Pemetaan Status Hara P total, P tersedia dan C organik Tanah Sawah Di Desa Hilibadalu Kecamatan Sogaeadu Kabupaten Nias Chapter III IV

17 

Teks penuh

(1)

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di lahan sawah Desa Hilibadalu Kecamatan

Sogaeadu Kabupaten Nias dengan luas 190 ha dan ketinggian tempat ± 18 m di

atas permukaan laut. Disamping itu penelitian ini juga dilakukan di Laboratorium

Analitik PT Socfindo Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan dari

bulan Oktober sampai Desember 2016.

(Gambar 1. Wilayah Penelitian) Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta penggunaan

lahan, peta lokasi penelitian 1:25.000, sampel tanah yang diambil dari daerah

penelitian dan bahan-bahan kimia yang digunakan untuk analisis di laboratorium.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Global Position System

(GPS) untuk mengetahui titik koordinat dan ketinggian tempat, cangkul

digunakan untuk mengambil sampel tanah, kantong plastik tempat sampel tanah,

spidol untuk menulis keterangan, kamera untuk mendokumentasikan kegiatan di

lapangan, karet gelang serta peralatan analisis tanah di laboratorium.

(2)

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Survey Grid

Bebas tingkat survei detail (kerapatan pengamatan 1 sampel tiap 12,5 hektar) dan

analisis data P total metode destruksi asam, P tersedia metode Bray II, pH tanah

metode ekstraksi H2O serta C organik tanah metode Walkley and Black %. Peta

daerah pada penelitian ini menggunakan skala 1 : 25.000 sehingga diperoleh 30

titik sampel yang diambil secara grid bebas yang dapat dilihat pada Gambar 2

dibawah.

(Gambar 2. Peta Titik Sampel) Pelaksanaan Penelitian

- Tahap Persiapan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah diadakan rencana

(3)

14

usulan penelitian, pengadaan peta-peta yang dibutuhkan dan persiapan alat

dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini.

- Tahap kegiatan di lapangan

Pengambilan sampel tanah di lapangan menggunakan cangkul pada

kedalaman 0-20 cm. Sampel tanah diambil dari beberapa titik secara zig zag

lalu dikompositkan kemudian dijadikan satu sampel. Dari tiap pengambilan

contoh tanah tersebut, maka dicatat hasil pembacaan koordinat pada GPS.

Kemudian diambil ± 2 kg tanah dari hasil komposit untuk setiap

contoh tanah dan dianalisis P total, P tersedia, pH tanah dan C organik.

Kemudian dilakukan tanyajawab kepada petani yang mengelola sawah tempat

titik pengambilan sampel untuk mengambil data luas lahan, produksi terakhir,

pengelolaan bahan organik dan pemberian pupuk.

- Analisis laboratorium

Sampel tanah yang diambil dari daerah penelitian dianalisis di

laboratorium untuk mengetahui keadaan P total, P tersedia, pH tanah dan

C organik dalam tanah. Analisis laboratorium untuk mengetahui P total

menggunakan metode destruksi asam, P tersedia menggunakan metode bray

II, pH tanah menggunakan metode ekstrak H2O dan C organik dengan metode

Walkley and Black.

Pengolahan Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis spasial

menggunakan program ArcView 3.2. Out put analisis spasial adalah P total,

P tersedia dan C organik kemudian data tersebut dipetakan. Data yang diperoleh

(4)

dikelompokkan berdasarkan kriteria penilaian sifat – sifat tanah yang dibuat oleh

Staf Pusat Penelitian Tanah (1983) dan BPP Medan (1982).

Pembuatan peta meliputi beberapa tahap yaitu sebagai berikut:

- Dibuat peta dasar wilayah penelitian

- Dipindahkan titik sampel yang telah didapat dilapangan ke peta

- Diinterpolasikan peta titik sampel

- Dibuat layout meliputi pembuatan legenda peta, pembuatan skala peta,

(5)

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Wilayah Penelitian

Kecamatan Sogaeadu merupakan salah kecamatan di Kabupaten Nias

yang mempunyai luas sebesar 89,55 km2.Desa Hilibadalu adalah salah satu desa

yang terdapat di Kecamatan Sogaeadu yang mempunyai luas 14,88 km2atau

16,62% dari luas Kecamatan Sogaeadu.

Desa Hilibadalu Kecamatan Sogaeadu Kabupaten Nias memiliki luas

wilayah sebesar 14,88 km2 atau setara dengan 1.488 ha. Wilayah ini memiliki

curah hujan sekitar 3000-3500 mm/tahun. Desa Hilibadalu memiliki luas lahan

sawah seluas 190 ha dimana sawah yang terdapat di desa ini tergolong sawah

tadah hujan. Jenis tanah yang terdapat di desa ini adalah tanah Ultisol (Lampiran

11).

Hasil P total

Hasil analisis P total tanah (Lampiran 1) pada daerah penelitian diperoleh

data kandungan P total tanah yang kemudian di kelompokkan berdasarkan kriteria

Staf Pusat Penelitian Tanah (1983) dan BPP Medan (1982). Terdapat 3 kriteria

status hara P total pada lahan sawah di Desa Hilibadalu, yakni sedang, tinggi dan

sangat tinggi. Luas wilayah untuk status hara P total disajikan pada Tabel 1 dan

Gambar 3.

Tabel 1. Luas Wilayah Sebaran P Total Berdasarkan Kriteria.

(6)

(Gambar 3. Peta sebaran P total)

Dari hasil survei contoh tanah sawah dengan luas 190 ha dan hasil analisis

P total tanah diperoleh bahwa P total pada sawah dengan kriteria sedang memiliki

luas 81,59 ha (42,94 %) dan kriteria tinggi yaitu 81,15 ha (42,71 %), sedangkan

kriteria sangat tinggi memiliki luas wilayah yang lebih kecil dibandingkan kriteria

lain yaitu sebesar27,26 ha (14,35 %).

P tersedia

Dari hasil analisis P tersedia(Lampiran 2) di peroleh data kandungan P

tersedia yang kemudian dikelompokkan berdasarkan kriteria Staf Pusat Penelitian

Tanah (1983) dan BPP Medan (1982). Terdapat 3 kelompok status hara P tersedia

pada lahan sawah di Desa Hilibadalu, yakni sangat rendah, rendah dan sedang.

(7)

18

Tabel 2. Luas Wilayah Sebaran P Tersedia Berdasarkan Kriteria.

Kriteria Luas (ha) Luas (%)

Sangat rendah 39,11 20,58

Rendah 137,40 72,32

Sedang 13,49 7,10

Total 190 100

(Gambar 4. Peta sebaran P tersedia)

Dari hasil survei contoh tanah sawah dengan luas 190 ha dan hasil analisis

P tersedia tanah diperoleh bahwa P tersedia pada lahan sawah dengan kriteria

rendahlebih tinggi dibandingkan dengan kriteria yang lain yaitu sebesar 137,40 ha

(72,32 %), kriteria sangat rendah memiliki luas sebesar 39,11 ha (20,58 %)dan

kriteria sedang memiliki luas lebih kecil yakni sebesar 13,49 ha (7,10 %).

C organik

Dari hasil analisis C organik (Lampiran 3) pada daerah penelitian

diperoleh data kandungan C organik pada lahan sawah yang kemudian

dikelompokkan berdasarkan kriteria Staf Pusat Penelitian Tanah (1983) dan BPP

Medan (1982). Terdapat 3 kelompok status C organik pada lahan sawah di Desa

(8)

Hilibadalu, yakni sangat rendah, rendah dan sedang. Luas wilayah untuk status C

organik ditampilkan pada Tabel 3 dan Gambar 5.

Tabel 3. Luas Wilayah Sebaran C organik Berdasarkan Kriteria.

Kriteria Luas (ha) Luas (%)

Sangat rendah 3,06 1,62

Rendah 135,84 71,49

Sedang 51,10 26,89

Total 190 100

(Gambar 5. Peta sebaran C organik)

Dari hasil survei contoh tanah sawah dengan luas 190 ha dan hasil analisis

C organik tanah diperoleh bahwa C organik pada lahan sawah dengan kriteria

rendah memiliki luas lebih tinggi dibandingkan dengan kriteria lain yaitu sebesar

135,84 ha (71,49 %), kriteria sedang sebesar 51,10 ha (26,89 %) dan kriteria

sangat rendah memiliki luas lebih rendah yakni sebesar 3,06 ha (1,62 %).

pH Tanah dan hubungannya dengan P tersedia

Dari hasil analisis pH tanah (lampiran 4) diperoleh tingkat kemasaman

(9)

20

kriteria Staf Pusat Penelitian Tanah (1983) dan BPP Medan (1982). Terdapat 2

kriteria kemasaman tanah yaitu masam dan agak masam dapat dilihat di Tabel 4.

Tabel 4. Luas Wilayah Sebaran Kemasaman tanah (pH) Berdasarkan Kriteria.

Kriteria Luas (ha) Luas (%)

Masam 159,84 84,12

Agak masam 30,16 15,88

Total 190 100

Hubungan korelasi antara pH tanah dengan P tersedia adalah sebesar 0,388

pada taraf signifikansi 5% (Lampiran 6). Nilai korelasi sebesar 0,388 yang

mendekati nol artinya keeratan hubungan antara pH tanah dengan P tersedia pada

penelitian ini adalah kurang erat (Lampiran 10). Meskipun mendekati nol, namun

karena bernilai positif maka tetap ada pengaruh pH tanah dengan P tersedia.

Pengelolaan Lahan

Dari hasil kuisioner (Lampiran 5) yang diberikan kepada petani diperoleh

data pengelolaan lahan (pemupukan fosfor dan bahan organik) di daerah

penelitian sebagai berikut:

Tabel 5. Tabel Data Pengelolaan Lahan

Pengelolaan Lahan Jumlah %

Pemupukan Fosfor

Dilakukan pemupukan 2 6,67

Tidak dilakukan pemupukan 28 93,33

Total 30 100

Pengelolaan bahan organik

Dibiarkan 11 36,67

Dikumpulkan/dibakar 19 63,33

Total 30 100

Dari data diatas diketahui bahwa sebagian besar petani tidak melakukan

pemupukan fosfor dilahan sawah sebesar 93,33% dibandingkan dengan yang

melakukan pemupukan sebesar 6,67%, sedangkan sebagian besar petani

mengumpulkan/membakar jerami sisa panen sebesar 63,33% sedangkan yang

membiarkan jerami sisa panen di lahan hanya sebesar 36,67%.

(10)

Analisis Hubungan P total, P tersedia dan C organik terhadap Produksi di lahan sawah Desa Hilibadalu Kecamatan Sogaeadu Kabupaten Nias

Hubungan antara P total dengan produksi diuji dengan menggunakan

aplikasi IBM SPSS 22. Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa kandungan P

total dalam tanah tidak memiliki pengaruh terhadap produksi padi. Dapat dilihat

di Lampiran 6 menyatakan bahwa nilai korelasi P total terhadap produksi adalah

0,146 dan bernilai positif. Meskipun demikian namun karena nilai signifikansinya

0,443 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara P total

dengan produksi padi sawah di Desa Hilibadalu. Kemudian diperoleh persamaan

regresi linear sederhana antara P total dan produksi padi (Lampiran 7) adalah

y = 3,5193 + 4,0518x yang menyatakan bahwa setiap penambahan P total(variabel

x) sebanyak 1 % maka akan terjadi peningkatan produksi (variabel y) sebanyak

4,0518 ton/ha produksi padi dan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,0212.

Namun karena t hitung yang diperoleh < dari t tabel (0,779<2,048)dan

signifikansi > 0,05 (0,443 > 0,05) (Lampiran 7) maka diperoleh bahwa P total

tidak berpengaruh terhadap produksi.

(Gambar 6. Hubungan antara P total dan produksi)

Hubungan antara P tersedia dengan produksi diuji dengan menggunakan

aplikasi IBM SPSS 22. Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa kandungan P

(11)

22

yang menyatakan bahwa korelasi antara P tersedia dengan produksi memiliki

nilai koefisien sebesar 0,529 pada tingkat signifikansi 0,01. Dengan nilai koefisien

tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat keeratan hubungannya adalah pada tingkat

sedang (Lampiran 10).Kemudian diperoleh persamaan regresi linear sederhana

antara P tersedia dan produksi padi(Lampiran 8) adalah y = 3,1889 + 0,066x yang

menyatakan bahwa setiap penambahan P tersedia (variabel x) sebanyak 1 ppm

maka akan terjadi peningkatan produksi (variabel y) sebanyak 0,066 ton/ha

produksi padi. Nilai t hitung yang diperoleh > t tabel (3,302 > 2,048) dan

signifikansi < 0,05 (0,003 < 0,05) (Lampiran 8) maka diperoleh bahwa P tersedia

mempengaruhi produksi. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,2803 yang

berarti bahwa P tersedia memiliki pengaruh sebesar 28,03% terhadap produksi

sedangkan 71,97% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain P tersedia.

(Gambar 7. Grafik hubungan P tersedia dan produksi)

Hubungan antara C organik dengan produksi diuji dengan menggunakan

aplikasi IBM SPSS 22. Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa kandungan C

organik dalam tanah mempengaruhi produksi padi. Dapat dilihat pada Lampiran

6yang menyatakan bahwa korelasi antara C organik dengan produksi memiliki

nilai koefisien sebesar 0,438 pada tingkat signifikansi 0,05. Dengan nilai koefisien

(12)

sedang (Lampiran 10). Kemudian diperoleh persamaan regresi linear sederhana

antara C organik dengan produksi padi (Lampiran 9) adalah y = 2,926 + 0,5168x

yang menyatakan bahwa setiap penambahan C organik (variabel X) sebanyak 1%

maka akan terjadi peningkatan produksi (variabel y) sebanyak 0,5168 ton/ha

produksi padi. Nilai t hitung yang diperoleh > t tabel (2,577 > 2,048) dan

signifikansi < 0,05 (0,016 < 0,05) (Lampiran 9) maka diperoleh bahwa P tersedia

mempengaruhi produksi. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,1917 yang

berarti bahwa C organik memiliki pengaruh sebesar 19,17% terhadap produksi

padi sedangkan 80,83% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain C organik.

(Gambar 8. Grafik hubungan C organik dengan produksi) Pembahasan

Dari hasil survei contoh tanah dan analisa P total, lahan sawah tadah hujan

dengan luas 190 ha di desa Hilibadalu memiliki kandungan P total dengan kriteria

sedang lebih tinggi dibandingkan dengan kriteria lain (berdasarkan kriteria SPPT

(1983) dan BPP medan (1982)), yaitu sekitar 42,94 %. Salah satu faktor yang

dapat mengakibatkan hal tersebut adalah karena petani yang tidak melakukan

pemupukan fosfor sebanyak 93,33% sedangkan petani yang melakukan

(13)

24

dengan sumber unsur hara fosfor dapat meningkatkan kandungan P total dalam

tanah dan status fosfor dengan kriteria sedang pada tanah sawah setidaknya harus

dilakukan pemupukan SP 36 sebagai sumber fosfor dengan dosis rekomendasi 75

kg/ha. Hal ini sesuai dengan Deptan (2007) yang menyatakan bahwa rekomendasi

pemupukan P pada tanaman padi sawah dengan kelas status hara P sedang adalah

sebanyak 75 kg/ha SP 36.

Status hara P total sedang pada lahan sawah di Desa Hilibadalu juga

kemungkinan dapat disebabkan oleh adanya pembakaran jerami yang dilakukan

oleh sebagian besar petani di lahan sawah. Karena pembakaran jerami dapat

mengakibatkan unsur P dalam jerami hilang hingga 34-59 % dimana seharusnya

unsur P tersebut dikembalikan ke tanah. Hal ini sesuai dengan literatur Husnain

(2010) yang menyatakan bahwa persentase kandungan unsur hara yang hilang saat

pembakaran jerami adalah 33-35% untuk Si, 36-47 % untuk K, 34-59 % untuk P,

38-44 % untuk Ca, 42-48% untuk Mg dan 55-61 % untuk Na.

Berdasarkan survei contoh tanah dan analisa P tersedia, lahan sawah tadah

hujan dengan luas 190 ha di desa Hilibadalu memiliki kandungan P tersedia

dengan kriteria rendah yang sangat luas (berdasarkan kriteria SPPT (1983) dan

BPP Medan (1982)), yaitu sebesar 72,32 % dari total luas sawah tadah hujan. Hal

ini dapat disebabkan karena kandungan Al yang tinggi pada tanah Ultisol dapat

mengikat unsur P menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Seperti diketahui bahwa

jenis tanah pada lahan sawah di Desa Hilibadalu adalah tanah Ultisol (Lampiran

11). Hal ini sesuai dengan literatur Prasetyo dan Suriadikarta (2006) yang

menyatakan bahwa tanah Ultisol miskin kandungan unsur hara P dan

kation-kation dapat ditukar seperti Ca, Mg, Na dan K, serta kadar Al tinggi. Kemudian

(14)

Damanik et al (2011) menambahkan bahwa pada tanah masam kelarutan daripada

unsur Al, Fe dan Mn sangat tinggi sehingga cenderung mengikat ion-ion fosfat

menjadi fosfat tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman.

Dari hasil analisis diperoleh bahwa sebaran C organik di lahan sawah

tadah hujan di desa Hilibadalu didominasi oleh kriteria rendah, yaitu mencapai

71,49 % dari luas wilayah keseluruhan. Rendahnya kadar C organik di lahan

sawah ini dapat disebabkan karena kebiasaan petani yang selalu

mengumpulkan/membakar jerami padi setelah panen dan tidak

mengembalikannya lagi ke lahan sawah. Petani yang melakukan

pengumpulan/pembakaran pada jerami sisa panen adalah sebesar 63,33%

sedangkan yang mengembalikan (dibiarkan) jerami ke sawah sebanyak 36,67%

(Tabel 5). Hal ini didukung oleh penelitian Sumarno et al (2009) yang

menyatakan bahwa jerami padi yang sebenarnya dapat dipergunakan untuk

menambah kandungan bahan organik tanah, yang oleh petani lebih sering dibakar

setelah panen, hal tersebut berakibat pada penurunan kandungan bahan organik

tanah sawah. Sumarno et al manambahkan perilaku tersebut terjadi karena

kesadaran dan pemahaman petani akan pentingnya peran bahan organik dalam

tanah sawah masih rendah.

Hubungan korelasi antara P total dengan P tersedia pada penelitian ini

adalah memiliki hubungan yang berkorelasi positif dengan nilai korelasi 0,663

dapat dilihat pada Lampiran 6. Hubungan korelasi positif ini menandakan bahwa

setiap kenaikan P total dalam tanah juga mengakibatkan kenaikan P tersedia

dalam tanah. Hubungan ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti bahan

(15)

26

serta pH tanah. Dalam hal ini Hanafiah (2005) menyatakan bahwa ketersediaan

fosfor sangat dipengaruhi oleh sifat dan ciri tanah serta cara pengelolaan yang

dilakukan. Damanik et al (2011) menambahan bahwa sumber utama hara fosfor

hanya berasal dari pelapukan mineral dan tidak melalui fiksasi biologis seperti

halnya nitrogen, sehingga penurunan cadangan fosfor dapat dipercepat melalui

pengangkutan hasil panen yang intensif tanpa ada sisa yang dikembalikan.

Hubungan korelasi antara pH tanah dengan P tersedia adalah sebesar

0,388. Artinya pH tanah memiliki pengaruh terhadap ketersediaan P tersedia

dalam tanah. Karena pada dasarnya keberadaan P tersedia dalam tanah

dipengaruhi oleh tingkat kemasaman tanah tersebut. Dapat dilihat pada Tabel 4,

tingkat kemasam tanah pada wilayah penelitian ini didominasi oleh kriteria

masam sebanyak 84,12%. Hal ini didukung oleh literatur Abdulrachman et al

(2009) yang menyatakan bahwa sebagian besar P menjadi tidak tersedia bagi

tanaman karena terfiksasi sebagai Al-P dan Fe-P pada tanah masam. Logam

seperti Al3+ dan Fe3+dapat mengikat P dan membentuk kompleks sukar larut

sehingga menghambat ketersediaan P bagi tanaman.

Hubungan antara P tersedia dengan produksi berdasarkan penelitian ini

memiliki hubungan yang positif dengan nilai korelasi sebesar 0,529. Artinya

bahwa ada hubungan antara keberadaan P tersedia pada lahan sawah di Desa

Hilibadalu Kecamatan Sogaeadu Kabupaten Nias dengan produksi padi dengan

tingkat keeratan hubungan sedang. Dengan analisis linear sederhana maka

diperoleh pengaruh keberadaan P tersedia terhadap produksi adalah sebesar

28,03%. Hal ini didukung oleh literatur Abdulrachman et al (2009) yang

menyatakan bawah dalam pertumbuhannya padi memerlukan fosfor (P) dalam

(16)

jumlah yang banyak untuk kegiatan pertumbuhan dan menghasilkan gabah yang

tinggi.

Hubungan antara C organik dengan produksi padi pada penelitian ini

memiliki hubungan positif dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,438, artinya

ada hubungan antara C organik pada lahan sawah di Desa Hilibadalu Kecamatan

Sogaeadu Kabupaten Niasterhadap produksi padi dengan tingkat keeratan

hubungan sedang. Dengan analisis linear sederhana maka diperoleh pengaruh

keberadaan C organik terhadap produksi sebesar 19,17%. Artinya bahwa

keberadaan C organik pada lahan sawah mempengaruhi produksi sebesar 19,17%

sedangkan sisanya dipengaruhi oleh fakor-faktor lain selain C organik. Hal ini

sesuai dengan literatur Setyorini et al (2010) yang menyatakan bahwa terdapat

korelasi positif antara kadar bahan organik dan produktivitas tanaman padi sawah,

(17)

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Sebaran luas wilayah status hara P total di lahan sawah di desa Hilibadalu

terdiri dari sedang dengan luas 81,59 ha (42,94 %), tinggi dengan luas

81,15 ha (42,71 %) dan sangat tinggi dengan luas 27,26 ha (14,35 %).

2. Sebaran luas wilayah status hara P tersedia di lahan sawah di desa

Hilibadalu terdiri dari sangat rendah dengan luas 39,11 ha (20,58 %),

rendah dengan luas 137,40 ha (72,32 %) dan sedang dengan luas 13,49 ha

(7,10 %).

3. Sebaran luas wilayah status C organik di lahan sawah di desa Hilibadalu

terdiri dari sangat rendah dengan luas 3,06 ha (1,62 %), rendah dengan

luas 135,84 ha (71,49 %) dan sedang dengan luas 51,10 ha (26,89 %).

4. P total tidak mempengaruhi produksi padi sedangkan P tersedia dan C

organik mempengaruhi produksi padi di lahan sawah Desa Hilibadalu

Kecamatan Sogaeadau Kabupaten Nias.

Saran

Perlu dilakukan penambahan fosfor dan c organik pada lahan sawah

dengan penelitian lanjutan untuk menentukan dosis fosfor dan c organikyang

perlu ditambahkan.

Figur

Tabel 2. Luas Wilayah Sebaran P Tersedia Berdasarkan Kriteria.
Tabel 2 Luas Wilayah Sebaran P Tersedia Berdasarkan Kriteria . View in document p.7
Tabel 3. Luas Wilayah Sebaran C organik Berdasarkan Kriteria.
Tabel 3 Luas Wilayah Sebaran C organik Berdasarkan Kriteria . View in document p.8

Referensi

Memperbarui...