi sosial Tuna Sosial, KP Napza dan Korban Perdagangan orang;

i. Melaksanakan penilaian kinerja pegawai pada seksi rehabilitasi sosial Tuna Sosial, KP Napza dan Korban Perdagangan orang sesuai tugas dan kewenangannya;

j. Memberikan saran dan pertimbangan kepada atasan yang berkaitan dengan tugas seksi rehabiltasi sosial Tuna Sosial, KP Napza dan Korban Perdagangan orang;

k. Melaporkan hasil kegiatan seksi rehabilitasi sosial Tuna Sosial, KP Napza dan Korban Perdagangan orang kepada pimpinan;

l. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh pimpinan

Yang termasuk Sasaran penerima manfaat penyelenggaraan kesejahteraan sosial melalui Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial adalah PMKS yang masuk ke dalam kategori:

- anak balita telantar, - anak telantar, - anak putus sekolah, - anak jalanan, - anak nakal, - anak cacat,

- anak yang diperdagangkan,

- anak dalam situasi darurat (yang memerlukan perlindungan khusus),

(13)

- tuna sosial (wanita tunasusila, waria tunasusila, gelandangan, pengemis, tunawisma), ODHA (orang dengan HIV AIDS), bekas warga binaan lembaga pemasyarakatan,

- lanjut usia (lansia) telantar potensial dan tidak potensial, - korban narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (Napza).

Kemajuan Pembangunan dalam berbagai aspek yang didukung melalui Program Pemerintah Pusat dan Daerah menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan, dalam hal ini termasuk Pembangunan di Bidang Kesejahteraan Sosial yang telah dirasakan menyentuh langsung ke masyarakat antara lain Jaminan Sosial Lanjut Usia, Jaminan Sosial Penyandang Cacat, Bantuan Tambahan Biaya Pemenuhan Kebutuhan Dasar Panti Sosial Anak, Lanjut Usia, Penyandang Cacat, Pemenuhan Kebutuhan Dasar Anak dan Balita terlantar, serta program lainnya yang ditujukan pada peningkatan kesejahteraan sosial melalui Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial serta memberikan dukungan kepada peran serta masyarakat/organisasi sosial yang membidangi Anak, Lanjut Usia Penyandang cacat, Tuna Sosial, Korban Penyalahgunaan NAPZA, memperluas jaringan kerja yaitu Rehabilitasi Sosial yang berbasiskan institusi lokal, keluarga dan masyarakat, dimana masyarakat secara umum sebagai modal dasar pembangunan di Bidang Kesejahteraan Sosial.

Undang-Undang No. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, Pasal 7 :

(1) Rehabilitasi Sosial dimaksudkan sebagai proses untuk memulihkan dan

mengembangkan kemampuan seseorang yang mengalami disfungsi sosial agar dapat melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar.

(2) Rehabilitasi Sosial dapat dilaksanakan secara persuasif, motivatif, koersif, baik dalam keluarga, masyarakat maupun panti sosial.

Adanya Program pelayanan dan Rehabilitasi Sosial melihat kepada sasaran program yang disebut sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial, adalah sebagai akibat dari masalah sosial, karena :

Disfungsi Sosial Yaitu, seseorang yang tidak dapat melaksanakan fungsi peranan sosial selayaknya orang normal lainnya karena mengalami hambatan/mempunyai hambatan secara fisik dan atau mental sehingga yang bersangkutan dikategorikan sebagai PMKS Penyandang Cacat; serta masalah ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak karena faktor ekonomi, faktor keluarga yang mengakibatkan keterlantaran, PMKS yang dikategorikan sebagai balita, anak dan lanjut usia terlantar.

Tingkahlaku yang menyimpang Tingkah laku yang tidak sesuai dengan adat istiadat, norma- norma yang berlaku di masyarakat, seperti : Kenakalan Anak/Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum, Korban Penyalahgunaan NAPZA, Tuna Susila serta PMKS Tuna Sosial lainnya yaitu Gelandangan/ Pengemis, Bekas W arga Binaan Lembaga Pemasyarakatan

(14)

serta termasuk juga Kategori Anak Yang Memerlukan Perlindungan Khusus karena tindak kekerasan, terisolir, korban eksploitasi, dsb.

Situasi Sosial yang dirasakan mengganggu, merugikan orang banyak seperti tarkam termasuk masalah kenakalan anak, masalah Tuna Susila, masalah NAPZA juga merupakan kondisi yang meresahkan dan mengganggu kehidupan masyarakat, dimana masalah tersebut dapat mengancam stabilitas kehidupan bangsa, merusak generasi muda.

Terselenggaranya Program Pelayanan Rehabilitasi Sosial dalam memberikan pelayanan kepada sasaran program PMKS tersebut diatas harus ditunjang dengan,

- ketersediaan fasilitas sarana prasarana program, - ketersediaan sumber dana,

- peran serta Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial seperti RBM, Organisasi Sosial/LSM, - peran serta panti sosial,

- peran keluarga termasuk didalamnya keikutsertaan sasaran program dalam tahapan pelayanan dan rehabilitasi sosial.

Selanjutnya pemerintah secara terus menerus memberikan perhatian kepada program- program pelayanan yang menyentuh langsung ke masyarakat antara lain melalui Jaminan Sosial Lanjut Usia, Penyandang Cacat, Tambahan Kebutuhan Dasar Panti Sosial, Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan NAPZA, Tuna Sosial, Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) sebagai implementasi Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010.

PROGRAM KEGIATAN REALISASI REALISASI REALISASI REALISASI REALISASI

2005 2006 2007 2008 2009

PROGRAM PELAYANAN DAN

REHABILITASI SOSIAL

Pelayanan dan Rehabilitasi

Sosial 225 Org _ 30 Org _ _

Rehabilitasi Tuna Sosial 90 Org 50 Org 20 Org 50 Org 135 Org

Rehabilitasi dan

Perlindungan Sosial Korban Penyalahgunaan NAPZA

80 Org 75 Org 81 Org 100 Org 60 Org, 1

Orsos

Pelayanan dan Rehabilitasi

Sosial PACA 175 Org 120 Org 334 Org 254 Org 138 Org

Rehabilitasi dan

Perlindungan Kesejahteraan Sosial Lanjut UsiaTerlantar

310 Org 160 Orang 327 Org 1010 Org 281 Org

Pelayanan dan

Perlindungan Kesejahteraan Sosial Anak terlantar

1.860 Org 1320 Anak 218 Anak 1470 Anak 1717 org

(15)

Pelayanan dan Rehabilitasi

Sosial Anak Cacat 185 Org 295 Org 177 Org 205 Org 239 Org

Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Anak Nakal

298 Org 165 Org 36 Org 103 Org 60 Org

Gambar 4

Tabel Perbandingan Realisasi Program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Tahun 2005-2009

Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial

Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial mempunyai tugas melakukan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma standar prosedur dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan dibidang perlindungan dan jaminan sosial serta tugas lain yang diberikan oleh Pimpinan.

Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial mempunyai fungsi :

a. Penyusunan kebijakan dibidang perlindungan dan jaminan sosial;

b. Penyelenggaraan kebijakan perlindungan sosial korban bencana alam;

c. Penyelenggaraan kebijakan perlindungan sosial korban bencana sosial;

d. Penyelenggaraan kebijakan jaminan sosial keluarga;

e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.

Seksi Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam mempunyai tugas :

a. Menyusun rencana kegiatan seksi perlindungan sosial korban bencana alam sebagai pedoman pelaksanaan tugas;

b. Menyiapkan bahan penyusunan perumusan kebijakan di bidang perlindungan sosial korban bencana alam;

c. Menyiapkan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang perlindungan sosial korban bencana alam;

d. Menyiapkan bahan koordinasi bidang perlindungan sosial korban bencana alam dengan unit / instansi terkait;

e. Menyiapkan bahan penyusunan bahan norma, standar, prosedur dan kriteria seksi perlindungan sosial korban bencana alam;

f. Melaksanakan penyediaan kebutuhan dasar bagi korban becana alam provinsi;

g. Melaksanakan pemulihan trauma bagi korban bencana alam provinsi;

h. Menyiapkan bahan pemberian pembinaan, bimbingan teknis, supervise dan pemantauan di bidang perlindungan sosial korban bencana alam;

i. Membimbing, membagi tugas memeriksa dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas seksi perlindungan sosial korban bencana alam;

j. Melaksanakan penilaian kinerja pegawai pada seksi perlindungan sosial korban bencana

(16)

alam sesuai tugas dan kewenangannya;

k. Memberikan saran dan pertimbangan kepada atasan yang berkaitan dengan tugas seksi perlindungan sosial korban bencana alam;

l. Melaporkan hasil kegiatan seksi perlindungan sosial korban bencana alam kepada pimpinan;

m. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh pimpinan Seksi Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial mempunyai tugas :

a. Menyusun rencana kegiatan seksi perlindungan sosial korban bencana sosial sebagai pedoman pelaksanaan tugas;

b. Menyiapkan bahan penyusunan perumusan kebijakan di bidang perlindungan sosial korban bencana sosial;

c. Menyiapkan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang perlindungan sosial korban bencana sosial;

d. Menyiapkan bahan koordinasi bidang perlindungan sosial korban bencana sosial dengan unit / instansi terkait;

e. Menyiapkan bahan penyusunan bahan norma, standar, prosedur dan kriteria seksi perlindungan sosial korban bencana sosial;

f. Melaksanakan pemetaan, penjajagan dan deteksi dini daerah/wilayah rawan konfik;

g. Melaksanakan penyediaan kebutuhan dasar bagi korban bencana sosial provinsi;

h. Melaksanakan pemulihan trauma bagi korban bencana sosial provinsi;

i. Merancang, mengembangkan dan menyiapkan sarana dan prasarana pemulihan trauma korban bencana sosial;

j. Menyiapkan bahan pemberian pembinaan, bimbingan teknis, supervise dan pemantauan di bidang perlindungan sosial korban bencana sosial;

k. Membimbing, membagi tugas memeriksa dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas seksi perlindungan sosial korban bencana sosial;

l. Melaksanakan penilaian kinerja pegawai pada seksi perlindungan sosial korban bencana sosial sesuai tugas dan kewenangannya;

m. Memberikan saran dan pertimbangan kepada atasan yang berkaitan dengan tugas seksi perlindungan sosial korban bencana sosial;

n. Melaporkan hasil kegiatan seksi perlindungan sosial korban bencana sosial kepada pimpinan;

o. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh pimpinan Seksi Jaminan Sosial Keluarga mempunyai tugas :

a. Menyusun rencana kegiatan seksi jaminan sosial keluarga sebagai pedoman

(17)

