Sunu, (2012 dalam Boham, 2013) menyatakan bahwa autisme berasal. dari kata auto yang artinya sendiri. Istilah ini dipakai karena mereka yang

Teks penuh

(1)

2.1.1 Pengertian Autis

Sunu, (2012 dalam Boham, 2013) menyatakan bahwa autisme berasal dari kata ‘auto’ yang artinya sendiri. Istilah ini dipakai karena mereka yang mengidap gejala autisme seringkali memang terlihat seperti seorang yang hidup sendiri. Anak autis seolah-olah hidup di dunianya sendiri dan terlepas dari kontak sosial yang ada di sekitarnya. Muhith (2015) berpendapat bahwa autisme adalah gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya kelainan atau kendala perkembangan yang muncul sebelum usia 3 tahun, dan dengan ciri kelainan fungsi dalam tiga bidang interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang.

Cristie (2007 dalam Kartika, 2014) berpendapat bahwa autisme didiagnosis menggunakan parameter triad of impairments, yaitu tiga area kesulitan belajar dan berkomunikasi seorang anak yang tampak dalam perkembangan anak sebelum dia berusia tiga tahun. Bukan berarti semua anak didiagnosis sebelum tiga tahun, tetapi berdasarkan observasi pada orang tua dan observasi lainnya, tampak bahwa pola kesulitan yang dialami seorang anak diawali sebelum usianya tiga tahun. Ketiga area kesulitan tersebut meliputi kesulitan dalam berbahasa dan berkomunikasi, kesulitan dalam interaksi sosial dan pemahaman terhadap sekitarnya, dan kurangnya fleksibilitas dalam berpikir dan bertingkah laku.

(2)

2.1.2 Karakteristik Autis

Abdul Muhith (2015) menyatakan untuk memeriksa seorang anak menderita autis atau tidak, digunakan standar internasional tentang autisme. ICD-10 (International Classification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk autis yang isinya sama, saat ini dipakai di seluruh dunia. Kriteria tersebut adalah harus ada sedikitnya gejala dari (1), (2), dan (3) seperti dibawah ini, dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing – masing 1 dari gejala dari (2) dan (3)

2.1.2.1 Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik

Anak autis minimal harus memiliki 2 dari gejala di bawah ini, yaitu pertama tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai: kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik kurang tertuju, apabila dipanggil tinggal menengok. Kedua tidak bisa bermain dengan teman sebaya, senang menyendiri. Ketiga kurangnya hubungan timbal balik sosial dan emosional. Keempat tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain. Kelima kurangnya kemampuan untuk bisa membagi kegembiraan dan kesenangan pada orang lain (Newson, 1998).

2.1.2.2 Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi

Anak autis minimal harus memiliki 2 dari gejala di bawah ini, yaitu pertama perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tidak berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomuniksai secara non verbal. Kedua bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomuniksi. Ketiga sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang. Keempat cara bermain kurang

(3)

variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru.

2.1.2.3 Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang.

Pertama mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang khas dan berlebihan. Kedua terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya. Ketiga ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang. Keempat seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.

2.1.2.4 Adanya gangguan emosi

Gangguan emosi yang dimaksud seperti tertawa, menangis, marah-marah tanpa sebab, emosi tidak terkendali, dan rasa takut yang tidak wajar.

2.1.2.5 Adanya gangguan persepsi sensorik

Gangguan persepsi sensorik yang dimaksud seperti menjilat-jilat dan mencium-cium benda, menutup telinga bila mendengar suara keras dengan nada tertentu, tidak suka memakai baju dengan bahan yang kasar, dan sangat tahan terhadap sakit

2.1.3 Tahapan Komunikasi Anak Autis

Sebuah studi banding yang dilakukan oleh Menyuk dan Quill (1985 dalam Peeters, 2009) memberi informasi menarik tentang komunikasi anak autis. mereka mempelajari perkembangan makna dalam bahasa pada anak yang normal dan anak-anak autistik.

(4)

Tabel 2.1.3 Perkembangan Bahasa dan Komunikasi Anak Autis dan Anak Normal

Usia dalam Bulan

Perkembangan Bahasa dan Komunikasi pada Anak Autis

Perkembangan Bahasa dan Komunikasi pada Anak Normal

2bulan Suara-suara vocal

6bulan Tangisan sulit dipahami “Pembicaran” vokal atau bertatap muka Posisi dengan orangtua

Suara-suara konsonan mulai muncul 8bulan Ocehan yang terbatas atau tidak normal

(misalnya, menjerit atau berciut)

Tidak ada peniruan bunyi, bahasa tubuh, ekspresi

Berbagai intonasi dalam ocehan, termasuk bertanya

Intonasi

Mengoceh potongan-potongan kata secara berulang-ulang (ba-ba-ba, ma-ma-ma)

Gerakan menunjuk mulai muncul 12bulan Kata-kata pertama mungkin muncul, tapi

seringkali tidak bermakna

Sering menangis keras-keras; tetap sulit untuk dipahami

Kata-kata pertama mulai muncul

Penggunaan jargon dengan intonasi yang seperti kalimat

Bahasa yang paling sering digunakan untuk menanggapi lingkungan dan permainan vokal Penggunaaan bahasa tubuh plus vokalisasi untuk mendapatkan perhatian, menunjukkan benda-benda dan mengajukan permintaan

18bulan 3-50 kosa kata

Bertanya pertanyaan yang sederhana

Perluasan makna kata yang berlebihan (misalnya, “papa” untuk semua laki-laki)

Menggunakan bahasa untuk menanggapi, meminta sesuatu dan tindakan, dan mendapatkan perhatian

Juga menarik orang lain untuk mendapatkan dan mengarahkan perhatian

Mungkin sering melakukan perilaku “echo” atau meniru

24bulan Biasanya kurang dari 15 kata Kata-kata muncul, kemudian hilang Bahasa tubuh tidak berkembang; sedikit menunjuk pada benda

Kata-kata 3-5 kata digabung (ucapan yang bersifat “telegrafik”)

Bertanya pertanyaan yang sederhana (misalnya, Mana Papa? Pergi?)

Menggunakan kata “ini” disertai perilaku menunjuk

Menyebut diri sendiri dengan nama dan bukannya “saya”

Tidak dapat mempertahankan topik pembicaraan

(5)

Usia dalam Bulan

Perkembangan Bahasa dan Komunikasi pada Anak Autis

Perkembangan Bahasa dan Komunikasi pada Anak Normal

36bulan Kombinasi kata-kata jarang

Mungkin ada kalimat-kalimat yang bersifat echo, tapi tidak ada penggunaan bahasa yang kreatif

Ritme, tekanan atau penekanan suara yang aneh

Artikulasi yang sangat rendah separuh dari anak-anak normal

Separuhnya atau lebih tanpa ucapan-ucapan yang bermakna

Menarik tangan orangtua dan membawanya ke suatu obyek

Pergi ke tempat yang sudah biasa dan menunggu untuk mendapatkan sesuatu

Bahasa berfokus pada di sini dan sekarang Kosa kata sekitar 1000 kata

Kebanyakan morfem gramatikal (kata jamak, masa lampau, preposisi, dll.) digunakan secara tepat

Perilaku echo jarang terjadi pada usia ini

Bahasa semakin banyak digunakan untuk bicara mengenai “di sana” dan “kemudian” Banyak bertanya, seringkali lebih untuk melanjutkan interaksi daripada mencari informasi

48bulan Sebagian kecil bisa mengkombinasikan dua atau tiga kata secara kreatif

Ekolali masih ada; mungkin digunakan secara komunikatif

Meniru iklan TV Membuat permintaan

Struktur kalimat yang kompleks digunakan Dapat mempertahankan topik pembicaraan dan menambah informasi baru

Bertanya pada orang lain untuk menjelaskan ucapan-ucapan

Menyesuaikan kualitas bahasa dengan pendengar (misalnya, menyederhanakan bahasa ketika berbicara dengan anak berusia 2 tahun)

60bulan Penggunaan struktur yang kompleks secara

lebih tepat

Struktur gramatikal sudah matang secara umum (masih ada beberapa masalah dengan kesesuaian subyek/kata kerja, bentuk-bentuk kata yang tidak beraturan, pengucapan, dll.) Kemampuan untuk menilai kalimat secara gramatikal/nongramatikal dan membuat perbaikan

Mengembangkan kemampuan memahami lelucon dan sindiran, mengenali kerancuan verbal

Meningkatkan kemampuan untuk menyesuaikan bahasa dengan perspektif dan peran pendengar

Menurut Sussman (1999 dalam Yuwono, 2012) secara umum komunikasi anak autis berkembang melalui 4 tahapan:

2.1.3.1 The Own Agenda Stage

Pada tahap ini anak masih lebih suka bermain sendiri dan tampaknya tidak tertarik dengan orang-orang di sekitarnya. Anak belum tahu bahwa dengan

(6)

komunikasi dia dapat mempengaruhi orang lain. Untuk mengetahui keinginannya, anda harus memperhatikan gerak tubuh dan ekspresi wajah anak. Sering kali anak mengambil sendiri benda-benda yang diinginkannya. Interaksi dengan ibu dan pengasuhnya mungkin dapat berlangsung cukup lama, namun anak belum mau berinteraksi dengan anak-anak lain atau orang yang baru dikenalnya. Anak autis belum dapat bermain dengan benar dan akan menangis atau berteriak bila kegiatannya terganggu atau bila menolak.

2.1.3.2 The Requester Stage

Pada tahap ini anak mulai menyadari bahwa tingkah lakunya dapat mempengaruhi orang di sekitarnya. Bila menginginkan sesuatu, anak biasanya akan menarik tangan orang lain dan mengarahkannya ke benda yang diinginkannya. Kegiatan atau permainan yang amat disukainya biasanya masih bersifat fisik seperti bergulat, digelitiki, cilukba. Sebagian anak mampu mengulangi kata-kata atau suara tetapi bukan untuk berkomunikasi melainkan untuk menenangkan dirinya. Anak mulai bisa mengikuti perintah sederhana, tetapi responnya masih belum konsisten. Ia juga sudah memahami tahapan rutin dalam kehidupannya sehari-hari.

2.1.3.3 The Early Communication Stage

Kemampuan anak berkomunikasi lebih baik karena melibatkan penggunaan gerak isyarat, suara, dan gambar. Interaksi yang terjadi juga berlangsung lebih lama. Anak telah menyadari bahwa dia bisa menggunakan satu bentuk komunikasi tertentu secara konsisten pada situasi khusus. Anak autis memiliki inisiatif berkomunikasi yang masih terbatas pada pemenuhan

(7)

kebutuhannya seperti makanan, minuman dan benda-benda kesukaanya. Pada tahap ini anak telah mulai mengulang hal-hal yang didengar, mulai memahami isyarat visual/gambar komunikasi dan mulai memahami kalimat-kalimat sederhana yang kita ucapkan. Bila terlihat perkembangan bahwa anak mulai menaggil nama, menunjuk sesuatu yang diinginkan, atau melakukan kontak mata untuk menarik perhatian, maka berarti anak sudah siap untuk memulai komunikasi dua arah. Pada tahap ini anak sudah dapat diajarkan untuk menyapa orang lain, menjawab pertanyaan “Apa ini/itu?” dan memberikan jawaban “ya” atau “tidak”.

2.1.3.4 The Parther Stage

Tahap ini merupakan fase yang paling efektif. Bila kemampuan bicara anak baik, ia akan mempu melakukan percakapan sederhana. Anak juga dapat diminta untuk menceritakan pengalamannya yang lalu, keinginannya yang belum terpenuhi dan mengekspresikan perasaannya. Namun kadang-kadang anak masih terpaku pada kalimat-kalimat yang telah dihapalkan dan sulit menemukan topik pembicaraan yang tepat pada situasi baru. Bagi anak-anak yang masih mengalami kesulitan untuk berbicara, komunikasi dapat dilakukan dengan menggunakan rangkaian gambar atau menyusun kartu-kartu bertulisan. Walaupun sudah sering berinteraksi dengan anak-anak lain dan orang tuanya, kebiasaan anak untuk bermain sendiri masih tetap ada, terutama bila dia tidak tahu apa yang harus dilakukan bersama teman-temannya.

(8)

2.1.4 Hambatan Komunikasi pada Anak Autis

Menurut Wijayaptri dalam jurnalHambatan Komunikasi pada Penyandang Autisme Remaja: Sebuah Studi Kasus (2015) terdapat beberapa bentuk gangguan dalam aspek komunikasi yang dialami oleh penyandang autisme. Berdasarkan studinya, Paul (2008) mengidentifikasi setidaknya ada 6 jenis gangguan komunikasi yang tipikal pada anak autis, yaitu:

Pertama respon yang minim dalam berkomunikasi, misalnya tidakmerespon jika orang lain memanggil namanya. Anak autis umumnya memiliki kemampuan komunikasi yang sangat minim, anak dengan autis biasanya juga sangat jarang memulai komunikasi dalam lingkungan sosialnya. Komunikasi yang saya gambarkan di sini lebih kepada komunikasi yang bersifat verbal. Kedua sulit memusatkan perhatian. Ketiga rendahnya frekuensi komunikasi. Keempat fungsi komunikasi yang terbatas, biasanyakomunikasi hanya berfungsi untuk meminta (request) atau menolak (protest). Kelima echolaliae. , yaitu sebuah kondisi di mana penyandang autisme menirukan berulang-ulang kata-kata yang didengar atau diingat meskipun tidak mengetahui maknanya. Keenam penggunaan kata-kata yang tidak lazim (idiosyncratic words).

Shea dan Mesibov (2005 dalam Wijayaptri, 2015) menyebutkan bahwa sebagian besar penyandang autisme remaja menunjukkan abnormalitas dalam berbicara dan berbahasa. Hal ini juga didukung oleh Levy dan Perry (2011 dalam Wijayaptri, 2015) yang menjelaskan bahwa mayoritas penyandang autisme remaja terus memiliki permasalahan yang berkaitan dengan perilaku, komunikasi, pendidikan, keterampilan hidup, kemandirian, keterampilan sosial, dan

(9)

pertemanan. Pandangan yang lebih moderat menyebutkan bahwa kemampuan komunikasi penyandang autisme terus berkembang seiring dengan perkem-bangan usianya, namun mereka tetap akan mengalami berbagai hambatan sosial saat berkomunikasi.

2.1.5 Penanganan Hambatan Komunikasi pada Anak Autis

Andriana (2008) menyatakan bahwa penyandang autisme pada umumnya mengalami gangguan kemampuan dalam interaksi sosial, kemampuan berkomunikasi atau berbahasa, kemampuan perilaku dan minat. Gangguan tersebut menyebabkan mereka kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungannya, untuk menghadapi masa depan yang lebih baik mereka memerlukan penanganan yang cepat dan tepat, jika tidak ditangani dengan cepat mereka tidak dapat berbaur dan hidup mandiri dalam di masyarakat. Penanganan yang dilakukan yaitu dengan menggunakan terapi. Terapi ada bermacam-macam, namun terapi untuk penderita autism biasanya berbeda-beda, tergantung pada kebutuhan masing-masing. Waktu terapi dan keberhasilannya juga tidak sama. Peran serta orang tua dengan rajin mengulang terapi di rumah, tingkat kecerdasan anak, serta ringan atau beratnya autisme akan sangat berpengaruh.

Muhith (2015) menyatakan bahwa anak autis belajar lebih baik jika informasi disampaikan secara visual (melalui gambar) dan verbal (melalui kata-kata). Masukkan komunikasi augmentatif dalam kegiatan rutin sehari-hari dengan menggabungkan kata-kata dan foto-foto, lambang atau isyarat tangan untuk membantu anak mengutarakan kebutuhan , perasaan, dan gagasannya.

(10)

Francine Brower (2010) menyatakan bahwa anak autis cenderung mulai berbicara tanpa mendapatkan perhatian dari orang yang ia ajak bicara terlebih dahulu. Ketika orang yang diajak bicara meminta kalimatnya diulang, anak autis terlanjur enggan melakukannya. Saat situasi ini terjadi, jelaskan bahwa anda tadi tidak mendengar yang anak autis tersebut ucapkan dan anda ingin mendengarnya kembali. Berikan waktu bagi anak autis untuk kembali memperoleh kepercayaan dirinya, dorong anak autis untuk mengulang perkataannya, dan pujilah usahanya untuk terus mencoba berkomunikasi.

2.1.5.1 Terapi bicara

Andriana (2008) menyatakan bahwa terapi bicara adalah suatu keharusan autisme, karena semua penyandang autis mempunyai keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa. Masalah utama pada anak autis bukan hambatan dalam mengucapkan kata-kata melainkan pada pemahaman bahasa secara keseluruhan.Terapi bicara akan membantu kemampuan bicara anak autis semakin meningkat. Anak autis yang telah sukses menjalani terapi ini akan mudah berbicara, bahkan ada beberapa anak autis yang memiliki kemampuan berbahasa di atas anak normal sebayanya. Ada sejumlah latihan yang harus dilakukan seperti pecs dan compic, facilitated communikation dan sign language.

Haryana (2012) menyatakan bahwa Pecs dan compic adalah kartu-kartu bergambar yang digunakan untuk membantu anak mengungkapkan keinginannya dan mengekpresikan diri. Awalnya anak diajari untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan hanya dengan menunjuk atau menyerahkan kartu yang merupakan simbol dari bendanya. Selanjutnya anak diajarkan kemampuan komunikasi yang

(11)

lebih kompleks seperti menyusun kalimat sederhana dan menjawab pertanyaan. Andriana (2008) menyatakan bahwa Facilitated Communikation; anak diajarkan untuk mengunggkapkan diri dengan cara menunjuk huruf-huruf pada papan abjad atau organizer. Anak autis banyak mengalami masalah koordinasi motoric tangan, maka oleh karenanya awalnya diberikan bantuan untuk menyangga lengan tangan mereka.

Andriana (2008) menyatakan Sign language atau bahasa isyarat adalah cara komunikasi dengan menggunakan gerakan tangan, badan, dan ekspresi wajah. Pada sebagian anak cara ini menjadi sulit karena mereka mengalami hambatan dalam melakukan gerakan yang tepat.

Peeters (2009) menyatakan bahwa bagi anak-anak non verbal, belajar bukanlah cara berkomunikasi yang disukai dan terbaik baginya. Bila mengucap satu kata saja sudah menyulitkan atau bahasa verbal amat membingungkan baginya, anak tentu tidak ingin melakukannya. Orang-orang disekitarnya dapat memberikan alternatif yang lebih mudah, seperti menggunakan gambar, papan komunikasi, atau bahasa isyarat, sehingga anak akan melihat komunikasi sebagai kegiatan yang menyenangkan, selanjutnya anak akan lebih sering berinisiatif untuk berinteraksi.

2.1.5.2 Terapi Sosial

Munnal (2015) menyatakan bahwa anak autis mengalami kesulitan dalam berkomunikasi (dua arah) dan berinteraksi social. Orang tua sebaiknya mengajak anak autis bermain bersama teman-temannya. Saat bermain, orang tua bisa mengajari cara-cara bermain dan berinteraksi bersama teman-temannya

(12)

dalam suasana yang bahagia. Saat anak autis bermain bersama teman-temannya, ini mempermudahnya dalam belajar berbicara, berkomunikasi, dan berinteraksi sosial.

Suteja (2014) menyatakan seorang terapis harus membantu memberikan fasilitas pada anak-anak autis untuk bergaul dengan teman-teman sebayanya dan mengajari cara-caranya secara langsung dalam terapi sosial.

Munnal (2015) menyatakan bahwa sementara itu, bagi anak autis yang berusia di atas 5 tahun, tetapi belum dapat bersosialisasi sama sekali dengan orang lain, maka perlu diberi pelatihan tambahan yang cenderung kepada peningkatan motoric halus dan kasarnya.

2.1.5.3 Terapi Bermain

Munnal (2015) menyatakan bahwa anda dapat bermain dengan anak Anda menggunakan alat-alat permainan. Hal ini bisa membantu Anda dan anak Anda berinteraksi secara aktif dan maksimal. Selain itu, aktivitas bermain tersebut juga mampu meningkatkan kemampuannya dalam bersosialisasi, berkomunikasi, berimajinasi, gerak dan kognisi, serta sensori dan integrasinya. Seseorang terapis bermain dapat membantu anak autis melalui teknik-teknik khusus.

Terapi yang diterapkan oleh Bromfield, dia memasuki dunia anak autis. Sehingga, Bromfield bisa memahami pembicaraan sekaligus perilaku anak autis yang kadang tidak diketahui maknanya. Bromfield pun menirukan perilaku obsesif anak autis untuk mencium ataupun membaui semua objek menggunakan boneka yang juga membaui benda. Ternyata, tindakan tersebut menarik perhatian

(13)

anak autis. Bromfield sukses menjalin komunikasi lebih lanjut dengan sang anak menggunakan boneka dan alat bermain lainnya, misalnya telepon mainan.

Terapi yang diterapkan oleh Lower dan Lanyado. Lower dan Lanyado menjadikan pemaknaan sebagai teknik utama dalam terapi bermain. Dengan demikian, mereka masuk ke dunia anak autis dengan memaknai bahasa tubuh dan tanda-tanda dari anak autis, misalnya gerakan menunjuk.

2.1.5.4 Terapi Musik

Munnal (2015) menyatakan bahwa musik dapat menghasilkan getaran gelombang yang berpengaruh terhadap permukaan membran otak. Ini turut memperbaiki kondisi fisiologis. Sehingga, indra pendengaran berfungsi lebih maksimal, sekaligus merangsang kemampuan berbicara pada anak autis. Dalam terapi musik, tidak dibutuhkan komunikasi verbal. Selain itu, terapi music juga berfungsi sebagai penguat alami.

Munnal (2015) menyatakan terapi musik bisa membantu anak autis dalam meningkatkan kemampuan berbicaranya, khususnya yang melibatkan konseptualisasi, simbolisasi, maupun pemahaman. Para ahli berpendapat bahwa musik diproses di kedua belahan otak. Maka, terapi musik mampu meningkatkan fungsi kognitif sekaligus keterampilan bahasa pada anak autis. Anak autis mulai berkomunikasi saat mengikuti kegiatan menyanyi ataupun menari. Anak autis lebih capat menyambut suara musik ketimbang perintah verbal maupun pendekatan fisik. Peran musik memang sangat membantu dalam perkembangn anak autis.

(14)

2.1.5.5 Sekolah Pendidikan Khusus

Suteja (2014) menyatakan bahwa salah satu bentuk terapi terhadap anak autis juga adalah dengan memasukannya di sekolah khusus anak-anak autis karena di dalam pendidikan khusus biasanya telah mencakup terapi perilaku, terapi bicara, dan terapi okuvasi. Pada pendidikan khusus biasanya seorang terapis hanya mampu menangani seorang anak pada saat yang sama.

Boham (2013) berpendapat bahwa kemampuan komunikasi anak autis dapat ditingkatkan dengan melatih beberapa hal dirumah, yaitu:

A. Mempertahankan kontak mata

Dasar yang pertama dilakukan pada umunnya ketika seseorang berbicara dengan orang lain adalah melihat wajah lawan bicaranya, karena itu anak autis yang biasanya kesulitan melakukan kontak mata. Pertama kali latihlah anak autis untuk melihat wajah dari lawan bicaranya. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melatih anak autis melihat wajah, yaitu jangan mulai pembicaraan sebelum anak autis melihat kepada orangtua dan setiap kali terjadi kontak mata dengan anak autis meskipun tidak disengaja usahakan untuk melakukan suatu pembicaraan.

B. Mengajak anak autis berbicara

Kemampuan berbahasa secara otomatis berkembang ketika kita berada di tengah lingkungan yang terus menerus menggunakan bahasa tersebut. Orang tua sebaiknya mengajak anak autis berbicara dalam situasi apapun. Orang tua sebaiknya menceritakan pada anak autis cerita apapun, lepas dari anak autis benar-benar mengerti atau tidak.

(15)

C. Manfaatkan kepandaian anak autis dalam meniru

Anak autis memiliki kemampuan meniru sesuatu dengan sangat baik. Orangtua bisa memanfaatkan kemampuan ini dengan memberikan model bahasa atau kata-kata yang sesuai. Orang tua menggunakan flashcard lalu orangtua mengucapkan nama gambar di dalam flashcard, lakukan sesering mungkin dan terus-menerus. Orangtua mengajak anak autis berbicara berdua dengan berbagai kalimat dalam suasana yang nyaman sesering mungkin sehingga anak autis terdorong untuk mengingat dan meniru kata-kata.

D. Berikan apresiasi positif saat anak bercerita

Ketika anak autis menceritakan sesuatu tentang dirinya sendiri, misalnya tentang mainannya, temannya atau apapun secara spontan, selalu sempatkan untuk memberi tanggapan dengan bahasa indonesia yang baik dan benar yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Orangtua sebaiknya memberi apresiasi atas apa yang diceritakan anak autis sehingga anak autis termotivasi untuk bercerita kembali lain kali. Orangtua harus menghindari sikap mengabaikan atau berkomentar yang membuat anak autis merasa enggan untuk berbicara. Apresiasi secara positif kemauan anak autis untuk bercerita dan pancing dengan berbagai pertanyaan yang membuat anak bercerita lebih banyak.

E. Mengajak anak autis bermain

Orangtua bisa mengajak anak autis bermain untuk meningkatkan komunikasi anak autis. Orangtua juga sebaiknya mengajarkan nama-nama benda kepada anak autis. Orang tua atau terapis membutuhkan gambar-gambar yang sudah dikenal dan dinamai untuk mempraktekan cara ini. Misalkan, gambar topi,

(16)

burung, sepatu, apel, gajah, dan sebagainya yang dapat dipotong dari majalah bekas.

Orangtua juga bisa mengajari anak autis bernyanyi. Lagu adalah cara yang menyenangkan untuk kemampuan verbal anak, karena umumnya anak-anak suka sekali bernyanyi. Melalui bernyanyi anak dapat belajar mengucapkan lirik lagu tersebut satu persatu.

2.2 Perilaku

2.2.1 Pengertian Perilaku

Kwick (1974 dalam Kholid, 2012) menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari. Sunaryo (2013) menyatakan bahwa dari sudut biologis, perilaku dapat diartikan sebagai suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan, baik yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung.

Blum (1974, dalam Maulana, 2009) menyatakan bahwa perilaku adalah faktor terbesar kedua setelah faktor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat. Wahit Iqbal Mubarak (2011) menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari.

2.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Perilaku

Sunaryo (2013) menyatakan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor. Secara umum, perilaku manusia dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu

(17)

kebutuhan, motivasi, faktor perangsang dan penguat, serta sikap dan kepercayaan. Keempat faktor itu adalah:

2.2.2.1 Kebutuhan

Abraham Harold Maslow (1 April 1908-8 Juni 1979) adalah seorang tokoh yang terkenal dengan teori kebutuhan. Maslow (1970) menjelaskan bahwa manusia memiliki 5 kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan fisiologi/biologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan mencintai dan dicintai, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri. Kelima kebutuhan ini dijelaskan dalam bentuk hierarki yang sering dikenal dengan Hierarki Kebutuhan Maslow.

2.2.2.2 Motivasi

Motivasi adalah dorongan penggerak untuk mencapai tujuan tertentu, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Motivasi dapat timbul dari dalam diri individu atau lingkungan. Motivasi yang terbaik adalah motivasi yang datang dari diri sendiri (motivasi intrinsik), bukan pengaruh lingkungan (motivasi ekstrinsik).

2.2.2.3 Faktor perangsang dan penguat

Perilaku manusia dapat didukung dengan adanya faktor perangsang dan penguat. Untuk meningkatkan motivasi berperilaku dapat dilakukan dengan empat cara. Pertama, dengan cara memberi hadiah atau ganjaran yang dapat berupa penghargaan, pujian, penghargaan, pujian, piagam, hadiah, promisi pendidikan, dan jabatan. Kedua, dengan melakukan kompetisi atau persaingan yang sehat. Ketiga, dengan memperjelas tujuan atau sasaran atau menciptakan tujuan antara

(18)

(pace making). Terakhir, dapat dilakukan dengan menginformasikan keberhasilan kegiatan yang telah dicapai sehingga dapat memotivasi agar lebih berhasil.

2.2.2.4 Sikap dan Kepercayaan

Dua hal yang dapat mempengaruhi perilaku adalah sikap dan kepercayaan. Sikap seseorang dapat mempengaruhi perilaku, baik positif maupun negatif.

2.2.3 Konsep Perilaku

Bloom (1908 dalam Sunaryo, 2013) mengungkapkan bahwa perilaku manusia dapat di bagi ke dalam tiga domain, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Domain kognitif dapat diukur dari pengetahuan sedangkan domain afektif dapat diukur dari sikap. Domain psikomotor dapat diukur dari tindakan atau keterampilan. Apabila digambarkan melalui skema, dapat dilihat seperti di bawah ini.

Skema 2.2.3. Domain Perilaku menurut Bloom

2.2.3.1 Kognitif

Bloom (1993 dalam Sunaryo, 2013) berpendapat bahwa kognitif adalah perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, dan keterampilan berpikir. Kognitif memiliki 6 jenjang proses berpikir, yaitu pengetahuan, memahami, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.

1. Kognitif

(19)

Pengetahuan merupakan tingkat kognitif paling rendah. Tahu artinya dapat mengingat kembali suatu materi atau suatu hal yang telah dipelajari sebelumnya. Seseorang dinyatakan tahu apabila ia dapat menyebutkan , menguraikan, mendefenisikan, dan menyatakan.

Memahami artinya kemampuan untuk menjelaskan dan menginterpretasikan objek yang diketahui dengan benar. Seseorang yang telah paham tentang sesuatu, harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, dan menyimpulkan

Penerapan yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi nyata atau dapat menggunakan hukum, rumus, atau metode dalam situasi nyata.

Analisis merupakan kemampuan untuk menguraikan objek ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, namun masih di dalam suatu struktur objek tersebut dan masih ada kaitannya satu dengan yang lain. Ukuran kemampuan ialah dapat menjelaskan, membuat bagan, membedakan, memisahkan, dan mengelompokkan suatu teori.

Sintesis, merupakan kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang sudah ada. Ukuran kemampuan ialah dapat menyusun, dapat meringkaskan, merencanakan, dan menyesuaikan suatu teori atau rumusan yang telah ada.

Evaluasi yaitu kemampuan melakukan penilaian atau justifikasi terhadap objek. Evaluasi dapat menggunakan kriteria yang telah ada atau disusun sendiri.

(20)

Faktor-faktor yang mempengaruhi Kognitif (Notoatmodjo, 2012):

a. Tingkat pendidikan, kemampuan belajar yang dimiliki manusia merupakan bekal yang sangat pokok. Tingkat pendidikan dapat menghasilkan suatu perubahan dalam kognitif;

b. Informasi, dengan kurangnya informasi tentang cara mencapai hidup sehat, cara pemelihara kesehatan, cara menghindari penyakit akan menurunkan tingkat kognitif seseorang tentang hal tersebut;

c. Budaya, budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat kognitif seseorang, karena informasi baru akan disaring kira-kira sesuai tidak dengan budaya yang ada dan agama yang dianut;

d. Pengalaman, pengalaman disini berkaitan dengan umur dan tingkat pendidikan seseorang, maksudnya pendidikan yang tinggi pengalaman akan lebih luas sedangkan umur semakin bertambah.

2.2.3.2 Afektif

Bloom (1993 dalam Sunaryo, 2013) berpendapat bahwa afektif adalah perilaku terkait dengan emosi, misalnya perasaan, nilai, minat, motivasi, dan sikap. Afektif memiliki 4 jenjang yaitu: menerima, merespon, menghargai dan bertanggung jawab.

Menerima (memperhatikan), meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala, kerelaan, dan mengarahkan perhatian. Menerima berarti mau dan memperhatikan stimulus yang di berikan/objek .

(21)

ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Terlepas dari benar atau salah, hal ini berarti individu menerima ide tersebut.

Menghargai, meliputi menerima suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, dan komitmen terhadap suatu nilai. Pada tingkat ini, individu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.

Bertanggung jawab, meliputi mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan abstrak, dan mengorganisasi sistem suatu nilai. Merupakan afektif yang paling tinggi, dengan segala risiko bertanggung jawab terhadap sesuatu yang telah dipilih, meskipun mendapat tantangan dari keluarga.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan afektif menurutKristina (2007) antara lain:

a. Pengalaman pribadi

Apa yang dialami seseorang akan mempengaruhi penghayatan dalam stimulus sosial, tanggapan akan menjadi salah satu dasar dalam pembentukan afektif, untuk dapat memiliki tanggapan dan penghayatan seseorang harus memiliki pengamatan yang berkaitan dengan objek psikologis. Afektif yang diperoleh lewat pengalaman akan menimbulkan pengaruh langsung terhadap prilaku berikutnya. Pengaruh langsung tersebut dapat berupa predisposisi perilaku yang akan direalisasikan hanya apabila kondisi dan situasi memungkinkan.

b. Orang lain

(22)

adalah orang tua, teman dekat, teman sebaya. c. Kebudayaan

Kebudayaan dimana kita hidup akan mempengaruhi pembentukan afektif seseorang.

d. Media Massa

Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti televisi, radio, surat kabar mempunyai pengaruh dalam membawa pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarah pada opini yang kemudian dapat mengakibatkan adanya landasan kognisi sehingga mampu membentuk afektif.

e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama

Lembaga pendidikan serta lembaga agama suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan afektif, dikarenakan keduanya meletakkan dasar, pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan dan pusat keagamaan serta ajaranya.

f. Faktor Emosional

Tidak semua bentuk afektif ditentukan oleh situasi lingkungan dan

pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang suatu bentuk afektif merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi, yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Afektif demikian dapat merupakan afektif yang sementara dan segera berlalu, begitu frustasi telah hilang, akan tetapi

(23)

dapat pula merupakan afektif lebih persisten dan bertahan lama. Suatu afektif belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan untuk terwujudnya afektif menjadi suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain harus didukung dengan fasilitas, afektif yang positif.

2.2.3.3 Psikomotor

Bloom (1993 dalam Sunaryo, 2013) berpendapat bahwa psikomotor adalah perilaku yang menekankan keterampilan motoric / kemampuan fisik. Psikomotor juga memiliki tingkatan,yaitu:

a. Persepsi, yaitu mengenal dan memilih objek sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan.

b. Respon terpimpin, yaitu individu dapat melakukan sesuatu dengan urutan yang benar sesuai contoh.

c. Mekanisme, yaitu individu dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sudah menjadi kebiasaan.

d. Adaptasi, yaitu suatu tindakan yang sudah berkembang dan dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :