STRUKTUR NARATIF MODEL SEYMOUR CHATMAN
DALAM APLIKASI NOVEL
TARIAN DUA WAJAH
KARYA S.
PRASETYO UTOMO
Rokhyanto
Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia
Abstrak: Masalah yang terdapat dalam penelitian ini, yaitu: (1) butir-butir yang ada dalam struktur naratif Seymour Chatman (2) cara kerja (jabaran) dalam teori struktur naratif Seymour Chatman Tujuanya untuk memperoleh mengetahui secara rinci tentang struktur naratif Seymour Chatman. Pustaka yang digunakan berkaitan dengan struktur naratif antaralain: kernel dan satelit, urutan cerita, order, durasi, frekuensi, dan karakterisasi. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data penelitian ini berupa kata-kata, frase, kalimat, di dialog para tokoh dalam cerita novel TDW. Data penelitian meliputi: item-item yang ada dalam teori struktur naratif, jabaran dalam teori struktur naratif, wujud karakterisasi dari struktur naratif. Sumber data dalam penelitian ini yakni teks novel dengan judul TDW yang ditulis oleh S. Prasetyo Utomo. Pengumpulan data dilakukan dengan cara (1) membaca dengan cermat dari sumber data penelitian, (2) mengidentifikasi satuan-satuan peristiwa setia paragraf, (3) memberi tanda (code) pada paparan bahasa yang terdapat pada novel TDW. Temuan terakhir hasil penelitian berupa karakterisasi, yaitu: tokoh Sukro yang mempunyai karakter Kolaris, Tokoh Dewi Laksmi yang mempunyai karakter Kolaris dan Melankolis, Tokoh Kiai Sodik mempunyai karakter Plegmatis, dan Tokoh Aji yang mempunyai karakter Plegmatis. Aspek teks novel tarian Dua wajah berjenis linear atau non in media res, yaitu aspek teks noveltarian Dua Wajah mulai dari awal cerita hingga akhir cerita (abcd) mengalami kelancaran hanya di tengah sedikit mengalami sorot balik, tetapi hal itu tidak membingungkan pembaca atau tidak sampai merusak cerita. Order novel Tarian Dua Wajah menunjukkan bahwa masa lampau lebih luas dari masa kini. Rentang masa lampau kurang lebih 30 tahun, sedangkan masa kini bila dibaca cerita itu sekitar 2 hari. Akan tetapi, masa kini yang waktu cerita sangat pendek mempunyai waktu teks panjang. Sebaliknya, masa lampau yang waktu ceritanya panjang, tetapi waktu teksnya pendek.
Kata-kata kunci:analisis, model, struktur naratif
Dua WajahKarya S. Prasetyo Utomo. Sebuah struktur yang terbangun secara sistematik dan tertata secara baik. Dikatakan secara terstruktur, karena karya sastra merupakan susunan unsur-unsurnya bersistem dan terpadu, yang terjadi hubungan timbal-balik dan saling menentukan.
Dalam pengertian struktur merupakan suatu tatanan entitas-entitas yang mewujudkan setidaknya ada tiga konsep dasar seperti yang dikemukakan Piaget (Teeuw, 1984:141; Pradopo, 1999:119), meliputi: (1) keseluruhan
(wholeness), (2) transformasi
(transformasion), dan (3) pengaturan diri (self-regulation) Untuk lebih detail, yaitu: (1) struktur itu merupakan keseluruhan ide yang bulat, yaitu bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktur itu. Dengan kata lain, keseluruhan itu mengindikasikan bahwa unsur-unsur suatu struktur diatur sesuai dengan kaidah-kaidah kombinasi yang bukan semata-mata penyatuan bersama atau sebagai sebuah hasil proses agregasi; (2) struktur itu berisi ide transformasi dalam arti bahwa struktur itu tidak statis melainkan dinamis. Struktur itu mampu melakukan prosedur transformasional, dalam arti bahan-bahan baru diproses dengan prosedur serta melalui prosedur itu. Dengan kata lain, kemampuan dari bagian suatu struktur untuk diproses atau dipertahankan sesuai dengan kaidah-kaidah tertentu; (3) struktur itu mengatur diri sendiri, dalam arti struktur itu tidak memerlukan pertolongan atau bantuan dari luar dirinya untuk mensahkan prosedur transformasinya.
Berhubungan dengan hal di atas, secara khusus pembicaraan karya sastra merupakan sebuah struktur yang otonom atau mandiri. Karya sastra (novel) juga dikatakan struktur yang mandiri dan novel juga dikatakan sebagai struktur naratif. Menurut Schmitt (Swandayani, 1999:29), struktur naratif merupakan pembicaraan tentang satuan-satuan cerita. Satuan-satuan utama cerita merupakan serangkaian peristiwa yang cukup dalam ruang dan waktu, serta menampilkan suatu pemikiran dan gagasan. Serangkaian peristiwa yang disebut plot (alur) tersebut membentuk sebuah lingkaran makna yang dapat dirasakan secara intuitif oleh pembaca (Todorov, 1985:50). Plot atau alur oleh Chatman disebut
event, terdiri atas kernel dan satelit, urutan, durasi, dan frekuensi.
Pendekatan strukctural digunakan dengan anggapan bahwa sebuah karya sastra sebuah merupakan bangunan struktur yang bermakna. Oleh karena itu, untuk dapat memahami suatu karya sastra, pertama harus dilihat strukturnya. Menurut Pradopo (1990:118-119), karya sastra pada dasarnya merupakan sebuah struktut yang bersistem yang di antara unsur-unsurnya terjadi hubungan timbal-balik, saling menentukan, saling berkaitan, dan saling tergantung. Hal itu berkaitan dengan konsep membaca yang ditemukan oleh Todorov (1985:3), suatu penjelajahan dalam dunia teks yang menuntut kehadiran keseluruhan teks dan bagian-bagiannya bersama-sama secara struktural.
dan saling menentukan. Pengertian struktur pada pokoknya berarti sebuah karya sastra atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada relasi timbal-balik antara bagian dengan keseluruhan. Hubungan ini bersifat positif seperti kemiripan, keselarasan, dan keharminisan antarkonflik. Jelasnya bahwa suatu kesatuan struktural mencakup setiap bagian dan setiap bagian menunjukkan keseluruhan (Luxemburg via Teeuw, 1983:33).
Dari uraian di atas peneliti mencoba untuk menjabarkan novel
Tarian Dua Wajah untuk mencari struktur naratif model Seymour Chatman. Dari novel tersebut dijabarkan agar mendapatkan item-item naratif kedalam butir naratif yang yang lebih besar kedalam masing-masing struktur. Barulah struktur naratif mendapatkan kejelasan atau bukti nyata dari data masing-masing.
Novel Tarian Dua Wajah karya S. Prasetyo Utomo ini dinilai cukup realis-imajinatif, karena novel ini menunjukkan ada jalan hidup, keteguhan hati, problema keluarga, dan spiritualitas, hingga mistik.
Ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik, menjawab inti pertanyaan tentang hubungan antara ide sederhana, dengan usaha, dan membangkitkan imaji pembaca. S. Prasetyo Utomo menggambarkan cerita kehidupan masyarakat para tokoh manusia dengan berbagai macam permasalahan yang ada dalam kehidupan seperti, pembunuhan, perampokan, dan kehidupan malam.
Karya sastra yang yang bermutu biasanya memiliki nilai-nilai yang bermanfaat bagi seseorang atau sekelompok masyarakat. Sementara
masyarakat yang lain, nilai-nilai bisa bermanfaat bagi kehidupan, artinya nilai-nilai yang dimaksud bisa berlaku dan bermanfaat bagi sekelompok masyarakat, sementara dikelompok masyarakat yang lain nilai itu tidak berlaku. Nilai-nilai yang digali dalam karya sastra dan digunakan sebagai tuntunan tentunya nilai-nilai yang bersifat mendidik (nilai edukatif).
Karena luasnya nilai dalam karya sastra, maka dalam penelitian ini perlu diadakan pembatasan masalah. Dengan pembatasan masalah diharapkan analisis dalam permasalahan ini lebih tajam dan mendalam. Fokus penelitian yang berkaitan dengan struktur naratif dalam novel Tarian Dua Wajah
mencakup dua hal sebagai berikut: 1) struktur naratif Seymour Chatman dalam Novel Tarian Dua Wajah,
2) cara kerja dari struktur naratif Seymour Chatman dalam Novel
Tarian Dua Wajah.
Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi dalam kajian secara rinci tentang struktur naratif ini dapat dipahami oleh siswa agar memperoleh hasil aplikasi teori terhadap novel yang berbeda.
METODE PENELITIAN
Sebagai penelitian kualitatif, maka penelitian ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) hasil penelitian berupa kata-kata, 2) bertujuan untuk mengembangkan
pemahaman terhadap teks,
3) dilakukan untuk menghasilkan deskriptif,
5) hasil penelitian masih bersifat terbuka bagi penelitian lanjutan
Berdasarkan fokus penelitian dan cara mendapatkan atau memperlakukan data, penelitian berjenis ini dinamakan sebagai penelitian deskriptif interpretatif. Data-data yang telah terkumpul tidak hanya digambarkan saja melainkan diinterpretasikan. Kegiatan interpretasi melihat dunia pengalaman dan pengetahuan peneliti serta wawasan teoritis yang ditemukan peneliti.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan deskriptif objektif tentang hasil struktur naratif dalam novel Tarian Dua Wajah dengan menggunakan pendekatan struktural. Untuk mencapai tujuan itu, data penelitian ini diambil dari setting alamiah berupa novel Tarian Dua Wajah dan peneliti sendiri sebagai instrumen utama.
Pendekatan struktural dalam penelitian ini berpandangan bahwa sastra merupakan hasil kreativitas pengarang dengan menggunakan media bahasa yang diabadikan untuk kepentingan estetik. Karya sastra itu sendiri dibangun berdasarkan struktur atau susunan unsur-unsur yang bersistem, yang antara unsur-unsurnya terjadi hubungan yang timbal-balik, saling menentukan. Kesatuan unsur-unsur salam sastra bukan hanya berupa kumpulan atau tumpukan hal-hal atau benda-benda yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan hal-hal itu saling terikat, saling berkaitan, dan saling bergantung (Pradopo, 1999:118-119).
Penelitian struktur naratif dalam karya sastra seperti analisis terhadap novel Tarian Dua Wajah ini lebih tepat dan sesuai jika disebut dengan
jenis penelitian kualitatif dengan jenis deskripsi.
Peneliti bertindak sebagai instrumen utama (human instrument). Peneliti sebagai instrumen utama berarti kehadiran peneliti bertindak sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, penafsiran data, dan pada akhirnya yang ia menjadi pelapor hasil penelitian (Moleong,2000:103).
Peneliti sebagai instrumen utama memiliki keunggulan dapat memutuskan sesuatu secara luwes, dapat dinilai keadaan dan dapat mengambil keputusan. Dalam proses analisis, peneliti melakukan penafsiran makna struktur dari data yang diperoleh
Data penelitian meliputi: teori struktur naratif (kernel dan satelit, urutan cerita dalam teks, urutan kronologis, urutan logis, Order, durasi, dan frekuensi ditambah karakterisasi untuk mendapatkan sifat tokoh sebagai pemeran di dalamnya.
Sumber data dalam penelitian ini yakni teks novel dengan judul Tarian Dua Wajah yang ditulis oleh S. Prasetyo Utomo. Identitas sumber data ialah judul novel Tarian Dua Wajah, pengarang S. Prasetyo Utomo, jumlah halaman 258, penerbit PT Pustaka Alvabet Tangerang Selatan, Cetakan 1 Juni 2016. Novel Tarian Dua Wajah dibagi menjadi beberapa judul, tetapi setiap judul tidak diberi nomor.
penelitian yang berupa karya sastra dengan cara sebagai berikut:
1)peneliti membaca dengan cermat dari sumber data penelitian,
2)peneliti mengidentifikasi satuan-satuan peristiwa setia paragraf, 3)peneliti memberi tanda (code) pada paparan bahasa yang terdapat pada novel Tarian Dua Wajah karya S. Prasetyo Utomo.
Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan adalah data yang memiliki hubungan dengan analisis yang menjadi kajian, yaitu data yang alamiah, terkini, dan asli yang ada dalam novel Tarian Dua Wajah. Dalam pengumpulannya menuntut peneliti sendiri berperan aktif dan tidak dapat diwakilkan. Dalam hal ini peneliti sekaligus sebagai alat pengumpul data dan bahkan peneliti menjadi instrumen kunci. Supaya data yang terkumpul dapat dikelola dengan baik maka diperlukan instrumen pengumpulan data yang lain berupa tabel yang telah diformat sesuai dengan kebutuhan.
Instrumen pembantu yang digunakan dalam penelitian ini yakni instrumen pemandu penjaring data yang berisi struktur naratif yang diteliti dan kriteria penetapan struktur naratif dan penyajian. Kriteria penetapan struktur naratif yang dimaksud tersaji berikut ini:
Data-data penelitian yang telah terjaring berupa deskripsi struktur naratif yang meliputi: sosok tokoh, peristiwa Tarian Dua Wajah, penyajian. Data yang ditemukan selanjutnya dimasukkan ke dalam tabel masing-masing.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yakni analisis teks yang berupa paparan bahasa dalam novel. Teknik ini digunakan dalam prosedur
pengumpulan data yang dilakukan untuk memperoleh data. Adapun langkah-langkah menurut Miles dan Huberman (dalam Sugiono,2008:246) ada tiga tahapan, yakni: (1) tahap reduksi data, (2) tahap penyajian data, (3) tahap penarikan simpulan dan verifikasi (pembuktian).
Dengan model analisis ini, data bisa dimulai sejak data dikumpulkan. Pengumpulan data dan analisis data dikerjakan secara simultan (berlaku pada waktu yang bersamaan), serempak, dan berkali-kali menurut keperluan dan kecukupan. Hal ini dilakukan sampai dihasilkannya temuan tentang implementasi struktur naratif dalam novel. Hal itu dapat dilakukan dengan cara:
1) membaca novel berulang-ulang, 2) mencari buku rujukan,
3) mencari kernel dan satelit, urutan cerita, logis, mencari latar dan sebagainya
4) menandai data (dalam novel), 5) memasukkan data dalam tabel
penjaringan,
6) memberi kode pada data di dalam tabel.
Pengecekan keabsahan data, dalam penelitian ini menggunakan triangulasi dengan jalan memeriksa keabsahan data melalui: (1) pengecekan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data, (2) pengecekan sumber data dengan metode, (3) ketekunan pengamatan mengikuti situasi yang sangat dengan persoalan, (4) pengecekan, (5) tersedianya rujukan/buku sumber, (8) uraian rinci, (9) editing data.
memberikan gambaran penyajian laporan penelitian tersebut. Analisis data pada penelitian ini menggunakan metode penafsiran data. Metode penafsiran data ini dijabarkan menjadi, (1) tujuan yang diinginkan, (2) prosedur, (3) peranan hubungan unsure lain, (4) peranan kesatuan data, (5) langkah-langkah penafsiran data dengan metode analisis struktural.
Prosedur penelitian merupakan kerja penelitian dari awal hingga akhir, baik bersifat administrasi maupun akademik penelitian. Dalam pelaksanaannya melalui beberapa langkah-langkah kerja yang meliputi:
Tahap Persiapan: (a) pengajuan judul (b) studi kepustakaan, (c) menyusun rancangan penelitian, (d) menyusun instrument penelitian.
Tahap Pelaksanaan: (a) penyusunan konsep laporan, (b) revisi konsep laporan, (c) pemanfaatan konsep laporan.
Tahap Penyelesaian: a) pembuatan simpulan hasil laporan, b) penyusunan laporan c) pengadaan laporan, d) penyusunan bab: (1) Pendahuluan, (2)Kajian pustaka dan landasan teori, (3) Metode penelitian, (4) Paparan data dan pembahasan, (5) Hasil penelitian, (6) Penutup.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Kernel yang ada dalam novel
Tarian Dua Wajah ini berjumlah 114 kernel dan 221 satelit. Jumlah tersebut dikelompokkan menjadi: Tokoh Sukro berjumlah 21 kernel; Tokoh Dewi Laksmi berjumlah 29 kernel; Tokoh Kiai Sodik berjumlah 12 kernel; Tokoh Aji berjumlah 19 kernel; Tokoh Aya berjumlah 11 kernel; Tokoh Salma berjumlah 4
kernel; Tokoh perempuan bisu berjumlah 4 kernel; Tokoh Ibu Muda berjumlah 2 kernel; Tokoh Laki-laki muda berjumlah 1 kernel; Tokoh Mandor Karso berjumlah 1 kernel; Tokoh Penggali Kubur berjumlah 1 kernel; Tokoh Istri Mandor Karso berjumlah 1 kernel; Tokoh Laki-laki Gelandangan berjumlah 1 kernel; dan Tokoh Sang Profesor berjumlah 1 kernel.
Urutan cerita dalam teks berjumlah mulai dari kernel 1-44 lancar; kernel 46-47-48-45-49-51-54-52-53-50 tidak lancar; kernel 55—
114 lancar.
Urutan logis dapat ditemukan pada kernel 1—12; kernel 13,14,15
tidak logis, kernel 16—114
mengalami kelogisan lagi.
Order (analepsis) pada Kernel XXXIII/33, hal itu dapat dilihat sebagai berikut.
padaku, ia sangat mengagumimu. Sangat mengasihimu. Itu yang menyebabkan ibu berat meninggalkan keluargamu… (hlm.60-61).
Dalam novel Tarian Dua Wajah, terjadi pula prolepsis, yaitu teks menceritakan peristiwa keinginan Sukro sudah dipenjara lima belas tahun ingin melarikan diri dari penjara. Hal itu terjadi pada kernel XLV/45, Sukro melarikan di ri dari penjara dan dia ingin bertemu dengan Aji (anaknya) yang berada di pesantren Kiai Sodik. Teks ini disampaikan pengarang sebelum tindakan dilakukan oleh Sukro, yaitu keinginannya mau melarikan diri dari penjara.
Penjara tua itu dikepung hutan, dan laut berdebur ombak. Ia berhasrat melarikan diri dari pulau pengasingan itu. Tak tahan lagi. Tinggal dua tahun, ia bebas. Tetapi lima belas tahun mendekam di penjara pulau yang terasing, ia sangat rindu alam yang terbuka. Alam yang memberinya kehidupan yang bebas. Bertemu manusia-manusia bebas. Ia sangat merindukan anak lelakinya yang lahir dari istri kedua. Ia sangat ingin bertemu anak lelakinya itu. Meminta maaf. Berharap pada lelaki muda itu untuk tak menjalani hidup seperti dirinya: dituduh merampok dan membunuh (hlm.85).
Durasi(akselerasi) terbukti dapat dibuktikan dengan tahapan sebagai berikut.
2) Penjara tua itu dikepung hutan, dan laut berdebur ombak. Ia berhasrat melarikan diri dari pulau pengasingan itu. Tak tahan lagi. Tinggal dua tahun, ia bebas. Tetapi lima belas tahun
mendekam di penjara pulau yang terasing, ia sangat rindu alam yang terbuka. Alam yang memberinya kehidupan yang bebas. Bertemu manusia-manusia bebas. Ia sangat merindukan anak lelakinya yang ahir dari istri kedua. Ia sangat ingin bertemu anak lelakinya itu. Meminta maaf. Berharap pada lelaki muda itu untuk tak menjalani hidup seperti dirinya: dituduh merampok dan membunuh (hlm.85).
Durasi (Deselerasi) terbukti dapat dibuktikan dengan tahapan sebagai berikut.
Fase pertama: dimulai Aji masih kecil berumur 1 tahun dititipkan ke kakaknya Sukro bernama Rustam.
Fase kedua: dimulai saat Aji berumur 5 tahun, dia diajak Pakde Rustam menengok Sukro di penjara segara anakan.
Fase ketika: dimulai saat Aji berumur 15 tahun, Aji minta izin mau pergi menuju ke pondok pesantren milik Kiai Sodik.
Fase keempat: dimulai Aji berumur 19 tahun, saat dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.
Frekuensi, singularis semua kernel dari kernel I sampai dengan kernel 114
Frekuensi Multi-Singularis Beberapa teks dalam satu peristiwa, kernel IV dan kernel V, Kernel VII, VIII, IX, X
Frekuensi, repetitif beberapa teks menampilkan peristiwa yang hampir sama. Contoh: Kernel XXXVIII dan kernel XXXIX
3) …. Begitu jauh ia mesti menempuh perjalanan kea rah timur, sambil melupakan makian Bude Rustam setiap hari, setiap saat, dengan kebencian, dan penistaan, “ Anak rampok! Anak pelacur! Apa yang bias kuharap darimu?”(hlm.75)
Frekuensi, iteratif meliputi satu teks menceritakan beberapa kali momen cerita atau satu teks menceritakan beberapa kali peristiwa. Hal ini dicirikan kata selalu, berkali-kali, seringatausecara teratur
4) …. Begitu jauh ia mesti menempuh perjalanan kearah timur, sambil melupakan makian Bude Rustam setiap hari, setiap saat, dengan kebencian, dan penistaan, “ Anak rampok! Anak pelacur! Apa yang bisa kuharap darimu?”(hlm.75)
... Memang Pakde Rustam, kakak kandung Ayah, tak pernah menampakkan perangai benci. Tetapi Bude Rustam, sejak kecil selalu
dicaci-maki. Tiap kali iaselalu
mendengar katak-kata kotor, dan yang paling tak disukainya, ketika Bude Rustam mengungkit-ungkit, “Ayahmu telah menjual bukit warisan Nyai Laras, leluhur kita! Dasar perampok! Pembunuh! Rasakan, sekarang mendekam dalam penjara di pulaupembuangan!”(hlm.76). Sejak kecil Aji hanya mengenal Pakde Rustam, Bude dan ketiga anak lelaki mereka—
yang boleh memukul, memaki, dan menyuruh dengan keji. Ketiga anak itu sesekali memaki-makinya. Sesekali menyiksanya. Meludahinya. Menginjak kepalanya. Bude Rustam tak melihat bila Aji dipukul, diludahi, atau dicekik ketiga anak lelakinya (hlm.75). Karakteristik
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan karakter pelaku yang dapat dideskripsikan sebagai berikut.
Sukro: Kolaris
Sukro mempunyai sifat plegmatis, hal itu dapat dibuktikan dengan tipe ciri orang yang cepat marah, pemberani, gampang emosi, geram, penuh semangat, berani beresiko, dan mandiri
Dewi Laksmi: Kolaris-Melankolis
Dewi Laksmi mempunyai sifat plegmatis, hal itu dapat dibuktikan dengan tipe ciri orang yang ambisius, mandiri, sangat fokus, suka tantangan, semangat, tidak sabar, berhati-hati mmemilih teman, teliti ingatannya, sensirif
Kiai Sodik: Plegmatis
Kiai Sodik mempunyai sifat plegmatis, hal itu dapat dibuktikan dengan tipe ciri orang yang tidak suka bicara, simpatik, wajah yang teduh, tegas dan bijaksana, terkadang suka menunda-nunda, baik hati, kurang antusias, tidak mau beresiko
Aji: Plegmatis
SIMPULAN
Novel Tarian Dua Wajah
dibangun oleh sejumlah unsur-unsur naratif yang kompleks. Unsur-unsur naratif itu, antara lain: alur, latar, dan karakter para tokoh pendukungnya, yang terjalin secara lengkap juga. Dalam arti bahwa unsur-unsur itu menunjukkan perkembangan yang kompleks, tetapi tidak begitu rumit.
Novel Tarian Dua Wajah
memiliki kelebihan tersendiri, yaitu: (1) gambaran kehidupan pesantren dengan sejumlah permasalahan, (2) gambaran perjuangan seorang penari dengan dilengkapi unsur cinta, (3) gambaran seorang pemuda yang mengalami kekerasan karena salah pengasuhan, tetapi dia memberanikan diri untuk mengubah nasibnya; dan yang terakhir gambaran seorang pemuda yang kerjanya tidak jelas hanya menjual warisan orangtua. Dengan hartanya dia tidak bahagia, malah membawanya masuk penjara dua kali.
Novel Tarian Dua Wajah
merekam kehidupan pondok pesantren yang memberikan unsur-unsur spiritual dengan dipadukan dengan unsur seni, sehingga moralitaslah yang memberikan patokan, jika aturan masyarakat dilanggar akibat menjadi bahan perguncingan, jika patokan tidak dilanggar akan mendapatkan pujian dari masyarakat.
Berdasarkan urutan aspek teks pada novel Tarian Dua Wajah, maka dapat diambil kejelasan bahwa sesuai aspek teks novel tarian Dua wajah
berjenis linear atau non in media res, yaitu aspek teks novel tarian Dua Wajah mulai dari awal cerita hingga akhir cerita (abcd) mengalami kelancaran hanya di tengah sedikit
mengalami sorot balik, tetapi hal itu tidak membingungkan pembaca atau tidak sampai merusak cerita.
Order novel Tarian Dua Wajah
menunjukkan bahwa masa lampau lebih luas dari masa kini. Rentang masa lampau kurang lebih 30 tahun, sedangkan masa kini bila dibaca cerita itu sekitar 2 hari (48 jam). Akan tetapi, masa kini yang waktu cerita sangat pendek mempunyai waktu teks panjang (258 hlm). Sebaliknya, masa lampau yang waktu ceritanya panjang (sekitar 30 tahun), tetapi waktu teksnya pendek (ringkasan) 3 halaman. Hal ini menunjukkan bahwa masa kini dalam novel Tarian Dua Wajah lebih dominan, cerita novel lebih menampilkan unsur kekinian daripada menceritakan unsur kelampauan.
Menonjolnya unsur kekinian itu diperkuat oleh dominasi frekuensi singular pada novel, yang juga menunjukkan sifat partikular dan unik tidak universal. Jhal ini diperkuat lagi oleh banyaknya durasi adegan tindakan fisik tokoh, ringkasan pendek, dialog antara para tokoh, dan monolog dalam tokoh.
Hubungan logis itu tidak selalu terjadi pada kernel-kernel yang sercara kronologis saling berdekatan. Bahkan lebih banyak terjadi kernel-kernel berhubungan sebab-akibat dengan kernel-kernel yang secara kronologis berjauhan. Dengan demikian, hubungan sebab-akibat itu terjadi secara tematis. Letak kernel-kernel itu saling menjauh, tetapi menjadi dekat karena permasalahan yang dibicarakan saling terkait. Oleh karena itu, alur Tarian Dua Wajah
tersebar. Dengan demikian, Tarian Dua Wajah lebih memperlihatkan alur moral, mental, dan pikiran tokoh serta spiritual seseorang. Dilihat dari hubungan masa lalu dengan masa kini, novel Tarian Dua Wajah, memperlihatkan adanya kecenderung-an prolepsis, ykecenderung-ang terjadi masa depkecenderung-an (linear). Lebih dominan dibandingkan dengan yang terjadi sebelum masa peristiwa-peristiwa yang berupa adegan banyak berkaitan dengan kegiatan fisik tokoh, yang berhubungan dengan berlatih menari, mengobati orang sakit, menuntun ilmu (kuliah). Selain adegan yang berkaitan dengan fisik tokoh, juga terdapat adegan yang berkaitan dengan mental tokoh, seperti gambaran n jalan hidup seseorang, telepati yang dilakukan Kiai Sodik, dan realitas di luar nalar pikiran (lebah bias mengobati Kiai Sodik yang sedang sakit).
