LAPORAN PRAKTIKUM GEOGFRAFI TANAH
PENGAMATAN PROFIL TANAH DI DESA CIATER, DESA TANJUNGWANGI DANDESA BLANAKAN KABUPATEN SUBANG
Ditujukan untuk memenuhi salahsatu tugas mata kuliah Geografi Tanah dengan dosen pengampu Prof. Dr. Ir. Dede Rohmat, M.T
Disusun oleh: Kelompok 5
Dodih Afindani (0809630)
Andri Endianto (1001828)
Anna Laela Faujiah (1002975)
Fifi Fikriyah (1001781)
Gea Pardina (1001286)
Gina Siti Fatonah (1005475)
Kanah (1001467)
M. Ikhsan Kurniawan (1001328)
Neti Susanti (1000794)
Opilona Badriyah (1003020) Ricky P. Ramadhan (1005495)
JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | KATA PENGANTAR i
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr., Wb.,
Puji serta syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT., atas berkat rahmatNya lah kami dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Praktikum Geografi Tanah berjudul “Pengamatan Unsur Fisik, kimia dan Biologi Tanah di TPA Caringin dan Penangkaran Buaya Blanakan Kabupaten Subang”.
Laporan ini merupakan hasil dari kegiatan praktek mata kuliah Geografi Tanah. Laporan ini berisi hasil pengamatan kondisi fisik dan biologi atas sampel tanah yang diambil di Tempat Pengelolaan Akhir Caringin dan Tempat Penangkaran Buaya Blanakan Kabupaten Subang.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Prof. Dr. Ir. Dede Rohmat, M.T., dan Hendro Murtianto, M.Sc, yang telah membimbing kami dalam penyusunan laporan ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini memang jauh dari kata sempurna untuk memberikan sebuah khazanah baru dalam pengetahuan kita. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis mempersilahkan kepada pembaca untuk bersama-sama mengkoreksi makalah ini agar tercipta laporan yang baik dan sesuai dengan kaidah. Akhir kata penyusun mengucapkan terima kasih.
Wasalamualaikum Wr., Wb., Penyusun
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | DAFTAR ISI ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR GAMBAR ... iv DAFTAR TABEL ... v BAB I ... 1 PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Rumusan Masalah ... 2 C. Tujuan Penulisan ... 2 D. Manfaat Penulisan ... 2 BAB II ... 3 KAJIAN TEORI ... 3 A. Pengertian Tanah ... 3B. Proses terbentuknya tanah ... 4
C. Profil Tanah ... 8
D. Karakteristik Fisika Tanah ... 11
E. Karakteristik Kimia Tanah ... 22
F. Struktur Taksonomi Tanah ... 25
G. Ordo Tanah ... 25
H. Jenis-Jenis Tanah ... 27
BAB III ... 30
METODOLOGI PENELITIAN ... 30
A. Waktu dan Tempat ... 30
B. Alat dan Bahan ... 31
C. Populasi dan Sampel... 31
D. Teknik Pengumpulan Data ... 32
E. Teknik Pengolahan Data ... 33
BAB IV... 34
PEMBAHASAN ... 34
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | DAFTAR ISI iii
B. Hasil Penelitian Unsur Fisik Tanah di Tiga Lokasi ... 35
C. Grafimetri ... 42
D. Hasil Penelitian Unsur Biologi Tanah di Tiga Lokasi ... 46
E. Hasil Penelitian Unsur Kimia Tanah di Tiga Lokasi ... 48
F. Jenis Tanah di Tiga Lokasi ... 50
BAB V ... 53
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 53
A. Kesimpulan ... 53
B. Rekomendasi ... 53
DAFTAR PUSTAKA ... 54
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | DAFTAR GAMBAR iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Horizon Tanah... 4
Gambar 2 Profil Tanah... 8
Gambar 3 Segitiga Tekstur ... 13
Gambar 4 Plot Pengamatan ... 30
Gambar 5 Lokasi Plot 1 ... 34
Gambar 6 Lokasi Plot 2 ... 34
Gambar 7 Uji Lapangan terhadap konsistensi tanah... 38
Gambar 8 Horizon Tanah... 39
Gambar 9 Karatan pada tanah di Blanakan ... 40
Gambar 10 Aktivitas Fauna ... 48
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | DAFTAR TABEL v
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Klasifikasi Tekstur Tanah ... 13
Tabel 2 Hubungan antara warna tanah dengan kandungan bahan organik ... 18
Tabel 3 Ordo Tanah ... 26
Tabel 4 Karakteristik Horizon A plot 1 ... 35
Tabel 5 Karakteristik Horizon B plot 1... 37
Tabel 6 Sifat fisik Horizon A dan B, Plot 2 ... 39
Tabel 7 Sifat Fisik Tanah di Horizon A, B dan C. Plot 3 ... 41
Tabel 8 Data sampel tanah undisturb ... 42
Tabel 9 Perbandingan massa tanah ... 43
Tabel 10 Perbandingan volume tanah ... 43
Tabel 11 Perbandingan porositas ... 44
Tabel 12 Perhitungan Bulk Density ... 45
Tabel 13 Perhitungan kelembaban tanah ... 46
Tabel 14 Data Perhitungan Bahan Organik Secara Kuantitatif ... 47
Tabel 15 Data Perhitungan Bahan Organik Secara Kualitatif ... 47
Tabel 16 Aktifitas Fauna dan Perakaran ... 48
Tabel 17 Kandungan pH Tanah ... 49
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | BAB I 1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanah merupakan hasil dari pelapukan batuan yang menutupi hampir seluruh permukaan bumi. Pembentukan dan perkembangannya dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya, jenis batuan asal, iklim yang meliputi suhu dan kelembapan, organisme dan topografi.
Selain karena pelapukan, tanah juga terbentuk akibat endapan-endapan dari material yang telah tererosi oleh agen-agen erosi seperti air, angin, dan air laut yang di transportasikan ke daerah datar atau lebih rendah dari daerah asalnya.
Dengan pembentukan seperti itu, maka tanah memiliki kandungan atau unsur seperti mineral, air, udara dan bahan organik. Kandungan tersebut tidak merata dan tidak sama pada setiap jenis tanah. Sehingga perlu diperhatikan persentase setiap kandungan untuk nanti dapat dimanfaatkan sebagai perencanaan wilayah yang berkaitan dengan penggunaan lahan.
Faktor-faktor pembentuk tanah yang telah dijelaskan tadi tidak seragam di berbagai tempat dikarenakan perbedaan region spasial antar wilayah. Oleh karena itu tanah berbeda-beda dari satu daerah dengan daerah lain. Maka dari itu perlu diamati dan dikaji lebih dalam mengenai jenis tanah. Pengamatan itu tidak sebatas mengetahui jenis tanahnya, kita juga dituntut untuk dapat mengidentifikasi jenis tanah itu melalui ciri fisik di dalamnya.
Selain itu tanah memiliki banyak unsur akibat endapan bahan-bahan organik, kimia dan unsur mineral lainnya. Karena kita tahu bahwa tanah merupakan tempat penimbunan akhir dari semua unsur sebelum kemudian larut dalam air. Oleh karena itu, pengamatan atas kandungan bahan organik, kimia dan mineral lainnya sangat diperlukan agar dapat berguna dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan kita akan penggunaan lahan dan sebagainya.
Dalam praktikum kali ini, segala unsur yang disebutkan diatas akan diamati secara seksama sebagai penggunaan atas ilmu yang telah diperoleh sebelumnya dan untuk
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 2 mengetahui kecocokan penggunaan lahan yang tepat bagi tanah di daerah tersebut berdasarkan hasil yang didapat. Selain itu, pengamatan lapangan memberikan kita pemahaman secara teknis mengenai survey tanah dan bagaimana kita dapat mengambil sampel serta mengamati kemudian menganalisis jenis-jenis dan kandungan di dalam tanah.
B. Rumusan Masalah
Berikut ini beberapa rumusan masalah dalam mengkaji laporan ini : 1. Sebutkan jenis tanah apa di daerah tersebut berdasarkan ciri-cirinya 2. Bagaimana keadaan fisik tanah tersebut
3. Sebutkan kandungan organik dalam tanah tersebut 4. Sebutkan kandungan kimia dalam tanah tersebut
C. Tujuan Penulisan
Tujuan yang kami ingin capai dalam penyusunan laporan ini adalah : 1. Mahasiswa dapat menyebutkan jenis tanah di daerah tersebut
2. Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana keadaan fisik tanah tersebut 3. Mahasiswa dapat menyebutkan kandungan organik dalam tanah tersebut 4. Mahasiswa dapat menyebutkan kandungan kimia dalam tanah tersebut
D. Manfaat Penulisan
Dengan penyusunan Laporan Praktikum ini kita dapat memperoleh khazanah baru mengenai geografi tanah secara teknis. Kita kemudian nanti dapat mengetahui bagaimana cara survey tanah, mengambil sampel tanah dan meneliti fisik tanah di lapangan serta mengetahui kandungan bahan organik, kimia dan bahan mineral di dalam tanah.
Selain itu, laporan ini berguna bagi masyarakat sekitar untuk memberikan pengetahuan akan kondisi tanah di daerahnya untuk kemudian digunakan sebagai pedoman penggunaan lahan dan rehabilitasi lahan di sekitarnya agar dapat bermanfaat bagi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut.
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 3
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Tanah
Tanah adalah akumulasi tubuh alam yang menempati sebagian besar permukaan bumi. Tanah mampu menumbuhkan tanaman dan mempunyai sifat-sifat sebagai akibat dari pengaruh iklim. Jasad-jasad hidup yang mempengaruhi bahan induk tanah dalam keadaan dan waktu tertentu dapat berkembang biak di dalamnya.
Tanah dipandang sebagai suatu benda alam yang terdiri dari bahan-bahan anorganik yang disebut mineral dan didapat dari batuan yang telah mengalami pelapukan. Bahan-bahan anorganik ini terdiri dari sisa-sisa makhluk hidup yang telah lapuk. Berubahnya bahan-bahan anorganik dan bahan organik menjadi butir-butir tanah disebabkan oleh beberapa faktor, yakni :
1. Pemanasan matahari pada siang hari dan pendinginan pada malam hari; 2. Batuan yang sudah retak, pelapukan dipercepat oleh air;
3. Akar tumbuh-tumbuhan dapat memecah batu-batuan sehingga hancur;
4. Binatang-binatang kecil seperti cacing tanah, rayap dan sebagainya yang membuat lubang dan menghancurkan batuan;
5. Pemadatan dan tekanan pada sisa-sisa zat organik akan mempercepat terbentuknya tanah.
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 4
Gambar 1 Horizon Tanah .
Profil tanah memperlihatkan beberapa lapisan tanah secara vertikal dari permukaan bumi sampai batuan induk.
B. Proses terbentuknya tanah
Tanah terbentuk dari batuan-batuan induk yang terpecah menjadi menjadi bagian-bagian kecil akibat perubahan cuaca. Dalam pecahan-pecahan mineral ini tumbuh lumut sehingga air dapat meresap ke bebatuan sehingga lambat laun akan terbentuk tanah muda. Lumut dan tanah pun tumbuh membentuk lapisan serasah organik. Dan akhirnya tanah matang pun terbentuk dari campuran berbagai bahan organik dan bahan-bahan mineral.
1. Faktor-faktor pembentuk tanah
Menurut Jenny (Abdul Majid 2008): 5 Faktor yang mempengaruhi Proses Pembentukan Tanah (Genesis) dan Perkembangan Tanah, yaitu:
a. Bahan Induk (b) = Batuan Beku, Batuan Sedimen, Batuan Metamorf, Bahan Organik; b. Iklim (i) = curah hujan dan suhu atau temperatur
c. Organisme (o) = Tumbuhan & Hewan
d. Relief (r ) atau Topografi (t) : Kecuraman Lereng
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 5 Dengan begitu, maka hubungan Tanah dengan Faktor Pembentuknya sebagai berikut: T (tanah) = f ( b , i , o , r , w )
Perbedaan Sifat-sifat Tanah yang hanya disebabkan oleh Satu Faktor Pembentuk tanah, dikenal sebagai:
a. Klimatosekuen : Perbedaan sifat tanah yang disebabkan hanya pengaruh iklim b. Biosekuen : Perbedaan sifat tanah yang disebabkan hanya pengaruh organisme c. Toposekuen : Perbedaan sifat tanah yang disebabkan hanya oleh perbedaan
topografi
d. Lithosekuen : Perbedaan sifat tanah yang disebabkan hanya oleh perbedaan Jenis bahan induk
e. Khronosekuen : Perbedaan sifat tanah yang disebabkan hanya oleh perbedaan Faktor umur tanah
2. Bahan induk tanah
Menurut Jenny (1941) bahan Induk adalah keadaan tanah pada waktu nol (time zero) dari proses pembentukan tanah.
Jenis-jenis Bahan Induk: a. Batuan Beku:
Adalah batuan yang terbentuk dari proses pembekuan (solidifikasi) magma cair. Jenis-jenis Batuan Beku berdasarkan Tempat Pembekuan Magma, batuan beku dibedakan menjadi :
1) Batuan Beku Dalam (Plutonik) 2) Batuan Beku Gang (Intrusi)
3) Batuan Beku Atas (Ekstrusi / Batuan Vulkanik)
Jenis-jenis Batuan Beku berdasarkan kandungan SiO2, batuan beku dibedakan menjadi:
1) Batuan Beku Masam -> kand. SiO2 tinggi : > 65%
2) Batuan Beku Intermedier -> kand. SiO2 sedang : + 55% s/d 65% 3) Batuan Beku Basa -> kand. SiO2 rendah : < 55%
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 6 b. Batuan Sedimen:
Adalah batuan yang terbentuk dari proses pemadatan (konsolidasi) endapan-endapan partikel yang terbawa oleh angin atau air di permukaan bumi.
Jenis-jenis Batuan Sedimen:
1) Batuan Kapur dan Dolomit dengan kandungan Ca dan Mg lebih dari 50% 2) Batupasir dengan kandungan Pasir lebih dari 50%
3) Shale (Serpih) atau Claystone (kandungan liat banyak) dan Siltstone (kandungan Debu banyak)
c. Batuan Metamorf:
Adalah batuan beku atau batuan sedimen yang telah mengalami perubahan bentuk (transformasi) akibat adanya pengaruh perubahan suhu dan tekanan yang sangat tinggi.
Jenis-jenis Batuan Metamorf:
1) Sekis : Batuan metamorf berbentuk lembar-lembar halus. 2) Gneis : Batuan metamorf berbentuk lembar-lembar kasar. 3) Kuarsit : Batuan metamorf yang terbentuk dari batu pasir
4) Marmer : Batuan metamorf yang terbentuk dari batu kapur karbonat d. Bahan Induk Organik :
Bahan Induk yang berasal dari proses akumulasi penimbunan hutan rawa / vegetasi rawa. Tanah yang terbentuk disebut: Tanah Organik, Tanah Gambut, Histosol
3. Proses pelapukan bahan induk
a. Proses Pelapukan Fisik :
Proses mekanik yang menyebabkan bebatuan masif pecah atau hancur terfragmentasi menjadi partikel-partikel kecil tanpa ada perubahan kimiawi. 1) Terjadi karena perubahan suhu yang drastis
2) Hantaman air hujan 3) Penetrasi Akar
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 7 b. Proses Pelapukan Kimia:
1) Pelarutan (solubilitasi) 2) Hidrasi 3) Hidrolisis 4) Oksidasi 5) Reduksi 6) Karbonatasi 7) Asidifikasi
c. Faktor Organisme / Jasad Hidup :
1) Vegetasi (Makroflora) & Hewan (Makrofauna) 2) Mikroorganisme tanah
d. Faktor Topografi / Relief : 1) Kecuraman Lereng
2) Bentuk Lereng (Puncak, Cembung, Cekung, Kaki Lereng)
e. Faktor Waktu : 1) Fase Awal 2) Fase Juvenil 3) Fase Viril 4) Fase Senil 5) FaseAkhir
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 8
C. Profil Tanah
Gambar 2 Profil Tanah
Pembentukan tanah dimulai dari proses-proses pemecahan atau penghancuran dimana bahan induk berkeping-keping secara halus. Tiap tanah berkembang secara baik dan masih dalam keadaan asli akan mempunyai sifat profil yang khas. Sifat-sifat ini yang dipakai dalam klasifikasi yang sangat besar manfatnya dalam menentukan pendapat tentang tanah dan sifat-sifat profil.
Tanah begitu berarti bagi manusia sebagai sumber penghidupan manusia sehingga munculah istilah Soil Science atau ilmu tanah yaitu ilmu yang berhubungan dengan tanah sebagai sumber penghidupan pada permukaan bumi yang mencakup pembentukan tanah serta klasifikasi dan pemetaan berdasarkan sifat-sifat fisika, kimia hayati dan kesuburan tanah dimana sifat-sifat ini berkaitan dengan pengolahan bagi produksi tanaman.
Pengenalan tanah di lapangan dilakukan dengan mengamati menjelaskan sifat-sifat profil tanah. Profil tanah adalah urutan-urutan horison tanah, yakni lapisan-lapisan tanah yang dianggap sejajar permukaan bumi. Profil tanah dipelajari menggali tanah dengan dinding lubang vertikal kelapisan yang lebih bawah.
Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah, dibuat dengan cara membuat lubang dengan ukuran panjang dan lebar serta kedalaman tertentu sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitian. Tanah merupakan tubuh alam yang terbentuk dan berkembang akibat terkena gaya-gaya alam (natural forces) terhadap
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 9 proses pembentukan mineral. Pembentukan dan pelapukan bahan-bahan organik pertukaran ion-ion, pergerakan dan pencucian bahan-bahan koloid (Buckman, 1982). 1. Horizon Tanah
Tanah terdiri dari berbagai lapisan, lapisan yang terbentuk secara horizontal ini disebut dengan Horizon. Bagian atas merupakan bagian yang kaya akan humus dan bagian terbawah merupkan batuan-batuan yang kasar.
Berikut ini bagian-bagain lapisan tanah
a. Bagian teratas yang kaya bahan-bahan organik berbentuk humus atau bagian serasah
b. Lapisan tanah atas (top soil)
c. Eluviation layer, lapisan ini terbuat dari pasir dan lapisan lumpur
d. Sub Soil yang terdiri dari lempung dan kandungan mineral seperti besi, alumunium, dll
e. Regolith merupakan lapisan bebatuan kecil yang terletak antara subsoil dengan
bedrock
f. Bed rock merupkan bebatuan kasar yang merupkan bagian terbawah dari struktur tanah.
Berikut ini penjelasan mengenai horizon a. Horizon O
"O" singkatan dari Organik. Lapisan ini juga dikenal sebagai humus. Dengan lapisan permukaan yang didominasi oleh kehadiran sejumlah besar bahan organik di berbagai tahap pembusukan. Horizon O harus diadakan berbeda dari lapisan serasah daun tumbuhan meliputi area sangat banyak, ini tidak mengandung partikel mineral cuaca dan karena itu bukan bagian dari tanah itu sendiri. Jika diinginkan, b. Horizon A
Horizon adalah lapisan atas horizon tanah atau lapisan atas tanah. Definisi teknis dari Horizon A mungkin berbeda, tetapi paling sering digambarkan secara relatif ke lapisan lebih dalam. "A" mungkin Horizon berwarna lebih gelap dari lapisan yang
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 10 lebih dalam dan lebih banyak mengandung bahan organik, atau mereka mungkin lebih ringan tapi kurang mengandung tanah liat atau seskuioksida. A adalah horison permukaan, dan dengan demikian juga dikenal sebagai zona di mana sebagian besar aktivitas biologis terjadi. organisme tanah seperti cacing tanah, potworms (enchytraeids), arthropoda, nematoda, jamur, dan banyak spesies bakteri dan Archaebacteria terkonsentrasi di sini, sering berkaitan erat dengan akar tanaman. Namun karena aktivitas biologis meluas jauh lebih ke dalam tanah, tidak dapat digunakan sebagai ciri utama dari sebuah Horizon A.
c. Horizon B
Horizon B sering disebut sebagai lapisan tanah, dan terdiri dari lapisan mineral yang mungkin mengandung konsentrasi dari tanah liat atau mineral seperti besi atau aluminium, atau bahan organik yang sampai di sana dengan pencucian. Oleh karena itu, lapisan ini juga dikenal sebagai illuviated horizon atau zona akumulasi. Selain itu didefinisikan dengan memiliki struktur yang jelas berbeda atau konsisten dengan horizon A di atas dan di bawah horizon. Mereka juga mungkin memiliki lebih kuat warna dari horizon A.
Seperti horizon A, B horizon dapat dibagi menjadi B1, B2, dan jenis B3 di bawah sistem Australia. B1 adalah horizon transisi dari sifat berlawanan ke A3 didominasi oleh properti dari horison B di bawahnya, tapi mengandung beberapa karakteristik A horizon. Horizon B2 memiliki konsentrasi tanah liat, mineral, atau organik dan fitur yang terkuat pembangunan pedological dalam profil. horizon B3 adalah transisi antara lapisan B atasnya dan materi di bawahnya, apakah C atau D horizon. Dan horizon B3 tidak ketat didefinisikan, dan menggunakan mereka umumnya di atas kebijaksanaan individu pekerja.
Tanaman akar menembus lapisan ini, tetapi memiliki humus sangat sedikit. Hal ini biasanya coklat atau merah karena tanah liat dan oksida besi (karat) dicuci turun dari A Horizon.
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 11 d. Horizon C
Horizon C adalah hanya dinamai demikian karena datang setelah A dan B di dalam profil tanah. Lapisan ini sedikit dipengaruhi oleh proses pembentukan tanah (pelapukan), dan kurangnya pembangunan pedological merupakan salah satu atribut yang menentukan. Horizon C mungkin berisi gumpalan atau rak-rak besar lebih mungkin batuan unweathered, bukannya hanya terdiri dari fragmen kecil seperti dalam solum tersebut. Struktur batuan Roh 'mungkin hadir dalam horizon ini. C Horizon juga mengandung bahan induk .
e. Horizon R
Horizon R pada dasarnya menunjukkan lapisan batuan dasar sebagian cuaca di dasar profil tanah. Berbeda dengan lapisan atas, horizon R sebagian besar terdiri dari massa terus menerus (berlawanan dengan batu) dari hard rock yang tidak dapat digali dengan tangan. Tanah terbentuk di situ akan menunjukkan persamaan yang kuat untuk ini lapisan batuan dasar, sedangkan pengendapan sering akan terlihat sangat berbeda.
D. Karakteristik Fisika Tanah
Fisika tanah adalah cabang dari ilmu tanah yang membahas sifat-sifat fisik tanah, pengukuran dan prediksi serta kontrol (pengaturan) proses fisika yang terjadi dalam tanah. Karena pengertian fisika meliputi materi dan energi, maka fisika tanah membahas pula status dan pergerakan material serta aliran dan transformasi energi dalam tanah.
Tanah mempunyai beberapa karakteristik yang terbagi dalam tiga kelompok diantaranya adalah sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologi. Sifat fisik tanah antara lain adalah tekstur, permeabilitas, infiltrasi, dll. Setiap jenis tanah memiliki sifat fisik tanah yang berbeda. Usaha untuk memperbaiki kesuburan tanah tidak hanya terhadap perbaikan sifat kimia dan biologi tanah tetapi juga perbaikan sifat fisik tanah. Perbaikan keadaan fisik tanah dapat dilakukan dengan pengolahan tanah, perbaikan struktur tanah dan meningkatkan kandungan bahan organik tanah. Selain itu sifat fisik tanah sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Kondisi fisik tanah menentukan penetrasi akar dalam tanah, retensi air, drainase, aerasi dan nutrisi tanaman. Sifat fisik
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 12 tanah juga mempengaruhi sifat kimia dan biologi tanah. Fisika tanah memiliki beberapa sifat utama, yaitu diantaranya:
1. Tekstur Tanah
Tekstur tanah adalah keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena terdapatnya perbedaan komposisi kandungan fraksi pasir, debu dan liat yang terkandung pada tanah (Badan Pertanahan Nasional). dari ketiga jenis fraksi tersebut partikel pasir mempunyai ukuran diameter paling besar yaitu 2 – 0.05 mm, debu dengan ukuran 0.05 – 0.002 mm dan liat dengan ukuran < 0.002 mm (penggolongan berdasarkan USDA). keadaan tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap keadaan sifat2 tanah yang lain seperti struktur tanah, permeabilitas tanah, porositas dan lain2.
Segitiga tekstur merupakan suatu diagram untuk menentukan kelas2 testur tanah. ada 12 kelas tekstur tanah yang dibedakan oleh jumlah persentase ketiga fraksi tanah tersebut. misalkan hasil analisis lab menyatakan bahwa persentase pasir (X) 32%, liat (Y) 42% dan debu (Z) 26%, berdasarkan diagram segitiga tekstur maka tanah tersebut masuk kedalam golongan tanah bertekstur Liat (clay) (klik gambar untuk memperbesar).
Tekstur tanah menunjukkan proporsi pelatif dari ukuran partikel-partikel tanah. Rentangan ukuran partikel yan terbesar dapat dijumpai dalam kelompok tamah lempung (clay) yang diameter partikel-partikelnya mempunyai ukuran 0,0002 mm hingga hamper sebesar molekul. Struktur tanah adalah susunan butir-butir suatu tanah. Pada umumnya, komposisi tanah terdiri dari 90% bahan mineral, 1-5% bahan organik, 0,9% udara dan air.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tekstur tanah antara lain komposisi mineral dan batuan / bahan induk, sifat, dan cepatnya proses pembentkan tanah lokal, serta umur relatif tanah. Tekstur tanah mengacu pada pasir, debu dan komposisi lempung. Pasir dan lumpur adalah produk pelapukan fisik, sementara tanah liat adalah produk pelapukan kimia. Tanah clay menahan angin dan erosi air lebih baik daripada lempungan dan tanah berpasir, karena partikel lebih erat bergabung satu sama lain. Pada tanah bertekstur menengah, tanah liat sering translokasi ke bawah melalui profil tanah dan terakumulasi di lapisan tanah tersebut.
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 13
Gambar 3 Segitiga Tekstur Tabel 1 Klasifikasi Tekstur Tanah
Sumber
Soil Separates
Kerikil Pasir Debu Lempung
USDA > 2 mm 2 mm - 50 μm 50 μm - 2 μm < 2 μm
ISSS > 2 mm 2 mm - 20 μm 20 μm - 2 μm < 2 μm
USPRA > 2 mm 2 mm - 50 μm 50 μm - 5 μm < 5 μm
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 14
2. Tekstur Tanah
Struktur tanah merupakan karakteristik fisik tanah yang terbentuk dari komposisi antara agregat (butir) tanah dan ruang antaragregat. Tanah tersusun dari tiga fasa: fasa padatan, fasa cair, dan fasa gas. Fasa cair dan gas mengisi ruang antaragregat. Struktur tanah tergantung dari imbangan ketiga faktor penyusun ini. Ruang antar agregat disebut sebagai porus (jamak pori).
Struktur tanah baik bagi perakaran apabila pori berukuran besar (makropori) terisi udara dan pori berukuran kecil (mikropori) terisi air. Tanah yang gembur (sarang) memiliki agregat yang cukup besar dengan makropori dan mikropori yang seimbang. Tanah menjadi semakin liat apabila berlebihan lempung sehingga kekurangan makropori. Struktur tanah mempengaruhi aerasi tanah, pergerakan air, ketahanan terhadap erosi dan tanaman akar pertumbuhan. Struktur sering memberikan petunjuk untuk tekstur, kandungan bahan organik, aktivitas biologis, evolusi tanah masa lalu, dan kondisi kimia dan mineralogi di mana tanah itu terbentuk.
Pengamatan struktur tanah di lapangan (SSS, 1975) terdiri dari :
a. Pengamatan bentuk dan susunan agregat tanah tipe struktur (lempeng, tiang, gumpal, remah, granuler, butir tunggal, pejal)
b. Besarnya agregat kelas struktur (sangat halus, halus, sedang, kasar, sangat kasar) c. Kuat lemahnya bentuk agregat derajad struktur (tidak beragregat, lemah, sedang,
kuat).
3. Warna Tanah
Warna tanah merupakan gabungan berbagai warna komponen penyusun tanah. Warna tanah berhubungan langsung secara proporsional dari total campuran warna yang dipantulkan permukaan tanah. Warna tanah sangat ditentukan oleh luas permukaan spesifik yang dikali dengan proporsi volumetrik masing-masing terhadap tanah. Makin luas permukaan spesifik menyebabkan makin dominan menentukan warna tanah, sehingga warna butir koloid tanah (koloid anorganik dan koloid organik) yang memiliki luas permukaan spesifik yang sangat luas, sehingga sangat mempengaruhi warna tanah. Warna humus, besi oksida dan besi hidroksida menentukan warna tanah. Besi oksida berwarna merah, agak kecoklatan atau kuning yang tergantung derajat hidrasinya. Besi
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 15 tereduksi berwarna biru hijau. Kuarsa umumnya berwarna putih. Batu kapur berwarna putih, kelabu, dan ada kala berwarna olive-hijau. Feldspar berwarna merah. Liat berwarna kelabu, putih, bahkan merah, ini tergantung proporsi tipe mantel besinya.
Selain warna tanah juga ditemukan adanya warna karatan (mottling) dalam bentuk spot-spot. Karatan merupakan warna hasil pelarutan dan pergerakan beberapa komponen tanah, terutama besi dan mangan, yang terjadi selama musim hujan, yang kemudian mengalami presipitasi (pengendapan) dan deposisi (perubahan posisi) ketika tanah mengalami pengeringan. Hal ini terutama dipicu oleh terjadinya: (a) reduksi besi dan mangan ke bentuk larutan, dan (b) oksidasi yang menyebabkan terjadinya presipitasi. Karatan berwarna terang hanya sedikit terjadi pada tanah yang rendah kadar besi dan mangannya, sedangkan karatan berwarna gelap terbentuk apabila besi dan mangan tersebut mengalami presipitasi. Karatan-karatan yang terbentuk ini tidak segera berubah meskipun telah dilakukan perbaikan drainase.
Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa warna tanah berfungsi sebagai penunjuk dari sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut. Penyebab perbedaan warna permukaan tanah umumnya dipengaruhi oleh perbedaan kandungan bahan organik. Makin tinggi kandungan bahan organik, warna tanah makin gelap. Sedangkan dilapisan bawah, dimana kandungan bahan organik umumnya rendah, warna tanah banyak dipengaruhi oleh bentuk dan banyaknya senyawa Fe dalam tanah. Di daerah berdrainase buruk, yaitu di daerah yang selalu tergenang air, seluruh tanah berwarna abu-abu karena senyawa Fe terdapat dalam kondisi reduksi (Fe2+). Pada tanah yang berdrainase baik, yaitu tanah yang tidak pernah terendam air, Fe terdapat dalam keadaan oksidasi (Fe3+) misalnya dalam senyawa Fe2O3 (hematit) yang berwarna merah, atau Fe2O3. 3 H2O (limonit) yang berwarna kuning cokelat. Sedangkan pada tanah yang kadang-kadang basah dan kadang-kadang kering, maka selain berwarna abu-abu (daerah yang tereduksi) didapat pula becak-becak karatan merah atau kuning, yaitu di tempat-tempat dimana udara dapat masuk, sehingga terjadi oksidasi besi ditempat tersebut. Keberadaan jenis mineral kwarsa dapat menyebabkan warna tanah menjadi lebih terang.
Menurut Wirjodihardjo dalam Sutedjo dan Kartasapoetra (2002) bahwa intensitas warna tanah dipengaruhi tiga faktor berikut: (1) jenis mineral dan jumlahnya, (2)
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 16 kandungan bahan organik tanah, dan (3) kadar air tanah dan tingkat hidratasi. Tanah yang mengandung mineral feldspar, kaolin, kapur, kuarsa dapat menyebabkan warna putih pada tanah. Jenis mineral feldspar menyebabkan beragam warna dari putih sampai merah. Hematit dapat menyebabkan warna tanah menjadi merah sampai merah tua. Makin tinggi kandungan bahan organik maka warna tanah makin gelap (kelam) dan sebaliknya makin sedikit kandungan bahan organik tanah maka warna tanah akan tampak lebih terang. Tanah dengan kadar air yang lebih tinggi atau lebih lembab hingga basah menyebabkan warna tanah menjadi lebih gelap (kelam). Sedangkan tingkat hidratasi berkaitan dengan kedudukan terhadap permukaan air tanah, yang ternyata mengarah ke warna reduksi (gleisasi) yaitu warna kelabu biru hingga kelabu hijau.
Selain itu, Hanafiah (2005) mengungkapkan bahwa warna tanah merupakan: (1) sebagai indikator dari bahan induk untuk tanah yang beru berkembang, (2) indikator kondisi iklim untuk tanah yang sudah berkembang lanjut, dan (3) indikator kesuburan tanah atau kapasitas produktivitas lahan. Secara umum dikatakan bahwa: makin gelap tanah berarti makin tinggi produktivitasnya, selain ada berbagai pengecualian, namun secara berurutan sebagai berikut: putih, kuning, kelabu, merah, coklat-kekelabuan, coklat-kemerahan, coklat, dan hitam. Kondisi ini merupakan integrasi dari pengaruh: (1) kandungan bahan organik yang berwarna gelap, makin tinggi kandungan bahan organik suatu tanah maka tanah tersebut akan berwarna makin gelap, (2) intensitas pelindihan (pencucian dari horison bagian atas ke horison bagian bawah dalam tanah) dari ion-ion hara pada tanah tersebut, makin intensif proses pelindihan menyebabkan warna tanah menjadi lebih terang, seperti pada horison eluviasi, dan (3) kandungan kuarsa yang tinggi menyebabkan tanah berwarna lebih terang.
Warna tanah ditentukan dengan membandingkan warna tanah tersebut dengan warna standar pada buku Munsell Soil Color Chart. Diagram warna baku ini disusun tiga variabel, yaitu: (1) hue, (2) value, dan (3) chroma. Hue adalah warna spektrum yang dominan sesuai dengan panjang gelombangnya. Value menunjukkan gelap terangnya warna, sesuai dengan banyaknya sinar yang dipantulkan. Chroma menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna spektrum. Chroma didefiniskan juga sebagai gradasi kemurnian dari warna atau derajat pembeda adanya perubahan warna dari kelabu atau putih netral (0) ke warna lainnya (19).
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 17 Hue dibedakan menjadi 10 warna, yaitu: (1) Y (yellow = kuning), (2) YR (yellow-red), (3) R (red = merah), (4) RP (red-purple), (5) P (purple = ungu), (6) PB (purple-brown), (7) B (brown = coklat), (8) BG (grown-gray), (9) G (gray = kelabu), dan (10) GY (gray-yellow). Selanjutnya setiap warna ini dibagi menjadi kisaran hue sebagai berikut: (1) hue = 0 – 2,5; (2) hue = 2,5 – 5,0; (3) hue = 5,0 – 7,5; (4) hue = 7,5 – 10. Nilai hue ini dalam buku hanya ditulis: 2,5 ; 5,0 ; 7,5 ; dan 10.
Berdasarkan buku Munsell Saoil Color Chart nilai Hue dibedakan menjadi: (1) 5 R; (2) 7,5 R; (3) 10 R; (4) 2,5 YR; (5) 5 YR; (6) 7,5 YR; (7) 10 YR; (8) 2,5 Y; dan (9) 5 Y, yaitu mujlai dari spektrum dominan paling merah (5 R) sampai spektrum dominan paling kuning (5 Y), selain itu juga sering ditambah untuk warna-warna tanah tereduksi (gley) yaitu: (10) 5 G; (11) 5 GY; (12) 5 BG; dan (13) N (netral).
Value dibedakan dari 0 sampai 8, yaitu makin tinggi value menunjukkan warna makin terang (makin banyak sinar yang dipantulkan). Nilai Value pada lembar buku Munsell Soil Color Chart terbentang secara vertikal dari bawah ke atas dengan urutan nilai 2; 3; 4; 5; 6; 7; dan 8. Angka 2 paling gelap dan angka 8 paling terang.
Chroma juga dibagi dari 0 sampai 8, dimana makin tinggi chroma menunjukkan kemurnian spektrum atau kekuatan warna spektrum makin meningkat. Nilai chroma pada lembar buku Munsell Soil Color Chart dengan rentang horisontal dari kiri ke kanan dengan urutan nilai chroma: 1; 2; 3; 4; 6; 8. Angka 1 warna tidak murni dan angka 8 warna spektrum paling murni.
Pencatatan warna tanah dapat menggunakan buku Munsell Soil Color Chart, sebagai contoh:
a. Tanah berwarna 7,5 YR 5/4 (coklat), yang berarti bahwa warna tanah mempunyai nilai hue = 7,5 YR, value = 5, chroma = 4, yang secara keseluruhan disebut berwarna coklat.
b. Tanah berwarna 10 R 4/6 (merah), yang berarti bahwa warna tanah tersebut mempunyai nilai hue =10 R, value =4 dan chroma = 6, yang secara keseluruhan disebut berwarna merah.
Selanjutnya, jika ditemukan tanah dengan beberapa warna, maka semua warna harus disebutkan dengan menyebutkan juga warna tanah yang dominannya. Warna tanah
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 18 akan berbeda bila tanah basah, lembab, atau kering, sehingga dalam menentukan warna tanah perlu dicatat apakah tanah tersebut dalam keadaan basah, lembab, atau kering.
Tabel 2 Hubungan antara warna tanah dengan kandungan bahan organik Notasi Munsell (Kondisi lembab) Bahan Organik (%) Range Average 10 YR 2/1 3.5 - 7.0 5.0 10 YR 3/1 2.5 - 4.0 3.5 10 YR 3/2 2.0 - 3.0 2.5 10 YR 4/2 1.5 - 2.5 2.0
1. Karakteristik Biologi Tanah
Tanaman, hewan, jamur , bakteri dan manusia mempengaruhi pembentukan tanah (lihat tanah biomantle dan stonelayer ). Hewan dan mikro-organisme tanah campuran untuk membentuk lubang dan pori-pori yang memungkinkan kelembaban dan gas untuk meresap ke dalam lapisan yang lebih dalam. Dengan cara yang sama, akar tanaman saluran terbuka di tanah, terutama tanaman dengan taproots mendalam yang dapat menembus meter banyak melalui lapisan tanah yang berbeda untuk mengangkut nutrisi dari dalam tanah yang lebih dalam. Tanaman dengan akar berserat yang tersebar di dekat permukaan tanah, memiliki akar yang mudah terurai, menambah bahan organik. Termasuk jamur dan bakteri, mempengaruhi pertukaran kimia antara akar dan tanah dan bertindak sebagai cadangan nutrisi. Manusia dapat mempengaruhi pembentukan tanah dengan membuang vegetasi penutup; penghapusan ini mempromosikan erosi Mereka juga dapat mencampur lapisan tanah yang berbeda, restart proses pembentukan tanah sebagai bahan kurang-lapuk dicampur dengan dan menipiskan lapisan atas lebih maju. Beberapa tanah mungkin berisi sampai dengan satu juta jenis mikroba per gram, sebagian besar spesies-spesies yang tidak dikenal, membuat tanah yang paling banyak ekosistem di Bumi. Hal ini dapat mencegah terjadinya erosi dari hujan atau aliran permukaan . Ini nuansa tanah, membuat mereka lebih dingin dan memperlambat penguapan
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 19 kelembaban tanah, atau dapat menyebabkan tanah menjadi kering oleh transpirasi . Tanaman dapat membentuk bahan kimia baru yang rusak atau membangun partikel tanah. Vegetasi tergantung pada iklim, topografi tanah bentuk dan faktor biologis. faktor tanah seperti berat jenis tanah, kedalaman, kimia, pH , suhu dan kelembaban sangat mempengaruhi jenis tanaman yang dapat tumbuh di lokasi tertentu. Mati tanaman, menjatuhkan daun dan batang tanaman jatuh ke permukaan tanah dan membusuk. Di sana, organisme pakan pada mereka dan campuran bahan organik dengan lapisan tanah atas; senyawa-senyawa organik menjadi bagian dari proses pembentukan tanah, akhirnya membentuk jenis tanah terbentuk.
Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya dari fraksi tanah halus. Berdasar atas perbandingan anyaknya butir-butir pasir, debu, liat maka tanah dikelompokkan kedalam beberapa kelas tekstur. Dalam klasifikasi tanah tingkat famili kasar halusnya tanah ditunjukkan dalam kelas sebaran besar butir yan mencakup seluruh tanah. Kelas besar butir merupakan penyederhanaan dari kelas tekstur tanah tetapi dengan memperhatikan pula banyaknya fragmen batuan atau fragsi tanah yang lebih besar dari pasir. Tanah-tanah bertekstur liat ukuran butienya lebuh halus maka setiap satuan berat mempunyai luas luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah yang bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar (Hardjowigeno,2003)
Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir-butir tanah. Gumpalan struktur ini terjadi karena butir pasir, debu, liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti bahan organik oksida-oksida besi dan lain-lain. Tingkat perkembangan struktur ditentukan berdasarkan atas kemantapan atau ketahanan bentuk struktur tanah tersebut terhadap tekanan. Didaerah curah hujan tinggi seperti pada profil dalam dan dangkal umunya ditemukan struktur remah atau granular dipermukaan dan gumpal di horison bawah. Hal ini sesuai dengan jenis tanah dan tingkat kelembaban tanah. Tanah-tanah dipermukaan banyak mengandung humus biasanya mempunyai tingkat perkembangan yang kuat (Pairunan, 1983).
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 20 Warna tanah merupakan petujuk beberapa sifat tanah, karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut. Penyebab perbedaan warna permukaan tanah pada umumnya oleh perbedaan bahan organik. Makin tinggi kandungan bahan organik, warna tanah makin gelap. Bahan organik memberi warna kelabu, kelabu tua atau coklat tua pada tanah kecuali bila bahan dasarnya tertentu sperti oksida dan besi atau penimbunan garam memodifikasi warna. Akan tetapi banyak tanah tropika dengan kandungan oksida (hematit) yang tiggi berwarna merah, bahkan dengan sejumlah besar bahan organik (Nurhayati, 1986).
Batas lapisan dengan lapisan lainnya dalam suatu profil tanah dapat terlihat jelas atau baur. Dalam pengamatan di lapangan ketajaman peralihan lapisan-lapisan ini dibedakan kedalam beberapa tingkatan yaitu nyata (lebar peralihan kurang dari 2,5 cm), jelas (lebar peralihan 2,5 – 6,5 cm) dan baur (lebar peralihan lebih dari 12,5 cm). disamping itu entuk topografi dari batas horison tersebut dapat rata, berombak, tidak teratur atau terputus (Foth, 1988).
Karatan merupakan hasil pelapukan batuan tanah yang di pengaruhi oleh adhesi dan kohesi. Karatan berwarna hitam mengandung banyak mangan (Mg) sedangkan berwarna merah mengandung besi (Fe). Karatan merupakan hasil reaksi oksidasi dan reduksi dalam tanah. Karatan menunjukkan hasil reaksi oksidasi dan reduksi dalam tanah. Karatan menunjukkan bahwa udara masih dapat kedalam tanah setempat sehingga terjadi oksidasi ditempat tersebut dan terbentuk senyawa-senywa Fe3+ yang berwarna merah. Bila air tida pernah menggenang tata udara dalam tanah selalu baik, maka seluruh profil tanah dalam keaadaan oksidasi (Fe3+) oleh karena itu umumnya berwarna merah atau coklat. (Foth, 1988).
Pada tanah lapisan atas yang baik untuk pertumbuhan tanaman lahan kering (bukan sawah) umumnya mengandung 45% (volume) bahan mineral, 5% bahan organik, 20-30% udara, 20-30% air. Berikut ini bahan penyusun tanah.
Bahan mineral
Berasal dari hasil pelapukan batuan. Susunan mineral dalam tanah berbeda-beda sesuai susunan mineral batuan induknya (beku, metamorf dan sedimen).
Ukuran mineral :
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 21 pasir : 2 mm – 50 µm
debu : 50 u – 2 µm liat : < 2 µm
Mineral dapat dibedakan menjadi : mineral primer dan mineral sekunder. Mineral primer adalah mineral yang berasal langsung dari batuan yang dilapuk, umumnya dalam fraksi-fraksi pasir dan debu.
Mineral sekunder baru yang terbentuk selama proses pembentukan tanah berlangsung, umumnya dalam fraksi liat.
Bahan organik
Bahan organik umumnya ditemukan di permukaan tanah. Jumlahnya hanya sekitar 3-5 persen tetapi pengaruhnya terhadap sifat-sifat tanah besar sekali
Sebagai granulator, yaitu memperbaiki struktur tanah Sumber unsur hara N,S,P, unsur mikro
Menambah kemampuan tanah untuk menahan air
Menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur-unsur hara Sumber energi bagi mikroorganisme
Air
Dalam tanah terdapat dalam ruang pori tanah. Kuat atau tidaknya air ditahan oleh tanah yang mempengaruhi tingkat ketersediaan air tanah bagi tanaman. Air dalam pori besar umumnya tidak tersedia bagi tanaman karena segera hilang merembes ke bawah.
Air dalam pori sedang: mudah diserap oleh tanah. Air dalam pori halus : sulit diambil oleh tanaman. Jadi, tidak semua air dalam tanah tersedia bagi tanaman, sebagian tetap tinggal dalam tanah.
Larutan tanah mengandung garam-garam larut, sebagian besar berupa hara tanaman: N, P ,K Ca, Mg dan S (hara makro) dan Fe,Mn, B, Mo,Cu, Zn dan Cl (hara mikro). Terjadi dinamika hara dengan adanya pertukaran antara hara dalam larutan dengan yang terdapat di permukaan tanah.
Udara
Menempati pori tanah (terutama sedang dan besar) Jumlahnya berubah-ubah tergantung kondisi air tanah. Susunannya tergantung dari reaksi yang terjadi dalam tanah.
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 22 uap air > atmosfer, CO2 > atmosfer, O2 < atmosfer (bervariasi dipengaruhi kandungan CO2 dalam tanah).
E. Karakteristik Kimia Tanah
Sejumlah proses tanah dipengaruhi oleh reaksi tanah laju dekomposisi mineral tanah dan bahan organik dipengaruhi oleh reaksi tanah. Pembentukan tanaman juga dipengaruhi oleh reaksi asam basa dalam tanah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh tidak langsung terhadap tanaman adalah pengaruh terhadap kelarutan dan ketersediaan hara tanaman. Pengaruh secara langsung ion H+ dilaporkan mempunyai pengaruh beracun terhadap tanaman jika terdapat dalam konsentrasi yang tinggi (Tan, 1991).
1. pH Tanah
Pengujian pH tanah dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu dengan menggunakan kertas lakmus, dengan menggunakan kertas indikator universal dan dengan alat PH dilaboratorium dapat menggunakan pH meter Beckman H5 ( Kuswandi, 1993).
Ion H+ dalam tanah dapat berada dalam keadaan terjerap. Ion H+ yang terjerap menentukan kemasaman aktif atau aktual kemasaman potensial dan aktual secara bersama menentukan kemasaman total. pH yang diukur pada suspensi tanah dalam larutan garam netral (misal KCl) menunjukan kemasaman total oleh karena K+ dapat melepaskan H+ yang terjerap dengan mekanisme pertukaran (Notohadiprawiro, 1998)
Binatang biasanya dianggap sebagai penyumbang sekunder setelah tumbuhan. Mereka akan menggunakan bahan ini atau bahan organik sebagai sumber energi. Bentuk kehidupan tertentu terutama cacing tanah, sentripoda atau semut memainkan peranan penting dalam pemindahan sisa tanaman dari permukaan ke dalam tanah (Soepardi, 1983).
Bahan kapur pertanian ada tiga macam, yaitu CaCO3 atau CaMg(CO3)2, CaO atau MgO dan Ca(OH)2. Kapur yang disarankan adalah CaCO3 atau CaMg(CO3)2 yang digiling dengan kehalusan 100 % melewati saringan 20 mesh dan 50 % melewati saringan80 – 100 mesh.
Pemberian kapur dapat menaikkan kadar Ca dan beberapa hara lainnya, serta menurunkan Al dan kejenuhan Al, juga memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah.
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 23 Pemberian kapur yang menyebabkan sifat dan ciri tanah membaik, meningkatkan produksi tanaman (padi, jagung, kedelai) (Bailey, 1986).
Penentuan pH tanah dapat ditentukan secara kalorimetrik dan elektrometrik baik dilaboratorium ataupun dilapangan. Elektrik reaksi tanah ditentukan antara lain dengan pH meter Backman, sedangkan kalorimetrik dapat ditentukan dengan suatu alat atau menggunakan kertas pH, pasta pH dan larutan universal. Penentuan car terakhir umumnya lebih murah tetapi peka terhadap pengaruh dari luar. Pada prinsipnya dikerjakan dengan membandingkan warna larutan tanah dengan warna larutan standart dari kertas, pasta dan larutan indikator universal (Darmawijaya, 1990).
Perilaku kimia tanah dapat ditafsirkan sebagai keseluruhan reaksi fotokimia dan kimia yang berlangsung antar penyusun tanah dan bahan yang ditambahkan kepada tanah insitu. Faktor kelajuan semua reaksi kimia yang berlangsung dalam tanah berentangan sangat lebar, antara yang sangat singkat berhitungan menit (reaksi serapan tertentu) dan yang luar biasa berhitung abad (reaksi yang berkaitan dengan pembentukan tanah). Reaksi-reaksi tanah diimbas oleh tindakan faktor lingkungan tertentu (Notohadiprawiro,1998)
2. Mineral Tanah
Bahan mineral tanah merupakan bahan anorganik tanah yang terdiri dari berbagai ukuran, komposisi dan jenis mineral. Mineral tanah berasal dari hasil pelapukan batuan-batuan yang menjadi bahan induk tanah. Pada mujlanya batuan-batuan dari bahan induk tanah mengalami proses pelapukan dan menghasilkan regolit. Pelapukan lebih lanjut menghasilkan tanah dengan tektur masih kasar.
Ukuran mineral tanah sangat beragam mulai dari ukuran sangat kasar sampai dengan ukuran yang sangat halus seperti mineral liat. Mineral liat hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop elektron. Sifat mineral liat ditentukan dari:
a. susunan kimia pembentuknya yang tetap dan tertentu, terutama berkaitan dengan penempatan internal atom-atomnya,
b. sifat fisiko-komia dengan batasan waktu tertentu, dan c. kecendrungan membentuk geometris tertentu.
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 24 Komposisi mineral dalam tanah sangat tergantung dari beberapa faktor sebagai berikut:
a. jenis batuan induk asalnya,
b. proses-proses yang bekerja dalam pelapukan batuan tersebut, dan c. tingkat perkembangan tanah.
Bahan induk tanah mineral berasal dari berbagai jenis batuan induk, sehingga dalam proses pelapukannya akan menghasilkan keragaman mineral tanah yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan yang erat antara komposisi mineral bahan induk dengan komposisi mineral batuannya. Sebagai contoh adalah tanah yang terbentuk dari bahan induk yang berasal dari batuan basalt dan granit, akan memiliki komposisi mineral tanah sebagai berikut:
a. mineral kuarsa, b. mineral ortoklas, c. mineral mikroklin, d. mineral albit e. mineral oligoklas, f. mineral muskovit, g. mineral biotit. h. mineral dll.
Pada tanah-tanah yang mudah melapuk dan peka terhadap proses pencucian (leaching), seperti tanah Podzol, ditemujkan mineal yang didominasi hanya jenis mineral: (1) kuarsa, dan (2) ortoklas. Dominasi kedua mineral ini disebabkan karena kedua mineral ini relatif lebih resisten terhadap pelapukan. Berbeda dengan tanah-tanah yang belum mengalami pelapukan (kurang mengalami pelapukan), maka dalam tanah tersebut masih ditemukan mineral tanah yang beragam dengan komposisi mineral tanah pada setiap lapisan yang hampir seragam.
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 25
F. Struktur Taksonomi Tanah
Struktur taksonomi tanah secara umum, sebagai berikut :
1. Ordo : Terdiri dari 12 taksa. Faktor pembeda adalah ada/tidak adanya horizon penciri serta jenis (sifat) dari horison penciri tersebut.
2. Subordo : terdiri dari 64 taksa. Faktor pembeda adalah keseragaman ginetik, misalnya sifat-sifat tanah karena pengaruh air, regiem kelembapan, bahan induk utama, pengaruh vegetasi seperti yang ditunjukan oleh adanya sifat-sifat tanah tertentu, tingkat pelapukan bahan organik (untuk tanah-tanah organik) 3. Great group : pada waktu ini dikenal 317 taksa. Faktor pem,bedanya adalah
kesamaan jenis, tingkat perkembangan dan susunan horison, kejenuha basa, regim suhu dan kelembapan, ada tidaknya lapisan-lapisan penciri lain.
4. Sub group : jumlah taksa masih terus bertambah. Faktor pembeda terdiri dari 1) sifat-sifat inti dari great group (subgroup typic) 2) sifat-sifat tanah peralihan ke great group lain, subordo atau ordo 3) sifat=-sifat peraliha ke bukan tanah 5. Famili : jumlah taksa dalam famili juga masih terus bertambah. Faktor
penyebabnya adalah sifat-sifat yang pentin g untuk pertanian atau enginnering. Sifat-sdifat tanah yang sering di gunakan sebagai faktor pembeda untuk famili antazra lain adalah : sebaran besar butir, susunan mineral (liat), regim temperatur pada kedalaman 50 cm.
6. Seri : jumlah seri tanah di Amerika saja kurang lebih 12.000. faktor pembedanya adalah jenis dan susunan horizon, warna, tekstur, struktur, konsistensi, reaksi tanah dari masing-masinmg horizon, sifat-sifat kimia dan mineral masing-masing horizon.
G. Ordo Tanah
Dalam kategori ordo tanah selalu diberi akhiran sol (solum tanah), sedang suku kata sebelumnya menunjukkan sifat utama dari tanah tersebut. Untuk kategori yang lebih rendah dari ordo akhiran sol tidak digunakan lagi. Sebagai gantinya maka untuk menunjukkan hubungan sifat-sifat tanah dari kategori tinggi dengan kategori yang lebih rendah digunakan akhiran yang merupakan singkatan dari nama masing-masing ordo tersebut seperti terlihat pada Tabel berikut.
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 26
Tabel 3 Ordo Tanah
1. Alfisols. Tanah yang mempunyai epipedon okrik dan horzon argilik dengan kejenuhan basa sedang sampai tinggi. Pada umumnya tanah tidak kering. Jenis tanah yang ekuivalen dengan jenis tanah ini adalah tanah half-bog, podsolik merah kuning dan planosols.
2. Andisols. Merupakan jenis tanah yang ketebalannya mencapai 60%, mempunyai sifat andik. Tanah yang ekuivalen dengan tanah ini adalah tanah andosol.
3. Aridisol. Tanah yang berada pada regim kelengasan arida atau tanah yang rgim kelengasan tanahnya kering. Tanah yang ekuivalen dengan jenis tanah ini adalah tanah coklat (kemerahan) dan tanah arida (merah).
4. Entisols. Tanah yang belum menunjukkan perkembangan horizon dan terjadi pada bahan aluvian yang muda. Tanah yang ekuivalen dengan jenis tanah ini adalah tanah aluvial, regosol dn tanah glei humus rendah.
Nama Ordo Akhiran untuk Kategori lain
Arti asal kata
ALFISOL ALF Dari Al dan Fe (Pedalfer)
ANDISOL AND Ando, tanah hitam
ARIDISOL ID Andus, sangat kering
ENTISOL ENT Dari recent (baru)
GELISOL EL Gelare, membeku
HISTOSOL IST Histos, jaringan
INCEPTISOL EPT Inceptum, permulaan
MOLLISOL OLL Mollis lunak
OXISOL OX Oxide, oksida
SPODOSOL OD Spodos, abu
ULTISOL ULT Ultimus, akhir
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 27 5. Gelisols. Merupakan jenis tanah yang memiliki bahan organik tanah. Jenis ini
tidak dijumpai di Indonesia
6. Histosols. Tanah yang mengandung bahan organik dari permukaan tanah ke bawah, paling tipis 40 cm dari permukaan. Tanah yang ekuivalen dengan jenis tanah ini adalah tanah bog dan tanah gambut.
7. Inceptisols. Merupakan jenis tanah di wilayah humida yang mempunyai horizon teralterasi, tetapi tidak menunjukkan adanya iluviasi, eluviasi dan pelapukan yang eksterm. Jenis tanah ekuivalen dengan jenis tanah ini adalah tanah brown forest, glei humik dan glei humik rendah.
8. Mollisols. Tanah yang mempunyai warna kelam dengan horizon molik di wilyah stepa. Jenis tanah yang ekuivalen dengan jenis tanah ini adalah tanah brunizem, tanah rendzina.
9. Oxisols. Tanah yang memiliki horizon oksik pada kedalaman kurang dari 2 meter dari permukaan tanah. Tanah yang ekuivalen dengan jenis tanah ini adalah jenis tanah laterik.
10. Spodosols. Tanah yang memiliki horizon spodik dan memiliki horizon eluviasi. Jenis tanah yang ekuivalen dengan jenis tanah ini adalah podsolik. 11. Ultisols. Tanah yang memiliki horizon argilik dengan kejenuhan basa rendah
(< 35%) yang menurun sesuai dengan kedalaman tanah. Tanah yang sudah berkembang lanjut dibentangan lahan yang tua. Jenis tanah yang ekuivalen dengan jenis tanah ini adalah tanah laterik coklat-kemerahan dan tanah podsolik merah- kuning.
12. Vertisols. Tanah lempung yang dapat mengembang dan mengerut. Dalam keadaan kering dijumpai retkan yang lebar dan dalam. Jenis tanah yang ekuivalen dengan jenis tanah ini adalah tanah grumosol.
H. Jenis-Jenis Tanah
Interaksi antara faktor-faktor pembentuk tanah akan menghasilkan tanah dengan sifat-sifat yang berbeda. Berdasarkan pada faktor pembentuk dan sifat tanah inilah, beberapa ahli mengklasifikasikan tanah dengan klasifikasi yang berbeda. Tingkat kategori yang sudah banyak dikembangkan dalam survei dan pemetaan tanah di
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 28 Indonesia, yaitu tingkat kategori jenis (great soil group). Klasifikasi jenis-jenis tanah pada tingkat tersebut sering digunakan untuk mengelompokkan tanah di Indonesia.
1. Tanah Organosol
Tanah jenis ini berasal dari bahan induk organik dari hutan rawa, mempunyai ciri warna cokelat hingga kehitaman, tekstur debulempung, tidak berstruktur, konsistensi tidak lekat sampai dengan agak lekat, dan kandungan unsur hara rendah. Tanah ini terbentuk karena adanya proses pembusukan dari sisa-sisa tumbuhan rawa. Banyak terdapat di rawa Sumatra, Kalimantan, dan Papua, kurang baik untuk pertanian maupun perkebunan karena derajat keasaman tinggi.
2. Tanah Aluvial
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami perkembangan. Bahannya berasal dari material halus yang diendapkan oleh aliran sungai. Oleh karena itu, tanah jenis ini banyak terdapat di daerah datar sepanjang aliran sungai
3. Tanah Regosol
Tanah ini merupakan endapan abu vulkanik baru yang memiliki butir kasar. Penyebaran terutama pada daerah lereng gunung api. Tanah ini banyak terdapat di daerah Sumatra bagian timur dan barat, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
4. Tanah Litosol
Tanah litosol merupakan jenis tanah berbatu-batu dengan lapisan tanah yang tidak begitu tebal. Bahannya berasal dari jenis batuan beku yang belum mengalami proses pelapukan secara sempurna. Jenis tanah ini banyak ditemukan di lereng gunung dan pegunungan di seluruh Indonesia.
5. Tanah Latosol
Tanah latosol yaitu tanah yang banyak mengandung zat besi dan aluminium. Tanah ini sudah sangat tua, sehingga kesuburannya rendah. Warns tanahnya merah hingga kuning, sehingga sering disebut tanah merah. Tanah latosol yang mempunyai sifat cepat mengeras bila tersing kap atau berada di udara terbuka disebut tanah laterit.
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PENDAHULUAN 29
6. Tanah Grumusol
Jenis ini berasal dari batu kapur, batuan lempung, tersebar di daerah iklim subhumid atau subarid, dan curah hujan kurang dari 2.500 mm/tahun. Jenis tanah ini berwarna kelabu hitam dan bersifat subur
7. Tanah Podsolik
Tanah ini berasal dari batuan pasir kuarsa, tersebar di daerah beriklim basah tanpa bulan kering, curah hujan lebih 2.500 mm/ tahun. Tekstur lempung hingga berpasir, kesuburan rendah hingga sedang, warna merah, dan kering.
8. Tanah Podsol
Jenis tanah ini berasal dari batuan induk pasir. Penyebaran di daerah beriklim basah, topografi pegunungan, misalnya di daerah Kalimantan Tengah, Sumatra Utara, dan Papua Barat. Kesuburan tanah rendah.
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | BAB III 30
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada : Hari : Minggu
Tanggal : 20 November 2011
Tempat : dilakukan di tiga tempat, yaitu :
Plot ke-1 : TPA Caringin Desa Tanjungwangi Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang
Plot ke-2 : Di Desa Blanakan Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang Plot ke-3 : Di Desa Ciater Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang Waktu : Berangkat dari Kampus pada pukul 06.00 dan kembali pulang
sampai Kampus pada pulul 23.00 WIB Berikut adalah Peta RBI dimana kami melakukan praktikum
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | METODOLOGI PENELITIAN 31
B. Alat dan Bahan
1. Alat a. GPS
b. Busur Derajat c. Ring sampel d. Bor tanah
e. Meteran dan Tali Rapia f. Plastik sampel
g. Tali karet h. Pisau lapangan i. Cetok atau Sekop j. Instrumen penelitian k. Kompas bidik l. Alat tulis m. Label n. Cangkul o. Penggaris p. Kamera Digital/HP q. Buku Munsell
r. Peta RBI lembar Subang s. Tabung reaksi t. pH stick u. Oven Tanah v. Cawan w. Timbangan 2. Bahan a. Sampel Tanah
b. Larutan KCL untuk menghitung pH potensial c. Larutan Aquades untuk menghitung pH aktual d. H2O2 untuk mengkur banyak atau tidaknya humus
e. Cairan Spirtus untuk mengetahui jumlah Bahan Organik didalam Tanah f. Larutan HCL untuk mengetahui Kandungan Kapur di dalam Tanah
C. Populasi dan Sampel
Adapun populasi sampel yang kami ambil yakni kami mengambil sampel tanah secara acak atau dengan kata lain sampel random, dengan penelurusan di lapangan. Dimana objek yang kami temui untuk dianalisis serta di kaji secara langsung di lapangan. Serta merupakan Bagian dari populasi penelitian yang dipilih sebagai wakil representatif dari keseluruhan untuk diteliti.
Populasi sampel yang kami ambil di daerah Ciater, Caringin dan Blanakan, Kabupaten Subang. Sampel yang kami ambil yakni beberapa sampel tanah dengan karakteristik yang berbeda yang memungkinkan untuk diamati dan di analisis. Selain
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | METODOLOGI PENELITIAN 32 dari karakteristik yang berbeda, sampel tanah juga diambil berdasarkan perbedaan ketinggian disetiap tempatnya.
D. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang kami lakukan dalam penelitian ini melalui beberapa cara yaitu:
1. Observasi
Observasi lapangan yang kami lakukan dimulai dengan menentukan plot pengamatan. Perlu kriteria khusus dalam menentukan plot dalam survey atau pengamatan tanah. Kita harus mendapatkan tebing tanah untuk pengamatan horizon tanah. Selain itu diperlukan hamparan tanah kosong untuk dilakukan boring (pemboran) pada tanah.
Uji terhadap tanah juga dapat dilakukan di lapangan dengan mengambil disturb sampel dan mengujinya dengan cara dipilin, dibuat benang dan bola. Kemudian mengamati keadaan tanah seperti vegetasi sekitar, aktivitas organisme dan kelembaban tanah.
Kemudian kami mengambil sampel menggunakan ring sampel untuk mengambil undisturbed sampel yang kemudian akan dilakukan pengovenan untuk mengetahui kadar air di dalam tanah.
2. Uji Laboratorium
Didalam penelitian ini kami mengambil beberapa sampel tanah yang kemudian akan kami uji di laboratorium. Diantaranya, mengukur tingkat keasaman tanah di lokasi praktikum dengan menggunakan pH Tester, kemudian mengoven tanah untuk mengetahui kadar air dalam tanah, lalu mengukur kualitas bahan organik yang ada di dalam tanah,dengan menetesi H2O2, selanjutnya membakar tanah dengan menggunakan
spirtus untuk mengetahui kuantitas kandungan Bahan Organik dan untuk mengetahui kandungan kapur yaitu dengan cara menetesi tanah dengan HCl. Dari uji laboratorium itu, kami memperoleh data yang cukup akurat.
3. Studi Kepustakaan
Dalam penelitian ini kami harus menghasilkan data yang cukup banyak dan membutuhkan waktu yang lama untuk memperoleh data tersebut, apabila kami melakukan penelitian. Sehingga, untuk memperoleh data tersebut kami melakukan studi pustaka agar tujuan penelitian ini dapat tercapai. Selain itu kami juga mengumpulkan dari
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | METODOLOGI PENELITIAN 33 berbagai sumber yang kami anggap relevan dengan objek penelitian seperti internet, artikel, majalah serta menggunakan instrument-instrumen penelitian yang diberikan oleh Dosen.
E. Teknik Pengolahan Data
Kami melakukan pengolahan data dengan cara menganalisis semua data di lapangan dan di laboratorium, Sampel yang kami ambil di lapangan kemudian kami uji di laboratorium diantaranya adalah menguji tingkat keasaman tanah, mengetahui kandungan Bahan Organik, kadar air dalam tanah, kandungan kapur dalam tanah, kandungan humus dalam tanah dan lain-lain. Kemudian kami mengambil kesimpulan dari analisis dan kecenderungan-kecenderungan yang terjadi untuk menentukan jenis tanah, kandungan di dalamnya dan pemanfaatan yang dapat dilakukan terhadap tanah tersebut.
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | BAB IV 34
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Deskripsi Lokasi Pengamatan
1. Plot Pertama
Gambar 5 Lokasi Plot 1
Daerah pertama pengamatan profil tanah pada praktikum ini di daerah TPA Caringin di Kota Subang tepatnya di Desa Tanjungwangi Kec. Cijambe, koordinat 06°35’30.7” LS dan 107°44’23.8” BT, kemiringan lereng sebesar 14°, penggunaan lahan di daerah sekitar titik ini adalah semak belukar yang banyak ditumbuhun rerumputan, pohon pisang, dan albasiyah dengan bentuk lahan berundak-undak.
2. Plot Kedua
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PEMBAHASAN 35 Penelitian kedua dilakukan di daerah penangkaran Buaya Kecamatan Blanakan, Subang. Daerah ini merupakan daerah sekitar muara, dengan dominasi penggunaan lahannya hutan rawa. Kami mengambil sampel tanah pada koordinat 06°15’52,2”LS dan 107°39’46” BT dan ketinggian tempat sekitar 15 mdpl.
3. Plot Ketiga
Di plot ketiga ini hanya dilakukan pengambilan sampel dengan ring sampel oleh perwakilan kelompok saja. Pengambilan sampel tepatnya pada titik 6°46’18” LS dan 107 38’21” BT, dengan penggunaan lahan sebagian besar berupa kebun the dengan bentuk lahan berbukit-bukit.
B. Hasil Penelitian Unsur Fisik Tanah di Tiga Lokasi
Sifat fisik tanah dalah sifat-sifat tanah yang dapat diamati langsung dilapangan atau dihitung di lab tanpa harus menggunakan alat – alat kimia khusus (kecuali untuk berat jenis yang harus yang menggunakan Piknometer). Sifat ini berkaitan dengan kondisi aktual tanah di lapangan.
1. Sifat fisik tanah di Plot Pertama : TPA Caringin, Subang a. Horizon A
Tabel 4 Karakteristik Horizon A plot 1 Sifat Fisik Horizon A Plot 1 Batas Horizon c(s) = jelas-datar
Warna tanah 2.5 YR 2.5/3 Karatan jumlah - bandingan ukuran Concretion warna - kekuatan ukuran bandingan
Tekstur (ls) pasir berlempung Konsistensi
Basah sedikit lekat
Lembab Gembur
Kering Lepas
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PEMBAHASAN 36
Kekerasan Halus
Bentuk gumpal bersudut
Lapisan Liat
Retakan bandingan (m) sedang
ukuran sedang=0.5-2cm
Pori-Pori bandingan (a) banyak
ukuran Sedang
Perakaran bandingan (a) banyak
ukuran (2) sedang
Batuan
Data di atas merupakan hasil pengamatan dari singkapan tebing tanah setinggi ± 110 cm. Horizon A memiliki ketebalan 23 cm dengan batas horizon yang berbaur dengan horizon B, tidak nampak secara kasat mata perbedaan horizonnya, tapi bila dideteksi dengan cara ditusuk-tusuk kami dapat mengetahui perbedaannya dari tingkat kegemburan tanahnya. Pengujian warna tanah dilakukan di laboratorium menggunakan Munshell Book dengan pencahayaan normal, warna sampel tanah di plot 1 ialah 2.5 YR 2.5/4, warna tanah merah kecoklatan yang lebih tua bila dibandingkan dengan horizon B pada plot yang sama. Warna merah kecoklatan ini menunjukan bahwa tanah terseubt memiliki drainase yang baik, dan derajat terang gelapnya lebih gelap pada horizon A menunjukan bahwa kandungan bahan organiknya pun lebih banyak di horizon ini dibandingkan dengan horizon B.
Tekstur tanah horizon A merupakan pasir berlempung, pengamatan dilakukan langsung di lapangan dengan cara meneliti tingkat kekasaran, kelicinan, kelengketan dan plastisitas, dan pembentukan bola dan benang tanah. Struktur tanah pun demikian, diteliti langsung di lapangan dengan cara mengambil bongkahan tanah sebesar kepalan tangan, kemudian menjatuhkannya dari ketinggian sekitar 50cm, setelah diamati serpihan tanah tersebut membentuk gumpalan bersudut, dengan tingkat kekerasan halus dan perkembangan yang lemas.
Konsistensi atau daya tahan tanah pada horizon A terhadap gaya-gaya luar pada tanah, diteliti dalam tiga kondisi, pada saat tanah basah (setelah ditetesi air) sedikit lengket, kondisi lembab tanah gembur, dan pada saat kering tanah mudah lepas.
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PEMBAHASAN 37 Retakan tanah di horizon A berjumlah sedang dengan ukuran retakan sekitar 0.5-2 cm (ukuran sedang). Dan pori-pori tanah pada horizon A berjumlah banyak dengan ukuran sedang. Perakaran terlihat banyak dengan ukuran akar sedang 2mm-5mm.
Dan pada horizon A ini tidak terdapat karatan, konkresi, lapisan liat, dan lapisan batuan, kondisi tersebut diakibatkan banyaknya perakaran, sehingga terobosan akar tersebut merembeskan air dan mineral-mineral dalam tanah, jadilah lapisan ini tidak mengandung moltes, concretion, ataupun lapisan batuan.
b. Horizon B
Tabel 5 Karakteristik Horizon B plot 1 Sifat Fisik Tanah Horizon B Plot 1 Batas Horizon d(s) = baur-datar
Warna Tanah 2.5 YR 2.5/4 Karatan Jumlah - Bandingan Ukuran Concretion Warna - kekuatan Ukuran Bandingan
Tekstur (sc) Liat berpasir Konsistensi Basah Lekat Lembab Gembur Kering Lepas Struktur Perkembangan Sedang Kekerasan sangat halus
Bentuk Lempeng
Lapisan Liat
Retakan Bandingan (f) sedikit
Ukuran kecil = < 0.5cm Pori-Pori Bandingan (f) sedikit
Ukuran kecil
Perakaran bandingan (m) sedang Ukuran besar > 5mm
LAPORAN PRAKTIKUM GEOGRAFI TANAH | PEMBAHASAN 38 Ketebalan Horizon B 77 cm dengan batas horizon berbaur dan datar. Warna sampel tanah di horizon B ialah 2.5 YR 2.5/3 yang diteliti di laboratorium.
Tekstur tanah horizon B merupakan tanah liat berpasir, ini terbukti dengan tanah yang cukup licin, sangat lengket dan plastis dan setelah dibasahi dan dibentuk bola sangat kohesip, benang tanah dapat dibentuk cincin. Struktur tanah diteliti di lapangan dengan cara mengambil bongkahan tanah sebesar kepalan tangan, kemudian menjatuuhkannya dari ketinggian sekitar 50cm, setelah diamati serpihan tanah tersebut membentuk lempeng, dengan tingkat kekerasan sangat halus dan perkembangan yang sedang.
Gambar 7 Uji Lapangan terhadap konsistensi tanah
Konsistensi atau daya tahan tanah pada horizon B terhadap gaya-gaya luar pada tanah, diteliti dalam tiga kondisi, pada saat tanah basah (setelah ditetesi air) lengket, kondisi lembab tanah gembur, dan pada saat kering tanah mudah lepas. Retakan tanah di horizon B berjumlah sedikit dengan ukuran retakan sekitar <0.5 cm (ukuran kecil). Dan pori-pori tanah pada horizon B berjumlah sedikit dengan ukuran kecil. Perakaran terlihat sedang dengan ukuran akar besar >5mm.
Dan pada horizon B juga tidak terdapat karatan, konkresi, lapisan liat, dan lapisan batuan, karena masih terdapat perakaran dengan jumlah yang sedang dengan ukuran yang lebih besar, sehingga mineral-mineral yang dialirkan air, menerobos lagi ke lapisan yang lebih dalam. Mungkin jika kami menggali lebih dalam kami dapat melihat hasil karatannya.