• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAYA HIDUP MASYARAKAT KOTA SURAKARTA TAHUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV GAYA HIDUP MASYARAKAT KOTA SURAKARTA TAHUN"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

112

BAB IV

GAYA HIDUP MASYARAKAT KOTA SURAKARTA TAHUN 1970 - 1990

Fenomena gaya hidup yang terjadi di masyarakat merupakan ciri dari perkembangan modernitas. Gaya hidup merupakan representasi yang teristimewa penting bagi pencarian identitas individu, semacam karakteristik yang mengartikan modernitas. Seperti lahirnya tekhnologi canggih sebagai wujud modernisasi, berdampak besar terhadap perubahan sikap dan pola perilaku manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Mulai dari pilihan makanan apa yang dikonsumsi, kegiatan sosial yang diikuti, fasilitas yang digunakan, sampai dengan pakaian yang dikenakan.1

Masyarakat yang pada awalnya menjadikan bioskop hanya sekedar fasilitas untuk mencari hiburan. Perlahan pemikiran masyarakat telah berkembang, dan kegiatan menonton film di bioskop berubah menjadi sebuah gaya hidup. Kepopuleran film dalam bioskop juga mampu mempengaruhi gaya hidup masyarakat. Film yang populer juga masuk melalui produk yang populer dikalangan masyarakat seperti fesyen, mainan, majalah, musik, tampilan poster, novel, komik, dll. Kepopuleran film di bioskop bersama dengan cengkraman produk yang populer di masyarakat sangat berpengaruh pada perkembangan gaya

1 John Fiske berpendapat bahwa gaya hidup merupakan anak kandung modernitas, hal ini dapat dilihat dari fenomena sosial gaya hidup yang merupakan ciri integral dari perkembangan modernitas, tidak hanya pada gagasan bahwa gaya hidup merupakan representasi yang teristimewa penting bagi pencarian identitas individu, tetapi juga semacam karakteristik pendefinisi modernitas. Lihat dalam buku suntinganIdi Subandy Ibrahim, 1997, Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Yogyakarta: Jalasutra, halaman 165-166

commit to user commit to user

(2)

hidup anak muda di Surakarta.2 Tidak ada pranata sosial di Indonesia yang sanggup menyita perhatian selain media film dalam bioskop.

A. Sumber Inspirasi Gaya Hidup Masyarakat Kota Surakarta

Masyarakat Surakarta yang gemar menonton film di bioskop, memerlukan refrensi tambahan untuk mengetahui lebih jauh informasi yang disajikan melalui film. Industri perfilman yang selalu berusaha memproduksi film yang menjadi populer di semua kalangan masyarakat. Perlahan film masuk dan berpengaruh terhadap budaya populer (budaya pop) yang melekat dalam kehidupan masyarakat. Budaya pop yang menjelma produk industrial, yang menghasilkan (kebudayaan), ditampilkan dalam jumlah besar, dengan bantuan teknologi produksi, distribusi, dan penggandaan-massal. Budaya pop berubah menjadi produk populer yang mampu dijangkau kalangan masyarakat luas. Produk populer yang mengispirasi masyarakat untuk merubah perilakunya di kehidupan sehari – hari.3

Perubahan perilaku dalam masyarakat akibat budaya pop memang tidak dapat semata dipandang remeh-temeh. Budaya pop yang dalam penerapannya menjelma menjadi produk populer antara lain seperti majalah, mainan, komik- novel, produk rumah tangga, hingga musik. Produk pop tersebut menjadi sumber inspirasi untuk menerapkan sebuah gaya hidup. Informasi yang diperoleh dari

2Menurut data demografis kota Surakarta tahun 1970-1990, rata-rata penduduk Surakarta didominasi oleh usia muda dan produktif antara usia 15-24 dan usia 25-54, tentu masyarakat penonton film banyak dari kalangan usia tersebut. Selain itu di kalangan anak muda Surakarta mudah sekali terpapar dengan pengaruh kebudayaan asing melalui tontonan film di bioskop.

3 Ariel Haryanto, 2012, Budaya Populer di Indonesia (Mencarirnya Indentitas Pasca- Orde Baru), Yogyakarta: Jalasutra, halaman 9

commit to user commit to user

(3)

produk populer membantu masyarakat lebih paham akan gaya hidup yang ingin diterapkan dalam kehidupan sehari – hari. Kehadiran produk pop turut membantu kalangan masyarakat yang tidak menonton film dalam bioskop, menjadi mengetahui informasi dan mengikuti cerita dari film maupun perkembangan gaya hidup. 4

Kehadiran produk pop menjadi media yang turut andil dalam mendukung kepopuleran film. Sekaligus menjadi media inspirasi yang menjadi sumber masyarakat Surakarta untuk dapat mengulik lebih jauh gaya hidup yang ingin diterapkan. Suatu gaya hidup yang memenuhi kebutuhan untuk mengikuti arus perkembangan jaman sebagai imbas dari film dalam bioskop. Media-media yang menjadi sumber inspirasi gaya hidup masyarakat Surakarta antara lain:

1. Majalah

Majalah adalah salah satu media promosi film yang rajin mendokumentasikan dan mengulik tentang kehidupan film yang masuk ke Indonesia. Sebelum menggelegarnya media daring seperti aplikasi Instagram pada era sekarang ini. Dahulu, majalah telah menjadi media massa sebagai sarana untuk mengetahui hal yang sedang menjadi trend dalam perkembangan budaya masyarakat luas. Kebutuhan akan sebuah mode atau trend jaman telah menjadi sebuah gaya hidup masyarakat Surakarta.

4 Budaya pop memiliki imbas yang terjadi dimasyarakat luas bukan hanya sekedar sebagai barang hiburan dan barang dagangan yang meraup laba. Karena konsumsi budaya populer di kalangan masyarakat awam selalu menjadi masalah bagi orang lain yang merasa dapat berurusan dengan yang lebih berfaedah ketimbang budaya populer. Baca Ibid., halaman 11-12

commit to user commit to user

(4)

Kehadiran majalah menjadi fenomena yang menarik dalam budaya pop di Indonesia. Terutama majalah majalah populer yang bertemakan anak muda dan hiburan. Majalah telah menjadi bagian dari gaya hidup yang terpenting di kalangan anak muda, terutama terkait perkembangan fesyen, musik, film dan hiburan lainnya. Setelah menonton film dalam bioskop, untuk mengetahui lebih detail informasi lebih lanjut semua tersedia di dalam majalah. Majalah sangat membantu penggemar film yang tidak sempat menonton film untuk mengetahui perkembangan film yang sedang populer di kalangan masyarakat Surakarta. Oleh karena itu, masyarakat terutama kalangan anak muda Surakarta senang berlangganan majalah terbitan mingguan. Bahkan ada juga yang sampai menyewa majalah pada persewaan buku dan majalah, sebab di Surakarta dahulu banyak tersedia persewaan buku dan majalah. Hal itu dilakukan demi mengikuti perkembangan dunia internasional dan supaya tidak ketinggalan informasi dengan orang lain.5

Beberapa majalah populer ternama pernah menjadi langganan bacaan masyarakat Surakarta. Antara lain : Majalah Film, Hai, Bintang Film, Varianada, Visi, Ria Remaja, Ria Film, Pop, Varia Baru, Violeta, Vista, Aneka Ria, SFF (Sport Fashion Film), Aktuil, Ultra, Musik Artis Santai (MAS), dan majalah/

bulletin keluaran beberapa bioskop dan perusahaan film.6

5 Wawacara dengan Ari pada tanggal 24 Februari 2018

6 Berdasarkan koleksi milik Ari Headbang diperoleh beberapa informasi mengenai majalah majalah yang sempat populer di kalangan anak muda Surakarta. Wawacara dengan Ari pada tanggal 24 Februari 2018

commit to user commit to user

(5)

Gambar 9. Majalah Vista

Sumber : Koleksi Pribadi Ari Headbang

Majalah – majalah tersebut berisi tentang ulasan mengenai perkembangan industri dunia pop yang sedang populer pada jamannya. Ulasan mengenai hal-hal yang dekat dengan gaya hidup anak muda, antara lain : review film, musik, olah raga, fashion, dan produk – produk yang hits pada zamannya (mainan, aksesoris, dll) semua tersedia dalam majalah. Majalah biasanya dilengkapi dengan poster bergambar bintang film, pemusik, dan sosok yang sedang menjadi sorotan media kala itu. Masyarakat Surakarta bergantung pada majalah untuk dapat mengetahui informasi terbaru mengenai geliat masyarakat internasional, selain menonton film dari dalam bioskop. Informasi mengenai ulasan sebuah film, artis dalam film, hingga budaya masyarakat asing yang populer melalui film, semua termuat dalam majalah. Kehadiran majalah membuat masyarakat Surakarta terutama penggemar

commit to user commit to user

(6)

film senang membaca majalah. Melalui majalah masyarakat dapat menyerap informasi lebih mendalam, sehingga dapat diterapkan sebagai gaya hidup.

Gambar 10. Majalah Film

Sumber : Koleksi Pribadi Ari Headbang 2. Komik dan Novel

Karya tulis selain majalah yang menjadi populer dikalangan masyarakat adalah komik dan novel. Komik dan novel di Indonesia sejatinya sudah ada sejak masa prasejarah. Terbukti dengan adanya relief bergambar yang terukir pada batu – batu seperti yang terpasang pada candi. Pertunjukan wayang kulit dan wayang beber juga dianggap sebagai cikal bakal komik masa kini. Cerita pewayangan yang menceritakan Rama-Shinta, Hanoman, dan tokoh pewayangan lainnya maupun cerita kerajaan yang ada pada babad kerajaan di Nusantara, dirasa cukup membuktikan bahwa nenek moyang kita sudah adalah pujangga atau seorang pembuat cerita yang handal. Begitulah akar sejarah seniman Indonesia dalam commit to user commit to user

(7)

membuat komik dan novel meskipun tehnik gambar dan cetak meniru komik dari Amerika.7 Budaya itu membuat masyarakat Surakarta menyukai cerita komik dan novel. Namun, masuknya pengaruh dari film asing membuat masyarakat terkena imbas bacaan komik dan novel yang ceritanya berasal sebuah film.

Beberapa komik dan novel berkaitan dengan film yang ada di bioskop.

Baik cerita film yang aslinya berasal dari komik dan novel. Terdapat juga komik dan novel yang ceritanya mengadopsi dari film di bioskop. Masyarakat yang sudah menonton film di bioskop biasanya tertarik untuk mengetahui kelanjutan ceritanya. Beberapa judul film populer mengalih mediakan film ke bentuk komik maupun novel untuk mempermudah penggemarnya untuk mengetahui kelanjutan cerita film.

Komik dan novel membantu memberikan ilustrasi yang lebih jelas mengenai hal yang tidak banyak diceritakan di dalam film bioskop. Masyarakat menjadi lebih mudah mengetahui informasi yang lebih jelas dari yang sudah diperoleh dari film melalui komik maupun novel. Semua yang diceritakan dalam media komik dan novel memperjelas diskripsi tentang pemahaman suatu hal yang telah diceritakan dalam film. Kehadiran komik dan novel memberikan informasi tambahan kepada masyarakat mengenai hal yang menjadi populer dari film.

Seperti beberapa film Bruce Lee yang sering digubah menjadi komik komik bertema beladiri yang beredar di kalangan masyarakat Surakarta.8 Memberi yang pengetahuan secara lebih mendalam mengenai macam teknik beladiri.

7 Marcel Bonnef, 2008, Komik Indonesia, Jakarta: Gramedia, halaman 19

8 Wawacara dengan Ari pada tanggal 24 Februari 2018 commit to user

commit to user

(8)

Kepopuleran sebuah film yang terbantu melalui media film menginspirasi masyarakat untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari.

Beberapa film yang populer menjadi bahan pelintiran sejumlah pengarang untuk dijadikan sebuah cerita baru dalam komik maupun novel dengan karakter atau model cerita yang hampir menyerupai film aslinya. Komik maupun novel dengan cerita pelintiran, biasanya merupakan adopsi dari film asing yang populer.

Hingga akhirnya cerita plintiran itu menjadi film produksi nasional.

Beberapa contoh film dari pelintiran cerita film asing anatara lain seperti:

“Rambo (1982,1985,1988)” yang diperankan oleh Sylvester Stallone yang kemudian dipelitirkan ceritanya menjadi film “Pembalasan Rambu (1985)”. Film DC terkenal “Superman ( yang diproduksi tahun 1978.1980,1983,1987)” , di indonesia ceritanya dipelintirkan dari komik Superman (1932) dan film Superman Serial sebelumnya ( produksi tahun 1948 : Superman, tahun 1950: Atom Man vs Superman, tahun 1951: Superman and the Mole Men, dan tahun 1954: Stamp Day for Superman). Produksi film nasional terlebih dahulu memproduksi film berjudul

“Rama : Superman Indonesia (1974)”.9

3. Mainan Anak

Film memang tidak pandang bulu dalam menyebarkan pengaruhnya dalam masyarakat. Pengaruh film masuk pada produk mainan anak – anak yang menjadi populer karena filmnya yang terkenal. Beberapa mainan anak-anak bertema film populer diproduksi dengan model mainan yang bertujuan mewakili perasaan

9 Wawacara dengan Ari pada tanggal 24 Februari 2018 commit to user

commit to user

(9)

anak-anak supaya merasa dekat dengan karakter/tokoh dalam film. Beberapa mainan itu antara lain : view master, kwartet, gambar umbul, boneka/action figur, gamebot, nitendo, dan mainan imitasi (mobil-mobilan, pedang-pedangan, pistol- pistolan, dll).

Gambar 11 : View Master Sumber : Koleksi Ari Headbang

Kalangan masyarakat yang tidak mampu menonton film di bioskop mengunakan dapat menggunakan mainan sebagai sarana untuk mengikuti cerita dalam film. Memiliki mainan yang berkaitan dengan yang ada di film, membuat masyarakat lebih tau jalan cerita sehingga merasa puas. Melalui media mainan yang dimainkan di masyarakat Surakarta terutama oleh anak – anak. Secara tidak langsung membuat masyarakat mengetahui informasi dari kepopuleran sebuah film, meskipun tidak dapat menonton film pada bioskop. Mainan dapat menumbuhkan rasa penasaran bagi kalangan masyarakat yang tidak menonton film jadi ingin mengikuti kepopuleran sebuah film. Informasi dari film yang commit to user commit to user

(10)

populer melalui mainan membuat masyarakat lebih mudah menerapkan gaya hidup yang di peroleh, selain dari film dalam bioskop. 10

Gambar 12. Mainan Gambar Umbul yang berisi cerita film King Kong Sumber : Koleksi Pribadi Ari Headbang

Mainan yang menyajikan informasi dalam film dengan memberikan cerita berdasarkan ilutrasi yang nampak yaitu seperti terdapat pada mainan view master dan gambar umbul. View master menjadi mainan yang populer di kalangan masyarakat Surakarta terutama anak – anak era 80’an dan 90’an. Mainan tersebut terdiri dari view master untuk melihat gambar dan kepingan kaset bergambar

10Wawacara dengan Ari pada tanggal 24 Februari 2018 commit to user

commit to user

(11)

yang berisi cuplikan rangkaian adegan dari film yang populer. Terdapat juga mainan Gambar umbul yang merupakan mainan berbentuk cetakan kertas berisi beberapa gambaran dalam sejumlah petakan tertentu. Gambaran yang dimaksud biasanya adalah karakter atau sebuah cerita baik dari film hingga cerita yang sedang populer di kalangan masyarakat luas. Beberapa gambar dalam petakan gambar umbul memiliki cerita yang berkesinambungan antar petak. Sehingga membentuk alur cerita yang mudah dipahami dan dirunut dari setiap urutan gambar dalam petak.

4. Kemasan Produk dan Produk Populer dari Film

Pengaruh film yang diputar di bioskop dan budaya pop yang populer pada Era 70’an dan 80’an, dapat ditemukan pada produk yang dikonsumsi masyarakat, seperti produk alat tulis dan produk alat rumah tangga. Produk alat tulis seperti pensil, buku tulis, penggaris, hingga penghapus karet semua bertemakan film yang sedang populer kala itu. Semuanya produknya memiliki corak tokoh dan property yang menarik digunakan dalam cerita film. Beberapa peralatan rumah tangga seperti peralatan makan juga bergambar karakter dalam film sedang populer menghiasi piring, sendok, garpu, cangkir atau gelas dan tempat bekal makan. Produk rumah tangga lainnya yang memiliki corak dan tema dari film antara lain seperti peralatan mandi, lemari, sarung bantal-guling, selimut, dll.

Kehadiran sebuah produk yang terkena imbas dari kepopuleran sebuah film yang beredar di kalangan masyarakat. Membuat beberapa kalangan masyarakat yang tidak menonton film di bioksop. Mau tidak mau juga menjadi mengetahui dan mengikuti hal yang menjadi populer dari film. Secara tidak

commit to user commit to user

(12)

langsung produk yang dikonsumi oleh masyarakat, membantu masyarakat memperoleh inspirasi dari film melalui produk yang dikonsumsi.

Gambar 13. Buku tulis bagian sampul yang bergambar Jhon Travolta Sumber : Koleksi Pribadi Edi Kuncoro

Produk - produk yang bertemakan film juga terdapat pada nama merk dan kemasan produk yang dijual di masyarakat. Beberapa produk yang memiliki merk dengan nama yang diambil dari film menjadi populer dan beredar di masyarakat Surakarta seperti merk rokok Tarzan dan korek gas Zippo. Dari merk kemasan produk dan kepopuleran produk membuat masyarakat mengetahui jika itu berasal dari sebuah film.11

Kepopuleran film secara tidak langsung turut mempopulerkan produk yang digunakan dalam sebuah film. Beberapa produk menjadi trend dan

11Wawacara dengan Edi Kuncoro pada tanggal 13 Mei 2019 commit to user

commit to user

(13)

dikonsumsi oleh masyarakat, karena terdapat dalam sebuah film. Produk – produk yang terkenal karena digunakan di dalam film antara lain seperti motor trail, peralatan rias wajah, busana, pomade/minyak rambut, pisau lipat, dll.

Mengkonsumsi produk membuat masyarakat memiliki kepuasan tersendiri dan memenuhi impiannya seperti dalam film. Melalui produk yang terimbas dari kepopuleran film membantu masyarakat menjalankan gaya hidupnya.

Salah satu produk yang populer dikalangan masyarakat Surakarta adalah trend penggunaan korek gas Zippo. Korek gas bermerk Zippo pernah menjadi produk yang dipaling dicari oleh masyarakat karena terlihat mentereng setelah digunakan oleh tentara Amerika yang terlihat heroik dalam film perang berlatar perang Vietnam. Selain korek Zippo, produk lain yang pernah populer dikalangan masyarakat Surkarta adalah pomade merk Mandom yang sukses menjadi barang yang laris dipasaran. Masyarakat memakai pomade Mandom karena terpengaruh dari tokoh Jerry Wallace yang terlihat keren dalam film Mandom yang diperankan oleh Charles Bronson.12

5. Marchendise film

Puncak kejayaan dunia perfilman di tanah air membuat masyarakat pada era 70’an hingga 90’an senang mengumpulkan marchendise atau pernak-pernik atau cinderamata dari film. Kepopuleran sebuah film menciptakan pernak – pernik yang bertemakan segala hal yang terdapat dalam film. Pernak pernik seperti kartu pos, stiker, poster, flayer, gantungan kunci, kaset-kaset soundtrack film dan semua hal yang berbau film menjadi buruan para moviergoers (penggemar film).

12 Wawacara dengan Ari pada tanggal 24 Februari 2018 commit to user

commit to user

(14)

Mereka beranggapan dengan mengumpulkan pernak pernik tersebut dapat merasa lebih dekat dengan tokoh idolanya dalam film dan beberapa kenangan mengenai film yang telah ditonton.

Masyarakat yang mengumpulkan pernak – pernik dari film secara tidak langsung jadi lebih paham tentang apapun yang digunakan atau terdapat dalam film. Melalui pernak-pernik dari film seperti foto, poster, flayer, dll. Masyarakat memperoleh inspirasi dan mengetahui hal yang disajikan dalam sebuah film.

Mulai dari gaya busana, gaya rambut, hingga gambaran mengenai perilaku yang dikutip dari sebuah adegan film. Semua tergambar jelas melalui pernak pernik yang dikumpulkan masyarakat. Sehingga mampu menerapkan dengan baik dalam kehidupan sehari – hari.

Gambar 14. Koleksi pernak pernik yang berkaitan dengan film Sumber : Koleksi Pribadi Ari Headbang commit to user commit to user

(15)

6. Musik Populer

Sebagaimana yang telah diulas pada Bab sebelumnya pada skripsi ini, salah satu bentuk budaya populer yang tidak lepas dari konflik politik adalah musik. Pelarangan musik dari barat (Amerika dan Eropa) ketika Presiden Soekarno berkuasa, seketika memiliki tempatnya kembali di Indonesia saat berganti pada masa kekuasaan pemerintahan Orde Baru. Banyaknya film asing yang masuk, akibat kelonggaran yang diberikan pemerintahan Orde Baru. Ikut membawa musik dari barat yang ketika itu menjadi barometer musik dunia deras masuk ke Indonesia. Meskipun musiknya hanya dapat dinikmati oleh kalangan menengah ke atas. Band semacam The Beatles dan Deep Purple menjadi idola baru masyarakat Indonesia bersamaan dengan film - film asing terutama dari Amerika. Band semacam itu juga menjadi kiblat grup musik di Indonesia.13

Musik dan film memang dua unsur yang selalu berkaitan. Kehadiran musik dalam film mendukung suasana dari sebuah adegan di dalam film.

Sebaliknya lirik-lirik musik yang menjadi backsound maupun soundtrack menjadi populer karena filmnya yang melejit. Lirik – lirik lagu yang populer dari film ikut membantu masyarakat Surakarta meresapi gaya hidup yang juga merupakan pengaruh dari tontonan film. Lirik lagu yang populer dalam film juga memberi pengetahuan maupun ilustasi kepada masyarakat, mengenai kebudayaan populer yang terjadi pada masyarakat internasional. Selain lirik lagu, masyarakat akrab dengan musiknya karena beberapa pemain atau bintang dalam film, merupakan penyanyi yang populer di kalangan masyarakat.

13 Garin Nugroho, Op.Cit., halaman 155 commit to user commit to user

(16)

Mendengarkan musik membantu masyarakat menciptakan suasana yang tergambar dalam film. musik musik yang terdapat dalam film tentu sangat berhubungan erat dengan adegan yang divisualkan melalui film. Melalui lirik dan nada dalam musik yang menciptakan kepuasan batin terutama bagi penikmat film.

Bahkan berkat musik dari film yang menjadi populer, masyarakat yang tidak menonton film. Mengetahui sehingga terinspirasi hal yang terdapat dari film dan menerapkannya dalam kehidupan sehari –hari.

Gambar 15. Kaset Tape berisi musik soundtrack film Indonesia Sumber : Koleksi Pribadi Ari Headbang

commit to user commit to user

(17)

Gambar.16 Piringan hitam musik soundtrack Film Grease Sumber : Koleksi Pribadi Ari Headbang

Gambar. 17 Kaset VCD The Blues Brother Sumber : Koleksi Pribadi Ari Headbang commit to user commit to user

(18)

Kepopuleran musik juga tidak terlepas dari peran majalah musik dan film yang beredar di masyarakat. Majalah menjadi representasi upaya memasukan dunia anak muda global ke ruang hidup anak muda Indonesia, terutama anak muda di Surakarta. Peran majalah membuat masyarakat kalangan menengah ke atas sebagai agen modernisasi kepada kalangan masyarakat di bawahnya. Terbukti anak anak muda hingga pelosok kampung ingin mengetahui, mendengarkan dan memainkan musik dari barat dengan gitarnya berkat chord dan informasi musik dalam majalah.14

Gambar.18 Kumpulan majalah musik dan film Sumber : Koleksi Pribadi Ari Headbang

14Wawacara dengan Ari pada tanggal 24 Februari 2018commit to user commit to user

(19)

B. Perkembangan Gaya Hidup Masyarakat Surakarta Tahun 1970 - 1990

Partisipasi masyarakat Surakarta terhadap pertunjukan film di bioskop pada periode 1970 - 1990. Menunjukan hiburan bioskop pada masa itu menjadi sebuah hiburan yang sangat dinantikan oleh masyarakat. Pertumbuhan usaha perbioskopan yang mulai semarak dan mengalami masa kejayaan di Surakarta, membuat perkembangan teknologi hiburan lain seperti kehadiran Televisi (TV) tidak mampu mengalahkan selera masyarakat untuk datang ke bioskop.

Masyarakat Surakarta masih tetap memilih bioskop sebagai jendela yang paling terbarukan untuk mengetahui perkembangan dunia luar melalui film.15

Film memiliki peran dalam membawa sebuah perubahan yang ada pada pola hidup masyarakat. Gaya hidup menjadi pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat dan opininya yang menggambarkan keseluruhan diri seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Industri perfilman selalu memproduksi film yang bertujuan menjadi populer di semua kalangan masyarakat. Film yang populer akan melahirkan gaya hidup yang diekspresikan oleh masyarkat Surakarta. 16

Membanjirnya film asing atau film impor yang masuk ke Indonesia, membuat sirkulasi perfilman di Indonesia menjadi tidak berimbang. Intervensi film asing yang masuk antara tahun 1970 hingga 1990 dapat dibuktikan melalui tabel berikut:

15Namun, masyarakat yang memiliki TV pada saat itu juga masih sedikit dan saluran yang tersedia juga tidak sebanyak sekarang. Saluran TV Nasional hanya memutar film yang sebulan atau dua bulan lalu telah diputar pada bioskopWawacara dengan Ari pada tanggal 24 Februari 2018

16 Idi Subandy Ibrahim, Op. Cit., halaman 180 commit to user commit to user

(20)

Tabel. 18

Perbandingan Film Indonesia dan Film Impor (Jumlah Judul)

Tahun Film Nasional Film Impor

1976 57 350

1977 124 300

1978 73 270

1979 50 260

1980 73 260

1981 71 240

1982 48 200

1983 76 180

1984 77 180

1985 63 180

1986 91 180

1987 70 170

1988 82 170

1989 90 170

Sumber: Rita Sri Hastuti, Majalah Editor, 1989: 21.

Melihat data dari tabel. 18, walaupun setiap tahunnya jumlah film asing impor yang masuk mengalami penurunan. Dominasi film asing terhadap film nasional terjadi di setiap tahun-tahun di Indonesia. Peningkatan jumlah produksi film nasional terjadi pada tahun 1977 sebesar 67 (117%) judul. Kenaikan produksi film nasional merupakan akibat dari keluarnya kebijakan dari Menteri Penerangan Ali Moertopo. Kebijakan yang menyatakan bahwa setiap tiga film asing diimpor, importir harus membiayai produksi satu film nasional. Peraturan yang sejatinya

commit to user commit to user

(21)

mendongkrak produksi film nasional, justru dimanfaatkan sebagian produser untuk bekerja sama dengan importir film asing. Akibatnya terjadi perubahan orientasi produksi film nasional bukan pada kualitas, melainkan pada keuntungan pihak impor film sehingga film yang dibuat pun asal jadi. Terbukti pada tahun- tahun berikutnya produksi film nasional kembali menurun.17

Melimpahnya film asing yang masuk ke Indonesia menjadikan masyarakat lebih mengenal kebudayaan asing melalui tontonan film. Pengaruh dari film asing terelakan, masyarakat cenderung menyukai film-film asing yang diputar di bioskop. Film asing mampu memberikan informasi yang terbaru mengenai perkembangan dunia luar. Film produksi asing mampu mewakili mimpi masyarakat untuk dapat mengikuti perkembangan dunia luar.

Kedekatan masyarakat Surakarta dengan film di bioskop memang tidak dapat diragukan lagi. Masyarakat Surakarta yang menjadikan bioskop sebagai media untuk menyalurkan gaya hidup. Semakin terlihat jelas ketika menonton di bioskop merupakan hal yang prestise pada saat itu. Ketika seseorang telah menonton film di bioskop, dirinya merasa telah lebih unggul dalam mengetahui perkembangan dunia luar daripada yang orang lain yang tidak menonton film di bioskop. Kebanggaan diri yang merasa lebih unggul ketika telah menonton film di bioskop menumbuhkan rasa antusias masyarakat Surakarta untuk selalu datang ke

17 Garin Nugroho, Dyna Herlina S., 2015, Krisis dan Paradoks Film Indonesia, Jakarta: Kompas, halaman 172

commit to user commit to user

(22)

bioskop. Masyarakat Surakarta penggemar film selalu memadati bioskop untuk menonton film-film kesenanganya yang diputar di bioskop.18

Masa kejayaan film impor yang diputar di bioskop. Mampu memenuhi kebutuhan psikologis masyarakat kota untuk dapat mengikuti arus perkembangan zaman. Kehadiran budaya asing melalui film, bernegoisasi dengan kebudayaan asli Indonesia dan menjadi berselera internasional. Film dengan kebudayaan asing membuat masyarakat Surakarta kian terbuka berkenalan dengan budaya masyarakat internasional.19Kehidupan masyarakat Surakarta yang dinamis dan tidak ingin ketinggalan dengan kota-kota lain, membuat masyarakat terutama anak muda Surakarta tak mampu untuk melewatkan tren gaya hidup yang menjadi populer pada masanya. Tren Gaya Hidup yang diadopsi dari film yang diputar pada bioskop-bioskop, membuat berbagai masyarat Surakarta terutama penggemar film berusaha ingin menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Gaya hidup memang menjadi wahana ekspresi masyarakat yang memiliki nilai-nilai tertentu dalam kehidupan melalui bentuk yang mencerminkan perasaan.20

Pertumbuhan bioskop yang terjadi di Surakarta antara tahun 1970 hingga tahun 1990, memunculkan beberapa model gaya hidup masyarakat yang dipengaruhi film di bioskop. Gaya hidup yang timbul sebagai pengaruh dari

18 Data Badan Pusat Statistik Surakarta, Surakarta dalam Angka Tahun 1975,1986, dan 1990

19 Ibid., halaman 142

20 Pengaruh film tanpa ragu diterima baik oleh masyarakat Surakarta.

bahkan dahulu hanya untuk terlihat keren seperti pemain film idolanya, beberapa nama masyarakat surakarta menambahkan atau mengganti namanya seperti idolanya dalam film seperti, Henry, Jhon, dll. Selain itu becak becak yang dahulu banyak mengetem di setiap sudut kota, pada bagian sayap samping kanan kiri becak terdapat lukisan Jhon Wen. Wawacara dengan Ari pada tanggal 24 Februari 2018

commit to user commit to user

(23)

tontonan film menjadi simbol ekspresi dalam tatanan sosial masyarakat kota. 21 Beberapa wujud gaya hidup atau dalam konteks kebudayaan massa disebut kebudayaan populer, yang terjadi dalam masyarakat Surakarta dapat menjadi sebuah penanda jaman. Gaya hidup yang terjadi dalam masyarakat Surakarta mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Berikut ini adalah beberapa wujud gaya hidup masyarakat Surakarta sebagai imbas dari film bioskop dan beberapa media inspirasi yang mendukung, dapat di kelompokan dalam dua dekade antara lain:

1. Masa Pengenalan (Tahun 1971-1980)

Terbukanya kesempatan film – film asing untuk dapat masuk kembali ke Indonesia setelah sebelumnya mengalami krisis dan pemboikotan pada Era Kepemimpinan Presiden Soekarno. Film asing dapat bebas masuk ke Indonesia berkat kebijakan dari pemerintahan Orde Baru yang memberikan kelonggaran terhadap film asing untuk masuk. Film asing dapat masuk kembali akibat dari penanaman modal asing yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru. Kebijakan itu dapat menghubungkan kembali Indonesia supaya dapat bersentuhan dengan selera budaya Asia, Amerika, dan Eropa.

Kembalinya film asing yang semakin banyak diputar pada bioskop menarik animo masyarakat untuk datang. Seperti gayung bersambut pengusaha

21 Gaya hidup membentuk cerminan masyarakat yang ingin menunjukan identifikasinya dalam sebuah kelompok tertentu. Gaya hidup diekspresikan tanpa mengindahkan maknanya dan terlihat segala sesuatunya menarik namun tidak ada makna yang membekas. Gaya hidup menjadi pembeda dari sebuah kelompok yang muncul dalam masyarakat dan terbentuk atas dasar stratifikasi sosial.

Masyarakat yang menerapkan gaya hidup yang populer akan memiliki ciri khas tersendiri. Lihat pada tulisan Idi Subandy Ibrahim, Op. Cit., halaman 207

commit to user commit to user

(24)

bioskop di Surakarta mengambil peluang tersebut untuk bekerjasama dengan pengimpor film dan mendirikan bioskop – bioskop baru. Pertambahan bioskop baru yang ada di Surakarta dapat berjalan dengan memanfaatkan banyaknya film asing tersedia. Banyaknya film asing menyebabkan bioskop di Surakarta cenderung sering memutar film – film asing dibanding memutar film nasional.

Sirkulasi pemutaran film dalam bioskop menyebabkan masyarakat Surakarta lebih menggemari film asing dan menjadi mengenal kebudayaan asing melalui film.

Dinamika film yang bersamaan dengan kultur masyarakat Surakarta yang maju dan sudah berkenalan dengan budaya asing melalui film, membuat masyarakat Surakarta mulai menyenangi gaya hidup dengan selera internasional.

Film asing yang masuk ke dalam produk populer seperti komik, musik, novel yang ikut serta beredar dan mulai menancapkan kukunya di Indonesia. Membuat pada Era 1970 – 1980 muncul model dan atribut gaya hidup di Surakarta sebagai berikut :

a. Disko

Disko adalah sebuah acara hiburan dengan Disk Jockey (DJ) yang setia memutar musik soul funky yang tidak putus mengiringi orang – orang untuk terus berdansa.22 Disko berasal dari kependekan kata Diskotek, berasal dari bahasa Perancis, Dischotheque yang berasal dari dua kata pembentuk, Disque berarti piringan hitam sebagai media pengiring

22 Musik Soul Funky dengan ritme yang menarik ditekankan dengan tepuk tangan, gerak tubuh, dengan suara vokalis yang tegang dan berkarakter kuat, musik yang mencerminkan identitas Afrika-Amerika yang menemukan gaya musik baru melalui transmutasi musik gospel, rhytem dan blues ke bentuk funky (bentuk kesaksian sekuler) yang menjadi kebanggaan oang kulit hitam, baca buku David P. Szatmary,2014, Rockin In Time, New Jersey: Person, Halaman 176

commit to user commit to user

(25)

dan Bibliotheque berarti perpustakaan. Jadi makna Dischotheque adalah perpustakaan piringan hitam kemudian berkembang menjadi gedung atau tempat menyimpan dan memutar piringan hitam.23

Disko semula berasal dari Perancis, jauh sebelum NAZI mengokupasi, terjalin kontak panjang para pemuda-pemudi dengan musisi dan kultur Jazz Amerika. Kontak tersebut pada perkembangannya melahirkan subkultur baru. Mereka sering disebut Les Zazous, dari masyarakat kelas menengah ke bawah. Para Zazous mudah dikenali lantaran berbusana khas. Bagi laki-laki, acap mengenakan celana baggy, baju lengan panjang dengan kerah tinggi, berkacamata hitam. Sementara para perempuan memakai rok pendek, sweater baggy, mencat kuku jari, rambut melengkung sebahu, dan gincu merah menyala.24

Perburuan pihak NAZI, membuat para Zazous bergerak di bawah tanah. Salah satu tempat pertemuan mereka tak lain, bernama Les Discotheque, sebuah basement club kecil di Rue de la Huchette, Paris,

satu blok sebelah selatan Seine Arrondissements. Mereka merundingkan strategi perjuangan sembari tetap memutar piringan hitam dan

23 Peter Saphiro, 2005, Turn the Beat Around: The Secret History of Disco, London:Faber & Faber, Incorporated, halaman 35

24 Zazous menjadi gerakan penentang okupasi NAZI paling gencar.

Mereka biasa berkumpul pada hari minggu di cafe atau restoran kecil memutar piringan hitam sembari menari. Saat NAZI memaksa orang Yahudi mengenakan Bintang David warna kuning untuk menandai mereka, para Zazous pun menentang dan beraksi menggunakan Bintang David sebagai bentuk keberpihakannya pada kaum Yahudi. NAZI bereaksi keras, menangkapi dan mengirim mereka ke kamp pekerja. Ibid., halaman 41

commit to user commit to user

(26)

menari. Discotheque kemudian terekam sebagai tempat perjuangan bawah tanah kelompok radikal Perancis terhadap NAZI.25

Pada perkembangannya Disko di Surakarta biasanya diadakan di sebuah tempat dengan acara khusus seperti peringatan hari ulang tahun, pesta kelulusan, pentas seni sekolah, hingga festival dan kompetisi dengan mengundang kalangan tertentu seperti kerabat, teman sekolah, teman gaul, dan rekan yang menyenangi disko.

Kalangan yang diundang datang dengan pakaian yang modis atau style (dengan aksen Jawa = “setil”) dan membawa undangan acara.

Memasuki acara utama dimulai dengan iringan nada pembuka disko, beberapa orang berpasangan wanita pria (polones) siap menghentak dengan skill dansa yang dikuasai. Ketika irama musik mulai naik dengan tempo yang bertambah, disko dimulai. Acara disko dimulai pukul tujuh malam hingga berakhir pukul sepuluh/ sebelas malam. Selama itu orang hanya asyik berdiskoria dibawah gemerlap kelap kelip lampu warna- warni, dekorasi menawan dan hanya sesekali saja istirahat untuk minum ketika tempo turun berganti iringan “Cha-cha-cha atau Bogi-bogi”.26

25 Zazous juga melakukan perlawanan kultural dengan memutar piringan hitam musik Jazz selagi NAZI membuat propaganda musik klasik terhadap lembaga Parisian semisal Moulin Rouge, One Two Two, dan Maxims, setelah Perang Dunia II berakhir, Basement Club Zazous semakin kondang dan menjamur di berbagai belahan Eropa hingga Amerika. Di negeri Paman Sam, konsep Disko atau Diskotek sebagai alat perjuangan berubah. Hingga kemudian dikso merebak di Amerika mulai Tahun 1950, Ibid., halaman 39

26 Para pecinta Disko bergantian menyumbangkan tarian dari keahlian dengan skill dimiliki. Hingga nanti seseorang yang memiliki skill tarian paling mumpuni akan dapat diundang lagi oleh pengundang acara disko berikutnya.

Wawancara dengan Henry Gunawan tanggal 12 Juli 2019 commit to user

commit to user

(27)

Begitulah kiranya acara disko yang pernah merebak sebagai gaya hidup masyarakat di Surakarta. Disko mulai menjadi bagian gaya hidup masyarakat Surakarta, seiring dengan munculnya film-f ilm yang bertemakan disko antara lain: Saturday Night Fever (1977), Grece (1978), dan Staying Alive (1983).27 Film film tersebut menampilkan Jhon Travolta yang asyik berdiskoria dengan jurus jurusnya seperti Jeef, waltz, rumba, samba, dll. Tarian ala Jhon Travolta dalam filmnya inilah yang diadopsi pecinta disko di Surakarta. Disko atau masyarakat familiar dengan ajakan sepeti “Ago-go (ayo goyang-goyang) dan Ajo-Jing (Ayo joget jingkrak-jingkrak)”, dahulu sering diadakan di Surakarta.28

Gambar 19. Salah satu koleksi kaset kumpulan lagu disko Sumber : Koleksi pribadi widyawati

27 Film-film seperti Saturday Night Fever (1977), Grece (1978), dan Staying Alive (1983) bermunculan dan diproduksi oleh Amerika seiring merebaknya club - club Disko di kalangan anak muda di Amerika, selain itu berkat film film tersebut menjadikan Jhon Travolta menjadi ikon disko pada masanya. Dapat dilihat melalui koleksi flayer-flayer dan poster film koleksi Ari Headbang.

28Deretan film-film bertemakan disko/ drama musikal turut melambungkan aktor kawakan dari Amerika bernama Jhon Travolta, berkat perannya dalam film yang memukau lewat tarian yang menarik dan unik.

Pengujung diskotek meningkat pesat gairah melantai semakin membuncah. Tiap lelaki seolah berlomba-lomba serupa Tony Manero, yang diperankan John Travolta pada film Saturday Night Fever. Cap sebagai Raja Disko menjadi barang rebutan. Para penggila disko pun ramai-ramai mendengengunkan slogan, “Jangan tidur sore-sore!. Tak terketinggalan masyarakat Surakarta yang tertarik untuk mengadakan acara yang mewadahi para pencinta dan penggemar disko, menurut cerita dari Henry Gunawan yang merupakan penggemar disko.

commit to user commit to user

(28)

Terbukti dengan banyaknya group – group yang sering dipakai untuk mengadakan acara disko antara lain: Win disko, Papa disko, Petite disko, Chipsi disko, Throper disko, Merrid disko, Panther disko, Casanova disko, lugas disko, Flash disko, dan Seher disko. Group-group disko itu biasanya diundang dengan seperangkat dekorasi, lighting dan DJ.

Banyaknya group-group disko di Surakarta, membuat kota ini pernah menjadi tuan rumah diadakannya festival disko nasional pada tahun 1979 bertempat di Gelora Manahan dengan diikuti group disko terkenal dari berbagai kota di Indonesia.29

b. Fashion

Busana yang merebak dan digunakan masyarakat Surakarta pada tahun 1970 – 1980, banyak terpengaruh dari hadirnya film-film asing yang bertemakan musikal, drama, dan aksi khususnya koboi dan bela diri mandarin. Kepopuleran film turut mempopulerkan produk yang digunakan dalam film. Seperti penggunaan celana model cutbray yang biasanya digunakan di film-film drama musikal. Pada tahun 1970-an, menjadi tren di Surakarta baik dipakai untuk pria dan wanita. Celana cutbray biasanya dikenakan oleh laki-laki untuk menghadiri pesta disko.30

29 Wawancara dengan Henry Gunawan tanggal 12 Juli 2019

30Wawancara dengan Henry Gunawan tanggal 12 Juli 2019 commit to user

commit to user

(29)

Gambar 20. : potret seseorang mengenakan celana Cutbray di salah satu kampung di Surakarta

Sumber : Koleksi pribadi Mochtar

Pada dekade 1970-1980 pengaruh dari film – film bertema koboi menjadi tren dikalangan masyarakat Surakarta. Gaya koboi yang sempat mewabah di Surakarta membuat atribut seperti : Sepatu Boot ikut populer di kalangan masyarakat. Sepatu Boot banyak digunakan di film

“Magnificent Seven(1960)”, “Trilogi The Good and The Bad in The Ugly(1966)”, “Django(1966)”, bahkan muncul film koboi dari Indonesia

commit to user commit to user

(30)

Bing Slamet Koboi Cengeng (1974), Benyamin Koboi Ngungsi (1975) beserta topi model koboi menjadi tren di Surakarta. 31

Selain sepatu koboi, seiring masuknya film-film mandarin dari Hongkong yang diputar di bioskop di Surakarta. Tren sepatu Kungfu, sepatu yang banyak digunakan pada film aksi pendekar kungfu seperti yang digunakan Bruce Lee di Film “Big Boss(1971)”, “Fist of Fury”

(1972), “Why of The Dragon” (1972), “Enter The Dragon” (1973).

Membuat sepatu kungfu menjadi populer digunakan oleh masyarakat Surakarta.

2. Masa Kecanduan (Tahun 1981-1990)

Film asing yang pada dekade sebelumnya memperoleh kelonggaran sebagai akibat dari kebijakan pemerintah Orde Baru. Berdampak pada meningkatnya pertumbuhan bioskop yang ada di Surakarta. Bioskop yang ada pada peridode antara tahun 1970 – 1979 yang sebagian besar berada dipusat kota dan hanya dinikmati oleh kalangan tertentu. Memasuki periode antara tahun 1981- 1990 semua berubah berkat inisiatif jemput bola yang diterapkan pengusaha bioskop, membuat bioskop banyak tersedia dengan berbagai kelas dan tersebar hingga sudut- sudut kota serta pelosok – pelosok kampung. Tersedianya bioskop dengan berbagai kelas dari kelas atas sampai kelas bawah memungkinkan semua masyarakat baik kalangan atas maupun masyarakat kalangan menengah ke bawah dapat menikmati hiburan film di bioskop.

31 Menurut Ari film koboi membawa dampak bagi gaya busana sehari-hari masyarakat Surakarta, banyak aksesoris dan busana ala koboi yang dijual seiring dengan merebaknya film-film koboi. Flayer – flayer film koleksi Ari Headbang

commit to user commit to user

(31)

Film asing yang banyak diputar di bioskop lama-kelamaan menjadi idola bagi masyarakat khususnya dikalangan remaja Surakarta. Setelah mengalami pengenalan dengan kehidupan masyarakat asing dengan masuknya kembali film asing yang diputar di bioskop. Pada dekade 1980 – 1990 dengan maraknya pemutaran film asing membuat masyarakat lebih menyenangi hingga ketagihan dengan kebudayaan asing dari film. Pemeran dalam film asing yang terlihat keren dan menawan, mempengaruhi masyarakat terutama anak muda Surakarta yang terinsprasi semua hal yang dilakukan maupun digunakan oleh idolanya dalam film. Tema film asing pada dekade 1980an yang diputar pada bioskop dominan dengan tema-tema kehidupan anak muda masyarakat asing terutama budaya barat yang kental dengan tren gaya hidup hippies.32

Penggunaan teknologi baru dalam hal komunikasi, trasnportasi, dan perkembangan inovasi lainnya yang dikenalkan lewat film. Membuat anak muda Surakarta ingin memakai dan turut merasakan teknologi yang sudah menjadi populer di kalangan masyarakat internasional. Terlebih pada dekade 1980 – 1990an budaya pop menemukan media baru yaitu video. Ditemukannya alat pemutar kaset video membuat masyarakat lebih dekat dengan film selain menonton pada bioskop.

Dominannya film asing dalam bioskop yang mengalahkan pamor film nasional. Memaksa Film Indonesia pada kurun waktu antara tahun 1984-1985, berusaha bertahan pada bioskop dengan membuat film bertema kehidupan liar

32 Wawacara dengan Ari pada tanggal 24 Februari 2018 commit to user commit to user

(32)

anak muda, vulgar hingga seks.33 Kualitas film nasional yang menurun dan budaya hippies yang banyak dikenalkan dalam kemasan film asing.34 Membuat gaya hidup yang berpengaruh dan muncul di kalangan masyarakat sangat beraneka macam. Terlebih dengan kondisi perpolitikan pemerintah Orde Baru yang mulai menunjukan sikap represif terhadap kehidupan masyarakat, karena mulai mengalami krisis mendekati awal tahun 1990-an. Kecederungan itu memunculkan beberapa macam dan atribut gaya hidup di kalangan masyarakat Surakarta pada periode antara tahun 1980 - 1990 antara lain:

a. Breakdance

Breakdance merupakan pertunjukan tari jalanan yang pernah hits di kalangan anak muda Surakarta.35 Seiring dengan kemunculan film-film yang mengangkat tarian jalanan yang kala itu tengah populer dikalangan remaja Amerika. Film yang bertemakan tarian jalanan anatara lain:

Flashdance (1983), Wild Style (1982), Body Rock (1984), dan yang terkenal populer adalah Breakdance (1984: Breakin’ 1 dan 2). Berkat film yang mengangkat tentang tarian breakdance, membuat breakdance dapat

33 Garin Nugroho, Op.Cit., halaman 190

34 Hippies adalah sub-kultur yang berkembang di Amerika serikat yang mulai berkembang pada tahun 1970, hippies bermula sebutan bagi kaum hipster adalah kalangangan kelas menengah yang memiki gaya hidup antimainstream, bbas, pecandu narkoba, menggunakan bahasa slang, dan menyukai musik blues dan jazz. Baca tulisan Alexander Kusuma Pradja, 2015, Before it Was Cool: An Introdution to Hipster Culture, Yogyakarta: PT Bentang Pustaka, halaman 18

35 Breakdance, awalnya berasal dari Budaya Barat, tercatat tarian tersebut lahir di wilayah semrawut dan miskin di kawasan Bronx Selatan, New York.

Breakdance sudah mengisi jalanan New York sejak awal 1970-an. Cikal bakalnya dibawa oleh budak dari Afrika ke benua baru, Amerika. Di Amerika Serikat, breakdance kemudian menggantikan pola kerusuhan fisik antargeng yang sering terjadi di pemukiman Negro. Majalah Tempo, 5 Januari 1985, halaman 67

commit to user commit to user

(33)

direspon baik oleh banyak anak muda di Indonesia. Produksi film nasional ikut terpengaruh untuk membuat film dengan tema breakdance yang berjudul “Gejolak Kawula Muda”. Film ini diperankan oleh Rico Tampatty, Ikang Fawzi, Titi DJ, Ria Irawan dan Chicha Koeswoyo.

Kemunculan film-film tersebut membuat kalangan anak muda Kota Surakarta ikut larut dalam hiruk pikuk tren breakdance.36

Breakdance dahulu dikukuhkan oleh Afrika Bambataa, seorang MC dan Disco-Jockey di Bronx. Ia mendirikan kelompok bernama Zulu Nation, sekumpulan anak muda beranggotakan sekitar 10.000 orang dari Bronx dan Manhattan. Mereka dengan disiplin tinggi mempelajari tarian dari Afrika, mempelajari mimik pantomim, dengan gerakan yang meledak- ledak.37

Gaya anak muda dalam breakdance menarik perhatian bagi masyarakat Surakarta. Fashion khas anak breakdance yang khas dengan kaos putung lengan dipadukan dengan luaran yang terlihat keren seperti jaket satin atau jaket kulit. Dipadukan dengan celana panjang yang menyatu bersama kaos kaki dengan sepatu kets merk Nike, Adidas, Puma, Fila. Aksesoris juga menjadi hal wajib bagi pecinta breakdance mulai dari topi khas hip hop, bandana/ikat kepala, anting-anting, kalung, sarung tangan kulit ferari yang berkenop, hingga gelang kulit dan ikat pingga

36“Gejolak Kawula Muda”, Majalah Film, 7 Mei 1985, halaman 57

37Si Bambataa menangkap peluang dan perkelahian yang sering terjadi di Bronx diganti dengan adu tarian, tanpa saling menyentuhbertanding saling melakukan gerakan yang sulit dan lawannya harus dapat menirukan atau menyaingi gerakan yang lebih sulit. Majalah Tempo, 5 Januari 1985, halaman 67

commit to user commit to user

(34)

yang penuh besi duri mengkilap (Spec). Aksesoris breakdance dahulu banyak dijual ketika pasar malam Sekaten diadakan.38

Breakdance sering diadakan di tempat yang terang dan rata seperti dipinggiran jalanan, tempat parkir, dan tanah yang lapang. Mereka berkumpul menggelar alas atau tikar dengan sebuah compo (tape recorder lengkap dengan pengeras suara) yang memutar lagi hip-hop, rock, atau musik yang berlatar beat yang kuat. Bergantian menampilkan jurus jurus tarian yang merupakan gerakan campuran dari gerakan bela diri, pantomim, akrobat, dan disko. Gerakan - gerakan itu diadopsi dari film yang telah ditonton. Berbagai model jurus seperti : Gerakan patah – patah, mack, back spin, chain wave, eletric boogie, kickworm, egytian hingga head spin dibawakan sesuai skill yang dimiliki masing-masing.

Breakdance bukan sekedar tarian yang hanya mengandalkan otot, tapi dibutuhkan keluwesan tubuh, stamina yang kuat, dan penghayatan ritme.39 Bahkan karena maraknya breakdance di kalangan masyarakat Surakarta sempat diadakan beberapa kompetisi antar kelompok breakdance.

Kelompok yang keluar menjadi pemenang nantinya akan diperlombakan kembali di tingkat provinsi hingga tingkat nasional.40

38Wawacara dengan Ari pada tanggal 24 Februari 2018

39 Majalah Tempo, 5 Januari 1985, halaman 62-65

40 Wawacara dengan Ari pada tanggal 24 Februari 2018 commit to user

commit to user

(35)

Gambar 21. Pemain film Gejolak Kawula Muda menunjukan gerakan breakdance Sumber : Majalah Film, 1985: 57

b. Ngebreak

Aktivitas ngebreak pernah menjadi kesenangan dan menjadi ajang gaul bagi masyarakat Surakarta. Ngebreak adalah bentuk komunikasi antar perorangan dengan mengunakan sarana kanal/frekuensi radio atau dikenal dengan nama radio amatir. Ngebreak sempat populer di kalangan masyarakat Surakarta berkat film film yang mempengaruhi mereka untuk melakukan aktivitas ini. Film Ngebreak yang terkenal seperti dipraktekan pada film

commit to user commit to user

(36)

Chips (1977) yang kemudian diadopsi menjadi cerita komedi film Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro) dengan judul yang sama pada tahun (1982). 41

Gambar 22. Anggota RAPI bersiaga di atas gunung Sumber: Koleksi pribadi Tris

Komunikasi menggunakan radio amatir yang miliki banyak penggemar di kalangan masyarakat. Membuat pemerintah turun tangan untuk membuat organisasi yang mewadahi penggemar Komunikasi Radio Antar Penduduk (KRAP) di Indonesia. Terdapat dua organisasi yang menjadi fasilitas untuk melayani aktivitas ini antara lain adalah Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (ORARI) dan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI). Masing – masing memiliki fungsi yang berbeda, ORARI yang menjadi wadah fasilitas teknis radio amatir. Sedangkan, RAPI menjadi wadah untuk membantu

41 Koleksi flayer-flayer dan poster film koleksi Ari Headbang.

commit to user commit to user

(37)

pemerintah dan melayani masyarakat yang membutuhkan bantuan radio amatir.42

Secara teknis penggunaan komunikasi radio antar penduduk telah diatur pemerintah dalam Peraturan Menteri Kominfo Republik Indonesia Nomor 34 tahun 2009 tentang pedoman penggunakan Band Frekuensi.

Terdapat dua jenis frekuensi yang resmi yaitu High Frequency (HF) yang menyediakan pita frekuensi antara 26,0960 – 27.410 MHz yang dibagi kedalam 40 alur spasial dan Very High Frequency yang menyediakan pita frekuensi antara 142,000 – 143,600 MHz dengan alur spasial 20 KHz. 43

Gambar 23. Plakat Nama Panggil (NP)/ Kolsen di salah satu rumah di jalan Sumber: Koleksi pribadi penulis

42 RAPI aktif dalam kegiatan sosial dalam membantu masyarakat maupun khalayak ramai, sesuai tujuan dibentuknya organisasi RAPI yaitu membantu pemerintah di bidang komunikasi radio dalam menangani masalah sosial, terutama dalam penanggulangan bencana alam yang terjadi di tanah air. RAPI aktif membantu dalam hal komunikasi untuk keselamatan jiwa bagi SAR, harta benda, ketertiban masyarakat, kecelakaan, dan komunikasi gawat darurat.

Wawancara dengan Kris pada tanggal 12 Juli 2019

43Pengprov RAPI Jateng, 2012, Buku Panduan Radio Antar Penduduk Indonesia Jawa Tengah, Jawa Tengah : Pengurus Provinsi RAPI daerah II, halaman 28

commit to user commit to user

(38)

Alur spasial itu merupakan alur resmi yang disediakan pemerintah yang dipimpin dan diawasi oleh seorang admin alur Net Control Station (NET) atau yang populer dengan sebutan “Lurah”. Jika ada orang yang ingin menggunakan harus memiliki Ijin Komunikasi Radio Antar Penduduk (IKRAP). Orang yang telah memenuhi persyaratan untuk mendirikan dan menggunakan stasiun KRAP akan mendapat haknya dari Ditjen Postel ORARI berupa nama panggil/ Kolsen (Call-sign) dengan awalan YG dan YD.44 Namun, kebanyakan orang tidak mau susah dan melanggar aturan itu sehingga menggunakan alur radio amatir secara ilegal. Maka dahulu sering diadakan razia dan penyitaan perangkat bagi masyarakat yang menggunakan secara ilegal. Perangkat yang digunakan untuk melakukan Ngebreak antara lain:

i. Alat radio amatir : RIG, HT, dan Interkom ii. Antena : 25 m, 18 m, 11 m, dan 2 m iii. Alur Frekuensi resmi

iv. Nama panggilan radio amatir

Barulah breaker dapat berkomuniasi dengan baik, santun, padat dan berbicara seperlunya saja. Jika perlu dapat menggunakan kode fonetik misal untuk mengeja nama, dalam pemberian berita. Terdapat dua daftar kode fonetik antara lain:45

Menurut International Telecommunication Union (ITU) :

44 Ibid.,halaman 34

45 Ibid., halaman 37- 48

commit to user commit to user

(39)

Menurut versi RAPI dan ORARI :

A : Ambon B : Bandung C : Cepu D : Demak E : Ende F : Flores G : Garut H : Halong I : Irian J : Jepara K : Kendal L : Lombok M : Medan

N : Namlea O : Opak P : Pati Q : Quibek R : Rembang S : Solo T : Timor U : Ungaran V : Viktor W : Wilis X : Ekstra Y : Yongki Z : Zainal

Kenyataannya tidak semua masyarakat mampu membeli perangkat yang lengkap karena harganya yang mahal. Kalangan masyarakat kelas bawah hanya bisa merakit alat yang menggunakan interkom dengan jaringan kabel tembaga yang menumpang pada kabel PLN atau masyarakat Surakarta lazim menyebutnya rong meteran (dua meteran). Interkom yang awalnya hanya

A: Alpha B: Bravo C: Charlie D: Delta E: Echo F: Foxtrot G: Golf H: Hotel I: India J: Juliet K: Kilo L: Lima M: Mike

N: November O: Oscar P: Papa Q: Quebec R: Romeo S: Sierra T: Tango U: Uniform V: Victor W: Whiskey X: X-ray Y: Yankee Z: Zulu

commit to user commit to user

(40)

digunakan antar rumah kemudian terhubung hingga antar RT dalam satu kabel, terhubung lagi hingga antar kampung. Sampai akhirnya kabel interkom pun bersliweran membeli-belit dengan rumit hingga antar kelurahan.46 Para breaker tidak selamanya menggunakan radio amatir dengan bijak. Breaker ilegal tanpa Kolsen bebas berganti nama samaran dan berkelana di udara dengan menggunakan alur frekuensi senaknya.47

Gambar 24. Peralatan untuk melakukan ngebreak Sumber : Koleksi Pribadi Tris

Model breaker seperti itu biasanya digunakan untuk mencari "Way El"

(YL alias Young Lady) atau wanita yang masuk bisa diajak ngobrol. Dengan modal suara yang menggoda ditambah gombal-gombal dan bualan manis, hingga sang korban masuk jebakan. Setelah korban terpikat diajaklah pindah ke frekuensi yang lebih sepi supaya dapat mengobrol lebih panjang dengan

46 Wawancara dengan Kris pada tanggal 12 Juli 2019

47 Wawancara dengan Kris pada tanggal 12 Juli 2019 commit to user

commit to user

(41)

intens (dalam isitilah kerennya: “mojok”). Apabila cocok dapat berlanjut ke hubungan yang lebih serius sebagai pacar di udara. 48

Begitulah potret jaman para gaya hidup breaker yang kemudian tertuang dalam lagu yang dipopulerkan oleh Farid Hardja yang berjudul bercinta di udara. Berikut lirik dari lagu Bercinta di Udara :49

Berkenalan nama samaran lewat gelombang radio Lima sembilan tujuh tiga angka untuk kamu Ber-QSO lalu cerio

cup ah cup ah cup ah

Di udara kita bertemu kupanggil namamu Papa Alpha Carlie Alpha Romeo

Mengajakmu gombal di udara Memang cinta asyik dimana saja Walau di angkasa...

Hahaha.. break break

Hahahahahahahahaha.. break break Hahaha.. break break

Hahahahahahahahaha.. break dong

48 Wawacara dengan Ari pada tanggal 24 Februari 2018

49 Lirik Farid Hardja, Bercinta Di Udara,

https://www.musixmatch.com/lyrics/Farid-Hardja/Bercintadiudara diakses pada tanggal 11 Agustus 2019 pukul 15.00

commit to user commit to user

(42)

c. Geng-Gengan, Balapan liar, dan Gravity

Genre film yang banyak ditiru sebagian kelompok masyarakat Surakarta adalah film yang bertemakan Mafia, Gangster, Aksi, Race, dan film yang bertemakan kebebasan anak muda kota. Film yang populer seperti Godfather(1972), Scareface (1983), Goodfellas (1990) sangat digemari oleh masyarakat Surakarta.50 Populernya film-film tersebut membawa pengaruh lebih terhadap kehidupan kalangan tertentu yang sering kali dirasa membuat risih masyarakat lain. Munculnya beberapa nama yang mengukuh kelompoknya menjadi seolah gerombolan gangster seperti dalam film.

Beberapa Geng-Gengan (sebutan Gangster dari masyarakat Surakarta) yang pernah eksis di Surakarta antara lain : Gojack, Gobang, Gondes, Schrt, dll.51

Bersamaan dengan munculnya Geng-Gengan, ajang balapan liar juga sempat menjadi hal yang populer di kalangan masyarakat Surakarta. Film-film bergenre balapan seperti Easy Rider(1969), Mad Max (1979,1981,1985), The Blues Brothers (1980), The Driver (1978), Gone in 60 Second (1974), HD and Malboroman (1991) dan beberapa film nasional yang diperankan oleh Junaidi Salat dengan judul “Ali Topan Anak Jalanan”(1977), Rhoma Irama berjudul

50 Koleksi flayer-flayer dan poster film koleksi Ari Headbang.

51 Geng adalah sekelompok orang (biasanya remaja) yang kebanyakan berkonotasi kurang baik aktifitasnya. Kita tahu bahwa usia remaja adalah masa- masa puber, dimana mereka baru mencari jati diri. Remaja yang tanpa kontrol orang tua salah satunya masuk ke dalam geng. Mereka bangga bisa dikatakan

“wah” atau lebih dari yang lain. Segerombolan Geng memiliki stigma negatif di masyarakat karena sering dianggap memberbahayakan bagi orang lain, karena mereka biasanya suka berbuat onar, berkelahi dengan orang/kelompok geng lain dan lain-lain. Sedangkan faktor ekonomi tidak menjadi faktor dominan seseorang masuk geng.

commit to user commit to user

(43)

“Darah Muda” (1977), “Berkenala” (1978), “Camelia” (1979) dan aktor laga lainnya.

Gambar 25. : Poster film “Ali Topan Anak Jalanan” menampilkan Junaedi Salam dan Yenny Octavia

Sumber : Koleksi flayer Edy Kuncoro

Film Indonesia juga turut andil untuk mempengaruhi masyarakat Surakarta untuk mengikuti tren mengendarai motor kebut-kebutan terutama

commit to user commit to user

(44)

setelah tren penggunaan motor jenis trail. Selain itu untuk menunjukan eksistensinya beberapa Geng dan kelompok anak jalanan seringkali mencorat coret nama kelompoknya pada dinding tembok dengan cat semprot sesukanya atau yang dikenal dengan vandalisme menggunakan seni graffiti.52

Seperti halnya di kota-kota lainnya, di kota Surakarta aksi grafiti lebih dominan dilakukan oleh geng-geng remaja, baik itu oleh geng-geng di level kampung hingga geng-geng besar di level kota. Coretan-coretan grafiti geng- geng besar di kota Surakarta macam GDZ atau DMC marak di kota Surakarta. Gondhez (Gondhrong Ndeso ) dengan nama tagginginisial GDZ di tahun 1990an, Hourex atau HRX, Children Cuex Genk atau CCG, hingga beberapa grafiti dari geng-geng kecil generasi baru lainnya di wilayah Surakarta, macam HFT, TTM, P360S Klaten dan lain sebagainya. Mereka adalah nama-nama geng yang coretan-coretan grafitinya memenuhi tembok- tembok kota pada masa itu. Karena coretan grafitinya marak dimana-mana, tidak heran bila kemudian nama mereka akrab di telinga masyarakat kota Surakarta.53

Graffiti menjadi tenar seiring dengan kepopuleran film film tentang seni graffiti seperti Graffiti (1985), Wild Style (1982), Style Wars (1984),

52 Grafiti memiliki beragam jenis, di antaranya adalah tagging grafiti, yaitu jenis grafiti berupa tanda tangan yang sering dipakai untuk ketenaran seseorang atau kelompok, dan grafiti Geng yang berfungsi sebagai identifikasi daerah kekuasaan lewat tulisan nama geng, beserta anggota-anggotanya.

53 Irul Hidayat, Jurnal: Seni Grafiti sebagai media Propaganda dan Eksistensi Komunitas Suporter Bola di Surakarta,

http://irulhidayatindonesia.blogspot.com/2017/03/jurnal-seni-grafiti-sebagai- media.html, diakses tanggal 27 Agustus 2019 pukul 12.00

commit to user commit to user

(45)

American Graffiti (1973), dll.54 Bahkan untuk menggambarkan perilaku menyimpang anak muda pada masa ini. Penyanyi kenamaan Nicky Astria pernah pada tahun 1985 pernah mempopulerkan lagu yang berjudul “Tangan - Tangan Setan” dengan lirik yang menggambarkan gaya hidup anak muda kota pada saat itu. Berikut adalah lirik-lirik dari Tangan Tangan Setan:55

Tangan-tangan setan t’lah mulai Menuliskan kata asal jadi disetiap dinding dan dijalanan Menghilangkan keindahan wajah kota jadi ternoda Penuh coret-coretan tangan Setan...

Nama-nama liar kan kau baca Dipagar atau dijalan raya Dimana-mana akan kau temui Kata-kata tanpa arti

Ayo pelihara kotamu Hentikan gores tanganmu Sadarlah hey hey...

Semua milik kita sendiri Janganlah coba engkau nodai Jangan, jangan

Setan hentikan, tangan setan Coba hentikan tangan setan Coba hentikan tangan setan Coba hentikan tangan setan Coba hentikan tangan setan Hentikan!!!!!

54Koleksi flayer-flayer dan poster film koleksi Ari Headbang.

55 Lirik Tangan Tangan Setan, Nicky Astria

https://lirik.kapanlagi.com/artis/nicky-astria/tangan-tangan-setan/, diakses tanggal 28 Agustus 2019 pukul 20.00

commit to user commit to user

(46)

d. Tindak Kriminal

Diantara masyarakat Surakarta penikmat film bioskop tidak semuanya dapat menerima film dengan baik dan menyadari bahwa sajian film hanya sekedar adegan perupa semu atau khayal. Film – film yang bertemakan kehidupan anak muda barat, mafia, gengster, dan perkelahian jalanan, tanpa disadari menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat.

Film-film bertemakan tersebut bagi kalangan masyarakat tertentu ditangkap sebagai pembelajaran untuk melakukan tindak kriminal. Film yang dipahami secara salah mempengaruhi masyarakat untuk melakukan kebiasaan buruk seperti perjudian menggunakan mesin.56

Pengaruh film yang muncul merasuki masyarakat hingga pada ranah untuk melakukan modus tindak kejahatan di Surakarta. Beberapa tindak modus kejahatan yang banyak diadopsi oleh masyarakat Surakarta dari fiilm dalam beberapa kasus yang pernah terjadi seperti penodongan, perampokan, perampasan, pencurian pemberatan (Curat), hingga berbagai model tindak pembunuhan.57Tindak kriminal yang ada di Surakarta akibat dari salah memahami tontonan yang ada di dalam film. Menimbulkan perilaku menyimpang bagi masayrakat Surakarta terutama pada usia remaja. Terjadinya tindak kriminal pada periode 1980an akan dapat ditujukan melalui tabel berikut ini:

56Wawancara dengan Mufti Rahardjo pada tanggal 24 Juni 2019

57Wawacara dengan Ari pada tanggal 24 Februari 2018 commit to user

commit to user

(47)

Tabel. 19 Jumlah Kasus Kenakalan Remaja di Surakarta 1978 -1980 Tahun Jenis Kenakalan Remaja

Kejahatan Pelanggaran Jumlah 1978

1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987

27 21 40 20 10 36 41 158

12 22

369 1.162 2.157 2.105 2.065 2.200 2.908 5.508 4.011 4.390

396 1.183 2.197 2.125 2.075 2.236 2.949 5.666 4.023 4.412

Sumber : Laporan Kapolersta Surakarta: Badan Pusat Stastik Surakarta Menurut data yang ada pada tabel. 19 diketahui bahwa terjadi peningkatan jumlah kasus kenakalan remaja di Surakarta pada tahun 1980 dan tahun 1985. Peningkatan pertama terjadi pada tahun 1980 sebesar 1.040 (85,7%) kasus kenakalan remaja di Surakarta. Kenaikan kasus kenakalan remaja di Surakarta pada tahun 1980 ditengarai sebagai imbas masuknya film yang bertemakan gangster, balapan liar, dan kehidupan hura-hura masyarakat asing yang marak pada dekade 1970an akhir.

Setelah memasuki dekade 1980an, masyarakat yang terpapar sajian film mulai terinspirasi dengan pola perilaku menjadi karakter dalam film.

Film bertemakan gangster balapan liar, dan kehidupan hura-hura anak muda juga terdapat pada produksi film nasional pada dekade 1980an.

Terlebih pada pertengahan tahun 1980an demi untuk bertahan dari commit to user commit to user

Referensi

Dokumen terkait

penelitian ini adalah, “ KEPUTUSAN PEMBELIAN BAJU BATIK DITINJAU DARI GAYA HIDUP DAN KELAS SOSIAL MASYARAKAT SURAKARTA TAHUN 2015”.

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) Pengaruh gaya hidup terhadap keputusan pembelian baju batik pada masyarakat Surakarta tahun 2015. 2) Pengaruh kelas

Surakarta, 2014, 89 Halaman. Penelitian ini dilakukan di daerah rawan bencana banjir di Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta dengan judul : “Kesiapsiagaan Masyarakat

semakin meningkatnya jumlah masyarakat miskin di negara ini. Hal ini dapat dilihat dengan semakin banyaknya jumlah pengamen jalanan, terutama di kota Surakarta. Pengamen

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) Partisipasi masyarakat dalam menanggulangi kejahatan kekerasan seksual pada anak di Kota Surakarta, meliputi

pengendalian covid-19 kepada masyarakat sampai dengan tingkat RT/RW. Data yang dirilis oleh Satgas Covid-19 Kota Surakarta tentang peningkatan kasus covid-19 dari

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) Pengaruh gaya hidup terhadap keputusan pembelian baju batik pada masyarakat Surakarta tahun 2015. 2) Pengaruh kelas

http://journal.unismuh.ac.id/index.php/kolaborasi sebagai Kota Budaya dengan mengajak masyarakat terutama penggiat organisasi kesenian yang ada di Surakarta untuk melakukan berbagai