Teks Tarian Dua Wajah, yang menggambarkan wilayah pesantren di bawah bukit sekitar sebelah selatan ibukota provinsi. Pola pemikiran tokoh dalam novelTarian Dua Wajah
berangkat dari penjualan tanah warisan, yang tidak kunjung selesai tentang pembayarannya (belum lunas). Pelunasan ditempuh dengan jalan damai, tetapi sang majikan malah menghina dan mencacai-maki, sehingga muncul rasa dendam.
Latar tempat memiliki fungsi sebagai penjelas gambaran yang disandingkan dengan gambaran tokoh sedang beraktivitas, tetapi mengemban makna yang dikandungnya. Latar waktu (order, durasi, frekuensi) memfungsikan dirinya dengan tepat. Latar waktu memberikan stressing (penekanan)
bagian masing-masing yang cukup kompleks terhadap ide pengarang.
SARA-SARAN
Berikut ini peneliti ingin menyampaikan saran-saran sehubungan dengan hasil penelitian ini, dengan harapan penelitian ini dapat berguna dan bermanfaat bagi:
1) Dunia pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SLTA, hasil penelitian ini dapatlah kiranya dijadikan rujukan sehubungan dengan cerita seacara terstruktur dan nilai moral agama yang disampaikan pengarang menjadi bahan renungan.
2) Bagi lembaga pengembang ilmu, bahwa hasil penelitian ini merupakan kekayaan khasanah keilmuan yang dilestarikan lewat institusi formal sehingga harus dijaga dan jika mungkin hasil penelitian para magister seperti ini dapat lebih dikumpulkan dan dikembangkan, jika mungkin dimasukan ke internet, agar dibaca banyak orang.
3) Bagi dunia sastra, bahwa hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi model penelitian deskriptif di masa yang akan datang dengan pisau bedah (landasan teori) yang lain.
DAFTAR RUJUKAN
Abrams, M.H. 1981.A Glossary of Literary Terms. New York: Holt, Rinehart and Winston. Barthes, Roland. 1974.S/Z.The
United Kingdom: Basil Blackwell.
Chatman, Seymour. 1980.Story and Discourse: Narrative
Structure in Fiction and Film. Ithaca: Cornell University Press.
Cremers, Agus. 1997.Mitos, Dukun, dan SihirClaude Levi-Strauss. Yogyakarta: PT Kanisius. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. 2001.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Faruk, 1994.Pengantar Sosiologi
Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Genette, Gerard. 1972.Narrative Discourse.Oxford: Basil Blackwell.
Hasan, Fuad. 2001.“IkhtiarMeredam
KultusKekerasan”.Dalam
Jurnal PerempuanPerempuan dan Teknologi Pembebasan?
Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan.
Junus, Umar. 1985.Dari Peristiwa ke Imajinasi: Wajah Sastra dan Budaya Indonesia,cet. Ke-2 Jakarta: PT. Gramedia. Kartini, Kartono dan Gulo, Dali.
2000.Kamus Psikologi.
Bandung: Pionir Jaya.
Nurgiyantoro, Burhan. 1995.Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1999.
Pengkajian Puisi.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Rimmon-Kenan, Shlomith. 1983.
Narrative Fiction Contemporary Poetics. London: Methuen and Co. Sugiono. 2008. MetodePenelitian
Kuantitatif dan Kualitatif R & D. Bandung: Alfabeta
Bandung.
Saussure, F.de. 1966.Course in General LinguisticsNew York: McGraw Hill.
Scholes, Robert. 1977.Structuralism in Literature.New Haven and London: Yale University Press.
Shri Ahimsa-Putra, Heddy. 2001.
Strukturalisme Levi-Strauss, Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Galang Press. Teeuw, A. 1984.Sastra dan Ilmu
Sastra: Pengantar Teori Sastra.Jakarta: Pustaka Jaya. Todorov, Tzvetan. 1985.Tata Sastra.
Jakarta: Djambatan. Utomo, S. Prasetyo. 2016.Tarian
Dua Wajah. Jakarta: PT Pustaka Alvabet.
Wellek, Rene dan Warren, Austin. 1995.Teori Kesusastraan