• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 1 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

P U T U S A N

Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G

memeriksa perkara perdata khusus perselisihan hubungan industrial pada tingkat kasasi memutus sebagai berikut dalam perkara antara:

PT. NIPPRES. Tbk, berkedudukan di Jalan Raya Narogong

Kilometer 26, Klapanunggal RT 4 RW 1, Desa Klapanunggal, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, diwakili oleh Richard Tandiono selaku Direktur, dalam hal ini memberi kuasa kepada Oyong Darwan (HRD Departemen Head), dan Antonio Richardo Halomoan (Industrial Reation Officer), karyawan PT. Nipress, Tbk, berkantor di Jalan Raya Narongong Kilometer 26, Kampung Klapanunggal, Desa Klapanunggal, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 2 Juni 2017;

Pemohon Kasasi dahulu Tergugat; L a w a n:

1. INDRA BAYU, bertempat tinggal di Kampung Klapanunggal

RT 2 RW 1, Desa Klapanunggal, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor;

2. M. BERRY SELVIAN, bertempat tinggal di Kampung

Klapanunggal RT 4 RW 1, Desa Klapanunggal, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor;

Keduanya dalam hal ini memberi kuasa kepada Tri Widodo, S.H, dan kawan-kawan, para Pengurus Dewan Pimpinan Cabang Gabungan Serikat Pekerja Manufaktur Independen Indonesia (DPC-GSPMII) Kabupaten Bogor, beralamat di Dusun II Rawa Jamun, RT 1 RW 3, Desa Dayeuh, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 7 Juli 2017;

Para Termohon Kasasi dahulu Para Penggugat; Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata sekarang Para Termohon Kasasi dahulu sebagai Para Penggugat telah mengajukan gugatan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 2 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

terhadap sekarang Pemohon Kasasi dahulu sebagai Tergugat di depan persidangan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Bandung pada pokoknya sebagai berikut:

1. Bahwa Tergugat PT. Nippres Tbk sebuah perusahaan yang didirikan sejak tahun 1970 bergerak dibidang manufaktur baterai yang memproduksi Baterai/AKI untuk Automotif yakni Baterai/Aki Mobil, Baterai/Aki Motor, yang proses produksinya di Departemen produksi melalui bagian hierarchy

casting, hierarchy pasting, hierarchy cutting, hierarchy Assembly;

2. Bahwa tentang hubungan kerja antara Tergugat dengan Penggugat: a. Sdr. Indra Bayu, terikat hubungan kerja sejak 25 Januari 2010,

ditempatkan bekerja dan menjalankan pekerjaan pada pada bagian

hierarchy Assembly di Departemen produksi, dengan jabatan Operator, menerima upah terakhir bulan Maret 2016 sebesar Rp3.570.449,- (tiga juta lima ratus tujuh puluh ribu empat ratus empat puluh sembilan rupiah);

b. Sdr. M. Berry Selvian, terikat hubungan kerja sejak 11 Januari 2010, ditempatkan bekerja dan menjalankan pekerjaan pada bagian hierarchy

pasting, di departemen produksi, dengan jabatan Operator, menerima

upah terakhir bulan Maret 2016 sebesar Rp3.570.449,- (tiga juta lima ratus tujuh puluh ribu empat ratus empat puluh sembilan rupiah);

3. Bahwa hubungan kerja antara Tergugat dengan para Penggugat timbul dari Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), yang dibuat oleh Tergugat untuk menyiasati aturan hukum, karena:

a. Isi Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) tidak menyebut secara jelas mengenai jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaan yang diperjanjikan, tidak menetapkan batasan suatu pekerjaannya dinyatakan selesai/ berakhir, dan tidak mencantumkan mengenai adanya kondisi tertentu/musim tertentu dalam rangka memenuhi target atau untuk mengerjakan pesanan/order yang mana;

b. Senyatanya Obyek dari Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) a quo pada bagian hierarchy pasting dan hierarchy assembly adalah Pekerjaan yang bersifat tetap dan masih berlangsung sampai saat ini; Untuk itu mohon Majelis Hakim yang Mulia menyatakan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) antara para Penggugat dengan Tergugat batal demi hukum;

4. Bahwa Tergugat telah menyalahgunakan aturan hukum, karena dalam pelaksanaannya dan saat penerapannya ternyata Perjanjian Kerja Waktu

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 3 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

Tertentu (PKWT) tersebut tidak sesuai dengan ketentuan hukum, dimana pekerjaan yang dikerjakan para Penggugat pada depertemen produksi, adalah:

- Pekerjaan yang bersifat tetap dari tahun 1970 dan masih terus berlangsung sampai saat ini, perkerjaan tersebut bukanlah pekerjaan tambahan, bukan pekerjaan bersifat sementara dan bukan pekerjaan yang bersifat musiman (adanya kondisi tertentu) tetapi merupakan pekerjaan pokok dan bagian dari suatu proses produksi;

- Jenis pekerjaan dan hasil pekerjaannya yang dikerjakan para Penggugat pada bagian hierarchy pasting dan hierarchy assembly di Departemen produksi, sama dengan yang dikerjakan oleh pekerja tetap/karyawan tetap;

- Saat Tergugat mengakhiri hubungan kerja dengan para Penggugat ternyata pekerjaan di bagian hierarchy pasting dan hierarchy assembly di Departemen produksi, tidak berakhir/tidak selesai tetapi masih tetap terus berlangsung sampai saat ini;

Dengan demikian pekerjaan yang dikerjakan oleh para Penggugat di bagian hierarchy pasting dan hierarchy assembly di Depertemen produksi adalah pekerjaan yang bersifat tetap, Untuk itu Mohon Majelis Hakim yang Mulia menyatakan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PWKT) yang dibuat antara Tergugat dengan Para Penggugat melanggar pasal 59 ayat (1) UU Nomor 13 Tahun 2003;

5. Bahwa maksud dan tujuan dari pembuatan, penerapan/pelaksanaan dan penggunaan dari system Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) ternyata hanya untukmembatasi jangka waktu berlakunya perjanjian untuk suatu pekerjaan yang bersifat tetap hal itu dilakukan oleh Tergugat sebagai cara untuk:

a. Menghindar dari Kewajiban hukum Tergugat untuk mempekerjakan para Penggugat sebagai pekerja tetap/karyawan tetap;

b. Menghindar dari Kewajiban hukum Tergugat agar tidak membayar uang pesangon saat hubungan kerja berakhir;

Untuk itu mohon Majelis Hakim yang Mulia menyatakan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang dibuat oleh Tergugat dengan Para Penggugat adalah melanggar dengan Pasal 59 ayat (2) UU Nomor 13 Tahun 2003;

6. Bahwa semakin jelas terlihat penyimpangan aturan hukum yang dilakukan oleh Tergugat saat terjadinya perpanjangan/pembaharuan Perjanjian Kerja

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 4 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

Waktu Tertentu (PKWT) ternyataTergugat tidak menyebutkan secara tegas mengenai pekerjaan mana yang dinyatakan belum selesai atau tidak menunjuk secara jelas pesanan/order mana yang belum selesai dikerjakan oleh para Penggugat di Departemen produksi, sebagai alas hukum yang sah bagi Tergugat untuk memperpanjang/dilakukan pembaharuan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PWKT) dengan para Penggugat, sehingga semakin terbukti bahwa perpanjangan/pembaharuan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang dilakukan oleh Tergugat hanya untukmembatasi jangka waktu berlakunya perjanjian dari suatu pekerjaan yang bersifat tetap;

Untuk itu mohon Majelis Hakim yang mulia menyatakan perpanjangan/ pembaharuan perjanjian kerja waktu tertentu antara Tergugat dengan Para Penggugat melanggar aturan hukum;

7. Bahwa dengan telah diperpanjangnya/telah dilakukan pembaharuan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) oleh Tergugat kepada:

a. Penggugat Indra Bayu dengan rincian sebagai berikut:

- PKWT dari tanggal 25 Januari 2010 s/d 24 Januari 2013 (3 Tahun); - PKWT dari tanggal 11 Februari 2013 s/d 10 februari 2015 (2 tahun); - PKWT dari tanggal 30 Maret 2015 s/d 29 Maret 2016 (1 tahun); b. Penggugat M. Berry Silvian dengan rincian sebagai berikut :

- PKWT dari tanggal 11 januari 2010 s/d 10 Januari 2013 (3 tahun); - PKWT dari tanggal 4 Februari 2013 s/d 3 Februari 2015 (2 Tahun); - PKWT dari tanggal 30 Maret 2015 s/d 29 Maret 2016 (1 Tahun); Maka tindakan Tergugat yang telah melakukan pengakhiran hubungan kerja secara sepihak dan tanpa adanya penetapan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial kepada Penggugat Indra Bayu dan Penggugat M Bery Silvian pada tanggal 29 Maret 2016 adalah melanggar Pasal 154 huruf (b) juncto Pasal 151 ayat (3) juncto Pasal 155 ayat (1) Undang Undnag No. 13 Tahun 2003 ;

Oleh karena cara pengakhiran hubungan kerja yang telah dilakukan Tergugat kepada Para Penggugat secara sepihak pada tanggal 29 Maret 2016 dan tanpa adanya penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial adalah batal demi hukum; untuk itu Mohon Majelis Hakim yang Mulia menyatakan Tergugat masih terikat hubungan kerja dengan para Penggugat;

8. Bahwa karena Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) antara Tergugat dengan para Penggugat demi hukum telah berubah secara otomatis menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT), dan cara

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 5 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

pengakhiran hubungan kerja yang telah dilakukan oleh Tergugat secara sepihak telah melanggar hukum, maka cukup alasan bagi para Penggugat meminta kepada Majelis Hakim yang mulia memerintahkan Tergugat membayar upah kepada para Penggugat secara tunai dan sekaligus kepada para Penggugat masing-masing sebesar:

a. Sdr. Indra Bayu terhitung dari bulan April 2016 sampai dengan Januari 2017 sebesar: 9 X Rp3.570.449,- = Rp32.134.041,- ( tiga puluh dua juta seratus tigapuluh ribu empat puluh satu rupiah);

b. Sdr. M. Berry Selvian terhitung dari bulan April 2016 sampai dengan Januari 2017 sebesar: 9 X Rp3.570.449,- = Rp32.134.041,- (tiga puluh dua juta seratus tigapuluh ribu empat puluh satu rupiah);

9. Bahwa ada akibat hukum yang harus diterima oleh Tergugat, saat penerapan/pelaksanaan dan penggunaan dari system Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) telah melanggar aturan hukum, maka Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) antara Tergugat dengan para Penggugat demi hukum telah berubah secara otomatis menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) sejak tanggal 25 Januari 2010 untuk Penggugat Indra Bayu dan sejak tanggal 11 Januari 2010 M Berry Silvian, hal itu disebabkan karena adanya penyimpangan yang telah dilakukan oleh Tergugat dalam penerapan system Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) tidak memenuhi syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh aturan hukum;

10. Bahwa hukum telah menetapkan akibat hukum yang harus diterima oleh Tergugat saat Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) antara Tergugat dengan para Penggugat demi hukum telah berubah secara otomatis menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT), maka alasan “pengakhiran hubungan kerja sesuai dengan ketentuan perundang-undangan” yang telah dinyatakan secara tertulis oleh Tergugat dalam risalah perundingan bipartite tanggal 28 Juni 2016 sudah tidak sesuai aturan hukum;

Untuk itu mohon Majelis Hakim yang mulia menyatakan dan menetapkan antara Tergugat masih terikat hubungan kerja berdasarkan Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) dengan Penggugat Indra Bayu sejak tanggal 25 Januari 2010 dan Penggugat M. Berry Silvian sejak tanggal 11 Januari 2010;

11. Bahwa terhadap tindakan Tergugat yang telah menyalahgunakan aturan hukum dalam menerapkan dan melaksanakan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), maka sudah sepantasnya dan sepatutnya Penggugat memohon kepada Majelis Hakim yang mulia memerintahkan dan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 6 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

mewajibkan Tergugat untuk mempekerjakan kembali para penggugat sebagai pekerja tetap dan tetap membayar upah sebesar ketentuan Upah Minimum yang berlaku di Kabupaten Bogor setiap bulannya selama hubungan kerja belum terputus;

12. Bahwa Penggugat telah melakukan upaya penyelesaian secara bipartit namun tidak tercapai kesepakatan, maka ;

a. Penggugat mengajukan Permohonan Mediasi ke Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bekasi, namun tidak tercapai penyelesaian, sehingga Pegawai Mediator mengeluarkan Surat Anjuran: No. 565/6269/HI Syaker/2016 pada tanggal 24 Agustus 2016; b. Pegawai Mediator Kantor Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan

Transmigrasi kabupaten Bogor telah mengeluarkan Risalah Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Mediasi pada tanggal 14 September 2014;

c. Sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, penggugat mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri kelas 1 A Bandung;

Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, Penggugat mohon kepada Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Bandung agar memberikan putusan sebagai berikut:

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

2. Menyatakan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang dibuat antara para Penggugat dengan Tergugat batal demi hukum;

3. Menyatakan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PWKT) yang dibuat antara Tergugat dengan Para Penggugat melanggar pasal 59 ayat (1) UU Nomor 13 Tahun 2003;

4. Menyatakan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang dibuat oleh Tergugat dengan Para Penggugat adalah bertentangan dengan Pasal 59 ayat (2) UU Nomor 13 Tahun 2003;

5. Menyatakan perpanjangan/pembaharuan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang telah dilakukan oleh Tergugat kepada Para Penggugat melanggar aturan hukum;

6. Menetapkan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang dibuat oleh Tergugat demi hukum telah berubah menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) dengan Penggugat Indra Bayu sejak tanggal 25 Januari 2010 dan Penggugat M. Berry Silvian sejak tanggal 11 Januari 2010; 7. Menyatakan pengakhiran hubungan kerja yang telah dilakukan oleh

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 7 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

Tergugat kepada para Penggugat secara sepihak pada tanggal 29 Maret 2016 dan tanpa ada penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial adalah batal demi hukum;

8. Menyatakan dan menetapkan antara Tergugat dengan Para Penggugat masih terikat hubungan kerja;

9. Memerintah Tergugat membayar upah kepada para Penggugat secara tunai dan sekaligus terhitung dari Bulan April 2016 s/d bulan Januari 2017 masing-masing sebesar:

a. Sdr. Indra Bayu terhitung dari bulan April 2016 sampai dengan Januari 2017 sebesar: 9 X Rp3.570.449,00 = Rp32.134.041,00 ( tiga puluh dua juta seratus tigapuluh ribu empat puluh satu rupiah);

b. Sdr. M. Berry Selvian terhitung dari bulan April 2016 sampai dengan Januari 2017 sebesar: 9 X Rp3.570.449,00 = Rp32.134.041,00 (tiga puluh dua juta seratus tigapuluh ribu empat puluh satu rupiah);

10. Memerintahkan dan mewajibkan Tergugat untuk mempekerjakan kembali para penggugat sebagai pekerja tetap dan tetap membayar upah sebesar ketentuan Upah Minimum yang berlaku di Kabupaten Bogor setiap bulannya selama hubungan kerja belum terputus;

11. Menetapkan biaya perkara menurut hukum; atau mohon putusan yang seadil-adilnya;

Bahwa, terhadap gugatan tersebut di atas, Tergugat mengajukan eksepsi yang pada pokoknya sebagai berikut:

Tergugat menolak dengan tegas seluruh dalil Penggugat dalam surat Gugatan, kecuali terhadap hal-hal yang secara tegas dibenarkan dan diakuinya, serta terbukti kebenarannya menurut hukum.

Eksepsi Legal Standing:

1. Kuasa hukum tidak memiliki kapasitas hukum (Legal Standing) untuk mengajukan Gugatan aquo sehingga cukup alasan dan berdasar hukum bagi Yang Mulia Majelis Hakim untuk menyatakan Gugatan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard);

2. Bahwa dalam hal ini Gabungan Serikat Pekerja Manufaktur Independen Indonesia (GSPMII) tidak memenuhi kualifikasi sebagai kuasa hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 87 Undang UndangNomor 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial;

3. Bahwa dalam pembentukannya PUK GSPMII PT. Nipress, Tbk tidak berjalan dengan itikad baik mulai dari mengklaim dan mencatut Pekerja yang terdaftar sebagai anggota Serikat Pekerja lain yaitu PUK Serikat Pekerja Kimia, Energi,

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 8 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

Pertambangan Minyak Gas Bumidan Umum PT. Nipress, Tbk (PUK SPKEP PT. Nipress, Tbk) sampai tidak terpenuhinya syarat minimal jumlah anggota pembentukan Serikat Pekerja (10 orang) sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk proses verifikasi pencatatan;

4. Adapun verifikasi yang dilakukan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bogor sebanyak 2 (dua) kali akibat tidak dipenuhinya syarat tersebut sebagai berikut:

- Verifikasi I dilakukan berdasarkan Berita Acara Verifikasi Keanggotaan PUK GSPMII PT. Nipress, Tbk tanggal 10 Desember 2015 dengan hasil hanya 1 orang yang terdaftar sebagai anggota PUK GSPMII PT. Nipress, Tbk.;

- Bahwa akibat tidak dipenuhinya hasil verifikasi tersebut PT. Nipress, Tbk mengirimkan Surat Permohonan Verifikasi Ulang pada 15 Juni 2016; - Verifikasi II dilakukan berdasarkan Berita Acara Verifikasi Keanggotaan

PUK GSPMII PT. Nipress, Tbk tanggal 29 Juni 2016 dengan hasil 40 orang yang terdaftar sebagai anggota PUK GSPMII PT. Nipress, Tbk namun tidak ada bukti Kartu Anggota Serikat Pekerja;

- Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bogor mengeluarkan Surat Keterangan Hasil Verifikasi Nomor: 565/6463/HI Syaker/2016 tanggal 1 September 2016 yang menerangkan PUK GSPMII PT. Nipress, Tbk. tercatat setelah anggota yang terdaftar sebanyak 14 orang;

5. Bahwa Penggugat yaitu Indra Bayu dan M. Berry Selvian sudah tidak terikat hubungan kerja dengan PT. Nipress, Tbk sejak tanggal 8April 2016. Sedangkan PUK GSPMII PT. Nipress, Tbk sesuai Surat Keterangan Hasil Verifikasi Nomor: 565/6463/HI Syaker/2016 tanggal 1 September 2016 baru memenuhi hasil verifikasi pencatatan Serikat Pekerja/ Serikat Buruh di Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bogor;

6. Bahwa berdasarkan hal tersebut maka PUK GSPMII PT. Nipress, Tbk belum memenuhi unsur sebagaimana diatur dalam Pasal 87 Undang Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial yang dikutip sebagai berikut:

Pasal 87 Undang Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial “Serikat Pekerja/Serikat Buruh dan organisasi pengusaha dapat bertindak sebagai kuasa hukum untuk beracara di Pengadilan Hubungan Industrial untuk mewakili anggotanya” 7. Bahwa pada dasarnya tujuan Serikat Pekerja/Serikat Buruh berdasarkan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 9 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

Pasal 4 ayat (2) huruf c Undang- Undang Nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/ Serikat Buruh yaitu:

“sebagai sarana menciptakan hubungan industrial yang harmonis, dinamis, dan berkeadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”;

Dan dalam hal ini PUK GSPMII PT. Nipress, Tbk tidak mempunyai tujuan tersebut karena tidak beritikad baik melakukan perundingan dengan Perusahaan, tidak mempunyai program kerja sebagaimana Serikat Pekerja pada umumnya, bahkan tidak mempunyai kantor serikat di Perusahaan. Sehingga patut diduga gugatan hanya mencari sensasi dan tidak murni bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak Pengugat;

8. Bahwa menurut Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo,S.H. dalam bukunya “Hukum Acara Perdata Indonesia” Edisi III Cet. I, Liberty, Yogyakarta, 1988 pada dasarnya penggugat harus memiliki hak untuk menggugat, kemampuan untuk bertindak (handelingsbekwaamheid) atau kewenanangan hukum (nechtsbevoegheid) untuk menggugat. Agar lebih jelas kutipan doktrin Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, S.H. sebagai berikut:

“Pada azaznya setiap orang yang merasa mempunyai hak dan ingin menuntutnya atau ingin mempertahankannya atau membelanya, berwenang untuk bertindak selaku pihak, baik selaku penggugat maupun selaku tergugat (legitima persona standi in judicio).

Kemampuan untuk bertindak (handelingsbekwaamheid) sebagai pihak itu merupakan komplemen penting dari pada kewenangan hukum (rechtsbevoegheid) atau kewenangan untuk menjadi pendukung hak. Siapa yang dianggap tidak mampu bertindak (personae miserabiles) dianggap tidak mampu pula untuk bertindak selaku pihak di muka Pengadilan”;

9. Bahwa berdasarkan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor: 294 K/Sip/1971 tanggal 7 Juli 1971 bahwa “gugatan/bantahan harus diajukan oleh orang yang mempunyai hubungan hukum”;

10. Bahwa berdasarkan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor: 639 K/Sip/1975 tanggal 28 Mei 1977 menyatakan bahwa: “Bila salah satu pihak dalam suatu perkara tidak ada hubungan hukum dengan objek perkara, maka gugatan harus dinyatakan tidak dapat diterima”;

11. Dengan tidak terpenuhinya syarat formal dalam gugatan a quo, dengan alasan Kuasa Hukum tidak mempunyai hak dan kualitas sehingga Kuasa Hukum tidak mempunyai “legitima persona standi in judicio,” maka gugatan haruslah dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijke verklaard);

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 10 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

Bahwa, terhadap gugatan tersebut Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Bandung telah memberikan putusan Nomor 3/Pdt.Sus-PHI/2017/PN.Bdg tanggal 17 Mei 2017 yang amarnya sebagai berikut:

Dalam Eksepsi:

- Menolak eksepsi Tergugat; Dalam Pokok Perkara:

1. Mengabulkan gugatan para Penggugat untuk seluruhnya;

2. Menyatakan hubungan kerja antara para Penggugat dengan Tergugat adalah hubungan kerja berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT);

3. Menyatakan pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh Tergugat terhadap para Penggugat batal demi hukum;

4. Menghukum Tergugat untuk memanggil dan mempekerjakan kembali para Penggugat pada posisi semula;

5. Menghukum Tergugat membayar uang paksa (dwangsom) kepada masing-masing Penggugat sebesar Rp170.021,00 (seratus tujuh puluh ribu dua puluh satu rupiah) setiap harinya apabila Tergugat lalai menjalankan putusan Pengadilan Hubungan Industrial yang telah berkekuatan hukum tetap;

6. Menghukum Tergugat membayar upah yang belum terbayarkan kepada para Penggugat secara tunai dan sekaligus sebesarRp64.268.082,00 (enam puluh empat juta dua ratus enam puluh delapan ribu delapan puluh dua rupiah); 7. Membebankan seluruh biaya yang timbul dalam perkara ini kepada negara

sebesar Rp606.000,00 (enam ratus enam ribu rupiah);

Menimbang, bahwa Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Bandung tersebut telah diucapkan dengan hadirnya Tergugat pada tanggal 17 Mei 2017, terhadap putusan tersebut Tergugat melalui kuasanya berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 2 Juni 2017 mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 6 Juni 2017, sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Kasasi Nomor 61/Kas/G/2017/PHI/PN.Bdg yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Bandung, permohonan tersebut diikuti dengan memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Bandung pada tanggal 20 Juni 2017;

Bahwa memori kasasi telah disampaikan kepada Para Penggugat pada tanggal 12 Juli 2017, kemudian Para Penggugat mengajukan kontra memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Bandung pada tanggal 24 Juli 2017;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 11 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

Menimbang, bahwa permohonan kasasi a quo beserta keberatan-keberatannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan dalam undang-undang, sehingga permohonan kasasi tersebut secara formal dapat diterima;

Menimbang, bahwa keberatan-keberatan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi dalam memori kasasinya pada pokoknya adalah:

Alasan Pertama

Judex Facti telah melampaui kewenangannya karena memutus lebih dari yang

di tuntut Termohon Kasasi/dahulu Penggugat;

1. Putusan PHI Bandung harus dibatalkan oleh Yang Mulia Majelis Hakim Agung karena dalam memutus, Judex Facti telah melampaui kewenangannya dengan memutus lebih dari yang di tuntut Termohon Kasasi/dahulu Penggugat (ultra petitum);

2. Sebagaimana Pemohon Kasasi uraikan dalam uraian di atas, sengketa a

quo adalah sengketa sehubungan dengan Pemutusan Hubungan Kerja

Termohon Kasasi oleh Pemohon Kasasi, Para Termohon Kasasi yang tidak menerima selanjutnya mengajukan Gugatan Perselisihan hubungan kerja ke Pengadilan Hubungan Industrial Bandung, dimana Termohon Kasasi menuntut hal-hal sebagai berikut, yang Pemohon Kasasi salin dari Gugatan Termohon Kasasi:

Halaman Petitum Gugatan Termohon Kasasi:

“... Bahwa berdasarkan fakta-fakta yang sudah di uraikan tersebut, maka Penggugat mohon kepada Majelis Hakim Yang Mulia berkenan memanggil Penggugat dan Tergugat hadir dalam sidang persidangan untuk memeriksa, mengadili perkara ini, serta menjatuhkan Putusan sebagai berikut:

Petitum:

1. Mengabulkan Gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

2. Menyatakan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang dibuat antara Para Penggugat dengan Tergugat batal demi hukum;

3. Menyatakan perjanjian kerja waktu Tertentu (PKWT) yang dibuat antara Tergugat dengan Para Penggugat melanggar Pasal 59 ayat (1) Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003;

4. Menyatakan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang dibuat oleh Tergugat dengan Para Penggugat adalah bertentangan dengan Pasal 59 ayat (2) Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003;

5. Menyatakan perpanjangan/pembaharuan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang telah dilakukan oleh Tergugat kepada Para

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 12 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

Penggugat melanggar aturan hukum;

6. Menetapkan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang dibuat oleh Tergugat demi hukum telah berubah menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) dengan Penggugat Indra Bayu sejak tanggal 25 Januari 2010 dan Penggugat M. Berry Selvian sejak tanggal 11 Januari 2010;

7. Menyatakan pengakhiran hubungan kerja yang telah dilakukan oleh Tergugat kepada Para Penggugat secara sepihak pada tanggal 29 Maret 2016 dan tanpa ada penetapan daru lembaga penyelesaian hubungan industrial adalah batal demi hukum.

8. Menyatakan dan menetapkan antara Tergugat dengan Para Tergugat masih terikat hubungan kerja

9. Memerintahkan Tergugat membayar upah kepada Para Penggugat secara tunai dan sekaligus terhitung dari Bulan April 2016 s/d Bulan Januari 2017 masing-masing sebesar:

a. Sdr. Indra Bayu terhitung dari Bulan April 2016 sampai dengan Januari 2017 sebesar: 9 x Rp3.570.449,00 = Rp32.134.041,00 (tiga puluh dua juta seratus tiga puluh ribu empat puluh satu rupiah); b. Sdr. Berry Selvian terhitung dari Bulan April 2016 sampai dengan

Januari 2017 sebesar: 9 x Rp3.570.449,00 = Rp32.134.041,00 (tiga puluh dua juta seratus tiga puluh ribu empat puluh satu rupiah); 10. Memerintahkan dan mewajibkan Tergugat untuk mempekerjakan

kembali para penggugat sebagai pekerja tetap dan tetap membayar upah sebesar ketentuan upah minimum yang berlaku di Kabupaten Bogor setiap bulannya selama hubungan kerja belum terputus;

11. Menetapkan biaya perkara menurut hukum...”; 3. Atas Gugatan tersebut, Judex Facti dalam Putusan PHI Bandung ternyata

telah memutuskan lebih dari yang dituntut oleh Termohon Kasasi, di buktikan dengan adanya amar putusan yang menghukum Pemohon Kasasi untuk membayar uang paksa (dwangsom), padahal tuntutan tersebut sama sekali tidak pernah di tuntut oleh Termohon Kasasi dalam petitum gugatannya sebagaimana kami kutip diatas. Untuk menghilangkan keragu-raguan berikut kami kutip amar putusan PHI Bandung sebagai berikut:

“Mengadili” Dalam Eksepsi:

- Menolak Eksepsi Para Tergugat; Dalam Pokok Perkara:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 13 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

- Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

- Menyatakan hubungan kerja antara Para Penggugat dengan Tergugat adalah hubungan kerja berdasarkan Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT);

- Menyatakan pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh Tergugat terhadap Penggugat batal demi hukum;

- Menghukum Para Tergugat untuk memanggil dan mempekerjakan kembali para Penggugat pada posisi semula;

- Menghukum Tergugat membayar uang paksa (dwangsom) kepada masing-masing penggugat sebesar Rp.170.021,00 (seratus tujuh puluh ribu dua puluh satu rupiah) setiap harinya apabila Tergugat lalai menjalankan putusan pengadilan Hubungan Industrial yang telah berkekuatan hukum tetap;

- Menghukum Tergugat membayar upah yang belum terbayarkan kepada para Penggugat secara tunai dan sekaligus sebesar Rp64.268.082,00 (enam puluh empat juta dua ratus enam puluh delapan ribu delapan puluh dua rupiah);

- Membebankan seluruh biaya yang timbul dalam perkara ini kepada negara sebesar Rp606.000,00 (enam ratus enam ribu rupiah).”;

4. Berdasarkan ketentuan dalam hukum acara perdata (vide Pasal 178 ayat (3) HIR, Pasal 189 ayat (3) Rbg dan Pasal 50 Rv), “ruang gerak” Hakim dalam persidangan Perdata terbatas hanya kepada apa yang dituntut oleh Pihak Penggugat, sehingga Hakim tidak diberikan kewenangan untuk memutus lebih dari apa yang di mintakan oleh Penggugat. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Mantan Hakim Agung, M. Yahya Harahap dalam halaman 801 bukunya “Hukum Acara Perdata Tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian dan Putusan Persidangan” yang untuk lebih jelasnya akan Pemohon Kasasi kutip sebagai berikut: “...3.Tidak boleh mengabulkan melebihi tuntutan;

Asas lain di gariskan pada Pasal 178 ayat (3) HIR, Pasal 189 ayat (3) Rbg dan Pasal 50 Rv. Putusan tidak boleh mengabulkan melebihi tuntutan yang dikemukakan dalam Gugatan. Larangan ini disebut ultra petitum partium. Hakim yang mengabulkan melebihi posita maupun petitum Penggugat, dianggap telah melampaui wewenang atau ultra vires yakni bertindak melampaui wewenangnya (beyond the powers of his authority). Apabila Putusan mengandung ultra petitum, harus dinyatakan cacat (invalid) meskipun hal itu dilakukan hakim dengan itikad baik (good faith) maupun

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 14 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

sesuai dengan kepentingan umum (public interest)...”;

4. Atas Putusan yang memutus di luar yang diminta oleh Penggugat tersebut, Mahkamah Agung telah secara konsisten mengambil sikap dengan membatalkan Putusan, sebagaimana dapat dilihat dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 77 K/Sip/1973 dan Putusan MA No. 372 K/Sip/1970 yang telah menjadi Yurisprudensi tetap Mahkamah Agung. Oleh karena itu, cukup alasan dan berdasar hukum bagi Yang Mulia Majelis Hakim Agung yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk membatalkan Putusan PHI Bandung;

Alasan Kedua:

Judex Facti telah melakukan kesalahan berat dalam menerapkan hukum karena

memutus tidak berdasarkan kaidah yang dibenarkan dalam hukum acara; Kesalahan pertama:

Judex Facti telah melakukan kesalahan berat dalam menerapkan hukum

pembuktiankarena memutus dengan alat bukti yang belum mencapai batas minimal pembuktian;

1. Judex Facti telah melakukan kesalahan berat dalam menerapkan hukum

pembuktiankarena memutus suatu perkara dengan alat bukti yang belum mencapai batas minimal pembuktian. Dalam pertimbangannya Judex Facti hanya memutus perkara dengan mengacu kepada alat bukti berupa Slip Gaji yang diajukan oleh Termohon Kasasi/dahulu Penggugat. Yang mana untuk lebih jelasnya akan kami salin pertimbangan Judex Facti dalam halaman 28 dan 29 Putusan PHI Bandung sebagai berikut:

“Menimbang, bahwa berdasarkan Bukti P-2.1 berupa slip gaji bulan April 2010 atas nama Indra Bayu, yang mana dalam Slip Gaji tersebut Penggugat atas nama Indra Bayu dinyatakan sebagai karyawan PT Nippress dengan status percobaan;

Menimbang bahwa Pasal 58 (1) Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan menyatakan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu tidak dapat mensyaratkan adanya Perjanjian Kerja;

Menimbang, bahwa berdasarkan bukti T-6, T-7, dan T-9 berupa Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang dibuat antara Penggugat atas nama Indra Bayu dengan Tergugat, serta Bukti T-16, bukti T-18 dan Bukti T-19 berupa Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang dibuat antara Penggugat atas nama M. Berry Selvian dengan Tergugat;

Menimbang, bahwa Pasal 54 ayat (3) Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan menyatakan Perjanjian Kerja sebagaimana

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 15 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

dimaksud dalam ayat (1) dibuat sekurang-kurangnya rangkap 2 (dua) yang mempunyai kekuatan hukum yang sama, serta pekerja/buruh dan pengusaha masing-masing mendapat 1 (satu) Perjanjian Kerja;

Menimbang, bahwa dalam persidangan tidak ditemukan fakta yang dapat membuktikan bahwa Perjanjian Kerja yang dibuat oleh Penggugat dengan Tergugat merupakan rangkap 2 (dua) sebagaimana telah diatur dalam Pasal 54 ayat (3) Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan;

Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan saksi Tergugat yang bernama Dyah Anggraini Putri, Evi Marlina, dan Eddy Azhari yang pada pokoknya menerangkan bahwa bagian tempat Para Penggugat bekerja hingga saat ini masih ada, dan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh Penggugat juga masih ada, akan tetapi oleh karena Para Penggugat telah di PHK, maka Pekerjaan tersebut dikerjakan pekerja lain;

Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan para saksi Tergugat tersebut, majelis Hakim berpendapat pekerjaan yang dilakukan oleh para Penggugat adalah jenis pekerjaan yang bersifat tetap, hal tersebut dibuktikan oleh keterangan para saksi yang menyatakan bahwa sampai saat ini pekerjaan yang dilakukan oleh para Penggugat masih ada dan dikerjakan oleh pekerja lain;

Menimbang, bahwa Pasal 59 ayat (1) dam ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan secara substansinya menyatakan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu, dan Perjanjian Kerja untuk waktu tertentu tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap;

Menimbang, bahwa berdasarkan Pasal 13 Kepmenaker Nomor 100 Tahun 2004 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu menyatakan PKWT wajib dicatatkan oleh pengusaha kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota setempat selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak penandatanganan;

Menimbang, bahwa dalam persidangan ditemukan fakta PKWT yang dilakukan antara Para Penggugat dengan Tergugat tersebut tidak dicatatkan oleh pengusaha kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota setempat selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak penandatanganan;

Menimbang, bahwa berdasarkan fakta yang terungkap dalam persidangan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 16 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

dan berdasarkan keseluruhan pertimbangan diatas, maka majelis hakim berpendapat perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) yang dibuat antara Para Penggugat dengan Tergugat bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, karena PKWT tersebut tidak memenuhi syarat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dan Kepmenaker Nomor 100 Tahun 2004 tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu;

Menimbang, oleh karena Majelis Hakim telah menyatakan PKWT yang dibuat antara Para Penggugat dengan Tergugat tersebut tidak sesuai dan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka majelis hakim berpendapat perjanjian kerja waktu tertentu tersebut demi hukum berubah menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu;”

2. Mohon Perhatian Yang Mulia Majelis Hakim Agung yang memeriksa dan mengadili Perkara a quo, Slip gaji yang diajukan oleh Para Termohon Kasasi hanyalah merupakan suatu penjelasan mengenai pembayaran gaji oleh Pemohon Kasasi, sehingga tidak termasuk kedalam Kategori Akta yang dimaksud di dalam Pasal 1868 dan Pasal 1874 Kitab Undang Undang Hukum Perdata Maupun Pasal 165 HIR. Berdasarkan Ketentuan dalam hukum pembuktian, slip gaji hanya dapat dianggap sebagai Akta Pengakuan sepihak yang tidak dapat berdiri sendiri, sehingga untuk dapat mencapai batas minimal pembuktian harus di dukung dengan adanya alat bukti lain;

3. Ketentuan tentang batas minimal ini juga telah dijelaskan oleh mantan Hakim Agung M Yahya Harahap yang telah menjadi doktrin hukum, dalam bukunya “Hukum Acara Perdata Tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian, dan Putusan Pengadilan” halaman 540 dan 541, sebagai berikut: “... b. Alat bukti yang diajukan berkualitas alat bukti permulaan; Alat bukti yang diajukan tidak cukup memenuhi batas minimal. Hal seperti ini terjadi apabila alat bukti yang diajukan hanya satu, padahal batas minimal jenis alat bukti yang seperti itu paling sedikit dua. Sebagai Contoh, alat bukti keterangan saksi. Menurut Pasal 1905 KUH Perdata, Pasal 169 HIR; unus

testis nullus testis. Jadi keterangan seorang saksi saja, tidak mencapai batas

minimal pembuktian. Sehubungan dengan itu, sekiranya penggugat hanya mengajukan seorang saksi saja, meskipun sah memenuhi syarat formil dan materiil tetapi:

- Alat bukti tidak mencapai batas minimal pembuktian;

- Nilai pembuktiannyahanya bersifat bukti permulaan (begin van bewijs); - Agar alat bukti itu mencapai batas minimal, harus ditambah paling sedikit

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 17 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

satu alat bukti lain, misalnya akta (otentik atau bawah tangan), pengakuan atau alat bukti sumpah tambahan (aanvullende eed);

Apabila yang bersangkutan tidak menambah dengan satu alat bukti lain, kedudukan dan kualitas keterangan saksi yang satu itu, tetap berada dalam posisi bukti permulaan. Nilai dan kualitasnya akan berubah dari bukti permulaan menjadi alat bukti yang mencapai batas minimal, apabila alat bukti yang di tambah memenuhi syarat formiil dan materiil;

Perhatikan kembali putusan yang dikemukakan di atas, pada Putusan Nomor 167 K/Sip/1959, alat bukti yang diajukan hanya satu saja, yaitu akta pinjam uang yang di bantah isinya oleh Tergugat, sehingga nilai dan kualitasnya hanya sebagai alat bukti permulaan tulisan. Penggugat tidak menambahnya dengan salah satu alat bukti lain. Akibatnya, kedudukannya dan kualitasnya tidak mencapai batas minimal, dan tidak mempunyai kekuatan pembuktian (bewijskracht) untuk membuktikan dalil Gugatan. Sedangkan pada putusan Nomor 2444 K/Pdt/1984, alat bukti yang diajukan Penggugat berupa akta IPEDA, namun meskipun memenuhi syarat formil namun tidak memenuhi syarat materiil sehingga akta itu tidak sah sebagai alat bukti ...”

3. Kesalahan Judex Facti dalam menerapkan hukum pembuktian tersebut menimbulkan konsekuensi hukum dapat dibatalkannya Putusan Judex

Facti oleh Mahkamah Agung berdasarkan Jurisprudensi Mahkamah Agung

sebagai berikut:

Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 665K/SIP/1973 tanggal 28 November 1973:

“Satu Surat Bukti saja, tanpa dikuatkan dengan alat bukti lain tidak dapat diterima dengan pembuktian”;

Putusan Mahkamah Agung Nomor 167 K/Sip/1959;

“alat bukti yang diajukan tidak mencapai batas minimal atas alasan, meskipun surat bukti akta pinjaman diakui tanda tangannya oleh Tergugat, namun isi mengenai jumlah uang disangkal Tergugat, maka alat bukti tersebut hanya berkualitas sebagai permulaan pembuktian tertulis (begin

van bewijs bij geschrifte)”;

Putusan Mahkamah Agung Nomor 2444 K/Pdt/1984:

“alat bukti yang diajukan belum mencapai batas minimal pembuktian yang ditentukan hukum, oleh karena itu alat bukti yang diajukan tidak mempunyai nilai kekuatan pembuktian”;

Kesalahan Kedua:

Judex Facti telah melakukan kesalahan berat dalam penerapan audi et alteram

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 18 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

partemkarena Judex Facti telah mengesampingkan dan tidak mempertimbangkan

dalil-dalil, bukti-bukti, dan keterangan saksi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi: 1. Judex Facti telah melakukan kesalahan berat karena telah

mengesampingkan dan tidak mempertimbangkan dalil-dalil, bukti-bukti dan keterangan saksi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi. Di dalam persidangan pada tingkat pertama Termohon Kasasi telah mendalilkan bahwa Termohon Kasasi merupakan pegawai PKWTT (hanya dengan berdasarkan kepada bukti slip gaji), sehingga setelah berakhirnya kontrak Termohon Kasasi meminta untuk dipekerjakan kembali (quod non), atas Dalil dari Termohon Kasasi tersebut, Pemohon Kasasi mengajukan bantahan yang pada pokoknya berupa (i) pengakhiran pekerjaan oleh Pemohon Kasasi sudah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan (ii) Termohon Kasasi merupakan pegawai kontrak sehingga tidak ada kewajiban bagi Pemohon Kasasi untuk kembali mempekerjakan Termohon Kasasi, untuk mendukung dalil tersebut Pemohon Kasasi mengajukan 30 bukti surat dan 4 orang saksi; 2. Alih-alih mempertimbangkan secara komprehensif dari dua sisi, justru bukti

slip gaji yang diajukan oleh Termohon Kasasi tersebut sajalah yang dipertimbangkan oleh Judex Facti, sedangkan Bukti-bukti dan keterangan saksi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi dikesampingkan oleh Judex

Facti. Judex Facti setidaknya telah mengesampingkan dalil-dalil,

bukti-bukti dan keterangan Saksi yang diajukanoleh Para Pemohon Kasasi sehubungan dengan (i) bukti bahwa Termohon Kasasi adalah pegawai kontrak, (ii) bukti bahwa masa kerja Termohon Kasasi bukanlah suatu pekerjaan yang dilakukan secara terus menerus, melainkan ada masa jeda diantara masing-masing Kontrak Kerja dan, (ii) pekerjaan yang dilakukan oleh Para Termohon Kasasi bukan merupakan pekerjaan yang bersifat tetap, (iii) adanya kesalahan yang dilakukan Termohon Kasasi sehingga Pemohon Kasasi tidak berkeinginan untuk memperpanjang PKWT dengan Termohon Kasasi. Untuk lebih jelasnya, berikut kembali Pemohon Kasasi salin pertimbangan Judex Facti dalam halaman 28-29 Putusan PHI Bandung sebagai berikut:

Menimbang, bahwa berdasarkan Bukti P-2.1 berupa slip gaji bulan April 2010 atas nama Indra Bayu, yang mana dalam Slip Gaji tersebut Penggugat atas nama Indra Bayu dinyatakan sebagai karyawan PT Nippress dengan status percobaan;

Menimbang bahwa Pasal 58 (1) Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan menyatakan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 19 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

tidak dapat mensyaratkan adanya Perjanjian Kerja;

Menimbang, bahwa berdasarkan bukti T-6, T-7, dan T-9 berupa Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang dibuat antara Penggugat atas nama Indra Bayu dengan Tergugat, serta Bukti T-16, bukti T-18 dan Bukti T-19 berupa Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang dibuat antara Penggugat atas nama M. Berry Selvian dengan Tergugat;

Menimbang, bahwa Pasal 54 ayat (3) Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan menyatakan Perjanjian Kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibuat sekurang-kurangnya rangkap 2 (dua) yang mempunyai kekuatan hukum yang sama, serta pekerja/buruh dan pengusaha masing-masing mendapat 1 (satu) Perjanjian Kerja;

Menimbang, bahwa dalam persidangan tidak ditemukan fakta yang dapat membuktikan bahwa Perjanjian Kerja yang dibuat oleh Penggugat dengan Tergugat merupakan rangkap 2 (dua) sebagaimana telah diatur dalam Pasal 54 ayat (3) Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan;

Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan saksi Tergugat yang bernama Dyah Anggraini Putri, Evi Marlina, dan Eddy Azhari yang pada pokoknya menerangkan bahwa bagian tempat Para Penggugat bekerja hingga saat ini masih ada, dan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh Penggugat juga masih ada, akan tetapi oleh karena Para Penggugat telah di PHK, maka Pekerjaan tersebut dikerjakan pekerja lain;

Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan para saksi Tergugat tersebut, majelis Hakim berpendapat pekerjaan yang dilakukan oleh para Penggugat adalah jenis pekerjaan yang bersifat tetap, hal tersebut dibuktikan oleh keterangan para saksi yang menyatakan bahwa sampai saat ini pekerjaan yang dilakukan oleh para Penggugat masih ada dan dikerjakan oleh pekerja lain;

Menimbang, bahwa Pasal 59 ayat (1) dam ayat (2) Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan secara substansinya menyatakan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu, dan Perjanjian Kerja untuk waktu tertentu tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap;

Menimbang, bahwa berdasarkan Pasal 13 Kepmenaker Nomor 100 Tahun 2004 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu menyatakan PKWT wajib dicatatkan oleh pengusaha kepada instansi yang

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 20 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota setempat selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak penandatanganan;

Menimbang, bahwa dalam persidangan ditemukan fakta PKWT yang dilakukan antara Para Penggugat dengan Tergugat tersebut tidak dicatatkan oleh pengusaha kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota setempat selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak penandatanganan;

Menimbang, bahwa berdasarkan fakta yang terungkap dalam persidangan dan berdasarkan keseluruhan pertimbangan diatas, maka majelis hakim berpendapat perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) yang dibuat antara Para Penggugat dengan Tergugat bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, karena PKWT tersebut tidak memenuhi syarat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dan Kepmenaker Nomor 100 Tahun 2004 tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu;

Menimbang, oleh karena Majelis Hakim telah menyatakan PKWT yang dibuat antara Para Penggugat dengan Tergugat tersebut tidak sesuai dan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka majelis hakim berpendapat perjanjian kerja waktu tertentu tersebut demi hukum berubah menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu;”

3. Berdasarkan ketentuan hukum acara, Majelis Hakim harus memutus dengan memperhatikan kepentingan kedua belah pihak dan juga mendengarkan kedua belah pihak (audi et alteram partem), sebagaimana juga telah diamanatkan di dalam Pasal 121 ayat 1, 2, dan 4, Pasal 122, Pasal 123 ayat (3), Pasal 126, Pasal 135, Pasal 139 ayat (2) dan Pasal 163 HIR. Pelanggaran atas ketentuan ini ,sebagaimana yang terjadi dalam Putusan PHI Bandung, tentunya menyebabkan putusan menjadi invalid dan beralasan hukum untuk di batalkan oleh Yang Mulia Majelis Hakim Agung yang memeriksa dan mengadili perkara a quo;

Kesalahan Ketiga:

Judex Facti telah melakukan kesalahan berat dalam menerapkan hukum karena

kurang cukup dalam mempertimbangkan (onvoldoende gemotiveerd) dan memutuskan bahwa pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh Penggugat telah batal demi hukum sehingga Pemohon Kasasi dihukum untuk mempekerjakan kembali para Termohon Kasasi:

1. Bahwa Pengadilan Hubungan Industrial Bandung telah melakukan kesalahan berat dalam menerapkan hukum karena mengambil alih begitu

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(21)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 21 dari 30 hal.Put.Nomor 1230 K/Pdt.Sus-PHI/2017

saja dalil Termohon Kasasi/dahulu Penggugat tanpa memberikan pertimbangan hukum yang cukup, tanpa menjabarkan, dan tanpa mengkonfrontir secara argumentatif (analisa juridis) dalil Termohon Kasasi/dahulu Penggugat yang mendalilkan bahwa Pemutusan Hubungan Kerja yang dilakukan oleh Penggugat batal demi hukum serta Pemohon Kasasi wajib untuk membayar upah proses, sehingga Putusan Pengadilan Hubungan Industrial Bandung adalah merupakan putusan yang tidak cukup dipertimbangkan (Onvoldoende Gemotiveerd), sebagaimanadalam halaman 30 Putusan PHI Bandung yang dikutip sebagai berikut: “...Menimbang, bahwaPasal 151 ayat (3) Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan menyatakan dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) benar-benar tidak menghasilkan persetujuan, Pengusaha hanya dapat memutuskan hubungan kerja dengan pekerja/buruh setelah memperoleh penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial;

”Menimbang bahwa Pasal 155 ayat (1) Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yang menyatakan, Pemutusan Hubungan Kerja Tanpa Penetapan sebagaimana di maksud dalam Pasal 151 ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan batal demi hukum”;

“...Menimbang bahwa oleh karena pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh Tergugat terhadap Penggugat batal demi hukum dan hubungan kerja antara Para Penggugat dengan Tergugat dinyatakan belum pernah terputus, sehingga petitum gugatan Para Penggugat angka 7, dan 8 beralasan untukdikabulkan”;

2. Pengadilan Hubungan Industrial Bandung sama sekali tidak mempertimbangkan Bukti-Bukti yang diajukan Pemohon Kasasi serta fakta-fakta yang terungkap di muka persidangan, termasuk namun tidak terbatas kepada (i) Fakta bahwa Para Termohon Kasasi adalah Pegawai Kontrak sehingga Ketentuan dalam Pasal 151 ayat (3) tidak dapat diterapkan (vide Bukti T.5 s/d T.10, dan Bukti T.16 s/d Bukti T.20) (ii) Fakta bahwa Pemohon Kasasi telah menerima dan mengakui Surat Keterangan Kerja yang dikeluarkan oleh Pemohon Kasasi, sehingga terbukti bahwa hubungan kerja antara Pemohon Kasasi dan Termohon Kasasi telah berakhir (vide Bukti T-27 s/d Bukti T-30), (iii) Fakta bahwa Pemohon Kasasi memiliki hak yang diakomodir oleh hukum untuk tidak memperpanjang PKWT Para Termohon Kasasi;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Pembanding dahulu Tergugat dalam mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.HH-06.AH.11.01 Tahun 2016 tentang

Bahwa karena gugatan Para Penggugat adalah perkara yang timbul dari perjanjian, maka yang sah sebagai pihak Penggugat atau Tergugat terbatas pada diri pihak yang

 Bahwa Pembanding/ Tergugat tidak sependapat dengan pertimbangan hukum Judex Factie Pengadilan Agama Mataram paragraf ke-4 ha 33 yang pada pokoknya telah

Menimbang, bahwa menurut Tergugat yang dijadikan dasar hukum gugatan atau posita atau fundamentum petendi tidak jelas, ketidakjelasan tersebu t dapat dilihat dari dalil

Bahwa pertimbangan hukum Judex Facti pada tingkat pertama dalam putusannya tersebut adalah merupakan pertimbangan yang salah, keliru, telah melanggar ketentuan

Bahwa Tergugat VI menolak dengan tegas dalil Penggugat dalam posita 29 dan tuntutan putusan dapat dilaksanakan terlebih dahulu walaupun ada upaya hukum banding,

Bahwa Tergugat/Pembanding/Pemohon Kasasi/Pemohon Peninjauan Kembali karena menurut hukum putusan Kasasi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 164 K/TUN/2010

Menimbang, bahwa dengan adanya Pengakuan dari para Tergugat tersebut cukup bukti untuk menyatakan bahwa telah terjadi hubungan hukum yang sah berupa hutang