No Daftar. 246/UN40.FPEB.1.PL/2013
PENGARUH BIAYA PRODUKSI TERHADAP LABA KOTOR
(Studi Kasus pada Lima BUMN Manufaktur di Indonesia)
SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Mengikuti Ujian Sidang
Sarjana Ekonomi pada Program Studi Akuntansi
Disusun Oleh:
Neng Yani
0808427
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Pengaruh Biaya Produksi terhadap
Laba Kotor
(Studi Kasus pada Lima BUMN
Manufaktur di Indonesia)
Oleh Neng Yani
Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis
© Neng Yani 2012 Universitas Pendidikan Indonesia
Desember 2013
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
No Daftar. 246/UN40.FPEB.1.PL/2013
LEMBAR PENGESAHAN
PENGARUH BIAYA PRODUKSI TERHADAP LABA KOTOR
(Studi Kasus pada Lima BUMN Manufaktur di Indonesia)
SKRIPSI
Oleh : NENG YANI
0808427
Telah disetujui oleh:
Pembimbing I
Dra. Silviana Agustami, M.Si, Ak
NIP. 19561116 198803 2 001
Pembimbing II
Agus Widarsono, SE, M.Si, Ak
NIP. 19770827 200801 1 011
Mengetahui,
Ketua Program Studi Akuntansi
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
PENGARUH BIAYA PRODUKSI TERHADAP LABA KOTOR (Studi Kasus pada Lima BUMN Manufaktur di Indonesia)
Oleh:
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh biaya produksi terhadap laba kotor. Penelitian ini terdiri dari variabel independen yaitu biaya produksi dan variabel dependen yaitu laba kotor. Penelitian ini dilakukan pada lima BUMN manufaktur di Indonesia.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dan verifikatif. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan laba rugi konsolidasian dan laporan CALK kosolidasian perusahaan periode 2007-2012. Jenis data yang digunakan adalah data panel yang merupakan gabungan dari data silang (cross section) dan data runtun waktu (time series). Adapun metode statistik yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana dengan terlebih dahulu melakukan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji heterokesdastisitas, dan uji autokorelasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kenaikan biaya produksi (X) akan mengakibatkan kenaikan pada laba kotor (Y). Selanjutnya, biaya produksi mempunyai pengaruh terhadap laba kotor sebesar 37% dan sisanya 63% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
THE IMPACT OF PRODUCTION COST ON GROSS PROFIT (Case Study at Five Manufacturing BUMN in Indonesia)
By: NENG YANI
0808427
Supervisor I:
Dra. Silviana Agustami, M.Si.,Ak
Supervisor II:
Agus Widarsono, SE.,M.Si.,Ak
ABSTRACT
This research examines the association between production cost and gross profit. This research consists of independent variable; production cost, while the dependent variable is gross profit. The object of this research are five manufacturing BUMN in Indonesia.
This research is conducted with descriptive and verificative methods with purposive sampling technique. Data are obtained from company’s consolidated statements of income and notes to the consolidated financial statements period of 20007-2012. The type of data used is panel data which is the combination of cross section data and time series data. As for the statistical methods used are simple linear regression analysis by doing a classic assumption test comprising; normality test, heteroskedastisitas test, and autocorrelation test.
The result indicates that every increase in production costs (X) will result in an increase in gross profit (Y). Futhermore, production costs have impact on gross profit amounted 37% and the remaining 63% are influenced by other factors which are not examined in this research.
iv
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
UCAPAN TERIMAKASIH ... ii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 7
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Kegunaan Penelitian ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka... 9
2.1.1Biaya ... 9
2.1.1.1Pengertian Biaya ... 9
2.1.1.2Penggolongan Biaya ... 10
2.1.1.3Pengukuran Biaya ... 14
2.1.2Biaya Produksi ... 16
2.1.2.1Pengertian Biaya Produksi ... 16
2.1.2.2Penggolongan Biaya Produksi ... 17
2.1.3Laba ... 18
2.1.3.1Pengertian Laba ... 18
2.1.3.2Jenis-jenis Laba ... 19
2.1.3.3Pengukuran Laba ... 21
2.1.4Laba Kotor ... 22
2.1.4.1Pengertian Laba Kotor ... 22
2.1.4.2Perhitungan Laba Kotor ... 23
2.1.4.3Perubahan Laba Kotor ... 24
2.1.5Pengaruh Biaya Produksi terhadap Laba Kotor ... 25
2.2 Penelitian Terdahulu... 27
2.3 Kerangka Pemikiran ... 28
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian ... 32
3.2 Metode Penelitian ... 32
3.2.1Desain Penelitian ... 32
3.2.2Definisi dan Operasionalisasi Variabel ... 34
3.2.3Populasi dan Sampel Penelitian ... 35
3.2.4Sumber Data... 38
3.2.5Teknik Pengumpulan Data ... 39
3.2.6Teknik Analisis Data dan Rancangan Pengujian Hipotesis ... 40
3.2.6.1Teknik Analisis Data ... 40
3.2.6.2Rancangan Pengujian Hipotesis ... 41
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Objek Penelitian ... 47
4.1.1PT Dirgantara Indonesia (Persero) ... 47
4.1.1.1Sejarah PT Dirgantara Indonesia (Persero)………...47
4.1.1.2Visi dan Misi PT Dirgantara Indonesia (Persero)……….49
4.1.1.3Aspek-Aspek Kegiatan PT Dirgantara Indonesia (Persero)………..50
4.1.1.4Produk-Produk Buatan PT Dirgantara Indonesia (Persero)………..50
4.1.2PT Indofarma (Persero) Tbk………...50
4.1.2.1Sejarah PT Indofarma (Persero) Tbk……….50
4.1.2.2Visi dan Misi PT Indofarma (Persero) Tbk………...52
4.1.2.3Aspek-aspek Kegiatan PT Indofarma (Persero) Tbk……….53
4.1.2.4Produk-produk Buatan PT Indofarma (Persero) Tbk………53
4.1.3PT Kimia Farma (Persero) Tbk………...55
4.1.3.1Sejarah PT Kimia Farma (Persero) Tbk……….55
4.1.3.2Visi dan Misi PT Kimia Farma (Persero) Tbk………...56
4.1.3.3Aspek-aspek Kegiatan PT Kimia Farma (Persero) Tbk………57
4.1.3.4Produk-produk Buatan PT Kimia Farma (Persero) Tbk………57
4.1.4PT Krakatau Steel (Persero) Tbk………58
4.1.4.1Sejarah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk………..58
4.1.4.2Visi dan Misi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk………60
4.1.4.3Aspek-aspek Kegiatan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk…………..60
4.1.4.4Produk Buatan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk………..60
4.1.5PT Pindad (Persero)………61
4.1.5.1Sejarah PT Pindad (Persero)………..61
4.1.5.2Visi dan Misi PT Pindad (Persero)………63
4.1.5.3Aspek-aspek Kegiatan PT Pindad (Persero)………..64
vi
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
4.2.1Deskripsi Biaya Produksi………..65
4.2.2Deskripsi Laba Kotor………72
4.3 Analisis Data dan Pengujian Hipotesis Hasil Penelitian………...77
4.3.1Pengujian Asumsi Klasik Regresi……….77
4.3.2Persamaan Regresi Panel………...79
4.4 Pembahasan………...82
4.4.1Deskripsi Biaya Produksi pada Lima BUMN Manufaktur di Indonesia ... 83
4.4.2Deskripsi Laba Kotor pada Lima BUMN Manufaktur di Indonesia ... 85
4.4.3 Pengaruh Biaya Produksi terhadap Laba Kotor pada Lima BUMN Manufaktur di Indonesia ... 86
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan………88
5.2 Saran………..88
DAFTAR PUSTAKA ... 90 LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 27
Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel ... 35
Tabel 3.2 Daftar BUMN Manufaktur di Indonesia ... 36
Tabel 3.3 Sampel Penelitian ... 38
Tabel 4.1 Produk-produk PT Dirgantara Indonesia………..50
Tabel 4.2 Produk PT Kimia Farma (Persero) Tbk……… 58
Tabel 4.3 Produk PT Krakatau Steel (Persero) Tbk……… 61
Tabel 4.4 Produk Militer dan Komersial PT Pindad (Persero)………..65
Tabel 4.5 Biaya Produksi PT Dirgantara Indonesia (Persero)………...66
Tabel 4.6 Biaya Produksi PT Indofarma (Persero) Tbk………67
Tabel 4.7 Biaya Produksi PT Kimia Farma (Persero) Tbk………...69
Tabel 4.8 Biaya Produksi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk……….70
Tabel 4.9 Biaya Produksi PT Pindad(Persero)……….71
Tabel 4.10 Laba Kotor PT Dirgantara Indonesia (Persero)………...72
Tabel 4.11 Laba Kotor PT Indofarma (Persero) Tbk………73
Tabel 4.12 Laba Kotor PT Kimia Farma (Persero) Tbk………74
Tabel 4.13 Laba Kotor PT Krakatau Steel (Persero) Tbk……….75
Tabel 4.14 Laba Kotor PT Pindad (Persero)……….76
Tabel 4.15 Uji Normalitas……….77
Tabel 4.16 Uji Heteroskedastisitas...78
Tabel 4.17 Uji Autokorelasi...79
Tabel 4.18 Kesimpulan Hasil Uji Autokorelasi...79
Tabel 4.19 Output Regresi Sederhana………...80
viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.2 Skema Kerangka Pemikiran ... 30
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Menurut Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha
Milik Negara, BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar
modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal
dari kekayaan negara yang dipisahkan. Sejak tahun 2001, seluruh BUMN
dikoordinasikan pengelolaannya oleh Kementerian BUMN yang dipimpin oleh
seorang Menteri BUMN. BUMN di Indonesia berbentuk perusahaan perseroan,
perusahaan perseroan terbuka, dan perusahaan umum. (Kementerian BUMN)
Perusahaan perseroan, yang selanjutnya disebut persero, adalah BUMN
yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang
seluruh atau paling sedikit 51% sahamnya dimiliki oleh Negara Republik
Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan. Perusahaan perseroan
terbuka, yang selanjutnya disebut persero terbuka, adalah persero yang modal dan
jumlah pemegang sahamnya memenuhi kriteria tertentu atau persero yang
melakukan penawaran umum sesuai dengan peraturan perundang-undangan di
bidang pasar modal. Sedangkan perusahaan umum, yang selanjutnya disebut
perum, adalah BUMN yang seluruh modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi
atas saham yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa penyediaan barang
dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus mengejar keuntungan
2
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Dalam penelitian ini, BUMN yang akan diteliti adalah BUMN sektor
industri pengolahan atau BUMN manufaktur. BUMN manufaktur di Indonesia
berjumlah 31. Dari ke-31 BUMN manufaktur tersebut, peneliti hanya mengambil
lima BUMN manufaktur untuk djadikan sampel penelitian dengan pertimbangan
bahwa peneliti hanya mengambil perusahaan yang memublikasikan laporan
keuangan dari tahun 2007-2012 pada websitenya.
Manufaktur merupakan proses yang bertujuan untuk mengubah suatu
bahan mentah menjadi barang jadi melalui proses tahapan teknologi. Untuk
mengolah bahan baku menjadi barang jadi, perusahaan mengeluarkan biaya yang
disebut dengan biaya produksi. Menurut Carter (2009:40), biaya produksi adalah
jumlah dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.
Biaya produksi adalah salah satu unsur yang mempengaruhi harga pokok
produksi. Harga pokok produksi diperoleh dari persediaan produk dalam proses
awal ditambah biaya produksi dikurangi dengan persediaan produk dalam proses
akhir. Harga pokok produksi merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi
Harga Pokok Penjualan (HPP). HPP dipengaruhi oleh harga pokok produksi dan
persediaan produk. Penjualan dan harga pokok produk yang dijual atau HPP akan
mempengaruhi laba kotor. Laba kotor merupakan salah satu jenis dari berbagai
macam laba yang ada pada perusahaan manufaktur. Menurut Soemarso
(2005:234-235), laba kotor adalah penjualan bersih dikurangi harga pokok
penjualan.
Laba kotor yang besar sangat diharapkan oleh setiap perusahaan yang
3
suatu perusahaan nantinya akan berpengaruh pula pada kelangsungan usahanya.
Apabila laba kotornya kecil maka laba bersihnya pun kecil sehingga
dikhawatirkan perusahaan tersebut tidak dapat meneruskan usahanya. Selain itu,
angka yang ada dalam laba kotor dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja
perusahaan dan memprediksi arus kas masa depan.
Laba merupakan salah satu tujuan organisasi perusahaan yang bisa
dijadikan sebagai ukuran keberhasilan atau kemajuan suatu perusahaan. Maka dari
itu, perusahaan akan berusaha untuk menghasilkan laba agar bisa
mempertahankan kelangsungan usahanya demi keberhasilan perusahaan. Namun,
tidak sedikit BUMN yang mengalami kerugian. Untuk mengatasi BUMN yang
merugi, terdapat enam alternatif strategi, yaitu likuidasi, merger, akuisisi,
pembentukan holding, penyehatan secara individu, dan diambil alih pemerintah
untuk dijadikan badan layanan umum. Strategi mana yang terbaik, sangat
tergantung pada posisi dan peran BUMN sakit, penyebab dan tingkat keparahan
penyakit, serta sikap politik dan dampak yang ditimbulkan dari strategi yang
dipilih.
Data Kementerian BUMN tahun 2006 hingga 2010 menunjukkan bahwa
dari 141 perusahaan pemerintah, hampir setiap tahun terdapat BUMN yang masih
mengalami kerugian. Bahkan pada tahun 2006, jumlah BUMN yang merugi
berjumlah 38 perusahaan. Jumlah tersebut terus berangsur berkurang dalam empat
tahun berikutnya. Tahun 2007, jumlah BUMN rugi menurun menjadi 33
perusahaan, tahun 2008 sebanyak 23 perusahaan dan mengalami kenaikan
4
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
juga tidaklah kecil, bahkan terus membengkak hingga puncaknya terjadi pada
tahun 2008 yang mencapai Rp13,95 triliun. Dua tahun sebelumnya, total kerugian
dari BUMN ini mencapai Rp3,06 triliun pada 2006 dan melonjak hampir dua kali
lipat pada tahun 2007, yaitu sebesar Rp7,01 triliun. Beruntung dua tahun
berikutnya, total kerugian yang dialami BUMN merosot tajam. Pada tahun 2009,
jumlah kerugian dari BUMN mencapai Rp1,69 triliun dan kembali turun pada
tahun 2010 yang diperkirakan mencapai Rp700 miliar. (Vivanews)
Sementara itu, sebanyak delapan BUMN yang terus mengalami kerugian
dalam tiga tahun berturut-turut sejak 2006 sampai 2008. Menurut bahan rapat
Menteri BUMN Mustafa Abubakar dengan Komisi VI DPR yang dikutip oleh
Detik Finance, Senin (15/02/2010), delapan BUMN yang mengalami kerugian
adalah PT Kertas Leces, PT Survai Udara Penas, PT Djakarta Lioyd, Perum PFN,
PT Kertas Kraft Aceh, PT Balai Pustaka, PT Industri Sandang, dan PT Semen
Kupang.
Bila dilihat dari sektor manufaktur, berdasarkan data Kantor Kementerian
Negara BUMN, delapan BUMN manufaktur yang masih rugi pada tahun buku
2006 adalah PT Kertas Leces, PT Krakatau Steel, PT PAL Indonesia, PT Iglas, PT
Dok & Perkapalan Kodja Bahari, PT Industri Sandang Nusantara, PT Boma
Bisma Indra, dan PT Inka. Dari kedelapan BUMN yang merugi itu, PT Krakatau
Steel, yang merupakan salah satu BUMN manufaktur yang akan diteliti di sini,
mengalami kerugian sebesar Rp 135,4 miliar. Laba kotor yang dicapai pada tahun
2006 merupakan laba kotor terkecil yang pernah dicapai PT Krakatau Steel dari
5
keuangan tahun 2007, PT Krakatau Steel sudah tidak mengalami kerugian, tetapi
mencetak laba bersih sebesar Rp 313,81 miliar. Laba kotor yang dicapai pun
meningkat menjadi Rp 1,7 triliun.
Seperti telah disebutkan di atas bahwa pada tahun 2007, sebanyak 33
BUMN yang mengalami kerugian. Tetapi, terdapat beberapa BUMN yang mampu
mencetak laba, lima di antaranya adalah PT DI (Persero), PT Pindad (Persero), PT
Indofarma (Persero) Tbk, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan PT Kimia Faram
(Persero) Tbk. Walaupun PT Krakatau Steel (Persero) Tbk pada tahun 2006
mengalami kerugian, tapi pada tahun 2007 berhasil mencetak laba seperti yang
telah dijelaskan di atas. Sementara itu, PT Indofarma (Persero) Tbk meraih laba
bersih pada tahun 2007 yang cukup berarti, Rp11,08 miliar, walau masih lebih
rendah dibanding pada tahun sebelumnya. Laba kotor perseroan tetap tumbuh
cukup signifikan, 13,3%, dari Rp 255,96 miliar menjadi Rp 289,95 miliar.
Realisasi pencapaian laba bersih PT Kimia Farma (Persero) Tbk tahun 2007
sebesar Rp 52,19 miliar yang tumbuh 18,64% dari laba tahun 2006 yang sebesar
Rp 43,99 miliar. Kenaikan penjualan dan keberhasilan mempertahankan efisiensi
harga pokok penjualan menyebabkan peningkatan laba kotor pada tahun 2007
yang mencapai Rp 648,01 miliar, meningkat sebesar 9,01% dibandingkan tahun
2006 yang sebesar Rp 594,46 miliar. Sedangkan, PT DI (Persero) dan PT Pindad
(Persero) tidak mengalami kerugian dan berhasil mencetak laba. Pada tahun 2006,
PT Pindad (Persero) meraup laba bersih Rp14,3 miliar atau turun 17 persen dari
6
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Hasil penelitian terdahulu perlu dikaji untuk mengetahui masalah-masalah
yang dibahas peneliti. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, ditemukan
bahwa sebelumnya telah ada peneliti yang membahas mengenai variabel yang
diteliti dalam penelitian ini.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yeni Purnamasari, terdapat
pengaruh negatif yang besar antara biaya produksi langsung terhadap laba kotor
pada PT PG Rajawali II unit Pabrik Gula Karangsuwung Cirebon. Artinya, setiap
kenaikan biaya produksi langsung akan mengakibatkan penurunan laba kotor.
Sedangkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yeni Jamianti, biaya
produksi berpengaruh kecil terhadap pengukuran efisiensi laba kotor pada PTP
Nusantara VIII Jawa Barat.
Penelitian yang dilakukan oleh M.A.Dhandapani & Ms.K.Radha
menunjukkan bahwa biaya produksi berpengaruh positif terhadap laba kotor.
Artinya, setiap kenaikan atau penurunan biaya produksi akan mengakibatkan
kenaikan atau penurunan laba kotor. Sedangkan berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Nusa Muktiadji dan Samuel Soemantri, pengaruh biaya produksi
dalam kemampulabaan (laba kotor) cukup berpengaruh namun tidak terlalu besar,
dimana dengan biaya produksi yang baik akan diikuti dengan tingkat
kemampulabaan (laba kotor) yang baik pula atau sebaliknya dengan biaya
produksi yang kurang baik akan diikuti dengan kemampulabaan (laba kotor) yang
kurang optimal pula.
Dari penelitan terdahulu yang telah dijelaskan di atas dapat disimpulkan
7
pengaruh berbeda-beda, ada yang berpengaruh kuat, tapi ada juga yang
pangaruhnya lemah. Selain itu, sebagian besar penelitian terdahulu menunjukkan
pengaruh yang negatif, tetapi ada sebagian kecil yang pengaruhnya positif.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul “Pengaruh Biaya Produksi terhadap Laba Kotor (Studi Kasus pada Lima BUMN Manufaktur di Indonesia)”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka yang menjadi
pertanyaan adalah:
1. Bagaimana deskripsi biaya produksi pada lima BUMN manufaktur di
Indonesia.
2. Bagaimana deskripsi laba kotor pada lima BUMN manufaktur di
Indonesia.
3. Bagaimana pengaruh biaya produksi terhadap laba kotor pada lima BUMN
manufaktur di Indonesia.
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian
Peneitian ini dimaksudkan untuk menganalisis lebih mendalam mengenai
gambaran pengeluaran biaya produksi pada lima BUMN manufaktur yang ada di
Indonesia. Penelitian ini juga dimaksudkan untuk mengumpulkan data serta
laporan laba rugi lima BUMN manufaktur yang ada di Indonesia untuk
mengetahui laba kotor yang diperoleh, serta seberapa besar pengaruh biaya
8
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 1.3.2 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui deskripsi biaya produksi pada lima BUMN manufaktur
di Indonesia.
2. Untuk mengetahui deskripsi laba kotor pada lima BUMN manufaktur di
Indonesia.
3. Untuk mengetahui pengaruh biaya produksi terhadap laba kotor pada lima
BUMN manufaktur di Indonesia.
1.4 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan berbagai kegunaan,
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Aspek akademis
Untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta dapat menerapkan
teori yang diperoleh dalam penelitian dengan kenyataan yang ada.
Diharapkan dapat menjadi referensi dalam melakukan penelitian
berikutnya bagi pihak lain.
2. Aspek praktis
Dapat memberikan manfaat bagi perusahaan mengenai pentingnya
pengendalian biaya sehingga berguna dalam memberikan informasi untuk
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Obyek Penelitian
Berdasarkan judul penelitian “Pengaruh Biaya Broduksi terhadap Laba
Kotor (Studi Kasus pada Lima BUMN Manufaktur di Indonesia)” maka yang
menjadi objek penelitian adalah biaya produksi dan laba kotor. Penelitian ini akan
dilaksanakan di lima BUMN manufaktur yang ada di Indonesia, yaitu PT
Dirgantara Indonesia (Persero), PT Indofarma (Persero) Tbk, PT Kimia Farma
(Persero) Tbk, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan PT Pindad (Persero).
3.2 Metode Penelitian 3.2.1 Desain Penelitian
Desain penelitian berkaitan dengan metode yang akan digunakan dalam
penelitian. Menurut Husein Umar (2008:54) menyatakan bahwa:
desain penelitian merupakan cetak biru bagi pengumpulan, pengukuran, dan penganalisisan data, dapat juga diartikan desain penelitian menyatakan baik struktur masalah penelitian maupun rencana penyelidikan yang akan dipakai untuk memperoleh bukti empiris mengenai hubungan-hubungan dalam masalah.
Tujuan umum penelitian adalah untuk memecahkan masalah, maka
langkah yang harus ditempuh harus relevan dengan masalah yang dirumuskan.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan desain kausal. Husein Umar
33
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
hubungan-hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana
suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya”.
Metode penelitian merupakan serangkaian langkah yang harus ditempuh
oleh peneliti dalam rangka mengumpulkan data penelitian yang diperlukan untuk
mencari pemecahan masalah yang diteliti. Seperti yang dikemukakan oleh
Sugiyono (2010:3-4) bahwa:
metode penelitian dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dibuktikan, dan dikembangkan suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan
verifikatif. Menurut Sugiyono (2010:21), “Metode deskriptif adalah metode yang
berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang
diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan
analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum”.
Metode ini digunakan untuk menjawab permasalahan mengenai seluruh
variabel penelitian secara independen. Sedangkan Iqbal Hasan (2006:11)
menyatakan bahwa “Penelitian verifikatif digunakan untuk menguji kebenaran
sesuatu (pengetahuan) dalam bidang yang telah ada, di mana pengujian hipotesis
tersebut menggunakan perhitungan-perhitungan statistik”. Hasil dari penggunaan
metode verifikatif akan menunjukkan hipotesis ditolak atau diterima.
Melalui metode penelitian deskriptif, dapat diperoleh deskripsi mengenai
bagaimana biaya produksi dan laba kotor. Sedangkan, penelitian verifikatif
34
3.2.2 Definisi dan Operasionalisasi Variabel
Menurut Sugiyono (2010:59), “Variabel penelitian adalah suatu atribut
atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi
tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya”.
Dalam penelitian ini, terdapat dua variabel yang akan diteliti, satu variabel
independen (bebas) dan satu variabel dependen (variabel terikat). Menurut
Sugiyono (2010:59), “Variabel bebas adalah suatu variabel independen yang
keberadaannya tidak dipengaruhi oleh variabel lain, sedangkan variabel terikat
adalah variabel dependen yang keberadaannya dipengaruhi oleh variabel bebas”.
Dengan demikian, yang menjadi variabel-variabel dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Variabel Independen (X)
Variabel independen sering disebut sebagai variabel bebas yang diberi
simbol X. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah biaya produksi.
2. Variabel Dependen (Y)
Variabel ini sering disebut sebagai variabel terikat yang diberi simbol Y.
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah laba kotor. Laba kotor adalah
selisih positif antara penjualan bersih (pendapatan) dikurangi dengan harga
pokok penjualan. Pertimbangan peneliti dalam mengambil laba kotor
untuk dijadikan variabal terikat adalah karena terdapat kecenderungan
bahwa laba kotor bisa memperlihatkan seberapa sukses manajemen dalam
memanfaatkan sumber daya untuk menghasilkan produk. Sumber daya di
35
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Operasionalisasi variabel adalah suatu cara untuk mengukur suatu konsep
dan bagaimana konsep harus diukur sehingga terdapat variabel-variabel yang
saling mempengaruhi dan dipengaruhi.
Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel
Variabel Dimensi Indikator Skala
Variabel dalam kegiatan pengolahan produk, misalnya biaya-biaya pembelian bahan baku, biaya pergudangan, dan biaya-biaya perolehan lain. (Carter, 2009:14)
Biaya produksi = biaya bahan baku + biaya tenaga kerja langsung + biaya overhead pabrik
Rasio Biaya tenaga kerja langsung adalah
biaya tenaga kerja yang melakukan konversi ke bahan baku langsung menjadi produk jadi dan dapat dibebankan secara layak ke periodik tertentu. Carter (2009:40)
Overhead pabrik adalah semua biaya manufaktur yang tidak dapat ditelusuri secara langsung ke output tertentu selain biaya bahan baku langsung dan tenaga penghasilan penjualan dengan harga pokok persediaan barang yang dijual.
Laba Kotor = Penjualan
Bersih – Harga Pokok
Penjualan
Rasio
3.2.3 Populasi dan Sampel Penelitian
Menurut Sugiyono (2010:61), “Populasi adalah wilayah generalisasi yang
terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya”. Berdasarkan pengertian di atas, maka yang menjadi populasi
dalam penelitian ini adalah BUMN manufaktur di Indonesia yang berjumlah 31.
36
Tabel 3.2
Daftar BUMN Manufaktur di Indonesia
No Nama BUMN Manufaktur
1 Perum Percetakan Negara Indonesia
2 Perum Percetakan Uang Republik Indonesia 3 PT Balai Pustaka (persero)
4 PT Barata Indonesia (persero) 5 PT Batan Teknologi (persero) 6 PT Bio Farma (persero)
7 PT Boma Bisma Indra (persero) 8 PT Cambrics Primissima (persero) 9 PT Dahana (persero)
10 PT Dirgantara Indonesia (persero)
11 PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (persero) 12 PT Dok & Perkapalan Surabaya (persero) 13 PT Garam (persero)
14 PT Indofarma (persero) Tbk 15 PT Industri Gelas (persero)
16 PT Industri Kapal Indonesia (persero) 17 PT Industri Kereta Api (persero)
18 PT Industri Sandang Nusantara (persero)
19 PT Industri Telekomunikasi Indonesia (persero) 20 PT Kertas Kraft Aceh (persero)
21 PT Kertas Leces (persero) 22 PT Kimia Farma (persero) Tbk 23 PT Krakatau Steel (persero) Tbk 24 PT LEN Industri (persero) 25 PT PAL Indonesia (persero) 26 PT Pindad (persero)
27 PT Pradnya Paramita (persero)
28 PT Pupuk Indonesia Holding Company (persero) 29 PT Semen Baturaja (persero)
30 PT Semen Gresik (persero) Tbk 31 PT Semen Kupang (persero) Sumber: Kementerian BUMN
Menurut Sugiyono (2010:62), “Sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Dalam penelitian ini,
pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Non Probability Sampling melalui
37
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2010:68). Pertimbangan-pertimbangan dalam
penelitian ini antara lain:
1. BUMN manufaktur yang ada di Indonesia.
2. BUMN manufaktur yang memublikasikan laporan keuangannya secara
periodik dan lengkap pada tahun 2007-2012.
3. BUMN manufaktur yang memberikan informasi mengenai besarnya biaya
produksi pada tahun 2007-2012.
Berdasarkan pertimbangan di atas, hanya lima BUMN manufaktur yang
memenuhi kriteria, sedangkan sebanyak 26 BUMN manufaktur tidak memenuhi
kriteria tersebut. Berikut ini adalah penjelasaanya:
1. Sebanyak 15 BUMN manufaktur yang tidak memublikasikan laporan
keuangannya di situs websitenya, yang terdiri dari Perum Percetakan
Negara Indonesia, PT Balai Pustaka (persero), PT Barata Indonesia
(persero), PT Batan Teknologi (persero), PT Boma Bisma Indra (persero),
PT Cambrics Primissima (persero), PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari
(persero), PT Dok & Perkapalan Surabaya (persero), PT Industri Gelas
(persero), PT Industri Kapal Indonesia (persero), PT Kertas Kraft Aceh
(persero), PT Kertas Leces (persero), PT PAL Indonesia (persero), PT
Pradnya Paramita (persero), dan PT Semen Kupang (persero).
2. Sebanyak delapan BUMN manufaktur yang tidak memublikasikan laporan
keuangannya secara lengkap dari tahun 2007-2012 serta tidak memberikan
informasi mengenai besarnya biaya produksinya, yang terdiri dari Perum
38
(persero), PT Garam (persero), PT Industri Kereta Api (persero), PT
Industri Sandang Nusantara (persero), PT Industri Telekomunikasi
Indonesia (persero), danPT Pupuk Indonesia Holding Company (persero).
3. PT Semen Baturaja (persero), PT LEN Industri (persero), dan PT Semen
Gresik (persero) Tbk memublikasikan laporan keuangannya disertai
dengan informasi mengenai besarnya biaya produksinya, tetapi perseroan
tersebut tidak memublikasikan laporan keuangan tahun 2012.
Oleh karena itu, sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak lima BUMN
manufaktur, yaitu:
Tabel 3.3 Sampel Penelitian No Sampel Penelitian
1 PT Dirgantara Indonesia (Persero) 2 PT Indofarma (Persero) Tbk 3 PT Kimia Farma (Persero) Tbk 4 PT Krakatau Steel (Persero) Tbk 5 PT Pindad (Persero)
3.2.4 Sumber Data
Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian kuantitatif karena data
yang digunakan berbentuk angka. Menurut Sugiyono (2010:15), “Data kuantitatif
adalah data yang berbentuk angka, atau data kualitatif yang diangkakan
(scoring)”. Dalam penelitian ini digunakan regresi data panel. Data panel adalah
data yang memiliki jumlah crossection dan jumlah time series. Data dikumpulkan
dalam suatu rentang waktu terhadap banyak individu. Ada dua macam data panel,
39
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
sama. Sedangkan data panel unbalance adalah keadaan dimana unit
cross-sectional memiliki jumlah observasi time series yang tidak sama.
Sumber data penelitian adalah sumber data yang diperlukan sebagai
penunjang terhadap berhasilnya suatu penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto
(2002:129) “Sumber data adalah subjek dari mana data tersebut dapat diperoleh”.
Sumber data dalam penelitian ini merupakan sumber data sekunder. Data
sekunder adalah sumber data penelitian yang subjeknya tidak berhubungan secara
langsung dengan objek penelitian, tetapi sifatnya membantu dan dapat
memberikan informasi untuk bahan penelitian. Data sekunder yang digunakan
adalah laporan laba rugi dan laporan CALK PT Dirgantara Indonesia (Persero),
PT Indofarma (Persero) Tbk, PT Kimia Farma (Persero) Tbk, PT Krakatau Steel
(Persero) Tbk, dan PT Pindad (Persero) dari tahun 2007-2012. Peneliti mengambil
data dari tahun 2007-2012 dengan pertimbangan bahwa pada tahun 2007 banyak
BUMN yang mengalami kerugian dan ada sebagian yang diakuisisi, sebagian lagi
mendapatkan suntikan dana dari pemerintah. Di dalam kondisi yang seperti itu,
ada pula BUMN yang berhasil mencetak laba, lima diantaranya adalah BUMN
manufaktur yang akan diteliti di dalam penelitian ini.
3.2.5 Teknik Pengumpulan Data
Dalam rangka memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini,
penulis menggunakan teknik-teknik pengumpulan data sebagai berikut :
1. Dokumentasi
Teknik ini merupakan cara pengumpulan data melalui kategorisasi dan
40
penelitian. Cara ini dilakukan untuk memperoleh data sekunder, baik yang
bersifat teoritis, maupun dari penelitian-penelitian sebelumnya yang
berkaitan dengan penelitian penulis untuk dipergunakan sebagai bahan
perbandingan.
2. Studi Pustaka
Untuk memperoleh landasan teori tentang biaya pemeliharaan dan
perbaikan aktiva tetap, serta mengenai kinerja keuangan sehingga
diperoleh dasar yang kuat dalam mendukung penelitian ini.
3.2.6 Teknik Analisis Data dan Rancangan Pengujian Hipotesis 3.2.6.1Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan perhitungan statistik untuk mengolah dan
menganalisa data. Teknik analisis data adalah proses penyederhanaan data ke
dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterprestasikan. Data-data yang
diperoleh peneliti melalui teknik pengumpulan data memerlukan pengolahan dan
penganalisisan data yang lebih lanjut. Tujuannya agar diperoleh gambaran yang
lebih jelas mengenai hasil penelitian guna memecahkan masalah-masalah yang
sedang diteliti sehingga akan mempermudah peneliti untuk menjawab pertanyaan
penelitian dan menarik kesimpulan mengenai masalah yang dihadapi. Adapun
analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1. Analisis deskriptif, untuk membahas data kualitatif. Dalam hal ini
dilakukan pembahasan tentang bagaimana biaya produksi berpengaruh
41
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
2. Analisis statistik, untuk membahas sumber data. Analisis statistik
digunakan untuk pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis menggunakan
analisis regresi berganda dengan menggunakan program software Eviews
6.0.
3.2.6.2Rancangan Pengujian Hipotesis
Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
analisis regresi sederhana, yaitu untuk meramalkan bagaimana keadaan (naik
turunnya) variabel dependen, bila satu variabel independen sebagai faktor
prediktor dimanipulasi. Sebelum melakukan uji asumsi klasik, analisis regresi
sederhana, dan pengujian hipotesis, dirumuskan terlebih dahulu hipotesis statistik
yang akan diuji. Adapun tahap-tahap dalam rancangan pengujian hipotesis akan
diuraikan di bawah ini.
1. Penentuan hipotesis
Dalam perumussan hipotesis statistik, antara hipotesis nol dan hipotesis
alternatif selalu berpasangan, bila salah satu ditolak, maka yang lain pasti diterima
sehingga dapat dibuat keputusan yang tegas, yaitu kalau Ho ditolak pasti Ha
diterima (Sugiyono, 2010:87). Penetapan hipotesis penelitian ini berkaitan dengan
ada tidaknya pengaruh anatara variabel Xdan Variabel Y. Adapun hubungan antar
variabel X dan Y dapat digambarkan sebagai berikut:
Keterangan: X = Biaya Produksi
Y = Laba Kotor
Gambar 3.1
Skema Hubungan antara Variabel
42
Adapun masing-masing hipotesis tersebut adalah:
Ho : Tidak terdapat pengaruh antara biaya produksi terhadap laba kotor pada lima
BUMN manufaktur di Indonesia.
Ha : Terdapat pengaruh antara biaya produksi terhadap laba kotor pada lima
BUMN manufaktur di Indonesia.
Dalam penelitian ini, hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternative (Ha)
dinyatakan sebagai berikut:
Ho:β = 0, biaya produksi tidak berpengaruh terhadap laba kotor pada lima BUMN
manufaktur di Indonesia.
Ha:β ≠ 0, biaya produksi berpengaruh terhadap laba kotor pada lima BUMN
manufaktur di Indonesia.
2. Uji Asumsi Klasik
Setelah merumuskan hipotesis, tahap selanjutnya adalah melakukan uji asumsi
klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas berguna untuk mengetahui apakah variabel dependen,
independen atau keduanya berdistribusi normal, mendekati normal atau
tidak. Jika datanya tidak berdistribusi normal maka analisis nonparametik
yang digunakan, jika datanya berdistribusi normal maka analisis parametik
yang dapat digunakan, termasuk regresi. Pengujian dilakukan dengan uji
Jarque Bera atau dengan melihat plot dari sisaan. Hipotesis dalam
pengujian adalah:
43
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu H1 : error term tidak mengikuti distribusi normal.
Dalam uji Jarque Bera, terdapat kriteria, yaitu:
Probability (P-Value) < taraf nyata (α), maka tolak H0
Probability (P-Value) > taraf nyata (α), maka terima H0
Keputusan diambil dengan membandingkan nilai probabilitas Jarque
Beradengan taraf nyata α=0,05. Jika nilai probabilitas Jarque Bera lebih
dari α=0,05 maka dapat disimpulkan bahwa error term terdistribusi
dengan normal.
b. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam
sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu
pengamatan ke pengamatan lain. Jika varians dari residual uatu
pengamatan ke pengamatan lain tetap, disebut homoskedastisitas.
Sedangkan untuk varians yang berbeda disebut heteroskkedastisitas.
Model regresi yang baik adalah model yang tidak heteroskedastisitas.
Pengujian terhadap adanya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan uji
park, uji goldfeld-quant, dan uji white. Untuk mendeteksi adanya
pelanggaran asumsi heteroskedastisitas dalam penelitian ini digunakan uji
White Heteroscedasticity yang diperoleh dari program EViews 6.0 yang
menggunakan metode General Least Square (Cross Section Weights).
Untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas adalah dengan
membandingkan Sum Square Residual pada Weighted statistics dengan
44
pada Weighted statistics < Sum Square Residual pada Unweight statistics
maka terjadi heteroskedastisitas. Untuk mengatasi pelanggaran tersebut
bisa mengestimasi GLS dengan White Heteroscedasticity.
c. Uji Autokorelasi
Pengujian ini bertujuan untuk melihat apakah dalam suatu model
regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t
dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi
korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul
karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama
lainnya. Hal ini sering ditemukan pada time series.
Untuk mendeteksi masalah autokorelasi yang paling umum dapat
dilakukan dengan melihat nilai Durbin-Watson statistic pada model
dibandingkan dengan nilai DW-Tabel. Sebuah model dapat dikatakan
terbebas dari autokorelasi jika nilai Durbin-watson statistic terletak di area
nonautokorelasi. Penentuan area tersebut dibantu dengan nilai tabel DL dan
DU. Jumlah observasi (N) dan jumlah variabel independen (K). Dengan
menggunakan hipotesis pengujian sebagai berikut:
H0: Tidak terdapat autokorelasi
H1 : Terdapat autokorelasi
Maka aturan pengujiannya adalah sebagai berikut:
0 < d < DL : tolak H0, ada autokorelasi positif
DL≤ d ≤ DU : daerah ragu-ragu, tidak ada keputusan
45
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 4 – D U≤ d ≤ 4-DL : daerah ragu-ragu, tidak ada keputusan
4 – D L < d < 4 : tolak H0, ada autokorelasi negatif
3. Uji Regresi
Model regresi sederhana yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
��� = �+��� +���
Keterangan:
i = 1,…….,N
N adalah jumlah individu/cross-sectional units (perseroan)
t = 1,…….,T
T adalah jumlah periode waktu (6, yaitu dari tahun 2007-2012)
Y = Laba Kotor
= Intercept
= Konstanta
X = Biaya Produksi
U = error/sesatan
4. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) adalah untuk mengukur seberapa besar variasi
dari regressand (Y) dapat diterangkan oleh regressor (X). Nilai koefisien
determinasi adalah di antara nol dan 1.
1. Jika nilai R2=0, berarti variasi dari variabel independen (Y) tidak dapat
46
2. Jika nilai R2=1, berarti variabel variasi (naik/turunnya) variabel
dependen (Y) adalah 100% dapat diterangkan oleh variabel
independen (X).
3. Jika nilai R2=berada di antara 0 dan 1, maka besarnya pengaruh
variabel independen terhadap variasi (naik/turunnya) variabel
dependen adalah sesuai dengan nilai R2 itu sendiri, dan selebihnya
88
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengaruh biaya
produksi terhadap laba kotor, maka penulis mengambil kesimpulan:
1. Biaya produksi pada lima BUMN manufaktur di Indonesia rata-rata
mengalami peningkatan tiap tahunnya.
2. Laba kotor pada lima BUMN manufaktur di Indonesia rata-rata
mengalami peningkatan tiap tahunnya.
3. Bedasarkan perhitungan dan pengujian hipotesis menggunakan analisis
regresi linier sederhana dapat disimpulkan bahwa biaya produksi
berpengaruh terhadap laba kotor pada lima BUMN manufaktur di
Indonesia.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan dan kesimpulan yang
diperoleh, maka terdapat beberapa saran yang penulis sampaikan sehubungan
dengan pengaruh biaya produksi terhadap laba kotor beserta hal lainnya yang
terkait, yaitu:
1. Dalam mengeluarkan biaya untuk memproduksi suatu barang, perseroan
diharapkan dapat menyeimbangkan biaya produksinya dengan nilai
89
mencapai nilai penjualan yang lebih tinggi daripada biaya produksinya
agar dapat meningkatkan laba kotornya.
2. Dalam perolehan laba kotor, selain memperhatikan biaya produksi,
perseroan juga harus memperhatikan faktor-faktor lain yang dapat
mempengaruhi laba kotor karena dari hasil penelitian diketahui bahwa
biaya produksi mempunyai pengaruh yang kecil terhadap laba kotor.
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi laba kotor yaitu volume produk
yang dijual, harga jual, dan harga pokok barang yang diproduksi dan
dijual.
3. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa biaya produksi berpengaruh
terhadap laba kotor yang dicapai. Dari penelitian terdahulu juga
memberikan hasil yang sama. Oleh karena itu, diharapkan untuk penelitian
selanjutnya untuk tidak memilih variabel biaya produksi sebagai variabel
yang mempengaruhi laba kotor, melainkan memilih variabel lain seperti
harga jual, volume penjualan, persediaan barang dalam proses, persediaan
90
Neng Yani, 2014
Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Laba Kotor (Studi Kasus Pada Lima Bumn Manufaktur Di Indonesia)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku
Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Edisi Revisi. Jakarta:PT Rineka Cipta.
Carter, Wiliam K., dan Milton F. Usry. (2009). Akuntansi Biaya,Buku 1 Edisi 13, Alih Bahasa oleh Krista. Jakarta:Salemba Empat.
Hendriksen, Eldon, S. (2002). Teori Akuntansi Edisi 5, Alih Bahasa oleh M. Sinaga. Jakarta:Interaksara.
Horngren, et.al. (2003). Akuntansi Di Indonesia, Buku Satu dan Dua. Jakarta:Salemba Empat, Simon & Schuster (Asia) Pte.Ltd. Prentice-Hall.
Husein Umar, (2008), Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, Jakarta:PT Raja Grafindo Persada
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). (2007). Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta:Salemba Empat.
Iqbal, Hasan. (2006). Analisis Data Penelitian Dengan Statistik. Jakarta:PT Bumi Aksara.
Mulyadi. (2008). Akuntansi Biaya. Yogyakarta:UPP STIM YPKN.
Munawir. (2010). Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta:Liberty.
Mursyidi. (2008). Akuntansi Biaya. Bandung:Refika Aditama.
Nafarin, M. (2000). Penganggaran Perusahaan. Jakarta:Salemba Empat.
Soemarso. (2005). Akuntansi Suatu Pengantar. Jakarta:Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sugiyono. (2010). Metode Penepitian Bisnis. Bandung:Alfabeta.
Supriyono, RA. (2011). Akuntansi Manajemen, Konsep Dasar Akuntansi Manajemen dan Proses Perencanaan. Yogyakarta:STIE YKPN.
Warren, Carl S., dan James M.Reeve. (2006). Pengantar Akuntansi. Jakarta:Salemba Empat.
91
Sumber Internet
Daftar BUMN. Tersedia: http://www.bumn.go.id/daftar-bumn/
Daftar 8 BUMN yang Rugi 3 Tahun Berturut-turut. Tersedia:
http://finance.detik.com/read/2010/02/15/120901/1299651/4/daftar-8-bumn-yang-rugi-3-tahun-berturut-turut?s771108bcj
Produk PT Dirgantara Indonesia (Persero). Tersedia: http://www.indonesian-aerospace.com/
Produk PT Indofarma (Persero) Tbk. Tersedia: http://www.indofarma.co.id/
Produk PT Kimia farma (Persero) Tbk. Tersedia: http://www.kimiafarma.co.id/?page=product&cat=1#
Produk PT Krakatau Steel (persero) Tbk. Tersedia: http://www.krakatausteel.com/?page=content&cid=2
Produk PT Pindad (Persero). Tersedia: http://www.pindad.com/
Terancam Ditutup, BUMN Merugi di Ujung Tanduk. Tersedia:
http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/252680-terancam-ditutup--bumn-merugi-diujung-tanduk
Karya Ilmiah
Jamianti, Yeni. (2004). “Pengaruh Biaya Produksi terhadap Pengukuran Efisiensi Laba Kotor (Studi pada PTP Nusantara VIII Jawa Barat )”. Skripsi. Bandung. Fakultas Ekonomi Universitas Komputer Indonesia.
M.A.Dhandapani & Ms.K.Radha. (2013). “The Impact of Cost of Production on Gross Profit”. Indian Journal of Applied Research Volume 3, Issue : 7, July 2013.
Muktiadji, Nusa dan Samuel Soemantri. (2009). “Analisis Pengaruh Biaya Produksi dalam Peningkatan Kemampulabaan Perusahaan (Studi Kasus di PT HM Sampoerna Tbk)”. Sumber: Jurnal Ilmiah Kesatuan Nomor 1 Volume 11, Januari 2009.
Purnamasari, Yeni. (2012). “Pengaruh Biaya Produksi Langsung terhadap Laba Kotor pada PT PG Rajawali II Unit Pabrik Gula Karangsuwung Cirebon”.