1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Transportasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah manusia.
Dalam sejarah, bangsa-bangsa yang menguasai peradaban kuno ialah bangsa- bangsa yang memiliki keunggulan teknologi transportasi. Pada jaman modern, semakin efisien sistem transportasi dan logistik nasional, maka semakin besar daya saing ekonomi yang dimiliki daerah tersebut, salah satunya ialah pada transportasi udara. Negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan menyebabkan pentingnya moda transportasi laut dan juga udara dalam mewujudkan konektivitas antar pulau tersebut. Menurut Haryanto dan Wiryanta (2018) Kawasan Timur Indonesia, khususnya Pulau Papua memiliki karakteristik bentang alam yang berupa gunung, pegunungan dan hutan belantara mengakibatkan akses antar wilayah hingga ke wilayah pedalaman jauh lebih mudah dicapai dengan menggunakan moda transportasi udara dibanding menggunakan moda transportasi darat.
Bandar udara merupakan ruang yang berada di daratan ataupun di perairan dengan batas-batas yang telah ditentukan sebagai wilayah untuk pesawat udara melakukan pendaratan dan tinggal landas, menurunkan penumpang serta menaikkan penumpang, mengeluarkan dan memasukkan muatan dari pesawat udara, wilayah yang disediakan untuk melakukan perpindahan intra dan antarmoda transportasi yang disertai dengan fasilitas keselamatan serta keamanan penerbangan, dan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya. Sebaliknya kebandarudaraan adalah tatanan bandar udara yang berkaitan dengan penyelenggaraan dan kegiatan lainnya dalam melaksanakan fungsi keselamatan, keamanan, kelancaran, ketertiban pada arus lalu lintas pesawat udara, penumpang, kargo dan/atau pos, serta wilayah yang digunakan untuk perpindahan intra maupun antarmoda untuk meningkatkan perkembangan pada ekonomi nasional dan daerah setempat. (Dirjen Perhubungan Udara, 2013)
Provinsi Papua Barat merupakan salah satu provinsi yang terletak di bagian timur Indonesia. Salah satu kota yang berkembang cepat di Provinsi Papua Barat ialah Kota Sorong. Kota Sorong merupakan satu-satunya wilayah administratif yang berstatus kota di Provinsi Papua Barat. Kota yang mencakup 10 distrik dan 41 kelurahan ini memiliki luas wilayah paling kecil di Provinsi Papua Barat yaitu sebesar 1.105 km2 atau hanya 0,64 persen dari total wilayah Papua Barat yang sebesar 97.024,37 km2. Secara astronomis Kota Sorong terletak antara 131o51’
Bujur Timur hingga 131o85’ Bujur Barat serta antara 00o 53’ Lintang Selatan hingga 00o 90’ Lintang Utara dengan ketinggian 3 meter di atas permukaan laut. Sebagian besar wilayah Kota Sorong merupakan daerah pegunungan, lereng, perbukitan dan sisanya merupakan dataran rendah. Adapun batas wilayah Kota Sorong ialah:
Bagian sebelah utara: Selat Dampir dan Distrik Makbon Kabupaten Sorong
Bagian sebelah selatan: Distrik Aimas Kabupaten Sorong dan Distrik Salawati Kabupaten Raja Ampat
Bagian sebelah timur: Distrik Makbon Kabupaten Sorong
Bagian sebelah barat: Selat Dampir (Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Sorong, 2020)
Kota Sorong memiliki letak strategis, baik laut maupun darat, menjadikan kota tersebut sebagai pintu gerbang Tanah Papua. Kota Sorong merupakan kota industri, perdagangan dan jasa bagi wilayah sekitarnya karena dikelilingi oleh kabupaten lain yang memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang besar sehingga membuka peluang bagi investor dalam maupun luar negeri. Kota Sorong yang terletak pada kawasan persilangan empat penjuru yang berhadapan dengan Filipina, Australia, pulau-pulau di Maluku dan Papua Nugini memungkinkan kota tersebut menjadi salah satu percontohan kemitraan Indonesia dengan negara-negara Kepulauan Pasifik (Rahman, 2021). Kota yang ditetapkan dalam tata ruang wilayah nasional sebagai Kawasan Strategis Nasional tersebut memiliki peran transportasi penting bagi wilayah-wilayah pedalaman dan merupakan daerah transit pariwisata Papua Barat terutama kabupaten Raja Ampat (Kakisina, 2020). Selain Raja Ampat, Kota Sorong juga memiliki destinasi wisata lainnya seperti Pulau Dofior, Pagoda
Sapta Ratna, Pantai Tanjung Kasuari, Puncak Arfak, Kawasan Wisata Mangrove Klawalu, Puncak Petik Bintang, Pulau Doom dan objek wisata lainnya. Sektor pariwisata merupakan salah satu potensi sumber daya alam besar bagi Kota Sorong dan menjadi tumpuan pembangunan dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Berdasarkan hasil sensus penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat pada tahun 2020, persebaran penduduk Papua Barat terkonsentrasi di Kota Sorong. Adapun jumlah peduduk Kota Sorong yaitu 284.410 jiwa atau 25,08 persen penduduk Papua Barat. Kota Sorong yang merupakan salah satu daerah konsentrasi perekonomian di Papua Barat dalam hal transportasi, perdagangan dan industri menjadi salah satu penyebab meningkatnya jumlah penduduk yang berasal dari luar Kota Sorong (Nanlohy, 2020). Meningkatnya jumlah penduduk tentunya berdampak pada perkembangan kegiatan mobilisasi masyarakat yang menyebabkan moda transportasi udara di Kota Sorong menjadi salah satu sarana transportasi yang paling popular. Keuntungan dari penggunaan transportasi udara ialah dapat menghemat waktu tempuh dalam kegiatan mobilisasi baik menuju atau berangkat dari Kota Sorong dibanding menggunakan transportasi laut. Selain itu, moda transportasi udara juga merupakan moda transportasi dengan aksesbilitas tertinggi antar wilayah di Provinsi Papua Barat (Oktaviana et al., 2011).
Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong atau yang lebih dikenal sebagai Bandar Udara DEO merupakan bandar udara yang menghubungkan antar daerah di Papua maupun di luar Papua. Bandar Udara Domine Osok Sorong merupakan bandar udara domestik kelas I yang memiliki runway dengan ukuran sebesar 2.500 m x 45 m, taxiway sebesar 177 m x 23 m, apron sebesar 550 m x 131 m dan dapat memuat pesawat Boeing B-737/300 (Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, n.d.).
Bandar Udara Domine Eduard Osok merupakan salah satu Bandar Udara dengan pergerakan pesawat tersibuk di wilayah Papua dan Papua Barat yang melayani penerbangan domestik dan penerbangan perintis. Saat ini Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong menjadi tanggung jawab Unit Penyelenggaraan Bandar Udara (UPBU) yang wewenangnya dikelola oleh Kementrian Perhubungan Udara.
Setiap tahunnya Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong mengalami peningkatan jumlah penumpang, khususnya pada hari raya lebaran, natal dan tahun baru. Akan tetapi, terjadinya penurunan jumlah penumpang pada tahun 2019 hingga 2020 akibat pandemi covid-19. Meskipun begitu, Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong tetap menjadi bandar udara tersibuk di Provinsi Papua Barat dengan keluar dan masuknya berbagai jenis pesawat dari berbagai maskapai penerbangan.
Hal ini disebabkan oleh posisi geografis Kota Sorong yang terletak di ujung barat daya Pulau Papua, sehingga hampir semua rute penerbangan ke wilayah di Pulau Papua melewati Kota Sorong. Bandar udara ini memiliki dampak besar pada pertumbuhan ekonomi Kota Sorong serta sektor pariwisawa di tanah Papua, terutama kabupaten Raja Ampat sehingga bandar udara tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bandar udara internasional (CWM News, 2021).
Pengembangan dan potensi yang dimiliki bandar udara tersebut tentunya perlu diimbangi dengan fasilitas dan pelayanan yang optimal. Beberapa pelayanan yang masih dianggap kurang oleh penumpang seperti pengkondisian suhu terminal penumpang yang kurang sejuk, dan kesigapan petugas dalam menertiban driver taksi yang menawarkan jasa sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman pada penumpang kedatangan. Tidak jarang pelayanan yang telah disediakan tidak sesuai dengan harapan penumpang sehingga perlu adanya kegiatan evaluasi guna mengetahui pelayanan yang perlu diperbaiki dalam meningkatkan tingkat kepuasan penumpang selaku pengguna jasa
Terminal penumpang merupakan salah satu komponen utama dalam sistem bandar udara yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya seluruh kegiatan penumpang. Mengingat potensi bandar udara serta pertumbuhan penduduk dan penumpang yang terus meningkat tiap tahunnya, maka terminal penumpang bandar udara tentunya perlu dievaluasi secara berkala. Kegiatan evaluasi yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui kinerja serta tingkat pelayanan terminal penumpang bandar udara berdasarkan kapasitas dan standar pelayanan yang telah ditetapkan pada Peraturan Menteri No. 178 Tahun 2015. Kinerja pelayanan bandar udara sangat dipengaruhi oleh kualitas pelayanan dan tingkat kepuasan penumpang, sehingga dalam melakukan kegiatan evaluasi perlu menganalisa dari sudut pandang
penumpang selaku pengguna jasa bandar udara. Adapun dengan perkembangan jumlah penumpang yang terus meningkat di setiap tahunnya menjadikan kapasitas terminal penumpang menjadi salah satu poin dalam kegiatan evaluasi kinerja terminal penumpang bandar udara guna memberikan gambaran pengembangan terminal penumpang yang perlu dilakukan pada masa mendatang.
Berdasarkan hal tersebut maka penelitian yang dilakukan mencakup evaluasi kinerja kapasitas terminal penumpang, evaluasi kinerja fasilitas pelayanan serta pelayanan terminal bandar udara berdasarkan persepsi atau sudut pandang penumpang. Evaluasi dan penilaian kinerja tersebut dilakukan guna memperoleh penilaian atas kualitas dan tingkat kepuasan dari pelayanan bandar udara serta memberikan gambaran mengenai bentuk pelayanan apa saja yang perlu diperbaiki pihak pengelola bandar udara dalam meningkatkan kualitas pelayanan terminal penumpang bagi pengguna jasa bandar udara.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan, maka dapat dirumuskan permasalahan pokok dalam penelitian yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana kapasitas dan kinerja terminal penumpang Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong kondisi eksisting?
2. Bagaimana kinerja fasilitas pelayanan dan pelayanan pengguna jasa terminal penumpang Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong?
3. Pelayanan apa saja yang menjadi prioritas perbaikan pada terminal penumpang Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong?
4. Bagaimana kapasitas dan kinerja terminal penumpang Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong 20 tahun mendatang?
1.3 Tujuan
Berdasarkan penjabaran rumusan masalah maka tujuan dari penelitian yaitu sebagai berikut:
1. Mengetahui kapasitas dan kinerja terminal penumpang Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong kondisi eksisting
2. Mengetahui kinerja fasilitas pelayanan dan pelayanan pengguna jasa terminal Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong berdasarkan persepsi penumpang 3. Mengetahui pelayanan apa saja yang menjadi prioritas dalam melakukan perbaikan pelayanan pada terminal Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong
4. Mengetahui kapasitas dan kinerja terminal penumpang Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong 20 tahun mendatang
1.4 Manfaat
Penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada:
1. Bagi mahasiswa, dapat menjadi sarana menambah wawasan bagi penulis serta dapat dijadikan bahan tambahan referensi dalam penyusunan skripsi sebagai pengembangan keilmuan di bidang Teknik Sipil mengenai evaluasi kapasitas dan pelayanan pengguna jasa terminal penumpang bandar udara
2. Bagi instansi terkait, dapat memberikan gambaran dari kondisi terminal penumpang Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong serta tolak ukur dalam melakukan peningkatan dan perbaikan kinerja pelayanan penumpang Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong
3. Bagi masyarakat, dapat digunakan sebagai sumber informasi bagi masyarakat terkait kinerja pelayanan pengguna jasa terminal penumpang Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong
1.5 Batasan Masalah
Untuk menghindari penelitian yang terlalu luas, arah pembahasan yang lebih fokus serta mempermudah penyelesaian masalah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, maka perlu adanya pembatasan masalah sebagai berikut:
1. Obyek penelitian yang diteliti dibatasi pada terminal penumpang Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong
2. Tidak melakukan re-design terminal penumpang bandar udara 3. Metode analisis yang digunakan ialah Model Kano
4. Pokok bahasan berupa sarana dan prasarana terminal penumpang bandar udara, tidak membahas bagian sisi udara (air side) bandar udara seperti apron, runway dan taxiway
5. Analisa penjawalan ulang penerbangan pesawat yang dilakukan berdasarkan jadwal penerbangan tahun eksisting