b. Menyiapkan bahan penyusunan perumusan kebijakan di bidang jaminan sosial keluarga;

c. Menyiapkan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang jaminan sosial keluarga;

d. Menyiapkan bahan koordinasi bidang jaminan sosial keluarga dengan unit / instansi terkait;

e. Menyiapkan bahan penyusunan bahan norma, standar, prosedur dan kriteria seksi jaminan sosial keluarga;

f. Menyi apkan fasilitas sarana dan prasarana pendukung pel aksanaan kegi atan jaminan sosial keluarga;

g. Menyiapkan bahan pemberian bimbingan teknis, supervisi dan pemantauan di bidang jaminan sosial keluarga;

h. Membimbing, membagi tugas, memeriksa dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas seksi jaminan sosial keluarga;

i. Melaksanakan penilaian kinerja pegawai pada seksi jaminan sosial keluarga sesuai tugas dan kewenangannya;

j. Memberikan saran dan pertimbangan kepada atasan yang berkaitan dengan tugas seksi jaminan sosial keluarga;

k. Melaporkan hasil kegiatan seksi jaminan sosial keluarga kepada pimpinan;

l. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh pimpinan

Program dan kegiatan telah dirancang untuk mengantisipasi berbagai tantangan dengan mengedepankan prioritas kebutuhan bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial.

Pergeseran paradigma masyarakat luas terhadap penanganan masalah sosial dengan meningkatnya partisipasi masyarakat, dunia usaha maupun NGO lokal dan Internasional telah menciptakan peluang untuk bersama-sama mengentaskan permasalahan.

Sasaran di bidang Bantuan dan Jaminan Sosial selama kurun waktu 2005-2009 adalah:

pertama, terjaminnya kehidupan masyarakat rentan melalui pemberian bantuan dan jaminan sosial bagi korban bencana alam, korban bencana sosial. Kedua, meningkat dan memantapkan peran aktif sosial masyarakat/dunia usaha dalam bantuan dan jaminan sosial dengan melibatkan semua unsur dan komponen masyarakat atas dasar swadaya dan kesetiakawanan sosial sehingga merupakan bentuk-bentuk Usaha Kesejahteraan Sosial yang melembaga dan berkesinambungan.

Sasaran tersebut dicapai melalui kegiatan (1) Bantuan Sosial Korban Bencana Alam, (2) Bantuan Sosial Korban Bencana Sosial, (3) Jaminan Kesejahteraan Sosial (PKH).

(18)

Pencapaian Bidang Bantuan dan Jaminan Sosial kurun waktu 2005-2009 dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 5

Tabel Perbandingan Realisasi Program Bantuan dan Jaminan Sosial Tahun 2005-2009

1. Bantuan Sosial Korban Bencana Alam

a. Membangun sistem dan mekanisme penanggulangan bencana yang terpadu melalui : (1) Kesiapsiagaaan, menyiapkan masyarakat untuk memahami resiko bencana

yang mengancam melalui penyuluhan sosial, latihan, simulasi dan gladi lapang penanggulangan bencana (2) Tanggap darurat melakukan aktivasi system penanggulangan bencana melalui upaya penyelamatan, pemenuhan kebutuhan dasar dan pelibatan personil pelatih dalam penanggulangan bencana (3) Pasca bencana melakukan rehabilitasi sosial secara fisik maupun non fisik melalui bantuan stimulant bahan bangunan rumah, santunan sosial dan bantuan pemberdayaan ekonomi produktif.

b. Merintis dan membangun model penanggulangan bencana bidang bantuan sosial dengan penanggulangan bencana berbasis masyarakat dengan produk personil terlatih yang dinamakan Taruna Siaga Bencana (TAGANA).

2. Bantuan Sosial Korban Bencana Sosial

Mengembangkan kegiatan yang mengedepankan penguatan potensi lokal untuk mencegah terjadinya potensi Bencana Sosial, kegiatan yang telah dilaksanakan :

PROGRAM KEGIATAN REALISASI REALISASI REALISASI REALISASI REALISASI

2005 2006 2007 2008 2009

PROGRAM BANTUAN DAN

JAMINAN KESEJAHTERAA

N SOSIAL

Penyelenggaraan Pencarian Penyelamatan Musibah Bencana Alam

dan Bencana Lainnya

767 KK 3600 KK 3281 KK, 812 PKT, 70

Org

858 KK 252 KK

Pemberdayaan Sosial Korban Bencana Sosial

158 KK 1269 KK 20 KK 2441 KK 20 KK

Perlindungan Sosial Tindak Kekerasan dan Pekerja Migran

340 Org 340 Org 41 KK 2 Org 20 Org,2

Orsos

Pendayagunaan Sumber Dana Sosial 2 keg 10 Lembaga 7 Lembaga 10 Lembaga 12 Keg

Akses Jaminan Sosial 12 Keg 7 Keg 6 Keg 7 Lembaga 20 Org, 2

Orsos Penyempurnaan pelaksanaan bantuan

tunai bagi rumah tangga sangat miskin yang memenuhi persyaratan

_ _ 7 Keg _ 5 Kab/54 Kec

(19)

a. Penguatan kegiatan yang bernuansa pencegahan melalui :

(1) Pelaksanaan Program Keserasian Sosial yang bertujuan yang sangat mendasar adalah mewujudkan integrasi sosial dan penerimaan sosial dalam tatanan hidup berdampingan secara damai melalui sistem dan mekanisme kerukunan sosial. Implementasi kegiatan tersebut dalam bentuk Bantuan Fisik sarana prasarana yang dibutuhkan oleh masyarakat lokal.

(2) Penggalian kearifan lokal melalui forum-forum sarasehan dengan tokoh masyarakat lokal.

b. Pemberian bantuan sosial tanggap darurat bagi korban bencana sosial, bantuan bagi korban bencana sosial akibat kebakaran yang ditangani melalui bantuan bahan bangunan rumah.

3. Jaminan kesejahteraan Sosial

Jaminan sosial merupakan hak normatif warga masyarakat yang mengalami resiko sosial sehingga tidak dapat menjalankan fungsi sosialnya secara wajar yang dititikberatkan pada prinsip keadilan, pemerataan dan standar minimun untuk mengemban misi sosial.

Jaminan sosial juga merupakan bentuk perlindungan dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial bagi warga miskin, tidak mampu atau mengalami hambatan fungsi sosial seperti PMKS. Untuk memenuhi kondisi tersebut Dinas Sosial melaksanakan upaya sebagai berikut:

a. Mengembangkan sistem jaminan kesejahteraan sosial yang bertumpu pada sasaran individu, keluarga maupun masyarakat yang dikategorikan sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) serta Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) yang diwujudkan melalui kegiatan Asuransi Kesejahteraan Sosial (ASKESOS), Program Keluarga Harapan (PKH) dengan pencapaian masing-masing program adalah sebagai berikut:

(1) Pelaksanaan ASKESOS dimaksudkan untuk memberikan jaminan pertanggungan dalam bentuk penggantian pendapatan keluarga bagi warga masyarakat pekerja mandiri pada sektor informal terhadap risiko menurunnya kesejahteraan sosial akibat pencari nafkah utama mengalami sakit, kecelakaan, dan meninggal dunia sehingga berada dalam kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan dasar anggota keluarga

(2) Program Keluarga Harapan (PKH) adalah program asistensi sosial kepada rumah tangga yang memenuhi kualifikasi tertentu dengan memberlakukan persyaratan yang dapat mengubah perilaku. Diutamakan rumah tangga sangat miskin yang memiliki ibu hamil/menyusui, dan anak (balita) usia 0-5 tahun, atau anak usia 15-18

(20)

tahun yg belum selesai pendidikan dasar.

Bidang Pemberdayaan Sosial

Bidang Pemberdayaan Sosial mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma standar prosedur dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kebijakan dibidang pemberdayaan sosial.

Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud ayat (1), Bidang Pemberdayaan Sosial mempunyai fungsi :

a. Penyusunan Kebijakan di Bidang Pemberdayaan Sosial;

b. Penyelenggaraan kebijakan pemberdayaan sosial kelembagaan masyarakat, keluarga dan perorangan;

c. Penyelenggaraan kebijakan pengelolaan sumber dana bantuan sosial;

d. Penyelenggaraan kebijakan pemberdayaan potensi, kepahlawanan, keperintisan, kesetiakawanan dan restorasi sosial;

e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.

Seksi Pemberdayaan Sosial Kelembagaan Masyarakat, Keluarga dan Perorangan mempunyai tugas :

a. Menyusun rencana kegiatan seksi pemberdayaan sosial kelembagaan masyarakat, keluarga dan perorangan sebagai pedoman pelaksanaan tugas;

b. Menyiapkan bahan penyusunan perumusan kebijakan di bidang pemberdayaan sosial kelembagaan masyarakat, keluarga dan perorangan;

c. Menyiapkan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang pemberdayaan sosial kelembagaan masyarakat, keluarga dan perorangan;

d. Menyiapkan bahan koordinasi bidang pemberdayaan sosial kelembagaan masyarakat, keluarga dan perorangan dengan unit / instansi terkait;

e. Menyiapkan bahan penyusunan bahan norma, standar, prosedur dan kriteria seksi pemberdayaan sosial kelembagaan masyarakat, keluarga dan perorangan;

f. Merencanakan, m engem bangkan pem berdayaan potensi sum ber kesej aht eraan sosi al m asyarakat, keluarga dan perorangan ;

g. Menentukan dan mengkaji ulang penyediaan data Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS);

h. Menyiapkan bahan pemberian bimbingan teknis, supervisi dan pemantauan di bidang pemberdayaan sosial kelembagaan masyarakat, keluarga dan perorangan;

i. Membimbing, membagi tugas, memeriksa dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan

(21)

keluarga dan perorangan;

j. Melaksanakan penilaian kinerja pegawai pada seksi pemberdayaan sosial kelembagaan masyarakat, keluarga dan perorangan sesuai tugas dan kewenangannya;

k. Memberikan saran dan pertimbangan kepada atasan terkait dengan tugas seksi pemberdayaan sosial kelembagaan masyarakat, keluarga dan perorangan;

l. Melaporkan hasil kegiatan seksi pemberdayaan sosial kelembagaan masyarakat, keluarga dan perorangan kepada pimpinan;

m. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh pimpinan Seksi Pengelolaan Sumber Dana Bantuan Sosial mempunyai tugas :

a. Menyusun rencana kegiatan seksi pengelolaan sumber dana bantuan sosial sebagai pedoman pelaksanaan tugas;

b. Menyiapkan bahan penyusunan perumusan kebijakan di bidang pengelolaan sumber dana bantuan sosial;

c. Menyiapkan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan sumber dana bantuan sosial;

d. Menyiapkan bahan koordinasi bidang pengelolaan sumber dana bantuan sosial dengan unit / instansi terkait;

e. Menyiapkan bahan penyusunan bahan norma, standar, prosedur dan kriteria seksi pengelolaan sumber dana bantuan sosial;

f. Merencanakan dan m engem bangkan penyedi aan sarana dan prasarana penerbitan izin;

g. Merancang dan mengembangkan proses pemberian izin pengumpulan sumbangan lintas daerah Kab/Kota;

h. Menyiapkan bahan pemberian bimbingan teknis, supervisi dan pemantauan di bidang pengelolaan sumber dana bantuan sosial;

i. Membimbing, membagi tugas, memeriksa dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas seksi pengelolaan sumber dana bantuan sosial;

j. Melaksanakan penilaian kinerja pegawai pada seksi pengelolaan sumber dana bantuan sosial sesuai tugas dan kewenangannya;

k. Memberikan saran dan pertimbangan kepada atasan terkait dengan tugas seksi pengelolaan sumber dana bantuan sosial;

l. Melaporkan hasil kegiatan seksi pengelolaan sumber dana bantuan sosial kepada pimpinan;

m. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh pimpinan

Seksi Pemberdayaan Potensi Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial mempunyai tugas :

(22)

a. Menyusun rencana kegiatan seksi pemberdayaan potensi kepahlawanan, keperintisan, kesetiakawanan dan restorasi sosial sebagai pedoman pelaksanaan tugas;

b. Menyiapkan bahan penyusunan perumusan kebijakan di bidang pemberdayaan potensi kepahlawanan, keperintisan, kesetiakawanan dan restorasi sosial;

c. Menyiapkan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang pemberdayaan potensi kepahlawanan, keperintisan, kesetiakawanan dan restorasi sosial;

d. Menyiapkan bahan koordinasi bidang pemberdayaan potensi kepahlawanan, keperintisan, kesetiakawanan dan restorasi sosial dengan unit / instansi terkait;

e. Menyiapkan bahan penyusunan bahan norma, standar, prosedur dan kriteria seksi pemberdayaan potensi kepahlawanan, keperintisan, kesetiakawanan dan restorasi sosial;

f. Merencanakan dan m elaksanakan pengel ol aan T am an Makam Pahl awan Nasi onal (TMPN) dan Makam Pahl awan Nasi on al (MPN);

g. Mel aksanakan pem berdayaan dan pem binaan kesej aht eraan perintis, keluarga perintis dan keluarga pahl awan ;

h. Menyiapkan bahan pemberian bimbingan teknis, supervisi dan pemantauan di bidang pemberdayaan potensi kepahlawanan, keperintisan, kesetiakawanan dan restorasi sosial;

i. Membimbing, membagi tugas, memeriksa dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas seksi pemberdayaan potensi kepahlawanan, keperintisan, kesetiakawanan dan restorasi sosial;

j. Melaksanakan penilaian kinerja pegawai pada seksi pemberdayaan potensi kepahlawanan, keperintisan, kesetiakawanan dan restorasi sosial sesuai tugas dan kewenangannya;

k. Memberikan saran dan pertimbangan kepada atasan terkait dengan tugas seksi pemberdayaan potensi kepahlawanan, keperintisan, kesetiakawanan dan restorasi sosial;

l. Melaporkan hasil kegiatan seksi pemberdayaan potensi kepahlawanan, keperintisan, kesetiakawanan dan restorasi sosial kepada pimpinan;

m. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh pimpinan

Bidang Penanganan Sosial Fakir Miskin

Bidang Penanganan Sosial Fakir Miskin mempunyai tugas melakukan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma standar prosedur dan criteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan dibidang

(23)

Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud ayat (1), bidang penanganan sosial fakir miskin mempunyai fungsi :

a. Penyusunan kebijakan di bidang penanganan sosial fakir miskin;

b. Penyelenggaraan kebijakan pengumpulan dan pengolaan data kemiskinan;

c. Penyelenggaraan kebijakan penanganan fakir miskin perdesaan dan perkotaan;

d. Penyelenggaraan kebijakan penanganan fakir miskin pesisir, pulau-pulau kecil perbatasan dan komunitas adat terpencil;

e. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.

Seksi Pengumpulan dan Pengolahan Data Kemiskinan mempunyai tugas :

a. Menyusun rencana kegiatan seksi pengumpulan dan pengolahan data kemiskinan sebagai pedoman pelaksanaan tugas;

b. Menyiapkan bahan penyusunan perumusan kebijakan di bidang pengumpulan dan pengolahan data kemiskinan;

c. Menyiapkan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang pengumpulan dan pengolahan data kemiskinan;

d. Menyiapkan bahan koordinasi bidang pengumpulan dan pengolahan data kemiskinan dengan unit / instansi terkait;

e. Menyiapkan bahan penyusunan bahan norma, standar, prosedur dan kriteria seksi pengumpulan dan pengolahan data kemiskinan;

f. Menyiapkan bahan pemberian bimbingan teknis, supervisi dan pemantauan di bidang pengumpulan dan pengolahan data kemiskinan;

g. Membimbing, membagi tugas, memeriksa dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas seksi pengumpulan dan pengolahan data kemiskinan;

h. Melaksanakan penilaian kinerja pegawai pada seksi pengumpulan dan pengolahan data kemiskinan;

i. Memberikan saran dan pertimbangan kepada atasan terkait dengan tugas seksi pengumpulan dan pengolahan data kemiskinan;

j. Melaporkan hasil kegiatan seksi pengumpulan dan pengolahan data kemiskinan;

k. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh pimpinan.

Seksi Penanganan Fakir Miskin Perdesaan dan Perkotaan mempunyai tugas :

a. Menyusun rencana kegiatan seksi penanganan fakir miskin perdesaan dan perkotaan sebagai pedoman pelaksanaan tugas;

b. Menyiapkan bahan penyusunan perumusan kebijakan di bidang penanganan fakir miskin perdesaan dan perkotaan;

c. Menyiapkan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang penanganan fakir miskin perdesaan dan perkotaan;

(24)

d. Menyiapkan bahan koordinasi bidang penanganan fakir miskin perdesaan dan perkotaan dengan unit / instansi terkait;

e. Menyiapkan bahan penyusunan bahan norma, standar, prosedur dan kriteria seksi penanganan fakir miskin perdesaan dan perkotaan;

f. Memfasilitasi pelayanan sosial dan penyediaan bantuan sosial dalam penanganan fakir miskin perdesaan dan perkotaan;

g. Menyiapkan bahan pemberian bimbingan teknis, supervisi dan pemantauan di bidang penanganan fakir miskin perdesaan dan perkotaan;

h. Membimbing, membagi tugas, memeriksa dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas seksi penanganan fakir miskin perdesaan dan perkotaan;

i. Melaksanakan penilaian kinerja pegawai pada seksi penanganan fakir miskin perdesaan dan perkotaan sesuai tugas dan kewenangannya;

j. Memberikan saran dan pertimbangan kepada atasan terkait dengan tugas seksi penanganan fakir miskin perdesaan dan perkotaan;

k. Melaporkan hasil kegiatan seksi pengumpulan dan pengolahan data kemiskinan;

l. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh pimpinan.

Seksi Penanganan Fakir Miskin Pesisir, Pulau-Pulau Kecil, Perbatasan dan Komunitas Adat Terpencil (KAT) mempunyai tugas :

a. Menyusun rencana kegiatan seksi penanganan fakir miskin pesisir, pulau-pulau kecil, perbatasan dan komunitas adat terpencil sebagai pedoman pelaksanaan tugas;

b. Menyiapkan bahan penyusunan perumusan kebijakan di bidang penanganan fakir miskin pesisir, pulau-pulau kecil, perbatasan dan komunitas adat terpencil;

c. Menyiapkan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang penanganan fakir miskin pesisir, pulau-pulau kecil, perbatasan dan komunitas adat terpencil;

d. Menyiapkan bahan koordinasi bidang penanganan fakir miskin pesisir, pulau-pulau kecil, perbatasan dan komunitas adat terpencil dengan unit / instansi terkait;

e. Menyiapkan bahan penyusunan bahan norma, standar, prosedur dan kriteria seksi penanganan fakir miskin pesisir, pulau-pulau kecil, perbatasan dan komunitas adat terpencil;

f. Memfasilitasi pelayanan sosial dan penyediaan bantuan sosial dalam penanganan fakir miskin pesisir, pulau-pulau kecil, perbatasan dan komunitas adat terpencil;

g. Menyiapkan bahan pemberian bimbingan teknis, supervisi dan pemantauan di bidang penanganan fakir miskin pesisir, pulau-pulau kecil, perbatasan dan komunitas adat terpencil;

h. Membimbing, membagi tugas, memeriksa dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan

(25)

perbatasan dan komunitas adat terpencil;

i. Melaksanakan penilaian kinerja pegawai pada seksi penanganan fakir miskin pesisir, pulau-pulau kecil, perbatasan dan komunitas adat terpencil sesuai tugas dan kewenangannya;

j. Memberikan saran dan pertimbangan kepada atasan terkait dengan tugas seksi penanganan fakir miskin pesisir, pulau-pulau kecil, perbatasan dan komunitas adat terpencil;

k. Melaporkan hasil kegiatan seksi penanganan fakir miskin pesisir, pulau-pulau kecil, perbatasan dan komunitas adat terpencil kepada pimpinan;

l. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh pimpinan.

Kemiskinan merupakan masalah pembangunan kesejahteraan sosial yang berkaitan dengan berbagai bidang pembangunan lainnya, ditandai adanya pengangguran, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan. Oleh karena itu, kemiskinan merupakan masalah yang penanggulangannya tidak dapat ditunda dan menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial. Kemiskinan merupakan masalah yang sulit ditanggulangi, karena mayoritas masuk kategori kemiskinan kronis yang terjadi terus-menerus atau juga disebut kemiskinan struktural. PMKS yang dikategorikan sebagai fakir miskin, termasuk kategori kemiskinan kronis, yang membutuhkan penanganan sungguh-sungguh, terpadu secara lintas sektoral dan berkelanjutan. Selain itu, terdapat sejumlah warga yang dikategorikan mengalami kemiskinan sementara yang ditandai dengan menurunnya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat secara sementara akibat perubahan kondisi normal menjadi kritis, bencana alam, dan bencana sosial seperti korban konflik sosial. Kemiskinan sementara jika tidak ditangani secara serius dapat menjadi kemiskinan kronis.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertambahan jumlah fakir miskin di Sulawesi Utara, antara lain keadaan ekonomi nasional yang belum stabil, kondisi geografis daerah Sulawesi Utara yang berada pada daerah rawan bencana baik gempa, gunung meletus, banjir, tanah longsor, dan lain-lain.

(26)

PROGRAM KEGIATAN REALISASI REALISASI REALISASI REALISASI REALISASI

2005 2006 2007 2008 2009

PROGRAM PEMBERDAYAAN

FAKIR MISKIN, KOMUNITAS ADAT

TERPENCIL (KAT) DAN PENYANDANG

MASALAH KESOS LAINNYA

Pemberdayaan Sosial Fakir Miskin

150 KK 4300 KK 3041 KK 3500 KK 1050 KK

Pemberdayaan Keluarga Miskin

_ 4300 KK 690 Org 595 Org 270 KK

Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil

150 Orang 146 KK 550 KK 499 KK 488 KK

Gambar 8

Tabel Perbandingan Realisasi Program Pemberdayaan Sosial Tahun 2005-2009

Pelayanan Unit Pelaksana Teknis (UPT)

Unit Pelaksana Teknis (UPT) merupakan pusat kesejahteraan sosial yang berada di baris paling depan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi penyelenggaraan kesejahteraan sosial dari pilar intervensi pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi PMKS. UPT adalah sebuah pilihan yang harus tersedia di samping pilihan utama lainnya yakni pelayanan sosial berbasis keluarga dan komunitas dan atau swasta, sehingga masyarakat terutama PMKS memiliki pilihan sesuai dengan kondisi mereka.

UPT (Unit Pelaksana Teknis) panti sosial yang dimiliki Pemerintah Daerah Sulawesi Utara adalah :

1. UPT Balai Penyantunan Anak dan Remaja terlantar “ Maka Aruyen “ Tomohon.

Balai Penyantunan Anak dan Remaja dibangun oleh Pemerintah melalui dana APBN bantuan dari Pemerintah Jepang pada Tahun 1998/1999, dengan jumlah Gedung 40 unit, yang terdiri dari :

- Gedung Kantor Balai (1 buah) - Wisma Klien (15 unit)

- Gedung Pendidikan dan Pelatihan (1 buah) - Gedung Keterampilan (3 buah)

- Gedung Dapur Umum (1 buah) - Gedung Loka Bina Karya (2 buah) - Gedung Konsultasi (1 buah) - Gedung Pameran (1 buah)

(27)

- Gedung Perawatan (1 buah) - Gedung Aula (1 buah)

- Gedung Perpustakaan (1 buah)

- Gedung Guest House/Penginapan (1 buah) - Gedung Rumah Dinas (3 buah)

- Gedung Rumah Petugas (3 buah) - Gedung Garasi Kendaraan (1 buah) - Gedung Genset (1 buah)

- Gedung Gudang Peralatan (1 buah) - Gedung Gudang Peralatan (1 buah) - Gedung Gudang permakanan (1 buah)

Kondisi Gedung/Bangunan yang ada perlu mendapatkan perhatian, dalam hal ini direhabilitasi begitu juga dengan sarana peralatan/peraga praktek dari 3 jurusan (jurusan otomotif, jurusan menjahit pakaian wanita, dan jurusan tata rias rambut) yang sudah tidak layak pakai. Sekalipun kondisi sarana dan prasarana masih kurang sebagaimana diharapkan namun dalam pelaksanaannya tupoksi yang ada tetap berjalan sebagaimana yang diharapkan dengan mengoptimalkan sarana dan prasarana yang ada. Hal ini dapat dilihat pada kinerja BPAR yang masih tetap melaksanakan penyantunan dan bimbingan mental sosial serta praktek belajar kerja bagi Anak Terlantar Putus Sekolah (ATPS) yang merupakan utusan dari Kabupaten/Kota se Provinsi Sulawesi Utara.

Sistem Pelayanan Sosial yang ada di Balai Penyantunan Anak dan Remaja akan berdaya guna dan berhasil guna bila sarana/prasarana Gedung maupun peralatan/alat peraga Praktek para klien binaaan memperoleh perhatian dari Pemerintah, mengingat masih banyaknya jumlah anak terlantar/ anak putus sekolah di Provinsi Sulawesi Utara.

Diharapkan dengan pelayanan yang ada, jumlah anak terlantar/putus sekolah dapat berkurang, sekaligus juga dapat mengurangi angka pengangguran, dan peningkatan pendapatan penghasilan bagi keluarga.

2. UPT Balai Penyantunan Lanjut Usia Terlantar “Senja Cerah“ Manado.

Tahapan pelaksanaan pelayanan bagi lanjut usia pada BPLU berdasarkan Rencana Program Pelayanan yang melliputi kegiatan :

- Pemenuhan kebutuhan fisik

Bentuk kegiatannya adalah : pemberian makan, penyediaan pakaian dan penyediaan tempat tinggal yang nyaman dan menyenangkan.

- Bimbingan Sosial

Bimbingan sosial ditujukan kepada lanjut usia yang mampu mengembangkan relasi sosial

(28)

yang positif dan menjalankan peranan sosialnya dalam panti dan lingkungan sosial masyarakat.

- Bimbingan Fisik dan Kesehatan

Kegiatan ini diperuntukkan untuk menjaga/meningkatkan kondisi ketahanan fisik para lanjut usia, sehingga dapat melaksanakan peran sosialnya.

- Bimbingan Psikologis

Merupakan suatu upaya yang dapat dilakukan untuk mencipatakan situasi sosial psikologis seperti adanya perasaan aman, nyaman, tentram dan damai.

- Bimbingan Mental Spritual dan Kerohanian

Suatu kegiatan yang dilakukakan untuk memelihara dan meningkatkan kondisi untuk spritual dan kerohanian para lanjut usia dalam BPLU. Adapun tujuannya untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kondisi mental spritual, meningkatkan kesadaran dan motivasi untuk beribadah.

- Bimbingan Keterampilan

Kegiatan keterampilan dilaksanakan dalam rangka mengembangkan bakat, minat serta potensi klien untuk mengisi waktu luang para lanjut usia sehingga bertahan dan nyaman tinggal didalam panti. Tujuannya, adanya pengisian waktu luang, menyalurkan minat dan bakat, mengembangkan potensi yang dimiliki, menciptakan aktivitas yang produktif, menciptakan relasi antar klien, saling tukar pengalaman.

- Bimbingan Rekreasi dan Hiburan

Upaya yang dilaksanakan diatas, adalah dalam rangka mengembangkan kreatifitas untuk meningkatkan semangat hidup klien agar bahagia dalam menjalankan kehidupan.

Tujuannya, menciptakan suasana yang menyenangkan bagi klien, meningkatkan semangat hidup klien, menciptakan suasana gembira dan akrab diantara sesama klien dengan petugas panti serta lingkungan sosialnya.

Adapun bentuk-bentuk penanganan yang dilakukan dalam panti sebagaimana tersebut diatas, ada juga penanganan yang dilakukan diluar panti, yang disebut Day Care, yaitu penanganan lanjut usia luar panti yang selama ini telah dilaksanakan oleh BPLU Senja Cerah Manado. Disamping itu untuk tahun-tahun yang akan datang akan dilakukan kegiatan dalam bentuk subsidi silang.

2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Perangkat Daerah

Pembangunan kesejahteraan sosial di Indonesia telah menunjukkan banyaknya kemajuan terutama bagi warga masyarakat yang kurang beruntung dan rentan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)

(29)

dan masyarakat miskin yang menjadi kelompok sasaran pelayanan sosial. Kemajuan kondisi sosial masyarakat terutama PMKS seperti tercermin pada indicator sosial antara lain jangkauan pelayanan sosial di satu sisi dan penurunan jumlah PMKS dan masyarakat miskin, kemandirian dan keberfungsian sosial PMKS dan masyarakat miskin, serta tercermin pada tumbuh dan berkembangnya kelembagaan sosial, organisasi sosial, dan nilai-nilai kesetiakawanan sosial yang menjadi karakteristik dan jati diri bangsa Indonesia.

Berbagai penyediaan pelayanan kesejahteraan sosial telah meningkat dari waktu ke waktu. Namun demikian upaya pelayanan tersebut masih jauh dari yang diharapkan apabila dibandingkan dengan populasi PMKS yang jauh lebih besar jumlah dan sebarannya, dibandingkan dengan sumber daya yang disediakan dan intervensi yang telah dilakukan.

Permasalahan yang mendasar yang dihadapi antara lain : jangkauan pelayanan program kesejahteraan sosial masih terbatas, kegiatan bantuan dan jaminan sosial bagi PMKS masih tumpang tindih dikarenakan adanya keterbatasan data yang diperoleh dari daerah, peran pemerintah masih dominan dalam pelayanan program pemberdayaan PMKS dan PSKS sehingga mengurangi esensi dari upaya pemberdayaan sosial itu sendiri, peran masyarakat dari dunia usaha dalam pelayanan kesejahteraan sosial belum terarah dan kapasitas sumber daya manusia pelaksana pelayanan kesejahteraan sosial dalam hal substansi teknis masih terbatas serta koordinasi dan komunikasi pada berbagai lintas sektor masih belum optimal.

Dari berbagai permasalahan tersebut diatas, maka tantangan ke depan bagi pembangunan kesejahteraan sosial adalah bagaimana meningkatkan aksesbilitas dan kualitas pelayanan kesejahteraan sosial bagi PMKS. Hal ini dapat diantisipasi dengan cara mendukung peningkatan pengelolaan program-program kesejahteraan sosial, peningkatan kapasitas kelembagaan dan SDM kesejahteraan sosial, serta peningkatan kualitas tata kelola kepemerintahan yang baik dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

Referensi

Dokumen terkait

Jl. Era revolusi industri 4.0 telah membawa dampak terhadap semua aspek kehidupan, termasuk aspek tata kelola pemerintahan, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun

Sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Perencanaan Pembangunan

33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah: untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah, pemerintah daerah didukung sumber-sumber

rencana kegiatan di Subbagian Perencanaan berdasarkan program kerja tahun sebelumnya sebagai pedoman kerja agar pelaksanaan program kerja sesuai dengan

pemerintahan, pendidikan dan kesehatan. Selain itu, berbagai program pemerintah yang menyentuh masyarakat sudah mulai digulirkan. Secara persentase, IPM Kabupaten Lingga

(1) Tugas Pokok Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah adalah melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan Daerah dibidang Perencanaan Pembangunan Daerah,

Bahwa Desa merupakan sarana dari semua sektor pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat maupun daerah, sudah barang tentu setiap permasalahan pembangunan

Rencana Strategis RENSTRA Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Purworejo Tahun 2016-2021 B A B 6 INDIKATOR KINERJA PERANGKAT DAERAH YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN