LAPORAN PROFIL INDUSTRI PERBANKAN
Triwulan IV-2017
Kata Pengantar
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya laporan triwulanan pelaksanaan tugas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini dapat diselesaikan dengan baik.
Secara umum laporan ini memuat berbagai informasi tentang kinerja perbankan, profil risiko perbankan, kebijakan pengembangan pengawasan perbankan nasional dan kebijakan pengembangan pengawasan terintegrasi, serta hasil pengawasan perbankan selama triwulan IV-2017. Selain itu, laporan ini juga memuat informasi mengenai koordinasi OJK dalam rangka Stabilitas Sistem Keuangan, koordinasi OJK dengan lembaga lain yang terkait, serta asesmen oleh lembaga internasional seperti Financial Sector Assessment Program (FSAP) dan Mutual Evaluation Review (MER). Selanjutnya, disajikan pula pelaksanaan kebijakan perlindungan konsumen, literasi dan inklusi keuangan selama triwulan IV-2017.
Pada triwulan IV-2017, sejalan dengan tren pemulihan ekonomi dunia, ekonomi domestik tumbuh cukup solid yang utamanya ditopang oleh kenaikan investasi dan kinerja perdagangan internasional. Dari sisi perbankan, ketahanan perbankan masih tetap solid ditopang tingginya CAR yang didukung dengan membaiknya tingkat efisiensi perbankan. Selain itu, profil risiko perbankan masih terjaga dengan baik tercermin dari risiko kredit yang menurun serta risiko likuiditas dan risiko pasar yang relatif rendah.
Kondisi industri BPR dan BPRS juga cukup baik dengan pertumbuhan kredit/pembiayaan yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Ketahanan BPR dan BPRS juga cukup solid meskipun masih dibayangi dengan peningkatan risiko kredit/pembiayaan.
Di tengah kinerja yang terjaga baik, perbankan masih mencermati perkembangan beberapa sektor ekonomi yang masih belum solid. Selanjutnya, dengan perkembangan industri teknologi keuangan (financial technology) yang sangat pesat, diharapkan sinergi perbankan dengan perusahaan fintech dapat ditingkatkan agar akses masyarakat terhadap layanan jasa keuangan dapat meningkat.
Akhirnya, kami berharap laporan ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.
Jakarta, Mei 2018
Heru Kristiyana
Daftar Isi
Kata Pengantar ... 1 Daftar Isi ... 3 Daftar Tabel ... 6 Daftar Grafik ... 8 Daftar Box ... 10 Ringkasan Eksekutif... 11 Info Grafis ... 13Bab I Kinerja Industri Perbankan Nasional ... 17
A. Overview Perekonomian Global dan Domestik ... 17
B. Kinerja Perbankan Nasional ... 20
1. Kinerja Bank Umum ... 20
1.1 Aset Bank Umum ... 20
1.2 Sumber Dana Bank Umum ... 21
1.3 Penggunaan Dana Bank Umum ... 23
1.4 Rentabilitas Bank Umum ... 29
1.5 Permodalan Bank Umum ... 29
2. Kinerja Bank Umum Syariah (BUS) ... 31
2.1 Aset BUS ... 31
2.2 Sumber Dana BUS ... 32
2.3 Penggunaan Dana BUS ... 32
2.4 Rentabilitas BUS ... 34 2.5 Permodalan BUS ... 34 3. Kinerja BPR Konvensional (BPR) ... 34 3.1 Aset BPR ... 35 3.2 Sumber Dana BPR ... 35 3.3 Penggunaan Dana BPR ... 36 3.4 Rentabilitas BPR ... 37 3.5 Permodalan BPR ... 38 4. Kinerja BPR Syariah (BPRS) ... 38 4.1 Aset BPRS ... 38 4.2 Sumber Dana BPRS ... 39 4.3 Penggunaan Dana BPRS ... 39 4.4 Rentabilitas BPRS... 40 4.5 Permodalan BPRS ... 40
Bab II Profil Risiko Perbankan ... 45
1. Risiko Kredit ... 45
1.1 Kualitas Kredit Secara Umum ... 45
1.2 Risiko Kredit berdasarkan Peer Bank ... 46
1.3 Risiko Kredit berdasarkan Jenis Penggunaan ... 47
1.4 Risiko Kredit berdasarkan Sektor Ekonomi ... 48
1.5 Risiko Kredit berdasarkan Lokasi (Spasial) ... 50
2.1 Risiko Nilai Tukar ... 51
2.2 Risiko Suku Bunga ... 52
3. Risiko Likuiditas ... 53
4. Risiko Operasional ... 57
5. Tata Kelola Perbankan ... 57
5.1 Bank Umum ... 57
5.2 BPR ... 58
Bab III Kebijakan dan Pengembangan Pengawasan Perbankan Nasional ... 67
1. Bank Umum ... 68
1.1 Pengembangan Pengawasan Bank Umum ... 68
2. Perbankan Syariah... 68
2.1 Pengaturan Perbankan Syariah ... 68
2.2 Pengembangan Pengawasan Perbankan Syariah ... 69
2.3 Pengembangan Perbankan Syariah ... 69
2.4 Pengembangan Produk dan Edukasi Perbankan Syariah (iB Campaign) ... 69
3. BPR ... 70
3.1 Pengembangan Pengawasan BPR ... 70
4. Kegiatan Pengembangan dan Diseminasi Ketentuan ... 71
Bab IV Pengembangan Pengawasan Terintegrasi ... 75
1. Pengembangan Pengawasan Terintegrasi ... 75
2. Pengawasan Terintegrasi ... 75
3. FGD dan Workshop ... 76
Bab V Pengawasan Perbankan ... 79
1. Pemeriksaan Umum dan Pemeriksaan Khusus... 79
2. Perizinan Produk dan Aktivitas Bank ... 80
3. Layanan Keuangan tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) ... 80
4. Penegakan Kepatuhan Bank ... 82
4.1 Uji Kemampuan dan Kepatutan (Existing) ... 82
4.2 Penanganan Dugaan Tindak Pidana Perbankan (Tipibank) ... 82
4.3 Pemberian Keterangan Ahli dan/atau Saksi ... 84
4.4 Sosialisasi ... 84
5. Jaringan Kantor dan Kelembagaan Perbankan ... 84
5.1 Bank Umum ... 84
5.2 Bank Syariah ... 86
5.3 BPR ... 87
Bab VI Koordinasi Antar Lembaga... 91
1. Koordinasi dalam rangka Stabilitas Sistem Keuangan ... 91
1.1 Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)... 91
1.2 Koordinasi OJK dengan Bank Indonesia (BI) ... 91
2. Upaya OJK dalam rangka Fasilitasi Pengembangan Sektor Riil dan Implementasi APU dan PPT ... 93
2.1 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ... 93
2.2 Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) ... 94
Bab VII Asesmen Lembaga Internasional ... 101
1. Financial Sector Assessment Program (FSAP) ... 101
2. Mutual Evaluation Review ... 102
Bab VIII Perlindungan Konsumen, Literasi, dan Inklusi Keuangan ... 107
Perlindungan Konsumen... 107
1. Pelaksanaan Kebijakan Perlindungan Konsumen ... 107
1.1 Layanan Pertanyaan ... 109
1.2 Layanan Informasi ... 110
1.3 Layanan Pengaduan ... 111
2. Pengawasan Market Conduct ... 111
3. Pemantauan Iklan Triwulanan ... 111
4. Investor Alert Portal ... 112
5. Kegiatan Komunikasi Dalam Rangka Penguatan Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan ... 113
6. Penilaian Kembali Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Jasa Keuangan ... 114
Literasi dan Inklusi Keuangan ... 115
1. Simpanan Pelajar (SimPel/SimPel iB)... 115
2. Penyusunan Generic Model Tabungan Bagi Mahasiswa dan Pemuda ... 115
3. Perkembangan Pusat Edukasi, Layanan Konsumen dan Akses Keuangan UMKM (PELAKU) ... 115
4. Kegiatan Pengukuhan dan Coaching Clinic TPAKD ... 116
5. Perkembangan Program Layanan Keuangan Mikro (Laku Mikro) ... 116
6. Bulan Inklusi Keuangan... 117
7. Kompetisi Inklusi Keuangan (KOINKU) ... 117
8. Workshop Pengembangan Model Bisnis Keagenan yang Berkelanjutan ... 118
9. Edukasi Keuangan bagi Komunitas ... 118
10. Edukasi Keuangan bagi Pelajar dan Mahasiswa ... 118
11. Sinergi Edukasi Keuangan OJK Dengan Perguruan Tinggi di Wilayah Jakarta dan Sekitarnya ... 118
12. Keikutsertaan dalam Rangkaian Kegiatan OECD/INFE ... 119
13. Sosialisasi Survei Programme for International Student Assessment (PISA) ... 119
14. Lokakarya Dalam Rangka Sinergi Pemerintah dan Lembaga Dalam Peningkatan Perekonomian Daerah dan Pencapaian Inklusi Keuangan ... 120
15. Workshop ”Good Practices for Financial Consumer Protection” dengan World Bank ... ... 120
16. Disiplin Pasar di Sektor Perbankan Indonesia (Studi Kasus Penerapan POJK Nomor 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan di Indonesia) ... 121
Lampiran ... 125
Lampiran I. Rumus Indikator Kinerja Perbankan dan Penilaian Profil Risiko ... 125
Lampiran II. Daftar Kebijakan dan Pengaturan Perbankan yang diterbitkan pada Triwulan IV-2017 ... 127
Daftar Tabel
Tabel 1 Indikator Bank Umum ... 20
Tabel 2 Tingkat Konsentrasi Aset Bank Umum ... 20
Tabel 3 Perkembangan Aset Bank Umum ... 21
Tabel 4 DPK berdasarkan Kelompok Kepemilikan ... 22
Tabel 5 Penyebaran DPK berdasarkan Pangsa Wilayah Terbesar ... 23
Tabel 6 Penggunaan Dana Bank Umum ... 23
Tabel 7 Konsentrasi dan Pertumbuhan Kredit berdasarkan Sektor Ekonomi ... 26
Tabel 8 Konsentrasi Penyaluran Kredit UMKM ... 27
Tabel 9 Porsi Kredit UMKM berdasarkan Kelompok Bank ... 28
Tabel 10 Target Penyaluran KUR 2017 ... 28
Tabel 11 Perbandingan Indikator Bank Umum berdasarkan Kepemilikan ... 30
Tabel 12 Komponen Permodalan Bank Umum ... 30
Tabel 13 Indikator Umum Bank Syariah ... 31
Tabel 14 Pembiayaan Bank Syariah berdasarkan Sektor Ekonomi ... 33
Tabel 15 Pembiayaan Bank Syariah berdasarkan Penggunaan ... 33
Tabel 16 Indikator Umum BPR Konvensional ... 34
Tabel 17 Penyebaran DPK BPRK ... 36
Tabel 18 Kredit BPRK berdasarkan Sektor Ekonomi ... 37
Tabel 19 Kredit BPRK berdasarkan Lokasi Penyaluran ... 37
Tabel 20 Indikator Umum BPRS ... 38
Tabel 21 Pembiayaan BPRS Menurut Sektor Ekonomi ... 40
Tabel 22 Perkembangan Kualitas Kredit ... 45
Tabel 23 Perkembangan Nominal Kredit dan NPL per Kepemilikan ... 46
Tabel 24 Rasio NPL Gross per Kepemilikan ... 47
Tabel 25 NPL Gross Peer Bank berdasarkan Jenis Penggunaan ... 47
Tabel 26 Perkembangan Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan ... 47
Tabel 27 NPL Gross Peer Bank berdasarkan Jenis Penggunaan ... 48
Tabel 28 NPL Gross Lokasi (Spasial) Berdasarkan Sektor Ekonomi ... 51
Tabel 29 Perkembangan Parameter IRRBB ... 53
Tabel 30 Minimal Pemenuhan LCR ... 54
Tabel 31 Perkembangan LCR Perbankan ... 54
Tabel 32 Rasio-Rasio Likuiditas Sisi Aset Perbankan ... 55
Tabel 33 Rasio Likuiditas Kewajiban Perbankan ... 56
Tabel 34 Rekapitulasi Transaksi PUAB ... 57
Tabel 35 Pengaturan Perbankan Syariah yang diterbitkan pada Triwulan IV-2017 ... 68
Tabel 36 Pemeriksaan Umum Bank ... 79
Tabel 37 Pemeriksaan Khusus Bank ... 80
Tabel 38 Produk dan Aktivitas Baru Perbankan ... 80
Tabel 40 Jumlah Track Record ... 82
Tabel 41 Statistik Penanganan Dugaan Tindak Pidana Perbankan ... 83
Tabel 42 Jaringan Kantor Bank Umum ... 85
Tabel 43 FPT Calon Pengurus dan Pemegang Saham Bank Umum ... 86
Tabel 44 Jaringan Kantor Bank Umum Syariah ... 87
Tabel 45 Perizinan BPR ... 88
Tabel 46 Daftar Hasil Fit and Proper Test New Entry BPR ... 88
Tabel 47 Kegiatan Usaha Program JARING ... 93
Tabel 48 Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris (DTTOT) Tahun 2017 ... 96
Tabel 49 Daftar Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal Tahun 2017 ... 97
Tabel 50 Total Layanan Per Sektor ... 109
Tabel 51 Layanan Konsumen OJK untuk Sektor Perbankan ... 109
Daftar Grafik
Grafik 1 PDB menurut Pengeluaran ... 18
Grafik 2 PDB Berdasarkan Lapangan Usaha ... 18
Grafik 3 Perkembangan Ekspor dan Impor ... 19
Grafik 4 Perkembangan Ekspor Migas dan Non Migas ... 19
Grafik 5 Perkembangan Impor Migas dan Non Migas ... 19
Grafik 6 Tren Inflasi ... 19
Grafik 7 Komposisi Sumber Dana Perbankan ... 21
Grafik 8 Tren Pertumbuhan Komposisi DPK ... 21
Grafik 9 Tren Pangsa Komposisi DPK ... 22
Grafik 10 Kredit Berdasarkan Jenis Mata Uang ... 23
Grafik 11 Pertumbuhan Kredit berdasarkan Jenis Penggunaan ... 24
Grafik 12 Konsentrasi Pemberian Kredit 3 Sektor Terbesar ... 24
Grafik 13 Pertumbuhan Kredit berdasarkan Sektor Ekonomi ... 25
Grafik 14 Penyebaran Kredit UMKM berdasarkan Wilayah ... 27
Grafik 15 Penyebaran KUR berdasarkan Sektor Ekonomi ... 29
Grafik 16 Tren Pertumbuhan Aset Perbankan Syariah ... 31
Grafik 17 Pertumbuhan DPK Bank Syariah ... 32
Grafik 18 Pembiayaan Bank Syariah berdasarkan Lokasi Bank Penyalur ... 33
Grafik 19 Laba dan ROA BUS ... 34
Grafik 20 Perkembangan Aset BPR ... 35
Grafik 21 Perkembangan DPK BPR ... 35
Grafik 22 Tren Aset BPRS ... 38
Grafik 23 Tren Pertumbuhan DPK BPRS ... 39
Grafik 24 Tren ROA dan BOPO BPRS ... 40
Grafik 25 Tren Rasio NPL Gross dan NPL Net ... 45
Grafik 26 Pertumbuhan Nominal Kualitas Kredit ... 46
Grafik 27 Perkembangan Nominal NPL Berdasarkan Sektor Ekonomi ... 48
Grafik 28 Tren Pertumbuhan Kredit Sektor Ekonomi ... 49
Grafik 29 Tren NPL Gross Sektor Ekonomi ... 49
Grafik 30 Tren NPL Gross Berdasarkan Lokasi (Spasial) ... 50
Grafik 31 PDN dan Pergerakan Nilai Tukar ... 51
Grafik 32 Jumlah Bank Terhadap Range PDN ... 51
Grafik 33 Pertumbuhan Nilai Wajar dan Keuntungan Surat Berharga ... 52
Grafik 34 Perkembangan Parameter IRRBB ... 53
Grafik 35 Perkembangan Likuiditas Perbankan ... 53
Grafik 36 Jumlah BPR Berdasarkan Pemenuhan Komposisi Jumlah Anggota Direksi dan Dewan Komisaris ... 58
Grafik 37 Wilayah Penyebaran Agen Laku Pandai ... 81
Grafik 38 Penyebaran Jaringan Kantor Bank Umum di Lima Wilayah di Indonesia ... 85
Grafik 39 Penyebaran Jaringan Kantor BUS di Lima Wilayah di Indonesia ... 87
Grafik 40 Jaringan Kantor BPR ... 88
Grafik 41 Realisasi dan NPL Program JARING ... 93
Grafik 43 Lima Layanan Pertanyaan Terbanyak Sektor Perbankan Berdasarkan Jenis Permasalaha ... 110 Grafik 44 Lima Layanan Informasi Terbanyak Sektor Perbankan Berdasarkan Jenis Permasalahan ... 110 Grafik 45 Jumlah Iklan Per Sektor ... 112 Grafik 46 Pelanggaran berdasarkan Kategori Dugaan Pelanggaran ... 112
Daftar Box
Box 1 Program KUR Tahun 2018 ... 41
Box 2 Kinerja Ekonomi Domestik dan Perbankan 2017 dan Prospeknya di Tahun 2018 ... 42
Box 3 Dampak Capping Suku Bunga terhadap Likuiditas Perbankan ... 59
Ringkasan Eksekutif
Sejalan dengan tren pemulihan ekonomi dunia, ekonomi domestik tumbuh cukup solid didorong oleh kenaikan investasi dan kinerja perdagangan internasional. Dari sisi perbankan, fungsi intermediasi meningkat dengan kredit yang tumbuh ditopang terutama oleh pertumbuhan kredit modal kerja. Permodalan perbankan juga terjaga pada level yang tinggi sehingga kuat untuk mengabsorbsi risiko yang dihadapi. Dukungan permodalan terutama bersumber dari profit yang meningkat seiring dengan membaiknya tingkat efisiensi perbankan.
Di bidang pengawasan perbankan, OJK konsisten melakukan upaya mitigasi risiko dengan melakukan beberapa pemeriksaan khusus yang mencakup pemeriksaan modal, aktivitas operasional, GCG, fraud, teknologi informasi, dan kegiatan bank lainnya. Di sisi lain, penguatan regulasi juga dilakukan melalui penerbitan dua kebijakan terkait penguatan kelembagaan perbankan syariah. Selain itu, terkait pengawasan terintegrasi sektor jasa keuangan, sampai dengan triwulan IV-2017 telah selesai disusun aplikasi SIPT tahap III yang berfungsi sebagai perangkat untuk melakukan monitoring Pengawasan Terintegrasi terkait Konglomerasi Keuangan.
Terkait dengan implementasi Undang-Undang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (UU PPKSK), OJK bersama dengan Lembaga terkait dalam KSSK secara rutin melakukan rapat berkala dalam memantau kondisi stabilitas sistem keuangan. Selain itu, OJK juga berkoordinasi dengan pemerintah dan lembaga terkait untuk meningkatkan fungsi pengawasan dan pengembangan industri perbankan.
Sebagai tindak lanjut asesmen FSAP 2016/2017, OJK dan otoritas lainnya mengimplementasikan rekomendasi IMF atas beberapa isu yang perlu mendapat perhatian dalam rangka melanjutkan penguatan sektor keuangan serta meningkatkan pendalaman pasar keuangan dan inklusi. Selain itu, OJK juga telah mengikuti pelaksanaan
on-site visit MER Indonesia dimana secara umum tim asesor menilai bahwa pelaksanaan
rezim APU PPT di Indonesia sudah membaik dibandingkan saat pelaksanaan MER sebelumnya. OJK dinilai telah memiliki mekanisme perizinan yang dapat mencegah pelaku kejahatan dan pihak terkait lainnya untuk masuk ke Sektor Jasa Keuangan, serta dinilai telah memahami, mengidentifikasi dan menerapkan penilaian risiko tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana pendanaan terorisme (TPPU dan TPPT) terhadap PJK yang diawasinya.
Selanjutnya, pada pilar perlindungan dan edukasi konsumen, OJK terus berupaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan kepada masyarakat. Terkait hal tersebut, OJK melakukan update berkala terkait daftar investasi dalam Investasi Alert Portal, penyusunan
Generic Model tabungan bagi mahasiswa dan pemuda, penyempurnaan konsep Laku
Mikro, serta memperkuat dan memperluas TPAKD melalui coaching clinic. Selain itu, dalam upaya perluasan akses keuangan, jumlah rekening dan PKS program SimPel OJK meningkat sehingga diharapkan dapat mendorong percepatan inklusi dan literasi keuangan kepada masyarakat.
2. Ekonomi Domestik
Perekonomian domestik di triwulan IV-2017 tumbuh lebih baik sebesar 5,19% yang didorong oleh pertumbuhan di beberapa sektor.
Peningkatan Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) ditopang oleh investasi dari proyek infrastruktur pemerintah, investasi swasta, maupun investasi
nonbangunan.
Tumbuhnya nilai ekspor sejalan dengan harga komoditas yang meningkat.
Inflasi yang masih terjaga sebesar 3,61% (yoy).
Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2018 diperkirakan sebesar 5,3%.
1. Ekonomi Global
Perekonomian global di tahun 2017 secara keseluruhan membaik dan diproyeksikan berlanjut di tahun 2018.
Tumbuhnya ekspor komoditas primer dan tambang negara emerging economies.
Peningkatan konsumsi utamanya di AS dan
Jepang.
Penurunan volatilitas pasar keuangan diiringi dengan peningkatan capital inflow ke negara
berkembang.
Membaiknya proyeksi perekonomian global di tahun 2018 didukung oleh perbaikan ekonomi negara maju dan negara berkembang.
Risiko x Ketidakpastian kebijakan
dan kondisi politik. x Normalisasi kebijakan moneter AS. x Pemberlakuan kebijakan rebalancing ekonomi Tiongkok. x Ketegangan geopolitik global. Risiko ki k b 5 3% zKemungkinan capital outflow akibat proyeksi kenaikan FFR.
zKetidakpastian politik dan ekonomi dunia.
KINERJA PERBANKAN DESEMBER 2017
Profitabilitas membaik didukung oleh peningkatan efisiensi.
Intermediasi
cukup baik
Risiko Kredit masih terjaga
Risiko Pasar relatif rendah Likuiditas
memadai
Permodalan Stabil kuat
PERTUMBUHAN KREDIT SEKTOR EKONOMI (yoy)
Bab I
Kinerja Industri Perbankan Nasional
Sejalan dengan tren pemulihan ekonomi dunia, ekonomi domestik tumbuh cukup solid didorong oleh kenaikan investasi dan kinerja perdagangan internasional. Dari sisi perbankan, fungsi intermediasi masih baik dengan pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya ditengah perlambatan DPK. Sejalan dengan itu, industri perbankan dinilai cukup kuat mengabsorbsi risiko yang dihadapi karena didukung oleh permodalan yang sangat memadai seiring dengan pertumbuhan organik bank yang berasal dari pemupukan laba.
A. Overview Perekonomian Global dan Domestik Sepanjang tahun 2017, ekonomi global
berada dalam tren pemulihan dan diperkirakan berlanjut pada tahun 2018. Hal tersebut ditandai dengan kinerja pasar keuangan global yang meningkat dengan tingkat volatilitas pasar keuangan yang rendah dan ekspektasi pelaku pasar akan prospek perbaikan pertumbuhan ekonomi. Pemulihan ekonomi global dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi negara maju dan negara berkembang yang lebih tinggi dari perkiraan semula.
Ekonomi negara maju tumbuh meningkat didorong oleh kenaikan pengeluaran modal dan penguatan permintaan eksternal. Ekonomi Amerika Serikat (AS) melanjutkan penguatan ditopang perbaikan sektor konsumsi dan investasi sejalan dengan kebijakan Pemerintah memperbaiki infrastruktur. Sejalan dengan AS, perekonomian Eropa juga membaik dengan motor penggerak konsumsi rumah tangga dan investasi. Negara maju seperti AS, EU dan Jepang juga melakukan normalisasi kebijakan moneter untuk meredam potensi kenaikan inflasi sejalan dengan perbaikan kondisi ekonomi.
Peningkatan ekonomi negara berkembang khususnya negara-negara berbasis ekspor komoditas primer sejalan dengan harga komoditas yang membaik. Negara-negara berkembang juga diuntungkan oleh pemulihan ekonomi global dan peningkatan permintaan dari negara maju yang mampu mendorong perbaikan transaksi perdagangan internasional. Ekonomi Tiongkok tumbuh tinggi didorong oleh perbaikan ekspor dan impor. Selain itu, ekonomi India juga berhasil meningkatkan kinerja ekspornya seiring dengan melemahnya nilai tukar Rupee.
Beberapa faktor downside risk terhadap pertumbuhan global tetap perlu diwaspadai ke depan, diantaranya terkait dengan perkiraan perlambatan ekonomi Tiongkok akibat masih berlanjutnya proses
rebalancing ekonomi di tengah reformasi
pajak dan liberalisasi pasar keuangan. Selain itu, hal yang perlu diwaspadai juga menyangkut faktor keterbatasan kemampuan fiskal dan kendala struktural
aging population (Jepang), meningkatnya
proteksionisme, ketidakpastian kebijakan, kenaikan suku bunga acuan, dan
ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Semenanjung Korea. Hal-hal tersebut diperkirakan dapat mempengaruhi aliran modal asing ke Indonesia.
Dari domestik, pada triwulan IV-2017 ekonomi tumbuh solid, yaitu 5,19% (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan IV-2016 sebesar 4,94% (yoy). Pertumbuhan ekonomi didorong oleh akselerasi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), Pengeluaran Pemerintah dan kinerja ekspor dan impor. PMTB tumbuh 7,27% (yoy), lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 4,80% (yoy), utamanya didorong oleh pembentukan modal berupa bangunan (porsi 74,74% terhadap PMTB) yang tumbuh 6,68% (yoy), atau lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya sebesar 4,07% (yoy). Hal ini sejalan dengan banyaknya proyek infrastruktur dari pemerintah dan proyek komersil swasta berupa properti rumah tinggal. Pengeluaran pemerintah yang tumbuh 3,81% (yoy) juga ikut membantu pertumbuhan ekonomi setelah pada tahun sebelumnya mengalami pertumbuhan negatif 4,05%(yoy).
Pada sisi lapangan usaha, banyaknya proyek infrastruktur pemerintah dan komersil swasta turut mendorong pertumbuhan sektor konstruksi sebesar 7,23% (yoy) dari tahun sebelumnya sebesar 4,21% (yoy).
Sementara itu, pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (KRT) tumbuh 4,97% (yoy), atau lebih rendah dari triwulan IV-2016 yang tumbuh 4,99% (yoy). Pelemahan pertumbuhan KRT merupakan imbas dari kecenderungan penundaan konsumsi dan pergeseran preferensi pada kelompok menengah-atas, sementara KRT kelompok bawah masih lemah akibat daya beli yang
stagnan1. Indikasi pergeseran preferensi
pada kelompok menengah-atas terjadi dari pola konsumsi kebutuhan non-leisure seperti makanan dan pakaian menjadi kebutuhan leisure seperti rekreasi, hotel, dan restoran (Grafik 1).
Grafik 1 PDB menurut Pengeluaran
Sumber: BPS
Grafik 2 PDB Berdasarkan Lapangan Usaha
Sumber: BPS
Faktor lain yang berperan positif terhadap PDB adalah perbaikan kinerja ekspor dan impor. Nilai impor pada triwulan IV-2017 tumbuh 17,83% (yoy), lebih tinggi
1 Bahan Presentasi BI dalam High Level Meeting
terkait Perkembangan dan Isu Ekonomi Terkini (Pembiayaan Infrastruktur melalui Pasar Keuangan), tanggal 18 Desember 2017.
dibanding tahun sebelumnya sebesar 5,84% (yoy), didorong kenaikan impor migas yang tumbuh 50,10% (yoy) dan impor non-migas yang tumbuh sebesar 12,87% (yoy). Sementara itu, meskipun nilai ekspor tumbuh melambat dari 16,07% (yoy) pada triwulan IV-2016 menjadi sebesar 6,93% (yoy) pada triwulan IV-2017, kinerja ekspor masih tumbuh terakselerasi pada ekspor migas. Ekspor migas tumbuh 20,77% (yoy), lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang terkontraksi 3,79% (yoy), sedangkan ekspor non migas melambat 5,56% (yoy) dibanding tahun sebelumnya sebesar 18,50% (yoy) (Grafik 3, 4 dan 5).
Grafik 3 Perkembangan Ekspor dan Impor
Sumber: BPS
Grafik 4 Perkembangan Ekspor Migas dan Non Migas
Sumber: BPS
Grafik 5 Perkembangan Ekspor Migas dan Non Migas
Sumber: BPS
Inflasi pada Desember 2017 sebesar 0,71% (mtm) dan secara keseluruhan tahun 2017 sebesar 3,61% (yoy). Inflasi tahun ini berada dalam capaian target inflasi sebesar 4,5%±1%, didukung oleh rendahnya inflasi inti, volatile food, dan administered prices. Hal ini utamanya disebabkan oleh membaiknya pasokan pangan sejalan dengan perbaikan produksi pangan, rendahnya tekanan inflasi dari sisi permintaan domestik, dan terkendalinya dampak kebijakan tarif listrik (Grafik 6).
Grafik 6 Tren Inflasi
Sumber: BPS
Dengan memperhatikan downside risks, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2018 diperkirakan sekitar 5,3%2. Risiko yang
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi tahun 2018, antara lain kemungkinan aliran modal yang keluar akibat pengaruh
qtq qtq yoy yoy
Des Sep Des Sep '17 Des '17 Des '16 Des '17
Total Aset (Rp Miliar) 6.729.799 7.150.388 7.387.634 1,77% 3,32% 9,74% 9,77% Kredit (Rp milyar) 4.377.195 4.543.588 4.737.972 1,17% 4,28% 7,87% 8,24% DPK (Rp Miliar) 4.836.758 5.142.891 5.289.209 1,92% 2,85% 9,60% 9,35% - Giro (Rp Miliar) 1.124.235 1.199.374 1.233.337 0,49% 2,83% 13,84% 9,70% - Tabungan (Rp Miliar) 1.551.809 1.574.694 1.701.175 1,30% 8,03% 11,16% 9,63% - Deposito (Rp Miliar) 2.160.714 2.368.823 2.354.697 3,08% -0,60% 6,46% 8,98% CAR (%) 22,71 23,01 23,01 49 (0) 155 30 ROA (%) 2,17 2,42 2,38 (0,2) (4) (9) 21 NIM / NOM (%) 5,47 5,19 5,15 (2) (4) 24 (32) BOPO (%) 82,85 79,22 79,28 (26) 6 68 (357) NPL / NPF Gross (%) 2,93 2,93 2,60 (3) (34) 44 (33) NPL / NPF Net (%) 1,24 1,30 1,17 (11) (13) 3 (7) LDR / LFR (%) 90,50 88,35 89,58 (67) 123 (145) (92) Indikator 2016 2017 CR4 % CR20 % 2015 44,49 76,57 2016 46,36 77,23 Mar-17 45,73 76,54 Jun-17 46,10 76,51 Sep-17 46,00 76,41 Des-17 46,91 77,07 Tahun Aset
kenaikan suku bunga global, serta masalah geopolitik di Timur Tengah dan Semenanjung Korea. Selain itu, kenaikan harga minyak dapat berpotensi meningkatkan tekanan terhadap kenaikan laju inflasi, defisit transaksi berjalan, dan depresiasi nilai tukar. Dari sisi domestik, juga perlu dicermati sehubungan dengan periode pelaksanaan Pilkada serentak tahun 2018 di Indonesia.
B. Kinerja Perbankan Nasional 1. Kinerja Bank Umum
Fungsi intermediasi perbankan cukup solid dengan meningkatnya pertumbuhan kredit ditengah perlambatan DPK. Sejalan dengan hal tersebut, kinerja perbankan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercermin dari kenaikan tingkat profitabilitas dan diiringi kenaikan tingkat efisiensi perbankan. Hal tersebut mendorong tingkat permodalan perbankan menjadi lebih solid (Tabel 1).
Tabel 1 Indikator Bank Umum
Sumber: SPI dan LHBU, Desember 2017 1.1 Aset Bank Umum
Aset bank umum tumbuh sebesar 9,77% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 9,74% (yoy) (Tabel 1). Peningkatan tersebut sejalan dengan kenaikan DPK dan tambahan setoran modal oleh pemilik. Selain itu, dari sisi komponen aset, penyaluran kredit juga tumbuh lebih baik dari tahun sebelumnya. Berdasarkan kelompok bank, kenaikan aset utamanya didorong oleh Bank BUMN yang memiliki porsi sebesar 40,43% dan ditopang pertumbuhan yang tinggi sebesar 12,00%
(yoy) (Tabel 3). Sementara itu, KCBA mengalami penurunan aset sebesar 12,15% (yoy) sejalan dengan penurunan DPK pada kelompok bank ini.
Tabel 2 Tingkat Konsentrasi Aset Bank Umum
∆ qtq ∆ qtq ∆ yoy ∆ yoy
Des Sep Des Sep '17 Des '17 Des '16 Des '17
BUMN 2.666.516 2.792.047 2.986.617 40,43% 2,00% 6,97% 15,27% 12,00%
BUSN Devisa 2.672.238 2.901.497 2.964.376 40,13% 1,23% 2,17% 13,06% 10,93%
BUSN Non Devisa 73.684 85.228 88.221 1,19% 6,22% 3,51% -61,85% 19,73%
BPD 529.746 636.197 604.820 8,19% 3,14% -4,93% 11,36% 14,17%
Campuran 319.328 322.999 331.734 4,49% 1,63% 2,70% 1,84% 3,89%
KCBA 468.286 412.417 411.376 5,57% 1,23% -0,25% -1,07% -12,15%
Total 6.729.799 7.150.385 7.387.144 100% 1,77% 3,31% 9,74% 9,77%
Kelompok Bank 2016 2017 Porsi
Aset perbankan masih didominasi oleh beberapa bank besar yang ditunjukkan oleh
Concentration Ratio (CR). Porsi aset 4 bank
terbesar mencapai 46,91% dari total aset industri perbankan sedangkan porsi 20 bank
terbesar menguasai hingga 77,07% total aset perbankan. Hal tersebut mencerminkan bahwa dominasi bank-bank besar cukup tinggi dalam perbankan nasional (Tabel 2).
Tabel 3 Perkembangan Aset Bank Umum
Sumber: SPI Desember 2017
1.2 Sumber Dana Bank Umum
DPK memegang peran sangat penting dalam sumber pendanaan bank. Sebanyak 89,33% dana perbankan berasal dari DPK (Grafik 7).
Grafik 7 Komposisi Sumber Dana Perbankan
Sumber: SPI Desember 2017
DPK tumbuh relatif tinggi 9,35% (yoy) meskipun sedikit melambat dibanding tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,60% (yoy). Pertumbuhan DPK utamanya didorong oleh akselerasi pertumbuhan pada deposito, terutama deposito di atas Rp2 Miliar yang memiliki porsi 71,22% dari total deposito. Pada periode laporan, deposito di atas Rp2 Miliar tumbuh 10,85% (yoy) sementara deposito dengan nominal di bawah Rp2 Miliar hanya tumbuh sebesar
5,04% (yoy) yang mengindikasikan kenaikan pendapatan dana deposan menengah ke bawah lebih rendah dari deposan menengah ke atas. Di sisi lain, Tabungan dan Giro tumbuh relatif tinggi meskipun mengalami perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya. Tabungan dan giro tumbuh masing-masing 9,63% dan 9,70% (yoy), melambat dibanding tahun sebelumnya 11,16% (yoy) dan 13,84% (yoy) (Grafik 8).
Grafik 8 Tren Pertumbuhan Komposisi DPK
Sumber: SPI Desember 2017
Dilihat dari porsinya, Giro dan Tabungan mengalami kenaikan pangsa dibanding 2 tahun terakhir, sebaliknya deposito di bawah Rp2 Miliar mengalami penurunan pangsa. Dari sisi deposan, hal tersebut
qtq qtq yoy yoy Des '16 Sep '17 Des '17 Sep'17 Des'17 Des'16 Des'17
BUMN 1.984.174 2.213.9022.035.650 41,86 1,17% 8,76% 14,36% 11,58% BUSD 2.045.699 2.222.1492.190.130 42,01 1,81% 1,46% 12,32% 8,63% BUSND 55.626 62.720 65.276 1,23 3,40% 4,08% -62,20% 17,35% BPD 383.531 516.035 449.389 8,50 4,48% -12,91% 7,55% 17,17% Campuran 170.477 175.399 174.660 3,30 0,19% -0,42% 4,58% 2,45% KCBA 197.252 162.957 163.832 3,10 6,57% 0,54% 3,76% -16,94% TOTAL 4.836.758 5.289.2095.142.891 100 1,92% 2,85% 9,60% 9,35% Kelompok Bank Nominal (Rp miliar) Porsi (%)
mengindikasikan bahwa deposan golongan menengah ke bawah lebih memperbanyak simpanan untuk keperluan transaksi atau berjaga-jaga.
Sementara itu, deposito dengan nominal di atas Rp2 Miliar tumbuh cukup tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa ketergantungan perbankan pada deposan inti atau deposan besar semakin besar (Grafik 9).
Berdasarkan kelompok bank, sebagian besar DPK masih dikuasai oleh kelompok BUSN Devisa (42 bank) sebesar 42,01%, diikuti Bank BUMN (4 bank) sebesar 41,86%. Meskipun memiliki porsi terbesar, namun pertumbuhan DPK BUSN Devisa justru melambat, yaitu tumbuh 8,63% (yoy) atau lebih rendah dibanding tahun sebelumnya
sebesar 12,32% (yoy). Adapun DPK kelompok BUSN Non Devisa dan BPD masing-masing tumbuh cukup signifikan yaitu 17,35% dan 17,17% (yoy), atau lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yaitu masing-masing -62,20% dan 7,55% (yoy) (Tabel 4).
Grafik 9 Tren Pangsa Komposisi DPK
Sumber: SPI Desember 2017 Tabel 4 DPK berdasarkan Kelompok Kepemilikan
Sumber: SPI Desember 2017
Secara spasial, penghimpunan DPK masih terpusat di lima provinsi (DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara) dengan porsi 77,73%. Porsi terbesar berada di DKI Jakarta (50,71%)
diikuti Jawa Timur (9,44%). Besarnya penghimpunan DPK di wilayah Jawa sejalan dengan kegiatan bisnis dan perputaran uang yang jauh lebih besar di wilayah tersebut (Tabel 5).
Des Sep Des TW III'17 TW IV'17 TW IV'16 TW IV'17 a Kredit Yang Diberikan 4.580.5214.413.414 4.781.959 66,63% 1,19% 4,40% 7,85% 8,35%
- Kepada Pihak Ketiga 4.543.5884.377.195 4.737.972 66,02% 1,17% 4,28% 7,87% 8,24% - Kepada Bank Lain 36.220 36.934 43.987 0,61% 4,78% 19,10% 5,91% 21,45% b Penempatan pada Bank Lain 207.050 251.229 235.595 3,28% -6,60% -6,22% -2,29% 13,79% c Penempatan pada Bank Indonesia 717.840 668.959 700.775 9,76% -0,90% 4,76% 4,71% -2,38%
d Surat Berharga 860.522 982.334 1.035.335 14,43% 8,32% 5,40% 30,22% 20,31% e Penyertaan 33.889 36.498 39.708 0,55% 3,56% 8,79% 32,35% 17,17% f CKPN Aset Keuangan 153.245 163.683 157.154 2,19% 3,12% -3,99% 31,50% 2,55% g Tagihan Spot dan Derivatif 13.693 10.185 7.938 0,11% -8,70% -22,06% -33,57% -42,03%
h Tagihan Lainnya 171.250 291.583 218.588 3,05% 44,92% -25,03% 10,14% 27,64% TOTAL 6.984.9926.570.903 7.177.051 100,00% 2,97% 2,75% 10,09% 9,22% yoy qtq porsi Penggunaan Dana 2016 2017
Des '16 Sep '17 Des'17
DKI Jakarta 2.472.780 2.571.542 2.681.926 50,71% Jawa Timur 455.220 494.587 499.384 9,44% Jawa Barat 400.209 424.699 449.311 8,49% Jawa Tengah 240.399 257.347 262.972 4,97% Sumatera Utara 201.536 217.815 217.961 4,12% Total DPK 5 Kota 3.770.144 3.965.990 4.111.553 77,73% Total DPK 4.836.758 5.142.891 5.289.209 Wilayah DPK % Pangsa terhadap total DPK
Tabel 5 Penyebaran DPK berdasarkan Pangsa Wilayah Terbesar (Rp Miliar)
Sumber: SPI Desember 2017, diolah
1.3 Penggunaan Dana Bank Umum
Sebagian besar (66,63%) penggunaan dana
perbankan digunakan untuk pembiayaan/penyaluran kredit, terutama kredit kepada pihak ketiga bukan bank sebesar 66,02%, sementara penyaluran kredit kepada bank lain hanya sebesar 0,61% (Tabel 6).
Tabel 6 Penggunaan Dana Bank Umum
Sumber: SPI Desember 2017
Penyaluran kredit kepada pihak ketiga tumbuh 8,24% (yoy), lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar 7,87% (yoy). Hal tersebut menunjukkan adanya ruang untuk meningkatkan intermediasi perbankan ditengah kondisi dunia usaha yang masih
wait and see.
Berdasarkan portofolio, kredit kepada pihak ketiga umumnya disalurkan dalam bentuk rupiah dengan porsi 85,37% sedangkan kredit valas sebesar 14,63%. Kredit rupiah tumbuh 8,25% (yoy) melambat dari 9,15% (yoy) sedangkan kredit valas tumbuh 8,22% (yoy) atau jauh lebih tinggi dari 0,92% (yoy) tahun sebelumnya. Kenaikan kredit valas (IDR) berasal dari kenaikan volume kredit valas (USD) sebesar 6,46% (yoy), lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya sebesar 6,07% (yoy) serta akibat pelemahan nilai tukar
Rupiah terhadap USD sebesar 2,15%3 (Grafik
10).
Grafik 10 Kredit Berdasarkan Jenis Mata Uang
Sumber: SPI Desember 2017
3 Pelemahan sebesar 2,15% tersebut tidak
semata-mata akibat pelemahan IDR terhadap USD, namun juga disebabkan pelemahan Rupiah terhadap beberapa mata uang asing lainnya yang jauh lebih besar.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit masih didominasi kredit produktif (71,81%), yang terdiri dari kredit modal kerja (KMK) sebesar 46,91% dan kredit investasi (KI) sebesar 24,90%, sedangkan kredit konsumsi (KK) tercatat sebesar 28,19%.
Di tengah perlambatan pengeluaran rumah tangga dalam PDB sektoral, KK justru tumbuh signifikan yang utamanya didorong oleh kredit rumah tangga untuk kepemilikan rumah tinggal dan apartemen. Sebaliknya, pertumbuhan kredit produktif belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Salah satu sebabnya adalah masih berlangsungnya proses restrukturisasi perusahaan khususnya yang terkait komoditas tambang (Grafik 11).
Grafik 11 Pertumbuhan Kredit berdasarkan Jenis Penggunaan
Sumber: SPI Desember 2017
1.3.1 Kredit berdasarkan Sektor Ekonomi Berdasarkan sektor ekonomi menurut non lapangan usaha, kredit perbankan masih didominasi oleh kredit rumah tangga sebesar 23,26%. Sementara itu, berdasarkan sektor ekonomi menurut lapangan usaha, kredit terbesar disalurkan pada sektor perdagangan besar dan eceran (18,69%) serta sektor industri pengolahan (17,39%) (Grafik 12).
Grafik 12 Konsentrasi Pemberian Kredit 3 Sektor Terbesar
Sumber: SPI Desember 2017
Peningkatan kredit sampai dengan Desember 2017 antara lain didorong oleh peningkatan kredit ke sektor konstruksi yang tumbuh signifikan sebesar 20,57% (yoy). Tingginya kredit pada sektor konstruksi sejalan dengan masih berlangsungnya proyek pembangunan infrastruktur pemerintah yang utamanya disalurkan untuk konstruksi gedung dan bangunan sipil seperti bangunan jalan raya, tol, jembatan, landasan, irigasi dan dermaga. Kredit sektor perdagangan besar dan eceran masih dalam tren perlambatan yang tumbuh 5,24% (yoy), lebih rendah dibanding tahun sebelumnya sebesar 6,15% (yoy). Faktor pendorong perlambatan kredit di sektor ini adalah melambatnya subsektor Perdagangan Eceran Tekstil dan Pakaian Jadi yang tumbuh 6,14% (yoy), melambat dibanding tahun sebelumnya sebesar 8,92% (yoy). Adapun kredit ke subsektor Perdagangan Besar Makanan, Minuman dan Tembakau tumbuh 21,74% (yoy), terakselerasi dibanding tahun sebelumnya yang turun 0,19% (yoy).
Sejalan dengan pertumbuhan PDB sektor industri pengolahan, kredit ke sektor ini tumbuh 5,42% (yoy), membaik dibanding tahun sebelumnya sebesar 2,86% (yoy).
Subsektor industri pengolahan yang mengalami akselerasi pertumbuhan adalah subsektor industri makanan dan minuman serta subsektor industri pengolahan tembakau yang tumbuh masing-masing sebesar 10,41% (yoy) dan 13,91% (yoy). Kenaikan subsektor makanan dan minuman sejalan dengan peningkatan permintaan menjelang natal dan tahun baru, sementara kenaikan pada industri tembakau terutama disebabkan adanya pembayaran cukai tembakau kepada pemerintah yang ditangguhkan paling lama 2 tahun dan dibayarkan di akhir tahun 2017.
Kredit sektor pertanian tumbuh 11,82% (yoy), meningkat dibanding tahun sebelumnya yang tumbuh 11,32% (yoy). Penyaluran kredit pertanian sebagian besar disalurkan pada subsektor pertanian buah-buahan termasuk perkebunan kelapa sawit sebesar Rp24 triliun atau tumbuh 10,86% (yoy).
Penurunan volume kredit ke sektor pertambangan masih berlanjut meskipun harga komoditas global mulai membaik. Kredit ke sektor ini turun 10,06% (yoy), terkontraksi lebih dalam dibandingkan triwulan IV-2016 yang turun 6,61% (yoy). Masih terkontraksinya sektor ini utamanya didorong oleh penurunan kredit pada subsektor pertambangan minyak dan gas bumi yang turun 20,40%(yoy).
Sementara itu, pertumbuhan kredit sektor rumah tangga tercatat sebesar 12,42% (yoy) atau jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 6,99% (yoy). Perbaikan tersebut utamanya dipengaruhi oleh meningkatnya kredit untuk kepemilikan rumah tinggal dan apartemen yang masing-masing tumbuh 11,10% (yoy) dan 19,49% (yoy). Selain itu, peningkatan kredit kepemilikan rumah juga turut mendorong pertumbuhan kredit pemilikan peralatan rumah tangga seperti kredit furniture yang tumbuh 22,02% (yoy) (Tabel 7 dan Grafik 13).
Grafik 13 Pertumbuhan Kredit berdasarkan Sektor Ekonomi
Sep '16 Des '16 Sep '17 Des '17
Lapangan Usaha
1 Pertanian, Perburuan dan Kehutanan 272,95 283,83 304,07 317,38 4,38% 11,32% 11,82% 6,70%
2 Perikanan 9,39 9,48 10,42 11,27 8,17% 7,18% 18,93% 0,24%
3 Pertambangan dan Penggalian 116,09 126,34 110,11 113,62 3,19% -6,61% -10,06% 2,40%
4 Industri Pengolahan 743,52 781,76 791,85 824,11 4,07% 2,86% 5,42% 17,39%
5 Listrik, gas dan air 121,52 135,46 130,10 146,13 12,32% 36,21% 7,88% 3,08%
6 Konstruksi 205,04 214,76 248,10 258,93 4,37% 24,18% 20,57% 5,47%
7 Perdagangan Besar dan Eceran 831,02 841,38 856,05 885,45 3,44% 6,17% 5,24% 18,69%
8 Penyediaan akomodasi dan PMM 92,39 93,39 95,86 97,89 2,11% 8,77% 4,81% 2,07%
9 Transportasi 168,31 171,80 174,53 182,63 4,64% -3,24% 6,31% 3,85%
10 Perantara Keuangan 176,86 193,95 208,69 214,19 2,63% 17,77% 10,44% 4,52%
11 Real Estate 200,84 210,00 215,65 221,92 2,91% 13,66% 5,68% 4,68%
12 Adminsitrasi Pemerintahan 14,54 14,70 23,00 21,82 -5,11% 13,85% 48,43% 0,46%
13 Jasa Pendidikan 8,48 8,55 9,53 10,10 6,03% 5,22% 18,14% 0,21%
14 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 16,18 16,97 17,64 19,09 8,23% -21,05% 12,53% 0,40%
15 Jasa Kemasyarakatan 56,89 58,71 62,17 72,38 16,42% 1,24% 23,29% 1,53%
16 Jasa Perorangan 2,58 2,64 2,65 2,74 3,69% -2,38% 3,80% 0,06%
17 Badan Internasional 0,10 0,23 0,16 0,16 -1,27% 109,54% -32,67% 0,00%
18 Kegiatan yang belum jelas batasannya 10,14 10,61 3,07 2,75 -10,38% -11,28% -74,07% 0,06%
Bukan Lapangan Usaha
19 Rumah Tangga 955 980 1.051 1.102 4,86% 6,99% 12,42% 23,26% 20 Bukan Lapangan Usaha Lainnya 210,09 222,31 228,98 233,32 1,90% 17,31% 4,95% 4,92%
4.212
4.377 4.544 4.738 4,28% 7,87% 8,24% 100%
No Sektor Ekonomi Kredit (Rp T) qtq
TW IV'17 yoy TW IV'17 Industri Porsi yoy TW IV '16 Tabel 7 Konsentrasi dan Pertumbuhan Kredit berdasarkan Sektor Ekonomi
Sumber: SPI Desember 2017
1.3.2 Penyaluran Kredit UMKM
Porsi kredit UMKM tercatat sebesar 18,64% dari total kredit perbankan. Porsi tersebut sudah melebihi target minimal 15% terhadap total kredit pada akhir tahun 2017 sebagaimana diatur dalam PBI No.14/22/PBI/2012 tentang Pemberian Kredit atau Pembiayaan oleh Bank Umum dan Bantuan Teknis Dalam Rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.
Hampir semua kelompok bank berdasarkan kepemilikan telah melampaui target minimal penyaluran kredit UMKM sebesar 15%, kecuali KCBA dan Bank Campuran yang masih di bawah 10%.
Berdasarkan sektor ekonomi, sebagian besar kredit UMKM terkonsentrasi pada sektor perdagangan besar dan eceran
(52,41%), diikuti oleh industri pengolahan (10,55%), serta pertanian, perburuan dan kehutanan (8,92%).
Kredit UMKM tumbuh 10,08% (yoy), meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 8,42% (yoy). Secara nominal, peningkatan kredit UMKM terbesar terdapat pada sektor perdagangan besar dan eceran (Rp30,2T) yang tumbuh 6,97% (yoy) sedangkan secara prosentase, pertumbuhan kredit UMKM tertinggi terdapat pada sektor listrik, gas, dan air yang tumbuh 43,00% (yoy). Kenaikan yang juga cukup signifikan adalah sektor pertanian yang tumbuh 17,48% (yoy) atau senilai Rp3,7T seiring dengan meningkatnya upaya pemerintah meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
Des '16 Sep '17 Des'17 Des '17 Sep '17 Des '17 Des '16 Des '17
Perdagangan besar dan eceran
Baki Debet 432.560 447.458 462.729 52,41% 0,91% 3,41% 9,28% 6,97%
NPL 16.555 18.895 17.498 3,78% -2,58% -7,39% 9,46% 5,70%
Industri pengolahan
Baki Debet 84.196 89.868 93.175 10,55% -0,03% 3,68% 10,03% 10,66%
NPL 3.177 3.278 3.122 3,35% -3,81% -4,76% 15,17% -1,74%
Pertanian, Perburuan dan Kehutanan
Baki Debet 67.014 74.983 78.731 8,92% 2,57% 5,00% 9,71% 17,48%
NPL 2.587 2.562 2.424 3,08% -4,86% -5,39% 2,68% -6,31%
Listrik, Gas, dan Air
Baki Debet 2.501 3.036 3.577 0,41% -17,99% 17,82% 20,30% 43,00%
NPL 72 168 168 4,70% 6,33% 0,00% -27,40% 134,79%
Lainnya
Baki Debet 215.842 230.949 244.770 27,72% 4,64% 5,98% 5,66% 13,40%
NPL 9.343 12.005 11.966 4,89% -0,47% -0,32% 0,57% 28,07%
Baki Debet UMKM 802.113 846.294 882.982 1,86% 4,34% 8,42% 10,08%
NPL UMKM 31.734 36.908 35.178 3,98% -2,14% -4,69% 6,52% 10,85%
Ket : Shaded area merupakan rasio NPL
Sektor Ekonomi Nominal (Rp M) Porsi Δ qtq Δ yoy
Secara triwulan, kredit UMKM tumbuh 4,34% (qtq) menjadi Rp883 triliun, meningkat dari pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 1,86% (qtq). Peningkatan tersebut sejalan dengan pertumbuhan tahunannya yang utamanya
dipengaruhi oleh meningkatnya kredit UMKM pada sektor listrik, gas, dan air yang tumbuh tertinggi sebesar 17,82% (qtq) serta besarnya peningkatan kredit UMKM pada sektor perdagangan besar dan eceran yang tumbuh 3,41% (qtq).
Tabel 8 Konsentrasi Penyaluran Kredit UMKM
Sumber: SPI Desember 2017
Secara spasial, kredit UMKM sebagian besar terpusat di wilayah Jawa yaitu 58,52%, dengan yang terbesar di provinsi DKI Jakarta (15,01%) diikuti Jawa Timur (13,88%), Jawa Barat (12,99%), dan Jawa Tengah (10,96%). Setelah wilayah Jawa, kredit UMKM ke dua terbesar berada di wilayah Sumatera (18,99%) dengan porsi terbesar di Sumatera Utara yaitu 5,62%.
Porsi penyebaran UMKM di wilayah Jawa dan Sumatera jauh berbeda bila dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian tengah dan timur (Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali, Maluku, dan Papua) yang hanya menikmati sebesar
22,49%. Masih rendahnya penyaluran kredit UMKM di wilayah Indonesia Bagian Timur dan Tengah dapat menjadi peluang bagi bank untuk meningkatkan pendampingan dan perluasan akses keuangan kepada masyarakat di remote area.
Grafik 14 Penyebaran Kredit UMKM berdasarkan Wilayah
Δ yoy Des '17 Des '17 Des '17
BUMN 495.186 56,08% 4,01% 10,84%
BUSN 310.222 35,13% 4,99% 10,64%
BPD 70.366 7,97% 5,90% 16,37%
KCBA dan Campuran 7.208 0,82% -13,01% -50,27%
Total UMKM 882.982 100% 4,34% 10,08% Δ qtq
Kelompok Bank Porsi
Baki Debet (RpM)
1 BRI 9.500 61.500 200 71.200 20 BPD Sumut 900 100 - 1.000 2 Bank Mandiri 8.990 4.000 10 13.000 21 BPD Sumatera Barat 200 100 - 300 3 BNI 11.500 300 200 12.000 22 BPD Sumsel Babel 80 20 - 100 4 BCA 35 65 - 100 23 BPD Jawa Barat dan Banten 700 300 - 1.000 5 Bank Bukopin 300 - - 300 24 BPD Kalimantan Selatan 100 50 150 6 Maybank Indonesia 200 - 50 250 25 BPD Riau Kepri 250 50 300 7 Bank Sinarmas 50 10 25 85 26 BPD Nusa Tenggara Barat 70 30 - 100 8 Bank Permata 10 - - 10 27 BPD Lampung 50 100 - 150 9 BTPN 105 195 - 300 28 BPD Papua 35 15 - 50 10 OCBC-NISP 10 - - 10 29 BPD Bengkulu 25 - - 25 11 Bank Artha Graha 500 2.200 300 3.000 30 BPD Kalimantan Tengah 16 9 - 25 12 BRI Syariah - 500 - 500 31 BPD Jambi 7 13 - 20 13 BRI Agroniaga 130 - - 130 32 BPD Jateng 500 100 - 600 14 Bank CTBC - - 300 300 33 BPD Sulawesi Tenggara 100 66 - 166 15 BPD Bali 369 14 - 383 TOTAL Bank 35.218 70.040 1.085 106.343 16 BPD Kalimantan Barat 75 75 - 150 17 BPD NTT 150 100 - 250 18 BPD DIY 200 100 - 300 19 BPD Sulselbar 61 28 - 89 Target Penyaluran (Rp M) Total Target Penyaluran (Rp M)
Ritel Mikro TKI Ritel Mikro TKI
Nama Bank No Nama Bank Target Penyaluran (Rp M) Total Target Penyaluran (Rp M) No
Berdasarkan kelompok bank, sebagian besar kredit UMKM disalurkan oleh BUMN (56,08%) dan diikuti oleh BUSN (35,13%). Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kredit UMKM BPD tumbuh tertinggi sebesar 16,37% (yoy), diikuti kredit UMKM BUMN dan BUSN. Di sisi lain, kredit UMKM kelompok KCBA dan Bank Campuran justru mengalami kontraksi akibat tingginya pelunasan di kedua kelompok bank ini.
Untuk mendorong perkembangan sektor UMKM, Pemerintah menyelenggarakan program KUR. Target penyaluran KUR tahun
2017 tercatat Rp106,34 triliun, dengan alokasi plafon terbesar diberikan kepada tiga Bank BUMN (90,46%), dengan rincian masing-masing: BRI (66,95%); Bank Mandiri (12,22%); dan BNI (11,28%).
Tabel 9 Porsi Kredit UMKM berdasarkan Kelompok Bank
Sumber: SPI Desember 2017
Tabel 10 Target Penyaluran KUR 2017
Sumber: Kementerian Koordinator Perekonomian Sampai dengan Desember 2017, penyaluran KUR melalui perbankan mencapai Rp96,78 triliun atau 91,00% dari target. Tidak tercapainya target penyaluran KUR dipengaruhi oleh: (i) beberapa bank yang belum menyalurkan KUR karena keterbatasan infrastruktur (sistem), misalnya belum memiliki sistem aplikasi yang terhubung dengan Sistem Informasi Kredit
Program (SIKP) di Kementerian Keuangan; dan (ii) keterbatasan debitur yang layak dibiayai melalui program KUR. Jumlah debitur KUR perbankan sampai dengan Desember 2017 sebanyak 4.086.487 debitur. Berdasarkan sektor ekonomi, KUR terbanyak disalurkan ke sektor Perdagangan Besar dan Eceran (57,78%) diikuti sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perburuan (23,96%).
Berdasarkan wilayah penyaluran, KUR terkonsentrasi di Pulau Jawa; utamanya di Jawa Tengah (17,47%), Jawa Timur (16,90%), dan Jawa Barat (12,88%).
Grafik 15 Penyebaran KUR berdasarkan Sektor Ekonomi
Sumber: Kemenko Perekonomian 1.4 Rentabilitas Bank Umum
Pada Desember 2017 laba tahun berjalan perbankan tumbuh sebesar 25,77% (yoy). Hal tersebut mengakibatkan ROA naik menjadi 2,38% dari 2,17% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun ROA tertinggi berada pada kelompok BUMN sebesar 2,98% sedangkan ROA terendah pada kelompok BUSN Non Devisa sebesar 1,46% (Tabel 11).
Perbaikan ROA utamanya ditopang tingkat efisiensi perbankan yang meningkat sejalan dengan penurunan BOPO sebesar 357 bps (yoy) menjadi 79,28%. Perbaikan efisiensi utamanya terdapat pada BUSN Non Devisa dengan penurunan rasio BOPO terbesar yaitu 601 bps. Sementara itu, rasio BOPO KCBA meningkat dan merupakan yang
terbesar yaitu 90,22%. Tingginya BOPO KCBA dipengaruhi oleh meningkatnya beban kerugian transaksi spot dan derivatif akibat pelemahan nilai rupiah.
1.5 Permodalan Bank Umum
Secara umum, permodalan Bank Umum lebih banyak ditopang oleh modal inti (78,99%) sedangkan modal pelengkap hanya sebesar 7,19%. Modal inti didominasi oleh modal inti utama (Common Equity Tier 1/CET 1)yang pada Desember 2017 tumbuh 13,77% (yoy). Peningkatan CET 1 utamanya ditunjang oleh meningkatnya laba sebesar 17,30% (yoy).
Secara total, dengan peningkatan modal inti, modal bank umum tumbuh 10,89% (yoy). Disisi lain, total ATMR industri perbankan tumbuh 9,48% (yoy). Dengan pertumbuhan modal yang lebih tinggi dibanding ATMR, CAR bank umum meningkat 30 bps (yoy) menjadi sebesar 23,01% (Tabel 12).
Berdasarkan kelompok bank, CAR tertinggi berada pada kelompok KCBA, yaitu 52,50%, jauh di atas CAR industri (23,01%). Tingginya CAR KCBA antara lain karena mendapat dukungan pendanaan setara modal dari
head office serta keharusan KCBA untuk
memiliki komponen permodalan berupa CEMA dalam Surat Berharga berkualitas tinggi dengan bobot risiko dalam ATMR cukup rendah.
Des-16 Des-17 Des-16 Des-17 Des-16 Des-17 Laba (yoy) -5,46% 22,45% 10,96% 28,73% 27,74% 141,57% ROA 2,77% 2,98% 1,57% 1,87% 0,75% 1,46% NIM 6,33% 5,95% 4,76% 4,44% 3,84% 4,38% BOPO 78,41% 72,58% 86,03% 81,87% 95,36% 89,35% CAR 21,05% 21,14% 20,27% 21,42% 24,38% 27,03%
Des-16 Des-17 Des-16 Des-17 Des-16 Des-17 Laba (yoy) 12,91% 7,06% 32,56% -4,70% 3,78% 21,35% ROA 2,57% 2,40% 2,78% 2,58% 2,17% 2,38% NIM 7,01% 6,30% 3,82% 3,68% 5,47% 5,15% BOPO 78,29% 78,63% 88,25% 90,22% 82,85% 79,28% CAR 21,79% 22,01% 54,03% 52,50% 22,69% 23,13% Industri BPD KCBA
BUMN BUSN Devisa BUSN Non Devisa
No Komponen Modal Des-16 Sep-17 Des-17 qtq yoy Porsi
1 Modal Inti 831,02 911,15 945,57 3,78% 13,79% 78,99% A Modal Inti Utama (CET 1) 828,57 909,74 942,66 3,62% 13,77% 78,74%
Modal disetor 166,47 181,81 185,78 2,19% 11,60% 15,52%
Cadangan Tambahan Modal 725,16 793,26 828,28 4,41% 14,22% 69,19%
Laba 486,05 541,68 570,13 5,25% 17,30% 47,63%
Laba/Rugi Tahun Lalu 387,20 448,21 445,82 -0,53% 15,14% 37,24%
Laba/Rugi Tahun Berjalan 98,84 93,47 124,31 33,00% 25,77% 10,38%
Dana Setoran Modal 9,18 3,33 6,02 81,05% -34,40% 0,50%
Cadangan Lainnya 229,94 248,25 252,12 1,56% 9,65% 21,06%
Faktor Pengurang 63,06 65,33 71,41 9,30% 13,23% 5,96% B Modal Inti Tambahan (AT 1) 2,45 1,41 2,92 106,77% 19,12% 0,24% 2 Modal Pelengkap (Tier 2) 81,32 82,20 86,06 4,70% 5,83% 7,19%
3 CEMA 167,24 171,41 165,48 -3,46% -1,05% 13,82% 4 TOTAL MODAL 1.163,951.079,58 1.197,12 2,85% 10,89% 100% 5 ATMR 4.753 5.058 5.204 2,88% 9,48% ATMR Kredit 4.065 4.279 4.413 3,15% 8,58% ATMR Operasional 647 725 726 0,13% 12,31% ATMR Pasar 45 57 67 17,49% 48,15% Rasio CAR 22,71% 23,01% 23,01% - 30
Tabel 11 Perbandingan Indikator Bank Umum Berdasarkan Kepemilikan
Sumber: SPI Desember 2017
Tabel 12 Komponen Permodalan Bank Umum
qtq qtq yoy yoy
Des Sep Des* Sep '17 Des '17 Des '16 Des '17
BUS dan UUS (Rp milyar)
Total Aset 356.504 395.093 424.181 4,47% 7,36% 20,33% 18,98%
Pembiayaan 248.007 271.576 285.695 2,36% 5,20% 16,44% 15,20%
Dana Pihak Ketiga 279.335 318.574 334.719 5,48% 5,07% 20,83% 19,83% - Giro Wadiah 27.972 38.206 40.045 6,22% 4,81% 31,99% 43,16% - Tabungan Mudharabah 85.188 90.470 98.449 4,06% 8,82% 24,08% 15,57% - Deposito Mudharabah 166.174 189.898 196.226 6,03% 3,33% 17,58% 18,08% BUS (%) CAR 16,63 16,16 17,91 -25 175 161 128 ROA 0,63 1,00 0,63 -10 -36 15 0,27 NOM 0,68 1,10 0,67 -13 -44 15 -1 BOPO 96,22 91,68 94,91 71 323 -79 -130 NPF gross 4,42 4,41 4,77 -6 35 -42 35 FDR 85,99 80,12 79,65 -257 -47 -205 -634
*Ket: data sementara
Indikator 2016 2017
2. Kinerja Bank Umum Syariah
Kinerja bank syariah pada triwulan IV-2017 secara umum cukup baik dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun terdapat moderasi intermediasi. Kondisi permodalan
masih solid didukung oleh peningkatan efisiensi, meskipun dibayangi peningkatan risiko kredit.
Tabel 13 Indikator Umum Bank Syariah
Sumber: Statistik Perbankan Syariah (SPS), Desember 2017 2.1 Aset BUS
Pada Desember 2017, pangsa aset bank syariah4 terhadap total aset industri
perbankan secara perlahan meningkat, yaitu sebesar 5,74% (Desember 2016=5,30%). Aset bank syariah masih didominasi oleh aset BUS sebesar 67,90%.
Aset bank syariah tumbuh 18,98% (yoy), melambat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 20,33% (yoy). Hal tersebut dipengaruhi oleh melambatnya DPK yang turut mempengaruhi perlambatan penyaluran pembiayaan.
Sementara itu, secara triwulanan aset bank syariah tumbuh 7,36% (qtq), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang
4 Sampai dengan Desember 2017, bank syariah terdiri
dari 13 BUS dan 21 UUS
tumbuh 4,47% (qtq). Peningkatan aset antara lain dipengaruhi oleh adanya injeksi modal beberapa bank syariah untuk pengembangan infrastruktur IT termasuk
digital banking.
Grafik 16 Tren Pertumbuhan Aset Perbankan Syariah
2.2 Sumber Dana BUS
Sumber dana perbankan syariah masih didominasi oleh DPK dengan komposisi 58,62% berupa deposito mudharabah, diikuti oleh tabungan mudharabah dan giro
wadiah masing-masing sebesar 29,41% dan
11,96%.
Pada Desember 2017, DPK bank syariah tumbuh 19,83% (yoy), sedikit melambat dibanding pertumbuhan tahun sebelumnya (20,83%, yoy), yang dipengaruhi oleh melambatnya Tabungan. Meskipun demikian, terdapat peningkatan signifikan pada Giro yang tumbuh 43,16% (Grafik 17).
Grafik 17 Pertumbuhan DPK Bank Syariah
Sumber: SPS Desember 2017 2.3 Penggunaan Dana BUS
Penggunaan dana perbankan syariah didominasi untuk tujuan pembiayaan. Pada Desember 2017, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 15,20% (yoy), sedikit melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh 16,44% (yoy).
Perlambatan antara lain dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi yang masih terbatas tercermin pada melambatnya penyaluran pembiayaan pada sektor perdagangan besar dan eceran serta rumah tangga. Meskipun demikian, penyaluran pembiayaan pada sektor rumah tangga masih yang terbesar dan tumbuh 19,05% (yoy). Hal ini juga mencerminkan bahwa sebagian besar pembiayaan syariah masih ditujukan untuk keperluan konsumsi dengan porsi sebesar 41,66% terhadap total pembiayaan.
Selain itu, pembiayaan untuk tujuan investasi mengalami perlambatan dari tahun sebelumnya tumbuh 16,16% (yoy) menjadi 11,34% (yoy). Hal ini antara lain tercermin pada terkontraksinya pembiayaan ke sektor
real estate sebesar -3,68% (yoy). Meskipun
demikian, pembiayaan pada sektor konstruksi serta sektor listrik, gas dan air tumbuh cukup baik masing-masing 53,78% (yoy) dan 36,06% (yoy).
Disisi lain, pembiayaan modal kerja tumbuh signifikan sebesar 14,27% (yoy) dari tahun sebelumnya hanya 9,27% (yoy). Peningkatan antara lain ditopang oleh meningkatnya pembiayaan ke sektor pertanian yang tumbuh 22,14% (yoy). Besarnya pembiayaan ke sektor perdagangan besar (8,31%, yoy) dan industri pengolahan (8,70%, yoy) juga turut berkontribusi terhadap pembiayaan modal kerja meskipun mengalami perlambatan.
2015 Des '16 Sep '17 Des '17 Sep '17 Des '17 Des '16 Des '17 Pertanian, Perburuan, Kehutanan 7.950 8.531 9.741 10.419 3,65 -1,08% 6,97% 7,31% 22,14%
Perikanan 1.198 1.405 1.370 1.462 0,51 1,50% 6,74% 17,32% 4,08%
Pertambangan dan Penggalian 6.145 6.604 7.012 6.864 2,40 -1,03% -2,11% 7,46% 3,95%
Industri Pengolahan 17.982 19.745 20.422 21.463 7,51 -0,66% 5,09% 9,80% 8,70%
Listrik, Gas dan Air 6.427 8.117 7.733 11.044 3,87 -1,57% 42,82% 26,31% 36,06%
Konstruksi 11.193 14.435 21.540 22.198 7,77 8,89% 3,05% 28,96% 53,78%
Perdagangan Besar dan Eceran 25.993 30.319 31.600 32.839 11,49 3,78% 3,92% 16,64% 8,31%
Akomodasi dan PMM 2.101 3.043 3.542 3.613 1,26 1,52% 1,99% 44,84% 18,73%
Transportasi, Pergudangan & Komunikasi 11.072 10.921 10.019 10.087 3,53 -9,15% 0,67% -1,36% -7,64%
Perantara Keuangan 19.184 18.948 19.564 19.583 6,85 0,92% 0,10% -1,23% 3,35%
Real Estate, Usaha Persewaan, & Jasa Perusahaan 9.365 12.797 12.045 12.326 4,31 3,32% 2,33% 36,64% -3,68%
Adm. Pmrnthn,Perthn&Jamsos 266 9 8 7 0,00 -9,66% -10,39% -96,60% -18,16%
Jasa Pendidikan 3.193 3.786 4.693 4.905 1,72 6,90% 4,53% 18,57% 29,58%
Jasa Kesehatan & Kesos 2.550 3.030 3.658 4.021 1,41 4,17% 9,92% 18,84% 32,70%
Kemasyarakatan, Sosbud & lainnya 4.600 4.617 4.880 4.973 1,74 -0,30% 1,91% 0,37% 7,72%
Jasa Perorangan yang melayani RT 274 337 330 331 0,12 -3,95% 0,54% 23,07% -1,77%
Badan Internasional & lainnya - - - - 0,00 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
Kegiatan yang belum jelas 2.147 760 575 538 0,19 -23,54% -6,34% -64,58% -29,20%
Rumah Tangga 77.040 97.597 110.233 116.186 40,67 3,78% 5,40% 26,68% 19,05%
Bukan lapangan usaha lainnya 4.318 3.005 2.610 2.835 0,99 -3,85% 8,61% -30,39% -5,67%
TOTAL 212.996 248.007 271.576 285.695 100 2,36% 5,20% 16,44% 15,20% yoy (%) Sektor Ekonomi Pembiayaan (Rp M) Porsi (%) qtq (%)
Des '16 Sep '17 Des '17 Sep '17 Des '17 Des '16 Des ' 17 Modal Kerja 87.363 95.375 99.825 34,94 2,86 4,67 9,27 14,27 Investasi 60.042 63.358 66.848 23,40 -0,48 5,51 16,16 11,34 Konsumsi 100.602 112.844 119.021 41,66 3,59 5,47 23,66 18,31 Total 248.007 271.576 285.695 100 2,36 5,20 16,44 15,20 yoy (%) Porsi (%) Nilai (Rp. Miliar) qtq (%) JENIS PENGGUNAAN
Tabel 14 Pembiayaan Bank Syariah berdasarkan Sektor Ekonomi
Sumber: SPS Desember 2017
Tabel 15 Pembiayaan Bank Syariah berdasarkan Penggunaan
Sumber: SPS, Desember 2017
Ditengah perlambatan pembiayaan, rasio NPF gross BUS tercatat sebesar 4,77%, sedikit naik dari tahun sebelumnya sebesar 4,42%.
Secara spasial, sebagian besar pembiayaan masih terpusat di wilayah Jawa sebesar 72,45%, khususnya DKI Jakarta (43,12%), Jawa Barat (11,09%), Jawa Timur (8,52%), dan Jawa Tengah (5,92%). Besarnya dominasi pembiayaan antara lain dipengaruhi kondisi infrastruktur serta akses keuangan yang lebih baik di pulau Jawa dibandingkan di wilayah lainnya terutama Bagian Timur Indonesia. Besarnya pembiayaan yang terpusat di wilayah Jawa
didukung pula dengan sebaran jaringan kantor BUS dan UUS yang masih terkonsentrasi di wilayah Jawa.
Grafik 18 Pembiayaan Bank Syariah berdasarkan Lokasi Bank Penyalur
qtq qtq yoy yoy Des Sept Des Sep '17 Des '17 Des '16 Des '17 Total Aset (Rp milyar) 113.501 121.583 125.945 4,24% 3,59% 11,59% 10,96% Kredit (Rp milyar) 81.684 87.938 89.482 0,63% 1,76% 9,19% 9,55% Dana Pihak Ketiga (Rp milyar) 75.725 81.597 84.861 4,81% 4,00% 12,58% 12,06%
- Tabungan (Rp milyar) 23.748 24.892 26.723 6,43% 7,36% 13,31% 12,53% - Deposito (Rp milyar) 51.977 56.705 58.137 4,11% 2,53% 12,24% 11,85% NPL Gross (%) 5,83 7,00 6,15 7 (85) 46 32 NPL Net (%) 4,20 5,17 4,52 58 (65) 86 32 ROA (%) 2,59 2,56 2,55 (5) (1) (12) (4) LDR (%) 76,24 76,59 75,36 (244) (123) (157) (88) CR (%) 19,01 17,14 19,86 204 273 (13) 85 BOPO (%) 81,19 81,07 80,50 (32) (57) (40) (69) CAR (%) 22,77 22,69 22,95 20 26 84 18 Rasio 2016 2017 2.4 Rentabilitas BUS
Rentabilitas BUS stabil dibandingkan tahun sebelumnya dengan rasio ROA sebesar 0,63%. Hal tersebut dipengaruhi oleh terbatasnya peningkatan laba tahun berjalan yang hanya tumbuh 3,66% (yoy). Terbatasnya laba tersebut dipengaruhi oleh perlambatan pembiayaan serta meningkatnya CKPN pada beberapa bank untuk mengantisipasi kenaikan risiko pembiayaan (NPF).
Grafik 19 Laba dan ROA BUS
Sumber: SPS Desember 2017
Selain itu, meningkatnya rentabilitas juga ditopang oleh peningkatan efisiensi yang tercermin pada penurunan rasio BOPO sebesar 130 bps (yoy) menjadi 94,91%.
2.5 Permodalan BUS
Permodalan BUS didominasi oleh modal inti sebesar 87,44% dan modal pelengkap sebesar 12,56%. Pada Desember 2017, modal BUS tumbuh 14,60% (yoy) yang utamanya ditopang oleh peningkatan modal inti sebesar 19,43% (yoy).
Peningkatan modal inti utamanya dipengaruhi oleh meningkatnya modal disetor dan laba BUS yang masing-masing tumbuh 10,72% (yoy) dan 20,46% (yoy). Sementara itu, modal pelengkap sedikit terkontraksi sebesar 10,58% (yoy).
Di sisi penyebut, ATMR BUS tumbuh 6,36% (yoy), atau lebih rendah dari pertumbuhan modal. Dengan kenaikan modal yang lebih besar dari ATMR, CAR BUS pada Desember 2017 naik menjadi 17,91% dari tahun sebelumnya 16,63%.
3. Kinerja BPR Konvensional (BPR)
Kondisi BPR pada triwulan IV-2017 cukup baik dengan pertumbuhan kredit yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Ketahanan BPR relatif cukup solid didukung dengan perbaikan tingkat efisiensi, meskipun masih dibayangi dengan peningkatan risiko kredit.
Tabel 16 Indikator Umum BPR Konvensional
3.1 Aset BPR
Dalam satu tahun terakhir, aset BPR tumbuh 10,96% (yoy), sedikit melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh 11,59% (yoy). Perlambatan pertumbuhan aset BPR tersebut antara lain dipengaruhi oleh pertumbuhan DPK yang tidak sekuat tahun sebelumnya.
Grafik 20 Perkembangan Aset BPRK
Sumber: SPI, Desember 2017
Berdasarkan sebaran, aset BPR lebih banyak di Pulau Jawa (56,85%) dengan Jawa Tengah dan Jawa Barat menjadi yang terbesar masing-masing dengan porsi 22,49% dan 14,30%. Dilihat dari pertumbuhannya, pertumbuhan aset BPR tertinggi berada di wilayah Banten sebesar 34,93% (yoy), meskipun dengan porsi yang rendah, yakni 2,82% dari total aset BPR. Sementara dilihat dari nominalnya, peningkatan aset tertinggi terdapat di wilayah Jawa Tengah sejalan dengan besarnya penyaluran kredit di wilayah tersebut.
3.2 Sumber Dana BPR
Komposisi sumber dana BPR masih didominasi oleh DPK dengan porsi 81,70%, diikuti pinjaman yang diterima (13,30%), antar bank pasiva (4,25%), dan kewajiban segera (0,75%).
DPK BPR tumbuh 12,06% (yoy), sedikit melambat dibanding tahun sebelumnya yang tumbuh 12,58% (yoy). Hal tersebut terlihat pada pertumbuhan deposito dan tabungan yang belum sekuat tahun sebelumnya masing-masing sebesar 11,85% (yoy) (Des-16=12,24%, yoy) dan 12,53% (yoy) (Des-16=13,31%, yoy) (Grafik 21). Dilihat dari porsinya, deposito masih merupakan komponen DPK terbesar dengan porsi 68,51%.
Searah dengan aset, DPK BPR juga terkonsentrasi di Jawa (59,99%), diikuti oleh Sumatera (18,82%), Bali-Nusa Tenggara (12,74%), Sulampua (6,22%), dan Kalimantan (2,24%). Peningkatan DPK BPR terbesar terdapat di provinsi Jawa Tengah dan Bali yang masing-masing tumbuh 12,99% (yoy) dan 16,27% (yoy).
Grafik 21 Perkembangan DPK BPR