• Tidak ada hasil yang ditemukan

SDAM Achmad Fany Bagus.S

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SDAM Achmad Fany Bagus.S"

Copied!
145
0
0

Teks penuh

(1)

SISTEM DISTRIBUSI

AIR MINUM

Kecamatan Bangkalan, Madura, Jawa Timur

(2)

i ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah segala puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Tugas Besar Sistem Distribusi Air Minum (SDAM) dengan wilayah Kabupaten Bangkalan Madura. Tugas perencanaan ini disusun sebagai persyaratan 1 SKS mata kuliah Sistem Distribusi Air Minum (SDAM) semester 4 pada program studi Teknik Lingkungan di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan.

Dalam penyusunan tugas besar perencanaan ini penulis banyak mendapatkan saran, dorongan, bimbingan, serta keterangan-keterangan dari berbagai pihak yang merupakan ilmu yang tidak dapat diukur secara materi, namun manyadarkan penulis bahwa sesungguhnya pengetahuan tersebut adalah guru terbaik bagi penulis.

Dengan segala hormat dan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Aditya Prana Iswara, M.Sc selaku dosen pengampu mata kuliah Sistem Distribusi Air Minum (SDAM).

2. Aditya Prana Iswara, M.Sc selaku asisten dosen pembimbing dalam melaksanakan tugas SDAM.

3. Kedua orang tua yang selalu memberi dukungan serta doa.

4. Seluruh anggota kelompok yang turut bekerja sama dalam penyusunan data. 5. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Semoga laporan tugas besar ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Aamiin. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Surabaya, 17 Februari 2016 Achmad Fany Bagus. S

(3)

ii ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii-iv

BAB I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang 1

I.2 Maksud dan Tujuan 2

I.3 Ruang Lingkup 3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Sistem Hidrolika 4-5

II.2 Sistem Penyediaan Air Minum 5-6

II.3 Sistem Jaringan Induk Distribusi 6-8

II.4 Sistem Perpipaan Distribusi 8-20

II.5 Penentuan Luas Wilayah 20-21

II.6 Proyeksi Penduduk 21-24

II.7 Proyeksi Fasilitas 25-34

II.8 Kriteria Perencanaan 34-39

II.9 Dimensi Pipa 39-43

II.10 Dimensi Reservoir 43-47

(4)

iii ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 BAB III. DATA PERENCANAAN

III.1 Daerah Perencanaan 50-53

III.2 Aspek Demografi 53-56

III.3 Data Fasilitas 56-60

III.4 Perekonomian 60-61

III.5 Utilitas 61

III.6 Sumber Air 61

BAB IV. PERHITUNGAN

IV.1 Perhitungan Luas Wilayah 62

IV.2 Penetuan Metode Proyeksi 62

IV.3 Proyeksi Penduduk per Kelurahan 62-64

IV.4 Proyeksi Fasilitas per Kelurahan 65

IV.5 Blok Pelayanan 65-66

IV.6 Perhitungan Kebutuhan Air Domestik 67-69

IV.7 Perhitungan Looping 70

IV.8 Perhitungan Tapping 71-72

IV.9 Perhitungan Hardy-Cross 72

IV.10 Perhitungan Ground Reservoir 73-74

IV.11 Perhitungan Elevated Reservoir 74-75

IV.12 Perhitungan Tinggi Menara 75-77

IV.13 Perhitungan Tinggi Terkritis 77-79

IV.14 Perhitungan Pompa 79-83

BAB V. PERENCANAAN DAN PELENGKAP

V.1 Analisa Menggunakan Program Komputer (EPANET) 83-93

V.2 Data Epanet 93-94

V.2.2 Debit Per Jam 94-107

(5)

iv ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 BAB VI BOQ dan RAB

VI.1 Pipa 111-112

VI.2 Aksesoris Pipa 112-113

VI.3 Pompa 113

VI.4 Penanaman Pipa 114-117

VI.5.1 Pengerjaan Reservoir 118-121

VI.5.2 Elevated Reservoir 121-122

DAFTAR PUSTAKA 123

(6)

1 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG

Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia, tanpa air tidak akan ada kehidupan di bumi. Namun, tubuh manusia ternyata mempunyai 65 %-nya terdiri atas air. Bumi mengandung sejumlah besar air, lebih kurang 1,4 x 109 km3, yang terdiri atas samudra, laut, sungai, gunung es dan sebagainya. Dari sekian banyak air yang terkandung di bumi hanya 3 % yang berupa air tawar yang terdapat dalam sungai, danau, dan air tanah.

Kelangkaan air bersih menimbulkan masalah fatal pada sektor kesehatan. Setidaknya ada 20 – 30 jenis penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme yg hidup dalam air. Penelitian WHO mengenai penyediaan air bersih dan sanitasi dengan kesehatan, mengemukakan beberapa penyakit lain seprti: kolera, hepatitis, polimearitis, typoid, disentrin trachoma, scabies, malaria, yellow fever, dan penyakit cacingan.

Karena pentingnya kebutuhan akan air bersih, maka hal yang wajar jika sektor air bersih akan mendapatkan prioritas penanganan utama karena menyangkut kehidupan orang banyak. Penanganan akan pemenuhan kebutuhan air bersih dapat dilakukan berbagai cara, yang disesuaikan dengan sarana dan prasarana yang ada. Oleh karena itu, harus diperhatikan akan kualitas, kuantitas, serta kontinuitas air tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari air disalurkan ke tiap-tiap wilayah melalui pelayanan yang ada. Kehadiran PDAM dimungkinkan melalui Undang-undang no. 5 tahun 1962 sebagai kesatuan usaha milik pemuda yang memberikan jasa pelayanan dan menyelenggarakan kemanfaatan umum di bidang air minum. Khususnya Kabupaten bangkalan dengan jumlah penduduk dengan presentase yang cenderung meningkat sehingga kebutuhan air diwilayah tersebut juga akan meningkat per tahunnya. Dengan itu jumlah penduduk dan penyediaan fasilitas pelayanan sangat dibutuhkan kepada masyarakat,

(7)

2 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 serta mendukung fasilitas perkembangan lainnya. Pelayanan itu dilakukan dengan memprioritaskan dalam mendistribusikan serta menyediakan air bersih.

Sistem distribusi air minum harus dapat melayani kebutuhan air bersih konsumen yang telah sesuai dengan syarat-syarat dalam hal kuantitas, kualitas, dan kontinuitas, kualitas, dan kuantitas. Air yang di didistribusikan ini harus sesuai jumlahnya dengan kebutuhan air masing-masing jenis pelayanan pada setiap tahapan perencanaan. Selain kriteria tersebut, air yang aka dialirkan tidak boleh mengalami kontaminasi selama perjalan serta dengan kebocoran teknis yang dapat di tekan seminimal mungkin. Oleh karena, sistem distribusi air minum sangat penting bagi masyarakat, mereka bisa mendapatkan air yang bersih untuk di konsumsi.

I.2 MAKSUD DAN TUJUAN

I.2.1. MAKSUD

System pendistribusikan Air Bersih kedalam konsumen adalah dengan maksud mempermudah konsumen dalam memperoleh dan mengkonsumsi air bersih dalam kehidupan sehari-hari.

I.2.2. TUJUAN

Adapun penyediaan air minum ini bertujuan untuk mengalirkan air bersih secara merata keseluruh area pelayanan yang dapat digunakan setiap saat.

(8)

3 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

I.3 RUANG LINGKUP

Merupakan batasan-batasan masalah yang berbeda pada system penyediaan air minum keseluruh konsumen yang diberatkan pada :

o Letak Geografis,

o Batas-batas wilayah kecamatan. o Data Penduduk,

o Pencatatan jumlah penduduk secara berkelanjutan. o Data Fasilitas,

o Pencatatan jumlah pada tiap-tiap wilayah. o Penentuan Wilayah,

o Menentukan luas wilayah dengan perhitungan wilayah. o Proyeksi penduduk,

o Memproyeksikan jumlah penduduk untuk beberapa tahun ke depan. o Proyeksi Fasilitas,

o Memproyeksikan jumlah fasilitas untuk beberapa tahun ke depan. o Penentuan Blok Pelayanan,

o Menentukan blok-blok pelayanan distribusi air. o Gambar Peta Berkontur,

o Menentukan luas-luas wilayah overlap millimeter dan menentukan luas-luas melalui gambar millimeter.

o Gambar Peta Fasilitas dan Blok Pelayanan,

o Menentukan fasilitas-fasilitas yang terdapat pada tiap wilayah.

o Kebutuhan Air Domestik dan Non-domestik berserta Kebutuhan Total. o Penentuan Sistem Jaringan Pipa,

o Menentukan system jaringan perpipaan. o Pendistribusian Debit Tapping,

o Menentukan pendistribusian debit tapping. o Sistem Looping Hardy Cross,

o Menentukan system looping hardy cross dengan program excell. o Dimensi Ground Reservoir dan Dimensi Elevated Reservoir,

o Menentukan dimensi ground reservoir dan dimensi elevated reservoir. o Penentuan Titik Kritis,

o Menentukan titik kritis. o Pompa,

o Menentukan jenis pompa centrifugal. o Proyeksi pipa menggunakan software

(9)

4 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. SISTEM HIDROLIKA

Teknik hidrolika adalah aplikasi prinsip mekanika fluida terhadap masalah yang terkait dengan pengumpulan, penyimpanan, pengendalian, pemindahan, pengaturan, pengukuran, dan penggunaan air. Cassidy et al menjelaskan bahwa "Insinyur hidrolika mengembangkan desain konseptual untuk berbagai manfaat yang berkaitan degan air seperti saluran pelimpah dan saluran keluaran untuk bendungan, saluran air untuk jalan jalan raya, kanal dan struktur terkait untuk irigasi, serta fasilitas air pendingin untuk pembangkit listrik termal.

II.1.1. Sistem Pengaliran

Untuk mendistribusikan air minum dapat dipilih salah satu sistem diantara tiga sistem pengaliran, yaitu :

 Sistem pengaliran gravitasi

Sistem ini digunakan bila elevasi sumber air baku atau pengolahan jauh berada diatas elevasi daerah pelayanan dan sistem ini dapat memberikan energi potensial yang cukup tinggi hingga pada daerah pelayanan terjauh. Sistem ini merupakan yang paling menguntungkan karena pengoperasian dan pemeliharaannya mudah dilakukan.

 Sistem pemompaan

Sistem ini digunakan bila beda elevasi antara sumber air atau instalasi dengan daerah pelayanan tidak dapat memberikan tekanan air yang cukup, sehingga air yang akan didistribusikan dipompa langsung ke jaringan distribusi. Kelemahan sistem ini yaitu dalam hal biaya yang besar karena dibutuhkan pompa untuk pengalirannya.

(10)

5 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090  Sistem kombinasi

Sistem ini merupakan sistem pengaliran dimana air baku dari sumber air atau instalasi pengolahan dialirkan ke jaringan pipa distribusi dengan menggunakan pompa atau reservoir distribusi, baik dioperasikan secara bergantian ataupun bersama-sama dan disesuaikan dengan keadaan topografi daerah pelayanan.

II.2. SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

Air yang disuplai melalui pipa induk akan didistribusikan melalui dua alternatif sistem yakni :

 Continuous System (Sistem Berkelanjutan)

Dalam sistem ini, air minum yang ada akan disuplay dan didistribusikan kepada konsumen secara terusmenerus selama 24 jam. Sistem ini biasanya diterapkan bila pada setiap waktu kuantitas air baku dapat mensuplay seluruh kebutuhan konsumen di daerah tersebut.

 Keuntungan :

a) Konsumen akan mendapatkan air setiap saat.

b) Air minum yang diambil dari titik pengambilan di dalam jaringan pipa distribusi selalu didapat dalam keadaan segar.

 Kerugian :

a) Pemakaian air cenderung lebih boros

b) Jika ada sedikit kebocoran maka jumlah air yang terbuang besar.  Intermitten System

Dalam sistem ini, air minum yang ada akan disuplay dan didistribusikan kepada konsumen hanya selama beberapa jam dalam satu hari. Biasanya berkisar antara 2 hingga 4 jam untuk sore hari. Sistem ini biasanya diterapkan bila kuantitas dan tekanan air yang cukup tidak tersedia.

(11)

6 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090  Keuntungan :

a) Pemakaian air cenderung lebih hemat

b) Jika ada kebocoran maka jumlah air yang terbuang relatif kecil.  Kerugian :

a.) Bila terjadi kebakaran pada saat tidak beroperasi maka air untuk pemadam kebakaran tidak dapat disediakan.

b.) Setiap rumah perlu menyediakan tempat penyimpanan air yang cukup agar kebutuhan air sehari-hari dapat terpenuhi.

c.) Dimensi pipa yang digunakan akan lebih besar karena kebutuhan air yang disuplay dan didistribusikan dalam sehari hanya ditempuh dalam jangka waktu yang pendek.

Dari kedua sistem hidrolika distribusi diatas dapat diketahui bahwa sistem berkelanjutan (Continous System) merupakan sistem distribusi air yang baik dan ideal.

II.3. SISTEM JARINGAN INDUK DISTRIBUSI

II.3.1. SISTEM CABANG ATAU BRANCH

Pada sistem ini, air hanya mengalir dari satu arah dan pada setiap ujung pipa akhir daerah pelayanan terdapat titik akhir (dead end). Sistem ini biasanya digunakan pada daerah dengan sifat-sifat sebagai berikut:

 Perkembangan kota ke arah memanjang.  Sarana jaringan jalan tidak saling berhubungan.

(12)

7 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090  Keuntungan :

a) Jaringan distribusi relatif lebih searah. b) Pemasangan pipa lebih mudah.

c) Penggunaan pipa lebih sedikit karena pipa distribusi hanya dipasang pada daerah yang paling padat penduduknya.

 Kerugian :

a) Kemungkinan terjadinya penimbunan kotoran dan pengendapan di ujung pipa tidak dapat dihindari sehingga setidaknya perlu dilakukan pembersihan.

b) Bila terjadi kerusakan dan kebakaran pada salah satu bagian sistem maka suplay air akan terganggu.

c) Kemungkinan tekanan air yang diperlukan tidak cukup jika ada sambungan baru. d) Keseimbangan sistem pengaliran kurang terjamin, terutama jika terjadi tekanan

kritis pada bagian pipa yang terjauh.

II.3.2. SISTEM MELINGKAR ATAU LOOP

Pada sistem ini, jaringan pipa induk distribusi saling berhubungan satu dengan yang lain membentuk lingkaran-lingkaran, sehingga pada pipa induk tidak ada titik mati (dead end) dan air akan mengalir ke suatu titik yang dapat melalui beberapa arah. Sistem ini biasa diterapkan pada :

1) Daerah dengan jaringan jalan yang saling berhubungan.

2) Daerah yang perkembangan kotanya cenderung ke segala arah. 3) Keadaan topografi yang relatif datar.

 Keuntungan :

a) Kemungkinan terjadinya penimbunan kotoran dan pengendapan lumpur dapat dihindari (air dapat disirkulasi dengan bebas).

b) Bila terjadi kerusakan, perbaikan, atau pengambilan untuk pemadam kebakaran pada bagian sistem tertentu, maka suplay air pada bagian lain tidak terganggu.

(13)

8 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090  Kerugian :

a) Sistem perpipaan yang rumit.

b) Perlengkapan pipa yang digunakan sangat banyak

II.4. SISTEM PERPIPAAN DISTRIBUSI

II.4.1. JENIS PIPA

 Pipa Primer atau Pipa Induk (Supply Main Pipe)

Pipa ini merupakan pipa yang berfungsi membawa air minum dari instalasi pengolahan atau reservoir distribusi ke suatu daerah pelayanan. Pipa primer ini memiliki diameter yang relatif besar.

 Pipa Sekunder (Arterial Main Pipe)

Pipa sekunder merupakan pipa yang disambungkan langsung pada pipa primer dan mempunyai diameter yang sama atau lebih kecil dari pipa primer.

 Pipa Tersier

Pipa ini berfungsi untuk melayani pipa service karena pemasangan langsung pipa servis pada pipa primer sangat tidak menguntungkan, mengingat dapat terganggunya pengaliran air dalam pipa dan lalu lintas di daerah pemasangan. Pipa tersier dapat disambungkan langsung pada pipa sekunder atau primer.

 Pipa Service

Pipa servis merupakan pipa yang dihubungkan langsung pada pipa sekunder atau tersier, yang kemudian dihubungkan pada sambungan rumah (konsumen). Pipa ini memiliki diameter yang relatif kecil.

(14)

9 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

 Jenis pipa berdasarkan bahannya :

1) Pipa kayu

Merupakan jenis pipa tertua didunia, pipa kayu telah dikenal jauh sebelum masehi. Sampai kini pipa tersebut masih sering terlihat dipakai terutama untuk konstruksi tepat guna di pedesaan dimana penggunaan bahan lainnya belum memungkinkan.

2) Pipa besi Cor

Pipa besi cor mulai dikembangkan menggantikan pipa kayu menjelang tahun-tahun hitungan masehi. Sesuai dengan namanya pipa besi cor terbuat dari besi cor dengan kandungan Fe (ferro) dan C (carbon) yang domain.

3) Pipa Logam Non Ferro

Yang dimaksud dengan non ferro adalah paduan logam yang tidak mempunyai paduan besi (ferro). Contoh jenis paduan ini antara lain paduan tembaga, paduan alumunium, paduan magnesium, paduan titanium dan sebagainya.

4) Pipa Baja.

Pipa baja merupakan paduan Fe dengan unsur-unsur lain seperti Karbon, Magnesium dan sebagainya. Dapat diperlakukan panas dan dibentuk dengan berbagai cara untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, Pipa Baja dikelompokan menjadi :

a) Pipa baja karbon (carbon steel pipe) b) Pipa baja tahan karat (stainlees steel pipe)

 Jenis pipa berdasarkan penggunaanya:

1) Pipa Gelas.

Pipa gelas dipergunakan untuk tujuan khusus misalnya ketahanan kimianya, kebersihannya, dan tembus pandangnya. Sifat gelas sangat tidak tahan terhadap tegangan mekanik, tegangan termal, dan benturan.

(15)

10 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 2) Pipa Karet.

Pipa karet selain sering digunakan untuk tujuan seperti pada pipa plastik juga terutama digunakan sebagai pipa fleksibel. Sifat karet yang elastis sangat menentukan pipa karet saluran elastis. Juga seperti halnya plastik, karet dapat dipakai sebagai bahan pelapis pipa baja, teruatama diperlukan untuk melapisi pipa agar tahan korosi, pipa karet tingkat elastisitasnya sangat baik.

3) Pipa Plastik.

Pipa plastik sering digunakan untuk mengalirkan fluida korosi aktif, khususnya untuk gas-gas korosif, gas-gas berbahaya, dan asam mineral lemah. Pipa plastik dipakai dalam bentuk :

a) Pipa plastik utuh seperti PVC dan sebagainya.

b) Pipa plastik diperkuat seperti glass fiber reinforced carbon filled dan sebagainya. c) Pipa dilapis plastik, seperti pipa baja tapi dilapisi plastik.

4) Pipa Beton.

Pipa beton biasanya dipergunakan untuk saluran buangan (drainase). Pipa beton ini terbuat dari campuran semen, pasir dan kerikil halus dengan perbandingan tertentu dan dicetak secara statis. Pipa beton kebanyakan dipergunakan untuk mengalirkan air bersih, air pengairan atau instalasi pembangkit tenaga dalam terowongan-terowonggan air.

(16)

11 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

 Jenis pipa pada umumnya:

Sumber : Gambar Google

1) Asbes Cement Pipe (ACP)

Jenis ini terbuat dari bahan asbes dengan permukaan bagian dalam yang halus meskipun telah berusia lama, tahan terhadap korosi, bersifat isolator, ringan, pemasangannya mudah, penyambungannya sederhana dengan menggunakan coupling, ring tittle, danmechanical joint. Tetapi pipa ini tidak elastis dan tidak tahan terhadap benturan dan beban berat. Tersedia dalam ukuran 50-600 mm.

(17)

12 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 2) Cast Iron Pipe (CIP)

Terbuat dari bahan besi tuang dengan sifat tahan terhadap tekanan yang besar, daya mekanis lebih baik, mampu menahan getaran, berat, dan tahan lama. CIP mudah terkena korosi terutama pada bagian permukaan dan sambungan, oleh karenanya ada jenis tertentu yang diberi lapisan anti korosif seperti pada jenis DCIP. DCIP mudah dalam pemasangan, penyambungan dapat dilakukan dengan flanged, bell dan spigot, danmechanical joint. Tersedia dalam ukuran 75-1500 mm.

Sumber : Gambar Google

3) Ductile Iron Pipe (DIP)

Terbuat dari bahan besi tuang dengan sifat tahan terhadap tekanan yang besar, daya mekanis lebih baik, mampu menahan getaran, berat, dan tahan lama. CIP mudah terkena korosi terutama pada bagian permukaan dan sambungan, oleh karenanya ada jenis tertentu yang diberi lapisan anti korosif seperti pada jenis DCIP. DCIP mudah dalam pemasangan, penyambungan dapat dilakukan dengan flanged, bell dan spigot, danmechanical joint. Tersedia dalam ukuran 75-1500 mm.

(18)

13 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

Sumber : Gambar Google

4) Galvanized Iron Pipe (GIP)

Terbuat dari baja campuran atau besi tempa dengan sifat tahan terhadap tekanan dari dalam pipa dan kesadahan yang tinggi, pengangkutan dan pemasangan mudah, tetapi kurang tahan terhadap korosi dan harganya relatif mahal. Tersedia dalam ukuran 75-1500 mm.

(19)

14 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 5) Polyvinyl Chloride (PVC)

Terbuat dari serat fiber dengan sifat tahan terhadap korosi dan tanah yang agresif, isolator, menghambat pertumbuhan bakteri, tidak merubah sifat air, ringan, pemasangannya mudah yaitu dengan sistem rubbering, dan umumnya mudah didapat serta banyak tersedia di pasaran. Dengan sistem pemasangan dengan menggunakanrubbering ini, pipa tidak perlu lagi dilem dan sambungan antarpipa akan fleksibel terhadap gerakan pipa. Tetapi kekuatan mekanisnya rendah, koefisian muai panasnya besar, dan tidak tahan terhadap sinar matahari. Tersedia dengan diameter 50-400 mm.

II.4.2.ALAT SAMBUNG

Macam-macam alat sambung yang dapat digunakan dalam perencanaan jaringan pipa distribusi antara lain :

1) Tee : Untuk megalirkan air secara menyilang

2) Ben : Digunakan pada penyambyngan pada pipa yang berbelah.

3) Valve : Untuk mengatur aliran menutup dan membuka serta mengontrol tekanan air.

(20)

15 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

 Gate Valve

Sumber : Gambar Google

Gate valve adalah jenis katup yang digunakan untuk membuka aliran dengan cara mengangkat gerbang penutup nya yang berbentuk bulat atau persegi panjang. Gate Valve adalah jenis valve yang paling sering dipakai dalam sistem perpipaan. Yang fungsinya untuk membuka dan menutup aliran. Gate valve tidak untuk mengatur besar kecil laju suatu aliran fluida dengan cara membuka setengah atau seperempat posisinya, Jadi posisi gate pada valve ini harus benar benar terbuka (fully open) atau benar-benar tertutup (fully close). Jika posisi gate setengah terbuka maka akan terjadi turbulensi pada aliran tersebut dan turbulensi ini akan menyebabkan :

a) Akan terjadi pengikisan sudut-sudut gate. laju aliran fluida yg turbulensi ini dapat mengikis sudut-sudut gate yang dapat menyebabkan erosi dan pada akhirnya valve tidak dapat bekerja secara sempurna.

b) Terjadi perubahan pada posisi dudukan gerbang penutupnya. Gerbang penutup akan terjadi pengayunan terhadap posisi dudukan (seat), sehingga lama kelamaan posisi nya akan berubah terhadap dudukan (seat) sehingga apabila valve menutup maka gerbang penutupnya tidak akan berada pada posisi yang tepat, sehingga bisa menyebabkan passing.

(21)

16 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

 Air Release Valve

Sumber : Gambar Google

Biasa disebut bypass valve adalah salah satu jenis yang berfungsi untuk mengontrol atau membatasi tekanan dengan cara mengarahkan /mengalihkan aliran kedalam jalur tambahan yang jauh dari jalur aliran utama. Batas tekanan yang bekerja pada Valve ini dapat diatur sesuai keinginan di sesuaikan dengan kebutuhan tekanan kerja pada jalur

 Blow Off Valve

Sumber : Gambar Google

Berfungsi untuk mengeluarkan kotoran atau lumpur pada pipa. Serta mengeluarkan atau mengosongkan pipa saat adanya maintanance.

(22)

17 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

 Check Valve

Sumber : Gambar Google

Check valve adalah alat yang digunakan untuk membuat aliran fluida hanya mengalir kesatu arah saja atau agar tidak terjadi reversed flow/back flow. Tekanan ke depan akan membuka saluran, sementara tekanan sebaliknya akan menutup saluran.

 Fire Hydrant

(23)

18 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 Hydrant adalah sebuah alat perlindungan api aktif yang disediakan di sebagian wilayah perkotaan, pinggiran kota, dan perdesaan yang memiliki ketersediaan (pasokan) air yang cukup yang memungkinkan petugas pemadam kebakaran untuk menggunakan pasokan air tersebut untuk membantu memadamkan kebakaran.

Hydrant merupakan koneksi yang berupa alat yang terdapat di atas tanah yang menyediakan akses pasokan air untuk tujuan pemadaman kebakaran. Air yang digunakan untuk hydrant ini dapat bertekanan, seperti dalam kasus dimana hdran tersambung dengan pompa dalam menghasilkan tekanan, atau unpressurized(tidak bertekanan) dimana hydrant tersambung secara langsung ke sumber air seperti kolam atau tangki air dengan menggunakan pompa tersendiri.

Tiap hydrant memiliki satu atau lebih penghubung (connector) selang kebakaran. Jika suplai air bertekanan, maka hydrant juga dilengkapi dengan satu atau lebih katup untuk mengatur aliran air. Dalam rangka menyediakan air yang cukup untuk pemadaman kebakaran, hydrant dianjurkan untuk dapat memberikan debit air minimum 250 galon per menit (945 liter per menit).Kebutuhan akan hydrant yang semakin tinggi diiringi dengan munculnya sistem air bawah tanah. Sebelumnya,air diperoleh dari sumur terdekat atau kolam yang mudah di akses. Hal ini mempersulit dalam proses pemadaman kebakaran karena akses terhadap suplai air yang kemungkinan sulit didapat di sekitar lokasi kebakaran.

 Manhole

Sumber : Gambar Google

(24)

19 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

 Meter Tekanan

Sumber : Gambar Google

Meter Tekanan berfungsi untuk mengontrol tekanan

 Meter Air

Sumber : Gambar Google

Berfungsi untuk mengontrol atau mengatur jalannya laju air dari PDAM menuju ke konsumen.

(25)

20 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

 Bangunan Perlintasan Pipa

Sumber : Gambar Google

Bangunan perlintasan pipa berfungsi sebagai penopang untuk pipa distribusi yang melintasi rel atau sungai.

II.5. PENENTUAN LUAS WILAYAH

Untuk menentukan luas wilayah pada Kecamatan Bangkalan menggunakan kertas kalkir milimeter, tanpa harus mendatangi tempat yang ditentukan.

Luas wilayah tersebut dapat diketahui dengan ketentuan :

1. Luas wilayah 1 kotak dalam kertas kalkir milimeter tersebut mewakilkan 1 cm2 luas wilayah.

2. Setelah diketahui luas total daerah pada kalkir milimeter tersebut, kemudian masukkan pada skala asli

3. Luas yang diperoleh merupakan ukuran wilayah yang sebenarnya, hasil yang diperoleh masih dalam ukuran cm2 kemudian diubah dalam bentuk km2.

(26)

21 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 Tabel 2.1. Luas Wilayah

No. Nama Wilayah Luas pada Milimeter (cm2) Luas Sebenarnya (km2)

I II III IV

Sumber : www.google.com/luaswilayah

Keterangan :

I : Kolom yang berisi nomor kelurahan

II : Kolom yang berisi nama wilayah kelurahan III : Kolom kotak kalkir milimeter dalam satuan cm2 IV : Kolom luas wilayah dalam km2

II.6. PROYEKSI PENDUDUK

Proyeksi penduduk dalam perencanaan Sistem Distribusi Air Minum (SDAM) bertujuan memproyeksikan jumlah penduduk sampai dengan tahun perencanaan.

 Ada beberapa metode proyeksi, yaitu :

 Cara Matematis

a) Rata-rata Aritmatik

Pn = Po + r (dn)

(27)

22 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 Keterangan :

Pn : Jumlah penduduk tahun ke-n Po : Jumlah penduduk tahun ke-0

r : Rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun dn : Kurun waktu yang diproyeksikan

 Cara Geometrik

Pn = Po (I + r’)

r’ : rata-rata persen (%) pertambahan penduduk.

r’ =

𝐉𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐝𝐮𝐝𝐮𝐤 (%)𝐧−𝟏

 Least Square

Pn = a + b.t

t : tambahan tahun terhitung dan tahun dasar.

a =

∑𝐩 ∑𝐭² − (∑𝐭)(∑𝐩𝐭)𝐧 ∑𝐭𝟐 − (∑𝐭𝟐)

b =

𝐧 ∑𝐩𝐭 − (∑𝐭)(∑𝐩)𝐧 ∑𝐭𝟐 − (∑𝐭𝟐)

(28)

23 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

 Cara Grafis

 Metode Regresi Linier

Metode ini yang dipakai dalam perencanaan yaitu metode regresi linier. Metode ini digunakan untuk garis regresi linier artinya data pertumbuhan penduduk yang lalu menggambar regresi linier. Meskipun perkembangan penduduk tersebut tidak selalu bertambah (fluktuatif).

Dalam sistem distribusi air minum ini proyeksi penduduk adalah 10 tahun mendatang yang mulai 2015-2025. Untuk proyeksi penduduk ini digunakan metode least square dengan cara grafis yang menggunakan microsoft excel. Caranya adalah sebagai berikut :

a) Pertama masuk ke microsoft office lalu pilih program microsoft excel, kita masukkan data yang sudah ada. Data untuk tahun, kita masukkan di kolom A sebagai X dan data jumlah penduduk kita masukkan ke kolom B sebagai Y. Buat tabel dengan semua data dimasukkan ke masing-masing kolom. Berikut ini contoh tabel.

Tabel 2.2 Contoh Tabel Data

X Y 2010 4245 ... ... ... ... ... ... 2014 ... Dst Dst

(29)

24 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 Keterangan :

Kolom X : Data tahun yang direncanakan 1 tahap yaitu dengan proyeksi 10 tahun. Kolom Y : Data jumlah penduduk per tahun.

b) Data-data yang sudah ada dimasukkan. Maka kolom X dan kolom Y diblok kemudian klik “chart wizard”. Setelah itu muncul garis dan grafik tersebut, dimana X untuk bahan proyeksi dan Y adalah jumlah penduduk per tahun, jika digambarkan sebagai berikut :

Sumber : Dokumentasi Pribadi

Keterangan:

Sumbu X : Tahun yang akan dibentukan Sumbu Y : Jumlah penduduk

c) Grafik tersebut telah selesai, klik kanan pada chart tersebut lepas pada garis regresinya pilih menu “add treadline” maka akan muncul kotak dialog kemudian klik “type on chart” dan display R square value on chart untuk menampilkan nilai devlasi atau nilai yang mendekati kebenaran. Lalu klik OK.

d) Setelah muncul y adalah rumusan regresi linier dan R adalah nilai devlasi. Hitung nilai atau jumlah penduduk pada tahun 2025 dengan memasukkan persamaan yang telah diketahui. On chart untuk menampilkan rumusan regresif linier serta R klik OK.

x Y

(30)

25 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

II.7. PROYEKSI FASILITAS

Proyeksi fasilitas dibuat berdasarkan jumlah fasilitas yang sudah ada dan diproyeksikan sampai pada tahun perencanaan proyeksi ini diperlukan untuk menentukan jumlah kebutuhan non-domestik, sesuai dengan periode desain proyeksi jumlah fasilitas yang diambil dari data atau perhitungan dengan menggunakan rumus :

𝐏𝐧 𝐏𝐨

=

𝐅𝐧 𝐅𝐨 Keterangan :

Pn : Jumlah penduduk tahun ke-n Po : Jumlah penduduk tahun ke-0 Fn : Jumlah fasilitas akhir proyeksi Fo : Jumlah fasilitas pada tahun ke-0

(Sumber : Sarwono M. Jilid 1 tahun 1)

Dalam pertumbuhan fasilitas dipengaruhi beberapa hal, yaitu : a. Jenis fasilitas

b. Perkembangan sosial ekonomi c. Pertumbuhan penduduk

(31)

26 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

II.7.1. KEBUTUHAN AIR DOMESTIK

Berdasarkan kebijakan pembangunan di bidang air bersih yaitu : “Kebutuhan air suatu kota didasarkan pada besarnya jumlah penduduk yang dilayani” . yang sesuai kategori dibawah ini, tabel 2.3 menunjukan data kategori kota:

Tabel 2.3 Kategori Kota

No. Kategori Kota ∑Penduduk (jiwa) Rata-rata kebutuhan air

1. Kota Metropolitan > 1.000.000 120 liter/orang/hari 2. Kota Besar 500.000 – 1.000.000 100 liter/orang/hari 3. Kota Sedang 100.000 – 500.000 90 liter/orang/hari 4. Kota Kecil 20.000 – 100.000 60 liter/orang/hari 5. Kota IKK 3.000 – 20.000 45 liter/orang/hari 6. Kota Sub IKK < 3.000 30 liter/orang/hari

Sumber : Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu

Dilihat dari jumlah penduduk dari 13 kelurahan di Kecamatan Bangkalan berkisar antara 3.000 – 20.000 jiwa. Maka Kecamatan Bangkalan termasuk dalam kota IKK.

Kebutuhan dasar domestik ini ditentukan oleh adanya konsumen domestik ini antara lain : mandi, minum, memasak, dan lain-lain. Kecenderungan meningkatnya kebutuhan air ditentukan oleh kebiasaan dan pola hidup serta taraf hidup yang didukung oleh perkembangan sosial ekonomi.

Jenis pelayanan air memberikan pengaruh terhadap konsumsi air yang dikenal 2 kategori fasilitas penyediaan air minum yaitu :

a) Fasilitas Perpipaan, meliputi :

 Sambungan langsung (SL) Kran disediakan sampai dalam rumah / gedung.

 Sambungan Kran Umum (KU) Bak air yang dipakai bersama oleh sekelompok rumah maupun bangunan.

(32)

27 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 b) Fasilitas Non-Perpipaan, meliputi :

 Sumur umum

 Modal air

 Mata air

Keterangan dari Tabel Perhitungan Kebutuhan Air Domestik

Kolom I : Kolom blok pelayanan per kelurahan Kolom II : Nama kelurahan dari tiap-tiap blok

Kolom III : Jumlah penduduk tiap kelurahan tahun 2025 pada tiap blok

Kolom IV : Presentase pelayanan tiap kelurahan pada masing-masing blok yang terlayani

Kolom V : Jumlah penduduk yang dilayani (Kolom III x Kolom IV) Kolom VI : SL => Presentase sambungan langsung pelayanan air bersih Kolom VII : KU => Presentase sambungan kran umum pelayanan air bersih Kolom VIII : SL => Jumlah penduduk SL dari penjumlahan kolom VI

Kolom IX : KU => Jumlah penduduk KU dari penjumlahan kolom VII Kolom X : Kolom Q standart untuk SL tiap kelurahan (liter/orang/hari) Kolom XI : Q kebutuhan dasar untuk SL tiap kelurahan yang didapat dari

kolom VII

Kolom XII : Jumlah unit untuk KU tiap kelurahan

Kolom XIII : Asumsi (orang/unit) => Asumsi jumlah penduduk tiap KU (1 unit KU) Didapat dari ∑penduduk ÷ ∑unit

(33)

28 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 Kolom XIV : Asumsi Q standart pada KU (disesuaikan dengan standart

kategori kota)

Kolom XV : Q kebutuhan dasar untuk KU tiap kelurahan yang didapat dari ∑unit x asumsi (∑orang/unit) x Q standart

Kolom XVI : ∑Q domestik per kelurahan dasar SL + ∑Q kebutuhan KU

II.7.2. KEBUTUHAN AIR NON DOMESTIK

Seiring dengan perkembangan sosial-ekonomi penggunaan air digunakan untuk keperluan non domestik seperti proses industri umum (peribadatan, sekolah, terminal, pasar, dll) dan komersial (industri, perhotelan, restoran, dll).

Berkaitan dengan besaran atau satuan untuk konsumsi air bersih untuk konsumen domestik, maka dipakai tabel berikut , tabel 2.4 menunjukan data kategori kota I,II,III,IV :

Tabel 2.4 Kategori Kota I, II, III, IV

No. Kategori Konsumsi Kebutuhan Air Bersih

1. Sekolahan 10 liter/murid/hari

2. Rumah Sakit 200 liter/tempat tidur/hari 3. Puskesmas 1m3 /hari

4. Masjid <2m3 /hari

5. Kantor 10 liter/pegawai/hari

6. Pasar 12m3/Ha/hari

(34)

29 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 No. Kategori Konsumsi Kebutuhan Air Bersih

8. Rumah Makan 100 liter/pegawai/hari 9. Kompleks Militer 60 liter/orang/hari

Sumber : Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu

Tabel 2.5 Kategori Kota V

No. Kategori Konsumsi Kebutuhan Air Bersih

1. Sekolahan 5 liter/murid/hari

2. Rumah Sakit 200 liter/tempat tidur/hari 3. Puskesmas 1 m3 / hari

4. Masjid 1.2 m3 / hari

5. Hotel/Losmen 90 liter / tempat tidur / hari 6. Komersial 10 liter / pegawai / hari

Sumber : Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu

Kebutuhan air non domestik ini ditentukan banyaknya konsumen non domestik yang meliputi fasilitas-fasilitas.

1. Perkantoran (pemerintah dan swasta)

2. Pendidikan (TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi)

3. Tempat-tempat ibadah (masjid, mushola, gereja, vihara/pura) 4. Kesehatan (Rumah sakit, puskesmas, dll)

5. Komersial (Toko, hotel, dll) 6. Umum (Terminal, pasar, stasiun) 7. Industri.

(35)

30 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

Tabel Asumsi Jumlah Orang

Kolom I : Kolom blok yang berisi nomor/nama blok Kolom II : Kolom nama kelurahan

Kolom III : Asumsi jumlah orang untuk fasilitas sekolah (TK, SD, SMP, SMA, PT) Sesuai dengan satuan liter/orang/hari

Kolom IV : Asumsi jumlah orang untuk fasilitas peribadatan (mushola, masjid, gereja,Pura/vihara) sesuai dengan asumsi.

Kolom V : Asumsi jumlah orang untuk fasilitas kesehatan (rumah sakit, puskesmas, dll) Sesuai dengan asumsi

Kolom VI : Asumsi jumlah orang untuk fasilitas komersial (industri, perhotelan, kantor,Stasiun, terminal, pasar) sesuai dengan asumsi.

Tabel Standart Kebutuhan Q

Kolom I : Kolom blok yang berisi nomor/nama blok Kolom II : Kolom nama kelurahan

Kolom III : Standart kebutuhan Q untuk fasilitas sekolah (TK, SD, SMP, SMA, PT) Disesuaikan dengan kebutuhan air untuk kategori I, II, III, IV

Kolom IV : Standart kebutuhan Q untuk fasilitas peribadatan (mushola, masjid, gereja, Pura/vihara) disesuaikan dengan kebutuhan air untuk kategori I, II, III, IV Kolom V : Standart kebutuhan Q untuk fasilitas kesehatan (rumah sakit, puskesmas,

(36)

31 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 Kolom VI : Standart kebutuhan Q untuk fasilitas komersial (industri,hotel/losmen,

Pasar, stasiun, terminal) disesuaikan pada kebutuhan air untuk kategori kota I,II, III, IV.

Tabel Q Non Domestik

Kolom I : Kolom blok yang berisi nomor/nama blok Kolom II : Kolom nama kelurahan

Kolom III-VI : Q dalam satuan liter/hari, dengan rumus Q = (∑unit terlayani) x (asumsi Berdasarkan yang dipersyaratkan) x (standart kebutuhan Q) Kolom VII : Q total non domestik per kelurahan (liter/hari) dengan rumus (kolom

III +kolom IV + kolom V + kolom VI)

II.7.3. KEBUTUHAN AIR PEMADAM KEBAKARAN

Standard Penyediaan air untuk pemadam kebakaran bervariasi tergantung pada area pelayanan, konstruksi bangunan dan jenis pemakaian gedung serta diutamakan untuk area yang rawan kebakaran. Besarnya kebutuhan air untuk pemadam kebakaran ini tidak berfluktuasi, dikarenakan terjadinya kebakaran sulit diduga dan tidak dapat ditentukan. Di Indonesia, belum ada standardisasi untuk kebakaran sehingga penerapannya bersifat subyektif, biasanya sekitar 10 % s.d 25 % dari kebutuhan air harian maksimum.

II.7.4. FLUKTUASI KEBUTUHAN AIR

Pada umumnya, masyarakat Indonesia melakukan aktifitas penggunaan air pada pagi dan sore hari dengan konsumsi air yang lebih banyak daripada waktu-waktu lainnya. Dari keseluruhan aktifitas dan konsumsi sehari tersebut dapat diketahui pemakaian rata-rata air. Dengan memasukkan besarnya faktor kehilangan air ke dalam kebutuhan dasar maka

(37)

32 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 selanjutnya dapat disebut sebagai fluktuasi kebutuhan air. Dan di dalam distribusi air minum, tolak ukur yang digunakan dalam perencanaan maupun evaluasinya adalah kebutuhan air hari maksimum dan kebutuhan air jam maksimum dengan mengacu pada kebutuhan air rata-rata.

II.7.5. TOTAL KEBUTUHAN AIR

 Kebutuhan Air Rata-rata Harian (QRh)

QRh = Total kebutuhan dasar + KA (kebocoran air, yaitu banyaknya air yang dibutuhkan selama 1 tahun).

Kebocoran yang ingin dicapai (KA) => % sesuai dengan kebutuhan/kebutuhan kategori kota. , tabel 2.6 menunjukan data kebocoran (KA) :

Tabel 2.6 Kebocoran yang Ingin Dicapai (KA) %

No. Kategori Kota Persentase Kebocoran

1. Metropolitan 30 % 2. Besar 30 % 3. Sedang 20 % 4. Kecil 20 % 5. IKK 15 % 6. Sub IKK 15 %

(38)

33 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

 Kebutuhan Air Jam Max

Untuk menghitung kebutuhan air jam max, diperlukan faktor jam max (Fjm) Rumus : Qjm = Qhm x Fjm Fjm = 1.5 – 1.7

 Kebutuhan Air Hari Max

Untuk menghitung kebutuhan air hari max, diperlukan faktor hari max (Fhm) Rumus : Qhm = Qrh x Fhm Fhm = 1 – 2.0

KETERANGAN TABEL KEBUTUHAN AIR

Kolom I : Kolom nomor yang berisi nomor blok Kolom II : Kolom nama kelurahan

Kolom III : Jumlah Q domestik sesuai dengan tabel perhitungan Q domestik

Kolom IV : Jumlah Q non domestik sesuai dengan tabel perhitungan Q non domestik Kolom V : Kebutuhan Q total yang didapat dari kolom III + kolom IV

Kolom VI : Presentasi KA. Kebocoran yang ingin dicapai disesuaikan dengan kategori kota.

Kolom VII : Q KA didapat dari kolom V x kolom VI Kolom VIII : QRh. Kebutuhan air rata-rata harian

Kolom IX : FHm merupakan kebutuhan air harian maksimum dengan Fhm bernilai 1-2 Kolom X : Qhm. Total kebutuhan harian maksimal dari kolom VIII x kolom IX dengan

(39)

34 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 Kolom XI : Faktor jam maksimal (Fjm) dengan nilai 1.5 – 1.7

Kolom XII : Qjm kebutuhan air jam puncak (kolom XI ÷ 24) dengan satuan liter/jam Kolom XIII : Qhm total/blok. Kebutuhan air maksimum jam di total per blok

II.8. KRITERIA PERENCANAAN

II.8.1. PENENTUAN BLOK PELAYANAN

Guna mempermudah perhitungan kebutuhan air bersih baik kebutuhan domestik maupun non-domestik. Maka perlu dilakukan pembagian wilayah pelayanan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut , tabel 2.7 menunjukan data blok pelayanan :

1) Kepadatan penduduk 2) Jalur jalan

3) Batas wilayah

Tabel 2.7 Blok Pelayanan

No. Blok/Kelurahan ∑Penduduk % Pelayanan ∑Penduduk yang dilayani

I II III IV V

(40)

35 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

Keterangan

Kolom I : Nomor

Kolom II : Keluarahan yang sesuai blok Kolom III : Jumlah penduduk tahun 2025

Kolom IV : Persentase pelayanan tiap kelurahan Kolom V : Jumlah penduduk yang dilayani

Keterangan Tabel Jumlah Unit Terlayani

Kolom I : Kolom blok yang berisi nomor/ nama blok Kolom II : Kolom nama kelurahan

Kolom III : Jumlahunit yang terlayani untuk fasilitas sekolah (TK,SD,SMP,SMA, PT). Sesuai dengan proyeksi tahun 2025.

Kolom IV : Jumlah unit yang terlayani untuk fasilitas peribadatan (mushola, masjid, gereja, pura / vihara). Sesuai dengan proyeksi tahun 2025

Kolom V : Jumlah unit yang terlayani untuk fasilitas kesehatan (puskesmas,rumah sakit. Sesuai dengan proyeksi tahun 2025

Kolom VI : Jumlah unit yang terlayani untuk fasilitas komersial (kantor,industri,pasar, Stasiun, terminal, hotel/losmen) sesuai dengan proyeksi tahun 2025

(41)

36 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

Tabel Asumsi Jumlah Orang

Kolom I : Kolom blok yang berisi nomor/nama blok Kolom II : Kolom nama kelurahan

Kolom III : Asumsi jumlah orang untuk fasilitas sekolah (TK, SD, SMP, SMA,PT). Sesuai dengan satuan liter/orang/hari

Kolom IV : Asumsi jumlah orang untuk fasilitas peribadatan (mushola,masjid,gereja, Pura/vihara) sesuai dengan asumsi.

Kolom V : Asumsi jumlah orang untuk fasilitas kesehatan (rumah sakit, puskesmas,dll). Sesuai dengan asumsi

Kolom VI : Asumsi jumlah orang untuk fasilitas komersial (industri, perhotelan, kantor, Stasiun, terminal, pasar) sesuai dengan asumsi.

Tabel Standart Kebutuhan Q

Kolom I : Kolom blok yang berisi nomor/nama blok Kolom II : Kolom nama kelurahan

Kolom III : Standart kebutuhan Q untuk fasilitas sekolah (TK, SD, SMP, SMA, PT). Disesuaikan dengan kebutuhan air untuk kategori I, II, III, IV

Kolom IV : Standart kebutuhan Q untuk fasilitas peribadatan (mushola,masjid, gereja, Pura/vihara) disesuaikan dengan kebutuhan air untuk kategori I, II, III, IV Kolom V : Standart kebutuhan Q untuk fasilitas kesehatan (rumah sakit, puskesmas,

(42)

37 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 Kolom VI : Standart kebutuhan Q untuk fasilitas komersial (industri, hotel/losmen,

Pasar, stasiun, terminal) disesuaikan pada kebutuhan air untuk kategori kota I, II, III, IV.

Tabel Q Non Domestik

Kolom I : Kolom blok yang berisi nomor/nama blok Kolom II : Kolom nama kelurahan

Kolom III-VI : Q dalam satuan liter/hari, dengan rumus Q = (∑unit terlayani) x (asumsi berdasarkan yang dipersyaratkan) x (standart kebutuhan Q)

Kolom VII : Q total non domestik per kelurahan (liter/hari) dengan rumus (kolom III + kolom IV + kolom V + kolom VI)

II.8.2. PENENTUAN SISTEM JARINGAN PIPA (LOOPING)

Untuk menentukan letak jaringan pipa looping. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

 Diupayakan mengikuti jalan raya, rel kereta api, sungai, karena untukmengantisipasi adanya perbaikan pipa akibat kebocoran atau kerusakan agar tidak mengganggu lahan pemukiman penduduk.

 Jika jalur pipa melintang atau menyeberangi jalan raya, rel kereta api, atau sungai, maka harus dilengkapi dengan bangunan pelindung pipa.Setelah jalur dibuat, maka akan bisa mmebuat tabel looping

(43)

38 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

KETERANGAN TABEL LOOPING

Kolom I : Loop ke-n Kolom II : Blok Kolom III : Kelurahan

Kolom IV : Qhm (kebutuhan harian maksimum) tiap kelurahan dari perhitungan kebutuhan air. Satuan liter/detik

Kolom V : % Pelayanan. Jumlah pelayanan kebutuhan air yang akan dilayani loop tersebut.

Kolom VI : Qhm Terlayani (kolom IV x kolom V) Jumlah air (kebutuhan) yang akan dilayani Loop tersebut. Satuan liter/detik.

Kolom VII : Qhm dalam satuan m3 / detik

Kolom VIII : Q total keseluruhan dalam 1 Looping (m3 / detik)

II.8.3. PENDISTRIBUSIAN DEBIT TAPPING

Untuk menentukan titik perubahan pipa tapping yang perlu diperhatikan adalah :

1.) Pelayanan beberapa kelurahan oleh beberapa tapping dalam 1 looping diusahakan merata.

2.) Jumlah debit tapping yang dijumlahkan (total).

3.) % pelayanan tiap kelurahan jumlahnya sama dengan % pelayanan kelurahan itu di tabel looping.

(44)

39 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 4.) Jarak antar titik tapping / tiap sampul percabangan diarahkan merata. Hal ini

disebabkan karena perbedaan yang besar di nilai Hf (hardycross) akan berpengaruh pada perhitungannya.

Setelah pipa tapping ditentukan, maka kita dapat membuat tabel tapping untuk menentukan pelayanannya tiap kelurahan per tapping.

KETERANGAN TABEL PERHITUNGAN TAPPING

Kolom I : Loop ke-n Kolom II : Node Kolom III : Kelurahan

Kolom IV : Q Hm (liter/detik). Q Hm dari jumlah Q Hm terlayani dari tabel perhitungan looping.

Kolom V : Q Hm (m3 / detik) Q Hm dari kolom IV diubah menjadi m3 / detik. Kolom VI : Q Hm (liter/detik) total untuk 1 loop.

Kolom VII : Q Hm total (m3/detik) total untuk 1 loop.

II.9. DIMENSI PIPA

Analisa jaringan pipa induk dapat dilakukan dengan 2 cara.

II.9.1. SECARA MANUAL

Penentuan Debit Looping Hardycross

Untuk menentukan debit aliran pada tiap-tiap looping baik sebelum maupun sesudah percabangan perlu asumsi. Asumsi besarnya nilai Q tersebut dibuat dengan

(45)

40 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 mempertimbangkan kebutuhan debit tapping yang akan dilayani dan kontur untuk peta arah aliran.

Setelah asumsi pembagian debit dan arah aliran selesai maka buat tabel looping hardycross. Untuk menghitung menggunakan program microsoft excel untuk mempermudah perhitungan data.

II.9.2. SECARA KOMPUTER

Perhitungan dengan menggunakan komputer (EPANet, WaterCAD, program LOOP)

II.9.3. EPANET

Epanet merupakan program computer untuk permodelan jaringan pipa yang bersifat public domaint. Di dalam penggunaan epanet, ada beberapa data yang dibutuhkan untuk proses analisa,evaluasi,dan simulasi jaringan air bersih berbasis epanet. Diantaranya :

1) Peta jaringan.

2) Node/titik dari komponen distribusi. 3) Elevasi.

4) Panjang pipa distribusi. 5) Diameter dalam pipa. 6) Jenis pipa yang digunakan. 7) Umur pipa.

8) Jenis sumber (mata air, sumur bor, IPAM). 9) Spesifikasi pompa (bila menggunakan pompa). 10) Bentuk dan ukuran recervoir.

11) Beban masing-masing node (besarnya typing). 12) Factor fluktuasi pemakaian air

13) Konsentrasi chlor disumber.

(46)

41 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

 Hidrolik head masing-masing titik

 Tekanan dan kualitas air

II.9.4. KEGUNAAN EPANET

Epanet memiliki beberapa kegunaan diantaranya adalah :

 Didesain untuk software untuk mengetahui perkembangan dan pergerakan air serta degradasi unsur kimia yang ada di dalam air pipa distribusi

 Dapat digunakan sebagai dasar analisa dan berbagai macam sistem distribusi,detail desain,model kalibrasi hidrolik,analisa sisa chlor dan berbagai unsur lainnya.

 Dapat membantu menentukan alternative strategis manajemen dan sistem jaringan pipa distribusi air bersih,seperti :

Sumber atau instalasi,apabila terdapat banyak sumber atau instalasi.

 Sebagai simulasi menentukan alternative pegoprasian pompa dalam melakukan pengisian recervoir maupun injeksi ke sistem distribusi.

 Treatment seperti dimana dilakukan proses klorinasi,baik di instalasi maupun dalam sistem jaringan.

Penentuan prioritas terhadap pipa yang akan dibersihkan atau diganti.

KETERANGAN TABEL PERHITUNGAN HARDY CROSS

Kolom I : Loop ke-n Kolom II : Nomer pipa Kolom III : Node dari Kolom IV : Node ke

(47)

42 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 Kolom VI : D (m) Diameter pipa

Kolom VII : V (m/s) kecepatan yang memiliki range 0.3 – 2.5

Kolom VIII : L panjang pipa (m). Diukur dengan menggunakan benang pada peta looping diukur panjangnya lalu dikalikan skala dan dibagi 100 untuk satuan meter. Kolom IX : Hf (head loss) kehilangan tenaga dalam meter.

Hf = (10.7 x L x Q1.852) ÷ (C1.852 x D4.87)

Dengan C = 140 => pipa baru, kuningan, tembaga, baja Dengan C = 130 => pipa besi, pipa pvc

Dengan C = 110 => pipa dilapisi semen, pipa keramik Dengan C = 100 => pipa baja tua

Kolom X : |Hf/Q| absolute atau harga mutlak Kolom XI : ΔQ dalam m3/detik

ΔQ = (∑Hf) ÷ (1.85 x ∑|Hf/Q|)

Kolom XII : ΔQ Koreksi (dengan syarat tidak overlap) Overlap => ΔQ overlap I + (- ΔQ overlap II)

Catatan:

1) Untuk nilai D (diameter) dan V (kecepatan) fleksibel atau mutlak. Jika menentukan diameter. Maka nilai kecepatan dihitung dan hasil hitungan harus masuk range (0.3 – 2.5) m/s. Begitu juga sebaliknya jika menentukan kecepatan maka diameter yang dihitung.

2) Untuk Hf, jika nilai (-) berarti arah aliran berlawanan arah looping. Dalam perhitungan Hf tanda (-) pada Q diikutkan.

(48)

43 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 3) Untuk |Hf/Q| (+) (-) diabaikan, karena harga mutlak.

4) Perhitungan ∑Hf nilai (+) (-) diikutkan.

5) Jika Hf naik, maka kecepatan juga naik, namun diameter turun. 6) Jika Hf turun, maka kecepatan juga turun, namun diameter naik. 7) Ceck hardycross benar :

- ΔQ ≈ 0.001 ≈ 0

- ΔQ ≈ ΔQ II + ΔQ III turun - Check V => 0.3 – 2.5 m/detik.

II.10. DIMENSI RESERVOIR

II.10.1. PENENTUAN DIMENSI GROUND RESERVOIR

Kapasitas Ground Reservoir.

Ada 2 metode yang digunakan untuk menentukan kapasitas ground reservoir, yaitu :  Metode Analitik

 Metode Grafik

Dalam tugas ini, digunakan metode grafik. Dimana sumbu X sebagai jam (lama pengairan) dan sumbu Y sebagai asumsi suplay PDAM (Q).

Besarnya suplay dari PDAM diasumsikan, besarnya tergantung dari Q jumlah perhitungan hardycross. Besarnya suplay PDAM harus lebih besar dari Q. Jam suplay ke rooftank diasumsikan berdasarkan kebutuhan. Contoh suplay ke ground reservoir dari jam 02.00 – 24.00 (22 jam).

(49)

44 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

II.10.2. DIMENSI ELEVATED RESERVOIR.

Penentuan dimensi elevated reservoir menggunakan metode grafik berikut ini.

Sumber : Buku Plambing Morimura

Dari gambar garfik di atas dapat diketahui bahwa Y suplay air dari ground ke elevated reservoir. Sedangkan Z sebagai lamanya air didistribusikan dengan demikian dapat direncanakan jumlah elevated reservoir yang digunakan :

Input => Suplay dari ground reservoir ke elevated reservoir. Output => Pemakaian air ke distribusi penduduk.

Perhitungan dimensi elevated reservoir digunakan :

 Menghitung Q Elevated reservoir digunakan rumus :

Q ER = Y-Z

QER : Debit elevated reservoir (m3/jam) Y : Suplay dari reservoir

Z : Pemakaian air. Y dan Z didapat dari grafik.

(50)

45 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090  Menghitung Volume Elevated Reservoir digunakan rumus :

VER = QER x Sisa jam

VER : Volume elevated reservoir. (m3) QER : Debit elevated reservoir. (m3/jam)  Penentuan Tinggi Elevated Reservoir :

Penentuan tinggi elevated reservoir tergantung pada titik kritis. Merupakan titik-titik dimana suatu aliran akan mendapatkan tekanan paling rendah dengan headloss paling rendah atau juga paling tinggi.

Rumus :

HER = Hf Pompa + Hf titik kritis + tinggi titik kritis + Hf Distribusi transisi.

HER : Tinggi elevated reservoir. Hf pompa : Head pompa

Hf titik kritis : headloss titik kritis (m) => Hf mayor + Hf minor Tinggi kritis : Elevasi titik kritis.

Hf distribusi/transisi : Tinggi statis (jarak antara pipa outlet sampai titik kritis).

II.10.3. PENENTUAN TITIK KRITIS

Penentuan titik kritis pada elevated reservoir sangat penting, karena untuk memberikan aliran (kecepatan) dan tekanan air yang cukup saat air yang didistribusikan melalui pipa yang sangat panjang. Semakin tinggi elevated reservoir kecepatan aliran dan tekanan air semakin besar. Jalur pipa terkritis dilihat dari tabel hardycross dengan nilai Hf terbesar dan terus dicari Hf pipa yang mengalir air sebelumnya sampai di elevated reservoir.

(51)

46 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

 Kerugian Gesek Panjang Pipa Sebenarnya:

Hf Mayor = (10.7 x L x Q1.852) ÷ (C1.852 x D4.87)

Atau nilai Hf yang didapat dari tabel perhitungan hardycross di trial 3 terkritis. Keterangan :

L : Panjang pipa sebenarnya (m) Q : Debit aliran (m3/detik)

C : Koefisien Hazen William (tergantung jenisnya) D : Diameter pipa (m)

 Kerugian Gesek Panjang Pipa Ekivalen :

Panjang ekivalen pipa aksesoris bervariasi sesuai dengan jenis dan diameternya.

Hf minor = (KxV

2

) ÷ (2g)

Keterangan :

K : Panjang pipa ekivalen (m) V : Kecepatan aliran (m/detik) g : Percepatan gravitasi (m/detik)

Jika aliran yang menuju pipa terkritis banyak melewati diameter pipa yang berbeda, maka :

Hf mayor + Hf minor = Hf total

(52)

47 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

II.11. POMPA

Penentuan pompa berpengaruh pada operasional PDAM saat air akan didistribusikan, maka dari itu pemilihan tipe dan perfomance pompa harus benar-benar sesuai dengan beban yang akan dilayani.

Karena pompa beroperasi sangat lama, maka lebih baik dibuat lebih dari satu pompa. Untuk mengatasi gangguan, penetuan head pompa dilihat dan dibandingkan dengan head static, yang akan dilalui.

Asumsi : Head pompa ≥ Hs

Jika ditentukan tipe pompa dari grafik pompa, maka dilihat dari data pompa yang meliputi :

 Q atau debit aliran (m3/detik)

 Head (m)

 Ø pipa input pompa (m)

 Ø pipa output pompa (m)

Setelah itu dicari kecepatan aliran pada pompa :

V = Q ÷ (¼ x Π x D

2

)

=>

V = (4 x Q) ÷ (Π x D

2

)

Keterangan :

V : Kecepatan aliran (m/detik) Q : Debit pompa (m3/detik) D : Diameter pipa in/out (m)

Kemudian dilanjutkan dengan penentuan panjang pipa suction dan discharge pompa.

(53)

48 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

 Hf Suction :

Hf suction = Hf mayor suction + Hf minor suction

Hf mayor suction = (10.7 x L x Q1.852) ÷ (C1.852 x D4.87)

Hf minor suction = (K x V2) ÷ (2g)

Hf Discharge :

Hf discharge = Hf mayor discharge + Hf minor discharge

Hf mayor discharge = (10.7 x L x Q1.852) ÷ (C1.852 x D4.87) Hf minor discharge = (K x V) ÷ (2g)

Keterangan :

L : panjang pipa (m) Q : debit (m3/detik) D : diameter pipa (m)

K : panjang pipa ekivalen (m) g : percepatan gravitasi (m2/s)

catatan :

nilai K (ekivalen) didapat dari tabel kawamura. Percepatan gravitasi = 9.8 m/detik.

Hf total = H suction + H discharge Hs + Hf total ≤ Head total

(54)

49 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 Apabila head pompa yang diasumsikan ≥ Hs + Hf , maka benar. Tetapi jika head pompa lebih kecil, maka asumsi head pompa kurang dan harus diganti menjadi lebih besar dan dilakukan perhitungan ulang.

(55)

50 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

BAB 3

KRITERIA PERENCANAAN

III.1.1. DAERAH PERENCANAAN

Peta Kecamatan Bangkalan

III.1.2. LETAK GEOGRAFIS

Letak geografis daerah perencanaan Sistem Distribusi Air Minum (SDAM) di Kabupaten Bangkalan yang memiliki 18 kecamatan. Kabupaten Bangkalan ini terletak antara 112 - 113 Bujur Timur dan 6 – 7 Lintang Selatan. Sebelah Utara berbatasan dengan Laut

(56)

51 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 Jawa, Timur berbatasan dengan Kabupaten Sampang, Barat berbatasan dengan Selat Madura, Selatan berbatasan dengan Selat Madura. Dari18 kecamatan diantaranya adalah Kecamatan Bangkalan. Batas-batas wilayah untuk menentukan letak geografis Kecamatan Bangkalan adalah sebagai berikut :

 Utara : Kecamatan Arosbaya.  Timur : Kecamatan Burneh.  Selatan : Kecamatan Socah.  Barat : Selat Madura.

Kecamatan Bangkalan berada di sebelah Barat Kabupaten Bangkalan. Adapun Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah tersebut cukup baik dengan rata-rata 3.150 hingga 4.650 ha.

III.1.3. KEADAAN TOPOGRAFI

Kemampuan tanah di Kabupaten Bangkalan dilihat dari kemiringannya sebagian besar memiliki kemiringan 2-15° yaitu sekitar 50,45% atau 63.002 Ha. Dan kemiringan 0-2° sekitar 45,43% atau 56.738 Ha. Sedangkan tekstur tanah sebagian besar bertekstur sedang yaitu seluas 116.267 Ha atau sekitar 93,10% dan untuk kedalaman spektip tanah di Kabupaten Bangkalan memiliki kedalaman >90 cm yaitu seluas 64.130/64.131 Ha atau 51,35%.

Dilihat dari topografi, Kabupaten Bangkalan berada pada ketinggian 2-100 m di atas permukaan air laut. Wilayah yang terletak di pesisir pantai, seperti Kecamatan Sepulu, Bangkalan, Socah, Kamal, Modung, Kwanyar, Arosbaya, Klampis, Tanjung Bumi, Labang dan Kecamatan Burneh mempunyai ketinggian antara 2-10 m di atas permukaan air laut. Sedangkan wilayah yang terletak pada bagian tengah mempunyai ketinggian antara 19-100 m di atas permukaan air laut. Lokasi tertinggi terletak di Kecamatan Geger dengan ketinggian 100 m diatas permukaan laut.

Sebagai bagian dari siklus hidrologi, di Kabupaten Bangkalan terdapat sejumlah mata air, waduk, dan sungai. Pola aliran permukaan dapat dilihat dari pola aliran sungai yang ada di Kabupaten Bangkalan. Sungai-sungai utama dari masing-masing kecamatan di Kabupaten

(57)

52 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 Bangkalan bermuara di selat Madura dan Laut Jawa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bangkalan

III.1.4. KEADAAN IKLIM

Selain dipengaruhi oleh adanya sungai, kondisi hidrologi di Kabupaten Bangkalan juga dipengaruhi oleh beberapa sumber air. Sumber-sumber air yang ada di Kabupaten Bangkalan mempunyai kualitas air baku yang cukup baik untuk kebutuhan irigasi maupun air bersih.

Saluran irigasi keberadaanya sangat dibutuhkan di seluruh wilayah Kabupaten Bangkalan karena dapat meningkatkan ekonomi penduduk melalui sektor pertanian. Pengembangan irigasi di wilayah ini sebenarnya dapat memanfaatkan sumber-sumber air dan sungai-sungai yang ada dengan syarat wilayah yang akan diairi harus lebih rendah lokasinya. Ironisnya sumber-sumber air dan sungai-sungai di Kabupaten Bangkalan lokasinya lebih rendah dari pada daerah pertanian sehingga perlu suatu teknik pemanfaatan air tersebut, misalnya dengan grafitasi bumi.

Sebagian besar area pertanian di Kabupaten Bangkalan memanfaatkan curah hujan guna mensuplai sistem pengairan untuk areal pertaniannya. Untuk daerah irigasi pada kawasan pertanian ini sebagian besar menggunakan metode konvesional atau sistem irigasi non teknis yang juga tergantung dari curah hujan.

Rata–rata curah hujan di Kabupaten Bangkalan tahun 2010 sebesar 9,56 mm, naik dari tahun sebelumnya yang sebesar 5,94 mm. Pada periode yang sama rata-rata jumlah hari hujan per tahun mengalami kenaikan yakni dari 182 hari pada tahun 2009 menjadi 200 hari pada tahun 2010. Dengan demikian meningkatnya curah hujan tersebut diiringi peningkatan jumlah hari hujan.

Terdapat 60 lokasi sumber air di Kabupaten Bangkalan yang mempunyai debit yang relatif besar. Dari ke-60 sumber air tersebut, sumber air Pocong mempunyai debit terbesar yaitu 200 liter/detik, sehingga oleh Pemerintah Daerah dipergunakan sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan penduduk di bawah pengelolaan PDAM.

(58)

53 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 Tabel 3.1 Curah Hujan Tahun 2015

Bulan Curah Hujan

(mm) Hari Hujan

Rata-rata Curah hujan (mm/hari) Januari 338 19 17.79 Februari 26 12 2.17 Maret 330 14 23.57 April 712 19 37.47 Mei 129 4 32.25 Juni 11 5 2.20 Juli 500 10 50.00 Agustus 24 2 12.00 September 0 0 0.00 Oktober 12 2 6.00 November 211 14 15.07 Desember 243 18 13.50

Sumber : BPS Jawa Timur

III.1.5. TATA GUNA LAHAN

Tata guna lahan merupakan pemanfaatan lahan-lahan yang ada pada setiap daerah, dalam hal ini merupakan tata guna lahan yang ada di daerah Kecamatan Bangkalan. , tabel 3.2 menunjukan data tata guna lahan :

Tabel 3.2 Data Tata Guna Lahan Kelurahan Tanah Sawah Tanah Tegalan Pekarangan Hutan Negara Lain-lain Jumlah Ujung Piring 78,00 37,00 172,00 0 55,82 342,82 Sembilangan 60,10 60,20 69,40 0 19,60 209,30 Kramat 172,00 80,00 151,00 0 18,60 421,60 Mertajasah 8,80 - 29,90 0 51,94 90,64 Mlajah 131,00 45,00 336,00 0 88,00 600,00 Kemayoran - 2,00 108,62 0 51,14 161,76 Pangeranan - - 118,50 0 46,00 164,50 Demangan - - 47,25 0 8,00 55,25 Kraton 1,00 - 48,00 0 55,60 104,60 Pejagan 1,00 20,50 56,00 0 26,00 133,50 Bancaran 270,00 86,00 165,00 0 67,61 588,61 Sabiyan 125,00 26,00 73,00 0 13,95 237,95 Gebang 225,00 24,92 60,30 0 21,12 331,34

(59)

54 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

III.2. ASPEK DEMOGRAFI

III.2.1. DATA PENDUDUK

Pada Kecamatan Bangkalan mengalami penurunan jumlah penduduk setiap tahunnya dalam 5 tahun terakhir yaitu tahun 2011 hingga 2015. Hal ini disebabkan karena adanya beberapa faktor antara lain, tingkat kematian yang tinggi, tingkat kelahiran yang rendah, serta adanya perpindahan penduduk dan sebagainya. Oleh karena itu jumlah penduduk kedepannya akan diproyeksikan untuk jumlah penduduk pada 10 tahun mendatang yaitu tahun 2026. , tabel 3.3 menunjukan data penduduk :

Tabel 3.3 Data Penduduk

Kelurahan 2011 2012 2013 2014 2015 Ujung Piring 1.236 1.799 1.799 19.797 1.800 Sembilangan 1.120 1.252 1.259 1.252 1.259 Kramat 2.927 3.129 3.129 3.129 3.134 Mertajasah 1.261 1.448 1.448 1.448 1.450 Mlajah 4.774 8.180 8.292 8.373 8.382 Kemayoran 5.872 7.207 7.306 7.305 7.311 Pangeranan 9.734 11.255 11.263 11.234 11.245 Demangan 8.747 8.727 8.672 8.644 8.653 Keraton 8.846 10.445 10.497 10.469 10.484 Pejagan 15.334 20.140 20.198 20.209 20.220 Bancaran 9.524 10.904 10.914 10.919 10.927 Sabiyan 2.128 2.587 2.587 2.587 2.589 Gebang 3.628 3.064 3.064 3.064 3.071

Sumber : BPS Jawa Timur

III.2.2.JUMLAH PENDUDUK

Jumlah penduduk wilayah Kecamatan Bangkalan mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011 jumlah penduduk di Kecamatan Bangkalan sebanyak 75.131 jiwa, dan pada tahun 2012 sebanyak 90.137 jiwa, kemudian pada tahun 2013 sebanyak 90.428 jiwa.

(60)

55 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

Gambar 2. Piramida Jumlah Penduduk

III.2.3.KEPADATAN PENDUDUK

Kepadatan penduduk adalah perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas wilayah. Kepadatan kotor adalah perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas keseluruhan. Jumlah penduduk pada tahun 2009 sebesar 74.221 jiwa dengan luas wilayah 35,02 Km2 sehingga pada tahun 2009 kepadatan kotor di wilayah perencanaan sebesar 2.119,389 jiwa/Km2.

1) Jumlah penduduk pada tahun 2010 sebesar 76.895 jiwa dengan luas wilayah 35,02 Km2 sehingga pada tahun 2011 kepadatan kotor di wilayah perencanaan sebesar 2.195,745 jiwa/Km2.

2) Jumlah penduduk pada tahun 2011 sebesar 75.131 jiwa dengan luas wilayah 35,02 Km2 sehingga pada tahun 2011 kepadatan kotor di wilayah perencanaan sebesar 2.145,374 jiwa/Km2.

(61)

56 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090 3) Jumlah penduduk pada tahun 2012 sebesar 90.137 jiwa dengan luas wilayah

34,44 Km2 sehingga pada tahun 2012 kepadatan kotor di wilayah perencanaan sebesar 2.617,218 jiwa/Km2.

4) Jumlah penduduk pada tahun 2013 sebesar 90.428 jiwa dengan luas wilayah 35,02 Km2 sehingga pada tahun 2011 kepadatan kotor di wilayah perencanaan sebesar 2.582,182 jiwa/Km2.

5) Jumlah penduduk pada tahun 2011 sebesar 75.131 jiwa dengan luas wilayah 35,02 Km2 sehingga pada tahun 2011 kepadatan kotor di wilayah perencanaan sebesar 2.145,374 jiwa/Km2.

III.3. DATA FASILITAS

III.3.1. PERUMAHAN

Banyaknya perumahan/rumah tangga per km2 setiap tahunnya : Tahun 2009 : 740,82 km2 Tahun 2011 : 730,09 km2 Tahun 2012 : 505,15 km2 Tahun 2013 : 505,86 km2 Tahun 2014 : 507,06 km2 Tahun 2015 :510,48 km2

(62)

57 ACHMAD FANY BAGUS SAPUTRA 1452010090

III.3.2. PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan hal penting bagi generasi penerus bangsa. Wajib bagi masyarakat Indonesia untuk menimba ilmu minimal 9 tahun, maka disetiap daerah umumnya harus memiliki fasilitas pendidikan. Berikut adalah banyaknya fasilitas pendidikan negeri, swasta, dan Islam setiap tahunnya di Kecamatan Bangkalan, tabel 3.4 menunjukan data pendidikan :

Tabel 3.4 Data Pendidikan

TK SD SMP SMA PT 2011 42 64 17 17 39 2012 27 43 12 12 3 2013 40 65 17 17 39 2014 44 66 17 17 39 2015 44 66 17 17 39

Sumber : Data BPS Jawa Timur

III.3.3. PERIBADATAN

Indonesia memiliki 5 agama yang diperbolehkan oleh pemerintah, berbagai agama tentunya memiliki tempat peribadatannya sendiri-sendiri. Setiap daerah wajib memiliki fasilitas peribadatan minimal satu. Berikut data fasilitas peribadatan pada Kecamatan Bangkalan per tahun , tabel 3.5 menunjukan data jumlah tempat peribadatan :

Tabel 3.5 Data Jumlah Tempat Peribadatan

Masjid Musholla Gereja Pura/Vihara

2011 31 94 3 1

2012 35 77 6 1

2013 40 159 6 1

2014 41 44 6 1

2015 41 44 6 1

Gambar

Tabel 2.3 Kategori Kota
Tabel 2.7 Blok Pelayanan
Tabel 3.2 Data Tata Guna Lahan  Kelurahan  Tanah  Sawah  Tanah  Tegalan  Pekarangan  Hutan  Negara  Lain-lain  Jumlah  Ujung Piring  78,00  37,00  172,00  0  55,82  342,82  Sembilangan  60,10  60,20  69,40  0  19,60  209,30  Kramat  172,00  80,00  151,00
Tabel 3.3 Data Penduduk
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sistem  Penyediaan  Air  Minum Bukan Jaringan  Perpipaan  adalah  satu

4 Pemeriksaan Parameter Biologi Air Minum sesuai dengan Permenkes 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum setiap 1 (satu) bulan sekali pada Air Minum Inst Gizi, Air

Efektivitas penurunan nilai kesadahan total sebesar 76% telah dicapai pada sampel air minum yang melalui proses pendidihan, pendiaman 2 jam dan penyaringan satu

2) Mengetahui pengaruh intervensi edukasi terhadap jumlah konsumsi air minum. 3) Mengetahui pengaruh intervensi pemberian air minum terhadap jumlah konsumsi air

Dari data Tabel 2 dapat dilihat bahwa aktivitas air minum berkisar antara 3,26 ~ 11,5 Bq/L yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan jenis air lainnya, karena air

Jlh. Yang dimaksud dengan kebutuhan air jam puncak yaitu kebutuhan air pada jam-jam tertentu dalam satu hari dimana kebutuhan akan air sangat tinggi. Kebutuhan

Sumbawa dan Lombok Barat, jumlah jam kerja ternak hanya berkisar 3 — 4 jam kerja per hari. Untuk menjamin ketersediaan beberapa pakan yang mengandung nilai nutrisi yang

4 Pemeriksaan Parameter Biologi Air Minum sesuai dengan Permenkes 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum setiap 1 (satu) bulan sekali pada Air Minum Inst Gizi, Air