• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI FORMULASI STRATEGI PENGEMBANGAN WISATA KEBUN RAYA BOGOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "VI FORMULASI STRATEGI PENGEMBANGAN WISATA KEBUN RAYA BOGOR"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

VI FORMULASI STRATEGI PENGEMBANGAN WISATA

KEBUN RAYA BOGOR

6.1. Pemetaan Situasi Industri Objek Wisata

Faktor kompetisi adalah faktor yang menjadi preferensi bagi konsumen, dan yang menjadi persaingan bagi pelaku dalam industri. Dalam hal ini, konsumen adalah pengunjung dan pelaku industri adalah pengelola objek wisata.

Faktor-faktor kompetisi ini diperoleh dari formulasi data primer yang berasal dari responden. Dari 20 faktor yang diajukan, terpilih 9 faktor yang menjadi kunci persaingan dalam industri objek wisata Bogor.

Dua puluh faktor yang diajukan adalah Parkir kendaraan kecil (motor dan mobil), Parkir kendaraan besar (bus), Toilet, Mushola, Rumah Makan, Pusat Souvenir, Pusat Informasi, Peta Lokasi, Harga Tiket, Jumlah wahana, Kualitas Wahana, Promosi, Iklan, Aktivitas yang menghibur (entertainment), Aktivitas

yang menambah pengetahuan (educational), Aktivitas untuk

individu/pasangan/keluarga, Aktivitas untuk rombongan besar (gathering), Pelayanan petugas, Keamanan, dan Kebersihan.

Sembilan faktor yang menjadi preferensi utama pengunjung objek wisata Bogor adalah Toilet, Mushola, Peta lokasi, Aktivitas/kegiatan yang menghibur (entertainment), Aktivitas/kegiatan menambah pengetahuan (educational), Aktivitas/kegiatan untuk individu/pasangan/keluarga, Pelayanan petugas, Keamanan, dan Kebersihan. Hasil penilaian kinerja objek wisata KRB, TSI, dan TJW terhadap faktor-faktor kompetisi dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Penilaian Kinerja Objek Wisata KRB, TSI, dan TJW terhadap Faktor Kompetisi

Objek Faktor Kompetisi

Wisata 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KRB 5.5 6.5 6.6 5.0 7.6 7.1 6.6 7.1 5.8 TSI 8.3 7.4 8.1 9 9 9 8.4 8.2 8.5 TJW 7.3 7.4 7.8 8.1 6.7 8.1 8.1 7.3 7.8 Industri 7.0 7.1 7.5 7.4 7.8 8.1 7.7 7.5 7.4

(2)

Kanvas strategi KRB, TSI, TJW, dan industri objek wisata Bogor pada umumnya dapat dilihat pada penggambaran kurva berikut ini:

Gambar 8. Kanvas Strategi Industri Objek Wisata di Kabupaten dan Kota Bogor Keterangan Faktor-Faktor Kompetisi:

1. Toilet 2. Mushola 3. Peta Lokasi

4. Aktivitas yang menghibur (entertainment)

5. Aktivitas yang menambah pengetahuan (educational)

6. Aktivitas untuk individu, pasangan, dan keluarga 7. Pelayanan Petugas 8. Keamanan

9. Kebersihan

Berikut adalah penjelasan kinerja dari Kabun Raya Bogor, Taman Safari Indonesia, dan The Jungle Waterpark berdasarkan kanvas strategi.

1. Kebun Raya Bogor (KRB)

Secara keseluruhan, KRB memiliki kinerja lebih rendah dari kinerja rata-rata industri. Faktor Aktivitas yang menghibur, Toilet, dan Kebersihan dinilai sangat rendah oleh pengunjung responden, sedangkan faktor Aktivitas yang menambah pengetahuan dinilai paling baik oleh responden pengunjung KRB. 2. Taman Safari Indonesia (TSI)

Secara keseluruhan, TSI menunjukkan kinerja lebih tinggi dari kinerja rata-rata industri. Menurut sampel pengunjung TSI, Aktivitas yang

0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 10.0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 P e n il ai an K in e r ja O b je k Wi sata Faktor-Faktor Kompetisi KRB TSI TJW Industri

(3)

menghibur, Aktivitas yang menambah pengetahuan, dan Aktivitas untuk individu, pasangan, dan keluarga sangat baik. Faktor dengan kinerja yang paling rendah adalah Mushola.

3. The Jungle Waterpark (TJW)

Secara keseluruhan, TJW menunjukkan kinerja menyerupai rata-rata industri. Faktor Aktivitas yang menambah pengetahuan dan Keamanan menunjukkan kinerja di bawah rata-rata industri, sedangkan faktor-faktor lain berada di atas industri.

Berdasarkan pendekatan Blue Ocean Strategy, kanvas strategi di atas menunjukkan kurva nilai pemain industri objek wisata di Bogor relatif berdekatan pada faktor Mushola; Peta Lokasi; Aktivitas untuk individu, pasangan, dan keluarga; Pelayanan Petugas; dan Keamanan. Ketika kurva nilai suatu objek wisata berdekatan dengan kurva pesaing, hal ini menandakan adanya kompetisi dalam samudra merah. Kompetisi ini meningkatkan kesulitan dalam memperebutkan pangsa pasar yang terbatas. Kurva nilai KRB berada dalam low performance dibanding objek wisata lain. Untuk itu perlu diciptaan pangsa pasar baru (untapped market space) dan pengembangan wisata sehingga KRB dapat meningkatkan jumlah pengunjungnya.

6.2. Rekonstruksi Batasan-Batasan Pasar melalui Kerangka Kerja Enam Jalan

Kim dan Mauborgne (2005) menjelaskan bahwa permintaan dalam samudra biru adalah diciptakan, bukan diperebutkan. Untuk menjauh dari persaingan dan menciptakan samudra biru, KRB harus dilakukan rekonstruksi batasan-batasan pasar dari yang ada saat ini. Sebelum membentuk pasar yang baru, dilakukan indentifikasi persaingan pada pasar yang ada. Identifikasi ini akan menjadi patokan dalam membentuk pasar yang baru.

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa KRB, TSI, dan TJW didatangi oleh pengunjung yang seimbang dalam jumlah laki-laki dan perempuan, dari mayoritas berasal dari Jabodetabek, tingkat pendidikan SMA dan Pendidikan Tinggi, dari beragam usia dan pekerjaan.

Kebun Raya Bogor dengan konsep wisata flora, dikunjungi oleh pengunjung laki-laki dan pengunjung perempuan dalam persentasi yang sama

(4)

(50%). Usia pengunjung mayoritas berada pada kisaran 17-26 tahun (46,67%) dan 27-36 tahun (23,33%). Pengunjung mayoritas berasal dari daerah Bogor (66,67%) dan Jadetabek (30%). Latar belakang pendidikan pengunjung KRB mayoritas adalah lulusan SLTA (56,67%) dan Pendidikan Tinggi (40%). Latar belakang pekerjaan pengunjung mayoritas pegawai swasta (33,33%) dan pelajar/mahasiswa (23,33%).

Taman Safari Indonesia dengan konsep wisata fauna, didomiinasi oleh pengunjung laki-laki (56,67%). Usia pengunjung mayoritas pada kisaran 17-26 tahun (26,67%) dan 37-46 tahun (26,67%). Pengunjung mayoritas berasal dari Bogor (46,67%) dan Jadetabek (30%). Latar belakang pendidikan pengunjung TSI adalah lulusan Pendidikan Tinggi (56.67%) dan SLTA (43,33%). Latar belakang pekerjaan pengunjung mayoritas adalah pegawai swasta (33,33%) dan ibu rumah tangga (20%).

The Jungle Waterpark dengan konsep wisata air, relatif didominasi pengunjung perempuan (53,33%). Usia pengunjung mayoritas pada kisaran 17-26 tahun (43,33%) dan 37-46 tahun (43,33%). Pengunjung mayoritas berasal dari Jadetabek (53,33%) dan Bogor (36,67%). Latar belakang pendidikan pengunjung TJW adalah lulusan SLTA (63,33%) dan Pendidikan Tinggi (33,33%). Latar belakang pekerjaan pengunjung mayoritas adalah ibu rumah tangga (46,67%) dan pegawai swasta (20,00%).

Segmentasi pengunjung yang sama merupakan salah satu penyebab munculnya persaingan dalam industri. Jika dilihat dari Tabel 7, terdapat beberapa persamaan segmentasi yang mencolok antara KRB dengan TSI dan atau TJW. Persamaan tersebut tampak pada segmentasi usia terutama 17-26 tahun, segmentasi geografis Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), dan segmentasi pendidikan terutama SLTA dan Pendidikan Tinggi.

Pengunjung KRB mayoritas (46,67%) berusia 17-26 tahun. Pengunjung TSI terdiri dari beragam usia dengan sebaran merata (26,67% dan 23,33%) kecuali usia 57-66 tahun. Pengunjung TJW mayoritas (43,33%) terdiri dari usia 17-26 tahun dan 37-46 tahun.

(5)

Tabel 7. Segmentasi Pengunjung di Bogor, KRB, TSI, dan TJW

NO. SEGMENTASI BOGOR KRB TSI TJW

1 Jenis kelamin Laki-laki (51,11%) Perempuan (48,89%) Laki-laki (50,00%) Perempuan (50,00%) Laki-laki (56,67%) Perempuan (43,33%) Laki-laki (46,67%) Perempuan (53,33%) 2 Usia 17-26 tahun (38,89%) 37-46 tahun (26,67%) 17-26 tahun (46,67%) 27-36 tahun (23,33%) 17-26 tahun (26,67%) 37-46 tahun (26,67%) 17-26 tahun (43,33%) 37-46 tahun (43,33%) 3 Geografis Bogor (50,00%) Jadetabek (37,78%) Bogor (66,67%) Jadetabek (30,00%) Bogor (46,67%) Jadetabek (30,00%) Jadetabek (53,33%) Bogor (36,67%) 4 Pendidikan SLTA (54,44%) Pendidikan Tinggi (43,33%) SLTA (56,67%) Pendidikan Tinggi (40,00%) Pendidikan Tinggi (56,67%) SLTA (43,33%) SLTA (63,33%) Pendidikan Tinggi (33,33%) 5 Pekerjaan Pegawai swasta (33,33%) Ibu Rumah Tangga (26,67%) Pegawai swasta (33,33%) Pelajar/ mahasiswa (23,33%) Pegawai swasta (33,33%) Ibu Rumah Tangga (20,00%) Ibu Rumah Tangga (46,67%) Pegawai swasta (20,00%)

6 Jenis wisata Flora Fauna Air

Pengunjung KRB, TSI, dan TJW mayoritas berasal dari Jabodetabek. Data menunjukkan bahwa tiap objek wisata memiliki jangkauan pengunjung dari konsentrasi daerah yang berbeda. Pengunjung KRB mayoritas (66,67%) berasal dari Bogor. Pengunjung TJW mayoritas (53,33%) berasal dari Jadetabek. Pengunjung TSI mayoritas (46,67%) berasal dari Bogor, namun pengunjung yang berasal dari luar Jabodetabek seperti Bandung dan Majalengka sebanyak 23,33% (lihat Lampiran 5). Angka ini jauh lebih besar dari pengunjung luar Jabodetabek KRB (3,33%) dan TJW (10%). Berdasarkan pengamatan di lapang, terlihat pengunjung dari luar negeri seperti Timur Tengah di TSI dan Eropa di KRB. Tidak diterlihat pengunjung dari luar negeri di TJW.

(6)

Segmen pengunjung usia 57-66 tahun di Kabupaten dan Kota Bogor memiliki persentasi 2,22%. (lihat Lampiran 5). Angka ini sangat kecil dibandingkan dengan segmen usia yang lain. Dengan kata lain, masih memungkinkan untuk dikembangkan. Lansia pada umumnya memiliki ketertarikan dengan isu kesehatan. Oleh karena itu, KRB dapat menyediakan sarana penunjang kesehatan. Sarana ini cukup memodifikasi atau mengembangkan fasilitas yang sudah ada di KRB. Misalnya, jalur pejalan kaki di sekitar Kolam Gunting dapat dikembangkan menjadi jalur untuk terapi. Jalur ini terbuat dari batu-batu kecil sehingga cocok untuk terapi berjalan di atas batu. Menurut Ir. Lukman M. Baga, MA.Ec, staf pengajar di Departemen Agribisnis IPB, pengadaan fasilitas jalur terapi berpotensi mendatangkan pengunjung baru di KRB. Terapi ini meniru konsep terapi berjalan yang mulai marak di industri rumah sakit.

Pengakomodasian lansia dapat dilakukan dengan menciptakan program yang berkolaborasi dengan bagian koleksi tanaman obat. Indonesia memiliki beragam tumbuhan yang dapat berfungsi sebagai obat herbal. Dengan menghubungkan kepentingan lansia akan kesehatan dan pengembangan pendayagunaan koleksi tanaman obat, KRB dapat meningkatkan jumlah pengunjung yang datang dengan tujuan utama pengetahuan.

Pengunjung yang datang di Kabupaten dan Kota Bogor tidak hanya berasal dari dalam negeri, namun juga dari luar negeri. Dari pengamatan pada saat turun lapang di KRB dan TSI, sering kali tampak pengunjung dari luar negeri (wisman). Asal wisman tersebut dapat diketahui dari ciri-ciri fisiknya. Wisman di TSI berasal dari Timur Tengah, sedangkan wisman di KRB berasal dari Eropa. Oosterman (1999) menyatakan bahwa pengunjung ekowisata yang paling prospektif di Indonesia adalah wisman yang berasal dari Inggris, Amerika Serikat, dan Jerman. Wisman yang juga prospektif bagi Indonesia adalah yang berasal dari Australia, Perancis, dan Belanda. Berdasarkan penjelasan Oosterman (1999), pengunjung dari Eropa merupakan pasar yang prospektif bagi ekowisata di Indonesia, termasuk KRB.

Salah satu fungsi KRB adalah pendidikan. Pesan-pesan konservasi sangat sesuai dikampanyekan melalui industri pendidikan. Sunkar et al (2007) meneliti

(7)

mengenai persepsi dan sikap mahasiswa IPB tentang alam. Penelitian menunjukkan bahwa persepsi dan sikap terhadap alam lebih dipengaruhi oleh interaksi dengan alam terutama pada usia 6-7 tahun dan 17-20 tahun.

Penelitian yang lain menunjukkan bahwa pendidikan berhubungan erat dengan sikap terhadap alam. Semakin tinggi pendidikan, tingkat kepedulian terhadap alam semakin meningkat. Tingkat pendidikan pengunjung di KRB kebanyakan adalah SLTA dan pendidikan tinggi. Semakin tinggi tingkat pendidikan, pesan konservasi akan lebih mudah diterima. Oleh karena itu, perlu diperhatikan segmen pengunjung yang berpendidikan lebih tinggi, seperti pascasarjana dan dosen.

Berdasarkan penjelasan di atas, tampak segmen baru yang belum digarap oleh pesaing dan sesuai dengan visi misi KRB adalah segmen lansia, pengunjung dari Eropa, dan segmen pendidikan pascasarjana.

Kerangka Enam Jalan menampilkan enam alternatif jalan untuk merekonstruksi batasan-batasan pasar tersebut. Keenam alternatif tersebut terdiri dari mencermati industri alternatif, kelompok-kelompok strategis dalam industri, rantai pembeli, penawaran produk dan jasa pelengkap, daya tarik emosional-fungsional, dan waktu.

Rekonstruksi ulang batasan-batasan pasar KRB ditempuh melalui mencermati industri alternatif, rantai pembeli, penawaran produk dan jasa pelengkap, daya tarik emosional-fungsional, dan waktu. Jalan Mencermati Kelompok-Kelompok Strategis tidak terdefinisi.

Istilah kelompok strategis merujuk pada sekelompok perusahaan dalam suatu industri yang mengejar strategi yang sama. Industri objek wisata di Kabupaten dan Kota Bogor pada umumnya memiliki strategi yang sama yaitu dengan menarik pasar pengunjung dari Jabodetabek dan mengakomodasi pengunjung keluarga sehingga relatif tidak ada pemain-pemain kunci dari kelompok strategis. Dengan demikian, jalan mencermati kelompok-kelompok strategis tidak terdefinisi. Alternatif jalan untuk merekonstruksi batasan pasar KRB dijelaskan sebagai berikut.

(8)

6.2.1. Mencermati Industri Alternatif

Dalam pengertian terluas, suatu perusahaan berkompetisi tidak hanya dengan perusahaan-perusahaan lain di dalam industrinya, tetapi juga dengan perusahaan-perusahaan dalam industri lain yang memproduksi jasa atau produk alternatif. Alternatif memiliki artian yang lebih luas dari sekedar pengganti (subtitutes). Industri alternatif dapat berupa industri yang menghasilkan produk atau jasa yang memiliki bentuk berbeda tetapi menawarkan fungsi atau utilitas/manfaat inti yang sama. Selain itu, industri alternatif dapat juga berupa industri yang menghasilkan produk atau jasa yang fungsi dan bentuk berbeda, tetapi dengan tujuan yang sama (Kim dan Mauborgne 2005).

Kebun Raya Bogor selain berfungsi sebagai pusat konservasi tumbuhan juga memiliki fungsi pendidikan. Pesan-pesan konservasi perlu Industri pendidikan sangatlah tepat dipertimbangkan sebagai industri alternatif untuk mencapai visi misi KRB.

Penyampaian pesan konservasi KRB dapat disalurkan melalui industri pendidikan terutama yang memiliki pendidikan pascasarjana. Menurut penelitian yang dilakukan oleh McMillan et al, tingkat pendidikan berhubungan positif dengan perilaku seseorang terhadap lingkungan. Erdogan dan Ozsoy (2007) menyatakan bahwa mahasiswa pascasarjana mulai peduli akan isu-isu kelestarian lingkungan dan membentuk perilaku yang baik untuk melestarikannya. Perilaku ini mulai dibentuk mahasiswa pascasarjana sejak mereka menyadari dampak buruk lingkungan yang hancur bagi mereka.

6.2.2. Mencermati Rantai Pembeli

Dalam sebagian besar industri, kompetitor memiliki kesamaan definisi mengenai siapa pembeli sasaran mereka. Namun, dalam praktiknya, ada rantai pembeli yang secara langsung ataupun tidak langsung terlibat dalam proses pembelian. Pembeli yang membayar produk atau jasa mungkin berbeda dari pengguna sesungguhnya, dan dalam sejumlah kasus juga ada pemberi pengaruh yang penting (Kim dan Mauborgne 2005).

Pengunjung KRB mayoritas adalah pelajar yang sedang karya wisata. Kunjungan ini, menurut Kasubbag Jasa dan Informasi PKT-KRB, biasanya dalam rangka memperkaya pelajaran mengenai pendidikan lingkungan secara umum dan

(9)

khususnya tumbuh-tumbuhan. Untuk menarik pelajar berkunjung, pihak KRB mendekati para guru dan memberikan penjelasan program-program pendidikan lingkungan yang ada di KRB. Jika para guru tertarik, pihak sekolah akan menyusun program karya wisatanya. Kemudian, para guru akan mengajak murid-muridnya mempelajari tumbuh-tumbuhan di KRB. Pengunjung yang lain adalah pengunjung yang datang bersama dengan keluarga. Berbagi waktu bersama keluarga adalah satu tujuan mengunjungi kebun raya (Ballantyne et al 2008).

Pelajar dan anak-anak menyukai aktivitas yang menghibur. Pengadaan games bertemakan lingkungan dan tumbuhan di beberapa lokasi kebun raya akan memberikan nilai tambah bagi murid/pelajar (Ballantyne et al 2008). Dengan tujuan utama bermain yang disisipi pengetahuan akan lingkungan dan tumbuh-tumbuhan, pelajar-pelajar akan memilih KRB sebagai tempat untuk memahami pelajaran di sekolah dan lebih dulu meminta sekolah membawa mereka berkunjung ke KRB.

Melalui permainan bertemakan lingkungan dan tumbuh-tumbuhan, anak-anak yang berkunjung pun akan lebih senang berada di KRB. Orang tua yang menemani anak-anaknya juga akan merasa senang jika anaknya dapat bermain sambil belajar. Menurut Sumarwan (2002), suami dan istri merupakan dua figur anggota keluarga yang sangat penting dan dominan di antara anggota keluarga lain (anak-anaknya). Diharapkan, dengan berminatnya anak-anak dan pelajar, mereka akan mempengaruhi orang tua untuk membawa mereka berkunjung ke KRB.

Bagi KRB sendiri, pemberian nilai tambah bagi pelajar dan anak-anak melalui pengadaan games bertemakan lingkungan dapat menjadi salah satu cara baru untuk mendidik masyarakat akan pentingnya lingkungan dan alam.

6.2.3. Mencermati Penawaran Produk dan Jasa Pelengkap

Pengunjung potensial KRB adalah wisman asal Eropa. Untuk meningkatkan jumlah wisman tersebut, KRB dapat bekerja sama dengan industri yang berada di sekitarnya. KRB dikelilingi oleh industri yang bergerak di bidang wisata lain seperti perhotelan. Hotel-hotel yang berada di sekitar KRB adalah Hotel Salak Heritage, Royal Hotel, Sahira Butique Hotel, Hotel Santika, Hotel Amaris, Hotel Mirah, Hotel Permata dan Hotel Pangrango. Wisman yang

(10)

menginap di hotel tersebut, terutama yang belum pernah mengunjungi KRB dapat dibujuk mengunjungi KRB melalui mekanisme yang menguntungkan antara KRB dan hotel. Alasan KRB sebagai salah satu icon khas Bogor, lokasi KRB yang relatif dekat dari hotel dan dapat dijangkau dengan berjalan kaki, menjadi faktor penarik untuk mengunjungi KRB.

Bagi hotel, kerjasama ini dapat menjadi salah satu promosi yang efektif karena KRB adalah salah satu icon khas wisata Bogor dan lokasinya relatif dekat dari hotel. Bagi KRB, kerjasama dapat menjadi media iklan untuk menarik wisman dari hotel-hotel sekitar.

6.2.4. Mencermati Daya Tarik Emosional atau Fungsional bagi Pembeli

Kompetisi dalam suatu industri cenderung berfokus tidak hanya pada konsep umum mengenai cakupan produk dan jasanya, tetapi juga pada salah satu dari dua kemungkinan landasan daya tarik. Sejumlah industri berkompetisi terutama pada harga dan berfungsi berdasarkan kalkulasi utilitas/manfaat dan daya tariknya bersifat rasional atau disebut dengan pendekatan fungsional. Industri lain berkompetisi terutama pada perasaan atau disebut pendekatan emosional.

Kebun raya merupakan taman koleksi yang berisi berbagai macam tanaman dari berbagai negara di dunia. Koleksi tanaman tersebut didisplay di dalam areal kebun. Pengunjung yang datang dapat melihat koleksi-koleksi tersebut untuk menambah pengetahuan. Namun pada umumnya, pengunjung datang lebih karena alasan rekreasi dan psikologi dibanding alasan pendidikan (Ward et al 2010).

Wisata di KRB selama ini dikelola dengan menonjolkan pendidikan lingkungan. Pendidikan dilakukan melalui papan-papan edukasi, dan tour keliling KRB bersama tour guide. Wisata pendidikan lingkungan tersebut cenderung menonjolkan pendekatan fungsional. Padahal, pengunjung yang datang di kebun raya cenderung beraktivitas ke arah rekreasi daripada alasan edukasi (Ballantyne et al 2008). Di KRB, hal ini terlihat dari aktivitas pengunjung yang cenderung lebih banyak bercengkrama bersama keluarga/teman daripada menyewa guide untuk menjelaskan koleksi KRB.

(11)

KRB dapat menciptakan program edukasi yang menyenangkan (fun education). Program fun education dapat berupa games ataupun presentasi mengenai tanaman koleksi yang ada di KRB. Program fun education berupa film animasi yang menghibur, dapat meningkatkan minat pengunjung terutama anak-anak mengenal lingkungan dan tertarik datang di KRB. Film-film dapat dibuat dengan bekerjasama dengan organisasi yang bergerak dibidang lingkungan hidup dan konservasi.

6.2.5. Mencermati Waktu

Semua industri tunduk pada tren eksternal yang mempengaruhi bisnis sepanjang waktu. Dengan mencermati waktu, peluang-peluang dalam samudra biru dapat diciptakan (Kim dan Mouborgne 2005)

Kartajaya (2009) mendefinisikan komunitas sebagai kelompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih daripada yang seharusnya. Dalam komunitas, terjadi relasi pribadi yang erat antar-anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interest atau values. Menurut Reed‟s Community Law, pemanfaatan jaringan antar-komunitas, terutama social networking, secara eksponensial dapat meningkatkan nilai jaringan tersebut.

Pada umumnya, pengelola objek wisata menyediakan progam bagi komunitas. Program ini pun berhasil dengan banyaknya perusahaan yang membawa karyawannya mengunjungi objek wisata. Komunitas dari perusahaan ini belum tentu memiliki interest dan values yang sama. Komunitas tersebut oleh Kartajaya (2009) bukan disebut sebuah komunitas melainkan kumpulan individu (crowd).

Sudah banyak perusahaan yang menggunakan kerjasama dengan komunitas untuk memasarkan produknya. Dari sekian banyak komunitas, ada komunitas-komunitas yang dianggap berpengaruh signifikan terhadap produk yang dipasarkan. Salah satu komunitas yang direkomendasikan oleh para profesional adalah Bike to Work (Majalah SWA 2011). Dengan etika tertentu, kerjasama melalui komunitas akan meningkatkan pasar bagi perusahaan (Kartajaya et al 2003; Kartajaya 2009).

(12)

Tabel 8. Kerangka Kerja Enam Jalan

Industri Alternatif Industri pendidikan

Kelompok Strategis tidak terdefinisi

Rantai Pembeli KRBGuruSiswa, menjadi

KRBSiswa

Penawaran Produk dan Jasa Pelengkap Hotel-Hotel di sekitar KRB Daya Tarik Emosional-Fungsional Fun Education (games, kuis, film)

Waktu Komunitas

6.3. Perumusan Blue Ocean Strategy pada Wisata Kebun Raya Bogor melalui Kerangka Kerja Empat Langkah

6.3.1. Eliminate (Menghilangkan)

Eliminate merupakan langkah yang dilakukan dengan menghilangkan faktor persaingan yang diterima begitu saja oleh industri. Menurut pengajar Departemen Agribisnis IPB, Ir. Lukman M. Baga, MA.Ec., saat ini KRB berada dalam low perform, sehingga tidak perlu dipaksakan meniadakan faktor persaingan.

6.3.2. Reduce (Mengurangi)

Langkah reduce dilakukan pada faktor-faktor yang dinilai berlebihan dalam penawarannya. Nilai faktor-faktor tersebut dikurangi hingga di bawah standar industri. Saat ini, industri objek wisata banyak mengincar segmen pengunjung keluarga. Hal ini sangat wajar apabila melihat hasil survei dari IPSOS yang menyatakan bahwa jenis wisata yang berorientasi keluarga dan anak-anak adalah jenis wisata yang paling digemari (39%) oleh warga Indonesia.

Kebun Raya Bogor ramai dikunjungi oleh pengunjung individu, pasangan, dan keluarga. Padahal, KRB tidak khusus membuka diri sebagai objek wisata dan mengincar pasar pengunjung tersebut. Walaupun tidak menampilkan diri sebagai objek wisata, namun KRB tetap ramai dikunjungi pengunjung. Untuk itu, perhatian pada faktor Aktivitas untuk individu, pasangan, dan keluarga dianggap berlebihan walaupun sudah berada dibawah industri. Dengan demikian, pengurangan perhatian pada faktor ini tidak akan mengurangi minat masyarakat

(13)

mengunjungi KRB. Aktivitas untuk pengunjung akan lebih umum dengan program fun education yang dijelaskan pada langkah raise.

6.3.3. Raise (Meningkatkan)

Langkah Meningkatkan ditujukan pada faktor-faktor yang memiliki kinerja rendah pada kurva nilai yang terlihat dalam kanvas strategi. Nilai faktor tersebut ditingkatkan hingga di atas standar industri. Berikut adalah faktor-faktor yang akan ditingkatkan.

1. Toilet dan Mushola

Dua faktor ini dibahas bersamaan karena pada umumnya lokasi toilet dan mushola berdekatan. Permasalahan toilet pada umumnya adalah mengenai kebersihan dan lokasi. Kurangnya kebersihan toilet dapat disebabkan oleh kurang sigapnya petugas kebersihan. Permasalahan lain adalah lokasi toilet dan mushola yang sulit ditemukan pengunjung.

Untuk meningkatkan faktor toilet dan mushola tersebut, KRB perlu memperbaiki sistem pengadaan air untuk toilet dan mushola sehingga air dapat tersedia dan pengunjung dapat menggunakannya dengan nyaman. Selain itu, KRB perlu meningkatkan kompetensi petugas kebersihan yang menjaga toilet dan mushola. Pencantuman lokasi toilet dan mushola di dalam brosur peta lokasi juga perlu dilakukan agar pengunjung mudah mencari toilet dan mushola di dalam areal seluas 87 hektar.

2. Peta Lokasi

Peta lokasi yang disebutkan disini ada dua jenis: papan lokasi dan brosur lokasi. Berdasarkan hasil pengamatan, brosur lokasi KRB hanya diperoleh apabila pengunjung meminta. Hal ini tentunya merugikan KRB sendiri karena daya tarik wisata yang ada praktis hanya diketahui pengunjung melalui papan lokasi.

Brosur peta lokasi KRB tidak mencantumkan lokasi toilet. Fasilitas ini sangat vital bagi pengunjung, sehingga harus dimasukkan dalam brosur peta dan papan lokasi. Begitu juga dengan mushola, dalam brosur peta lokasi hanya dicantumkan lokasi satu mesjid, padahal KRB memiliki beberapa lokasi mushola. Pencantuman lokasi toilet dan mushola di brosur peta lokasi penting dilakukan.

Menurut Ballantyne et al (2008), untuk mendidik pengunjung yang datang bukan untuk belajar, dapat dilakukan mulai dari pintu gerbang. Kebun raya dapat

(14)

memberikan leaflet atau selebaran yang berisi saran-saran untuk memaksimalkan kunjungan. Tindakan ini dapat meningkatkan penerimaan pesan konservasi pengunjung dan meningkatkan pembelajaran konservasi pengunjung. Leaflet berupa peta KRB perlu dibagikan kepada pengunjung sejak pengunjung masuk KRB (saat beli tiket).

3. Aktivitas yang menghibur (entertainment); dan Aktivitas yang menambah pengetahuan (educational);

Faktor Aktivitas yang menghibur (entertainment) dalam pembahasan ini, tidak dimaksudkan untuk pembangunan wahana baru, namun lebih pada modifikasi dari yang sudah ada di dalam KRB.

Wisatawan melakukan kunjungan ke objek wisata dengan berbagai macam motivasi, seperti kekurangan kesenangan, kekurangan dalam hubungan antar manusia dan persahabatan, tekanan pekerjaan dan kebosanan hidup sehari-hari (Schmidhauser 1989 diacu dalam Ross 1998). Alasan utama orang mengunjungi kebun raya lebih cenderung bukan dalam yang bersifat edukasi (Connell 2004; Ballantyne et al 2008; Ward et al 2010).

Vanhove (2005) menjelaskan bahwa dalam trend pariwisata, tingkat perhatian pengunjung objek wisata terhadap isu lingkungan dan alam semakin tinggi. Pemandangan alam menjadi kunci utama dari daya tarik objek wisata. Biasanya, pengunjung mencari lingkungan alam yang berbeda dari lingkungan alam sehari-hari pengunjung. Suasana alam yang sejuk dan pemandangan alami yang asri menjadi alasan utama keunggulan KRB.

Mayoritas pengunjung KRB adalah pelajar yang sedang karya wisata terutama dengan materi tentang ilmu alam terutama biologi. Mereka berkunjung ke KRB karena dorongan untuk menyelesaikan tugas dari sekolah. Aktivitas edukasi yang kurang disukai oleh pelajar dapat dilakukan dengan mengubah cara penyampaiannya. Jika biasanya pelajar diajak berkeliling sambil mendengarkan pemandu berbicara kemudian mencatatnya, KRB dapat mengemasnya dengan pola permainan (games) dan kuis. Sebagai contoh, kuis Siapa Berani dan kuis Ranking 1, merupakan kuis di stasiun televisi yang sangat populer beberapa waktu lalu. Kuis ini memberikan dan menguji ilmu pengetahuan pesertanya dengan cara yang menyenangkan. Jenis permainan lain dapat disesuaikan dengan usia

(15)

pengunjung pelajar. Ballantyne et al. (2008) menyatakan bahwa untuk menarik perhatian pengujung yang membawa anak-anak, kebun raya dapat melakukan kegiatan seperti treasure hunt dengan tema lingkungan atau konservasi dan permainan.

Penyampaian pendidikan juga dapat dilakukan dengan presentasi informal mengenai koleksi-koleksi yang ada di KRB. Melalui presentasi informal, pesan konservasi dapat dengan mudah dimasukkan dan ditularkan kepada pengunjung (Ballantyne et al. 2008).

Menurut Prof. EKS Harini Muntasib dari Bagian Rekreasi Alam dan Ekowisata, Departemen KSHE IPB, wisata yang cocok dikembangkan di KRB adalah wisata edukasi seperti pemanduan, bird watching, papan interpretasi, dan lain-lain. Menurut beliau, untuk mengoptimalisasi jumlah pengunjung yang datang di KRB, dapat dilakukan melalui stratifikasi program. Berdasarkan survei singkat yang dilakukan penulis terhadap 15 pengunjung yang sedang melakukan aktivitas menambah pengetahuan (study tour, penelitian, dan magang) di KRB, nilai terhadap pemanduan (guide) sebesar 8,4, jalur pemanduan 7,46, bird watching 7, papan interpretasi 8, dan wisata flora 8,6.

Pemanduan merupakan hal yang paling penting dalam kegiatan untuk interpretasi alam. Menurut Eva Rachmawati, S.Hut. M.Si. dari Laboratorium Rekreasi Alam dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB, pemanduan di KRB dirasakan menurun. Hal terpenting dalam pemanduan adalah pemandu. Semakin menarik pemandu membawakan interpretasi, pengunjung akan semakin mengetahui hal-hal yang ada di dalam KRB. Untuk itu, perlu pelatihan-pelatihan pamanduan bagi pemandu agar dapat memandu dengan lebih menarik.

Selain pelatihan pemanduan, pelatihan bahasa asing penting dilakukan untuk pemandu. Leslie dan Russell (2006) menyatakan bahwa penggunaan bahasa asing dalam pariwisata sangatlah penting. Untuk menarik wisman potensial dari Eropa, pemandu KRB perlu dilatih untuk berbahasa asing terutama bahasa dari negara wisman potensial dari Eropa.

PKT-KRB dapat mendidik pengunjung mengenai perkebunrayaan secara umum. Materi pendidikan berupa film ini terdapat dalam program Wisata Flora. Menurut Ibu Rinrin dari Subbag Jasa dan Informasi PKT-KRB, film mengenai

(16)

perkebunrayaan ini diputar di dalam Gedung Konservasi lantai dua. Penontonnya adalah peserta Wisata Flora. Dengan beberapa modifikasi, film mengenai perkebunrayaan dan Bunga Bangkai dapat ditonton oleh pengunjung umum. Mekanisme pemutaran film ini dapat dikemas seperti bioskop dengan jam-jam tayang tertentu. Pemutaran video untuk wisata pendidikan juga dilakukan oleh Taman Wisata Mekarsari dengan Pongo Show-nya. Pongo Show merupakan augmented show dengan materi mengenai Orangutan.

Pembuatan film kampanye dianggap lebih efektif memberikan pendidikan kepada masyarakat. Pembuatan film merupakan cara baru dalam mengampanyekan sebuah pesan. RARE (lembaga konservasi) mengembangkan sebuah metode yang dinamakan RARE Pride. Metode ini menggunakan model berdasarkan sosial marketing. Kegiatan untuk mengampanyekan pesan konservasi dilakukan melalui berbagai cara seperti menggunakan “duta” pesan, membuat lagu-lagu konservasi, mendesain dan menulis komik, pertemuan dan workshop stakeholder (Simorangkir 2007). Beberapa contoh lembaga yang mulai menggunakan sosial marketing dalam kampanyenya adalah BKKBN melalui lagu “Planning” yang dinyanyikan oleh sebuah band. Selain BKKBN, KPK juga mulai berkampanye anti korupsi melalui film “Kita vs Korupsi”. Penggunaan konsep sosial marketing perlu menjadi pertimbangan dalam mengampanyekan pesan konservasi dari KRB.

Pengunjung objek wisata pada umumnya senang dengan sesuatu yang menarik. Objek wisata lain pada umumnya memiliki maskot. Taman Safari memiliki maskot bergambar gajah dan binatang lain. The Jungle Waterpark memiliki maskot bergambar rusa. Dunia Fantasi memiliki maskot bergambar bekantan. Maskot ini dapat menarik dan menghibur pengunjung dengan berfoto bersama. Ciri khas KRB yaitu Bunga Bangkai dapat dibuat animasinya sehingga dapat menarik dan menghibur pengunjung. Selain Bunga Bangkai, jenis tumbuhan lain dapat dijadikan maskot pelengkap sekaligus berfungsi mengenalkan jenis tersebut kepada pengunjung.

4. Pelayanan Petugas

Pelayanan petugas merupakan faktor penting dalam industri jasa. Peningkatan pelayan petugas KRB dapat dilakukan dengan cara mengadakan

(17)

pelatihan mengenai service excellent bagi pegawai terutama pada bagian yang berkaitan dengan wisata d KRB. Hal ini perlu dilakukan mengingat KRB merupakan bagian dari sebuah lembaga penelitian yang sumber daya manusianya belum berfokus pada layanan wisata KRB.

5. Keamanan

Secara umum, tidak banyak keluhan yang terdengar mengenai keamanan di objek wisata Bogor, sehingga dapat dikatakan pengunjung merasa cukup aman berada di objek wisata Bogor. Hal ini dapat dilihat dari nilai Keamanan KRB (7,1) relatif mendekati nilai rata-rata industri (7,5).

Namun, masih ada citra KRB sebagai lokasi mesum. Menurut beberapa pengunjung dan orang yang pernah mengunjungi KRB, perbuatan asusila di dalam KRB cukup mengganggu. Perbuatan asusila tersebut diduga terjadi di tempat-tempat yang jarang dilalui atau di tempat-tempat yang tidak terlihat secara jelas oleh pengunjung. Berdasarkan Laporan Tahunan PKT-KRB, gangguan keamanan yang terjadi di KRB berupa perbuatan asusila tercatat sebanyak 40,5% di tahun 2009 dan 64,52% di tahun 2010. Untuk meningkatkan kinerja faktor Keamanan dan menghilangkan kesan KRB sebagai tempat mesum, selain menempatkan petugas di lokasi-lokasi padat pengunjung, perlu dilakukan patroli terutama di lokasi-lokasi yang dicurigai sebagai tempat mesum.

6. Kebersihan

Sangat sulit untuk menjaga kebersihan di dalam kebun seluas 87 hektar. Dari hasil pengamatan, sampah yang paling banyak terlihat adalah daun-daun kering yang berada di pusat aktivitas pengunjung seperti kolam sekitar pintu utama KRB. Daun-daun kering menumpuk di saluran air sehingga terkesan kolam terkesan tidak pernah dibersihkan. Untuk meningkatkan kinerja faktor ini, kebersihan yang perlu diberi fokus lebih adalah lokasi pusat aktivitas pengunjung seperti kolam sekitar pintu utama, bangku-bangku peristirahatan, lapangan, dan area peristirahatan pengunjung.

6.3.4. Create (Menciptakan)

Langkah create adalah upaya untuk menawarkan faktor yang belum pernah ditawarkan industri. Faktor-faktor baru diciptakan berdasarkan

(18)

pencermatan pada industri alternatif, rantai pembeli, penawaran produk dan jasa pelengkap, daya tarik emosional-fungsional, dan waktu. Berdasarkan pencermatan tersebut, faktor-faktor yang diciptakan adalah:

1. Event

Faktor ini diciptakan atas dasar pencermatan pada industri alternatif, rantai pembeli, dan daya tarik emosional-fungsional. Penciptaan event seperti festival, kompetisi olahraga, ataupun pertemuan politik akan menghasilkan pemberitaan di televisi. Media ini merupakan publikasi yang paling efektif dibandingkan cara yang lain (Guskind 1988 dalam Law 1993). Penyelenggaraan festival kebun (garden festival) dapat meningkatkan jumlah pengunjung dan wisatawan bagi daerah setempat dan meningkatkan image serta profile dari kebun raya itu sendiri (Law 1993). Healhty event juga dapat dilakukan karena menurut Vanhove (2005), health lifestyle akan menjadi trend dimasa depan. Event yang dapat dilakukan KRB adalah:

a. Open House Kebun Raya Bogor.

Event ini semacam open house yang dilaksanakan oleh Istana Bogor. Dalam event ini, KRB dapat menunjukkan sejarah KRB, aktivitas yang dilakukan PKT-KRB, koleksi-koleksi yang ada di KRB dengan bantuan guide di setiap lokasi yang menarik, dll. Event ini dapat dilaksanakan berkaitan dengan ulang tahun PKT-KRB, atau bersamaan dengan open house Istana Bogor, atau juga pada bulan-bulan yang termasuk low season.

b. Festival Flora Indonesia

Event ini dapat dilakukan oleh KRB mengingat KRB merupakan kolektor tumbuhan yang ada di Indonesia. Dalam event ini, KRB dapat menampilkan koleksi-koleksi tumbuhan yang ada di KRB terutama koleksi tumbuhan anggreknya. Kerjasama dengan komunitas flora, dan organisasi yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dapat memudahkan penyelenggaraan acara ini.

c. Perlombaan bagi anak usia sekolah

Event ini dapat menarik perhatian bagi anak-anak terutama yang benar-benar tertarik akan hal-hal seputar lingkungan. Perlombaan dapat

(19)

berupa lomba cerdas cermat, olimpiade mata pelajaran alam, lomba melukis, dll.

d. Jalan Sehat Kebun Raya Bogor

Event ini meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gerak badan untuk mendukung kesehatan. Selain itu, dengan berjalan di areal yang minim polusi, peserta akan mengerti pentingnya udara bersih bagi kesehatan dan pentingnya tumbuhan yang menyediakan udara bersih. Event ini sangat berpeluang untuk mendapatkan sponsor mengingat banyaknya pelaku dalam industri kesehatan.

Menurut staf pengajar Departemen Agribisnis IPB, Ir. Lukman M. Baga, MA.Ec., penciptaan faktor event adalah tepat. Pengadaan event akan meningkatkan minat orang untuk mengunjungi KRB. Misalnya saja dengan mengadakan lomba foto. Foto yang dilombakan adalah foto yang diambil saat orang berada di dalam KRB. Foto dapat berupa koleksi tumbuhan KRB, aktivitas yang dilakukan di KRB, kebersamaan yang akrab, ataupun emosi sedih pengunjung. Foto yang paling banyak mendapat tanda like paling banyak di Facebook mendapatkan hadiah. Event-event akan meningkatkan jumlah pengunjung.

2. Komunitas

Seperti yang telah dijelaskan pada rekonstruksi melalui pencermatan terhadap waktu, komunitas merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pasar. Dengan mengurangi fokus persaingan yang ada pada pasar wisata anak dan keluarga, KRB dapat meraih pasar yang lebih besar dengan mengincar pasar komunitas. Program wisata khusus komunitas dapat dibuat dengan berbagai penyesuaian mengikuti kebutuhan komunitas dan KRB. Selain itu, penggunaan teknologi informasi melalui mailing list dan social media seperti Facebook dan Twitter dapat menjadi sarana bagi komunitas (termasuk KRB) untuk berkomunikasi.

Segmen yang dapat dijadikan pasar utama adalah pengunjung yang berpendidikan tinggi (highly educated) dan lansia. Segmen orang berpendidikan tinggi memiliki rasa ingin tahu dan perilaku terhadap alam yang cukup besar.

(20)

Segmen lansia memiliki antusiasme pada isu-isu kesehatan. KRB dapat mengakomodasi lansia untuk meningkatkan kesehatannya dengan berolahraga di KRB, misalnya dengan jogging, senam lansia, ataupun menambah pengetahuannya akan tanaman obat melalui koleksi tanaman obat di KRB. Dengan mengincar segmen ini, diharapkan perilaku pengunjung adalah yang bersahabat dengan alam.

Tabel 9. Kerangka Kerja Empat Langkah

Eliminate tidak dilakukan karena low perform KRB

Reduce Aktivitas untuk individu, pasangan, dan keluarga

Raise Toilet; Mushola; Peta Lokasi; Aktivitas yang menghibur (entertainment); Aktivitas yang menambah pengetahuan (educational); Pelayanan Petugas; Keamanan; Kebersihan

Create Event dan Komunitas

6.4. Pengujian Ide Blue Ocean Strategy

6.4.1. Tiga Unsur Strategi yang Baik pada Strategi KRB

Kim dan Mauborgne (2005) menyatakan bahwa di dalam pembentukan blue ocean, sebuah strategi yang baik harus memiliki tiga elemen dasar, yaitu fokus, divergensi, dan motto yang memikat. Fokus dalam perumusan strategi ini adalah peningkatan faktor-faktor yang bernilai sangat rendah (Toilet; Aktivitas yang menghibur (entertainment); Kebersihan) dan faktor-faktor baru yang telah diciptakan. Pemberian fokus pada faktor yang bernilai sangat rendah dan faktor-faktor baru yang telah diciptakan dan pengurangan pada faktor-faktor utama persaingan industri objek wisata akan menghasilkan kurva nilai KRB yang berbeda dengan kurva para pesaing. Dengan demikian, strategi KRB memenuhi unsur divergen (gerak menjauh). Motto memikat yang akan digunakan adalah “Ketika konservasi, penelitian, pendidikan lingkungan, dan pariwisata berpadu serasi”. Melalui penjelasan tersebut, strategi KRB memenuhi unsur fokus, divergen dan motto yang memikat.

(21)

Tabel 10. Tiga Unsur Strategi BOS yang Baik

Fokus  meningkatkan faktor-faktor yang berkinerja sangat rendah

 faktor-faktor baru yang telah diciptakan

Divergen  mengurangi persaingan pada faktor Aktivitas untuk individu, pasangan, dan keluarga

mengembangkan faktor Event dan Komunitas Motto yang

memikat

Ketika konservasi, penelitian, pendidikan lingkungan, dan pariwisata berpadu serasi

6.4.2. Pengujian Ide Blue Ocean Strategy

Setelah mencermati jalan yang ditempuh untuk menemukan berbagai kemungkinan samudra biru, membangun kanvas strateginya, dan menjajaki cara meningkatkan jumlah massa pembeli, langkah berikutnya adalah membangun suatu model bisnis yang kuat untuk memastikan bahwa laba dapat tercipta dari ide BOS. Rangkaian strategis melalui pengujian terhadap utilitas bagi pembeli, harga, biaya, dan pengadopsian dilakukan untuk menguatkan ide-ide BOS dan memastikan kesinambungan usahanya.

6.4.2.1. Pengujian terhadap Utilitas Pembeli

Setiap produk harus mempunyai utilitas bagi pembeli. Namun, banyak perusahaan gagal memberikan value istimewa karena terobsesi dengan kebaruan, apalagi jika ada terknologi baru yang terlibat dalam produknya. Inovasi nilai tidak sama dengan inovasi teknologi.

Utilitas yang akan pengunjung KRB dapatkan melalui pelaksanaan blue ocean strategy yaitu:

a. Tidak kesulitan mencari toilet dan mushola yang nyaman. Ketersediaan air, tempat yang bersih, dan lokasi yang lebih mudah ditemukan berkat bentuan peta membuat kesan “KRB susah toilet dan musholanya” berkurang.

b. Menikmati pemandangan yang indah dan lebih bersih. Sampah disekitar pusat aktivitas pengunjung dan pusat pemandangan pengunjung sudah dibersihkan.

c. Pengunjung dapat menyusun program wisata yang lebih sesuai baginya. Pengunjung dapat lebih terlibat dalam penyusunan program karena pendapatnya terwakili oleh perwakilan komunitas.

(22)

d. Lebih mudah mengakses informasi KRB melalui Facebook dan Twitter. e. Mengenal dan memahami tumbuhan dan alam melalui cara yang

menyenangkan.

6.4.2.2. Pengujian terhadap Harga

Harga tiket masuk (HTM) pada industri objek wisata di Kabupaten dan Kota Bogor berkisar antara Rp.9.500 hingga Rp.85.000. Harga tiket KRB (Rp.9.500) adalah yang paling rendah diantara objek wisata yang ramai dikunjungi seperti Taman Safari Indonesia (Rp.85.000) dan The Jungle Waterpark (Rp.30.000). Harga tiket yang murah ini menjadi keunggulan KRB dalam meningkatkan pengunjung.

Semakin banyak pengunjung, semakin tinggi pula biaya untuk mengelola KRB. Jika HTM ditingkatkan, maka pengunjung akan berkurang. Untuk mengakomodasi keinginan pengunjung akan HTM yang rendah dan kebutuhan PKT-KRB akan dana untuk mengelola KRB dapat dilakukan dengan mekanisme perubahan HTM. Peningkatan HTM dapat dilakukan ketika ada event-event yang menarik pengunjung saja, atau pengunjung diharuskan membayar lagi untuk menikmati beberapa fasilitas yang ada di KRB.

Melalui event yang menarik, pengunjung dapat menikmati sesuatu yang berbeda dari hal-hal menarik yang sebelumnya ditawarkan KRB. Melalui peningkatan HTM pada event-event tertentu, PKT-KRB mendapatkan dana lebih untuk mengelola KRB. Tentunya mekanisme ini perlu dikaji dan mendapat persetujuan dari PKT-KRB dan pemerintah sebelum dilaksanakan. Ide mekanisme perubahan HTM tersebut dikemukakan oleh Ir. Lukman M. Baga, MA.Ec, Koordinator MK Strategi dan Kebijakan Bisnis Departemen Agribisnis IPB.

6.4.2.3. Pengujian terhadap Biaya

Blue Ocean Strategy KRB melalui rekonstruksi batasan pasar dan penyusunan strategi akan menimbulkan biaya tambahan. Biaya tersebut meliputi peningkatan faktor toilet, mushola, peta lokasi, aktivitas yang menyenangkan (entertainment), aktivitas yang menambah pengetahuan (educational), pelayanan petugas, keamanan, dan kebersihan serta penambahan faktor baru yaitu kuliner, komunitas dan event.

(23)

Penambahan biaya pada faktor toilet, mushola, peta lokasi, dan event dapat ditutupi dengan cara bermitra. Terutama untuk faktor event, PKT-KRB dapat bermitra dengan pelaku-pelaku dalam industri kesehatan, industri flora, dan industri yang bergerak dalam lingkup lingkungan hidup. Tidak menutup kemungkinan, akan datang mitra yang berasal dari luar industri tersebut.

Penambahan biaya pada faktor aktivitas yang menyenangkan (entertainment), aktivitas yang menambah pengetahuan (educational), pelayanan petugas, keamanan, dan kebersihan akan tertutupi dengan peningkatan harga tiket masuk (HTM) dan pengalihan investasi dari faktor aktivitas untuk individu, pasangan, dan keluarga. Penambahan biaya pada faktor komunitas dapat ditutupi dari kerjasama yang menguntungkan antara PKT-KRB dengan komunitas.

Menurut Kabag TU PKT-KRB, Ace Subarna SIP, PKT-KRB tidak dapat melakukan aktivitas yang bersifat komersil. PKT-KRB hanya dapat menghimpun dana untuk PNBP dari aktivitas yang memanfaatkan jasa KRB sesuai PP no.75 tahun 2007. Aktivitas komersil dapat dilakukan oleh pihak kedua atau ketiga. Sebagai contoh, usaha es krim yang ada di dalam KRB dilakukan oleh koperasi pegawai, Café De Daunan dikelola oleh pihak swasta, barang yang dijual di Garden Shop merupakan barang konsinyansi.

Mackinnon et al. (1986) menyatakan bahwa cara yang menyediakan fasilitas, makanan, dan jasa akomodasi bagi pengunjung kawasan dilindungi bervariasi tergantung kebijakan pemerintah. Pengoperasian dapat dilakukan oleh instansi kawasan dilindungi sendiri atau melalui suatu pengaturan kontrak dengan badan swasta yang umumnya disebut pemegang konsesi. Bila pemegang konsesi terbukti tidak memuaskan, otoritas pengelola mempunyai pilihan untuk menolak memperbaharui kontrak atau bahkan membatalkannya.

Menurut Dr. Ir. Arzyana Sunkar, MSc, pengajar MK Manajemen Kawasan Konservasi Departemen KSHE Fahutan IPB, perlu pemikiran yang outside the box dalam mengelola suatu kawasan konservasi. Dalam suatu perkualiahan, Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, MScF, Pengajar MK Manajemen Kawasan Konservasi, menjelaskan bahwa ada beberapa pemikiran yang mengarah pada pengubahan manajemen kawasan konservasi sekarang menjadi serupa dengan manajemen

(24)

pada Badan Layanan Umum (BLU) seperti rumah sakit. Pada model BLU, organisasi mencari dan mengelola sendiri keuangannya.

6.4.2.4. Pengujian terhadap Pengadopsian

Model strategi berbasiskan samudra biru dapat mengundang rasa takut dan resistensi dari tiga stakeholder utama, yaitu: karyawan, mitra, dan khalayak umum (Kim dan Mauborgne 2005). Hambatan yang muncul terkait dengan stakeholder tersebut adalah kemungkinan munculnya penolakan atas peningkatan fungsi wisata KRB yang dikhawatirkan akan mengganggu fungsi utama KRB, yaitu konservasi. Bagitu pula dengan fungsi konservasi yang tidak akan mengganggu fungsi wisata. Kedua fungsi yang dilematis ini akan meningkat beriringan. Untuk menghadapi hambatan tersebut, PKT-KRB perlu mengedukasi stakeholder melalui diskusi terbuka mengenai perlunya pengembangan wisata KRB yang akan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan lingkungan dan terutama meningkatkan profile dan image KRB. Perlu juga ditekankan bahwa pengembangan wisata yang dilakukan tetap dalam aturan-aturan yang tidak mengurangi fungsi konservasi KRB.

Menurut Koordinator MK Strategi dan Kebijakan Bisnis Departemen Agribisnis IPB, Ir. Lukman M. Baga, MA.Ec, pengujian yang dilakukan sudah tepat terutama untuk pengujian ide terhadap biaya dan pengadopsian. Pada pengujian ide terhadap biaya, kemitraan merupakan hal yang sangat tepat untuk dilakukan. Pengelolaan toilet dapat dijadikan sebagai contoh peluang kemitraan yang saling menguntungkan. Pendanaan untuk meningkatkan kinerja toilet KRB dapat dilakukan oleh mitra. Sebagai timbal balik, mitra dapat menggunakan toilet sebagai media iklan dalam jangka waktu 2-3 tahun, entah dengan mengecat toilet sesuai warna produk atau cara yang lainnya.

Pada pengujian terhadap pengadopsian, diskusi terbuka adalah cara yang sangat baik. Melalui diskusi, stakeholder KRB terutama PKT-KRB dapat melihat kemungkinan bahwa selain untuk konservasi dan penelitian, wisata di KRB juga harus dikembangkan. Sebagai kawasan yang memiliki fungsi konservasi, KRB sangat vital perannya dalam edukasi, terlebih lagi karena berada di pusat kota. Sayangnya, fungsi edukasi ini yang mulai hilang bagi masyarakat. Fungsi edukasi

(25)

harus dikemas melalui program yang menarik agar pengunjung tertarik untuk datang kembali ke KRB dan menikmati pendidikan lingkungan yang ada di KRB. Alur pengujian ide BOS dapat dilihat pada Gambar 9. Kanvas strategi KRB BOS, TSI, TJW, dan Industri Objek Wisata di Kabupaten dan Kota Bogor dapat dilihat pada Gambar 10.

Utilitas bagi Pembeli

1. Tidak kesulitan mencari toilet dan mushola yang nyaman. Ketersediaan air, tempat yang bersih, dan lokasi yang lebih mudah ditemukan berkat bentuan peta membuat kesan “KRB susah toilet dan musholanya” berkurang.

2. Menikmati pemandangan yang indah dan lebih bersih. Sampah disekitar pusat aktivitas pengunjung dan pusat pemandangan pengunjung sudah dibersihkan.

3. Pengunjung dapat menyusun program wisata yang lebih sesuai baginya. Pengunjung dapat lebih terlibat dalam penyusunan program karena pendapatnya terwakili oleh perwakilan komunitas.

4. Lebih mudah mengakses informasi KRB melalui Facebook dan Twitter. 5. Mengenal dan memahami tumbuhan dan alam melalui cara yang menyenangkan.

Harga

Harga tiket masuk (HTM) ditingkatkan dari saat KRB mengadakan event-event yang menarik. Penetapan tarif bagi fasilitas-fasilitas yang menyediakan jasa di dalam KRB.

Biaya

1. Penambahan biaya pada faktor toilet, mushola, peta lokasi, dan event dapat ditutupi dengan cara bermitra. Terutama untuk faktor event, PKT-KRB dapat bermitra dengan pelaku-pelaku dalam industri kesehatan, industri flora, dan industri yang bergerak dalam lingkup lingkungan hidup. Tidak menutup kemungkinan, akan datang mitra yang berasal dari luar industri tersebut.

2. Penambahan biaya pada faktor aktivitas yang menyenangkan (entertainment), aktivitas yang menambah pengetahuan (educational), pelayanan petugas, keamanan, dan kebersihan akan tertutupi dengan peningkatan harga tiket masuk (HTM) dan pengalihan investasi dari faktor aktivitas untuk individu, pasangan, dan keluarga.

3. Penambahan biaya pada faktor komunitas dapat ditutupi dari kerjasama yang menguntungkan antara PKT-KRB dengan komunitas.

Pengadopsian

Diskusi terbuka dengan pegawai, khalayak umum, mitra yang telah ada, dan calon mitra baru. Stakeholder perlu diyakinkan bahwa peningkatan fungsi wisata tidak akan mengurangi fungsi konservasi KRB dan fungsi konservasi tidak akan mengganggu fungsi wisata. Bahkan, melalui BOS, pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan lingkungan serta profile dan image KRB akan meningkat.

Gambar 9. Pengujian Ide BOS terhadap Utilitas bagi Pembeli, Harga, Biaya, dan Pengadopsian

(26)

Gambar 10. Kanvas Strategi KRB sekarang, KRB BOS, TSI, TJW, dan Industri Objek Wisata di Kabupaten dan Kota Bogor

Keterangan Faktor-Faktor Kompetisi: 1. Toilet

2. Mushola 3. Peta Lokasi

4. Aktivitas yang menghibur (entertainment)

5. Aktivitas yang menambah pengetahuan (educational)

6. Aktivitas untuk individu, pasangan, dan keluarga 7. Pelayanan Petugas 8. Keamanan 9. Kebersihan 10. Event 11. Komunitas 0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 P e n il ai an K in e r ja O b je k Wi sata Faktor-Faktor Kompetisi

Gambar

Tabel 7. Segmentasi Pengunjung di Bogor, KRB, TSI, dan TJW
Tabel 8. Kerangka Kerja Enam Jalan
Tabel 9. Kerangka Kerja Empat Langkah
Tabel 10. Tiga Unsur Strategi BOS yang Baik
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh dari variabel ini dapat diterangkan dengan sangat jelas yaitu bahwa peluang KRB menjadi objek wisata eko pilihan pertama pengunjung akan lebih besar apabila mereka

Pengaruh dari variabel ini dapat diterangkan dengan sangat jelas yaitu bahwa peluang KRB menjadi objek wisata eko pilihan pertama pengunjung akan lebih besar apabila mereka

a) Penambahan segmentasi wisata yang ditetapkan pihak pengelola agar terhindar dari over carrying capacity di titik-titik area kawasan tertentu Kebun Raya Bogor merupakan

Salah satu metode peramalan yang paling tepat untuk meramalkan jumlah pengunjung objek wisata adalah dengan menggunakan metode Dekomposisi (Metode Deret Berkala)

Berdasarkan kondisi fisik dan aksesibilitasnya, perkembangan objek wisata terbanyak di Kabupaten Bogor berjarak dekat dari pusat Kota Bogor yang berkarakteristik yaitu

STRATEGI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA DANUM LAYONG KABUPATEN PASER BERDASARKAN PERSEPSI PENGUNJUNG Nama Mahasiswa : Abd Malik Salman NIM : 08151001 Dosen Pembimbing Utama : Rossana

Berdasarkan latar belakang masalah di atas penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kesedian membayar WTP pengunjung ke Objek Wisata Kebun Raya

Pemantapan daya tarik wisata untuk meningkatkan daya saing pengunjung dan segmen pasar yang lebih luas Wisata hala di Temboro semakin memperbaiki fasilitas fasilitas wisata yang perlu