BAB 2 DATA & ANALISA. Data yang mendukung proyek Tugas Akhir ini diperoleh dari beberapa sumber :

Teks penuh

(1)

BAB 2

DATA & ANALISA

2.1 Data & Literatur

Data yang mendukung proyek Tugas Akhir ini diperoleh dari beberapa sumber : literatur elektronik dan non elektronik seperti buku, website, dan majalah.

2.1.1 Mengenai Buku

Produk : buku “Antologi Kelirumologi” Karakteristik Produk :

Pengarang : Jaya Suprana

Penerbit : Elex Media Komputindo

Tempat / Tahun Terbit : Jakarta / 2005

Jumlah Halaman : 186 halaman

Ukuran Buku : 14 x 21 cm

Harga : Rp. 34.800,00

Distribusi : Toko Buku

Gambar Sampul : biru tua dengan beberapa potongan gambar berkaitan dengan isi, foto penulis, dan gambar piagam Museum Rekor Indonesia Dalam buku ini dikisahkan berbagai kekeliruan yang dilakukan manusia. Buku dapat membuat manusia peka terhadap hal-hal yang selama ini diyakininya sudah benar ternyata belum tentu benar. Buku ini memiliki grid yang sederhana dan desain sampul yang tidak menarik.

(2)

2.1.2 Sejarah Kelirumologi

Kelirumologi pertama dicetuskan oleh Jaya Suprana, pengusaha jamu asal Kota Semarang yang juga pendiri Museum Rekor Indonesia. Sebagai pemikir, Jaya kerapkali memperdalam berbagai literatur baik dari buku maupun media lainnya untuk mempelajari kekeliruan yang terlanjur dianggap benar di tengah masyarakat. Dari hasil olah pikirnya itu, Jaya menerbitkan buku berjudul Kaleidoskopi ‘Kelirumologi’. Buku tersebut mengajak pembaca agar lebih kritis terhadap semua hal yang dianggap benar padahal sebenarnya salah.

Yang diuntungkan oleh kekeliruan penyebutan oleh masyarakat adalah produk-produk yang terlanjur terkenal, dan menjadi brand minded, seperti Aqua, atau Pentium. Seseorang yang terlanjur maniak dengan air mineral Aqua, ketika hendak membeli air mineral di toko, ia tetap menyebutkan merk Aqua, meski tangannya menunjuk pada merk lain. Begitu pula dengan pentium, untuk mengetahui kualitas kecepatan sebuah personal computer (PC), seseorang selalu menanyakan "Pentium berapa?". Padahal merk prosesor tidak hanya pentium saja. Secara positif, kelirumologi penyebutan merk adalah keberhasilan upaya marketing yang salah satu tujuannya mempengaruhi perilaku masyarakat terhadap kesenangan suatu produk.

2.1.3 Pengertian Kelirumologi

Jika diurai, 'kelirumologi' berasal dari kata 'keliru' yang artinya 'salah', dan 'logi (logos)' yang artinya 'ilmu'. Dua kata tersebut jika hendak digabungkan, maka seharusnya berbunyi kelirulogi, bukan 'kelirumologi'. Akan tetapi Jaya Suprana sengaja menggunakan kata yang 'salah' tersebut untuk sekadar menjelaskan, bahwa istilah baru

(3)

yang diciptakannya memang untuk mengajak kita semua menjadi peka terhadap kesalahkaprahan.

Jadi, kelirumologi adalah istilah humoris untuk merujuk kepada beberapa kekeliruan logika dalam pembentukan frase dan kata yang sudah terlalu sering dipakai pengguna Bahasa Indonesia sehingga dianggap benar. Hal ini berhubungan langsung dengan salah kaprah.

2.1.4 Daftar Isi yang akan dibuat - sampul buku - sampul dalam - keterangan buku - komentar antar - sesirih kapur - daftar isi

- kelompok data kelirumologi - kelompok naskah kelirumologi

2.1.5 Data Khusus

Buku tentang kelirumologi di Indonesia belum berkembang, buku yang ada hanya dari penulis yang sama yang sudah dirangkum dalam buku ini. Untuk buku sejenis dari luar negeri sudah ada tetapi lebih spesifik untuk masing-masing disiplin ilmu, seperti :

(4)

a. In Search of Stupidity : Over 20 Years of High-Tech Marketing Disasters Penulis : Merrill Rick Chapman Jenis/ halaman : Hardcover/ 256 halaman Penerbit/ tanggal terbit : Apress/ 9 Juli 2003

Bahasa : Inggris

Ukuran Buku : 9.3 x 6.2 x 0.9 inches

Buku ini merupakan buku yang menghibur dan buku bisnis yang memuat contoh kasus dari beberapa dari teknik marketing dan filosofi bisnis paling berpengaruh pada 20 tahun terakhir ini, dan melihat dari kacamata hitam dari sisi paling belakang, yang dilengkapi dengan pendidikan dan ujian hiburan paling besar, mengapa mereka tidak bekerja untuk negara terbesar dan perusahaan tercanggih. Diperkaya ilustrasi dengan kartun. Diisi dengan anekdot personal.

b. The Lexicon of Stupidity

Penulis : Ross Petras dan Kathryn Petras Halaman : 400 halaman

Penerbit : Workman Publishing Tanggal terbit : 24 Oktober 2005

Buku ini adalah kamus yang berisi tentang quotes, kebiasaan, dan masih banyak lagi, yang berkisar tentang pembicaraan ringan kedua penulis sampai di mana anda tidak dapat membantu lagi selain tertawa. Kuncinya adalah komedi, seputar selebritis, atlet, politikus, atau siapa saja.

(5)

2.2 Hasil Survey di Lapangan 2.2.1 Data hasil kuisioner

1. Seberapa sering anda ke toko buku ?

rutin 11,4 %

setiap ke mal, pasti ke toko buku 40 % kalau iseng/ sedang ingin/ ada perlu saja 48,6 % 2. Seberapa sering anda membeli buku ?

kalau ada yang suka baru beli 74,3 %

rutin 5,7 %

kalau ada uang lebih 20 %

3. Jenis buku apa yang anda lebih sukai ?

serius (ilmu pengetahuan, ensiklopedia, dll.) 31 % hiburan ( novel, sastra, dll) 69 %

4. Jika dalam keadaan harga yang sama, terbungkus plastik dan tidak boleh dibuka, mana yang anda pilih ?

desain yang tidak bagus, tetapi sinopsisnya bagus. 35,3 % desain yang bagus, tetapi sinopsisnya biasa saja. 64,7 %

5. Apakah menurut anda desain yang bagus menambah semangat membaca buku ?

ya 88,6 %

tidak 11,4 %

6. Seberapa besar desain mempengaruhi anda dalam memutuskan dalam membeli sebuah

buku ?

< 50 % 24,4 %

(6)

7. Apakah pengarang mempengaruhi keputusan anda dalam membeli buku ?

ya 57,1 %

tidak 42,9 %

8. Apakah anda sering merasa adanya kekeliruan suatu pemahaman/ peristiwa ? (bahasa, politik, sejarah, dll.)

sering 17,6 %

kadang-kadang 70,6 %

tidak pernah 11,8 %

9. Sejauh mana anda menindaklanjutinya?

mencari tahu 71,4 %

melupakan/ terlupakan 28,6 %

10. Apakah anda ingin mengetahui kekeliruan – kekeliruan umum yang luput dari perhatian anda?

ingin sekali 74,3 %

biasa saja 22,6 %

tidak perlu 3,1 %

11. Apakah anda peduli dengan kekeliruan pemahaman pada :

diri sendiri : ya 97,1 %

tidak 2,9 %

orang lain : ya 72,7 %

tidak 27,3 %

12. Apakah anda tertarik dengan buku yang membahas kekeliruan (tentang pemahaman bahasa dan hal lain) yang selama ini mungkin pernah terbersit di pikiran anda/ tidak pernah anda sadari?

(7)

ya 75,7 %

tidak 24,3 %

13. Pernahkah anda membaca buku “Antologi Kelirumologi” ?

pernah 0 %

belum 100 %

14. Bagaimana kesan anda tentang/ mendengar buku tersebut ? lucu/ unik/ menarik/ informatif/ seru 48,6 %

berat/ sains 27,2 %

negatif 6 %

lain-lain 18,2 %

Survey diadakan di kampus (mahasiswa jurusan desain dan non-desain) dan tempat umum, dengan presentase 10%, 10 %, dan 30 %. Dari survey tersebut diperoleh kesimpulan bahwa: mayoritas responden saat ini ke toko buku kalau iseng/ sedang ingin/ ada perlu saja, hal ini bisa dipahami mengingat padatnya aktifitas (sekolah/ kuliah, les, bekerja, dll.), kesempatan seperti ini dimanfaatkan mereka untuk membeli buku yang hanya mereka sukai dan buku hiburan, adapun dari mereka yang menyukai buku-buku serius. Mereka lebih memilih buku-buku yang memiliki desain yang bagus tetapi sinopsisnya biasa saja. Menurut responden, desain yang bagus menambah semangat mereka dalam membaca buku, desain yang bagus juga mempengaruhi mereka dalam mengambil keputusan membeli buku. Pengarang mempengaruhi keputusan responden dalam membeli buku. Responden kadang-kadang merasa adanya kekeliruan terhadap sesuatu pemahaman/ peristiwa dan mereka mencaritahu tentang kebenaran sebenarnya. Mereka ingin mengetahui tentang kekeliruan yang luput dari perhatian mereka dan peduli pada kekeliruan pemahaman pada diri sendiri maupun orang lain. Mereka tertarik

(8)

dengan buku yang membahas tentang kekeliruan yang pernah terbersit ataupun luput dari perhatian mereka dan menyambut positif buku “Antologi Kelirumologi”.

2.3 Data Penyelenggara 2.3.1 Data Penerbit

PT. Elex Media Komputindo adalah penerbit komik (terutama manga) dan buku-buku ilmu komputer di Indonesia. Didirikan pada 15 Januari 1985, Elex Media Komputindo merupakan salah satu perusahaan dalam Kelompok Kompas Gramedia. Kantor pusatnya berada di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta.

Elex Media bisa dikatakan adalah pelopor penerbitan manga di Indonesia. Manga pertama yang diterbitkan Elex Media adalah Candy Candy, sebuah kisah tentang seorang remaja putri, yang terbit sekitar akhir tahun 1980-an.

2.3.2 Data Penulis

Jaya Suprana dikenal juga dengan nama Poa Kok Tjin. Ia lahir di Denpasar, Bali pada tanggal 27 Januari 1949, dari pasangan Lambang dan Lily Suprana. Ia adalah keturunan etnis cina yang dibesarkan dengan kebudayaan Jawa.. Jaya Suprana memiliki istri yang bernama Julia Suprana dan tidak memiliki keturunan secara biologis. Jaya Suprana adalah seorang komposer Indonesia, pianis, pengusaha, dan presenter televisi.

Ia belajar musik di Musikhochschule Muenster dan Folkwanghochsule Essen, Jerman Barat, antara tahun 1967 dan 1976, dan selanjutnya menyelenggarakan resital piano di berbagai Negara, dengan komposisi musiknya sendiri. Jaya Suprana tergabung dalam grup musik Kwartet Punakawan. Ia juga hadir dalam talkshow mingguan dengan nama Jaya Suprana Show.

(9)

Ia menjadi kepala komisi dalam perusahaan keluarga, PT Jamu Jago di Semarang. Ia juga merupakan presiden direktur dari PT Jamu Jago, salah satu dari pabrik jamu terbesar di Indonesia, sejak tahun 1983, sebelumnya dimulai dengan bekerja sebagai Direktur Marketing pada tahun 1976.

Selain kegiatan bermusik dan usahanya, ia mendirikan Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tanggal 27 Januari 1990, dengan ia sebagai direkturnya. Ia juga memiliki panti asuhan bernama Panti Asuhan Rotary-Suprana.

Jaya Suprana dinobatkan dengan jenjang PhD dalam bidang filosofi dan ilmu sosial dari Pacific Western University.

2.4 Target Komunikasi

Geografi : Kaum muda yang hidup di kota besar. Demografi : 17- 40 tahun, pembaca dan penyuka seni

Psikografi : memiliki keingintahuan yang besar, suka membaca, dinamis, dan menyukai hal-hal baru

2.5 Analisis SWOT

Strength : menambah pengetahuan umum

kalimatnya sederhana sehingga mudah dimengerti buku serius yang menghibur (hasil pemikiran kreatif) Weakness : desain dan layout tidak mendukung

Opportunity : buku sejenis sulit didapat lebih menarik dari buku lain

pengarang sudah banyak dikenal (budayawan multitalented) Threat : harga relatif cukup mahal tapi tidak didukung dengan kelebihan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :