• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGURANGI KENAKALAN PELAJAR MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER TERINTEGRASI BERBASIS SEKOLAH DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DI KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "MENGURANGI KENAKALAN PELAJAR MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER TERINTEGRASI BERBASIS SEKOLAH DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DI KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA."

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL PENELITIAN PENDIDIKAN KARAKTER TAHUN ANGGARAN 2015

JUDUL PENELITIAN:

MENGURANGI KENAKALAN PELAJAR MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER TERINTEGRASI BERBASIS SEKOLAH DALAM IMPLEMENTASI

KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DI KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA

Oleh:

Dr. Slamet Suyanto, M. Ed. Atik Kurniawati, M. Pd.

DIBIAYAI DANA DIPA UNY 2015

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

OKTOBER 2015

(2)

ii

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN AKHIR PENELITIAN PENDIDIKAN KARAKTER 1. Judul Penelitian :Mengurangi Kenakalan Pelajar melalui Pendidikan Karakter

Terintegrasi Berbasis Sekolah dalam Implementasi Kurikulum 2013 di Sekolah Menengah Kejuruan

di Kabupaten Bantul Yogyakarta 2. Ketua Peneliti

a. Nama Lengkap : Dr. Slamet Suyanto, M.Ed. b. Jenis Kelamin : Laki-laki

c. NIP : 19620702 199101 1 001

d. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala

e. Jabatan Struktural : Kepala Jurusan Pendidikan Biologi, FMIPA, UNY f. Bidang Keahlian : Pendidikan Biologi

g. Fakultas/Jurusan : MIPA/Pendidikan Biologi h. Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Yogyakarta i. Telepon kantor/HP : 08164267848

3. Tim Peneliti :

No. Nama dan Gelar NIP Keahlian

1. Dr. Slamet Suyanto, M.Ed. 19620702 199101 1 001 Pendidikan Biologi 2. Atik Kurniawati, M.Pd 19881110 201404 2 001 Pendidikan Biologi

4. Mahasiswa yang terlibat :

No. Nama NIM Prodi

1. Pendidikan Biologi

2. Pendidikan Biologi

3. Pendidikan Biologi

5. Pendanaan dan jangka waktu penelitian

a. Jangka waktu penelitian yang diusulkan : 7 bulan

b. Biaya total yang diusulkan : Rp 20.000.000

c. Biaya yang disetujui : Rp 20.000.000

Yogyakarta, 30 Oktober 2015 Mengetahui

Dekan FMIPA

(Dr. Hartono)

NIP. 19620329 198702 1 002

Ketua TimPeneliti

(Dr. Slamet Suyanto, M.Ed) NIP 19620702 199101 1 001 Mengetahui

Ketua LPPM UNY

(3)

iii RINGKASAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi kenakalan pelajar melalui pendidikan karakter terpadu berbasis sekolah. Tujuan tersebut akan dicapai melalui beberapa tahapan penelitian. Rincian tahapan tersebut mengacu pada 11 prinsip pendidikan karakter (Lickona, 2004) yaitu: promotes core values, defines “character” to include thinking, feeling, and doing, uses a comprehensive approach, creates a caring community, provides students with opportunities

for moral action, offers a meaningful and challenging academic curriculum, fosters students’

self-motivation, engages staff as a learning community, fosters shared leadership, engages

families and community members as partners, dan assesses the culture and climate of the

school. Tujuan penelitian pada tahap ini difokuskan pada 3 tahap pertama meliputi:

mengidentifikasi berbagai jenis kenakalan pelajar, mengidentifikasi akar persoalan munculnya kenakalan pelajar, dan mengidentifikasi karakter yang harus dikembangkan untuk mengatasi kenakalan pelajar tersebut. Penelitian tentang tindak lanjut terhadap hasil

penelitian tahap ini dilaksanakan pada tahun berikutnya. Penelitian ini terbagi atas beberapa tahap. Metode yang digunakan dalam penelitian

tahap ini adalah metode survei. Survei dilakukan di berbagai SMK baik negeri maupun swasta di Kabupaten Bantul. Penelitian ini adalah mengidentifikasi persoalan karakter siswa

di sekolah, sumber masalahnya, dan alternatif solusinya. Responden penelitian ini adalah 26 guru dan 300 siswa SMK se-Kabupaten Bantul, DIY. Instrumen penelitian ini menggunakan

angket dan lembar Focus Group Discussion (FGD). Analisis data menggunakan statistika deskriptif kuantitatif.

(4)

iv PRAKATA

Alhamdulillahirabil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT, dengan segala kelimpahan karunia, rahmat, hidayah, serta inayah-Nya, sehingga laporan ini dapat diselesaikan. Salawat serta salam penyusun haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya.

Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan ini tiada dapat terlaksana tanpa keterlibatan dari berbagai pihak yang telah bersedia memberikan pengarahan, bantuan, dan kontribusinya. Untuk itu, pada kesempatan ini penyusun mengucapkan ucapan terima kasih sebesar-besarnya dan penghargaan kepada:

1. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta beserta staf. 2. Kepala LPPM UNY beserta staf.

3. Dekan FMIPA UNY beserta jajarannya.

4. Ketua Jurusan Pendidikan Biologi beserta para dosen Jurusan Pendidikan Biologi. 5. Ketua MGMP Guru SMK IPA-Biologi Kabupaten Bantul, DIY beserta staf. 6. Guru-guru SMK IPA-Biologi Kabupaten Bantul, DIY

Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat dari Allah SWT. Aamiin.

Demikian laporan ini kami buat sebagai pertanggungjawaban penyusun selaku pihak

managemen dan pelaksana kegiatan. Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa dalam pelaksanaan kegiatan ini masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penyusun harapkan. Atas dukungan dan bantuannya kami menyampaikan terima kasih. Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat. Amin.

(5)

v DAFTAR ISI

Hal

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

RINGKASAN ... iii

PRAKATA ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ...vi

DAFTAR GAMBAR... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang ... 1

B.Tujuan ... 6

C.Manfaat ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA A.Konsep Pendidikan Karakter ... 7

B.Pendidikan Karakter Terintegrasi di Sekolah ... 9

BAB III METODE PENELITIAN A.Jenis Penelitian ... 11

B.Populasi Sampel ... 11

C.Teknik Pengambilan Data ... 11

D.Instrumen Penelitian ... 11

E. Teknik Analisis Data ... 13

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A.Hasil Penelitian ... 14

B.Pembahasan ... 20

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan ... 22

B.Saran ... 22

DAFTAR PUSTAKA ... 23

(6)

vi

DAFTAR TABEL

Hal

Tabel 1. Tabel Karakter, Nilai, Moral dan Sumbernya ... 3

Tabel 2. Karakter Baik dan Buruk menurut Guru dan Siswa ... 5

Tabel 3. Kisi-kisi Instrumen Penelitian ... 12

Tabel 4. Daftar SMK yang Menjadi Sampel Penelitian ... 14

Tabel 5. Jenis Kenakalan Siswa SMK ... 15

Tabel 6. Jenis Kenakalan yang Diungkap melalui Angket Siswa ... 16

Tabel 7. Jenis kenakalan dan Akar Persoalan Kenakalan Remaja ... 17

Tabel 8. Karakter Inti dan Tambahan yang Perlu Dikembangkan serta Strategi Menumbuhkembangkan Karakter ... 18

(7)

vii

DAFTAR GAMBAR

Hal

(8)

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Berita Acara Seminar Awal

Lampiran 2. Berita Acara Seminar Hasil Penelitian Lampiran 3. Perangkat Instrumen Penelitian Lampiran 4. Personalia Tim Peneliti

(9)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan karakter diperlukan untuk memperbaiki kehidupan bangsa dari kebobrokan moral. Kondisi kehidupan bangsa Indonesia masih sarat dengan tindak kriminal, kecurangan, korupsi, dan kebobrokan moral lainnya. Indonesia menempati ranking kedua negara terkorup di dunia, dan turun menjadi ranking keempat bukan karena korupsinya turun tetapi karena jumlah negara yang dikaji

bertambah (ICW, 2006). Perselisihan antaretnis, ras dan agama yang menyebabkan kematian masih sering terjadi. Demikian pula kasus pembunuhan, bunuh diri, narkoba dan kriminalitas lainnya menyebabkan sekitar 1,4 juta orang terbunuh pada tahun 2001 (Sunarto, 2007) dan meningkat terus pada tahun-tahun berikutnya. Penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang menjadikan Indonesia sebagai negara darurat narkoba tahun 2014. Berbagai persoalan yang mengemuka akhir-akhir ini seperti kasus Bank Century, makelar kasus (Markus), penggelapan pajak, dan korupsi membuktikan adanya kebobrokan moral bangsa Indonesia.

Persoalan lain yang dihadapi bangsa Indonesia adalah masalah kenakalan remaja/pelajar, seperti miras, rokok, kehamilan di luar nikah, dan kekerasan (bullying). Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN), 50-60% pemakai narkoba adalah remaja dengan jumlah 3,8 - 4,2 juta orang per tahun (BNN & UI, 2012). Menurut hasil survei perilaku sosial yang disponsori oleh pabrik kondom Fiesta (2011), pada 663 responden, 64% siswa sekolah menengah usia 15-19 tahun pernah menonton film dewasa dan 39% diantaranya pernah melakukan hubungan suami-istri. Hasil survei BKKBN dan LDFE UI (2000), menemukan terjadinya aborsi sebanyak 2,4 juta kasus per tahun, dan 21% diantaranya (sekitar 700.000) dilakukan oleh remaja. Tindak kekerasan (bullying) juga mengkhawatirkan. Data dari Komisi Perlindungan Anak, menunjukkan pada tahun 2011 terdapat 339

kasus kekerasan yang menyebabkan 82 orang meninggal dunia. Pada semester pertama tahun 2012 terjadi 139 kasus kekerasan dengan korban 12 orang

(10)

2 Persoalan sosio-emosional remaja seperti di Amerika tampaknya terjadi pula di Indonesia. Sekolah di Amerika mengalami berbagai persoalan seperti rasisme, kenakalan remaja, kehamilan remaja, rendahnya self-esteem, penyakit seksual (STD), narkoba dan miras, kebohongan, pencurian, dan menyontek (Jones et al, 1999; Josephson Institute of Ethics, 2006). Menurut hasil survei Ethics of

American Youth (Josephson Institute of Ethics, 2006), 82% siswa berbohong pada

orangtuanya, 62% berbohong pada gurunya, 33% mengcopy-paste dokumen dari internet, 60% menyontek di sekolah, 23% mencuri dari orangtuanya, dan 28% mencuri dari toko.

Berbagai persoalan negara seperti tersebut di atas harus diatasi secara sistemik melalui sistem pendidikan. Dahulu Indonesia memiliki pendidikan yang secara khusus membangun karakter bangsa yaitu Pendidikan Moral Pancasila (PMP), Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), dan Pendidikan Agama. Persoalannya adalah pendidikan moral dan kewarganegaraan tidak cukup kuat jika hanya dilakukan oleh tiga mata pelajaran tersebut. Seluruh elemen sekolah, seluruh guru dan tenaga kependidikan, orangtua, dan masyarakat harus bersama-sama mendidik generasi muda dengan moral, nilai, dan karakter bangsa yang baik yang dikenal dengan pendekatan karakter terintegrasi.

(11)

3 Tabel 1. Tabel Karakter, Nilai, Moral dan Sumbernya

No Sumber Nilai, Moral,

Karakter

Wujud

1. Negara Pancasila PKn IPS

 Nasionalisme  Patriotisme  Bela negara  Kepahlawanan  Kemerdekaaan  Kemanusiaan  Persatuan  Keadilan sosial  Demokrasi  Dsb.

1. Mengenal nama negara, peta wilayah, kepala negara 2. Mengenal simbol-simbol

kenegaraan: bendera, lambang negara, lagu nasional,

3. Mengenal hari kemerdekaan, hari pahlawan, hari

kebangkitan nasional, dsb. 4. Mengenal ketatanegraaan: RT, RW, Kelurahan, dst. 5. Mengenal ideologi bangsa,

Pancasila

6. Mengenal suku-suku, agama, bahasa di Indonesia

2. Hak azasi dan nilai-nilai kemanusiaan Mapel PKn Mapel Agama Mapel lain

 Hormat  Jujur

 Tanggungjawab  Disiplin

 Murah hati  Tekun  Integritas  Perhatian  Toleran  Kerjasama  Kerja keras  Sabar

 Dapat dipercaya  Bijaksana

7. Menghormati orangtua, orang yang lebih tua, guru, teman

8. Menyapa, member salam dengan santun

9. Berkata benar, tidak bohong 10. Mengerjakan tugas dengan

baik

11. Tepat waktu,

12. Mau menolong teman, meminjami,

13. Mau bekerjasama, berkelompok,

14. Mau antri, bergiliran, bergantian,

15. Menepati janji

3. Cinta

Kasih saying Mapel PKn, IPS

 Empati  Perhatian  Kebaikan  Memberi  Melayani  Pemaaf  Menyanagi

16. Berbagi perasaan,

17. Mendengarkan cerita teman, 18. Mengenal perbuatan baik

dan buruk

19. Mau memberi, berbagi 20. Mau mengerjakan tugas

(12)

4 4. Masyarakat

Mapel IPS 

Hormat  Sopan-santun  Tatakrama  Etika

 Kebersamaan  Gotong royong  Antri

 Suka menolong  Sosial

23. Hormat pada orang lain 24. Mengenal etika, tatakrama,

sopan santun

25. Berkata dengan sopan 26. Mau member salam,

menjawab salam 27. Mau bergotong royong 28. Mau antri, bergiliran 29. Mau menolong, berdarma 30. Mau berbagi, menunjukkan

solidaritas

5. Agama

Mapel Agama 

Keyakinan  Ibadah  Toleransi  Ketaqwaan

31. Meyakini adanya Tuhan 32. Mengenal berbagai agama 33. Mengenal tempat-tempat

ibadah

34. Mengenal tatacara beribadah 35. Melakukan ibadah

36. Mampu berdoa 37. Mengenal kitab suci

38. Mengenal amal baik dan buruk

39. Mengenal dosa, pahala, surga, neraka

6. Lain-lain: Kesehatan Lalu Lintas Lingkungan hidup Mata pelajaran dll.

 Hidup sehat  Tata tertib lalu

lintas  Mencintai

lingkungan

40. Mengenal kesehatan badan 41. Dapat mandi dan

membersihkan diri 42. Mengenal makanan dan

minuman yang baik

43. Mengenal tatatertib di jalan 44. Merawat dan tidak menyakiti

makhluk hidup 45. Menanam pohon,

memelihara binatang Dsb.

(13)

5 Tabel 2. Karakter baik dan buruk menurut Guru dan Siswa

No. Guru Siswa

Karakter yang baik untuk guru dan siswa

1. Baik hati Pandai

2. Pandai Disiplin

3. Menyenangkan Hormat

4. Suka menolong Jujur

5. Sabar Sopan dan santun

6. Peduli Tekun

7. Menghargai Bertanggungjawab

8. Adil Bekerja keras

9. Sayang Rapi

10. Tidak suka marah Aktif

11. Mudah dipahami Tidak mudah menyerah

12. Murah nilai Dapat dipercaya

13. Pemaaf

Karakter yang jelek untuk guru dan siswa

1. Sulit dipahami, tidak jelas Malas mengerjakan tugas/belajar

2. Tidak sabar Sering mbolos, tidak disiplin

3. Cepat marah, Galak Sering nyontek, curang 4. Sering tidak masuk/ meninggalkan

kelas

Tidak hormat, tidak sopan

5. Banyak tugas, tidak dinilai Banyak omong, gaduh 6. Banyak cerita tidak relevan dengan

materi

Pasif, tidak bersemangat

7. Suka menyindir,kasar Kasar, suka berkelai 8. Tidak menggunakan IT Tidak bertanggungjawab

Bergantung orang lain

(14)

6 B. Tujuan

Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah untuk mengurangi kenakalan pelajar melalui pendidikan karakter terpadu berbasis sekolah. Tujuan tersebut akan dicapai melalui beberapa tahapan penelitian. Lickona (2004) mengidentifikasi 11 prinsip pendidikan karakter, yang dapat dijabarkan menjadi sebelas program seperti:

1. Promotes core values.

2. Defines “character” to include thinking, feeling, and doing 3. Uses a comprehensive approach.

4. Creates a caring community.

5. Provides students with opportunities for moral action. 6. Offers a meaningful and challenging academic curriculum. 7. Fosters students’ self-motivation.

8. Engages staff as a learning community. 9. Fosters shared leadership.

10.Engages families and community members as partners. 11.Assesses the culture and climate of the school.

Pada tahap ini, tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah terkait dengan tahapan 1-3 tersebut di atas, yang meliputi:

1. Mengidentifikasi berbagai jenis kenakalan pelajar,

2. Mengidentifikasi akar persoalan munculnya kenakalan pelajar,

3. Mengidentifikasi karakter yang harus dikembangkan untuk mengatasi kenakalan pelajar tersebut.

C. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian diantaranya:

1. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai informasi kondisi karakter masyarakat khususnya peserta didik di lapangan.

(15)

7 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Konsep Pendidikan Karakter

Pada tahun 1993, Josephson Institute of Ethics mensponsori pertemuan di Aspen, Colorado, Amerika Serikat untuk mendiskusikan penurunan moral dan

cara mengatasinya. Sebanyak dua puluh delapan orang pemimpin dunia merumuskan nilai-nilai universal yang diturunkan dari nilai-nilai kultural, ekonomik, politik, dan agama. Hasil pertemuan itu kemudian dikenal dengan Aspen Declaration on Character Education (DeRoche, 2009:1). Momentum itu

dikenal sebagai kebangkitan kembali pendidikan karakter yang dahulu pernah ada. Pendidikan karkater yang dirumuskan di dalam deklarasi Aspen tersebut di atas adalah sebagai nilai etis dari masyarakat yang demokratis, seperti hormat, bertanggung jawab, dapat dipercaya, adil dan fair, peduli, nilai-nilai kemasyarakatan dan kewarganegaraan. Murphy (1998:22) meringkasnya sebagai berikut.

According to the Declaration, effective character education is based on core ethical values rooted in democratic society, in particular, respect, responsibility, trustworthiness, justice and fairness, caring, and civic virtue and citizenship.” (h. 22).

Konsep pendidikan karakter terus berkembang sejalan dengan pemikiran-pemikiran baru. Cunningham (2007:5) dari National-Louis University, USA menyatakan bahwa karakter yang diajarkan di sekolah adalah kepanjangan dari karakter, moral atau nilai yang ada dan dihargai di masyarakat, yang dikenal

sebagai karakter social normatif. Karakter normatif meliputi kejujuran, pantang menyerah, kebersahajaan, kewajaran, dan menjaga emosi, di mana sekolah berperan sebagai agen moral. Ia menyatakan:

(16)

8 those ideals—honesty, perseverance, modesty, temperance,

whatever—and convert them into behaviors…” (h.5).

Konsep pendidikan karakter berikutnya digagas oleh Thomas Lickona (2005:1), yang menyatakan bahwa karakter yang baik meliputi memahami, peduli, dan berperilaku berdasarkan nilai-nilai etika dasar. Pendidikan karakter memiliki peran membantu siswa dan komunitas sekolah untuk memahami nilai-nilai yang baik dan berperilaku berdasarkan nilai-nilai tersebut.Ia mengatakan:

Good character consists of understanding, caring about, and acting upon core ethical values. The task of character education therefore is to help students and all other members of the learning community know "the good," value it, and act upon it.” (h.1)

Pendidikan karakter bukan sekedar membiasakan anak berperilaku baik, lebih dari itu, yaitu membentuk pikiran, watak, dan perilaku yang baik yang dengan itu anak berhasil. Hal itu sejalan dengan pendapat DeRoche (2009: 1) yang menyatakan bahwa:

Therefore character education is not about simply acquiring a set of behaviors. It is about developing the habits of mind, heart, and action that enable a person to flourish.” (h.1)

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, karakter diartikan sebagai nilai-nilai, sikap, dan perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat luas. Karakter tersebut meliputi berbagai hal seperti etis, demokratis, hormat, bertanggung jawab, dapat dipercaya, adil dan fair, serta peduli. Sumber-sumber karakter antara lain

(17)

9 B. Pendidikan Karakter Terintegrasi di Sekolah

Pendidikan karakter disesuaikan dengan perkembangan moral pada anak.Menurut Piaget (1965:401-411), perkembangan moral meliputi tiga tahap, yaitu (1) premoral, (2) moral realism, dan (3) moral relativism.Sementara, Kolhberg (Power, Higgins, & Kohlberg, 1989:1-5) menyatakan bahwa perkembangan moral mencakup (1) preconventional, (2) conventional, dan (3)

postconventional. Esensi kedua teori tersebut sama, yaitu pada tahap awal anak

belum mengenal aturan, moral, etika, dan susila. Kemudian, berkembang menjadi individu yang mengenal aturan, moral, etika, dan susila dan bertindak sesuai aturan tersebut. Pada akhirnya, moral, aturan, etika dan susila ada dalam diri setiap anak di mana perilaku ditentukan oleh pertimbangan moral dalam dirinya bukan oleh aturan atau oleh keberadaan orang lain; meskipun tidak ada orang lain ia malu melakukan hal-hal yang tidak etis, asusila, dan amoral.

Menurut Fogarty (1991:1) ada sepuluh model pembelajaran terpadu. Dari sepuluh model tersebut model tematik (webbed model) dan model terpadu (integrated model) tampaknya cocok untuk pengenalan karakter di sekolah.Pada model terpadu, sekolah menyusun sejumlah karakter, meliputi karakter utama dan karakter tambahan. Karakter utama akan menjadi penciri lulusan dan oleh karenanya dikembangkan oleh semua unsur sekolah. Karakter tambahan dapat dikembangkan oleh dua atau tiga mata pelajaran yang dipandang cocok untuk mengembangkan karakter tersebut.

Beberapa sekolah di Amerika menggunakan model ini untuk mengembangkan karakter siswa dan sekaligus untuk mengurangi kenakalan pelajar. Model berikut (Gambar 1) menunjukkan sejumlah pendidikan karakter

yang dikembangkan salah satu sekolah. Pendidikan karakter tersebut meliputi pencegahan kehamilan ramaja, pencegahan ketergantungan obat terlarang,

(18)
(19)

11 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis penelitian

Seperti telah dijelaskan di muka, penelitian ini terbagi atas beberapa tahap. Tahap awal ini menggunakan metode survei. Tujuannya adalah untuk

mengidentifikasi jenis-jenis kenakalan pelajar di sekolah, akar permasalahan kenakalan tersebut, dan pendidikan karakter yang perlu dikembangkan untuk memngatasi kenakalan pelajar tersebut. Survei dilakukan di berbagai SMK baik negeri maupun swasta di Kabupaten Bantul.

B. Populasi dan sampel

Populasi penelitian ini adalah pelajar dan guru SMK di Kabupaten Bantul, Yogyakarta yang mengalami kenakalan pelajar, baik sebagai pelaku maupun sebagai korban kenakalan pelajar. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling yaitu SMK swasta dan negeri yang memili persoalan karakter. Dari 41 SMK yang digunakan sebagai sampel sebanyak 21 sekolah.

C. Teknik pengambilan data

Data mengenai berbagai jenis/bentuk kenakalan diperoleh melalui angket yang diisi oleh pelajar SMK di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Data mengenai berbagai jenis kenakalan pelajar, akar persoalan munculnya kenakalan pelajar, dan karakter yang harus dikembangkan untuk mengatasi kenakalan pelajar

tersebut diperoleh melalui pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) oleh guru-guru SMK Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

D. Instrumen penelitian

(20)

12 berbagai jenis kenakalan pelajar, akar persoalan munculnya kenakalan pelajar, dan karakter yang harus dikembangkan untuk mengatasi kenakalan pelajar tersebut. Instrumen yang digunakan telah divalidasi oleh ahli. Kisi-kisi instrumen adalah sebagai berikut.

Tabel 3. Kisi-kisi Instrumen Penelitian

No. Jenis kenakalan kriteria No. Soal

1. Tidak disiplin Intensitas mengerjakan tugas dari guru 1

Intensitas kedatangan terlambat 2

2. Membolos Keikutsertaan dalam pelajaran 3

Kehadiran di sekolah 4, 5

Bermain game online 6

3. Mencontek Waktu belajar 7

Kepercayaan diri 8

Copy paste tugas 9

4. Melakukan pencurian (mengambil barang

orang lain)

Ukuran kebutuhan 10, 11

Pengendalian diri terhadap keinginan memiliki barang orang lain

12, 13

5. Melakukan

Kekerasan ( bullying)

Perselisihan dengan teman 14, 15

Keanggotaan dalam geng 16

Keterlibatan dalam kegiatan geng 17

Tindakan kekerasan pada teman, orang tua, guru

18

Keterlibatan dalam kegiatan tawuran 19

6. Merokok Konsumsi rokok 20

7. Mengkonsumsi Miras

Ketertarikan pada miras 21

8. Melakukan seks Ketertarikan dengan lawan jenis 22

Kepemilikan hubungan khusus dengan lawan jenis

(21)

13

Intensitas bertemu 24

Kontak fisik ringan dengan lawan jenis 25 9. Mengonsumsi

narkoba

Kontak fisik berat dengan lawan jenis 26

konsumsi narkoba 27,28

Keterlibatan dalam jaringan pengedar narkoba

29,30

10. Melakukan pembunuhan

Keterlibatan dalam kasus pembunuhan 31

E. Teknik analisis data

(22)

14 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini melibatkan 21 SMK Kabupaten Bantul Yogyakarta yang terdiri dari sekolah negeri 11 sekolah dan sekolah swasta 10 sekolah. Guru yang

menjadi peserta Focus Group Discussion (FGD) sejumlah 26 guru. Siswa yang menjadi responden pengisian angket diambil rata-rata 25 siswa per sekolah secara acak. Rincian SMK yang terlibat dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Daftar SMK yang Menjadi Sampel Penelitian

No. Nama Sekolah No. Nama Sekolah

1 SMKN 1 Sanden 12 SMK Kesehatan Pelita Bangsa 2 SMKN 1 Kasihan 13 SMK Muh. Imogiri

3 SMKN 1 Pandak 14 SMK Kesehatan Bantul 4 SMKN 1 Pundong 15 SMK Pelita Buana Sewon 5 SMKN 1 Dlingo 16 SMK Putra Tama Bantul 6 SMKN 3 Kasihan 17 SMK Merah Putih Jetis 7 SMKN 1 Sewon 18 SMK IT Al-Fur’qon Sanden 8 SMKN 1 Bantul 19 SMK Ma’arif 1 Piyungan 9 SMKN 1 Bambanglipuro 20 SMK Muh. 2 Bantul

10 SMKN 2 Sewon 21 SMK Budhi Dharma Piyungan 11 SMKN 1 Pleret Bantul

1. Jenis Kenakalan yang Muncul

(23)

15 Tabel 5. Jenis Kenakalan Siswa SMK

No. Jenis Kenakalan

Jumlah SMK

%

1 Motivasi belajar rendah 21 80,77

3 Bermain HP di Kelas 13 50,00

18 Berbicara tidak sopan dengan guru 13 50,00

4 Terlambat masuk kelas 10 38,46

5 Izin ke kamar mandi terlalu lama dan sering 10 38,46

6 Jajan di kantin saat jam pelajaran 10 38,46

7 Membolos 10 38,46

10 Terlambar mengumpulkan tugas 10 38,46

11 Membuang sampah sembarangan (di laci meja) 10 38,46 12 Merusak fasilitas sekolah/corat-coret meja-tembok 10 38,46

13 Merokok di lingkungan sekolah 10 38,46

9 Tidak mengerjakan tugas 9 34,62

2 Tidur di kelas 6 23,08

8 Ramai saat pelajaran 6 23,08

14 Berkelahi antar teman 6 23,08

15 Memalak teman 6 23,08

16 Berpacaran di lingkungan sekolah 6 23,08

17 Tidak memakai seragam sesuai aturan 6 23,08

19 Menyelewengkan uang SPP 6 23,08

20 Tawuran antar sekolah 6 23,08

24 Suka bersolek saat KBM berlangsung 5 19,23

21 Pencurian barang berharga 4 15,38

22 Mencontek saat ulangan 4 15,38

23 Kejujuran kurang 4 15,38

25 Menyepelekan mapel IPA 4 15,38

(24)

16 tidak disukai guru, tetapi tidak disadari siswa. Kenakalan yang tidak disadari siswa antara lain menggunakan uang SPP untuk keperluan lain, berpacaran, bersolek, menggunakan HP, dan memalak teman. Hal ini kemungkinan adanya pandangan bahwa hal seperti itu bagi siswa tidak termasuk di dalam kenakalan.

Tabel 6. Jenis Kenakalan yang Diungkap melalui Angket Siswa

No. Jenis kenakalan Skor Rata-rata

1. Mengkonsumsi Miras 3,9

2. Mengonsumsi narkoba 3,9

3. Melakukan pembunuhan 3,9

4. Melakukan bullying 3,8

5. Merokok 3,8

6. Bersikap tidak disiplin 3,4

7. Membolos 3,4

8. Melakukan pencurian (mengambil

barang orang lain) 3,4

9. Melakukan seks bebas 2,5

10. Mencontek 2,4

Keterangan:

Skor 4 berarti sangat baik, tidak ada persoalan karakter yang serius; sementara skor 1 menandakan ada persoalan karakter yang serius.

Persoalan seks bebas dan mencontek merupakan persoalan yang mendapat skor rendah (2,5). Artinya, dua persoalan tersebut cukup serius di sekolah. Persoalan seks bebas di sini memiliki pengertian yang luas, mulai menonton video

(25)

17 responden yag melakukan perilaku “Copy” dan “Paste” tersebut. Persoalan lain yang agak serius adalah persoalan mencuri, miras, memalak, dan lain-lain.

2. Akar Persoalan Kenakalan Remaja

Berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD), diketahui ada 12 jenis akar persoalan yang menyebabkan munculnya 25 jenis kenakalan. Akar persoalan kenakalan remaja tersebut ditunjukkan pada Tabel 7.

Tabel 7. Jenis kenakalan dan Akar Persoalan Kenakalan Remaja

No. Jenis kenakalan Akar Persoalan Kenakalan Remaja 1 Motivasi belajar rendah

Lebih suka bermain game di tempat game on line

2 Tidur di kelas Malam hari begadang

3 Terlambar masuk kelas

4 Bermain HP di Kelas sms dengan teman, memutar video

5

Izin ke kamar mandi terlalu lama dan sering

Menghindari pelajaran, terutama yang tidak disukai

6

Jajan di kantin saat jam

pelajaran Belum sarapan pagi

7 Membolos

Pelajaran tidak menarik 8 Ramai saat pelajaran

9 Menyepelekan mapel IPA

10 Tidak mengerjakan PR Malas, menunggu pekerjaan teman untuk dicontek

11 Terlambar mengumpulkan tugas 12 Membuang sampah di laci kelas

Kurang pembiasaan baik, terutama di rumah

13 Corat-coret meja dan tembok 14 Merokok di lingkungan sekolah

15

Berpacaran di lingkungan sekolah

16

Berbicara tidak sopan dengan guru

17 Mencontek saat ulangan Kurang jujur dan kurang bertanggungjawab 18 Kejujuran kurang

19 Berkelahi antar teman Kurang solidaritas 20 Memalak teman Kurang solidaritas,

Keinginan lebih besar daripada kebutuhan

21 Menyelewengkan uang SPP 22 Pencurian barang berharga

23

Tidak memakai seragam sesuai

aturan Mengikuti mode

Mencari jati diri 24 Suka bersolek saat KBM

(26)

18 3. Karakter inti dan tambahan yang perlu dikembangkan serta strategi

menumbuhkembangkan karakter

Untuk mengembangkan pendidikan karakter berbasis sekolah, para guru diajak mengidentifikasi berbagai karakter yang perlu di kembangkan di masing-masing sekolah sesuai dengan persoalannya. Para guru SMK Kabupaten Bantul mengidentifikasi 12 karakter inti dan 12 karakter tambahan. Daftar karakter inti

dan tambahan yang perlu dikembangkan serta strategi menumbuhkembangkan karakter ditunjukkan pada Tabel 8.

Tabel 8. Karakter Inti dan Tambahan yang Perlu Dikembangkan serta Strategi Menumbuhkembangkan Karakter

Karakter Inti yang perlu dikembangkan Karakter tambahan yang perlu dikembangkan Strategi Menumbuh-kembangkan Karakter 1. Religius, beribadah, bersyukur kepada Tuhan YME 1. Menghargai perbedaan pendapat

4. Shalat berjamaah, shalat dhuha, pengajian rutin

2. Cakap, profesional 2. Kreatif 5. Mengikuti berbagai macam lomba sehingga kreatif 3. Terampil 3. Tenggang rasa 6. Takziah ke keluarga

teman

4. Disiplin 4. Kerja sama 7. Diskusi kelompok

5. Jujur 5. Percaya diri 8. Membuat proram

madingisasi, sloganisasi 6. Bertanggung

jawab

6. Peduli lingkungan 9. Memberikan reward dan punishment

7. Rajin 7. Pembiasaan 3 S

(senyum, salam, sapa)

10. Komunikasi antar sekolah, ortu, siswa terjalin

8. Beretika dan santun

8. Menghargai Perbedaan agama, status sosial

11. Menyediakan tempat penitipan barang berharga

9. Berkompeten di bidangnya

9. Keberanian mengemukkan pendapat

12. Pembinaan

10. Anti seks bebas 11. Anti narkoba

10.Komunikatif 13. Penyuluhan reproduksi dan narkoba

12. Kepedulian sosial 11.Inovatif

12.menghormati dan

(27)

19 menghargai orang

yang lebih tua

15. Jum'at bersih 16. Berjabat tangan

kepada guru

17. Melaksanakan upacara

Selain karakter inti dan karakter tambahan, para guru juga mengidentifikasi 17

strategi menumbuh-kembangkan karakter tersebut dengan mengadakan berbagai kegiatan di sekolah (Tabel 8).

Jadi, akar permasalahan munculnya karakter beragam. Ada yang berlatar belakang ekonomi, sosial, biologis, dan psikologis. Untuk itu, setiap sekolah sepantasnya mengembangkan model pendidikan karakter berbasis sekolah. Hal itu telah diidentifikasi oleh guru. Para guru menyarankan berbagai kegiatan yang dapat digunakan untuk mengembangkan karakter yang baik dan untuk mengantisipasi karakter yang jelek. Berbagai kegiatan tersebut disajian pada Tabel 8 kolom ketiga. Kegiatan seperti shalat berjamaah dan pengajian rutin digunakan untuk menanamkan nilai-nilai agama dan moral yang baik sehingga siswa terhindar dari berbagai perbuatan yang jelek. Demikian pula penyuluhan tentag reproduksi, narkoba, miras, dan bahaya merokok, serta pendidikan seks diperlukan agar siswa tidak merokok, tidak mengonsumsi narkoba dan miras, serta tidak melakukan hubungan seksual di luar nikah.

4. Karakter yang dikembangkan

Model pendidikan karakter berbasis sekolah mengembangkan karakter int dan karakter tambahan. Karakter inti adalah karakter esensial yang menjadi penciri lulusan. Idealnya karakter inti dikembangkan oleh semua mata pelajaran, sedangkan karakter tambahan dikembangkan melalui mata pelajaran. Karakter-karakter yang dapat dikembangkan melalui mata pelajaran biologi disajikan pada

(28)

20 Tabel 9. Karakter yang Dikembangkan dalam Mata Pelajaran Biologi

MAPEL Karakter yang Dikembangkan Biologi Peduli lingkungan

Kerjasama Disiplin

Bertanggung jawab

Keterampilan pengelolaan sampah Keterampilan bioteknologi

Rasa ingin tahu Kreatif, inovatif Menghargai orang lain Ketelitian

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian, teridentifikasi sebanyak 25 bentuk kenakalan

pelajar di 21 SMK di Bantul. Hal ini cukup mengkhawatirkan, karena dari 31 jenis kenakalan pelajar yang dimasukkan dalam instrumen, 25 jenis dilakukan

siswa. Artinya siswa telah melakukan 80,65% dari jenis kenakalan yang ditanyakan.

Hal ini perlu dianggap serius oleh sekolah untuk segera mengembangkan pendidikan karakter berbasis sekolah sebelum semuanya menjadi lebih buruk. Kebiasaan buruk lama-kelamaan terbentuk menjadi karakter buruk (DeRoche, 2009; Cunningham, 2007).

Persoalan karakter yang terjadi di sekolah umumnya terlihat sederhana, seperti merokok, mencontek, dan membolos. Meskipun demikian, persoalan karakter yang ada tersebut memiiki dampak jangka panjang yang jelek. Merokok, misalnya memiliki efek kesehatan yang sangat buruk, khususnya kesehatan paru-paru. Mencontek adalah persoalan yang kompleks, pertama hal itu menunjukkan siswa tidak percaya diri dengan kemampuannya. Kedua, hal itu juga menunjukkan bahwa siswa tidak bangga dengan kemampuannya dan hasil belajarnya. Seharusnya siswa tetap bangga dengan hasil belajarnya, yang ia kerjakan sendiri,

(29)

21 Ketiga, hal itu menunjukkan budaya yang jelek yang akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang jelek pula. Secara kumulatif, beberapa karakter yang tidak baik akan menyebabkan hasil belajar jelek, seperti malas, mencontek, plagiasi, tidak jujur, dan tidak disiplin (Lickona and Davidson, 2005; Jones et all, 2006).

Akar persoalan karakter beragam, berbeda tiap anak. Namun demikian, ada karakter yang memiliki akar persoalan yang sama. Sebagai contoh, siswa yang

membelanjakan uang SPP untuk keperluan yang lain umumnya bukan dari anak yang tidak mampu, tetapi dari anak yang ingin tampil “wah” melebihi kemampuan sesungguhnya. Siswa tidak mampu mengendalikan diri mengekang keinginannya. Siswa menggunakan uang SPP untuk memenuhi keinginan dan bukan kebutuhannya. Oleh karenanya, untuk mengatasi hal itu, siswa perlu dilatih mengenali apa yang dimaksud dengan kebutuhan dan keinginan. Pendidikan karakter pada dasarnya adalah menumbuhkan sikap baik terhadap diri siswa yang akan terus dilakukannya untuk kehidupannya (Lickona & Davidson, 2005; Bohlin, 2001).

(30)

22 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Sekolah di Bantul, khususnya SMK memiliki banyak persoalan karakter yang perlu diantisipasi melalui pendidikan karakter. Dari 31 persoalan karakter yang ditanyakan, 25 (80,6%) jenis persoalan karekter dilakukan siswa.

2. Akar persoalan karakter juga beragam tiap sekolah, meliputi akar persoalan sosial, ekonomi, psikologis, dan biologis.

3. Untuk mengantasipasi persoalan karakter tersebut, diperlukan model pendidikan karakter berbasis sekolah yang berbeda modelnya untuk setiap sekolah karena persoalan karakter yang dihadapi berbeda-beda.

B. Saran

Saran-saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian ini antara lain sebagai berikut.

1. Sekolah segera mengembangkan pendidikan karakter untuk mengantisipasi persoalan pendidikan karakter yang ada. Unsur sekolah perlu duduk bersama dengan siswa dan komite untuk menyusun model pendidikan karakter berbasis sekolah.

2. Perlu penegakan tata tertib di sekolah, memberi reward dan punishment terkait dengan karakter baikdan buruk untuk menumbuh-kembangkan

karakter baik di sekolah.

3. Perlu adanya penyuluhan seperti bahaya merokok, seks bebas, miras, dan

(31)

23 DAFTAR PUSTAKA

DeRoche, Edward. 2009. The What, Why, and How of Character Education. http://www.csee.org/products/108

Cunningham, Craig A. 2007. Character Education in Public Schools: The Quest for a Suitable Ontology. National-Louis University. http://cuip.uchicago.edu/~cac/pubs.htm

Fogarty, Robin. 1991. The Mindful School:How to Integrate the Curricula. Palatine, Illinois: Skylight Publishing, Inc.

Guslaeni Hafid. 2012.Kriminalitas Remaja Di Sekitar Kita. Diakses pada tanggal 1 Desember 2012 dari http://www.syabab.com/anak-muda/buletin/2987-kriminalitas-remaja-di-sekitar-kita.html.

Jones et al. 2006. Josephson Institute’s Report Card on American Youth: 28% of High School Students Steal; 60% Cheat – Survey of 36,000 High School Students. Diakses pada tanggal 1 Desember 2014 dari http://www.prweb.com/releases/2006/10/prweb452390.htm.

Lickona, T. and Davidson, M.. 2005. Smart & Good High Schools: Integrating Excellence and Ethics for Success in School, Work, and Beyond. Courtland, NY: Center for the 4th and 5th Rs.

Lickona, T.. 2004. Character Matters. New York: Simon and Schuster.

Lickona, Thomas & Matthew Davidson. 2005. Smart & good high schools: Integrating excellence and ethics for success in school, work, and beyond. Cortland, NY: The Character Education Partnership. www.cortland.edu/character/highschool

Murphy, M.. 1998. Character Education in America’s Blue Ribbon Schools (Lancaster, PA: Technomic Publishing).

Piaget, Jean. 1965. The Moral Judgment of The Child. New York: The Free Press.

Power, F. C.; Higgins, A., & Kohlberg, L. 1989.Lawrence Kohlberg's Approach to Moral Education. New York: Columbia University Press.

Gambar

Tabel 2. Karakter baik dan buruk menurut Guru dan Siswa
Gambar 1. Skema pendidikan karakter terpadu berbasis sekolah.
Tabel 3. Kisi-kisi Instrumen Penelitian
Tabel 4. Daftar SMK yang Menjadi Sampel Penelitian
+4

Referensi

Dokumen terkait

Ada beberapa PLTH, renewable energy yang digunakan dapat berasal dari energi matahari, angin, dan lain-lain yang dikombinasikan dengan Diesel- Generator Set

Dari pengujian selama 1500 milidetik dapat terlihat pada grafik bahwa ketika diberi guncangan pada sumbu X, dapat diketahui standar deviasi untuk metode pertama

• Significance Factor contributed to deforestation : population density, population growth, land ownership size, settlement and agricultural expansion. • In case of non

Komitmen dipandang penting dalam suatu organisasi, karena dengan komitmen yang tinggi seorang karyawan akan bersikap profesional dan menjunjung tinggi nilai-nilai yang telah

Peningkatan kadar protein pada rumput yang diberi bokashi lebih banyak disebabkan karena nilai N yang terdapat di tanah lebih tinggi sehingga kadar protein pada

Nilai demokratis merupakan salah satu nilai yang telah direncanakan dalam RPP peneliti, nilai ini dapat dilihat dari observasi selama proses pembelajaran, diantaranya

”Pengaruh Earning Per Share (EPS), Return on Equity (ROE), dan Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa

Data skunder adalah sumber data yang diperoleh dari informasi- informasi dari orang lain. Dapat pula diartiakan sebagai data yang terkait langsung dengan