PROVINSI SUMATERA UTARA
TRIWULAN IV-2013
KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX
2014
ii
KATA PENGANTAR
Buku Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sumatera Utara merupakan terbitan rutin triwulanan yang berisi analisis perkembangan ekonomi dan perbankan di Provinsi Sumatera Utara. Pada periode ini mengulas dinamika ekonomi di Sumut pada Triwulan IV-2013 yang tercermin dari perkembangan makroekonomi regional, inflasi, perbankan dan sistem pembayaran, keuangan daerah, ketenagakerjaan dan kesejahteraan, serta prospek ekonomi Sumut ke depan. Analisis dilakukan berdasarkan data laporan bulanan bank umum dan BPR, data statistik dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara, data dari instansi/lembaga terkait lainnya serta informasi dari para pelaku ekonomi utama di Sumatera Utara.
Secara umum, kondisi perekonomian Sumut pada triwulan IV-2013 kembali melambat pada level 5,83% (yoy). Dari sisi permintaan, perlambatan ekonomi disebabkan adanya perlambatan pada pertumbuhan konsumsi serta investasi, sementara di sisi penawaran, disebabkan adanya perlambatan pertumbuhan pada sektor primer dan tersier. Perlambatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan juga turut disebabkan oleh tekanan inflasi yang kembali meningkat dari triwulan sebelumnya yaitu meningkat signifikan dari 9,35% menjadi 10,18% (yoy). Capaian inflasi Provinsi Sumatera Utara pada triwulan laporan tersebut juga jauh melampaui inflasi nasional sebesar 8,38% (yoy), bahkan menjadi provinsi dengan tingkat inflasi tertinggi kedua nasional setelah Sumatera Barat. Sementara itu, di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi, kredit perbankan di Sumatera Utara pada triwulan IV-2013 meskipun tumbuh melambat dibandingkan periode yang sama tahun 2012 yang mencapai 23,49% (yoy), masih tumbuh cukup positif dilevel 18,56% (yoy).
Perekonomian Sumatera Utara pada triwulan I-2014 kami perkirakan akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2013, dipengaruhi oleh optimisme pada konsumsi terutama sebagai akibat perayaan imlek yang terjadi pada awal tahun dan mulai terasanya aktivitas persiapan pemilu. Sementara itu dari sisi sektoral, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) dan sektor Angkutan dan Komunikasi diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada triwulan 2014. Sementara di sisi lain, inflasi pada triwulan I-2014 diperkirakan akan mulai mereda di kisaran 9,0 9,4%. Penurunan inflasi diperkirakan bersumber dari membaiknya pasokan pangan dan distribusi. Namun, beberapa upward risk seperti krisis energi baik listrik dan gas, kenaikan harga gas elpiji, rencana pengurangan subsidi listrik, gangguan produksi dan distribusi bahan makanan terkait erupsi Gunung Sinabung dan cuaca ekstrem perlu mendapat perhatian lebih.
Pada kesempatan ini kami juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah menyediakan data dan informasi yang diperlukan dalam penulisan buku ini. Kami menyadari bahwa cakupan serta kualitas data dan informasi yang disajikan dalam buku ini masih perlu terus disempurnakan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran membangun dari semua pihak yang berkepentingan dengan buku ini, serta mengharapkan kiranya kerjasama yang sangat baik dengan berbagai pihak selama ini dapat terus ditingkatkan di masa yang akan datang.
Akhir kata, kami berharap semoga buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Medan, Februari 2014
KEPALA KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA
WILAYAH IX (SUMATERA UTARA DAN ACEH)
Hari Utomo
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GRAFIK ... vii
RINGKASAN UMUM ... xi
BAB 1 EKONOMI MAKRO REGIONAL ... 16
1.1. Kondisi Umum ... 16
1.2. Analisis Sisi Permintaan ... 17
1.2.1 Konsumsi ... 19
1.2.2 Investasi ... 21
1.2.3 Ekspor dan Impor ... 23
1.3. Analisis Sisi Penawaran ... 28
1.3.1 Sektor Pertanian... 29
1.3.2 Sektor Industri Pengolahan ... 32
1.3.3 Sektor Perdagangan, Hotel, Dan Restoran ... 33
1.3.4 Sektor Keuangan, Persewaan, Dan Jasa Perusahaan ... 35
1.3.5 Sektor Bangunan ... 35
1.3.6 Sektor Pengangkutan Dan Komunikasi ... 36
BAB 2 INFLASI ... 38
2.1 Kondisi Umum ... 38
2.2 Analisis Perkembangan Inflasi... 39
2.2.1 Inflasi Menurut Kelompok Barang dan Jasa ... 39
2.2.2 Inflasi Menurut Kota ... 48
iv
2.3.1 Inflasi Inti (Core Inflation) ... 50
2.3.2 Inflasi Volatile Food ... 50
2.3.3 Inflasi Administered Prices ... 51
BOX 1 SiHarapanKu, Terobosan Layanan Informasi Harga dan Produksi dalam Mengendalikan Inflasi Sumatera Utara ... 52
BAB 3 PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN ... 54
3.1. Kondisi Umum ... 54
3.2. Intermediasi Perbankan ... 55
3.2.1 Penghimpunan Dana Masyarakat ... 56
3.2.2 Penyaluran Kredit Perbankan ... 57
3.2.3 Penyaluran Kredit UMKM ... 60
3.3. Stabilitas Perbankan ... 62
3.4. Perbankan Syariah ... 62
3.5. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) ... 63
3.6. Kinerja Sistem Pembayaran Non Tunai ... 64
3.6.1 Kegiatan Transaksi BI-RTGS Perbankan Sumatera Utara ... 64
3.6.2 Kegiatan Transaksi Kliring ... 65
3.7. Kinerja Sistem Pembayaran Tunai ... 66
BOX 2 Dampak Erupsi Gunung Sinabung... 68
BOX 3 Pelayanan Penukaran Uang Pecahan Kecil dengan Kartu (Card to Cash) di Kota Medan ... 68
BAB 4 KEUANGAN PEMERINTAH ... 73
4.1. Realisasi Belanja Pemerintah ... 73
4.2. Rekening Pemerintah di Bank ... 75
4.3. APBD Sumatera Utara Tahun 2014 ... 76
BAB 5 KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN ... 78
v
5.2. Kesejahteraan ... 79
5.2.1. Profil Kemiskinan Sumatera Utara ... 79
5.2.2. Tingkat Penghasilan Masyarakat ... 82
5.2.3. Nilai Tukar Petani ... 82
BAB 6 PROSPEK PEREKONOMIAN ... 84
6.1 Perkiraan Ekonomi ... 84
6.2 Perkiraan Inflasi ... 87
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1. 1 Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Sumut dari Sisi Permintaan... 17
Tabel 1. 2 Realisasi Investasi PMA dan PMDN di Provinsi Sumatera Utara... 22
Tabel 1. 3 Perkembangan Nilai Ekspor Provinsi Sumut ... 24
Tabel 1. 4 Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Sumut dari Sisi Penawaran ... 29
Tabel 1. 5 Perkembangan Produksi Padi/Palawija ... 31
Tabel 2.1 Inflasi Triwulanan di Sumut Menurut Kelompok Barang & Jasa (% qtq) ... 39
Tabel 2. 2 Inflasi Tahunan di Sumut Menurut Kelompok Barang & Jasa (%) ... 39
Tabel 2. 3 Inflasi Triwulanan 4 Kota di Sumatera Utara (%, yoy) ... 48
Tabel 2. 4 Inflasi Triwulanan di Sumut Menurut Kota (%) ... 48
Tabel 2. 5 Inflasi Tahunan Empat Kota di Sumut (%, yoy) ... 49
Tabel 2. 6 Inflasi Tahunan di Sumut Menurut Kota dan Kelompok Barang & Jasa (%,yoy) .... 49
Tabel 3. 1 Indikator Utama Perbankan Sumut... 55
Tabel 3. 2 Perkembangan Penyaluran Kredit Sumut per Sektor Ekonomi ... 60
Tabel 3. 3 Indikator Utama BPR Sumut ... 64
Tabel 3. 4 Transaksi BI-RTGS Perbankan Sumatera Utara... 65
Tabel 3. 5 Transaksi Kliring Perbankan Sumatera Utara ... 65
Tabel 3. 6 Perkembangan temuan uang rupiah tidak asli ... 67
Tabel 4. 1 Perkembangan APBD Tahun 2012 s.d 2014 ... 77
Tabel 5. 1 Perkembangan UMP di Kawasan Sumatera SumateraSumatera ... 78
Tabel 5. 2 Garis Kemiskinan Sumatera Utara Tahun 2004-2011 (Rp/ Kapita/ Bulan) ... 81
vii
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1. 1 Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Sumut... 16
Grafik 1. 2 Struktur Perekonomian Sumut ... 16
Grafik 1. 3 Bobot terhadap Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Utara Triwulan IV-2013 ... 18
Grafik 1. 4 Pertumbuhan PDRB Sektor Konsumsi Sumut ... 19
Grafik 1. 5 Perkembangan Nilai Penjualan berdasarkan Survei Penjualan Eceran (SPE) ... 19
Grafik 1. 6 Perkembangan Survei Konsumen Provinsi Sumut ... 20
Grafik 1. 7 Perkembangan Kredit Konsumsi Sumut... 20
Grafik 1. 8 Perkembangan Indeks NTPR Provinsi Sumut ... 21
Grafik 1. 9 Perkembangan Rekening Pemerintah ... 21
Grafik 1. 10 Pertumbuhan PDRB Sektor Investasi Sumut ... 22
Grafik 1. 11 Perkembangan Kredit Investasi Sumut... 22
Grafik 1. 12 Perkembangan Penjualan Semen Sumut ... 23
Grafik 1. 13 Nilai Penjualan Barang Konstruksi berdasarkan Survei penjualan eceran Sumut 23 Grafik 1. 14 Pertumbuhan PDRB Aktivitas Perdagangan Luar Negeri Sumut ... 24
Grafik 1. 15 Perkembangan Nilai Ekspor Sumut ... 24
Grafik 1. 16 Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Utama Sumut ... 25
Grafik 1. 17 Perkembangan Volume Ekspor Komoditas Utama Sumut... 25
Grafik 1. 18 Perkembangan Aktivitas Bongkar Muat di Pelabuhan Belawan Sumut ... 26
Grafik 1. 19 Negara Tujuan Ekspor Sumut ... 26
Grafik 1. 20 Perkembangan Nilai Impor Sumut ... 27
Grafik 1. 21 Pertumbuhan Volume Impor Sumut per Kategori Barang (%) ... 27
Grafik 1. 22 Persentase Nilai Impor Sumut per Kategori Barang ... 27
viii
Grafik 1. 24 Pertumbuhan PDRB Sektor Pertanian dan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU)Sumut... 30
Grafik 1. 25 Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) Sumut ... 30
Grafik 1. 26 Perkembangan Kredit Sektor Pertanian Sumut ... 32
Grafik 1. 27 Perkembangan Kredit Sektor Industri Pengolahan Sumut ... 33
Grafik 1. 28 Pertumbuhan PDRB Sektor Industri Pengolahan dan SKDU Sumut ... 33
Grafik 1. 29 Perkembangan Kredit Sektor PHR Sumut ... 34
Grafik 1. 30 Pertumbuhan PDRB Sektor PHR dan SKDU Sumut ... 34
Grafik 1. 31 Perkembangan Tingkat Hunian Hotel Sumut ... 34
Grafik 1. 32 Perkembangan NTB Perbankan di Provinsi Sumut ... 35
Grafik 1. 33 Perkembangan Kredit Sektor Konstruksi Sumut ... 36
Grafik 1. 34 Nilai Penjualan Barang Konstruksi berdasarkan Survei penjualan eceran Sumut 36 Grafik 1. 35 Perkembangan Kredit Sektor Pengangkutan Sumut ... 37
Grafik 1. 36 Perkembangan Jumlah Penumpang Angkutan Laut dan Udara Sumut ... 37
Grafik 2. 1 Disagregasi Inflasi Sumut dan Nasional ... 38
Grafik 2. 2 Inflasi Provinsi Desember 2013 ... 38
Grafik 2. 3 Inflasi Triwulanan Kelompok Bahan Makanan di Sumut ... 40
Grafik 2. 4 Inflasi Tahunan Kelompok Bahan Makanan ... 40
Grafik 2. 5 Perkembangan Cabe Merah ... 41
Grafik 2. 6 Perkembangan Harga Sayur-sayuran ... 42
Grafik 2. 7 Perkembangan Bawang Merah dan Bawang Putih ... 42
Grafik 2.8 Inflasi Triwulanan Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau di Sumut... 43
Grafik 2.9 Inflasi Tahunan Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau di Sumut ... 43
Grafik 2.10 Inflasi Triwulanan Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar di Sumut ... 44
ix
Grafik 2.11 Inflasi Tahunan Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar di Sumut 44Grafik 2.12 Inflasi Triwulanan ... 45
Grafik 2.13 Inflasi Tahunan Kelompok Sandang di Sumut ... 45
Grafik 2.14 Pergerakan Harga Emas Perhiasan Triwulan IV-2013... 45
Grafik 2.15 Pergerakan Harga Emas Dunia Triwulan IV-2013 ... 45
Grafik 2.16 Inflasi Triwulanan Kelompok Kesehatan di Sumut ... 46
Grafik 2.17 Inflasi Tahunan Kelompok Kesehatan di Sumut ... 46
Grafik 2.18 Inflasi Triwulanan Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olahraga di Sumut... 47
Grafik 2.19 Inflasi Tahunan Kelompok Pendidikan, Rekreasi & Olahraga di Sumut ... 47
Grafik 2.20 Inflasi Triwulanan Kelompok Transportasi, Komunikasi & Jasa Keuangan di Sumut ... 48
Grafik 2.21 Inflasi Tahunan Kelompok Transportasi, Komunikasi & Jasa Keuangan di Sumut 48 Grafik 2.22 Disagregasi Inflasi Sumut ... 50
Grafik 3. 1 Perkembangan DPK Sumut ... 57
Grafik 3. 2 Struktur DPK Sumut ... 57
Grafik 3. 3 Perkembangan Suku Bunga Dana Pihak Ketiga (DPK) Sumut ... 57
Grafik 3. 4 Perkembangan Penyaluran Kredit Sumut... 58
Grafik 3. 5 Pangsa Kredit Sumut per Jenis Penggunaan ... 58
Grafik 3. 6 Perkembangan Suku Bunga, BI Rate, dan Kredit Sumut ... 59
Grafik 3. 7 Perkembangan Undisbursed Loan Perbankan Sumut ... 59
Grafik 3. 8 Perkembangan Kredit UMKM Sumut ... 61
Grafik 3. 9 Pangsa Kredit UMKM Sumut ... 61
Grafik 3. 10 Perkembangan Penyaluran KUR Sumut ... 61
Grafik 3. 11 Perkembangan Debitur KUR Sumut ... 61
Grafik 3. 12 Perkembangan NPL Perbankan Sumut... 62
x
Grafik 3. 14 Non Performing Financing (NPF) Perbankan Syariah ... 63
Grafik 3. 15 Perkembangan NPL BPR Sumut ... 64
Grafik 3. 16 Perkembangan Aliran Uang Kartal melalui Bank Indonesia di Provinsi Sumatera Utara ... 66
Grafik 3. 17 Perkembangan Jumlah Uang Tidak Layak Edar di Sumatera Utara ... 66
Grafik 4. 1 Estimasi Realisasi Belanja Daerah secara Agregat Nasional Tahun 2013 ... 73
Grafik 4. 2 Estimasi Realisasi Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Sumut tahun 2013 ... 74
Grafik 4. 3 Estimasi Realisasi Belanja Daerah Pemerintah Provinsi tahun 2013... 75
Grafik 4. 4 Realisasi Belanja Modal dan Estimasi Belanja Modal Tahun 2013 ... 75
Grafik 4. 4 Posisi Rekening Pemerintah Daerah ... 76
Grafik 5. 1 Persentase Penduduk Miskin Sumatera Utara ... 80
Grafik 5. 2 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Sumatera Utara menurut Daerah ... 80
Grafik 5. 3 Indeks Penghasilan dan Indeks Ekspektasi Penghasilan ... 82
Grafik 5. 4 Nilai Tukar Petani ... 83
Grafik 6. 1 Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) ... 84
Grafik 6. 2 Perkembangan Penyaluran Semen di Sumatera Utara ... 85
Grafik 6. 3 Komponen IKK Survei Konsumen... 86
xi
RINGKASAN UMUM
Perekonomian Sumut pada triwulan IV-2013 tumbuh GAMBARAN UMUMPada triwulan IV-2013, ekonomi Sumatera Utara tumbuh sebesar 5,83% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan III-2013. Namun demikian, perekonomian Sumut pada triwulan ini masih di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,72% (yoy). Realisasi pertumbuhan ini sedikit di bawah proyeksi sebelumnya sebesar 5,9% 6,2% (yoy).
Inflasi Provinsi Sumatera Utara pada triwulan IV-2013 tercatat sebesar 4,27% (qtq) atau 10,18%(yoy), jauh di atas inflasi Nasional yang hanya sebesar 8,38% (yoy) dan berada pada urutan kedua angka inflasi tertinggi secara nasional. Laju inflasi pada triwulan IV-2013 tersebut sedikit lebih tinggi dari kisaran proyeksi sebelumnya sebesar 9,7%-10,1 (yoy).
Ditengah perlambatan ekonomi dan tingginya tekanan inflasi, kinerja perbankan Sumatera Utara sampai dengan triwulan IV-2013 secara umum masih tumbuh cukup baik dan pada level yang terjaga. Hal ini tercermin dari rasio Non Performing Loans yang menurun dari 2,29% di triwulan III-2013 menjadi 2,12% di triwulan IV-2013, ditengah pertumbuhan kredit yang masih tumbuh dari 18,41% (yoy) di triwulan sebelumnya menjadi 18,56% (yoy).
Kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara menunjukkan
peningkatan, yang tercermin dari penurunan jumlah penduduk miskin dan NTP yang meningkat. Ke depan, perlu diambil kebijakan yang terstruktur untuk meminimalkan dampak negatif kenaikan UMP dan yang bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Utara pada tahun 2014 meningkat sebesar 9,52% dibandingkan UMP Sumatera Utara tahun 2013, yaitu dari Rp1.375.000 menjadi sebesar Rp1.505.850. Kenaikan UMP Sumatera Utara ini lebih kecil dibandingkan kenaikan UMP Sumatera Utara pada tahun sebelumnya yang mencapai 14,58% dan rata-rata kenaikan UMP di kawasan Sumatera yang mencapai 19,08%. Kenaikan UMP akan berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi Sumatera Utara tahun 2014, karena untuk menjaga margin keuntungan, pelaku usaha umumnya cenderung memilih untuk melakukan penyesuaian harga dibanding efisiensi.
Mencermati perkembangan beberapa indikator ekonomi, pada triwulan I-2014 mendatang pertumbuhan ekonomi Sumut diperkirakan tetap berada dalam lintasan yang meningkat, bersumber dari permintaan domestik yang tetap kuat. Sementara itu, laju inflasi tahunan triwulan I-2014 mendatang diperkirakan berada pada kisaran 9,0%-9,4%(yoy).
ASSESMEN MAKRO EKONOMI REGIONAL
Pada triwulan IV-2013, ekonomi Sumatera Utara tumbuh sebesar 5,83% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan III-2013. Dari sisi permintaan, perlambatan ekonomi disebabkan adanya perlambatan pada pertumbuhan konsumsi serta investasi. Perlambatan yang terjadi pada
xii
melambat 5,83% (yoy). Tekanan inflasi Sumut pada triwulan IV-2013 menunjukkan peningkatan, dan berada jauh di atas inflasi Nasional. Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi, industri perbankan Sumatera Utara pada triwulan IV-2013 secara umum masih tumbuh cukup baik.konsumsi di triwulan laporan tidak hanya terjadi pada konsumsi rumah tangga, namun juga pada konsumsi pemerintah. Perlambatan pertumbuhan pada konsumsi rumah tangga diperkirakan karena faktor keraguan masyarakat dan preferensi masyarakat untuk menahan dalam melakukan konsumsi sebagai akibat tekanan harga yang tercermin dari tingkat inflasi yang cukup tinggi. sementara di sisi penawaran, disebabkan adanya perlambatan pertumbuhan pada sektor primer dan tersier.
ASSESMEN INFLASI
Inflasi Provinsi Sumatera Utara pada triwulan IV-2013 tercatat sebesar 4,27% (qtq) atau 10,18%(yoy). Realisasi inflasi Sumut pada periode laporan jauh di atas inflasi Nasional yang hanya sebesar 8,38% (yoy) dan berada pada urutan kedua angka inflasi tertinggi secara nasional dan hanya berada sedikit dibawah dari capaian inflasi Sumatera Barat sebesar 10,87% (yoy).
Secara umum, pergerakan inflasi inti pada triwulan IV-2013 relatif stabil dengan komoditas yang menjadi perhatian utama adalah emas perhiasan yang pada triwulan ini harganya cenderung menurun. Sementara itu, Inflasi kelompok Volatile food selama triwulan IV-2013 relatif tinggi tercermin dari perkembangan inflasi pada kelompok ini yang setiap bulannya di triwulan IV-2013 selalu berada diatas kisaran 12% (Oktober 2013 sebesar 12,7% (yoy), November 2013 sebesar 15,3% (yoy), dan Desember sebesar 13,1% (yoy)). Penyumbang inflasi utama pada kelompok ini selama triwulan IV-2013 berasal dari sub kelompok bumbu-bumbuan, terutama dari komoditas bawang merah dan cabai merah terkait kurangnya pasokan. Inflasi pada kelompok administered
prices disepanjang triwulan IV-2013 cukup tinggi, khususnya pada
Oktober 2013 sebesar 18,8% (yoy), Nopember 2013 sebesar 19,2% dan Desember 2013 sebesar 18,8% Komoditas utama yang menjadi penyumbang inflasi pada kelompok administered prices adalah kenaikan tarif listrik, bahan bakar rumah tangga dan angkutan udara menyusul penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
ASSESMEN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN
Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi, industri perbankan Sumatera Utara pada triwulan IV-2013 secara umum masih tumbuh cukup baik. Hal ini terlihat dari pertumbuhan beberapa indikator utama kinerja perbankan di Sumatera Utara yang masih cukup baik seperti total aset, dana pihak ketiga (DPK), dan kredit yang masih tumbuh masing-masing sebesar 15,79% (yoy), 11,45% (yoy), dan 18,56% (yoy). Total aset perbankan di Provinsi Sumatera Utara pada triwulan IV-2013 mencapai Rp214,97 triliun, meningkat sebesar 5,69% (qtq) atau 15,79% (yoy). Namun, pertumbuhan aset perbankan tersebut melambat dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2012 yang mencapai 15,99% (yoy).
Posisi penghimpunan dana oleh Perbankan berupa Dana Pihak Ketiga (DPK) pada triwulan IV-2013 tercatat sebesar Rp155,88 triliun, tumbuh 4,88% (qtq) atau 11,45% (yoy). Sementara itu, penyaluran kredit di Provinsi Sumatera Utara pada triwulan IV-2013 meningkat sebesar 6,44% (qtq) atau 18,56% (yoy), tumbuh lebih pesat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 4,47% (qtq) atau
xiii
APBD 2013 Provinsi Sumut diperkirakan masih akan dibawah pagu anggaran. Kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara menunjukkan peningkatan, yang tercermin dari penurunan persentase 18,41% (yoy).Pertumbuhan kredit perbankan yang jauh lebih tinggi dari DPK yang dihimpun Perbankan menyebabkan Loan to Deposit Ratio cukup besar (diatas 100%). Sementara itu, kualitas kredit yang disalurkan pada triwulan laporan juga masih dapat dijaga dan berada jauh dibawah level indikatif 5%.
Transaksi perbankan di Provinsi Sumatera Utara melalui Bank
Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) pada triwulan IV-2013 baik
secara nominal maupun volume mengalami peningkatan. Demikian pula dengan perputaran kliring perbankan di Provinsi Sumatera Utara, pada triwulan IV-2013 juga mengalami peningkatan secara nominal yaitu sebesar 1,13% (qtq).
Sementara itu, perkembangan aliran uang kartal di Sumatera Utara pada triwulan IV-2013 mengalami net inflow Rp291,07 miliar, berbeda dengan kondisi pada triwulan III-2013 yang mengalami net
outflow sebesar Rp 281,19 miliar. Kondisi ini disebabkan oleh aliran
setoran masyarakat kepada perbankan setelah mengalami penarikan pada triwulan III-2013 yang bersamaan dengan perayaan Idul Fitri. Sementara itu, jumlah uang kartal yang tidak layak edar sehingga harus dimusnahkan tercatat sebesar Rp1,02 triliun atau sebesar 22,50% dari jumlah inflow.
ASSESMEN KEUANGAN DAERAH
Penyerapan belanja daerah Provinsi Sumatera Utara terus mengalami peningkatan kinerja. Hal ini tercermin dari realisasi penyerapan belanja terhadap APBD yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Namun, pencapaian APBD 2013 diperkirakan masih akan berada dibawah pagu anggaran sebagaimana dengan hasil estimasi penyerapan belanja daerah APBD Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tahun 2013 yang dilakukan oleh Direktorat Evaluasi Pendanaan dan Informasi Keuangan Daerah, DJPK - Kementerian Keuangan. Provinsi Sumatera Utara diperkirakan termasuk kedalam 13 Provinsi dengan pencapaian di atas 92,5% APBD. Namun, estimasi penyerapan tahun ini relatif berbeda dengan realisasi tahun 2012 sebesar 92,3% APBD. Seiring dengan perkiraan masih terbentuknya SiLPA akibat penyerapan belanja daerah APBD 2013 yang masih dibawah pagunya, posisi simpanan Pemda Sumatera Utara (Pemprov dan Pemkab/Pemko ) akhir 2013 masih meningkat. SilPA tersebut diduga akan digunakan untuk biaya langsung antara lain belanja pegawai di awal tahun.
ASSESMEN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
Kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara menunjukkan
peningkatan, yang tercermin dari penurunan persentase penduduk miskin dan NTP yang meningkat. Ke depan, perlu diambil kebijakan yang terstruktur untuk meminimalkan dampak negatif kenaikan UMP dan yang bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Persentase penduduk miskin Sumut pada Semester II-2013 tercatat mencapai 10,39% (data September 2013), sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 10,41%. Penurunan ini terutama bersumber dari menurunnya persentase penduduk miskin di
xiv
penduduk miskin dan NTP yang meningkat. Perekonomian Sumut pada triwulan I-2014 diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2013. Sementara itu laju inflasi diperkirakan sebesar 9,0% 9,4% (yoy)pedesaan menjadi 10,33% dari sebelumnya sebesar 10,53% di tahun 2012.
Walaupun penduduk miskin menurun, tetapi berdasarkan hasil survei konsumen pada triwulan IV-2013 terjadi penurunan persepsi konsumen/masyarakat atas penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu. Hal ini tercermin dari penurunan indeks dari 132,18 menjadi 115,38. Ekspektasi penghasilan 6 bulan yang akan datang juga menurun dari 128,71 menjadi 125,64. Kondisi ini mengindikasikan walaupun jumlah penduduk miskin menurun, optimisme kegiatan konsumsi masih relatif rendah.
Sementara itu, NTP mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya, dari 97,42 menjadi 99,11. Meskipun mengalami peningkatan, namun nilai indeks yang dibawah 100 menunjukkan bahwa indeks harga yang diterima petani lebih rendah dari indeks yang harus dibayar oleh petani. Nilai indeks NTP yang di bawah 100 ini terjadi pada hampir semua sub sektor, kecuali sub sektor peternakan (NTPT).
PROSPEK PEREKONOMIAN
Pertumbuhan perekonomian Sumatera Utara pada triwulan I-2014 diperkirakan lebih tinggi dari triwulan IV-2013, dipengaruhi
oleh optimisme pada konsumsi terutama sebagai akibat perayaan imlek dan Cap Gomeh yang terjadi pada awal tahun dan mulai terasanya aktivitas persiapan pemilu. Selain itu, seiring dengan pemulihan permintaan global yang akan menopang perbaikan harga komoditas ekspor (IHex), pada akhirnya diduga akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan ekspor, ditengah tekanan terhadap ketentuan larangan ekspor mineral. Sementara itu dari sisi sektoral, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran dan sektor Angkutan dan Komunikasi diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2014.
Sementara di sisi lain, inflasi pada triwulan I-2014 diperkirakan akan mulai mereda di kisaran 9,0 - 9,4%. Penurunan
inflasi diperkirakan bersumber dari membaiknya pasokan bahan pangan dan kelancaran distribusi. Namun, beberapa upward risks seperti krisis energi baik listrik dan gas, kenaikan harga gas elpiji, rencana pengurangan subsidi listrik, gangguan produksi dan distribusi bahan makanan pasca Gunung Sinabung dan cuaca ekstrem perlu mendapat perhatian lebih.
Dengan mempertimbangkan perkembangan perekonomian global dan perkembangan ekonomi domestik hingga saat ini, kinerja perekonomian Sumatera Utara untuk keseluruhan tahun 2014 diperkirakan akan mengalami pertumbuhan di kisaran 6,1%-6,6%. Pertumbuhan tersebut terutama diperkirakan akan ditopang oleh
masih positifnya kinerja sektor konsumsi baik konsumsi pemerintah maupun konsumsi swasta terkait peningkatan Upah Minimum Provinsi (UMP), menurunnya tekanan inflasi, serta peningkatan aktivitas ekonomi terkait Pemilu 2014. Sementara itu pertumbuhan investasi juga diperkirakan masih akan optimis seiring dengan penyelesaian proyek-proyek infrastuktur yang menjadi bagian dari proyek-proyek pendukung dalam MP3EI, penambahan pabrik industri pengolahan kelapa sawit dan
xv
meningkatnya belanja modal berupa infrastruktur pada APBD tahun 2014. Namun, pertumbuhan investasi diperkirakan masih akan sedikit tertahan khususnya menjelang masa Pemilu terkait pelaku usaha yang memilih wait and see terhadap hasil Pemilu 2014. Sementara itu, ekspor juga diperkirakan akan meningkat seiring membaiknya perekonomian negara mitra dagang (USA, Eropa) serta stabilnya ekonomi Cina. Seiring dengan perkiraan masih cukup tingginya konsumsi rumah tangga, impor barang konsumsi pada tahun 2014 juga diperkirakan masih akan tinggi.16
BAB 1 EKONOMI MAKRO
REGIONAL
“Pada triwulan IV-2013, ekonomi Sumatera Utara tumbuh sebesar 5,83% (yoy), melambat
dibandingkan dengan triwulan III-2013. Dari sisi permintaan, perlambatan ekonomi disebabkan adanya perlambatan pada pertumbuhan konsumsi serta investasi, sementara dari sisi penawaran, disebabkan adanya perlambatan pertumbuhan pada sektor primer dan tersier. Sektor primer yang
mengalami perlambatan adalah sektor pertanian serta sektor pertambangan dan penggalian, sementara sektor tersier yang mengalami perlambatan adalah sektor angkutan dan komunikasi
serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Perekonomian Sumatera Utara masih didominasi ketiga sektor industri pengolahan, sektor pertanian, serta sektor perdagangan, hotel, dan
restoran.”
1.1. Kondisi Umum
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara
Grafik 1. 1 Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Sumut
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara
Grafik 1. 2 Struktur Perekonomian Sumut
Pada triwulan IV-2013, laju pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara melambat dari 5,94%(yoy)1 pada triwulan III-2013 menjadi 5,83% (yoy) (Grafik 1.1). Dari sisi
permintaan, perlambatan ekonomi disebabkan adanya perlambatan pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga serta investasi, sementara net ekspor mengalami peningkatan pertumbuhan yang signifikan. Dari sisi penawaran, faktor dominan yang menyebabkan perlambatan laju pertumbuhan adalah sektor primer seperti sektor pertanian dan sektor
1
PDRB Tw III-2013 mengalami revisi dari Angka sangat sementara menjadi Angka sementara sesuai Berita
17
pertambangan dan penggalian, serta sektor tersier seperti sektor angkutan dan komunikasi serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Secara keseluruhan, perekonomian Sumatera Utara pada periode laporan mencatat output riil sebesar Rp36,34 triliun2 ataumencapai 5,19% dari perekonomian Indonesia, meningkat dari triwulan sebelumnya yang menyumbang sebesar 5,10% terhadap perekonomian Indonesia.
1.2. Analisis Sisi Permintaan
Tabel 1. 1 Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Sumut dari Sisi Permintaan
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara
Perlambatan laju pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan disebabkan oleh perlambatan pada pertumbuhan konsumsi dan investasi, sementara net ekspor mengalami pertumbuhan positif. Perlambatan yang terjadi pada konsumsi di triwulan
laporan tidak hanya terjadi pada konsumsi rumah tangga, namun juga pada konsumsi pemerintah. Perlambatan pertumbuhan pada konsumsi rumah tangga diperkirakan karena faktor keraguan masyarakat dan preferensi masyarakat untuk menahan dalam melakukan konsumsi sebagai akibat tekanan harga yang tercermin dari tingkat inflasi yang cukup tinggi. Meskipun melambat, konsumsi rumah tangga pada triwulan laporan masih tumbuh cukup tinggi (6,42%, yoy) dengan andil terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 3,73%. Secara keseluruhan tahun 2013, pertumbuhan konsumsi rumah tangga tumbuh dari 6,03% (yoy) pada tahun 2012 menjadi 7,42% (yoy) (Tabel 1.1).
Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 4,39% (yoy) atau melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,58% (yoy). Andil konsumsi pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara pada triwulan IV-2013 sebesar 0,55% (Grafik 1.3).
18
Untuk keseluruhan tahun 2013, konsumsi pemerintah masih tumbuh sebesar 4,32% (yoy). Pencapaian pada tahun 2013 tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,18% (yoy) seiring dengan pertumbuhan anggaran belanja APBD Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2013 yang tidak setinggi tahun sebelumnya. Pertumbuhan anggaran belanja APBD Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2013 hanya sebesar 15,67% (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan anggaran belanja APBD Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2012 yang mencapai hingga 48,11% (yoy).Perlambatan pertumbuhan juga terjadi pada pertumbuhan investasi. Investasi pada triwulan IV-2013 hanya tumbuh 4,59% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,13% (yoy), dengan andil terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 1,25%. Meskipun melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 10,66% (yoy), pertumbuhan investasi untuk keseluruhan tahun 2013 masih tumbuh cukup tinggi yaitu 8,43% (yoy). Masih tingginya pertumbuhan investasi di Sumatera Utara didukung dengan banyaknya realisasi proyek MP3EI yang berjalan pada tahun 2013 antara lain pembangunan Bandara Kualanamu.
Di sisi lain, net ekspor yang dalam enam triwulan terakhir mengalami pertumbuhan negatif, pada triwulan IV-2013 mulai mengalami pertumbuhan positif. Net ekspor pada triwulan IV-2013 tercatat sebesar 6,71% (yoy), meningkat drastis dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh negatif sebesar -12,59% (yoy) maupun dibandingkan dengan pertumbuhan pada periode yang sama tahun 2012 yang hanya sebesar -22,53% (yoy). Andil net ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara pada triwulan laporan sebesar 0,30%. Namun, net ekspor untuk keseluruhan tahun 2013 masih tumbuh negatif sebesar -13,51% (yoy), melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang juga tumbuh negatif sebesar -3,51%(yoy). Perlambatan pertumbuhan net ekspor tahun 2013 tersebut disebabkan lebih tingginya pertumbuhan impor (7,53%, yoy) dibandingkan pertumbuhan ekspor (4,92%, yoy).
19
1.2.1 Konsumsi
Pada triwulan IV-2013, konsumsi tumbuh sebesar 6,14% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,21% (yoy) (Grafik 1.4). Perlambatan konsumsi terutama terjadi pada konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 6,42% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang
tumbuh sebesar 7,64% (yoy). Meskipun tumbuh melambat, konsumsi rumah tangga
masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara dengan andil terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 3,73%.
Melambatnya konsumsi rumah tangga diindikasikan oleh nilai penjualan barang eceran yang turun menjadi Rp62,12 miliar atau turun sebesar -9,75% (yoy) (Grafik 1.5)3. Penurunan nilai penjualan eceran pada triwulan IV-2013 diakibatkan oleh
penurunan pertumbuhan pembelian perlengkapan rumah tangga lainnya, bahan bakar kendaraan bermotor, serta peralatan dan komunikasi.
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara
Grafik 1. 4 Pertumbuhan PDRB Sektor Konsumsi Sumut
Sumber: KPw BI Wilayah IX (Sumut & Aceh), diolah Grafik 1. 5 Perkembangan Nilai Penjualan berdasarkan Survei Penjualan Eceran (SPE) Perlambatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Sumatera Utara juga diduga terkait dengan turunnya tingkat optimisme konsumen atas kondisi perekonomian di Sumatera Utara dan lebih memilih menahan konsumsi mengingat tekanan harga yang meningkat di triwulan akhir tahun 2013. Kondisi turunnya tingkat optimisme konsumsi masyarakat juga dikonfirmasi oleh perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen/IKK dan Indeks Keyakinan Ekonomi/IKE yang meskipun masih berada di level optimis namun dengan optimisme yang menurun. Pada triwulan IV-2013, IKK di Kota Medan sebesar 107,05 turun dibandingkan triwulan III-2013 yang
3 Survei Penjualan Eceran Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX
20
mencapai 111,20, sementara IKE mencapai 102,35 turun cukup signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 113,37 (Grafik1.6)4.Perlambatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga Sumatera Utara turut disumbangkan dari sisi pembiayaan yaitu turunnya pembiayaan kredit konsumsi. Kredit konsumsi Sumatera Utara pada triwulan IV-2013 tumbuh sebesar 6,12% (yoy) menjadi Rp36,58 triliun, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 10,08% (yoy) (Grafik 1.7). Penurunan permintaan kredit konsumsi diperkirakan akibat adanya peningkatan suku bunga kredit konsumsi perbankan sejalan dengan peningkatan BI Rate yang pada triwulan IV-2013 menjadi 7,50%. Selain itu, tingginya tekanan inflasi Sumatera Utara pada triwulan laporan diperkirakan turut menurunkan daya beli dan minat masyarakat dalam melakukan konsumsi.
Meskipun melambat, namun konsumsi rumah tangga Sumatera Utara masih tumbuh cukup tinggi yaitu diatas 5% (yoy). Masih cukup tingginya pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan laporan tersebut turut didukung oleh adanya peningkatan kesejahteraan petani perkebunan, mengingat sektor utama unggulan Sumatera Utara adalah sektor perkebunan. Nilai Tukar Petani Perkebunan Rakyat (NTPR) pada triwulan IV-2013 sebesar 99,92 naik dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 93,70 (Grafik 1.8).
Sumber: KPw BI Wilayah IX (Sumut & Aceh), diolah
Grafik 1. 6 Perkembangan Survei Konsumen Provinsi Sumut
Sumber: Laporan Bulanan Bank, Bank Indonesia, diolah Grafik 1. 7 Perkembangan Kredit Konsumsi Sumut
21
Sumber : BPS Provinsi Sumatera UtaraGrafik 1. 8 Perkembangan Indeks NTPR Provinsi Sumut
Sumber : Laporan Bulanan Bank, Bank Indonesia, diolah Grafik 1. 9 Perkembangan Rekening Pemerintah
Di sisi lain, pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan IV-2013 yang meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (4,58%; yoy) masih tumbuh cukup baik (4,39%; yoy). Masih baiknya pertumbuhan konsumsi pemerintah tersebut juga tercermin dari menurunnya posisi simpanan milik Pemerintah Daerah5 di
perbankan. Posisi rekening Pemerintah Daerah (Pemda) Sumatera Utara pada triwulan IV-2013 tercatat sebesar Rp2,25 triliun, turun dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai Rp8,12 triliun (Grafik 1.9).
Namun, secara tahunan, pertumbuhan konsumsi pemerintah tahun 2013 justru melambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,18% (yoy) menjadi hanya sebesar 4,32% (yoy). Hal ini akibat lebih terbatasnya ruang gerak Pemda melakukan konsumsi akibat pertumbuhan anggaran belanja APBD Provinsi Sumatera Utara tahun 2013 yang tidak setinggi tahun sebelumnya (pertumbuhan anggaran belanja APBD tahun 2013 sebesar 15,67% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun 2012 sebesar 48,11% (yoy)).
1.2.2 Investasi
Investasi6 Sumatera Utara pada triwulan IV-2013 tumbuh sebesar 4,59%
(yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan investasi triwulan sebelumnya yang sebesar 7,13% (yoy) (Grafik 1.10). Perlambatan investasi tersebut sejalan
dengan perlambatan impor barang modal yang tumbuh negatif sebesar -16,58% (yoy)
5 Terdiri dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara
22
menjadi USD122,85 juta, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar 27,20% (yoy).Sementara itu, peran pembiayaan perbankan terkait investasi pada triwulan IV-2013 juga mengalami pelambatan sebagaimana tercermin dari pertumbuhan kredit investasi yang melambat dari triwulan sebelumnya (Grafik 1.11).
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara
Grafik 1. 10 Pertumbuhan PDRB Sektor Investasi Sumut
Sumber: Laporan Bulanan Bank, Bank Indonesia, diolah Grafik 1. 11 Perkembangan Kredit Investasi Sumut
Perlambatan investasi tersebut juga dikonfirmasi oleh data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Investasi Sumatera Utara pada triwulan-IV 2013 tumbuh sebesar 69,68% (yoy) dengan realisasi sebesar Rp1,53 triliun, melambat drastis dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh hingga 121,50% (yoy). Melambatnya pertumbuhan investasi terutama terjadi pada Penanaman Modal Asing (PMA) yang tumbuh negatif sebesar -9,15% (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang mencapai 137,8% (yoy). Sementara itu, meskipun sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (108,90%; yoy) Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada triwulan laporan masih tumbuh cukup tinggi (93,56%; yoy).
Tabel 1. 2 Realisasi Investasi PMA dan PMDN di Provinsi Sumatera Utara
P : Jumlah Proyek ; I : Nilai Investasi (Rp Miliar) Sumber : www.bkpm.go.id
23
Di sisi lain, investasi bangunan juga mengalami perlambatan sebagaimana diindikasikan dari penurunan pertumbuhan penjualan bahan konstruksi pada Survei Penjualan Eceran (SPE) triwulan IV-2013 yang hanya tumbuh 0,24% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (10,64%; yoy) (Grafik 1.13).Meskipun mengalami perlambatan pada triwulan laporan, realisasi investasi secara keseluruhan tahun 2013 masih cukup tinggi yang didukung oleh banyaknya realisasi proyek MP3EI yang berjalan pada tahun 2013 antara lain pembangunan Bandara Kualanamu.
Sumber : Asosiasi Semen Indonesia, diolah
Grafik 1. 12 Perkembangan Penjualan Semen Sumut
Sumber: KPw BI Wilayah IX (Sumut & Aceh), diolah Grafik 1. 13 Nilai Penjualan Barang Konstruksi
berdasarkan Survei penjualan eceran Sumut
1.2.3 Ekspor dan Impor
Pada triwulan IV-2013 kinerja ekspor Sumatera Utara (antar negara maupun antar daerah) membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya seiring dengan pemulihan permintaan global dan perbaikan harga CPO. Kinerja
ekspor pada triwulan laporan tercatat tumbuh 6,58% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,78% (yoy). Sementara itu, impor justru tumbuh melambat dari 8,43% (yoy) di triwulan sebelumnya menjadi sebesar 6,57% (yoy) pada triwulan IV-2013 yang diduga turut disebabkan oleh efek pelemahan nilai tukar rupiah. Peningkatan ekspor ditengah penurunan impor mendorong perbaikan net ekspor pada triwulan laporan. Akibatnya, net ekspor pada triwulan IV-2013 tumbuh 6,71% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh negatif sebesar -12,59% (yoy). Peningkatan transaksi perdagangan antar negara maupun antar daerah di Sumatera Utara, berhasil mendorong perbaikan pada neraca perdagangan dan
24
mencatatkan net ekspor Rp1,89 triliun, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp1,79 triliun (Grafik 1.14).Meskipun nilai ekspor Sumatera Utara pada triwulan IV-2013 masih mengalami pertumbuhan negatif (-4,90%; yoy), namun membaik apabila dibandingkan triwulan sebelumnya yang juga tumbuh negatif (-13,36%; yoy). Nilai ekspor Sumatera Utara telah mengalami pertumbuhan negatif dalam dua tahun terakhir, sebagai dampak penurunan harga internasional komoditas utama Sumatera Utara. Secara volume, transaksi ekspor Sumatera Utara juga tumbuh negatif sebesar -2,77% (yoy), walaupun membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang juga tumbuh negatif sebesar -11,05% (yoy) (Grafik 1.15).
Membaiknya nilai dan volume ekspor pada triwulan IV-2013 (meskipun masih tumbuh negatif), salah satunya disebabkan oleh perbaikan harga internasional CPO. Rata-rata harga internasional CPO pada triwulan IV-2013 sebesar USD783,16 per-ton, lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga tahun sebelumnya, yaitu sebesar USD714,74 per-ton. Namun untuk komoditas karet, rata-rata harga pada triwulan IV-2013 sebesar USD267,17 per-ton masih belum membaik dibandingkan harga tahun sebelumnya yaitu sebesar USD313,06 per-ton.
Tabel 1. 3 Perkembangan Nilai Ekspor Provinsi Sumut
Sumber : KPw BI Wilayah IX (Sumut & Aceh), diolah
Deskripsi Nilai (US$) Share (%)
Total Nilai Ekspor 2.382.463.287 100%
Consumption Goods 370.519.639 15,55%
Intermediate Goods 2.008.879.855 84,32%
Capital Goods 3.063.793 0,13%
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, diolah
Grafik 1. 14 Pertumbuhan PDRB Aktivitas Perdagangan Luar Negeri Sumut
Sumber : KPw BI Wilayah IX (Sumut & Aceh), diolah Grafik 1. 15 Perkembangan Nilai Ekspor Sumut
25
Berdasarkan kategori komoditas, kelompok barang intermediate goods (bahan baku) dan consumption goods (barang konsumsi) mendominasi ekspor Sumatera Utara (Tabel 1.3). Adapun nilai ekspor Sumatera Utara pada periode ini tercatat sebesar USD2,38 miliar dengan komoditas ekspor dominan masih tetap CPO dan karet. Berdasarkan negara tujuan utama, ekspor Provinsi Sumatera Utara sebagian besar ditujukan ke negara RRC, Malaysia, Eropa, Amerika Serikat dan Jepang, dengan komposisi masing-masing sebesar 6,71%, 6,62%, 5,88%, 5,20%, dan 4,76%.Perkembangan ekspor komoditas utama Sumatera Utara untuk komoditas CPO dan karet meskipun kembali mengalami pertumbuhan negatif pada triwulan IV-2013, namun membaik dibandingkan triwulan sebelumnya. Nilai ekspor CPO tumbuh
sebesar -3,17% (yoy), membaik dibandingkan triwulan III-2013 yang tumbuh -28,59% (yoy). Sementara itu, nilai ekspor karet tumbuh membaik meski masih
negatif dari -6,69% (yoy) di triwulan sebelumnya menjadi -2,87% (yoy) pada triwulan laporan (Grafik 1.16).
Demikian pula dengan volume ekspor, juga mengalami pertumbuhan yang membaik (Grafik 1.17). Meskipun masih tumbuh negatif (yoy), pertumbuhan volume ekspor untuk komoditas CPO pada triwulan IV-2013 membaik dari -13,00% (yoy) triwulan III-2013 menjadi sebesar -2,74% (yoy). Sementara itu, volume ekspor komoditas karet mengalami pertumbuhan sebesar 15,86% (yoy), tumbuh drastis dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 13,96% (yoy). Masih relatif rendahnya harga ekspor karet Sumatera Utara dibandingkan periode yang sama tahun 2012 menyebabkan pertumbuhan nilai ekspor tidak setinggi peningkatan volume ekspor karet Sumatera Utara.
Sumber : KPw BI Wilayah IX (Sumut & Aceh), diolah
Grafik 1. 16 Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Utama Sumut
Sumber : KPw BI Wilayah IX (Sumut & Aceh), diolah
Grafik 1. 17 Perkembangan Volume Ekspor Komoditas Utama Sumut
26
Sementara itu, aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Belawan mengkonfirmasi adanya penurunan aktivitas perdagangan internasional. Aktivitas bongkar pada triwulan laporan tercatat turun sebesar -10,92% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan aktivitas bongkar pada triwulan sebelumnya yang sebesar -6,06% (yoy). Penurunan aktivitas bongkar di Pelabuhan Belawan sejalan dengan tren melambatnya impor yang tercatat pada triwulan laporan. Sementara itu, aktivitas muat di Pelabuhan Belawan pada triwulan laporan tercatat sebesar -29,29% (yoy), sedikit membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang juga tumbuh negatif sebesar -39,55% (yoy).Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, diolah
Grafik 1. 18 Perkembangan Aktivitas Bongkar Muat di Pelabuhan Belawan Sumut
Sumber : KPw BI Wilayah IX (Sumut & Aceh), diolah Grafik 1. 19 Negara Tujuan Ekspor Sumut
27
Sumber : KPw BI Wilayah IX (Sumut & Aceh), diolahGrafik 1. 20 Perkembangan Nilai Impor Sumut
Sumber : KPw BI Wilayah IX (Sumut & Aceh), diolah Grafik 1. 21 Pertumbuhan Volume Impor Sumut
per Kategori Barang (%)
Sumber : KPw BI Wilayah IX (Sumut & Aceh), diolah
Grafik 1. 22 Persentase Nilai Impor Sumut per Kategori Barang
Sumber : KPw BI Wilayah IX (Sumut & Aceh), diolah Grafik 1. 23 Negara Asal Impor Sumut
Sementara itu, nilai impor Provinsi Sumatera Utara pada periode laporan kembali tumbuh negatif sebesar -2,37% (yoy) setelah triwulan sebelumnya juga tumbuh negatif sebesar -2,68% (yoy). Secara volume, pertumbuhan transaksi impor juga relatif rendah yaitu sebesar 0,20% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 0,58% (yoy). Jika dirinci menurut golongan penggunaan barang, volume impor untuk kelompok barang konsumsi, dan barang modal mengalami pertumbuhan negatif dan menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Volume barang konsumsi pada triwulan ini tumbuh negatif sebesar -23,71% (yoy) melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh negatif sebesar -12,53% (yoy). Volume barang modal tumbuh negatif sebesar -75,24% (yoy), turun signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 45,65% (yoy). Penurunan Impor ini diperkirakan sebagai dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah. Berdasarkan
28
informasi dari Gabungan Importir Nasional Indonesia (GINSI) Sumut, pelemahan nilai tukar yang terjadi mengakibatkan beberapa importir melakukan pengurangan maupun pembatalan order akibat naiknya harga pembelian yang cukup signifikan.Dari struktur komoditas impor Sumut, bahan baku/penolong masih memberikan andil yang paling besar, yaitu mencapai 78,8%, naik dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 77,20%. Sementara itu, impor barang konsumsi memiliki pangsa sebesar 7,78% turun dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 8,64%, dan impor barang modal memiliki pangsa sebesar 14,05%, turun dibandingkan triwulan sebelumnya yang memiliki pangsa sebesar 14,16% terhadap total impor. Dilihat dari negara asal impor, nilai impor dari RRC mencatat nilai tertinggi pada triwulan IV-2013 sebesar 166,60 juta USD (19,05%), diikuti oleh Malaysia sebesar 119,76 juta USD (13,69%), Eropa 56,96 juta USD (6,51%), Amerika Serikat 54,60 juta USD (6,24%), dan Australia 33,35 juta USD (3,81%).
1.3. Analisis Sisi Penawaran
Dari sisi penawaran, perlambatan pertumbuhan perekonomian Sumatera Utara disebabkan adanya perlambatan pada sektor primer (a.l sektor pertanian dan sektor pertambangan & penggalian) dan sektor tersier (a.l sektor keuangan, persewaan & jasa perusahaan). Berdasarkan pangsanya, struktur perekonomian di Sumatera Utara masih
didominasi oleh 3 sektor utama yaitu sektor industri pengolahan (pangsa 21,96% dari total PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) atau senilai Rp 23,34 triliun), diikuti oleh sektor pertanian (pangsa 21,64% atau Rp21,93 triliun), serta sektor PHR (pangsa 18,98% atau Rp20,17 triliun). Total pangsa ketiga sektor utama tersebut sekitar 61,58% dari PDRB Sumatera Utara. Sektor industri pengolahan terus menunjukkan kinerja yang membaik yang tercermin dari pertumbuhan tahunan (yoy) sektor ini yang terus menunjukan tren peningkatan. Sementara itu, kinerja dua sektor utama lainnya justru mengalami penurunan bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya antara lain terkait penurunan angka produksi pertanian akibat kondisi cuaca/iklim yang buruk, tidak serentaknya musim tanam, dan bencana alam seperti erupsi Gunung Sinabung.
29
Tabel 1. 4 Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Sumut dari Sisi PenawaranSumber : BPS Provinsi Sumatera Utara, diolah
1.3.1 Sektor Pertanian
Pada triwulan IV-2013, sektor pertanian tumbuh melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya maupun triwulan yang sama tahun 2012 (Tabel 1.4). Selain itu, pertumbuhan sektor pertanian pada triwulan laporan juga tercatat lebih
rendah dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan sektor pertanian selama kurun waktu 3 tahun terakhir sebesar 4,76%. Akibatnya, kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara turun dari 1,33% di triwulan sebelumnya menjadi 1,27% pada triwulan IV-2013.
Perlambatan pertumbuhan sektor pertanian di triwulan IV-2013 disebabkan oleh kurangnya supply produksi dan penurunan luas panen terutama dari sub sektor bahan makanan (tabama) yang berasal dari sentra produksi Karo sebagai dampak dari erupsi Gunung Sinabung pada areal pertanian tabama, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Total penurunan area pertanian mencapai 26.657 Ha, dengan rincian 16.148 Ha areal pertanian tabama, 6.357 areal pertanian sayur-sayuran, dan 2.143 areal pertanian buah-buahan. Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, erupsi Sinabung menyebabkan tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Karo mengalami puso. Dari 2.842 Ha pertanian padi, sebanyak 1.244,26 Ha terkena puso. Komoditas hortikultura yang mengalami puso adalah cabe merah seluas 106 Ha, tomat seluas 532 Ha, kentang seluas 416 Ha, terung seluas 283 Ha dan bawang merah seluas 7,7 Ha. Sedangkan komoditas buah-buahan yang mengalami puso diantaranya jeruk seluas 714 Ha serta alpukat seluas 457 Ha. Selain itu, berdasarkan informasi dari BMKG dan Dinas Pertanian, faktor cuaca yang ekstrim dengan curah hujan yang tinggi dan tidak serentaknya musim tanam menyebabkan hasil panen tidak setinggi triwulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.
30
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara dan KPw BI WilayahIX (Sumut & Aceh)
Grafik 1. 24 Pertumbuhan PDRB Sektor Pertanian dan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Sumut
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara
Grafik 1. 25 Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) Sumut
Kondisi perlambatan pada sektor pertanian juga terkonfirmasi oleh menurunnya tingkat optimisme masyarakat terhadap sektor Pertanian. Berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX, pada triwulan IV-2013 tingkat optimisme masyarakat akan pertumbuhan sektor pertanian ke depan sedikit menurun, yang diindikasikan dengan nilai SBT sektor pertanian yang turun menjadi -2,71 dibandingkan triwulan sebelumnya 0,40 (Grafik 1.24).
Selain itu, perlambatan sektor pertanian juga terkonfirmasi dari penurunan angka produksi pertanian berdasarkan Angka Ramalan (Aram II-2013). Berdasarkan data BPS Provinsi Sumatera Utara, komoditas padi/palawija yang mengalami penurunan produksi adalah padi, kedelai, kacang hijau dan ubi jalar (Tabel 1.5). Penurunan produksi lebih disebabkan adanya penurunan luas lahan pertanian di Sumatera Utara, sementara produktivitas masih meningkat.
31
Tabel 1. 5 Perkembangan Produksi Padi/PalawijaSumber: BPS, diolah Keterangan:
1) = Bentuk Hasil Gabah Kering Giling (GKG) , konversi GKP ke GKG = 86,02%, konversi GKG ke Beras = 62,74% 2) = Bentuk Hasil Biji Kering
3) = Bentuk Hasil Umbi Basah
Perlambatan kinerja sektor pertanian tersebut sejalan dengan penurunan pertumbuhan pembiayaan perbankan terhadap sektor pertanian. Kredit yang disalurkan perbankan kepada sektor pertanian pada triwulan IV-2013 tercatat sebesar Rp26,18 triliun atau tumbuh sebesar 29,99% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 34,18% (yoy) (Grafik 1.26).
32
Sumber: Laporan Bulanan Bank, Bank Indonesia, diolahGrafik 1. 26 Perkembangan Kredit Sektor Pertanian Sumut
1.3.2 Sektor Industri Pengolahan
Kinerja sektor industri pengolahan pada triwulan IV-2013 tercatat tumbuh sebesar 5,89% (yoy), meningkat cukup signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 3,77% (yoy). Salah satu faktor pendukung
meningkatnya pertumbuhan pada sektor industri pengolahan pada triwulan laporan tersebut adalah meningkatnya pembiayaan yang dilakukan perbankan kepada sektor industri pengolahan. Pada triwulan IV-2013, kredit yang diterima Sektor Industri Pengolahan dari Perbankan mencapai Rp32,55 triliun atau tumbuh sebesar 24,47% (yoy). Realisasi kredit perbankan yang diterima sektor Industri Pengolahan tersebut lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai Rp32,55 triliun atau 16,00% (yoy) (Grafik 1.27). Terus membaiknya pertumbuhan sektor industri pengolahan tersebut juga dikonfirmasi oleh hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) triwulan IV-2013 yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX yang menyatakan bahwa tingkat optimisme masyarakat akan pertumbuhan sektor industri pengolahan ke depan membaik. Hal ini diindikasikan dengan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sektor industri pengolahan yang meningkat menjadi -0,92 dibandingkan triwulan sebelumnya -6,81 (Grafik 1.28).
33
Sumber: Laporan Bulanan Bank, Bank Indonesia, diolahGrafik 1. 27 Perkembangan Kredit Sektor Industri Pengolahan Sumut
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara dan KPw BI Wilayah IX (Sumut & Aceh)
Grafik 1. 28 Pertumbuhan PDRB Sektor Industri Pengolahan dan SKDU Sumut
Sejalan dengan perkembangan sektor industri pengolahan, produksi industri manufaktur besar dan sedang di Provinsi Sumatera Utara pada periode laporan tumbuh sebesar 11,68% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,93% (yoy). Jenis-jenis industri yang mengalami kenaikan antara lain industri furnitur sebesar 13,68% (yoy), industri makanan sebesar 8,63% (yoy), industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia sebesar 8,45% (yoy), industri kertas dan barang dari kertas sebesar 7,24% (yoy), industri logam dasar sebesar 3,56% (yoy) dan industri karet, barang dari karet dan plastik sebesar 0,03% (yoy).
1.3.3 Sektor Perdagangan, Hotel, Dan Restoran
Meskipun sedikit melambat dibandingkan triwulan III-2013, sektor PHR pada triwulan IV-2013 masih tumbuh cukup tinggi yaitu sebesar 7,61% (yoy) bahkan masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhannya selama 3 tahun terakhir sebesar 7,52% (yoy). Masih tingginya
pertumbuhan sektor perdagangan, hotel, dan restoran juga didukung oleh tingginya pembiayaan perbankan kepada sektor ini yaitu mencapai Rp40,76 triliun atau tumbuh sebesar 24,99% (yoy), meningkat dibandingkan jumlah kredit yang disalurkan pada triwulan sebelumnya sebesar Rp38,83 triliun atau tumbuh sebesar 22,53% (yoy) (Grafik 1.29).
Melambatnya pertumbuhan sektor PHR tersebut juga dikonfirmasi oleh hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) triwulan IV-2013 yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX yang menyatakan bahwa tingkat optimisme
34
masyarakat akan pertumbuhan sektor PHR ke depan mengalami penurunan. Hal ini diindikasikan dengan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sektor PHR yang menurun menjadi 1,99 dibandingkan triwulan sebelumnya 3,01 (Grafik 1.30).Sumber : Laporan Bulanan Bank, Bank Indonesia, diolah
Grafik 1. 29 Perkembangan Kredit Sektor PHR Sumut
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara dan KPw BI Wilayah IX (Sumut & Aceh)
Grafik 1. 30 Pertumbuhan PDRB Sektor PHR dan SKDU Sumut
Sementara itu, perlambatan pertumbuhan sektor PHR pada triwulan laporan jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya diperkirakan karena tertahannya pertumbuhan sub sektor perdagangan. Hal ini diindikasikan dari hasil Survei Pedagang Eceran (SPE) yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX yang menunjukkan bahwa sampai dengan akhir triwulan IV-2013 pertumbuhan nilai penjualan eceran turun menjadi 4,27% (yoy), lebih rendah bila dibandingkan dengan pertumbuhan di triwulan sebelumnya yang sebesar 23,43% (yoy).
Selain itu, pertumbuhan sub sektor
hotel juga diperkirakan mengalami
perlambatan yang sejalan dengan
penurunan tingkat hunian kamar di Sumatera Utara. Sampai dengan akhir triwulan IV-2013 Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Provinsi Sumatera Utara tercatat menurun sebesar -0,4%, bila dibandingkan dengan posisi akhir triwulan III-2013 yang tumbuh sebesar 22,5% (Grafik 1.31).
Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara
35
1.3.4 Sektor Keuangan, Persewaan, Dan Jasa Perusahaan
Pada triwulan IV-2013, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan mengalami pertumbuhan sebesar 6,42% (yoy) atau mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu sebesar 10,18% (yoy). Perlambatan pertumbuhan sektor keuangan, persewaan, dan jasa
perusahaan sejalan dengan pertumbuhan NTB (Nilai Tambah Bank) pada triwulan IV-2013 yang tumbuh sebesar 5,65% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 18,27% (yoy) (Grafik 1.32)
1.3.5 Sektor Bangunan
Pada triwulan IV-2013, sektor bangunan tetap tumbuh tinggi yaitu sebesar 6,67% (yoy). Tingginya pertumbuhan sektor bangunan didukung oleh
pertumbuhan pembiayaan yang dilakukan oleh perbankan di Sumatera Utara berupa kredit ke sektor konstruksi yang pada periode laporan tumbuh sebesar 27,44% (yoy) atau mencapai Rp4,97 triliun (Grafik 1.33). Namun, pencapaian pertumbuhan sektor bangunan pada triwulan laporan tersebut sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,99% (yoy). Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX, mengkonfirmasi adanya perlambatan pertumbuhan sektor bangunan (Grafik 1.34). Hal ini terlihat dari perlambatan pertumbuhan penjualan barang konstruksi. Penjualan barang konstruksi pada triwulan IV-2013 tumbuh sebesar 0,24% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 10,64% (yoy).
Sumber: Departemen Statistik - Bank Indonesia-diolah Grafik 1. 32 Perkembangan NTB Perbankan di
36
Sumber: Laporan Bulanan Bank, Bank Indonesia, diolah
Grafik 1. 33 Perkembangan Kredit Sektor Konstruksi Sumut
Sumber: KPw BI Wilayah IX (Sumut & Aceh), diolah
Grafik 1. 34 Nilai Penjualan Barang Konstruksi berdasarkan Survei penjualan eceran Sumut
1.3.6 Sektor Pengangkutan Dan Komunikasi
Pada triwulan laporan, sektor pengangkutan dan komunikasi mencatat pertumbuhan sebesar 5,68% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,68% (yoy). Perlambatan sektor pengangkutan
dan komunikasi sejalan dengan penurunan pertumbuhan penyaluran kredit perbankan kepada sektor ini. Pada triwulan IV-2013, penyaluran kredit perbankan kepada sektor pengangkutan dan komunikasi tercatat tumbuh sebesar 9,70% (yoy) atau mencapai Rp3,62 triliun, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 27,52% (yoy) atau mencapai Rp3,80 triliun (Grafik 1.35).
Selain itu, arus penumpang (angkutan udara dan angkutan laut) yang masuk ke Provinsi Sumatera Utara juga mengalami penurunan. Pertumbuhan jumlah penumpang pada triwulan laporan tercatat tumbuh negatif sebesar -6,55% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan jumlah penumpang triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,79% (yoy) (Grafik 1.36)
37
Sumber : Laporan Bulanan Bank, Bank Indonesia, diolahGrafik 1. 35 Perkembangan Kredit Sektor Pengangkutan Sumut
Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara
Grafik 1. 36 Perkembangan Jumlah Penumpang Angkutan Laut dan Udara Sumut
38
BAB 2 INFLASI
“Inflasi Provinsi Sumatera Utara triwulan IV-2013 sebesar 10,18% (yoy), jauh di atas Inflasi Nasional yang hanya sebesar 8,38% (yoy). Tingginya inflasi akhir periode laporan terutama didorong oleh
inflasi Komponen yang Harganya Diatur Pemerintah (Administered Prices) dan juga inflasi Harga bergejolak (Volatile Food) “
2.1 Kondisi Umum
Provinsi Sumatera Utara pada akhir triwulan IV-2013 tercatat mengalami inflasi sebesar 4,27% (qtq) atau 10,18%(yoy) (Grafik2.1), meningkat dibandingkan inflasi pada triwulan lalu yang hanya sebesar 3,27% (qtq) atau 9,35%(yoy). Realisasi inflasi
Sumut pada periode laporan jauh di atas inflasi Nasional yang hanya sebesar 8,38% (yoy). Kondisi inflasi Provinsi Sumatera Utara tersebut tertinggi kedua di Indonesia setelah Sumatera Barat. (inflasi terendah terjadi di Provinsi Gorontalo sebesar 5,8% (yoy)-Grafik 2.2). Berdasarkan kelompoknya, inflasi Provinsi Sumatera Utara pada triwulan IV-2013 masih dibayangi oleh peningkatan pada kelompok volatile food khususnya pada komoditas Bawang Merah dan Cabai Merah.
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
Grafik 2. 1 Disagregasi Inflasi Sumut dan Nasional
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
Grafik 2. 2 Inflasi Provinsi Desember 2013
0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 2010 2011 2012 2013
Medan Sumut Nasional
yoy % 10,87 10,18 9,94 9,78 9,65 9,65 9,51 9,04 8,90 8,81 8,80 8,74 8,71 8,41 8,27 8,24 8,12 8,00 7,98 7,59 7,57 7,56 7,35 7,32 7,31 7,25 7,04 6,98 6,80 6,22 5,92 5,91 5,84 0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 Sumatera Barat Sumatera Utara Bengkulu Maluku Utara Banten Kalimantan Timur Nusa Tenggara Barat Jawa Barat Kalimantan Barat Maluku Riau Jambi Bangka Belitung Nusa Tenggara Timur Papua Kepulauan Riau Sulawesi Utara Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Sulawesi Tengah Lampung Bali Yogyakarta NAD Papua Barat Sumatera Selatan Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Gorontalo
39
2.2 Analisis Perkembangan Inflasi
2.2.1 Inflasi Menurut Kelompok Barang dan Jasa
Tabel 2.1 Inflasi Triwulanan di Sumut Menurut Kelompok Barang & Jasa (% qtq)
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
Inflasi triwulanan Provinsi Sumatera Utara pada triwulan IV-2013 kembali meningkat dari 3,36% (qtq) menjadi 4,27% (qtq) (Tabel 2.1). Tingginya inflasi
secara triwulanan terutama didorong oleh kelompok Transportasi, komunikasi dan jasa keuangan (4,27%,qtq). Walaupun kelompok ini masih menjadi penyebab utama tingginya inflasi triwulan IV, pencapaian pada triwulan laporan jauh menurun jika dibandingkan dengan triwulan III (9,55%) yang diperkirakan karena relatif meredanya dampak peningkatan BBM bersubdisi yang terjadi pada pertengahan tahun lalu2013. Sub kelompok lain yang menjadi penyumbang tingginya inflasi adalah bahan makanan yang pada triwulan ini meningkat 1,85% (qtq) lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang hanya sebesar 0,35% (qtq).
Tabel 2. 2 Inflasi Tahunan di Sumut Menurut Kelompok Barang & Jasa (%)
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
Bahan Makanan 0.10 5.68 0.38 8.01 -0.73 -0.03 6.03 -0.01 -0.27 2.82 -1.62 1.03 7.33 3.18 0.35 1.85
Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 2.56 2.31 1.22 0.89 1.43 0.01 2.38 0.00 0.60 2.59 1.14 0.48 1.31 2.34 1.85 0.61
Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bhn Bakar 1.67 0.21 2.64 2.77 0.88 0.01 0.74 0.01 0.67 0.97 0.78 0.88 1.51 2.10 3.20 1.22
Sandang -0.50 3.47 1.13 4.07 -0.41 0.02 6.45 0.02 2.14 -0.43 2.84 1.00 -0.85 -3.92 7.79 -0.20
Kesehatan 1.73 0.23 0.09 0.56 3.30 0.01 2.39 0.00 0.64 0.63 0.87 0.50 0.30 0.61 0.35 0.85
Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 0.41 0.00 0.97 0.24 1.12 0.00 2.63 0.01 0.58 0.17 2.42 0.09 2.06 1.79 3.66 0.22
Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan 0.66 0.47 2.20 -1.99 0.31 0.01 3.11 -0.02 1.54 0.70 2.99 1.41 -0.46 4.61 9.55 4.37
Umum 1.03 2.21 1.48 3.06 0.44 0.00 3.34 0.00 0.63 1.51 0.78 0.88 2.54 2.27 3.27 4.27
2013 Kelompok
2011
2010 2012
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
Bahan Makanan 3.94 10.89 3.14 14.69 13.73 4.65 10.54 1.14 1.60 7.44 -0.31 1.92 9.69 10.07 12.27 13.18 Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 9.72 10.27 8.73 7.16 5.98 4.10 5.30 4.70 3.84 6.00 4.72 4.88 5.62 5.36 6.10 6.25 Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bhn Bakar 5.29 5.46 7.56 7.46 6.64 7.50 5.51 3.56 3.34 3.29 3.32 3.33 4.19 5.36 7.90 8.26 Sandang -0.16 6.68 6.88 8.32 8.43 7.23 12.87 10.95 13.78 10.74 6.98 5.63 2.54 -1.05 3.71 2.47 Kesehatan 3.40 3.58 2.43 2.65 4.25 4.63 6.95 6.84 4.09 4.09 2.54 2.68 2.32 2.30 1.77 2.12 Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 8.30 8.33 0.70 1.62 2.35 2.15 3.83 4.76 4.20 4.57 4.36 3.28 4.81 6.51 7.79 7.93 Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan -0.60 -0.19 1.72 1.32 0.98 1.52 2.41 2.57 3.83 3.50 3.38 6.79 4.69 8.76 15.69 19.06
Umum 4.43 6.93 5.04 8.00 7.37 4.96 6.87 3.67 3.86 5.52 2.91 3.86 5.82 6.62 9.35 10.18