1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Rumah menggambarkan kepribadian, gaya hidup, simbolisme, dan status sosial dari pemiliknya. Karakteristik rumah dapat dilihat dari arsitektur, fungsi, ruangan, dan propertinya. Arsitektur sebuah bangunan Jawa ditentukan oleh status sosial, semakin tinggi statusnya, semakin megah rumahnya. Bagi orang Jawa, rumah adalah lambang manusiawi, keindahan, dan keagungan. Susunan dan tata ruang rumah Jawa merupakan hasil keselerasan antara unsur religius dan teknik
bangunan. Susunan rumah Jawa dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian dalem,
yang bersifat sakral dan khusus untuk kalangan keluarga saja dan njaba yang
bersifat terbuka. Konsep dalem dan njaba melambangkan kehidupan sosial
masyarakat Jawa, yaitu antara kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat
harus seimbang1.
Dalam masyarakat tradisional Jawa, golongan bangsawan mendapat posisi istimewa. Mereka memiliki gaya hidup yang berbeda dengan golongan masyarakat lain. Bangsawan Jawa menunjukan kebesaran dan pengaruhnya melalui cara berbusana, harta kekayaan, tata cara bersosialisasi, bahasa, dan
bentuk rumah2. Rumah bangsawan Jawa sering disebut dalem, karena yang
1Joko Budiwiyanto, “Perpaduan Jawa-Eropa Keartistikan Dalem
Wuryaningratan”, Acintya Jurnal Penelitian Seni Budaya Vol I, No 1, Surakarta,
2009, hlm 2-3.
2
Titis Pitana Srimuda, Dekonstruksi Makna Simbolik Arsitektur Keraton
menghuni adalah para pangeran, maka disebut Dalem Kepangeranan. Dalem Kepangeranan dibangun sebagai kediaman para pangeran dan keluarganya beserta
para abdinya3. Dalem Kepangeranan diberi nama sesuai nama pangeran atau
bangsawan yang mendirikan, dan bila rumah tersebut menjadi milik bangsawan lain, biasanya namanya juga diubah, sesuai nama pemiliknya.
Dalam tatanan rumah Jawa yang sederhana terdiri dari tratag, emper
ngarep, dalem, gandhok (kamar), dan pawon (dapur). Dalam tatanan rumah
bangsawan Jawa atau Dalem Kepangeranan terdiri dari pendapa, pringgitan,
dalem ageng, senthong, gandhok dan pawon atau pekiwan. Pendapa adalah ruangan yang bersifat terbuka, dimana penghuni rumah menerima tamu dan
mengadakan perayaan. Pendapa disangga empat saka guru dan 12 saka
pananggap. Arti saka guru di Pendapa di bagian tengah melambangkan panutan.
Bentuk atap pendapa yang menyempit ke atas adalah lambang penghormatan
kepada Tuhan. Setiap orang harus memberi panutan yang baik kepada orang lain.4
Pringgitan terletak di antara pendapa dan dalem ageng, yang berguna untuk
pertunjukan wayang. Dalem ageng adalah ruang keluarga. Senthong adalah kamar
yang terletak di dalem ageng yang digunakan untuk pengantin baru, yang terletak
di samping petanen atau krobongan5. Petanen atau krobongan adalah ruangan
3
Marleen Heins, ed., Karaton Surakarta, (Singapura: Marshall Cavendish
Editions, 2006), hlm 236.
4
Ibid., hlm 218-219.
5
IF Bambang Sulistyono,“Makna Simbolis Rumah Pangeran Keraton
Kasunanan Surakarta Dalam Komplek Baluwarti” (tesis), Program Pasca Sarjana
yang digunakan untuk menghormati Dewi Sri, dewi kemakmuran6. Petanen
dipisahkan dari ruangan lain di Dalem Kepangeranan. Petanen lebih seperti ruang
pemujaan, sehingga sangat disakralkan. Di sisi kanan dan kiri dalem dgeng
terdapat gandhok yang berfungsi sebagai ruang kamar. Kamar laki-laki dan
perempuan dipisahkan. Kamar laki-laki berada di gandhok tengen dan kamar
perempuan berada di gandhok kiwa7. Semua bahan bangunan Dalem
Kepangeranan, sebagian besar berasal dari kayu, terutama kayu jati.
Sejak kedatangan bangsa Eropa ke tanah Jawa, arsitektur Eropa mulai
berpengaruh pada Dalem Kepangeranan. Akhir abad ke-19, tembok dari semen
gamping dan besi mulai digunakan dalam membangun rumah. Tembok kayu
mulai digantikan tembok semen dan terdapat jendela-jendela besar. Saka (tiang
penyangga) tidak lagi dari kayu saja tetapi juga besi. Model rumah Eropa mulai
dimasukkan dalam kompleks Dalem Kepangeranan dalam bentuk paviliun.
Halaman rumah tidak lagi digunakan untuk menanam sayur-sayuran, tetapi menjadi taman-taman ala Eropa yang dilengkapi patung-patung, bunga-bunga yang indah, pohon yang rindang dan air mancur. Interior ala Eropa juga mulai
diterapkan dalam Dalem Kepangeranan mulai dari kursi, meja, lampu, hingga
alat-alat makan.
Di Surakarta terdapat kurang lebih terdapat 20 Dalem Kepangeranan yang
masih berdiri atau dalam kondisi kurang terawat. Di dalam tembok benteng
Baluwarti terdapat Dalem Mangkubumen, Dalem Purwadiningratan, Dalem
6
Krisnina Maharani Tandjung, Rumah Solo, (Singapura: Times Editions,
2002), hlm 49.
7
Suryahamijayan8, Dalem Sasana Mulya, Dalem Bratadiningratan9, Dalem
Mlayakusuman, Dalem Suryaningratan, Dalem Natanegaran, Dalem
Cakradiningratan10, dan Dalem Ngabean. Di luar tembok benteng Baluwarti
terdapat Dalem Sumabratan atau Kusumabratan, Dalem Jayakusuman, Dalem
Hadiwijayan, Dalem Suryabratan, Dalem Wuryaningratan11, dan Dalem
Kusumayudan12. Fokus penelitian adalah pada Dalem Sasana Mulya, sebelumnya
bernama Dalem Ngabean, dihuni pangeran bergelar Hangabehi, Dalem
Suryahamijayan, dihuni oleh K.P.H. Suryahamijaya, Dalem Purwadiningratan,
dihuni oleh bupati nayaka Purwadiningrat, dan Dalem Jayakusuman dihuni oleh
K.P.H. Mr. Jayakusuma.
Periode penelitian difokuskan pada empat Dalem Kepangeranan, yaitu
Dalem Purwadiningratan, Dalem Suryahamijayan, Dalem Sasana Mulya, dan Dalem Jayakusuman, dimulai pada tahun 1805 hingga 2007. Tahun 1805
digunakan sebagai titik awal karena pada tahun itu Dalem Kepangeranan tertua di
Surakarta berdiri, yaitu Dalem Purwadiningratan pada masa Sunan Paku Buwana
IV. Tahun 2007 digunakan sebagai batas akhir karena pada tahun itu, Dalem
Jayakusuman, disita oleh Kejaksaan Negeri karena pemilik Dalem Jayakusuman
terlibat kasus korupsi.
8
Dibeli oleh Yayasan Purna Bhakti Pertiwi milik Ibu Tien Soeharto.
9
Saat ini bernama Dalem Purwahamijayan.
10
Saat ini bernama Dalem Kekayon.
11
Dibeli oleh P.T. Danar Hadi.
12
Pada masa kemerdekaan, Kasunanan Surakarta sedang mengalami arus perubahan besar dan ketidakjelasan status politik. Perubahan ini juga berpengaruh
pada aset-aset milik keraton, salah satunya Dalem Kepangeranan. Beberapa
Dalem Kepangeranan diwariskan kepada keturunannya, sebagian dijual oleh ahli warisnya, ada juga yang berfungsi sebagai gedung pemerintahan, atau menjadi
sebuah lembaga pendidikan, dan lain-lain. Beberapa Dalem Kepangeranan masih
dimiliki keturunan keluarga pangeran yang terdahulu, atau diambil oleh raja yang
berkuasa untuk menjadi rumah bagi anak-anaknya. Perubahan kepemilikan Dalem
Kepangeranan yang silih berganti menyebabkan perubahan terhadap bentuk
bangunan dan fungsinya. Tulisan ini meneliti tentang sejarah kepemilikan Dalem
Kepangeranan, nilai-nilai filosofi, fungsi dan bentuk bangunan rumah bangsawan Jawa menjadi penting dan menarik untuk diketahui. Dengan mengetahui dari
seluk beluk sejarah dan tata bangunan Dalem Kepangeranan, dapat diketahui
bagaimana kehidupan sosial, antropologis, dan pemikiran tentang arsitektur para bangsawan Jawa.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada paparan dalam latar belakang masalah, maka penelitian ini bermaksud hendak mengetahui :
1. Apakah latar belakang berdirinya Dalem Kepangeranan di Surakarta?
2. Siapakah yang berhak mendiami bangunan Dalem di Surakarta?
3. Bagaimanakah perubahan kepemilikan Dalem Kepangeranan dari tahun
4. Apakah perubahan kepemilikan Dalem Kepangeranan dari tahun 1805 hingga tahun 2007 berpengaruh terhadap fungsi dan bentuk bangunan Dalem Kepangeranan?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada paparan dalam rumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Menjelaskan latar belakang berdirinya Dalem Kepangeranan di Surakarta
2. Menjelaskan tentang bangsawan yang berhak mendiami bangunan Dalem
di Surakarta
3. Mendeskripsikan perubahan kepemilikan Dalem Kepangeranan dari tahun
1805 hingga tahun 2007
4. Menjelaskan pengaruh status kepemilikan Dalem Kepangeranan terhadap
fungsi dan bentuk bangunan Dalem Kepangeranan
D. Manfaat Penelitian
Secara Praktis, berguna untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang Dalem Kepangeranan di Surakarta sebagai suatu warisan budaya Jawa yang harus dirawat dan dipelihara. Selain itu, juga menjelaskan pemanfaatan bangunan cagar budaya agar tidak dibiarkan terbengkelai dan tak terawat.
Secara Teoritis, berguna untuk menambah wawasan ilmu, terutama ilmu sejarah dan ilmu lainnya yang berkaitan dengan kebudayaan, tentang keindahan
pribumi Jawa, serta menjelaskan pemikiran dan gaya hidup para bangsawan Jawa
dalam Dalem Kepangeranan.
E. Tinjauan Pustaka
Dalam buku Krisnina Maharani Tandjung (2002) yang berjudul Rumah
Solo, dikatakan bahwa arsitektur tradisional Jawa merupakan lambang status
sosial. Atap joglo melambangkan gunung, yang dalam pandangan orang Jawa
merupakan pusat alam semesta dan tempat tinggal para dewa. Rumah Jawa pada
umumnya memiliki krobongan atau gebyok, yang memisahkan ruang Senthong
yang berada di dalam dalem ageng. Dalem Kepangeranan merupakan paduan
gaya Jawa dengan Neo Klasik Eropa. Walaupun diperlengkapi dengan berbagai barang modern, seperti atap, lantai, jendela, pintu, dan lain-lain, serta desain interior modern, tetapi tidak meninggalkan pakem rumah Jawa. Para pangeran di masa Sunan Paku Buwana X mendapat pendidikan di sekolah-sekolah orang Belanda, bahkan ada yang langsung sekolah di Negeri Belanda. Sekembalinya ke
Jawa, mereka merenovasi Dalem Kepangeranan di Surakarta. Para pangeran dan
priyayi yang berpendidikan Eropa merenovasi Dalem Kepangeranan dengan
arsitektur Eropa, sehingga tercipta bentuk rumah arsitektur Jawa-Eropa.13
Dalam buku Darsiti Soeratman (2000) yang berjudul Kehidupan Dunia
Keraton Surakarta 1830-1939, dikatakan bahwa kawasan Baluwarti dihuni
kelompok putra raja, kerabat raja, bupati nayaka, dan bupati lainnya, serta abdi
dalem dan para prajurit. Nama Dalem Kepangeranan tersebut disesuaikan dengan
13
nama penghuninya dengan akhiran “-an”. Raja mempunyai hak untuk
memberikan atau mengambil Dalem Kepangeranan. Pada masa Sunan Paku
Buwana X, terdapat 12 Dalem Kepangeranan di Baluwarti dan banyak pangeran
mulai mendirikan Dalem Kepangeranan di luar Baluwarti.14
Dalam buku Marleen Heins (2006) yang berjudul Karaton Surakarta,
dikatakan bahwa Dalem Kepangeranan mulai banyak dibangun pada akhir abad
ke-19 dan awal abad ke-20 di era pemerintahan Sunan Pakubuwana IX dan Sunan
Pakubuwana X. Dalem Kepangeranan terdiri pendapa, pringgitan, dalem ageng,
senthong, dan gandhok. Di dalam dalem ageng terdapat ruangan yang disebut petanen yang disakralkan oleh orang Jawa, yang terletak di antara senthong. Di
depannya terdapat patung Loro Blonyo, yang menggambarkan Dewi Sri dan
Raden Sadono, lambang kemakmuran dan keseimbangan atau harmoni. Dalem
Kepangeranan memiliki bentuk atap yang istimewa, yang berbeda dengan joglo
atau limasan rumah rakyat biasa. Perbedaan atap rumah bangsawan dengan atap
rumah rakyat biasa melambangkan pemisahan status sosial dalam masyarakat
Jawa. Dalem Kepangeranan menggunakan sumbu horizontal-vertikal sebagai
aturan bentuk bangunan. Horizontal melambangkan “sangkan paraning dumadi”
(kembali ke asalnya) dan vertikal melambangkan “manunggaling kawula Gusti”
(bersatu dengan Tuhan).15
Dalam buku R.M. Sajid (1984) yang berjudul Babad Sala, menjelaskan
tentang jenis rumah tradisional Jawa. Bahan bangunan yang digunakan dalam
14
Darsiti Soeratman, Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830-1939,
(Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia, 2000), hlm. 107-110.
15
rumah tradisional Jawa adalah tiang balungan kayu, pagar papan, dengan atap
kayu sirap. Bangunan joglo mempunyai 4 tiang utama yang disebut soko guru.
Joglo yang memilki 6 tiang disebut Trajumas, yang memilki 8 tiang disebut Limasan, yang memiliki 10 tiang disebut Kutuk Ngambang, yang memilki 12
tiang disebut Klabang Nyander, yang memilki 14 tiang disebut Dirada Meta.
Pemasangan kayu tidak menggunakan paku, melainkan dengan pengunci yang
disebut tadha. Cara pemasangan atap sirap dengan dikaitkan dengan cakil atau
diikat dengan tali duk, kemudian dihubungkan dengan kayu reng.16
Dalam tesis I.F. Bambang Sulistyono (2002) yang berjudul Makna
Simbolis Rumah Pangeran Keraton Kasunanan Surakarta Dalam Komplek
Baluwarti dikatakan bahwa Dalem Kepangeranan memiliki makna mistis, religi,
nilai-nilai, adat istiadat, historis, dan aturan hidup masyarakat komunitas Keraton
dan lingkungannya. Dalem Kepangeranan menghadap ke selatan merupakan
lambang kepatuhan mistis terhadap Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan. Bentuk
bangunan Dalem Kepangeranan merupakan lambang kewibawaan keturunan raja,
yang membedakannya dengan golongan masyarakat lain.17
F. Metode Penelitian
Setiap penulisan ilmiah memiliki metode, yang berpengaruh pada pengumpulan data informasi. Dengan melihat obyek penelitiannya, penelitian ini akan menggunakan metode sejarah atau metode historis. Metode sejarah adalah
16
R.M. Sajid, Babad Sala, Koleksi Reksa Pustaka Mangkunegaran, 1984,
hlm. 130-131
17
proses pengumpulan dan analisa sumber-sumber sejarah yang dibutuhkan dalam suatu penelitian sejarah. Metode sejarah dibagi menjadi empat tahap :
1.Heuristik
Heuristik adalah kegiatan mencari dan menemukan sumber sejarah yang diperlukan. Sumber yang digunakan adalah sumber tertulis dan sumber benda dengan informasi yang berkaitan dengan subyek. Sumber tertulis berupa arsip dan dokumen yang berasal dari Sasana Pustaka Keraton Kasunanan Surakarta, Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran, dan arsip Kusuma Wandawa Keraton Kasunanan
Surakarta, seperti Kalenggahipun Para Sentana Tuwin Abdi Dalem Jamanipun
Ingkang Sinuhun Paku Buwana VII (1830-1858), Sejarah Dalem Pangiwa lan Panengen, Rijksblad no. 9 dan no. 10 Tahun 1938, Babad Sala, dan Keppres No.23 Tahun 1988 Tentang Status Pengelolaan Keraton Kasunanan Surakarta. 2.Kritik Sumber
Setelah mendapatkan data, kemudian dilakukan kritik terhadap sumber data tersebut. Kritik sumber data dilakukan untuk menyeleksi sumber data, sehingga didapatkan data primer dan sekunder. Kemudian dilakukan kritik internal dan eksternal. Kritik internal membahas isi dari sumber data tersebut. Kritik eksternal membahas asal muasal dari sumber data tersebut, sehingga dapat menemukan sumber data yang valid
3.Interpretasi
Interpretasi adalah tahap menganalis dan pemahaman sumber data. Setelah menganalisis sumber data, akan didapat fakta-fakta sejarah yang dibutuhkan
dalam penulisan. Banyak simbol-simbol yang ada di lingkungan kita yang tidak
dapat dijelaskan dengan eksplanasi tetapi melalui pemahaman atau interpretasi18.
4.Historiografi
Tahap terakhir adalah historiografi, dimana fakta-fakta yang relevan, yang telah didapat dari sumber sejarah, dikelompokkan kemudian disusun sehingga
menjadi sebuah tulisan sejarah Dalem Kepangeranan di Surakarta pada tahun
1805 hingga 2007. Penulisan menggunakan pendekatan dari ilmu sosial lainnya seperti sosiologi dan antropologi. Selain itu penulisan juga menggunakan pendekatan di luar ilmu sosial, seperti arsitektur. Dalam masyarakat Jawa terdapat
lapisan sosial, yaitu golongan rakyat biasa dan bangsawan atau priyayi Untuk
memahami bagaimana keadaan masyarakat pada periode 1805 hingga 2007, digunakan pendekatan sosiologi yang mempelajari perilaku dan perkembangan
suatu masyarakat, terutama yang berada di lingkungan Dalem Kepangeranan.
Pendekatan ilmu sosial lainnya adalah antropologi. Pendekatan antropologi digunakan untuk memahami bagaimana kebudayaan dan kebiasaan kaum bangsawan pada periode 1805 hingga 2007. Dengan menggunakan pendekatan kedua ilmu sosial tersebut, dapat membantu menjelaskan mengapa bentuk dan fungsi rumah bangsawan dan rumah rakyat berbeda.
Pendekatan dengan ilmu arsitektur digunakan untuk memahami bagaimana bentuk rumah tradisional Jawa. Pengaruh Eropa pada masa kolonial dapat dilihat dari bentuk bangunan. Dengan menggunakan ilmu arsitektur, dapat
membedakan mana bagian Dalem Kepangeranan yang masih asli menggunakan
18
Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi
arsitektur Jawa dan bagian mana yang mengalami pencampuran arsitektur Jawa-Eropa atau bahkan sudah menggunakan arsitektur Jawa-Eropa murni.
G. Sistematika Penulisan
Bab I adalah Pendahuluan. Bab ini berisi latar belakang masalah,rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika skripsi.
Bab II membahas mengenai latar belakang berdirinya Dalem
Kepangeranan dan kehidupan kaum bangsawan di Surakarta, seperti kehidupan sosialnya, pekerjaannya, pendidikannya, kebudayaan atau kebiasaannya, dan ideologi atau pandangan hidupnya.
Bab III membahas mengenai riwayat para pemilik dan keluarganya yang
menghuni Dalem dan bentuk bangunan Dalem, seperti arsitekturnya, interiornya,
dan fungsi lahannya.
Bab IV membahas perkembangan bangunan dan pengaruh perubahan
kepemilikan terhadap bangunan Dalem Kepangeranan di Surakarta. Selain itu
juga membahas pengaruh status kepemilikan terhadap perubahan fungsi dan
bentuk bangunan Dalem Kepangeranan.